• Tidak ada hasil yang ditemukan

MADRASAH BERBASIS RISET DARI MADRASAH UN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MADRASAH BERBASIS RISET DARI MADRASAH UN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

MADRASAH BERBASIS RISET

DARI MADRASAH UNTUK MASYARAKAT

Oleh Agus Ali Imron al Akhyar

Penyuka Literer Bekerja di MAN Tulungagung 1

Pendidikan dan ilmu memiliki hubungan yang sangat erat. Seseorang yang memasuki lembaga pendidikan misalnya, memiliki tujuan yang utama untuk mendapatkan ilmu, dan lembaga pendidikan tersebut merupakan tempat menimba ilmu sesuai dengan bidang yang dipilihnya. Berbagai ilmu yang akan dipelajari seseorang pada lembaga pendidikan, selanjutnya dapat dijumpai pada jurusan-jurusan yang tersedia. Pendidikan dari satu segi berfungsi sebagai tempat mengajarkan berbagai macam ilmu sebagaimana tersebut di atas, namun pada segi lain pendidikan juga membutuhkan ilmu untuk meningkatkan dan mengembangkan berbagai aspeknya. Pendidikan misalnya membutuhkan ilmu manajemen pengelolaan sumber daya manusia, ilmu manajemen pengelolaan dana pendidikan, ilmu pengembangan kurikulum, ilmu pengembangan kegiatan belajar mengajar, ilmu penataan lingkungan, ilmu pengembangan perpustakaan, dan lain sebagainya. Semakin maju dan berkembang lembaga pendidikan semakin banyak ilmu yang dibutuhkan (Abuddin Nata, 2012:171-172).

(2)

Allah untuk diberi tambahan ilmu, bagaimana lagi kebutuhan umat Islam yang bukan nabi atau sahabat terendah sekalipun, terhadap ilmu? (Mahmud, 1997:11-12).

Al-Quran mengajak orang-orang yang mempercayainya untuk memperhatikan firman-Nya (ayat qauliyah) yang telah diturunkan dengan perantaranya para Rasul-firman-Nya. Di samping itu, Al-Qur’an mengajak manusia untuk memperhatikan berbagai fenomena alam (ayat kauniyah) sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya. Itu dapat dibaca, misalnya pada ayat Al-Qur’an yang menyatakan; Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan izin-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia, menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah-lah) bagi kaum yang berfikir (Said Agil, 2003:80).

Agama Islam memberi penghargaan yang tinggi terhadap akal, tidak sedikit ayat-ayat Al-Qur’an yang menganjurkan dan mendorong manusia supaya banyak berpikir dan menggunakan akalnya. Di dalam Al-Qur’an dijumpai perkataan yang berakar dari kata ‘aql

(akal) sebanyak 49 kali, yang semuanya dalam bentuk kata kerja aktif, seperti ‘aqaluh; ta’qilun; na’qil; ya’qiluha; dan ya’qilun (Marno (Ed), 2005:306).

Ajaran nilai-nilai Islam, memiliki keharmonisan terhadap masyarakat, lingkungan, dan tentunya alam semesta. Ajaran yang disampaikan dari para pendidik merupakan ajaran yang membawa nilai-nilai moralitas, tauhid, syari’ah, fiqih, ilmu pengetahuan, serta tentunya menjunjung tinggi kehormatan manusia. Sehingga sepatutnya keberadaan manusia dan lingkungan menjadikan kesatuan yang patut untuk dikembangkan dan diberdayakan sesuai dengan akal dan budi. Selain itu, untuk menumbuhkan peradaban Islam yang lebih baik dan maju, mengingat peradaban Islam pada masa lalu sungguh luar biasa perkembangannya.

Ilmu sejatinya akan selalu berkembang menuju pembangunan peradaban yang lebih baik dan beradab. Perkembangan ilmu pengetahuan semakin hebat dan luas cangkupannya, ibarat arus gelombang besar yang sedang menggulung kehidupan keilmuan pada masyarakat. Suatu generasi dan adanya pendidikan, merupakan wujud visi dan misi untuk membangkitkan gairah peradaban yang lebih maju.

(3)

Pengembangan potensi anak didik merupakan wujud langkah didalam melahirkan peradaban Islam yang lebih baik.

Setidaknya dengan adanya produk unggulan madrasah yang strategis tersebut, dalam bidang riset atau penelitian, mampu dijadikan tolok ukur didalam hubungan antara madrasah dengan lingkungan, maupun madrasah dengan masyarakat. Seperti keberadaan sebuah madrasah setingkat aliyah yang memiliki produk keunggulan riset, setidaknya mampu memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat. Seperti murid Madrasah Aliyah mengikutkan lomba karya tulis ilmiah, mengenai aras pisang yang bisa dijadikan bahan makanan alternatif abon, atau pembuatan batu bata dari bahan sampah organik.

Setidaknya dari hasil riset tersebut tidak berhenti pada titik kemenangan atau kepuasan mendapatkan juara, maupun pernghargaan dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) yang diadakan oleh universitas terkemuka. Namun memiliki keberlanjutan berkesinambungan yang mampu mensejahterakan lingkungan di sekitar madrasah, setidaknya. Harus disadari, bahwasanya terdapat lingkungan masyarakat disekitar madrasah, yang secara tidak langsung juga memiliki potensi untuk disejahterakan, dengan adanya hasil dari produk uggulan riset tersebut.

Beragam produk unggulan pendidikan madrasah dengan berbagai istilah, seperti halnya Madrasah Berbasis Riset, menjadikan tolok ukur tersendiri didalam pengembangan dan memberdayakan potensi kemadrasahan. Sumber Daya Manusia, serta fasilitas yang mumpuni, merupakan titik tolak untuk menuju peradaban madrasah yang lebih baik. Proses pembaharuan untuk produk unggulan “Madrasah Berbasis Riset” merupakan mengembangkan tradisi berpikir bagi kalangan ummat Islam.

Benih-benih yang akan membangun peradaban Islam memerlukan perlakuan khusus, seperti halnya dalam bidang riset, memang harus perlu mendapat perhatian sepenuhnya. Melahirkan generasi peneliti memang selama ini sulit, bahkan langka keberadaannya, memerlukan ekstra perhatian. Maka dari itulah di madrasah-madrasah setingkat Tsanawiyah maupun Aliyah, setidaknya terdapat pengembangan diri Kelompok Ilmiah Remaja, atau biasa disingkat KIR. Berawal dari akar yang kuat, akan menumbuhkan pohon yang kuat pula, serta memiliki buah yang mampu mensejahterakan masyarakat.

(4)

Meneliti sesuatu objek yang nantinya mampu memberikan kontribusi secara pribadi, maupun untuk mensejahterakan masyarakat (hablum minannas). Kemanfaatan dari riset sangat luas cangkupannya, melakukan riset merupakan langkah untuk tidak tertinggal mengenai perkembangan ilmu pengetahuan, yang semakin hari semakin berkembang pesat. Melahirkan generasi muda dalam bidang riset atau peneliti tidak ada salahnya, untuk membangun peradaban Islam yang lebih arif dan bijaksana.

Kepala LIPI bilang, kita kekurangan peneliti, dari satu juta orang hanya 40 yang jadi peneliti. Bangsa ini gimana maju, gimana kita punya banyak program tapi kurang SDM nya. Menristek Dikti harus punya terobosan agar peneliti kita lebih banyak," ucap Puan di acara Kongres yang digelar di Auditorium Gedung LIPI, Jl Gatot Subroto, Jaksel, Kamis 8 Oktober 2015. Saat membuka acara, Menko Puan menjelaskan bagaimana saat ini peneliti Indonesia masih sangat kurang. Ia pun meminta agar Menristek Dikti membuat terobosan untuk menetaskan peneliti-peneliti muda. (http://u.lipi.go.id/1444291942).

Riset; Melestarikan Ajaran Islam

Usaha untuk mencapai kepandaian atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dipunyai sebelumnya. Sehingga dengan belajar itu manusia menjadi tahu, memahami, mengerti, dapat melaksanakan, dan memiliki tentang sesuatu yang baru (Fudyartanto; 2002:35-36). Pada dasarnya Islam sendiri memberikan peluang bagi ummatnya untuk mengadakan pengamatan atau penelitian, menggunakan akal sehatnya berpikir secara baik.

Sejak awal perkembangannya, Islam mengalami pertumbuhan dalam lingkungan masyarakat, maupun pada pola pikir manusia. Begitu pula dengan membangun sutau peradaban, Islam melalui dialektika yang didalamnya terjadi pertumbuhan pada sisi masyarakat. Ilmu pengetahuan, moralitas, ajaran Islam, Al-Qur’an, dan juga Sunnah Rasul, merupakan sebagian dari pertumbuhan Islam yang secara tidak langsung diterima oleh masyarakat dan lingkungan. Dengan adanya hasil riset dan ilmu pengetahuan, merupakan langkah terbaik didalam mendakwahkan nilai-nilai Islam di lingkungan masyarakat.

(5)

Hasil riset yang dilakukan, tidak berhenti pada hasil yang memuaskan saja. Namun dari hasil riset tersebut mampu menempatkan posisi masyarakat dalam skala sejahtera. Intinya adalah dari hasil riset untuk mensejahterakan masyarakat. Apalagi saat ini bertebaran dunia pendidikan yang berbasis ajaran Islam, atau madrasah. Berawal dari madrasah, mampu melahirkan benih-benih peneliti yang arif dan bijaksana, sehingga pemaknaan madrasah dapat menjadi tolok ukur pembangunan peradaban Islam yang beradab. Riset sendiri merupakan dialogsisasi antara ketidaktahuan untuk mampu mengetahui suatu hakikat objek penelitian.

Menurut Bangir (2005:5) dari paham dialog, kemudian akan memunculkan paham integritas, yaitu paham yang berusaha untuk memadukan ilmu dan agama. Usaha untuk mencapai integritas keduanya, antara lain dengan membangun keyakinan evolusioner, yaitu suatu keyakinan baru yang dibangun berdasarkan keyakinan tradisional, tetapi telah dibayangi oleh pandangan dunia yang baru, dimana evolusi alam semesta maupun evolusi kehidupan di bumi menjadi salah satu penggerak yang penting. Paham integrasi beranggapan bahwa evolusi merupakan cara Tuhan menciptakan alam semesta dan sisinya.

Adanya Lembaga Pendidikan Islam yang memiliki unggulan produk seperti “Madrasah Berbasis Riset”, merupakan wujud dialogsisasi antara dunia pendidikan dengan masyarakat, lingkungan, dan generasi muda. Berawal dari dunia pendidikan madrasah, mampu memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat. Jelas, di madrasah tidak hanya diajarkan ilmu-ilmu agama (Islam), melainkan ilmu pengetahuan umum juga diseimbangkan kepada anak didik. Sehingga saat produk unggulan “Madrasah Berbasis Riset” menjadi produk unggulan madrasah, bagi Sumber Daya Manusianya mampu mengemban amanah didalam dunia riset, terutama untuk kemaslahatan ummat.

Ajaran nilai-nilai Islam, Ilmu Pengetahuan, dan dunia penelitian, merupakan rangkaian wujud pembangunan peradaban yang semakin beradab, khususnya setingkat Madrasah Aliyah maupun Madrasah Tsanawiyah. Berawal dari mata pelajaran yang diajarkan oleh para pengajar, bisa dijadikan media pengembangan penelitian. Sains, teknologi, ekonomi, sejarah, kebudayaan, agama, matematika, ilmu tata negara, sosiologi, dan lain sebagainya, merupakan instrument didalam tolok ukur mengadakan sebuah riset.

(6)

rabbika”, atau bacalah dengan atas nama Tuhanmu. Maka, tatkala membaca atau menjalankan riset, harus ada kesadaran bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk mengetahui dan memahami ciptaan Allah. Riset bukan sekedar untuk riset, dalam arti sekedar menambah pengetahuan, melainkan selain itu adalah untuk mengenal dan memahami ciptaan Allah. Berangkat dari pemahaman itu, maka kegiatan tersebut diharapkan akan memiliki makna mulia, ialah sebagai jalan mengenal Dzat Yang Maha Menciptakan.

Sejalan dengan perkembangan peradaban Islam, seperti yang diungkapkan Mohamad Sobary dalam pengantar Buku Agama dan Peradaban, agama bermula dari kata dan kemudian bertumbu pada kata, dan kata itu –kita menyebutnya firman atau sabda— mampu mengubah wajah dunia Islam, misalnya, bermula dari kata Iqro’; bacalah, dan dari sana perubahan-perubahan besar dalam dunia Islam pelan-pelan memberi kontribusi penting terhadap perkembangan peradaban manusia di seluruh dunia, juga hingga saat ini.

Seorang ahli Islam, dengan spesialisasi didalam bidang Tasawuf, Edgar Ali Enginer, dosen di Universitas Harvard, AS, mencatat dampak revolusioner yang sangat mengesankan seluruh dunia dari kata Iqro’ tadi, yang secara radikal mengubah ethos kehidupan bangsa Arab, bangsa yang sangat hebat didalam penguasaan puisi lisan, karena mereka memang belum mengenal tradisi tulis, berubah menjadi bangsa yang sangat bergairah belajar dan membaca.

Melalui dunia penelitian atau riset, akan merubah pandangan hidup ummat Islam, yang merujuk kepada sebuah tradisi intelektual secara kritis, analisis, dan kreatif serta konseptual. Sehingga secara tidak langsung keberadaan dunia riset menunjukkan bahwa pemikiran ummat Islam itu bersifat konseptual dan memiliki pandangan hidup yang jelas, dinamis, harmonis, teratur, dan rasional.

Riset sendiri tercipta pada dasarnya dari keberadaan adanya ilmu pengetahuan dan pengembangannya. Riset mencari suatu cangkupan hasil dari permasalahan yang dikaji, dari perspektif inilah pandangan riset untuk mendapatkan hasil yang mampu mengedepankan etika dan estetika. Sehingga membangun dunia riset tidak semudah membalikkan telapak tangan, melainkan melalui dunia riset merupakan proses bersinergi, konsisten, dan memiliki keberkelanjutan dalam bidang ilmu pengetahuan.

(7)

Adanya riset, melahirkan wujud diri manusia dari ketidaktahuan untuk menjadi mengetahui. Selain itu, keberadaan riset merupakan bentuk penjagaan dan pelestarian akan ciptaan-Nya, agar manusia mampu memperkuatkan keimanan. Mencari hasil pertanyaan atau rumusan masalah dengan sistem metodologi riset, merupakan langkah bijak untuk lebih dekat mengenali ciptaan dan kuasa-Nya. Memahami hakikat kekuasaan-Nya memberikan nilai-nilai ajaran Islam didalam mempertebal keyakinan, bahwasanya Allah Maha Kuasa.

Maka dari itu, sangat penting sekali apabila penerapan riset dikalangan pelajar, terutama setingkat Madrasah Aliyah maupun Madrasah Tsanawiyah. Hal tersebut untuk membentuk jati diri keIslamannya, agar lebih mantap dan mempertebal keimanan (Hablumminaallah). Masih belum cukup, apabila anak didik hanya mendengarkan penjelasan dari guru, dan itupun tersekat ruang kelas. Sehingga anak didik sekedar berimajinasi dengan apa yang dijelaskan oleh guru, namun apabila dengan kesederhanaan “riset”, anak didik diajak mampu memahami hakikat dari apa yang di-imajinasikan tersebut.

Dengan adanya produk unggulan “Madrasah Berbasis Riset”, menciptakan peluang besar bagi pendidik maupun anak didik untuk berpikir secara ilmiah, konseptual, sistematis, dan metodologis. Sehingga anak didik, secara tidak langsung mengenal hakikat kehidupan alam semesta. Meskipun anak didik menempuh proses belajar tidak lebih tiga tahun di tingkat madrasah, namun tekat dan niatan yang kuat pasti mampu mengatur segala hal yang tentunya akan merubah menuju kebaikkan.

“… untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir.” (QS. Al Mu’min, 40: 54). Setidaknya produk “Madrasah Berbasis Riset” menjadi tolok ukur bagi orang-orang Islam untuk mau berpikir. Tentunya berpikir secara konseptual, sistematis, dan harmonis. Mengacu dari ayat tersebut, setidaknya menyadari sejak dini, bahwasanya sebagai ummat Islam mau berpikir untuk membangun peradaban yang beradab dan bijaksana.

Riset dari Madrasah Untuk Masyarakat

Membangun dunia riset dari tingkat madrasah, harus memiliki visi dan misi yang jelas, sehingga dengan adanya hasil dari riset, dampaknya juga dapat dirasakan oleh masyarakat. Madrasah berbasis riset, memiliki makna yang harmonis antara madrasah dan masyarakat. Membangun peradaban ummat berawal dari madrasah, tidak salahnya apabila hasil dari riset tersebut dapat diterapkan pada masyarakat luas (hablumminnas).

(8)

memiliki etika dan amanah sepenuhnya. Sehingga ketika hasil dari riset tidak untuk dibuat pribadi, melainkan mampu untuk memaslahatkan masyarakat. Konsep inilah yang bisa dimaksud dengan istilah “Riset Sebagai Media Dakwah.”

Madrasah mampu menjadi titik tumpu peradaban ummat Islam, apabila madrasah dikemas dengan baik, konseptual, sistematis, serta memiliki visi dan misi yang menjadi pendorong perubahan menuju kemaslahatan ummat Islam. Dari hasil riset yang dilakukan oleh pihak element warga madrasah, khususnya untuk mengoptimalkan keberadaan lingkungan madrasah, serta masyarakat umumnya. Menghidupi madrasah dengan akal sehat dalam dunia riset merupakan cerminan dari pembangunan peradaban Islam secara tidak langsung.

Referensi

Dokumen terkait

Upaya pengembangan kognitif dalam hal ini pemahaman peserta didik akan berdampak positif tidak hanya terhadap ranah kognitif itu sendiri, namun juga terhadap ranah afektif

Hasil penelitian menunjukkan bahwa supply vessel yang mempunyai biaya operasional yang minimum adalah platform supply vessel dengan kapasitas dan pola operasi untuk dua

Cuplikan novel di atas memperlihatkan bahwa anak di usia dini sudah berpacaran, sehingga secara tidak langsung mendorong mereka untuk menikah di usia dini dan kekhawatiran

Danau Ranu Grati merupakan potensi sumber daya air alami yang ada di Kabupaten Pasuruan. Fungsi danau tersebut sebagai penampung air dan menopang berbagai kegiatan

Unsur-unsur tindak pidana yang tercantum dalam Pasal 78 ayat (10) Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999, yaitu barang siapa; dengan sengaja; membuang benda-benda;

Intervensi ini dilakukan dengan tujuan untuk merubah pola hidup pasien dan keluarganya yang tidak teratur, memberikan gambaran mengenai sebab dan penanganan

Metode Hybrid case based adalah sebuah sistem atau teknik yang digunakan untuk menggunakan kombinasi (hybrid) metode case-based reasoning dan rule based

Setelah melakukan pemeriksaan kartu stok dengan saldo fisik barang, Bagian Administrasi Inventory membuat Laporan Persediaan Akhir pada setiap akhir bulan sebanyak