Fundamental Interpersonal Relations Orientation
Latar belakang William Schutz dan Teori FIRO
William C. Schutz (1925 - 9 November 2002) adalah seorang psikolog di Esalen Institute (Big Sur, California). Pada tahun 1960-an. dia menjadi presiden BConWSA International. Ia menerima gelar Ph.D. nya dari , Pada tahun 1950-an. Ia adalah bagian yang sangat berpengaruh dari grup-rekan di Universitas Chicago. Pusat Konseling yang menyertakan kontributor terkemuka non-direktif psikologi seperti Carl Rogers, Thomas Gordon, Abraham Maslow dan Elias Porter.
Pada tahun 1958 Schutz memperkenalkan teori hubungan interpersonalnya Fundamental Interpersonal Relations Orientation (FIRO). Menurut teori tiga dimensinya, hubungan interpersonal dianggap penting dan cukup besar untuk menjelaskan interaksi manusia. Dimensinya adalah: Inclusion , Control and Affection. Dimensi ini telah digunakan untuk menilai dinamika kelompok.
Schutz dari kemajuan yang teorinya FIRO menjadi FIRO-B telah yang paling jelas dalam perubahan dari skala "kasih" ke skala "terbuka" dalam "FIRO Elemen-B”. Perubahan ini dipandang sebagai yang baru dalam teorinya yaitu perilaku (behavior)yang berasal dari perasaan(feelings) ( "FIRO Elemen-M") dan konsep diri ( "FIRO Elemen-S"). Schutz meninggal karena stroke pada 9 November 2002.
Teori FIRO (Fundamental Interpersonal Relations Orientation)
FIRO merupakan salah satu teori yang menjelaskan tentang kebutuhan antarpribadi, yang dikemukakan oleh William Schultz (1958). Dalam teorinya, Schultz membahas dan menjelaskan secara keseluruhan dan mendalam tentang konsep-konsep dasar dari hubungan antarpribadi. Konsep Schultz, seperti diakuinya, banyak didasari oleh pemikiran-pemikiran aliran Psikoanalisis, khususnya dasar-dasar teori yang dikemukakan Sigmund Freud.
Asumsi dasar teori FIRO adalah manusia dalam hidupnya membutuhkan manusia lain (manusia sebagai makhluk sosial). Kadang-kadang seseorang memmbutuhkan orang lain, meskipun ia sendiri mengerti dan mengetahui bagaimana cara melakukannya sendiri untuk dirinya sendiri. Berdasarkan asumsi tersebut, Schultz mengemukakan suatu postulat yang disebut the postulat of interpersonal needs. Postulat ini menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki tiga kebutuhan antarpribadi yang disebut dengan inklusi, control, dan afeksi.
Karakteristik kebutuhan Antarpribadi
Schultz mengemukakan mengenai ciri-ciri umum atau karakteristik dari kebutuhan antarpribadi, yaitu:
batas, tetapi terlalu banyak minum akan menimbulkan sakit, sebaliknya telalu sedikit minum juga akan menimbulkan sakit. Yang ideal adalah cukup minum. Sehingga metabolisme, keseimbangan tubuh cukup terjamin.
Sebagaimana dengan kebutuhan biologis tadi, maka kebutuhan antarpribadi pun mempunyai dinamika yang sama dengan kebutuhan biologis tadi. Artinya kebutuhan antarpribadi belum tentu terpuaskan apabila diberikan dipenuhi secara berlebihan atau kekurangannya.
Dalam hal ini individu yang saling berhubungan tersebut harus saling terpuaskan ( tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit), agar keseimbangan hubungan yang ada tercapai.. oleh karena itu untuk mencapai keseimbangan itu muncul kebutuhan antarpribadi akan control. Yang member individu pengetahuan atas batas-batas.
2) Ketidakpuasan yang terjadi dalam hubungan antarpribadi ini dapat secara langsung menimbulkan kesulitan seperti misalnya suatu keadaan emosi yang sakit, rasa cemas.
3) Organism atau individu mempunyai cara-cara tertentu dalam mengatasi ketidakpuasan dari kebutuhan antarpribadinya.
a. Kebutuhan Antarpribadi untuk Inklusi
Kebutuhan antarpribadi untuk inklusi didefinisikan sebagai kebutuhan untuk mengadakan serta mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orang-orang lain sehubungan dengan interaksi dan asosiasi.
Pengertian akan hubungan yang memuaskan ini mencakup; mengadakan hubungan yang secara psokologis menyenangkan dengan orang lain. Dalam hal ini dapat merupakan pihak yang mulai berinisiatif untuk melakukan hubungan aatau pihak lain yang memulai dahulu. Hubungan yang menyenangkan ini juga mencakup hubungan dengan dirinya sendiri.
Dalam penjelasan Schultz, kebutuhan antarpribadi untuk inklusi mencakup dua aspek penting, yaitu:
1. Tingkah laku inklusi
Secara umum, Schultz mengemukakan tentang apa yang disebut sebagai tingkah laku inklusi yaitu merupakan keinginan untuk asosiasi, bergabung amtarmanusia, pengelompokan. Disini ia membedakan antara tingkah laku inklusi yang positif dan negatif.
Tingkah laku inklusi yang positif ciri-cirinya yaitu: (a) ada persamaan dengan orang lain (togetherness)
(b) saling berhubungan (intraksi) dengan orang lain (interact)
(c) rasa menjadi satu bagian dari kelompok dimana ia berada (belong) (d) berkelompok atau bergabung (association)
Hal yang menunjukan tingkah laku inklusi yang negatif, ciri-cirinya yaitu;
(a) menyendiri (isolate) (b) menarik diri (witdrawl) (c) kesendirian (lonely) 2. Tipe inklusi (inclusion type)
Sebagaimana telah disebutkan diatas, maka tipe ini oleh Schultz dibagi menjadi empat macam pengelompokan tipe lagi, menurut derajat terpuaskannya kebutuhan antarpribadi seseorang. Dalam hal ini didapatkan:
(a) tipe sosial : seseorang yang mendapatkan pemuasan kebutuhan antarpribadi secara ideal
(b) tipe under social : tipe yang dimiliki oleh seseorang yang mengalami kekurangan dalam derajat pemuasan kebutuhan antarpribadinya. Karakteristiknya adalah selalu menghindar dari situasi antar kesempatan berkelompok atau bergabung dengan orang lain. Ia kurang suka berhubungan atau bersama dengan orang lain.
(c) tipe over social : seseorang mengalami derajat pemuasan kebutuhan antarpribadinya cenderung berlebihan dalam hal inklusi. Ia cenderung ekstravert. Ia selalu ingin menghubungi orang lain dan berharap orang lain juga menghubunginya
(d) tipe inklusi yang patologis : seseorang yang mengalami pemuasan kebutuhan antarpribadi secara patologis. Jika hal ini terjadi maka orang tersebut terbilang gagal dalam usahanya untuk berkelompok.
Kebutuhan antarpribadi untuk kontrol ini didefinisikan sebagai kebutuhan untuk mengedakan serta mempertahankanhubungan yang memuaskan dengan orang lain sehubungan dengan (atau memperoleh) kontrol dan kekuasaan (power). Hubungan yang memuaskan disini mencakup pengertian suatu hubungan yang secara psikologis menyenangkan antara manusia dengan manusia lainnya dengan tujuan untuk saling mengontrol tingkah laku masing-masing.
Dalam penjelasan Schultz, kebutuhan antarpribadi untruk kontrol mencakup dua aspek penting, yaitu:
1. Tingkah laku kontrol
Tingkah laku kontrol ini didefinisikan sebagai tingkah laku yang ditujukan pada tercapainya kebutuhan antarpribadi untuk kontrol.
Schultz mengatakan bhwa tingkah laku kontrol ini secara umum menunjukan adanya proses pengambilan keputusan di antara orang-orang yang saling berhubungan. Artinya bahwa proses pengambilan keputusan ini menyangkut apakah seseorang itu menjadi boleh atau tidak boleh melakukan atau mengerjakansesuatu. Untuk melakukan hal ini perlu adanya suatu kontroldan kekuasaan.
Beberapa istilah yang menunjukan adanya kontrol yang positif antara lain: (a) mempengaruhi ( influence)
(b) mendominasi (dominance ) (c) pimpinan (leader)
(d) pengatur (ruler)
Sedangkan menunjukan adanya kontrol yang negatif seperti misalnya: (a) memberontak (rebellion)
(b) pengikut (follower) (c) penurut (submissive) 2. Tipe kontrol (control type)
Dalam tipe kontrol ini, Schultzmemberikan tempat penggolongan sebagimana penggolongan yang dilakukan pada tipe inklusi diatas. Disebutkan, yaitu: (a) tipe kontrol yang kekurangan (deficient) disebut sebagai abdicrat ;
seseorang memiliki kecenderungan untuk bersikap merendahkan diri dalam tingkah laku antarpribadinya. Seseorang cenderung untuk selalu mengambil posisi sebagai bawahan (terlepas dari tanggungjawab untuk membuat keputusan).
seseorang menunjukkan kecenderungan untuk bersikap dominan terhadap orang lain dalam tingkah laku antarpribadinya. Karakteristiknya adalah seseorang selalu mencoba untuk mendominasi orang lain dan berkeras hati untuk mendudukkan dirinya dalam suatu hirarki yang tinggi.
(c) tipe kontrol yang ideal disebut democrat ;
seseorang akan mengalami pemuasan secara ideal dari kebutuhan
antarpribadi kontrolnya. Ia mampu memberi perintah maupun diperintah oleh orang lain. Ia mampu bertanggung jawab dan memberikan tanggung jawab kepada orang lain.
(d) tipe kontrol yang patologis ;
seseorang yang tidak mampu atau tidak dapat menerima kontrol dalam bentuk apapun dari orang lain.
Kebutuhan Antarpribadi untuk Afeksi
Kebutuhan ini didefinisikan sebagai kebutuhan untuk mengadakan serta mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orang lain sehubungan dengan (untuk memperoleh ) cinta, kasih sayang, serta afeksi.
Schultz menambahkan bahwa pengertian afeksi selalu menunjukan pada hubungan antara dua orangatau dua pihak (dyadic). Sebagaimana telah disebutkan terdahulu,ketiga konsep kebutuhan antarpribadi dari Schultz ini dapat dilepaskan dari kaitannya dengan penampilan tingkah laku seseorang. Untuk dapat mengetahui bagaimana sebenarnya manifesta dari ketigakebutuhan antarpribadi maka Schultz memberikan istilah yang disebut tingkahlaku inklusi, tingkah laku kontrol, serta tingkah laku afeksi.
Dalam penjelasan Schultz, kebutuhan antarpribadi untuk afeksi mencakup dua aspek penting yaitu:
1. Tingkah laku afeksi
dengan tingkah laku kontrol atau inklusi, maka kedua ini dapat terjadi antara dua orang atau lebih.
Beberapa istilah yang menunjukan hubungan afeksi yang positif misalnya: (a) cinta (love)
(b) keintiman (emotionality close) (c) persahabatan (friendship) (d) saling menyukai (likely)
Hubungan afeksi yang negatif misalnya: (a) kebencian (hate)
(b) dingin (cool)
(c) mengambil jarak emosional (emotionality distance) (d) tidak menyukai (dislike)
2. Tipe afeksi (affection type)
Pada tipe ini pula, Shultz memberikan 4 penggolongan yaitu: (a) tipe afeksi yang ideal disebut tipe personal;
seseorang yang mendapat kepuasan dalam memenuhi kebutuhan antarpribadi untuk afeksinya.
(b) tipe afeksi yang kekurangan disebut tipe underpersonal;
seseorang dengan tipe ini memiliki kecenderungan untuk selalu menghindari setiap keterikatan yang sifatnya intim dan mempertahankan hubungan dengan orang lain secara dangkal dan berjarak.
(c) tipe afeksi yang kelebihan disebut tipe over personal;
seseorang yang cenderung berhubungan erat dengan orang lain dalam tingkah laku antarpribadinya.
(d) tipe afeksi yang patologis;
seseorang yaang mengaalami kesukaran dan hambatan dalam memenuhi kebutuhan antarpribadi afeksinya, besar kemungkinan akan jatuh dalam keadaan neorosis.
Kesimpulan dari ketiga tipe kebutuhan antarpribadi tersebut adalah kebutuhan antarpribadi untuk inklusi merupakan kebutuhan untuk individu dalam kaitannya dengan interaksinya dalam sebuah kelompok sosial. Kebutuhan antarpribadi untuk kontrol bertujuan membantu individu dalam berinteraksi dengan kelompoknya dengan memberikan sifat kontrol kepada individu serta positioning (penempatan diri) individu dalam kelompok tersebut. Dan kebutuhan antarpribadi untuk afeksi membantu individu untuk berinteraksi dengan orang perorangan (personal) anggota kelompok tadi.
Ada 4 postulat dalam teori FIRO:
Postulat 1. Interpersonal Needs (Kebutuhan Antarpribadi)
Postulat 1 menyatakan tiga kebutuhan interpersonal dan hubungan tingkah laku ini cukup untuk mempredeksi dan menjelaskan fenomena antarpribadi yakni inklusi, kontrol, dan afeksi. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya di atas. Postulat 2. Relational Continuity (Hubungan yang berkelanjutan)
mendeskripsikan kharakteristik kedewasaan mengharapkan untuk berkelakuan sebagai konsekuensi dari pengalaman masa kecilnya. Umumnya postulat menyatakan bahwa perilaku dewasa dapat disamakan perilaku waktu masa kecil ketika keadaan orang tersebut dirasakan menjadi sama ke keadaan masa keci. Di lain sisi, ketika kedewasaan merasa posisi sebagai kesamaan untuk peran keorangtuannya, prilaku dewasa akan sama dengan perilkau orang tua. Untungnya, Schultz tidak mengidentifikasikan keadaan itu ke persepsinya sebagai keadaan sebagai “kekanak-kanakan” atau “ keorangtuaan”
Postulat 3. Compatibility (Kecocokan)
Postulat 3 menyatakan bahwa kelompok yang cocok akan lebih efektif dalam mencapai tujuan kelompok dibanding kelompok yang tidak cocok. Kecocokan, seperti digunakan Schutz, mengacu pada satu hubungan antara dua orang atau lebih. Dua orang dikatakan cocok jika mereka bisa bekerjasama secara harmonis. Jadi, definisinya tentang kecocokan mengacu pada definisi kamus tentang istilah tersebut.
Namun, untuk menguji dampak postulat 3, kita perlu mengidentifikasi jenis-jenis kecocokan dan menentukan cara untuk mengukurnya. Identifikasi jenis-jenis kecocokan didasarkan pada perilaku yang diekspresikan dan perilaku yang diinginkan dalam masing-masing dari ketiga bidang. Elemen-elemen tersebut diukur dengan enam skala Guttman (FIRO-B), yang dirancang untuk mengungkap perilaku yang diekspresikan dan diinginkan pada masing-masing dari tiga daerah kebutuhan antar personal. Nilai kecocokan mencerminkan tiap jenis kecocokan kemudian dihitung dengan rumus yang dikembangkan untuk tujuan ini.
Jenis-jenis kecocokan
Schutz (1958) mengidentifikasi ada tiga jenis kecocokan dalam tiga daerah kebutuhan:
dengan orang lain; kedua orang tidak cocok jika terdapat perbedaan pada jumlah perilaku yang diekspresikan dan diinginkan.
2. Originator compatibility didasarkan pada dimensi penerimaan awal dari interaksi. Ia terjadi dalam daerah emosi ketika mereka yang ingin mengekspresikan emosi berinteraksi dengan mereka yang ingin menerima emosi. Dalam daerah kontrol, ia terjadi ketika mereka yang ingin mendominasi orang lain berinteraksi dengan mereka yang ingin dikontrol. Dalam daerah inklusi, ia terjadi ketika mereka yang memulai aktivitas kelompok berinteraksi dengan orang yang ingin dilibatkan dalam aktivitas tersebut. Ketidakcocokan muncul ketika komposisi kelompok menyimpang dari situasi ideal di daerah tersebut.
3. Reciprocal compatibility mengacu pada sejauh mana tiap ekspresi inklusi, kontrol atau emosi seseorang memenuhi keinginan orang lain terkait tiap daerah kebutuhan. Misalnya, dua orang cocok dalam daerah emosi jika jumlah emosi yang diekspresikan masing-masing orang sesuai dengan jumlah emosi yang diinginkan orang yang lain. Semakin besar perbedaan antara perilaku yang diekspresikan oleh satu orang dan jumlah yang diinginkan oleh orang lain, semakin tidak cocok keduanya. Sebaliknya, interchange compatibility meningkat bila perbedaan antara jumlah perilaku yang diekspresikan dan yang diinginkan satu orang dan jumlah perilaku yang diekspresikan dan diinginkan oleh orang lain di daerah yang sama semakin besar.
Schutz kemudian mengatakan bahwa keseluruhannya bisa dihitung dengan menjumlahkan antar bidang. Begitu juga, keseluruhan kecocokan dalam tiap bidang kebutuhan bisa ditentukan dengan menjumlahkan antar jenis kecocokan. Terakhir, nilai kecocokan total bisa didapat dengan menjumlahkan kedua daerah kebutuhan dan jenis kecocokan. Jadi, dengan menggunakan skala FIRO-B dan rumus kecocokan, Schutz mendapatkan 16 indeks kecocokan.
sebagai berikut (Beberapa teorema dirumuskan terkait situasi percobaan tertentu; kita ulang agar bisa dipahami tanpa mengacu pada penelitian tertentu).
1. Jika dua pasangan memiliki tingkat kecocokan yang berbeda, anggota dari pasangan yang lebih cocok cenderung menyukai satu sama lain untuk berhubungan lebih lanjut.
2. Jika dua kelompok memiliki tingkat kecocokan yang berbeda, produktivitas pencapaian tujuan dari kelompok yang lebih cocok akan melebihi yang kurang cocok.
3. Jika dua kelompok memiliki tingkat kecocokan yang berbeda, kelompok yang lebih cocok akan lebih kohesif dibanding yang kurang cocok.
4. Jika satu kelompok terdiri dari dua atau lebih subkelompok yang tidak cocok, masing-masing anggota cenderung bekerjasama dengan anggota dari subkelompoknya lebih dari anggota subkelompok yang berlawanan atau dengan anggota netral.
5. Dalam kelompok yang tidak cocok, anggota subkelompok overpersonal cenderung menyukai satu sama lain lebih dari anggota subkelompok underpersonal.
6. Dalam kelompok yang tidak cocok, anggota subkelompok overpersonal cenderung menganggap lebih kompetensi orang yang mereka sukai, sementara anggota subkelompok underpersonal tidak memiliki kecenderungan ini.
7. Dalam kelompok cocok, orang diprediksi menjadi orang yang fokus (anggota penting) dan mereka yang diprediksi menjadi anggota pendukung utama akan menganggap satu sama lain tinggi dalam hubungan “kecocokan dengan”
8. Orang yang fokus (anggota penting) akan dipilih sebagai kelompok oleh anggota di semua kelompok.
9. Efek kecocokan pada produktivitas bervariasi sebagai fungsi dari tingkat pertukaran dalam tiga bidang kebutuhan yang diperlukan oleh fungsi.
Postulat 4 menyatakan bahwa tiap hubungan antar personal mengikuti arah pengembangan dan resolusi yang sama yaitu, bahwa perkembangan dimulai dengan kepedulian terhadap kebutuhan keterlibatan (inclusion), diikuti dengan kepedulian terhadap kontrol dan terakhir dengan emosi. Resolusi mengikuti aturan yang berkebalikan.
Segera setelah kelompok terbentuk, fase inklusi dimulai. Ketika orang dihadapkan satu sama lain, mereka menjadi peduli tentang keterlibatan dalam kelompok. Keputusan harus diambil mengenai apakah menjadi anggota kelompok, yang melibatkan pertanyaan seputar posisi seseorang dalam kelompok, pentingnya kelompok, identitas pribadi seseorang, sejauh mana komitmen terhadap kelompok dsb. Fase perkembangan kelompok ini seringkali ditunjukkan dengan banyaknya pembahasan masalah yang tidak begitu menarik setiap orang. Menurut Schutz, pembahasan seperti ini tidak bisa dihindari dan memenuhi fungsi kerja penting pada maslaah terkait kebutuhan keterlibatan.
Setelah masalah keterlibatan terselesaikan, masalah kontrol menjadi fokus. Disini, muncul masalah pengambilan keputusan. Ini melibatkan beragam masalah terkait distribusi tanggung jawab, kekuasaan dan kontrol. Tiap orang dalam kelompok berupaya menyusun situasi untuk mencapai jumlah tanggung jawab yang tepat dalam kelompok.
Dengan asumsi bahwa masalah kontrol terpecahkan, kelompok bergerak ke fase emosi. Disini, kelompok telah terbentuk, dan masalah tanggung jawab dan distribusi kekuasaan terselesaikan; yang tersisa adalah masalah integrasi emosi. Pada tahap perkembangan ini, ekspresi permusuhan, marah dan semacamnya umum terjadi. Tiap anggota berupaya membangun posisi yang paling nyaman terkait pertukaran emosi.
lalu kontrol dan inkluasi (atau mungkin bisa dikatakan eksklusi / ketidakterlibatan!).
Schutz menggunakan analisis perkembangan kelompok untuk mendapatkan teorema tertentu tentang kecocokan pada berbagai tahap dalam sejarah kelompok. Secara umum, ia mengatakan bahwa anggota kelompok tertentu akan merasa sangat cocok ketika kelompok berada pada tahap yang mirip dengan kecocokan umum terbesar; yaitu, jika kelompok memiliki inclusion compatibility yang tinggi dan control dan affection compatibility rendah, anggota akan merasa paling nyaman selama fase inklusi; jika control compatibility tinggi dan dua lainnya rendah, mereka akan merasa sangat cocok pada fase kontrol; dan begitu seterusnya.
Aplikasi Teori FIRO dalam kehidupan
Pada dasarnya setiap kita memulai hidup dalam suatu lingkungan tatanan tertentu kita pasti akan berkeinginan untuk bisa berhubungan interpersonal dengan orang lain. Hal itu tidak lain karena memang kita ini adalah makhul sosial, yang pastinya selalu membutuhkan orang lain dalam hidup. Hal itu guna tak lain juga kebutuhan antarpribadi kita terpenuhi yaitu kebutuhan untuk berasosiasi, kebutuhan mengontrol perilaku kita, kebutuhan untuk akrab atau hasrat mempunyai teman.
Contoh aplikasi dalam kasus. Ketika ada murid baru masuk ke kelas kita, ketika kita masih di sekolah menengah, misalnya, dia sebagai anak baru tentu merasa atau setidaknya berkeinginan mempunyai teman, ingin diakui oleh teman-teman, dan juga ingin dihargai oleh mereka yang sudah lebih dahulu ada di kelas. Kebutuhan-kebutuhan untuk semua itu merupakan aspek pokok yang pertama kali dirasakan oleh anak baru tadi. Selanjutnya, setelah itu semua terpenuhi, maka segala kemungkinan terjadinya proses komunikasi bisa berlangsung, bergantung kepada keinginan dari anak tadi atau malahan adanya keinginan dari salah seorang murid di kelas itu untuk mengajaknya bergabung dalam bidang tertentu.
mendalam untuk lebih memahami perilaku manusia yang akan membantu untuk melakukan proses:
memperbaiki hubungan manusia
menciptakan berperforma tinggi dan bersama tim membangun kepercayaan
meningkatkan kepemimpinan
membangun hubungan bisnis yang lebih baik
Diterapkan dalam pembangunan lokakarya dan organisasi di seluruh dunia, yang penting konsep-konsep Teori FIRO adalah untuk:
membentuk sebuah lingkungan kerja
meningkatkan tanggung jawab masing-masing meningkatkan kesadaran diri
Banyak ilmiah instrumen penilaian dan pengembangan sumber daya manusia di bidang mereka telah berakar teori FIRO.
Kritik dan Evaluasi
mengapa seseorang mencontoh perilaku tertentu, tetapi tidak bisa begitu saja digunakan untuk memperdiksi perilaku antar personal.
Schutz bergantung pada dua jenis bukti untuk mendukung teorinya: tulisan ahli teori lain dan data percobaan. Jenis bukti ini digunakan untuk membangun “validitas” postulat. Penelitian observasional pada hubungan orangtua-anak dan pernyataan teoretis dari psikoanalis dikutip sebagai bukti validitas postulat 1 dan 2. Beberapa penelitian empirisnya juga dilaporkan sebagai bukti parsial untuk postulat 2. Postulat 3 dievaluasi dengan data percobaan dari penelitiannya sendiri (Schutz, 1955, 1958). Dalam penelitian pertamanya, ia mampu menunjukkan bahwa kelompok yang cocok lebih efektif untuk fungsi-fungsi tertentu dibanding kelompok yang tidak cocok, tetapi seperti ditulis di atas, hanya tiga dari 9 teorema yang tanpa ragu didukung penelitian selanjutnya. Postulat akhir tentang perkembangan dan resolusi kelompok didukung data dari Bennis dan Shepard (1956), yang didasarkan pada pengamatan terhadap kelompok yang melakukan latihan sensitivitas.
Sejak perumusan awal teori, beberapa penelitian melaporkan hasil yang secara umum sejalan dengan teori ini. Schutz (1961) melaporkan satu penelitian dimana lima kelompok yang terdiri dari 14 orang dibentuk berdasarkan responnya terhadap kuesioner yang dirancang untuk mengukur perilaku relatif terhadap tiga kebutuhan antar personal (kuesioner FIRO-B). Setelah enam kali pertemuan, tiga dari lima kelompok mampu mengidentifikasi kelompok mereka lebih baik, satu hampir akurat, dan satu gagal. Perbedaan perilaku juga sesuai dengan pengharapan teoretis. Yalom dan Ram (1966) mengamati hubungan antara kecocokan dan keeratan pada kelompok terapi pasien rawat jalan. Mereka menemukan bahwa kelompok yang sangat cocok, terlihat dari kuesioner FIRO-B, secara signifikan lebih erat dan puas dibanding kelompok dengan kecocokan rendah.
memiliki interchange compatibility tinggi (Lundgren, 1975). Dalam penelitian kedua, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kecocokan kebutuhan antar personal antara anggota dan pelatih memiliki pengaruh penting pada sikap evaluatif anggota terhadap pelatih atau kelompok secara keseluruhan (Lundgren & Knight, 1977).
Satu upaya menguji prediksi FIRO pada pasangan remaja juga memberikan hasil yang tidak signifikan (Armstrong & Roback, 1977). Namun, inklusi dan emosi dengan skala Ohio Social Acceptance (Lorber, 1970) dan kontrol dimanipulasi dengan situasi dilema tahanan. Tidak jelas sejauh mana Armstrong dan Roback mengukur kebutuhan yang sama seperti kuesioner FIRO-B. Namun, data ini tidak bisa diterima sebagai pendukung teori.
Terakhir, perlu dicatat bahwa Schutz telah menerapkan teori pada masalah “pengembangan kesadaran manusia” (Schutz, 1967). Ia menyatakan bahwa masalah perkembangan kelompok terjadi dalam keseharian dan kegagalan memecahkan masalah terkait ketiga kebutuhan antar personal seringkali menghasilkan ketidakbahagiaan dan ketidakpuasan dalam hubungan keseharian antar individu. Dalam satu penerapan teori yang menarik, ia menunjukkan bagaimana individu yang kesulitan dalam ketiga bidang kebutuhan antar personal bisa mengembangkan teknik untuk menghadapinya secara lebih tepat.
Sumber:
Social Learning Theory
Tokoh PenemuMundare Alberta, Kanada. Ia dididik di sekolah dasar kecil dan dalam satu sekolah tinggi, dengan sedikit sumber dalam pengajaran, namun mendapatkan tingkat keberhasilan yang luar biasa.
Setelah tamat SMA, Albert Bandura bekerja pada saat musim panas untuk mengisi kekosongan di Alaska Highway di Yukon. Pada saat di Lowa, Albert Bandura bertemu dengan Virginia Varns. Virginia Vans adalah seorang pengajar di sekolah perawatan. Mereka kemudian menikah dan mempunyai dua anak perempuan.
Albert Bandura menempuh pendidikan kesarjanaannya di bidang psikologi klinis di Universitas Iowa dan pada tahun 1952 ia mencapai gelar Ph.D. Pada tahun 1953, dia mulai mengajar di Universitas Stanford dan di mana kini ia menjadi Profesor David Starr dalam bidang Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandura juga merupakan seorang presiden dari APA, pada tahun 1973. Albert Bandura juga pernah bekerja sebagai Ketua Jurusan Psikologi Stanford dan pada tahun 1974 dan ia terpilih menjadi Ketua American Psychological Association. Pada tahun 1980 Bandura menerima APA's Award untuk Para Scientific Contribution.
Latar belakang teori
Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.
menghindari apa yang subyektif, internal, dan tidak bisa diakses seperti mental. Pada percobaan metode, prosedur standar adalah untuk memanipulasi satu variabel, dan kemudian mengukur dampak yang lain. Semua ini masuk ke dalam teori kepribadian yang mengatakan bahwa satu dari lingkungan menyebabkan satu aktivitas.
Penelitian Bandura juga mencakup banyak masalah yang bersifat sentral untuk teori belajar sosial, dan lewat penelitian-penelitian itu teorinya dipertajam dan diperluas.
Bersama Richard Walters sebagai penulis kedua, Bandura menulis Adolescent Aggression (1959), suatu laporan terinci tentang sebuah studi lapangan dimana prinsip-prinsip belajar sosial dipakai untuk menganalisis perkembangan kepribadian sekelompok remaja pria dari kelas menengah. Disusul dengan Social Learning and Personality Development (1963), sebuah buku dimana ia dan Walters memaparkan prinsip-prinsip belajar sosial yang telah mereka kembangkan beserta evidensi atau bukti yang menjadi dasar bagi teori tersebut.
Pada tahun 1969, Bandura menerbitkan Principles of behavior modification, dimana ia menguraikan penerapan teknik-teknik behavioral berdasarkan prinsip-prinsip belajar dalam memodifikasi tingkah laku dan pada tahun 1973, Aggression: A social learning analysis. Bandura menerbitkan buku Social Learning Theory (Teori Belajar Sosial), sebuah buku yang diubah arah mengambil psikologi pada tahun 1980-an. Dalam bukunya yang secara teoretis ambisius, Social Learning Theory (1977), ia telah “berusaha menyajikan suatu kerangka teoretis yang terpadu untuk menganalisis pikiran dan tingkah laku manusia”.
lain. Artinya, sambil mengamati tingkah laku orang lain, individu-individu belajar mengimitasi atau meniru tingkah laku tersebut atau dalam hal tertentu menjadikan orang lain model/contoh bagi dirinya.
Miller dan Dollard, dalam bukunya terbitan 1941, Social learning and imitation, telah mengakui peranan penting proses-proses imitatif dalam perkembangan kepribadian dan telah berusaha menjelaskan beberapa jenis tingkah laku imitatif tertentu. Tetapi hanya sedikit pakar lain peneliti kepribadian mencoba memasukan gejala belajar lewat observasi ke dalam teori-teori belajar mereka, bahkan Miller dan Dollard pun jarang menyebut imitasi dalam tulisan-tulisan mereka yang kemudian. Bandura tidak hanya berusaha memperbaiki kelalaian tersebut, tetapi juga memperluas analisis terhadap belajar lewat observasi ini melampaui jenis-jenis situasi terbatas yang ditelaah oleh Miller dan Dollard.
Teori Social Learning berfokus pada teori pembelajaran yang terjadi dalam konteks social. Teori ini menganggap bahwa orang-orang belajar dari satu sama lain, termasuk dalam konsep-konsep pembelajaran seperti pengamatan, peniruan, dan pencontohan. Dalam teori ini Albert Bandura dianggap sebagai pemimpin dari pendukung teori ini.
Menurut Bandura, walaupun prinsip belajar sosial cukup menjelaskan dan meramalkan perubahan tingkah laku, namun prinsip itu harus memperhatikan dua fenomena penting yang diabaikan atau ditolak oleh paradigma behaviorisme, yaitu;
Pertama, Bandura berpendapat manusia dapat berfikir dan mengatur tingkah lakunya sendiri, sehingga mereka bukan semata-mata tidak menjadi objek pengaruh lingkungan. Demikian juga sifat kausal yang tidak dimiliki sendiri oleh lingkungan, melainkan juga dimiliki oleh manusia, karena manusia dan lingkungan saling mempengaruhi.
Teori Belajar Sosial (Social Learing Theory) dari Bandura didasarkan pada tiga konsep :
1. Determinis Resiprokal (reciprocal determinism):
Pendekatan yang menjelaskan tingkah laku manusia dalam bentuk interaksi timbal-balik yang terus menerus antara determinan kognitif, behavioral dan lingkungan. Orang menentukan/mempengaruhi tingkah-lakunya dengan mengontrol lingkungan, tetapi orang itu juga dikontrol oleh kekuatan lingkungan itu. Determinis resiprokal adalah konsep yang penting dalam teori belajar sosial Bandura, menjadi pijakan Bandura dalam memahami tingkah laku. Teori belajar sosial memakai saling-determinis sebagai prinsip dasar untuk menganalisis fenomena psiko-sosial di berbagai tingkat kompleksitas, dari perkembangan intrapersonal sampai tingkah laku interpersonal serta fungsi interaktif dari organisasi dan sistem sosial.
2. Beyond Reinforcement
Bandura memandang teori Skinner dan Hull terlalu bergantung pada renforsemen. Jika setiap unit respon sosial yang kompleks harus dipilah-pilah untuk direforse satu persatu, bisa jadi orang malah tidak belajar apapun. Menurutnya, reforsemen penting dalam menentukan apakah suatu tingkah laku akan terus terjadi atau tidak, tetapi itu bukan satu-satunya pembentuk tingkah laku. Orang dapat belajar melakukan sesuatu hanya dengan mengamati dan kemudian mengulang apa yang dilihatnya. Belajar melalui observasi tanpa ada renforsemen yang terlibat, berarti tingkah laku ditentukan oleh antisipasi konsekuensi, itu merupakan pokok teori belajar sosial.
3. Kognisi dan Regulasi diri (Self-regulation/cognition):
mengatur lingkungan, menciptakan dukungan kognitif, mengadakan konsekuensi bagi tingkah lakunya sendiri.
Bandura melukiskan :
Teori Belajar Sosial berusaha menjelaskan tingkah laku manusia dari segi interaksi timbal-balik yang berkesinambungan antara faktor kognitif, tingkahlaku, dan faktor lingkungan. Dalam proses determinisme timbal-balik itulah terletak kesempatan bagi manusia untuk mempengaruhi nasibnya maupun batas-batas kemampuannya untuk memimpin diri sendiri (self-direction). Konsepsi tentang cara manusia berfungsi semacam ini tidak menempatkan orang semata-mata sebagai objek tak berdaya yang dikontrol oleh pengaruh-pengaruh lingkungan ataupun sebagai pelaku-pelaku bebas yang dapat menjadi apa yang dipilihnya. Manusia dan lingkungannya merupakan faktor-faktor yang saling menentukan secara timbal balik (Bandura, 1977)
Teori Belajar Sosial dari bandura yang paling luas diteliti adalah Efikasi Diri dan Penelitian Observasi (Penelitian Modeling).
a. Efikasi Diri
Dua pengertian penting :
1. Efikasi diri atau efikasi ekspektasi (self effication – efficacy expectation) adalah “Persepsi diri sendiri mengenai seberapa bagus diri dapat berfungsi dalam situasi tertentu.“ Efikasi diri berhubungan dengan keyakinan bahwa diri memiliki kemampuan melakukan tindakan yang diharapkan.
2. Ekspektasi hasil (outcome expectation): perkiraan atau estimasi diri bahwa tingkah laku yang dilakukan diri itu akan mencapai hasil tertentu.
Efikasi adalah penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bias atau tidak bias mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Efikasi ini berbeda dengan aspirasi (cita-cita), karena cita-cita menggambarkan sesuatu yang ideal yang seharusnya (dapat dicapai), sedang efikasi menggambarkan penilaian kemampuan diri.
operasi itu sangat tergantung kepada daya tahan jantung pasien, kemurnian obat abtibiotik, sterilisasi dan infeksi, dsb.
Sumber Efikasi Diri
Perubahan tingkah laku, dalam system Albert Bandura kuncinya adalah perubahan ekspektasi efikasi (efikasi diri). Efikasi diri atau keyakinan kebiasaan diri itu dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan atau diturunkan, melalui salah satu atau kombinasi empat sumber yakni :
1. Pengalaman menguasai sesuatu prestasi (performance accomplishment), 2. Pengalaman Vikarius (vicarious experience),
3. Persuasi Sosial (Social Persuation) dan
4. Pembangkitan Emosi (Emotional/Psysilogical states).
b. Belajar Melalui Observasi
Menurut Albert Bandura, kebanyakan proses belajar terjadi tanpa renforsemen yang nyata. Dalam penelitiannya, ternyata orang dapat mempelajari respon baru dengan melihat respon orang lain, bahkan belajar tetap terjadi tanpa ikut melakukan hal yang dipelajari itu, dan model yang diamatinya juga tidak mendapat renforsemen dari tingkahlakunya. Belajar melalui observasi jauh lebih efisien dibanding belajar melalui pengalaman langsung. Melalui observasi orang dapat memperoleh respon yang tidak terhingga banyaknya, yang mungkin diikuti dengan hubungan dan penguatan.
- Peniruan (modelling) : Inti dari belajar melalui observasi adalah modelling. Peniruan atau meniru sesungguhnya tidak tepat untuk mengganti kata modeling, karena modeling bukan sekedar menirukan atau mengulangi apa yang dilakukan orang model (oranglain), tetapi modeling melibatkan penambahan dan atau pengurangan tingkahlaku yang teramati, menggenaralisir berbagai pengamatan sekaligus, melibatkan proses kognitif.
kemampuan kognitif. Stimuli berbentuk tingkahlaku model ditransformasikan menjadi gambaran mental, dan yang lebih penting lagi ditransformasikan menjadi simbol verbal yang dapat diingat kembali suatu saat nanti.
- Modeling Mengubah Tingkah laku lama : Ada dua dampak modeling terhadap tingkah laku lama : pertama, tingkah laku model yang diterima secara sosial dapat memperkuat respon yang sudah dimiliki pengamat. Kedua, tingkah laku model yang tidak diterima secara sosial dapat memperkuat atau memperlemah pengamat untuk melakukan tingkah laku yang tidak diterima secara sosial, tergantung apakah tingkahlaku model itu diganjar atau dihukum.
- Modeling Simbolik: Dewasa ini sebagian besar tingkahlaku berbentuk simbolik. Film dan televisi menyajikan contoh tingkahlaku yang tidak terhitung yang mungkin mempengaruhi pengamatnya. Sajian itu berpotensi sebagai sumber model tingkah laku.
- Modeling Kondisioning: Modeling dapat digabung dengan kondisioning klasik menjadi kondisioning klasik vikarius (vicarious classical conditioning). Modelilng semacam ini banyak dipakai untuk mempelajari respon emosional.
Asumsi
Asumsi dasar dari Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning ini adalah sebagian besar tingkah laku individu diperoleh dari hasil belajar melalui pengamatan dan peniruan atas tingkah laku yang ditampilkan oleh individu – individu lain yang menjadi contoh nya.
dilihatnya dan reinforcement/ punishment berfungsi sebagai sumber informasi bagi seseorang mengenai tingkah laku mereka.
Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.
Teori belajar sosial ini menjelaskan bagaimana kepribadian seseorang berkembang melalui proses pengamatan, di mana orang belajar melalui observasi atau pengamatan terhadap perilaku orang lain terutama pemimpin atau orang yang dianggap mempunyai nilai lebih dari orang lainnya. Istilah yang terkenal dalam teori belajar sosial adalah modeling (peniruan).
Satu konsep penting yang dikemukakan Bandura adalah reciprocal determinism, yaitu seseorang akan bertingkah laku dalam suatu situasi yang ia pilih secara aktif. Dalam menganalisis perilaku seseorang, ada tiga komponen yang harus ditelaah yaitu individu itu sendiri (P: person), lingkungan (E: environment), serta perilaku si inidividu tersebut (B: behavior). Individu akan memunculkan satu bentuk perilaku yang sama meskipun lingkungannya serupa, namun individu akan bertindak setelah ada proses kognisi atau penilaian terhadap lingkungan sebagai stimulus yang akan ditindaklanjuti. Bandura menyatakan bahwa kognisi adalah sebagai tingkah laku perantara dimana persepsi diri kita mempengaruhi tingkah laku.
Self Efficacy
Peran Self Efficacy dalam Pembelajaran Sosial adalah sebuah variable penting yang mempengaruhi apakah terjadi pembelajaran social atau tidak adalah persepsi atas kemampuan diri (self efficacy), atau penilaian orang mengenai kemampuannya untuk menggunakan control atas tingkat kinerja mereka dan kejadian-kejadian yang mempengaruhi kehidupannya. Menurut Bandura (1994) yang menyebutkan bahwa “pengaruh-pengaruh pencontohan harus didesain untuk membangun self efficacy dan juga menyampaikan ilmu pengetahuan dan aturan tingkah laku” (halaman 81). Banyak kampanye komunikasi yang ditujukan pada perubahan prilaku orang tidak hanya akan memperagakan prilaku-prilaku tetapi juga berusaha untuk menarik atau meningkatkan perasaan self efficacy anggota.
Ini adalah persepsi seseorang mengenai kemampuannya didalam menghadapi suatu situasi. 2 komponen dalam Self efficacy adalah:
1. Outcome expectations : perkiraan individu bahwa suatu outcome tertentu akan muncul dan pengetahuan mengenai apa yang harus dilakukan.
2. Efficacy expectations : keyakinan bahwa ia bisa melakukannya atau tidak.
laku seseorang. Segala tingkah laku, bisa tingkah laku dalam bekerja, akademis, rekreasi, sosial dipengaruhi oleh self efficacy.
Expectancy adalah variabel kognitif dalam hubungan antara stimulus dan respon. Outcome expectancy adalah antisipasi dari hubungan yang sistematik antara kejadian-kejadian atau objek-objek dalam suatu situasi. Bentuknya adalah “jika-maka” antara perilaku dan hasilnya. Gagalnya suatu peristiwa mengikuti bentuk “jika-maka” yang ada dalam pola pikir individu, maka jika harapan dari individu terlalu tinggi dan tidak dapat tercapai, individu tersebut akan lebih mudah mengalami gangguan karena ketidaknyamanan yang ia alami.
Self Regulation
Self regulation adalah kemampuan individu untuk mengatur perilakunya sendiri dengan internal standard dan penilaian untuk dirinya. Konsep ini menjelaskan mengapa manusia bisa mempertahankan perilakunya walaupun tidak adanya rewards yang berasal dari lingkungan eksternal. Konsep ini tidak dapat berjalan tanpa adanya internal standards seseorang.
Internal standards adalah pemikiran yang berasal dari pengaruh modelling sebelumnya dan juga berbagai reinforcement yang lalu. Dengan adanya pemaknaan terhadap fenomena tertentu yang menurutnya baik atau bernilai, maka nilai-nilai tersebut menjadi patokan nilai internal individu yang bersangkutan. Semakin tinggi internal standard seseorang, semakin besar harapannya untuk mencapai nilai tersebut dan semakin besar pula kemungkinan individu tersebut mengalami gangguan-gangguan.
Aplikasi
Social Learning Theory atau teori pembelajaran social dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, contoh nya adalah sebagai berikut:
1. Siswa sering belajar banyak sekali hanya dengan melihat orang lain. 2. Menjelaskan konsekuensi dari perilaku yang dapat secara efektif
Hal ini dapat melibatkan peserta didik dengan membahas tentang imbalan dan konsekuensi dari berbagai perilaku.
3. Menyediakan alternatif untuk membentuk perilaku baru untuk mengajar.Daripada menggunakan bentuk, dalam kondisi biasa model dapat mempercepat keefesiensian untuk proses belajar membentuk prilaku baru. Untuk mempromosikan keefektifan model, seorang pengajar harus memastikan bahwa ada empat syarat penting yaitu, perhatian, ingatan, alat reproduksi dan motivasi.
4. Guru dan orang tua harus tepat dalam berprilaku dan menjaga mereka untuk tidak bersikap tidak pantas.
5. Guru harus menekspos siswa untuk mengetahui berbagai macam bentuk model komunikasi. Teknik ini sangat penting untuk membongkar stereotip tradisional.
6. Siswa harus yakin bahwa mereka dapat menyelesaikan tugas sekolah. Sehingga sangat penting untuk mengembangkan rasa percaya diri bagi siswa. Guru juga dapat mempromosikan diri dengan keberhasilan siswa dengan membangun keyakinan pada diri siswa, menerima pesan, melihat orang lain berhasil, dan pengalaman sukses mereka sendiri.
7. Guru harus membantu siswa menetapkan harapan yang realistis bagi mereka untuk menyelesaikan akademik nya. Pada umumnya, di dalam kelas itu dimaksudkan untuk membuat kepastian bahwa pengharapan tidak terlalu rendah. Namun, kadang-kadang tugas di luar kemampuan siswa, akan menjadi penyakit atau masalah yang sulit diselesaikan bagi siswa. 8. Teknik Self-Regulation menyediakan metode yang efektif untuk
meningkatkan perilaku siswa.
yang pantas untuk dijadikan role model (sesuai bidang masing-masing) untuk hadir ke ruang kelas.
Namun menurut Bandura, dia mengusulkan tiga macam pendekatan treatment, yakni:
1. Latihan Penguasaan (desensitisasi modeling):
Mengajari klien menguasai tingkah laku yang sebelumnya tidak bisa dilakukan (misalnya karena takut). Treatmen konseling dimulai dengan membantu klien mencapai relaksasi yang mendalam. Kemudian konselor meminta klien membayangkan hal yang menakutkannya secara bertahap. Misalnya, ular, dibayangkan melihat ular mainan di etalase toko. Kalau klien dapat membayangkan kejadian itu tanpa rasa takut, mereka diminta membayangkan bermain-main dengan ular mainan, kemudian melihat ular dikandang kebun binatang, kemudian menyentuh ular, sampai akhirnya menggendong ular. Ini adalah model desensitisasi sistemik yang pada paradigma behaviorrisme dilakukan dengan memanfaatkan variasi penguatan. Bandura memakai desensitisasi sistematik itu dalam pikiran (karena itu teknik ini terkadang disebut; modeling kognitif) tanpa memakai penguatan yang nyata.
2. Modeling terbuka (modeling partisipan):
Klien melihat model nyata, biasanya diikuti dengan klien berpartisipasi dalam kegiatan model, dibantu oleh modelnya meniru tingkah laku yang dikehendaki, sampai akhirnya mampu melakukan sendiri tanpa bantuan. 3. Modeling Simbolik:
Klien melihat model dalam film, atau gambar/cerita. Kepuasan pikarious (melihat model mendapat penguatan) mendorong klien untuk mencoba/ meniru tingkah laku modelnya.
Kritik & Evaluasi Kritik terhadap Bandura
dan tidak diakui sebagai bagian dari behavioristik. Penyebab utamanya karena pandangan Bandura yang kental aspek mentalnya.
Sumber
Hall, Calvis S. & Gardner Lindzey. 1993. Teori-teori Sifat dan Behavioristik. Yogyakarta.: Penerbit Kanisius.
Rakhmat, Jalaluddin. 2003. Psikologi Komunikasi- Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Uchjana, Onong. 1993. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Interpersonal Deception Theory
Tokoh Penemu
Tokoh dibalik Interpersonal Deception Theory adalah Judee K. Burgoon dan David B. Buller. Kedua ilmuan komunikasi inilah yang mengemukakan dan mengembangkan teori ini.
JUDEE K. BURGOON
J
mengikuti young republicans dan young democrats pada saat sma. Waktu liburan dan saat musim panasnya sering dihabiskan judee untuk bekerja mencari uang tambahan untuk nanti kuliahnya.
Akhirnya judee meneruskan jenjang kuliahnya ke Iowa State University, dan judee mendapatkan bachelor’s degree nya dengan summa cum laude di tahun 1970. Dan ini diakhirinya dengan double major di bidang pidato / debat bahasa inggris, dan double minor nya di bidang studi sosial dan pendidikan. Hal ini langsung dimanfaatkannya untuk mengajar debat dan pidato, dan mengarahkan ekstrakulikuler debat dan dram di Boone High School.
Pendidikannya tidak henti sampai disitu, judee pun melanjutkan kuliahnya di Illinois State University, dan pada tahun 1972 judee mendapatkan gelar M.S. nya di bidang speech communication, dan dua tahun kemudian pada 1974 judee menyelesaikan gelar doktornya di bidang komunikasi bersamaan dengan pendidikan psikologinya di West Virginia University.
Setelah tiga tahun sebagai asisten profesor dan Direktur Forensics di University of Florida, saya mengambil posisi sebagai Wakil Presiden pada penelitian komunikasi untuk Louis Harris and Associates di kota New York. Dan pada akhirnya, tahun 1984, judee menjadi professor komunikasi pada fakultas komunikasi di University of Arizona.
Nama belakangnya, “Burgoon”, diambil dari nama suaminya yaitu Michael Burgoon. Menikah di tahun 1974, dan dikaruniai seorang anak perempuan yang bernama Erin Mikaela. Mereka bertiga hidup dan berkembang di sonorant desert.
Dr. Buller adalah seorang ahli ilmu pengetahuan senior dan pemimpin penelitian di KB. Formerly, dia memegang jabatan di Harold simmons Chair untuk komunikasi kesehatan di institute cooper dan pemimpin dari institute denver dan memusatkan dirinya di bidang komunikasi kesehatan. Dr. buller memperoleh gelar sarjana kependidikan di komunikasi dari universitas Michigan dan sebuah gelar M.A dalam komunikasi bahasa di universitas auburn. Dr. buller adalah PI dalam sejumlah study komunikasi kesehatan, termasuk nutrisi, pencegahan kanker kulit dan pencegahan tembakau dan penghentian program-program untuk anak remaja dan populasi remaja. Dia juga sudah membuat program-program kebijakan untuk sekolah dan administrasi kesehatan pemerintah. Di adalah penulis dari buku Sunny Days, kurikulun sekolah dasar Healthy Ways, dia sudah menulis atau membantu menulis lebih dari 100 artikel, buku-buku dan bab-bab buku. Penelitian Dr. buller sudah dibiayai oleh institute kanker nasional, pusat untuk penanggulangan penyakit dan pencegahan, yayasan Robert wood Johnson, dan yayasan peneliatian kanker Amerika.
Latar Belakang Teori.
Dapat dilihat dari kehidupan sehari – hari pastinya kita sebagai makhluk sosial tidak bisa lepas dari interaksi antar individu. Tentunya dalam interkasi tersebut kita sebagai individu memasang settingan diri kita sebagus – bagusnya di depan individu yang lain. Dengan kata lain, pengakuan sosial tentunya jadi yang utama saat kita sedang berinteraksi antar individu. Dalam kegiatan kita sehari – hari tentunya kita menemui berbagai macam individu lain yang selalu berhubungan dengan kita, dan tentu intensitas kita untuk berinteraksi kepada tiap orang berbeda – beda. Ini menimbulkan pula sikap kita yang berbeda – beda pada setiap orang.
arah, menghalalkan berbagai macam cara untuk tercapainya tujuan tersebut, yaitu diakui benar, dan seolah – olah kredibel di depan lawan bicaranya. Cara yang ditempuh yang sudah sangat sering adalah dengan cara berbohong.
Perspektif ilmu komunikasi, berbohong mempunyai teori tersendiri yang membahasnya, yaitu “Interpersonal Deception Theory” atau Teori Penipuan Antar Individu. Kapan berbohong itu efektif digunakan ? bagaimana cara berbohong yang biasa dilakukan ? apa ciri – ciri pembohong ? kenapa orang harus berbohong ? ada berapa pembohong di sekitar kita ?, pertanyaan – pertanyaan tersebut akan coba dijawab dengan terbentuknya makalah ini, yang akan membahas tuntas tentang “Interpersonal Deception Theory” .
“Interpersonal Deception Theory” itu sendiri dikemukakan untuk berbagai alasan, biasanya teori ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana orang menghindari tindakan menyakiti orang lain dengan cara berbohong, atau bisa untuk menjelaskan bagaimana cara orang lain berbohong untuk menyerang orang lain, berpura – pura empati, menghindari masuk kedalam konflik, dan masih banyak lagi kebiasaan seseorang yang ada kaitannya dengan memanipulasi pernyataan mereka dengan kebohongan dijelaskan oleh teori “Interpersonal Deception” ini.
Tujuan dibuatnya makalah yang membahas “Interpersonal Deception Theory” ini adalah untuk menyadarkan kita betapa pentingnya kita untuk mengetahui tingkat kebohongan yang terjadi pada lingkungan dan kehidupan kita sehari – hari. Dan di dalam makalah ini dicantumkan beberapa contoh kasus, maksudnya supaya pembaca bisa menganalisis sendiri atau bahkan belajar berkomunikasi efektif menggunakan “Interpersonal Deception Theory”. Dan diharapkan setelah membaca makalah ini kita sebagai makhluk komunikasi, bisa lebih mengupgrade kemampuan kita dalam bidang ilmu komunikasi. Demikian, semoga makalah ini bisa berguna dan menjadi panduan yang baik.
mengembangkan Motivation Impairment Effect (MIE). MIE menyatakan bahwa semakin orang berupaya membohongi orang lain, mereka semakin cenderung ketahuan. Namun, Burgoon dan Floyd, meninjau kembali penelitian ini dan membentuk pemikiran bahwa dalam berusaha membohong, pembohong lebih aktif dibanding yang diperkirakan kebanyakan orang.
IDT dikembangkan oleh dua profesor komunikasi, David B. Buller dan Judee K. Burgoon. Sebelum penelitiannya, kebohongan tidak begitu dianggap sebagai aktivitas komunikasi. Penelitian sebelumnya difokuskan pada perumusan prinsip-prinsip kebohongan. Prinsip-prinsip ini didapat dengan mengevaluasi kemampuan mendeteksi kebohongan oleh individu yang mengamati komunikasi satu arah (unidirectional). Penelitian awal ini menemukan bahwa "meskipun manusia jauh dari sempurna dalam upayanya mendiagnosis kebohongan, mereka cukup baik pada fungsi-fungsi dibanding yang dihasilkan hanya dari kebetulan". Buller dan Burgoon mereduksi nilai penelitian yang sangat terkontrol – biasanya percobaan komunikasi satu-arah – yang dirancang untuk mendapatkan petunjuk yang benar bahwa orang berbohong. Karena itu, IDT didasarkan pada komunikasi dua arah dan ditujukan untuk menggambarkan kebohongan sebagai satu proses komunikasi interaktif.
Paradigma Umum Tentang Interpersonal Deception Theory (IDT)
KONSEP TEORI PERSPEKTIF
Cover in laws Critical System Human Action
Komunikasi Antar Pribadi
Komunikasi Kelompok Komunikasi Organisasi Komunikasi
Komunikasi Massa
perspektif human action. Artinya Interpersonal Deception Theory ini jelas sekali membahas bagaimana dinamika kita ketika sedang berinteraksi dengan individu lain, hubungannya dengan sikap kita ketika melakukan komunikasi dan sikap kita ketika kita berada pada etika komunikasi interpersonal dengan berazaskan human action, terutama pada soal desepsi.
Teori interpersonal deception ini lebih sering diasumsikan sebagai teori untuk “seni mengatakan yang tidak sebenarnya”. Teori ini berupaya menjelaskan pula pola dimana individu berhadapan dengan kebohongan baik benar terjadi, maupun sekedar perasaan pada level sadar dan bawah sadar, ketika melakukan komunikasi tatap muka.
Komunikasi tidak bersifat statis, ia tidak hanya dipengaruhi oleh tujuan seseorang, tetapi juga oleh konteks interaksi yang diungkap. Perilaku pengirim dan pesan dipengaruhi oleh perilaku dan pesan dari penerima, dan begitu sebaliknya. Selain itu, kebohongan berbeda dari komunikasi jujur. Kebohongan yang disengaja membutuhkan sumber kognitif yang lebih dibanding komunikasi jujur. IDT membahas keterkaitan antara konteks komunikatif dan perilaku dan kognisi pengirim dan penerima dalam situasi penuh kebohongan (deceptive).
Buller dan Burgoon menyatakan ada tiga tipe respon yang memungkinkan untuk diberikan kepada lawan bicara kita, ketika kita ingin menyatakan ketidakbenaran atau menutupi kejadian yang sesungguhnya.
sebentar” atau mungkin bisa dengan mengalihkan penuh tema pembicarannya, “ oh ya, saya jadi ingat tentang …bla… bla… bla.. “. Itulah ketiga pendapat buller dan burgoon tentang menyembunyikan kebenaran.
Teori Buller dan Burgoon memberitahukan kita tentang “frame of thingking” mereka dengan menjelaskan fenomena, menuju konsep, proposisi, sampai pada penjelasan yang di dukung oleh fakta dan contoh kasus.
Asumsi
Asumsi Metateoretis 1. Asumsi ontologis:
Sejauh sifat kenyataan, teori kebohongan bersifat sangat manusiawi karena memandang berbagai kenyataan saling bergantung pada berbagai faktor situasional pada individu yang terlibat
2. Asumsi epistemologis:
Dalam hal pengetahuan, teori ini juga bersifat manusiawi. Apa yang ditemukan dari penelitian sepenuhnya bergantung pada siapa yang mempunyai pengetahuan tentang apa yang dibicarakan.
3. Asumsi aksiologis:
Teori IDT bersifat manusiawi dalam segi nilai. Nilai dari individu yang terlibat disimpulkan dari nilai dan pengalaman mereka sendiri.
“Human beings are poor lie detectors in interactive situations. Although strategic deception often results in cognitive overload that leaks out through a deceiver’s communication, respondents usually miss these telltale signs due to a strong truth
bias.
When respondents appear doubtful, deceivers can adjust their presentation to allay
Dari pernyataan Griffin di atas, kita tahu bahwa sebenarnya manusia adalah “pendeteksi” kebohongan yang buruk dalam situasi interaktif. Manusia memiliki ketidakawasan dalam menangkap suatu kebohongan, kadangkala manusia terlalu tertutupi akan bias kebenaran yang diciptakan oleh si pembohong. Manusia sering tidak memperhatikan isyarat – isyarat yang dikeluarkan pembohong secara tidak sengaja, bahkan mungkin terkadang mengandung kelebihan kognitif sehingga pesan yang disampaikan tidak masuk akal.
Perspektif Teoritis
Teori Interpersonal Deception membahas kebohongan melalui lensa teoretis komunikasi antar personal. Pada dasarnya, ia menganggap kebohongan sebagai suatu proses interaktif antara pengirim dan penerima. Berbeda dengan penelitian tentang kebohongan sebelumnya yang memfokuskan pada pengirim dan penerima secara terpisah, IDT memfokuskan pada sifat dyadic (dual), relational (hubungan) dan dialogic (dialog) dari komunikasi penuh kebohongan. Perilaku antara pengirim dan penerima bersifat dinamis, multifungsi, multidimensi dan multimodal.
Komunikasi dyadic berarti komunikasi antara dua orang. Dyad berarti sekelompok terdiri dari dua orang dimana pesan dikirim dan diterima.
Komunikasi relational mengacu pada komunikasi dimana makna yang dibentuk oleh dua orang saling mengisi peran, baik pengirim dan penerima.
Aktivitas dialogic mengacu pada bahasa komunikatif dari pengirim dan penerima, masing-masing mengandalkan satu sama lain dalam pertukaran tersebut.
membina hubungan yang lebih sehat. Kebohongan menggunakan kerangka teori yang sama karena komunikasi dari satu peserta dengan sengaja salah.
Tiga Ciri Pesan Tidak Jujur & Tiga Cara Menyampaikannya 1. Pesan biasanya berupa pesan verbal
2. Pesan tambahan, yang mencakup aspek verbal dan non verbal yang seringkali, seakan – akan mengungkap kebenaran pesan tersebut
3. Perilaku ceroboh yang seringkali nonverbal dan membantu menunjukkan kebohongan dari si pengirim melalui apa yang disebut leakage (kebocoran).
Buller dan Burgoon menyatakan tiga cara strategi yang biasa digunakan untuk menyampaikan suatu desepsi,
1. Falsification
Yaitu menciptakan suatu fiksi kepada lawan bicara 2. Concealment
Yaitu menyembunyikan suatu rahasia 3. Equivocation
Mengalihkan permasalahan
Peran Superordinate dari Konteks dan Hubungan.
Penjelasan IDT tentang kebohongan antar personal tergantung pada situasi dimana interaksi itu terjadi dan hubungan antara pengirim dan penerima.
1. Kognisi dan perilaku pengirim dan penerima bervariasi secara sistematis, karena konteks komunikasi tidak jujur. Memiliki variasi dalam,
a. akses isyarat sosial
b. sifat kesegeraan (terburu – buru) c. keterlibatan relasional
2. Selama pertukaran informasi bohong, perilaku dan kognisi pengirim dan penerima bervariasi secara sistematis karena hubungan memiliki variasi dalam,
a. keakraban relational (termasuk keakraban informasi dan perilaku) b. valensi hubungan
Proposisi & Eksplanasi
Faktor Prainteraksi yang Terkait dengan Aktifitas Komunikasi
Seorang komunikator, individu juga melakukan pendekatan terhadap pertukaran pesan yang tidak jujur dengan mengikutsertakan faktor prainteraksinya sendiri, seperti pengharapan, pengetahuan, tujuan atau maksud, dan kompetensi dari apa yang dibicarakannya. IDT membenarkan bahwa faktor-faktor tersebut mempengaruhi pertukaran pesan secara tidak jujur. Dibandingkan dengan orang yang berkata jujur, pembohong akan,
(a) Terlibat dalam aktivitas strategis yang lebih besar yang dirancang untuk mengelola informasi, perilaku dan citra
(b) menampilkan isyarat kegelisahan nonstrategis (tidak terpikirkan/spontan), (c) memperlihatkan emosi negatif dan memperlihatkan bahwa dirinya sedang “ditekan”
(d) atau bahkan memperlihatkan dirinya tanpa emosi (noninvolvement) dan gerak geriknya memperlihatkan penurunan kinerja bagian organ tertentu
Pengaruh Karakteristik Pra-interaksi terhadap Kemampuan Awal Deteksi dan Penampilan Suatu Kebohongan
1. Interaktivitas konteks menurunkan penampilan awal kebohongan sedemikian rupa sehingga kebohongan dalam konteks yang semakin interaktif menyebabkan :
(a) aktivitas strategis yang lebih besar (informasi, perilaku dan manajemen kesan)
(b) berkurangnya aktivitas nonstrategis (gelisah, emosi negatif atau ditekan, penurunan kinerja) seiring waktu relatif terhadap konteks non-interaktif.
2. Harapan awal komunikator dan komunikan akan kejujuran pesan, berbanding sama dengan tingkat interaktivitas dan positivitas konteks dari hubungan yang dilakukan antara komunikator dan komunikan saat terciptanya komunikasi tersebut.
3. Sebaliknya justru pemahaman deteksi awal pembohong dan aktivitas strategis yang terkait, berhubungan terbalik dengan pengharapan akan kejujuran (yang merupakan fungsi dari interaktivitas konteks dan kepositifan hubungan)
4. Tujuan dan motivasi menurunkan penampilan perilaku strategis dan non-strategis
5. Begitu pengetahuan tetnang informasi, perilaku dan hubungan meningkat, pembohong tidak hanya
(a) lebih memahami deteksi
(b) menunjukkan manajemen informasi,
6. Pengirim yang ahli menyampaikan perilaku penuh kejujuran dengan terlibat dalam perilaku yang lebih strategis dan menunjukkan lebih sedikit kebocoran nonstrategis dibanding yang kurang ahli.
Pembohong biasanya lebih baik dalam mendeteksi kecurigaan dibanding responden dalam mendeteksi kebohongan. Pembohong biasanya membalas pola orang tersebut ketika mencoba berbohong. ‘Othello-error’ – spiral rekursif dari kognisi pengirim dan penerima mempengaruhi perilaku dan kognisi selanjutnya selama interaksi. Deteksi kebohongan adalah masalah coba-coba dan tergantung pada interaksi
Efek Karakteristik Pra Interaksi dan Interaksi Awal terhadap Kognisi Penerima
IDT lebih lanjut menyatakan bahwa faktor pra interaksi, disertai dengan penampilan perilaku awal, mempengaruhi kecurigaan awal penerima dan akurasi deteksi selanjutnya, yaitu
1. Penilaian awal dan selanjutnya dari penerima terhadap kredibilitas pengirim, berbanding lurus dengan
(a) bias kejujuran dari penerima (b) interaktivitas konteks
(c)dan kemampuan bahasa pengirim
Dan ketiga poin ini berbanding terbalik dengan penyimpangan komunikasi pengirim dari pola yang diharapkan.
2. Keakuratan deteksi awal dan selanjutnya berbanding terbalik dengan (a) bias kebenaran penerima
(b) konteks interaktivitas
(c) kemampuan bahasa pengirim
Pola Interaksi Interatif
IDT selanjutnya menggambarkan proses iteratif dari isyarat kecurigaan penerima dan reaksi pengirim terhadap isyarat tersebut, yaitu,
1. Kecurigaan penerima tercermin melalui satu kombinasi perilaku strategis dan non-strategis
2. Pengirim merasakan kecurigaan, jika sudah terlihat,
3. Kecurigaan (yang dirasakan atau sebenarnya) meningkatkan perilaku strategis dan non strategis dari pengirim
4. Isyarat kebohongan dan kecurigaan berubah seiring waktu
5. Proses timbal balik adalah pola adaptasi interaksi yang dominan antara pengirim dan penerima selama kebohongan antar personal
Hasil Pasca Interaksi
Terakhir, IDT menyatakan bahwa interaksi penuh kebohongan memuncak dalam serangkaian penilaian pasca-interaksi tentang kredibiltias pengirim dan kecurigaan penerima. Dengan kata lain, interaksi antara pengirim dan penerima mempengaruhi sejauh mana kredibilitas pengirim menurut penerima dan seberapa besar kecurigaan penerima menurut pengirim.
1. Keakuratan deteksi, bias, dan penilaian penerima terhadap kredibilitas pengirim setelah interaksi merupakan fungsi dari
(a) kognisi penerima (kecurigaan, bias) (b) kemampuan pemahaman penerima (c) isyarat perilaku pengirim.
2. Keberhasilan kebohongan pengirim merupakan fungsi dari kognisi pengirim (kecurigaan yang dirasakan) dan isyarat perilaku penerima.
Peran Penerima (“korban”) dalam IDT
benar, yang paling penting adalah bagaimana pembohong mengatur isyarat verbal dan nonverbalnya. Menurut IDT, semakin besar kesadaran sosial penerima, semakin baik ia mendeteksi kebohongan.
Seberapa besar keberhasilan penerima kebanyakan dalam mendeteksi kebohongan? Tidak begitu berhasil sama sekali, menurut penelitian terakhir. Ini mungkin dikarenakan ada kontrak sosial bahwa orang akan jujur satu sama lain dan percaya orang akan jujur terhadapnya. Jika penipu mulai melakukan pertukaran tidak jujur dengan pernyataan yang akurat dan valid, pernyataan itu mungkin mengarahkan penerima untuk meyakini bahwa cerita pengirim selanjutnya juga benar. Tearkhir, pengirim mempersiapkan penerima untuk menerima informasinya sebagai benar, meskipun beberapa bagian dari dialognya salah. Namun, jika pengirim selalu menggunakan taktik yang sama, penerima akan sadar, dan mungkin menyadari bahwa pengirim sedang berbohong.
Emosi yang Muncul dalam Bahasan IDT
Emosi berperan penting dalam IDT, baik sebagai motivator dan hasil kebohongan. Emosi bisa menjadi “motivator” kebohongan, karena pengirim mengandalkan pengetahuan informasi, hubungan dan perilaku untuk mencapai tujuan, seperti kepuasan diri, terhindar dari emosi negatif (kelakuan yang tidak wajar), atau membentuk emosi negatif untuk target kebohongan. Motivator disini adalah pengontrol ktika terjadinya kebohongan. Emosi bisa juga merupakan akibat dari kebohongan karena respon fisik terjadi dalam pengirim, biasanya dalam bentuk kegelisahan dan emosi negatif.
Kebocoran emosi
Ekspresi wajah
Ada delapan emosi dasar yang dikomunikasikan melalui ekspresi wajah: marah, takut, sedih, gembira, muak, ingin tahu, terkejut dan menerima. Emosi ini umumnya dikenali di berbagai budaya. Ada dua “jalur” utama dimana ekspresi ini berkembang: “jalur satu”, ada dari dalam diri, dan “jalur dua” yang tergantung pada proses sosialisasi.
Budaya berbeda memiliki aturan memperlihatkan emosi yang mengatur penggunaan ekspresi wajah. Misalnya, orang Jepang tidak membolehkan menunjukkan emosi negatif. Terkadang, individu merasa sulit mengontrol ekspresi wajah. Wajah bisa “membocorkan” informasi tentang apa yang mereka rasakan. Misalnya, seseorang tidak akan bisa menyembunyikan rasa enak ketika bertemu seseorang yang memiliki cacat luka yang mengerikan, atau ia akan sulit menyembunyikan rasa muak ketika mengobati orang luka atau berhadapan dengan orang yang tidak tahu malu.
Tatapan
Orang menggunakan tatapan mata untuk menunjukkan ancaman, kedekatan dan keingintahuan. Tatapan mata digunakan untuk mengatur giliran dalam percakapan dan merupakan faktor penting dalam memutuskan seberapa besar ketertarikan penerima pada apa yang dikatakan pengirim. Penerima biasanya melihat selama 70-75%, tiap tatapan rata-rata selama 7.8 detik. Jika penerima melihat hanya 15%, mereka bisa dianggap dingin, pesimistis, curiga, defensif, tidak dewasa, menghindar atau tidak peduli. Jika menatap lebih dari 80%, mereka bisa dianggap ramah, percaya diri, natural atau tulus.
Gerak tubuh
Penggunaan gerakan tubuh adalah salah satu bentuk komunikasi budaya yang spesifik di budaya tertentu dan bisa menyebabkan kesalahpahaman dan terkadang hinaan. Misalnya, mengangkat tangan dan meremas ibu jari dan telunjuk bersamaan, digunakan oleh orang Perancis dan terkadang Inggris untuk menunjukkan bahwa sesuatu itu sempurna, akan dianggap vulgar di daerah Mediterania, karena dianggap menunjukkan vagina.