DANA PINJAMAN DAN HIBAH (1)

33  28  Download (1)

Teks penuh

(1)

DANA PINJAMAN DAN HIBAH

A. KAJIAN TEORI

Pada dasarnya semua pembiayaan yang ada di daerah sudah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) akan tetapi pemerintah daerah meliki kebutuhan-kebutuhan lain di luar APBD tersebut dikarenakan terbatasnya APBD. Kebutuhan tersebut antara lain untuk pembiayaan layanan kesehatan masyarakat, dan peningkatan sarana prasarana umum. Oleh karena itu pemerintah daerah memerlukan dana tambahan untuk melaksanakan kegiatan tersebut dengan cara melakukan pinjaman. Pemerintah Daerah dapat melakukan pinjaman kepada Pemerintah Pusat, Lembaga Perbankan, Lembaga bukan bank, dan lain-lain. Akan tetepi sampai sekarang Pemerintah Pusat sangat membatasi untuk Pemerintah Daerah melakukan pinjaman, hal ini dikarenakan pinjaman tersebut mempunyai resiko yang besar, seperti reiko gagal bayar.

(2)

Hibah daerah pada saat ini dipergunakan Pemerintah Daerah utamanya untuk meningkatkan pelayanan dasar umum Pemerintah Daerah. Hibah Daerah ini harus dikelola dengan baik oleh Pemrintah Daerah baik penerimanya, penggunaannya, pertanggungjawabannya, sehingga penyaluran dana hibah ini dapat terlaksana dengan baik dan tuga tepat sasaran dan tujuan.

B. DANA PINJAMAN

1. PENGERTIAN PINJAMAN DAERAH

Konsep dasar pinjaman daerah dalam PP 54/2005 dan PP 30/2011 pada prinsipnya diturunkan dari UU 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Dalam UU tersebut disebutkan bahwa dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, untuk memberikan alternatif sumber pembiayaan bagi pemerintah daerah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, maka pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman. Namun demikian, mengingat pinjaman memiliki berbagai risiko seperti risiko kesinambungan fiskal, risiko tingkat bunga, risiko pembiayaan kembali, risiko kurs, dan risiko operasional, maka Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal nasional menetapkan batas-batas dan rambu-rambu pinjaman daerah. Dalam PP 54/2005 dijelaskan bahwa Pinjaman Daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan Daerah menerima sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga Daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali.

(3)

yang belum pasti terjadi. Risiko suku bunga adalah risiko yang timbul karena nilai relatif aktiva berbunga, seperti pinjaman atau obligasi, akan memburuk karena peningkatan suku bunga. Secara umum, jika suku bunga meningkat, harga obligasi berbunga tetap akan turun, demikian juga sebaliknya.

Resiko nilai tukar (kurs) adalah resiko yang diakibatkan karena adanya perubahan nilai tukar mata uang asing. Pada umumnya, transaksi-transaksi bisnis yang berhubungan dengan mata uang asing (valuta asing) biasanya akan menghadapi masalah perubahan nilai kurs mata uang tersebut. Perubahan kurs ini dapat disebabkan karena perubahan inflasi, perubahan suku bunga, indepedensi bank central, dan juga pertumbuhan ekonomi. Risiko opeasional merupakan risiko yang umumnya bersumber dari masalah internal instansi Pemerintah. Risiko ini terjadi disebabkan oleh lemahnya sistem kontrol manajemen yang dilakukan oleh internal instansi Pemerintah tersebut.

Selain itu, dalam UU 17/2003 tentang Keuangan Negara bab V mengenai Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Bank Sentral, Pemerintah Daerah, serta Pemerintah/Lembaga Asing disebutkan bahwa selain mengalokasikan Dana Perimbangan kepada Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat dapat memberikan pinjaman dan/atau hibah kepada Pemerintah Daerah. Dengan demikian, pinjaman daerah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

2. PRINSIP DASAR PINJAMAN DAERAH

Beberapa prinsip dasar dari pinjaman daerah di antaranya sebagai berikut : 1. Pemerintah Daerah dapat melakukan Pinjaman Daerah.

2. Pinjaman Daerah harus merupakan inisiatif Pemerintah Daerah dalam rangka melaksanakan kewenangan Pemerintah Daerah.

(4)

4. Pemerintah Daerah dilarang melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri.

5. Pemerintah Daerah tidak dapat memberikan jaminan terhadap pinjaman pihak lain.

6. Pinjaman Daerah dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama antara pemberi pinjaman dan Pemerintah Daerah sebagai penerima pinjaman yang dituangkan dalam perjanjian pinjaman.

7. Pendapatan daerah dan/atau barang milik daerah tidak boleh dijadikan jaminan pinjaman daerah.

8. Proyek yang dibiayai dari Obligasi Daerah beserta barang milik daerah yang melekat dalam proyek tersebut dapat dijadikan jaminan Obligasi Daerah.

9. Seluruh penerimaan dan pengeluaran dalam rangka Pinjaman Daerah dicantumkan dalam APBD.

Menurut Pasal 3 UU 30 tahun 2011, Pengelolaan Pinjaman Daerah harus memenuhi prinsip:

a. taat pada peraturan perundang-undangan; b. transparan;

c. akuntabel;

d. efisien dan efektif; dan e. kehati-hatian.

3. PERSYARATAN PINJAMAN

Persyaratan umum bagi Pemerintah Daerah untuk melakukan pinjaman adalah sebagai berikut:

(5)

sebelumnya adalah seluruh penerimaan APBD tidak termasuk Dana Alokasi Khusus, Dana Darurat, dana pinjaman lama, dan penerimaan lain yang kegunaannya dibatasi untuk membiayai pengeluaran tertentu.

2. Memenuhi ketentuan rasio kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman yang ditetapkan oleh Pemerintah. Nilai rasio kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman (Debt Service Coverage Ratio/DSCR) paling sedikit 2,5 (dua koma lima). DSCR dihitung dengan rumus sebagai berikut:

DSCR = (PAD + BD + DAU) – BW ≥ 2,5 Angsuran Pokok Pinjaman + Bunga + BL

DSCR : Debt Service Coverage ratio PAD : Pendapatan Asli Daerah

BD : Bagian Daerah dari PBB, BPHTB, Penerimaan Sumber Daya Alam serta Bagian Daerah Lainnya seperti PPh Perseorangan (Dana Bagi Hasil) DAU : Dana Alokasi Umum

BW : Belanja Wajib yaitu belanja yang harus dipenuhi/tidak bisa dihindarkan dalam tahun anggaran yang bersangkutan

BL : Biaya Lainnya Yang Jatuh Tempo (Biaya komitmen, Biaya Bank dan Lain-lain yang jatuh tempo)

3. Dalam hal Pinjaman Daerah diajukan kepada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah harus tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang bersumber dari Pemerintah.

4. Khusus untuk Pinjaman Jangka Menengah dan Jangka Panjang wajib mendapatkan persetujuan dari DPRD.

4. SUMBER PINJAMAN

Menurut Pasal 33 UU no 30 tahun 2011, Pinjaman Daerah bersumber dari:

1. Pemerintah Pusat, berasal dari APBN termasuk dana investasi Pemerintah, penerusan Pinjaman Dalam Negeri, dan/atau penerusan Pinjaman Luar Negeri;

(6)

3. Lembaga Keuangan Bank, yang berbadan hukum Indonesia dan mempunyai tempat kedudukan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;

4. Lembaga Keuangan Bukan Bank, yaitu lembaga pembiayaan yang berbadan hukum Indonesia dan mempunyai tempat kedudukan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia; dan

5. Masyarakat, berupa Obligasi Daerah yang diterbitkan melalui penawaran umum kepada masyarakat di pasar modal dalam negeri.

5. JENIS DAN JANGKA WAKTU PINJAMAN a. Pinjaman Jangka Pendek

Merupakan Pinjaman Daerah dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun anggaran dan Kewajiban pembayaran kembali Pinjaman Jangka Pendek yang meliputi pokok pinjaman, bunga, dan/atau kewajiban lainnya seluruhnya harus dilunasi dalam tahun anggaran yang berkenaan.

Sumber : Pemerintah daerah lain ; Lembaga keuangan bank ; lembaga keuangan bukan bank

b. Pinjaman jangka Menengah

Merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu lebih dari satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman (pokok pinjaman, bunga, dan biaya lain) harus dilunasi dalam kurun waktu yang tidak melebihi sisa masa jabatan kepala daerah yang bersangkutan.

Sumber : Pemerintah ; Pemerintah daerah lain ; Lembaga keuangan bank ; lembaga keuangan bukan bank

c. Pinjaman Jangka Panjang

Kewajiban pembayaran kembali Pinjaman Jangka Panjang yang meliputi pokok pinjaman, bunga, dan/atau kewajiban lain seluruhnya harus dilunasi pada tahun anggaran berikutnya sesuai dengan persyaratan perjanjian pinjaman yang bersangkutan.

(7)

6. PENGGUNAAN PINJAMAN

Menurut PP Nomor 30 Tahun 2011, Penggunaan Pinjaman Daerah telah diatur sebagaimana jenis pinjamannya, yaitu :

a. Pinjaman Jangka Pendek dipergunakan hanya untuk menutup kekurangan arus kas.

b. Pinjaman Jangka Menengah dipergunakan untuk membiayai pelayanan publik yang tidak menghasilkan penerimaan.

c. Pinjaman Jangka Panjang digunakan untuk membiayai kegiatan investasi prasarana dan/atau sarana dalam rangka penyediaan pelayanan publik yang (i) menghasilkan penerimaan langsung, (ii) menghasilkan penerimaan tidak langsung, (iii) memberikan manfaat ekonomi dan sosial.

d. Khusus Pinjaman Jangka Panjang dalam bentuk Obligasi Daerah digunakan untuk membiayai kegiatan investasi prasarana dan/atau sarana dalam rangka penyediaan pelayanan publik yang menghasilkan penerimaan bagi APBD yang diperoleh dari pungutan atas penggunaan prasarana dan/atau sarana tersebut.

7. PROSEDUR PINJAMAN DAERAH

a. Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang dananya bersumber dari Pinjaman Luar Negeri.

b. Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang dananya bersumber dari Pusat Investasi Pemerintah.

c. Pinjaman Daerah yang dananya bersumber dari Perbankan

d. Pinjaman Daerah yang dananya bersumber dari Masyarakat (Obligasi Daerah)

8. LARANGAN PENJAMINAN

a. Daerah tidak dapat memberikan jaminan atas pinjaman pihak lain;

(8)

c. Proyek yang dibiayai dari Obligasi Daerah beserta barang milik daerah yang melekat dalam proyek tersebut dapat dijadikan jaminan Obligasi Daerah.

9. PEMBAYARAN KEMBALI PINJAMAN

a. Seluruh kewajiban pinjaman daerah yang jatuh tempo wajib dianggarkan dalam APBD tahun anggaran yang bersangkutan;

b. Dalam hal daerah tidak memenuhi kewajiban membayar pinjamannya kepada Pemerintah, kewajiban membayar pinjaman tersebut diperhitungkan dengan DAU dan/atau Dana Bagi Hasil yang menjadi hak daerah tersebut.

10. PELAPORAN PINJAMAN (PP Nomor 54 Tahun 2005)

a. Pemerintah daerah wajib melaporkan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman kepada Pemerintah setiap semester dalam tahun anggaran berjalan;

b. Dalam hal daerah tidak menyampaikan laporan, Pemerintah dapat menunda penyaluran Dana Perimbangan.

11. PINJAMAN DAERAH DARI PEMERINTAH PUSAT (Pasal 17, PP 30/2011)

Prosedur Pengajuan dan Penilaian Usulan Pinjaman Daerah :

(1) Usulan Pinjaman Daerah diajukan oleh gubernur, bupati, atau walikota kepada Menteri.

(2) Usulan yang berupa Penerusan Pinjaman Dalam Negeri merupakan usulan yang sudah tercantum dalam daftar kegiatan prioritas yang dapat dibiayai dari Pinjaman Dalam Negeri.

(3) Usulan yang berupa Penerusan Pinjaman Luar Negeri merupakan usulan yang sudah tercantum dalam Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah.

(9)

a. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah selama 3 (tiga) tahun terakhir;

b. APBD tahun berkenaan;

c. perhitungan rasio kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman;

d. rencana penarikan pinjaman; dan

e. persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

(5) Dalam hal usulan berasal dari peneruspinjaman Pinjaman Luar Negeri, selain melampirkan dokumen, Pemerintah Daerah harus juga melampirkan pertimbangan Menteri Dalam Negeri.

(6) Kegiatan yang akan dibiayai dari Pinjaman Daerah harus sesuai dengan dokumen perencanaan daerah.

(7) Pemerintah Daerah bertanggung jawab sepenuhnya atas kegiatan yang diusulkan kepada Menteri.

Menteri melakukan penilaian atas usulan Pinjaman Daerah denganmemperhatikan:

a. kapasitas fiskal daerah yang ditetapkan secaraberkala oleh Menteri; b. kebutuhan riil pinjaman Pemerintah Daerah;

c. kemampuan membayar kembali; dan

d. batas maksimal kumulatif pinjaman Pemerintah Daerah.

12. PINJAMAN DAERAH YANG BERSUMBER DARI PEMERINTAH DAERAH LAIN, LEMBAGA KEUANGAN BANK, DAN LEMBAGA KEUANGAN BUKAN BANK (Pasal 33, PP 30/2011)

Pengajuan dan Penilaian Usulan Pinjaman Jangka Pendek :

(1) Pemerintah Daerah mengajukan usulan Pinjaman Jangka Pendek kepada calon pemberi pinjaman.

(10)

(3) Pemerintah Daerah memilih ketentuan dan persyaratan pemberi pinjaman yang paling menguntungkan Pemerintah Daerah.

(4) Pinjaman Jangka Pendek dituangkan dalam perjanjian pinjaman yang ditandatangani oleh gubernur, bupati, walikota, atau pejabat yang diberi kewenangan oleh gubernur, bupati, atau walikota dan pemberi pinjaman.

Pengajuan dan Penilaian Usulan Pinjaman Jangka Menengah dan Pinjaman Jangka Panjang :

(1) Sebelum mengajukan usulan Pinjaman Jangka Menengah atau Pinjaman Jangka Panjang kepada calon pemberi pinjaman, gubernur harus menyampaikan rencana Pinjaman Jangka Menengah atau Pinjaman Jangka Panjang kepada Menteri Dalam Negeri untuk mendapat pertimbangan.

(2) Sebelum mengajukan usulan Pinjaman Jangka Menengah atau Pinjaman Jangka Panjang kepada calon pemberi pinjaman, bupati atau walikota harus menyampaikan rencana Pinjaman Jangka Menengah atau Pinjaman Jangka Panjang kepada Menteri Dalam Negeri untuk mendapatkan pertimbangan dan tembusannya disampaikan kepada gubernur.

(3) Penyampaianpaling sedikit melampirkan:

a. persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;

b. salinan berita acara pelantikan gubernur, bupati, atau walikota;

c. pernyataan tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang berasal dari Pemerintah;

d. kerangka acuan kegiatan;

e. perhitungan tentang rasio kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman;

f. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah selama 3 (tiga) tahun terakhir; g. Rancangan APBD tahun berkenaan;

h. perbandingan sisa Pinjaman Daerah ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik tidak melebihi 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya; dan

(11)

(4) Menteri Dalam Negeri memberikan pertimbangan kepada gubernur, bupati, atau walikota setelah berkoordinasi dengan Menteri.

13. OBLIGASI DAERAH (Pasal 37 PP 30/2011) Ketentuan Penerbitan Obligasi Daerah :

a. Pemerintah Daerah dapat menerbitkan Obligasi Daerah sepanjang memenuhi persyaratan pinjaman

b. Penerbitan Obligasi Daerah wajib dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah dan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.

c. Penerbitan Obligasi Daerah hanya dapat dilakukan di pasar modal domestik dan dalam mata uang Rupiah.

d. Obligasi Daerah merupakan efek yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah dan tidak dijamin oleh Pemerintah.

e. Nilai Obligasi Daerah pada saat jatuh tempo sama dengan nilai nominal Obligasi Daerah pada saat diterbitkan.

f. Penerbitan Obligasi Daerah hanya dapat digunakan untuk membiayai kegiatan investasi prasarana dan/atau sarana dalam rangka penyediaan Pelayanan Publik yang menghasilkan penerimaan bagi APBD yang diperoleh dari pungutan atas penggunaan prasarana dan/atau sarana tersebut.

g. Setiap perjanjian pinjaman Obligasi Daerah sekurang-kurangnya mencantumkan:

a. nilai nominal; b. tanggal jatuh tempo; c. tanggal pembayaran bunga; d. tingkat bunga (kupon); e. frekuensi pembayaran bunga;

(12)

g. ketentuan tentang hak untuk membeli kembali Obligasi Daerah sebelum jatuh tempo; dan

h. ketentuan tentang pengalihan kepemilikan. Prosedur Penerbitan Obligasi :

(1) Rencana penerbitan Obligasi Daerah disampaikan kepada Menteri dengan terlebih dahulu mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (2) Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah mengenai rencana penerbitan

Obligasi Daerah meliputi pembayaran pokok dan bunga yang timbul sebagai akibat penerbitan Obligasi Daerah dimaksud.

(3) Persetujuan diberikan atas nilai bersih maksimal Obligasi Daerah yang akan diterbitkan pada saat penetapan APBD.

(4) Selain memberikan persetujuan atas hal-hal, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah memberikan persetujuan atas segala biaya yang timbul dari penerbitan Obligasi Daerah.

(5) Menteri melakukan penilaian terhadap rencana penerbitan Obligasi Daerah berdasarkan persyaratan pinjaman.

(6) Penerbitan Obligasi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

(7) Tata cara penerbitan, pelaksanaan, penatausahaan, dan pemantauan Obligasi Daerah dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.

14. PINJAMAN LUAR NEGERI DARI PEMERINTAH PUSAT (PMK No 53 Tahun 2006)

Pengajuan Usulan Kegiatan Yang Akan Dibiayai Dengan Pinjaman : 1) Pemerintah Daerah mengajukan usulan kegiatan yang akan dibiayai

dengan Pinjaman kepada Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas untuk dimasukkan dalam DRPHLN JM.

(13)

3) Indikasi kemampuan keuangan Daerah meliputi:

a. Indikasi proyeksi perhitungan tentang kemampuan Pemerintah Daerah dalam memenuhi kewajiban pembayaran kembali pinjaman (Debt Service Coverage Ratio/DSCR);

b. Informasi jumlah pinjaman Pemerintah Daerah yang bersangkutan; dan

c. Kinerja pinjaman Daerah.

4) Dalam rangka menghitung indikasi kemampuan keuangan daerah, Menteri Keuangan meminta informasi keuangan daerah kepada Pemerintah Daerah.

Berdasarkan Daftar Kegiatan. Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perbendaharaan menyampaikan surat kepada pemerintah Daerah agar mengajukan rencana Pinjaman kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perbendaharaan.

Rencana Pinjaman sekurangkurangnya dilengkapi dengan dokumen rencana Pinjaman yang terdiri dari:

a. Studi kelayakan kegiatan; b. Rencana Kegiatan Rinci;

c. Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selama tiga tahun terakhir;

d. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun bersangkutan;

e. Perhitungan proyeksi APBD selama jangka waktu pinjaman termasuk perhitungan DSCR yang mencerminkan kemampuan daerah dalam memenuhi kewajiban pembayaran kembali pinjaman (proyeksi DSCR) serta asumsi yang digunakan selama jangka waktu pinjaman yang akan diusulkan;

f. Rencana Pembiayaan Kegiatan (financing plan) secara keseluruhan;

(14)

h. Data kewajiban yang masih harus dibayar setiap tahunnya dari pinjaman yang telah dilakukan; dan

i. Surat Pernyataan Pemerintah Daerah, yang berisi tentang:

i. Tidak memiliki tunggakan atas pinjaman yang sedang berjalan;

ii. Menyediakan dana pendamping;

iii. Mengalokasikan dana untuk pembayaran angsuran pinjaman tersebut dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setiap tahun selama masa pinjaman; dan iv. Dipotong Dana Alokasi Umum/Dana Bagi Hasil untuk

pembayaran angsuran pinjaman yang tertunggak

C. DANA HIBAH

1. PENGERTIAN HIBAH

Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2011, hibah adalah setiap penerimaan negara dalam bentuk devisa, devisa yang dirupiahkan, rupiah, barang, jasa dan/atau surat berharga yang diperoleh dari Pemberi Hibah yang tidak perlu dibayar kembali, yang berasal dari dalam negeri atau luar negeri. Menteri Keuangan berwenang melakukan Pinjaman Luar Negeri dan/atau menerima Hibah yang berasal dari luar negeri dan dalam negeri. Pinjaman Luar Negeri dan hibah tersebut dapat diteruspinjamkan dan/atau dihibahkan kepada Pemerintah Daerah dan BUMN.

(15)

Perjanjian Penerusan Hibah atau Perjanjian Pinjaman Hibah paling sedikit memuat:

a. jumlah;

b. peruntukan; dan

c. ketentuan dan persyaratan.

Kementerian Keuangan menyampaikan salinan Perjanjian Penerusan Hibah dan salinan Perjanjian Pinjaman Hibah kepada Badan Pemeriksa Keuangan dan instansi terkait lainnya. Dalam hal Hibah dalam bentuk uang untuk membiayai kegiatan diterushibahkankepada Pemerintah Daerah dan/atau dipinjamkan kepada Pemerintah Daerah dan BUMN, Menteri menyusun dokumen pelaksanaan anggaran.

Menurut pasal 38, UU No 1 Tahun 2004, Menteri Keuangan dapat menunjuk pejabat yang diberi kuasa atas nama Menteri Keuangan untuk mengadakan utang negara atau menerima hibah yang berasal dari

dalam negeri ataupun dari luar negeri sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Undang-undang APBN. Pemindahtanganan barang milik negara/daerah dilakukan dengan cara dijual, dipertukarkan, dihibahkan, atau disertakan sebagai modal Pemerintah setelah mendapat

persetujuan DPR/DPRD.

2. KLASIFIKASI HIBAH

Menurut PMK Nomor 191/PMK.05/2011, klasifikasi hibah dapat dibedakan menurut bentuk hibah,

mekanisme pencairan hibah, dan sumber hibah. Berdasarkan bentuknya, hibah dibagi menjadi: a. hibah uang, terdiri diri:

1) uang tunai; dan

2) uang untuk membiayai kegiatan. b. hibah barang/jasa; dan

c. hibah surat berharga

(16)

menjadi:

a. hibah terencana; dan b. hibah langsung.

Berdasarkan sumbernya, hibah dibagi menjadi: a. hibah dalam negeri; dan

b. hibah luar negeri.

Hibah yang bersumber dari dalam negeri berasal dari: a. lembaga keuangan dalam negeri;

b. lembaga non keuangan dalam negeri; c. Pemerintah Daerah;

d. perusahaan asing yang berdomisili dan melakukan kegiatan di wilayah Negara

Republik Indonesia; e. lembaga lainnya; dan f. perorangan.

Hibah yang bersumber dari luar negeri berasal dari: a. negara asing;

b. lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa; c. lembaga multilateral;

d. lembaga keuangan asing; e. lembaga non keuangan asing;

f. lembaga keuangan nasional yang berdomisili dan melakukan kegiatan usaha di

luar wilayah Negara Republik Indonesia; dan g. perorangan

Hibah dapat digunakan untuk:

a. mendukung program pembangunan nasional; dan/atau

b. mendukung penanggulangan bencana alam dan bantuan kemanusiaan.

(17)

Mekanisme pelaksanaan dan pelaporan atas hibah langsung dalam bentuk uang dan belanja yang bersumber dari hibah langsung, dilaksanakan melalui pengesahan oleh BUN/Kuasa BUN. Pengesahan pendapatan dan belanja hibah, dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:

a. pengajuan permohonan nomor register;

b. pengajuan persetujuan pembukaan Rekening Hibah; c. penyesuaian pagu hibah dalam DIPA; dan

d. pengesahan Pendapatan Hibah Langsung dalam bentuk uang dan belanja yang bersumber dari hibah langsung.

Pasal 15, PMK Nomor 191/PMK.05/2011, Mekanisme pelaksanaan dan pelaporan atas belanja barang untuk pencatatan persediaan dari hibah/belanja modal untuk pencatatan aset tetap atau aset lainnya dari hibah/ pengeluaran pembiayaan untuk pencatatan suratberharga dari hibah dilaksanakan melalui pencatatan oleh BUN/Kuasa BUN. Pengesahan pendapatan dan pencatatan belanja/pengeluaran pembiayaan, dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:

a. penandatanganan BAST dan penatausahaan dokumen pendukung lainnya;

b. pengajuan permohonan nomor register;

c. pengesahan Pendapatan Hibah Langsung bentuk d. barang/jasa/surat berharga ke DJPU;

e. pencatatan hibah bentuk barang/jasa/surat berharga ke KPPN.

4. SANKSI (Pasal 23)

1. K/L yang menerima hibah dalam bentuk uang, barang, jasa dan surat berharga yang tidak mengajukan register dan/atau pengesahan diberikan sanksi administrasi.

2. Hibah yang diterima langsung oleh K/L dan tidak dikelola sesuai Peraturan Menteri Keuangan ini menjadi tanggung jawab penerima hibah.

(18)

(1) Apabila terjadi ineligible atas Pendapatan Hibah yang tidak diajukan register dan/atau pengesahan oleh K/L, negara tidak menanggung atas jumlah ineligible Pendapatan Hibah yang bersangkutan.

(2) Apabila terjadi ineligible atas Pendapatan Hibah yang telah diajukan register dan pengesahan oleh K/L, negara dapat menanggung atas jumlah yang ineligible melalui DIPA K/L yang bersangkutan.

6. PENGERTIAN HIBAH DAERAH

PP Nomor 2 Tahun 2012, pasal 1, Hibah Daerah adalah pemberian dengan pengalihan hak atas sesuatu dari Pemerintah atau pihak lain kepada Pemerintah Daerah atau sebaliknya yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya dan dilakukan melalui perjanjian.

7. SYARAT HIBAH DAERAH

Syarat hibah daerah menurut Permendagri 32 tahun 2011:

1. Pemerintah daerah dapat memberikan hibah sesuai kemampuan keuangan daerah.

2. Pemberian hibah dilakukan setelah memprioritaskan pemenuhan belanja urusan wajib.

3. Pemberian hibah ditujukan untuk menunjang pencapaian sasaran program dan kegiatan pemerintah daerah dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, rasionalitas, dan manfaat untuk masyarakat.

4. Pemberian hibah memenuhi kriteria paling sedikit: a. peruntukannya secara spesifik telah ditetapkan;

b. tidak wajib, tidak mengikat dan tidak terus menerus setiap tahun anggaran, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan; dan

(19)

a. Hibah kepada Pemerintah Daerah; b. Hibah dari Pemerintah Daerah.

8. PENERIMA HIBAH DAERAH

Menurut Permendagri Nomor 32 Tahun 2011, Hibah dapat diberikan kepada: a. Pemerintah;

Hibah kepada Pemerintah diberikan kepada satuan kerja dari kementerian/lembaga pemerintah non kementerian yang wilayah kerjanya berada dalam daerah yang bersangkutan.

b. Pemerintah daerah lainnya;

Hibah kepada pemerintah daerah lainnya diberikan kepada daerah otonom baru hasil pemekaran daerah sebagaimana diamanatkan peraturan perundang-undangan.

c. Perusahaan daerah;

Hibah kepada perusahaan daerah diberikan kepada Badan Usaha Milik Daerah dalam rangka penerusan hibah yang diterima pemerintah daerah dari Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. d. Masyarakat; dan/atau

Hibah kepada masyarakat diberikan kepada kelompok orang yang memiliki kegiatan tertentu dalam bidang perekonomian, pendidikan, kesehatan, keagamaan, kesenian, adat istiadat, dan keolahragaan non-profesional, dengan persyaratan paling sedikit memiliki kepengurusan yang jelas dan berkedudukan dalam wilayah administrasi pemerintah daerah yang bersangkutan.

e. Organisasi kemasyarakatan.

(20)

 telah terdaftar pada pemerintah daerah setempat sekurang-kurangnya 3 tahun, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan;  berkedudukan dalam wilayah administrasi pemerintah daerah yang

bersangkutan; dan

 memiliki sekretariat tetap.

9. SUMBER DANA HIBAH

Hibah kepada Pemerintah Daerah dapat berasal dari: a. Pemerintah;

b. badan, lembaga, atau organisasi dalam negeri; dan/atau c. kelompok masyarakat atau perorangan dalam negeri.

Hibah dari Pemerintah bersumber dari APBN meliputi : a. penerimaan dalam negeri;

b. hibah luar negeri; dan c. Pinjaman Luar Negeri.

10. HIBAH ANTAR INSTANSI PEMERINTAH

Dalam pasal 6, PP Nomor 2 Tahun 2012 disebutkan bahwa Hibah kepada Pemerintah Daerah merupakan salah satu sumber penerimaan Daerah untuk mendanai penyelenggaraan urusan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah dalam kerangka hubungan keuangan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Hibah kepada Pemerintah Daerah dapat diteruskan kepada badan usaha milik daerah. Hibah kepada Pemerintah Daerah diprioritaskan untuk penyelenggaraan Pelayanan Publik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Hibah tersebut dilaksanakan dengan memperhatikan stabilitas dan keseimbangan fiskal.

 Hibah dari Pemerintah Daerah kepada Pemerintah dilakukan dengan ketentuan:

(21)

b. Hanya untuk mendanai kegiatan dan/atau penyediaan barang dan jasa yang tidak dibiayai dari APBN.

 Hibah dari Pemerintah Daerah kepada Pemerintah Daerah lain, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

11. PERENCANAAN HIBAH

Usulan Kegiatan Hibah yang Bersumber dari Luar Negeri

Dalam Pasal 10 PP 2/2012, menjelaskan mengenai rencana kegiatan yang dibiayai dari pemberian/penerusan hibah yang bersumber dari Pinjaman Luar Negeri dan hibah luar negeri diusulkan oleh menteri/pimpinan lembaga pemerintah non kementerian kepada menteri yang membidangi perencanaan dengan tugas sebagai berikut :

o Melakukan penilaian kelayakan usulan kegiatan yang diajukan oleh menteri/pimpinan lembaga pemerintah non kementerian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

o Menuangkan usulan kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri dalam Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah.

o Menuangkan usulan kegiatan yang dibiayai dari hibah luar negeri dalam Daftar Rencana Kegiatan Hibah.

o Berdasarkan Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah dan Daftar Rencana Kegiatan Hibah, mengusulkan pembiayaan kegiatan kepada Menteri.

o Menetapkan jumlah alokasi peruntukan Pinjaman Luar Negeri yang dihibahkan dan hibah luar negeri yang diterushibahkan sebelum pelaksanaan perundingan dengan calon Pemberi Pinjaman Luar Negeri atau Pemberi Hibah Luar Negeri.

(22)

PP Nomor 2 Tahun 2012, Pasal 11, usulan kegiatan hibah yang bersumber dari Pinjaman Luar Negeri digunakan untuk melaksanakan kegiatan yang merupakan urusan Pemerintah Daerah dalam rangka pencapaian sasaran program dan prioritas pembangunan nasional yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Usulan kegiatan hibah yang didanai dari hibah luar negeri harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. kegiatan yang menjadi urusan Pemerintah Daerah;

b. kegiatan yang mendukung program pembangunan nasional; dan/atau c. kegiatan tertentu yang secara spesifik ditentukan oleh calon Pemberi

Hibah Luar Negeri.

Usulan kegiatan hibah yang didanai dari penerimaan dalam negeri harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. kegiatan yang menjadi urusan Pemerintah Daerah atau untuk kegiatan peningkatan fungsi pemerintahan, layanan dasar umum, dan pemberdayaan aparatur Pemerintah Daerah;

b. kegiatan lainnya sebagai akibat kebijakan Pemerintah yang mengakibatkan penambahan beban pada APBD;

c. kegiatan tertentu yang merupakan kewenangan Daerah yang berkaitan dengan penyelenggaraan kegiatan berskala nasional atau internasional; dan/atau

d. kegiatan tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah.

13. PEMBERIAN/PENERUSAN HIBAH DARI PEMERINTAH KEPADA PEMERINTAH DAERAH

(23)

penetapan Pemerintah untuk hibah kepada Pemerintah Daerah yang bersumber dari penerimaan dalam negeri. Selain itu Menteri/pimpinan lembaga pemerintah non kementerian mengusulkan besaran hibah dan daftar nama Pemerintah Daerah yang diusulkan sebagai penerima hibah kepada Menteri berdasarkan penetapan Menteri atas alokasi peruntukkan pinjaman luar negeri dan hibah luar negeri. Pengusulan Pemerintah Daerah sebagai penerima hibah dengan mempertimbangkan:

a. kapasitas fiskal daerah;

b. Daerah yang ditentukan oleh Pemberi Hibah Luar Negeri;

c. Daerah yang memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh kementerian negara/lembaga pemerintah non kementerian terkait; dan/atau

d. Daerah tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah.

14. PERJANJIAN HIBAH

Perjanjian Hibah Daerah paling sedikit memuat: a. tujuan;

b. jumlah; c. sumber; d. penerima; e. persyaratan;

f. tata cara penyaluran;

g. tata cara pelaporan dan pemantauan;

h. hak dan kewajiban pemberi dan penerima; dan i. sanksi.

Salinan perjanjian Hibah Daerah wajib disampaikan oleh :

(24)

b. kepala daerah kepada Menteri, Badan Pemeriksa Keuangan, dan pimpinan kementerian negara/lembaga pemerintah non kementerian terkait, dalam hal hibah diberikan oleh Pemerintah Daerah.

15. PENGANGGARAN HIBAH

Menurut Pasal 18, PP Nomor 2 Tahun 2012, Hibah dari Pemerintah kepada Pemerintah Daerah dianggarkan dalam APBN sebagai Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam hal APBN telah ditetapkan, penerushibahan kepada Pemerintah Daerah yang bersumber dari hibah luar negeri dapat dilaksanakan untuk kemudian dianggarkan dalam perubahan APBN. Dalam hal hibah luar negeri diterima setelah APBN Perubahan ditetapkan, penerushibahan kepada Pemerintah dapat dilaksanakan untuk kemudian dilaporkan dalam Laporan Keuangan Pemerintah Pusat.

Penerimaan hibah oleh Pemerintah Daerah dianggarkan dalam Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah sebagai jenis pendapatan hibah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Penggunaan dana hibah dianggarkan sebagai belanja dan/atau pengeluaran pembiayaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam hal APBD telah ditetapkan, penggunaan dana hibah dapat dilaksanakan untuk kemudian dianggarkan dalam Perubahan APBD. Dalam hal Perubahan APBD telah ditetapkan, penggunaan dana hibah dapat dilaksanakan untuk kemudian dilaporkan dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.

(25)

Mekanisme penganggaran Hibah menurut Permendagri Nomor 32 Tahun 2011 : 1. Pemerintah, pemerintah daerah lainnya, perusahaan daerah, masyarakat dan

organisasi kemasyarakatan dapat menyampaikan usulan hibah secara tertulis kepada kepala daerah.

2. Kepala daerah menunjuk SKPD terkait untuk melakukan evaluasi usulan. 3. Kepala SKPD terkait menyampaikan hasil evaluasi berupa rekomendasi

kepada kepala daerah melalui TAPD.

4. TAPD memberikan pertimbangan atas rekomendasi sesuai dengan prioritas dan kemampuan keuangan daerah.

16. MEKANISME PENYALURAN HIBAH

Penyaluran Hibah dari Pemerintah kepada Pemerintah Daerah Berupa Uang

­ Hibah dari Pemerintah kepada Pemerintah Daerah disalurkan berdasarkan permintaan penyaluran dana dari Pemerintah Daerah.

­ Hibah kepada Pemerintah Daerah dapat disalurkan secara bertahap sesuai dengan capaian kinerja.

­ Penyaluran hibah kepada Pemerintah Daerah dalam bentuk uang yang bersumber dari penerimaan dalam negeri dilakukan melalui pemindahbukuan dari Rekening Kas Umum Negara ke dalam Rekening Kas Umum Daerah. ­ Penyaluran hibah kepada Pemerintah Daerah dalam bentuk uang yang

bersumber dari pinjaman dan/atau hibah luar negeri dilakukan melalui: a. pemindahbukuan dari Rekening Kas Umum Negara ke Rekening Kas

Umum Daerah;

b. pembayaran langsung; c. rekening khusus;

(26)

­ Dalam hal Pemerintah Daerah tidak menyediakan dana pendamping atau kewajiban lain yang dipersyaratkan, maka penyaluran dana hibah tidak dapat dilakukan.

­ Dalam hal penyaluran hibah melibatkan kementerian negara/lembaga pemerintah non kementerian, penyaluran hibah dilakukan setelah mendapat pertimbangan terlebih dahulu dari kementerian negara/lembaga pemerintah non kementerian.

­ Dana hibah dari Pemerintah kepada Pemerintah Daerah untuk kegiatan yang belum selesai dilaksanakan, ditampung dalam dokumen pelaksanaan anggaran Daerah tahun berikutnya.

Penyaluran Hibah Berupa Barang dan Jasa

­ Penyaluran hibah dalam bentuk barang dan/atau jasa dilaksanakan berdasarkan perjanjian dan kelayakan barang dan/atau jasa.

­ Penyaluran barang dan/atau jasa yang bersumber dari hibah luar negeri kepada Pemerintah Daerah dapat dilaksanakan oleh Pemberi Hibah Luar Negeri setelah penandatanganan perjanjian penerusan hibah.

­ Penyaluran barang dan/atau jasa yang bersumber dari hibah luar negeri kepada badan usaha milik daerah dapat dilaksanakan oleh Pemberi Hibah Luar Negeri melalui Pemerintah Daerah setelah penandatanganan perjanjian penerusan hibah.

Penyaluran Hibah dari Pemerintah Daerah kepada Pemerintah

­ Hibah dari Pemerintah Daerah kepada Pemerintah berupa uang disalurkan melalui Menteri atau kuasanya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

­ Hibah dari Pemerintah Daerah kepada Pemerintah berupa barang atau jasa diterima oleh Menteri atau kuasanya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

17. PENATAUSAHAAN HIBAH

(27)

1. Setiap pemberian hibah dituangkan dalam Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) yang ditandatangani bersama oleh kepala daerah dan penerima hibah.

2. NPHD paling sedikit memuat ketentuan mengenai: a. pemberi dan penerima hibah;

b. tujuan pemberian hibah;

c. besaran/rincian penggunaan hibah yang akan diterima; d. hak dan kewajiban;

e. tata cara penyaluran/penyerahan hibah; dan f. tata cara pelaporan hibah.

3. Kepala daerah dapat menunjuk pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani NPHD.

4. Kepala daerah menetapkan daftar penerima hibah beserta besaran uang atau jenis barang atau jasa yang akan dihibahkan dengan keputusan kepala daerah berdasarkan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD.

5. Daftar penerima hibah menjadi dasar penyaluran/penyerahan hibah. 6. Penyaluran/penyerahan hibah dari pemerintah daerah kepada penerima

hibah dilakukan setelah penandatanganan NPHD.

7. Pencairan hibah dalam bentuk uang dilakukan dengan mekanisme pembayaran langsung (LS).

18. PEMANTAUAN DAN EVALUASI, SERTA PELAPORAN HIBAH DAERAH

(28)

b. Menteri dan menteri/pimpinan lembaga pemerintah non kementerian terkait berdasarkan laporan triwulan melakukan pemantauan dan evaluasi.

Laporan Penerima Hibah Daerah :

1. Penerima hibah berupa uang menyampaikan laporan penggunaan hibah kepada kepala daerah melalui PPKD dengan tembusan SKPD terkait.

2. Penerima hibah berupa barang atau jasa menyampaikan laporan penggunaan hibah kepada kepala daerah melalui kepala SKPD terkait.

3. Hibah berupa uang dicatat sebagai realisasi jenis belanja hibah pada PPKD dalam tahun anggaran berkenaan.

4. Hibah berupa barang atau jasa dicatat sebagai realisasi obyek belanja hibah pada jenis belanja barang dan jasa dalam program dan kegiatan pada SKPD terkait.

19. PERTANGGUNGJAWABAN HIBAH DAERAH

Menurut Pasal 18 Permendagri Nomor 2 Tahun 2011, pertanggungjawaban pemerintah daerah atas pemberian hibah meliputi:

a. usulan dari calon penerima hibah kepada kepala daerah;

b. keputusan kepala daerah tentang penetapan daftar penerima hibah; c. NPHD;

d. pakta integritas dari penerima hibah yang menyatakan bahwa hibah yang diterima akan digunakan sesuai dengan NPHD; dan

e. bukti transfer uang atas pemberian hibah berupa uang atau bukti serah terima barang/jasa atas pemberian hibah berupa barang/jasa.

Pertanggungjawaban penerima hibah meliputi: a. laporan penggunaan hibah;

(29)

c. bukti-bukti pengeluaran yang lengkap dan sah sesuai peraturan perundang-undangan bagi penerima hibah berupa uang atau salinan bukti serah terima barang/jasa bagi penerima hibah berupa barang/jasa.

d. Pertanggungjawaban disampaikan kepada kepala daerah paling lambat tanggal 10 bulan Januari tahun anggaran berikutnya, kecuali ditentukan lain sesuai peraturan perundang-undangan.

e. Pertanggungjawaban disimpan dan dipergunakan oleh penerima hibah selaku obyek pemeriksaan

20. PERATURAN DAERAH TENTANG HIBAH DAERAH

Tujuan Hibah menurut Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 17 Tahun 2011 : 1. Hibah kepada pemerintah bertujuan untuk menunjang peningkatan

penyelenggaraan fungsi pemerintahan di daerah.

2. Hibah kepada perusahaan daerah bertujuan untuk menunjang peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Hibah kepada pemerintah daerah lainnya bertujuan untuk menunjang peningkatan penyelenggaraan pemerintahan daerah dan layanan dasar umum.

3. Hibah kepada masyarakat dan organisasi kemasyarakatanbertujuan untuk meningkatkan partisipasi penyelenggaraanpembangunan daerah atau secara fungsional terkait dengan dukungan penyelenggaraan pemerintahan daerah.

4. Belanja hibah kepada pemerintah dilaporkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan setiap akhir tahun anggaran.

Tujuan Dana Hibah menurut Perwal Malang No 10 Tahun 2010:

(30)

b. menumbuhkan rasa tanggung jawab serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan serta pemeliharaan hasil pembangunan.

Jenis kegiatan untuk Dana Hibah yang dapat dilaksanakan merupakan kegiatan pembangunan Kelurahan yang aspiratif dengan berpedoman pada hasil Musrenbangkel Tahun 2009 dan/atau kebutuhan yang mendapat persetujuan masyarakat melalui musyawarah.

Jenis kegiatan untuk Dana Hibah yang tidak dapat dilaksanakan, terdiri dari : a. Pembebasan lahan;

b. Perkreditan/Simpan Pinjam; c. Kegiatan Politik;

d. Pembangunan kantor pemerintah; e. Tempat Ibadah;

f. Kegiatan seremonial kemasyarakatan.

D. KESIMPULAN

(31)

investasi yang menghasilkan penerimaan. Oleh karena itu Pemerintah Daerah harus dapat mengelola pinjamannya dengan baik, sehingga bermanfaat untuk instansi dan masyarakat. Selain itu Pemerintah Daerah harus memperhitungkan arus kas untuk membiayai angsuran pinjaman tersebut, karena tanggung jawab pinjaman sepenuhnya ada ditangan Pemerintah Daerah, dan Pemerintah Pusat tidak bertanggung jawab apabila terjadi gagal bayar pinjaman daerah tersebut.

Hibah Daerah merupakan pemberian dengan pengalihan hak atas sesuatu dari Pemerintah atau pihak lain kepada Pemerintah Daerah atau sebaliknya yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya dan dilakukan melalui perjanjian. Oleh karena hibah daerah ini tidak ada kewajiban untuk mengembalikan, maka pengawasan yang dilakukan harus ketat agar tidak terjadi penyimpangan dan penyalahgunaan. Selain itu peraturan tentang Hibah Daerah terlalu lunak, tidak terdapat aturan khusus mengenai persyaratan minimal hibah, jadi pemerintah daerah terlalu mudah untuk memberikan hibah, sehingga banyak terjadi kasus penyimpangan dana hibah. Harusnya aturan mengenai dana hibah ini harus diperketat seperti persyaratan minimal pengajuan hibah, misalnya :

(32)

DAFTAR PUSTAKA

1. UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; 2. UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;

3. UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;

4. UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;

(33)

6. PP Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri dan Penerimaan Hibah

7. PP Nomor 30 Tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah; 8. PP Nomor 2 Tahun 2012 tentang Hibah Daerah;

9. Peraturan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas No. 005/M.PPN/06/2006 tentang Tatacara Perencanaan dan Pengajuan Usulan serta Penilaian Kegiatan yang Dibiayai dari Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri;

10. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 45/PMK.02/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan dan Mekanisme Pemantauan Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Pinjaman Daerah;

11. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK.07/2006 tentang Tatacara Penerbitan, Pertanggungjawaban, dan Publikasi Informasi Obligasi Daerah;

12. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 191/PMK.05/2011 tentang Mekanisme Pengelolaan Hibah;

13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;

14. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 17 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengelolaan Belanja Subsidi, Hibah, Bantuan Sosial, Bagi Hasil, Bantuan Keuangan, Belanja Tidak Terduga Dan Pengeluaran Pembiayaan Provinsi Jawa Timur;

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...