ANALISIS PENGARUH INFLASI,BI RATE, JUMLAH UANG YANG BEREDAR
TERHADAP NILAI AKTIVA BERSIH REKSADANA SYARIAH
PERIODE 2014-2016 LAYYINATUL AINI MUFIDAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
Email : [email protected]
ABSTRAK
Penelitia ini bertujuan untuk mgetahui pengaruh inflasi, BI rate, dan Jumlah uang yang beredar terhadap Nilai Aktiva Bersih Reksadana syariah pada periode 2014-2016. Data yang digunakan dalam peeitian ini dalah data bulanan dari Juari 2014 samapi Desember 2016. Teknik sampling dalam penelitian ini merupakan purposive sampling. Reksadana syariah di inonesia yang menjadi objek peneitian. Peneitian ini menggunakan metode analisis regresi linear berganda dengan menggunakan eviews dan microsoft exel 2010
Hasil peneitian ini menjujukkan bahwa terdapat pengaruh secara simultan secara bersama-sama atau secara simultan berdasarakan hasil uji F, diketahui bahwa F hitung sebesar 5.524121 dengan prob f sebesar 0.0003581 < taraf signifikan 5% (0.05) maka, secara simultan variabel independent yaitu inflasi, BI Rate, Jumlah Uang yang Beredar berpengaruh secara signifikan terhadap NAB Rekasadana Syariah sedangkan hasil uji secara parsial bahwa vaiabel inflasi, Bi Rate tidak berpengaruh signikan dikarenakan nilai P value < α =5% shingga hanya vriabel Jumlah uang beredar yang berpengaruh signifkan terhadap Nilai Aktiva bersih Reksadana Syariah
Kata kunci : Inflasi, BI Rate, Jumlah uang beredar, NAB reksadana syariah
PENDAHULUAN
Pemilihan pasar modal sebagai alternatif pilihan yang banyak dilakukan oleh banyak masyarakat. Mengingat semakin meningkatnya kebutuhan hidup serta keadaan perekonomian dari masa masa mencapai pertumbuhan semakin tinggi menggerakkan setiap individu untuk berfikir secara bijak untuk mempersiapkan keadaan ekonomi dimasa mendatang mengingat kehidupan dimasa mendatang penuh dengan ketidakpastian atau hal yang terduga dalam hidup akan terjadi. Kondisi tersebut menggerakkan setiap individu atau badan untuk menyisihkan sebagian pendapatannya untuk di investasikan dipasar modal dengan harapan akan meningkatnya nilai tersebut serta menikmati return (tingkat pengembalian yang tinggi) dimana untuk mempersiapkan masa mendatang kegiatan tersebut disebut investasi
Investasi adalah penundaan konsumsi sekarang untuk dimasukkan ke aktiva produktif selama periode waktu tertentu1. Investasi merupakan kegiatan muamalah yang sangat
diajurkan dalam islam, karena dengan berinvestasi harta akan lebih produktif dan
mendatangkan maslahat bagi orang lain.2 Ivestasi kedalam aktiva keuangan dibagi menjadi
dua yaitu berupa investasi langsung dan tidak langsung. Investasi langsung dapat dilakukan dengan membeli aktiva keuangan yang dapat diperjualbelikan dipasar uang, pasar modal, atau pasar turunan, investasi langsung juga dapat dilakukan dengan membeli aktiva keuangan yang tidak dapat diperjualbelikan seperti tabungan di bank dan sertifikat deposito. Sedangkan investasi tidak langsung yaitu pembelian saham dari perusahaan investasi yang mempunyai portofolio aktiva aktiva keuangan dari perusahaan-perusahaan lain. Perusahaan investasi dapat diklasifikasikan sebagai unit invesment rust, closed end invesment companies, and opened invesment companies. Dari klasifikasi tersebut opened invesment companies dikenal dengan nama perusahaan reksadana. Menurut UU Pasar Modal No. 8 tahun 1995, pasal 1 ayat (27) reksadana didefinisikan sebagai wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal kemudian selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi.3
Dalam perkembangannya, pada tahun 1998 PT. Danareksa Invsesment Management meluncurkan reksadana syariah pertama di indonesia, yang dimaksudkan untuk memberikan alternatif investasi yang lebih luas bagi pemodal muslim ataupun masyarakat yang ingin berinvestasi dengan prinsip syariah. Selanjutnya Bursa Efek Indonesia bekerjasama dengan PT Danareksa Invesment Managemenet meluncurkan Jakarta Islamic Indeks (JII) pada tanggal 3 juli 2000 yang bertujuan untuk memandu investor yang ingin menanamkan dananya secara prinsip syariah. Dengan hadirnya indeks tersebut maka telah tersedia saham-saham yang dapat digunakan sebagai sarana investasi yang berprinsip sesuai syariah
Reksadana syariah tidak jauh memilik perbedaan dengan rekdana konvesional hanya saja praktinya dalam reksadana syariah tidak adanya unsur riba, gharar, maysir, yang mana praktik tersebut dilarang dalam islam yaitu tidak sesuai dengan prinsip syariah, sehingga hadirnya reksadana syariah diharapkan menjadi alternatif investor yang ingin menanamkan modalnya sesuai prinsip syariah. Dalam Fatwa DSN MUI No. 20/DSN-MUI/IV/2001 menetapkan bahwa Reksadana syariah adalah reksadana yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip syariah islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai pemilik harta dengan manajer investasi sebagai wakil shohibul maal, maupun dengan wakil shohibul maal dengan pengguna investasi. Dengan mekanisme kegiatan transaksinya yaitu antara pemodal dengan manajer investasi dilakukan dengan sistem wakalah dan antara manajer investasi dan penggna investasi dilakukan dengan sistem mudharabah. Perbedaan reksadana syariah dengan reksadana konvensional adalah pada dua tahapan proses yaitu:
a. Proses screening, yaitu Filteralisasi atas intrumen investasi berdasarkan pedoman syariah
b. Proses cleansing, yaitu membersihkan pendapatan yang dianggap diperoleh dari kegiatan yang haram menurut pedoman syariah.4Hal-hal inilah yang mejadi tolak ukur
antar reksadana konvensional dengan reksadan syariah
2 Adrian Sutedi, Pasar Modal syariah, (Jakarta: Sinar Grafka, 2009) hlm. 33. 3 Opcit, jogiyanto hartono, hlm. 10-12.
Alat atau tolak ukur reksadana syariah ialah nilai aktiva bersih (NAB). Nilai aktiva bersih merupakan indikator untuk menetukan harga beli maupun harga jual dari setiap unit penyertaan reksadana. Perubahan nilai aktiva bersih ini dapat dijadikan sebagai indikator kinerja suat reksadana apakah nilainya positif maupun negatif. Nilai aktiva bersih merupaka jumlah aktiva setelah dikurangi kewajiban-kewajiban yang ada. Besarnya NAB bisa berfluktuasi setiap hari, tergantung dari perubahan nilai efek dari portofolio.5
Reksadana syariah pada tahun 2014 meningkat sebesar 8.31% sehingga mempunyai Nilai Aktiva Bersih mencapai 11,019.00 (Rp. Miliar), sedangkan pada tahun 2015 mengalami peningkatan 8.52% sehingga NAB mencapai 11,019.43 (Rp. Miliar) dan tahun selanjutnya yaitu tahun 2016 mengalami peningkatan terus menerus yaitu NAB nya sebesar 14,914.63 sampai pada tahun 2017 yang mempunyai angka NAB tertingga sebesar 22.369,64 demikian dapat dibuktikan bahawa reksadana syariah mengalami peningkatan dari tahun ketahun yaitu dari tahun 2014 total reksadana sebesar 894, pada tahun 2015 total reksadana sebesar1091, pada tahun 2016 sebesar 1425 sampai saat ini yaitu tahun 2017 total reksadana semakin meningkat terus menerus. Hal ini menujukkan perkembangan reksadana dari tahun ke-tahun.6 Diketahui reksadana syariah yang beredar pada tahun 2017 ini berjumla 172
perusahaan7 reksadana syariah angka tersebut merupakan angka yang sangat tinggi dengan
perbandingan NAB dari tahun ke tahun tersebut menunjukkan bahwa rekdanan syariah berhasil menjasi solusi alternatif investasi secara syariah.
Sumber : statistik reksadana syariah, Desember 2016, Bapepam, OJK
5 Febrian Dwi Setyarini, pengaruh SBIS, Infasi, ilai Tukar rupiah, Jumlah uang beredar
dan IHSG terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah periode 2009-2013, Skripsi
Keuangan Islam Uin Sunan Kalijaga, 2015.
6 BAPEPAM, Statistik Reksadan Syariah. Http://www. Bapepam.co.id/data-statistik-syariah-reksadana, akses 10 februari 2017, 20.45 WIB.
Berikut ini tabel perbandingan jumlah reksadan dan perbandingan NAB reksadana syariah
Sumber : statistik reksadana syariah, Desember 2016, Bapepam, OJK
Ahmad Ulinnuha, Isti Fadah, Lilik Farida, dalam penelitiannya yang berjudul “pengaruh Indeks Harga Saham Gabungan, Nilai Tukar Rupiah Dan Sertifikat Bank Indonesia Terhadap Nilai Aktiva bersih Reksadana Campuran Pada PT. Manulife Aset Manajemen Indonesia” hasil penelitiannya menunjukan bahwa secara simultan IHSG, nilai tukar rupiah dan SBI berpengaruh terhadap NAB reksadana campuran pada PT Manulife Aset Manajemen Indonesia dengan nilai sig. 0,000. Sedangkan secara parsial IHSG berpengaruh positif dan signifikan dengan nilai beta 0,395 dan nilai sig. sebesar 0,000 < α = 5% sedangkan SBI berpengaruh positif dansignifikan dengan nilai beta 0,132 dan nilai sig. sebesar 0,031 < α = 5%. Dilihat dari besarnya koefisien beta maka IHSG merupakan variabel independen yang berpengaruh dominan terhadap NAB reksadana campuran pada PT Manulife Aset
Manajemen Indonesia. Sedangkan nilai tukar rupiah tidak berpengaruh signifikan terhadap NAB reksadana campuran.8
Febrian Dwi Setyarini, dalam penelitiannya yang berjudul “ pengaruh SBIS, Inflasi, Nilai Tukar rupiah, Jumlah uang beredar dan IHSG terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah periode 2009-2013” menyebutkan bahwa SBIS, kurs, jumlah uang yang beredar dan IHSG tidak berpengaruh terhadap NAB reksadana syariah. Hanya variabel inflasi yang berpenagruh signifikan dengan arah positif walau kecil terhadap NAB reksadana syariah. Kondisi makroekonomis (SBIS, inflasi, kurs, jumlah uang yang beredar, dan IHSG) baik secara parsial maupun simultan memiliki penagaruh yang kecil terhadap imbal hasil reksadana syariah, hal ini dikarenakan volalitas makroekonomi Indonesia hanya direspon sesaat oleh investor9.
8 BAPEPAM, Statistik Reksadan Syariah. Http://www. Bapepam.co.id/data-statistik-syariah-reksadana, akses 10 februari 2017, 20.45 WIB.
Wahyuni Kartika Sari, Dr Dikdik Tandika, dalam penelitiannya yang berjudul” Pengaruh IHSG, Inflasi, dan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Net Asset Value (NAV) Reksadana Syariah (Studi Kasus pada Bapepam Periode 2012-2016) hasil penelitiannya menyebutkan bahwa IHSG, Inflasi, Nilai tukar mempunyai pengaruh terhadap NAV Reksadana Syariah baik secara parsial maupun simultan.10
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut telah diketahui adanya perbedaan, persamaan hasil dari penelitian tersebut,baik berasal dari teori maupun dari penelitian sebelum-sebelumnya dalam objek yang sama yaitu reksadana syariah maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan judul “Pengaruh Analisis Pengaruh Inflasi, BI Rate, Jumlah Uang Yang Beredar Terhadap Nilai Aktiva Bersih Reksadana Syariah Periode 2014-2016
Landasan teori
1. Signaling theory
Bahwa sinyal yang diberikan dapat berupa good news maupun bad news. Sinyal good news dapat berupa [perusahaan yang mengalami peningkatan secara teris menerus sedangakn yang bad news dapat berupa penurunan kinerja dari tahun ketahun. Nilai aktiva bersih reksadana syariah dapat memberikan sinyal bagi para investor sehingga berpengaruh terhadap keputudsan investasi di reksadana syariah11
2. Reksadana syariah
Reksadan dikenal dengan banyak istilah yakni unit rust, mutual fund,atau invesment fund ketiga istah tesebut sama sama memiliki pengertian sebuah investasi yang kolektif diantara para invstor dnagn tujuan sama yaitu investasi. Dana yang dikumpuka oleh sejumlh orang investo akan dikeoal oleh seorang fund manager UU No. 8 tahun 1995 tetang reksadana yakni suatu wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal, untk selanjutnya di investasika dalam portofolio efek oleh manajer invetasi. Selanjutnya rekadana syariah yang diungkapkan Herawati (2015: 51-52) reksdana syariah merupakan reksaana yang kebijakan investasi dan pengelolaannya mengacu pada syariah islam dimana reksadana syariah tidak menginvestasikan dananya di perusahaan yang pegelolaan dan produknya bertentangan pada prinsip syariah.12
3. Nilai Aktiva Bersih Reksadana syariah
Menurut Ahmad Rodoni (2009: 97) Nilai Aktiva Bersih diperoleh dari asil penjumlahan nilai seluruh portofolio tang terdiri dari uang kas, deposito, instrumen pasar uang, obligai, saam, dan intrumen pasar modal lainnya. Yang ditambah dengan tagihan kepada broker, piutang dividen, piutang bunga dan putang lainnya. Dan dikurangi dengan kewajiban yang terdiri dari pinjaman, kewajiban broker, kewajiban atas fee yang belum bayar,
10 Wahyuni Kartika sari, dkk, “Pengaruh IHSG, Infasi, dan Nilai Tukar Rupiah terhadap NAV Reksadana Syariah (studi Kasus pada Bapepam periode 2012-2016”,Jurnal Ilmu Ekonomi dan Manajemen Vol 3, o.2., Tahun 2017.
11 Iza Nur Affa, “Pengaruh SBIS, JUB, JII terhadap Nilai Ativa bersih Reksadanba Syariah periode 2012-2015. Indonesian Banking school, 2016.
kewajiban atas fee kustodian yang belum bayar, da amortisasi biaya pendirian jika ada.
Nilai aktiva Bersih merupakan salah satu tolak ukur dalam memantau hasi portofolio reksdana. Net asset Value (NAV) dapat diformalisasikan sebagai berikut:
NAVt = (MVAt – LIABt/NSOt)
Keterangan :
NAVt = nilai aktiva bersih pada periode t
MVAt = total nilai pasar aktiva pada periode t
LIABt = totak kewajiban reksadana pada peride t
NSOt = jumlah unit penyertaan beredar pada periode t13
4. Inflasi
Inflasi adalah gejala kenaikan harga barang-barang yang bersifat uum dan terus menerus. Harga suatu komoditas dikatakan naik apabila lenih tinggi dibandingkan harga pada perioe sbeumnya. Kenaikan harga suatu komoditas belum dikatakan inflasi jika belum dapat mengubah harga harga secara umum naik
5. BI Rate
Suku bunga adalah pembayaran bunga tahunan dari suatu pinjaman dalam bentuk persentase dari pinjaman yang diperoleh dari jumlah bunga yang diterima tiap tahun dibagi dengan jumlah pinjaman
6. Jumlah Uang yang Beredar
Jumlah uang yang bereda disetiap negara ada beberapa jenis, ada tiga jenis yang beredar yaitu uang kartal,giral,dan uang kuasi. Di Indonesia saat ini hanya mengenal dua mata jnit mata uang yaitu:
a. Uang beredar dalam arti sempit, yang sering diberi simbol M1 didefinisiknan sebagai kewajiban sistem moneter terhadap sektor swasta domestik yang terdiri dari uang kartal dan uang giral
b. Uang beredar dalam arti luas, sering diberi simbol M2, didefinisikan sebagai kewajiban sistem moneter terhadap sektor swasta domestik yang tediri dari uang kartal, giral,kuasi. Dengan kata lain M2 adalah M1 ditambah tabungan deposito berjangka.
Perkembangan jumlah uang yang beredar menceminkan pertumbuhan ekonomi, biasanya bila ereknoman bertumbuh maka jumlah uang yang beredar semakin banyak pula, sedang komposisinya berubah. Bia perekonomian bertambah mau mak semakin bergeser penggunaan uang kartal bergeser dengan memanfaatkan cek.
Teori kuantitas uang dikemukakan oleh Irving Fisher, Yaitu : MV=PT
Kterangan :
M= jumlah uang beredar V=tingkat perputaran uang
P=tigkat harga barang
T=jumah barang yang diperdagangkan14
Metode penelitian
Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yang bertujuan untuk menguji hipotesis dengan data yang terukur dan menghasilkan kesimpulan yang dapat digeneralisir.
Obyek penelitian
Obyek penelitian ini menggunakan data time series berupa NAB bulanan reksadana campuran pada periode Desember 2014 - Desember 2016 yang terpublikasi pada situs resmi otoritas Jasa Keuangan
Jenis dan Sumber Data
Peneltianini menggunakan jenis data sekunder. Hasil penelitian terdahulu menggunakan data sekunder yang sesuai dengan pokok bahasan. Dalam penelitian ini adalah inflasi, BI Rate, jumlah uang yang beredar, dan NAB rekasadana syariah. Data-data tersebut bersumber dari terbitan BI (bank Indonesia), Badan Penagawas Modal(Bapepam) yang dikelola oleh Otoritas Jasa Keuangan(OJK), dan Badan Pusat Statistik
Definisi operasional variabel dan Skala Pengukuran
Dalam penelitian ini menggunakan tiga variabel independen dan satu variabel dependen:
a. Nilai Aktiva Bersih (NAB)
Dalam penelitian ini sebagai variabel dependen. Nilai Aktiva Bersih pada dasarnya merupakan data data historis yang berisikan aktiva setelah dikurangi oleh kewajiban-kewajiban. Aktiva pada reksadana ini berupa uang kas, deposito, instrumen pasar uang, obligasi, saham, dan piutang dividen. Variabel yang nantinya digunakan dalam peneltian ini berupa NAB/unit
b. Inflasi
Dalam penelitian ini sebagai variabel independen. Inflasi merupakan kecenderungan harga-harga mengalami kenaikan secara terus menerus. (Mankiw, 2006: 145). Dalam penelitian ini data inflasi diperoleh dari Badan Pusat Statistik dalam periode 2026 sampai 2014
c. BI Rate
BI rate dalam penelitian sebagai variabel independen. Suku bunga adalah pembayaran bunga tahunan dari suatu pinjaman dalam bentuk persentase dari pinjaman yang diperoleh dari jumlah bunga yang diterima tiap tahun dibagi dengan jumlah pinjaman.15 Dalam pnelitia data Bi rate bulanan yang diperoleh dari data yang
dipublikasikan oleh Bank Indonesia (BI) dari tahun 2014 sampai tahun 2016
14 Ibid, Skripsi hal. 46
d. Jumlah Uang yang Beredar
Dalam penelitian ini JUB sebagai variabel independen. Dalam penelitian ini mengambil data M2 diaman meliputi M1 yaitu uang kuasi (mecakup tabungan, deposito dalam rupiah dan valas, serta giro dalam valuta asing), dan surat berharga yang diterbitkan oleh sisitem moneter. Data diperoleh melalui data yang diublikaskan Bank Indonesia dalam periode tahun tertentu sesuai cakupan penelitian.
Metode Analisis Data
Metode analisis data ini dilakukan agar dapat memberikan komponen informasi dimana infomasi tersebut dibutuhkan untuk mejawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan penelitian. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi Linear Berganda, Uji Asumsi Klasik, dan uji Hipotesis
a. Regresi linear berganda
Analisis regresi Linear Berganda digunakan untuk mengetahui bentuk hubungan antara dua variabel, yaitu variabel independen dan variabel dependen. Cara menuliskan persamaan regresi linear berganda adalah sebagai berikut:
Y = a+b1X1+b2X2+b3X3 Keterangan :
X1 : Inflasi X2 : BI Rate
X3 :Jumlah Uang yang Beredar
a : Konstanta yang menunjukan nilai Y 1, b2, b3 : Koefisien arah regresi b. Uji asumsi klasik
a. Uji normalitas
Tujuan dari uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah dalam model regresi, variabel dependen dan independen atau keduannya mempunyai distribusi normal atau mendekati normal (Santoso, 2004: 212). Cara menentukan data berdistribusi normal atau tidak dengan menggunakan uji
kolmogorov- Smirnov pada data > 50, sedangkan data < 50 menggunakan uji
Shapiro-Wilk. Apabila hasil uji menyatakan nilai sign. < α, maka H0 ditolak yang berarti bahwa data yang digunakan tidak berdistribusinormal. Apabila sebaliknya maka data berdistribusi normal.
b. Uji multikolinearitas
Pengujian ini dilakukan guna mengetahui apakah model regresi terdapat korelasi antara variabel independen atau tidak. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya pelanggaran dapat dilihat dari nilai VIF (Variance Inflation Factor) atau nilai tolerance. Apabila nilai VIF >10 dan nilai tolerance < 0,1 maka terdapat pelanggaran dalam model regresi linear berganda.
c. Uji heteroskedastisitas
dengan uji Glesjer. Cara mengambil keputusan pada uji ini, dengan melihat nilai Sig. > α, maka tidak terjadi heteroskedastisitas dan begitu juga sebaliknya d. Uji Autokorelasi
Guna mendeteksi apakah dalam model regresi terdapat korelasi. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi dalam model regresi maka digunakan uji Durbin Watson (DW), yaitu dengan membandingkan nilai
Durbin Watson tes dengan nilai dari tabel Durbin Watson pada α = 5%
Analisa dan pembahasan
-8000 -6000 -4000 -2000 0 2000 4000
Series: Residuals
Intrepetasi : berdasarkan nilai probability dari jarque-Bera adalah 0.00000 < α = 5% atau 1% sehingga menolak Ho yang berarti nilai residual tidak berdistribusi normal
b. Uji multikolinearitas
Variance Inflation Factors Date: 12/11/17 Time: 09:59 Sample: 1 36
Included observations: 36
Coefficient Uncentered Centered
Variable Variance VIF VIF
C 24036056 167.9964 NA
INFLASI 653882.4 2.022535 1.292316 BI_REAT 33431.08 11.29648 1.276067 JUMLAH_UAN
G_YANG_BER
Syarat terjadinya multikolinearitas pada model adalah VIF > 10. Berdasarkan hasil centered VIF masing-masing variabel < 10. Sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat
masalah multikoliner
c. Uji heteroskedastisitas
Heteroskedasticity Test: White
F-statistic 0.456704 Prob. F(9,26) 0.8900
Obs*R-squared 4.914331 Prob. Chi-Square(9) 0.8417 Scaled explained SS 15.19089 Prob. Chi-Square(9) 0.0858
Berdasarkan uji white bahwa nilai prob Chi-Square (9) =0.8417 > α =1%, 5%, atau 10% sehingga menerima H0 maka, tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.
d. Uji Autokorelasi
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic 1.297402 Prob. F(2,30) 0.2881
Obs*R-squared 2.865885 Prob. Chi-Square(2) 0.2386
Berdasarkan hasil nilai prob. Chi-Square = 0.2386 > nilai kritis 1%, 5%, atau 10% sehingga tidak terdapat masalah autokorelasi.
Uji Hipotesis
a. Uji F
Dependent Variable: NAB_REKSADANA_SYARIAH Method: Least Squares
Date: 12/11/17 Time: 09:57 Sample: 1 36
Included observations: 36
Variable CoefficientStd. Error t-Statistic Prob.
C -3423.975 4902.658 -0.698392 0.4900
INFLASI -1143.442 808.6299 -1.414049 0.1670
BI_RATE 304.5317 182.8417 1.665549 0.1056
JUMLAH_UANG_YANG_
BREDAR 0.002751 0.001040 2.645324 0.0125
Sum squared resid 1.65E+08 Schwarz criterion 18.57290 Log likelihood -327.1452 Hannan-Quinn criter. 18.45837 F-statistic 5.524121 Durbin-Watson stat 1.905460 Prob(F-statistic) 0.003581
NAB_REKSADANA_SYARIAH = -3423.97490828 - 1143.44214417*INFLASI + 304.531710629*BI_RATE + 0.00275070501184*JUMLAH_UANG_YANG_BEREDAR Intrepetasis :
H1 : terdapat pengaruh secara simultan secara bersama-sama atau secara simultan
berdasarakan hasil uji F, diketahui bahwa F hitung sebesar 5.524121 dengan prob f sebesar 0.0003581 < taraf signifikan 5% (0.05) maka, secara simultan variabel independent yaitu inflasi, BI Rate, Jumlah Uang yang Beredar berpengaruh secara signifikan terhadap NAB Rekasadana Syariah
b. Uji t
Uji t dilakukan guna mengetahui apakah secara parsial atau individu variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Tingkat signifikansi (p-value) tiap variabel independen merujuk pada hasil regresi linear berganda yang telah dibahas pada wacana sebelumnya. Berikut ini penjelasan mengenai pengaruh secara parsial masing-masing variabel independen.
H2 : secara parsial dan tidak signifikan inflasi terhadap NAB Reksadana Syariah
periode 2014-1016.
Berdasarkan pengujian secara parsial, dapat diketahui bahwa koefisien regresi Inflasi terhadapa NAB Rekasadana Syariah periode 2014-2016 adalah 0.1670 Karena nilai P value < α =5% maka hal ini secara parsial Inflasi Tidak berpengaruh Signifikan terhadap NAB Rekasadana Syariah
H3 : secara parsial dan tidak signifikan BI Rate terhadap NAB Rekasadana Syariah
periode 2014-2016,
Berdasarkan pengujian secara parsial, dapat diketahui bahwa koefisien regresi BI Rate Terhadap NAB Reksadana Syariah periode 2014-2016 adalah 0.1056 dengan nilai p value adalah sebesar 0.000. karena nilai P value < α =5% maka hal ini secara parsial BI Rate i Tidak berpengaruh Signifikan terhadap NAB Rekasadana Syariah
H4 : terdapat pengaruh secara parsial dan signifikan dari Jumlah Uang yang Beredar
terhadap NAB Reksadana Syariah Perode 2014-2016
Koefisien regresi Jumlah Uang yang Beredar terhadap NAB Rekasadana Syariah periode 2014-2016 adalah 0.0125 sedangkan Nilai p-value < α =5% maka, hal tersebut menunjukan bahwa H0 ditolak dan menerima H4 bahwa secara parsial Jumlah Uang yang
Beredar berpengaruh terhadapNAB reksadana syariah periode 2014-2016.
Pembahasan
Berdasrkan hasil pengujian secara simultan menunjukkan bahwa Inflasi, BI Rate, dan Jumlah Uang yang Beredar memiliki nilai signifikan terhadap Nilai Aktiva Bersih Reksadana Syariah Periode 2014 -2016. Maka Ho ditolak pada α = 5%. Hasil tersebut
dapat disimpulkan bahwa secara simlutan Inflasi, BI Rate, dan Jumlah Uang yang Beredar berpengaruh terhadap Nilai aktiva Bersih Reksadana Syariah periode 2014-2016. Maka dapat dinyatakan bahwa variabel independen berupa Inflasi, BI Rate, dan Jumlah Uang yang Beredar merupakan faktor-faktor yang mendasari perubahan NAB Reksadana syriah periode 2014-2016 atau dalam pengertian lain faktor faktor yang mnyebabkan naik turunnya NAB reksadana syariah yaitu dipengaruhi oleh Inflasi, BI Rate, dan Jumlah uang yang beredar
b. Pengaruh secara parsial
1. Pengaruh inflasi terhadap NAB Reksadana syariah Periode 2014-2016
Berdasarkan uji probabilitas, diketahui bahwa inflasi tidak berpengaruh secara signifikan secara parsial terhadap Nilai Aktiva Bersih reksadana syariah periode 2014-2016. Hasil tersebut dapay dibuktukan setelah melakukan uji f hitungnya sebesar 0.1670 . Jika dilihat signifikannya yakni sebesar 0.1670 dimana > α =5% maka kesimpulannya inflasi tidak berpengaruh signifikan parsil terhadap Nilai Aktiva Bersih reksadana syariah perode 2014-2016. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurna Malya (mei 2017) dalam skripsinya yang berjudul “pengaruh Inflasi dan BI Rate terhadap portofolio reksadana syariah di Indonesia periode 2011-2015 yang menyimpulkan bahwa inflasi tidak memberikan pengaruh terhadap NAB reksadana syariah. Inflasi merupakan
2. Pengaruh BI Rate terhadap NAB Rekasadana Syariah Periode 2014-2016
Berdasarkan uji probabilitas, siketahui bahwa BI Rate tidak berpengaruh signifikan terhadap NAB reksadana syariah. Dari hasil uji ini peneliti memperoleh hasi uji yaitu sebesar 0.1056 dimana > α =5% maka kesimpulannya BI rate tidak memberikan pengaruh terhadap NAB reksadana syariah
3. Pengaruh Jumlah Uang yang Beredar terhadap NAB Reksadana Syariah Periode 2014-2016
investasi saham mengalami kenaikan yang berarti akan meningkatkan nilai aktiva bersih reksa dana saham.
Kesimpulan
Berdasarakan hasil analisis dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut
1. Secara simultan( bersama samaa) bahwa varibel inflasi, BI rate, dan jumlah uang beredar memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Nilai Aktiva Bersih Reksadana Syariah
2. Secara parsial inflasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap NAB reksadana syariah
3. BI rate secara parsial tidak memberikan pengaruh terhadap NAB reksadana syariah
4. Secara parsial hanya variabel jumla uang yang beredar yang memberikan pengaruh signifikan terhadap NAB reksadana syariah
Daftar Pustaka
Al-Qur’an
Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemah, Jakarta: PT Insan Media Pustaka, 2013.
Buku
MUI, “Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) No 20/DSN MUI/IV/2001”, MUI, Jakarta: 2001.
Hartono, Jogiyanto teori portofolio dan analisis investas, (Yogyakarta: BPFE), 2015. Rusdin, Pasar Modal, (Bandung: Alfabeta), 2008.
Sutedi, Ardian. Pasar Modal syariah, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009).
Qoyum, abdul, “Lembaga Keuangan Islam di Indonesia,(Yogyakarta: elmatera), 2017.
Jurnal
Ainur Rahman, “Pengaruh Inflasi, Nilai tukar Rupiah, BI Rate Terhadap Net Asset Value Reksadana Saham Syariah”, Jurnal Ekonomi, Jesit Vol. 2 No. 12 Desember 2015.
Afifa, Iza Nur, “Pengaruh SBIS, JUB, JII terhadap Nilai Ativa bersih Reksadanba Syariah periode 2012-2015. Jurnal,l Indonesian Banking school, 2016.
BAPEPAM, Statistik Reksadan Syariah. Http://www. Bapepam.co.id/data-statistik-syariah-reksadana, akses 10 februari 2017, 20.45 WIB.
Sraswati, Fitria, “analisis pengaruh sertifikat bank indonesia syariah, inflasi, nilai tukar rupiah, dan Jumlah uang yang beredar Terhadap NAB Reksadana syriah. Skripsi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013.
Septian Hearisma, Alvien, “Introduction of Islamic Mutual Fund”, Jurnal Ekonomi, April 2008.
Setyarini, Febrian Dwi, “ pengaruh SBIS, Inflasi, Nilai Tukar rupiah, Jumlah uang beredar dan IHSG terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah periode 2009-2013,