• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENATAAN PEMERINTAH DAERAH DALAM RANGKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENATAAN PEMERINTAH DAERAH DALAM RANGKA"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PENATAAN PEMERINTAH DAERAH DALAM RANGKA

PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH

Pelaksanaan otonomi daerah akan sangat bergantung pada kesiapan Pemda untuk membangun/mengembangkan daerahnya. Langkah pertama yang harus disiapkan oleh daerah adalah menata sistem pemerintahannya agar tercipta pemerintahan daerah yang ekonomis, efektif, efisien, dan akauntabel.

Dengan diundangkannya UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah telah terjadi berbagai perubahan mendasar dalam pengaturan pemerintahan daerah di Indonesia. Sebagai konsekuensi logis adalah perlunya dilakukan penataan terhadap berbagai elemen yang berkaitan dengan Pemerintah Daerah sebagai manifestasi dari otonomi daerah.

Terdapat enam elemen utama yang membentuk pemerintahan daerah, yaitu:

1. Adanya urusan otonomi yang merupakan dasar dari kewenangan daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.

2. Adanya kelembagaan yang merupakan pewadahan dari otonomi yang diserahkan kepada daerah.

3. Adanya personil, yaitu pegawai yang mempunyai tugas untuk menjalankan urusan otonomi yang menjadi isi rumah tangga daerah yang bersangkutan.

4. Adanya sumber-sumber keuangan untuk membiayai pelaksanaan otonomi daerah.

5. Adanya unsur perwakilan yang merupakan perwujudan dari wakil-wakil rakyat yang telah mendapatkan legitimasi untuk memimpin penyelenggaraan pemerintah daerah.

6. Adanya manajemen urusan otonomi, yaitu penyelenggaraan otonomi daerah agar dapat berjalan secara efisien, efektif, ekonomis, dan akauntabel.

Tujuan utama dari penataan tersebut adalah untuk memberdayakan Pemerintah Daerah agar mampu menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara ekonomis, efektif, efisien, dan akauntabel.

a. Ekonomis adalah bagaimana Pemda mampu menjalankan urusan otonominya dengan berbagai pertimbangan ekonomis yaitu memilih dari berbagai alternatif yang terbaik dari sudut total pembiayaan. Tujuan ekonomis ini akan menghilangkan kesan pemborosan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, baik dalam kegiatan rutin maupun pembangunan dari setiap urusan. Hal ini akan menunjukkan bahwa Pemda bersikap kompetitif dalam upaya memberikan nilai tertinggi bagi setiap rupiah uang rakyat yang dipergunakan.

b. Efektif mengandung arti bahwa dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya Pemda dapat mencapai sasaran yang direncanakan, di mana sasaran dan tujuan yang ingin dicapai oleh Pemda harus terukur dan ada standar yang jelas. Tujuan dalam konteks efektif ini adalah meningkatkan kepekaan Pemda dalam menentukan tujuan atau sasaran dari setiap urusan otonomi yang dilaksanakannya. Kejelasan sasaran tersebut akan menunjukkan sejauh mana Pemda dapat menangkap aspirasi dan mengartikulasikan tuntutan dan dukungan masyarakat daerah yang bersangkutan.

c. Efisien mengandung arti bahwa output yang dihasilkan dari setiap penyelenggaraan urusan otonomi tercapai dengan resources inputs yang minimal. Tujuannya adalah menciptakan citra bahwa Pemda akan selalu hemat dalam mempergunakan resources baik yang berupa pegawai, uang, peralatan dan tata kerja dalam menjalankan tugas pokoknya.

(2)

pendidikan politik masyarakat lokal yang pada gilirannya secara agregat akan menyumbangkan pendidikan politik secara nasional.

A. Reaktualisasi Otonomi Daerah

Pemerintahan daerah berfungsi untuk melayani kebutuhan masyarakat (public service), sehingga setiap daerah akan mempunyai keunikan sendiri-sendiri, baik dari aspek penduduk maupun karakter geografisnya. Konsekuensinya adalah urusan yang dilimpahkan akan berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya sehingga urusan otonomi ini harus diberikan sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, analisis kebutuhan (need assessment) merupakan suatu keharusan sebelum urusan tersebut diserahkan ke suatu daerah otonom.

Permasalahan di Indonesia yang menjadi kelemahan dan menyebabkan Pemerintah Daerah kurang mampu mengakomodasikan fungsi-fungsinya secara efektif dan efisien, yaitu:

 Areal Pemda tidak sesuai dengan pola kehidupan dan mata pencaharian warganya.  Urusan otonomi Pemda cenderung seragam, baik di Dati I maupun Dati II. Kondisi ini

membuat Pemda kurang responsif dengan kebutuhan nyata daerahnya.

 Pelayanan yang seyogianya dilakukan oleh satu Pemda terfragmentasi ke dalam berbagai Pemda.

 Banyak Pemda yang sangat kecil, baik dari segi ukuran maupun pendapatan daerah, sehingga tidak mampu untuk mempekerjakan tenaga-tenaga profesional dan tidak mampu mengadakan peralatan-peralatan teknis sehingga tugas-tugas tidak terlaksana secara efektif dan efisien.

 Terdapat beberapa indikator yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan pola distribusi urusan/kewenangan dari Pemda (United Nation, 1962), yaitu:

 Sistem Pemda yang sudah ada.  Kemampuan administrasi dari Pemda.  Hubungan antara kota dan desa.  Karakter dari masyarakat yang ada.  Keinginan dari warga masyarakat.  Tingkat partisipasi masyarakat.

 Keadilan dalam memikul beban pajak dan keuntungan yang diperoleh dari pelayanan yang diberikan Pemda.

 Rencana tindakan yang diperlukan adalah:

 Reaktualisasi isi otonomi daerah, penyeragaman yang berlebihan terhadap otonomi daerah menyebabkan Pemda kurang responsif sehingga perlu diadakan need assesment yang merupakan analisis terhadap kebutuhan masyarakat yang perlu dikelola oleh Pemda.

 Kejelasan dalam pembagian urusan, dimana urusan-urusan disesuaikan dengan kebutuhan daerah dan masyarakatnya. Pemda Tingkat I seyogianya melakukan urusan-urusan bersifat regional cakupan tingkat propinsi, sedangkan Pemda Tingkat II melakukan urusan-urusan yang bersifat lokal seperti pendidikan, kesehatan, lingkungan, tranportasi lokal, pasar, pemadam kebakaran, dsb.

B. Kelembagaan

(3)

(privatisasi) ataupun kemitraan antara pihak Pemda dan swasta (public private partnership). Tolok ukurnya adalah bagaimana urusan tersebut dapat terlaksana secara efektif, efisien, ekonomis, dan akauntabel. Rencana tindakan yang diperlukan dalam mereformasi kelembagaan tersebut adalah:

 Penentuan kelembagaan Pemda, harus ada kejelasan urusan, apakah urusan tersebut akan dikerjakan oleh pemda sendiri, apakah urusan tersebut akan diprivatisasikan, atau urusan tersebut akan dilaksanakan secara partnership.

 Kelembagaan yang miskin struktur dan kaya fungsi

 Pembenahan kelembagaan kepala daerah, terdapat dua hal yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan kepala daerah, yaitu pertama seorang calon kepala daerah harus mampu menciptakan akseptasi masyarakat yang dicerminkan dalam kemampuannya untuk mendapatkan dukungan politis dari DPRD yang merupakan wakilwakil rakyat. Kedua, seorang calon kepala daerah juga harus mampu menunjukkan kapabilitasnya dalam bentuk mempunyai kemampuan yang memadai untuk mengembangkan daerah yang dipimpinnya.

C. Personil

Kelemahan dari sistem kepegawaian Pemda adalah tidak kondusif untuk mencetak personil yang handal dan profesional yang mampu melahirkan gagasan-gagasan dengan keunggulan kompetitif dan komparatif sesuai dengan tuntutan globalisasi.

Secara teoritis ada lima tahapan utama yang berkaitan dengan personil berdasarkan pendekatan manajemen sumber daya manusia, yaitu rekruitment, placement, development, appraisal, dan remuneration. Terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam bidang personil (United Nation, 1966), yaitu:

 Jabatan-jabatan dalam Pemda harus sama menariknya dengan jabatan-jabatan di tingkat pusat maupun swasta agar orang-orang profesional tertarik bekerja untuk Pemda.  Lowongan harus terbuka seluas mungkin untuk semua orang sehingga memperoleh

calon-calon yang qualified.

 Calon harus diseleksi berdasarkan kemampuannya secara kompetitif. Di samping itu, faktor integritas dan perilaku calon harus juga dipertimbangkan.

 Adanya sistem karir yang memberikan prospek promosi berdasarkan kemampuan tanpa harus mengabaikan masa kerja atau senioritas.

 Peraturan dan disiplin hendaknya ditegakkan secara uniform dan obyektif.

 Adanya kemungkinan mutasi pegawai dari satu daerah ke daerah lainnya untuk memperluas wawasan dan untuk mendesiminasikan pengalaman dan keahlian yang bersangkutan ke daerah lainnya.

 Pegawai harus diberi kesempatan untuk mengikuti in service training untuk meningkatkan kinerjanya dalam pelaksanaan tugas.

Terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi oleh Pemda di Indonesia berkaitan dengan aspek kepegawaian, yaitu:

 Pemda umumnya kekurangan pegawai yang qualified yang mampu bekerja secara efektif. Namun, pada waktu yang bersamaan pemda kelebihan pegawai dengan kualifikasi yang tidak sesuai dengan pekerjaan yang ada.

 Adanya keengganan pegawai untuk bekerja di tempat terpencil.

 Adanya kecenderungan penumpukan pegawai di sekretariat Pemda dibandingkan di dinas-dinas yang seyogianya merupakan instrumen pelaksana otonomi daerah.

(4)

 Kurangnya gaji

 Terjadinya gejala proliferasi kelembagaan telah berdampak pada proliferasi kepegawaian untuk mengisi struktur tambahan yang diciptakan.

 Adanya kerancuan antara jabatan politis dan jabatan karir.

Rencana tindakan yang diperlukan dalam rangka reformasi personil Pemda, yaitu:

 Analisis kebutuhan pegawai, ditujukan untuk mengetahui berapa jumlah riil pegawai yang dibutuhkan Pemda dan kualifikasinya.

 Reaktualisasi sistem rekruitment, sistem ini harus bersifat transparan dan didasarkan atas ujian penerimaan yang kompetitif.

 Pengembangan pegawai, sistem karir pegawai harus jelas dan transparan serta dilaksanakan secara konsisten. Untuk itulah, perlu ada pembedaan yang jelas antara jabatan politis dan jabatan karir.

 Aktualisasi sistem penilaian, sistem penilaian kinerja pegawai perlu untuk ditinjau kembali. Agar penilaian dapat bersifat objektif maka diperlukan standar kinerja yang merupakan benchmarking yang harus dicapai oleh pegawai dalam melaksanakan tugas pokoknya. Untuk itu, diperlukan sistem reward bagi yang mampu mencapai kinerja sesuai dengan standar yang ditentukan dan juga penalti bagi yang melalaikannya.

 Peningkatan sistem kesejahteraan

 Dengan adanya jumlah pegawai Pemda yang sedikit dan profesional akan memungkinkan Pemda memberikan insentif yang mencukupi sebagai tambahan dari gaji standar yang diterima pegawai.

D. Keuangan

Peningkatan pengelolaan keuangan daerah untuk membiayai urusan yang telah dilimpahkan sangatlah penting. Selama ini yang selalu menjadi pusat perhatian adalah peningkatan pusat-pusat pendapatan. Sangat jarang atau bahkan belum terdengar adanya optimalisasi dari pusat-pusat pengeluaran. Yang menjadi inti persoalan adalah berapa sebenarnya kebutuhan obyektif Pemda untuk menjalankan urusan-urusan yang telah di-limpahkan Pusat

kepada Daerah yang bersangkutan.

Tidak adanya standar pengoperasian yang jelas dari setiap urusan telah menyebabkan kaburnya kebutuhan obyektif besarnya pembiayaan dari setiap urusan otonomi tersebut. Inilah pangkal kerancuan dari ketidakjelasan perimbangan keuangan Pusat dan Daerah. Terdapat tiga aspek yang menentukan terjadinya perimbangan keuangan yang adil, yaitu:  Sejauh mana Pemda telah diberi sumber-sumber keuangan yang cukup terutama

yang bersumber dari pajak daerah dan retribusi daerah.

 Sejauhmana Pemda telah mendapatkan akses ke pendapatan yang bersumber dari bagi hasil pajak.

 Sejauh mana Pemda telah mendapatkan subsidi yang adil dan efektif.

Salah satu masalah utama dalam keuangan daerah adalah kesulitan dalam penentuan kebutuhan keuangan (need assesment) Pemda secara objektif dan rasional. Permasalahan yang berkaitan dengan keuangan daerah:

 Rendahnya sumber-sumber keuangan lukratif telah menyebabkan ketergantungan keuangan yang tinggi dari Pemda kepada Pusat.

(5)

 Secara empirik sistem perimbangan keuangan selama ini lebih bertumpu pada sistem subsidi.

 Secara empirik, pendekatan perimbangan keuangan yang lebih memberikan dominasi Pusat untuk menguasai sumber-sumber keuangan lukratif telah mengakibatkan terjadinya bias of allocation dengan memberikan akses pendanaan yang lebih besar kepada departemen-departemen pusat dengan kanwil serta kandepnya di daerah untuk melakukan pembangunan.

 Dalam era reformasi, perimbangan keuangan pusat dan daerah yang lebih bertumpu pada sistem grant akan kurang kondusif untuk memberdayakan kemandirian Pemda karena Pemda menjadi kurang kreatif dan inovatif yang justru kemampuan tersebut sangat dibutuhkan dalam menghadapi globalisasi yang bercirikan kemampuan untuk menggali keunggulan komparatif dan kompetitif.

Rencana tindakan yang harus dilakukan dalam rangka reformasi keuangan pemda, yaitu:  Analisis kebutuhan keuangan Pemda

 Peningkatan diskresi keuangan Pemda, pertama, daerah diberikan sumber-sumber pajak yang lukratif termasuk bagi hasil pajak yang biasanya menjadi objek pajak pusat. Kedua, sumber-sumber penerimaan lukratif tetap dipegang Pusat dan akibatnya Pemda hanya mempunyai sumber-sumber keuangan yang kurus (non bouyant sources).

 Peningkatan akauntabilitas Pemda.

E. Perwakilan

Makin meningkatnya kontribusi masyarakat untuk membiayai Pemda, baik melalui pajak daerah maupun retribusi, akan mengakibatkan makin pekanya masyarakat terhadap pemanfaatan dana mereka. Ini berarti perlunya perubahan kultur birokrasi Daedah dari berorientasi ke atas menjadi berorientasi pada kepentingan masyarakat pembayar pajak. Peran DPRD pun akan dituntut lebih berani menyuarakan kepentingan masyarakat.

Persoalan mendasar dalam perwakilan tersebut adalah sejauh mana aspirasi masyarakat telah terakulasikan dalam program-program pelayanan dan pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Berbagai permasalahan telah timbul dalam aspek perwakilan, yaitu:

 Lemahnya posisi DPRD dalam hubungannya dengan kepala daerah.

 Tidak jelasnya akauntabilitas anggota DPRD terhadap masyarakat yang diwakilinya.  Terjadinya alineasi DPRD dari kegiatan administrasi pemerintahan daerah

sehari-hari.

Rencana tindakan yang diperlukan adalah:

 Peningkatan hubungan DPRD dengan Masyarakat.

 Peningkatan peran DPRD dalam proses pemerintahan daerah.  Pemposisian wakil rakyat yang membela kepentingan rakyat.  Pembentukan networking.

F. Manajemen

(6)

kinerja dinas yang bersangkutan. Pembangunan adalah upaya menciptakan perubahan dan pertumbuhan yang bersifat multidimensional. Selama ini kecenderungan yang terjadi adalah pembangunan yang lebih bernuansa cetak biru dan dengan pendekatan sektoral yang lebih kuat dibandingkan regional.

Ternyata pembangunan berpendekatan cetak biru dan sektoral telah menciptakan berbagai ketimpangan diantaranya:

 Ketimpangan antar sektor-sektor pembangunan  Ketimpangan antara kota dan desa

 Ketimpangan regional

 Ketimpangan dalam distribusi pendapatan

Rencana tindakan yang perlu dilakukan adalah:

 Identifikasi dan standarisasi pelayanan Pemda, pelayanan apa saja yang harus disediakan Pemda sesuai dengan besaran dan karakter daerah yang bersangkutan. Dalam hal ini termasuk penentuan siapa yang akan menyediakan pelayanan tersebut apakah Pemda sendiri, pihak swasta, atau kemitraan antara pemda dengan swasta. Kemudian penentuan standar pelayanan baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Standar ini yang nantinya akan menjadi benchmarks untuk mengukur kinerja pelayanan yang disediakan.

 Peningkatan kinerja pelayanan oleh pemda, dilakukan dengan memperbandingkan antara realitas pelaksanaan yang telah dicapai sekarang dengan standar yang telah ditetapkan. Jika terjadi deviasi negatif, maka standar belum tercapai dan diperlukan adanya peningkatan kinerja lebih lanjut. Salah satu upaya peningkatan kinerja tersebut adalah dengan upaya penyediaan pelayanan satu atap (terpadu).

 Peningkatan akauntabilitas Pemda dalam pelayanan, Pemda harus mampu menyediakan pelayanan dengan prinsip better, cheaper, and faster. Untuk itu diperlukan adanya perubahan sikap dan tingkah laku dari aparat pemda yang bertugas melayani masyarakat untuk memperlakukan masyarakat tidak hanya sebagai customer tapi juga citizen. Termasuk dalam upaya ini adalah adanya pemerataan bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa melihat status sosialnya, untuk mendapatkan akses pelayanan Pemda.

 Peningkatan sistem monitoring dan evaluasi pelayanan, agar pemda dapat secara terus menerus meningkatkan kinerja pelayanannya kepada masyarakat. Adanya instrument money internal tersebut akan memungkinkan Pemda melakukan pengawasan melekat terhadap aparatnya yang melakukan kegiatan pelayanan. Sedangkan, instrument money yang bersifat eksternal akan memungkinkan masyarakat atau pemerintah pusat melakukan penilaian atas kinerja pelayanan yang dilakukan oleh pemda yang bersangkutan.

Referensi

Dokumen terkait

Kompetensi paedagogik dalam Standar Pendidikan Nasional, penjelasan pasal 28 ayat 3 butir (a) adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi

Nilai peluang transisi terbesar untuk data pertambahan jumlah pasien COVID-19 di Indonesia pada 11 Maret 2020 s.d 24 April 2020, terjadi pada 2 kondisi;

Komunikasi pada anak akan berlangsung efektif, mengena pada benak anak, dan memberikan pengaruh signifikan dalam proses belajarnya, jika pesan disampaikan dengan memahami

Selain itu, penelitian Saunders dan Ahuja (2006) menyebutkan bahwa pengaruh kepercayaan akan cenderung lebih tegas pada tim ongoing daripada tim jangka pendek

44 Cholid Narboku dan Abu Ahmadi, Metode Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), 83... Observasi dapat dilakukan secara partisipatif ataupun nonpartisipatif. dalam observasi

Sedangkan di Aceh, paska kesepakatan damai antara pemerintah dan Pemberontak, anti terhadap pancasila mulai terlihat redup dari sisi struktural, sedangkan pada ranah

Menurut Ruslan dalam bukunya Kampanye Public Relations (2007: 66) definisi kampanye public relations (PR Campaign) dalam arti sempit bertujuan meningkatkan

Setelah memperhatikan beberapa pendapat diatas, maka penulis mendefinisikan tindak pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum dilarang dan diancam dengan pidana,