HUBUNGAN ASUPAN ENERGI PEKERJA DAN WAKTU KERJA DENGAN KELELAHAN KERJA PADA PENJAHIT SARTIKA EXPRESS KELURAHAN SIDODADI KOTA SAMARINDA
Sitiara1, Bernatal Saragih2, Agus Budianto3
[email protected], [email protected]2, [email protected]3
ABSTRAK
Kelelahan merupakan suatu mekanisme perlindungan agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut, sehingga akan terjadi pemulihan. Salah satu penyebab kelelahan adalah asupan energi yang tidak sesuai dan waktu kerja yang tidak memenuhi standar. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan energi dan waktu kerja dengan kelelahan kerja pada penjahit Sartika Express Kelurahan Sidodadi Kota Samarinda tahun 2015.
Penelitian ini menggunakan rancangan cross-sectional dengan populasi sebanyak 23. Variabel yang diamati meliputi asupan energi (metode food recall 2x24 jam), waktu kerja dan kelelahan kerja (metode perasaan kelelahan secara subjektif).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagaian besar responden yang memiliki asupan energi sesuai dan tidak lelah sebanyak 3 orang (13%) dan responden yang lelah sebanyak 1 orang (4,3%), sedangkan responden yang memiliki asupan energi yang tidak sesuai dan tidak lelah sebanyak 2 orang (8,7%) dan responden yang lelah sebanyak 17 orang (73,9%). Selain itu responden yang memiliki waktu kerja ≤8 jam/hari yang tidak lelah maupun lelah sama-sama sebanyak 4 orang (17,4), sedangkan responden yang memiliki waktu kerja >8 jam/hari dan tidak lelah sebanyak 1 orang (4,3%) dan responden yang lelah sebanyak 14 orang (60,9%).
Hasil analisis dengan menggunakan uji chi-square menunjukkan ada hubungan asupan energi pekerja dan waktu kerja dengan kelelahan kerja pada penjahit Sartika Express Kelurahan Sidodadi Kota Samarinda tahun 2015. Sebaiknya mengkonsumsi makanan yang memenuhi gizi seimbang agar dapat bekerja dengan optimal dan lebih baik untuk para pekerja yang memiliki asupan energi kurang dan mematuhi jam kerja maupun istirahat kerja sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.
Kata kunci: asupan energi, waktu kerja, kelelahan kerja.
ABSTRACT
Fatigue is a protective mechanism for the body to avoid the further damage, so there will be a recovery. One of the causes of fatigue are not proper energy intake and working time does not meet the standards. The research aims to determine the relationship of energy intake and working time with work fatigue on tailor Sartika Express Village Sidodadi Samarinda 2015.
This study used a cross-sectional design with a population of 23. The variable observed energy intake (method food recall 2x24 hours), working time and fatigue (tiredness feeling subjectively method).
The results showed that most respondents who have the appropriate energy intake and not tired as much as 3 people (13%) and respondents who are tired of as much as 1 (4.3%), while respondents who have energy intake that does not fit and not tired as much as 2 people (8.7%) and respondents who are tired as many as 17 people (73.9%). In addition, respondents who had working time ≤8 hours/day is not tired nor are tired equally as many as 4 people (17.4), while respondents who have a working time > 8 hours/day and not get tired as much as 1 (4.3 %) and respondents who are tired as many as 14 people (60.9%).
Results of analysis using chi-square test showed there is any relationship of energy intake worker and working time with fatigue on tailor Sartika Express Village Sidodadi Samarinda 2015.
Should consume the food that satisfy nutritional balance in order to work optimally and is better for the workers who have less energy intake and obey working hours and work breaks accordance with their respective capacities.
Keywords: energy intake, working hours, fatigue.
Kelelahan adalah suatu mekanisme tubuh agar tubuh dapat menghindari kerusakan lebih lanjut, sehingga terjadilah pemulihan. Kelelahan yang terjadi pada tiap orang dapat menunjukkan keadaan tubuh atau karakteristik yang dimiliki tiap orang seperti jenis kelamin, umur, masa kerja, kondisi kesehatan tubuh, status gizi serta lama tidur.
Kelelahan kerja merupakan bagian dari permasalahan umum yang sering dijumpai pada tenaga kerja, khususnya yang berdampak pada penurunan produktivitas kerja. Menurut beberapa peneliti, kelelahan secara nyata dapat mempengaruhi kesehatan tenaga kerja dan dapat menurunkan produktivitas.
Berdasarkan hasil penelitian Irma (2014) pada unit produksi paving block menunjukkan adanya hubungan antara waktu kerja dengan kelelahan kerja. Hal ini disebabkan karena dari 40 sampel terdapat 16 pekerja yang memiliki waktu kerja yang tidak memenuhi syarat (>8jam/hari) dan diperoleh 15 pekerja yang mengalami kelelahan di karenakan waktu kerja yang tidak memenuhi syarat (>8 jam/hari).
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Rozana (2014) pada penjahit di Kota Denpasar didapat bahwa tingkat kelelahan secara umum pada para penjahit di Kota Denpasar sebesar 58,1% yang memiliki tingkat kelelahan rendah, 34,9% yang memiliki tingkat kelelahan sedang, dan sebanyak 7% penjahit yang memiliki tingkat kelelahan tinggi. Dari hasil penelitiannya juga didapatkan rerata skor kelelahan pada penjahit laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan. Penjahit yang berusia lebih dari 30 tahun, penjahit yang bekerja lebih dari 8 jam dalam sehari, dan penjahit yang tergolong kurus memiliki rerata skor 30 Item of a Rating Scale dan Nordic Body Map yang lebih tinggi dibanding lainnya. Maka dari itu disarankan untuk para penjahit agar tetap memperhatikan sikap saat bekerja, jam kerja, serta asupan nutrisi yang cukup agar kelelahan dan keluhan muskuloskletal dapat berkurang, sehingga kualitas kerja pun dapat meningkat.
Semua jenis pekerjaan akan menghasilkan kelelahan. Kelelahan akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja, sedangkan meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja. Menurut Ambar (2006), faktor penyebab kelelahan kerja, diantaranya pengorganisasian kerja, faktor psikologis, lingkungan kerja, monoton, status kesehatan (penyakit) dan status gizi.
Gizi kerja adalah penyediaan dan pemberian masukan gizi kepada tempat kerja guna mendapatkan tingkat kebutuhan dan produktivitas kerja setinggi-tingginya. Gizi merupakan salah satu aspek kesehatan kerja yang memiliki peran penting dalam meningkatkan produktivitas kerja. Hal ini perlu menjadi perhatian semua pihak, terutama pengelola tempat kerja mengingat para pekerja
umumnya menghabiskan waktu sekitar 8 jam (35%) setiap harinya di tempat kerja (Ratnawati, 2010). Pengelolaan kalori/energi kerja yang baik pada tenaga kerjanya akan membuat pekerja bekerja dengan lebih giat, produktif, dan teliti sehingga dapat mencegah kecelakaan yang mungkin terjadi selama bekerja (Pangkey, 2011). Sementara asupan kalori/energi yang tidak tepat dapat menyebabkan turunnya kapasitas kerja, meningkatkan kelelahan dan keluhan otot skeletal sehingga dapat menurunkan produktivitas kerja (Putra, 2009).
Kelelahan dapat dirasakan pada pekerja formal maupun informal, berdasarkan studi pendahuluan pada penjahit diketahui pekerjaan menjahit merupakan pekerjaan yang menggunakan ketelitian dan akurasi yang cukup tinggi, selain itu pekerjaan penjahit yang selalu berulang-ulang dalam waktu relatif lama serta beban aktivitas yang statis maupun dinamis dapat menyebabkan kelelahan secara fisiologi. Para penjahit kadang-kadang merasa ngantuk, pusing, kurang konsentrasi dalam melakukan tugasnya. Dimana Pekerjaan jahit menjahit dapat dibagi menjadi enam tahapan utama, yaitu pertama adalah tahap pembuatan pola, kedua tahap pemotongan bahan, ketiga tahap pembordiran, keempat tahap menjahit bagian-bagian kain yang telah dipotong-potong, kelima tahap sum dan tahap terakhir adalah menyetrika pakaian yang sudah jadi, dimana pekerjaan tersebut membutuhkan tingkat ketelitian yang tinggi. Jadi dalam melakukan aktivitas seorang penjahit harus memperhatikan asupan energi. Faktor ini akan menentukan prestasi tenaga kerja karena adanya kecukupan dan penyebaran energi yang seimbang selama bekerja. Sedangkan dari hasil survei pendahulan yang dilakukan pada 5 penjahit Sartika Express diperoleh bahwa 3 orang tidak sarapan sebelum bekerja dan 2 orang yang sarapan sebelum bekerja. Dimana hal tersebut dapat menyebabkan kelelahan pada pejahit dikarenakan asupan energi yang dibutuhkan tidak terpenuhi. Karena kurangnya asupan energi yang di butuhkan dapat menghilangkan konsentrasi pada saat bekerja.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul” Hubungan asupan energi pekerja dan waktu kerja dengan kelelahan kerja pada penjahit Sartika Express Kelurahan Sidodadi Kota Samarinda tahun 2015 ”. Tujuan
Manfaat
Memberikan tambahan pengetahuan untuk pemilik usaha dan pekerja mengenai hubungan asupan energi pekerja dan waktu kerja dengan kelelahan kerja.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan selama satu bulan yaitu dari bulan Juni–September 2015 pada penjahit Sartika Express No.21 RT. 38 Kelurahan Sidodadi Kota Samarinda. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasinya adalah seluruh pekerja di penjahit Sartika Express Kelurahan Sidodadi Kota Samarinda sebanyak 23 orang. Mengingat populasi dalam penelitian ini tidak besar, peneliti tidak mengambil sampel sehingga menggunakan 23 orang untuk dijadikan responden. Pengumpulan data berasal dari data primer dengan menggunakan kuesioner dan data sekunder diperoleh dari buku, jurnal, artikel, internet maupun majalah. Instrumen yang digunakan peneliti yaitu kuesioner (kuesioner IFRC untuk data kelelahan kerja dan food recall 2x24 jam untuk data asupan energi pekerja), timbangan berat badan, daftar komposisi bahan makanan, timbangan bahan makanan dan kalkulator. Analisis data yang digunakan dengan menggunakan analisis univariat untuk memberi gambaran dalam bentuk distribusi umum, distribusi frekuensi dan variabel yang diteliti dan analisis bivariat dengan menggunakan uji Chi-Square dengan
α
5%.HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Hubungan asupan energi dengan kelelahan kerja pada penjahit Sartika Express Kelurahan Sidodadi kota Samarinda.
Tabel 1. Hubungan Asupan Energi Dengan Kelelahan Kerja Pada Penjahit Sartika Express Kelurahan Sidodadi
Kota Samarinda Tahun 2015 Asupan
Energi TidakKelelahan Kerja Jumlah valuep
Lelah Lelah
n % n % n %
Sesuai 3 13 1 4,3 4 17.4
0,021 Tidak
Sesuai 2 8,7 17 73,9 19 82,6
Jumlah 5 21,7 18 78,3 23 100
Sumber: Data Primer, 2015
Berdasarkan dari Tabel 1 diatas menyatakan bahwa analisis hubungan asupan energi pekerja
dengan kelelahan kerja diperoleh bahwa responden yang memiliki asupan energi sesuai dan tidak lelah sebanyak 3 orang (13%) dan responden yang memiliki asupan energi sesuai dan lelah sebanyak 1 orang (4,3%). Responden yang memiliki asupan energi yang tidak sesuai dan tidak lelah sebanyak 2 orang (8,7%) dan reponden yang memiliki asupan energi yang tidak sesuai dan lelah sebanyak 17 orang (73,9%). Asupan energi tidak sesuai pada penelitian ini adalah konsumsi energi pekerja < Angka Kecukupan Gizi (AKG).
Dari hasil uji Chi-Square diperoleh ada hubungan asupan energi pekerja dengan kelelahan kerja (p value 0,021; p<0,05) pada penjahit Sartika Express Kelurahan Sidodadi Kota Samarinda tahun 2015 dengan tingkat keeratan hubungan yang kuat sebesar 0,592. Sesuai dengan Sujarweni (2014) diketahui bahwa phi (0,41-0,70) dikatakan mempunyai keeratan yang kuat. Dimana asupan energi pekerja yang memiliki tingkat keeratan hubungan yang lebih kuat dengan kelelahan kerja dibandingkan dengan waktu kerja dengan kelelahan kerja.
Pembahasan
Berdasarkan dari hasil survei pendahulan yang dilakukan pada 5 penjahit Sartika Express diperoleh bahwa 3 orang tidak sarapan sebelum bekerja dan 2 orang yang sarapan sebelum bekerja. Dimana hal tersebut dapat menyebabkan kelelahan pada penjahit dikarenakan asupan energi yang dibutuhkan tidak terpenuhi. Karena kurangnya asupan energi yang di butuhkan dapat menghilangkan konsentrasi pada saat bekerja dan waktu kerja yang tidak sesuai yang merupakan salah satu faktor penyebab kelelahan pada pekerja.
Oleh karena itu dalam penelitian ini peneliti melakukan penelitian untuk mengetahui apakah ada hubungan asupan energi pekerja dan waktu kerja dengan kelelahan kerja pada penjahit Sartika Expres. Berdasarkan pada penelitian yang dilakukan di penjahit Sartika Express Kelurahan Sidodadi Kota Samarinda, telah dilaksanakan selama 18 (delapan belas) hari mulai tanggal 27 Agustus hingga 13 September 2015 dengan menggunakan 23 responden dalam penelitian ini.
Dari hasil penelitian pada penjahit Sartika Express diperoleh bahwa penyebab asupan energi yang mereka makan/konsumsi kurang dikarenakan makanan yang mereka konsumsi tidak memenuhi gizi seimbang, seperti makanan yang mereka konsumsi dari pagi sampai malam tidak beragam dan kebiasaan pekerja yang tidak sarapan pagi sebelum bekerja. Dimana hal tersebut yang membuat asupan energi yang mereka konsumsi kurang (tidak sesuai). Dari hasil penelitian pada penjahit Sartika Express diperoleh 19 orang yang asupan energinya tidak sesuai dengan angka pencapaian AKG individu dibawah 100% dan 4 orang yang sesuai dengan angka pencapaian AKG individu 100%-<130%.
Dari hasil uji Chi-Square diperoleh ada hubungan asupan energi pekerja dengan kelelahan kerja (p value 0,021; p<0,05) pada penjahit Sartika Express Kelurahan Sidodadi Kota Samarinda tahun 2015dengan tingkat keeratan hubungan yang kuat sebesar 0,592. Sesuai dengan Sujarweni (2014) diketahui bahwa phi (0,41-0,70) dikatakan mempunyai keeratan yang kuat. Dimana asupan energi pekerja yang memiliki keertan yang lebih kuat dengan kelelahan kerja dibandingkan dengan waktu kerja dengan kelelahan kerja.
Hasil diatas menunjukkan bahwa asupan energi pekerja memiliki hubungan dengan kelelahan kerja, yaitu asupan kalori yang tidak tepat dapat menyebabkan turunnya kapasitas kerja, meningkatkan kelelahan dan keluhan otot skeletal sehingga dapat menurunkan produktivitas kerja. Disamping itu, pemenuhan energi kerja yang tidak tepat dapat berdampak pada masalah kesehatan pekerja.
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan, ternyata terbukti bahwa semakin rendahnya asupan kalori seseorang akan meningkatkan peluang seseorang mengalami kelelahan. Penelitian ini searah dengan penelitian yang dilakukan oleh Purnamasari (2012) yang mengatakan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap terjadinya kelelahan adalah tingkat konsumsi energi. Pekerja yang mempunyai tingkat konsumsi energi defisit akan mempunyai probabilitas terjadi kelelahan sebanyak 75,57 %. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Lestari (1999) menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi energi dengan kelelahan. Hubungan yang terjadi merupakan hubungan negatif, artinya defisit energi akan meningkatkan peluang untuk terjadinya kelelahan.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan asupan energi pekerja dengan kelelahan kerja (p=0,021; p<0,05) pada penjahit Sartika Express Kelurahan Sidodadi Kota Samarinda tahun 2015 dengan tingkat keeratan hubungan yang kuat sebesar 0,592. Asupan energi
pekerja kurang (tidak sesuai) maka akan menyebabkan pekerja lebih cepat lelah dibandingkan dengan asupan energi pekerja yang sesuai.
Saran
Bagi para pekerja yang memiliki asupan energi yang kurang (tidak sesuai) sebaiknya lebih banyak mengkonsumsi makanan yang memenuhi gizi seimbang agar pekerja dapat bekerja dengan optimal dan lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Irma. (2014). Faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada unit produksi paving block CV. Sumber Galian Kecamatan Biringkanaya Kota Makasar. Jurnal Kesehatan Masyarakat., 9 (3): 20-28
Lestari, R, D. (2011) Hubungan Antara Konsumsi Kalori Dengan Kelelahan Pada Tenaga Kerja Wanita Konfeksi Pakaian Di Desa Loram Wetan Kecamatan Jati Kabupaten Kudus. http://www.fkm.undip.ac.id (diakses 7 Juni 2015)
Pangkey, F. (2011). Seimbangkan tubuhmu dengan kalori kerja. Jakarta: Buletin SHE & CSR Edisi 2 April 2011
Purnamasari, D, U. (2012). Pengaruh konsumsi energi dan protein terhadap kelelahan pada pekerja wanita di industri bulu mata palsu PT. Hyu Sung Purbalingga Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 1 (2): 21-30
Putra, I, D, (2009). Asupan kalori.
http://pskim.unud.ac.id/ind/asupan-kalori/
(diakses pada 23 September 2014 pukul 21.07 WITA)
Ratnawati, I. (2010). Pemenuhan kecukupan gizi
bagi pekerja.
http://www.gizikia.depkes.go.id/archives/74
(diakses pada 23 September 2014 pukul 21.24 WITA)
Rozana, F. (2014). Tingkat kelelahan dan keluhan muskuloskeletal pada penjahit di Kota Denpasar Provinsi Bali. Fakultas Kedokteran. Skripsi. Universitas Udayana