• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Multikultural dalam Kemajuan Bi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaruh Multikultural dalam Kemajuan Bi"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Pengaruh Multikultural dalam Kemajuan Bisnis di Indonesia

I. Pendahuluan

A. Pengantar

Budaya merupakan sisi penting dalam berbagai kegiatan yang dilakukan dalam masyarakat. Budaya memiliki kekuatan bahasa sebagai salah satu unsurnya. Dalam perekonomian, pelaku usaha atau orang yang menjalankan bisnis mempunyai daya kuat untuk menggunakan bahasa sebagai piranti utama dalam komunikasi. Pembahasan tentang budaya dalam bisnis juga didasari dengan beberapa pemikiran. Pembahasaan ini mendasarkan pemikirannya bahwa komunikasi berlangsung dengan berlatarkan berbagai konteks. Konteks yang melatarbelakangi komunikasi melahirkan sebuah peraturan. Peraturan ini yang mengatur bagaimana sebuah proses komunikasi berjalan.

Berbedanya budaya juga menyebabkan peraturan dalam berkomunikasi berbeda-beda. Hal ini menjadi bakal utama dalam menghadapi komunikasi multikulutural yang selalu terjadi pada kegiatan perekonomian tingkat nasional. Komunikasi multikultural ini menunjukan potensi kebudayaan di Indonesia. Potensi budaya ini diyakini akan mengalahkan sektor bisnis lainnya karena masih banyak kekayaan budaya yang dimiliki belum diberdayakan dan teridentifitkasi secara lengkap. Begitu banyak ragam budaya yang dimiliki oleh Indonesia merupakan aset penting bagi perkembangan semangat jiwa bisnis untuk mencapai kemajuan nasional.

B. Multikultural sebagai Ciri Kebudayaan Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki luas geografis terbesar di ASEAN. Tipologi geografis ini memberikan banyak keuntungan di mana Indonesia memiliki daya etnisitas yang tidak sedikit. Dari wilayah satu dengan yang lain jelas terlihat khas dan ciri masing-masing yang tentunya berbeda. Perbedaan ini membentuk keragaman dan memberi arti penting dalam kebudayaan.

Kebudayaan adalah kumpulan nilai, kepercayaan, perilaku, kebiasaan, dan sikap yang membedakam suatu masyarakat dari yang lainnya. Dalam bisnis, kebudayaan memiliki batasan bahwa suatu masyarakat menentukan ketentuan-ketentuan yang mengatur bagaimana perusahaan dijalankan dalam masyarakat tersebut. Konteks-konteks yang berbeda dalam setiap budaya tersebut juga dipengaruhi beberapa dimensi dalam budaya, yaitu pertama, hal formal dan tidak formal. Dimensi ini berkenaan dengan kecenderungan gaya komunikasi yang formal dan tidak formal. Kedua, Ketegasan dan keharmonisan interpersonal. Dimensi ini menyinggung keadaan emosi komunikan dalam menghadapi peristiwa dalam komunikasi. Dimensi ketiga adalah hubungan status. Dimensi ini berhubungan dengan strata dalam kelas sosial yang menjadi aturan dalam interaksi satu sama lain.

(2)

II. Pengaruh Beragam Kebudayaan dalam Kemajuan Bisnis di Indonesia

A. Karakteristik Keberagaman Budaya dalam Strategi Bisnis

Sebuah pertanyaan hadir saat bangsa-bangsa yang letak geopolitiknya kurang strategis dan miskin sumber daya alam, seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura, bisa memajukan dirinya di bidang ekonomi. Dalam realitanya, kekuatan untuk memajukan ini terletak pada budaya bangsa secara keseluruhan yang terus dijaga dan diperbaiki, termasuk disiplin kerja dan ketetapan hati pemimpinnya. Mereka melihat seluruh pelosok dunia sebagai lahan kerja pencari nafkah. Mereka menggunakan budaya disiplin nasional untuk melakukan aksi lompatan katak, yang berarti keluar dari wilayahnya sendiri. Mereka berhasil mengejar selisih-selisih keunggulan yang terbuka dalam tantangan perjuangan. Wajar bila timbul pertanyaan mengapa negara kaya sumber daya alam dan mineral, seperti Brasil dan Indonesia, selalu disebut sebagai bangsa yang penuh janji dan potensial, tetapi pada kenyataannya belum mencapai hasil yang diharapkan. Pada tingkat perorangan, kelompok, maupun nasional, potensi kebudayaan, khususnya yang dimiliki Indonesia, merupakan tantangan bagi untuk memperkuat budaya pialang yang memadukan kemauan diri budaya dengan kinerja ekonomi.

Budaya juga sangat mempengaruhi semua fungsi bisnis, misalnya dalam pemasaran, beranekaragam sikap dan nilai menghambat banyak perusahaan untuk mengunakan bauran pemasaran yang sama disemua pasar. Begitu juga dalam manajemen sumber daya manusia, budaya nasional merupakan kunci penentu untuk mengevaluasi para manajer, serta dalam produksi dan keuangan faktor budaya sangat berpengaruh dalam kegiatan produksi dan keuangan. Budaya juga mempengaruhi nilai dan sikap anggota-anggota suatu masyarakat. Nilai adalah prinsip dan standar yang diterima anggota- anggota tersebut. Sedangkan sikap memiliki aspek yang terdiri atas tindakan, perasaan, dan pemikiran yang dihasilkan nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai budaya sering berasal dari kepercayaan yang sangat mendalam tentang kedudukan individu dalam hubungan dengan Tuhan, keluarga, dan hierarki sosial. Sikap budaya terhadap faktor-faktor seperti waktu, umur, pendidikan, dan status mencerminkan nilai-nilai ini dan pada gilirannya membentuk perilaku dan kesempatan yang tersedia bagi bisnis-bisnis internasional dalam suatu negara tertentu. kebudayaan sanggup menyesuaikan diri (adaptive), artinya kebudayaan berubah sesuai dengan kekuatan-kekuatan eksternal yang mempengaruhi masyarakat tersebut. Keempat, kebudayaan dimiliki bersama (shared) oleh anggota-anggota masyarakat dan tentu saja menentukan keanggotaan masyarakat itu. Secara harfiah, orang-orang yang memiliki satu kebudayaan yang sama adalah anggota suatu masyarakat, sedangkan orang-orang yang tidak memilikinya berada diluar batas-batas masyarakat itu.

(3)

dari generasi yang satu ke generasi yang lainnya. Budaya bersifat simbolik yang memiliki arti bahwa budaya berdasar pada kapasitas manusia untuk memberi tanda atau menggunakan sesuatu untuk menggambarkan yang lain. Peran budaya juga untuk diteladani di mana budaya mempunyai struktur dan terintegrasi, perubahan dari satu bagian akan membawa perubahan pada bagian lain. Budaya juga tidak lepas dari pnyesuaian. Budaya berdasarkan pada kapasitas manusia untuk berubah & menyesuaikan diri.

Karena perbedaan budaya terdapat dalam setiap aspek dan daerah, sebuah pemahaman dari pengaruh budaya dalam perilaku merupakan suatu kritik dari studi manajemen. Jika manajer tidak mengetahui sesuatu tentang budaya yang mereka setujui, yang dalam hal ini merupakan relasi dan keterikatan bisnis, maka hal tersebut akan menimbulkan bencana pada apa yang akan atau sudah dibangun dalam bisnis. Pada dasarnya, soal ekonomi tidak dapat dipisahkan dari soal kebudayaan. Setiap perkembangan ekonomi memerlukan nilai-nilai budi atau kebudayaan, atau paling tidak sekurang-kurangnya dibentuk dari nilai-nilai semu. Hanya nilai-nilai ini yang akan dapat mendorong orang untuk berusaha dan bekerja dengan teratur, sekaligus membentuk disiplin dalam bertingkah laku.

Dalam konteks manajemen, sebenarnya manajemen itu sendiri adalah hasil suatu kebudayaan. Itulah sebabnya aspek sosial budaya suatu bangsa mempunyai pengaruh terhadap kemampuan dan kondisi manajemen suatu bangsa. Seluruh sistem nilai yang berlaku dalam kehidupan suatu bangsa, pandangan hidupnya serta habit (kebiasaan-kebiasaan) memberikan dampaknya terhadap pelaksanaan manajemen secara makro kebangsaan.

Sebaliknya juga penyelanggaraan manajemen memberikan kontribusi kepada perkembangan budaya dan sosial, kalau sebelumnya tidak pengertian tentang manajemen dalam kehidupan suatu bangsa, maka setelah bangsa bangsa itu menjalankan manajemen dengan cara berdasarkan susial budaya lokal maka akan terjadi peningkatan budaya bangsa.

Dalam berusaha, seringkali memerlukan sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu yang sama; dalam bisnis, tujuan ini adalah berbentuk laba. Untuk mencapai laba, sekawanan kelompok usaha itu harus dalam barisan yang teratur mengikuti kedisplinan yang diperlukan. Oleh karena itu, sesungguhnya bekerja dan berusaha dalam jangka panjang untuk mencapai kemakmuran, tidak dapat melupakan nilai-nilai lahir dari kehidupan ekonomi, dan untuk itu harus tunduk pada niai-nilai atau kebudayaan.

B. Budaya Material untuk Menopang Kemajuan Bisnis

Terdapat kaitan kebudayaan dengan pembangunan ekonomi sebagai bagian proses pembinaan identitas bangsa atau dengan ungkapan “aku orang indonesia”. Ungkapan ini secara wajar akan mengalir di masing-masing jiwa warga negara. Begitu juga dengan kekuatan budaya wilayah yang akan tetap dibawa melalui ungkapan yang lebih spesifik dengan kata-kata “aku orang Sumatera, aku orang Sulawesi, dan sebagainya". Kebudayaan sangat erat dengan hal yang mencakup masalah pertautan etika kerja, nilai-nilai kerja sama, dan nilai-nilai yang berkait dengan kesukuan, keagamaan, dan kedaerahan. Kebudayaan memberi makna hidup, termasuk perubahan-perubahan akibat dahsyatnya kekuatan ekonomi dan teknologi yang terus mengalir dari negara-negara maju.

(4)

beragam dan memasar tak menjamin keberhasilan pembangunan ekonomi. Bahkan sumber daya alam yang beragam kerap dianggap kutukan budaya karena membuat bangsa yang bersangkutan terlena dan manja hingga berkurang daya juang. Keutuhan budaya dan perekonomian membutuhkan sumber daya yang difasilitasi oleh budaya material. Budaya material utamanya teknologi adalah penting bagi manajemen yang bermaksud untuk melakukan investasi di maupun dari luar negeri. Pemerintah-pemerintah negera asing telah semakin menjadi terlibat dalam penjualan dan pengendalian teknis. Teknologi biasa memungkinkan perusahaan untuk memasuki pasar baru yang berhasil, meskipun para pesaing telah berada disana. Teknologi seringkali memungkinkan perusahaan untuk memperoleh kondisi-kondisi yang unggul untuk investasi luar maupupun dalam negeri.

Teknologi dari suatu masyarakat adalah bauran pengetahuan yang dapat digunakan, diterapakan oleh masyarakat dan diarahkan kepada pencapaian tujuan – tujuan ekonomi dan budaya. Teknologi adalah signifikan dalam upaya bagi negara-negara berkembang untuk meningkatkan taraf hidup mereka dan merupakan faktor vital dalam strategi persaingan perusahaan-perusahaan multinasional. Sebagai contoh yaitu keberhasilan Jepang yang mampu mengimbangi dominasi dunia barat dalam aspek ekonomi dan teknologi, setidaknya membuka mata kita bahwa budaya lokal sutau bangsa dan ajaran agama dapat berpengaruh terhadap sistem manajemen dan etos kerja suatu bangsa. Jepang yang mulai bangkit dari reruntuhan perang tahun 1945 dalam waktu relatif singkat walau dengan keterbatasan sumberdaya alam dan teknologi, mampu mengubah kiblat manajemen yang tadinya di barat sekarang beralih ke timur, keberhasilan Jepang adalah bukti keberhasilan manajemen masa kini dan yang akan datang. Keberhasilan Jepang ini pun banyak diikuti oleh negara negara seperti Taiwan dan Korea yang mengadopsi latar belakang budaya dan ajaran agama sebagai sebagai pijakan atau fondasi dalam melaksanakan kegiatan ekonomi.

Saat ini, Indonesia perlu belajar dari Amerika dan Jepang yang nilai ekspresi seni budaya dan budaya materialnya lebih besar dari perolehan ekspor otomotif dan berbagai sektor manufaktur lainnya. Pola manajemen antar budaya memiliki perbedaan yang perlu diperhatikan setiap pebisnis. Menurut Early dan Ang terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam melihat perbedaan manajemen di tiap budaya. Pertama, kepemimpinan manajerial, dan bagaimana manajer menghadapi proses pengambilan keputusan.

Gaya kepemimpinan di Amerika Serikat sangat menghargai prestasi, inisiatif pribadi, tindakan, serta akibat, dan berusaha mengurangi perbedaan status. Sementara gaya kepemimpinan di Jepang lebih mengutamakan kebersamaan dan terdapat pembedaan yang jelas antara senior dan junior. Gaya pengambilan keputusan juga menjadi hal yang sangat perlu diperhatikan. Untuk efektifitas komunikasi, seorang manajer internasional harus menyadari siapa yang membuat keputusan, dan bagaimana keputusan tersebut diambil. Bagaimana tipe pengambilan keputusan apakah itu model top to down ataukah down to top yang diterapkan dalam budaya organisasi. Jika terus dioptimalkan, bukan tidak mungkin Indonesia akan lebih besar dari Amerika dan Jepang, dan bisa menjadi kekuatan ekonomi, karena perolehan nilai tambah yang cukup tinggi.

(5)

berbagai macam karya intelektual, maka peluang bisnis pun semakin banyak dan mempererat keutuhan manfaat yang didapat di Negeri ini.

III. Penutup

Paradoks bisnis secara global yang timbul adalah munculnya sentimen kultural nasionalisme yang akibat dari keseragaman gaya hidup yang jauh dari kesadaran multikultural. Hal ini akan menyebabkan orang mencari identititas dirinya pada nilai yang dianutnya baik itu budaya, agama, keluarga dan lain-lain.

Bergesernya kekuatan ekonomi ke timur termasuk asia pasifik, memunculkan kekuatan-kekuatan tatanan ekonomi baru yang berdasarkan bangsa dan budaya masing-masing antara lain Jepang, Korea, China, Taiwan, Singapura dan Malaysia. Pergeseran ini merupakan suatu anugerah akibat sistem ekonomi dan manajemen barat yang mencapai tahap kejenuhan. Hanya negara yang mampu mengimplementasikan kesadaran multikultural dan local wisdom ke dalam pandangan hidup dan pilosofi bekerja bagi masyarakatnyalah yang dapat bertahan. Hal ini dimaklumi bahwa sistem manajemen dan etos kerja yang diimport dari luar, akan menimbulkan kerancuan dalam pelaksanaannya, karena terkadang implementasinya berbenturan dengan kondisi sosial budaya masyarakat.

(6)

Daftar Pustaka

Buku:

Battelle, Jhon. 2005. The Search. Jakarta: Elex Media Komputindo.

UNESCO Publishing. 2006. Kebudayaan, Perdagangan Global 25 Tanya-Jawab. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Internet:

Referensi

Dokumen terkait

Harga saham yang akan dibayarkan adalah sebesar harga rata dari harga saham DVLA pada penutupan perdagangan harian di Bursa Efek Indonesia selama 90 (sembilan puluh) hari terakhir

rahmat dan karunia-Nya lah penulis dapat menyelesaikan Laporan Akhir ini dengan baik untuk memenuhi syarat menyelesaikan pendidikan Diploma III pada jurusan Teknik

Alasan Pemilihan Shared Christian Praxis SCP Sebagai Model Katekese untuk Meningkatkan Pelaksanaan Pembinaan Iman Mantan Penderita Kusta di Lingkungan Sitanala Tangerang Pada

Kerangka berpikir dalam penelitian ini dimulai dari komponen limbah cair Laundry yang mengandung berbagai bahan berbahaya yang dapat mencemari lingkungan, diantaranya

1) Mata pelajaran AlQur’an dan Hadis merupakan unsur mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) pada madrasah yang. memberikan pendidikan kepada peserta didik

[r]

Tingginya mortalitas rayap pada penggunaan serbuk kayu jati 500 gram dan 750 gram dalam 5 liter air dimungkinkan jumlah serbuk yang digunakan cukup optimal sehingga peresapan

Patofisiologi terjadinya secondary drowning berhubungan adanya kegagalan multi sistem organ lain akibat hipoksia yang berlangsung lama. Prognosis korban secondary drowning