• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asal Mula kota Terbentuknya Negara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Asal Mula kota Terbentuknya Negara"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Masyarakat merupakan kumpulan individu atau manusia yang saling berinteraksi dan hidup serta memiliki tujuan yang sama. Guna mewujudkan keinginan mereka masyarakat membentuk suatu aturan serta wadah yang lebih besar lagi untuk menampung dan merealisasikan cita – cita serta keinginan untuk hidup sejahtera dan damai, sehingga terbentuklah suatu negara. Bagaimanakah asal mula negara itu terbentuk? Dalam pembahasan pada makalah ini akan dibahas teori – teori asal mula terbentuknya negara.

1.2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah diantaranya,

 Siapahkah pemikir atau tokoh – tokoh yang memberikan kontribusi

atau ulasan mengenai teori – teori asal mula negara.

 Apakah yang memperkuat teori dari pemikir – pemikir tersebut.  Mengapa teori yang diutarakan pemikir atau tokoh dapat luntur.  Apa sebab teori yang diutarakan pemikir tersebut dapat ditentang.

1.3. Tujuan dan Manfaat

Adapun tujuan dari makalah ini antara lain,  Menjelaskan teori asal mula negara

 Memberikan pemahaman dari tokoh atau pemikir mengenai asal

mula negara

Adapun manfaat dari makalah ini antara lain,

 Peserta mampu memahami dan mengetahui asal mula negara melalui

(2)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Teori Hukum Abad ke XVII

Ajaran hukum alam memberikan suatu dasar baru bagi tinjauan mengenai pemikiran tentang negara dan hukum, yang didalam sejarah pemikiran tentang negara dan hukum mempunyai kedudukan tersendiri dan penting, serta mempunyai akibat – akibat yang lebih jauh bagi perkembangan ketatanegaraan.

Pada abad ini pemikiran – pemikiran itu hanya bersifat menerima dan menerangkan (konstruktif). Hal itu dikarenakan orang – orang pada jaman itu hanya menerima saja keadaan pada saat itu karena hal itu dianggap benar dan wajar. Beberapa pemikir dalam abad ini memberikan kontribusi dari pemikirannya mengenai hukum dan negara pada segi pendapat serta teori.

2.1.1.GROTIUS (HUGO DE GROOT) (1583 – 1645)

Grotius penah tinggal di negeri Belanda dan pernah mengadakan perjalanan ke Oldaberneveld Prancis 1619. Grotius dijatuhi hukuman seumur hidup karena menganut kaum Remonstran. Akan tetapi Grotius dapat melarikan diri pada 1621. dalam penjara tersebut dia mulai menulis karangan terkenalnya De jure Belliacpacis (hukum perang dan hukum damai) yang kemudian dipersembahkannya kepada Pangeran Louis XIII.

(3)

juga memiliki akal / rasio dan selalu ingin menyingkirkan kepentingan - kepentingan umum.

Dalam percariannya mengenai terbentuknya negara, beliau mengulas teori – teori dari hukum perang dan hukum damai. Ia menyimpulkan bahwa negara yang satu dengan negara yang lainnya itu saling terikat dan saling menghormati hukum negara lain pengikatnya adalah hukum alam.

Menurut Grotius hukum alam itu berasal dari rasio / akal yang terletak pada sanubari manusia (norma) yang tidak pernah salah. [Soehino;2005;96].

Karena manusia itu adalah makhluk sosial, sehingga munculah hasrat untuk bermasyarakat, sehingga terbentuklah masyarakat. Masyarakat yang memiliki rasio atau akal tersebut menginginkan keadilan dan keamanan umum. Tugas tersebut diserahkan kepada Raja dalam suatu perjanjian. Mengapa manusia itu mematuhi perjanjian? Sebabnya ialah hal itu baik dan benar menurut rasio.

2.1.2.

THOMAS HOBBES (1588 – 1679)

Thomas Hobbes adalah ahli pemikir besar tentang negara dan hukum dari Inggris. Beliau hidup dalam masa sistem pemerintahan absolut dibawah kekuasaan Charles I dan Charles II di Inggris.

Pada pendapatnya Thomas Hobbes menyatakan bahwa pada mulanya manusia itu bersifat alamiah / in abstracto sebelum adanya negara, menurut Hobbes kesenangan manusia adalah untuk menguasai sesuatu. Akibatnya manusia itu menyerang manusia lain sampai – sampai membunuh orang tersebut. Homo Homini Lupus

(4)

Sebab dari hal tersebut karena manusia memiliki sifat yaitu : Competitio : Bersaing untuk mendapatkan keinginannya. Defentio : Mempertahankan kepentingan dan keinginannya. Gloria : Keinginan mencapai kejayaan atau kebahagiaan. [Soehino;2005;99]

Manusia / orang mengadakan perjanjian perdamaian untuk terciptanya perdamaian dari ketiga sifat tersebut. Perjanjian itu bersifat langsung, artinya orang –orang yang menyelenggarakan perjanjian itu langsung menyerahkan / melepaskan haknya atau kemerdekaannya kepada Raja. Jadi tidak melalui masyarakat dan Raja berada diluar perjanjian dan mempunyai sifat yang absolut. Oleh karena itu Raja sebagai pihak penengah atas perjanjian tadi berhak melakukan apa saja untuk kebaikan bahkan boleh membunuh orang jika itu untuk terciptanya sebuah perdamaian.

2.1.3.

BENEDICTUS DE SPINOZH (1632 – 1677)

Benedictus de Spinoza adalah seorang sarjana Belanda. Dalam bukunya menurut Benedictus de Spinoza negara dan hukum yang terpenting adalah etika yang disusun geometris dan traktat teologis politik.[Soehino;2005;104]

Menurutnya hukum alam itu bukan suatu sollen akan tetapi adalah sein. Jadi dia tidak mengatakan bagaimana manusia itu seharusnya akan tetapi yang dinyatakannya bagaimana orang itu dalam keadaan alam yang sewajarnya.

(5)

dalam perbuatan manusia.[Soehino;2005;104]. Karena ketidakpuasan manusia itu, manusia membuat sebuah negara yang terikat oleh peraturan – peraturan demi perdamaian umum.

Sebagai lembaga penyelenggara perdamaian maka setiap warga negara harus mentaati peraturan dan perundang – undangan meskipun undang – undang itu merugikan. Sehingga kekuatan negara adalah mutlak terhadap warga negaranya.

Bentuk negara yang dipilih Spinoza adalah Aristokrasi, yaitu pemerintahan yang diperintah oleh beberapa orang. Ini lebih baik daripada Monarki yang hanya dipimpin oleh satu orang yang selalu dipenuhi oleh kepentingan pribadi dan selalu turun – temurun. Pemikirannya belum sampai pada demokrasi karena sebelum itu dia telah meninggal.

2.1.4.JOHN LOCKE (

1632 – 1704)

John Locke adalah ahli pemikir besar tentang negara dan hukum dari Inggris. Beliau hidup di bawah kekuasaan pemerintahan Willem III, yang sifat pemerintahannya monarki dan agak terbatas. Menurut John Locke Hukum Alam yaitu mendasar pada keadaan manusia dalam keadaan bebas manusia /alamiyah (inabstracto) namun dalam keadaan tersebut telah ada perdamaian dan akal pikiran seperti pula dalam negara.

Dalam keadaan bebas tersebut manusia sudah memiliki hak – hak alamiah yaitu yang telah dimiliki secara pribadi. Hak – hak itu adalah :

1. Hak akan hidup.

2. Hak kebebasan / kemerdekaan.

3. Hak akan milik, hak akan memeiliki sesuatu. [Soehino;2005;107-108]

(6)

dilaksanakan.Ini sudah menjadi sifat dan watak dari manusia sehingga, dan tidak ada seorangpun yang dapat melepaskan diri dari hal – hal tersebut.

Maka untuk menjamin terlaksananya hak – hak tersebut dengan baik, manusia menyelenggarakan perjanjian masyarakat untuk membentuk masyarakat, dan selanjutnya negara. Dalam perjanjian tersebut orang – orang menyerahkan hak – hak dan alamiahnya kepada seseorang penguasa. Dan kepada penguasa ini kemudian diberikan wewenang untuk menjaga dan menjamin terlaksananya hak –hak asasi tersebut. Tetapi dalam menjalankan tugasnya, kekuasaan penguasa adalah terbatas, yang membatasi kekuasaan adalah hak – hak asasi tersebut. Artinya dalam menjalankan kekuasaannya itu penguasa tidak boleh melanggar hak –hak asasi.

Tujuan dan tugas negara menurut John Locke adalah sebagai berikut,

 Tujuan Negara

Menjamin dan terlaksananya hak –hak asasi manusia  Tugas negara

Melaksanakan hukum alam dan pembuatan dan isi peraturan –peraturan harus juga berdasarkan pada hukum –hukum alam.

Tetapi sementara itu teori tentang hukum alam terus berkembang dikalangan para ahli pemikir besar tentang negara dan hukum, dan akan mencapai puncaknya pada ajaran Immanuel Kant. Karena perkembangan itulah maka hukum alam serta pemikiran tentang negara dan hukum pada abad ke XVIII akan mendapat sifat yang sama sekali berbeda dengan pada abad ke XVII.

2.2. Teori Hukum Alam Abad ke XVIII

(7)

Dari pemikiran dari abad ke XVII yang bersifat menerima dan menerangkan, pada abad ini menjadi memberikan penilaian atau menilai.

2.2.1.FREDERIK YANG AGUNG (1712 – 1786)

Beliau adalah seorang Raja Prusia. Di dalam bukunya yang berjudul Antimachiavelli, Beliau sangat menentang ajaran – ajaran dari Nicolo Machiavelli karena dianggap bahwa teori Machiavelli itu Beranggapan bahwa semua orang itu jahat dan selalu ingin memenuhi hasrat nafsunya. Raja Frederik membantah teori tersebut, sehingga semua buku yang ditulisnya membantah pendapat Nicolo Machivelli. Perbedaan tersebut terjadi karena perbedaan situasi yang ditinggali Machivelli di negara Italia yang pada saat itu terjadi kerusuhan, sedangkan kehidupan di Prusia yang tentram kehidupannya.

2.2.2.MONTESQUIEU (1688 – 1755)

Montesquieu adalah seorang ahli pemikir besar yang pertama di antara ahli – ahli pemikir tentang negara dan hukum dari Perancis. Nama aslinya adalah Charles Secondat, Baron de Labrede et de Montesquieu. Beliau Menggagaskan pembagian kekuasaan yang disebut Trias Politika :

1. Kekuasaan perundang – undangan, legislatif.

2. Kekuasaan melaksanankan pemerintahan, eksekutif. 3. Kekuasaan kehakiman, yudikatif. [Soehino;2005;117]

Pembagian tersebut diutarakan guna menghilangkan kegiatan sewenang – wenang yang dipegang oleh satu orang dengan tujuan juga untuk kemerdekaan politik.

2.2.3. JEAN JAQUES ROUSSEAU (1712 – 1778)

(8)

Lettres ecrites de la Montagne (Surat – surat yang ditulis di gunung – gunung). Dan bukunya yang sangat terkenal diseruh dunia yaitu Contrat Social (Perjanjian Sosial).

Rousseau didalam ajaran filsafatnya memasukkan unsur perasaan sedang pada jaman sebelumnya belum dan hanya disusun secara abstrak – rasional. Beliau menganggap bahwa manusia yang asalnya baik, dan itu telah dirusak oleh peradaban karena ia selalu menganjurkan hal – hal yang baik.

Beliau lebih menekankan pada bagaimanakah terjadinya negara itu / bagaimana manusia yang dalam keadaan alamiah menjadi hidup dalam negara yang penuh dengan peraturan.

Pokok dari sebuah perjanjian masyarakat yaitu untuk menemukan suatu bentuk kesatuan, yang membela dan melindungi kekuasaan bersama disamping kekuasaan pribadi dan milik dari setiap orang, oleh karena itu semuanya dapat bersatu, namun masing – masing orang tetap mematuhi dirinya sendiri, sehingga orang tetap merdeka dan bebas seperti sedia kala. [Soehino;2005;119]. Rousseau tidak mengenal adanya hak – hak alamiah, atau hak – hak dasar, atau hak – hak asasi.

Dengan diselenggarakannya perjanjian masyarakat itu, berarti semua orang melepaskan dan menyerahkan semua haknya kepada Raja, sehingga terbentuklah negara. Namun Beliau juga mengatakan bahwa kekuasaan Raja hanyalah sebuah kekuasaan yang diwakilkan saja, bukan kekuasaan asli. Jadi Raja bukanlah pemilik kekuasaan. Dan kekuasaan tertinggi tetaplah kepada rakyat yang menyelenggarakan perjanjian (Kedaulatan Rakyat).

(9)

 Monarki

Apabila Kekuasaan negara atau kekuasaan pemerintahan itu ada pada seorang raja sebagai wakil dari rakyat.

 Aristokrasi

Apabila kekuasaan negara atau kekuasaan pemerintahan itu ada pada tangan dua orang atau mungkin lebih, dan mereka itu baik sifatnya.

 Demokrasi

Apabila kekuasaan negara atau kekuasaan pemerintahan dipegang itu ada pada rakyat yang juga baik sifat – sifatnya. [Soehino;2005;125]

.

2.2.4.IMMANUEL KANT (1724 – 1804)

Immanuel Kant adalah seorang Nasionalis serta seorang guru besar di Prusia. Pemikirannya mengenai negara dan hukum ditulisnya di sebuah buku, yaitu Metaphysische Anfangsgrunde der Rechtslehre (asas – asas metafysis dari ilmu hukum). Berdasarkan pendapat – pendapat sebelumnya Imanuael Kant mengakui bahwa negara terbentuk karena terjadinya perjanjian dan dibuatlah undang –undang, namun Beliau menambahkan bahwa kepercayaan (Agama) juga penting dalam negara dan dapat menjadi dasar diamping rasio itu sendiri. Sebagaimana Soehino mengutip dari Ibid halaman 212 bahwakarena ada di dalam ajaran filsafatnya Immanuel Kant menentukan batas – batas daripada kemampuan berpikirnya manusia dan menyatakan bahwa ada alam yang tidak dapat ditembus oleh rasio manusia, yaitu alam kepercayaan. Karena itulah Immanuel Kant memberikan tempat lagi untuk agama atau kepercayaan dalam pemikiran manusia atau rasio.

(10)

negara lain serta tidak boleh diganggu gugat. Semua itu demi terwujudnya hak –hak asasi warga negara.

Perju juga adanya badan –badan perwakilan bagi warga negara dan juga partai – partai politik sebagai representatif / wakil bagi rakyat dihadapan pemerintahan.

2.3.

JAMAN BERKEMBANGNYA TEORI KEKUASAAN

2.3.1 F. OPPENHEIMER

Sebagai contoh daripada ajaran teori kekuatan ini misalnya F.Oppenheimer, bukunya Die Sache, Mengatakan bahwa negara itu adalah merupakan suatu alat dari golongan yang kuat untuk melaksanakan suatu tertib masyarakat, yang oleh golongan yang kuat tadi dilaksanakan kepada golongan yang lemah,dengan maksud untuk menyusun dan membela kekuasaan dari golongan yang kuat tadi, terhadap orang-orang baik dari dalam maupun dari luar, terutama dalam sistem ekonomi. Sedangkan tujuan terakhir dari semuanya ini adalah penghisapan ekonomi terhadap golongan yang lemah tadi oleh golongan yang kuat.

2.3.2 KARL MARX

(11)

2.3.3. H.J LASKI

Penganut teori kekuatan lainnya adalah Harold J. Laski, bukunya The State in Theory and Practice. Juga, Pengantar Ilmu Politik. Dia berpendapat bahwa negara itu adalah merupakan suatu alat pemaksa, atu Dwang Organizatie, untuk melaksanakan dan melangsungkan suatu jenis sistem produksi yang stabil, dan pelaksanaan sistem produksi ini semata-mata akann menguntungkan golongan yang kuat, yang berkuasa.1

Artinya, kalau misalnya penguasa itu dari alian kapitalisme, maka organisasi negaa itu tadi selalu akan dipergunakan oleh penguasa untuk melangsungkan sistem ekonomi kapitalis. Sedangkan kalau penguaasa itu dari aliran sosialisme, maka organisasi negara itu akan dipergunkan oleh penguasa tersebut untuk melangsungkan sistem produksi menurut ajaran sosialisme. Jadi teranglah bahwa negara itu hanya sebagai alat dari yang kuat, yang berkuasa, untuk melaksanakan kepentingannya.

(12)

hukuman itu adalah suatu topeng, yang di belakangnya suatu kepentingan yang pertama-tama bersifat ekonomi dapat menjamin bagi dirinya keuntungan dari kekuasaan politik. Dalam tindakan-tindakannya negara itu tidaklah dengan sengaja mencari keadilan dan kemangaatan bagi umum, melainkan kepentingan(dalam arti kata yang seluas-luasnya) dari pada golongna berkuasa dalam masyarakat.

2.3.4. LEON DUGUIT

Dalam bukunya Traite de Dorit Cinstiutionel,Dia tidak mengakui adanya hak subyektif atau kekuasaan, juga menolak ajaran yang mengatakan bahwa negara dan kekuasaan itu adanya atas kegendak Tuhan, ditolaknya juga ajaran perjanjuannya, yang benar dan kebenaran itu bersifat mutlak, adalah bahwa les plu forts, orang yang paling kuat, memaksakan kemauanya kepada orang lain yang dianggapna lemah.

Tiga teori yang menerangkan asal mula negara, hakekat negara, kekuasaan serta penguasa. Ketiga teori itu ialah: teori teokrasi, teori hukum alam dan teori kekuatan atau kekuasaan.Disebut juga teori-teori klasik-tradisional. Karena ajaran dari teori-teori tersebut adanya sudah sejak jaman dahulu kala, dan hingga sekarnag masiih tetap dipelajari.Sebagai kesimpulan adalah bahwa ajaran-ajaran dari ketiga teori tersebut tidak memberikan kepuasan. Kemudian timbullah reaksi-reaksi terhadap ajaran-ajaran dari ketiga teori tersebut yaitu sikap yang tidak menyetujui adanya usaha untuk menyelidiki asal mula negara dan hakekat historis dari pada negara. Mereka mengatakan bahwa seharusnya kita menerima saja negara itu sebagaimana adanya sebagai suatu kenyataan.

Ajaran-ajaran dari ketiga teori klasik tradisional itu tidak memberikan kepuasan.Disebabkan karena masing-masing teori tersebut ada keberatan-keberatan yang bersifat sedemikian rupa sehingga dapat menggagalkan usahanya.

(13)

yang bersifat kepercayaan itu sukar dianalisa lebih lanjut menurut atau berdasarkan rasio. Teori ini tidak dapat memberikan penjelasan,mana dari dua kekuasaan iru yang berasal dari tuhan.

Keberata terhadap teori hukum alam adalah bahwa teori hukum alam itu sifatnya sangat hipotetis, kurang empiris, sering menimbulkan kesimpulan berlainan, malahan dari hipotesa yang sama bila dari pdanya itu ada perubahan sedikit saja sudah menimbulkan kesimpulan yang sangat berbeda.

Keberatan terhadap tori kekuatan adalah bahwa teori ini berpokok pangkal pada manusia inabstracto yaitu manusia sebelum terbentuknya negara, dan menganggap bahwa manusia itu semula jahat dan lemah, serta tidak ada pertimbangan lain untuk bergerak selain pertimbangan ekonomis, nyatanya manusia mempertimbangkan politik, kebudayaan, kepercayaan.Teori ini beranggapan bahwa yang betuk itu hanya negara sendiri, dan negara lah yang berdaulat.

Tetapi kekuatan dalam bentuknya yang modern nampak dalam ajaran teori kedaulatan negara. Dalam perkembangan selanjutnya akan nampak bahawa kedaulatan itu tidak ada pada negara tetapi yang berdaulat adalah hukum. Maka timbul teori kedaulatan hukum.

2.4. TEORI POSITIVISME

(14)

2.4.1. HANS KESLEN

Teori positivisme menyatakan bahwa tak usah mempersoalkan asal mula negara, sifat serta hakekat negara dan sebagainya, karena kita tidak mengalami sendiri. Jadi tanpa menyinggung-nyinggungtentang asal mula negara, sifat serta hakekat negara. Kalau sekarang timbul atau ada negara itu bukanlan merupakan suatu kelahiran yang asli, tetapi hanya merupakan kelahiran kembali suatu negara yang ada pada jaman dahulu. Maka aliran positivism menyatakan, kalau kita akan membicarakan negarakatakanlah negara itu sebagaimana adanya. Tokoh dari aliran ini adalah Hans Kelsen.

Hans kelsen adalah seorang ahli pemikir besar tentang negara dan hukum dari Austria yang kemudian menjadi warga negara Amerika. Bukunya antara lain, Allegemeine Staatslehte, terbit pada tahun 1925, dan Der soziologische und der juristische staatsbegriff terbit pada tahun 1922. Ia mendirikan sekolah wiena.

Pada hakekatnya ajaran Hans Kelsen melangkah lebih jauh. Menurut Hans Kelsen , bahwa ilmu negara itu harus menarik diri atau melepaskan pemikirannya secara prinsipil dari tiap-tiap percobaan untuk menerangkan negara serta bentuk-bentuknya secara kausal atau sebab musabab yang bersifat abstrak. Dan mengalihkan pembicaraannya atau pemikirannya secara yuridis murni. Maka dari itu tiap-tiap negara hanya dapat di pelajari dan di pahami di dalam system hukumnya itu sendiri. Jadinya kata Hans Kelsen : Ilmu hukum tidak perlu lagi mencari dasar negara, kelahiran negara untuknya hanya merupakan suatu kenyataan belaka, yang tidak dapat diterangkan dan ditangkap dalam sebutan yuridis.

(15)

untuk menerangkan tugas pokok tiap ilmu pengetahuan. Kemudian diterangkan oleh Kranenburg secara panjang lebar hubungan antara ilmu negara dan sosiologi.

Selanjutnya Hans Kelsen mengatakan bahwa negara itu sebenarnya merupakansuatu tertib hukum. Tertib hukum yang mana timbul karena diciptakannnya peraturan-peraturan hukum yang menentukan bagaimana orang didalam masyarakat atau negara itu harus bertanggung-jawab terhadap perbuatan-perbuatannya. Peraturan-peraturan hukum tadi sifatnya mengikat; artinya bahwa setiap orang itu harus mentaatinya, dan harus menyesuaikan sikap, tingkah laku dan perbuatannya itu dengan peraturan-peraturan hukum yang berlaku. Malahan orang dapat dipaksakan untuk mentaatinya, karena bila tidak mentaatinya ia dapat dijatuhi sanksi. Jadi sebnarnya negara itu adalah suatu tertib hukum yang memaksa.

Tertib hukum itu terdiri dari suatu rangkaian peraturan-peraturan hukum yang beraneka warna jenisnya, bentuk serta banyak sekali jumlahnya, tetapi semuanya itu berakar dari satu sumber yang disebut norma dasar, maka meskipun peraturan-peraturan hukum tersebut satu sama lain itu berbeda, tapi merupakan sebuah satu kesatuan.

Dengan demikin, kata Hans kelsen, kita tidak usah payah-payah lagi mempersoalkan tentang negara, dan hukum itu tinggi yang mana, atau manakah yang berdaulat. Karena keduanya adalah sama. Lagi pula kita tidak usah mempersoalkan asal mula negara, hakekat negara serta kekuasaan negara.

Demikianlah gambaran secara garis besar dari ajaran aliran positivism yang hanya mau menerima, menerangkan serta menghadapi negara dalam kenyataannya saja.

(16)

suatu tertib hukum yang bersifat memaksa, karena sifat memaksa itulah maka didalam negara itu ada hak memerintah dan kewajiban tunduk. Maka kesimpulannya bahwa negara itu identik dengan hukum.

Bandingkan pendapat Hans Kelsen tersebut diatas, tentang definisi negara dengan pendapat H.J Laski. Laski mengatakan bahwa negara sebagai system peraturan hukum, adalah suatu parallelogram sementara dari kekuatan-kekuatan yang berubah-ubah bentuknya menurut perubahan-perubahan kekuatannya, yang menentukan kedudukan sementara dari negara itu. Undang-undangnya hanya berlaku dalam pengertian, bahwa dalam satu saat yang tertentu undang-undang itu dapat dilaksanakan. Bilamana kita hendak menabuktikan syahnya undang-undang itu atas dasar yang lain daripada asal semula, maka kita melampaui batas lingkungan hukum dan kita berada di bawah faktor-faktor yang lain.

Pengertian negara tersebut di atas adalah semata-mata dilihat dari segi hukum, jadi suatu tinjauan secara yuridis, yang tentunya akan tidak mempunyai arti atau akan tidak berlaku diluar tinjauan secara yuridis.

Sumber : di ambil dari buku “Diktat Kuliah Ilmu Negara” yang disusun oleh pak suyato, M.Pd. tahun 2007 dan buku “Ilmu Negara” yang disusun pak soehino, S.H.

2.5. TEORI MODERN

(17)

2.5.1 PROF. MR. R. KRANENBRUG

Menurut Kranenbrug negara adalah suatu organisasi kekuasaan yang diciptakan oleh sekelompok manusia yang disebut bangsa. Jadi menurut Kranenbrug terlebih dahulu harus ada sekelompok manusia yang mempunyai kesadaran untuk mendirikan suatu organisasi, dengan tujuan untuk memelihara kepentingan dari kelompok tersebut. Maka disini yang primer, artinya yang terpenting dan yang terlebih dahulu harus ada, Itu adalah kelompok manusianya. Sedangkan negara itu adalah skunder, artinya adanya itu menyusul kemudian.

Pendapat kranenbrug di atas kiranya didasarkan atau dikuatkan dengan alasan-alasan bahwa pada jaman modern-modern ini terdapat formasi-formasi kerjasama internasional atau antar negara. Di sini yang menjadi anggota adalah negara-negara. Tetapi tidak diseut istilah Perserikatan Negara-Negara melainkan Perserikatan Bangsa-Bangsa ? Bukan United States melainkan United Nations. Hal ini menurut Kranenbrug menunjukan bahwa bangsa itu menjadi dasar negara.

Dapat di terima atau tidak pendapat Kranenbrug ini dapat dikemukakan : Istilah-istilah di atas, yaitu Perserikatan Negara-Negara dan Perserikatan Bangsa-Bangsaitu sudah mempunyai pengertian-pengertian yang pasti. Oleh karena itu istilah-istilah itu tidak boleh dipakai untuk menyebut formasi-formasi baru. Jika demikian maka akan menimbulka permasalahan-permasalahan baru.

(18)

Sedangakan sebaliknya adalah Korea. Korea hanya terdiri dari satu bangsa tetapi mendirikan dua negra, yaitu Korea Selatan dan Korea Utara. (Soehino, S.H. 2005, 142-143)

2.5.2 LOGEMANN

Menurut Logemann negara adalah suatu organisasi kekuasaan yang meliputi atau menyatukan kelompok manusia yang kemudian disebut bangsa. Jadi pertama-tama negara itu adalah suatu organisasi kekuasaan, maka organisasi ini memiliki suatu kewibawaan, atau gezag, dalam mana terkandung pengertian dapat memaksakan kehendaknya kepada semua orang yang diliputi organisasi tersebut.

Jadi menurut Logemann bahwa yang primer itu adalah organisasi kekuasaanya yaitu negara. Sedangkan kelompok manusianya adalah sekunder. Maka perbedaanya dengan pendapat kranenbrug adalah: menurut Kranenbrug bangsa itu menciptakan organisasi, jadi adanya atau terbentuknya organisasi tergantung pada bangsa; sedangkan menurut Logemann organisasi itu menciptakan bangsa, maka bangsa inilah yang tergantun pada oranisasi.

Perbedaan pendapat ini disebabkan karena perbedaan pengertian mengenai apa yang di maksud dengan istilah bangsa itu. Istilah bangsa yang digunakan Kranenbrug adalah bangsa dalam arti ethnologis, misalnya bangsa Jawa, Sunda, Dayak, dan sebagainya. Sedangkan pengerian bangsa menurut Logemann adalah dalam arti rakyat suatu negara.

Sebenarnya apakah bangsa itu? Di tahun 1882 Ernest Renan mengemukakan pendapatnya tentang bangsa. Menurut beliau bangsa adalah suatu nyawa, suatu azas akal, yang terjadi karena dua hal : pertama, rakyat itu dulunya harus bersama-sama menjadi satu riwayat; kedua, rakyat itu sekarang harus mempunyaikemauan, keinginan hidup menjadi satu. Jadi dengan demikian yang menjadikan negara itu bukanlah jenis atau ras. Agama, persamaan kebutuhan, ataupun daerah.

(19)

perangai yang terjadi dan persatuan hal ikhwal yang telah dijalani oleh rakyat itu.

Jadi menurut pendapat Logemann organisasi itulah yang menciptakan dan meliputi kelompok manusia, dengan tujuan untuk mengatur kelompok tersebut dan menyelenggarakan lepentingan kelompok itu. Bagaimankah sifat kepentingan masyarakat yang hendak diselenggarakan itu, atau masyarakat yang bagaimanakah yang hendakdiciptakan oleh organisasi merupakan tujuan daripada organisasi tersebut. (Soehino, S.H. 2005, 143-144)

BAB III

PENUTUP

3.1. Simpulan

(20)

DAFTAR PUSTAKA

1. Soehino, Ilmu Negara, Liberty Yogyakarta, 2005. 2. Suyato, Diktat Kuliah Ilmu Negara, 2007.

3. Kranenburg, Sabaroedin, Ilmu Negara,1983.

(21)

DAFTAR PENANYA

1. Ersyana Candra D

Mengapa Grotius dijatuhi hukuman mati dikarenakan menganut aliran Remonstran?

Jawab : Pembicara tidak dapat menjawab, dikarenakan penjelasan diatas hanyalah merupakan sekilas biografi Grotius.

2. Mukhlisin

Mengapa teori di abad ke XVII menjadi dasar bagi munculnya negara dan hukum?

Jawab : Karena teori – teori pada abad ke XVII merupakan dasar dari dari terbentuknya teori – teori baru ataupun penyempurnaan

Referensi

Dokumen terkait

Jika tindak pidana dilakukan oleh atau atas nama badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain, dan dilakukan oleh orang-orang, baik berdasarkan hubungan

Peningkatan tersebut teru- tama mendapat kontribusi dari pertumbuhan portofolio kredit sebesar 38% atau Rp5,7 triliun, dari Rp15,1 triliun pada tahun 2014

Semakin tinggi kewajiban maka akan semakin rendah kemampuan perusahaan dalam membayar dividend (Sartono, 2001). Namun sepanjang tahun 2005-2008, terjadi fluktuasi nilai rata-rata

 Keterbelakangan mental adalah keadaan dengan tingkat kecerdasan yang di bawah rata-rata atau kurangnya kemampuan mental dan keterampilan yang diperlukan dalam.

Tidak ada perguruan tinggi lain dari pengobatan Cina telah bekerja sangat tekun pada kedua tingkat nasional dan internasional untuk memfasilitasi dialog dan

Pemimpin ideal dalam pandangan Plato adalah “pemimpin yang hadir lewat tempaan dan proses yang panjang dan matang, bukan lah yang dicetak secara instan layaknya makanan cepat saji.”

Penggantian di atas 20% semen Portland dengan abu terbang, menurunkan kuat tekan dan modulus elastisitas, namun nilai yang dihasilkan masih lebih tinggi dibandingkan

Energi ikat total produk lebih besar daripada energi ikat total reaktan (DH < 0), dan tingkat ketidakteraturan produk lebih rendah daripada tingkat