KEANEKARAGAMAN MIKROBA TANAH DI TAMAN WISATA ALAM CAMPLONG DESA CAMPLONG II KECAMATAN FATULEU
KABUPATEN KUPANG.
Proposal Penelitian
OLEH
NAMA : EWINDA I FENI
NIM : 13150093
SEMESTER/KELAS : VII /C
.
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KRISTEN ARTHA WACANA
KUPANG
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Indonesia merupakan negara yang terletak di daerah tropis dengan kelimpahan keanekaragaman hayati berupa keanekaragaman flora, fauna dan mikroorganisme. Keberadaan mikroorganisme di alam sangat luas meliputi daratan atau tanah, perairan dan udara. Jenis- jenis mikroorganisme meliputi protista (alga, protozoa), monera (bakteri, cyanobakteria) dan fungi (jamur benang dan khamir). Sehingga di kategorikan menjadi salah satu negara “Mega Biodiversity” setelah Brazil dan Madagaskar. Diperkirakan 25% aneka spesies dunia berada di Indonesia, yang mana dari setiap jenis tersebut terdiri dari ribuan plasma nutfah dalam kombinasi yang cukup unik sehingga terdapat aneka gen dalam individu. Secara total keanekaragaman hayati di Indonesia adalah sebesar 325.350 jenis flora dan fauna Keanekaragaman adalah variabilitas antar makhluk hidup dari semua sumber daya, termasuk di daratan, ekosistem-ekosistem perairan, dan komplek ekologis termasuk juga keanekaragaman dalam spesies di antara spesies dan ekosistemnya. Sepuluh persen dari ekosistem alam berupa suaka alam, suaka margasatwa,taman nasional, hutan lindung, dan sebagian lagi bagi kepentingan pembudidayaan plasma nutfah, dialokasikan sebagai kawasan yang dapat memberi perlindungan bagi keanekaragaman hayati (Arief, 2001).
yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Salah satu sifat dari Hutan alam menurut Wiharanto (2003) adalah besarnya volume biomasa tumbuhan persatuan luas sehingga memberi kesan produktivitas yang sangat tinggi dan lahan yang sangat subur akan tetapi tanah hutan didaerah tropis tidaklah terlalu subur. Oleh karena itu seberapa besar peranan Mikroorganisme di tanah Hutan alam didalam perkembangan hutan alam yang perlu di kaji.
Tanah merupakan suatu system terpadu yang saling terkait dalam berbagai kondisi fisik , kimia serta proses biologi yang secara nyata di pengaruhi oleh factor lingkungan (Rai at el., 2010). Tanah juga dapat dipandang sebagai suatu kesatuan kehidupan daripada hanya suatu tubuh tanah saja. Komponen organik tanah mengandung semua bentuk kehidupan dalam tanah dan yang sudah mati maupun yang sedang mengalami proses dekomposisi (Loreau et al, 2001).
Keberadaan mikroba di dalam tanah memainkan peranan penting pada siklus biogeokimia dan sangat responsif untuk daur ulang senyawa organik. Mikroba tanah mempengaruhi kondisi ekosistem di dalam tanah oleh kontribusinya dalam penyediaan nutrisi tanaman (Timonen et al, 1996), kesehatan tanaman (Fillion, et al.,1999), struktur tanah (Dodd, et al., 2000) dan kesuburan tanah (Yao, et al., 2000 dan O’Donnell et al., 2001). Kriteria kesuburan tanah
biologis tanah, karena substansinya bersifat hidup, dinamis dan dapat mengalami perubahan pada ruang dan waktu. Sifat dinamis pada status biologis tanah ini memberikan peluang besar dalam pengelolaannya. Status biologis tanah dapat memberikan peringatan dini adanya degradasi tanah dan menentukan kesehatan tanah , sehingga memungkinkan untuk menerapkan praktek-praktek pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan (Loreau et al, 2001). Aspek biologis tanah sangat kompleks dan membutuhkan pemahaman yang lebih baik, karena belum banyaknya informasi tentang jumlah dan keanekaragaman mikroba tanah,serta bagaimana tingkat aktivitasnya dalam mempertahankan kesehatan tanah agar tetap subur dan produktif .
Berdasarkan latar belakang diatas maka perlu di lakukan dan di kembangkan penelitian mengenai KEANEKARAGAMAN MIKROBA TANAH DI TAMAN WISATA ALAM CAMPLONG DESA CAMPLONG II KECAMATAN FATULEU KABUPATEN KUPANG.
1.2 Fokus Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan diatas dapat dirumuskan masalah dari penelitian ini yakni:
Masih terbatasnya informasi tentang Tingkat keanekaragaman Mikroorganisme tanah yang berada di Nusa tenggara Timur.
1.3Pertanyaan Penelitian
Dari rumusan masalah dapat di tuliskan pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. Bagaimana tingkat keragaman Mikroba Tanah di taman wisata alam
Camplong Desa Camplong II Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang . 2. Bagaimana kondisi kesehatan Tanah di taman wisata alam Camplong Desa
1.4Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah
1. untuk mengetahui Tingkat keragaman Mikroba Tanah di taman wisata alam Camplong Desa Camplong II Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang .
2. untuk megetahui Kondisi Kesehatan Tanah (Suppressive/Condvare) di taman wisata alam Camplong Desa Camplong II Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang.
1.5 Manfaat Penelitian a. Manfaat Praktis
1. Dapat memberikan input bagi pihak pengelolah Taman mengenai Keragaman Mikroba Tanah di taman wisata Alam Camplong Desa Camplong II Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang. 2. Dapat memberikan sumbangan dalam meminimalkan bagaiman upaya Pemerintah dalam upaya rehabilitasi kawasan Taman
Wisata Alam Camplong Desa Camplong II Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang.
b. Manfaat Akademis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1Taman Wisata Alam
a. Konsep Taman Wisata Alam
Taman wisata alam yaitu hutan wisata yang mempunyai berbagai keindahan alam, baik keindahan flora dan fauna maupun keindahan alam itu sendiri yang mana memiliki keunikan corak untuk kepentingan rekreasi dan kebudayaan. Taman wisata alam juga dapat di definisikan sebagai suatu kawasan hutan yang tidak hanya digunakan sebagai suatu kawasan konservasi tetapi juga dimanfaatkan sebagai potensi wisata dan rekreasi alam. Potensi wisata adalah berbagai sumber daya yang terdapat di sebuah daerah tertentu yang bisa dikembangkan menjadi daya tarik wisata. Dengan kata lain, potensi wisata adalah berbagai sumber daya yang dimiliki oleh suatu tempat dan dapat dikembangkan menjadi suatu atraksi wisata (tourist attraction) yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi dengan tetap memperhatikan aspek-aspek lainnya (Pendit, 2003 Daya tarik atau atraksi wisata menurut Yoeti (1996) adalah segala sesuatu yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung pada suatu daerah tujuan wisata, seperti:
1. Alam (Nature), yaitu segala sesuatu yang berasal dari alam yang dimanfaatkan dan diusahakan di tempat objek wisata yang dapat dinikmati dan memberikan kepuasan kepada wisatawan. Contohnya, pemandangan alam, pegunungan, flora dan fauna.
2. Budaya (Culture), yaitu segala sesuatu yang berupa daya tarik yang
berasal dari seni dan kreasi manusia. Contohnya, upacara keagamaan, upacara adat dan tarian tradisional.
karya manusia, dan dapat dijadikan sebagai objek wisata seperti benda-benda sejarah, kebudayaan, religi serta tata cara manusia.
4. Manusia (Human being), yaitu segala sesuatu dari aktivitas manusia yang khas dan mempunyai daya tarik tersendiri yang dapat dijadikan sebagi objek wisata. Contohnya, Suku Asmat di Irian Jaya dengan cara hidup mereka yang masih primitife dan memiliki keunikan tersendiri
Meskipun digunakan sebagai tempat wisata, pengelolaannya tidak boleh bertentangan dengan prinsip pelestarian dan perlindungan alam. Hal tersebut di karenakan kawasan konservasi memiliki keanekaragaman hayati yang di huni oleh berbagai flora dan fauna langka yang harus di lestarikan keberadaannya flora dan fauna yang dilindungi di Indonesia. Keragaman ekosistem tersebut menjadikan taman wisata alam tak hanya di hutan, tetapi wisatawan juga dapat melihat keindahan ekosistem lain seperti ekosistem danau dan ekosistem padang rumput. Taman wisata alam tidak hanya berasa di daratan, tetapi ada juga yang di laut. Misalnya taman bawah laut yang memiliki keindahan pemandangan laut berupa keindahan terumbu karang dan ikan- ikan hias.
b. Manfaat Taman Wisata Alam
Jenis hutan yang berbeda tentu mempunyai manfaat yang berbeda pula. Begitu juga dengan hutan konservasi yang digunakanuntuk hutanwisata. Keberadaannya membawa banyak manfaat, tak hanya untuk manusia tetapi juga untuk alamitu sendiri. Berikut adalah penjelasan manfaat taman wisata alam.
1. Tempat rekreasi dan wisata alam
Kementrian Kehutanan bahwa salah satu tujuan ditetapkannya hutan konservasi adalah untuk kegiatan wisata alam.Wisata alam di hutan berbeda dengan tempat wisata lainnya. Hutan membuat pengunjung lebih dekat dengan alam. Anak- anak juga bisa berkenalan dengan alam dan membiasakan sejak dini untuk menjaga alam. Udara sejuk di alam akan membuat wisatawan lebih relaks dan melepas penat karena aktivitas rutin sehari- hari. Bagi penyuka fotografi tempat rekreasi ini juga mempunyai banyak objek foto yang bagus untuk dinikmati.
2. Sebagai sarana edukasi
Taman wisata alam merupakan tempat yang sesuai untuk proses pembelajaran bagi semua umur. Selain belajar tentang alam, disini juga di adakan kegiatan outbond yang melatih kerjasama, kebersamaan, kepemimpinan dan soft skill lain yang di butuhkan manusia sebagai makluk social. Jika kegiatan tersebut di lakukan oleh sebuah keluarga maka akan mempererat rasa memilik dan kekeluargaan antar anggota keluarga.
3. Sebagai sarana penelitian
Banyak peneliti yang memanfaatkan alam sebagai laboratorium, atau di sebut juga laboratorium alami. Hal tersebut karena alam sudah menyediahkan sarana yang lengkap untuk di teliti. Para ahli di bidangnya berlomba- lomba untuk meneliti alam agar bisa di kembangkan manfaatnya contohnya kegiatan yang di kemas dalam wisata adalah dokumentasi kawasan wisata alam, widya wisata dan karya wisata.
Taman wisata alam biasanya juga di huni oleh suku asli daerah di man ataman itu berada. Adat dan budaya yang mereka miliki menjadi hal baru yang menarik bagi wisatawan. Masyarakat di sana juga mempunyai ritual- ritual budaya yang melibatkan alam. Begitulah manfaat taman wisata alam. Selain menarik wisatawan local maupun mencanegara, taman wisata juga memperkaya khasanah budaya nasional.
2.2 Mikroorganisme Tanah
Secara ekologis tanah tersusun oleh tiga kelompok material, yaitu material hidup (faktor biotik) berupa biota (jasad hayati), fator abiotik berupa bahan organik dan faktor abiotik pasir (sand), debu (silt) dan liat (clay). Kesuburan tanah tidak hanya bergantung pada komposisi kimiawinya melainkan juga pada ciri alami mikroorganisme yang menghuninya. Mikroorganisme yang menghuni tanah dapat dikelompokkan menjadi bakteri, aktinomysetes, jamur, alga, dan protozoa (Rao, 1990). Setiap tanah mempunyai populasi organisme yang berbeda. Berbagai populasi dan habitat dalam tanah bersama sama membentuk ekosistem. Dalam suatu ekosistem tanah, berbagai mikroba hidup, bertahan hidup, dan berkompetisi dalam memperoleh ruang, oksigen, air, hara, dan kebutuhan hidup lainnya, baik secara simbiotik maupun nonsimbiotik sehingga menimbulkan berbagai bentuk interaksi antar mikroba (Yulipriyanto, 2010).
atau pribumi pada tanah tertentu, selalu hidup dan berkembang di tanah tersebut dan atau selalu diperkirakan ada ditemukan di dalam tanah tersebut. 2) Mikroba zimogenik: golongan mikroba yang berkembang di bawah pengaruh perlakuan perlakuan khusus pada tanah, seperti penambahan bahan bahan organik, pemupukan. 3) Mikroba transient (penetap sementara): terdiri dari organisme organisme yang ditambahkan ke dalam tanah, secara disengaja seperti dengan inokulasi leguminosa, atau yang tidak secara disengaja seperti dalam kasus unsur unsur penghasil penyakit tanaman dan hewan, organisme ini kemungkinan akan segera mati atau bertahan untuk sementara waktu setelah berada di dalam tanah (Campbel et al, 2003).
Bahan organik tanah berasal dari sisa-sisa tanaman dan hewan yang mengalami proses perombakan, selama proses perombakan ini berbagai jasad hayati tanah baik yang menggunakan tanah sebagai liangnya ataupun yang hidup dan beraktifitas di dalam tanah, memainkan peran penting dalam perubahan bahan organik dari bentuk segar (termasuk juga sel sel jasad mikro yang mati) hingga terurai menjadi senyawa senyawa sederhana yang tersedian bagi tanaman (Yulipriyanto, 2010).
a. Bakteri
kompleks yang disebut mukopeptide, yang memberikan kekuatan pada struktur selnya (Setiawati et al, 2010).
- Struktur Sel Bakteri
Menurut Campbel et al (2003), struktur bakteri terbagi menjadi dua yaitu struktur dasar yang hampir dimiliki semua jenis bakteri dan struktur tambahan yang
dimiliki beberapa jenis bakteri tertentu. Struktur dasar bakteri terdiri dari 1) dinding sel, yang tersusun dari peptidoglikan, 2) membran plasma, yang tersusun atas lapisan fosfolipid dan protein, dan 3) sitoplasma yang merupakan cairan sel. Struktur tambahan diluar dinding sel yang mungkin dapat dilihat adalah flagela, pili, dan kapsul.
b. Jamur
Berdasarkan bentuknya dibedakan pula menjadi dua macam hifa, yaitu hifa tidak bersepta dan hifa bersepta. Hifa yang tidak bersepta merupakan ciri jamur yang termasuk Phycomycetes (Jamur tingkat rendah). Hifa ini merupakan sel yang memanjang, bercabang-cabang, terdiri atas sitoplasma dengan banyak inti (soenositik). Hifa yang bersepta merupakan ciri dari jamur tingkat tinggi, atau yang termasuk Eumycetesi (Sumarsih, 2003).
- Cara hidup dan habitat jamur
Semua jenis jamur bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur tidak memangsa dan mencernakan makanan. Untuk memperoleh makanan, jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh karena jamur merupakan konsumen maka jamur bergantung pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Semua zat itu diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof, (menurut sumarsih 2003) jamur mempunyai 3 sifat sebagai berikut :
1. Parasit obligat
Merupakan sifat jamur yang hanya dapat hidup pada inangnya, sedangkan di luar inangnya tidak dapat hidup. Misalnya, Pneumonia carinii (khamir yang menginfeksi paru-paru penderita AIDS).
2. Parasit fakultatif
Merupakan jamur pelapuk dan pengubah susunan zat organik yang mati. Jamur saprofit menyerap makanannya dari organisme yang telah mati seperti kayu tumbang dan buah jatuh. Sebagian besar jamur saprofit mengeluarkan enzim hidrolase pada substrat makanan untuk mendekomposisi molekul kompleks menjadi molekul sederhana sehingga mudah diserap oleh hifa. Selain itu, hifa dapat juga langsung menyerap bahan-bahan organik dalam bentuk sederhana yang dikeluarkan oleh inangnya.
Jamur yang hidup di air biasanya bersifat parasit atau saprofit, dan kebanyakan dari kelas Oomycetes.
2.3 Populasi Mikroorganisme Tanah
temukan pada permukaan tanah karena bahan organik lebih tersedia. Oleh karena itu mikroorganisme lebih banyak berada pada lapisan tanah karena itu mikroorgansme lebih banyak mikroorganisme tanah lebih banyak di temukan pada permukaan tanah karena bahan organik lebih tersedia. Oleh karena itu mikroorganisme lebih banyak berada pada lapisan tanah yang paling atas (Alexander,1977).
2.4 Kesehatan Tanah
Tanah adalah benda alami heterogen yang terdiri atas komponen-komponen padat, cair dan gas serta mempunyai sifat dan perilaku yang dinamik (Arsyad, 2000). Pada komponen tersebut selain terdiri dari komponen mati (abiotik) terdapat juga bagian yang hidup (biotik) berupa organisme tanah yang menjalin suatu sistem hubungan timbal balik antar berbagai komponen sebagai suatu ekosistem yang cukup kompleks. Hubungan antara beberapa sifat tanah abiotik dan fungsi ekosistem dapat dijadikan sebagai fungsi yang berhubungan langsung terhadap produksi tanaman dan erosi tanah. Oleh karenanya praktek pengelolaan tanah untuk abad 21 ini harus diformulasikan berdasarkan suatu pemahaman dari konsep ekosistem (Herrick (2000). Istilah kesehatan tanah atau kualitas tanah yang diaplikasikan pada agroekosistem menunjuk kepada kemampuan tanah untuk mendukung secara terus-menerus pertumbuhan tanaman pada kualitas lingkungan yang terjaga (Magdoff, 2001).
Menurut The Soil Science Society of Amerika, yang dimaksud dengan Kualitas Tanah (soil quality) adalah kapasitas dari suatu jenis tanah yang spesifik untuk berfungsi di alam atau dalam batas ekosisten terkelola, untuk mendukung produktivitas biologi, memelihara kualitas lingkungan dan mendorong kesehatan hewan dan tumbuhan (Herrick, 2000).
dengan kualitas tanah adalah kemampuan tanah untuk berfungsi dalam batas-batas ekosistem yang sesuai untuk produktivitas biologis, mampu memelihara kualitas lingkungan dan mendorong tanaman dan hewan menjadi sehat (Magdoff, 2001).
Secara lebih terinci, Doran dan Safley (1997) mendefinisikan kualitas tanah sebagai kecocokan sifat fisik, kimia dan biologi yang bersama-sama (1) menyediakan suatu medium untuk pertumbuhan tanaman dan aktivitas biologi, (2) mengatur dan memilah aliran air dan penyimpanan di lingkungan serta (3) berperan sebagai suatu penyangga lingkungan dalam pembentukan dan pengrusakan senyawa-senyawa yang meracuni lingkungan.Tanah disebut berkualitas tinggi bila memiliki sifat-sifat sebagai berikut: (1) cukup tapi tidak berlebih dalam mensuplai hara (2) memiliki struktur yang baik (3) memiliki kedalaman lapisan yang cukup untuk perakaran dan drainase (4) memiliki drainase internal yang baik (5) populasi penyakit dan parasit rendah (6) populasi organisme yang mendorong pertumbuhan tinggi (7) Tekanan tanaman pengganggu (gulma) rendah (8) tidak mengandung senyawa kimia yang beracun untuk tanaman (9) tahan terhadap kerusakan dan (10) elastis dalam mengikuti suatu proses degradasi (Magdof, 2001).
Selain istilah kualitas tanah, dikenal juga istilah kesehatan tanah. Terdapat berbagai definisi tentang kesehatan tanah, bahkan sering dicampur-adukkan dengan kualitas tanah. Menurut Elliott (1997) sehat berarti bebas dari penyakit dan mampu berfungsi secara normal. Jadi Tanah yang sehat (healthy soil) adalah tanah yang mampu memberikan daya guna (performance) dan fungsi intrinsik dan ekstrinsik (Madoff, 2001).
Ciri-ciri tanah yang sehat adalah : (1) populasi organismenya beragam dan aktip (2) memiliki dalam jumlah tinggi residu yang relatip segar sebagai sumber makanan organisme.dan (3) memiliki dalam jumlah tinggi bahan organik yang terhumifikasi untuk mengikat air dan muatan negatip untuk pertukaran kation (Magdoff, 2001).
Aspek lain dari tanah yang sehat adalah kondisi fisiknya yaitu tingkat kepadatan, jumlah air tersimpan dan drainase. Kondisi fisik tanah terutama mempengaruhi bahan organik karena polisakarida dan poliuronida selama proses dekomposisi mendorong pembentukan agregat tanah. Disamping itu sekresi dari fungi mikoriza juga penting dalam mendorong agregasi tanah (Magdoff, 2001). Jumlah hara tersedia, pH, kandungan garam dan lain lain juga penting dalam menentukan tanah yang sehat. Tanaman dapat tertekan pertumbuhannya akibat rendahnya jumlah hara, tingginya senyawa yang bersifat meracun seperti Al atau tingginya konsentrasi garam (Magdoff, 2001). Kesemua aspek biologi, kimia dan fisika saling berinteraksi dan memberikan pengaruh satu dengan lainnya.
Tampaknya cukup banyak pengertian tentang kualitas tanah dan kesehatan tanah, namun istilah kualitas tanah umumnya akan diasosiasikan dengan tanah sebagai suatu kecocokan untuk suatu penggunaan yang spesifik, sedang kesehatan tanah digunakan secara lebih luas untuk menunjukkan kapasitas tanah terhadap fungsinya sebagai sistem hidup yang vital untuk produktivitas biologi secara terus menerus, mendorong kualitas lingkungan dan memelihara kesehatan tanaman dan hewan. Dalam pengertian tersebut kesehatan tanah sinonim dengan kesesuaian (sustainability). Menurut Wander dan Drinkwater (2000) kualitas tanah bukan suatu teknologi yang dapat dibeli tetapi suatu konsep yang dapat digunakan untuk membuat keputusan dalam pengelolaan lahan.
atau terungkapnya unsur atau senyawa yang meracun bagi tanaman dan (3) penjenuhan tanah oleh air dan (4) erosi (Arsyad, 2000) dan manusia berperan dalam menurunkan mutu lahan seluas hampir 40 % dari lahan pertanian di dunia melalui erosi tanah, polusi atmosfir, pengolahan tanah intensip, pengembalaan ternak yang berlebihan (over grazing), pembukaan lahan, salinisasi dan penggurunan (Oldeman, 1994 dalam Doran dan Zeiss, 2000). Dan saat ini penambahan lahan untuk meningkatkan produksi umumnya adalah pada lahan dengan kualitas yang lebih rendah dan dengan resiko untuk terdegradasi yang lebih besar dibandingkan dengan lahan yang saat ini digunakan (Sherwood dan Uphoff, 2000).
Untuk mengekspresikan kualitas tanah, berbagai indikator yang berbeda telah digunakan baik parameter yang bersifat statis seperti kerapatan ruang (bulk dencity), porositas dan kandungan bahan organik, ataupun yang bersifat dinamis menggunakan model simulasi. Kerapatan ruang atau porositas bukan kriteria yang dapat dipercaya untuk membedakan pengaruh penggunaan lahan yang berbeda dalam jangka panjang, tetapi bahan organik tanah merupakan parameter yang relatip stabil yang menggambarkan pengaruh pengelolaan dan tipe tanaman pada periode yang cukup lama dan ini secara essensial penting untuk kualitas tanah (Pulleman et. al., 2000). Penilaian kualitas dan kesehatan tanah melalui pengukuran sifat fisik dan kimia seperti kelembaban tanah, kemantapan agregat, kepadatan tanah, jumlah air tersimpan, hara tersedia, sifat meracun Al dan lain sebagainya tersebut seringkali memiliki kelemahan-kelemahan antara lain karena diukur oleh peralatan dan ekstraktan kimia yang diasumsikan memiliki kemampuan kerja yang hampir sama dengan kemampuan kerja akar tanaman atau organisme lain dan hanya menggambarkan kondisi pada saat tersebut. Oleh sebab itu pemanfaatan mikrobia sebagai indikator atau alat ukur kondisi tanah sudah seharusnya dikembangkan sebagai salah satu pilihan. Sebagaimana dikatakan Jaenicke (1998 dalam Herrick, 2000) bahwa terdapat hubungan sebab akibat antara kualitas tanah dan fungsi
BAB III METODE PENELITIAN
3.1Tempat Dan Waktu Penelitian a. Lokasi pengambilan Sampel
Pengambilan sampel di lakukan pada bulan Mei 2017 sampai selesai dan proses pengambilan sampel di enam titik sampling di sekitar kawasan Taman Wisata Alam Camplong desa Camplong II kecamatan Fatuleu kabupaten Kupang terletak didaratan pulau timor 45 kilometer sebelah barat laut Kota Kupang, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur. (lampiran 1)
b. Lokasi Penelitian Sampel
3.2Alat Dan Bahan a. Alat
b. Bahan
Bahan- bahan yang di gunakan untuk penelitian ini meliputi: 1. Sample tanah
2. Air steril
3. Medium PDA dan NA 4. Alkohol 95%
3.3 Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini yaitu :
a. Pengambilan Sampel
1. Sampel tanah di ambil secara acak pada enam titik di sekitar taman wisata alam camplong . sampel tanah diambil dengan mengali tanah pada kedalaman 0-10 cm dan di ambil sebanyak∓ 0.3 Kg . Tanah dmasukan kedalam plastic hitam (polybag) berukuran 1Kg dan selanjutnya diletakkan di dalam ice box untuk di bawa ke laboratorium.
2. Sebelum melakukan percobaan di ruangan semua peralatan yang digunakan harus dalam keadaan bersih dan disterilkan terlebih dahulu dengan autoclave pada suhu 121 ºC dengan tekanan 1 atm selama 1 jam. b. Penangan sampel tanah.
Penanganan sampel tanah dilakukan di laboratorium dengan teknik pengisolasian tidak langsung yaitu dengan mengunakan metode pengenceran sampel padat.
c. Persiapan Bahan
3.3Cara Kerja
Adapun teknik atau cara kerja pengisolasian mikroba tanah yang terdapat pada sedimen di lakukan dengan tahapan kerja sebagai berikut :
a. Isolasi dan Enumerasi Mikroba Tanah
1. Ambil 10 gram sampel tanah ditimbang dan dimasukan kedalam 9 ml akuades
steril (pengenceran − ) , kemudian vorteks hingga homogen (sediaan I).
2. Selanjutnya ambil 10 gram sampel tanah ditimbang dan dimasukan kedalam 9 ml akuades steril (pengenceran − ) , kemudian vorteks hingga homogen (sediaan II).
3. Selanjutnya dengan langkah yang sama dilakukan proses pengenceran berikutnya
hingga diperoleh pengenceran − ) sediaan III.
4. Selanjutnya sebanyak 100 µl sediaan II dan sediaan III di tuang atau disebar pada media Rose Bengal Cloramphenicol Agar(RBCA) dan masing-masing sebanyak tiga ulangan .
5. Kemudian Kultur diinkubasi pada suhu ruang selama 3-7 hari. Jumlah koloni mikroba yang tumbuh di hitung rerata koloninya (CFU)/ml dan di pilih untuk di isolasi dan di transfer kedalam media Potato Dextrose Agar (PDA).
b. Pemurnian koloni mikroba Tanah
1. Koloni mikroba yang tumbuh selama proses isolasi, di murnikan dengan propagasi koloni yaitu memotong dan mentranfer secara asptik sebagian miselium mikroba kedalam media kultur baru.
3. Koloni yang telah murni dan tumbuh dengan baik selanjutnya dipilih dan di tanam kembali dalam tabung reaksi berisi agar miring (slant) sebanyak dua ulangan.
4. Isolate Mikroba tanah yang telah murni kemudian di amati secara makroskopis maupun mikroskopis untuk proses identifikasi.
5. Selanjutnya koloni mikroba disimpan pada suhu - C dengan mengunakan
larutan gliserol 10% v/v dan 5 %(w/v) thehalose sebagai cryoprotectant dimana sebelumnya di inkubasi dalam pendingin pada suhu 4 C selama satu jam.
3.4Metode Analisis
Metode analisis mengunakan metode pengenceran sampel padat kemudian identifikasi mikroba berdasarkan panduaan Barnet [ ] , Ellis [ ] , Domsch et.al
[ ] ,Webster [ ] , Samson [ ] , Barnet and Hunter[ ] ,Gandra , [ ] , .
identifikasi mikroba dengan mengamati beberapa karakter morfologi baik secara mikroskopis maupun makroskopis secara makroskopis karakter yang diamati meliputi :warna dan permukaan koloni, Tekstur, Zonasi , Daerah Tumbuh, garis-garis radial dan konsentris, warna balik koloni, tetes eksudat(exudes drops) .
3.5 Teknik Analisis Data
DAFTAR PUSTAKA
Prihastuti.2011. Struktur Komunitas Mikroba Tanah dan Implikasi Dalam Mewujudkan
Sistem Pertanian Berkelanjutkan. Malang : jurnal Struktur Komunitas Tanah.
EL-Hayah Vol.1, No.4 Maret 2011.
Ilyas Muhammad . Kelimpahan Dan Keragaman Mikroflora Saprofitik Pada Sampel
Tanah Di Kawasan Gunung Bromo Probolinggo, Jawa Timur. Makalah Seminar
Nasional Mikrobiologi . bidang Mikrobiologi, Pusat penelitian biologi –LIPI.
Gandjar, i., W. Sjamsuridzal, dan A Oetari. 2006. Mikologi dasar dan terapan. Jakarta: