Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu xi
DAFTAR ISI
Hal
Halaman Judul ... i
Halaman Pengesahan ... ii
Halaman Pernyataan... iii
Kata Pengantar ... iv
Ucapan Terima Kasih ... v
Abstrak ... ix
Daftar Isi... xi
Daftar Tabel ... xiv
Daftar Gambar ... xv
Daftar Lampiran ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Penelitian... 1
B. Identifikasi dan Perumusan Masalah ... 10
C. Tujuan Penelitian ... 12
D. Manfaat Penelitian ... 12
E. Sistematika Penulisan Tesis ... 14
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 17
A. Hakekat Pendidikan Inklusif ... 17
1. Konsep Dasar Pendidikan Inklusif ... 18
2. Pengertian Pendidikan Inklusif ... 20
3. Karakteristik Pendidikan Inklusif ... 24
a. Kurikulum ... 24
b. Pendekatan Pembelajaran ... 25
c. Proses Pembelajaran ... 25
d. Sistem Evaluasi ... 26
4. Dasar Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif ... 26
a. Landasan Historis ... 26
b. Landasan Filosofis ... 30
c. Landasan Yuridis ... 31
d. Landasan Pedagogis ... 34
e. Landasan Empiris ... 34
5. Perencanaan Pendidikan Inklusif ... 35
6. Kesempatan dan Tantangan ... 51
7. Kurikulum Pluralitas Kebutuhan Belajar Individu ... 52
8. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Implementasi Pendidikan Inklusif ... 53
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu xii
B. Sekolah Dasar Inklusi ... 56
BAB III METODE PENELITIAN ... 57
A. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 57
B. Desain Penelitian ... 58
C. Metode Penelitian ... 60
D. Definisi Konsep ... 61
E. Instrumen Penelitian ... 65
F. Teknik Pengumpulan Data ... 69
G. Teknik Keabsahan Data ... 72
H. Teknik Analisis Data ... 75
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 77
A. Hasil Penelitian ... 77
1. Pemahaman Guru dan Orang Tua Tentang Pendidikan Inklusif ... 73
2. Pemahaman Guru dan Orang Tua Tentang Anak Berkebutuhan Khusus ... 111
3. Penerimaan Guru, Anak dan Orang Tua Terhadap Pendidikan Inklusif ... 130
4. Penerimaan Guru, Anak dan Orang Tua Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus ... 154
5. Pelayanan Guru, Anak dan Orang Tua Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus ... 180
6. Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Pendidikan Inklusif ... 222
B. Pembahasan ... 263
1. Pemahaman Guru dan Orang Tua Tentang Pendidikan Inklusif ... 264
2. Pemahaman Guru dan Orang Tua Tentang Anak Berkebutuhan Khusus ... 265
3. Penerimaan Guru, Anak dan Orang Tua Terhadap Pendidikan Inklusif ... 268
4. Penerimaan Guru, Anak dan Orang Tua Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus ... 270
5. Pelayanan Guru, Anak dan Orang Tua Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus ... 271
6. Faktor Pendukung Impementasi Pendidikan Inklusif ... 273
7. Faktor Pendukung Implementasi Pendidikan Inklusif ... 273
BAB V PENUTUP ... 281
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu xiii
B. Saran ... 288
DAFTAR PUSTAKA ... 292 DAFTAR RIWAYAT HIDUP
LAMPIRAN-LAMPIRAN
1
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu `
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus telah dicantumkan dalam
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Kebijakan tersebut memberi warna baru bagi anak
berkebutuhan khusus. Ditegaskan dalam pasal 5 tentang pendidikan khusus di
sebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik
berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang
diselenggarakan secara inklusi atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat
pendidikan dasar dan menengah. Pasal inilah yang memungkinkan terobosan dan
inovasi dalam pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus berupa
penyelenggaraan pendidikan inklusif. Secara lebih operasional, hal tersebut
diperkuat dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Nomor 70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi peserta didik yang
memiliki kelainan.
Sebagaimana diketahui bahwa masih banyak anak-anak Indonesia yang
sampai sekarang ini tidak dapat menikmati suasana belajar di bangku sekolah.
Tidak sedikit pula anak-anak putus sekolah bahkan tidak sekolah sama sekali
karena alasan ekonomi yang kemudian diperparah lagi dengan mahalnya biaya
pendidikan sekarang ini. Disini peran pendidikan inklusif dibutuhkan sebagai
2
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu `
secara merata. Seperti dalam penjelasan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menyatakan bahwa:
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (2003: Depdiknas Republik Indonesia).
Sekolah Luar Biasa (SLB) sebagai lembaga pendidikan khusus tertua
menampung anak dengan berbagai jenis kelainan ataupun satu kelainan, Sekolah
Dasar Luar Biasa (SDLB) menampung berbagai jenis anak berkelainan,
sedangkan pendidikan terpadu adalah sekolah biasa yang menampung anak
berkelainan dengan kurikulum, guru, sarana dan prasarana pembelajaran, dan
kegiatan belajar mengajar yang sama. Memasuki akhir milenium kedua, visi dan
misi kelembagaan sudah cenderung kepada bentuk integrasi. Suatu bentuk dimana
anak luar biasa, anak berkebutuhan khusus dalam pendidikan inklusif menjadi
bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat.
Munculnya berbagai bentuk istilah yang berhubungan dengan
kelembagaan dan layanan pendidikan yang diperuntukkan bagi mereka yang
membutuhkan layanan kebutuhan khusus seperti Normalisasi dan Integrasi
Mainstreaming, Least Restrictive Environment, Institusionalisasi dan Inklusif.
Dewasa ini inklusi merupakan salah satu bentuk layanan pendidikan bagi anak
berkebutuhan khusus yang dipandang ideal untuk dilaksanakan. Sekolah reguler
dengan orientasi inklusif merupakan alat yang paling efektif untuk memerangi
3
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu `
yang inklusif dan mencapai Pendidikan Bagi Semua; lebih jauh, sekolah semacam
ini akan memberikan pendidikan yang lebih efektif kepada mayoritas anak dan
meningkatkan efisiensi dan pada akhirnya akan menurunkan biaya bagi seluruh
sistem pendidikan (Zulkifli Sidiq, Pendidikan Inklusif Suatu Strategi Menuju
Pendidikan Untuk Semua, 2012).
Hak memperoleh pendidikan merupakan salah satu hak azazi manusia
yang dilindungi dan dijamin oleh berbagai instrumen hukum internasional
maupun nasional. Dokumen pendidikan untuk semua (Deklarasi Dunia Jomtien,
1990) ingin memastikan bahwa semua anak, tanpa kecuali, memperoleh
pendidikan. Akan tetapi, di Indonesia misalnya, menurut data Departemen
Pendidikan Nasional Republik Indonesia tahun 2002, hanya sekitar 7,5% anak
penyandang cacat usia sekolah yang sudah memperoleh pendidikan formal di
sekolah. Sedangkan menurut data Direktorat Pendidikan Sekolah Luar Biasa
Departemen Pendidikan Nasional (2006: 7), jumlah anak berkebutuhan khusus
usia sekolah di Indonesia adalah 317.000 anak. Dari jumlah tersebut, 66.610 anak
berkebutuhan khusus atau sekitar 21% telah memperoleh layanan pendidikan pada
Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), dan sekolah
terpadu. Hal ini berarti bahwa masih banyak anak berkebutuhan khusus, yakni
sekitar 79% atau 250.442 di Indonesia belum memperoleh layanaan pendidikan.
Pendidikan inklusif diyakini sebagai satu pendekatan pendidikan yang inovatif
yang dapat memperluas kesempatan pendidikan bagi semua anak berkebutuhan
4
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu `
Upaya yang dilakukan pemerintah agar semua anak, termasuk anak
berkebutuhan khusus, memperoleh akses sekolah adalah menjadikan sekolah
umum sebagai sekolah inklusi, yaitu sekolah yang memberikan kesempatan
kepada anak yang memiliki kebutuhan khusus dapat belajar di kelas
bersama-sama dengan anak lain yang tidak berkebutuhan khusus. Dengan pemberian
layanan khusus sehingga anak berkebutuhan khusus memiliki kesempatan yang
sama dengan anak lain untuk mengikuti seluruh kegiatan pembelajaran di sekolah
tersebut. Melalui pendidikan inklusif diharapkan anak berkebutuhan khusus dapat
dididik bersama-sama dengan anak normal lainnya. Tujuannya adalah agar tidak
ada kesenjangan diantara anak berkebutuhan khusus dengan anak normal lainnya.
Diharapkan pula anak dengan kebutuhan khusus dapat memaksimalkan
kemampuan dan potensi yang dimilikinya.
Tujuan dari semua upaya menuju pendidikan inklusif adalah
kesejahteraan anak berkebutuhan khusus baik secara permanen maupun temporer
untuk memperoleh pendidikan dan segala haknya sebagai warga negara. Apakah
penempatan anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler saat ini benar-benar
baik bagi kesejahteraannya, hal ini membutuhkan waktu untuk membuktikannya,
tetapi kita dapat percaya itu akan terjadi selama mereka diberi kesempatan dan
dukungan yang tepat sebagaimana dirancang bagi mereka. Hingga saat ini yang
tampak pasti adalah jumlah anak berkebutuhan khusus yang bersekolah telah
meningkat secara signifikan, sehingga target untuk mewujudkan pendidikan untuk
5
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu `
Menurut Permendiknas nomor 70 tahun 2009 pasal 2, menjelaskan bahwa
pendidikan inklusif bertujuan:
memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua anak yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial, atau memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya; 2) mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman, dan tidak diskriminatif bagi semua anak sebagaimana yang dimaksud pada angka 1).
Pendidikan inklusif perlu didukung oleh nilai dan keyakinan. Hal tersebut
akan berkembang seiring dengan implementasinya dan tidak harus disempurnakan
sebelumnya. Tetapi jika pihak-pihak yang terlibat mempunyai konflik nilai dan
keyakinan, dan jika konflik tersebut tidak diselesaikan dan disadari dengan baik,
maka implementasi pendidikan inklusif tidak akan berjalan lancar. Pendidikan
inklusif bukanlah merupakan suatu cetak biru, artinya bila satu kesalahan utama
terjadi, maka akan mempengaruhi implementasi pendidikan inklusif. Bahkan ada
asumsi beranggapan bahwa solusi yang diadopsi dalam mengimplementasi
pendidikan inklusif dari suatu budaya/konteks dapat mengatasi permasalahan
dalam budaya/konteks lain yang sama sekali berbeda. Lagi-lagi, berbagai
pengalaman menunjukkan bahwa solusi harus dikembangkan secara lokal dengan
memanfaatkan potensi dan sumber-sumber daya lokal, jika tidak, solusi tersebut
tidak akan bertahan lama. Pendidikan inklusif merupakan proses yang dinamis,
agar pendidikan inklusif terus hidup, diperlukan adanya monitoring partisipatori
yang berkesinambungan, yang melibatkan semua stakeholder dalam refleksi diri
yang kritis. Satu prinsip inti dari pendidikan inklusif adalah harus tangap terhadap
6
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu `
Jadi, pendidikan inklusif harus tetap hidup dan berjalan sesuai dengan amanah
konstitusi.
Setiap daerah memiliki sumber daya manusia, karakteristik, dan kultur
serta sistim sosial yang sangat mendasar. Jika hal-hal tersebut dapat dijadikan
sebagai pertimbangan dalam mengimplementasikan pendidikan inklusif, niscaya
implementasi itu akan berjalan sesuai dengan tujuan yang direncanakan.
Faktor-faktor inilah yang tidak dipertimbangkan ketika implementasi pendidikan inklusif
digulirkan, sehingga menimbulkan masalah-masalah yang paling mendasar dalam
pelaksanaan implementasi pendidikan inklusif.
Setiap sistem sosial yang ada disetiap daerah memiliki cara tersendiri
dalam mengadopsi implementasikan pendidikan inklusif, begitu halnya guru, anak
dan orang tua di sekolah-sekolah inklusi. Sikap dan cara penerimaan dari setiap
sistem sosial tentunya selalu berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain.
Ada daerah yang sebelum pendidikan inklusif digulirkan, sistem sosialnya sudah
menerima dan memahami tentang pendidikan inklusif, memahami tentang anak
berkebutuhan khusus, bahkan pelayanan terhadap anak berkebutuhan khusus
sudah baik. Hal tersebut didukung dengan sumber daya manusia, saluran
informasi dan komunikasi yang baik. Namun, ada juga daerah yang sistem
sosialnya belum menerima dan memahami pendidikan inklusif bahkan anak
berkebutuhan khusus. Ketika masalah-masalah ini tidak ditanggapi dengan serius,
maka akan menimbulkan permasalahan-permasalah yang lebih kompleks dalam
7
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu `
Ideologi dan pendekatan pendidikan inklusif pertama kali muncul dalam
dokumen international pada tahun 1994 dalam The Salamanca Statement.
pernyataan tersebut di uraikan sebagai berikut:
Kami, para delegasi Konferensi Dunia tentang Pendidikan Kebutuhan Khusus yang mewakili sembilan puluh dua pemerintah dan dua puluh lima organisasi internasional, yang berkumpul di sini di Salamanca, Spanyol, dari tanggal 7-10 Juni 1994, dengan ini menegaskan kembali komitmen kami terhadap Pendidikan bagi Semua, mengakui perlunya dan mendesaknya memberikan pendidikan bagi anak, remaja dan orang dewasa penyandang kebutuhan pendidikan khusus di dalam sistem pendidikan reguler, dan selanjutnya dengan ini menyetujui Kerangka Aksi mengenai Pendidikan Kebutuhan Khusus, yang semangat ketetapan-ketetapan serta rekomendasi-rekomendasinya diharapkan akan dijadikan pedoman oleh pemerintah-pemerintah serta organisasi-organisasi (Salamanca, 1994: 7)
Pendekatan ini belum sepenuhnya dilaksanakan dan diterapkan di seluruh
Indonesia. Namun, kecenderungannya adalah semakin dapat diterima oleh
masyarakat luas walaupun masih banyak masalah-masalah yang dihadapi
dilapangan, seperti halnya di Kota Jayapura. Pendidikan inklusif adalah sistem
penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua anak
yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa
untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan
secara bersama-sama dengan anak pada umumnya. Hal ini berarti bahwa setiap
anak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan sesuai
dengan kemampuannya masing-masing.
Survei penjaringan anak berkebutuhan khusus di sekolah dasar Kota
Jayapura dalam rangka implementasi pendidikan inklusif oleh Tuning Supriadi,
widyaiswara Lembaga Peningkatan Mutu Pendidikan (LPMP) Papua bidang PLB
8
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu `
mengalami gangguan dan hambatan dalam proses pembelajaran. Inilah yang
menjadi salah satu dasar pertimbangan bahwa sangat tepat bila Kota Jayapura
dijadikan sebagai salah satu tempat implementasi pendidikan inklusif, tanpa
mempertimbangkan permasalah-permasalah seperti; sumber daya manusia,
karakteristik, sistem sosial dan kultur budaya yang sangat mendukung
implementasi pendidikan inklusif itu sendiri.
Kelanjutan dari implementasi pendidikan inklusif, pada tahun 2007/2008
sebuah hasil penelitian dari orang sama (Tuning Supriadi) menyimpulkan bahwa
implementasi pendidikan inklusif di Kota Jayapura berjalan dengan lancar.
Kenyataan yang ada dilapangan tidak sesuai dengan hasil penelitian tersebut. Oleh
karena itu, peneliti ingin mengkaji secara mendalam permasalahan-permasalahan
implementasi pendidikan inklusif pada sekolah dasar inklusi tersebut. Kurangnya
sosialisasi, sumber daya manusia, saluran komunikasi dan sistem sosial
menimbulkan respons negatif dalam implementasi pendidikan inklusif sehingga
memunculkan permasalahan-permasalahan dalam pelaksanaannya.
Sebagai data pendukung dari permasalahan-permasalahan yang terjadi di
lapangan berkaitan dengan implementasi pendidikan inklusif peneliti
mengumpulkan informasi melalui wawancara dengan 18 guru (masing-masing
6 orang) dari ketiga sekolah inklusi diperoleh gambaran bahwa ditemukan
berbagai permasalahan-permasalahan yang kompleks dalam implementasi
pendidikan inklusif yang sangat mendasar. Permasalahan-permasalahan tersebut
berkaitan dengan pemahaman tentang pendidikan inklusif, pemahaman tentang
9
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu `
terhadap anak berkebutuhan khusus, pelayanan terhadap anak berkebutuhan
khusus, faktor-faktor yang mendukung dan menghambat implementasi pendidikan
inklusif di sekolah dasar penyelenggara inklusi.
Mungkinkah masalah-masalah di atas menyebabkan hingga pendidikan
inklusif tidak berjalan lancar sebagaimana diamanahkan dalam Undang-Undang
Dasar 1945, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003,
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 70 tahun 2009, Peraturan
Pemerintah Nomor 17 tahun 2010, Konvensi PBB tentang Hak Anak tahun 1989,
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tahun 1948, Deklarasi Bandung tahun
2004 dan kebijakan lainnya.
Bagaimanakah solusi yang akan diambil untuk mengatasi
permasalahan-permasalahan tersebut? Karena, tidak adil apabila masalah-masalah dalam
pelaksanaan implementasi pendidikan inklusif di Kota Jayapura tidak diselesaikan
dan dicari solusi pemecahaannya. Sementara Kota Jayapura dipercaya/ditunjuk
sebagai salah satu tempat penyelenggaraan implementasi pendidikan inklusif oleh
pemerintah (pusat melalui Dinas Pendidikan Provinsi Papua pada saat itu) melalui
Sekolah Dasar antara lain: Sekolah Dasar Negeri Inpres Waena Permai, Sekolah
Dasar Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Yoka Baru, dan Sekolah Dasar Negeri
Inpres VIM I Kota Jayapura Provinsi Papua sejak tahun 2006.
Masalah-masalah ini jangan dibiarkan berlarut-larut, harus dipecahkan dan
dicarikan solusinya, sehingga pelaksanaan pendidikan inklusif di Kota Jayapura
akan berjalan lancar sesuai dengan cita-cita dan idiologi pendidikan inklusif,
10
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu `
2003, Permendiknas Nomor 70 tahun 2009, Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun
2010, selain itu tidak akan menimbulkan kesenjangan sosial dalam kemajuan
pendidikan di Indonesia. Keberhasilan pendidikan inklusif di Indonesia bukan
karena keberhasilan pada satu daerah tertentu sebagai tolak ukur, akan tetapi perlu
dipertimbangkan bahwa setiap daerah memiliki sumber daya manusia,
karakteristik, sistem sosial dan kultur yang sangat berbeda, juga memiliki
permasalahan-permasalahan yang berbeda. Namun, bagaimanakah keberhasilan
pendidikan itu dapat dilihat dan dirasakan secara menyeluruh/merata bagi segenap
masyarakat/warga Negara Indonesia.
Berangkat dari permasalahan tersebut di atas, maka peneliti ingin mengkaji
dan meneliti lebih mendalam secara sistematis “Implementasi Pendidikan Inklusif
di Sekolah Dasar X, Y, dan Z Kota Jayapura”, sehingga solusi terhadap
permasalahan tersebut dapat di atasi sedini mungkin dan amanah pendidikan
untuk semua dapat terwujud.
B. Identifikasi dan Perumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Implementasi pendidikan inklusif di Sekolah Dasar X, Y, dan Z Kota
Jayapura diperhadapkan dengan berbagai permasalahan-permasalahan baik
bersifat interen maupun eksteren. Selain itu dipengaruhi oleh faktor-faktor
pendukung maupun faktor penghambat. Masalah-masalah dalam implementasi
pendidikan inklusif di sekolah dasar tersebut diidentifikasi sebagai berikut:
11
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu `
berkebutuhan khusus, 3) penerimaan terhadap pelaksanaan pendidikan inklusif,
4) penerimaan terhadap anak berkebutuhan khusus, 5) pelayanan terhadap anak
berkebutuhan khusus, 6) faktor-faktor pendukung dan 7) penghambat pelaksanaan
implementasi pendidikan inklusif di Sekolah Dasar Kota Jayapura. Ketika
masalah-masalah itu disatukan, maka menjadi sebuah masalah yang sangat
kompleks yang akan menghambat implementasi pendidikan inklusif.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, kemudian masalah ini
dirumuskan dalam pertanyaan “Bagaimanakah Implementasi Pendidikan Inklusif
di Sekolah Dasar X, Y, dan Z Kota Jayapura”. Pertanyaan tersebut selanjutnya
diuraikan dalam rumusan sebagai berikut.
1. Bagaimanakah pemahaman guru dan orang tua di Sekolah Dasar X, Y, dan Z
tentang pendidikan inklusif?
2. Bagaimanakah pemahaman guru dan orang tua di Sekolah Dasar X, Y, dan Z
tentang anak berkebutuhan khusus?
3. Bagaimanakah penerimaan guru, anak dan orang tua di Sekolah Dasar X, Y,
dan Z terhadap pelaksanaan pendidikan inklusif?
4. Bagaimanakah penerimaan guru, anak dan orang tua di Sekolah Dasar X, Y
dan Z terhadap anak berkebutuhan khusus?
5. Bagaimanakah pelayanan guru, anak, dan orang tua di Sekolah Dasar X, Y,
dan Z terhadap anak berkebutuhan khusus?
6. Apakah faktor-faktor pendukung implementasi pendidikan inklusif di Sekolah
12
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu `
7. Apakah faktor-faktor penghambat implementasi pendidikan inklusif di
Sekolah Dasar X, Y, dan Z?
C. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan mengetahui
proses dan implementasi pendidikan inklusif di Sekolah Dasar X, Y, dan Z Kota
Jayapura. Secara khusus bertujuan untuk menemukan dan memperoleh gambaran
tentang:
1. Pemahaman guru dan orang tua di Sekolah Dasar X, Y, dan Z tentang
pendidikan inklusif.
2. Pemahaman guru dan orang tua di Sekolah Dasar X, Y, dan Z tentang anak
berkebutuhan khusus.
3. Penerimaan guru, anak dan orang tua di Sekolah Dasar X, Y, dan Z terhadap
pelaksanaan pendidikan inklusif.
4. Penerimaan guru, anak dan orang tua di Sekolah Dasar X, Y dan Z terhadap
anak berkebutuhan khusus.
5. Pelayanan guru, anak, dan orang tua di Sekolah Dasar X, Y, dan Z terhadap
anak berkebutuhan khusus.
6. Faktor-faktor pendukung implementasi pendidikan inklusif di Sekolah Dasar
X, Y, dan Z.
7. Faktor-faktor penghambat implementasi pendidikan inklusif di Sekolah Dasar
13
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu `
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bernilai guna baik untuk keperluan teoritik
maupun secara aplikatif. Adapun manfaatnya adalah sebagai berikut.
1. Manfaat Teoritis:
Untuk pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya yang berkaitan dengan
implementasi pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus di sekolah
dasar inklusi.
2. Manfaat Aplikatif:
a. Sekolah
Bermanfaat sebagai evaluasi diri, penyusunan visi dan misi serta rencana
strategi pengembangan implementasi pendidikan inklusif baik jangka pendek,
jangka menengah dan jangka panjang di sekolah dasar penyelenggara
pendidikan inklusif.
b. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura
Sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan implementasi
pendidikan inklusif di lingkungan Kota Jayapura, khususnya pada bidang
pendidikan dasar dan menengah.
c. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua
Sebagai alat evaluasi dan acuan pengambilan kebijakan dalam sistem
14
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu `
d. Direktorat PK/LK Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Sebagai alat evaluasi diri dalam mengambil kebijakan untuk memperbaiki
dan mengembangkan implementasi pendidikan inklusif di Provinsi Papua,
khususnya di Kota Jayapura kearah yang lebih baik.
E. Sistematika Penulisan Tesis
Sistimatika penulisan tesis yang akan dilalui dalam penelitian
Implementasi Pendidikan Inklusif di Sekolah Dasar X. Y dan Z Kota Jayapura
adalah sebagai berikut.
Halaman Judul
Halaman Pengesahan
Halaman Pernyataan
Kata Pengantar
Ucapan Terima Kasih
Abstrak
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Daftar Lampiran
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang Penelitian
B. Identifikasi dan Perumusan Masalah
15
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu `
D. Manfaat Penelitian
E. Sistematika Penulisan Tesis
Bab II Kajian Pustaka
A. Hakekat Pendidikan Inklusif
1. Konsep Dasar Pendidikan Inklusif
2. Pengertian Pendidikan Inklusif
3. Karakteristik Pendidikan Inklusif
a. Kurikulum
b. Pendekatan Pembelajaran
c. Proses Pembelajaran
d. Sistem Evaluasi
4. Dasar Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif
a. Landasan Historis
b. Landasan Filosofis
c. Landasan Yuridis
d. Landasan Pedagogis
e. Landasan Empiris
5. Perencanaan Pendidikan Inklusif
6. Kesempatan dan Tantangan
7. Kurikulum Pluralitas Kebutuhan Belajar Individu
8. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Implementasi Pendidikan
Inklusif
16
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu `
B. Sekolah Dasar Inklusi
Bab III Metode Penelitian
A. Lokasi dan Subjek Penelitian
B. Desain Penelitian
C. Metode Penelitian
D. Definisi Konsep
E. Instrumen Penelitian
F. Teknik Pengumpulan Data
G. Teknik Keabsaan Data
H. Analisis Data
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
A. Hasil Penelitian
B. Pembahasan
Bab V Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan
B. Saran
Daftar Pustaka
Lampiran-Lampiran
Riwayat Hidup
57
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Subjek Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah sekolah dasar penyelenggara pendidikan
inklusif di Kota Jayapura. Sekolah dasar tersebut antara lain: Sekolah Dasar
Negeri Inpres Waena Permai, Sekolah Dasar YPK Yoka Baru, dan Sekolah Dasar
Negeri Inpres VIM I sebagai sekolah yang ditunjuk oleh pemerintah pusat sebagai
sekolah inklusi melalui pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan
Propinsi Papua (pada saat itu) untuk menyelenggarakan implementasi pendidikan
inklusif.
Subjek penelitian ini adalah guru, anak dan orang tua yang berada di
Sekolah Dasar penyelenggara pendidikan inklusif di Kota Jayapura. Penetapan
pemilihan ketiga subjek penelitian tersebut atas dasar pertimbangan sebagai
berikut.
1. Sekolah dasar tersebut merupakan sekolah dasar yang ditunjuk dan ditetapkan
oleh Dinas Pendidikan Provinsi Papua sebagai Sekolah Dasar penyelenggara
pendidikan inklusif di Kota Jayapura.
2. Implementasi pendidikan inklusif belum berjalan sebagaimana diamanahkan
dalam undang-undang dan peraturan pemerintah, serta diperhadapkan pada
permasalah-permasalahan yang bersifat rumit dan kompleks.
3. Perlunya difusi yang lebih baik terhadap penyelenggaraan pendidikan inklusif
58
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
B. Desain Penelitian
Menurut Suchman (1967) desain penelitian adalah semua proses yang
diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian (Moh. Nasir, 2009:84).
Untuk menerapkan metode ilmiah dalam praktek penelitian, maka diperlukan
suatu desain penelitian yang sesuai dengan kondisi, seimbang dengan dalam
dangkalnya penelitian yang akan dikerjakan. Sesuai dengan metode penelitian di
atas, maka desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini untuk meneliti
Implementasi Pendidikan Inklusif di Sekolah Dasar X, Y, dan Z Kota Jayapura,
59
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
Desain Penelitian
Gambar 3.1 Desain Penelitian INPUT (MASALAH) STUDI PENDAHULUAN (EMPERIK)
STUDI PUSTAKA (RASIO)
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF DI SEKOLAH DASAR X, Y, DAN Z KOTA JAYAPURA
Kesimpulan Rekomendasi dan
60
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
C. Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Pendekatan biasanya dimaksudkan dengan arah atau cara yang diambil
untuk menuju sesuatu sasaran. Dalam pengertian yang lebih luas pendekatan juga
dapat diartikan sebagai to come near to in any sense atau jalan yang diambil untuk
melakukan sesuatu. Pendekatan-pendekatan yang dipilih biasanya berasaskan
teori-teori atau generalisasi tertentu.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif
adalah penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan
untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah (Sugiono, 2010: 9). Selain itu,
masalah dalam penelitian kualitatif bersifat sementara, tentatif dan akan
berkembang atau berganti setelah peneliti berada di lapangan (Sugiono, 2007:
238).
Berdasarkan fokus masalah, tujuan, subjek penelitian, dan karakteristik
data, maka pendekatan penelitian yang dianggap tepat dalam penelitian ini adalah
pendekatan kualitatif. Pilihan pendekatan tersebut didasarkan atas alasan bahwa
peneliti bermaksud memperoleh dan mendeskripsikan data-data dan
fenomena-fenomena tentang ”Implementasi Pendidikan Inklusif di Sekolah Dasar X, Y, dan
Z Kota Jayapura”.
2. Metode Penelitian
Mengingat sifat data dan fokus penelitian ini, maka digunakan metode
61
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat (Moh. Nasir, 2009: 54).
Tujuan dari penelitian deskripsi adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau
lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta
hubungan antar fenomena yang diselidiki. Dengan metode deskriptif juga dapat
diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antar
satu faktor dengan faktor lain. Karenanya, metode deskriptif juga dinamakan
metode studi kasus (Moh. Nasir, 2009: 55).
Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan
fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komperatif. Ada kalanya
peneliti mengadakan klasifikasi terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan
suatu standar atau norma tertentu. Dengan metode deskriptif peneliti dapat
menyelidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor-faktor dan melihat
hubungan antara satu faktor dengan faktor yang lain.
D. Definisi Konsep
1. Implementasi Pendidikan Inklusif
a. Pengertian Implementasi
Dalam Kamus Bahasa Inggris (1996:313), implementation diartikan
sebagai pelaksanaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, implementasi
adalah pelaksanaan, penerapan pertemuan yang kedua bermaksud mencari bentuk
tentang hal yang disepakati dulu (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2005:
427). Secara sederhana implementasi diartikan pelaksanaan atau penerapan.
62
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
implementasi sebagai evaluasi. Browne dan Wildavsky (dalam Nurdin dan
Usman, 2004:70) mengemukakan bahwa ”implementasi adalah perluasan aktivitas
yang saling menyesuaikan”. Pengertian implementasi sebagai aktivitas yang
saling menyesuaikan juga dikemukakan oleh Mclaughin (dalam Nurdin dan
Usman, 2004). Adapun Schubert (dalam Nurdin dan Usman, 2002:70)
mengemukakan bahwa ”implementasi adalah sistem rekayasa”.
Sedangkan menurut Susilo (2007: 174) “implementasi merupakan suatu
penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam suatu tindakan praktis
sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, ketrampilan
maupun nilai dan sikap”. Dalam Oxford Advance Learner Dictionary
dikemukakan bahwa implementasi adalah put something into effect (penerapan
sesuatu yang memberikan efek atau dampak).
Dari beberapa definisi di atas, maka disimpulkan bahwa implementasi
adalah suatu kegiatan atau usaha untuk penerapan ide, konsep, kebijakan, dalam
suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak dalam bentuk perubahan
pengetahuan, ketrampilan, maupun nilai dan sikap dalam suatu proses interaksi.
b. Pengertian Pendidikan Inklusif
Menurut Permendiknas Nomor 70 tahun 2009 pasal 1 pendidikan inklusif
adalah:
sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua anak yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan anak pada umumnya.
63
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
layanan pendidikan yang mengakomodasi semua anak termasuk anak yang memiliki kebutuhan khusus untuk dapat sekolah di sekolah atau lembaga pendidikan (diutamakan yang terdekat dengan tempat tinggal anak) bersama dengan teman-teman sebayanya dengan memperhatikan kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki oleh anak ( 2003:4).
Sementara menurut Juang Sunanto dalam tulisannya yang berjudul
Pendidikan yang Terbuka Untuk Semua, menyebutkan bahwa pendidikan inklusif
adalah:
pendidikan yang memberikan layanan kepada setiap anak tanpa terkecuali. Pendidikan yang memberikan layanan terhadap semua anak tanpa memandang kondisi fisik, mental, intelektual, sosial, emosi, ekonomi, jenis kelamin, suku, budaya, tempat tinggal, bahasa dan sebagainya. Semua anak belajar bersama-sama, baik di kelas/ sekolah formal maupun nonformal yang berada di tempat tinggalnya yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak (2004:3).
Dari kedua definisi tersebut, maka disimpulkan bahwa implementasi
pendidikan inklusif adalah aktivitas pelaksanaan, penerapan dan evaluasi
pendidikan yang memberikan pelayanan terhadap semua anak tanpa memandang
kekurangan dan kelemahan anak agar dapat belajar bersama-sama, baik di
kelas/luar kelas sekolah formal maupun nonformal yang berada di tempat
tinggalnya disesuaikan dengan kondisi, potensi dan kebutuhan masing-masing
anak.
2. Sekolah Dasar Inklusi
Menurut Soedijarto (2000: 46) bahwa:
sekolah sebagai pusat pembelajaran yang bermakna dan sebagai proses sosialisasi dan pembudayaan kemampuan, nilai, sikap, watak, dan perilaku hanya dapat terjadi dengan kondisi infrastruktur, tenaga kependidikan, sistem kurikulum, dan lingkungan yang sesuai.
64
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
sekolah sebagai sarana pendidikan berfungsi juga sebagai lembaga untuk menyeleksi dan memilih manusia yang berbakat, terampil dan mampu, sehingga masyarakat berkembang ke arah kondisi yang bermanfaat (meritocracy), dan dapat memenuhi kondisi masyarakat yang dipersiapkan untuk masa depan.
Dari berbagai pendapat dan teori di atas, disimpulkan sekolah adalah
suatu tempat dengan iklim yang dikondisikan untuk belajar dan mempersiapkan
anak memenuhi perannya di masa sekarang dan masa mendatang.
Sekolah dasar inklusi adalah suatu tempat tingkat dasar dengan iklim yang
dikondisikan untuk belajar dan mempersiapkan anak dan memberikan pelayanan
terhadap semua anak tanpa memandang kekurangan atau kelemahan anak agar
dapat belajar bersama-sama, baik di kelas/luar kelas sekolah formal maupun non
formal yang berada di tempat tinggalnya disesuaikan dengan kondisi, potensi dan
kebutuhan masing-masing untuk memenuhi perannya di masa sekarang dan masa
mendatang.
3. Pemahaman Pendidikan Inklusif
Adalah merepresentasikan suatu langkah yang tidak sekedar mengingat
saja, namun mensyaratkan untuk mentransformasikan informasi ke dalam suatu
bentuk yang dapat dipahami dengan mengubah atau memanupulasi informasi
berkaitan dengan pendidikan inklusif.
4. Pemahaman Anak Berkebutuhan Khusus
Adalah merepresentasikan suatu langkah yang tidak sekedar mengingat
saja, namun mensyaratkan untuk mentransformasikan informasi ke dalam suatu
bentuk yang dapat dipahami dengan mengubah atau memanupulasi informasi
65
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
5. Penerimaan Terhadap Pendidikan Inklusif
Adalah suatu tindakan yang menunjukan tingkat pemikiran terbuka
terhadap gagasan baru mengenai topik yang kontroversial dalam pendidikan
inklusif.
6. Penerimaan Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus
Adalah suatu tindakan yang menunjukan tingkat pemikiran terbuka
terhadap gagasan baru mengenai topik yang kontroversial berkaitan dengan anak
berkebutuhan khusus.
7. Pelayanan Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus
Adalah suatu tindakan yang menunjukan minat, keterlibatan dan bahkan
komitmen berkaitan dengan anak berkebutuhan khusus.
8. Faktor Pendukung Implementasi Pendidikan Inklusif
Adalah suatu cara atau tindakan dalam bentuk fisik maupun psihis yang
mendukung implementasi pendidikan inklusif.
9. Faktor Penghambat Implementasi Pendidikan Inklusif
Adalah suatu cara atau tindakan dalam bentuk fisik maupun psihis yang
menghambat implementasi pendidikan inklusif.
E. Istrumen Penelitian
Dalam peneltian ini, peneliti menggunakan manusia sebagai instrumen
66
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
dipandang lebih cermat dan teliti. Sebagai instrumen utama dalam menjaring data,
peneliti juga menggunakan instrumen pengumpulan data berupa pedoman
wawancara, pedoman observasi, dan pedoman dokumentasi.
Landasan penyusunan kisi-kisi penelitian ini adalah buku Pedoman Khusus
dan Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif yang dikeluarkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Direktorat Jenderal Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional tahun 2009.
Kisi-kisi penelitian tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
Tabel 3.1 Instrumen Penelitian
67
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
dalam Pendidikan
2. Kemampuan guru dan orang tua menerangkan jenis-jenis Anak Berkebutuhan Khusus
3. Kemampuan guru dan orang tua dalam menjeaskan karakteristik anak berkebutuhan khusus
4. Kemampuan guru dan orang tua dalam
1. Persetujuan guru, anak dan orang tua tentang penerimaan Pendidikan Inklusif
2. Komitmen guru, anak dan orang tua untuk melanjutkan Pendidikan Inklusif
1. Persetujuan guru, anak dan orang tua tentang penerimaan Anak Berkebutuhan Khusus
68
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
dukungan pelayanan Anak Berkebutuhan Khusus di sekolah dasar inklusi: antara lain: hukum dan perundang-undangan.
2. Menjelaskan kerjasama guru dan orang tua dalam kaitan dengan
implementasi pendidikan inklusif
3. Menjelaskan manajemen sekolah dalam kaitan
c. Proses pembelajaran
69
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
g. Lingkungan
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
1) Wawancara, 2) Observasi dan 3) Dokumentasi. Adapun uraian dari teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
Tabel 3.2 Teknik Pengumpulan Data
NO DATA TEKNIK INSTRUMEN
1 Pemahaman guru dan orang
tua tentang pendidikan
inklusif.
Wawancara
Observasi
Pedoman wawancara
Pedoman observasi
2 Pemahaman guru dan orang
tua tentang anak
berkebutuhan khusus.
Wawancara Pedoman wawancara
3 Penerimaan guru, anak dan
orang tua terhadap
pelaksanaan pendidikan
inklusif.
Wawancara Pedoman wawancara
4 Penerimaan guru, anak dan
orang tua terhadap anak
berkebutuhan khusus.
Wawancara Pedoman wawancara
5 Pelayanan guru, anak, dan
orang tua terhadap anak
berkebutuhan khusus.
Wawancara
Observasi
Pedoman wawancara
Pedoman observasi
6 Faktor-faktor pendukung
implementasi pendidikan
inklusif
7 Faktor-faktor penghambat
70
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu wawancara
terstruktur. Peneliti menggunakan pedoman wawancara agar tidak keluar dari
fokus yang telah ditentukan. Data yang dikumpulkan melalui wawancara bersifat
uraian kata. Dalam penelitian ini, wawancara ditujukan terhadap guru, anak dan
orang tua. Sasaran-saranan wawancara dalam penelitian ini diuraikan sebagai
berikut: 1) Wawancara terhadap guru untuk memperoleh data-data tentang
pemahaman tentang pendidikan inklusif, pemahaman tentang anak berkebutuhan
khusus, penerimaan tentang pelaksanaan pendidikan inklusif, penerimaan tentang
anak berkebutuhan khusus, pelayanan terhadap anak bekebutuhan khusus,
faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi pendidikan inklusif.
2) Wawancara dilaksanakan terhadap anak untuk memperoleh data-data tentang
penerimaan tentang pelaksanaan pendidikan inklusif, penerimaan tentang anak
berkebutuhan khusus, dan pelayanan terhadap anak berkebutuhan khusus dalam
implementasi pendidikan inklusif. 3) Wawancara dilaksanakan terhadap orang
tua untuk memperoleh data-data tentang pemahaman tentang pendidikan inklusif,
pemahaman tentang anak berkebutuhan khusus, penerimaan tentang pelaksanaan
pendidikan inklusif, penerimaan tentang anak berkebutuhan khusus, dan
pelayanan terhadap anak bekebutuhan khusus dalam implementasi pendidikan.
2. Observasi
Menurut D. Sudjana S. Pengamatan (observasi) ”adalah teknik yang
digunakan dengan mengkaji suatu gejala dan peristiwa melalui upaya mengamati
dan mencatat data secara sistematis ( 2007:327).” Observasi digunakan selama
71
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
orientasi suasana lingkungan penelititan, implementasi, sampai evaluasi hasil.
Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk melihat
fenomena-fenomena yang berkaitan dengan pemahaman tentang pendidikan inklusif,
pemahaman tentang anak berkebutuhan khusus, pelayanan terhadap anak
berkebutuhan khusus, faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam
implementasi pendidikan inklusif.
Adapun observasi tersebut bersifat langsung non partisipatori, artinya
dalam penelitian ini peneliti melakukan pengamatan secara langsung tanpa terlibat
secara aktif dalam berbagai kegiatan sehingga tidak mempengaruhi kealamian dari
segala sesuatu yang terjadi di lokasi penelitian.
3. Dokumentasi
Studi dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data dalam bentuk
visualisasi, yaitu foto-foto yang berkaitan dengan kondisi sarana prasarana
sekolah, proses belajar mengajar, dan aksesibilitas anak. Dokumen-dokumen
tertulis berupa data umum sekolah, identitas kepala sekolah, sarana prasarana,
tenaga pendidik dan kependidikan, kesiswaan, dan data inventaris/perabot sekolah
yang berhubungan dengan masalah-masalah implementasi pendidikan inklusif.
Dalam penelitian ini data dokumentasi baik dalam bentuk visualisasi maupun
dokumen tertulis digunakan sebagai data pendukung, melengkapi dan
mempertegas data hasil wawancara dan observasi tentang faktor pendukung dan
penghambat implementasi pendidikan inklusif. Peneliti memanfaatkan visualisasi
72
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
pengambilan visualisasi dan dokumen-dokumen tertulis, peneliti berusaha
menjaga keaslian dari gambar dan data tertulis yang diambil.
G. Teknik Keabsahan Data
Untuk melakukan pengujian keabsahan data hasil penelitian, peneliti
menggunakan triangulasi dan member Cheking. Menurut Iskandar bahwa
“triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan
sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai
pembanding terhadap suatu data” (2010: 230). Sementara menurut Jhon W.
Creswell, bahwa:
member cheking dapat dilakukan dengan membawa kembali laporan akhir atau deskripsi-deskripsi atau tema-tema spesifik kehadapan partisipan untuk mengecek apakah mereka merasa bahwa laporan/deskripsi/ tema tersebut sudah akurat (2010: 287).
Adapun uraian teknik pengujian keabsahan data dapat dilihat pada tabel
sebagai berikut.
Tabel 3.3 Teknik Keabsaan Data
NO DATA TEKNIK KEABSAHAN DATA
1 Pemahaman guru dan orang tua tentang pendidikan inklusif
a. Guru dan orang tua mapu menjelaskan konsep Pendidikan Inklusif
b. Guru dan orang tua mampu menjelaskan konsep keberagaman anak
c. Guru dan orang tua mampu menerangkan pengembangan pemahaman Pendidikan Inklusif
d. Guru mampu menjelaskan tentang manajemen kurikulum dalam Pendidikan Inklusif
Member Cheking
Member Cheking
Triangulasi
73
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
e. Guru mampu menjelaskan tentang manajemen proses pembelajaran dalam Pendidikan Inklusif
f. Guru mampu menerangkan manajemen sarana prasarana dalam Pendidikan Inklusif g. Guru mampu menerangkan tentang
manajemen pembiayaan dalam Pendidikan Inklusif
h. Guru mampu menerangkan tentang manajemen lingkungan (hubungan sekolah dengan masyarakat) dalam Pendidikan Inklusif
Triangulasi
Triangulasi
Triangulasi
Triangulasi
2 Pemahaman guru dan orang tua tentang anak berkebutuhan khusus
a. Guru dan orang tua mampu menjelaskan konsep Anak Berkebutuhan Khusus b. Kemampuan guru dan orang tua
menerangkan jenis-jenis Anak Berkebutuhan Khusus
c. Kemampuan guru dan orang tua dalam menjeaskan karakteristik anak berkebutuhan khusus
d. Kemampuan guru dan orang tua dalam mengembangkan pemahaman Anak
3 Penerimaan guru, anak dan orang tua terhadap pelaksanaan pendidikan inklusif
a. Persetujuan guru, anak dan orang tua tentang penerimaan Pendidikan Inklusif b. Komitmen guru, anak dan orang tua untuk
melanjutkan Pendidikan Inklusif
Member Cheking
Member Cheking
4 Penerimaan guru, anak dan orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus
a. Persetujuan guru, anak dan orang tua tentang penerimaan Anak Berkebutuhan Khusus
b. Komitmen guru, anak dan orang tua untuk memberikan kesempatan kepada Anak
Member Cheking
74
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
Berkebutuhan Khusus melanjutkan pendidikan di Sekolah Dasar.
5 Pelayanan guru, anak, dan orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus
a. Guru, anak dan orang tua mampu menjelaskan tentang konsep pelayanan Anak Berkebutuhan Khusus
b. Menjelaskan bentuk pelayanan yang sudah diberikan kepada Anak Berkebutuhan Khusus
c. Menerangkan bentuk dukungan pelayanan Anak Berkebutuhan Khusus di sekolah dasar inklusi:
1) Pengembangan jaringan kerja 2) Sumber penilaian
3) Tinjauan terhadap penerapan strategi inklusi
4) Pengembangan evaluasi
5) Sumber daya (personal) bagi anak
Member Cheking
Member Cheking Triangulasi Data
Member Cheking
6 Faktor-faktor pendukung dan penghambat implementasi pendidikan inklusif a. Menjelaskan kebijakan-kebijakan yang
berkaitan dengan implementasi pendidikan inklusif antara lain: hukum dan perundang-undangan.
b. Menjelaskan kerjasama guru dan orang tua dalam kaitan dengan implementasi pendidikan inklusif
c. Menjelaskan manajemen sekolah dalam kaitan dengan implementasi pendidikan inklusif antara lain:
1) Kepesertadidikan 2) Kurikulum
3) Proses pembelajaran
4) Tenaga pendidik dan kependidikan 5) Sarana-prasarana
6) Pembiayaan 7) Lingkungan
75
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
H. Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data
yang dikemukakan oleh Nasution (2003: 129). Adapun analisis data yang
dimaksud diuraikan sebagai berikut:
1. Reduksi Data (Penyajian Data)
Reduksi data berarti mengambil bagian pokok atau intisari dari data yang
telah diperoleh yang mencakup pemahaman guru dan orang tua tentang
pendidikan, tentang anak berkebutuhan khusus, penerimaan guru, anak dan orang
tua tentang pendidikan inklusif, anak berkebutuhan khusus, pelayanan guru, anak
dan orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus, faktor pendukung dan
penghambat implementasi pendidikan inklusif. Data tersebut kemudian
merangkum dan mencari tema atau pola dari setiap data agar mudah dipahami.
Selain itu, peneliti memberi kode untuk mempermudah proses analisis data dan
membuat catatan lapangan agar data lebih mudah dikendalikan. Data yang sudah
ditata kemudian dipilah-pilah atau dikelompokkan berdasarkan pertanyaan
penelitian.
2. Display Data (Pengelompokan Data)
Data yang sudah diperoleh kemudian dikelompokkan berdasarkan
76
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
mudah dibaca dan dipahami serta mampu menggambarkan keseluruhan atau
bagian-bagian tertentu dari penelitian.
3. Verivikasi Data (Penarikan Kesimpulan)
Penarikan kesimpulan dilakukan sejak dari awal hingga akhir proses
penelitian guna mempermudah peneliti untuk mendapatkan makna dari setiap data
yang dikumpulkan. Kesimpulan yang diambil senantiasa diverifikasi selama
penelitian berlangsung untuk menjaga tingkat kepercayaan penelitian.
Adapun skema analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini
tergambar pada gambar di bawah ini:
Gambar 3.2 Langkah-Langkah Analisis Data Kualitatif
Sumber: Miles dan Huberman (1984:16) Data
Collection
Data Reduktion
Data Display
281
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Merujuk kepada hasil temuan dan pembahasan penelitian yang telah
diuraikan terdahulu berdasarkan fenomena-fenomena esensial di lapangan, maka
dirumuskan kesimpulan sebagai berikut.
1. Pemahaman Tentang Pendidikan Inklusif
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa guru di Sekolah Dasar
Negeri Inpres Waena Permai, SD YPK Yoka Baru dan SD Negeri Inpres VIM I
belum paham pendidikan inklusif. Hal itu ditunjukan dengan indikasi-indikasi
dimana guru belum memahami konsep pendidikan inklusif, melaksanakan
penetapan standar kompetensi dan kompetensi dasar, menyusun silabus,
penetapan kelender pendidikan dan jam pelajaran, keterlibatan guru dalam
kurikulum yang berjalan, seting pembelajaran, penjabaran kelender pendidikan,
penyusunan program pembelajaran persemester, penyusunan rencana
pembelajaran, penyusunan program kurikuler dan ekstrakurikuler, pelaksanaan
penilain pembelajaran, pelaksanaan kenaikan kelas, laporan kemajuan belajar
anak, program perbaikan dan pengayaan pelajaran, sarana prasarana yang ada di
sekolah, manajemen pembiayaan, manajemen lingkungan dalam hal ini hubungan
sekolah dengan masyarakat dalam penyelenggaraan, manajemen lingkungan yakni
hubungan sekolah dengan Sekolah Luar Biasa dan Sekolah Dasar Luar Biasa
282
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
Selain indikasi-indikasi di atas, ketersedian Guru Pembimbing Khusus
sangat diharapkan untuk membantu guru di sekolah regular. Guru Pembimbing
khusus di harapkan dapat menjadi inisiator, fasilitator, monitoring, motivator dan
dapat memberikan kontribusi yang besar dalam melaksanakan kegiatan
pembelajaran dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan anak
berkebutuhan khusus. Namun, sampai saat ini pemerintah belum dapat
memfasilitasi pengadaan Guru Pembimbing Khusus (GPK) di sekolah
penyelenggara inklusi.
Selain guru orang tua juga belum memahami konsep pendidikan inklusif.
Keterbatasan itu akibat minimya informasi yang diperoleh dari guru, kurangnya
sosialisasi dan pelatihan dari pihak terkait. Sehingga hal itu berdampak terhadap
pemahaman orang tua. Oleh karena itu diperlukan suatu pemahaman yang baik
dan lebih mendalam dalam bentuk penataran, pelatihan dan sosialisasi tentang
pendidikan inklusif di sekolah penyelenggara.
2. Pemahaman Tentang Anak Berkebutuhan Khusus
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa guru di Sekolah Dasar
Negeri Inpres Waena Permai, SD YPK Yoka Baru dan SD Negeri Inpres VIM I
belum paham tentang anak berkebutuhan khusus. Hal tersebut ditunjukan dengan
indikasi-indikasi kurangnya pemahaman tentang konsep, cara mengidentifikasi,
jenis-jenis, dan karakteristik anak berkebutuhan khusus. Penafsiran tentang
konsep anak berkebutuhan khusus di artikan secara sempit, lebih melihat
283
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
pendapat berdasarkan apa yang dilihat, bukan karena apa yang diperoleh dan
dipelajari dari pihak penanggungjawab.
Pemahaman konsep tentang anak berkebutuhan khusus belum dipahami
orang tua dengan baik. Ketidakpahaman akibat kurang komunikasi antara orang
tua dengan guru, profesional dan sebaliknya. Orang tua memandang bahwa semua
anak yang ada di sekolah memiliki kemampuan dan kebutuhan yang sama,
sehingga tidak ada usaha dalam mengembangkan kemampuan berkaitan dengan
pemahaman anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu sangat dibutuhkan
pemberian informasi dari mereka yang memiliki tanggungjawab dan kewenangan
berkaitan dengan pemahaman konsep anak berkebutuhan khusus.
3. Penerimaan Terhadap Pendidikan Inklusif
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa guru di Sekolah Dasar
Negeri Inpres Waena Permai, SD YPK Yoka Baru dan SD Negeri Inpres VIM I
belum menerima pendidikan inklusif. Dibutuhkan penanaman konsep yang lebih
baik melalui kegiatan-kegiatan seperti; penataran, sosialisasi dan pelatihan
berkaitan dengan pendidikan inklusif. Sehingga akan tumbuh dan tertanam suatu
sikap berkaitan dengan penerimaan pendidikan inklusif di sekolah.
Penerimaan anak terhadap penyelenggaraan pendidikan inklusif di ketiga
sekolah penyelenggara, bahwa anak tidak menerima pendidikan inklusif.
Ketidakadaan penerimaan disebabkan karena kurangnya pemahaman terhadap
konsep pendidikan inklusif dan konsep anak berkebutuhan khusus. Selain itu tidak
adanya informasi yang diperoleh dari guru dan orang tua dalam kaitan dengan hal
284
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
Tanggapan orang tua berkaitan dengan penerimaan tentang pendidikan
inklusif, bahwa secara keseluruhan orang tidak menerima pendidikan inklusif di
sekolah tempat anak-anak mereka menempuh pendidikan.
4. Penerimaan Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa guru di Sekolah Dasar
Negeri Inpres Waena Permai, SD YPK Yoka Baru dan SD Negeri Inpres VIM I
belum menerima anak berkebutuhan khusus sekolah di sekolah tersebut. Bahwa,
anak berkebutuhan khusus memiliki sekolah sendiri yang dapat menampung
mereka untuk belajar, bukan di sekolah regular. Penolakan terhadap anak di
sebabkan karena keterbatasanya pengetahuan berkaitan dengan konsep anak
berkebutuhan khusus. Guru melihat anak berdasarkan kecacatannya, bukan
kebutuhan belajar mereka. Pengetahuan guru terhadap anak berkebutuhan khusus
masih sangat kurang.
Anak sekolah regular belum menerima anak berkebutuhan khusus untuk
sekolah di sekolah mereka. Anak tidak menerima dan tidak berkomitmen
memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk sekolah
bersama-sama mereka. Konsep mereka bahwa anak berkebutuhan khusus
memiliki sekolah khusus untuk belajar. Ketidaksetujuan anak disebabkan
kurangnya pemahaman pengetahuan pendidikan inklusif dan anak berkebutuhan
khusus. Selain itu tidak adanya pengaruh yang diberikan oleh guru dan orang tua
dalam kaitan dengan keberadaan anak berkebutuhan khusus di sekolah.
Tanggapan orang tua berkaitan dengan penerimaan anak berkebutuhan
285
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
berkebutuhan khusus sekolah di sekolah tempat anak-anak mereka bersekolah.
Sikap itu muncul karena ketidakpahaman orang tua tentang anak berkebutuhan
khusus. Orang tua beranggapan bahwa anak tersebut tepatnya di sekolah khusus,
yaitu Sekolah Luar Biasa dan Sekolah Dasar Luar Biasa. Karena di sekolah
tersebut mereka dapat ditangani oleh guru yang khusus pula.
5. Pelayanan Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa guru di Sekolah Dasar
Negeri Inpres Waena Permai, SD YPK Yoka Baru dan SD Negeri Inpres VIM I
belum memberikan pelayanan terhadap anak berkebutuhan khusus. Anak
berkebutuhan khusus mengikuti pembelajaran seperti anak pada umumnya, tanpa
ada usaha guru dalam memodifikasi dan mengakomodasi kebutuhan belajar anak.
Jika pembelajaran bagi anak dilakukan seperti itu di sekolah, maka anak
berkebutuhan khusus akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan
pembelajaran yang ada di sekolah regular. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah
pemahaman yang lebih mendalam berkaitan dengan pelayanan anak. Kegiatan
tersebut dapat dilaksanakan melalui penataran, pelatihan dan sosialisasi layanan
anak berkebutuhan khusus secara bertahap, sehingga masalah-masalah yang di
hadapi di sekolah berkaitan dengan layanan anak dapat di tangani dengan baik,
dan tujuan pendidikan untuk semua dapat terwujud.
Kaitan dengan anak di sekolah regular, pelayanan yang sudah diberikan
kepada anak berkebutuhan khusus masih terbatas berupa layanan pembelajaran,
286
Irwanto Paerunan, 2012
Implementasi Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar X, Y, Dan Z Kota Jayapura Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
sekolah disimpulkan bahwa anak belum memberikan pelayanan terhadap anak
berkebutuhan khusus.
Dalam memberikan layanan terhadap anak berkebutuhan khusus belum
nyata partisipasi dari orang tua, sehingga disimpulkan bahwa orang tua belum
memberikan pelayanan terhadap anak berkebutuhan khusus. Kurangnya informasi
dari pihak sekolah kepada orang tua tentang layanan anak berkebutuhan khusus
berdampak terhadap kontribusi yang berikan kepada anak. Orang tua memandang
anak berkebutuhan khusus sama dengan anak-anak pada umumnya tanpa
memperimbangkan kekhususan yang di alami setiap anak.
6. Faktor Penghambat Implementasi Pendidikan Inklusif
Berdasarkan hasil penelitian, maka faktor-faktor penghambat
implementasi pendidikan inklusif di SD Negeri Inpres Waena Permai, SD YPK
Yoka Baru, dan SD Negeri Inpres VIM I Kota Jayapura yang ditemukan
dilapangan diuraikan sebagai berikut.
a. Kepesertadidikan; proses asesmen sampai dengan penempatan anak di kelas
belum terlaksana.
b. Kurikulum; modifikasi kurikulum belum terlaksana.
c. Tenaga Pendidik; sumber daya manusia (ketersedian Guru Pembimbing
Khusus) belum ada. .
d. Kegiatan Pembelajaran dalam pelaksanaannya belum inklusi.
e. Manajemen sekolah menyangkut perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
pengkoordinasian, pengawasan, dan penilaian belum berjalan dengan baik.