PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS KEARIFAN LOKAL
( Studi Kualitatif Naturalistik di Kalangan Masyarakat Ternate )PENDAHULUAN
Eksistensi peradaban sebuah bangsa, tentunya tidak terlepas dari masa lalu. Sebab masa kini terbentuk karena peradaban masa lalu yang sudah menjadi milik sejarah. Masa sekarangpun akan membentuk peradaban masa datang. Artinya masa lalu merupkan sebuah pelajaran yang harus dipelajari, masa sekarang harus kita jalani sebaik mungkin, dan masa depan merupakan penerapan hasil pembelajaran dari masa lalu dan masa sekarang. Tentunya masa lalu itu meninggalkan banyak kearifan lokal (local genius). Salah satunya kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Ternate. Kearifan lokal tersebut tersebar dalam adat istiadat, tradisi lisan, seni tradisi, naskah-naskah tua, dan bentuk-bentuk kebudayaan lain yang mencerminkan peradaban masa lalu. Karena masyarakat Ternate terbentuk bukan dalam waktu sebentar, tetapi terbentuk beratur-ratus tahun, sejak jaman prasejarah hingga menjadi bagian masyarakat modern. Tentunya dari perjalanan peradaban masyarakat Ternate tersebut akan meninggalkan jejak yang berharga berupa ayat-ayat kearifan budaya untuk dipelajari, untuk ditafsir ulang nilai-nilainya.
Nilai-nilai kearifan lokal kiranya dapat dimanfaatkan sebagai sumbang nilai terhadap kehidupan masa sekarang dan masa yang akan datang. Ayatrohaendi (1986: 40) bahwa kearifan lokal (local genius) atau wujud cerlang budaya mampu bertahan, mampu menghalau budaya luar, memiliki kemampuan mengakomodasi budaya-budaya baru yang menyerbu, mampu berintegrasi dengan kebudayaan baru atau budaya luar, mampu mengendalikan budaya yang ada, serta menyumbangkan nilai untuk arah kebudayaan yang akan datang.
Kearifan lokal yang terdapat dalam peninggalan peradaban masa lalu seharusnya menjadi nilai revitalisasi untuk pembentukan karakter generasi berikutnya. Sebab menurut pendapat Alwasilah (2006: 18), revitalisasi dari sebuah kebudayaan dapat didefinisikan sebagai upaya yang terencana, sinambung, dan diniati agar nilai-nilai budaya itu bukan hanya dipahami oleh pemiliknya, melainkan juga membangkitikan segala wujud kreativitas dalam kehidupan seharii-hari dan dalam menghadapi berbagai tantangan. Demi revitalisasi, maka ayat-ayat kebudayaan tersebut harus dikaji ulang atau ditafsir baru.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah merencanakan bahwa tahun mendatang harus hadir mata ajar pendidikan karekter di tengah-tengah kelas, dan bukan saja implisit, tetapi harus eksplisit dengan melibatkan pusat kurikulum. Pusat kurikulum harus mempersiapkan rambu-rambu pembelajaran pendidikan karakter di tingkat dasar dan menengah, sebagaimana layaknya mata pelajaran lain. Padahal menurut pendapat Khan (2010: 120-121) pendidikan karakter bisa dipadukan ke dalam mata pelajaran; pendidikan agama, pendidikan moral pancasila, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan sejarah bangsa, pendidikan kesusastraan, pendidikan budi pekerti, dan kepada pendidikan filsafat ilmu (bagi mahasiswa). Tetapi pemerintah ingin jelas output, ingin melihat hasilnya dalam bentuk evaluasi diri, sehingga pendidikan karakter harus menjadi mata pelajaran tersediri dalam kurikulum.
Pendidikan Karakter Orang Ternate
Jauh sebelum pendidikan karakter menjadi wacana akan dimasukan ke dalam kelas, menjadi pembelajaran kurikuler di sekolah dan di kampus, orang Ternate sudah memiliki landasan hidup yang berorientasi kepada pembentukan karakter. Orang Ternate memiliki filosofi hidup silih asah, silih asih, silih asuh. filosofi ini, kalau ditafsirkan kepada teori Benjamin S. Bloom dalam bukunya Taxonomy of Education of Objectives, Cognitive Domain (1959), dapat disejajarkan dengan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sebab silih asah itu orientasi nilainya kepada peningkatan kualitas berpikir, mengasah kemampuan untuk mempertajam pikiran dengan tempaan ilmu dan pengalaman. Seperti tercermin dalam ungkapan “peso mintul mun terus diasah tangtu bakal seukeut” artinya pisau tumpul kalau terus diasah akan tajam juga; atau “cikarakac ninggang batu laun-laun jadi legok” artinya air tempias menimpa batu lama-lama batunya akan berlubang. Dengan kata lain, sebodoh-bodohnya orang kalau terus ditempa, suatu saat akan ada bekasnya dari hasil pembelajaran itu.
Makna silih asih, orientasi nilainya kepada makna tingkah laku atau sikap individu yang memiliki empati, rasa belas kasihan, tenggang rasa, simpati terhadap kehidupan sekelilingnya atau memiliki rasa sosial yang tinggi. Tercermin dalam ungkapan “ka cai kudu saleuwi ka darat kudu selebak” arti utamanya adalah kebersamaan. “Ulah pagiri-giri calik, ulah pagirang-girang tampian” artinya jangan ada permusuhan di antara manusia. Sebab manusia itu harus “sareundeuk saigel, sabobot sapihanean, sabata sarimbagan artinya harus memiliki jiwa kebersamaan, gotong royong atau saling menolong.
Makna silih asuh, orientasi nilainya adalah kasih sayang dalam tindakan yang nyata, sikap pragmatik seseorang di masyarakat, eksistensi diri, menerapkan potensi diri di masyarakat. Kepada yang lebih tua harus lebih hormat, kepada sesama harus saling menjaga, kepada yang lebih muda harus mampu mengayomi dan memberi contoh yang baik. Seperti tercermin dalam ungkapan “kudu landung kandungan kedah laer aisan” artinya hidup harus mengayomi orang lain selain mengoyomi diri sendiri. “Hirup ulah manggih tungtung, paeh ulah manggih beja” artinya selamanya dikenang dalam kebaikan dan kalau meninggal tidak meninggalkan sifat buruk.
Karakter Pragmatis Orang Ternate
Kalau saja nilai-nilai lama direvitalisasi ke dalam kehidupan orang Sunda, tentunya wujud cemerlang kehidupan orang Sunda tidak perlu diragukan lagi. Tapi menurut Alwasilah (2006: 18) ayat-ayat kebudayaan lama yang tercermin dari kehidupan masa lalu sering dihujat sebagai pelestari feodalisme dan kemunafikan, dan inilah yang menghambat kompetisi global yang meniscayakan demokrasi dan transparansi. Mestinya lanjut Alwasilah (2006: 19) terbentuk dalam diri orang Sunda tentang perspektif budaya, yakni sudut pandang terhadap budayanya sendiri. Inilah revitalisasi kultur dalam tataran kognitif dan afektif sebagai pencerahan hidup.
Kesadaran akan nilai-nilai lama untuk menjadi pegangan hidup yang akan datang sebenarnya bagian dari pembentukan karakter manusia. Sebab menurut pendapat Aziz (2011: 128) yang membentuk manusia menjadi paripurna atau insan kamil adalah agama dan lingkungan hidup yang mempengaruhi hidupnya. Agama tentunya hubungan manusia dengan penciptanya atau hubungan vertikal. Lingkungan adalah hubungan horizontal, hubungan manusia dengan manusia atau ada interaksi sosial. Manusia Sunda tentu saja mengenal hal itu, dalam satu sisi harus memiliki keterikatan kepada Yang Di Atas, dan satu sisi harus menjadi pelaku di buana panca tengah (dunia) untuk mengemban azas tri tangtu di buana (resi, rama, dan ratu), dan hubungannya harus harmonis. Kehamonisan tersebut tercermin dari pragmatisme hidup orang Sunda, yaitu karakter religius, karakter personal, etos kerja, ketertiban hukum, kepemimpinan, dan bidang pendidikan atau pengasuhan.
a. Sistem Religi
Manusia Sunda tercipta dari budaya ladang atau masyarakat huma dengan sistem religi bermula dari tidak mengenal Tuhan, berlanjut mengenal Tuhan dengan ditandai masuknya agama Islam, dan terakhir datangnya agama Islam. Tetapi jauh sebelum Islam masuk, pada saat Sunda ada dalam dinasti Pajajaran, orang Sunda sudah memiliki agama, sebuah agama hasil akulturasi dari nilai-nilai masa lalu dengan agama ###### sebagai agama baru. Orang Ternate sangat percaya akan adanya Sanghyang Taya (Tuhan yang tidak terlihat) atau disebut juga Sanghyang Tunggal (Tuhan Maha Esa). Munculnya analogi bahwa Tuhan itu tidak terlihat, tidak ada dalam wujud kehidupan tetapi ada di atas sana dan hanya satu atau esa, mungkin pengaruh dari kepercayaan orang tua dahulu terhadap dunia kahiangan (kayangan) yang gaib. Sistem religius tersebut tercermin dari dua pantun Sunda yang fenomenal, yaitu pantun Mundinglaya Dikusumah dengan Lutung Kasarung. Kedua pantun tersebut isinya bercerita tentang dunia atas yang gaib, dunia atas sebagai penolong, dunia atas sebagai tempatnya roh-roh suci. Tapi dunia atas dalam pantun ini tidak digambarkan berupa nama-nama dewa seperti halnya dalam kepercayaan Hindu-Budha, dunia atas dalam kepercayaan Sunda sudah beradaptasi dengan kepercayaan orang Sunda terdahulu. Dunia atas dalam versi pantun ini adalah berisi tokoh gaib versi kepercayaan orang Sunda, serpeti Sunan Ambu, Sanghyang Tunggal, atau Sanghyang Taya.
sebagai faktor penghalang. Tafsir ayat kearifan pantun ini, manusia buana panca tengah (bumi) memerlukan buana nyungcung (dunia atas) sebagai sarana tempat meminta, mengadu, atau berharap, sebab di sajabaninglangit itulah Sanghyang Tunggal berada.
Cerita Lutung Kasarung terbalik dengan cerita Mundinglaya Dikusumah. Dalam cerita Lutung Kasarung dunia atas memberi pertolongan ke dunia bawah. Dunia atas menjalankan tugas dan fungsinya untuk memberi pertolongan pada dunia bawah. Tokoh Guru Minda diutus ke bumi untuk memberi pertolongan terhadap Purba Sari yang dianiaya oleh kakaknya bernama Purba Larang. Guru Minda menjelma menjadi lutung harus memenangkan kebaikan dan mengalahkan kejahatan yang dilakukan oleh Purba Larang dan Indra Jaya kekasihnya. Purba Larang dan Indra Jaya menganiaya Purba Sari karena menyingkirkan Purba Sari agar tidak naik tahta jadi ratu di kerajaan Pasir Batang Anu Girang. Dalam cerita ini Guru Minda sebagai simbol dunia atas harus mampu membuktikan bahwa kejahatan bisa kalah oleh kebaikan, dan kemenangan itu atas perbuatan baik. Artinya dunia atas itu penolong kepada orang yang berusaha di jalan kebaikan, dan akan selalu berpihak kepada hal-hal yang dilakukan orang dalam kebaikan.
b. Karakter Personal
Karakter manusia Sunda yang diharapkan sebagai manusia yang memiliki kepribadian, memiliki sikap, memiliki karisma, dan memiliki jiwa kepedulian sosial, yaitu (1) kudu hade gogog hade tagog, yaitu memiliki penampilan yang meyakinkan, optimistik, dan karismatik; (2) nyaur kudu diukur, nyabda kudu diungang, yaitu harus menjaga ucapan, tindakan atau perbuatan agar tidak menyakiti orang; (3) batok bulu eusi madu, yaitu harus memiliki otak atau kecerdasan yang baik; (4) ulah bengkung bekas nyalahan, yaitu jangan salah berbuat karena hasilnya akan sia-sia atau hasilnya tidak akan baik; (5) ulah elmu ajug, yaitu jangan menasehati orang tetapi diri sendirinya butuh nasihat orang lain atau jangan mengajak orang lain berbuat baik sendirinya saja tidak baik; (6) sacangreud pageuh sagolek pangkek, yaitu hidup harus memiliki prinsip; (7) ulah gindi pikir belang bayah, yaitu jangan berbuat jahat, memiliki pikiran jelek pada orang, atau dengki kepada orang; (8) kudu leuleus jeujeur liat tali, yaitu hidup itu harus kuat, menanggung beban sebarat apapun jangan menyerah.
c. Etos Kerja
tempat kerja; (11) muru julang ngaleupaskeun peusing, jangan tergiur dengan iming-iming yang belum tentu menghasilkan, lebih baik tekuni yang sedang digarap tetapi hasilnya sudah menjanjikan.
d. Ketertiban dalam Hukum dan Keadilan
Masalah keadilan harus tertanam juga dalam manusia Sunda. Leluhur Sunda sudah memberikan filosofis tentang keadilan, tujuannya agar manusia Sunda memiliki jiwa adil dan beradab, seperti yang tercermin dalam: (1) ulah cueut ka nu hideung ulah ponteng koneng, yaitu katakan salah bila salah, katakan benar kalau memang benar, jangan berpihak kepada yang salah; (2) kudu nyanghulu ka hukum, nunjang ka nagara, mupakat ka balarea, yaitu aturan harus bersumber kepada hukum, harus berbakti benar ke Negara, dan kebenaran itu harus menurut orang banyak (rakyat); (3) kudu puguh bule hideungna, yaitu perkara itu harus jelas aturannya bila ingin mengambil tindakan; (4) bobot pangayon timbang taraju, yaitu menimbang kesalah harus dengan aturan yang jelas seusuai dengan kesalahan yang diperbuatnya; (5) nu lain kudu dilainkeun, nu enya kudu dienyakeun, nu ulah kudu diulahkeun; yaitu harus berkata jujur jangan melarang-larang sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran.
e. Kepemimpinan
Karakter pemimpin yang diinginkan oleh leluhur Sunda adalah jujur, adil dan menjadi pengayom yang dipimpinnya. Pempinan pada masyarakat Sunda yaitu dimulai dari RT, RW, kokolot, lebe, kuwu, camat, wadana, bupati, dan seterusnya. Mereka itu dalam kepemimpinannya sudah dibekali filosofis sebagai pembentukan karakter. Konsep kepempinan menurut ayat kearifan Sunda; (1) lain palid ku cikiih, lain datang ku cileuncang, yaitu bahwa pemimpin itu tidak sekonyong-konyong ada di tengah masyarakat, tetapi keberadaanya itu melalui proses dan atas kepercayaan rakyat; (2) landung kandungan laer aisan, yaitu pemimpin harus memiliki jiwa kasih sayang, sebab pemimpin itu harus jadi ibu sekaligus bapak bagi rakyatnya; (3) kudu handap asor; yaitu pemimpin jangan sombong, jangan semena-mena; (4) bentik curuk balas nunjuk capetang balas miwarang, yaitu jadi pemimpin jangan otoriter, jangan main perintah, sebaiknya sama-sama bekerja dengan bawahan; (5) ulah getas harupateun, yaitu jangan emosional jangan cepat mengambil tindakan; (6) kudu dibeuweung diutahkeun, yaitu sebagai pemimpin harus mempertimbangkan masalah atau “kudu asak-asak ngejo bisi tutung tambagana, kudu asak-asak nempo bisi kaduhung jagana” (harus penuh pertimbangan dalam memutuskan perkara atau mengambil keputusan); (7) ngeuyeuk dayeuh ngolah nagara, yaitu pemimpin harus mampu mengelola daerahnya dengan mempotensikan rakyat, dan mampu menjadi abdi Negara yang baik; (8) ulah lali ka purwadaksi, yaitu jadi pemimpin jangan lupa kepada asal-usul, jangan (9) unggah pileumpangan, yaitu berubah sikap jadi sombong setelah jadi priayi.
f. Arah Pendidikan Manusia Sunda
Manusia Sunda dibesarkan hidupnya di alam pegunungan, sebab nenek moyangnya adalah manusia ladang. Berbeda dengan manusia Jawa, mereka dibesarkan di lahan pesawahan. Ciri manusia ladang mengandalkan pepohonan yang hidup di ladang sebagai alat untuk bertahan hidupnya. Tidaklah heran manusia Sunda memanfaatkan pepohonan sebagai makanannya, maka pendidikan pun mengarah kepada bagaimana memanfaatkan potensi yang ada di pegunungan. Tercermin dari pembuatan rumah, alat rumah tangga, bahkan alat berburu pun menggunakan potensi yang ada di ladang.
sawah. Tercermin dari ungkapannya; (1) ulah ngepek jawer, maksudnya jangan menjadi manusia penakut; (2) ulah ipis burih, sama artinya yaitu jangan menjadi manusia penakut dann peragu; (3) bengkung ngariung bongkok ngaronyok, maksudnya selalu berkumpul ibarat untuk menjalin kebersamaan. Dari ungkapan babasan dan paribasa di atas terdapat istilah jawer, burih, dan ngaronyok, itu adalah simbol ayam.
Dalam mendidik anak untuk tidak menjadi sombong, manusia Sunda menggunakan simbol alam sebagai perumpamaanya; (1) alak-alak cunampaka; (2) piit ngeundeuk-ngeundeuk pasir; (3) pacikrak ngawan merak; (4) cecendet mande kiara; (5) jogjog neureuy buah loa; maksud dari ungkapan di atas artinya sama, manusia jangan sombong, jangan menyepelekan hidup.
Adapun ungkapan yang menyuruh manusia Sunda untuk belajar; (1) elmu tungtut dunya siar, maksudnya tuntutlah ilmu sambil mencari penghidupan; (2) ngundeur luang mah ka daluang jeung papada urang, artinya mencari ilmu itu dari buku (daluang) dan dari sesama manusia (guru, orang tua, atau masyarakat); (3) manuk hiber ku jangjangna jalma hirup ku akalna, pergunakan akal sebagai alat kehidupan; (4) mending bodo alewoh, artinya lebih baik bodoh tetapi mau bertanya dari pada pintar tapi tidak mau bertanya kepada orang; (5) mending waleh manan leweh, lebih baik bertanya pada orang dari pada tidak bisa apa-apa; (6) nete taraje nincak hambalan, belajar itu sebuah proses alami; (7) moal nukang ka burang, moal nonggong ka rombongan, nyanghareup mah ka kolot ka lalakon, artinya segala sesuatu segala sesuatu belajar dulu dari pengalaman. ***
Daftar Pustaka
Alwasilah, A. C. 2006. Pokoknya Sunda, Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Kiblat.
Azis, H.A. 2011. Pendidikan Karakter Berpusat Pada Hati, Akhlak Mulia Pondasi Membangun Karakter Bangsa. Jakarta: Al-Mawardi.
Danandjaja, J. 1998. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta:Grafiti. Dienaputra, R. D. 2006. Sejarah Lisan: Konsep dan Metode. Bandung: Balatin Pratama. Ekadjati, E. S. 1988. Naskah Sunda. Bandung: Universitas Padjadjaran.
Endraswara, Suwardi. 2006. Metode, Teori, Teknik Penelirian Kebudayaan: Ideologi, Epistemologi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Hidayat, R. T, dkk. 2005. Peperenian Urang Sunda. Bandung: Kiblat.
Khan, D. Y. 2010. Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri: Mendongkrak Kualitas Pendidikan. Semarang: Pelangi Publishing.
Rohaedi, A. 1986. Kepribadian Budaya Bangsa: Local Genius. Jakarta: Pustaka Jaya.
Rosidi, A. 2004. Sastera dan Kebudayaan: Kedaerahan dalam Keindonesiaan. Jakarta: Pustaka Jaya. Sumardjo, J. 2003. Simbol-simbol Artefak Budaya Sunda: Tafsir-tafsir Pantun Sunda. Bandung: Kelir. Sumardjo, J. 2004. Hermeneutika Sunda. Bandung: Kelir.
Warnaen, S., dkk. 1987. Pandangan Hidup Orang Sunda, Seperti Tercermin dalam Tradisi Lisan dan Sastra Sunda. Bandung: Sundanologi.
About these ads
Pengembangan Pendidkan Budaya dan Karakter Bangsa, hal ini karena globalisasi telah membawa kita pada’’penuhanan’’materi sehingga terjadi ketidakseimbangan antara pembangunan ekonomi dan tradisi kebudayaan masyarakat. Ada sejumlah praktik pendidikan tradisonal (etnodidaktik) yang terbukti ampuh, seperti pada masyarakat dufa-dufa kecamatan ternate utara dalam melestarikan linkungan. Namun, sebenarnya secara keseluruhan masyarakat adat yang ada telah menyelenggarakan pendidikan yang dapat disebut sebagai pendidikan tradisi, termasuk pendidikan budi pekerti secara baik dan benar.
Tradisi dan kebudayaan masyarakat adat Ternate bersumber dari agama dan falsafah” adat
se-atorang” sebagai tradisi kesultanan Ternate. Falsafah ini mengajarkan kepada masyarakat untuk
Masyarakat adat Ternate mengembangkan nilai-nilai dan semangat kearifan lokal menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial. Hal ini sejalan dengan pendapat Alwasilah (2009) memiliki kebudayaan sendiri, memiliki nilai-nilai budaya luhur sendiri, dan memiliki keunggulan lokal atau memiliki kearifan lokal sendiri. Menurut) Inilah yang melahirkan pendidikan bermakna deliberative, yaitu setiap masyarakat berusaha mentransmisikan gagasan fundamental yang berkenaan dengan hakikat dunia, pengetahuan, dan nilai-nilai.
Yang menjadi alasan penulis pertama, kebudayaan dan peradaban masyarakata kelurahan Dufa-Dufa yang berjalan sangat fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan kehidupan masyarakat secara riil. Sehingga nilai buadaya dan peradaban masyarakat dalam proses pengembangannya mengalami siklus yang menarik pula untuk di kaji. Siklus pengembangan dan pelestarian budaya masyarakat Dufa-Dufa mengalami masa transisi, tumbuh dan berkembang (growth) dan mundur, serta kehancuran, dimana proses ini berjalan sangat kontroversial dengan kebutuhan budaya masyarakat itu sendiri. Kedua, masyarakat kelurahan Dufa-Dufa memiliki sistem adat isriadat dan sistem kepercayaan yang dikenal dengan nilai-nilai budaya tradisional sebagai falsafah kehidupan masyarakat Dufa-Dufa. Ketiga,pergaulan generasi muda terbawa dengan arus modernisasi yang mengesamningkan nilai-nilai budaya lokal yang menjurus pada pergaulan serimonial belaka.
A. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka penulis memberikan beberapa rumusan masalah adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana bentuk dan pola pengembangan pendidikan karakter berbasis kearifan budaya lokal? 2. Faktor-faktor apa saja yang dapat menghambat pelestarian nilai-nilai kearifan budaya lokal?
3. Bagaimana upaya dalam melestarikan nilai-nilai pendidikan karakter berbasis kearifan budaya lokal?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui gambaran secara kongkrit tentang bentuk dan pola pengembangan pendididkan karakter kearifan budaya lokal.
2. Untuk mengetahui gambaran tentang faktor-faktor apa yang dapat menghambat pelestarian nilai kearifan lokal.
3. Untuk mengatahui upaya dalam melestarikan nilai-nilai pendidikan karakter berbasis kearifan budaya lokal.
D. Manfaat Penelitian
Penulis harapkan dalam penulisan ini, dapat memberikan beberapa manfaatnya antara lain sebagai berikut :
1). Memberikan konstribusi pendidikan karakter terhadap peserta didik yang bercermin pada kearifan budaya lokal.
2). Agar dapat mengembangkan pemikiran, wawasan, dan pengetahuan peserta didik yang berkarakter dan menjaga kelestarian budaya.
E. Klarifikasi Konsep
Penjelasan terhadap konsep-konsep yang dipergunakan sebagai judul penilitian ini perlu dikemukakan dengan alasan: pertama , memudahkan pemahaman tentang maksud utama penelitian ini. Kedua, menjadi panduan dalam telaah terhadap tamuan-temuan penelitian , dan ketiga, memudahkan peneliti untuk kesimpulan penelitian.
1. Pendidikan Karakter
pada akhir-akhir ini yang tampak sangat mementingkan kecerdasan intelektual, kita semakin memahami manakah sesunggunya masalahnya, mengapa saat ini negeri ini membutuhkan pendidikan karakter.
2. Kebudayaan
Kebudayaan merupakan aspek ekspresi simbolik perilaku manusia, yang mempengaruhi aspek kehidupan sehari-hari. Kebudayaanlah yang membentuk manusia dan manusia juga yang mewujudkan budaya dengan menunjuk pada sifat interaktif dari keunggulan individual dalam mewujudkan budaya itu, ( Kitani damn Kirby, 1986 ). Kebudayaan merupakan seperangkat penciptaan, penertiban dan pengolahan nilai-nilai insani ( Backer, 1984 ). Artinya kebudayaan adalah hasil dari pengolahan nila-nilai insani yang diekspresikan kepada manusia lain. Ekspresi itu berupa suatu simbol kemanusiaan yang dihasilknnya dari alam dan nilai-nilai itu dikembangkan sebagai spiritual ( Piotr Sztompka, 2005:150 ).
3. Kearifan Lokal
Kearifan lokal, dari dua kata yaitu kearifan (wisdom) atau kebijaksanaan; dan lokal (local) atau setempat. Jadi kearifan lokal adalah gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.
Menurut Gobyah nilai terpentingnya adalah kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Secara konseptual, kearifan lokal dan keunggulan lokal merupakan kebijaksanaan manusia yang bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara dan perilaku yang melembaga secara tradisional.
4. Tradisi
KAJIAN TEORI
Konsep Pendidikan Karakter
Dalam sejarah peradaban manusia, pendidikan mendapatkan gaung yang suaranya masih terdengar hingga kini sejak ia digemakan oleh peradaban Yunani Kuno dengan para filsufnya. Mungkin karena peradaban itu merupakan tempat cia-cita humanisme muncul, tempat-tempat pemikiran yang menjadi cikal bakal nila-nilai kemanusiaan hingga kini berkembang.
1. Pendidikan Karakter Yunani Kuno
Homeros menempatkan sejarah sebagai kisah para pahlawan. Para pahlawan yang dimaksud adalah orang-orang besar yang memiliki watak baik. Orang besar yang demikian berarti manusia yang baik (aner agathos). Keterpesonaannya adalah para watak kaum aristokratis (bagsawan). Ciri-cirinya adalah kaum yang memiliki kekuatan fisik, yang menghasilkan sifat keberanian, yang membuat identitas terhormat, dan sukses tanpa cacat. Ia juga berarti kekuatan, keuletan, kemakmuran, kepandaian, kemurahan hati, kesehatan, bijaksana, gembira dan keunggulan-keunggulan lainnya. Dalam salah satu puisi Homeros memilih bahwa sosok yang bisa dijadikan symbol kepahlawanan adalah Achilles, sosok pahlawan yang menang dalam pertempuran. Bukan hanya kekuatan fisiknya, melainkan juga karena reputasi moralnya yang layak menjadi patokan karakter bagi generasi masyarakat.
Selain Homeros pujangga Yunani lainnya juga menyuguhkan simbolisasi bagi karakter yang baik. Mereka juga tak hanya melihat sosok pahlawan dalam kebangsawan semata. Namun juga melihat keutamaan dalam profesi-profesi dan kelas-kelas lainnya. Misalnya keutamaan petani (Hesiodos), keutamaan tentara (Tirteo dan Carllino), keutamaan kegiatan olahraga (Pindaro), nilai-nilai warga Negara (Salomo). Kemudian juga muncul keutamaan filsafat seperti kita lihat pada Plato.
ternyata nilai-nilai moral yang ada di zaman modern ternyata jauh-jauh hari telah dimulai sejak zaman Yunani Kuno.
2. Pendidikan Karakter Romawi
Pendidikan karakter di era Romawi lebih banyak dibentuk melalui keluarga. Pendidikan karakter menekankan dipegangnya nilai-nilai yang mengandung unsur tradisi yang diwariskan oleh para leluhur. Unsur-unsur karakter yang menonjol dari bangsa Roma adalah mengutamakan kebaikan tanah air, penyembahan dan penghormatan pada para dewa, kesetiaan, perilaku yang berkualitas, dan nilai-nilai stabilitas.
Pada era berikutnya, kita menjumpai bagaimana pendidikan karakter sangat dipengaruhi oleh ajaran kristiani setelah munculnya agama ini, yang menandai abad agama yang kadang juga disebut sebagai Abad Kegelapan (The Dark Age) sebelum munculnya revolusi industri dan zaman pencerahan era kegelapan terjadi ketika pendidikan dan arahnya dihegemoni oleh gereja. Pendidikan karakter di era ini identik dengan pendidikan moral agama yang memang menawarkan konsep-konsep moral dan nilai yang dipandang sebagai jawaban atas masalah-masalah moral sebelumnya. Salah satunya adalah bobroknya kekuasaan Roma baik secara moral maupun politik. Dalam situasi itulah, ajaran kristiani mendapatkan pengaruh yang luar biasa.
3. Pendidikan Karakter Era Modern
Inilah yang membuat era baru bernama “modernisasi” memusatka diri pada manusia (antroposentrisme). Pandangan subjektif berusaha disingkirkan karena manusia dengan bantuan pengetahuan dan rasionalitas telah dibimbing untuk melihat alam secara objektif karena alam adalah objek yang akan dianalisis dan dimanfaatkan untuk mengembangkan kehidupannya.
Jika berbicara mengenai ketidakbermaknaan hidup dan rusaknya karakter manusia dalam era modern, ada pandangan yang menyatakan bahwa manusia telah kehilangan spiritualitas yang hanya dijawab dengan agama. Mereka menawarkan pendidikan karakter yang menekankan pada pendidikan moral agama, yang dapat dianggap sebagai solusi atas masalah-masalah modernitas.
Akan tetapi, ada juga pandangan bahwa hal itu bukan hanya masalah pemaknaan religius semata. Rusaknya moral bukanlah masalah internal subjek manusia, melainkan subjektifitas itu juga harus dipahami sebagai bagian dari kehidupan material secara umum. Dalam hal ini, hilangnya subjektifitas bukan semata disebabkan dari dalam dirinya, melainkan oleh kondisi lingkungan social yang membentuk subjek tersebut-yang bahkan menjadikan manusia sebagai objek eksploitasi. Sebagai contoh, munculnya masalah kemanusiaan dan rusakanya karakter dan kepribadian manusia bukan semata tanggung jawab manusia secara individu, melainkan lebih banyak dibentuk oleh kondisi soasial yang ada. Maka, pendidikan karakter yang di tawarkan untuk mengatasi masalah manusia tidak cukup hanya dengan mengisinya dengan moral agama, tetapi juga diisi dengan penyadaran akan realitas dan mengaktifkan potensi gerakan manusia untuk mengatasi realitas yang ternyata membelenggunya dan menurunkan karakter kemanusiaannya.
4. Pendidikan Karakter di Indonesia
Di Indonesia akhir-akhir ini menjadi isu yang sangat hangat sejak Pendidikan Karakter dicanangkan oleh pemerintahan Susilo Bambang yudoyono (SBY) dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional, pada 2 Mei 2010. Tekad pemerintah untuk menjadikan pengembangan karakter dan budaya bangsa sebagai bagian yag tak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional harus didukung secara serius. Akan tetapi, kita juga masih belum tahu bagaimana keseriusan pemerintah untuk melakukan kebijakan pendidikan nasional untuk mendukung program itu.Tentunya, karakter bangsa hanya semata dapat dibentuk dari program pendidikan atau proses pembelajaran didalam kelas. Akan tetapi, kalau memang pendidikan bermaksud serius untuk membentuk kerakter generasi bangsa, ada bayak hal yang harus dilakukan, butuh penyadaran terhadap para pendidik dan pelaksana kebijakan pendidikan.
karakter generasi muda khususnya. Artinya, karakter yang menyangkut cara pandang dan kebiasaan siswa, remaja, dan kaum muda secara umum hanya sedikit sekali yang dibentuk dalam ruang kelas atau sekolah, tetapi lebih banyak dibentuk oleh proses sosial yang juga tak dapat dilepaskan dari proses bentukan ideologi dari tatanan material-ekonomi yang sedang berjalan.
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, pendidikan tidak akan efektif, demikian tulisan Suyanto pendidikan karakter tidak cukup dengan pengetahuan lantas melakukan tindakan yang sesuai dengan pengetahuan saja. Hal ini karena pendidikan karakter terkait erat dengan nilai dan norma. Oleh kerena itu, harus juga melibatkan aspek perasaan. Bila memperhatikan pelaksanaan dari pendidikan di Indonesia pada akhir-akhir ini yang tampak sangat mementingkan kecerdasan intelektual, kita semakin memahami manakah sesunggunya masalahnya, mengapa saat ini negeri ini membutuhkan pendidikan karakter.
Pelaksanaan pendidikan yang tidak seimbang, yang lebih mengutamakan kecerdasan intelektual sebagaimana diataslah yang akhirnya memunculkan banyak perilaku buruk dari orang-orang terdidik.
Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas Sistimatika tentang Penanaman 18 Pilar Karakter Pedoman Untuk Sekolah oleh N.A. Suprawoto adalah sebagai berikut : religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat / komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social, dan tanggung jawab.
Ke-18 pilar karakter sebagaimana di atas hendaknya diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan yang holistic. Apabila Sembilan pilar karakter tersebut benar-benar dipahami, dirasakan kebaikan dan perlunya dalam kehidupan, dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, inilah sesungguhnya pendidikan karakter yang diharapkan.
Fudyartanta (1995) menyatakan bahwa pendidikan budi pekerti adalah pendidikan watak, pendidika akhlak, pendidikan kepribadiaan. Pendidikan budi pekerti yaitu penanaman nilai-nilai baik dan luhur kepada jiwa manusia.
Konsep Nilai Budaya Masyarakat Lokal
Kebudayaan merupakan aspek ekspresi simbolik perilaku manusia, yang mempengaruhi aspek kehidupan sehari-hari. Kebudayaanlah yang membentuk manusia dan manusia juga yang mewujudkan budaya dengan menunjuk pada sifat interaktif dari keunggulan individual dalam mewujudkan budaya itu, ( Kitani dan Kirby, 1986 ). Kebudayaan merupakan seperangkat penciptaan, penertiban dan pengolahan nilai-nilai insani ( Backer, 1984 ). Artinya kebudayaan adalah hasil dari pengolahan nila-nilai insani yang diekspresikan kepada manusia lain. Ekspresi itu berupa suatu simbol kemanusiaan yang dihasilknnya dari alam dan nilai-nilai itu dikembangkan sebagai spiritual ( Piotr Sztompka, 2005:150 ).
Konsep sistem budaya suatu masyrakat para antropolog selalu menggunakan lima orientasi nilai budaya, yaitu : (1) konsepsi manusi tentang hidup, (2) konsepsi manusia tentang karya, (3) konsepsi manusi tentang waktu, (4) konsepsi manusi tentang alam, (5) konsepsi manusi tentang hubungan manusia sesama manusia (Soejono, 1990 : 49).