MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Fund Channeling
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan hidayahnya-Nya, maka buku Pedoman Pengelolaan Hibah Langsung Luar Negeri Dalam Bentuk Uang Yang Dilaksanakan Di Daerah (“FUND CHANNELING”) dapat diselesaikan dengan baik.
Pendapatan Hibah Langsung adalah hibah yang diterima langsung oleh Kementerian/Lembaga, dan/ atau pencairan dananya dilaksanakan tidak melalui Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara. Pendapatan hibah yang diterima oleh Pemerintah Pusat dalam bentuk uang, barang, jasa dan/ atau surat berharga yang diperoleh dari pemberi hibah tidak perlu dibayar kembali baik berasal dari dalam negeri atau luar negeri atas Pendapatan Hibah tersebut, Pemerintah mendapat manfaat secara langsung yang digunakan untuk mendukung tugas dan fungsi K/L atau diteruskan kepada Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah.
Tujuan penyusunan buku pedoman ini adalah memberikan acuan kepada para pengelola hibah langsung dalam bentuk uang yang dilaksanakan di daerah secara transparan dan akuntabel.
Kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan buku pedoman ini, Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa buku Pedoman masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya buku pedoman ini.
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
ii
Semoga buku pedoman Pengelolaan Hibah Langsung Luar Negeri Dalam Bentuk Uang Yang Dilaksanakan Di Daerah (“FUND CHANNELING”) ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait dengan pengelolaan hibah langsung dalam bentuk uang di daerah.
Jakarta, Oktober 2014 Sekretaris Jenderal
dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes NIP. 195810171984031004
Fund Channeling
KATA PENGANTAR ... DAFTAR ISI ... DAFTAR FORMULIR ... KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPULIK INDONESIA NOMOR HK.02.2/Menkes/300/2014 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN HIBAH LANGSUNG LUAR NEGERI DALAM BENTUK UANG YANG DILAKSANAKAN DI DAERAH (“FUND CHANNELING”) BAB I : PENDAHULUAN ... A. LATAR BELAKANG ... B. TUJUAN ... C. RUANG LINGKUP ... D. KETENTUANUMUM ... BAB II : PENGORGANISASIAN ... A. STRUKTUR ORGANISASI ... B. PEJABAT PERBENDAHARAAN ... BAB III : MEKANISME PENGELOLAAN HIBAH LANGSUNG
DALAM BENTUK UANG YANG DILAKSANAKAN DI DAERAH ... A. REGISTRASI HIBAH ... B. PEMBUKAAN DAN PENUTUPAN REKENING C. PENYESUAIAN PAGU DIPA/REVISI DIPA
YANG BERSUMBER DARI HIBAH ... i iii v 1 1 2 2 3 11 11 12 21 21 21 25
DAFTAR ISI
iv
E. PENGATURAN JASA GIRO ... F. PENATAUSAHAAN PEMBUKUAN BPP ... G. PEMERIKSAAN BPP DAN REKONSILIASI PEMBUKUAN BENDAHARA DENGAN UAKPA ...
H. PENGESAHAN HIBAH LANGSUNG DALAM BENTUK UANG ...
I. PROSEDUR/ TATA CARA PENESAHAN
HIBAH LANGSUNG DALAM BENTUK UANG ... BAB IV : AKUNTANSI, PELAPORAN DAN REKONSILIASI BAB V : MONITORING DAN EVALUASI ... BAB VI : PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN ... BAB VII : PENUTUP ... LAMPIRAN TIM PENYUSUN 28 28 30 32 33 37 43 47 51
Fund Channeling
1. LAMPIRAN 1 : Permohonan Permintaan Nomor Register . 55 2. LAMPIRAN 2 : Ringkasan Hibah (Grant Summary) ... 57 3. LAMPIRAN 3 : Surat Izin Pembukaan Rekening ... 60 4. LAMPIRAN 4 : Surat Pernyataan Penggunaan Rekening .. 62 5. LAMPIRAN 5 : Surat Laporan Terhadap Rekening Yang
Telah Diibuka ... 64 6. LAMPIRAN 6 : Permohonan Persetujuan Rekening yang telah Dibuka ... 66 7. LAMPIRAN 7 : Format Buku Kas Umum, Buku Kas
Pembantu BPP ... 68
8. LAMPIRAN 8 : Format Berita Acara Pemeriksaan Kas ... 71 9. LAMPIRAN 9 : Format Berita Acara Pemeriksaan Kas dan Serah Terima BPP ... 72 10. LAMPIRAN 10 : Format LPJ BPP ... 73 11. LAMPIRAN 11 : Format Surat Perintah Pengesahan Hibah
Langsung (SP2HL) ... 75 12. LAMPIRAN 12 : Format Surat Perintah Pengesahan
Pengembalian Pendapatan Hibah
Langsung (SP4HL) ... 78 13. LAMPIRAN 13 : Surat Pernyataan Telah Menerima
Hibah Langsung Tanpa Melalui KPPN
(SPTMHL) ... 80
vi
14. LAMPIRAN 14 : Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) ... 82 15. LAMPIRAN15 : Lampiran 1 Berita Acara Rekonsiliasi
Penerimaan Hibah Langsung Kas, Barang/ Jasa/Surat Berharga ... 84 16. LAMPIRAN16 : Lampiran 2 Berita Acara Rekonsiliasi
Monitoring Hibah Langsung Langsung Kas 85 17. LAMPIRAN 17 : Contoh Perjanjian Kerjasama Antara
Dirjen P2PL selaku Authorized Principal Recipient Malaria dengan
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Fund Channeling
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.02.02/Menkes/300/2014
TENTANG
PENGELOLAAN HIBAH LANGSUNG LUAR NEGERI DALAM BENTUK UANG YANG DILAKSANAKAN DI DAERAH
(“ FUND CHANNELING”)
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 470/MENKES/SK/ XI/2013 Tentang Tata Cara Pengelolaan Hibah Langsung Dalam Bentuk Uang/ Barang/Surat Berharga Melalui Mekanisme Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara Di Lingkungan Kementerian Kesehatan; b. bahwa untuk pelaksanaan kegiatan
didaerah yang dananya bersumber dari hibah langsung luar negeri dalam bentuk uang, Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 470/ MENKES/SK/XI/2013 belum mengakomodir aturan penyaluran dana hibah langsung yang kegiatannya dilaksanakan di daerah
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Diilaksanakan Didaerah, perlu diatur kembali ketentuan mengenai pedoman dimaksud;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan
sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b dan c perlu ditetapkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Tentang Pengelolaan Hibah Langsung Luar Negeri Dalam Bentuk Uang Yang Dilaksanakan Di Daerah;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004
tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5165); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010
tentang Penyusunan Rencana Kerja Dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 152, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5178);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah,
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Fund Channeling
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 83;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pinjaman Luar Negeri dan Penerimaan Hibah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5202);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
8. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun
2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 53 Tahun 2010 tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran dan Pendapatan Negara;
9. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1033/ MENKES/SK/XI/2006 tentang Pedoman Umum Perencanaan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri Bidang Kesehatan;
10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 470/ MENKES/SK/XI/2013 tentang Tata Cara Pengelolaan Hibah Langsung Dalam Bentuk
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
11. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/ MENKES/PER/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 585);
12. Peraturan Menteri Keuangan Nomor
191/PMK.05/2011 tentang Mekanisme Pengelolaan Hibah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 763);
13. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 230/ PMK.05/2011 tentang Sistem Akutansi Hibah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 861);
14. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 180/ PMK.08/2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 224/PMK.08/2011 Tentang Tata Cara Pemantauang dan Evaluasi Atas Pinjaman dan Hibah Kepada Pemerintah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 1122);
15. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/ PMK.05/2012 tentang Tata Cara Pembayaran Dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 1191);
16. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 162 / PMK.05/2013 tentang Kedudukan dan Tanggung Jawab Bendahara Pada Satuan Kerja Pengelola Anggaran (Berita Negara
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Fund Channeling
Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 1350);
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG PENGELOLAAN HIBAH LANGSUNG LUAR NEGERI DALAM BENTUK UANG YANG DILAKSANAKAN DI DAERAH(“ FUND CHANNELING”)
KESATU : Setiap pelaksanaan permohonan penerimaan hibah langsung yang diberikan kepada Kementerian Kesehatan harus diajukan oleh Pimpinan Unit Eselon I terkait melalui Sekretaris Jenderal ;
KEDUA : Pengelolaan hibah langsung luar negeri dalam bentuk uang yang dilaksanakan di daerah tercantum dalam lampiran merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri ini.
KETIGA : Pengelolaan hibah langsung luar negeri dalam bentuk uang yang dilaksanakan di daerah sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua digunakan sebagai acuan bagi Pejabat Pengelola Hibah di lingkungan Kementerian Kesehatan. KEEMPAT : Mekanisme pengelolaan penerimaan hibah serta
tata cara pengesahan hibah langsung bentuk uang dan pencatatan hibah langsung bentuk barang/
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
KELIMA : Keputusan Menteri ini berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 10 September 2014 MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA
NAFSIAH MBOI
Keputusan Menteri ini disampaikan kepada :
1. Inspektur Jenderal Kementerian Kesehatan di Jakarta 2. Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan di Jakarta
Fund Channeling
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kesehatan adalah hak setiap manusia, sehingga pembangunan kesehatan menjadi komitmen global yang harus dijalankan semua Negara. Dalam Pelaksanaan pembangunan kesehatan perlu diperhatikan perubahan-perubahan mendasar yang terjadi baik di lingkup nasional maupun global. Perubahan-perubahan yang terjadi menuntut kebijakan dalam pelaksanaan hubungan Luar Negeri.
Pada era globalisasi, penyebaran penyakit disuatu negara dapat dengan cepat diinformasikan ke negara lain. Dengan demikian keterkaitan dan saling ketergantungan antar negara semakin terasa. Sejalan dengan hal tersebut mendorong para pelaku hubungan internasional seperti organisasi Internasional, organisasi Non Pemerintah, Perusahaan Multinasional, kelompok kelompok minoritas, bahkan individu untuk berpartisipasi dalam memecahkan masalah kesehatan.
Indonesia pada beberapa tahun lalu termasuk Negara yang masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara maju, sehingga donor banyak membantu Pemerintah Indonesia untuk pembangunan di berbagai bidang termasuk bidang kesehatan baik berupa pinjaman maupun hibah dari berbagai donor.
Pada tahun-tahun sebelumnya bantuan dalam kategori pinjaman masih cukup besar namun karena kemampuan fi scal Pemerintah Indonesia semakin meningkat termasuk untuk pembiyaan kesehatan, dan juga untuk mengurangi beban Pemerintah dalam menanggulangi beban fee atas pinjaman maka kebijakan Pemerintah saat ini mengurangi bantuan dalam bentuk pinjaman tetapi masih melanjutkan bantuan yang berbentuk hibah.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 230/ PMK.05/2011 tentang Sistem Akuntansi HIBAH bahwa pendapatan hibah yang diterima oleh Pemerintah Pusat dalam
2
dari pemberi hibah tidak perlu dibayar kembali baik berasal dari dalam negeri atau luar negeri atas Pendapatan Hibah tersebut, Pemerintah mendapat manfaat secara langsung yang digunakan untuk mendukung tugas dan fungsi K/L atau diteruskan kepada Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah. Sesuai dengan ketentuan peraturan pengelolaan hibah dari Kementerian Keuangan sebagaimana di lingkungan Kementerian Kesehatan dipertegas dalam Keputusan Menteri Kesehatan nomor 470/Menkes/SK/XI/2013 Tentang Tata Pengelolaan Hibah Langsung dalam bentuk uang/barang/ jasa /surat berharga melalui anggaran dan belanja negara di lingkungan Kementerian Kesehatan. Hibah langsung yang diterima dari berbagai donor hingga saat ini masih berlanjut, hibah dari berbagai donor pada umumnya berupa hibah langsung dan dalam bentuk uang yang kegiatannya banyak bersifat non fi sik yang dilaksanakan di tingkat pusat, namun ada pula kegiatan yang dilaksanakan di daerah. Dana hibah tersebut harus dikelola dalam mekanisme APBN.
Pada saat kegiatan dilaksanakan di daerah, maka dana yang ada di pusat harus di salurkan ke daerah, agar penyalurannya tidak menyalahi aturan yang berlaku maka perlu ditetapkan pedoman yang mengatur tata cara penyalurannya, sehingga seluruh kegiatan proyek hibah dari luar negeri yang akan dilaksanakan di daerah berjalan lancer sesuai aturan yang berlaku, untuk mendukung program-program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Bidan Kesehatan dan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan.
B. TUJUAN
Memberikan acuan kepada para pengelola hibah langsung dalam bentuk uang yang dilaksanakan di daerah secara transparan dan akuntabel.
C. RUANG LINGKUP
Meliputi pengorganisasian penatalaksanaan, mekanisme pengelolaan, rekonsiliasi dan pelaporan, monitoring dan evaluasi,
Fund Channeling
serta pengawasan dan pengendalian hibah langsung dalam bentuk uang yang pelaksanaan kegiatannya dilakukan di daerah ke dalam mekanisme APBN.
D. KETENTUAN UMUM
1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disingkat APBN adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat.
2. Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disingkat BUN adalah Menteri Keuangan.
3. Bendahara Pengeluaran yang selanjutnya disingkat BP adalah orang yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan, membayarkan, menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan Belanja Negara dalam pelaksanaan APBN pada Kantor/Satker Kementerian Negara/Lembaga.
4. Bendahara Pengeluaran Pembantu yang selanjutnya dlisingkat BPP adalah orang yang ditunjuk untuk membanlu Bendahara Pengeluaran untuk melaksanakan pembayaran kepada yang berhak guna kelancaran pelaksanaan kegiatan terlentu
5. Catatan atas Laporan Keuangan yang selanjutnya disingkat CaLK adalah bagian yang tak terpisahkan dari laporan keuangan yang menyajikan informasi tentang penjelasan pos-pos laporan keuangan dalam rangka pengungkapan yang memadai.
6. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran yang selanjutnya disingkat DIPA adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang digunakan sebagai acuan Pengguna Anggaran dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan sebagai pelaksanaan APBN.
7. Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang yang selanjutnya disingkat DJPU adalah unit eselon I pada Kementerian
4
8. Hibah Langsung adalah Hibah yang dilaksanakan tidak melalui mekanisme perencanaan
9. Kas Negara adalah tempat penyimpanan uang negara yang ditentukan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara untuk menampung seluruh penerimaan negara dan membayar seluruh pengeluaran negara.
10. Kementerian/Lembaga yang selanjutnya disingkat K/L adalah Kementerian Negara/Lembaga Pemerintah Non Kementerian Negara/Lembaga negara.
11. Kuasa Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disebut Kuasa BUN adalah Direktur Jenderal Perbendaharaan pada tingkat Pusat, dan Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara pada tingkat Daerah.
12. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara yang selanjutnya disingkat KPPN adalah instansi vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang memperoleh kewenangan selaku Kuasa BUN Daerah yang bertanggung jawab langsung kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan.
13. Kantor/Satuan Kerja yang selanjutnya disebut Kantor/Satker, adalah unit organisasi lini Kementerian Negara/Lembaga atau unit organisasi Pemerintah Daerah yang melaksanakan kegiatan Kementerian Negara/Lembaga dan memiliki kewenangan dan tanggung jawab penggunaan anggaran. 14. Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya disingkat
KPA adalah Pejabat yang memperoleh kuasa dari PA untuk melaksanakan sebagian kewenangan dan tanggung jawab penggunaan anggaran pada Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan.
15. Kuasa Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disebut Kuasa BUN adalah Pejabat yang memperoleh kewenangan untuk dan atas nama BUN melaksanakan fungsi pengelolaan Rekening Kas Umum Negara.
16. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara yang selanjutnya disingkat KPPN adalah instansi vertikal Direktorat Jenderal
Fund Channeling
Perbendaharaan yang memperoleh kuasa dari BUN untuk melaksanakan sebagian fungsi BUN.
17. Laporan Pertanggungjawaban Bendahara yang selanjulnya disingkat LPJ adalah laporan yang dibuat oleh bendahara atas uang yang dikelolanya sebagai pertanggungjawaban pengelolaan uang.
18. Laporan Pertanggungjawaban Bendahara Pengeluaran Pembantu yang selanjutnya disingkat LPJ-BPP adalah laporan yang dibuat oleh BPP atas uang yang dikelolanya sebagai pertanggungjawaban pengelolaan uang.
19. Pendapatan Hibah adalah setiap penerimaan Pemerintah Pusat dalam bentuk uang, barang, jasa dan/atau surat berharga yang diperoleh dari pemberi hibah yang tidak perlu dibayar kembali, yang berasal dari dalam negeri atau luar negeri, yang atas pendapatan hibah tersebut, pemerintah mendapat manfaat secara langsung yang digunakan untuk mendukung tugas dan fungsi K/L, atau diteruskan kepada Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah.
20. Pendapatan Hibah Langsung adalah hibah yang diterima langsung oleh K/L, dan/atau pencairan dananya dilaksanakan tidak melalui Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara 21. Perbendaharaan Negara yang pengesahannya dilakukan
oleh Bendahara Umum Negara/Kuasa Bendahara Umum Negara.
22. Pemberi Hibah adalah pihak yang berasal dari dalam negeri atau luar negeri yang memberikan hibah kepada Pemerintah Pusat.
23. Pengguna Anggaran yang selanjutnya disingkat PA adalah Pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran Kementerian Negara/Lembaga.
24. Pejabat Pembuat Komitmen yang selanjutnya disingkat PPK adalah Pejabat yang diberi kewenangan oleh PA/KPA
6
25. Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disingkat PPSPM adalah .Pejabat yang diberi kewenangan oleh PA/KPA untuk melakukan pengujian atas permintaan pembayaran dan menerbitkan perintah pembayaran.
26. Rekening Hibah adalah rekening pemerintah lainnya yang dibuka oleh K/L dalam rangka pengelolaan hibah langsung dalam bentuk uang.
27. Surat Perintah Pengesahan Hibah Langsung yang selanjutnya disingkat SP2HL adalah surat yangditerbitkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat lain yang ditunjuk untuk mengesahkan pembukuan hibah langsung dan/atau belanja yang bersumber dari hibah langsung.
28. Surat Pengesahan Hibah Langsung yang selanjutnya disingkat SPHL adalah surat yang diterbitkan oleh KPPN selaku Kuasa BUN untuk mengesahkan Pendapatan Hibah Langsung dan/atau belanja yang bersumber dari hibah langsung.
29. Surat Perintah Pengesahan Pengembalian Pendapatan Hibah Langsung yang selanjutnya disingkat SP4HL adalah surat yang diterbitkan oleh Pengguna.
30. Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak yang selanjutnya disingkat SPTJM adalah surat pernyataan yang dibuat oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran yang menyatakan bertanggungjawab penuh atas pengelolaan seluruh Pendapatan Hibah Langsung/pengembalian Pendapatan Hibah Langsung dan belanja yang bersumber dari hibah langsung/belanja barang untuk pencatatan persediaan dari hibah/belanja modal untuk pencatatan aset tetap/aset lainnya dari hibah/pengeluaran pembiayaan untuk pencatatan surat berharga dari hibah. pembiayaan untuk pencatatan surat berharga dari hibah .
31. Surat Kuasa Penggunaan Anggaran yang selanjutnya disingkat SKPA adalah dokumen pemberian kuasa dari Kuasa Pengguna Anggaran tertentu kepada Kuasa
Fund Channeling
Pengguna Anggaran lainnya untuk menggunakan sebagian kredit anggaran dalam rangka melaksana kan sebagian/ seluruh paket pekerjaan yang telah ditentukan.
32. Surat Permintaan Pembayaran yang selanjutnya disingkat SPP adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPK, yang berisi permintaan pembayaran tagihan kepada negara.
33. Surat Perintah Bayar yang selanjutnya disingkat SPBy adalah bukti perintah PPK atas nama KPA kepada Bcndahara Pengeluaran/BPP untuk mengeluarkan uang persediaan yang dikelola oleh Bendahara Pengeluaran/BPP sebagai pembayaran kepada pihak yang dituju.
34. Unit Akuntasi Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut UAKPA adalah unit akuntansi instansi yang melakukan kegiatan akuntansi dan pelaporan tingkat satker.
Fund Channeling
BAB II
PENGORGANISASIAN
A. STRUKTUR ORGANISASI
Dalam rangka mendukung pelaksanaan program/kegiatan nasional di bidang kesehatan yang dilaksanakan di daerah, peran serta dan keterlibatan personil Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) menjadi hal yang cukup penting. Peran serta personil di SKPD dapat berupa Pejabat Pembuat komitmen (PPK) dan Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) yang diusulkan oleh pejabat pemerintah daerah yang berwenang dan ditetapkan oleh KPA. Adapun Pejabat perbendaharaan yang akan melaksanakan dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 1.
STRUKTUR ORGANISASI PEJABAT PERBENDAHARAAN TERKAIT PENYALURAN DANA DI DAERAH
PUSAT KPA PPK PPSPM BPP BPP BENDAHARA PPK/KADINKES DAEARAH BPP
12
B. PEJABAT PERBENDAHARAAN
1. Pengguna Anggran
Pengguna Anggaran (PA) adalah Pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran Kementerian/Lembaga. Pengguna Anggaran dijabat oleh Menteri Kesehatan memiliki kewenangan menunjuk Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) di lingkungan Kementerian Kesehatan.
2. Kuasa Pengguna Anggaran
Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) adalah pejabat yang memperoleh kuasa dari Menteri Kesehatan untuk melaksanakan sebagian kewenangan dan tanggung jawab penggunaan anggaran pada Kementerian Kesehatan. Penunjukan Kuasa Pengguna Anggaran diusulkan oleh Pejabat eselon I di Lingkungan Kementerian Kesehatan. Dalam pelaksanaan anggaran pada Satker, KPA mempunyai
tugas dan wewenang: 1. menyusun DIPA;
2. menetapkan PPK untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja Negara; 3. menetapkan PPSPM untuk melakukan pengujian
tagihan dan menerbitkan SPM atas beban anggaran belanja Negara;
4. Menetapkan Bendahara Pengeluaran dan BPP bila diperlukan;
5. menetapkan panitia/pejabat yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan dan pengelola anggaran/ keuangan;
6. menetapkan rencana pelaksanaan kegiatan dan rencana penarikan dana;
7. memberikan supervisi dan konsultasi dalam pelaksanaan kegiatan dan penarikan dana;
8. mengawasi penatausahaan dokumen dan transaksi yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan dan anggaran; dan
Fund Channeling
9. menyusun laporan keuangan dan kinerja atas pelaksanaan anggaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Dalam kekosongan Jabatan, Kepala Satuan Kerja atau Pejabat yang ditunjuk sebagai KPA, PA segera menunjuk seorang Pejabat sebagai Pelaksana KPA, penunjukan KPA berakhir apabila tidak teralokasi anggaran untuk program yang sama pada tahun anggaran berikutnya. KPA yang penunjukannya berakhir bertanggung jawab untuk penyelesaian seluruh administrasi dan pelaporan keuangan. Dalam Hal PPK dan PPSPM dipindahkan/pensiun/ diberhentikan dari jabatannya/berhalangan sementara, KPA menetapkan PPK atau PPSPM pengganti dengan surat keputusan dan berlaku sejak serah terima jabatan. Dalam hal penunjukan KPA berakhir, dalam hal ini maka PPK dan PPSPM secara otomatis berakhir. PPK dan PPSPM yang penunjukannya berakhir harus menyelesaikan seluruh administrasi keuangan yang menjadi tanggungjawabnya pada saat menjadi PPK atau PPSPM.
Dalam hal Bendahara Pengeluaran dipindah tugaskan/ pensiun/diberhentikan dari jabatannya/ berhalangan sementara Kepala Satuan Kerja menetapkan pejabat pengganti sebagai Bendahara Pengeluaran dan Bendahara tersebut harus menyelesaikan seluruh administrasi keuangan yang menjadi tanggung jawabnya pada saat menjadi Bendahara Pengeluaran.
3. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)
a. PPK melaksanakan kewenangan KPA untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja negara.
b. Dalam melaksanakan kewenangan KPA, PPK mempedomani pelaksanaan tanggung jawab KPA kepada PA.
14
c. PPK untuk kegiatan di tingkat pusat yang dananya bersumber dari hibah langsung adalah Pejabat Pembuat Komitmen Satuan Kerja di lingkungan Kementerian Kesehatan.
d. Dalam hal diperlukan, PPK untuk kegiatan di daerah yang dananya bersumber dari hibah langsung adalah Pejabat Pembuat Komitmen yang ditetapkan oleh KPA berdasarkan usulan pejabat pemerintah daerah yang berwenang.
e. Dalam melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja negara yang dananya berasal dari hibah langsung, PPK sebagaimana butir 3 dan 4 memiliki tugas dan wewenang:
1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Kegiatan dan Rencana Penarikan Dana
2) melaporkan pelaksanaan/penyelesaian kegiatan kepada KPA;
3) menyerahkan laporan hasil pelaksanaan kegiatan kepada KPA
4) menyimpan dan menjaga keutuhan seluruh dokumen pelaksanaan kegiatan; dan
5) melaksanakan tugas dan wewenang lainnya yang berkaitan dengan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran yang dananya dari hibah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
f. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Kegiatan dan Rencana Penarikan Dana dilakukan dengan:
1) menyusun jadwal waktu pelaksanaan kegiatan termasuk rencana penarikan dan penyaluran dananya;
2) mengusulkan revisi POK/DIPA kepada KPA. g. Laporan pelaksanaan dan penyelesaian kegiatan. h. Dalam pelaksanaan tugas dan wewenang PPK menguji:
Fund Channeling
2) kebenaran perhitungan tagihan;
3) kebenaran data pihak yang berhak menerima pembayaran atas beban dana yang bersumber dari hibah langsung;
4. Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (PPSPM) PPSPM melaksanakan kewenangan KPA untuk melakukan pengujian atas tagihan dan menerbitkan SPM. Tugas dan wewenang PPSPM yang terkait dalam pengelolaan dana yang bersumber dari hibah langsung adalah :
a. Mengesahkan Pembukuan Pendapatan hibah langsung dan/atau belanja yang bersumber dari hibah langsung (SP2HL)
b. Mengesahkan pembukuan pengembalian saldo pendapatan hibah langsung kepada pemberi hibah (SP4HL)
5. Pengangkatan Bendahara Pengeluaran (BP)/Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP)
a. Menteri Kesehatan atau Pejabat yang diberi kuasa berwenang mengangkat Bendahara Pengeluaran untuk melaksanakan tugas-tugas Kebendaharaan. b. Guna kelancaran tugas Menteri Kesehatan atau Pejabat
yang diberi kuasa dapat mengangkat satu atau lebih BPP
c. Pengangkatan BP/BPP harus dituangkan dalam Surat Keputusan, setelah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan Menteri Keuangan selaku Kuasa BUN d. Jabatan Bendahara tidak boleh dirangkap oleh KPA,
PPK atau PPSPM
e. Dalam keterbatasan jumlah sumber daya manusia, jabatan BP/BPP dapat saling merangkap dengan izin Kementerian Keuangan.
16
f. Pengangkatan BPP dapat dilakukan apabila:
1) Terdapat kegiatan yang lokasinya berjauhan dengan tempat kedudukan BP; dan/atau
2) Beban kerja BP sangat berat berdasarkan penilaian Kepala Satker.
g. Setiap orang yang akan diangkat menjadi Bendahara Pengeluaran/BPP harus bersertifi kat. Sertifi kat Bendahara diperoleh melalui proses sertifi kasi yang diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan. Dalam hal proses sertifi kasi belum terlaksana, persyaratan yang harus dipenuhi untuk dapat diangkat sebagai Bendahara adalah sebagai berikut:
1) Pegawai Negeri;
2) Pendidikan minimal SLTA alau sederajat; dan 3) Golongan minimal II.b
h. Tugas dan tanggung jawab BP dan BPP
Dalam rangka pelaksanaan anggaran belanja yang bersumber dari hibah langsung KPA menetapkan BP/ BPP untuk tugas kebendaharaan. Adapun tugas dan tanggungjawabnya BP/BPP adalah sebagai berikut : 1) menerima dan menyimpan dana hibah langsung
yang berada dalam pengelolaannya;
2) melakukan pengujian dan pembayaran atas tagihan yang dananya bersumber dari hibah langsung ;
3) melakukan pembayaran yang dananya bersumber dananya dari hibah langsung atas PPK;
4) menolak perintah pembayaran apabila tidak memenuhi persyaratan untuk dibayarkan;
5) menatausahakan transaksi dana yang bersumber dari Hibah Langsung;
6) menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kepada Kepala KPPN selaku kuasa BUN.
Fund Channeling
pertanggungjawaban kepada Bendahara Pengeluaran
8) mengelola rekening tempat penyimpanan dana yang bersumber dari Hibah Langsung;.
9) Menyimpan dan menatausahakan sisa dana hibah langsung
BP/BPP bertanggung jawab secara pribadi atas uang yang berada dalam pengelolaannya dan wajib menyampaikan laporan pengelolaan dan pertanggung jawaban atas uang dalam pengelolaannya. BPP wajib menyampaikan laporan pengelolaan dan pertanggung jawaban atas uang dalam pengelolaannya kepada Bendahara Pengeluaran.
i. Petugas pengantar SP2HL, SP4HL, SPMHL
1) Petugas pengantar SP2HL, SP4HL adalah petugas pengantar SPMHL
2) penunjukan petugas pengantar SPMHL dengan menambahkan tugas untuk mengantar SP2HL, SP4HL.
Fund Channeling
BAB III
Fund Channeling
BAB III
MEKANISME PENGELOLAAN HIBAH LANGSUNG LUAR NEGERI DALAM BENTUK UANG YANG DILAKSANAKAN OLEH DAERAH
(“FUND CHANELLING)
Perjanjian hibah dapat ditandatangani oleh Menteri Kesehatan atau pejabat di diberi kuasa sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri Dan Penerimaan Hibah
Perjanjian hibah paling sedikit memuat hal-hal sebagai berikut : 1. Jumlah, yaitu nominal hibah yang disepakati
2. Peruntukan, yaitu maksud pemberian hibah
3. Persyaratan, yaitu kondisi-kondisi untuk penarikan hibah
4. Rencana penarikan per tahun, yaitu perkiraan pencairan hibah setiap tahun sepanjang masa berlaku perjanjian hibah. Dalam hal rencana penarikan hibah per tahun belum tercantum dalam perjanjian hibah, rencana penarikan hibah tetap harus dicantumkan dalam pengajuan registerasi hibah ke Ditjen Pengelolaan Utang. Rencana penarikan hibah (disbursement plan) harus terus dilakukan updating sepanjang tahun yang telah disesuaikan dengan realisasi penarikan dan rencana penarikan hibah.
A. REGISTRASI HIBAH
Registrasi merupakan proses pendaftaran hibah yang diajukan oleh Kementerian/Lembaga kepada Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang up. Direktorat Evaluasi Akuntansi dan Setelmen (format permohonan nomor register dapat dilihat pada lampiran 1) Nomor register tersebut merupakan nomor unique yang diberikan dalam rangka membedakan satu hibah dengan hibah yang lainnya. Proses registerasi hibah merupakan entry point untuk memasukan hibah dalam mekanisme APBN, tanpa adanya nomor
22
Beberapa tahapan yang perlu dilakukan untuk memperoleh nomor register adalah sebagai berikut :
a. PA/KPA/Executing Agency mengajukan surat permohonan nomor register atas hibah yang diterima kepada Direktorat Evaluasi Akuntansi dan Setelmen DJPU dengan melampirkan:
1) Asli Perjanjian hibah (PH)/Memorandum of
Understanding (MoU) atau salinan perjanjian hibah
(PH)/Memorandum of Understanding (MoU) yang dilegalisir.
2) Grant Summary atau ringkasan hibah yang
ditandatangani oleh Menteri Kesehatan atau pejabat yang diberi kuasa (formulir dapat dlihat di lampiran 2) b. Atas permohonan tersebut Dit. EAS DJPU menerbitkan
nomor register yang ditujukan kepada pemohon.
c. Nomor register yang telah diperoleh dari Dit. EAS DJPU merupakan dasar pengajuan ijin pembukaan rekening dan pengajuan permohonan revisi DIPA. KPA tidak diperkenankan mengajukan revisi DIPA tanpa nomor register.
Dalam pengajuan nomor register ke Dit. EAS DJPU yang harus diketahui adalah :
a. Pemberian nomor register tidak berdasarkan Negara pemberi hibah tetapi berdasarkan jumlah perjanjian hibah yang dibuat, misalnya : hibah dari Netherland Leprosy Relief (NLR) yang diberikan kepada Kementerian sebanyak 5 perjanjian hibah yang berbeda, maka pengajuan no registerasi kepada Dit. EAS DJPU sebanyak 5 hibah dan akan diberikan 5 nomor register.
b. Pemberian nomor register tidak didasarkan atas bentuk hibah, misalnya dalam satu perjanjian hibah, pemberi hibah akan memberikan hibah berupa uang, barang dan jasa, maka pemberian nomor register hibah tidak didasarkan pada bentuk hibah tersebut.
Fund Channeling
c. Pemberian nomor register hibah tidak diberikan atas dasar lamanya waktu penarikan hibah, misalnya : dalam satu perjanjian hibah ditentukan akan diterima dalam waktu 5 tahun (multi years), maka Kementerian tidak perlu untuk mengajukan hibah setiap tahunnya, cukup satu kali saja untuk satu perjanjian hibah.
B. PEMBUKAAN DAN PENUTUPAN REKENING
Dalam rangka tertib administrasi, menjaga akuntabilitas pengelolaan uang negara, dana yang bersumber dari hibah langsung wajib diterima dan ditampung pada satu rekening, dengan prinsip satu register hibah, satu rekening hibah yang di tata usahakan oleh BP/BPP.
1. PEMBUKAAN REKENING
a. Kepala Satker penerima Hibah mengajukan usulan permohonan pembukaan rekening kepada Eselon I; b. Eselon I meneruskan usulan Kepala Satker penerima
hibah dengan mengajukan permohonan persetujuan pembukaan Rekening Hibah kepada Sekretaris Jenderal cq. Kepala Biro Keuangan Dan Barang Milik Negara ;
c. Kepala Biro Keuangan dan BMN akan menyampaikan usulan dimaksud kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan cq. Direktur Pengelolaan Kas negara sesuai format pada lampiran 3;
d. Permohonan persetujuan pembukaan rekening dari Kepala Satuan kerja penerima hibah tersebut dilampiri surat pernyataan penggunaan rekening dengan format pada lampiran 4;
e. Atas dasar persetujuan pembukaan rekening dari Kementerian Keuangan, Kepala Satuan kerja KPA membuka Rekening Hibah untuk mendanai kegiatan yang disepakati dalam Perjanjian Hibah atau dokumen
24
f. Pengelolaan Rekening Hibah dilaksanakan oleh Bendahara Pengeluaran Satker atau oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP).
g. Rekening Hibah yang telah dibuka sebelum mendapatkan persetujuan pembukaan rekening, wajib dilaporkan dan dimintakan persetujuan kepada Menteri Keuangan dengan format laporan terhadap rekening yang telah dibuka sesuai formulir pada lampiran 5 dan Permohonan persetujuan Rekening yang telah dibuka sesuai formulir pada lampiran 6.
h. Satuan kerja penerima hibah dapat langsung menggunakan uang yang berasal dari hibah langsung tanpa menunggu terbitnya persetujuan pembukaan Rekening Hibah.
i. Guna standarisasi penamaan rekening hibah, maka setiap rekening yang di buka oleh BPP pemegang dana hibah langsung didaerah diberi nama sesuai hibah yang diterimanya sebagai contoh : Rek Hibah WHO Kementerian Kesehatan di Dinkes Kab. Sikka.
2. PENUTUPAN REKENING
a. Rekening Hibah yang sudah tidak digunakan sesuai dengan tujuan pembukaannya wajib ditutup oleh Kepala Satker Penerima Hibah dan Saldonya disetor ke Rekening Kas Negara, kecuali ditentukan lain dalam perjanjian hibah atau dokumen yang dipersamakan. b. Tata cara penyetoran dan pencatatan penyetoran saldo
Rekening Hibah ke Rekening Kas Negara diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan.
c. Jasa giro/bunga yang diperoleh dari Rekening Hibah disetor ke Kas Negara sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), kecuali ditentukan lain dalam Perjanjian Hibah atau dokumen yang dipersamakan. d. Menyampaikan bukti penyetoran dan/atau penutupan
rekening kepada Direktorat Perbendaharaan cq. Direktorat Pengelolaan Kas Negara.
Fund Channeling
C. PENYESUAIAN PAGU DIPA/REVISI DIPA YANG BERSUMBER DARI HIBAH
1) Setelah diperoleh nomor register hibah dari Dit. EAS DJPU, PA/KPA pada Satuan kerja penerima hibah langsung dalam bentuk uang di Kementerian Kesehatan melakukan penyesuaian pagu belanja yang bersumber dari hibah langsung dalam bentuk uang dalam DIPA Satuan Kerja. 2) Kepala Satuan Kerja mengajukan permohonan Penyesuaian
pagu belanja yang bersumber dari hibah adalah sebesar yang direncanakan akan dibelanjakan sampai dengan akhir tahun anggaran berjalan, atau paling tinggi sebesar penerimaan hibah atau saldo penerimaan hibah melalui revisi Kepada Sekretaris Jenderal cq. Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran;
3) Selanjutnya Biro Perencanaan dan Anggaran meneruskan usulan tersebut kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan/ Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) DJPB untuk disahkan sesuai Peraturan Menteri Keuangan;
4) Dalam hal yang sangat mendesak, Satker Penerima Hibah dapat langsung menggunakan uang yang berasal dari hibah langsung tanpa menunggu terbitnya revisi DIPA.
5) Pada akhir tahun anggaran berjalan, jika terdapat sisa penerimaan hibah yang belum dibelanjakan, Satuan kerja dapat menggunakan sisa penerimaan hibah tersebut untuk membiayai kegiatan pada tahun anggaran berikutnya yang dituangkan dalam revisi DIPA tahun anggaran berikutnya.
D. MEKANISME PENCAIRAN DANA DARI BP KE BPP
1) Dalam Pelaksanaan kegiatan/program yang akan dilaksanakan didaerah, Kepala Satuan Kerja atau KPA penerima hibah langsung di pusat menandatangani Surat Kesepakatan Kerja dengan Kepala Dinas Kesehatan setempat dimana kegiatan/program tersebut dilaksanakan. Sesuai dengan form terlampir
26
2) Kepala Satuan Kerja daerah/ PPK daerah menyusun POK untuk disampaikan kepada KPA dengan melampirkan Surat Pernyataan Bertanggung jawab penuh atas pengelolaan dana hibah yang diterima.
3) PPK dan BPP daerah melalui Kepala Satuan Kerja Daerah mengajukan izin pembukaan rekening pada bank untuk menampung dana atas nama BPP hibah Satuan Kerja daerah bersangkutan kepada KPA pusat/Eselon I, Kepala Biro Keuangan dan BMN untuk diteruskan kepada Dirjen Perbendaharaan c.q. Direktur Pengelolaan Kas Negara selaku Kuasa BUN. Dalam pelaksanaan pembayaran atas beban dana hibah langsung pada rekening bank dapat dilakukan dengan spesimen PPK dan BPP.
4) Penyaluran dana hibah langsung dari BP kepada BPP dilakukan berdasarkan Surat Perintah Bayar (SPBy) yang ditandatangani oleh PPK Pusat atas nama KPA berdasarkan surat permintaan dan rincian kebutuhan dana masing-masing BPP yang di tanda tangani oleh Kepala Satuan Kerja/Kepala Dinkes dan telah disetujui oleh KPA yang harus dilampiri : a. rencana pelaksanaan kegiatan/pembayaran;
b. rencana kebutuhan dana; dan
c. batas waktu pertanggungjawaban penggunaan uang . 5) BP mengirimkan dana melalui transfer ke rekening bank
BPP daerah, atas penyaluran dana hibah, selanjutnya BP memberitahukan kepada BPP bahwa dana telah dikirim. BPP membuat bukti penerimaan atas penyaluran dana hibah tersebut sebanyak 2 (dua ) lembar dengan ketentuan:
a. lembar ke-1 disampaikan kepada BP sebagai bukti bahwa dana tersebut telah diterima oleh BPP;
b. lembar ke-2 disimpan oleh BPP.
6) Dalam rangka penarikan uang dari rekening BPP, cek untuk pengambilan uang di Bank harus ditanda tangani oleh PPK dan BPP.
7) Pada akhir tahun anggaran/kegiatan, BPP harus menyetorkan seluruh sisa dana hibah termasuk jasa giro kepada BP [Rek
Fund Channeling
bank BPP pada akhir tahun harus nihil (nul)]. Bukti setor dan copy rek bank disampaikan ke BP.
8) Atas penerimaan setoran sisa dana hibah dimaksud Bendahara Pengeluaran menerbitkan kuitansi/tanda terima setoran dari BPP sebanyak 2 lembar, dengan ketentuan : a. lembar ke-1 disampaikan kepada BPP;
b. lembar ke-2 disimpan oleh Bendahara Pengeluaran. 9) Pada akhir tahun anggaran/kegiatan maka Bendahara
Pengeluaran wajib menyetorkan seluruh sisa uang yang berada dalam pengelolaannya ke Kas Negara kecuali ditentukan lain dalam Perjanjian Hibah atau dokumen yang dipersamakan.
10) Pada akhir tahun anggaran, BPP menutup Buku Kas Umum dan Buku-Buku Pembantu dengan ditandatangani oleh BPP dan PPK.
11) Pembukuan terhadap seluruh penerimaan dan pengeluaran dilakukan dengan aplikasi yang dibuat dan dibangun oleh Kementerian Keuangan cq. Direktoral Jenderal Perbendaharaan.
12) Dalam hal Bendahara tidak dapat melakukan pembukuan menggunakan aplikasi Bendahara dapat melakukan pembukuan secara manual baik dengan tulis tangan maupun dengan komputer.
13) Dalam hal pembukuan dilakukan menggunakan aplikasi atau dengan kornputer, Bendahara harus:
a. mencetak Buku Kas Umum dan Buku-Buku Pembantu paling sedikit satu kali dalam satu bulan yaitu pada hari kerja terakhir bulan berkenaan (sesuai formulir dapat pada di lampiran 7); dan
b. menandatangani hasil cetakan dan diketahui oleh PPK atas nama KPA.
14) Model-model Buku Bendahara Pengeluaran/BPP paling sedikit mencantumkan mengenai tanggal, uraian, debet,
28
E. PENGATURAN JASA GIRO
Terhadap Uang Negara yang berada di Bank Umum/badan lain, Bendahara berhak memperoleh bunga/jasa giro tingkat bunga yang berlaku umum untuk keuntungan Kas Negara.
F. PENATAUSAHAAN PEMBUKUAN BPP
1. Penata usahaan Kas di BPP daerah.
a. BPP di daerah setelah menerima dana hibah langsung dalam bentuk uang dapat menyimpan uang yang diterimanya dalam brankas sesuai dengan ketentuan. b. BPP harus menyimpan sisa uang hibah pada rekening
bank.
c. Pada setiap akhir hari kerja, uang tunai yang ada pada Kas BPP paling banyak sebesar Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah), apabila menyimpan lebih dari Rp 50.000.000, (lima puluh juta rupiah) BPP membuat Berita Acara yang ditandatangani oleh BPP dan PPK daerah yang ditunjuk.
d. BPP dapat melaksanakan pembayaran sesuai SPBy yang ditandatangani oleh PPK atas nama KPA.
e. SPBy dilampiri dengan bukti pengeluaran berupa: a) Kuitansi/bukti pembelian yang telah disahkan PPK
disertai faktur pembelian.
b) Nota/bukti penerimaan barang/jasa atau dokumen pendukung lainnya yang diperlukan dan telah disahkan oleh PPK.
f. Berdasarkan SPBy yang telah ditandatangani oleh PPK atas nama KPA, BPP wajib melakukan pengujian atas : a) kelengkapan perintah pembayaran yang
diterbitkan oleh PPK;
b) kebenaran atas hak tagih, meliputi:
1. pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran;
Fund Channeling
3. jadwal waktu pembayaran; dan
4. ketersediaan dana yang bersangkutan . g. BPP melakukan pembayaran atas tagihan dalam SPBy
apabila yang telah ditandatangani oleh PPK atas nama KPA;
h. Dalam hal pengujian perintah bayar tidak memenuhi persyaratan untuk dibayarkan, BPP harus dapat menolak SPBy yang diajukan kepadanya.
2. Pembukuan BPP
a. BPP menyelenggarakan pembukuan terhadap seluruh penerimaan dana hibah langsung yang diterima dari Bendahara Pengeluaran di Pusat.
b. BPP segera mencatat setiap transaksi penerimaan dan pengeluaran dalam Buku Kas Umum sebelum dibukukan dalam Buku-Buku Pembantu yang terdiri dari Buku Kas Tunai, Buku-Buku Bank dan Buku Pembantu lainnya.
c. Dalam hal BPP menyalurkan dana kepada pelaksana kegiatan/program , BPP menyelenggarakan Buku Pembantu Uang Muka/voucher.
d. Pada akhir tahun anggaran, BPP akan menutup Buku Kas Umum dan Buku-Buku Pembantu dengan ditandatangani oleh BPP dan PPK atas nama KPA. e. Bendahara yang mengelola lebih dari satu DIPA, harus
memisahkan pembukuannya sesuai DIPA masing-masing.
f. Pembukuan terhadap seluruh penerimaan dan pengeluaran dilakukan dengan aplikasi yang dibuat dan dibangun oleh Kementerian Keuangan cq. Direktoral Jenderal Perbendaharaan.
g. Dalam hal Bendahara tidak dapat melakukan pembukuan menggunakan aplikasi Bendahara dapat melakukan pembukuan secara manual baik dengan
30
h. Dalam hal pembukuan dilakukan menggunakan aplikasi atau dengan kornputer, Bendahara harus :
a) mencetak Buku Kas Umum dan Buku-Buku Pembantu paling sedikit satu kali dalam satu bulan yaitu pada hari kerja terakhir bulan berkenaan; dan
b) menandatangani basil cetakan sebagaimana dimaksud dan diketahui oleh PPK atas nama KPA,
i. BPP harus menatausahakan hasil cetakan beserta dokumen sumber terkait.
j. Dalam rangka memudahkan pelaksanaan dan keseragaman pembukuan, ditetapkan model-model buku Bendahara Pengeluaran dan BPP.
k. Model-model Buku Bendahara Pengeluaran/BPP paling sedikit mencantumkan mengenai tanggal, uraian, debet, kredit, dan saldo.
G. PEMERIKSAAN KAS DAN REKONSILIASI PEMBUKUAN BENDAHARA DENGAN UAKPA
1. Pemeriksaan Kas
a. PPK atas nama KPA melakukan pemeriksaan kas Bendahara Pengeluaran paling sedikit satu kali dalam satu bulan.
b. PPK melakukan pemeriksaan kas BPP paling sedikit satu kali dalam satu bulan.
c. Pemeriksaan kas dapat dilaksanakan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
d. Pemeriksaan kas dilakukan untuk meneliti kesesuaian antara saldo buku dengan saldo kas.
e. PPK atas nama KPA memastikan bahwa uang yang diambil oleh Bendahara Pengeluaran dari Bank telah sesuai dcngan kebutuhan dan disesuaikan dengan jumlah uang tunai yang ada di brankas.
Fund Channeling
f. Hasil perneriksaan dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan Kas.
g. Berita Acara Pemeriksaan Kas paling sedikit memuat hasil pemeriksaan berupa:
1) kesesuaian kas tunai di brankas dan di rekening dalam rekening koran dengan pembukuan;
2) penjelasan apabila terdapat selisih antara hasil pemeriksaan dengan pembukuan.
h. Bentuk dan format Berita Acara Pemeriksaan Kas sebagaimana format terlampir (format dapat dilihat pada lampiran 8)
2. Rekonsiliasi Pembukuan Bendahara dengan UAKPA
a. PPK atas nama KPA melakukan rckonsiliasi internal antara pembukuan Bendahara Pengeluaran setelah mendapat laporan dari BPP dengan Laporan Keuangan UAKPA paling sedikit satu kali dalam satu bulan sebelum dilakukan rekonsiliasi dengan KPPN
b. Rekonsiliasi internal dimaksudkan untuk meneliti kesesuaian antara pembukuan bendahara dengan Laporan Keuangan UAKPA.
c. Rekonsiliasi internal dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan pemeriksaan kas
d. Hasil rekonsiliasi internal diluangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan Kas dan Rekonsiliasi. (format dapat dilihat pada lampiran 9)
3. Penyusunan Dan Penyampaian Laporan Pertanggung-jawaban BPP.
a. BPP wajib menyusun LPJ setiap buIan atas uang hibah yang dikelolanya.
b. LPJ BPP disusun berdasarkan pembukuan Buku Kas Umum dan Buku Pembantu yang telah diperiksa dan
32
c. LPJ BPP, paling sedikit menyajikan informasi sebagai berikut:
1) keadaan pembukuan pada bulan pelaporan, meliputi saldo awal, penambahan, pengurangan, dan saldo akhir dari Buku Pembantu;
2) keadaan kas pada akhir bulan pelaporan, meliputi uang tunai di brankas dan saldo di rekening bank/ pos;
3) hasil rekonsiliasi internal antara pembukuan bendahara dengan UAKPA; dan
4) penjelasan atas selisih jika ada, antara saldo buku dan saldo kas.
d. LPJ-BPP ditandatangani oleh BPP dan PPK serta disampaikan kepada Bendahara Pengeluaran setiap bulan paling lambat 5 (lima) hari kerja bulan berikutnya dengan dilampiri salinan rekening koran untuk bulan berkenaan(format LPJ BPP dapat dilihat pada lampiran 10)
H. PENGESAHAN HIBAH LANGSUNG DALAM BENTUK UANG 1. KPA mengajukan SP2HL atas seluruh pendapatan hibah
langsung luar negeri bentuk uang sebesar yang telah diterima, dan belanja yang bersumber dari Hibah Langsung Luar Negeri sebesar yang telah dibelanjakan pada tahun anggaran berjalan kepada KPPN Khusus Pinjaman dan Hibah paling tinggi sebesar alokasi dana yang tercantum pada DIPA.
2. SP2HL dibuat menggunakan aplikasi yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan, formulir dapat dilihat pada lampiran 11.
3. Sisa uang yang bersumber dari hibah langsung bentuk uang dapat dikembalikan kepada Pemberi Hibah sesuai Perjanjian Hibah atau dokumen yang dipersamakan.
4. Atas pengembalian dana hibah tersebut, PA/Kuasa PA menyampaikan SP4HL yang berasal dari luar negeri kepada KPPN Khusus Pinjaman dan Hibah.
Fund Channeling
5. Format SP4HL dapat dilihat pada lampiran 12.
6. SP4HL dibuat rnenggunakan aplikasi yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan.
I. PROSEDUR/TATA CARA PENGESAHAN HIBAH LANGSUNG
DALAM BENTUK UANG 1. Penyampaian SP2HL
a. Atas pendapatan hibah langsung bentuk uang dan/atau belanja yangbersumber dari hibah langsung, PA/Kuasa PA rnembuat dan menyampaikan SP2HL ke KPPN Khusus Pinjaman dan Hibah dengan dilampiri :
1) Copy Rekening Koran terakhir atas rekening hibah;
2) SPTMHL ; 3) SPTJM; dan
4) Copy surat persetujuan pembukaan rekening untuk pengajuan SP2HL pertama kali.
b. Penyampaian SP2HL ke KPPN dilakukan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam satu tahun anggaran. c. Format SPTMHL dan SPTJM dapat dilihat pada
lampiran 13 dan lampiran 1 2. Penyampaian SP4HL
a. Atas pengembalian pendapatan hibah langsung bentuk uang, PA/Kuasa PA membuat dan menyampaikan SP4HL dengan dilampiri:
1) Copy Rekening Koran Terakhir atas Rekening Hibah:
2) Copy bukti pengirirnan/transfer kepada Pemberi Hibah dan SPTJM.
b. Penyampaian SP4HL ke KPPN , dilakukan segera setelah semua kegiatan dalam perjanjian hibah selesai
34
c. Dalam hal sisa dana hibah yang tidak digunakan dan tidak dikembalikan kepada pemberi hibah, atas sisa dana tersebut disetorkan ke kas negara dan untuk selanjutnya dilakukan pengesahan ke KPPN Khusus Pinjaman dan Hibah dengan menggunakan dokumen SP4HL
Fund Channeling
Fund Channeling
BAB IV
AKUNTANSI, PELAPORAN DAN REKONSILIASI A. AKUNTANSI
1. Satuan kerja membukukan dokumen sumber transaksi keuangan atas:
a. belanja yang bersumber dari hibah langsung bentuk uang;
b. saldo kas di satuan kerja dari hibah;
c. belanja barang untuk pencatatan persediaan dari hibah; dan
d. belanja modal untuk pencatatan aset tetap atau aset lainnya dari hibah;
2. Pendapatan Hibah dalam bentuk uang yang disahkan oleh KPPN Khusus Pinjaman dan Hibah menjadi dasar pengakuan pendapatan hibah bagi Bagian Anggaran BUN 3. Belanja yang bersumber dari hibah adalah belanja yang
membebani pengeluaran K/L untuk mendukung kegiatan operasional K/L
4. Belanja yang dilakukan K/L dapat dibebankan ke dalam akun belanja barang (52xxxx), belanja modal (53xxxx) maupun belanja bantuan social (57xxxx)
5. Belanja yang bersumber dari hibah disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran K/L.
6. Pendapatan Hibah Langsung dalam bentuk uang yang sampai dengan akhir tahun belum digunakan dan belum disahkan, disajikan dalam Neraca K/L.
7. Pendapatan Hibah Langsung dalam bentuk uang yang telah disahkan dan masih terdapat sisa pada akhir tahun anggaran, disajikan dalam Neraca K/L
38
9. Pendapatan hibah dalam bentuk uang yang diterima dalam mata uang asing (valas), Satuan kerja disarankan untuk menkonversi seluruh valuta asing tersebut ke dalam mata uang rupiah.
10. Pendapatan yang disahkan sebesar realisasi jumlah rupiah berdasarkan hasil konversi. Dalam hal demikian, tidak akan terjadi selisih kurs.
B. REKONSILIASI
Rekonsiliasi Hibah dilaksanakan secara berjenjang paling sedikit satu kali dalam 3 (tiga) bulan.
Rekonsiliasi Hibah dilaksanakan antara :
1. Kepala Satker akan melakukan Rekonsiliasi dengan Donor 2. Kepala Satker melakukan rekonsiliasi dengan Biro Keuangan
dan BMN
3. Biro Keuangan dan BMN atas nama Sekretariat Jenderal melakukan Rekonsiliasi dengan Dit. EAS DJPU atas realisasi Pendapatan Hibah Langsung secara triwulanan.
4. Rekonsiliasi dapat dilakukan dari tingkat UAPA sampai dengan UAKPA.
5. Dalam hal terjadi ketidakcocokan pada saat Rekonsiliasi, kedua belah pihak melakukan penelusuran.
6. Hasil Rekonsiliasi akan dituangkan dalam Berita Acara Rekonsiliasi.
a. Biro Keuangan dan BMN atas nama Sekretariat Jenderal melakukan pencocokan data dengan Pemberi Hibah atas realisasi Pendapatan Hibah secara triwulanan. b. Dalam hal terjadi ketidakcocokan data, kedua belah
pihak melakukan penelusuran.
c. Hasil pencocokan data dituangkan dalam Berita Acara. d. Copy Berita Acara disampaikan kepada DJPU c.q.
Fund Channeling
C. PELAPORAN
1. Satker Penerima Hibah akan menyusun laporan keuangan yang telah direkonsiliasi .
2. Laporan keuangan terdiri dari: a. Laporan Realisasi Anggaran; b. Neraca; dan
c. CaLK.
3. Tata cara penyusunan laporan keuangan Satuan kerja mengikuti ketentuan peraturan yang mengatur mengenai Sistem Akuntansi Instansi.
4. Satker Peneriman Hibah wajib menyampaikan laporan keuangan berupa LRA dan Neraca setiap bulan setiap semesteran dan tahunan.
5. Pendapatan Hibah Langsung dalam bentuk uang yang sampai dengan akhir tahun belum digunakan dan belum disahkan, disajikan dalam Neraca Kementerian Kesehatan. 6. Pendapatan Hibah Langsung dalam bentuk uang yang
telah disahkan dan masih terdapat sisa pada akhir tahun anggaran, disajikan dalam Neraca Kementerian Kesehatan dan merupakan bagian dari Saldo Anggaran Lebih.
D. PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB DAN REVIU
1. Satuan kerja penerimana wajib membuat Pernyataan Tanggung Jawab (Statement of Responsibility) atas laporan keuangan semesteran dan tahunan.
2. Pernyataan Tanggung Jawab tersebut memuat pernyataan bahwa pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai dan akuntansi keuangan telah diselenggarakan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.
40
4. Bentuk dan isi dari Pernyataan Tanggung Jawab.
5. Laporan keuangan yang telah dibuat tersebut wajib di reviu oleh Aparat Pengawasan Internal dan dituangkan dalam laporan hasil reviu berupa Pernyataan Telah Direviu ditandatangani oleh Aparat Pengawasan Intern.
6. Entitas akuntansi dan entitas pelaporan menyajikan klasifi kasi pendapatan menurut jenis pendapatan dalam Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan Hibah, dan rincian lebih lanjut jenis pendapatan, disajikan pada CaLK.
7. Entitas akuntansi dan entitas pelaporan menyajikan klasifi kasi Belanja Hibah menurut organisasi dan menurut fungsi dalam Laporan Realisasi Anggaran Belanja.
Fund Channeling
BAB V
MONITORING DAN EVALUASI
KPA melakukan monitoring per tiga bulan atas realisasi hibah langsung ke setiap jenjang wilayah baik di Kantor Pusat, Kantor Instansi Vertikal di Daerah maupun hibah pusat yang dilaksanakan di Provinsi/ Kabupaten/Kota dan menyampaikan laporannya kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan melalui Eselon I terkait.
1. Pimpinan Excecutif Agency menyusun laporan hasil pemantauan dan evaluasi, yang terdiri atas:
a. laporan triwulanan pelaksanaan kegiatan; dan b. laporan pasca kegiatan.
2. Laporan triwulanan pelaksanaan kegiatan disampaikan kepada Menteri Keuangan u.p. Direktur Jenderal Pengelolaan Utang dan Menteri PPN melalui Biro Perencanaan dan Penganggaran Kementerian Kesehatan dan Bagian Program dan Informasi paling lambat 15 (lima belas) hari kerja setelah berakhirnya triwulan yang bersangkutan.
3. Batas akhir masing-masing triwulan adalah sebagai berikut: a. triwulan pertama setiap tanggal 31 Maret;
b. triwulan kedua setiap tanggal 30 Juni;
c. triwulan ketiga setiap tanggal 30 September; dan d. triwulan keempat setiap tanggal 31 Desember.
4. Untuk formulir laporan triwulanan hibah yang pengesahannya diajukan melalui KPPN dan/atau Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang cq. Direktorat Evaluasi, Akuntansi dan Setelmen mengacu pada format laporan sebagaimana tercantum dalam lampiran 15 dan lampiran 16.
5. Laporan pasca kegiatan berupa Laporan Akhir Kegiatan (Project Completion Report) atau dokumen lain yang sejenis.
44
7. Laporan hasil pemantauan dan evaluasi dialamatkan kepada: a) Sekretaris Jenderal
b) Eselon I terkait
c) Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang cq. Direktorat Evaluasi, Akuntansi dan Setelmen
Fund Channeling
BAB VI
PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN
1. Pengawasan Internal/Atasan Langsung
a. KPA/PPK wajib melakukan pemeriksaan kas bendahara sekurang-kurangnya satu kali dalam satu bulan untuk meneliti kesesuaian antara saldo buku dan saldo kas;
b. KPA wajib melakukan rekonsiliasi internal antara pembukuan bendahara hibah dan laporan keuangan UAKPA sekurang-kurangnya satu kali dalam satu bulan sebelum dilakukan rekonsiliasi dengan KPPN. Hasil Pemeriksaan harus dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan Kas dan rekonsiliasi;
c. KPA melakukan Monitoring atas realisasi dana hibah setiap bulan yang diterima atau dalam proses ;
d. Pengawasan oleh Atasan langsung terhadap Pengelolaan Keuangan disetiap Satuan Kerja penerima Hibah harus dilakukan secara intensif dan berjenjang;
e. Pengawasan dapat dilakukan dengan pertemuan berkala, melalui pengisian formulir/check list atau melalui kunjungan mendadak (sidak), agar dapat diketahui lebih dini apabila pelaksanaan tidak sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku; dan
f. Hasil Pengawasan dilaporkan kepada Eselon I.
2. Pengawasan Eksternal/Aparat Pengawasan Internal Pemerintah a. Dalam Pelaksanaan pengelolaan hibah langsung dalam
bentuk uang yang pelaksanaannya di daerah harus dengan mekanisme “ one gate policy ”
b. Untuk Tujuan Pengendalian internal, Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan Akan melakukan Review terhadap
48
c. Inspektorat Jenderal akan melakukan Audit Operasional pada satuan kerja
d. Percepatan Penyelesaian Tindak Lanjut LHP atas Pemeriksaan Hibah Langsung
Fund Channeling
BAB VII PENUTUP
Pedoman Pengelolaan Hibah Langsung Luar Negeri Dalam Bentuk Uang yang dilaksanakan di Daerah (Fund Channeling) diharapkan dapat bermanfaat bagi para Pengelola dan Penanggung Jawab hibah langsung baik di daerah dan pusat yang pelaksanaan kegiatannya dilaksankan di daerah, sehingga dalam penyusunan laporan keuangan untuk tingkat UAKPA dapat dilaksanakan dengan baik.
Pedoman ini diharapkan dapat membantu Pengelolaan Keuangan Hibah Langsung dalam bentuk uang agar sesuai dengan ketentuan dan mendukung kewajaran atas opini Laporan Keuangan Kementerian Kesehatan. Disadari bahwa peraturan ini masih belum sempurna sehingga masukan untuk perbaikan tetap diharapkan.
Fund Channeling LAMPIRAN 1 (KOP SURAT) KEMENTERIAN/LEMBAGA Nomor : …….. Sifat : …….. Lampiran : ……..
Hal : Permohonan Permintaan Nomor Register Hibah
Yth. Direktur Evaluasi, Akuntansi dan Setelmen Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang
Kementerian Keuangan
Menunjuk Peraturan Menteri Keuangan Nomor: ………/PMK.05/2011 tentang ……….., dengan ini kami mengajukan permohonan permintaan nomor register hibah untuk proyek/kegiatan …..(1)….. yang berasal dari donor ………(2)………
Sebagai syarat permintaan nomor register terlampir kami sampaikan :
1. Dokumen Perjanjian Hibah (Grant Agreement)/dokumen lain yang dipersamakan; 2. Ringkasan Hibah (Grant Summary).
Untuk memudahkan dalam penyampaian persetujuan nomor register, persetujuan tersebut dapat disampaikan kepada …………..(3)………
Demikian disampaikan untuk dapat ditindaklanjuti sebagaimana mestinya. Atas kerjasamanya yang baik diucapkan terima kasih.
………(4)….,…..(5)………… ….. ……….(6)……… ….. ………..(7)……..……… ….. NIP ……… Tembusan :
56
PETUNJUK PENGISIAN PERMOHONAN NOMOR REGISTER HIBAH
Nomor Uraian
(1) Diisi nama proyek/kegiatan hibah sesuai Perjanjian Hibah atau dokumen yang dipersamakan
(2) Diisi nama Negara/Lembaga Pemberi Hibah
(3) Diisi nama dan alamat Instansi beserta nomor telepon/fax Pemohon nomor register hibah
(4) Diisi lokasi Pemohon nomor register hibah
(5) Diisi tanggal surat permohonan nomor register hibah
(6)
Diisi jabatan penandatangan surat permohonan nomor register hibah, dapat diisi Sekretaris Jenderal Kementerian/Lembaga atau Kepala Satuan Kerja penerima hibah
(7) Diisi nama dan NIP Pejabat penandatangan surat permohonan nomor register hibah
(8)
Diisi pihak-pihak yang mendapat tembusan surat permohonan nomor register hibah, termasuk kepada Unit pada Kementerian/Lembaga yang memiliki tugas dan fungsi menyusun Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga.
Fund Channeling
RINGKASAN HIBAH (GRANT SUMMARY) 1. Nama Hibah/Grant :
2. Nilai Hibah/Grant :
3. Mata Uang :
4. Nomor Hibah/Grant : 5. Nomor Referensi lain : 6. Tanggal Penandatanganan :
7. Kementerian Lembaga Penerima/Executing Agency : Kode Satker : 8. Implementing Agency/Beneficiary dan Kode Satker (bisa lebih dari satu)
a. Nama : b. Alamat : c. Kode Satker : d. Nomor Telepon/Faximile : / e. E-mail : 9. Donor/Pemberi Hibah : a. Negara : b. Alamat : c. Nomor Telepon/Faximile : / d. E-mail :
10. Sumber Pembiayaan : Ƒ Lembaga Multilateral Ƒ Lembaga Bilateral Ƒ Lembaga Swasta Ƒ Perorangan Ƒ Lainnya :
11. Jenis Pembiayaan (Grant Purpose) :
12. Jenis Hibah : Ƒ Terencana Ƒ Langsung 13. Penarikan Hibah :
a. Tatacara Penarikan : Ƒ PP Ƒ L/C Ƒ PL Ƒ Reksus b. Rencana Penarikan/Disbursement Plan :
No. Penarikan Tgl/Bln/Thn Nilai
1. I 2. II 3. III 4. IV 5. V 6. Dan seterusnya c. Diterushibahkan
No. Kepada Nilai
1. 2. 14. Sektor Pembiayaan
58 15. Lokasi/Alokasi Proyek :
No. Lokasi Alokasi
1. 2.
16. Tanggal Efektif/Effective Date : Tanggal Bulan Tahun
17. Tanggal Batas Waktu Pengefektifan/
Date Effective Limit : Tanggal Bulan
Tahun
18. Tanggal Batas Penarikan/Closing Date : Tanggal Bulan Tahun
19. Tanggal Penutupan Rekening/
Date of Closing Account : Tanggal Bulan
Tahun 20. Biaya
:
No. Uraian I II III IV V
1. Jenis Biaya 2. Besar biaya 3. Jatuh tempo
21. Ketentuan pengiriman NoD : Ƒ Ada Ƒ Tidak ada 22. Persyaratan Pengefektifan/
Conditions Precedent for Effectiveness :
23. Nomor Registrasi Grant/Hibah : (Diisi oleh Direktorat EAS) 24. DMFAS Grant ID : (Diisi oleh Direktorat EAS)
Tempat, tanggal, bulan, tahun Jabatan
Nama NIP/NRP
Fund Channeling
PENJELASAN & PETUNJUK PENGISIAN RINGKASAN HIBAH/GRANT SUMMARY
No Penjelasan 1 Diisi dengan nama proyek sesuai yang tertulis dalam Perjanjian Hibah/Grant
Agreement.
2 Diisi dengan jumlah hibah/grant sesuai yang tertulis dalam Perjanjian Hibah/Grant Agreement.
3 Diisi dengan mata uang sesuai yang tertulis dalam Perjanjian Hibah/Grant
Agreement.
4 Diisi dengan nomor reference dari donor 5 Diisi dengan nomor referensi lainnya (jika ada)
6 Diisi dengan tanggal penandatangan hibah/grant date signing. 7 Diisi dengan nama Kementerian/Lembaga penerima hibah/grant. 8 Diisi dengan nama eselon I/Satker penerima dan pengelola hibah/grant. 9 Jelas
10 Jelas
11 Diisi dengan jenis peruntukkan pembiayaan dari hibah/grant, misal bantuan program, bantuan proyek, technical assistance.
12 Jelas 13
a. Jelas.
b. Dilampirkan dengan Rencana Penarikan/Disbursement Schedule dan
executing agency, termasuk alokasi per jenis kategori dan per tahun.
c. Diisi nama Lembaga/Pemda/BUMN penerima penerusan hibah 14 Diisi dengan sektor yang dibiayai dalam hibah/grant, misal infrastructure,
education, health dsb.
15 Dalam hal proyek diberbagai lokasi, disebutkan lokasi dan alokasi dana per propinsi dan kab/kota
16 Diisi dengan tanggal efektif hibah/grant tersebut 17 Jelas
18 Jelas
19 Diisi dengan tanggal penetapan penutupan rekening/account sesuai dengan ketentuan pemberi hibah.
20 1. Diisi dengan jenis-jenis biaya/fee.
2. Diisi dengan besarnya rate yang ditetapkan dalam Perjanjian Hibah. 3. Diisi dengan saat jatuh tempo yaitu saat pembayarannya sesuai yang telah
disepakati dalam Perjanjian Hibah (jika ada).
21 Diisi penjelasan bahwa dalam Perjanjian Hibah telah diatur/belum tentang ketentuan pencantuman ketentuan pengiriman NoD oleh Donor
22 Diisi dengan keterangan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi untuk pengefektifan Hibah/Grant tersebut (jika ada).
23 Jelas 24 Jelas
60
KOP SURAT
Nomor : S- ……../2007 ….. …… 2007
Sifat : ……….
Lampiran : ……….
Hal : Permohonan Persetujuan Pembukaan Rekening
Yth. ………..1) di
……….2)
Menunjuk Peraturan Menteri Keuangan Nomor : ……./PMK.05/2007 tentang Pengelolaan Rekening Milik Kementerian Negara/Lembaga/Kantor/Satuan Kerja, dengan ini kami mengajukan permohonan persetujuan pembukaan rekening………3) pada ……….4) untuk keperluan ……….5)
Demikian disampaikan untuk dapat ditindaklanjuti sebagaimana mestinya. Atas kerjasamanya yang baik diucapkan terima kasih.
Kepala Kantor,
………..6) NIP. ……….
Fund Channeling
PETUNJUK PENGISIAN
SURAT PERMOHONAN PEMBUKAAN REKENING
Nomor Uraian
(1)
Diisi:
- Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk kantor/satuan kerja yang dibayar melalui Dit. Pengelolaan Kas Negara; atau
- Kepala KPPN untuk kantor/satuan kerja yang dibayar melalui KPPN.
(2) Diisi : Jakarta atau nama kota tempat lokasi KPPN
(3) Diisi : penerimaan atau pengeluaran atau lainnya (selain penerimaan atau pengeluaran)
(4) Diisi: Bank Indonesia/nama bank umum/kantor pos giro dimana akan dibuka rekening tersebut.
(5) Diisi :
a. Menampung pendapatan Negara dalam rangka pelaksanaan APBN yang di tata usahakan oleh Bendahara Penerimaan; atau b. Menampung uang untuk keperluan belanja negara dalam rangka
pelaksanaan APBN yang di tata usahakan oleh Bendahara Pengeluaran; atau
c. Menampung selain a dan b, berdasarkan kebutuhan yang benar-benar diperlukan untuk kantor/satuan kerja sesuai dengan bidang tugasnya.
(6) Nama Kepala Kantor selaku Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran
62 LAMPIRAN 4 KOP SURAT Nomor : S- ……../2007 ….. …… 2007 Sifat : ………. Lampiran : ……….
Hal : Pernyataan Penggunaan Rekening
Yth. ………..1) di
……….2)
Menunjuk Peraturan Menteri Keuangan Nomor : ……./PMK.05/2007 tentang Pengelolaan Rekening Milik Kementerian Negara/Lembaga/Kantor/Satuan Kerja, dengan ini kami menyatakan dengan sungguh-sungguh, sesuai dengan surat kami tanggal ……….3) Nomor …………..4) hal permintaan persetujuan pembukaan rekening, untuk menggunakan rekening yang dibuka atas nama jabatan, yaitu rekening ………5) pada ………6) hanya untuk keperluan ………..7)
Demikian disampaikan untuk dapat dimaklumi.
Kepala Kantor,
………..8) NIP. ……….