RESUME BUKU:
Manajemen Berbasis Sekolah & Kurikulum Berbasis Kompetensi (Hendyat Soetopo)
dan
Kurikulum Berbasis Kompetensi (Dr. E. Mulyasa, M.Pd) untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Pembaharuan Kurikulum yang dibina oleh Dr. Mustiningsih, M.Pd
Oleh:
Hanna Permatasari Tanjung 170132844009 Qurrotu’ayun 170132844018
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
PROGRAM PASCASARJANA
PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN
1. Latar Belakang Diperlukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Dalam rangka mempersiapkan lulusan pendidikan memasuki era globalisasi yang penuh tantangan dan ketidakpastian, diperlukan pendidikan yang dirancang berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Terkait dengan pencanangan Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan oleh Menteri Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2002, pemerintah memprogramkan KBK sebagai acuan dan pedoman bagi pelaksanaan pendidikan untuk mengembangkan berbagai ranah pendidikan dalam seluruh jenjang dan jalur pendidikan, khususnya jalur pendidikan sekolah formal. Meskipun begitu, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Sebagian sekolah terutama di kota-kota menunjukkan peningkatan yang cukup menggembirakan, namun sebagian besar lainnya masih jauh dari baik.
Menurut Depdiknas, dari berbagai pengamatan dan analisis terdapat sedikitnya tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami perubahan secara merata (Depdiknas, 2001: 1-2):
1. Kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan
education – production – function atau analisis input-output yang tidak dilaksanakan secara konsekuen.
2. Penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratik-sentralistik. 3. Peran serta masyarakat, khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan
pendidikan sangat minim.
Untuk menangani masalah tersebut, pemerintah melakukan upaya untuk menyempurnakan sistem pendidikan melalui penataan perangkat lunak (software) dan juga keras (hardware). Diantara upaya tersebut yaitu dengan dikeluarkannya Undang-Undang nomor 22 dan 25 tahun 1999 tentang otonomi daerah. Undang-Undang ini menyebutkan bahwa otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
kerja. Dengan demikian Undang-Undang ini jelas secara langsung berpengaruh terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendikan.
Sejalan dengan itu, GBHN 1999 juga menjelaskan perlunya diversifikasi kurikulum yang melayani keanekaragaman kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM), kemampuan siswa, sarana pembelajaran, dan budaya di daerah. Diversifikasi kurikulum diharapkan dapat menjamin hasil pendidikan bermutu yang dapat membentuk manusia Indonesia yang damai, sejahtera, demokratis, dan berdaya saing untuk maju. Mutu lulusan pendidikan tidak cukup diukur dengan standar mutu lokal saja, tetapi harus dikembangkan dengan standar mutu nasional dan internasional sehingga memiliki daya saing tinggi. Agar lulusan pendidikan nasional memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sesuai dengan standar mutu tersebut, maka kurikulum perlu dikembangkan den gan pendekatan berbasis kompetensi.
Berikut ini adalah dasar hukum penggantian kurikulum pada dunia pendidikan di Indonesia dari kurikulum 1994 dan suplemen 1999 menjadi KBK:
1. GBHN tahun 1999.
2. Undang-Undang nomor 22 dan 25 tahun 1999 Bab IV pasal 7 ayat 1 tentang otonomi daerah.
3. Peraturan Pemerintah nomor 25 tahun 2000 pasal 2 ayat 3 tentang perbedaan wewenang pemerintah pusat dan daerah.
Pemberian otonomi pendidikan yang luas pada sekolah merupakan kepedulian pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul di masyarakat serta usaha peningkatan mutu pendidikan secara umum. Dalam kerangka inilah KBK tampil sebagai alternatif kurikulum dengan konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu dan efisiensi agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah, masyarakat, industri, dan
pemerintah untuk membentuk pribadi peserta didik. Otonomi yang diberikan kepada sekolah ini harus dilaksanakan dalam pemanfaatan sumber daya dan pengembangan strategi berbasis sekolah sesuai kondisi setempat.
2. Konsep Dasar KBK
2.1 Pengertian Kompetensi dan Kurikulum Berbasis Kompetensi
kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya. Sejalan dengan itu, Finch dan Crunkilton (1979) dalam Mulyasa (2002) mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan.
Berdasarkan pengertian di atas, maka KBK dapat dipandang sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. Karena KBK memfokuskan pada pemerolehan kompetensi-kompetensi tertentu oleh peserta didik, maka kurikulum ini mencakup sejumlah kompetensi dan seperangkat tujuan pembelajaran yang dinyatakan sedemikian rupa sehingga pencapaiannya dapat diamati dalam bentuk perilaku atau keterampilan peserta didik sebagai suatu kriteria keberhasilan.
2.2 Karakteristik KBK
Berikut ini adalah karakteristik KBK secara lebih teknis yang dikumpulkan dari berbagai sumber:
1. Sistem Belajar dengan Modul
Modul merupakan suatu pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun sistematis, terarah, operasional untuk digunakan peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru. Pada umumnya sebuah modul terdiri atas komponen seperti : (1) lembar kegiatan peserta didik, (2) lembar kerja, (3) kunci lembar kerja, (4) lembar soal, (5) lembar jawaban, dan (6) kunci jawaban.
Dengan sistem pembelajaran modul ini peserta didik mendapat kesempatan lebih banyak untuk belajar sendiri, membaca uraian dan petunjuk di dalam lembar kegiatan, menjawab pertanyaan-pertanyaan serta melaksanakan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Karena itu peserta didik dalam batas-batas tertentu dapat maju sesuai dengan irama kecepatan dan kemampuan masing-masing.
2. Menggunakan Keseluruhan Sumber Belajar
Pengelompokan sumber belajar secara umum adalah sebagai berikut: a. Manusia : orang yang menyampaikan pesan seperti guru, konselor,
b. Bahan : sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran seperti film, peta, buku paket, grafik, dan sebagainya.
c. Lingkungan : ruangan dan tempat dimana sumber-sumber dapat berinteraksi dengan para peserta didik. Misalnya ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, ruang micro teaching, kebun binatang, museum, candi, dan sebagainya. d. Alat dan peralatan: sumber belajar untuk produksi dan atau memainkan
sumber-sumber lain. Contohnya seperti kamera, recorder, proyektor, televisi, dan lain-lain.
e. Aktivitas: kombinasi antara suatu teknik dengan sumber lain untuk memudahkan belajar, seperti karyawisata, simulasi, dan sebagainya. 3. Pengalaman Lapangan
Pengalaman lapangan dapat secara sistematis melibatkan masyarakat dalam pengembangan program, aktivitas, dan evaluasi pembelajaran. Keterlibatan ini penting karena masyarakat adalah pemakai produk pendidikan, dan dalam banyak kasus sekaligus juga sebagai penyandang dana untuk pembangunan dan
pengoperasian program.
4. Strategi Belajar Individual Personal
Belajar individual yaitu belajar berdasarkan tempo belajar masing-masing peserta didik. Sedangkan belajar personal adalah interaksi edukatif berdasarkan keunikan peserta didik yang berupa bakat, minat, dan kemampuan.
5. Kemudahan Belajar
Kemudahan belajar dalam KBK diberikan melalui kombinasi antara pembelajaran individual personal dengan pengalaman lapangan, dan pembelajaran secara tim
(team teaching). Hal tersebut dilakukan dengan penggunaan berbagai saluran komunikasi yang dirancang untuk pembelajaran seperti koran, televisi, radio, dan lain-lain.
6. Belajar Tuntas
3. Pengembangan KBK
Pengembangan KBK memfokuskan pada kompetensi tertentu, berupa paduan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat di
demonstrasikan peserta didik sebagai wujud pemahaman terhadap konsep yang di pelajarinya. Oleh karena itu peserta didik perlu
mengetahui kriteria penguasaan kompetensi yang akan di jadikan standar penilaian hasil belajar, sehingga para peserta didik dapat mempersiapkan dirinya melalui penguasaan terhadap sejumlah kompetensi tertentu
sebagai prasyarat untuk melanjutkan ke tingkat penguasaan kompetensi berikutnya. Depdiknas (2002) melukiskan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi sebagai berikut:
3.1 Ting
kat
Pengembangan Kurikulum 3.1.1 Tingkat Nasional
Pengembangan kurikulum lingkup nasional meliputi jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah, baik secara vertikal
Secara vertikal berkaitan dengan konstitusi pengembangan kurikulum antara berbagai jenjang pendidikan (pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi). Sedangkan secara horizontal berkaitan dengan keselarasan antarberbagai jenis pendidikan dalam berbagai jenjang. Jenis pendidikan yang termasuk jenis pendidikan sekolah terdiri atas pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademik, dan pendidikan profesional.
3.1.2 Tingkat Lembaga
Pada tingkat ini membahas pengembangan kurikulum untuk setiap jenis lembaga pendidikan pada berbagai satuan dan jenjang pendidikan. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini antara lain:
1. Mengembangkan kompetensi lulusan, dan merumuskan tujuan-tujuan pendidikan pada berbagai jenis lembaga pendidikan.
2. Berdasarkan kompetensi dan tujuan di kembangkan bidang studi-bidang studi yang akan di berikan untuk merelisasikan tujuan tersebut.
3. Mengembangakan dan mengidentifikasi tenaga-tenaga kependidikan (guru dan non guru) sesuai dengan klasifikasi yang di perlukan.
4. Mengidentifikasi fasilitas pembelajaran yang diperlukan untuk memberi kemudahan belajar
3.1.3 Tingkat Bidang Studi (Penyusunan Silabus)
Pada tingkat ini dilakukan pengembangan silabus untuk setiap bidang studi pada berbagai jenis lembaga pendidikan. Kegiatan yang dilakukan antara lain:
2. Mengembangkan kompetensi dan pokok-pokok bahasan, serta pengelompokannya sesuai dengan ranah pengetahuan, pemahaman, kemampuan, (keterampilan) nilai, dan sikap. 3. Mendeskripsikan kompetensi serta pengelompokannya sesuai
dengan skope dan sekuensi.
4. Mengembangkan indikator untuk setiap kompetensi serta kriteria pencapaiannya.
3.1.4 Tingkat Satuan Bahasan (Modul)
Berdasarkan kompetensi-kompetensi yang telah diidentifikasi dan di urutkan sesuai dengan tingkat pencapaiannyapada setiap bidang studi, selanjutnya dikembangkan program-program
pembelajaran. Dalam KBK program pembelajaran yang
dikembangkan adalah modul, sehingga kegiatan pengembangan kurikulum pada tingkat ini adalah menyusun dan mengembangkan paket-paket modul.
3.2 Prinsip-prinsip Pengembangan KBK
Menurut Depdikbud (2002), sesuai dengan kondisi negara, kebutuhan masyarakat, dan berbagai perkembangan serta perubahan yang sedang berlangsung dewasa ini, maka dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi ini perlu
memperhatikan dan mempertimbangkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Keimanan, nilai dan budi pekerti luhur
Keimanan, nilai-nilai, dan budi pekerti yang luhur yang dianut dan dijunjung tinggi masyarakat sangat berpengaruh terhadap sikap dan arti kehidupannya. Oleh karena itu, hal tersebut perlu digali, dipahami, dan diamalkan oleh peseta didik melalui
Memberikan pemahaman tentang masyarakat Indonesia yang majemuk dan kemajuan peradaban dalam tatanan kehidupan dunia dan multikultural dan bahasa.
3. Keseimbangan etika, logika, estetika, dan konestetika
Memperhatikan keseimbangan pengalaman belajar peserta didik antara etika, logika, estetika, dan konestetika.
4. Kesamaan memperoleh kesempatan
Menyediakan tempat yang memberdayakan semua peserta didik untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap perlu diutamakan dalam pengembangan kurikulum.
5. Abad pengetahuan dan teknologi informasi
Mengembangkan kemampuan berfikir dan belajar dengan
mengakses, memilih dan menilai pengetahuan untuk mengatasi situasi yang cepat berubah dan penuh ketidakpastian, yang merupakan kompetensi penting dalam menghadapi abad ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.
6. Pengembangan keterampilan untuk hidup
Memasukkan unsur keterampilan untuk hidup agar peserta didik memiliki keterampilan, sikap dan perilaku, adaptif kooperatif dan kompetitif dalam menghadapi tantangan dan tuntutan
kehidupan sehari-hari secara efektif. 7. Belajar sepanjang hayat
Pendidikan berlangsung sepanjang hidup manusia untuk mengembangkan, menambah kesadaran, dan sealalu belajar dalam berbagai bidang, oleh karena itu pengembangan
kurikulum berbasis kompetensi perlu memperhatikan kemampuan belajar sepanjang hayat.
8. Berpusat pada anak dengan penilaian yang berkelanjutan dengan konprehensif
Berupaya memandirikan peserta didik untuk belajar,
bekerjasama, dan menilai diri sendiri agar mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya.
Mempertimbangkan semua pengalaman belajar yang dirancang secara berkesinambungan mulai dari TK dan RA sampai dengan kelas XII. Keberhasilan pencapaian pengalaman belajar
menuntut kemitraan dan tanggung jawab bersama dari peserta didik, guru, sekolah, orang tua, perguruan tinggi, dunia usaha dan industri serta masyarakat pada umumnya.
4. Implementasi KBK
Implementasi kurikulum merupakan suatu proses penerapan konsep, ide, program, atau tatanan kurikulum dalam praktek pembelajaran atau aktivitas-aktivitas baru sehingga terjadi perubahan pada sekelompok orang yang diharapkan untuk berubah. Dalam garis besarnya implementasi KBK mencakup: pengembangan program, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi.
4.1 Pengembangan Program 4.1.1 Program Tahunan
Program tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran untuk setiap kelas yang dikembangkan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. Program ini perlu dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahun ajaran karena merupakan pedoman bagi pengembangan program-program berikutnya, yakni program semester, program mingguan, dan program harian atau program
pembelajaran setiap pokok bahasan atau dikenal sebagai modul. Sumber-sumber yang dapat dijadikan bahan pengembangan program tahunan antara lain:
(1) Daftar standar kompetensi sebagai konsensus nasional yang dikembangkan dalam buku GBPP setiap mata pelajaran yang akan dikembangkan.
(2) Skope dan sekuensi tiap kompetensi. Skope adalah ruang lingkup dan batasan keleluasaan setiap pokok dan sub pokok bahasan. Sekuensi adalah urutan logis dari setiap pokok dan sub pokok bahasan.
(3) Kalender pendidikan. Penyusunan kalender pendidikan selama satu tahun pelajaran mengacu pada efisiensi, efektifitas, dan hak-hak peserta didik. Berdadarkan sumber-sumber tersebut dapat ditetapkan dan dikembangkan jumlah kompetensi, pokok bahasan, dan waktu yang tersedia untuk
4.1.2 Program Semester
Berisi garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Pada umumnya program semester ini berisi tentang bulan, pokok bahasan, waktu yang direncanakan, dan keterangan-keterangan. 4.1.3 Program Modul
Umumnya dikembangkan dari setiap kompetensi dan pokok bahasan yang akan disampaikan. Biasanya modul berisi lembar kegiatan peserta didik, lembar kerja, kunci lembar kerja, lembar soal, lembar jawaban, dan kunci jawaban. 4.1.4 Program Mingguan dan Harian
Merupakan penjabaran dari program semester dan program modul. Melalui program ini dapat diketahui tujuan-tujuan yang telah dicapai dan yang perlu diulang bagi setiap peserta didik. Dan juga dapat diidentifikasi kemajuan belajar setiap peserta didik.
4.1.5 Program pengayaan dan remedial
Berdasarkan hasil analisis dari kegiatan belajar, tugas-tugas modul, hasil tes, dan ulangan dapat diperoleh tingkat kemampuan belajar tiap peserta didik. Hasil analisis dipadukan dengan catatan-catatan yang ada pada program mingguan dan harian untuk bahan tindak lanjut. Program ini juga mengidentifikasi modul yang perlu diulang, peserta didik yang wajib mengikuti remedial, dan yang mengikuti pengayaan.
4.1.6 Program Bimbingan dan Konseling Pendidikan
Sekolah wajib memberikan bimbingan dan konseling kepada peserta didik yang menyangkut pribadi, sosial, belajar, dan karier. Selain guru pembimbing, guru mata pelajaran yang memenuhi kriteria pelayanan bimbingan konseling dan karier diperkenankan memfungsikan diri sebagai guru pembimbing.
4.2 Pelaksanaan Pembelajaran
Umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga hal : pre tes, proses, dan post tes.
Fungsi pre tes antara lain: menyiapkan peserta didik dalam proses belajar, mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses
pembelajaran, mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik mengenai bahan ajaran yang akan dijadikan topik, dan untuk mengetahui dari mana seharusnya proses pembelajaran dimulai, tujuan-tujuan mana yang telah dikuasai peserta didik dan tujuan-tujuan mana yang perlu mendapatkan perhatian khusus.
4.2.2 Proses
Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas jika seluruhnya atau setidaknya 75% peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri. Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran dikatakan berhasil jika terjadi perubahan perilaku positif pada diri peserta didik seluruhnya atau setidaknya 75%.
4.2.3 Post tes
Fungsi post tes yaitu:
(1) Mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditentukan baik secara individu maupun kelompok.
(2) Mengetahui kompetensi-kompetensi dan tujuan-tujuan yang dapat dikuasai peserta didik, serta kompetensi dan tujuan-tujuan yang belum dikuasainya. Apabila sebagian besar belum menguasainya, maka dilakukan pembelajaran kembali (remedial teaching).
(3) Mengetahui peserta didik mana yang perlu mengikuti remedial, mana yang perlu mengikuti pengayaan, dan untuk mengetahui tingkat kesulitan dalam mengerjakan modul.
(4) Sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap komponen-komponen modul dan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
4.3 Evaluasi Hasil Belajar
4.3.1 Penilaian Kelas
Terdiri dari ulangan harian, ulangan umum, dan ujian akhir. Ulangan harian minimal dilakukan 3 kali dalam setiap semester. Ulangan umum dilaksanakan setiap akhir semester, dan ujian akhir dilakukan pada akhir program pendidikan. Penilaian kelas dilakukan oleh guru untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, dan memberikan umpan balik untuk perbaikan, serta penentuan kenaikan kelas.
4.3.2 Tes Kemampuan Dasar
Dilakukan untuk mengetahui kemampuan membaca, menulis, dan berhitung yang diperlukan dalam rangka memperbaiki program pembelajaran. Tes ini dilaksanakan pada setiap tahun.
4.3.3 Penilaian Akhir Satuan Pendidikan dan Sertifikasi
Dilakukan setiap akhir semester dan akhir tahun pelajaran untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh tentang ketuntasan belajar peserta didik dalam satu waktu tertentu. Untuk keperluan sertifikasi, kinerja dan hasil belajar yang dicantumkan dalam STTB tidak semata-mata didasarkan atas hasil penilaian pada akhir jenjang sekolah.
4.3.4 Benchmarking
Merupakan suatu standar untuk mengukur kinerja yang sedang berjalan, proses, dan hasil untuk mencapai suatu keunggulan yang memuaskan. Untuk dapat memperoleh data dan informasi tentang pencapaian benchmarking tertentu dapat diadakan penilaian secara nasional yang dilaksanakan pada akhir satuan pendidikan. Hasilnya dapat dipakai untuk memberikan peringkat kelas dan tidak untuk mmberikan nilai akhir peserta didik. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu dasar untuk pembinaan guru dan kinerja sekolah.
4.3.5 Penilaian Program
Dilakukan oleh Depdiknas dan Dinas Pendidikan secara berkala dan berkesinambungan. Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui kesesuaian kurikulum dengan dasar, fungsi, dan tujuan pendidikan nasional, serta kesesuaiannya dengan perkembangan masyarakat dan kemajuan jaman. 5. Keunggulan dan Kelemahan KBK
1. Bersifat alamiah (konsektual) karena berangkat, berfokus, dan bermuara pada hakikat peserta didik untuk mengembangkan berbagai kompetensi sesuai dengan potensinya masing-masing. 2. KBK boleh jadi mendasari pengembangan kemampuan-kemampuan
lain.
3. Ada bidang-bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang dalam pengembangannya lebih tepat menggunakan pendekatan
kompetensi, terutama yang berkaitan dengan keterampilan
Sedangkan kelemahannya yaitu:
1. Terlalu mementingkan perkembangan intelektual, mengabaikan perkembangan sosial, emosional dan pendidikan watak.
2. Kurang memberikan pemecahan masalah kehidupan secara integratif.