MENCEGAH DAN MENANGANI BANJIR DI DKI JAKARTA DENGAN EFEKTIF
KARYA ILMIAH
Disusun sebagai Tugas Tahap Pertama dari
Mata Kuliah Pilihan Ekologi Perkotaan Universitas Tarumanagara Tahun Ajaran 2016/2017
Stella Esperanza / 315140032 Angelita Hartono / 315140040 Daniella Sudjana / 315140042 Joel Christian / 315140056
Stefanie / 315140064
FAKULTAS TEKNIK JURUSAN ARSITEKTUR UNIVERSITAS TARUMANAGARA
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT karena berkat-Nya kami dapat menyelesaikan karya ilmiah ini dengan baik. Kami juga mengucapkan terima kasih sebesar – besarnya kepada ketiga dosen kami, yaitu yang terhormat Ibu Diah Anggraini, Bapak Darrundono, dan Ibu Harsiti yang telah membimbing kami semua dalam menyusun karya ilmiah ini sehingga dapat terselesaikan tepat waktu dengan baik.
Karya ilmiah ini bertujuan untuk membahas tentang sebab – akibat banjir di ibukota Jakarta sehingga kita semua dapat melakukan pencegahan dan penanganan banjir dengan efektif. Semoga karya ilmiah ini dapat berguna di masa yang akan datang. Kami menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mohon maaf jika terjadi kesalahan dalam penulisan atau sumber yang kurang lengkap dalam karya ilmiah kami. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih.
DAFTAR ISI
Cover... ... 0
Kata Pengantar……….. ... i
Daftar Isi... ... ii
Bab 1.Pendahuluan ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan Penulisan ... 2
1.4 Metode Penelitian ... 2
Bab 2.Kajian Pustaka ... 3
2.1 Banjir.... ... 3
2.2 Penyebab Banjir ... 4
2.3 Acuan Normatif Banjir ... 5
2.3.1. Undang - Undang ... 5
2.3.2 Peraturan Pemerintah ... 5
2.3.3. Keputusan Presiden ... 5
2.3.4. SNI ... 6
2.3.5. ISO ... 6
2.4 Pengendalian bajir ... 7
2.5 Kontribusi Masyarakat ... 8
2.6 Kasus Banjir di Jakarta ... 10
Bab 3. Analisa ... 14
3.1 Analisa Kajian ... 14
3.2 Analisa Kasus ... 15
Bab 4. Kesimpulan ... 16
4.1 Kesimpulan ... 17
4.2 Usul dan Saran ... 17
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Menurut para ahli, banjir adalah peristiwa perendaman daratan oleh air yang berjumlah sangat banyak yang nantinya akan kembali surut sehingga bersifat sementara. Sedangkan menurut Wikipedia, banjir adalah suatu keadaan dimana terdapat aliran air dengan volume besar yang
merendam daratan akibat jebolnya suatu bendungan atau luapan air sungai, sehingga air tersebut meluap atau keluar dari batasan yang semestinya.
Sungai yang meluap biasanya terjadi karena curah hujan yang tinggi dan tersumbatnya aliran air, atau dapat juga berupa air pasang. Banjir dapat merusak sebuah rumah dan menyapu fondasinya. Air banjir mengandung lumpur kotor yang berbau dan dapat menutup segalanya setelah air surut sehingga harus dibersihkan dan mengakibatkan kerusakan materi baik dari segi rumah maupun barang – barangnya.
Ketinggian dari air banjir dapat mencapai tiga meter dan dapat bertambah seiring hujan masih mengguyur. Jika banjir sudah terjadi, banyak aktivitas yang terkendala baik dalam skala kecii maupun besar. Dalam skala kecil, masyarakat tidak dapat menggunakan rumahnya sebagai rumah tinggal sebagaimana mestinya. Segala kegiatan sekolah dan kantor menjadi mati total karena akses jalan yang juga tertutupi oleh air banjir. Masyarakat harus mencari tempat tinggal lain untuk sementara waktu (mengungsi) dan terpaksa membersihkan rumah mereka yang kotor karena air banjir ketika air surut. Bahkan, tidak jarang banyak dari rumah – rumah itu mengalami kerusakan yang cukup parah. Dalam skala besar, kegiatan pemerintahan juga terhalang dan mengalami kelumpuhan akibat banjir yang menggenang. Kegiatan ekonomi, terutama, akan mengalami penurunan yang cukup signifikn karena banyak kantor yang tutup dan tidak beroperasi dengan optimal.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah karya ilmiah “Mencegah dan Menangani Banjir di DKI Jakarta dengan Efektif “ adalah sebagai berikut :
1. Apakah jenis – jenis banjir yang dapat terjadi di DKI Jakarta? 2. Apa saja penyebab banjir di DKI Jakarta?
3. Apa saja akibat banjir baik dari segi lingkungan maupun kesehatan?
4. Apa saja peran petugas dalam mencegah den menangani banjir di DKI Jakarta dengan efektif?
5. Apa saja peran masyarakat dalam mencegah dan menangani banjir di DKI Jakarta dengan efektif?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari disusunya karya ilmiah “Mencegah dan Menangani Banjir di DKI Jakarta dengan Efektif “ adalah untuk mengetahui penyebab banjir yang sering melanda DKI Jakarta dan apa saja akibat banjir tersebut sehingga dapat mengetahui dan menyusun cara pencegahan dan penanggulangan yang efektif. Diharapkan bukan hanya petuga yang turut serta dalam pencegahan dan penanggulangan banjir, namun masyarakat juga ambil bagian secara aktif dalam membantu peran petugas.
1.4 Metode Penelitian
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 BANJIR
Banjir dapat berupa genangan pada lahan yang biasanya kering seperti pada lahan pertanian, permukiman, pusat kota. Banjir dapat juga terjadi karena debit/volume air yang mengalir pada suatu sungai atau saluran drainase melebihi atau diatas kapasitas pengalirannya. Luapan air biasanya tidak menjadi persoalan bila tidak menimbulkan kerugian, korban meninggal atau luka-luka, tidak merendam permukiman dalam waktu lama, tidak menimbulkan persoalan lain bagi kehidupan sehari-hari. Bila genangan air terjadi cukup tinggi, dalam waktu lama, dan sering maka hal tersebut akan mengganggu kegiatan manusia.
Dalam sepuluh tahun terakhir ini, luas area dan frekuensi banjir semakin bertambah dengan kerugian yang makin besar (BNPB, 2013). Di Indonesia banjir sudah lama terjadi. Di Jakarta, misalnya, banjir sudah terjadi sejak 1959, ketika jumlah penduduk masih relative sedikit. Banjir Jakarta terjadi sejak 1621, kemudian disusul banjir 1878, 1918, 1909, 1918, 1923, 1932 yang menggenangi permukiman warga karena meluapnya air dari sungai Ciliwung, Cisadane, Angke. Setelah Indonesia merdeka, banjir masih terus terjadi di Jakarta a.l pada 1979, 1996, 1999, 2002, 2007 (kompasiana, 2012; Fitriindrawardhono, 2012).
2.2 PENYEBAB BANJIR
Secara umum penyebab terjadinya banjir dapat dikategorikan menjadi dua hal, yaitu karena sebab – sebab alami dan karena tindakan manusia. Yang termasuk sebab alami diantaranya :
Curah hujan Pada musim penghujan curah hujan yang tinggi akan mengakibatkan banjir di sungai dan bilamana melebihi tebing sungai, maka akan timbul banjir atau genangan .
Pengaruh fisiografi Fisiografi atau geografi fisik sungai seperti bentuk, dan kemiringan Daerah Pengaliran Sungai (DPS), kemiringan sungai, Geometri hidrolik (Bentuk penampang seperti lebar, kedalaman, potongan memanjang, material dasar sungai), lokasi sungai .
Erosi dan sedimentasi Erosi di DPS berpengaruh terhadap kapasitas penampungan sungai, karena tanah yang tererosi pada DPS tersebut apabila terbawa air hujan ke sungai akan mengendap dan menyebabkan terjadinya sedimentasi. Sedimentasi akan mengurangi kapasitas sungai dan saat terjadi aliran yang melebihi kapasitas sungai dapat menyebabkan banjir.
Kapasitas sungai Pengurangan kapasitas aliran banjir pada sungai disebabkan oleh pengendapan yang berasal dari erosi dasar sungai dan tebing sungai yang berlebihan, karena tidak adanya vegetasi penutup.
Pengaruh air pasang Air laut memperlambat aliran sungai ke laut. Pada waktu banjir bersamaan dengan air pasang yang tinggi, maka tinggi genangan/ banjir menjadi lebih tinggi karena terjadi aliran balik (back water)
Yang termasuk penyebab banjir akibat tindakan manusia diantaranya:
Perubahan kondisi daerah pengaliran sungai Perubahan DPS seperti penggundulan hutan, usaha pertanian yang kurang tepat, perluasan kota dan perubahan tata guna lainnya dapat memperburuk masalah banjir karena berkurangnya daerah resapan air dan sediment yang terbawa ke sungai akan memperkecil kapasitas sungai yang mengakibatkan meningkatnya aliran banjir. Kawasan kumuh Perumahan kumuh yang terdapat di bantaran sungai merupakan
Sampah Pembuangan sampah di alur sungai dapat meninggikan muka air banjir karena menghalangi aliran.
2.3 ACUAN NORMATIF BANJIR 2.3.1 Undang-Undang
Undang-undang Republik indonesia nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
Undang-Undang No. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Undang-undang Republik Indonesia No. 24 tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana
2.3.2. Peraturan Pemerintah
Peraturan pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Peraturan pemerintah No. 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah. Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional.
Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2008 tentang pengelolaan Sumber Daya Air. Peraturan Pemerintah No. 37 tahun 2010 tentang Bendungan
2.3.3. Keputusan Presiden
Keputusan Presiden Nomor 12 tahun 2000 tentang Badan Penetapan dan Pengendalian Penyediaan Prasarana dan Sarana Pekerjaan Umum.
Keputusan Presiden No. 62 Tahun 2000 tentang Koordinasi Penataan Ruang Nasional.
Keputusan Presiden No. 23 Tahun 2001 tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumberdaya Air. 1.3.4. Peraturan Menteri
Peraturan Menteri pekerjaan Umum No. 603 Tahun 2005 Tentang pedoman Umum Sistem pengendalian Manajemen Penyelenggaraan Pembangunan Prasarana dan Sarana Bidang Pekerjaan Umum.
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 11 Tahun 2006 Tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 12 Tahun 2007 tentang Dokumen Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup Bagi Usaha dan/atau Kegiatan yang Tidak Memiliki Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup.
2.3.4 SNI
SNI 03-2400-1991, tentang Tata Cara Perencanaan Umum Krib di Sungai, tahun 1991, Departemen Pekerjaan Umum.
SNI 03-2401-1991, SK SNI T-02-1990-F, tentang Tata Cara Perencanaan Umum Bendung, tahun 1991, Departemen Pekerjaan Umum.
SNI 03-2829-1992, tentang Metode Perhitungan Tiang Pancang Beton pada Krib di Sungai, tahun 1992, Departemen Pekerjaan Umum.
SNI 03-3441-1994, tentang Tata Cara Perencanaan Teknik Pelindung Tebing Sungai dari Pasangan Batu, tahun 1994, Departemen Pekerjaan Umum.
PSN 01 : 2007, Pedoman Standarisasi Nasional : pengembangan Standar Nasional Indonesia.
2.3.5. ISO
2.4 PENGENDALIAN BANJIR
Merupakan kegiatan perencanaan, pelaksanaan pekerjaan pengendalian banjir, eksploitasi dan pemeliharaan, yang pada dasarnya untuk mengendalikan banjir, pengaturan penggunaan daerah dataran banjir dan mengurangi atau mencegah adanya bahaya/kerugian akibat banjir.
Ada 4 strategi dasar untuk pengelolaan daerah banjir yang meliputi (Grigg, 1996) :
Modifikasi kerentanan dan kerugian banjir (penentuan zona atau pengaturan tata guna lahan)
Modifikasi banjir yang terjadi (pengurangan) dengan bantuan pengontrol (waduk) atau normalisasi sungai.
Modifikasi dampak banjir dengan penggunaan teknis mitigasi seperti asuransi, penghindaran banjir (flood profing)
Ada dua metode pendekatan untuk analisis pengendalian banjir yaitu metode struktur dan non-struktur. Beberapa metode struktur diuraikan sebagai berikut :
Bendungan (dam)
Bendungan digunakan untuk menampung dan mengelola distribusi aliran sungai. Pengendalian diarahkan untuk mengatur debit air sungai disebelah hilir bendungan. Kolam Penampungan (retention basin)
Kolam penampungan berfungsi untuk menyimpan sementara volume air banjir sehingga puncak banjir dapat dikurangi dan dilepaskan kembali pada saat air surut. Wilayah yang digunakan untuk kolam penampungan biasanya didaerah dataran rendah. Perbaikan dan Pengaturan
Tanggul Penahan Banjir
Tanggul penahan banjir adalah penghalang yang didesain untuk menahan banjir di palung sungai untuk melindungi daerah sekitarnya.
Saluran By pass
Sistem pengerukan
Sungai/normalisasi sungai Sistem pengerukan atau pengerukan saluran adalah bertujuan memperbesar kapasitas tampung sungai dan memperlancar aliran. Normalisasi diantaranya mencakup kegiatan melebarkan sungai, mengarahkan alur sungai dan memperdalam sungai (pengerukan).
2.5 KONTRIBUSI MASYARAKAT
Beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai warga untuk mengurangi resiko banjir antara lain: 1. Membuat area resapan di pemukiman warga.
Sumur resapan berfungsi untuk mengarahkan air ke dalam tanah sehingga mengurangi aliran permukaan. Berkurangnya aliran permukaan akan mengurangi genangan dan banjir. Selain di pemukiman, area resapan yang berupa sumur resapan bisa dibuat di berbagai tempat di pemukiman, perkantoran, sempadan jalan dan tempat yang rawan genangan dan juga menamah persediaan air di dalam tanah. Selain itu, pembuatan biopori yang popular saat ini cukup membantu meresapkan air ke dalam tanah sekaligus mengurangi sampah.
2. Menanam tanaman terutama pepohonan.
Kegiatan ini dilakukan tidak hanya di daerah hulu namun juga di daerah tengah dan
hilir. Menanam tanaman baik tanaman kecil maupun pohon akan mengurangi erosi
dan aliran permukaan. Berkurangnya erosi akan mengurangi pendangkalan dan
penyempitan adan sungao. Akar pepohonan khususnya di sempadan sungai dapat
menahan gerusan air terhadap tanah sehingga leih tahan terhadap longsor.
3. Membentuk Kelompok Masyarakat Pengendali Banjir.
Kelompok pengendali banjir berbasis masyarakat akan sangat membantu pemerintah
dalam upaya mengurangi resiko banjir. Pemerintah tidak akan mampu
menyelesaikan seluruh masalah banjir tanpa melibatkan masyarakat.
4. Membangun lokasi dan jalur evakuasi bila terjadi banjir.
Kegiatan ini dalam rangka mengurangi korban akibat banjir. Penetapan lokasi dan
jalur evaluasi yang sudah terencana akan memudahkan warga yang wilayahnya
terkena banjir menyelamatkan diri dan propertinya dengan cepat. Kelompok
5. Membangun sistem peringatan dini banjir berasis warga.
Sistem peringatan banjir berbasis warga sangat diperlukan karena masyarakatlah
yang langsung merasakan adanya bencana tersebut. Sistem peringatan dini meliputi
kegiatan pengamatan hujan dan tinggi muka air, prediksi banjir, penyebaran
informasi dan peringatan bahaya dan tindakan yang diperlukan sesuai tingkat bahaya.
6. Menjaga kebersihan saluran air dan limbah.
Seringkali genangan air di pemukiman disebabkan oleh meluapnya air dari saluran
pembuangan seperti selokan dan sungai. Menjaga kebersihan saluran air dan limbah
akan berguna untuk mengurangi genangan air yang berujung pada banjir.
7. Mendukung pembuatan kanal, bangunan pengendali banjir, dan lokasi evakuasi. Kanal menjadi salah satu program besar di beberapa kota besar. Sebut saja Jakarta
yang membangun Proyek Banjir Kanal (Barat dan Timur) dan di Medan di angun
Kanal di daerah Deli Tua, untuk mengalirkan air dari Sungai Deli. Anjir Kanal selain
sebagai sarana pengendali anjir dimaksudkan sebagai prasarana konservasi air untuk
pengisian kembali air tanah dan sumber air baku serta prasarana transportasi air.
Mendukung pembuatan kanal ini bisa berupa memudahkan pemerintah dalam
pembebasan lahan dan menjaga kanal yang sudah ada.
8. Bekerjasama dengan masyarakat di luar daerah banjir untuk menjaga daerah resapan air. Penanganan banjir erat kaitannya dengan pengelolaan Daerah Aliran Sungai yang
berada pada kawasan bioregion tertentu. Daerah Aliran Sungai (DAS) mencakup
areal yang melintasi batas administrasi sehingga harus ada rencana pengelolaan
bersama antar pemerintah daerah yang tercakup dalam kesatuan DAS. Jakarta
sebagai daerah hilir tempat bermuaranya sungai-sungai besar yang berhulu di
Propinsi Jawa Barat dan Banten. Untuk itu, masyarakat yang tercakup wilayahnya
dalam DAS, perlu bekerjasama. Warga kota Jakarta misalnya, yang memiliki lahan
di daerah puncak Bogor, mendorong warga sekitar untuk memelihara kawasan
2.6 KASUS BANJIR DI JAKARTA
Penanganan Banjir Jakarta
Rabu, 31 Agustus 2016 | 20:28
Penanganan banjir di Jakarta sudah pada jalur yang tepat alias on the right track. Sejak
kepemimpinan Gubernur Fauzi Bowo alias Foke kemudian berlanjut ke Jokowi, dan kini
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, titik banjir di Jakarta berangsur berkurang.
Kecepatan pembangunan proyek penanggulangan banjir pun relatif terjaga. Setelah
selesainya Kanal Banjir Timur, kini normalisasi tengah diupayakan. Nyaris tidak ada proyek
yang mandek. Sejumlah kendala berupa pembebasan lahan guna pembangunan waduk dan
normalisasi kali, satu per satu terselesaikan.
Dalam upaya berkesinambungan membebaskan Jakarta dari banjir, pasti ada saja banjir pada
kesempatan dan tempat tertentu. Banjir di Kemang, Jakarta Selatan, pada Sabtu (27/8),
membuat heboh dunia maya publik Jakarta. Foto-foto mobil mewah terendam yang betebaran
di media sosial memiliki daya kejut yang cukup untuk menyentak publik. Padahal wilayah
yang dilanda banjir hanya sebagian kecil dari keseluruhan Jakarta. Banjir Kemang, kita tahu,
tidak sedahsyat efeknya seperti ketika Istana Kepresidenan kebanjiran, sehingga Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono ketika itu harus menggulung celana. Atau, kejadian ketika
Bundaran HI dan sekitarnya lumpuh total karena tergenang akibat tanggul Kanal Banjir Barat
jebol.
Meski skala banjir Kemang tidak terlalu besar, kejadian itu merupakan alarm baru bagi warga
Jakarta. Di sejumlah titik jalanan di Kemang memang daerah langganan banjir, namun banjir
tersebut merupakan yang terbesar. Banjir Kemang membuka mata kita terkait pelanggaran
peruntukan wilayah. Alih fungsi lahan resapan di sepanjang kali yang mengalir di Jakarta
selama ini bukan saja dilakukan warga marginal yang membangun gubuk liar seperti di
bantaran Kali Ciliwung. Bantaran Kali Krukut yang mengalir di Kemang telah beralih fungsi
menjadi lahan bagi berdirinya bangunan komersial semi-legal.
Disebut semi-legal karena bangunan-bangunan komersial di sana memiliki izin
pembangunan dari pemerintah daerah. Artinya bangunan berdiri secara legal. Namun,
keberadaannya menyalahi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota maupun Rencana
Detail Tata Ruang (RDRT). Inilah tantangan sekaligus pekerjaan besar Pemprov DKI Jakarta
di masa mendatang. Bagaimana "menggusur" bangunan komersial yang semi-legal itu,
Pemerintahan Ahok ketiban sial. Keberadaan kawasan komersial yang menyalahi RDTR dan
RTRW merupakan warisan pendahulunya. Kini ia harus menertibkan. Jalan yang perlu
ditempuh tidak bisa tidak adalah win-win solution. Artinya, para pebisnis tidak dirugikan,
namun mereka wajib mendukung program penanggulangan banjir. Salah satu cara yang
sejatinya sudah dimulai oleh Pemprov DKI Jakarta, pertama adalah mewajibkan pemilik
bangunan membangun bak penampungan air hujan sesuai Peraturan Menteri Lingkungan
Hidup 12/2009. Kedua, Pemprov DKI juga berencana membangun embung sebagai
penampung air ketika debit sungai naik drastis.
Ketiga, yang tersulit adalah membebaskan lahan untuk normalisasi Kali Krukut. Balai Besar
Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) di bawah Kementerian Pekerjaan Umum
dan Perumahan Rakyat (Kempupera) sudah mulai melakukan normalisasi sejak tahun 2015
meski baru sekitar 600 meter.
Total Kali Krukut yang harus dinormalisasi mencapai 10 kilometer. Lebar sungai idealnya
20 meter sedangkan yang ada sekarang lebarnya hanya 1,5-2 meter. Meski tanggung jawab
normalisasi ada di Kempupera, pembebasan lahan menjadi tanggung jawab Pemprov DKI
Jakarta. Di sinilah letak kesulitan yang terbayang. Pemprov DKI Jakarta memang harus
membeli lahan yang sudah bersertifikat sesuai NJOP. Persoalannya, tentu tidak mudah bagi
warga yang harus melepas tanah atau tempat usahanya untuk kepentingan normalisasi.
Mereka bakal beralasan sebagai warga legal karena memiliki sertifikat.
Harapan satu-satunya adalah agar warga sekitar bantaran serta pemilik usaha legawa
memberikan tanahnya dibeli untuk normalisasi. Sebab, sesuai UU, Pemprov DKI Jakarta
dapat memberikan ganti rugi melalui konsinyasi ke pengadilan negeri kepada warga yang
menentang. Pada kondisi seperti ini, diperlukan keberanian Pemprov DKI Jakarta beraksi.
Ahok sebagai gubernur DKI yang dinilai banyak kalangan sebagai pemimpin yang tidak pilih
kasih tentu punya keberanian untuk memulai. Hal itu terlihat dari prestasinya merelokasi
warga bantaran Sungai Ciliwung. Saat ini sekitar 14.900 jiwa dari 6.000 keluarga telah
direlokasi ke rumah susun. Mereka berasal antara lain dari Waduk Pluit, Waduk Ria Rio, Kali
Musim Hujan Datang, DKI Siap Hadapi Banjir
Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI menyatakan siap menghadapi banjir saat musim penghujan yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan mulai terjadi pada Desember mendatang.
Kegiatan penanggulangan banjir di Ibu Kota sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari, yaitu sejak bulan Agustus 2015 lalu. Mulai dari pengerukan sungai, waduk dan saluran air serta perbaikan pompa hingga membuat sumur resapan yang difokuskan di permukiman kumuh sudah dilakukan Pemprov DKI.
Pemprov DKI yakin saat musim penghujan datang, genangan air atau banjir akan cepat surut. Karena daya tampung sungai, waduk dan saluran air sudah bertambah.
Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengatakan Pemprov DKI terus sedang mengejar perbaikan pompa-pompa air serta pengerukan sungai, waduk dan saluran air di seluruh wilayah Jakarta. Semua kegiatan penganggulangan banjir itu diharapkan dapat rampung pada bulan Desember.
Sehingga saat mengadapi musim penghujan pada akhir tahun 2015 hingga awal 2016, Pemprov DKI siap mengatasi dan mengantisipasi banjir yang akan terjadi di Jakarta.
“Kita lagi kejar pompa-pompa, saringan musti beres,” kata Basuki.
Strategi penanganan banjir di Jakarta, lanjutnya, dibagi menjadi tiga kegiatan penanganan banjir sistem tata aliran air. Yaitu kegiatan penanganan banjir sistem tata air aliran barat, aliran tengah dan aliran timur.
Untuk kegiatan penanganan banjir di aliran tengah Jakarta sudah rampung. Sekarang Pemprov DKI tinggal fokus untuk menyelesaikan kegiatan penanganan banjir di aliran barat dan timur Jakarta.
“Untuk sementara, aliran tengah Jakarta sudah beres. Tinggal timur dan barat. Kalau sampai terjadi banjir, nggak akan lebih dari sehari. Yang penting dari selatan ke utara, wilayah utaranya beres,” ujarnya.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat menegaskan Kota Jakarta sudah siap menghadapi banjir. Hal itu terbukti saat hujan dengan intensitas sedang terjadi pada Senin (2/11) malam, air hujan tidak menggenangi jalan Jakarta. Karena saluran air sudah relatif bersih dari sampah, air hujan dapat mengalir lancar ke sungai.
Selain melakukan pengerukan saluran air, Pemprov DKI juga telah melakukan kegiatan menyeluruh dalam upaya penanganan banjir di Jakarta. Diantaranya, melakukan pengerukan situ, embung, waduk dan sungai.
Lalu juga melakukan perbaikan pompa-pompa yang rusak. Sehingga saat musim penghujan terjadi, air bisa dialirkan ke laut melalu Kanal Banjir Timur (KBT) dan Kanal Banjir Barat (KBB). Dengan begitu, genangan air atau pun banjir bisa surut dengan cepat.
“Semuanya, sudah hampir menyeluruh kita lakukan, mulai dari pengerukan sungai, waduk, situ dan embung hingga perbaikan pompa. Persiapan banjir sudah kita lakukan. Kita berharap sampai musim penghujan, kita bisa cepat menangani banjir. Sehingga kejadian banjir di tahun lampau tidak terulang lagi. Kita akan maksimal itu,” paparnya.
Dari semua persiapan yang telah dilakukan, mantan Wali Kota Blitar ini mengharapkan banjir dapat berkurang 50 persen dari tahun lalu.
“Kalau persentase pengurangan banjir susah kita hitung ya. Tapi kalau hitungan kemarin 100 persen, maka sekarang mungkin sudah separuhnya atau lebih lah,” tuturnya.
BAB 3 ANALISA 3.1 ANALISA KAJIAN
Banjir memiliki kaitan dengan banyak hal, salah satunya adalah tempat. Tempat dalam arti adalah kondisi geologis lingkungan sekitar kita. Sebagai contohnya daerah yang ketinggiannya berada dibawah permukaan laut akan memiliki potensi lebih besar terkena banjir dibanding tempat yang berada diatas permukaan laut. Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah sehingga tempat yang berada di tempat yang rendah akan lebih mudah terkena banjir.
Selain karena tempat, banjir juga terjadi karena kondisi curah hujan yang tinggi. Curah hujan yang tinggi menyebabkan sering terjadinya banjir disuatu tempat sehingga dapat menyebabkan saluran air yang melebihi kapasitas karena terlalu sering banjir dan akhirnya meluap keluar. Faktor geografis juga bisa menjadi faktor penting dalam terjadinya banjir. Meski begitu tidak semua banjir terjadi karena kondisi lingkungan suatu tempat tapi juga karena adanya campur tangan manusia. Terdapat sebab akibat yang ditimbulkan, seperti tindakan masyarakat yang membuat sampah disungai maupun selokan akan menyebabkan saluran air tersumbat sehingga apabila terjadi hujan, air akan meluap keluar dari saluran air. Sebab akibat juga dapat berasal dari alam seperti terjadi erosi yang menyebabkan tanah yang tererosi terbawa oleh air dan mengendap d bibir sungai sehingga lama kelamaan akan menumpuk dan mengurangi lebar sungai akibatnya pada saat banjir besar sungai dapat meluap dan terjadi banjir.
sungai berkurang bahkan kedalaman sungai juga berkurang karena sedimentasi ini. Masalah ini akhirnya menyebabkan terjadinya banjir.
Selain itu banjir juga mengakibatkan masalah yang lebih serius lagi, yaitu dapat menurunkan ketinggian permukaan tanah, lama kelamaan seiring bertambahnya tahun maka semakin turun ketinggian muka tanah dan lama kelamaan akan tenggelam. Oleh sebab itu untuk mencegah itu terjadi perlu dilakukan pencegahan banjir. Pencegahan dapat dilakukan baik secara infrastruktur maupun secara perilaku manusia. Tanpa kedua hal penting ini maka masalah banjir tidak akan bisa diselesaikan.
Pencegahan secara infrastruktur berupa pembangunan waduk, dll. Untuk beberapa kasus pembangunan infrastruktur akan mencegah banjir terjadi lagi seperti pembangunan pompa air yang menyedot air dan dialirkan ke laut atau pembangunan waduk dll. Mungkin akan mengurangi terjadinya banjir. Namun jika ingin banjir teratasi hal pertama yang harus d lakukan adalah menyadari perilaku yang salah dari manusia seperti membuang sampah sembarangan dan menebang pohon dengan liar. Bila kebiasaan ini dihilangkan, secara alami banjir akan berkurang dan ditambah dengan pembangunan infrastruktur maka banjir dapat teratasi. Coba dibayangkan bila orang – orang berhenti membuang sampah sembarangan dan berhenti menebang pohon secara liar, pasti kondisi sungai, saluran air maupun lingkungan sekitar akan menjadi lebih baik. Pada intinya harus ada keseimbangan antara perilaku manusia dalam merawat alam dengan pembangunan infrastuktur pencegah banjir agar terjadi penyelesaian masalah secara menyeluruh.
3.2 ANALISA KASUS
Setelah kanal timur terselesaikan, pemerintah lalu melakukan normalisasi kali satu per satu. Yang menjadi kendala paling sulit adalah menormalisasi bagian komersial yang semi legal. Yang seharusnya kali untuk resapan berukuran 20m tetapi pada kenyataannya hanya ada 1 sampai 2 meter karna tertutup oleh bangunan komersil semi legal. Disebut semi legal karena ada yang legal tapi ada juga yang bangunannya tidak legal. Akan lebih mudah menormalisasi bangunan-bangunan yang tidak memiliki sertifikat, karena pemerintah dapat menggusur dengan alasan yang jelas yaitu ketidaklengkapan sertifikat tanah. Tetapi yang menjadi kesulitan justru menormalisasi bangunan yang memiliki sertifikat. Pembisnis yang memiliki sertifikat tapi menyalahi RTRW dan RDTD harus memiliki kesadaran sendiri untuk pindah ketempat yang sesuai.
Terdapat beberapa cara juga yang dilakukan pemerintah bagi masyarakat untuk mendukung kegiatan pemerintah dalam memberantas banjir seperti mewajibkan pemilik bangunan membangun bak penampungan air hujan yang sudah ada dalam peraturan menteri lingkungan hidup 12/2009. Pemerintah juga berencana membangun embung sebagai penampungan air serta membebaskan lahan untuk normalisasi.
BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 KESIMPULAN
Dalam sepuluh tahun terakhir ini, luas area dan frekuensi banjir semakin bertambah dengan kerugian yang makin besar (BNPB, 2013). Dalam mengatasi hal ini peran warga masyarakat dan pemerintah memegang peran yang penting karena masyarakat dan pemerintah sekitar dapat menjadi faktor pencegah atau faktor penyebab terjadinya banjir. Partisipasi warga dalam menanggulangi banjir dapat dilakukan dengan membuat area resapan di area pemukiman, menanam tanaman-tanaman terutama pepohonan, membentuk organisasi pengendali banjir, membangun lokasi dan jalur evakuasi bila terjadi banjir, dan sebagainya. Jika warga tidak dapat bekerjasama dan melakukan hal-hal yang memicu terjadinya banjir seperti membuang sampah sembarangan terlebih di sungai / kali , membangun bangunan di tanah resapan, menebang pepohonan yang ada dan lainnya maka banjir yang seharusnya dapat di hindari akan terjadi. Banjir dapat menyebabkan
4.2 USUL DAN SARAN
Banjir yang terjadi saat ini terjadi karena hal-hal yang dilakukan masyarakat dari membakar hutan, membuang sampah di kali, membangun di tanah resapan dan lainnya. Jika ingin kawasan sekitarnya bebas banjir rakyat harus peduli akan lingkungannya sendiri dengan membuang sampah pada tempatnya, membuat taman dan resapan air di sekitarnya. Pemerintah pun sudah mulai perduli dengan adanya dinas kebersihan yang sudah berhasil membuat kali di Jakarta bersih dan bebas sampah. Selain itu pemerintah juga sudah mengakomodasikan rakyat sehingga tidak ada pemukiman liar. Karena itu agar semua hal ini tidak terbuang sia-sia sebaiknya warga tidak melakukan hal-hal yang dapat menyebabkan banjir.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimus. (tt). Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Rawan Bencana Banjir. Jakarta: Ditjen Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum.
Fitriindrawardhono (2012): Sejarah Banjir Jakarta. Cakrawala, dalam http://fitriwardhono. wordpress.com/2012/04/06/sejarah-banjir-dijakarta/ Harliani, Fanni (2012): Identifikasi Persepsi Masyarakat Terhadap Rencana Relokasi Permukiman Akibat Bencana Banjir. ITB. Irianto, 2006. Pengelolaan Sumber Daya Lahan dan Air, Agro Inovasi, Jakarta.
Kodoatie, Robert J. dan Sugiyanto, 2002. Banjir, Beberapa penyebab dan metode pengendaliannya dalam perspektif Lingkungan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Undang-undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
SUMBER INTERNET
http://parlindungan16.blogdetik.com/2010/03/29/partisipasi-masyarakat-terhadap-penanganaan-banjir/
https://www.dropbox.com/s/uak1k1nxss198o3/www%20penanggulangankrisis%20depkes %20go%20id%20%20pub%20%20files49054Buku_Banjir_2006%20pdf.pdf?dl=0 http://www.teoripendidikan.com/2015/03/pedoman-penulisan-karya-ilmiah-yang.html https://oerleebook.wordpress.com/2011/02/08/metode-penulisan-karya-ilmiah-2/ https://www.dropbox.com/s/p914blhdiww519t/Banjir.docx?dl=0
http://www.kompasiana.com/achmadsiddikthoha/apa-peran-warga-dalam-mengurangi-resiko-banjir_551a0fca813311987d9de0c7
https://id.wikipedia.org/wiki/Banjir
http://www.beritasatu.com/blog/tajuk/4896-penanganan-banjir-jakarta.html