• Tidak ada hasil yang ditemukan

CONTOH SECARA UMUM SISTEMATIKA PENULISAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "CONTOH SECARA UMUM SISTEMATIKA PENULISAN"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

JAMALUDIN, S.PD

TEACHERPRENEUR

KIAT MENJADI GURU PROFESIONAL

BERBUDAYA ENTREPRENEURSHIP

(2)
(3)
(4)

TEACHERPRENEUR

KIAT MENJADI GURU PROFESIONAL

BERBUDAYA ENTREPRENEURSHIP

Penulis : Jamaludin, S.Pd

Editor : Arifuddin M. Arief

Lay Out : Den Binikna

Desain Cover : Den Binikna

EnDeCe Press

Jln. Tanderante Lr. Kenangan No. 9B

Kel. Kabonena, Palu Barat, Sulawesi Tengah

Telp. (0451) 462285, 08124290194

(5)

T

ESTIMONI

“Guru bukan hanya dituntut untuk mentransformasi pengetahuan, sikap mental dan keterampilan anak didik, tetapi dituntut untuk memiliki kompetensi secara universal baik dalam pengembangan diri secara internal mau pun secara eksternal. Termasuk kompetensi jiwa

entrepreneurship sebagai jawaban tuntutan globalisasi. Sejahtera diri, sejahtera guru, dan sejahtera masyarakat itulah visi dan alur pikiran yang tertuang dalam buku ini”.

Drs. Nursalam, MM

Ketua PGRI Provinsi Sulawesi Tengah

“Sebagai Pengurus Yayasan Karuna Dipa merasa bangga dan bahagia salah seorang guru SMA Karuna Dipa Palu dapat menyumbangkan karyanya yaitu menyusun se buah buku tentang profesi guru. Dari judul buku ini

(6)

yang sudah berpengalaman dan profesional, peduli sesama guru, dan berjiwa bisnis”.

Robby Chandra

Ketua Yayasan Karuna Dipa dan Pengusaha

“Persaingan di dunia pendidikan saat ini sulit dihindari, karena kebutuhan masyarakat terus berkembang sesuai dengan tuntutan jaman. Seorang guru yang bergelut dalam dunia pendidikan tentu dituntut untuk terus kreaktif dan memngembangkan profesional. Buku “Teacher Preneur: Kiat Menjadi Guru Profesional Berbudaya Entrepreneurship”

merupakan salah satu buku referensi yang dapat dimilki oleh para guru atau calon guru (mahasiswa) untuk menjadi spirit dalam meningkatkan profesional. Isi buku ini sangat sederhana tapi luar biasa, karena apa yang dilakukan guru selama ini tanpa disadari sesungguhnya sangat berpotensi untuk menjadi suatu bisnis”.

Drs. H. La Ode Baisu, M.Si

Dosen FKIP Universitas Tadulako Palu.

Filosofi bisnis saat ini telah memasuki disegala segi

(7)

profesionalnya sebagai pelayan anak didik. Buku “Teacher Preneur: Kiat Menjadi Guru Profesional Berbudaya Entre­ preneurship” merupakan salah satu buku referensi sekaligus penuntun para guru untuk berbisnis, tetapi masih dalam kontek prefesi sebagai guru. Saya sebagai pelaku bisnis yang bergerak dalam dunia pendidikan sangat tertarik dengan isi buku ini, semoga menjadi spirit dan motivator bagi guru dan calon guru yang berjiwa bisnis.

Asdar, S.Pi

(8)
(9)

K

ATA

P

ENGANTAR

Saya tidak pernah menduga dan bermimpi menjadi sorang penulis, karena saya dilahirkan dan dibesarakan dari lingkungan keluarga yang kurang faham tentang menulis. Motivasi untuk menulis tumbuh setelah Allah SWT mempertemukan saya dengan orang-orang hebat dan luar biasa. Merekalah yang merupakan motivator saya untuk memulai menulis. Bermula dengan pertemuan saya dengan Arifuddin M. Arif (Presiden Komisaris Rumah Cerdas Entrepreneur Indonesia (RCEI) sekaligus sebagai Direktur Education Development Center Sulawesi Tengah), dan Ambo Tang Tibi (Direktur Rumah Cerdas Entrepreneur Indonesia (RCEI), serta dengan sang Motivator dan Trainer Kepenulisan Bapak Abdul Hakim El Hamidy yang datang pada tanggal 5 Nopember 2013 di Palu melakukan training kepenulisan.

(10)

Arifuddin M. Arif dan dorongan moril dari segenap keluarga, terutama istri tercinta Irma Gani, SH. Di sisi lain, walaupun telah berusaha secara maksimal, saya menyadari bahwa buku ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga saran dari semua pihak sangat diharapkan.

Buku ini hanyalah merupakan salah satu instrumen motivasi terutama bagi guru, untuk selalu meningkatkan

kreaktifitas berbasis spirit entrepreneurship dan profesional.

Tuju kiat yang saya tawarkan dalam buku ini untuk meningkatkan profesional sebagai guru, sesunggunya

su-dah merupakan aktifitas guru setiap harinya. Yang menjadi

pertanyaan apakah guru sudah mendesain dengan baik tujuh kiat tersebut. Ternyata, belum semua guru telah mendesain dengan baik, salah satu contoh menyusun LKS atau menyusun Bank Soal. Padahal kegiatan ini merupakan

aktifitas guru setiap mengajar di kelas, karena pasti guru

malakukan pos test atau pra test.

Dilandasi pemikiran di atas, saya mencoba memberikan motivasi yang dilengkapi dengan langkah-langkah dan cara menyusunnya. Sedangkan bisnis hanya merupakan imbas dari peningkatan profesional. Oleh karena itu, mulailah dari sekarang untuk berbuat menuju guru yang profesional dan sejahtera. Amin!.

Palu, 5 Desember 2013 Penulis,

(11)

D

AFTAR

I

SI

Kata Pengantar ix

Bagian 1: Be a Professional Teacher 1

1. Guru Sebagai Profesi 2

2. Kode Etik Guru 5

3. Standar Kompetensi Guru 8

4. Guru Profesional 11

Bagian 2: Membangun Budaya TeacherPreneur 17

1. Bolehkah Guru Berbisnis? 18

2. Tujuh Peluang Usaha Berbasis Teacher­

Preneurship 21

• Mengelola dan Mengajar Les Privat 21

• Mengelola Atau Mengajar Bimbingan Belajar 27

• Menulis Buku 30

• Menulis di Media Masa 55

(12)

• Penelitian Tindakan Kelas (PTK) 65

• Mengikuti Forum Ilmiah Guru (FIG) 89

Daftar Pustaka 95

Lampiran 1 97

Lampiran 2 99

Lampiran 3 103

(13)

BE A

PROFESSIONAL

TEACHER

(14)

1. Guru Sebagai Profesi

Profesi dan pekerjaan sering kita dengar di masyarakat. Pada umumnya, masyarakat awam tidak dapat membedakan antara profesi dan pekerjaan. Mungkin termasuk anda. Untuk lebih memahami perhatikan contoh berikut ini: sopir, pedagang asongan, dokter, dan guru. Sopir dan pedagang asongan termasuk pekerjaan. Adapun dokter dan guru termasuk profesi.

Contoh di atas dapat diberikan pengertian bahwa profesi adalah suatu pekerjaan berdasarkan basic sains

dan teknologi tetentu sehingga diperlukan pendidikan dan keahlian (skill) tertentu, sedangkan pekerjaan adalah kegiatan manusia yang menggunakan tenaga, pikiran, peralatan, tetapi tidak memerlukan keahlian (skill) tertentu.

(15)

untuk diperbincangkan samapai kapan pun, apalagi ka-lau itu dikaitkan dengan kompetensi, status sosial, dan kesejahtraan guru. Hal ini selalu menjadi fokus perhatian, baik di kalangan internal guru, orang tua, maupun ma-syarakat luas, karena pola hidup guru yang selalu menjadi perhatian para siswanya. Namun, sahabat guru tidak perlu memperdebatkan ungkapan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”,

tetapi marilah berkarya untuk bangsa dan anak cucu yang akan melanjutkan estafet bangsa.

Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 Bab I Pasal 1 Ayat 2 bahwa yang dimaksud dengan guru adalah “pendidik profesional dengan tugas utama men didik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah”.

Permen PAN tersebut dapat difahami bahwa tugas dan peran guru sangat besar, bahkan guru pada hakikatnya merupakan komponen strategis yang memilih peran penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa. Bahkan, keberadaan guru merupakan faktor yang tidak mungkin digantikan oleh komponen mana pun dalam kehidupan bangsa sampai kapan pun.

(16)

beban, dan tugas guru kontemporer berkembang ke arah yang lebih kompleks. Sekarang, guru dihadapkan dengan berbagai problem, misalnya kemajuan teknologi di bidang pendidikan, kondisi sosial masyarakat yang cenderung anarkis, serta kebijakan pemerintah yang terus berkembang sehingga dibutuhkan guru yang benar-benar kreatif dan profesional.

Berdasarkan dengan perkembangan zaman dan per-saingan global, maka pengembangan beban tugas guru tidak sekedar berupa aktivitas mencerdaskan, tetapi guru lebih dituntut untuk dapat menyiapkan peserta didik menjadi manusia yang unggul, memiliki integritas, disiplin, siap bersaing secara sehat, dan berdaya nalar tinggi serta memiliki wawasan nasional dan internasional yang luas.

Hal ini menunjukkan bahwa spektrum tugas yang di-emban guru lebih luas dari pada sekedar proses men-transmisikan aspek yang termuat dalam ranah kongnitif, afektif dan psikomotorik. Dalam spektrum tugas guru terdapat

fungsi-fungsi produktifitas. Guru harus mampu menjadi

(17)

2. Kode Etik Guru

Sebagai guru, sangat menyadari bahwa pendidikan merupakan pengabdian baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta alam dan seisinya, sebagai bakti pada bangsa, negara, maupun kemanusiaan pada umumnya. Guru Indonesia yang menjiwai Pancasila dan setia pada Undang-undang Dasar 1945, turut bertanggung jawab atas terwujudnya cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, yaitu kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran. Oleh sebab itu, guru senantiasa terpanggil untuk menyumbangkan pikiran dan karyanya, terutma di bidang pendidikan. Namun, guru Indonesia menyadari bahwa dalam menyumbangkan pikiran dan karya terhadap bangsa dan negara tidak semudah membalikkan tangan. Untuk itu, diperlukan suatu asas atau pedoman dalam menjalankan tugas profesional.

Menyadari hal tersebut di atas, maka pada Kongres PGRI XIII pada 21-25 Nopember 1973 di Jakarta menghasilkan Kode Etik Guru. Kode Etik yang dihasilkan lebih dikenal dengan Kode Etik Guru Indonesia.

Apa itu kode etik guru itu?

(18)

pasal 1 yang menyatakan bahwa kode etik guru Indonesia adalah norma dan asas yang disepakati dan diterima oleh guru-guru Indonesia. Sebagai pedoman sikap dan perilaku dalam menjalankan tugas profesi sebagai pendidik, anggota masyarakat, dan warga negara.

Apa saja yang menjadi kode etik guru Indonesia?

Ada sembilan poin kode etik guru yang disepakati dalam Kongres dan telah disempurnakan pada Kongres XVI tahun 1989 di Jakarta yaitu:

1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang ber jiwa Pancasila.

2. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran pro-fesional.

3. Guru berusaha memperoleh informasi tentang pe-serta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan.

4. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar-mengajar.

(19)

6. Guru secara pribadi dan bersama-sama me-ngembangkan dan meningkatkan mutu dan mar-tabat profesinya.

7. Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial.

8. Guru secara bersama-sama memelihara dan me-ning katkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.

9. Guru melaksanakan segala kebijakan Pemerintah dalam bidang pendidikan.

Uraian di atas, mengisyaratkan bahwa kode etik guru merupakan dasar hukum serta pedoman bagi guru dalam menjalankan tugas, baik sebagai pengajar, pendidik, maupun pembimbing peserta didik. Di samping itu, kode etik juga merupakan pedoman pergaulan bagi guru, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Berkaitan dengan kode etik, perhatikan tema hari guru nasional 2013 dan hari ulang tahun PGRI ke 68 sebagai berikut:

“Wujudkan Guru Kreaktif dan Inspiratif dengan Menegakkan Kode Etik untuk Penguatan Implementasi

Kurikulum 2013”

(20)

guru yang kreatif dan inspiratif yang berpedoman pada kode etik. Dengan demikian, kode etik merupakan pedoman sekaligus alat kontrol bagi guru dalam menjalankan tugas, baik sebagai pengajar, pendidik, maupun pelatih.

3. Standar Kompetensi Guru

Apa itu kompetensi guru ?. Berdasarkan pasal 1 ayat 10 Undang-Undang Guru dan Dosen, yang dimaksud dengan kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan prilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh pendidik dan tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Sedangkan pasal 10 UU Guru dan Dosen jo. Pasal 28 Ayat (3) PP No. 19 tahun 2005 menentukan bahwa kompetensi pendidik sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi:

a. Kompetensi Pedagogis

b. Kompetensi Kepribadian

c. Kompetensi Profesional

d. Kompetensi Sosial

Kompetensi Padagogis merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi:

1. Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan;

(21)

3. Pengembangan kurikulum atau silabus;

4. Perancangan pembelajaran;

5. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dia-logis;

6. Pemanfaatan teknologi pembelajaran;

7. Evaluasi hasil belajar;

8. Pengembangan peserta didik untuk mengaktua-lisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya men-cakup kepribadian yaitu:

1. Beriman dan bertakwa;

2. Berakhlak mulia;

3. Arif dan bijaksana;

4. Demokratis;

5. Berwibawa;

6. Stabil;

7. Dewasa;

8. Jujur;

9. Sportif;

10. Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat;

11. Secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri;

(22)

Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru se-bagai bagian dari masyarakat yang sekurang-kurangnya meliputi:

1. Berkomunikasi lisan, tulis, dan/atau isyarat secara santun;

2. Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional;

3. Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua atau wali peserta didik;

4. Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku;

5. Menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan se-mangat kebersamaan.

Kompetensi profesionalmerupakan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan budaya yang diampunya se-kurang-kurangnya meliputi penguasaan:

1. Materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi, program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampuh;

(23)

pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampuh.

Uraian di atas, dapat dimaknai bahwa guru begitu besar perannya dalam kehidupan bangsa dan negara terutama dalam dunia pendidikan, sehingga dituntut menugusai berbagai kompetensi. Kompetensi tersebut tidaklah mudah bagi guru, karena guru selain sebagai pengajar di kelas juga sebagai panutan terutama bagi peserta didik. Oleh sebab itu, untuk mengaplikasikan kompetensi-kompetensi tersebut dibutuhkan guru yang kreaktif dan inspiratif yang dilandasi kode etik.

4. Guru Profesional

Apa itu guru profesional?Guru profesional, pada dasarnya adalah guru yang telah memiliki atau menguasai empat standar kompetensi, yaitu; kompetensi pedagogis, ke-pribadian, profesional, dan sosial. Sebagai tanda bukti bahwa guru sudah memiliki standar kompetensi terutama

kompetensi profesional, yaitu adanya sertifikat profesi atau sertifikasi guru. Sertifikasi guru saat ini lagi trend, karena

bila telah memiliki sertifikat akan mendapatkan tunjangan

profesi sebesar satu kali gaji pokok, dan bagi guru non PNS diberikan tunjangan sesuai gaji pokok inpassing. Misalnya,

(24)

Sebagai guru profesional dituntut mampu meng-akomodasi dimensi intrisik atau ukuran pribadi guru yang sasarannya adalah mampu menciptakan proses pen-didikan secara universal. Dalam hal ini, guru mengemban misi sejati yaitu memproduksi out put berpengetahuan luas, berkepribadian luhur dan memiliki kemauan untuk maju. Dengan perspektif instrumental atau alat pandang pendidikan, guru menjadi ujung tombak dalam rangka menjadikan pendidikan sebagai instrumen inovasi sosial yang berhasrat maju (progresif) dengan misi utama menciptakan kesinambungan out put dengan kebutuhan dunia kerja. Sehingga keberadaan seorang guru pro-fesional menjadi sangat dibutuhkan dan diidolakan, bila dia berhalangan hadir akan membuat peserta didik dan guru yang lain merasa kehilangan. Guru jenis ini, dalam

aktifitas sehari-harinya memang selalu tersenyum tulus

ketika berjumpah siapa pun, bertutur kata sopan, rama, berpenampilan rapi, bersih, bersahaja, tidak sombong meskipun ilmu dan golongannya lebih tinggi, bertindak independen terhadap atasan dan sesama guru, serta beribadah dengan sangat baik.

(25)

gaul” mungkin bisa ditafsirkan ke arah yang negatif, tetapi sebagai guru profesional harus arif memaknai suatu istilah apalagi berhungan dengan profesi guru.

Seorang pakar pendidikan sekaligus seorang penulis yaitu Arifuddin M. Arif (2013) memiliki kepekaan melihat istilah tersebut sehingga beliau menguraikan secara rinci sebagai berikut: “Guru Gaul” merupakan akronim dari

GAUL yaitu Guru yang Antusias, Unggul, dan Luwes. Sedang kan GALAU merupakan akronim dari Guru yang Apatis, Lebay, Apa adanya, dan Ujub. Jadi guru yang dahsyat adalah guru yang memiliki performance (penampilan yang antusias, unggul, dan luwes. Bukan guru yang suka apatis, lebay, tampil apa adanya, dan suka ujub (banggakan diri) secara berlebihan.

Untuk menambah pemahaman tentang guru profesional dapat dibaca dalam kutipkan sebuah artikel di: http:// jembersantri.blogspot.com/2013/08/10-ciri-ciri-guru-profesional.html. Memberikan 10 ciri-ciri guru profesional. 10 ciri-ciri guru profesional yang dimaksud diuraikan se-bagai berikut:

1. Selalu memiliki energi untuk peserta didiknya

(26)

2. Memiliki tujuan jelas untuk pelajaran.

Setiap pelajaran yang diajarkan haruslah memiliki tujuan dan manfaat tertentu. Seorang guru yang baik seharusnya menetapkan tujuan jelas pada setiap pelajaran yang diajarkan. Selain itu, sang guru harus bekerja guna memenuhi tujuan tertentu yang telah ditetapkan dalam setiap kelas.

3. Menerapkan kedisiplinan;

Sebagai figur yang akan dicontoh peserta didik, guru

harus memiliki kedisiplinan. Kedisiplinan sangat penting dimiliki oleh seorang guru agar mampu menciptakan perubahan perilaku positif baginya dan bagi peserta didik di dalam kelas.

4. Memiliki manajemen kelas yang kaik.

Seorang guru wajib memiliki manajemen atau cara mengatur kelas yang baik. Dalam hal ini, guru dituntut untuk menciptakan suasana kondusif dalam kelas. Guru harus memastikan peserta didiknya memiliki perilaku baik saat belajar maupun berdiskusi dengan kelompok. Guru pun harus menanamkan rasa hormat pada seluruh komponen di dalam kelas.

5. Menjalin komunikasi dengan orang tua

(27)

didik selama di sekolah, termasuk dalam hal perilaku, prestasi, dan kedisiplinan. Guru yang baik harus mampu bekerja sama secara terbuka dengan orang tua demi kebaikan dan kemajuan peserta didik.

6. Menaruh harapan tinggi pada peserta didik.

Seorang guru harus mampu menciptakan harmonisasai dan semangat belajar yang baik guna meningkatkan potensi dan prestasi peserta didik. Guru harus mendukung potensi terbaik setiap peserta didik dan meyakinkan bahwa potensi tersebut mampu mendatangkan manfaat dan keuntungan. Dalam hal ini, guru bertindak sebagai motivator yang baik.

7. Mengetahui kurikulum sekolah

Untuk memberikan pengajaran yang baik dan tepat, seorang guru harus menguasai serta mengetahui kurikulum yang ditetapkan sekolah berikut standar-standar lain secara mendalam. Dengan demikian, guru akan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan pengajaran yang memenuhi standar.

8. Menguasai materi yang diajarkan

(28)

9. Selalu memberikan yang terbaik bagi peserta didik

Seorang guru yang baik pasti memberikan gairah mengajar terbaik yang ia miliki. Guru yang baik akan merasa senang saat berada dalam kelas dan mengajarkan berbagai pengetahuan pada peserta didik. Sang guru pun akan memastikan bahwa pelajaran yang disampaikannya akan berdampak baik bagi perkembangan peserta didik hingga dewasa.

10. Memiliki hubungan berkualitas dengan peserta didik

(29)

TUJUH KIAT BUDAYA

TEACHERPRENEUR

(30)

1. Bolehkah Guru Berbisnis?

Sebagian orang akan menjawab pertanyaan ini bahwa guru tidak boleh berbisnis. Alasannya sederhana, bila guru sudah terlibat dalam dunia bisnis, maka sudah pasti akan mengganggu profesinya sebagai guru. Sebagian orang akan menjawab bahwa guru boleh berbisnis. Alasanya juga sederhana, yaitu untuk meningkatkan kesejahtraan guru atau taraf hidup yang lebih baik.

Sesungguhnya pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan guru, salah satunya adalah

melalui tunjangan profesi (sertifikasi). Dengan melalui

tunjangan profesi ini diharapkan guru lebih konsentrasi pada profesinya yaitu sebagai guru, sehingga terus

meningkatkan kreatifitas dan kemampuannya, namun

kenyataan di lapangan masih ada guru yang berbisnis dengan berbagai alasan.

Mengapa guru masih berbisnis padahal tunjangan profesi sudah cukup memadai ?

(31)

Sekarang muncul polemik baru terhadap guru, yaitu antara profesinya dengan berbisnis (untuk meningkatkan kesejahteraan). Kalau terlarut dalam membahas permasalahan di atas, maka problem tersebut tidak pernah ada titik temunya, karena pihak (yang setuju dan menolak guru berbisnis) tetap bertahan pada alasan masing-masing. Untuk menengahi minimal memberikan pemahaman persoalan di atas maka muncul suatu pertanyaan:

Adakah bisnis bagi guru sehingga meningkatkan profesionalnya?

Coba lihat salah satu bisnis yang sering dilakukan oleh guru di sekolah, yaitu memasarkan atau menjual buku pelajaran atau Lembar Kerja Siswa (LKS). Kalau sudah menjelang penerimaan siswa baru, penjualan buku/ LKS di sekolah mulai diperbincangkan baik masyarakat umum maupun peserta didik. Secara umum bisnis seperti ini bukan suatu persoalan, karena alsannya cukup kuat, yaitu untuk dipakai peserta didik pada saat proses belajar-mengajar. Anehnya, yang terjadi adalah kadang guru belum mempelajari atau membaca buku/LKS yang diperjual-belikan. Kalau ini terjadi, berarti kompetensi tidak tercapai. Padahal, yang diharapkan adalah kompetensi guru dan bisnis yang lakoni dapat berjalan seiring, sehingga keduanya dapat tercapai.

(32)

Bagaimana strategis bisnis yang dapat dilakukan oleh guru ?

Untuk memberikan gambaran strategis bisnis yang dilakukan oleh guru, saya kutipkan pendapat Ambo Tang Tibi (2013), yaitu “berani berkompetensi”. Ia mengatakan bahwa “kompetensi sama dengan nilai jual”. Semakin banyak dan tinggi kompetensi yang dimiliki, akan semakin tinggi nilai jual produk bisnis kita. Pengertian kompetensi di atas, lebih terfokus kepada produk (yang dijual), bukan kepada palaku bisnis (orang). Sebagai contoh yaitu:

1. Produk bisnis berupa barang atau buku, maka buku harus berkualitas tinggi sehingga dapat menarik minat pembaca.

2. Produk bisnis bergerak di bidang jasa, misalnya: Bimbingan belajar (bimbel), maka pelayanan yang prima, terpercaya sangat diperlukan.

Oke ... sekarang Anda tinggal menunggu waktu yang tepat untuk berbisnis sekaligus untuk meningkatkan profesional sebagai

(33)

2. Tujuh Peluang

Usaha Berbasis

TeacherPreneurship

Mengelola dan Mengajar Les

Privat

Sebelum membahas lebih jauh dan mendalam tentang kiat-kiat menjadi guru profesional sekaligus menangkap peluang usaha atau pebisnis yang sukses berbasis pendidikan, maka untuk mengawali pembahasan saya mencoba me-munculkan suatu pertanyaan yang berkaitan langsung antara kiat yang sedang dibahas dengan profesional dan bisnis. Oleh karena akan membahas kiat pertama (mengelola dan mengajar les privat), maka pertanyaan yang muncul adalah:

Apa hubungan antara profesional sebagai guru dengan mengelola dan mengajar les privat?

(34)

Apa hubungan antara mengelola dan mengajar les privat dengan bisnis?

Seseorang yang ingin menjadi pengusaha atau pebisnis pada intinya adalah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik atau untuk memperoleh keuntungan (duit). Jika dilihat kegiatannya, mengelola dan mengajar les privatsudah kelihatan bahwa sasaranya adalah untuk mendapatkan honor atau uang (di dalamnya terdapat bisnis).

Oke... Pertanyaan di atas sudah terjawab.

Belajar di sekolah waktunya sangat terbatas, sehingga sebagian peserta didik atau orang tua merasa belum cukup untuk menggali ilmu pengetahuan atau belajar di sekolah. Oleh sebab itu, peserta didik atau orang tua berusaha untuk menambah waktu belajarnya dengan melalui les tambahan di rumah atau di tempat yang disetujui dengan gurunya. Les tambahan di rumah lebih populer atau dikenal dengan istilah “Les Privat”. Istilah les privat ini pada awalnya hanya

trend oleh peserta didik yang berada di perkotaan atau peserta didik yang berasal dari ekonomi mampu, namun saat ini les privat sudah membudaya hingga ke pedesaan. Hal ini ditengarai oleh beberapa faktor, di antaranya:

1. Orang tua sibuk, sehingga tidak punya waktu untuk membimbing atau mendampingi anaknya belajar di rumah.

(35)

3. Orang tua tidak percaya diri atas prestasi anaknya, jika tidak mengikuti les privat, padahal dia berasal dari ekonomi mampu.

4. Anak-anak cenderung ogah-ogahan, jika orang tuanya yang membimbingnya, sehingga orang tua kewalahan membimbingnya.

Seorang guru dapat memanfaatkan fenomena tersebut, karena merupakan peluang untuk menjadi guru les privat, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus meningkatkan profesionalnya sebagai guru. Dari segi pe-serta didik, les privat di golongkan dua jenis yaitu:

1. Peserta didik melakukan les privat secara sendirian.

Peserta didik melakukan les privat tanpa ditemani oleh peserta didik yang lain, karena beberapa alasan, seperti waktu yang tersedia tidak pas dengan temannya, tidak bisa belajar maksimal kalau ada temannya, orang tuanya tidak mengizinkan belajar bersama temannya atau tidak ada temanya yang sejalan dengan dia. Biasanya peserta didik seperti ini ekonomi orang tuanya cukup memadai.

2. Peserta didik melakukan les privat secara berkelompok.

(36)

mak-simal memberikan bimbingan kepada peserta didik yang lambat pemahamannya.

Dari segi guru les privat, dapat dibedakan pula dua cara yaitu:

1. Dilakukan secara mandiri

Les privat ini biasanya dilakukan oleh guru pemula, karena belum berpengalaman membuat lembaga les privat. Walaupun dilakukan secara mandiri, diharapkan dapat melakukan langkah-langkah berikut:

a. Tetap melakukan kerjasama dengan guru lain. Misalnya Anda guru Kimia boleh kerjasama

dengan guru fisika, biologi, matematika, dan guru

lain. Tujuanya adalah agar saling memasarkan atau mempromosikan, serta dapat kerjasama jika ada kendala yang dihadapi. Misalnya, Anda guru kimia, maka anda bisa mempromosikan

guru fisika untuk mengajar fisika.

b. Memiliki buku-buku yang menjadi pegangan pesertadidik. Tujuannya agar tidak kesulitan menjawab pertanyaan peserta didik atau me-nyelesaikan PR peserta didik.

(37)

d. Disarankan jangan melakukan les privat pada peserta didik yang anda ajar di kelas, karena akan menimbulkan penilaian yang subyektif. Misalnya anda guru kimia mengajar di kelas X, tidak mengajar di kelas XI dan XII, maka anda jangan les privat kelas X tetapi les privat kelas XI dan XII. Lebih baik lagi kalau peserta didik yang diajar berasal dari sekolah yang berbeda–beda, sehingga membuat anda lebih mempersiapkan diri dengan demikian anda semakin profesional.

2. Dilakukan secara lembaga.

Bagi guru yang sudan perpengalaman mengajar sebagai guru les privat secara mandiri, maka bisa membuka les privat secara kelembagaan. Anda adalah pemilik lembaga les privat dan teman-teman anda adalah gurunya. Kendatipun anda sudah punya pengalaman mengajar di les privat, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

(38)

tetapi mengandung makna bahwa kepuasan pelanggan harus diperhatikan dan diutamakan.

b. Berilah nama lembaga anda. Nama suatu lembaga termasuk nama les privat sangat penting, agar mudah diketahui oleh peserta didik atau orang tua yang ingin memasukkan anaknya. Nama lembaga diserahkan kepada anda, tapi usahakan yang berhubungan dengan pendidikan atau lebih mudah diingat. Dalam suatu lembaga biasanya harus punya izin, tetapi tidak usah dulu direpotkan dengan izin. Jalankan saja dulu sambil mengurus izin kalau sudah dianggap perlu.

c. Perhatikan tiga hal, yatiu akademik, pemasar-an, dan administrasi. Akademik misalnya me-nyangkut jumlah guru dan pengembangan kurikulum. Guru yang mengajar jangan terlalu banyak, sesuaikan dengan jumlah peserta didik. Sedangkan kurikulumnya harus mengikuti perkembangan dan perubahan kurikulum dan sesuaikan dengan kebutuhan pasar. Sedangkan pemasaran misalnya melalui promosi separti

pamflet, brosur, spanduk di jalan, dan sarana

(39)

lembaga, kwitansi pembayaran, stempel, absen dan hal-hal lain yang berhubungan. Program pengembangan lembaga harus diperhatikan dengan serius, karena program dapat berubah setiap saat sesuai kebutuhan.

Mengelola Atau Mengajar

Bimbingan Belajar

Apa hubungan antara profesional sebagai guru dengan mengelola atau mengajar bimbingasn belajar? Jawaban pertanyaan di atas tidak jauh berbeda dengan jawaban pertanyaan pada kiat pertama, karena sudah pasti akan meningkatkan profesional seorang guru. Seorang guru se belum mengajar apalagi mengelola bimbingan belajar sudah pasti mempersiapkan segala sesuatunya termasuk belajar atau membaca buku sebagai penunjang, karena guru yang mengajar pada bimbingan belajar dituntut

me-miliki kemampuan lebih dan krekarifitas.

Apa hubungan antara mengelola atau mengajar bim-bingan belajar dengan bisnis? Jika kita lihat kegiatannya, yaitu mengelola atau mengajar bimbingan belajar, sudah kelihatan bahwa sasarannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan atau untuk mendapatkan uang.

(40)

dan tidak memiliki buku panduan, karena diajar sesuai kebutuhan peserta didik. Guru yang mengajar di bimbingan belajar disebut “Mentor”. Untuk menjadi mentor di sebuah bimbingan belajar tidaklah mudah, karena seleksinya cukup ketat. Seleksinya seperti tes tertulis, micro teaching, magang, dan mengajar langsung di kelas. Akan tetapi guru yang sukses mengajar di sekolah peluangnya sangat tinggi untuk diterima sebagai guru dibimbingan belajar. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk mengikuti seleksi untuk menjadi guru bimbingan belajar, terlebih dahulu memperbaiki cara mengajar dan penguasan materi pelajaran di sekolah tempat mengajar, sehingga lebih memudahkan untuk menjadi guru bimbingan belajar.

Kalau sudah matang mengajar di les privat atau sudah berpengalaman mengajar di bimbingan belajar, maka saatnya Anda mendirikan lembaga bimbingan belajar. Tinggal sedikit lagi menjadi pengusaha sukses yang dapat meningkatkan kesejahteran sekaligus meningkatkan pro-fe sional sebagai guru, namun harus diingat mendirikan bimbingan belajar tidak semudah membalikan tangan, karena modalnya cukup besar maka resikonya juga besar. Banyak bimbingan-bimbingan belajar yang bermunculan, tetapi tidak eksis lagi.

(41)

1. Pikirkan nama bimbingan belajar anda.

Karena ini merupakan suatu lembaga, maka nama adalah sesuatu yang wajib. Di samping sebagai penunjuk suatu lembaga, nama juga dapat memotifasi peserta didik dan para orang tua.

2. Carilah lokasi atau tempat yang strategis.

Lokosi tempat bimbingan belajar diusahakan mudah dijangkau, mudah dilihat, transportasi tidak sulit, dan diyakini tempat tersebut aman dan kondusif.

3. Cari tim yang satu visi dengan Anda.

Anda tidak mungkin mengelola sendiri, harus membutuhkan orang lain dalam bentuk tim. Tim yang bekerja cukup tiga orang dan diusahakan yang sejalan dengan visi anda, agar tidak terjadi perbedaan atau banyak kepentingan.

4. Siapkan sarana dan agenda pemasaran.

Sarana pemasaran yang harus disiapkan yaitu: Brosur progran, brosur penjualan, spanduk program, dan papan nama. Untuk pemasaran tinggal melihat kondisi misalnya:

a. Try out UN, SPBM, atau pada saat semester.

b. Seminar kiat khusus menghadapi UN dan SPBM

(42)

5. Siapkan panduan belajar.

Untuk menyusun panduan suatu bimbingan belajar, tidaklah mudah, oleh karena itu disarankan sebagai langka awal konsentrasi lebih dahulu di salah satu jenjang, dan melihat panduan bimbingan belajar yang lain sebagai rujukan.

6. Rekrut dan pelatihan mentor

Mentor dapat diseleksi dari mahasiswa tingkat akhir atau dari guru yang berminat mengajar di bimbingan belajar. Seleksinya bisa tes tertulis, micro teaching, magang, dan mengajar langsung di kelas.

7. Siapkan administrasi

Semua alat dan bahan yang berkaitan dengan administrasi harus disiapkan, seperti buku administrasi pembayaran peserta didik, daftar hadir pengajar, kom-puter dan lain-lain.

Menulis Buku

Ingin menjadi orang luar biasa? Jika jawabannya ya, maka salah satu caranya adalah menjadi penulis. Seorang penulis menjadi hebat dan luar biasa minial ada empat alasan yaitu:

(43)

2. Beliau pernah bercerita bahwa pada mulanya beliau adalah orang biasa, tidak terkenal, dan keadaam eko-nominya yang begitu sulit. Tetapi siapakah yang tidak mengenal Ustad Yusuf Mansur saat ini? Beliau terkenal melalui tulisan alias buku diantaranya “Keajaiban Sedekah”. Hampir semua lapisan masyarakat Indonesia bahkan dunia mengenal Ustad Yusuf Mansur apalagi beliau saat ini tergolong orang sukses di Indonesia. Penulis bukan hanya dikenal oleh masyarakat luas, tetapi akan dikenang sampai kapan pun terutama anak cucu, karena Ia meninggalkan pusaka yang berharga yang dapat dibaca kapan pun dan oleh siapa pun.

3. Penghasilan bertambah dan sejahtera. Apabila sudah berhasil menulis buku, maka sudah pasti buku akan dipasarkan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Artinya, bisa menjual sendiri atau melalui penerbit, tinggal menerima royalti. Jika penghasilan sudah bertambah, maka perjalanan menuju yang namanya sejahtera akan lebih mudah.

4. Memiliki wawasan dan pandangan yang luas. Seorang penulis, memiliki wawasan yang luas dan memiliki misi atau pandangan ke depan yang telah direncanakan dengan jelas. Tentu hal ini bukan terjadi begitu saja, tetapi melalui analisis dan kajian yang mendalam yang didasari pengetahuan dan pengalaman.

(44)

terjadi tentu dengan berbagai alasan, salah satunya adalah karena penulis dianggap banyak mengetahui berbagai hal dan memiliki pengetahuan yang luas yang tidak dapat dimiliki oleh semua orang, sehingga mengagumi karya-karyanya (buku).

Apa hubungan antara profesional sebagai guru dengan menulis buku? Guru yang melakukan kegiatan menulis buku, sudah pasti telah membaca buku atau referensi sebagai penunjang. Seorang guru yang ingin menulis buku dibutuhkan kemauan dan motivasi yang tinggi, karena menulis buku dibutuhkan ketrampilan terutama menyusun ide-ide yang muncul yang selanjutnya menjadi tulisan. Jika ini sudah dilakukan oleh seorang guru, maka dengan sendirinya kompetensinya sebagai guru semakin meningkat.

Apa hubungan antara menulis buku dengan bisnis?

Seseorang yang telah menulis buku, tentu ingin dicetak dan diperbanyak selanjutnya untuk dijual kepasaran. Kalau kita sudah bicara jual-beli, maka yang ada dipikiran adalah keuntungan atau penghasilan (duit). Jadi jelas bahwa hubungan antara menulis buku dan bisnis sangat erat.

(45)

maka royalti atau bonus mengalir terus selama buku laku di pasaran. Inilah yang dimaksud passive income, sekali kerja untuk mendapatkan royalti tidak terbatas. Akan te-tapi guru-guru masih banyak yang enggan menulis buku, mereka cenderung menjual buku yang dipasarkan oleh penerbit. Memang tidak ada salahnya, tetapi yang didapatkan hanyalah duitnya tetapi kompotensi guru tidak tercapai. Padahal, yang kita harapkan guru dapat berbisnis atau menjadi pengusaha dengan karyanya sendiri, karena di samping mendapatkan duit juga dapat meningkatkan kompetensinya sebagai guru. Buku yang dapat ditulis oleh guru boleh yang berhubungan dengan profesinya, berupa buku pelajaran (misalnya buku Kimia), buku motivasi (seperti buku saya ini), LKS, novel, cerpen dan lain-lain. Menurut pengamatan penulis, guru-guru masih banyak kesulitan menulis buku dengan berbagai alasan. Alasan-alasan tersebut diantaranya:

1. Tidak berbakat menulis buku.

2. Menulis membutuhkan waktu lama.

3. Tidak memiliki ilmu yang cukup.

4. Kalau sudah ada tulisan diterbitkan dimana?

(46)

muncul pertanyaan “Mengapa berani menguraikan ten­ tang menulis buku padahal masih penulis pemula?”.

Jika pertanyaan tersebut ada dibenak hati para guru, saya tidak akan menjawabnya, namun saya hanya sekedar memberikan motivasi dan berbagi pengalaman, karena me nurut saya menyampaikan kebenaran tidak terbatas dari siapa saja, dari mana saja, dan kapan saja.

Saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang penulis buku. Saya hanya berpikir bagaimana bekerja dengan baik untuk menghasilkan duit lebih banyak. Ternyata tidak dapat mencapai mimpi saya, terutama mendapatkan duit lebih banyak. Memang diakui bahwa saat ini persoalan duit bagi sebagian besar guru bukan lagi masalah yang berarti, karena dengan adanya tunjangan profesi. Tetapi, ternyata menulis merupakan kepuasan batin yang tidak ternilai harganya bagi penulisnya. Saya termotivasi menulis setelah mengikuti training kepenulisan “Dahsyat Writing: 7 Jurus Menulis Dengan Otak Kanan” yang diselenggarakan Education Development Center (EnDeCe) Provinsi Sulawesi Tengah bekerjasama dengan Rumah Cerdas Entrepreneur Indonesia (RCEI) tanggal 5 Nopember 2013 di Auditorium IAIN Palu. Sebagai nara sumber adalah Abdul Hakim El Hamidy. Ia sebagai Penulis dan Motivator kepenulisan yang luar biasa.

(47)

1. Mimpi tidak dibayar alias gratis, tetapi mengapa kita tidak pernah bermimpi, termasuk mimpi menulis buku?

2. Menulislah sebelum namamu ditulis di batu nisan.

3. Gerakkanlah jari-jari tanganmu untuk menulis, se-belum tanganmu dihentikan oleh Allah SWT.

Selanjutnya beliau memberikan motivasi pada semua peserta dimana disuruh membacakan Proklamasi menulis yaitu:

P R O K L A M A S I

Kami penulis pemula dengan ini menyatakan kemerdekaan berpikir dan bertindak untuk menulis buku. Hal-hal yang mengenai ketidak

percayaan diri, ketidaktahuan, dan kemiskinan ide akan dihilangkan secara saksama dan dalam tempo yang

sesingkat-singkatnya.

Palu, 5 Nopember 2013 Atas Nama Diri Sendiri

(48)

SWT. untuk berpikir (bermimpi) dan pikiran itu disalurkan melalui jari-jari tangan dalam bentuk tulisan. Subhanallah

mudahan-mudahan pemahaman saya ini bukan sesuatu yang berlebihan. Tetapi kuat dugaan saya bahwa konsep di atas adalah hidayah dari Allah SWT. melalui hambanya yang taat kepada-Nya seorang Ustad yang sederhana, gaul, dan luar biasa, sang Motivator kepenulisan Abdul Hakim El Hamidy.

Oke, mari kita kembali membahas tentang alasan sehingga tidak menulis.

Tidak Berbakat Menulis

(49)

“Saya hanya seorang guru dengan tugas tambahan sebagai Kepala SMA Swasta. Dunia menulis merupakan tempat “angker”. Saya juga tergolong malas membaca buku apalagi menulis. Yang pernah saya baca hanya tentang menulis skripsi dan menulis PTK. Sedangkan menulis buku tidak pernah bermimpi untuk melakukannya. Saya belum pernah melatih diri untuk menulis. Saya menganggap diri saya tidak berbakat menulis.

Tanggal 24 Oktober 2013, saya bergabung dengan Rumah Cerdas Entrepreneur Indonesia (RCEI). Bertemu dengan Presiden Komisarisnya Arifuddin M. Arif, M.Pd.I. Beliau menantang saya agar menulis buku dan Lauching bulan Januari 2014, sebagai kado ulang tahun saya yang ke 44 tepat tanggal 01 Januari 2014. Dengan nada tanya bisakah saya menulis?. Sementara saya masih awam dengan dunia menulis. Beliau menjawab “Tidak ada yang tidak bisa kalau ada kemauan”

(50)

Dari cerita pengalaman di atas, saya ingin mempertegas bahwa menulis bukanlah bakat seseorang tetapi kemauan untuk menulis dan berubah. “Tidak ada yang tidak bisa kalau ada kemauan”. Sebenarnya dunia menulis bagi guru bukanlah sesuatu yang baru. Setiap hari guru menulis dengan berbagai hal. Misalnya catatan kejadian peserta didik, persiapan mengajar, dan catatan pribadi. Seandainya tulisan itu dikumpul mungkin sudah 100 lebih halaman. Jika tulisan itu dijadikan buku, bukankah anda sudah membuat buku?

Mengapa anda tidak bermimpi menjadi seorang pe-nulis? Padahal mimpi itu gratis alias tidak di bayar. Ubah

mindset atau pola pikir , agar di kenang melalui tulisan sendiri. Tanamkan dalam hati “tidak ada yang tidak bisa kalau ada kemauan”. Saya sebagai penulis pemula, tidak mungkin tidak ada hambatan, tetapi hambatan itu menjadi motivasi untuk berubah. Saran saya sebelum anda menulis lakukanlah hal-hal di bawah ini untuk mendapatkan inspirasi. Inilah yang saya lakukan sebelum menulis :

1. Bermimpilah menulis buku. Mimpi yang dimaksud di sini adalah munculkan cita-cita menjadi se-orang penulis yang hebat, sebagai wadah untuk menuangkan semua ide-ide cermerlang yang ter-pendam selama ini.

(51)

dikuasai atau disukai, sehingga anda lebih enjoy dan serius dalam menulis naskah.

3. Buatlah kerangka atau outline. Kerangka akan me-mudahkan alur pikiran penulis, sehingga dapat ter-susun rapi dan konsisten.

4. Perbanyaklah membaca buku terutama yang ber-hubungan dengan topik. Buku-buku penunjang yang relevan dengan topik perlu dibaca untuk me-nambah wawasan, melengkapi data, dan tidak kala pentinganya agar penulis tidak kehabisan bahasa atau istilah. Ikutilah prinsip dalam dunia

tulis menulis yaitu “filsafat kencing”. Jika anda tidak

pernah minum air, maka kencing yang keluar pasti sedikit. Air yang keluar hanya berasal dari makanan yang anda makan. Semakin sering anda minum, maka semakin sering anda kencing atau keinginan untuk kencing. Minum air diibaratkan membaca, artinya semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak sesuatu atau ide dikeluarkan yang bisa anda tulis.

(52)

6. Mulailah menulis dengan otak kanan. Istilah otak kanan dan otak kiri sebelumnya saya juga bingung, karena saya tidak mampu membedakan mana kalimat yang dihasikan otak kanan, mana kalimat yang dihasilkan otak kiri. Tetapi semuanya terjawab setelah saya mengikuti training kepenulisan dan membaca buku “Dahsyat Writing 7 Jurus Menulis Dahsyat Ala Otak Kanan“ karya Abdul Hakim EL Hamidy (2011) seorang Spritual Motivator dan Trainer Dahsyat Writing. Untuk membedakan otak kanan dan otak kiri saya kutipkan dari buku tersebut, dan beliau juga mengutip dari buku “Marketing Is Bullshit” kayia Ippho Santosa.

OTAK KIRI OTAK KANAN

Terkait IQ Terkait EQ

Intrapersonal, self-centric Intrapersonal, other-centric

Kongnitif, logis Afektif, intuitif

Analistik Aristrik

Kuantitatif Kualitatif

Realistis Imajinatif

Verbal, tertera Visual, tergambar

Eksplisit Implisit

(53)

Serial, linier Paralel, lateral

Terencana, cautious Tak terencana, impulsive

Mencari perbedaan Mencari persamaan

Bergantung waktu Tak tergantung waktu.

Masih kutipan yang sama, silakan anda memilih salah satu (silang a atau b) dari 10 pertanyaan ini mana yang mencerminkan kepribadian anda.

1. Meja kerja saya cenderung ...

a. Rapi

b. Berantakan

2. Saya lebih suka menuntaskan pekerjaan ...

a. Sekaligus

b. Satu persatu

3. Ketika mengingat teman-teman sekolah, saya familiar dengan ...

a. Nama

b. Wajah

4. Gagasan terbaik saya sering muncul saat saya ...

a. Bersantai-santai

(54)

5. Saat berbicara, tangan saya...

a. Jangan bergerak-gerak

b. Sering bergerak-gerak

6. Saya ... bergurai

a. Selalu

b. Jarang

7. Terhadap sesuatu saya cenderung ...

a. Betah

b. Cepat bosan

8. Ketika berbicara, saya ...

a. Berbasa-basi dahulu

b. Langsung kepokok permasalahan

9. Terhadap risiko, saya cenderung ...

a. Menghindarinya

b. Mengambilnya

10. Pada waktu senggang, saya lebih suka ...

a. Bertemu teman

(55)

Jawaban:

# Jika jawaban “kanan” lebih banyak, maka anda cen-derung Otak Kanan.

# Jika jawaban “kiri” lebih banyak, maka anda cen-derung Otak Kiri

(56)

Dari kutipan di atas dapat mengambil gambaran bahwa otak kanan biasanya imajinatif, impulsif, dan kreaktif.

Menulis Membutuhkan Waktu Yang Lama

Ada bebrapa guru yang saya tanya mengapa tidak menulis buku. Ada yang menjawab tidak ada waktu untuk menulis. Dia mengajar 24 jam dalam seminggu, karena

sudah menjadi kewajiban guru yang sudah tersertifikasi.

(57)

Penjelasan waktu di atas hanyalah untuk menepis anggapan bahwa menulis memerlukan waktu yang lama. Ada beberapa penulis yang menyelesaikan bukunya sekitar 30 hari. Sebagai bukti diantaranya: Abdul Hakim El Hamidy menulis buku Getaran Muhasabah, Cinta Untuk Ar­Rahman, Biarkan Cinta Menepis Siksa, dan Kun Sa’idan, hanya 10 hari saja. Sajidin El Qharidja menulis buku 9 ayat Penulis Best Seller hanya 27 hari, dan saya sendiri Jamaludin menulis buku Teacherpreneur diselesaikan hanya 30 hari. Kalau Abdul Hakim El Hamidy, Sajidin El Qharidja, dan Jamaludin bisa menuli , anda juga pasti bisa.

Cobalah ...!!!

Tidak Memiliki Ilmu Yang Cukup

(58)

• Iman Al-Ghazali yang terkenal dengan kitab fenomenalnya, Ihya Ulumuddin, adalah seorang yang tidak memiliki gelar.

• KH. Aceng Zakaria, seorang ulama telah

menghasilkan Al-Hadayah fi Masaila Fiqhiyah

Muta’aridhah dan puluhan buku lainnya, padahal ia hanya tamat Muallimin (setingkat SMA).

• Andrie Wongso, Motivator No. 1 Indonesia, telah menulis beberapa buku, padahal dia tidak tamat SD. Sehingga dia dikenal dengan gelar SDTT TBS (Sekolah Dasar Tidak Tamat Tapi Bisa Sukses).

Dari uraian dan bukti-bukti di atas masih bertahan

dengan alasan Anda?

(59)

Kalau Sudah Ada Tulisan Diterbitkan Dimana?

Masalah ini sesungguhnya bukan lagi masalah berat, karena banyak alternatif untuk mengatasinya. Di sinilah sesungguhnya yang saya maksudkan “Guru Profesional Menjadi Pengusaha”. Terus di mana peluang bisnis yang dapat mengumpulkan duit sebanyak mungkin? Anda sebagai penulis. jika tulisan Anda sudah dianggap rampung, maka yang anda lakukan selanjutnya adalah:

Menawarkan kepada penerbit konvensional (mayor).

Menawarkan kepada penerbit ibaratnya kita melamar pekerjaan. Artinya, tulisan kita bisa diterima atau ditolak. Biasanya naskah yang dikirim ke benerbit dijawab selama dua hingga empat bulan untuk memastikan tulisan layak diterbitkan atau tidak. Jika tulisan diterima oleh pihak penerbit, maka pihak penerbit akan menawarkan kerjasama. Penerbit konvensional memang sangat sederhana dan memudahkan, karena semua pekerjaan dan biaya dilakukan oleh pihak penerbit. Misalnya percetakan, desain, editing, pendistribusian, dan biaya penerbitan ditanggulangi oleh pihak penerbit. Penulis hanya membantu dalam mempromosikan dan menerima royalti dari penerbit

(60)

1. Royalti dengan sistem putus, yaitu penulis menjual naskahnya ke penerbit dan penulis menerima royalti sekali saja, ketika buku selesai dicetak dan siap pasarkan.

2. Royalti dari penjualan buku, yaitu royalti yang di-berikan kepada penulis yang diperoleh dari pen-jualan buku. Besarnya royalti biasanya berkisar 8 hingga 10 persen tergantung dari kebijakan penerbit.

Jika tulisan anda ditolak, maka anda tidak boleh putus asah, tetapi perbaiki kembali tulisan anda kemudian kirimkan kepada penerbit yang lain. Yakinlah bahwa tulisan anda ditolak bukan berarti kualitasnya buruk. Lakukan hal ini sampai anda sukses. Sebagai contoh, JK. Rowling pernah ditolak 12 penerbit dengan naskah Harry Potter dan Batu Bertuah. Tetapi begitu sabarnya seorang wanita JK. Rowling sehingga saat ini menikmati hasilnya. Memang keberhasilan tersebut bukanlah sesuatu yang mudah seperti yang diungkapkan JK. Rowling bahwa keberhasilan adalah kegagalan yang diakumulasikan. Begitu ribetnya penerbit konfesional, maka sebelum anda memutuskan ke salah satu penerbit sebaiknya anda memperhatikan beberapa tips berikut ini:

(61)

2. Ketehui visi dan misi penerbit serta jenis buku yang biasa diterbitkan. Misalnya buku Anda bergenre pendidikan, maka Anda harus mengirim ke penerbit yang biasa menerbitkan buku-buku pendidikan.

3. Buatlah tulisan Anda dengan menarik dan jumlah konsumen lebih besar, karena biasanya editor mempertimbangkan dua hal tersebut.

4. Ikuti semua tata tertib yang dikeluarkan oleh pe-nerbit.

Menerbitkan buku secara Indie/Self Publishing/

Minor.

Menerbitkan buku dengan cara minor pada umumnya dilakukan oleh penulis yang memiliki modal besar, karena harus membiayai semua biaya yang dibutuhkan. Dilihat dari segi keuntungan, cara ini sangat menguntungkan, tetapi harus orang yang berjiwa menjual atau bisa memasarkan buku dengan baik, karena harus memasarkan sendiri bukunya. Jika Anda memilih penerbitan buku secara minor, maka yang perlu diperhatikan adalah:

1. Memilki modal yang cukup.

2. Meyakini bahwa buku yang diterbitkan bisa dipasarkan.

(62)

4. Buku yang diterbitkan memilki konsumen yang luas.

Melalui Print on Demand (PoD).

Print on Demand (PoD), yaitu proses percetakan yang menggunakan teknologi digital atau cetak tanpa plat.

Data dari file komputer langsung dicetak seperti cetak

komputer biasa. Munculnya percetakan jenis ini adalah merupakan salah satu untuk menyahuti perkembangan di dunia penulisan, sekaligus mempermudah penulis untuk mencetak bukunya. Beberapa kelebihan menggunakan

Print on Demand (PoD) adalah:

1. Dapat mencetak buku dalam jumlah sedikit, sekalipun hanya satu buku.

2. Waktu yang digunakan relatif singkat.

3. Dapat melakukan cetak jarak jauh.

4. Mengurangi resiko kerugian atas hasil cetakan.

5. Tidak memerlukan ruangan yang besar.

6. Tenaga kerja yang digunakan dalam jumlah sedikit.

Di samping kelebihan tersebut di atas Print on Demand (PoD) terdapat kekurangan. Kekurangan tersebut diantaranya:

(63)

bahasa Indonesia, tetapi memerlukan pengetahuan khusus dan pengalaman.

2. Wilayah pemasaran terbatas. Buku tidak dapat didistribusikan sebelum ada pemesanan.

3. Harga buku terlampau mahal. Ini disebabkan di samping biayah cetak yang mahal, biayah pengiriman juga mahal.

Melalui Penerbitan Kolaborasi.

Jika anda mengalami kesulitan pada penerbit secara konfensional, secara Indie/Self Publishing/Minor, atau melaui Print on Demand (PoD), masih ada jalan yang ditawarkan melalui penerbitan kolaborasi. Penerbitan kolaborasi ini merupakan konsep baru yang ditawarkan kepada penulis. Tentunya konsep ini bukanlah serta merta, tetapi sudah melalui kajian yang mendalam oleh pemikir-pemikir yang profesional di bidangnya.

Istila kolaborasi bukanlah istilah yang begitu asing, terutama bagi penulis yang sudah melalang buana dalam dunia tulisan. Kolaborasi artinya kerjasama, jadi penerbitan kolaborasi berarti kerjasama dalam penerbitan buku. Anda pasti bingung bagaimana caranya kerjasama dengan penerbit. Untuk lebih jelasnya saya perkenalkan dengan salah satu lembaga yang bergerak bidang pendidikan dan pelatihan yang berkonsetrasi dalam kepenulisan.

(64)

“Men-cerdaskan, Menyehatkan, dan Menyejahtrakan” Lem baga ini telah melahirkan penulis-penulis baru, dengan memberikan layanan penerbitan dikenal dengan Mix Publishing.

Mengapa lembaga ini saya contohkan?

Karena lembaga inilah yang melahirkan saya sebagai penulis. Penerbitan melalui lembaga ini banyak kemudahan, misalnya tulisan kita tidak diseleksi seketat penerbitan konvensional (mayor), dan juga menyiapkan editor. Di samping itu lembaga RCEI juga menawarkan beberapa progran diantaranya yaitu:

1. Royalti penulis berkesinambungan.

2. Penulis memperoleh konsultasi gratis.

3. Jaminan pendistribusian buku.

4. Memperoleh hak usaha.

Royalti yang berkesinambungan

(65)

satu bulan terdapat 1.000 mitra dan sampai bulan tersebut terdapat 10 kontributor e­book, maka 1.000 mitra x Rp. 5.000 : 10 kont. E-book = Rp. 5.000.000 : 10 = Rp. 500.000. Jadi, di bulan tersebut penulis memperoleh royalti sebesar Rp. 500.000.

Penulis memperoleh konsultasi gratis

Salah satu program yang ditawarkan oleh pihak RCEI kepada penulis atau calon penulis adalah konsultasi gratis tanpa batasan waktu. Program ini sangat menguntungan kepada penulis, tidak dapat dipungkiri bahwa penulis atau calon penulis pasti membutuhkan yang namanya konsultasi. Konsultasi tidak terbatas, misalnya konsultasi pemilihan tema, pemilihan judul, untuk medapatkan ide dan lain-lain dengan biayah murah.

Jaminan pendistribusian buku

(66)

1 bln x 10 daerah x 400 org = 4.000 eksemplar. Jika penulis yang bermitra 10 orang, maka buku anda terjual 400 eksemplar. Jadi, penulis jangan khawatir bahwa buku Anda tidak laku, yang penting perbaiki terus kualitas bukunya.

Memperoleh hak usaha

Setiap perusahaan terutama yang bergerak di bidang usaha network, termasuk Rumah Cerdas Entrepreneur Indonesia (RCEI) selalu memperhatikan mitra-mitranya. Diakui bahwa RCEI merupakan perusahan baru, tetapi RCEI telah menunjukan kemampuannya. Keberhasilan tersebut tidak berlebihan dikatakan karena kehebatan orang-orang yang duduk dalam manajemennya, terutama Presiden Komisarisnya, yaitu Arifuddin M. Arif, M.Pd.I bersama Presiden Direkturnya, yaitu Ambo Tang Tibi, M. Pd.I. Keduanya adalah sosok generasi muda bangsa yang visioner dan peduli terhadap kemajuan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.

(67)

yang anda perkenalkan untuk menjadi peserta dalam setiap

event, seperti: Training spirit of learning, Training spirit of life, Training kepenulisan, Training the magic of teaching, Training motivasi bisnis.

Menulis di Media Masa

Apa hubungan antara profesional sebagai guru dengan menulis di media masa? Setiap kegiatan guru yang berhubungan dengan menulis termasuk menulis di media masa, sudah pasti akan meningkatkan kompetensi guru. Hal ini terjadi secara alami, artinya profesional guru

ber-kembang seiring dengan aktifitasnya yang berkaitan

de-ngan profesinya. Semakin banyak atau semakin sering me nulis, maka wawasan guru semakin hebat atau semakin berkembang.

Apa hubungan antara menulis di media masa dengan

bisnis?

(68)

Sejak era reformasi media masa mulai dibuka krannya, sehingga banyak bermunculan seperti; majalah, koran, tabloit, televisi, radio. Fenomena ini tentu memberikan peluang kepada majalah, koran, tabloi, televisi, dan radio untuk memberikan kontribusinya kepada masyarakat peng-gemarnya. Dengan berkembangnya media masa, maka persaingan sulit dihindari. Untuk memenangkan persaingan minimal dapat berkembang dengan baik, maka media masa terus berkreasi untuk menarik minat penggemarnya dengan berbagai program. Salah satu programnya adalah mengundang penulis untuk menuangkan pikiran dan karyanya melalui tulisan berupa:

1. Artikel 2. Cerpen 3. Resensi 4. Puisi 5. Feature

(69)

guru berbisnis tetapi sekaligus dapat meningkatkan pro-fesionalnya sebagai guru.

Yang ingin saya uraikan dalam tulisan ini adalah artikel dan cerpen, karena dua tulisan ini sering dimuat di media masa baik media masa lokal maupun media masa nasional.

A r t i k e l

(70)

Contoh Pengumuman di Radar Sulteng :

Mengundang Penulis

Redaksi menerima artikel dari akademisi, praktisi, profesional, pengamat, dan mahasiswa. Artikel berupa analis persoalan aktual, maksimal 1.200 kata. Jangan lupa sertakan foto copy identitas diri. Redaksi berhak menyeleksi dan melakukan editing dengan tidak mengubah makna tulisan. Bagi yang mengirim surat pembaca, mohon disertai fotocopy identitas. Artikel bisa dikirim melalui email [email protected].

Contoh Judul Artikel :

No. Judul Artikel Hari / Tanggal Terbit

1. Wilfrida, Prabowo, dan Kita

Oleh: Ahmad Sahidah (Dosen Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia)

Radar Sulteng

Kamis,

3 Oktober 2013

2. Menyapu Korupsi di Parlemen Absolut

Oleh: Emerson Yuntho (Anggota Badan Pekerja Indonesia Corruption Wactch).

Radar Sulteng

Kamis,

(71)

3. Pahlawan pada Beku Monumen

Oleh: Bandung Mawardy ( Pengelola Abjad Solo)

Radar Sulteng

Senin, 11 Nopember 2013

C e r p e n

Menulis cerpen tidak jauh beda dengan cara menulis buku atau menulis artikel, karena pada prinsipnya adalah kemaun untuk menulis. Kita akui bahwa tidak semua guru suka menulis cerpen, karena dianggap hanya bercerita doang. Tetapi bagi guru yang suka berkhayal dan menulis buku harian, menulis cerpen salah satu pilihan untuk menuangkan pikirannya melalui tulisan. Kalau potensi ini dikomersilkan di media masa, maka sudah pasti akan meningkatkan kesejahteraan.

Bagaimana cerpen yang bagus?

Cerpen agar berhasil menembus redaksi majalah atau koran , maka kita perhatikan beberapa tips berikut ini:

1. Gaya bahasa yang digunakan bagus.

2. Tema dan idenya menarik.

(72)

Kesimpulannya cerpen yang bagus adalah membuat pembaca tidak berhenti sampai akhir, kaya bahasa yang digunakan dapat difahami, tema dan idenya lagi menarik serta alur ceritanya membuat penasaran.

Bagaimana langkah-langkah menulis cerpen ?

Langkah-langkan menulis cerpen secara umum:

1. Mendapatkan Ide. Ide cerita dapat diperoleh dari pengalaman pribadi, pengalaman teman, curhat teman atau peserta didik. Catat dan kumpulkan pengalaman tersebut, sehingga menghasilkan tulis-an ytulis-ang stulis-angat bermtulis-anfaat.

2. Tentukan tema. Agar terarah dan tersusun baik dalam tulisan, maka tentukan tema yang akan ditulis. Untuk remaja, biasanya yang bertema romantis, tetapi biasanya juga misteri, detektif, dan komedi.

3. Membangun kerangka cerita. Kerangka cerita hanya merupakan rambu-rambu dalam menulis, agar alur cerita dapat terarah. Akan tetapi, bukan berarti ide-ide yang muncul harus dibatasi.

(73)

5. Menentukan judul. Suatu tulisan apakah buku atau cerpen, harus memiliki judul. Isi tulisan kadang-kadang tergambar dari judul. Tetapi tidak semua judul menggambarkan isi tulisan. Mudahkan? ting-gal anda memulai.

Menyusun LKS dan Bank Soal

Apa hubungan antara profesional sebagai guru dengan menyusun LKS dan bank soal? Kata profesional seperti yang telah dibahas sebelumnya hubungannya dengan me nyusun LKS dan bank soal tidak perlu dibahas secara mendalam, karena setiap guru pasti yakin bahwa menyusun LKS dan bank soal akan meningkatkan profesionalnya sebagai guru. Hal ini dimungkinkan karena guru sebelum menyusun LKS atau bank soal memerlukan penguasaan materi sesuai bidangnya.

Apa hubungan menyusun LKS dan bank soal dengan bisnis ?

(74)

soal yang berhasil disusun (berkualitas) dapat digunakan dalam lingkup Kabupaten/Kota atau lingkup Provinsi.

Lembar kerja siswa (LKS) sebenarnya merupakan buku kecil atau buku saku yang mudah di bawah ke mana-mana baik guru maupun peserta didik. LKS merupakan kumpulan soal-soal yang disertai dengan penjelasan singkat dan biasanya disusun untuk satu semester atau satu tahun pelajaran, tergantung keinginan penyusun dan kebutuhan pasar. LKS sesungguhnya sangat mudah disusun oleh guru, karena guru sudah memiliki kumpulan soa-soal seperti: Soal post tes, pra test, ulangan harian, ulangan semester, dan soal-soal lainnya yang dianggap memenuhi syarat dan standar kurikulum.

Pertanyaanya adalah apakah guru sudah menyusun LKS?. Kenyataan di lapangan masih banyak guru belum menggunakan LKS karyanya sendiri, tetapi lebih cenderung menggunakan LKS yang diperjual belikan oleh penerbit. Jika hal ini terjadi terus-menerus alias kita tidak merubah

(75)

saya agar dapat dikenang oleh anak cucuk , tinggalkanlah tulisan minimal sebuah buku.

Bank soal adalah kumpulan soal-soal yang diambil dari soal-soal LKS, soal ulangan harian, ujian semester, ujian kenaikan kelas, ujian nasional, ujian masuk PTN (untuk SMA), olimpiade, ujian masuk PNS, dan sumber lain yang dapat dipertanggung jawabkan. Pada umumnya, memasuki semester genap atau semester penentuan kelulusan bagi kelas ujian baik tingkat SD/sederajat, SMP/sederajat, maupun SMA/sederajat, Bank Soal merupakan hal yang sudah biasa. Paru guru yang mengajar di kelas ujian disibukkan dengan mencari Bank Soal, sebagai bahan untuk melatih peserta didiknya dalam menyelesaikan soal-soal. Asumsinya adalah soal yang ada di bank soal mendekati soal-soal ujian nasional, di lain sisi pada Bank Soal sebagian sudah ada kunci jawaban dan cara menyelesaikan soal-soalnya. Sangat memudahkan bagi guru tinggal mengajar.

(76)

1. Kumpulkan soal-soal ulangan harian tiga hingga lima tahun terakhir.

2. Kumpulkan soal-soal ujian semester tiga hingga lima tahun terakhir

3. Kumpulkan soal-soal ujian kenaikan kelas tiga hingga lima tahun terakhir

4. Kumpulkan soal-soal ujian nasional tiga hingga lima tahun terakhir

5. Kumpulkan soal-soal ujian masuk PTN (untuk SMA/ sederajat) tiga hingga lima tahun terakhir.

6. Kumpulkan soal-soal Olimpiade tiga hingga lima tahun terakhir, baik tingkat Kabupaten/Kota, Propinsi, Nasional, maupun tinggkat Internasional

7. Kumpulkan soal-soal ujian masuk PNS tiga hingga lima tahun terakhir.

8. Kunpulkan soal-soal yang sumbernya dapat dipertanggungjawabkan.

(77)

bahasan atau sub pokok bahasan setiap guru. Kalau ini dapat dilakukan maka sekolah anda sudah memiliki bank soal, dan dapat dijual kepada peserta didik melalui koperasi sekolah atau wadah lain yang legal. Jika guru sudah melakukan, maka guru semakin kreatif dan profesional sekaligus dapat meningkatkan kesejahtraan. Agar bank soal yang anda susun dapat dipakai oleh sekolah lain, anda dapat dipromosikan melalui wadah MGMP, launching buku,

seminar, atau melalui brosur atau pamflet.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Apa hubungan antara profesional sebagai guru dengan PTK? Kata profesional seperti yang telah dibahas sebelumnya, hubungannya dengan PTK tidak perlu dibahas secara mendalam, karena setiap guru pasti yakin bahwa PTK akan meningkatkan profesionalnya sebagai guru. Oleh karena itu, pemerintah dalam hal ini melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mewajibkan guru untuk melakukan PTK sebagai wadah untuk meningkatkan profesional.

Apa hubungan antara PTK dengan bisnis?

(78)

jumlah pendapatan atau gaji bagi PNS juga bertambah seiring kenaikan pangkat atau golongan. Selain contoh di atas, apabila kita sudah profesional di bidang PTK, maka peluang untuk mendapatkan duit semakin besar. Misalnya, menjadi supervisor atau penilai PTK bagi guru lain, atau menjadi instruktur bidang studi yang diampuh, karena dianggap sudah profesional.

Penelitian tindakan kelas yaitu suatu penelitian tindakan (action research) yang dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas proses dan kualitas belajar sekelompok peserta didik. Pada umumnya, pengertian kelas adalah suatu ruangan yang dapat digunakan sebagai tempat mengajar. Akan tetapi seiring dengan perkembangan dunia pendidikan terutama dalam proses pembelajaran, maka kelas dapat diartikan sebagai tempat aktivitas belajar dua orang atau lebih peserta didik. Ini menunjukkan bahwa belajar tidak harus di dalam ruangan atau kelas, tetapi di mana saja dapat berlangsung. Sebagai contoh; di pantai, di hutan, di gunung, atau di tempat yang dapat memberikan kesejukan belajar untuk mendapatkan inspirasi.

Untu lebih jelasnya saya kutipkan dari buku “Praktik Penelitian Tindakan Kelas” oleh E. Mulyasa, mengutip dari pendapat Suharsimi, Suhardjono, dan Supardi (2006) sebagai berikut:

(79)

mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.

2. Tindakan, menunjuk pada suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian dalam bentuk rangkaian siklus kegiatan untuk peserta didik.

3. Kelas, dalam hal ini tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih

spesifik. Seperti yang telah lama dikenal dalam

bidang pendidikan dan pengajaran. Yang dimaksud dengan istilah kelas adalah sekelompok peserta didik dalam waktu sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.

Berdasarkan uraian di atas muncul pertanyaan sebagai berikut: Dalam pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas yang paling ditonjolkan apakah perlakuan guru atau perlakuan para peserta didik? Pertanyaan tersebut memang sangat sederhana, tetapi di sinilah kadang kekeliruan guru dalam mengaplikasikan penelitian tindakan kelas. Kadang pertanyaan tersebut diabaikan dengan asumsi yang penting meneliti. Untuk lebih jelas perhatikan contoh berikut!

1. Guru memberikan tugas kepada para peserta didik untuk percobaan membedakan larutan elektrilit dan non elektrolit.

(80)

Dari contoh di atas dapat dipahami bahwa pada pernyataan pertama guru lebih menonjol dari pada para peserta didik. Sedangkan pada pernyataan kedua para peserta didik lebih menonjol dari pada guru. Oleh karena Penelitian Tindakan Kelas merupakan salah satu penelitian ilmiah, maka harus mengikuti aturan suatu penelitian ilmiah. Dan yang harus ditonjolkan dalam Penelitian Tindakan Kelas haruslah para peserta didik bukan guru, sehingga yang tepat adalah pernyataan kedua. Bagi guru, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) saat ini bukanlah sesuatu yang menyulitkan karena buku-buku tentang PTK, situs-situs di internet, atau blog-blog yang mengupas tentang pendidikan sudah cukup banyak dengan menawarkan dengan berbagai strategi dan jurus penulisan PTK. Sebelum melakukan penelitian, sebaiknya guru melakukan hal-hal berikut agar tidak kesulitan minimal akan menjadi spirit dalam penulisan PTK.

(81)

2. Bertanya kepada supervisor atau teman peneliti. Bertanya kepada supervisor atau teman yang dianggap pengalaman dalam PTK akan banyak memberikan kontribusi, karena mereka sudah berpengalaman dalam dunia penelitian. Mungkin saja tema penelitian bersumber dari mereka, tinggal Anda memilih yang sesuai dengan peroblem yang ada di sekolah.

3. Anda mencari informasi melalui internet. Dunia internet saat ini sudah cukup maju seiring dengan perkembangan teknologi sehingga informasi begitu mudah diakses, tidak ketinggalan informasi di bidang penelitian tindakan kelas.

Jika sudah mendapatkan gambaran, terutama problem yang ingin diberikan solusi, maka tentukanlah tema penelitian dan mulailah menulis. Yang perlu diperhatikan dalam memilih tema penelitian yaitu tema diminati dan dapat meningkatkan motivasi sehingga dapat meningkatkan profesional sebagai guru. Kalau tema diminati, maka setiap problem dalam melakukan penelitian akan menjadi suatu motivasi yang sangat luar biasa. Sebaliknya, jika tema tidak diminati tetapi hanya untuk menyelesaikan kewajiban, maka setiap problem penelitian akan mengendorkan motivasi kita.

(82)

Bagaimana ruang lingkup PTK?

Untuk mendapatkan gambaran jawaban pertanyaan tersebut, maka saya kutipkan pendapat:

1. Menurut Suharjono (2006) yang dikutip oleh Jasa Ungguh Muliawan (2010) penelitian tindakan kelas dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu: penelitian diskriptif dan ekspemerimen.

2. Menurut Jasa Ungguh Muliawan (2010), jenis-jenis penelitian tindakan kelas tidak hanya terdiri dari dua bentuk, melaikan tiga bentuk yaitu: Penelitian kasus, penelitian eksperimen, dan penelitian diskriptif.

Dari dua pendapat di atas, saya cenderung membahas pendapat kedua, yaitu ruang lingkup PTK terdiri tiga bentuk, yaitu: Penelitian kasus, penelitian eksperimen, dan penelitian diskriptif. Ketiga bentuk penelitian tersebut memiliki tujuan, pola pikir, dan mekanisme kerja yamg berbeda-beda.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Studi Kasus

Referensi

Dokumen terkait

Metode yang lebih sederhana yang dapat digunakan dalam menyusun laporan keuangan pada UKM adalah dengan menggabungkan penggunaan jurnal khusus dengan buku besar dengan

pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai metode dan teknik penilaian yang bervariasi sesuai dengan implementasi kurikulum 2013; (3) hambatan dalam penila ia n

Survai berbasis populasi yang dilakukan oleh Gakidou et.al mengindikasikan bahwa cakupan skrining di nega ra berkembang r ata-rata 19% sedangkan di negara-negara maju

Gambar 1. Proses Bisnis Manual ... Proses Bisnis E-Commerce... Ruang Lingkup E-Commerce ... Aplikasi CRM ... Flowchart Proses Bisnis ... ERD Website Penjualaan Film dan Game DVD

Sebagaimana diutarakan di atas dalam latar belakang penulisan Kertas Karya Perorangan ini maka dirumuskan sebagai identifikasi masalah dalam Taskap ini adalah,

Adapun sistem program yang dibuat adalah software profile matching yang berfungsi sebagai alat bantu untuk mempercepat proses matching antara profil jabatan (soft

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara motivasi belajar dan kepercayaan diri dengan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 3

Semenjak didiagnosis menderita Diabetes Mellitus kurang lebih 3 tahun yang lalu, Bapak I Wayan Sadiya telah teratur minum obat dan mengatur pola makannya