EFEKTIVITAS PROGRAM BERAS MISKIN (RASKIN) DI KELURAHAN LIMAU SUNDAI KECAMATAN BINJAI BARAT KOTA BINJAI TAHUN
2015
SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Disusun Oleh:
130903190
MADINA YULI ANDINI PULUNGAN
DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan berkah, rahmat, dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Efektivitas Program Beras Miskin (Raskin) Di Kelurahan Limau Sundai Kecamatan Binjai Barat Kota Binjai Tahun 2015”.
Pada kesempatan ini, dalam suka cita penulis hendak menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berkenan memberikan bimbingan dan bantuan, sehingga pada akhirnya penulisan skripsi ini dapat terselesaikan, terkhusus penulis juga mengucapkan terimakasih banyak kepada kedua orang tua tersayang Ayahanda Drs. Marman Zogi Pulungan dan Ibunda Nuning Agustina Nasution, S.Pd dengan tulus, sabar, dan penuh kasih sayang telah membesarkan, mendidik, membimbing, dan memberi dukungan moril dan material serta yang selalu mendoakan penulis hingga sampai saat ini.
Penulis juga ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada saudara kandung penulis Anugrah Laksana Togi Pulungan, dan Anggiat Batara Nauli Pulungan yang selalu memberi semangat dan menghibur penulis selama ini. Selain itu penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada orang-orang yang telah membantu penulis baik secara langsung maupun tidak langsung, kepada yang terhormat :
1. Bapak Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sumatera Utara Bapak Dr.Muryanto Amin,S.Sos,M.Si.
2. Bapak Drs.Rasudyn Ginting, M.Si selaku ketua Departemen Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Hatta Ridho, S.Sos, M.SP selaku dosen pembimbing penulis dalam mengerjakan penelitian ini, terima kasih telah mendorong penulis untuk terus maju dan teliti dalam pengerjaan penelitian ini
4. BapakProf. Dr. Marlon Sihombing, MA selaku dosen pembimbing akademik penulis selama masa kuliah dan penyusunan Kartu Rencana Studi.
5. Kak Dian dan Kak Mega, terimakasih kak atas bantuan penyusunan berkas penulis selama masa perkuliahan hingga akhir masa perkuliahan. Semoga semakin sukses dalam bertugas dan semakin semangat.
6. Terima Kasih buat masyarakat Limau Sundai karena telah menerima penulis untuk meneliti di Kelurahan tersebut serta terima kasih atas keramahtamahannya dalam menjawab setiap pertanyaan penulis.
7. Terima kasih buat Bapak Imran Rosydy Abdullah selaku Kadivre Perum Bulog Sumut, Bapak Samuel Lumban Toruan,SH selaku Camat Binjai Barat, Bapak Muhammad Kamil selakuLurah Limau Sundai, dan Bapak Amriadi Harahap selaku salah satu kepling di Kelurahan Limau Sundai yang sudah banyak membantu penulis untuk meneliti di Kelurahan Limau Sundai.
8. Terima kasih juga kepada Bapak Chairul Azmi, S.Sos yang telah membantu penulis dalam menyusun penelitian ini.
9. Terimakasih buat Kak Dewanti Kesuma Ningrum selaku ketua pelaksana distribusi penyaluran raskin di Kelurahan Limau Sundai.
10. Buat sahabatTERCINTAGita Engeline Tarigan, S.Sos, Mella Fitria, S.Sos, dan Ayu Wahyuni Rangkuti, S.Sos yang selalu tegas, sabar, memberi saran, menasihati, dan memotivasi penulis agar secepatnya menyusul.
Nakla yang wisuda duluan haha
11. Begitu juga untuk Barusjulu’s Squad, Reynaldi Fadhil, Dinda Harahap, Akbar Halim, makasih ya we atas dukungan dan doanya, semangat buat kita yang bakalan nyusul mereka. Buat Peselia Yenita Sagala, S.Sos,Hani Syahida Harahap, S.Sos, Amira Fatin S.Sos, Rana Kamila, S.Sos, Dinda Fadila, S.Sos makasi juga ya buat dukungan dan doanya.
12. Buat sepupu-sepupu ketje kakak, Sarah Ziehan Harahap dan Agung Aditya Harahap yang udah luangin waktunya untuk membantu kakak dalam penyusunan skripsi ini. Buat Sarah, rajin-rajin ya dekku sayang kuliahnya, jangan sia-sia in perjuangan mamak buat kuliah Sarah di daerah orang sana yaaa. Biar cepat nyusul dapat S.Pd nya hehe
13. Buat sahabat TERBAIK, TERGOKIL, dan seperjuangan dari SMP Ainiel Riany Putri, A.Md dan Astri Irtanti makasih udah mau bersusah payah mendengarkan keluh kesah dan membantu penulis dalam menyusun skripsi ini. Buat astronotku a.k.a Astri Irtanti gausah galau mulu, cepat nyusul yaaaa hehe
14. Buat sahabat terGAJE dalam segala hal Dayang Rahmanita Simanjuntak, Helvy Aprillia Ketaren, dan Risca Tri Andini cepatan nyusul kalian yaaa, sekali sekali jelaskan segala hal yang udah kita rencanain yaaa.
15. Buat orang-orang yang tidak tersebutkan namanya yang telah mendukung dan membantu dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis mengucapkan terimakasih banyak dan sukses buat kita semua.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini mempunyai banyak kekurangan, Kritik dan saran sangat diharapkan untuk menyempurnakan penelitian di masa datang, Semoga skripsi ini bermanfaat sebagai tambahan informasi bagi yang membutuhkan.
Binjai, 14 Februari 2017
Madina Yuli Andini Pulungan 130903189
ABSTRAK
Program Raskin merupakan salah satu program pemerintah pusat yang ditujukan kepada Rumah Tangga Miskin yang membutuhkan bantuan/keringanan pangan. Program ini dikeluarkan atas dasar kenaikan harga beras dan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat miskin. Pada perkembangannya Program Raskin masih terus mengalami permasalahan yaitu ketepatan sasaran penerima, ketepatan jumlah beras yang diterima ketepatan kualitas beras yang kurang bagus. Oleh sebab itu penelitian ini melihat efektifitas Program Raskin dengan yang terjadi di Kelurahan Limau Sundai Kecamatan Binjai Barat Kota Binjai Tahun 2015 dengan menggunakan 6 (enam) indikator ketepataan yaitu tepat sasaran, tepat jumlah, tepat harga, tepat waktu, tepat kualitas dan tepat administrasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan dilengkapi dengan analisis terhadap data sekunder. Data ini diperoleh dari hasil wawancara dengan narasumber atau informan yang merupakan informan kunci. Selain itu data juga berasal dari dokumen maupun observasi yang dilakukan dilokasi penelitian. Teknik analisa data yang digunakan yaitu menggunakan metode deskriptif kualitatif dan dilengkapi dengan analisa data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Raskin di Kelurahan Limau Sundai Kecamatan Binjai Barat Kota Binjai Tahun 2015 tidak dapat dilaksanakan secara efektif atau tepat. Karena dari 6 (enam) indikator ketepatan hanya 1 (satu) ketepatan yang dapat dilaksanakan yaitu tepat kualitas, Sedangkan 5 (lima) indikator ketepatan yang lainnya yaitu tepat sasaran, tepat jumlah, tepat waktu, tepat harga dan tepat administrasi belum dapat dilaksanakan secara efektif. Agar permasalahan ketidak efektifan atau ketidak tepatan dari 5 (lima) indikator tersebut tidak menjadi berlarut-larut maka pemerintah harus melakukan pemantauan yang signifikan kelapangan mengenai pelaksanaan Program Raskin agar pemerintah mengetahui permasalahan yang ada masyarakat. Sehingga permasalahan tidak tepat sasaran, tepat jumlah, tepat harga, tepat waktu, dan tepat administrasi tidak terjadi lagi dikemudian hari.
Kata kunci : Efektifitas, Program Raskin, Kelurahan Limau Sundai.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……….i
ABSTRAK………...ii
DAFTAR ISI………iii
BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG……….1
I.2 RUMUSAN MASALAH……….6
I.3 TUJUAN PENELITIAN………..6
I.4 MANFAAT PENELITIAN………..7
I.5 KERANGKA TEORI………...8
I.5.1 EFEKTIVITAS……….8
I.5.1.1 PENGERTIAN EFEKTIVITAS………...8
I.5.1.2 PENDEKATAN EFEKTIVITAS……….10
I.5.1.3 KRITERIA PENGUKURAN EFEKTIVITAS……….11
I.5.2 KEMISKINAN………..14
I.5.2.1 PENGERTIAN KEMISKINAN………14
I.5.2.2 JENIS-JENIS KEMISKINAN………..16
I.5.2.3 FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEMISKINAN……….17
I.5.2.4 KARAKTERISTIK PENDUDUK MISKIN……….19
I.5.3 PROGRAM RASKIN………21
I.5.3.1 DEFENISI RASKIN……….21
I.5.3.2 TUJUAN DAN SASARAN PENERIMA RASKIN………22
I.5.3.3 MANFAAT RASKIN………22
I.5.3.4 KRITERIA PENERIMA RASKIN………23
I.5.3.5 MEKANISME PENYALURAN RASKIN………24
I.5.4 EFEKTIVITAS PROGRAM RASKIN………..26
I.5.5 DEFENISI KONSEP………..27
I.6 SISTEMATIKA PENULISAN………..28
BAB II METODE PENELITIAN II.1 BENTUK PENELITIAN……….30
II.2 LOKASI PENELITIAN………..30
II.3 INFORMAN PENELITIAN………31
II.4 TEKNIK PENGUMPULAN DATA………32
II.5 TEKNIK ANALISIS DATA………34
BAB III DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
III.1 SEJARAH KOTA BINJAI………36
III.2 GEOGRAFI KOTA BINJAI……….39
III.3 ANGKA KEMISKINAN DI KOTA BINJAI………40
III.4 PROFIL KELURAHAN LIMAU SUNDAI……….41
BAB IV PENYAJIAN DATA IV.1 PROGRAM RASKIN………..42
IV.1.1 PENGERTIAN PROGRAM RASKIN MENURUT PEDUM 2015……….42
IV.2 MEKANISME PELAKSANAA PROGRAM RASKIN………44
IV.2.1 PEMBUATAN PANDUAN PELAKSANAAN PROGRAM BERAS MISKIN (RASKIN)………44
IV.2.2 PENETAPAN PAGU RASKIN……….47
IV.2.3 PERUBAHAN DAFTAR PENERIMA MANFAAT (DPM)…51 IV.2.4 PELUNCURAN DAN SOSIALISASI PROGRAM RASKIN..53
IV.2.5 MONITORING DAN EVALUASI………54
IV.2.6 PELAKSANAAN PEYALURAN RASKIN SAMPAI
TITIK DISTRIBUSI (TD)………55
IV.2.7 PELAKSANAAN PENYALURAN RASKIN
DARI TD KE TB………..56 IV.2.8 PELAKSANAAN PENYALURAN RASKIN DARI
TB KE RTS-PM………57 IV.2.9 PEMBAYARAN HARGA TEBUS RASKIN………..58
IV.2.10 PEMBIAYAAN………..58
IV.3 PROGRAM BERAS MISKIN (RASKIN) DI KELURAHAN LIMAU SUNDAI KECAMATAN BINJAI BARAT KOTA
BINJAI TAHUN 2015………60
BAB V ANALISA DATA
V.1 PROSES PELAKSANAAN PROGRAM BERAS MISKIN (RASKIN) DI KELURAHAN LIMAU SUNDAI KECAMATAN BINJAI BARAT KOTA BINJAI TAHUN 2015……….70 V.2 EFEKTIFITAS PROGRAM BERAS MISKIN (RASKIN) DI
KELURAHAN LIMAU SUNDAI KECAMATAN
BINJAI BARAT KOTA BINJAI TAHUN 2015………..72
BAB VI PENUTUP
VI.1 KESIMPULAN………...78
VI.2 SARAN………...80
DAFTAR PUSTAKA………81 LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah dalam pembangunan yaitu masalah kemiskinan. Masalah kemiskinan terus-menerus menjadi masalah yang berkepanjangan, bahkan sampai sekarang dapat dikatakan semakin memprihatinkan. Kemiskinan tercermin dari belum terpenuhinya hak-hak dasar masyarakat miskin. Hak-hak dasar tersebut antara lain adalah hak atas pangan, kesehatan, perumahan, pendidikan, pekerjaan, tanah, sumber daya alam, air bersih, dan sanitasi, rasa aman serta hak untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan kebijakan publik dan proses pembangunan.
Sejak awal kemerdekaan, bangsa Indonesia telah mempunyai perhatian besar terhadap terciptanya masyarakat adil dan makmur, sebagaimana termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat. Program-program yang selama ini juga memberikan perhatian besar terhadap upaya dalam pengentasan kemiskinan, karena pada dasarnya pembangunan yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meskipun demikian masalah kemiskinan sampai saat ini masih menjadi masalah yang berkepanjangan.
Menurut Supardi Suparlan dalam bukunya yang berjudul Kemiskinan di Perkotaan, pengertian kemiskinan adalah Suatu standar tingkat hidup yang
rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Standar kehidupan yang rendah ini secara langsung nampak pengaruhnya terhadap tingkat keadaan kesehatan, kehidupan moral, dan rasa harga diri dari mereka yang tergolong sebagai orang miskin.
Dampak dari kemiskinan yaitu jutaan anak tidak bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas, kesulitan membiayai kesehatan, kurangnya akses terhadap pelayanan publik, kurangnya lapangan pekerjaan, kurangnya tabungan dan tidak adanya investasi, dan tidak adanya perlindungan terhadap keluarga dan yang lebih parah kemiskinan menyebabkan jutaan rakyat memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan secara terbatas.
Berbagai macam program telah dilakukan Pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan, baik yang berupa material maupun non material.
Salah satu program bantuan yang di canangkan pemerintah yang masih berjalan hingga saat ini adalah beras miskin (Raskin). Mengingat tingginya angka jumlah penduduk miskin dan diperparah oleh sulitnya penduduk miskin akan akses terhadap pangan karena rendahnya daya beli sebagai akibat krisis. Program ini dibentuk agar keluarga miskin mempunyai akses yang baik terhadap pangan dalam hal harga dan kesediaan. Beras miskin (Raskin) diberikan dengan harga yang sangat murah kepada masyarakat miskin, sehingga dapat mengurangi beban kebutuhan penerima Beras Miskin
(Raskin), dengan jumlah yang sudah ditentukan dan diberikan diberikan satu kali per bulan.
Raskin merupakan subsidi pangan pokok dalam bentuk beras yang diperuntukkan bagi keluarga miskin sebagai upaya dari pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan memberikan perlindungan pada keluarga miskin. Beras merupakan makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia.
Oleh karena itu, pada tahun 2002 pemerintah Indonesia meluncurkan Program Raskin yang merupakan implementasi dari konsistensi pemerintah dalam rangka memenuhi hak pangan masyarakat. Program Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin) adalah bagian dari upaya pemerintah Indonesia untuk memperdayakan masyarakat dengan menanggulangi masalah kemiskinan secara terpadu.
Program Raskin pada dasarnya merupakan kelanjutan dari Program Operasi Pasar Khusus (OPK) yang diluncurkan pada Juli 1998 di bawah Program Jaring Pengaman Sosial (JPS). Beberapa penyesuaian yang telah dilakukan antara lain meliputi perubahan nama, jumlah beras per rumah tangga, frekuensi distribusi, sumber dan jenis data sasaran penerima manfaat, dan penyediaan lembaga pendamping. Pada 2002, pemerintah mengganti nama OPK (Operasi Pasar Khusus) menjadi Program Raskin agar lebih mencerminkan sifat program, yakni sebagai bagian dari program perlindungan sosial bagi RTM (Rumah Tangga Miskin), tidak lagi sebagai program darurat penanggulangan dampak krisis ekonomi. Penetapan jumlah beras per bulan per RTM yang pada awalnya 10 kg, selama beberapa tahun berikutnya
bervariasi dari 10 kg hingga 20 kg, dan pada 2009 menjadi 15 kg. Frekuensi distribusi yang pada tahun-tahun sebelumnya 12 kali, pada 2006 berkurang menjadi 10 kali, dan pada 2007 sampai sekarang ini kembali menjadi 12 kali per tahun. Dasar Pemerintah dalam menentukan besaran Raskin dengan menyesuaikan harga gabah dan beras di pasar. Sasaran penerima manfaat yang sebelumnya menggunakan data keluarga prasejahtera (KPS) dan keluarga sejahtera 1 (KS-1) alasan ekonomi hasil pendataan BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional), sejak 2006 berubah menggunakan data RTM hasil pendataan BPS (Badan Pusat Statistik) (
Dalam sebuah program, bahkan program yang dilakukan dalam upaya pengentasan kemiskinan, terutama program bantuan Beras Miskin (Raskin) ini. Tidak jarang menuai permasalahan, baik pada pelaku penyalur bantuan Beras Miskin (Raskin) maupun pada penerima itu sendiri. Persoalan seperti ini terjadi di daerah pemerima Beras Miskin (Raskin), tanpa kecuali di Kelurahan Limau Sundai Kecamatan Binjai Barat Kota Binjai.
www.pnpm- mandiri.org/elibrary/download.php?id=15).
Untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan program Raskin, diperlukan adanya sinkronisasi dan koordinasi antar seluruh instansi yang terkait, mulai dari ditingkat Pusat sampai ketingkat Daerah (provinsi, kabupaten dan kota), tingkat kecamatan dan desa/kelurahan; mulai dari perencanaan sampai implementasinya, dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, maupun pihak lain yang terkait.
Adanya beberapa masalah terhadap program Raskin ini di Kelurahan Limau Sundai yaitu adanya suatu kecenderungan di beberapa lingkungan penerima manfaat yang menyalurkan berasnya kepada keluarga miskin dan keluarga sedikit berada di atas garis kemiskinan, sehingga mengurangi dampak terhadap keluarga yang sangat miskin, pemahaman RTS-PM tentang tujuan dan kriteria eligibilitas (bahkan nama itu sendiri) masih sangat rendah, jumlah beras yang dianggarkan untuk program Raskin belum dapat memenuhi target sehingga para penerima manfaat sering menerima beras bersubsidi dalam jumlah yang lebih kecil, banyak keluarga termiskin tidak mampu membayar sekaligus untuk membeli jatah beras bulanan, atau baik membeli jauh lebih sedikit daripada jumlah tersebut maupun terpaksa meminjam untuk melunasinya, biaya pendistribusian beras Raskin dari titik distribusi Dolog atau Divre sampai ke penerima manfaat sering dibiayai secara tidak resmi melalui tambahan biaya di atas harga resmi, adanya masalah dengan kualitas dan ketepatan waktu distribusi di beberapa lingkungan.
Kelurahan Limau Sundai sebagai salah satu penerima bantuan raskin, membuat masyarakat Kelurahan Limau Sundai mendapat bantuan beras sebanyak 15kgper kk per bulan. Terdapat 384 kepala keluarga yang mendapat bantuan program raskin ini. Hal ini disebabkan karena di Kelurahan Limau Sundai ini banyak terdapat keluarga miskin yang sesuai dengan kriteria miskin yang di tetapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Hal tersebut dirasa efektif oleh pemerintah dalam menyediakan kebutuhan pangan masyarakat
Kelurahan Limau Sundai yang membutuhkan setiap bulannya. Rumah tangga sasaran akan mendapatkan kartu raskin yang ditandatangani petugas. Terkait pendistribusian raskin dikoordinir oleh Lurah Limau Sundai dan Kepala Lingkungan.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mengangkat konsep tersebut sebagai bahan proposal penelitian dengan judul “Efektifitas Program Beras Miskin (Raskin) di Kelurahan Limau Sundai Kecamatan Binjai Barat Kota Binjai Tahun 2015”
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana proses pelaksanaan Program Beras Miskin (Raskin) di Kelurahan Limau Sundai Kecamatan Binjai Barat Kota Binjai Tahun 2015?
2. Bagaimana efektifitas pelaksanaan Program Beras Miskin (Raskin) di Kelurahan Limau Sundai Kecamatan Binjai Barat Kota Binjai Tahun 2015?
I.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses pelaksanaan program beras untuk keluarga miskin (Raskin) di Kelurahan
apakah pelaksanaan program beras untuk keluarga miskin (Raskin) di Kelurahan Limau Sundai Kecamatan Binjai Barat Kota Binjai Tahun 2015 sudah berjalan dengan efektif.
I.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan dan mengembangkan wawasan berfikir yang dilandasi konsep ilmiah khususnya mengenai keefektivitasan program pemerintah dalam meningkatkan kualitas program raskin di Kelurahan Limau Sundai Kecamatan Binjai Barat Kota Binjai.
2. Bagi Rumah Tangga Penerima Manfaat (RTS-PM), diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai keefektifitasan pelaksanaan raskin dan manfaat yang dapat mereka terima dari program Raskin.
3. Secara Teoritis, dari penelitian ini akan diperoleh informasi empirik berdasarkan pijakan teori yang mendukung terhadap efektivitas kinerja pemerintah.
4. Secara Praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau masukan bagi Pemerintah Kota Binjai dalam meningkatkan program pemerintah
5. Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai bahan masukan bagi peneliti lainnya yang tertarik dalam bidang ini.
I.5 Kerangka Teori
Kerangka teori diperlukan unuk memudahkan penelitian sebagai pedoman berfikir bagi peneliti. Oleh karena itu, seorang peneliti harus menyusun suatu kerangka teori terlebih dahulu sebagai landasan berfikir untuk menggambarkan dari sudut mana ia menyoroti masalah yang dipilihnya. Selanjutnya, menurut Singarimbun dan Effendi (1989:37) teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstruksi, defenisi, dan proporsisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep.
Dalam penelitian ini, yang menjadi kerangka teorinya adalah sebagai berikut :
I.5.1 Efektivitas
I.5.1.1 Pengertian Efektivitas
Efektivitas berasal dari kata efektif yang mengandung pengertian dicapainya keberhasilan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Efektivitas selalu terkait dengan hubungan antara hasil yang diharapkan dengan hasil yang sesungguhnya dicapai. Efektivitas Menurut Kurniawan (2005:109) dalam bukunya Transformasi Pelayanan Publik, Efektivitas adalah kemampuan melaksanakan tugas, fungsi (operasi kegiatan program atau misi) daripada suatu organisasi atau sejenisnya yang tidak adanya tekanan atau ketegangan diantara pelaksanaannya.
Dalam teori Agung Kurniawan mengartikan Efektivitas lebih mengacu kepada pelaksanaannya yang tidak mengandung unsur paksaan tetapi dengan senang hati tanpa ada tekanan yang dialami selama proses untuk mencapai tujuan dalam organisasi.
Efektivitas menurut Hidayat (1986:12) yang menjelaskan bahwa Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas,kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar persentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya.
Berbeda dengan pendapat Kurniawan yang mengacu pada pelaksanaannya, dalam teori Hidayat menjelaskan bahwa efektivitas adalah hasil dari tercapainya kuantitas,kualitas,dan waktu dengan sesuai yang sudah ditentukan sebelumnya.Tidak lari dari sasaran,dalam arti tepat tujuan sesuai dengan yang dibutuhkan.
Adapun Martoyo (1998:4) memberikan definisi sebagai berikut:
Efektivitas dapat pula diartikan sebagai suatu kondisi atau keadaan, dimana dalam memilih tujuan yang hendak dicapai dan sarana yang digunakan, serta kemampuan yang dimiliki adalah tepat, sehingga tujuan yang diinginkan dapat dicapai dengan hasil yang memuaskan”.
Pendapat Martoyo efktivitas tentang Bagaimana kondisi,tujuan,sarana dan kemampuan yang dimiliki sejalan dan sesuai,tidak melebihi dan tidak juga mengurangi.Karena jika tujuan tidak sesuai dengan sarana dan kemampuan yang tersedia, maka akan sulit untuk menggapai tujuan tersebut.
Sedangkan Schein (1992) dalam bukunya yang berjudul Organizational Psychology dalam mendefinisikan efektivitas organisasi sebagai kemampuan untuk bertahan, menyesuaikan diri, memelihara diri dan juga bertumbuh, lepas dari fungsi-fungsi tertentu yang dimiliki oleh organisasi tersebut, Schein dalam bukunya yang berjudul OrganizationalPsychology menggambarkan empat hal tentang Efektivitas :
1. Mengerjakan hal-hal yang benar, dimana sesuai dengan yang seharusnya diselesaikan sesuai dengan rencana dan aturannya.
2. Mencapai tingkat diatas pesaing, dimana mampu menjadi yang terbaik dengan lawan yang lain sebagai yang terbaik.
3. Membawa hasil, dimana apa yang telah dikerjakan mampu memberi hasil yang bermanfaat.
4. Menangani tantangan masa depan Efektivitas pada dasarnya mengacu pada sebuah keberhasilan atau pencapaian tujuan.
Dapat ditarik kesimpulan dari teori-teori diatas bahwa Efektivitas merupakan salah satu dimensi dari produktivitas, yaitu mengarah kepada pencapaian untuk kerja yang maksimal, yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan waktu sesuai denga tujuan yang sudah dirancang atau ditentukan di awal program pelaksanaan kegiatan dalam sebuah organisasi.
I.5.1.2. Pendekatan Efektivitas
Menurut Martani dan Lubis (1987:55), ada tiga pendekatan dalam mengukur efektivitas organisasi, yaitu:
1. Pendekatan sumber(resource approach)yakni mengukur efektivitas dari input. Pendekatan mengutamakan adanya keberhasilan organisasi untuk memperoleh sumber daya, baik fisik maupun non fisik yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.
2. Pendekatan proses(process approach)adalah untuk melihat sejauh mana efektivitas pelaksanaan program dari semua kegiatan proses internal atau mekanisme organisasi.
3. Pendekatan sasaran(goals approach) dimana pusat perhatian pada output, mengukur keberhasilan organisasi untuk mencapai hasil (output) yang sesuai dengan rencana. Steers mengemukakan bahwa efektivitas bersifat abstrak, oleh karena itu hendaknya efektivitas tidak dipandang sebagai keadaan akhir akan tetapi merupakan proses yang berkesinambungan dan perlu dipahami bahwa komponen dalam suatu program saling berhubungan satu sama lain dan bagaimana berbagai komponen ini memperbesar kemungkinan berhasilnya program.
I.5.1.3. Kriteria Pengukuran Efektivitas
Selain itu, Gibson, Ivancevich dan Donnely (1997 :31) memberikan batasan dalam kriteria efektivitas organisasi melalui pendekatan teori sistem antara lain:
1. Produksi
Produksi merupakan kemampuan organisasi untuk memproduksi jumlah dan mutu output sesuai dengan permintaan lingkungan, berapa jumlah yang dapat dihasilkan dalam memenuhi permintaan.
2. Efisiensi
Konsep efisiensi didefinisikan sebagai angka perbandingan antara output dengan input. Ukuran efisiensi harus dinyatakan dalam perbandingan antara keuntungan dan biaya atau dengan waktu atau dengan output.
3. Kepuasan
Kepuasan menunjukkan sampai di mana organisasi memenuhi kebutuhan para karyawan dan pengguna.
4. Adaptasi
Kemampuan adaptasi adalah sampai seberapa jauh organisasi dapat menenggapi perubahan ekstern dan intern.
5. Perkembangan
Organisasi harus dapat berkembang dalam organisasi itu sendiri untuk memperluas kemampuannya untuk hidup terus dalam jangka panjang.
6. Hidup terus
Organisasi harus dapat hidup terus dalam jangka waktu yang panjang.
Adapun kriteria atau ukuran mengenai pencapaian tujuan efektif atau tidak, sebagaimana dikemukakan oleh S.P. Siagian (1978 : 77) ,yaitu:
1. Kejelasan tujuan yang hendak dicapai, hal ini dimaksudkan supaya karyawan dalam pelaksanaan tugas mencapai sasaran yang terarah dan tujuan organisasi dapat tercapai.
2. Kejelasan strategi pencapaian tujuan, telah diketahui bahwa strategi adalah
“pada jalan” yang diikuti dalam melakukan berbagai upaya dalam mencapai sasaran-sasaran yang ditentukan agar para implementer tidak tersesat dalam pencapaian tujuan organisasi.
3. Proses analisis dan perumusan kebijakan yang mantap,berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai dan strategi yang telah ditetapkan artinya kebijakan harus mampu menjembatani tujuan-tujuan dengan usaha-usaha pelaksanaan kegiatan operasional.
4. Perencanaan yang matang, pada hakekatnya berarti memutuskan sekarang apa yang dikerjakan oleh organisasi dimasa depan.
5. Penyusunan program yang tepat suatu rencana yang baik masih perlu dijabarkan dalam program - program pelaksanaan yang tepat sebab apabila tidak, para pelaksana akan kurang memiliki pedoman bertindak dan bekerja.
6. Tersedianya sarana dan prasarana kerja, salah satu indicator efektivitas organisasi adalah kemamapuan bekerja secara produktif. Dengan sarana dan prasarana yang tersedia dan mungkin disediakan oleh organisasi.
7. Pelaksanaan yang efektif dan efisien, bagaimanapun baiknya suatu program apabila tidak dilaksanakan secara efektif dan efisien maka organisasi tersebut tidak akan mencapai sasarannya, karena dengan pelaksanaan organisasi semakin didekatkan pada tujuannya.
8. Sistem pengawasan dan pengendalian yang bersifat mendidik mengingat sifat manusia yang tidak sempurna maka efektivitas organisasi menuntut terdapatnya sistem pengawasan dan pengendalian.
Melihat dari teori di atas teori kriteria pengukuran efektivitas organisasi merupakan suatu standar akan terpenuhinya mengenai sasaran dan tujuan yang akan dicapai serta menunjukan pada tingkat sejauh mana organisasi, program/kegiatan melaksanakan fungsifungsinya secara optimal. Keefektifan harus mencerminkan hubungan timbal balik antara organisasi dan lingkungan sekitarnya. Ini berarti bahwa suatu organisasi dapat berjalan efektif jika organisasi tersebut dapat memberikan kepuasan bagi masyarakat pengguna layanan.
I.5.2 Kemiskinan
I.5.2.1 Pengertian Kemiskinan
Secara etimologis kemiiskinan berasal dari kata miskin dalam kamus besar bahasa Indonesia yang berarti tidak berharta benda. BAPPENAS (1993) mendefisnisikan keimiskinan sebagai situasi serba kekurangan yang terjadi bukan karena kehendak oleh si miskin, melainkan karena keadaan yang tidak dapat dihindari dengan kekuatan yang ada padanya.Para ilmuan mendefinisikan Kemiskinan dengan cara yang berbeda antara ilmuan yang satu dengan yang lainnya. Levitan (1980) mengemukakan kemiskinan adalah kekurangan barang- barang dan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan untuk mencapai suatu standar hidup yang layak. Faturchman dan Marcelinus Molo (1994:4) mendefenisikan bahwa kemiskinan adalah ketidakmampuan individu dan atau rumah tangga untuk
memenuhi kebutuhan dasarnya. Kebutuhan dasar disini dapat diartikan Kebutuhan primer maupun sekunder.
Sementara menurut Friedman (1979) kemiskinan merupakan ketidaksamaan kesempatan untuk memformulasikan basis kekuasaan sosial, yang meliputi : asset (tanah, perumahan, peralatan, kesehatan), sumber keuangan (pendapatan dan kredit yang memadai), organisiasi sosial politik yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai kepentingan bersama, jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang atau jasa, pengetahuan dan keterampilan yang memadai, dan informasi yang berguna.
Selain pengertian yang dikemukakan ilmuan yang disebutkan di atas, beberapa ilmuan Indonesia pun mendefinisikan kemiskinan secara bervariasi. Pertama, Suparlan (1984:30) ilmuan ini mendefinisikan kemiskinan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Kedua, Kuncoro (1997: 102–103) kemiskinan merupakan ketidakmampuan untuk memenuhi standar hidup minimum. Ketiga, Kartasasmita (1996: 235) mengatakan bahwa kemiskinan merupakan masalah dalam pembangunan yang ditandai dengan pengangguran dan keterbelakangan, yang kemudian meningkat menjadi ketimpangan. Masyarakat miskin pada umumnya lemah dalam kemampuan berusaha dan terbatas aksesnya kepada kegiatan ekonomi sehingga tertinggal jauh dari masyarakat lainnya yang mempunyai potensi lebih tinggi.
Dengan beberapa pengertian tersebut dapat diambil satu poengertian bahwa kemiskinan adalah suatu situasi yang merupakan proses maupun akibat dari adanya ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungannya untuk kebutuhan hidupnya. baik itu kebutuhan primer maupun sekunder, serta kebutuhan dalam bentuk material maupun non material.
I.5.2.2. Jenis-Jenis Kemiskinan
Menurut Mardimin (1996:24) masalah kemiskinan terdapat beberapa jenis kemiskinan yaitu:
1. Kemiskinan absolut. Seseorang dapat dikatakan miskin jika tidak mampu memenuhi kebutuhan minimum hidupnya untuk memelihara fisiknya agar dapat bekerja penuh dan efisien,
2. Kemiskinan relatif . Kemiskinan relatif muncul jika kondisi seseorang atau sekelompok orang dibandingkan dengan kondisi orang lain dalam suatu daerah,
3. Kemiskinan Struktural. Kemiskinan struktural lebih menuju kepada orang atau sekelompok orang yang tetap miskin atau menjadi miskin karena struktur masyarakatnya yang timpang, yang tidak menguntungkan bagi golongan yang lemah,
4. Kemiskinan Situsional atau kemiskinan natural. Kemiskinan situsional terjadi di daerah-daerah yang kurang menguntungkan dan oleh karenanya menjadi miskin.
5. Kemiskinan kultural. Kemiskinan penduduk terjadi karena kultur atau budaya masyarakatnya yang sudah turun temurun yang membuat mereka menjadi miskin.
I.5.2.3. Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan
Menurut Baswir, (1997: 23), Sumodiningrat, (1998: 90).Secara sosioekonomis, terdapat dua bentuk kemiskinan, yaitu :
1) Kemiskinan absolute
adalah suatu kemiskinan di mana orang-orang miskin memiliki tingkat pendapatan dibawah garis kemiskinan, atau jumlah pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, kebutuhan hidup minimum antara lain diukur dengan kebutuhan pangan, 14 sandang, kesehatan, perumahan dan pendidikan, kalori, GNP per kapita, pengeluaran konsumsi dan lain-lain.
2) Kemiskinan relatif
adalah kemiskinan yang dilihat berdasarkan perbandingan antara suatu tingkat pendapatan dengan tingkat pendapatan lainnya. Contohnya, seseorang yang tergolong kaya (mampu) pada masyarakat desa tertentu bisa jadi yang termiskin pada masyarakat desa yang lain.
Di samping itu terdapat juga bentuk-bentuk kemiskinan yang sekaligus menjadi faktor penyebab kemiskinan (asal mula kemiskinan). Ia terdiri dari:
(1) Kemiskinan natural, (2) Kemiskinan kultural, dan (3) Kemiskinan structural (Kartasasmita, 1996: 235, Sumodiningrat, 1998: 67, dan Baswir, 1997:
23).
1) Kemiskinan Natural
adalah keadaan miskin karena dari awalnya memang miskin. Kelompok masyarakat tersebut menjadi miskin karena tidak memiliki sumberdaya yang memadai baik sumberdaya alam, sumberdaya manusia maupun sumberdaya pembangunan, atau kalaupun mereka ikut serta dalam pembangunan, mereka hanya mendapat imbalan pendapatan yang rendah. Menurut Baswir (1997: 21) kemiskinan natural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktor-faktor alamiah seperti karena cacat, sakit, usia lanjut atau karena bencana alam. Kondisi kemiskinan seperti ini menurut Kartasasmita (1996: 235) disebut sebagai
“Persisten Poverty” yaitu kemiskinan yang telah kronis atau turun temurun.
Daerah seperti ini pada umumnya merupakan daerah yang kritis sumberdaya alamnya atau daerah yang terisolir.
2) Kemiskinan Kultural
Mengacu pada sikap hidup seseorang atau kelompok masyarakat yang disebabkan oleh gaya hidup, kebiasaan hidup dan budaya di mana mereka merasa hidup berkecukupan dan tidak merasa kekurangan. Kelompok masyarakat seperti ini tidak mudah untuk diajak berpartisipasi dalam pembangunan, tidak mau berusaha untuk memperbaiki dan merubah tingkat kehidupannya. Akibatnya
tingkat pendapatan mereka rendah menurut ukuran yang dipakai secara umum.
Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Baswir (1997: 21) bahwa ia miskin karena faktor budaya seperti malas, tidak disiplin, boros dan lain-lainnya.
3) Kemiskinan Structural
adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktor-faktor buatan manusia seperti kebijakan ekonomi yang tidak adil, distribusi aset produksi yang tidak merata, korupsi dan kolusi serta tatanan ekonomi dunia yang cenderung menguntungkan kelompok masyarakat tertentu (Baswir, 1997: 21). Selanjutnya Sumodiningrat (1998: 27) mengatakan bahwa munculnya kemiskinan struktural disebabkan karena berupaya menanggulangi kemiskinan natural, yaitu dengan direncanakan bermacammacam program dan kebijakan. Namun karena pelaksanaannya tidak seimbang, pemilikan sumber daya tidak merata, kesempatan yang tidak sama menyebabkan keikutsertaan masyarakat menjadi tidak merata pula, sehingga menimbulkan struktur masyarakat yang timpang. Menurut Kartasasmita (1996: 236) hal ini disebut “accidental poverty”, yaitu kemiskinan karena dampak dari suatu kebijaksanaan tertentu yang menyebabkan menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat.
Masalah-masalah kemiskinan tersebut di atas menurut Nurkese (dalam Sumodiningrat. 1999: 150) sebagai suatu “lingkaran setan kemiskinan” yang meliputi enam unsur, yaitu : Keterbelakangan, Kekurangan modal, Investasi rendah, Tabungan rendah, Pendapatan rendah, Produksi rendah.
Lain halnya dengan pendapat Chambers yang mengatakan bahwa inti dari masalah kemiskinan dan kesenjangan sebenarnya, di mana “deprivation
trap” atau jebakan kemiskinan ini terdiri dari lima unsur yaitu: Kemiskinan, Kelemahan jasmani, Isolasi, Kerentanan, Ketidakberdayaan. Kelima unsur tersebut saling kait mengait antara satu dengan yang lain dan saling mempengaruhi (Chambers, 1983 : 145-147).
I.5.2.4. Karakteristik Penduduk Miskin
Data kemiskinan ini diperoleh dari Survei Badan Pusat Statistik (BPS), ada 14 kriteria untuk menentukan keluarga/rumah tangga miskin, yaitu :
1. Luas bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang.
2. Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan.
3. Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester.
4. Tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain.
5. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.
6. Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan.
7. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah.
8. Hanya mengkonsumsi daging/susu/ayam satu kali dalam seminggu 9. Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun
10. Hanya sanggup makan hanya satu/dua kali dalam sehari.
12. Sumber penghasilan kepala keluarga adalah petani dengan luas lahan 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp. 600.000,- (Enam Ratus Ribu) per bulan.
13. Pendidikan tertinggi kepala keluarga : tidak bersekolah/tidak tamat SD/hanya SD.
14. 14. Tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan nilai minimal Rp. 500.000,- (Lima Rus Ribu Rupiah), seperti sepeda motor kredit/non-kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.
Jika minimal 9 variabel terpenuhi, maka dikategorikan sebagai rumah tangga miskin.
I.5.3. Program Beras Miskin (RASKIN) I.5.3.1 Definisi Raskin
Menurut Pedum Umum Raskin (2010) Program Beras untuk Rakyat Miskin (Raskin) adalah program dari pemerintah untuk mengurangi beban pengeluaran dari rumah tangga miskin sebagai bentuk dukungan dalam meningkatkan ketahanan pangan dengan memberikan perlindungan sosial beras murah dengan jumlah maksimal 15 kg/rumah tangga miskin/bulan dengan masing-masing seharga Rp. 1600,00 per kg (netto) di titik distribusi. Program ini mencakup di seluruh provinsi, sementara tanggung jawab dari distribusi beras dari gudang sampai ke titik distribusi di kelurahan dipegang oleh Perum Bulog.
Pelaksanaan distribusi Raskin merupakan tanggung jawab dua lembaga, yakni Bulog dan pemerintah daerah (pemda). Bulog bertanggung jawab terhadap penyaluran beras hingga titik distribusi, sedangkan pemda bertangungjawab terhadap penyaluran beras dari titik distribusi hingga rumah tangga sasaran.
Selama ini Bulog telah melaksanakan tugasnya dengan relatif baik dan sesuai aturan pelaksanaan. Namun demikian, penilaian keberhasilan program tidak dapat dilakukan secara parsial, karena Raskin merupakan sebuah kesatuan program untuk menyampaikan beras bersubsidi kepada rumah tangga miskin. Berdasarkan hasil tinjauan dokumen dan studi lapangan, permasalahan pelaksanaan Raskin banyak terjadi dari titik distribusi hingga rumah tangga penerima.
I.5.3.2 Tujuan dan Sasaran Penerima RASKIN
Program Raskin merupakan subsidi pangan sebagai upaya dari Pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan memberikan perlindungan pada keluarga miskin melalui pendistribusian beras yang diharapkan mampu menjangkau keluarga miskin.
Tujuan program raskin adalah memberikan bantuan dan meningkatkan/membuka akses pangan keluarga miskin dalam rangka memenuhi kebutuhan beras sebagai upaya peningkatan ketahanan pangan di tingkat keluarga melalui penjualan beras kepada keluarga penerima manfaat pada tingkat harga bersubsidi dengan jumlah yang telah ditentukan dan mengurangi beban pengeluaran rumah tangga sasaran melalui pemenuhan sebangian kebutuhan pangan pokok dalam bentuk beras.
Sasarannya Sasaran Program Subsidi Beras Bagi Masyarakat Berpendapatan Rendah adalah berkurangnya beban pengeluaran banyak rumah tangga miskin dalam mencukupi kebutuhan pangan beras melalui penyaluran beras bersubsidi dengan alokasi sebanyak 15 kg/RTS/bulan, sehingga dapat membantu meningkatkan ketahanan pangan mereka.
I.5.3.3. Manfaat Raskin
Manfaat pengadaan raskin dalam pedoman umum subsidi beras bagi masyarakat berpendapatan rendah tahun 2015. Manfaat Program Subsidi Beras Bagi Masyarakat Berpendapatan Rendah adalah sebagai berikut:
a. Peningkatan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga sasaran, sekaligus sebagai mekanisme perlindungan sosial dan penanggulangan kemiskinan
b. Peningkatan akses pangan baik secara fisik (beras tersedia di TD), maupun ekonomi (harga jual yang terjangkau) kepada RTS.
c. Sebagai pasar bagi hasil usaha tani padi.
d. Stabilisasi harga beras di pasaran.
e. Pengendalian inflasi melalui intervensi Pemerintah dengan menetapkan harga beras bersubsidi sebesar Rp.1.600,-/kg, dan menjaga stok pangan nasional.
f. Membantu pertumbuhan ekonomi di daerah.
I.5.3.4. Kriteria Penerima Raskin
Penentuan kriteria penerima manfaat Beras Miskin (RASKIN) seringkali menjadi persoalan yang rumit. Dinamika data kemiskinan memerlukan adanya kebijakan lokal melalui musyawarah Desa/Kelurahan. Musyawarah ini menjadi kekuatan utama program untuk memberikan keadilan bagi sesama rumah tangga miskin. Menurut Pedoman Pelaksanaan Beras Miskin (RASKIN) Tahun 2016 , data yang digunakan untuk penentuan penerima RASKIN adalah data yang dapat diperbaharui dengan Musyawarah Desa/Kelurahan.
Penentuan Kriteria Kemiskinan dapat dilihat dari beberapa aspek, diantaranya yaitu:
1. Kesehatan 2. Pendidikan 3. Pekerjaan 4. Perilaku Sosial
Kriteria tersebut di atas hanya sebagian kecil yang digunakan dalam penentuan penerima raskin, masih banyak lagi beberapa aspek yang di dalamnya terbagi menjadi sub-sub kriteria yang lebih mendalam dari penentuan RTM yang akan mendapatkan RASKIN tersebut. Pada tahap inilah banyak kendala dan tantangan dalam penentuan penerima RASKIN itu sendiri..
I.5.3.5. Mekanisme Penyaluran RASKIN
Dalam proses pendistribusian RASKIN, ada beberapa mekanisme menurut pedoman penyaluran RASKIN dari Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia, yaitu:
1. Bupati/Walikota/Ketua Tim Koordinasi Raskin Kab/Kota /Pejabat yang ditunjuk oleh Bupati/Walikota menerbitkan Surat Perintah Alokasi (SPA) kepada Kadivre/Kasubdivre/KaKansilog Perum BULOG berdasarkan pagu Raskin dan rincian di masing-masing Kecamatan dan Desa/Kelurahan.
2. Berdasarkan SPA, Kadivre/Kasubdivre/Kakansilog Perum BULOG menerbitkan SPPB/DO beras untuk masing-masing Kecamatan atau Desa/Kelurahan kepada Satker Raskin.
3. Kepala Gudang melakukan pemeriksaan kualitas dan kuantitas Raskin sebelum keluar dari gudang dan diserahkan kepada satker Raskin.
4. Berdasarkan SPPB/DO, Satker Raskin mengambil beras di gudang Perum BULOG dan menyerahkannya kepada Pelaksana Distribusi Raskin di TD.
5. Tim Koordinasi Raskin Kecamatan atau Pelaksana Distribusi melakukan pemeriksaan kualitas dan kuantitas Raskin yang diserahkan oleh Satker di TD.
6. Apabila terdapat Raskin yang tidak sesuai dengan kualitas yang ditetapkan dalam Inpres Perberasan, maka Tim Koordinasi Raskin Kecamatan atau Pelaksana Distribusi atau Penerima Manfaat harus menolak dan mengembalikannya kepada Satker Raskin untuk diganti dengan kualitas yang sesuai.
7. Pelaksana Distribusi Raskin menyerahkan Raskin kepada RTS-PM sebanyak 15/RTS/bulan dan dicatat dalam formulir DPM-2. Selanjutnya DPM-2 dilaporkan kepada Tim Raskin Kecamatan.
8. Apabila di TB jumlah RTS melebihi data RTS-PM hasil PPLS-11 BPS, maka Pokja Raskin tidak diperkenankan untuk membagi Raskin kepada rumah tangga yang tidak terdaftar dalam DPM-1.
9. Pemerintah Kabupaten/Kota harus mendistribusikan Raskin dari TD ke TB sampai ke RTS-PM.
10. Apabila diperlukan, Kepala Desa/Lurah dapat mengikutsertakan RT/RW dalam pendistribusian Raskin dari TD sampai ke RTS-PM.
11. Apabila terdapat alokasi Raskin yang tidak terdistribusikan kepada RTS-PM, maka harus dikembalikan ke Perum BULOG untuk dikoreksi administrasi penyalurannya.
I.5.4Efektivitas Program Raskin
Kaitannya dengan pengelolaan program Beras Miskin (RASKIN), maka yang dimaksud dengan efektivitas di sini adalah dengan mengukur indikator keberhasilan pelaksanaan program Raskin menurut Pedum Raskin (2011:23) adalah:
1. Tepat Sasaran Penerima Manfaat; RASKIN hanya diberikan kepada RTM penerima manfaat Raskin hasil musyawarah desa/kelurahan yang terdaftar dalam DPM-1 dan diberi identitas (Kartu RASKIN atau bentuk lain).
2. Tepat Jumlah; Jumlah beras RASKIN yang merupakan hak penerima manfaat adalah sebanyak 15 Kg/RTM/bulan selama 12 bulan sesuai dengan hasil musyawarah desa.
3. Tepat Harga; Harga beras RASKIN adalah sebesar 1.600 rupiah per Kg netto di Titik Distribusi.
4. Tepat Waktu; Waktu pelaksanaan Distribusi beras RASKIN kepada RTM Penerima Manfaat Raskin (PMR) sesuai dengan Rencana Distribusi.
5. Tepat Administrasi; Terpenuhinya persyaratan Administrasi secara benar dan tepat waktu.
6. Tepat Kualitas; Terpenuhinya persyaratan kualitas beras sesuai dengan kualitas beras BULOG.
Untuk mencapai efektivitas penyaluran Raskin, maka mekanisme pelaksanaannya perlu diatur dengan baik sebagaimana dikemukakan dalam buku Pedoman Umum ”Raskin” (Beras Untuk Rumah Tangga Miskin) yang dikeluarkan oleh Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia, Tahun 2011.
I.5.5 Definisi Konsep
Singarimbun menyatakan bahwa konsep adalah definisi untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan kelompok, atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial tujuannya adalah untuk memudahkan pemahaman dan menghindai terjadinya interpretasi ganda dari variable yang diteliti. Oleh sebab itu berdasarkan uraian diatas penulis mengemukakan definisi dari konsep yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
1. Efektivitas adalah suatu keadaaan yang menunjukkan sejauhmana rencana dan sasaran dapat tercapai. Semakin banyak rencana yang dapat dicapai, maka semakin efektif pula kegiatan tersebut, sehingga efektivitas dapat juga diartikan sebagai tingkat keberhasilan yang dapat dicapai sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
2. Kemiskinan adalah sebagai ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya, baik yang bersifat material maupun non material.
I.6 Sistematika Penulisan
BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini berisikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kerangka teori, definisi konsep, serta sistematika penulisan.
BAB II : METODE PENELITIAN
Pada bab ini terdapat penjelasan bentuk penelitian, lokasi penelitian, informan penelitian, teknik pengumpulan data,
dan teknik analisis data yang digunakan dalam menganalisis data.
BAB III : DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Pada bab ini terdiri dari gambaran umum atau karakteristik lokasi penelitian yang relevan dengan topik penelitian.
BAB IV : PENYAJIAN DATA
Bab ini memua hasil penelitian yang diperoleh dari lapangan dan dokumentasi yang akan dianalisis, serta membuat pembahasan atau interpretasi dari data-data yang disajikan sebelumnya secara Deskriptif Kualitatif.
BAB V : ANALISIS DATA
Pada bab ini berisi data yang diperoleh dari hasil penelitian dan memberikan interprtasi atas masalah yang akan diteliti.
BAB VI : PENUTUP
Bab ini berisikan kesimpulan dari hasil penelitian dilakukan dan saran-saran yang di anggap perlu sebagai rekomendasi kebijakan.
BAB II
METODE PENELITIAN
II.1 Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian yang dilakukandalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian sosial yang menggunakan metode deskriptif bertujuan untuk menggambarkan, meringkas berbagai kondisi, berbagai situasi dan berbagai variabel yang timbul di masyarakat yang menjadi objek penelitian itu (Burhan Bungin,
2001 : 48). Serta adanya pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini, maka secara sederhana dapat dinyatakan bahwapenelitian kualitattif adalah meneliti informan sebagai subjek penelitian dalam lingkungan hidup kesehariannya. Untuk itu para peneliti kualitatif sedapat mungkin berinteraksi secara dekat dengan dunia kehidupan mereka, mengamati dan mengikuti alur kehidupan informan secara apa adanya.
Pemahaman akan simbol-simbol dan bahasa asli masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan peneliti ini (Muhammas Idrus, 2009 : 23-24).
II.2. Lokasi Penelitian
Untuk memperoleh data sebagai bahan untuk menjawab permasalahan yang telah dikemukakan, penelitian ini akan dilakukan di Kelurahan Limau Sundai Kecamatan Binjai Barat Kota Binjai.
II.3. Informan Penelitian
Penelitian kualitatif tidak dimaksud untuk membuat generalisasi dari penelitiannya. Oleh karena itu, pada penelitian kualitatif ini tidak dikenal adanya populasi dan sampel. Informan penelitian adalah implementator dari kebijakan yang memahami informasi objek penelitian sebagai pelaku maupun orang lain yang memahami objek penelitian.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti menentukan informan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pengambilan
informan secara sengaja dan informan yang digunakan adalah mereka yang benar-benar paham mengenai permasalahan yang diteliti serta dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan itu misalnya, orang yang mengalami langsung kejadian tersebut dan yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajah objek situasi sosial yang akan diteliti.
Maka, dalam penelitian ini, peneliti menggunakan informan yang terdiri dari:
1. Informan Kunci
Informan kunci adalah mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian atau mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti.Yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini adalah Bapak Samuel Lumban Toruan, SH. selaku Camat Binjai Barat, Bapak Muhammad Kamil selakuLurah Limau Sundai, Kak Dewanti Kesuma Ningrum selaku Ketua Pelaksana Distribusi di Kelurahan Limau Sundai, dan Bapak Amriadi Harahap selaku Kepala Lingkungan IV di Kelurahan Limau Sundai.
2. Informan Tambahan
Informan tambahan adalah orang-orang yang tidak terlibat secara langsung dalam persoalan penelitian, namun mengetahui masalah yang diteliti. Dalam penelitian ini yang menjadi informan tambahan adalah beberapa orang masyarakat yang menerima Beras Miskin
(Raskin) di Kelurahan Limau Sundai yakni Ibu Lasinem dan Ibu Ida Yati. Selain itu ada pula masyarakat miskin yang tidak terdaftar sebagai RTS-PM Raskin di Kelurahan Limau Sundai yakni Ibu Magdalena Sembiring.
II.4 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini diperlukan data atau keterangan informasi.
Untuk itu, penelitian ini mengginakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Teknik Pengumpulan Data Primer
Teknik pengumpulan data primer yaitu pengumpulan data yang diperoleh secara langsung pada saat melakukan penelitian di lapangan. Teknik pengumpulan data primer dapat dilakukan dengan menggunakan instrument sebagai berikut:
a. Wawancara
Yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melakukan Tanya jawab secaa langsung antara peneliti dengan informan yang telah dijadikan sumber data. Sehingga akan diperoleh informasi yang berkaitan dengan penelitian.
b. Observasi
Yaitu teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek penelitian kemudian mencatat gejala-gejala
yang terjadi di lapangan untuk melengkapi data-data yang diperlukan sebagai acuan yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.
2. Teknik Pengumpulan Data Sekunder
Teknik pengumpulan data sekunder yaitu pengumpulan data yang dilakukan melalui studi bahan-bahan kepustakaan yang diperlukan untuk mendukung data primer. Teknik pengumpulan data sekunder dapat dilakukan dengan menggunakan instrument sebagai berikut:
a. Studi Kepustakaan
Yaitu teknik pengumpulan data yang diperoleh dari buku-buku, karya ilmiah, dan pendapat para ahli yang berkompetensi, serta memiliki relevansi dengan masalah yang diteliti.
b. Studi Dokumentasi
Yaitu dengan memanfaatkan dokumen tertulis, gambar, maupun foto- foto yang dilakukan penulis untuk mendukung data penelitian ini.
II.5 Teknik Analisis Data
Analisa data merupakan kegiatan mengelompokkan, membuat suatu urutan, memanipulasi serta menyingkatkan data sehingga mudah untuk membuat suatu deskripsi dari gejala yang diteliti. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisa kualitatif yaitu dengan menyajikan data yang dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia, menelaah, menyusunnya dalam satu satuan, yang kemudian dikategorikan pada tahap berikutnya dan memeriksa
keabsahan data serta menafsirkannya dengan analisis sesuai dengan kemampuan daya nalar penelitian untuk membuat kesimpulan penelitian. Terdapat beberapa langkah dalam melakukan analisis data, yaitu:
1. Reduksi Data
Reduksi data dilakukan dengan merangkum dan memfokuskan hal-hal yang penting tentang penelitian dengan mencari tema dengan pola hingga memberikan gambaran yang lebih jelas serta mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.
2. Penyajian Data
Bermakna sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberikan tindakan. Penyajian data ini dilakukan dalam bentuk teks yang bersifat naratif, bagan, dan dalam bentuk lainnya.
3. Penarikan Kesimpulan
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
BAB III
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
III.1 Sejarah Kota Binjai
Berdasarkan penuturan para orang tua yang dianggap mengetahui asal mula timbulnya Binjai, yang saat ini menjadi Kota Binjai, dahulunya adalah sebuah kampung kecil yang terletak di tepi sungai Bingai.Binjai sebenarnya adalah nama suatu pohon
besar,rindang,tumbuh dengan kokoh di tepi sungai Bingai yang bermuara di Sungai Wampu.
Pada tahun 1823 Gubernur Inggris yang berkedudukan di Pulau Penang telah mengutus John Anderson untuk pergi ke pesisir Sumatera timur dan dari catatannya disebutkan sebuah kampung yang bernama Ba Bingai (menurut buku Mission to The Eastcoast of Sumatera- Edinbung 1826). Sejak tahun 1822, Binjai telah dijadikan bandar/pelabuhan dimana hasil pertanian lada yang diekspor adalah berasal dari perkebunan lada di sekitar ketapangai (pungai) atau Kelurahan Kebun Lada/Damai.
Perkembangan zaman terus berjalan. Pada tahun1864 Daerah Deli telah dicoba ditanami tembakau oleh pioner Belanda bernama J.Nienkyis dan 1866 didirikan Deli Maatschappij. Usaha untuk menguasai Tanah Deli oleh orang Belanda tidak terkucuali dengan menggunakan politik pecah belah melalui pengangkatan datuk-datuk.
Usaha ini diketahui oleh Datuk Kocik,Datuk Jalil dan Suling Barat yang tidak mau berkerja sama dengan Belanda bahkan melakukan perlawanan. Bersamaan dengan itu Datuk Sunggal tidak menyetujui pembarian konsensi tanah kepada perusahaan Rotterdenmy oleh Sultan Deli karena tanpa persetujuan. Di bawah kepemimpinan Datuk Sunggal bersama rakyatnya di Timbang Langkat (Binjai) dibuat Benteng pertahanan untuk menghadapi Belanda.
Dengan tindakan datuk Sunggal ini Belanda merasa terhina dan memerintahkan kapten Koops untuk menumpas para datuk yang menentang Belanda. Dan pada 17 Mei 1872 terjadilah pertempuran yang sengit antara Datuk/masyarakat dengan Belanda. Peristiwa perlawanan inilah yang menjadi tonggak sejarah dan ditetapkan sebagai hari jadi Kota Binjai. Perjuangan para datuk/rakyat terus berkobar dan pada akhirnya pada 24 Oktober 1872 Datuk Kocik,Datuk Jalil dan Suling Barat dapat ditangkap Belanda dan kemudian pada tahun 1873 dibuang ke Cilacap. Pada tahun 1917 oleh Pemerintah Belanda dikeluarkan Instelling Ordonantie No.12 dimana Binjai dijadikan Gemente dengan luas 267 Ha.
Pada tahun 1942-1945 Binjai dibawah Pemerintahan Jepang dengan kepala pemerintahannya adalah Kagujawa dengan sebutan Guserbu dan tahun 1944 /1945 pemerintahan kota dipimpin oleh ketua Dewan Eksekutif J.Runnanbi dengan anggota Dr.RM Djulham, Natangsa Sembiring dan Tan Hong Poh.
Pada tahun 1945 (saat revolusi) sebagai kepala pemerintahan Binjai adalah RM.Ibnu dan pada 29 Oktober 1945 T.Amir Hamzah diangkat menjadi residen Langkat oleh komite nasional dan pada masa pendudukan Belanda 1947 Binjai berada di bawah Asisten Residen J.Bunger dan RM.Ibnu sebagai Wakil Wali Kota Binjai. Pada tahun 1948 -1950 pemerintahan Kota Binjai dipegang oleh ASC More.
Tahun 1950-1956 Binjai menjadi kota Administratif kabupaten
Langkat dan sebagai wali kota adalah OK Salamuddin kemudian T.Ubaidullah Tahun 1953-1956. Berdasarkan Undang-Undang Daruat No.9 Tahun 1956 Kota Binjai menjadi otonom dengan walikota pertama SS Parumuhan.
Dalam perkembangannya Kota Binjai sebagai salah satu daerah tingkat II di propinsi Sumatera Utara telah membenahi dirinya dengan melakukan pemekaran wilayahnya. Semenjak ditetapkan Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 1986 wilayah kota Binjai telah diperluas menjadi 90,23 Km dengan 5 wilayah kecamatan yang terdiri dari 11 desa dan 11 kelurahan. Setelah diadakan pemecahan desa dan kelurahan pada tahun 1993 maka jumlah desa menjadi 17 dan kelurahan 20.perubahan ini berdasarkan Keputusan Gubenur Sumatera Utara No.140-1395 /SK/1993 tanggal 3 Juni 1993 tentang Pembentukan 6 Desa Persiapan dan Kelurahan Persiapan di Kota Binjai. Berdasarkan SK Gubenur Sumatera Utara No.146- 2624/SK/1996 tanggal 7 Agustus 1996, 17 desa menjadi kelurahan.
III.2 Geografi Kota Binjai
Kota Binjai sebagai salah satu kota di Propinsi Sumatera Utara yang hanya berjarak ± 22 Km dari Kota Medan ( ± 30 menit perjalan ), bahkan batas terluar Kota Binjai dengan batas terluar Kota Medan hanya berjarak ± 8 Km. Kota Binjai berbatasan langsung dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Langkat, serta berada pada Jalur Trasportasi Utama yang menghubungkan
Propinsi Sumatera Utara dengan Propinsi Nangroe Aceh Darurralam (NAD) serta ke Objek Wisata Bukit Lawang Kabupaten Langkat.
Secara geografi Kota Binjai berada pada 3'31'40" - 3'40'2"
Lintang Utara dan 98'27'3" - 98'32'32" Bujur Timur dan terletak 28 m diatas permukaan laut. Wilayah Kota Binjai seluas 90,23 km2, terletak 28 M diatas permukaan laut dan dikelilingi oleh Kab.Deli Serdang, Batas area disebelah Utara adalah Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat dan Kecamatan Hamparan Perak Kab.Deli Serdang, di sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Sunggal Kab.Deli Serdang, di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Sei Bingei Kab.Langkat dan Kecamatan Kutalimbaru Kab.Deli Serdang dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Selesai Kab.Langkat. Kota Binjai yang memiliki luas 9.023,62 Ha (± 90,23 Km2) terdiri dari 5 (lima) Kecamatan dan 37 (tiga puluh tujuh) Kelurahan.
Kota Binjai adalah daerah yang beriklim tropis dengan 2 musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Di Kecamatan Binjai Selatan curah hujan cukup besar dibanding dengan kecamatan lainnya di Kota Binjai yaitu 214 mm/14 haru hujan, diikuti dengan Kecamatan Binjai Barat 207 mm/8 hari hujan.
III.3 Angka Kemiskinan di Kota Binjai
Angka kemiskinan di Kota Binjai di Tahun 2012 terdiri dari 17.200 jiwa, sedangkan pada tahun 2013 jumlah penduduk miskin di Kota Binjai naik 6,75% yakni sebesar 17.500 jiwa. Tetapi pada tahun 2014 adanya penurunan angka sekitar 6,38% yakni sebesar 16.720 jiwa,
Tabel 3.1 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Kota Binjai Tahun 2012-2014
Indikator Satuan 2012 2013 2014
Jumlah Penduduk Miskin Jiwa 17.200 17.500 16.720
Penduduk Miskin Persen 6,72 6,75 6,38 Sumber: BPS Kota Binjai
III.4 Profil Kelurahan Limau Sundai
Salah satu Kelurahan yang terdapat di salah satu Kecamatan yang ada di Kota Binjai adalah Kelurahan Limau Sundai. KelurahanLimau Sundai berbatasan dengan Kelurahan Payaroba, Limau Mungkur, dan Pekan Binjai. Ada dua jembatan yang menghubungkan Kelurahan ini dengan Kelurahan Pekan Binjai di Pasar Tavip.
Tabel 3.2 Batas-batas Kelurahan
Letak Batas Kelurahan Kelurahan
Sebelah Utara Payaroba
Sebelah Selatan Binjai
Sebelah Barat Limau Mungkur
Sebelah Timur Pekan Binjai
Kelurahan Limau Sundai terdiri dari (6) enam Lingkungan.
Kelurahan Limau Sundai memiliki penduduk perjumlah 5640 jiwa yang terdiri dari:
Laki-laki : 2863 jiwa Perempuan : 2780 jjiwa
Jumlah Keluarga : 1539 Kepala Keluarga BAB IV
PENYAJIAN DATA
IV.1 PROGRAM BERAS MISKIN ( RASKIN)
IV.1.1 PENGERTIAN PROGRAM BERAS MISKIN MENURUT
Program Subsidi Beras bagi Masyarakat Berpendapatan Rendah (Program Raskin) adalah Program Nasional lintas sektoral baik horizontal maupun vertikal, untuk membantu mencukupi kebutuhan pangan beras masyarakat yang berpendapatan rendah. Secara horizontal semua Kementerian/Lembaga (K/L) yang terkait memberikan kontribusi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Pemerintah Pusat berperan dalam membuat kebijakan program, sedangkan pelaksanaannya sangat tergantung kepada Pemerintah Daerah. Oleh karena itu, peran Pemerintah Daerah sangat penting dalam peningkatan efektifitas Program Raskin.
Program ini dimulai pada waktu terjadi krisis pangan pada tahun 1998.
Untuk mengatasi krisis tersebut, Pemerintah mengambil kebijakan untuk memberikan subsidi pangan bagi masyarakat melalui Operasi Pasar Khusus (OPK). Pada tahun 2002 program tersebut dilakukan lebih selektif dengan menerapkan sistem targeting, yaitu membatasi sasaran hanya membantu kebutuhan pangan bagi Rumah Tangga Miskin (RTM). Sejak itu Program ini menjadi populer dengan sebutan Program Raskin, yaitu subsidi beras bagi masyarakat miskin. Pada tahun 2008 Program ini berubah menjadi Program Subsidi Beras Bagi Masyarakat Berpendapatan Rendah. Dengan demikian rumah tangga sasaran Program ini tidak hanya Rumah Tangga Miskin, tetapi meliputi Rumah Tangga Rentan atau Hampir Miskin.
Dalam pelaksanaannya selama 16 (enam belas) tahun, Pemerintah telah mengambil berbagai kebijakan untuk melakukan penyesuaian terhadap kondisi yang berkembang, misalnya penyesuaian jumlah Rumah Tangga Sasaran
(RTS), durasi penyaluran, alokasi jumlah beras untuk setiap RTS (kuantum Raskin) dan penyesuaian Harga Tebus Raskin di Titik Distribusi (TD) dari Rp 1.000,-/kg menjadi Rp 1.600,-/kg. Kebijakan lain yang telah diambil pemerintah pada beberapa tahun terakhir adalah penyaluran Raskin untuk mengatasi kenaikan harga akibat musim paceklik dan meningkatnya permintaan beras pada hari-hari besar. Untuk keperluan ini pemerintah telah menyalurkan Raskin lebih dari 12 kali dalam satu tahun. Bahkan pada tahun 2013 pemerintah telah menyalurkan Raskin sampai Raskin ke-15, sebagai kompensasi kenaikan harga BBM. Pada awal tahun 2014 dilakukan percepatan penyaluran Raskin bulan Nopember –Desember ke bulan Februari Maret dampak benacan alam yang melanda hampir di sejumlah wilayah Indonesia pada awal tahun 2014.
Keberhasilan Program Raskin ditentukan mulai dari perencanaan, penganggaran, penyediaan, penyaluran, monitoring dan evaluasi, pengawasan dan penanganan pengaduan oleh K/L terkait yang tergabung dalam Tim Koordinasi Raskin Pusat. Pelaksanaan penyaluran Raskin oleh Perum BULOG sampai Titik Distribusi (TD) di seluruh Indonesia. Pemerintah Daerah memiliki peran yang sangat strategis dalam penyaluran Raskin dari TD sampai kepada Rumah Tangga Sasaran (RTS). Dukungan yang diperlukan dari pemerintah daerah minimal pengalokasian APBD untuk angkutan beras dari TD sampai ke RTS. Tetapi bagi pemerintah daerah yang mampu dapat mengambil kebijakan untuk melakukan pengembangan Program Raskin yang meliputi Raskin Daerah untuk menambah jumlah RTS, subsidi Harga Tebus
Raskin (HTR), pemberdayaan masyarakat melalui Padat Karya Raskin (PKR) atau “Raskin for Work”, penyaluran Raskin melalui Warung Desa dan Pokmaskin.
IV.2 MEKANISME PELAKSANAAN PROGRAM BERAS
MISKIN/RASKIN
IV.2.1 Pembuatan Panduan Pelaksanaan Program Raskin
Dalam pelaksanaan Program Raskin diperlukan panduan pelaksanaan kegiatan yang sistematis yang akan dijadikan pedoman berbagai pihak baik pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan desa/ kelurahan maupun pihak lain yang terkait dalam pelaksanaan Program Raskin. Panduan pelaksanaan Program Raskin terdiri dari Pedoman Umum Program Raskin (Pedum Raskin), Pedoman Khusus Program Raskin, Petunjuk Pelaksanaan Raskin (Juklak Raskin), dan Petunjuk Teknis Raskin (Juknis Raskin).
1. Pembuatan Pedoman Umum Raskin (Pedum Raskin)
a. Pedoman Umum Program Raskin (Pedum Raskin) sebagai panduan pelaksanaan Raskin untuk tingkat nasional yang diformulasikan dari masukan berbagai Kementerian/ Lembaga (K/L) baik di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. Pedum ini di dalamnya
berisikan kebijakan umum yang mengatur pelaksanaan Program Raskin yang berlaku secara nasional.
b. Pedum Raskin dibuat oleh Tim Koordinasi Raskin Pusat dan setiap tahun akan ditinjau ulang untuk disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang.
c. Pedum Raskin akan dikirim dalam bentuk buku dan dapat diunduh pada website Kemenko Kesra (www. menkokesra.go.id) dan website Perum BULOG (www.BULOG.co.id).
2. Pembuatan Pedoman Khusus Raskin
a. Untuk pelaksanaan kegiatan sektoral dalam Program Raskin maka K/L terkait menyusun Pedoman Khusus Raskin sebagai panduan pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, serta tetap mengacu pada Pedoman Umum Raskin.
b. Pedoman khusus Raskin berisikan kebijakan sektoral dalam Program Raskin yang memandu pelaksanaan salah satu aspek kegiatan Program Raskin yang menjadi tanggungjawab K/L tertentu sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
c. Pedoman Khusus Raskin dibuat oleh K/L tertentu yang terkait dalam Program Raskin dan setiap tahun akan ditinjau ulang untuk disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang.
3. Pembuatan Petunjuk Pelaksanaan Program Raskin (Juklak Raskin)
a. Untuk pelaksanaan Program Raskin di tingkat provinsi diperlukan panduan pelaksanaan yang sesuai dengan situasi dan kondisi setempat sebagai penajaman dari Pedoman Umum Raskin, yang disebut Petunjuk Pelaksanaan Program Raskin (Juklak Raskin).
b.Juklak Raskin bersifat spesifik untuk setiap provinsi di dalamnya berisikan kebijakan masing-masing pemerintah provinsi , dukungan faktor sosial budaya setempat, kearifan lokal yang ada di masing- masing provinsi, upaya untuk mengatasi berbagai masalah dan hambatan spesifik provinsi dalam pelaksanaan program Raskin seperti kurangnya sarana dan prasarana angkutan dan faktor alam yaitu geografi, iklim dan lain-lain.
c. Juklak Raskin dibuat oleh Tim Koordinasi Raskin Provinsi dan setiap tahun akan ditinjau ulang untuk disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang.
d. Juklak Raskin disampaikan kepada Tikor Raskin Pusat.
4. Pembuatan Petunjuk Teknis Program Raskin (Juknis Raskin)
a. Untuk pelaksanaan Program Raskin di tingkat kabupaten/kota diperlukan panduan pelaksanaan yang sesuai dengan situasi dan kondisi setempat sebagai penajaman dari Pedum Raskin dan Juklak Raskin yang disebut Petunjuk Teknis Program Raskin (Juknis Raskin).
b. Juknis Raskin bersifat spesifik untuk setiap kabupaten/kota di dalamnya berisikan kebijakan masing-masing pemerintah kabupaten/kota, dukungan faktor sosial budaya setempat, kearifan lokal yang ada di masing-masing kabupaten/kota, upaya untuk mengatasi berbagai masalah dan hambatan spesifik kabupaten/kota dalam pelaksanaan program Raskin seperti kurangnya sarana dan prasarana angkutan, faktor alam yaitu geografi, iklim dan lain-lain.
c. Juknis Raskin dibuat oleh Tim Koordinasi Raskin Kabupaten/Kota dan setiap tahun akan ditinjau ulang untuk disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang.
d. Juknis Raskin disampaikan dan dilaporkan kepada Tikor Raskin Provinsi.
IV.2.2 Penetapan Pagu Raskin
1. Penetapan Pagu Raskin Nasional
a. Pagu Raskin Nasional tahun 2015 merupakan besaran jumlah Rumah Tangga Sasaran yang menerima Raskin pada tahun 2015 atau jumlah