Interpersonal Deception Theory
DAVID B BULLER
Dr. Buller adalah seorang ahli ilmu pengetahuan senior dan pemimpin penelitian di KB. Formerly, dia memegang jabatan di Harold simmons Chair untuk komunikasi kesehatan di institute cooper dan pemimpin dari institute denver dan memusatkan dirinya di bidang komunikasi kesehatan. Dr. buller memperoleh gelar sarjana kependidikan di komunikasi dari universitas Michigan dan sebuah gelar M.A dalam komunikasi bahasa di universitas auburn. Dr. buller adalah PI dalam sejumlah study komunikasi kesehatan, termasuk nutrisi, pencegahan kanker kulit dan pencegahan tembakau dan penghentian program- program untuk anak remaja dan populasi remaja. Dia juga sudah membuat program-program kebijakan untuk sekolah dan administrasi kesehatan pemerintah. Di adalah penulis dari buku Sunny Days, kurikulun sekolah dasar Healthy Ways, dia sudah menulis atau membantu menulis lebih dari 100 artikel, buku-buku dan bab-bab buku. Penelitian Dr. buller sudah dibiayai oleh institute kanker nasional, pusat untuk penanggulangan penyakit dan pencegahan, yayasan Robert wood Johnson, dan yayasan peneliatian kanker Amerika.
Latar Belakang Teori.
Dapat dilihat dari kehidupan sehari – hari pastinya kita sebagai makhluk sosial tidak bisa lepas dari interaksi antar individu. Tentunya dalam interkasi tersebut kita sebagai individu memasang settingan diri kita sebagus – bagusnya di depan individu yang lain. Dengan kata lain, pengakuan sosial tentunya jadi yang utama saat kita sedang berinteraksi antar individu. Dalam kegiatan kita sehari – hari tentunya kita menemui berbagai macam individu lain yang selalu berhubungan dengan kita, dan tentu intensitas kita untuk berinteraksi kepada tiap orang berbeda – beda. Ini menimbulkan pula sikap kita yang berbeda – beda pada setiap orang.
Setiap individu memiliki rasa ingin diakui di dalam kelompok maupun lingkungan sekitarnya, perasaan ini bisa diukur kuat tidaknya dari proses interaksi yang dilakukan individu tersebut pada individu lain yang berada disekitarnya. Melalui pernyataan tersebut kadangkala individu sebagai pelaku komunikasi dua
arah, menghalalkan berbagai macam cara untuk tercapainya tujuan tersebut, yaitu diakui benar, dan seolah – olah kredibel di depan lawan bicaranya. Cara yang ditempuh yang sudah sangat sering adalah dengan cara berbohong.
Perspektif ilmu komunikasi, berbohong mempunyai teori tersendiri yang membahasnya, yaitu “Interpersonal Deception Theory” atau Teori Penipuan Antar Individu. Kapan berbohong itu efektif digunakan ? bagaimana cara berbohong yang biasa dilakukan ? apa ciri – ciri pembohong ? kenapa orang harus berbohong ? ada berapa pembohong di sekitar kita ?, pertanyaan – pertanyaan tersebut akan coba dijawab dengan terbentuknya makalah ini, yang akan membahas tuntas tentang “Interpersonal Deception Theory” .
“Interpersonal Deception Theory” itu sendiri dikemukakan untuk berbagai alasan, biasanya teori ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana orang menghindari tindakan menyakiti orang lain dengan cara berbohong, atau bisa untuk menjelaskan bagaimana cara orang lain berbohong untuk menyerang orang lain, berpura – pura empati, menghindari masuk kedalam konflik, dan masih banyak lagi kebiasaan seseorang yang ada kaitannya dengan memanipulasi pernyataan mereka dengan kebohongan dijelaskan oleh teori “Interpersonal Deception” ini.
Tujuan dibuatnya makalah yang membahas “Interpersonal Deception Theory” ini adalah untuk menyadarkan kita betapa pentingnya kita untuk mengetahui tingkat kebohongan yang terjadi pada lingkungan dan kehidupan kita sehari – hari. Dan di dalam makalah ini dicantumkan beberapa contoh kasus, maksudnya supaya pembaca bisa menganalisis sendiri atau bahkan belajar berkomunikasi efektif menggunakan “Interpersonal Deception Theory”. Dan diharapkan setelah membaca makalah ini kita sebagai makhluk komunikasi, bisa lebih mengupgrade kemampuan kita dalam bidang ilmu komunikasi. Demikian, semoga makalah ini bisa berguna dan menjadi panduan yang baik.
Sigmund Freud mempelajari isyarat nonverbal untuk mendeteksi kebohongan sekitar seabad lalu. Freud mengamati seorang pasien yang diminta mengungkapkan perasaannya yang paling dalam. Jika mulutnya tertutup dan jarinya gemetar, ia dianggap berbohong. Pada tahun 1989, DePaulo dan Kirkendol
mengembangkan Motivation Impairment Effect (MIE). MIE menyatakan bahwa semakin orang berupaya membohongi orang lain, mereka semakin cenderung ketahuan. Namun, Burgoon dan Floyd, meninjau kembali penelitian ini dan membentuk pemikiran bahwa dalam berusaha membohong, pembohong lebih aktif dibanding yang diperkirakan kebanyakan orang.
IDT dikembangkan oleh dua profesor komunikasi, David B. Buller dan Judee K. Burgoon. Sebelum penelitiannya, kebohongan tidak begitu dianggap sebagai aktivitas komunikasi. Penelitian sebelumnya difokuskan pada perumusan prinsip-prinsip kebohongan. Prinsip-prinsip ini didapat dengan mengevaluasi kemampuan mendeteksi kebohongan oleh individu yang mengamati komunikasi satu arah (unidirectional). Penelitian awal ini menemukan bahwa "meskipun manusia jauh dari sempurna dalam upayanya mendiagnosis kebohongan, mereka cukup baik pada fungsi-fungsi dibanding yang dihasilkan hanya dari kebetulan". Buller dan Burgoon mereduksi nilai penelitian yang sangat terkontrol – biasanya percobaan komunikasi satu-arah – yang dirancang untuk mendapatkan petunjuk yang benar bahwa orang berbohong. Karena itu, IDT didasarkan pada komunikasi dua arah dan ditujukan untuk menggambarkan kebohongan sebagai satu proses komunikasi interaktif.
Paradigma Umum Tentang Interpersonal Deception Theory (IDT)
KONSEP TEORI PERSPEKTIF
Cover in laws Critical System Human Action
Komunikasi Antar Pribadi
Komunikasi Kelompok Komunikasi Organisasi Komunikasi
Komunikasi Massa
Jika dilihat dari kolom ini, Interpersonal Deception Theory menduduki kolom yang bersilangan antara konsep teori komunikasi antar pribadi, dan
perspektif human action. Artinya Interpersonal Deception Theory ini jelas sekali membahas bagaimana dinamika kita ketika sedang berinteraksi dengan individu lain, hubungannya dengan sikap kita ketika melakukan komunikasi dan sikap kita ketika kita berada pada etika komunikasi interpersonal dengan berazaskan human action, terutama pada soal desepsi.
Teori interpersonal deception ini lebih sering diasumsikan sebagai teori untuk “seni mengatakan yang tidak sebenarnya”. Teori ini berupaya menjelaskan pula pola dimana individu berhadapan dengan kebohongan baik benar terjadi, maupun sekedar perasaan pada level sadar dan bawah sadar, ketika melakukan komunikasi tatap muka.
Komunikasi tidak bersifat statis, ia tidak hanya dipengaruhi oleh tujuan seseorang, tetapi juga oleh konteks interaksi yang diungkap. Perilaku pengirim dan pesan dipengaruhi oleh perilaku dan pesan dari penerima, dan begitu sebaliknya. Selain itu, kebohongan berbeda dari komunikasi jujur. Kebohongan yang disengaja membutuhkan sumber kognitif yang lebih dibanding komunikasi jujur. IDT membahas keterkaitan antara konteks komunikatif dan perilaku dan kognisi pengirim dan penerima dalam situasi penuh kebohongan (deceptive).
Buller dan Burgoon menyatakan ada tiga tipe respon yang memungkinkan untuk diberikan kepada lawan bicara kita, ketika kita ingin menyatakan ketidakbenaran atau menutupi kejadian yang sesungguhnya.
Pertama, berbohong sepenuhnya, misalkan kita berbicara “saya tadi habis mengerjakan tugas di perpustakaan”, padahal dalam kenyataannya tugas itu belum dikerjakan. Kedua, bisa dengan cara menyampaikan sebagian kebenaran, dan menutupi bagian detailnya, misalkan, “saya ingin pergi ke pesta ulang tahun, di apartemen teman saya”, di satu sisi kita menyatakan kebenaran, yaitu pergi ke pesta ulang tahun, tetapi di satu sisi kita menutupi detailnya, yaitu di apartemen teman saya, apartemen yang mana ? teman yang mana ? siapa ? atau bahkan pesta ulang tahunnya bukan di apartemen, kita tidak memberi detail yang jelas dalam kalimat pernyataan ini. Ketiga, dengan cara menghindar sepenuhnya, misalkan ketika kita dihadapkan kepada suatu pertanyaan yang kita tahu jawabannya akan mengecewakan lawan bicara kita, maka kita bisa bicara “saya mau pergi keluar
sebentar” atau mungkin bisa dengan mengalihkan penuh tema pembicarannya, “ oh ya, saya jadi ingat tentang …bla… bla… bla.. “. Itulah ketiga pendapat buller dan burgoon tentang menyembunyikan kebenaran.
Teori Buller dan Burgoon memberitahukan kita tentang “frame of thingking” mereka dengan menjelaskan fenomena, menuju konsep, proposisi, sampai pada penjelasan yang di dukung oleh fakta dan contoh kasus.
Asumsi
Asumsi Metateoretis 1. Asumsi ontologis:
Sejauh sifat kenyataan, teori kebohongan bersifat sangat manusiawi karena memandang berbagai kenyataan saling bergantung pada berbagai faktor situasional pada individu yang terlibat
2. Asumsi epistemologis:
Dalam hal pengetahuan, teori ini juga bersifat manusiawi. Apa yang ditemukan dari penelitian sepenuhnya bergantung pada siapa yang mempunyai pengetahuan tentang apa yang dibicarakan.
3. Asumsi aksiologis:
Teori IDT bersifat manusiawi dalam segi nilai. Nilai dari individu yang terlibat disimpulkan dari nilai dan pengalaman mereka sendiri.
“Human beings are poor lie detectors in interactive situations. Although strategic deception often results in cognitive overload that leaks out through a deceiver’s communication, respondents usually miss these telltale signs due to a strong truth
bias.
When respondents appear doubtful, deceivers can adjust their presentation to allay
Dari pernyataan Griffin di atas, kita tahu bahwa sebenarnya manusia adalah “pendeteksi” kebohongan yang buruk dalam situasi interaktif. Manusia memiliki ketidakawasan dalam menangkap suatu kebohongan, kadangkala manusia terlalu tertutupi akan bias kebenaran yang diciptakan oleh si pembohong. Manusia sering tidak memperhatikan isyarat – isyarat yang dikeluarkan pembohong secara tidak sengaja, bahkan mungkin terkadang mengandung kelebihan kognitif sehingga pesan yang disampaikan tidak masuk akal.
Perspektif Teoritis
Teori Interpersonal Deception membahas kebohongan melalui lensa teoretis komunikasi antar personal. Pada dasarnya, ia menganggap kebohongan sebagai suatu proses interaktif antara pengirim dan penerima. Berbeda dengan penelitian tentang kebohongan sebelumnya yang memfokuskan pada pengirim dan penerima secara terpisah, IDT memfokuskan pada sifat dyadic (dual), relational (hubungan) dan dialogic (dialog) dari komunikasi penuh kebohongan. Perilaku antara pengirim dan penerima bersifat dinamis, multifungsi, multidimensi dan multimodal.
Komunikasi dyadic berarti komunikasi antara dua orang. Dyad berarti sekelompok terdiri dari dua orang dimana pesan dikirim dan diterima.
Komunikasi relational mengacu pada komunikasi dimana makna yang dibentuk oleh dua orang saling mengisi peran, baik pengirim dan penerima.
Aktivitas dialogic mengacu pada bahasa komunikatif dari pengirim dan penerima, masing-masing mengandalkan satu sama lain dalam pertukaran tersebut.
Sebagai contohnya adalah kerangka konseling psikoterapi dan psikologis. Aktivitas dyad, relasional dan dialogis antara pasien dan ahli terapi bergantung pada komunikasi yang jujur dan terbuka jika pasien ingin sembuh dan berhasil
membina hubungan yang lebih sehat. Kebohongan menggunakan kerangka teori yang sama karena komunikasi dari satu peserta dengan sengaja salah.
Tiga Ciri Pesan Tidak Jujur & Tiga Cara Menyampaikannya 1. Pesan biasanya berupa pesan verbal
2. Pesan tambahan, yang mencakup aspek verbal dan non verbal yang seringkali, seakan – akan mengungkap kebenaran pesan tersebut
3. Perilaku ceroboh yang seringkali nonverbal dan membantu menunjukkan kebohongan dari si pengirim melalui apa yang disebut leakage (kebocoran).
Buller dan Burgoon menyatakan tiga cara strategi yang biasa digunakan untuk menyampaikan suatu desepsi,
1. Falsification
Yaitu menciptakan suatu fiksi kepada lawan bicara 2. Concealment
Yaitu menyembunyikan suatu rahasia 3. Equivocation
Mengalihkan permasalahan
Peran Superordinate dari Konteks dan Hubungan.
Penjelasan IDT tentang kebohongan antar personal tergantung pada situasi dimana interaksi itu terjadi dan hubungan antara pengirim dan penerima.
1. Kognisi dan perilaku pengirim dan penerima bervariasi secara sistematis, karena konteks komunikasi tidak jujur. Memiliki variasi dalam,
a. akses isyarat sosial
b. sifat kesegeraan (terburu – buru) c. keterlibatan relasional
d. kebutuhan percakapan e. spontanitas.
2. Selama pertukaran informasi bohong, perilaku dan kognisi pengirim dan penerima bervariasi secara sistematis karena hubungan memiliki variasi dalam,
a. keakraban relational (termasuk keakraban informasi dan perilaku) b. valensi hubungan
Proposisi & Eksplanasi
Faktor Prainteraksi yang Terkait dengan Aktifitas Komunikasi
Seorang komunikator, individu juga melakukan pendekatan terhadap pertukaran pesan yang tidak jujur dengan mengikutsertakan faktor prainteraksinya sendiri, seperti pengharapan, pengetahuan, tujuan atau maksud, dan kompetensi dari apa yang dibicarakannya. IDT membenarkan bahwa faktor-faktor tersebut mempengaruhi pertukaran pesan secara tidak jujur. Dibandingkan dengan orang yang berkata jujur, pembohong akan,
(a) Terlibat dalam aktivitas strategis yang lebih besar yang dirancang untuk mengelola informasi, perilaku dan citra
(b) menampilkan isyarat kegelisahan nonstrategis (tidak terpikirkan/spontan), (c) memperlihatkan emosi negatif dan memperlihatkan bahwa dirinya sedang “ditekan”
(d) atau bahkan memperlihatkan dirinya tanpa emosi (noninvolvement) dan gerak geriknya memperlihatkan penurunan kinerja bagian organ tertentu
Pengaruh Karakteristik Pra-interaksi terhadap Kemampuan Awal Deteksi dan Penampilan Suatu Kebohongan
IDT membenarkan bahwa faktor prainteraksi mempengaruh kemampuan awal deteksi dan penampilan suatu kebohongan yang diciptakan si pembohong. Berikut poin – poin yang bisa dijadikan acuan terhadap pembuktiannya,
1. Interaktivitas konteks menurunkan penampilan awal kebohongan sedemikian rupa sehingga kebohongan dalam konteks yang semakin interaktif menyebabkan :
(a) aktivitas strategis yang lebih besar (informasi, perilaku dan manajemen kesan)
(b) berkurangnya aktivitas nonstrategis (gelisah, emosi negatif atau ditekan, penurunan kinerja) seiring waktu relatif terhadap konteks non-interaktif.
2. Harapan awal komunikator dan komunikan akan kejujuran pesan, berbanding sama dengan tingkat interaktivitas dan positivitas konteks dari hubungan yang dilakukan antara komunikator dan komunikan saat terciptanya komunikasi tersebut.
3. Sebaliknya justru pemahaman deteksi awal pembohong dan aktivitas strategis yang terkait, berhubungan terbalik dengan pengharapan akan kejujuran (yang merupakan fungsi dari interaktivitas konteks dan kepositifan hubungan)
4. Tujuan dan motivasi menurunkan penampilan perilaku strategis dan non- strategis
5. Begitu pengetahuan tetnang informasi, perilaku dan hubungan meningkat, pembohong tidak hanya
(a) lebih memahami deteksi
(b) menunjukkan manajemen informasi,
(c) perilaku dan citra yang lebih berstrategi, tetapi juga (d) lebih menunjukkan perilaku kebocoran nonstrategis
6. Pengirim yang ahli menyampaikan perilaku penuh kejujuran dengan terlibat dalam perilaku yang lebih strategis dan menunjukkan lebih sedikit kebocoran nonstrategis dibanding yang kurang ahli.
Pembohong biasanya lebih baik dalam mendeteksi kecurigaan dibanding responden dalam mendeteksi kebohongan. Pembohong biasanya membalas pola orang tersebut ketika mencoba berbohong. ‘Othello-error’ – spiral rekursif dari kognisi pengirim dan penerima mempengaruhi perilaku dan kognisi selanjutnya selama interaksi. Deteksi kebohongan adalah masalah coba-coba dan tergantung pada interaksi
Efek Karakteristik Pra Interaksi dan Interaksi Awal terhadap Kognisi Penerima
IDT lebih lanjut menyatakan bahwa faktor pra interaksi, disertai dengan penampilan perilaku awal, mempengaruhi kecurigaan awal penerima dan akurasi deteksi selanjutnya, yaitu
1. Penilaian awal dan selanjutnya dari penerima terhadap kredibilitas pengirim, berbanding lurus dengan
(a) bias kejujuran dari penerima (b) interaktivitas konteks
(c)dan kemampuan bahasa pengirim
Dan ketiga poin ini berbanding terbalik dengan penyimpangan komunikasi pengirim dari pola yang diharapkan.
2. Keakuratan deteksi awal dan selanjutnya berbanding terbalik dengan (a) bias kebenaran penerima
(b) konteks interaktivitas
(c) kemampuan bahasa pengirim
Dan ketiga poin ini mereka berbanding lurus dengan pengetahuan informasi dan perilaku, kemampuan pemahaman penerima, dan penyimpangan komunikasi dari pola yang diharapkan si pengirim.
Pola Interaksi Interatif
IDT selanjutnya menggambarkan proses iteratif dari isyarat kecurigaan penerima dan reaksi pengirim terhadap isyarat tersebut, yaitu,
1. Kecurigaan penerima tercermin melalui satu kombinasi perilaku strategis dan non-strategis
2. Pengirim merasakan kecurigaan, jika sudah terlihat,
3. Kecurigaan (yang dirasakan atau sebenarnya) meningkatkan perilaku strategis dan non strategis dari pengirim
4. Isyarat kebohongan dan kecurigaan berubah seiring waktu
5. Proses timbal balik adalah pola adaptasi interaksi yang dominan antara pengirim dan penerima selama kebohongan antar personal
Hasil Pasca Interaksi
Terakhir, IDT menyatakan bahwa interaksi penuh kebohongan memuncak dalam serangkaian penilaian pasca-interaksi tentang kredibiltias pengirim dan kecurigaan penerima. Dengan kata lain, interaksi antara pengirim dan penerima mempengaruhi sejauh mana kredibilitas pengirim menurut penerima dan seberapa besar kecurigaan penerima menurut pengirim.
1. Keakuratan deteksi, bias, dan penilaian penerima terhadap kredibilitas pengirim setelah interaksi merupakan fungsi dari
(a) kognisi penerima (kecurigaan, bias) (b) kemampuan pemahaman penerima (c) isyarat perilaku pengirim.
2. Keberhasilan kebohongan pengirim merupakan fungsi dari kognisi pengirim (kecurigaan yang dirasakan) dan isyarat perilaku penerima.
Peran Penerima (“korban”) dalam IDT
Kebanyakan orang yakin bahwa mereka bisa melihat kebohongan, tetapi IDT menganggap kebanyakan tidak. Ada berbagai hal yang harus dilakukan pembohong secara simultan untuk memastikan apa yang mereka katakan terasa
benar, yang paling penting adalah bagaimana pembohong mengatur isyarat verbal dan nonverbalnya. Menurut IDT, semakin besar kesadaran sosial penerima, semakin baik ia mendeteksi kebohongan.
Seberapa besar keberhasilan penerima kebanyakan dalam mendeteksi kebohongan? Tidak begitu berhasil sama sekali, menurut penelitian terakhir. Ini mungkin dikarenakan ada kontrak sosial bahwa orang akan jujur satu sama lain dan percaya orang akan jujur terhadapnya. Jika penipu mulai melakukan pertukaran tidak jujur dengan pernyataan yang akurat dan valid, pernyataan itu mungkin mengarahkan penerima untuk meyakini bahwa cerita pengirim selanjutnya juga benar. Tearkhir, pengirim mempersiapkan penerima untuk menerima informasinya sebagai benar, meskipun beberapa bagian dari dialognya salah. Namun, jika pengirim selalu menggunakan taktik yang sama, penerima akan sadar, dan mungkin menyadari bahwa pengirim sedang berbohong.
Emosi yang Muncul dalam Bahasan IDT
Emosi berperan penting dalam IDT, baik sebagai motivator dan hasil kebohongan. Emosi bisa menjadi “motivator” kebohongan, karena pengirim mengandalkan pengetahuan informasi, hubungan dan perilaku untuk mencapai tujuan, seperti kepuasan diri, terhindar dari emosi negatif (kelakuan yang tidak wajar), atau membentuk emosi negatif untuk target kebohongan. Motivator disini adalah pengontrol ktika terjadinya kebohongan. Emosi bisa juga merupakan akibat dari kebohongan karena respon fisik terjadi dalam pengirim, biasanya dalam bentuk kegelisahan dan emosi negatif.
Kebocoran emosi
Emosi dalam kebohongan terwujud paling jelas dalam isyarat-isyarat nonverbal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 90% emosi dikomunikasikan secara nonverbal. Untungnya manusia sangat sensitif terhadap isyarat tubuh. Seringkali, komunikasi bersifat bertentangan: orang menyampaikan satu hal secara verbal dan hal yang berlawanan secara nonverbal. Kebocoran disini mengacu pada kejadian komunikatif dimana isyarat nonverbal mengungkap isi pesan verbal yang sebenarnya.
Ekspresi wajah
Ada delapan emosi dasar yang dikomunikasikan melalui ekspresi wajah: marah, takut, sedih, gembira, muak, ingin tahu, terkejut dan menerima. Emosi ini umumnya dikenali di berbagai budaya. Ada dua “jalur” utama dimana ekspresi ini berkembang: “jalur satu”, ada dari dalam diri, dan “jalur dua” yang tergantung pada proses sosialisasi.
Budaya berbeda memiliki aturan memperlihatkan emosi yang mengatur penggunaan ekspresi wajah. Misalnya, orang Jepang tidak membolehkan menunjukkan emosi negatif. Terkadang, individu merasa sulit mengontrol ekspresi wajah. Wajah bisa “membocorkan” informasi tentang apa yang mereka rasakan. Misalnya, seseorang tidak akan bisa menyembunyikan rasa enak ketika bertemu seseorang yang memiliki cacat luka yang mengerikan, atau ia akan sulit menyembunyikan rasa muak ketika mengobati orang luka atau berhadapan dengan orang yang tidak tahu malu.
Tatapan
Orang menggunakan tatapan mata untuk menunjukkan ancaman, kedekatan dan keingintahuan. Tatapan mata digunakan untuk mengatur giliran dalam percakapan dan merupakan faktor penting dalam memutuskan seberapa besar ketertarikan penerima pada apa yang dikatakan pengirim. Penerima biasanya melihat selama 70-75%, tiap tatapan rata-rata selama 7.8 detik. Jika penerima melihat hanya 15%, mereka bisa dianggap dingin, pesimistis, curiga, defensif, tidak dewasa, menghindar atau tidak peduli. Jika menatap lebih dari 80%, mereka bisa dianggap ramah, percaya diri, natural atau tulus.
Gerak tubuh
Penggunaan gerakan tubuh adalah salah satu bentuk komunikasi budaya yang spesifik di budaya tertentu dan bisa menyebabkan kesalahpahaman dan terkadang hinaan. Misalnya, mengangkat tangan dan meremas ibu jari dan telunjuk bersamaan, digunakan oleh orang Perancis dan terkadang Inggris untuk menunjukkan bahwa sesuatu itu sempurna, akan dianggap vulgar di daerah Mediterania, karena dianggap menunjukkan vagina.
Gerak tubuh tak sadar digambarkan sebagai tindakan menyentuh diri, seperti menyentuh wajah, menggaruk, memegang tangan, atau menaruh tangan di atau
dekat mulut, sering dilakukan orang ketika mengalami emosi ekstrem seperti depresi, kesenangan atau kegelisahan yang ekstrem.
Salah satu contoh kebocoran terkait gerak tubuh ada dalam penelitian Ekman dan Friesen, yang menunjukkan satu film seorang wanita yang mengalami depresi kepada sekelompok peserta penelitian. Peserta diminta untuk menilai mood sang wanita. Mereka yang hanya ditunjukkan wajah wanita menganggap bahwa ia sedang bahagia dan gembira, sementara kelompok yang hanya melihat badannya menganggap bahwa ia sedang tegang, gugup dan terganggu.
Sentuhan
Sentuhan bisa menjadi alat penting untuk meyakinkan dan menunjukkan pemahaman. Sentuhan pada orang lain dilakukan untuk menunjukkan gairah seksual, kedekatan dan pemahaman; dalam salam pertemuan dan perpisahan; sebagai aksi agresi dan untuk menekankan dominasi. Argyle menulis bahwa “nampaknya ada aturan yang jelas yang membolehkan hanya jenis sentuhan tertentu, antara orang tertentu, pada situasi tertentu. Kontak tubuh di luar batasan yang sempit itu tidak bisa ditolerir”. Mereka yang menyentuh orang lain dianggap memiliki status lebih tinggi, percaya diri dan hangat, sementara mereka yang disentuh lebih rendah dalam hal-hal tersebut.
Aplikasi
Contoh kasus yang simple pada IDT misalnya, pasangan anda mengatakan bahwa dirinya adalah orang kaya padahal kenyataannya tidak, maka ia sedang melakukan 'Falsification'. Ketika anda menyatakan keraguan tentang status ekonominya kemudian ia menyangkal "tuduhan" anda tersebut, maka pasangan anda sedang berupaya melakukan 'Equivocation'. Karena penasaran anda terus mendesaknya untuk berkata jujur tetapi ia tetap menolak, itu artinya pasangan anda tengah melakukan 'Concealment'.
Aplikasi kompleks
Untuk lebih jelas dan kompleks, mari kita lihat kasus berikut,