• Tidak ada hasil yang ditemukan

AGAM SASMITO RAHARJO NPM:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "AGAM SASMITO RAHARJO NPM:"

Copied!
132
0
0

Teks penuh

(1)

PEMINATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU

( STIKIM ) 2015

SKRIPSI

ANALISIS PENILAIAN BAHAYA DAN RESIKO

KECELAKAAN PADA PEKERJA PEMASANGAN PIPING DI PROYEK DINAS TEKNIS KUNINGAN

TAHUN 2015

Oleh :

AGAM SASMITO RAHARJO NPM: 01.11.000.326

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT JENJANG S-1

(2)

PEMINATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU

( STIKIM ) 2015

KECELAKAAN PADA PEKERJA PEMASANGAN PIPING DI PROYEK DINAS TEKNIS KUNINGAN

TAHUN 2015

SKRIPSI

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan di program sarjana kesehatan masyarakat Peminatan

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Oleh:

AGAM SASMITO RAHARJO NPM: 01.11.000.326

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT JENJANG S-1

(3)
(4)
(5)

Yang bertanda tangan dibawah ini

Nama : Agam Sasmito Raharjo

Npm : 0111000327

Program studi : Sarjana Kesehatan Masyarakat

Tahun akademik : 2011

Dengan ini menyatakan :

Tugas akhir skripsi ini dengan judul “ANALISIS PENILAIAN BAHAYA DAN RESIKO KECELAKAAN PADA PEKERJA PEMASANGAN PIPING DI PROYEK DINAS TEKNIS KUNINGAN TAHUN 2015” merupakan hasil karya saya sendiri yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di Sekolah Tinggi Ilmu kesehatan Indonesia Maju ( STIKIM ).

Semua sumber yang saya gunakan dalam penelitian ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, tidak ada bagian didalamnya yang merupakan plagiat dari karya orang lain apabila kemudian hari ditemukan adanya kesalahan atau pelanggaran terhadap etika penyusunan skripsi maka saya bersedia menerima sangsi yang berlaku.

(6)

Segala puji syukur bagi ALLAH SWT penulis panjatkan atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “ANALISIS PENILAIAN BAHAYA DAN RESIKO KECELAKAAN PADA PEKERJA PEMASANGAN PIPING DI PROYEK DINAS TEKNIS KUNINGANTAHUN 2015” sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Progran Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat STIKes Indonesia Maju.

Dalam dunia industri atau proyek, Piping ini adalah suatu sistem perpipaan dari equipment satu ke equipment lainnya atau dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Selain itu juga terdapat spesifikasi pendisainan, Dilakukan beberapa desainer dalam pembuatan jalur-jalur yang saling berhubungan dari suatu lokasi kesuatu lokasi lainnya.

Dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi ini penulis banyak mengalami hambatan dan kesulitan, namun berkat bimbingan, pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Dr. Dr. dr. Hafizurrachman, M.PH, selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju.

2. Ibu Rindu, SKM, M.Kes, selaku Ketua Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat.

(7)

3. Bapak. Fajar Saputra SKM, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan ilmu dan bimbingannya selama proses pembuatan skripsi ini.

4. Para dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat atas Segala bimbingannya selama ini.

5. PT. Mega Persada Indonesia yang telah mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian, di Proyek Dinas Teknis Kuningan dan seluruh staff Proyek Dinas Teknis Kuningan yang sangat ramah dan baik sehingga mempermudah penulis dalam penyusunan skripsi ini.

6. Bapak Rico, selaku manager HSE PT. Mega Persada indonesia yang telah membantu penulis dalam melakukan penelitian dan memberi ilmu dan saran saat magang.

7. Bapak Junaidi, selaku Head QHSE PT. Mega Persada Indonesia yang telah membantu penulis dalam melakukan penelitian dan memberi Ilmu dan pengalaman selama penulis magang.

8. Keluarga penulis tercinta, Bapak (saja sumedi), Ibu (Sunarti), Kaka, dan adik yang telah memberikan limpahan kasih sayang, semangat, dukungan dan do’anya kepada penulis.

9. Makasih buat sahabat Apartemen kusus bauat mas bro mudi dan mas bro pewe yang selalu memberi semangat dan tempat buat mengerjakan skripsi.

10. Makasih kepada Mas bandi yang memberi informasi magang dan makasih buat semangatnya.

(8)

11. Terimakasih kepada anak kosan belakang warkop yang selalu memberi semangat dan waktu untuk bersantai dan candaan candaan yang konyol.

12. Teman-teman Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat angkatan ke-11 yang sama-sama berjuang. Terimakasih buat semangat dan kebersamaannya selama ini.

13. Terima kasih kepada senior SKM angkatan 2008, 2009, 2010 dan kepada junior SKM 2012 dan 2013, yang selalu memberi dukungannya dan doanya.

Akhir kata, penulis berharap semoga Allah SWT membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu penulis dalam pembuatan skripsi ini.

Tak ada gading yang tak retak, itu kata pepatah, begitu dengan skripsi ini, Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, baik segi penulisan, isi dan penjelasan. Maka untuk itu, penulis harapkan saran dan kritik dari pembaca yang bersifat membangun dari semua pihak, sehingga skripsi ini akan lebih baik dan dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Jakarta, Agustus 2015

Agam Sasmito Raharjo

(9)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU PROGRAM STUDI SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT LAPORAN SKRIPSI, AGUSTUS 2015

Nama : AGAM SASMITO RAHARJO

NPM : 01.11.000.326

XV + 103 Halaman+ 6 Lampiran+ 15 Tabel

ANALISIS PENILAIAN BAHAYA DAN RESIKO KECELAKAAN PADA PEKERJA PEMASANGAN PIPING DI PROYEK DINAS TEKNIS KUNINGAN TAHUN 2015

ABSTRAK

Resiko merupakan suatu yang sering melekat dalam aktivitas kegiatan apapun yang kita lakukan. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah bagaimana kita mengelola potensi bahaya resiko yang kemungkinan terjadi sehingga bisa mengurangi dampak yang ditimbulkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi bahaya kecelakaan di tempat kerja dan tingkat resiko serta upaya pengendalian dari setiap langkah peroses pekerjaan para pekerja di Proyek Dinas Teknis Kuningan, Jakarta Selatan tahun 2015.

Berdasarkan data kecelakaan kerja di Proyek Dinas Teknis kuningan khususnya pekerja dari PT. Mega Persada Indonesia (MPI) sampai bulan juni 2015 telah terjadi kecelakaan kerja sebanyak 7 orang kecelakaan kerja yang tergolong dalam katagori tidak fatal namun mempengaruhi proses bekerja. Dimana 83% kecelakaan kerja disebabkan oleh Unsafe Action (tindakan tidak aman) yang dilakukan oleh pekerja, seperti bekerja tidak sesuai prosedur yang ada, tidak menggunakan APD, tidak menaati prosedur yang ada. Penilaian ini menggunakan metode penilaian kualitatif. Populasi pada penelitian ini berjumlah 6 orang.

Metode yang digunakan agar dapat akurat yaitu dengan cara wawancara terhadap populasi yang sesuai dengan bidangnya. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 21 personil yang terlibat dalam aktivitas proses pemasangan piping, sementara itu terdapat 8 langkah atau aktifitas yang ada, dan bahaya pada proses pemasangan piping di area ketinggian. Berdasarkan analisa, terhadap aktifitas pemasangan piping di Proyek Dinas Teknis Kuningan, Jakarta selatan tahun 2015 terdapat 2 aktivitas yang termasuk Significant, 1 aktivitas yang termasuk kategori Moderat dan 4 aktivitas yang termasuk dalam kategori Tolerable. Oleh karna itu peneliti menyarankan agar setiap kegiatan yang ada di Proyek Dinas Teknis Kuningan dinilai terlebih dahulu resikonya mengadakan safety morning, membuat ijin kerja K3 sebelum melakukan aktivitas meeting dan rutin dalam kegiatan safety patrol untu pengawasan di proyek khususnya untuk pekerja PT. MPI.

Kata kunci : Risk Assesment, Pengendalian Resiko, Bahaya, Evaluasi Daftar pustaka : 1998 - 2014

(10)

PROGRAM STUDI SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT LAPORAN SKRIPSI, AGUSTUS 2015

Nama : AGAM SASMITO RAHARJO

NPM : 01.11.000.326

XV + Page 103 + 6 Appendi + 15 Table

An analysis of the assessment of the dangers and the risk of an accident on workers the installation of a piping in a Project Dinas Teknis Kuningan the year 2015.

ABSTRACT

Is a risk that often attached to the activity of activities in whatever we do. The most important things to do is how do we manage the risk of potential danger which probably happened so that can reduce the consequences. The purpose of this study is to examine the potential danger of wreck at work and levels of risk control and an effort of each step the work of process workers in the Project Dinas Teknis Kuningan, South Jakarta 2015. Based on the data from accidents in the project Dinas Teknis Kuningan Especially workers from PT.Mega Persada Indonesia (MPI) until June 2015 there has been a work accident as much as 7 people in the category of accidents are not fatal but affecting the process of working. Where 83% of the accident caused by unsafe action (the act of unsafe) undertaken by workers , such as work not appropriate procedures are completed , not using APD , not adhering to the existing procedures. This assessment using methods qualitative assessments. The population to research are always 6 people. Methods used to be accurate namely by means of an interview on a population that in accordance with their field. Based on the results of research there are 21 personnel involved in the activity of the process of the installation of a piping, meanwhile there are 8 a step or activity there was, and danger to the process the installation of a piping on the area of the height. Based on an analysis, against the installation of a piping activities in the Project Dinas Teknis Kuningan, South jakarta 2015 are 2 activity which includes Significant, 1 activity that is in the category of Moderate And 4 an activity that is included in a category Tolerable. By that because the researchers suggest that any activity that is in the Project Dinas Teknis Kuningan Is considered beforehand the risk hold safety morning, Make permit work K3 things to do before meeting and routinely in safety patrol activities for supervision on the next project especially for workers PT. MPI.

Keywords : Assessment, Risk Control, Hazard, Evaluation Bibliography : 1998 - 2014

(11)

viii

DAFTAR ISI

Halaman

Lembar Persetujuan ... i

Lembar Pengesahan ... ii

Kata Pengantar ... .... iii

Abstrak ... vi

Daftar Isi ... ... viii

Daftar Tabel ... ... xiii

Lampiran ... ... xiv

Daftar Riwayat Hidup ... ... xv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 8

1.3 Pertanyaan Penelitian ... 9

1.4 Tujuan Peneliti ... 10

1.4.1 Tujuan Umum ... 10

1.4.2 Tujuan Khusus ... 10

1.5 Manfaat Penelitian ... 11

1.5.1 Manfaat Teoritis ... 11

1.5.2 Manfaat peneliti ... 11

1.5.3 Manfaat praktisi ... 11

1.6 Ruang Lingkup Peneliti ... 12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keselamatan Kerja ... 13

2.2 keselamatan Dan Kesehatan Kerja ... 15

(12)

2.3 Tujuan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja ... 18

2.4 Lingkungan Kerja ... 19

2.5 Kecelakaan Kerja ... 19

2.5.1 Model Penyebab Kecelakaan (Loss Countion Mode) ... 23

2.6 Bahaya atau Hazard ... 24

2.6.1 Sumber – Sumber Bahaya Di Lingkungan Kerja ... 24

2.6.2 Sumber Bahaya Yang Berpontensi Menimbulka Kecelakaan Kerja ... 26

2.7 Manajemen Resiko... 31

2.7.1 Metode – Metode Analisis Resiko (Risk Analysis)... 34

2.8 Analisis Resiko ... 37

2.8.1 Analisis kualitatif ... 37

2.8.2 Analisis kuantitatif ... 38

2.8.3 Analisis Semi Kualitatif... 39

2.9. Definisi Piping Di Proyek ... 41

BAB III KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1 Kerangka Teori ... 43

3.2 Kerangka Konsep... 44

3.3 Definisi Operasional ... 45

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Metode Penelitian ... 48

(13)

x

4.2 Lokasi Waktu Penelitian ... 48

4.3 Populasi Dan Semple ... 49

4.4 Obyek Penelitian ... 49

4.5 Teknik Pengumpulan Data ... 49

4.6 Jenis Dan Sumber Data ... 52

4.6.1 Data Primer ... 52

4.6.2 Data Sekunder ... 52

4.7 Pengelolaha Data ... 52

4.8 Keterbatasan Peneliti ... 53

4.9 Analisa Data ... 53

BAB V GAMBARAN UMUM RS MARINIR CILANDAK 5.1 Sejarah Dan Perkembangan Perusahaan ... 54

5.2 Visi, Misi, Tujuan, Nilai Inti, Dan Motto Perusahaan ... 55

5.2.1 Visi perusahaan ... 55

5.2.2 Misi perusahaan ... 55

5.2.3 Nilai Komitmen Perusahaan ... 55

5.2.4 Motto Perusahaan ... 56

5.2.5 Kebijakan Mutu ... 56

5.3 Sistem Manajerial Perusahaan ... 56

5.3.1 Tujuan Mutu Dan K3 Perusahaan ... 56

5.3.2 Tujuan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) ... 57

(14)

BAB VI HASIL PENELITIAN

6.1 Sistem Proses Pemasangan Piping ... 62

6.2 Aktifitas Proses Pemasangan Piping ... 6.3 Penilaian Potensi Bahaya, Resiko Dan Pengendalian Proses Kerja Dalam Pemasangan Piping ... 64 66 6.3.1 Pembuatan Ijin Kerja K3 ... 66

6.3.2 Melihat Gambar Piping ... 67

6.3.3 Penurunan Dan Pemindahan Material ... 68

6.3.4 Pemotongan Dan Pembentukan Pipa Paralon Yang Akan Di Piping ... 70

6.3.5 Aktifitas Pengeboran Dinding ... 72

6.3.6 Aktivitas Pemasangan Panel ... 74

6.3.7 Aktivitas Wering ... 75

6.3.8 Aktifitas Megger Kabel ... 6.4 Penilaian Potensi Bahaya Resiko Dan Pengendalian Proses Kerja Dalam Pemasangan Piping Di Atas Ketinggian Scaffolding ... 77 79 6.4.1 Bahaya Pemasangan Piping Diatas Scaffolding ... 79

6.4.2 Kecelakaan Saat Proses Pemasangan Piping Diatas Scaffolding ... 80

BAB VII PEMBAHASAN 7.1 Aktivitas Proses Pengeboran Dinding ... 82

7.2 Bahaya Pemasangan Piping Di Ketinggian (Diatas scaffolding) ... 83

7.3 Aktivitas Proses Wering (Memasukan Kabel Dalam Pipa Paralon)... 84

(15)

xii

7.4 Penurunan Dan Pemindahan Material ... 84

7.5 Aktifitas Proses Pemotongan Dan Pembentukan Pipa Piping ... 85

7.6 Aktivitas Proses Pemasangan Panel... 86

7.7 Aktivitas Pengetesan Kabel Setelah Diwering ... 87

BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan ... 89

8.2 Identifikasi potensi bahaya yang dianalisa atau ditemukan pada aktivitas kerja proses pemasangan piping... 90

8.3 Identifikasi potensi bahaya yang dianalisa / ditemukan pada aktivitas Bahaya ketinggian pemasangan piping ... 91

8.4 Upaya yang telah dilakukan oleh PT. Mega Persada Indonesia untuk mengendalikan potensi bahaya yang ada dari aktivitas proses pemasangan piping di Proyek Dinas Teknis Kuningan ... 91

8.6 Saran ... 92 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(16)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Qualitative Rangking Of Risk ... 38

Tabel 2.2 Semi Quantitative Faktor Frequncy ... 39

Tabel 2.3 Semi Quantitative Faktor Probability ... ... 38

Tabel 2.4 Semi Quantitative Faktor Saverity... 40

Tabel 2.5 Semi Nilai Faktor Resiko ... ... 41

Tabel 3.1 Definisi Oprasional ... .... 45

Tabel 4.1 Informasi Penelitian ... .... 53

Tabel 6.1 Penilaian Resiko Pada Penurunan Dan Pemindahan material ... .... 72

Tabel 6.2 Penilaian Resiko Pada Aktivitas Pemotongan dan Pembentukan ... .... 74

Tabel 6.3 Penilaian Resiko Pada Aktivitas Pengeboran Dinding ... .... 77

Tabel 6.4 Penilaian Resiko Pada Aktivitas Pemasangan Panel ... .... 79

Tabel 6.5 Penilaian Resiko Pada Aktivitas Wering ... .... 81

Tabel 6.6 Penilaian Resiko Pada Aktivitas Test Magger Kabel ... .... 83

Tabel 6.7 Bahaya Pemasangan Piping Diatas Scaffolding ... .... 85

Tabel 8.1 Level Of Aktivitas Pemasangan Piping ... .... 94

(17)

LAMPIRAN

Lampiran 1 : Surat Permohonan Kegiatan Magang

Lampiran 2 : Surat Keterangan Magang di PT. Mega Persada Indonesia

Lampiran 3 : Lembar Permohonan Pengajuan Usulan judul Skripsi

Lampiran 4 : Pedoman Pertanyaan Wawancara

Lampiran 5 : Job Safety Analisys

Lampiran 6 : Lembar Bimbingan Skripsi

xiv

(18)

Nama lengkap : Agam Sasmito Raharjo

NPM : 01.09.000.279

Jenis kelamin : Laki – laki

Tempat, tanggal lahir : Bogor, 20 November 1992

Status : Belum menikah

Agama : Islam

Kebangsaan : Indonesia No. telpon : 08985645182

Email : [email protected]

PEMINATAN : KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)

JUDUL SKRIPSI : ANALISIS PENILAIAN BAHAYA DAN RESIKO

KECELAKAAN PADA PEKERJA PEMASANGAN PIPING DI PROYEK DINAS TEKNIS KUNINGANTAHUN 2015

Riwayat Pendidikan

- SD Bhakti Jaya 01 tahun 1999 – 2005

- SMP Mulya Bhakti tahun 2005 – 2008

- SMK Kesehatan Raflesia tahun 2008 – 2011

- SKM Jurusan K3, STIKIM (Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan Indonesia Maju) tahun 2011 - sekarang

xv

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap perusahaan selalu berusaha meningkatkan kualitas pekerjaan yang ada dan memperluas lapangan kerja untuk menampung tenaga kerja yang terus bertambah serta perusahaan selalu menginginkan tidak terjadinya kecelakaan kerja. Kemajuan teknologi telah mampu meningkatkan produktivitas tanah, modal dan tenaga kerja. Inovasi dan penemuan baru di bidang ilmu dan teknologi telah berhasil mendorong industrialisasi dan memberikan kemudahan bagi tenaga kerja dalam melalukan pekerjaannya, dan telah berhasil pula membuka lapangan kerja baru. Pengembangan ilmu penerapan teknologi baru telah berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat diseluruh negara-negara di dunia.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat dunia industri berlomba-lomba melakukan efisiensi dan meningkatkan produktivitas dengan menggunakan alat-alat produksi yang semakin komplek. Dengan semakin kompleknya peralatan kerja yang digunakan, maka semakin besar pula potensi bahaya kecelakaan kerja yang ditimbulkan apabila tidak dilakukan penanganan dan pengendalian sebaik mungkin. Penggunaan peralatan kerja sering tidak diikuti dengan penyediaan tenaga kerja yang berkualitas untuk mengoperasikannya dapat berakibat peralatan tersebut tidak termanfaatkan secara optimal dan benar. Akibat

(20)

yang lebih fatal adalah timbulnya kecelakaan kerja baik operator peralatan itu sendiri maupun masyarakat di sekitar perusahaan.

Menurut peraturan pemerintah nomor 50 tahun 2012 tentang penerapan sistem manajemen keselamatan kerja pasal 2 menyatakan salah satu penerapan SMK3 adalah mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dengan melibatkan unsur manajemen,pekerja/buruh. Sedangkan dalam pasal 13 ayat (3) tentang pendokumentasi kegiatan, salah satunya adalah upaya pengendalian bahaya, dilakukan berdasarkan hasil penilaian resiko melalui pengendalian teknisi administrative dan alat pelindung diri, peraturan ini dibuat sebagai upaya resiko terhadap keselamatan dan kesehatan kerja dilingkungan kerja.

Perkembangan di dunia konstruksi pada saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat bila ditinjau dari segi manajemen dan teknologi konstruksi bangunan.

Dengan semakin rumitnya konstruksi banguan, maka perlu adanya pengendalian dalam manajemen konstruksi khususnya manajemen risiko bidang K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). Adanya kemungkinan kecelakaan yang terjadi pada proyek konstruksi akan menjadi salah satu penyebab terganggunya atau terhentinya aktivitas pekerjaan proyek. Oleh karena itu, pada saat pelaksanaan pekerjaan konstruksi diwajibkan untuk menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lokasi kerja dimana masalah keselamatan dan kesehatan kerja ini juga merupakan bagian dari perencanaan dan pengendalian proyek. (wartaekonomi, 2006).

(21)

Masalah keselamatan dan kesehatan kerja (K3) secara umum di Indonesia masih sering terabaikan. Hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya angka kecelakaan kerja. Ketua Umum Asosiasi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (A2K4) Indonesia Anas Zaini Z Iksan mengatakan, “setiap tahun terjadi 96.000 kasus kecelakaan kerja”. Dari jumlah ini, sebagian besar kecelakaan kerja terjadi pada proyek jasa konstruksi dan sisanya terjadi di sektor Industri manufaktur. (Suara Karya, 2010). Contoh kasus yang pernah di dunia konstruksi terjadi di proyek pembangunan Apartemen Gading Mediterania, Kelapa Gading.

Kecelakaan yang terjadi menewaskan lima orang pekerja, dua orang tewas tertimpa beton precast, dua orang tewas akibat kesetrum listrik dan satu orang terjatuh dari ketinggian saat menaiki gondola gantung. (Kompas cyber media, 2003).

Berdasarkan laporan internasional labour organization, diseluruh dunia setiap hari terjadi kecelakan kerja yang mengakibatkankan korban fatal sekitar 6000 kasus. Sementara di Indonesia setiap 100.000 tenaga kerja terdapat 20 orang fatal akibat kerja. Tak hanya itu menurut kakulasi ILO, kerugian yang harus di tanggung akibat kecelakaan kerja di negara negara berkembang juga tinggi, yakni mencapai 4% dari GNP (Grass National Product). Artinya, dalam industri kecelakaan dan penyakit akibat kerja menimbulkan kerugian 4% dari biaya produksi berupa pemborosan terselubung yang pada ahkirnya mengurangi produktivitas dan mempengaruhi daya saing suatu bangsa. (Marumpa, 2012).

(22)

Di Indonesia menurut data kementrian ketenagakerjaan dan transmigrasi Republik Indonesia jumlah angka kecelakaan kerjanya masih tinggi. Pada tahun 2011 tercatat 96.314 kasus dengan korban meninggal 2.144 orang dan mengalami cacat sebanyak 42 orang. Diperkirakan, kerugian akibat kecelakaan kerja yakni 4% dari pendapatan domestic bruto Indonesia atau Rp280 triliun per tahun.

Sampai dengan September 2012 angka kecelakaan kerja masih tinggi yaitu pada kisaran 80.000 kasus kecelakaan kerja. ( BPS, 2012).

Berdasarkan data Jamsostek (persero) yang saat ini telah berubah menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) ketenagakerjaan mencatat sepanjang tahun 2013 jumlah pesertanya yang mengalami kecelakaan kerja sebanyak 129.911 orang. Dari jumlah tersebut 75,8% berjenis kelamin laki laki yaitu sebanyak 146.219 orang berjenis kelamin laki laki dan 46.692 berjenis kelamin perempuan. Dari jumlah kecelakaan tersebut sebagiaan besar atau sekitar 64,59%

terjadi di dalam perusahaan ketika melakukan pekerjaan. Sedangkan yang di luar perusahaan sebanyak 10,26% dan sisanya sekitar 20,15% merupakan kecelakaan lalu lintas yang dialami para pekerja. Sementara akibat kecelakaan tersebut, jumlah peserta jumlah peserta Jamsostek yang meninggal sebanyak 3,093 pekerja, yang mengalami sakit sekitar 15,106 orang, luka-luka 174,226 orang dan meninggal mendadak sebanyak 446 orang. Selain itu, sebanyak 34,43% penyebab kecelakaan kerja dikarnakan posisi tidak aman dan ergonomis, 32,12%

dikarnakan pekerja tidak memakai peralatan yang safety dan 51,3% penyebab kecelakaan kerja dikarnakan adanya benturan, sedangkan bagian tubuh yang paling banyak terkena cidera adalah jari tangan kemudian kaki. Lalu sumber

(23)

penyebab cedera terbanyak sebesar 32,25% adalah mesin. Sehingga untuk jumlah klaim jaminan kecelakaan kerja yang harus dibayarkan kepada peserta selama 2013 mencapai Rp 618,49 miliar. (Sindonews,2014).

Berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja dan Trasmigrasi pada tahun 2010, keceakaan kerja yang terjadi masih didominasi bidang jasa konstruksi (31,9%), disusul industri (31,6%), trsport (9,3%), pertambangan (2,6%), kehutanan (3,8%) dan lain lain (20%). Sedangkan, menurut Data Kementerian Tenaga Kerja dan Trasmigrasi menyebutkan, sampai tahun 2013 di Indonesia tidak kurang dari enam pekerjaan meninggal dunia setiap hari akibat kecelakaan kerja. Angka tersebut tergolong tinggi dibandingkan negara Eropa hanya sebanyak dua orang meninggal dua per hari karena kecelakaan kerja.

(PikiranRakyat, 2014).

Menurut data Dinas Tenaga Kerja dan Trasmigrasi DKI Jakarta sepanjang tahun 2011 terdapat 400 kasus kecelakaan kerja, kemudian tahun 2012 ada 290-an kecelakaan kerja. (Jamsostek, 2013).

Kewajiban untuk menyelenggarakaan Sistem Manajemen K3 pada perusahaan-perusahaan besar melalui Undang-undang Ketenagakerjaan, baru menghasilkan 2,1% saja dari 15.000 lebih perusahaan berskala besar di Indonesia yang sudah menerapkan Sistem Manajemen K3. Minimnya jumlah itu sebagian besar disebabkan oleh masih adanya anggapan bahwa program K3 hanya akan menjadi tambahan beban biaya perusahaan. Padahal jika diperhitungkan besarnya dana kompensasi/santunan untuk korban kecelakaan kerja sebagai akibat diabaikannya Sistem Manajemen K3, yang besarnya mencapai lebih dari 190

(24)

milyar rupiah di tahun 2003, jelaslah bahwa masalah K3 tidak selayaknya diabaikan. (Wartaekonomi, 2006).

Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.05/MEN/1996 mempersyaratkan adanya pengelolaan resiko pada perusahaan guna mencapai keberhasilan penerapan Sistem Manajemen K3 (SMK3) dengan sasaran yang jelas dan dapat diukur.

Perencanaan harus membuat tujuan, sasaran dan indikator kinerja yang diterapkan dengan mempertimbangkan identifikasi sumber bahaya, penilaian dan pengendalian resiko sesuai dengan persyaratan perundangan yang berlaku serta hasil pelaksanaan tinjauan awal terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (Suardi, 2005).

Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan faktor penting dalam pelaksanaan proses produksi dalam suatu perusahaan. Manajemen perusahan dan seluruh karyawan bertanggung jawab atas Keselamatan dan kesehatan kerja dilingkungan kerjanya. Untuk mencapai maksud diatas maka manajemen resiko adalah kegiatan yang di mulai dari identifikasi resiko, penilaian resiko, serta pengendalian resiko (Cross, 1998).

Telah kita yakini bahwa kecelakaan tidak terjadi begitu saja, tetapi ada faktor- faktor penyebab yaitu :

1. Unsafe Condition atau keadaaan yang tidak aman 2. Unsafe Action atau tindakan yang tidak aman 3. Atau kombinasi keduanya

(25)

Perusahaan MEGA PERSADA INDONESIA adalah perusahaan konstruksi yang dioperasikan oleh profesional orang yang memiliki pengalaman di perusahaan lokal dan asing.

PT. MEGA PERSADA INDONESIA merupakan salah satu perusahan yang bergerak di bidang Mechanical and Electrical Contractor. Saat ini PT. MEGA PERSADA INDONESIA sedang mengerjakan suatu projek Contractor di pemasangan paping instalansi listrik (jalur listrik), pembutan pemasangan Pipa Hydrant, dan pembuatan pemasangan Fabrikasi Ducting piu, AC, dan Exhaust Duct di Proyek Dinas Teknis di daerah Kuningan Jakarta Selatan. Di dalam gedung proyek Dinas Teknis PT. MEGA PERSADA INDONESIA memiliki peraturan K3 tersendiri yang harus di patuhi oleh pekerja dalam mengerjakan pekerjaan di dalam gedung proyek Dinas Teknis kuningan.

Berdasarkan data kecelakaan PT.MEGA PERSADA INDONESIA di proyek Dinas Teknis Kuning sampai bulan juni 2015 telah terjadi kecelakaan kerja sebanyak 7 orang kecelakaan kerja yang tergolong dalam katagori tidak fatal namun mempengaruahi proses bekerja. Dimana 83 % kecelakaan kerja disebabkan oleh Unsafe Action (tindakan tidak aman) yang dilakukan oleh pekerja konstruksi, seperti bekerja tidak sesuai prosedur yang ada, tidak menggunakan APD, dan Lain-lain.

Dalam dunia industri atau proyek, Piping ini adalah suatu sistem perpipaan dari equipment satu ke equipment lainnya atau dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Selain itu juga terdapat spesifikasi pendisainan yang dewasa ini telah menggunakan software PDMS atau PDS sehingga tidak terjadi kesalahan desain

(26)

yang dilakukan beberapa desainer dalam pembuatan jalur-jalur yang saling berhubungan dari suatu lokasi kesuatu lokasi lainnya

1.2 Perumusan Masalah

Munculnya kecelakaan kerja yang tidak sedikit pada saat aktifitas pemasangan peping, proses dimana tingkat kecelakaan yang terjadi dari tingkat kecelakaan ringan sampai kecelakaan yang fatal sangat mungkin terjadi di aktifitas pemasangan peping jalur listrik. Dampak yang ditimbulkan dari kecelakaan kerja pun tidak sedikit, selain kerugian yang harus dialami korban berupa luka-luka ringan atau berat kecacatan dan meninggal, perusahaan pun mengalami kerugian biaya sebagai kompensasi.

Menurut Heinrich (2011), 80% penyebab kecelakaan kerja diakibatkan oleh unsafe action (tindakan tidak aman), 15% disebabkan oleh unsafe condition (kondisi tidak aman), dan 5% diakibatkan anvoidable (hal yang tidak dapat dihindari).

Berdasarkan studi pendahuluan di Proyek Dinas Teknis Kuningan, Jakarta Selatan pada bulan April sampai dengan Mei 2015 dari 36 orang pekerja, 15 diantaranya berperilaku tidak selamat, seperti tidak menggunakan APD, menggambil posisi kerja yang tidak aman dalam memakai alat pembantu kerja seperti pemakaian alat scaffolding, catwalk, dan tangga almunium, tidak memenuhi peraturan yang ada, merokok saat bekerja.

Berdasarkan data yang bekerja sebagai pemasangan piping di Proyek Dinas Kuningan banyak sekali pekerja yang kurang menyadari bahaya dalam

(27)

pemasangan piping. Karna itu rawan sekali terjadi kecelakaan kerja dari proses pembuatan sampai pemasangan piping di Proyek Dinas kuningan.

Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan selama berada di Proyek Dinas Teknis Kuningan, terdapat beberapa fakta yang penulis temukan. Dari fakta yang ada dilapangan tersebut, penulis menilai program analisis penilaian bahaya dan resiko yang telah dilakukan selama ini oleh perusahaan belum optimal di evaluasi untuk pelaksanaan implementasi di lapangan terhadap para pekerja di Proyek Dinas Teknis Kuningan. Sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai analisis penilaian dan bahaya resiko aktivitas proses pemasangan piping jalur listrik di Proyek Dinas Teknis Kuningan, Jakarta Selatan tahun 2015.

1.3 Pertanyaan Penelitian

1. Berapa banyak personil yang terlibat dalam Aktifitas proses pemasangan paping jalur listrik di Proyek Dinas Teknis Kuningan, Jakarta Selatan tahun 2015?

2. Apa saja langkah – langkah aktifitas proses pemasangan paping jalur listrik di Proyek Dinas Teknis Kuningan, Jakarta Selatan tahun 2015?

3. Identifikasi bahaya serta potensi bahaya kerja apa yang ada pada proses pemasangan paping jalur listrik di Proyek Dinas Teknis Kuningan, Jakarta Selatan tahun 2015?

(28)

4. Penyebab kecelakaan dan penilaian tingkat resiko pada proses pemasangan paping jalur listrik di Proyek Dinas Teknis Kuningan, Jakarta Selatan tahun 2015?

5. Bagaimanakah atau apakah sudah dilakukan upaya pengendalian evaluasi yang dilakukan oleh PT. Mega Persada indonesia di Proyek Dinas Teknis Kuningan, Jakarta Selatan tahun 2015

1.4 Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum

Diketahuinya potensi bahaya kecelakaan di tempat kerja dan tingkat resiko serta upaya pengendalian dari setiap langkah proses pekerjaan para pekerja di Proyek Dinas Teknis Kuningan, Jakarta Selatan tahun 2015.

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Diketahui berapa banyak personil yang terlibat dalam aktifitas proses pemasangan paping jalur listrik di Proyek Dinas Teknis Kuningan, Jakarta Selatan tahun 2015.

2. Diketahui langkah - langkah aktivitas proses pemasangan paping jalur listrik di Proyek Dinas Teknis Kuningan, Jakarta Selatan tahun 2015.

3. Diketahui identifikasi bahaya serta potensi bahaya kecelakaan kerja yang ada pada proses pemasangan paping jalur listrik di Proyek Dinas Teknis Kuningan, Jakarta Selatan tahun 2015.

4. Diketahui seberapa tingkat resiko dari setiap langkah proses pekerjaan pemasangan paping jalur listrik di Proyek Dinas Teknis Kuningan, Jakarta Selatan tahun 2015.

(29)

5. Diketahui bagaimana atau apakah sudah dilakukan upaya pengendalian evaluasi yang dilakukan oleh PT. Mega Persada indonesia di Proyek Dinas Teknis Kuningan, Jakarta Selatan tahun 2015.

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini tidak menghasilkan teori baru, dan hanya menguji serta membuktikan teori yang sudah ada.

1.5.2 Manfaat Metodologi

Dalam penelitian ini, tidak menghasilkan metode baru tetapi sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian lebih lanjut.

1.5.3 Manfaat Praktisi

Secara praktisi penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi pihak perusahaan tentang kecelakaan kerja terutama yang disebabkan oleh faktor manusia dan dapat dilakukan pembinaan serta pengarahan terhadap para pekerja pemasangan peping dalam upaya peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja. Dapat dijadikan acuan atau masukan bagi pihak manajemen dalam membuat pelatihan, kebijakan, atau peraturan yang berguna bagi peningkatan perilaku pekerja untuk bekerja lebih aman dan nyaman.

(30)

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian dengan menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui potensi bahaya kecelakaan kerja dan analisis penilaian tingkat resiko pada proses aktivitas pemasangan peping jalur listrik. Penelitian ini melingkupi kegiatan dalam pemasangan peping jalur listrik, seberapa banyak personel yang terlibat dalam proses pemasangan peping jalur listrik, mengidentifikasi bahaya serta potensi bahaya yang ada dalam proses pemasangan peping jalur listrik, mengetahui seberapa besar resiko dari setiak aktifitas proses pemasangan peping jalur listrik dan memberikan evaluasi dari setiap tingkatan bahaya dan resiko yang peneliti temui di Proyek Dinas Teknis Kuningan, penelitian ini diambil pada bulan April 2014, kegiatan identifikasi bahaya dengan menggunakan Job Safety Analysis dan penilaian resiko dengan semi kuantitatif standard AS/NZS (Australian Standard/New Zeland Standard 4360:2004).

(31)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keselamatan Kerja

Safety berasal dari bahasa Inggris yang artinya keselamatan. Kata-kata safety sudah sangat popular dan dipahami oleh hampir semua kalangan. Bahkan sebagian besar perusahaan lebih suka menggunakan kata safety dari pada keselamatan. Misalnya hampir semua perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur memiliki Departemen Safety atau Safety Departement. Safety dapat diartikan sebagai suatu kondisi di manaseseorang terbebas dari kecelakaan atau bahaya, baik yang dapat menyebabkan kerugian secara material maupun kerugian secara spiritual. Penerapan safety pada umumnya berkaitan dengan pekerjaan sehingga safety lebih cenderung diartikan keselamatan kerja.

Bahkan saat ini safety sudah tidak dapat dipisahkan dengan kesehatan (Health) dan lingkungan (Environment) atau yang lebih dikenal dengan Safety Health Environment (SHE), ada juga yang menyebutnya Occupational Health &

Environment Safety (OH&ES). Maka secara lebih luas safety dapat diartikan sebagai kondisi di mana tidak terjadinya atau terbebasnya manusia dari kecelakaan, penyakit akibat kerja dan kerusakan lingkungan akibat polusi yang dihasilkan oleh suatu proses industri. ( Health & Safety Protection: 2011).

Berdasarkan pasal 86 ayat 1 UU No.13 Tahun 2003 disebutkan bahwa setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh pelindungan atas :

a. Keselamatan dan kesehatan kerja;

(32)

b. Moral dan kesusilaan; dan

c. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai- nilai agama.

Penyelenggaraan program keselamatan dan kesehatan kerja dimaksudkan untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal. Perlindungan tersebut dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. (Lalu Husni, 2006).

Farida Noviana (2004) mendefinisikan keselamatan kerja sebagai keadaan terhindar dari bahaya selama melakukan pekerjaan. Dengan kata lain keselamatan kerja merupakan salah satu faktor yang harus dilakukan selama bekerja. Tidak ada seorang pun didunia ini yang menginginkan terjadinya kecelakaan. Keselamatan kerja sangat bergantung pada jenis, bentuk, dan lingkungan di mana pekerjaan itu dilaksanakan. Unsur-unsur penunjang keselamatan kerja adalah sebagai berikut:

a. Adanya unsur-unsur keamanan dan kesehatan kerja.

b. Adanya kesadaran dalam menjaga keamanan dan kesehatan kerja.

c. Teliti dalam bekerja.

d. Melaksanakan prosedur kerja dengan memperhatikan keamanan dan kesehatan kerja.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah upaya perlindungan bagi tenaga kerja agar selalu dalamkeadaan sehat dan selamat selama bekerja di tempat kerja. Sedangkan Tempat kerja itu sendiri adalah ruang tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, atau sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan usaha dan tempat terdapatnya sumber-sumber bahaya.

(33)

2.2 Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Penyelenggaraan program keselamatan dan kesehatan kerja dimaksudkan untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal. Perlindungan tersebut dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. (Lalu husni, 2006:137)

Farida Noviana (2004) mendefinisikan keselamatan kerja sebagai keadaan terhindar dari bahaya selama melakukan pekerjaan. Dengan kata lain keselamatan kerja merupakan salah satu faktor yang harus dilakukan selama bekerja. Tidak ada seorang pun didunia ini yang menginginkan terjadinya kecelakaan. Keselamatan kerja sangat bergantung pada jenis, bentuk, dan lingkungan di mana pekerjaan itu dilaksanakan. Unsur-unsur penunjang keselamatan kerja adalah sebagai berikut:

a. Adanya unsur-unsur keamanan dan kesehatan kerja

b. Adanya kesadaran dalam menjaga keamanan dan kesehatan kerja c. Teliti dalam bekerja.

d. Melaksanakan prosedur kerja dengan memperhatikan keamanan dan kesehatan kerja.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah upaya perlindungan bagi tenaga kerja agar selalu dalam keadaan sehat dan selamat selama bekerja di tempat kerja. Sedangkan Tempat kerja itu sendiri adalah ruang tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, atau sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan usaha dan tempat terdapatnya sumber-sumber bahaya.

Menurut Lalu Husni (2006:146) Kesehatan Kerja adalah bagian dari ilmu kesehatan yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh keadaan kesehatan yang

(34)

sempurna baik fisik, mental maupun sosial sehingga memungkinkan dapat bekerja secara optimal.

Farida Noviana (2011) menyatakan bahwa Kesehatan Kerja adalah suatu kondisi kesehatan yang bertujuan agar masyarakat pekerja/buruh memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik jasmani, rohani, maupun sosial, dengan usaha pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja maupun penyakit umum.

Kesehatan dalam ruang lingkup Kesehatan, Keselamatan, dan Keamanan kerja tidak hanya diartikan sebagai suatu keadaan bebas dari penyakit. Menurut Undang-Undang Pokok Kesehatan RI No. 9 Tahun 1960, pasal 2, keadaan sehat diartikan sebagai kesempurnaan keadaan jasmani, rohani, dan kemasyarakatan serta bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan-kelemahan lainnya.

Tujuan dari kesehatan kerja menurut Lalu Husni (2006:146) adalah

a. Meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun sosial.

b. Mencegah dan melindungi tenaga kerja dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kondisi lingkungan kerja.

c. Menyesuaikan tenaga kerja dengan pekerjaan atau pekerjaan dengan tenaga kerja.

d. Meningkatkan produktivitas kerja.

(35)

Lalu Husni (2006:138) ditinjau dari segi keilmuan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja di tempat kerja. Keselamatan dan Kesehatan Kerja mempunyai tujuan untuk memperkecil atau menghilangkan potensi bahaya atau risiko yang dapat mengakibatkan kesakitan dan kecelakaan dan kerugian yang mungkin terjadi.

Kerangka konsep berpikir Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah menghindari risiko sakit dan celaka dengan pendekatan ilmiah dan praktis secara sistimatis (systematic), dan dalam kerangka pikir kesistiman (system oriented).

Sebelum memahami penyebab maupun terjadinya sakit dan celaka, terlebih dahulu perlu dipahami potensi bahaya (hazard) yang ada, kemudian perlu mengenali (identify) potensi bahaya tadi, keberadaannya, jenisnya, pola interaksinya dan seterusnya. Setelah itu perlu dilakukan penilaian (asess, evaluate) bagaimana bahaya tadi dapat menyebabkan risiko (risk) sakit dan celaka dan dilanjutkan dengan menentukan berbagai cara (control, manage) untuk mengendalikan atau mengatasinya. Langkah langkah sistimatis tersebut tidak berbeda dengan langkah-langkah sistimatis dalam pengendalian risiko (risk management ).

Pola pikir dasar dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada hakekatnya adalah bagaimana mengendalikan risiko dan tentunya di dalam upaya mengendalikan risiko tersebut masing-masing bidang keilmuan akan mempunyai pendekatan-pendekatan tersendiri yang sifatnya sangat khusus.

(36)

Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang mempunyai kerangka pikir yang bersifat sistimatis dan berorientasi kesistiman tadi, tentunya tidak secara sembarangan penerapan praktisnya diberbagai sektor di dalam kehidupan atau di suatu organisasi. Karena itu dalam rangka menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja ini diperlukan juga pengorganisasian secara baik dan benar.

Berdasarkan hubungan inilah diperlukan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang terintegrasi dan perlu dimiliki oleh setiap organisasi. Melalui Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja inilah pola pikir dan berbagai pendekatan yang ada diintegrasikan kedalam seluruh kegiatan operasional organisasi agar organisasi dapat berproduksi dengan cara yang sehat dan aman, efisien serta menghasilkan produk yang sehat dan aman pula serta tidak menimbulkan dampak lingkungan yang tidak diinginkan. (Health

& Safety Protection: 2011).

2.3 Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

1. Mengamankan suatu sistem kegiatan atau pekerjaan mulai input, proses dan output. Kegiatan tersebut yang dimaksud bisa berupa kegiatan produksi di dalam industri maupun di luar industri seperti di sektor publik dan yang lainnya.

2. Penerapan program K3 juga diharapkan dapat meningkatkan dan mempertahankan kesehatan manusia yang terlibat dalam sistem kegiatan tersebut dalam rangka menigkatkan kesejahteraan.

(37)

2.4 Lingkungan Kerja

Kesatuan ruang yang terdiri atas benda hidup dan benda mati, daya, keadaan yang mempengaruhi kegiatan pekerja dalam menjalankan pekerjaannya (Sudrajat dkk. 1998).

Faktor-faktor lingkungan kerja dapat dibedakan menjadi 6 faktor, yaitu:

1. Faktor fisik, yang meliputi aspek penerangan cahaya, suhu udara, kelembaban ruang kerja, komposisi udara atmosfer, kebisingan, radiasi sinar, dan lain-lain 2. Faktor kimia, yaitu gas, uap, debu, kabut, asap, awan cairan dan benda padat 3. Faktor hayati/biologi, yaitu mikroorganisme, hewan dan tumbuhan

4. Faktor fisiologis, yaitu konstruksi mesin, sikap dan cara kerja

5. Faktor mental-psikologis, yaitu suasana kerja, hubungan antar kerja, komunikasi dengan pimpinan, beban kerja, dan lain-lain

6. Faktor mekanik, yaitu kerusakan mesin atau peralatan.

2.5 Kecelakaan Kerja

Lalu Husni (2006:142) menyatakan bahwa Keselamatan Kerja bertalian dengan Kecelakaan Kerja, yaitu kecelakaan yang terjadi di tempat kerja atau dikenal dengan istilah kecelakaan industri. Kecelakaan industri ini secara umum dapat diartikan sebagai suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu akivitas.

Lalu Husni secara lebih jauh mengklasifikasikan faktor penyebab kecelakaan kerja menjadi empat, yaitu:

(38)

a. Faktor manusia, diantaranya kurangnya keterampilan atau pengetahuan tentang industri dan kesalahan penempatan tenaga kerja.

b. Faktor material atau peralatannya, misalnya bahan yang seharusnya dibuat dari besi dibuat dengan bahan lain yang lebih murah sehingga menyebabkan kecelakaan kerja.

c. Faktor sumber bahaya aktivitas.

d. Faktor lingkungan kerja yang tidak sehat, misalnya kurangnya cahaya, ventilasi, pergantian udara yang tidak lancar dan suasana yang sumpek.

Selain ada sebabnya, maka suatu kejadian juga akan membawa akibat.

Menurut Lalu Husni (2006:142), akibat dari kecelakaan industri ini dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

a. Kerugian yang bersifat ekonomis, yaitu

1. Kerusakan/ kehancuran mesin, peralatan, bahan dan bangunan.

2. Biaya pengobatan dan perawatan korban.

3. Tunjangan kecelakaan.

4. Hilangnya waktu kerja.

5. Menurunnya jumlah maupun mutu produksi.

b. Kerugian yang bersifat non ekonomi

Pada umumnya berupa penderitaan manusia yaitu tenaga kerja yang bersangkutan, baik itu merupakan kematian, luka/cidera berat, maupun luka ringan.

Insiden adalah suatu kejadian yang tidak diinginkan yang dapat atau telah mengakibatkan sesuatu yang hilang atau rusak (Loss Control Definition).

(39)

Untuk memudahkan dalam mendapatkan perbedaan antara kecelakaan (accident) dengan insiden (Incident) menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:

1. Frank E. Bird (1976)

Peristiwa yang tidak dikehendaki, dapat mengakibatkan kerugian jiwa serta harta benda dan biasanya terjadi sebagai akibat dari adanya kontak dengan sumber energi yang melebihi batas kemampuan tubuh, alat atau struktur.

2. ILCI (International Loss Control Institute)

Dalam bukunya yang berjudul Fundamental of Modern Safety Management adalah “Accident an undesired event that result in harm to people, damage to property or loss to process” atau suatu kejadian yang tidak dikehendaki yang dapat menimbulkan korban manusia, kerusakan harta benda atau kerugian pada proses.

3. Heinrich (1980)

Kejadian yang tidak terencana dan tidak terkontrol yang merupakan salah satu aksi dan reaksi obyek, zat dan manusia. Teori yang lebih dikenal adalah teori domino. Teori domino diperbarui menjadi ILCI Loss Control Model (Frank E. Bird, Jr, 1990) yaitu sebagia berikut:

(40)

Gambar 2.1

ILCI Loss Causation Model

Kurang Pengawasan

Program tidak memadai

Program tidak standar

Penyebab Dasar Faktor personal

Faktor pekerjaan

Penyebab Langsung Perilaku tidak aman

Kondisi tidak aman

Insiden

Kontak dengan energy atau

bahan

T Kerugian

R E S H

O Manusia

L

D Properti

L

I Proses

M

I Lingkungan

T

4. ILO (International Labour Organization) 1989

Kecelakaan biasanya timbul sebagai hasil gabungan faktor yaitu faktor lingkungan, pekerjaan dan pekerja itu sendiri dimana masing-masing faktor saling berkaitan dan mempengaruhi satu dengan yang lainnya.

Dalam perkembangannya bahwa penyebab kecelakaan berakar pada kesalahan, kurang perhatian dari pihak manajemen. Bila sistem manajemen berjalan dan mempunyai komitmen terhadap keselamatan dan kesehatan kerja maka setiap masalah dapat diatasi dan kecelakaan dapat dihindari.

(41)

2.5.1 Model Penyebab Kecelakaan (Loss Caution Model)

Berdasarkan teori domino yang telah diperkenalkan oleh H.W.

Heinrich dan dikembangkan oleh Frank E. Bird, dapat diketahui bahwa faktor-faktor penyebab kecelakaan dapat digolongkan atas :

1. Faktor-faktor penyebab langsung (Immediate Causes), Faktor penyebab langsung terdiri dari :

a. Tindakan tidak selamat (Unsafe Act), yakni tindakan atau pelanggaran terhadap tata kerja aman yang dilakukan oleh manusia atas peralatan atau lingkungan bahkan atas manusia lain yang dapat mencelakakan orang lain, peralatan atau lingkungan.

b. Kondisi dibawah standar (Sub-standar Condition), adalah kondisi orang, peralatan, bahan dan lingkungan yang bersifat dapat mendorong munculnya suatu kecelakaan baik terhadap diri pribadi, orang lain, bahan, peralatan maupun lingkungan.

2. Faktor penyebab dasar (Basic Causes)

Kontrol yang tidak memadai akan memberi peluang pada penyebab dasar dari suatu kejadian yang mengakibatkan kerugian. Faktor penyebab dasar terbagi atas :

a. Faktor-faktor pribadi (Personal Factor), yaitu faktor yang ada di dalam dan melekat pada pribadi seseorang yang mendorong timbulnya tindakan atau kondisi tidak aman. Kecelakaan yang disebabkan oleh faktor pribadi atau manusia antara lain:

a) Kurangnya pengarahan.

(42)

b) Kemampuan fisik yang tidak memadai.

c) Keterbatasan kemampuan mental atau psikologi.

d) Stress fisik dan mental.

e) Kurang keterampilan.

b. Faktor-faktor pekerjaan (Job Factor), yaitu faktor yang ada di dalam dan melekat pada suatu pekerjaan yang mendorong timbulnya kondisi yang tidak aman. Kecelakaan yang disebabkan oleh faktor- faktor pekerjaan tersebut, antara lain:

a) Peralatan dan perlengkapan kerja yang tidak memadai.

b) Tidak adanya rancangan atau desain teknis yang diperlukan atau rekayasa engineering yang tidak tepat.

c) Kegagalan dalam pengoperasian.

d) Kesalahan dalam penggunaan.

2.6 Bahaya atau Hazard

Bahaya di definisikan sebagai suatu kondisi fisik atau kimiawi yang dapat menyebabkan kerugian kepada manusia, harta benda, atau lingkungan hidup.

2.6.1 Sumber-sumber bahaya di lingkungan kerja

Kecelakaan kerja dapat terjadi karena adanya sumber-sumber bahaya di lingkungan kerja (Affan Ahmad, 2008).

(43)

1. Bangunan, peralatan dan instalasi

Bahaya dari bangunan, peralatan dan instalasi perlu mendapat perhatian.

Desain ruangan tempat kerja harus menjamin keselamatan dan kesehatan kerja. Pencahayaan dan ventilasi harus baik, tersedia penerangan darurat yang diperlukan, tersedia jalan penyelamatan diri yang diperlukan lebih dari satu pada sisi yang berlawanan.

Instalasi harus memenuhi persyaratan keselamatan kerja baik dalam desain maupun kontruksi. Sebelum penggunaan harus dilakukan pengujian dahulu serta diperiksa oleh suatu tim ahli.

Dalam industry digunakan berbagai peralatan yang mengandung bahaya.

Apabila tidak dipergunakan dengan semestinya serta tidak dilengkapi dengan alat pelindung dan pengaman, peralatan itu bisa menimbulkan macam-macam bahaya seperti : kebakaran, sengatan listrik, ledakan, luka/cidera, dan lain- lain. Agar peralatan ini aman dipakai maka perlu pengaman, untuk peralatan yang rumit cara pengoperasiannya perlu disediakan semacam petunjuk sebagai daftar periksa pengoperasian.

2. Bahan

Bahaya dari bahan meliputi berbagai resiko sesuai dengan sifat bahan tersebut, antara lain :

a. Mudah terbakar b. Mudah meledak

c. Menimbulkan kerugian d. Menimbulkan alergi

(44)

e. Menimbulkan kerusakan pada kulit dan jaringan tubuh f. Menyebabkan kanker

g. Menyebabkan kelainan pada janin h. Bersifat racun

Selain bahayanya berbeda-beda, intensitas atau tingkat bahaya yang ditimbulkan juga berbeda-beda. Ada yang tingkat bahayanya tinggi dan ada juga yang rendah, misalnya dalam hal ini bahan beracun, ada yang beracun, ada yang sangat beracun yang dapat menimbulkan kematian dalam kadar rendah dan dalam tempo yang sangat singkat dan ada pula yang kurang tingkat bahayanya. Disamping itu ada pula yang pengaruhnya dapat dilihat langsung (akut) tetapi ada juga yang pengaruhnya baru bisa terlihat setelah bertahun-tahun (kronis).

3. Proses

Proses yang digunakan di industry ada yang sederhana tetapi ada juga yang rumit. Ada proses yang berbahaya dan ada pula yang kurang berbahaya.

Dalam proses biasanya juga digunakan suhu dan tekanan tinggi yang memperbesar resiko bahayanya. Dari proses ini biasanya timbul asap, debu, panas, bising dan bahaya mekanik seperti terjepit, terpotong atau tertimpa bahan. Hal ini dapat menyebabkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

2.6.2 Sumber bahaya yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja

Beberapa sumber bahaya yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dapat dikategorikan sebagai berikut

(45)

1. Bahan Kimia

Meliputi bahan mudah terbakar, bersifat racun, korosif, tidak stabil, sangat reaktif, dan gas yang berbahaya. Penggunaan senyawa yang bersifat karsinogenik dalam industri maupun laboratorium merupakan problem yang signifikan, baik karena sifatnya yang berbahaya maupun cara yang ditempuh dalam penanganannya. Beberapa langkah yang harus ditempuh dalam penanganan bahan kimia berbahaya meliputi manajemen, cara pengatasan, penyimpanan dan pelabelan, keselamatan di laboratorium, pengendalian dan pengontrolan tempat kerja, dekontaminasi, disposal, prosedur keadaan darurat, kesehatan pribadi para pekerja, dan pelatihan. Bahan kimia dapat menyebabkan kecelakaan melalui pernafasan (seperti gas beracun), serapaan pada kulit (cairan), atau bahkan tertelan melalui mulut untuk padatan dan cairan.

Bahan kimia berbahaya dapat digolongkan ke dalam beberapa kategori yaitu, bahan kimia yang eksplosif (oksidator, logam aktif, hidrida, alkil logam, senyawa tidak stabil secara termodinamika, gas yang mudah terbakar, dan uap yang mudah terbakar). Bahan kimia yang korosif (asam anorganik kuat, asam anorganik lemah, asam organik kuat, asam organik lemah, alkil kuat, pengoksidasi, pelarut organik). Bahan kimia yang merusak paru-paru (asbes), bahan kimia beracun, dan bahan kimia karsinogenik (memicu pertumbuhan sel kanker), dan teratogenik.

(46)

2. Bahan-bahan Biologis

Bakteri, jamur, virus, dan parasit merupakan bahan-bahan biologis yang sering digunakan dalam industri maupun dalam skala laboratorium. Pada golongan ini bukan hanya organisme saja, tetapi juga semua bahan biokimia, termasuk di dalamnya gula sederhana, asam amino, dan substrat yang digunakan dalam proses industri. Penanganan dalam penyimpanan, proses, maupun pembuangan bahan biologis ini perlu mendapatkan ketelitian dan kehati-hatian, mengingat gangguan kontaminasi akibat organisme dapat menyebabkan kerusakan sel-sel tubuh yang serius pada karyawan atau tenaga kerja.

3. Aliran Listrik

Penggunaan peralatan dengan daya yang besar akan memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk terjadinya kecelakaan kerja. Beberapa faktor yang harus diperhatikan antara lain:

a. Pemakaian safety switches yang dapat memutus arus listrik jika penggunaan melebihi limit/batas yang ditetapkan oleh alat.

b. Improvisasi terhadap peralatan listrik harus memperhatikan standar keamanan dari peralatan.

c. Penggunaan peralatan yang sesuai dengan kondisi kerja sangat diperlukan untuk menghindari kecelakaan kerja.

d. Berhati-hati dengan air. Jangan pernah meninggalkan perkeraan yang memungkinkan peralatan listrik jatuh atau bersinggungan dengan air.

(47)

Begitu juga dengan semburan air yang langsung berinteraksi dengan peralatan listrik.

4. Ionisasi Radiasi

Ionisasi radiasi dapat dikeluarkan dari peralatan semacam X-ray difraksi atau radiasi internal yang digunakan oleh material radioaktif yang dapat masuk ke dalam badan manusia melalui pernafasan, atau serapan melalui kulit. Non-ionisasi radiasi seperti ultraviolet, infra merah, frekuensi radio, laser, dan radiasi elektromagnetik dan medan magnet juga harus diperhatikan dan dipertimbangkan sebagai sumber kecelakaan kerja.

5. Mekanik

Walaupun industri dan laboratorium modern lebih didominasi oleh peralatan yang terkontrol oleh komputer, termasuk didalamnya robot pengangkat benda berat, namun demikian kerja mekanik masih harus dilakukan. Pekerjaan mekanik seperti transportasi bahan baku, penggantian peralatan habis pakai, masih harus dilakukan secara manual, sehingga kesalahan prosedur kerja dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Peralatan keselamatan kerja seperti helmet, sarung tangan, sepatu, dan lain-lain perlu mendapatkan perhatian khusus dalam lingkup pekerjaan ini.

(48)

6. Api

Hampir semua laboratorium atau industri menggunakan bahan kimia dalam berbagai variasi penggunaan termasuk proses pembuatan, pemformulaan atau analisis. Cairan mudah terbakar yang sering digunakan dalam laboratorium atau industri adalah hidrokarbon. Bahan mudah terbakar yang lain misalnya pelarut organik seperti aseton, benzen, butanol, etanol, dietil eter, karbon disulfida, toluena, heksana, dan lain-lain. Para pekerja harus berusaha untuk akrab dan mengerti dengan informasi yang terdapat dalam Material Safety Data Sheets (MSDS). Dokumen MSDS memberikan penjelasan tentang tingkat bahaya dari setiap bahan kimia, termasuk di dalamnya tentang kuantitas bahan yang diperkenankan untuk disimpan secara aman.

7. Suara (Kebisingan)

Sumber kecelakaan kerja yang satu ini pada umumnya terjadi pada hampir semua industri,baik industri kecil, menengah, maupun industri besar.

Generator pembangkit listrik, instalasi pendingin, atau mesin pembuat vakum. Peralatan–peralatan tersebut berpotensi mengeluarkan suara yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan kerja. Selain angka kebisingan yang ditimbulkan oleh mesin, para pekerja harus memperhatikan berapa lama meraka bekerja dalam lingkungan tersebut.

Pelindung telinga dari kebisingan juga harus diperhatikan untuk menjamin keselamatan kerja.

(49)

2.7 Manajemen Resiko

Manajemen resiko merupakan inti dari Sistem Manajemen K3, karena itu secara khusus OHSAS 18001 dan Permenaker 05/MEN/1996 mempersyaratkan adanya pengelolaan resiko. Sebuah organisasi dapat menerapkan metode pengendalian resiko apapun sejauh metode tersebut mampu mengidentifikasi, mengevaluasi dan memilih prioritas resiko dan pengendalian resiko dengan melakukan pendekatan jangka pendek dan jangka panjang.

Manfaat dilakukannya manajemen resiko adalah (AS/NZS 4360:2004):

1. Mengurangi kejadian yang tidak dapat terduga.

2. Mencari kesempatan dan peluang.

3. Meningkatkan perencanaan, kinerja dan efektifitas.

4. Menigkatkan keuntungan ekonomis dan efisiensi.

5. Meningkatkan informasi sebagai masukan proses pengambilan keputusan.

6. Meningkatkan kesejahteraan kesehatan personal dan pekerja lainnya.

Tahapan proses manajemen resiko (AS/NZS 4360:2004)

(50)

M O NI T O R A ND R EV IE W

R is k M a n ag eme n t

C O MM U N IC A T IO N A ND C O N S U LT

Gambar 2.2

Risk Management Process Overview

Risk Management Guidelines Companion to AS/NZS 4360:2004

Establish The Context

Identify Risk

Analyze Risk

Evaluate Risk

Treat Risk

(sumber Australian Standard/New Zeland Standard 4360:2004)

(51)

1. Penetapan ruang lingkup

Menetapkan tujuan, kebijakan, strategi penerapan, metode atau cara pelaksanaan manajemen resiko serta pencapaian yang ditargetkan oleh perusahaan.

2. Identifikasi resiko

Melakukan identifikasi terhadap resiko yang akan dikelola, mencari tahu jenis hazard apa saja yang mugkin menimbulkan resiko, bagaimana dan mengapa resiko tersebut muncul.

3. Analisis resiko

Melakukan estimasi resiko dengan mengkombinasikan faktor probabilitas atau likehood dan konsekuinsinya dengan mempertimbangkan upaya pengendalian resiko yang telah dilakukan.

4. Evaluasi resiko

Membandingkan tingkat resiko yang didapat dalam proses analisis resiko dengan kriteria evaluasi yang digunakan, menentukan apakah suatu resiko dapat diterima atau tidak.

5. Pengendalian resiko

Melakukan penanganan atau pengendalian terhadap resiko, terutama resiko dengan tingkat tinggi dengan mempertimbangkan aspek efektivitas dan efisiensi.

(52)

6. Monitoring dan review

Melakukan pemantauan dan pengkajian utama terhadap tingkat resiko, serta efektivitas program, penangan resiko yang telah dilakukan agar selanjutnya tindakan koreksi dan perbaikan yang perlu dilakukan.

7. Komunikasi dan konsultasi

Melakukan komunikasi dua arah antara pihak manajemen dan pekerja untuk mendapatkan masukan mengenai implementasi pengelolaan resiko di tempat kerja guna perbaikan dan pengelolaan resiko tersebut.

2.7.1 Metode-metode Analisis Resiko (Risk Analysis)

Beberapa metode-metode analisis resiko yang cukup popular adalah:

1. What if atau Checklist

Teknik identifikasi bahaya ini tidak terstruktur seperti teknik identifikasi bahaya yang lainnya, teknik ini memberikan keleluasaan yang lebih banyak dan sikap “Apa saja boleh” untuk mengekspresikan ide–ide Selma proses analisis. Tujuan dari teknik ini adalah untuk memperhatikan dengan cermat akibat dari peristiwa yang tidak diharapkan yang akan menimbulkan konsekuensi yang buruk. Konsep ini menggunakan pertanyaan–pertanyaan “Bagaimana kalau ?”

2. Prelimanary Hazard Analysis (PHA)

Untuk mengetahui secara dini, dengan demikian menghemat waktu dan biaya yang dapat ditimbulkan dari redesign pada pabrik bila bahaya ditemukan pada suatu tahapan yang kemudian. Metode ini dirancang untuk mengidentifikasi dan mengurangi bahaya yang biasanya berskala

(53)

besar, misalnya : kebakaran besar, pelepasan–pelepasan toksik, kerusakan pabrik yang besar, dan interupsi proses.

Pedoman untuk menggunakan prosedur PHA, yaitu : a. Tentukan tujuan, lingkup dan objektif.

b. Kumpulkan informasi yang diperlukan.

c. Lakukan survey pada lokasi.

d. Laksanakan Preliminary Hazard Analysis.

e. Buat analysis hasil–hasilnya.

3. Failure Mode and Effect Criticality Analysis (FMECA)

Suatu tabulasi dari peralatan dari sistem atau pabrik, modus–modus kegagalan, dan setiap efek dari modus kegagalan pada sistem atau pabrik.

Modus kegagalan merupakan suatu penjelasan tentang bagaimana peralatan gagal (terbuka, tertutup, ON, OFF, bocor, dll). Efek dari modus tersebut adalah respon dari sistem, atau kecelakaan yang ditimbulkan oleh kegagalan peralatan. Pedoman dalam menggunakan teknik ini, yaitu : a. Tentukan tingkat penyesuaian.

b. Buat format konsisten.

c. Rumuskan masalahnya dan kondisi–kondisi batasnya.

d. Lakukan FMECA.

e. Melaporkan hasil dari identifikasi.

4. Fault Tree Analysis (FTA)

Teknik identifikasi yang bersifat deduktif atau menggunakan “Top Down”, yang dimulai dari kejadian yang tidak diinginkan atau kerugian

(54)

yang kemudian menganalisa penyebab–penyebabnya.

5. Hazard and Operability Study (HAZOP)

Studi HAZOP dikembangkan untuk mengidentifikasi bahaya dalam suatu fasilitas dan untuk mengidentifikasi masalah–masalah probabilitas, walaupun tidak berbahaya, dapat mengurangi kemampuan fasilitas tersebut untuk mencapai produktivitas menurut design. Jadi, suatu HAZOP lebih jauh dari identifikasi bahaya.

6. Job Safety Analysis (JSA)

Suatu dokumen yang secara jelas mengidentifikasi sumber daya, keterampilan, wewenang, dan prosedur kerja yang diperlukan untuk memastikan agar pekerjaan dapat diselesaikan secara aman. Ada 3 cara melakukan JSA, yaitu mengamati secara langsung, diskusi kelompok, mengingat kembali dan memeriksa.

7. Hazard Identification Risk Assesment (HIRA)

Setiap aktivitas pekerjaan rutin/non rutin yang berpotensi mengandung bahaya yang dilakukan karyawan ataupun kontraktor, harus dilakukan Hazard Identification and Risk Assesment (HIRA). Demikian juga apabila terdapat perubahan proses kerja, tempat kerja, atau fasilitas pendukung.

Hal ini berlaku untuk segala perubahan prsoes kerja, peralatan, fasilitas yang berimplikasi pada perubahan pada nilai resiko yang mungkin terjadi.

Tujuan dari Identifikasi Bahaya dan Penilaian Resiko, yaitu :

a. Menentukan titik–titik bahaya yang ada pada aktivitas bisnis perusahaan secara umum dan setiap section pada khususnya

Referensi

Dokumen terkait

Bagi kepentingan praktis, penulis berharap penelitian ini dapat memberi informasi dan masukan mengenai kesiapan Kota Surakarta dalam penerapan konsep kota kreatif

[r]

Aktivitas guru dapat dilihat pada siklus III mendapat skor nilai 88 (baik) sedangkan pada aktivitas siswa pada siklus III yaitu sebesar skor nilai 83 (baik). Pada aktivitas

Proses kegiatan produksi pada kapal troll line terdiri dari 13 aktivitas, yaitu pengerjaan lunas, pemasangan linggi haluan dan buritan, pembuatan lambung kapal, pemasangan

Form Identifikasi Bahaya, Penilaian dan Pengendalian Resiko digunakan untuk mengidentifikasi semua potensi bahaya K3 yang terdapat di dalam aktivitas-aktivitas

Opini masyarakat cenderung menyatakan bahwa pembelajaran IPA di sekolah tidak bermutu sehingga penguasaan materi peserta didik di semua jenjang pendidikan rendah baik

 Pada perkembangan Administrasi sebagai disiplin Pada perkembangan Administrasi sebagai disiplin Ilmu mengalami beberapa proses pergantian cara.. Ilmu mengalami beberapa

Dalam penelitian ini ditentukan metode yang digunakan untuk mengetahui pengaruh analisis pengaruh merek berbahasa asing dan citra merek terhadap intensi