2. LANDASAN TEORI
2.1. Dasar Perpajakan 2.1.1. Definisi Pajak
Pajak merupakan salah satu sumber pendapatan yang utama di Indonesia.
Masalah pajak adalah masalah negara, dan setiap orang yang hidup dalam suatu negara pasti berurusan dengan pajak, oleh karena itu masalah pajak juga menjadi masalah rakyat dalam negara tersebut.
Pengertian pajak telah banyak dikemukakan oleh para ahli dalam gaya bahasa yang berbeda-beda. Namun masing- masing definisi memiliki tujuan yang sama.
Berikut ini adalah salah satu definisi pajak menurut Soemitro adalah sebagai berikut:
“Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang-Undang (dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal balik yang langsung dapat ditunjuk dan yang digunakan untuk membiayai pengeluaran umum.” Soemitro (1989:3)
Dari definisi tersebut di atas menurut Tjahjono (2000:3) dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki unsur-unsur sebagai berikut :
a. Iuran dari rakyat kepada negara
Artinya bahwa yang berhak melakukan pemungutan pajak adalah negara, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, iuran tersebut berupa uang (bukan barang).
b. Berdasarkan undang-undang
Artinya bahwa walaupun negara mempunyai hak untuk memungut pajak, namun pelaksanaannya harus memperoleh persetujuan dari wakil- wakil rakyat, yaitu dengan menyetujui undang-undang. Oleh karena pemungutan pajak berdasarkan undang-undang berarti pelaksanaannya dapat dipaksakan.
c. Tanpa jasa timbal balik atau kontra prestasi dari negara yang secara langsung dapat ditunjuk secara ind ividual.
Artinya bahwa imbalan atau kontra prestasi oleh negara atas pembayaran pajak tersebut tidak diperuntukkan bagi rakyat secara individual atau tidak dapat dihubungkan secara langsung dengan besarnya pajak.
d. Untuk membiayai pengeluaran pemerintah baik rutin maupun pengeluaran pembangunan.
e. Penyelenggaraan pemerintah secara umum merupakan prestasi dari negara, jika masih surplus digunakan untuk public investment.
f. Pajak dipungut disebabkan adanya suatu keadaan, kejadian dan perbuatan ya ng memberikan kedudukan tertentu kepada seseorang.
g. Pajak dapat pula mempunyai tujuan yang non budgeter yaitu mengatur.
2.1.2. Klasifikasi Pajak
2.1.2.1. Pajak Menurut Golongannya
Menurut Tjahjono (2000:7-9) pajak dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
1. Pajak Langsung
Dalam pengertian ekonomis, pajak langsung adalah pajak yang bebannya harus dipikul sendiri oleh wajib pajak yang bersangkutan dan tidak boleh dilimpahkan kepada orang lain. Dalam pengertian administratif, pajak langsung adalah pajak yang dipungut secara berkala. Contoh: Pajak Penghasilan (PPh)
2. Pajak Tidak Langsung
Dalam pengertian ekonomis, pajak tidak langsung adalah pajak-pajak yang bebannya dapat dilimpahkan kepada pihak ketiga atau konsumen. Dalam pengertian administratif, pajak tidak langsung adalah pajak yang dipungut setiap terjadi peristiwa atau perbuatan yang menyebabkan terutangnya pajak, misalnya terjadi penyerahan barang, pembuatan akte. Contoh: Pajak Pertambahan Nilai (PPN), bea meterai.
2.1.2.2. Pajak Menurut Sifatnya
Menurut Tjahjono (2000:9-10) sifat pajak dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1. Pajak Subjektif (bersifat perorangan)
Pajak subjektif adalah pajak yang memperhatikan pertama-tama keadaan pribadi Wajib Pajak untuk menetapkan pajaknya harus ditemukan alasan-alasan yang objektif yang berhubungan erat dengan keadaan materialnya, yaitu yang disebut gaya pikul.
2. Pajak Objektif (bersifat kebendaan)
Pajak Objektif pertama-tama melihat kepada objeknya baik itu berupa benda, dapat pula berupa keadaan, perbuatan atau peristiwa yang mengakibatkan timbulnya kewajiban membayar, kemudian barulah dicari subjeknya (orang atau badan hokum) yang bersangkutan langsung, dengan tidak mempersoalkan apakah subjek pajak ini berkedudukan di Indonesia ataupun tidak.
2.1.2.3. Fungsi Pajak
Fungsi pajak menurut Tjahjono (2000:4-6) meliputi fungsi- fungsi sebagai berikut : 1. Sebagai sumber keuangan negara
Fungsi sumber keuangan negara fungsi pajak untuk memasukkan uang kas negara atau dengan kata lain fungsi pajak sebagai sumber penerimaan negara dan digunakan untuk pengeluaran negara baik pengeluaran rutin maupun pengeluaran pembangunan.
2. Fungsi mengatur atau non budgeter
Disamping usaha untuk memasukkan uang sebanyak mungkin untuk kegunaan kas negara, pajak harus dimasukkan sebagai usaha pemerintah untuk turut campur tangan dalam hal ini mengatur dan, bilamana perlu, mengubah susunan pendapatan dan kekayaan dalam sektor swasta.
Di dalam bidang perpajakan kita telah mengenal sistem pemungutan pajak yang terdiri dari (Tjahjono, 2000:26-27) :
1. Official Assessment System
adalah suatu sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada pemerintah untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.
2. Self Assessment System
adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada Wajib Pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang.
3. With Holding System
adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga, bukan fiskus dan bukan pula Wajib Pajak yang bersangkutan, untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.
Sedangkan hambatan terhadap pemungutan pajak menurut Tjahjono (2000:31) dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu:
1. Perlawanan Pasif
Masyarakat enggan membayar pajak, yang disebabkan antara lain:
a. Perkembangan intelektual dan moral masyarakat.
b. Sistem perpajakan yang sulit dipahami masyarakat.
c. Sistem kontrol tidak dapat dilakukan atau dilaksanakan dengan baik.
2. Perlawanan Aktif
Perlawanan aktif meliputi semua usaha dan perbuatan yang secara langsung ditujukan kepada fiskus dengan tujuan untuk menghindari pajak, bentuknya antara lain:
a. Tax Avoidance, yaitu usaha meringankan beban pajak dengan tidak melanggar Undang-Undang.
b. Tax Evasion, yaitu meringankan beban pajak dengan cara yang melanggar Undang-Undang (menggelapkan pajak).
2.2. Pajak Pertambahan Nilai
2.2.1. Pengertian Pajak Pertambahan Nilai
Menurut Soekardji (2002:23) yang dimaksud dengan Pajak Pertambahan Nilai adalah pengenaan pajak atas pengeluaran untuk konsumsi (a tax on consumption expenditure) baik yang dilakukan oleh perseorangan maupun oleh badan baik swasta maupun badan pemerintah dalam bentuk belanja barang atau jasa yang dibebankan pada anggaran belanja negara. Pajak Pertambahan Nilai itu sendiri adalah selisih antara Pajak Keluaran dengan Pajak Masukan.
2.2.2. Istilah-Istilah yang digunakan dalam Undang-Undang PPN
Dalam Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai No 18 Tahun 2000, banyak pengertian atau istilah- istilah yang harus diketahui. Berikut ini dijelaskan beberapa pengertian menurut pasal 1, yaitu sebagai berikut:
1. Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan, dan ruang udara di atasnya serta tempat-tempat tertentu di Zona
Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontine n yang didalamnya berlaku Undang- Undang Nomor 10 tahun 2000.
2. Barang adalah barang berwujud, yang menurut sifat atau hukumnya dapat berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak.
3. Barang Kena Pajak adalah barang berwujud yang menurut sifat atau hukumnya dapat berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-Undang ini.
4. Impor adalah setiap kegiatan memasukkan barang dari luar Daerah pabean ke dalam Daerah pabean.
5. Ekspor adalah setiap kegiatan mengeluarkan barang dari dalam Daerah pabean ke luar Daerah pabean.
6. Perdagangan adalah kegiatan usaha membeli dan menjual, termasuk kegiatan tukar- menukar barang, tanpa mengubah bentuk atau sifatnya.
7. Badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseorangan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, organisasi sosial politik, bentuk usaha tetap dan bentuk badan lainnya.
8. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar Daerah pabean, melakukan usaha jasa atau memanfaatkan jasa dari luar pabean.
9. Menghasilkan adalah kegiatan mengolah melalui proses mengubah bentuk atau sifat dari suatu barang dari bentuk aslinya menjadi barang baru atau mempunyai daya guna baru, atau kegiatan mengolah sumber daya alam termasuk menyuruh orang pribadi atau badan lain melakukan kegiatan tersebut.
10. Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah harga jual, penggantian atau Nilai Impor, Nilai Ekspor atau Nilai Lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang.
11. Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak, tidak
termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut Undang-Undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam faktur pajak.
12. Pembeli adalah orang pribadi atau badan yang menerima atau seharusnya menerima penyerahan Barang Kena Pajak dan yang membayar atau seharusnya membayar harga Barang Kena Pajak tersebut.
13. Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak, atau bukti pungutan karena impor Barang Kena Pajak yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
14. Pajak Masukan adalah Pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya sudah dibayar oleh PKP karena perolehan BKP atau penerimaan JKP dan atau pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar Daerah Pabean dan atau pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean atau impor BKP.
15. Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai yang wajib dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak, penyerahan Jasa Kena Pajak atau ekspor Barang Kena Pajak.
16. Pemungut Pajak Pertambahan Nilai adalah bendaharawan pemerintah, badan, atau instansi pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan untuk memungut, menyetor, dan pelaporan pajak yang terutang oleh PKP atas penyerahan Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak kepada bendaharawan pemerintah, badan, atau instansi pemerintah tersebut.
2.2.3. Karakteristik Pajak Pertambahan Nilai
Menurut Soekardji (2002:19-27) karakteristik Pajak Pertambahan Nilai yaitu : a. Pajak Pertambahan Nilai merupakan Pajak Tidak Langsung.
Karakter ini memberikan suatu konsekuensi yuridis bahwa antara pemikul beban pajak dengan penanggung jawab atas pembayaran pajak ke kas negara berada pada pihak yang berbeda.
b. Pajak Obyektif.
Yang dimaksud dengan pajak obyektif adalah suatu jenis pajak yang saat timbulnya kewajiban pajak ditentukan oleh faktor obyektif, yaitu adanya keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum yang dapat dikenakan pajak. Sebagai
Pajak Obyektif, timbulnya kewajiban untuk membayar Pajak Pertambahan Nilai ditentukan oleh obyek pajak. Kondisi subyektif subyek pajak tidak ikut menentukan. Pajak Pertambahan Nilai tidak membedakan antara konsumen berupa orang dengan badan, antara konsumen yang berpenghasilan tinggi dengan yang berpenghasilan rendah. Sepanjang mereka mengkonsumsi barang atau jasa dari jenis yang sama.
c. Multi Stage Tax.
Multi stage tax adalah karakteristik Pajak Pertambahan Nilai yang dikenakan pada setiap mata rantai jalur produksi maupun jalur distribusi. Setiap penyerahan barang yang menjadi obyek Pajak Pertambahan Nilai mulai dati tingkat pabrikan (manufacturer) kemudian di tingkat pedagang besar (wholesaler) dalam berbagai bentuk atau nama sampai dengan tingkat pedagang pengecer (ritailer) dikenakan Pajak Pertambahan Nilai.
d. Mekanisme Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai Menggunakan Faktur Pajak.
Sebagai konsekuensi penggunaan credit method untuk menghitung Pajak Pertambahan Nilai yang terutang maka pada setiap penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak, Pengusaha Kena Pajak yang bersangkutan diwajibkan untuk membuat faktur pajak, Pengusaha Kena Pajak yang bersangkutan diwajibkan untuk membuat faktur pajak sebagai bukti pemungutan pajak. Di pihak lain, bagi pembeli, penerima jasa atau importir merupakan bukti pembayaran pajak.
e. Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak atas Konsumsi Umum Dalam Negeri.
Sebagai pajak atas konsumsi umum dalam negeri, Pajak Pertambahan Nilai hanya dikenakan atas konsumsi Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak yang dilakukan di dalam negara.
f. Pajak Pertambahan Nilai Bersifat Netral
Netralitas Pajak Pertambahan Nilai dibentuk oleh dua faktor yaitu Pajak Pertambahan Nilai atas konsumsi barang maupun jasa dan Pajak Pertambahan Nilai menganut prinsip tempat tujuan dalam sistem pemungutannya.
g. Tidak menimbulkan dampak pengenaan pajak berganda.
Kemungkinan pengenaan pajak berganda dapat dihindari sebanyak mungkin karena Pajak Pertambahan Nilai dipungut atas nilai tambah saja.
Setiap barang yang berasal dari bahan mentah kemudian diolah menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi dalam pembuatannya melalui suatu proses dari berbagai mata rantai produksi. Nilai barang akan berubah dan bertambah pada setiap mata rantai produksi maupun distribusi karena digunakannya berbagai faktor produksi ditambah dengan perhitungan margin laba yang diharapkan. Hal yang sama juga terdapat dalam masalah penyediaan dan penyerahan jasa.
Pertambahan nilai yang terjadi pada setiap mata rantai merupakan dasar pengenaan PPN. Walaupun PPN dipungut pada beberapa mata rantai produksi dan distribusi, terjadinya efek berganda dapat dihindari karena adanya mekanisme pengkreditan Pajak Masukan dan Pajak keluaran.
Dalam mekanisme perhitungan dan pengkreditan PPN maka Barang Kena Pajak maupun Jasa Kena Pajak yang dibeli atau dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak untuk diproses atau diserahkan lebih lanjut akan dibebani PPN sebagai Pajak Masukan. Sedangkan pembelian Barang Kena Pajak pada saat Pengusaha Kena Pajak menyerahkan Barang atau Jasa Kena Pajak, akan dibebani PPN sebagai Pajak Keluaran.
2.2.4. Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai
2.2.4.1. Prinsip Dasar Pengkreditan Pajak Masukan
Semua pengusaha yang terlibat dalam jalur produksi dan distribusi barang niaga selalu menambahkan biaya yang dikeluarkan untuk faktor- faktor produksi yang dapat berupa biaya penyusutan atas faktor produksi harta tetap, biaya bunga modal atas faktor produksi modal, biaya gaji atau upah atas faktor produksi tenaga kerja, biaya kantor, biaya pemasaran dan distribusi, serta keuntungan yang diharapkan atas faktor produksi manajemen. Biaya yang ditambahkan ini pada hakekatnya adalah pertambahan nilai dari barang yang berada ditangan pengusaha tersebut dan pertambahan nilai inilah yang akan dikenakan pajak menurut Undang- Undang Pajak Pertambahan Nilai.
Mekanisme pengkreditan tersebut diatur dalam pasal 9 Undang-Undang No.18 Tahun 2000 Jo Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000, yang pada prinsipnya mengatur hal- hal sebagai berikut:
1. Pajak Masukan dalam suatu masa pajak dikreditkan dengan Pajak Keluaran yang dipungut dalam masa pajak yang sama.
2. Apabila tidak dapat dikreditkan pada masa pajak yang sama (misalnya faktur pajaknya diterima terlambat), Pajak Masukan tersebut masih bisa dikreditkan pada masa pajak berikutnya, selambat- lambatnya tiga bulan setelah berakhirnya masa pajak yang bersangk utan, sepanjang:
a. Belum dibebankan sebagai biaya atau tidak ditambahkan (dikapitalisasi) kepada harga perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak.
b. Belum dilakukan pemeriksaan.
3. Apabila jangka waktu pengkreditan Pajak Masukan tersebut tiga bulan telah terlewati maka Pajak Masukan tetap dapat dikreditkan dengan melakukan pembetulan Surat Pemberitahuan Masa PPN (SPT Masa PPN).
4. Dalam hal pada suatu masa pajak belum terdapat Pajak Keluaran (misalnya:
belum ada produksi), Pajak Masukan tetap dapat dikreditkan.
5. Jika Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan, maka selisihnya harus disetor ke kas negara selambat-lambatnya tanggal 15 bulan berikutnya.
6. Jika Pajak Masukan lebih besar daripada Pajak Keluaran, maka kelebihan tersebut dapat dikompensasikan ke masa pajak berikutnya atau diminta kembali (direstitusi).
7. Pajak Masukan yang dapat dikreditkan, adalah Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha (produksi, manajemen, dan distribusi) dari Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang diserahkan atau yang dijual.
2.2.4.2. Pajak Masukan yang Tidak Dapat Dikreditkan
Berdasarkan Pasal 9 ayat 8 Undang-Undang No.18 Tahun 2000 terdapat jenis-jenis Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan yaitu:
a. Pajak Masukan yang dibayar sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
b. Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha.
c. Pajak Masukan atas perolehan dan pemeliharaan mobil jenis sedan kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan.
d. Pajak Masukan yang tercantum dalam Faktur Pajak Sederhana.
e. Pajak Masukan yang tercantum dalam Faktur Pajak Standar yang tidak memenuhi ketentuan perundang- undangan PPN.
f. Pajak Masukan yang dibayar setelah ditagih dengan penerbitan ketetapan pajak.
g. Pajak Masukan yang belum dikreditkan dalam Surat Pemberitahuan (SPT) yang diketemukan dalam pemeriksaan.
Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak untuk menghasilkan penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang mendapat fasilitas dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai atau ditanggung pemerintah.
2.2.5. Pengusaha Kena Pajak (PKP)
2.2.5.1. Pengertian Pengusaha Kena Pajak (PKP)
Pengertian Pengusaha Kena Pajak menurut pasal 1 ayat 15 UU No.18 Tahun 2000 adalah pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenakan pajak berdasarkan UU PPN, tidak termasuk pengusaha kecil yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan, kecuali Pengusaha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan menjadi PKP.
2.2.5.2. Termasuk Pengusaha Kena Pajak
Yang termasuk Pengusaha Kena Pajak menurut Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (UU PPN) pasal 4 ayat (1) dan (2) adalah :
a. Pabrikan atau produsen b. Importir
c. Pengusaha yang mempunyai hubungan istimewa dengan pabrikan atau importir d. Agen utama dan penyalur utama pabrikan atau importir
e. Pemegang hak paten merk dengan BKP f. Pedagang besar
g. Pengusaha jasa yang melakukan penyerahan BKP h. Pedagang eceran
2.2.5.3. Kewajiban Pengusaha Kena Pajak
Menurut Soekardji (2002:131) Pengusaha Kena Pajak berkewajiban untuk : a. Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan menjadi PKP.
b. Membuat faktur pajak atas setiap penyerahan yang dikenakan pajak.
c. Membuat nota retur dalam hal terdapat pengembalian BKP.
d. Melakukan pencatatan dalam pembukuan mengenai kegiatan usahanya.
e. Menyetor pajak yang terutang.
f. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa PPN (SPT Masa PPN).
2.2.5.4. Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak
Menurut Tjahjono (2000:437) Berdasarkan sistem self assessment yang dianut negara kita, maka setiap pengusaha yang telah memenuhi syarat dikenakan PPN berdasarkan Undang-Undang PPN wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dan kepadanya diberikan Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (NPPKP). Tempat pendaftaran PKP adalah sebagai berikut:
a. Di kantor pelayanan pajak wilayah tempat cabang atau kegiatan usaha wajib pajak.
b. Untuk mempermudah pelayanan, Dirjen pajak dapat menentukan tempat pendaftaran lain.
Jangka waktu pendaftaran Pengusaha Kena Pajak ini dibatasi oleh aturan yang ditetapkan oleh Dirjen pajak. Hal ini disebabkan karena pendaftaran PKP berkaitan erat dengan saat terutangnya pajak dan kewajiban pajak terutang.
Permohonan Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (NPPKP) ini dapat diajukan sekaligus bersamaan dengan permohonan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
Namun khusus untuk memperoleh NPPKP tersebut sebelumnya harus dilakukan terlebih dahulu verifikasi lapangan oleh petugas pajak.
NPPKP yang telah diterima oleh Pengusaha Kena Pajak bisa dihapus atau tidak berlaku lagi jika terjadi hal- hal berikut ini:
a. Wajib pajak meninggal dunia.
b. Wajib pajak pindah alamat ke wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak lain.
c. Wanita kawin yang tidak pisah harta.
d. Warisan yang telah selesai dibagi.
e. Badan (termasuk BUT) dibubarkan.
2.2.6. Penyerahan Barang Kena Pajak
Pengertian penyerahan Barang Kena Pajak diatur dalam pasal 1 angka 4, yaitu setiap kegiatan penyerahan Barang Kena Pajak. Kegiatan-kegiatan yang termasuk di dalam pengertian penyerahan dirinci di dalam pasal 1 A ayat 1 Undang- Undang Nomor 18 Tahun 2000, yaitu:
1. Penyerahan hak atas Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian.
2. Pengalihan Barang Kena Pajak oleh karena suatu perjanjian sewa beli dan perjanjian leasing.
3. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang.
4. Pemakaian sendiri dan atau pemberian cuma-cuma atas Barang Kena Pajak.
5. Persediaan Barang Kena Pajak dan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan, sepanjang Pajak Pertambahan Nilai atas perolehan aktiva tersebut menurut ketentuan dapat dikreditkan.
6. Penyerahan Barang Kena Pajak dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan penyerahan Barang Kena Pajak antar cabang.
7. Penyerahan Barang Kena Pajak secara konsinyasi.
2.2.7. Penyerahan Barang Kena Pajak yang Dikembalikan
Dapat terjadi bahwa terhadap Barang Kena Pajak yang telah diserahkan, karena sesuatu hal dikembalikan oleh pembeli. Apabila terjadi demikian, maka Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan Barang Kena Pajak yang dikembalikan tersebut
dapat dikurangkan dari Pajak Pertambahan Nilai yang terutang dalam masa pajak terjadinya pengembalian Barang Kena Pajak tersebut.
Uraian mengenai perlakuan atas penyerahan Barang Kena Pajak yang dikembalikan ini bersumberkan pada Keputusan Menteri Keuangan No.
596/KMK.04/1994.Jo.SE-12/Pj-54/1995 tanggal 3 April 1995 tentang Tata Cara Pengurangan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah untuk Barang Kena Pajak yang dikembalikan.
2.2.7.1. Perlakuan Pajak Pertambahan Nilai
Pasal 1 ayat (1) dalam Keputusan Menteri Keuangan menyebutkan bahwa Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan Barang Kena Pajak yang dikembalikan oleh pembeli mengurangi:
1. Pajak keluaran bagi Pengusaha Kena Pajak (PKP) penjual sepanjang faktur pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak tersebut telah dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai. Yang dimaksud dengan faktur pajak adalah Faktur Pajak Standar atau Faktur Pajak Sederhana.
2. Pajak masukan bagi Pengusaha Kena Pajak (PKP) pembeli sepanjang pajak masukannya dapat dikreditkan dan dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN).
3. Harta atau biaya bagi Pengusaha Kena Pajak pembeli, dalam hal pajak masukannya tidak dapat dikreditkan dan telah dikapitalisasi atau telah dibebankan sebagai biaya.
4. Harta atau biaya bagi pembeli yang bukan Pengusaha Kena Pajak.Pengurangan Pajak Pertambahan Nilai tidak dilakukan, apabila terhadap Barang Kena Pajak yang dikembalikan tersebut diganti dengan Barang Kena Pajak yang sama, baik dalam jumlah fisik, jenis, maupun harganya oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) penjual Barang Kena Pajak tersebut.
2.2.7.2. Pembuatan Nota Retur
Bentuk Nota Retur seperti yang terlampir dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan administrasi Pengusaha Kena Pajak, tetapi materi yang tercantum di dalamnya memenuhi ketentuan Pasal 3 ayat (3) Keputusan Menteri Keuangan, yaitu:
1. Nomor urut.
2. Nomor seri dan tanggal Faktur Pajak dari BKP yang dikembalikan.
3. Nama, alamat, dan NPWP pembeli.
4. Nama, alamat, NPWP penjual, yang menerbitkan Faktur Pajak.
5. Jenis barang dan harga jual BKP yang dikembalikan.
6. PPN dan BKP yang dikembalikan.
7. PPnBM atas BKP yang tergolong mewah yang dikembalikan.
8. Tanggal pembuatan Nota Retur.
9. Tanda tangan Pembeli.
Berdasarkan keputusan Menteri Keuangan apabila Nota Retur tidak mencantumkan keterangan seperti tersebut di atas maka tidak dapat diperlakukan sebagai Nota Retur. Nota Retur harus dibuat dalam masa pajak pada saat terjadinya pengembalian Barang Kena Pajak.
Dalam hal potongan harga diberikan kemudian, sedangkan Faktur Pajak sudah dibuat dan sudah dilaporkan oleh PKP penjual atau pengusaha jasa menjadi terlalu besar, maka PKP ini harus melakukan pembetulan Faktur Pajak dengan cara membuat Faktur Pajak pengganti dan pembetulan SPT masa PPN yang berisi laporan Faktur Pajak Keluaran yang bersangkutan, dalam hal ini tidak dapat diselesaikan dengan Cara membuat Nota Retur karena tidak ada BKP yang dikembalikan dan tidak dapat digunakan untuk jasa. Di samping itu Nota Retur tidak dapat mengurangi kelebihan Pajak Keluaran yang sudah dilaporkan sebagai akibat potongan harga yang diberikan kemudian. Potongan harga yang dapat mengurangi Dasar pengenaan Pajak adalah potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak. Demikian pula halnya, tidak dapat dibuat nota kredit, karena Keputusan Menteri keuangan tidak mengatur eksistensi nota kredit.
2.2.7.3. Pengurangan Pajak Pertambahan Nilai
Pengurangan Pajak Pertambahan Nilai oleh Pengusaha Kena Pajak Penjual atau yang menghasilkan menyerahkan Barang Kena Pajak, dilakukan dalam masa pajak yang sama dengan masa pajak dibuatnya nota retur. Namun dalam hal nota retur belum dapat diperhitungkan dalam masa pajak yang sama dengan masa pajak dibuatnya nota retur, maka nota retur dapat diperhitungkan dalam masa pajak
diterimanya nota retur tersebut. Pengurangan Pajak Masukan atau pengurangan harta atau pengurangan biaya oleh pembeli dilakukan dalam masa pajak dibuatnya nota retur.
2.2.8. Bukan Merupakan Penyerahan Barang Kena Pajak
Penyerahan Barang Kena Pajak yang tidak termasuk dalam pengertian penyerahan Barang Kena Pajak, diatur dalam pasal 1 A ayat 2 Undang-Undang No.
18 Tahun 2000 adalah sebagai berikut:
a. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada makelar sebagaimana yang dimaksud dalam kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Namun demikian jasa makelar merupakan Jasa Kena Pajak.
b. Penyerahan Barang Kena Pajak untuk jaminan utang-piutang.
c. Penyerahan Barang Kena Pajak dari Kantor Pusat ke Kantor Cabang atau sebaliknya dan penyerahan Barang Kena Pajak antar Kantor Cabang dalam hal pihak-pihak tersebut berada dalam wilayah Kantor Pelayanan Pajak yang sama atau berada dalam wilayah Kantor Pelayanan Pajak yang berbeda tetapi telah memperoleh ijin pemusatan tempat pajak terutang dari Direktur Jendral Pajak.
Sedangkan jenis barang yang tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) didasarkan atas kelompok-kelompok barang sebagai berikut:
a. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya.
b. Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak.
c. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restaurant, rumah makan, warung, dan sejenisnya.
d. Uang, emas batangan, dan surat-surat berharga.
2.2.9. Dasar Pengenaan Pajak
Sebagai seorang Pengusaha Kena Pajak harus mengetahui cara perhitungan pajak sehingga dapat melakukan pembayaran pajak sesua i dengan peraturan perundang-undangan pajak yang berlaku. Untuk menentukan besarnya pajak yang terutang maka terlebih dahulu diketahui dua faktor penentu besarnya pajak yang terutang. Dua faktor tersebut adalah Tarif Pajak dan Dasar Pengenaan Pajak, karena
besarnya pajak terutang adalah hasil kali tarif dengan Dasar Pengenaan Pajak tersebut. Disamping itu untuk menentukan besarnya pajak yang harus disetor ke kas negara maka harus diketahui pula besarnya Pajak Masukan dan Pajak Keluaran, karena pajak yang harus disetorkan adalah selisih antara Pajak Masukan dan Pajak Keluaran tersebut (Pajak Masukan merupakan kredit pajak dalam Pajak Pertambahan Nilai).
Dasar Pengenaan Pajak (DPP) adalah harga jual atau penggantian, nilai impor atau nilai ekspor atau nilai la in yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang. Berikut ini adalah Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai:
1. Harga Jual
Pengertian harga jual diatur dalam Pasal 1 angka 18 Undang-Undang No. 18 Tahun 2000, yaitu berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut Undang-Undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dala m faktur pajak. Yang termasuk dalam pengertian biaya yang merupakan unsur harga jual, antara lain pengangkutan, asuransi, bantuan teknik, pemeliharaan, garansi, dan biaya pemasangan.
2. Penggantian
pengertian penggantian diatur dalam Pasal 1 angka 19 Undang-Undang No. 18 Tahun 2000, yaitu nilai berupa uang termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pemberi jasa karena penyerahan Jasa Kena Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai dan potongan harga yang dicantumkan dalam faktur pajak.
3. Nilai Impor
Pengertian Nilai Impor diatur dalam Pasal 1 angka 20 Undang-Undang No. 18 Tahun 2000, yaitu nilai berupa uang yang menjadi dasar perhitungan bea masuk ditambah pungutan yang dikenakan sesuai Undang-Undang Pabean tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai.
4. Nilai Ekspor
Pengertian nilai ekspor dimuat dalam Pasal 1 angka 26 Undang-Undang No. 18 Tahun 2000, yaitu nilai berupa uang yang termasuk biaya yang diminta atau
seharusnya diminta oleh eksportir. Nilai ekspor dapat diketahui dari dokumen ekspor. Oleh karena itu tarif Pajak Pertambahan Nilai atas ekspor adalah 0%.
2.2.10. Saat dan Tempat Terutangnya Pajak Pertambahan Nilai 2.2.10.1. Saat Terutangnya Pajak
Menurut Pasal 11 Undang-Undang No.18 Tahun 2000 terutangnya pajak terjadi pada saat:
1. Penyerahan Barang Kena Pajak.
2. Impor Barang Kena Pajak.
3. Penyerahan Jasa Kena Pajak.
4. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean.
5. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean atau 6. Ekspor Barang Kena Pajak.
7. Dalam hal pembayaran diterima sebelum penyerahan Barang Kena Pajak atau sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak, atau dalam hal pembayaran dilakukan sebelum dimulainya pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean, saat terutangnya pajak adalah pada saat pembayaran.
8. Direktur Jendral Pajak dapat menetapkan saat lain sebagai saat terutangnya pajak dalam hal saat terutangnya pajak sukar ditetapkan atau terjadi perubahan ketentuan yang dapat menimbulkan ketidakadilan.
2.2.10.2. Tempat Terutangnya Pajak Pertambahan Nilai
Menurut Pasal 12 Undang-Undang No.18 Tahun 2000 tempat terutangnya Pajak Pertambahan Nilai adalah sebagai berikut:
1. Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean, penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean, ekspor Barang Kena Pajak terutang pajak di tempat tinggal atau tempat kedudukan dan tempat kegiatan usaha dilakukan atau tempat lain yang ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jendral Pajak.
2. Atas permohonan tertulis dari Pengusaha Kena Pajak, Direktur Jendral Pajak dapat menetapkan satu tempat atau lebih sebagai tempat pajak terutang.
3. Dalam hal impor, terutangnya pajak terjadi di tempat Barang Kena Pajak dimasukkan dan dipungut melalui Direktorat Jendral Bea dan Cukai.
4. Orang pribadi atau badan yang memanfaatkan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean terutang pajak di tempat tinggal atau tempat kedudukan dan tempat kegiatan usaha.
Penentuan saat dan tempat terutangnya Pajak Pertambahan Nilai juga sangat diperlukan dalam akuntansi. Pada prinsipnya PPN dipungut berdasarkan dua prinsip dasar yaitu:
1. Prinsip Akrual
Yaitu dalam prinsip ini, Pajak Pertambahan Nilai terutang pada saat penyerahan barang, jasa atau impor barang, meskipun atas penyerahan tersebut belum atau belum sepenuhnya diterima pembayarannya.
2. Prinsip Kas
Yaitu dalam prinsip ini, Pajak Pertambahan Nilai terutang pada saat penerimaan pembayaran, dalam hal ini pembayaran diterima sebelum penyerahan barang atau jasa.
Sedangkan cara pembukuan Pajak Pertambahan Nilai ada dua metode yaitu:
1. Metode Faktur
Yaitu PPN terutang dicatat pada saat faktur dikeluarkan. Faktur Pajak dibuat pada saat penyerahan atau pada saat pembayaran. Karena itu, metode faktur dipakai oleh Pengusaha Kena Pajak yang telah dikukuhkan.
2. Metode Kas
Yaitu PPN dicatat pada saat penerimaan pembayaran, pencatatan tidak tergantung pada pembuatan faktur. Karena itu metode kas ini digunakan dalam perusahaan yang tidak dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
2.2.11. Faktur Pajak
2.2.11.1. Pengertian Faktur Pajak
Untuk menghitung PPN yang terutang maka setiap penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak, Pengusaha Kena Pajak yang bersangkutan diwajibkan untuk membuat Faktur Pajak sebagai bukti pemungutan pajak. Di pihak lain, bagi
pembeli, penerima jasa atau impotir merupakan bukti pembayaran pajak.
Berdasarkan Faktur Pajak inilah akan dihitung jumlah pajak yang terutang dalam satu masa pajak yang wajib disetor ke kas negara.
Definisi Faktur Pajak menurut Undang-Undang No.18 Tahun 2000 yaitu bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak, atau bukti pungutan pajak karena impor Barang kena Pajak yang digunakan oleh Direktorat Jendral Bea dan Cukai. Dalam Pasal 13 ayat (1) dan (2) ditentukan bahwa:
“PKP wajib membuat Faktur Pajak untuk setiap penyerahan barang atau jasa pada saat pembayaran diterima sebelum penyerahan barang atau jasa dilakukan”.
Sesuai dengan ketentuan Pasal 13 ayat (3) dan yang terakhir (keputusan Menteri Keuangan No.1117/KMK.04/1989), Faktur Pajak harus dibuat pada akhir bulan berikutnya setelah penyerahan barang. Dengan demikian pembuatan Faktur Pajak dapat ditunda sampai akhir bulan berikutnya.
2.2.11.2. Jenis-Jenis Faktur Pajak
Jenis-jenis Faktur Pajak menurut Undang-Undang No.18 Tahun 2000 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak atas Penjualan Barang Mewah adalah sebagai berikut:
1. Faktur Pajak Standar
Faktur Pajak Standar merupakan Faktur Pajak yang dapat digunakan sebagai bukti pungutan pajak dan sebagai sarana untuk mengkreditkan Pajak Masukan.
Untuk setiap penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak harus dibuat satu Faktur Pajak Standar. Dalam hal bentuk dan isinya telah ditetapkan oleh peraturan perundang- undangan, dalam Faktur Pajak Standar harus dicantumkan keterangan tentang penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang meliputi:
a. Nama, alamat, NPWP yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak.
b. Nama, alamat, NPWP pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak.
c. Jenis barang atau jasa, jumlah harga jual atau penggantian, dan potongan harga.
d. PPN yang dipungut.
e. Pajak penjualan atas Barang Mewah yang dipungut.
f. Kode, nomor seri dan tanggal pembuatan Faktur Pajak.
Faktur Pajak Standar ini harus dibuat selambat- lambatnya:
a. Pada akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak, dalam ha l pembayaran diterima setelah bulan penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak, kecuali pembayaran diterima sebelum akhir bulan berikutnya maka Faktur Pajak Standar harus dibuat pada saat penerimaan pembayaran.
b. Pada saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak.
c. Pada saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan.
d. Pada saat Pengusaha Kena Pajak menyampaikan tagihan kepada pemungut Pajak Pertambahan Nilai.
2. Faktur Pajak Gabungan
Faktur Pajak Gabungan merupakan Faktur Pajak Standar yang meliputi semua penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang terjadi selama satu bulan takwim kepada pembeli yang sama atau penerima Jasa Kena Pajak yang sama. Faktur Pajak Gabungan yang merupakan Faktur Pajak Standar harus dibuat selambat- lambatnya pada akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak.
3. Faktur Pajak Sederhana
Faktur Pajak Sederhana adalah faktur pajak yang digunakan untuk menampung transaksi penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak kepada konsumen akhir, atau kepada pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak yang tidak diketahui identitasnya, atau kepada Pengusaha Kena Pajak yang tidak memerlukan Faktur Pajak Standar. Bentuk dari Faktur Pajak Sederhana dapat berupa kuitansi, nota, karcis, atau segi hitung mesin kas register.
Faktur Pajak Sederhana ini tidak memerlukan ijin dari siapapun. Tetapi
kelemahan Faktur Pajak Sederhana ini adalah Pajak Masukkannya tidak dapat dikreditkan.
Isi Faktur Pajak Sederhana minimal adalah:
a. Identitas Pengusaha Kena Pajak penjual atau pengusaha Jasa Kena Pajak beserta NPWP dan nomor pengukuhan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
b. Nama barang, kuantum dan harga satuan.
c. Pernyataan bahwa dalam pembelian yang diterima sudah termasuk PPN atau PPnBM atau dipisahkan antara harga jual penggantian dengan PPN atau PPnBM yang terutang.
d. Ditandatangani oleh Pengusaha Kena Pajak.
Larangan untuk membuat Faktur Pajak adalah pengusaha yang tidak dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Apabila pengusaha yang tidak dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak tetap membuat Faktur Pajak atau pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak tetapi tidak membuat Faktur Pajak atau tidak mengisi selengkapnya Faktur Pajak dikenakan sanksi berupa denda administrasi sebesar 2% dari Dasar Pengenaan Pajak.
2.2.12. Batasan Pengusaha Kecil Pajak Pertambahan Nilai
Ketentuan tentang Pengusaha Kecil PPN diatur pada Pasal 1 Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 552/KMK.04/2000. Adapun Batasan Pengusaha Kecil PPN menurut Keputusan Menteri Keuangan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pengusaha yang dalam satu tahun buku melakukan penyerahan Barang Kena Pajak tidak lebih dari Rp. 360.000.000; atau
2. Pengusaha yang dalam satu tahun buku melakukan penyerahan Jasa Kena Pajak tidak lebih dari Rp. 180.000.000; atau
3. Pengusaha yang dalam satu tahun buku melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak (gabungan) tidak lebih dari Rp. 360.000.000 dalam hal penyerahan Barang Kena Pajak yang dilakukannya lebih dari 50% dari jumlah seluruh peredaran bruto dan penerimaan bruto atau,
4. Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak (gabungan) tidak lebih dari Rp. 180.000.000 jika penerimaan Jasa Kena Pajak lebih dari 50% dari jumlah seluruh peredaran bruto dan penerimaan bruto.
2.2.13. Mekanisme Pengkreditan Pajak Pertambahan Nilai Masukan Dengan Pajak Pertambahan Nilai Keluaran Menggunakan Tarif Umum 10%
Secara umum tarif PPN yang berlaku atas penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP adalah 10% sehingga mudah dalam pelaksanaannya dan tidak memerlukan daftar penggolongan barang atau penggolongan jasa dengan tariff yang berbeda sebagaimana berlaku pada PPnBM.
Pajak Masukan yang telah dibayar pada saat perolehan barang dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran yang dipungut pada waktu penyerahan BKP atau JKP. Syarat utama pengkreditan pajak adalah adanya faktur pajak atau pengkreditan tersebut harus dilakukan dalam masa pajak yang sama. Untuk menghitung PPN yang harus dibayar dan disetor oleh PKP ke kas negara harus terlebih dulu harus mengurangi PK dengan PM yang dapat dikreditkan.
Apabila dalam suatu masa pajak, PK lebih besar daripada PM, maka selisihnya merupakan PPN yang harus dibayar dan disetorkan oleh PKP ke kas negara. Sebaliknya apabila dalam suatu masa pajak, PM lebih besar daripada PK maka selisihnya merupakan kelebihan pajak yang dapat dikompensasikan dengan pajak yang terutang dalam masa pajak berikutnya atau diminta kembali (restitusi).
2.3. Dasar Akuntansi
Akuntansi merupakan salah satu sistem informasi yang menyangkut data ekonomi dan keuangan. Informasi akuntansi diperlukan untuk menjadi dasar dalam pengambilan keputusan ekonomi. Akuntansi mampu menyajikan informasi ekonomi bagi setiap golongan guna membantu pengambilan keputusan mengenai tindakan di masa mendatang.
Menurut Kieso and Weygandt definisi akuntansi adalah sebagai berikut:
“Accounting is an information system that identifies, records, and communicates the economic events of an organization to interested users.” (Kieso, 2002:2)
Penyediaan informasi yang kuantitatif dilakukan oleh akuntansi dengan melakukan pencatatan, pengklasifikasian, dan ringkasan dalam segala kegiatan yang berkaitan dengan keuangan dan melaporkan hasil kegiatan tersebut. Jadi akuntansi adalah merupakan suatu sistem informasi yang dibutuhkan oleh karena adanya kompleksitas yang tinggi dalam perusahaan-perusahaan modern.
2.4. Laporan Keuangan
2.4.1. Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan.
Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari: neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara, misalnya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Disamping itu juga termasuk skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan tersebut, misalnya, informasi keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan harga. (SAK, 2002:2)
Definisi lain mengenai akuntansi keuangan menurut Kieso and Weygandt adalah sebagai berikut: “Financial Accounting is the process that culminates in the preparation of financial reports on the enterprise as a whole for use by both internal and external parties.” (Kieso, 2001:3)
2.4.2. Tujuan laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
(SAK, 2002:4)
Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan diatas memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non keuangan.
Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
2.4.3. Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai
Ditinjau dari akuntansinya pembukuan transaksi pembelian ada beberapa yaitu:
1. Pembelian barang yang berasal dari Pengusaha Kena Pajak (PKP).
Contohnya: PT. “X” membeli barang secara tunai dari PT. “Y” yang tergolong sebagai PKP seharga Rp. 10.000.000, harga sebelum PPN.
Jurnal secara periodik:
Pembelian Rp. 10.000.000
PPN masukan Rp. 1.000.000
Kas Rp. 11.000.000
Jurnal secara perpetual:
Persediaan barang dagangan Rp. 10.000.000
PPN masukan Rp. 1.000.000
Kas Rp. 11.000.000
2. Pembelian barang yang berasal dari bukan Pengusaha Kena Pajak (Non PKP).
Contohnya: PT. “O” membeli barang secara tunai dari PT. “P” yang bukan PKP seharga Rp. 10.000.000.
Jurnal secara periodik:
Pembelian Rp. 10.000.000
Kas Rp. 10.000.000
Jurnal secara perpetual:
Persediaan barang dagangan Rp. 10.000.000
Kas Rp. 10.000.000
3. Pembelian atas barang-barang yang tidak dapat dikreditkan Pajak Pertambahan Nilai.
Contohnya: PT. “A” membeli mobil sedan seharga Rp. 500.000.000 Jurnal :
Kendaraan sedan Rp. 550.000.000
Hutang Rp. 550.000.000
4. Pembelian dari PKP yang terdapat potongan harga.
Contohnya: PT. “R” membeli barang secara kredit dengan harga Rp. 20.000.000, harga belum termasuk PPN. Dalam transaksi tersebut PT. “R” mendapat potongan harga sebesar Rp. 1.000.000
Jurnal secara periodik:
Pembelian Rp. 20.000.000
PPN masukan Rp. 1.900.000
Hutang Rp. 20.900.000
Potongan pembelian Rp. 1.000.000 Jurnal secara perpetual:
Persediaan barang dagangan Rp. 19.000.000
PPN masukan Rp. 1.900.000
Hutang Rp. 20.900.000
5. Pembelian dari non PKP yang terdapat potongan harga.
Contohnya: PT. “S” membeli barang secara kredit dari non PKP dengan harga Rp. 20.000.000, harga sebelum PPN. Dalam transaksi tersebut, PT. “S” mendapat potongan harga sebesar Rp. 1000.000.
Jurnal secara perodik:
Pembelian Rp. 20.000.000
Hutang Rp. 19.000.000
Potongan pembelian Rp. 1.000.000 Jurnal secara perpetual:
Persediaan barang dagangan Rp. 19.000.000
Hutang Rp. 19.000.000
6. Jika terdapat retur pembelian untuk transaksi pembelian dari PKP.
Contohnya: pada tanggal 1 Mei PT. “W” membeli barang seharga Rp. 5.000.000 kepada PT. “Z” yang merupakan PKP dengan menerima Faktur Pajak Standar, kemudian pada tanggal 11 Mei PT. “W” menge mbalikan barang seharga Rp.
1.000.000 dengan memberikan nota retur.
Jurnal secara perodik yang dibuat oleh PT “W”:
Hutang Rp. 1.100.000
Retur pembelian Rp. 1.000.000
PPN masukan Rp. 100.000
Jurnal secara perpetual yang dibuat oleh PT “W”:
Hutang Rp. 1.100.000
Persediaan barang dagangan Rp. 1.000.000
PPN masukan Rp. 100.000
Pada saat terjadi pelunasan Jurnal :
Kas Rp. 1.100.000
Hutang Rp. 1.100.000
7. Jika terjadi retur pembelian untuk transaksi pembelian dari Non PKP.
Contohnya: pada tanggal 1 Juni PT. “Q” membeli barang seharga Rp. 5.000.000 kepada PT. “U” yang merupakan Non PKP dengan menerima Faktur Pajak Standar, kemudian pada tanggal 17 Juni PT. “Q” mengembalikan barang seharga Rp. 1.000.000 dengan memberikan nota retur.
Jurnal secara periodik yang dibuat oleh PT. “Q”:
Hutang Rp. 1.000.000
Retur pembelian Rp. 1.000.000
Jurnal secara perpetual yang dibuat oleh PT. “Q”:
Hutang Rp. 1.000.000
Persediaan barang dagangan Rp. 1.000.000 Pada saat terjadi pelunasan
Jurnal :
Kas Rp. 1.000.000
Hutang Rp. 1.000.000
8. Jika terjadi pembelian secara kredit kepada PKP yang tidak bersamaan dengan faktur pajak
Contohnya: pada tanggal 1 Oktober PT. “R” membeli barang dagangannya kepada PT. “F” secara kredit dengan faktur pajak yang akan diterbitkan kemudian.
Jurnal :
Pembelian Rp. 500.000
Hutang Rp. 500.000
Pada saat terjadi penerbitan faktur pajak yang tidak bersamaan dengan waktu penyerahan/pelunasan pembelian.
Jurnal :
PPN Masukan Rp. 50.000
Hutang Rp. 50.000
Pada saat terjadi pelunasan.
Jurnal :
Hutang Rp. 550.000
Kas Rp. 550.000
Jika dilihat dari transaksi penjualan ada beberapa kriteria yaitu:
1. Prosedur pencatatan penjualan.
Contohnya : pada tanggal 21 April PT. “E” menjual barang dagangannya kepada PT. “T” secara tunai sebesar Rp. 10.000.000.
Jurnal secara periodik:
Kas Rp. 11.000.000
Penjualan Rp. 10.000.000
PPN keluaran Rp. 1.000.000
Jurnal secara perpetual:
Kas Rp. 11.000.000
Penjualan Rp. 10.000.000
PPN keluaran Rp. 1.000.000
Harga pokok penjualan Rp. 9.000.000
Persediaan barang dagangan Rp. 9.000.000 2. Terdapat retur penjualan
Contohnya: pada tanggal 6 September terdapat pengembalian barang sebesar Rp.
3.000.000 kepada PT. “F”.
Jurnal secara periodik:
Retur penjualan Rp. 3.000.000 PPN Keluaran Rp. 300.000
Piutang Rp. 3.300.000
Jurnal secara perpetual:
Retur penjualan Rp. 3.000.000 PPN Keluaran Rp. 300.000
Piutang Rp. 3.300.000
Persediaan barang dagangan Rp. 2.500.000
Harga pokok penjualan Rp. 2.500.000 Pada saat terjadi pelunasan
Jurnal :
Piutang Rp. 3.300.000
Kas Rp. 3.300.000
3. Penjualan dengan uang muka.
Contohnya: PT. “P” menjual barang kepada PT. “Y” sebesar Rp. 10.000.000.
Tetapi pada tanggal 1 Januari PT. “P” menerima uang muka sebesar Rp.
2.000.000 dan sisanya dibayar pada saat penyerahan barang.
Jurnal :
Kas Rp. 2.200.000
Uang muka pelanggan Rp. 2.000.000
PPN Keluaran Rp. 200.000
Pada saat terjadi pelunasan penjualan.
Jurnal secara periodik:
Kas Rp. 8.800.000
Uang muka pelanggan Rp. 2.000.000
Penjualan Rp. 10.000.000
PPN Keluaran Rp. 800.000
Jurnal secara perpetual:
Kas Rp. 8.800.000
Uang muka pelanggan Rp. 2.000.000
Penjualan Rp. 10.000.000
PPN Keluaran Rp. 800.000
Harga pokok penjualan Rp. 9.000.000
Persediaan barang dagangan Rp. 9.000.000 4. Prosedur pencatatan penjualan ke pemungut PPN
Contohnya: pada tanggal 20 April PT. “V” menjual barang dagangannya kepada pemerintah daerah (pemungut PPN) secara kredit sebesar Rp. 100.000.
Jurnal secara periodik:
Piutang Rp. 100.000
Penjualan Rp. 100.000
Jurnal secara perpetual:
Piutang Rp. 100.000
Penjualan Rp. 100.000
Harga pokok penjualan Rp. 90.000
Persediaan barang dagangan Rp. 90.000 5. Jika terjadi pelunasan penjualan dari pemungut PPN
Jurnal :
Kas Rp. 100.000
Piutang Rp. 100.000
6. Jika terjadi pemakaian sendiri
Contohnya: tanggal 30 Maret PT. “O” memakai sendiri produksinya untuk diberikan kepada relasi usahanya sebesar Rp. 600.000.
Jurnal :
Beban pemasaran Rp. 660.000
Persediaan barang dagangan Rp. 600.000
PPN Keluaran Rp. 60.000
Pada setiap akhir bulan setiap PKP akan mengitung PPN terutang untuk masa pajak yang bersangkutan, lalu akan membandingkan antara PPN keluaran dan PPN
masukan. Kemudian mengisi dan memasukkan Surat Pemberitahuan Masa untuk masa yang bersangkutan yang berlaku sebagai laporan.
Jurnal penutup untuk menutup perkiraan Pajak Pertambahan Nilai adalah sebagai berikut:
1. Apabila pada akhir tahun terdapat Pajak Masukan sebesar Rp. 5.000.000 dan Pajak Keluaran sebesar Rp. 5.500.000, maka jurnalnya adalah:
PPN Keluaran Rp. 5.500.000
PPN Masukan Rp. 5.000.000
PPN yang masih harus dibayar Rp. 500.000 PPN yang masih harus dibayar Rp. 500.000
Kas Rp. 500.000
2. Apabila pada akhir tahun terdapat Pajak Masukan sebesar Rp. 3.000.000 dan Pajak Keluaran sebesar Rp. 5.000.000, maka jurnal penutupnya adalah:
PPN Keluaran Rp. 5.000.000
PPN Masukan Rp. 3.000.000
PPN kurang bayar Rp. 2.000.000