• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap Konfirmasi ( Confirmation )

Dalam dokumen 84510100 Teori Interpersonal id. doc (Halaman 66-75)

Diffusion of Innovation

5. Tahap Konfirmasi ( Confirmation )

Tahap terakhir ini adalah tahapan dimana individu akan mengevaluasi dan memutuskan untuk terus menggunakan inovasi baru tersebut atau menyudahinya. Selain itu, individu akan mencari penguatan atas keputusan yang telah ia ambil sebelumnya. Apabila, individu tersebut menghentikan penggunaan inovasi tersebut hal tersebut dikarenakan oleh hal yang disebut disenchantment discontinuance dan atau replacement discontinuance. Disenchantment discontinuance disebabkan oleh ketidakpuasan individu terhadap inovasi tersebut sedangkan replacement discontinuance disebabkan oleh adanya inovasi lain yang lebih baik. Tipe-tipe Pengadopsi Inovasi

Pembagian anggota sistem sosial ke dalam kelompok-kelompok adopter didasarkan pada tingkat keinovatifannya, yakni lebih awal atau lebih lambatnya seseorang mengadopsi sebuah inovasi dibandingkan dengan anggota sistem sosial lainnya. Berikut adalah kurva yang menggambarkan distribusi frekwensi normal kategori adopter beserta persentase anggota kelompok adopter dalam sebuah sistem sosialnya.

Kurva yang membentuk lonceng tersebut dihasilkan oleh sejumlah penelitian tentang difusi inovasi. Kurva lonceng tersebut menggambarkan banyaknya

pengadopsi dari waktu ke waktu. Pada tahun pertama, usaha penyebaran inovasi akan menghasilkan jumlah pengadopsi yang sedikit, pada tahun berikutnya jumlah pengadopsi akan lebih banyak dan setelash sampai pada puncaknya, sedikit demi sedikit jumlah pengadopsi akan menyusut. Sehingga jika kurva tersebut dikumulasikan akan membentuk kurva S sesuai dengan kurva S yang sebelumnya telah disampaikan oleh Gabriel Tarde.

Berikut adalah karakteristik dari berbagai macam kategori adopter: 1. Inovator

Tipe ini adalah tipe yang menemukan inovasi. Mereka mencurahkan sebagian besar hidup, energi, dan kreatifitasnya untuk mengembangkan ide baru. Selain itu orang-orang yang masuk ke dalam kategori ini cenderung berminat mencari hubungan dengan orang-orang yang berada di luar sistem mereka. Rogers menyebutkan karakteristik innovator sebagai berikut:

a. Berani mengambil risiko

b. Mampu mengatur keuangan yang kokoh agar dapat menahan kemungkinan kerugian dari inovasi yang tidak menguntungkan c. Memahami dan mampu mengaplikasikan teknik dan pengetahuan

yang kompleks

d. Mampu menanggulangi ketidakpastian informasi Berikut adalah cara agar dapat bekerja dengan inovator:

a. Mengundang innovator yang rajin untuk menjadi partner dalam merancang poyek

b. Merekrut dan melatih mereka sebagai pendidik 2. Penerima Dini

Penerima dini atau Early adopter biasanya adalah orang-orang yang berpengaruh dan lebih dulu memiliki banyak akses karena mereka memiliki orientasi yang lebih ke dalam sistem sosial. Untuk memengaruhi penerima dini tidak memerlukan persuasi karena mereka sendiri yang selalu berusaha mencari sesuatu yang dapat memberikan mereka

keuntungan dalam kehidupan sosial atau ekonomi. Karakteristik yang dimiliki oleh early adopter adalah:

a. Bagian yang terintegrasi dalam sistem lokal sosial b. Opinion leader yang paling berpengaruh

c. Role model dari anggota lain dalam sebuah sistem sosial d. Dihargai dan disegani oleh orang-orang disekitarnya e. Sukses

Untuk dapat bekerja dengan penerima dini berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan:

a. Menawarkan secara pribadi dukungan untuk beberapa early adopter untuk mencoba inovasi baru

b. Memelajari percobaan inovasi tersebut secara hati-hati untuk menemukan atau membuat ide baru yang lebih sesuai, murah dan mudah dipasarkan

c. Meninggikan ego mereka, misalnya dengan publisitas atau pemberitaan media

d. Mempromosikan mereka sebagai trendsetter

e. Menjaga hubungan baik dengan melakukan feedback secara rutin 3. Mayoritas Dini (orang–orang yang lebih dahulu selangkah lebih

maju)

Early majority ini adalah golongan orang yang selangkah lebih maju. Mereka biasanya orang yang pragmatis, nyaman dengan ide yang maju, tetapi mereka tidak akan bertindak tanpa pembuktian yang nyata tentang keuntungan yang mereka dapatkan dari sebuah produk baru. Mereka adalah orang-orang yang sensitive terhadap pengorbanan dan membenci risiko untuk itu mereka mencari sesuatu yang sederhana, terjamin, cara yang lebih baik atas apa yang telah mereka lakukan.

a. Ada beberapa karakteristik mayoritas dini, yakni: b. Sering berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya c. Jarang mendapatkan posisi sebagai opinion leader

d. Sepertiganya adalah bagian dari sistem (kategori atau tipe terbesar dalam sistem)

e. Berhati-hati sebelum mengadopsi inovasi baru

Untuk menarik simpati golongan ini dapat dilakukan engan beberapa cara sebagai berikut:

a. Menawarkan kompetisi atau sampel secara gratis untuk stimulus b. Menggunakan advertiser dan media yang memiliki kredibilitas,

dipercaya, dan yang akrab dengan golongan ini c. Menurunkan biaya dan memberikan jaminan

d. Mendesain ulang untuk memaksimalkan penggunaan dan membuatnya menjadi lebih simple

e. Menyederhanakan formulir aplikasi dan atau instruksi

f. Menyediakan customer service and support yang profesional 4. Mayoritas Belakangan

Orang-orang dari golongan ini adalah orang-orang yang konservatif pragmatis yang sangat membenci risiko serta tidak nyaman dengan ide baru sehingga mereka belakangan mendapatkan inovasi setelah mereka mendapatkan contoh. Golongan ini lebih dipengaruhi oleh ketakutan dan golongan laggard.

Rogers mengidentifikasi karakteristik golongan late majority sebagai berikut:

a. Berjumlah sepertiga dari suatu sistem sosial b. Mendapatkan tekanan daro orang-orang sekitarnya c. Terdesak ekonomi

d. Skeptis

e. Sangat berhati-hati

5. Laggard (lapisan paling akhir)

Golongan Laggard adalah golongan akhir yang memandang inovasi atau sebuah perubahan tingkah laku sebagai sesuatu yang memiliki risiko tinggi. Ada indikasi bahwa sebagian dari golongan ini bukanlah orang- orang yang benar-benar skeptis, bisa jadi mereka adalah inovator,

penerima dini, atau bahkan mayoritas dini yang terkurung dalam suatu sistem sosial kecil yang masih sangat terikat dengan adat atau norma setempat yang kuat. Atau munngkin karena terbatasnya sumber dan saluran komunikasi menyebabkan seseorang terlambat mengetahui adanya sebuah inovasi dan pada akhirnya golongan ini disebut sebagai Laggard. Ada beberapa karakteristik Laggard, yakni:

a. Tidak terpengaruh opinion leader b. Terisolasi

c. Berorientasi terhadap masa lalu d. Curiga terhadap inovasi

e. Mempunyai masa pengambilan keputusan yang lama f. Sumber yang terbatas

Untuk melakukan pendekatan dengan Laggards ada beberapa cara yang perlu diperhatikan, yakni:

a. Memberikan mereka perhatian yang lebih terhadap kapan, dimana, dana bagaimana mereka melakukan kebiasaan baru

b. Memaksimalkan kedekatan mereka dengan inovasi tersebut atau berikan mereka contoh Laggard yang sukses melakukan pengadopsian inovasi tersebut

Namun ada beberapa peniliti yang menunjukan bentuk tabel distribusi yang berbeda. Moore menunjukkan adanya gap antara early adopter dengan early majority. Gap atau jarak ini menyebabkan perbedaan karektiristik yang begitu jauh antara dua golongan tersebut, yakni di fase awal karakteristiknya berorientasi pada hal-hal yang baru atau visioner sedangkan pada fase berikutnya setelah gap mereka cenderung pragmatis tentu saja hal ini akan menjadi sebuah tantangan besar, bagaimana cara memersuasi mereka untuk mengadopsi sebuah inovasi.

.

Aplikasi

Pada awalnya riset tentang difusi inovasi menggunakan bidang pertanian sebagai sampel. Yakni pada riset difusi jagung inti hibrida di Iowa. Tetapi kemudian penerapan teori difusi inovasi ini berkembang ke berbagai macam bidang antara lain pendekatan pembangunan, terutama pada negara-negara berkembang seperti Indonesia dan negara dunia ketiga lainnya. Petani dan anggota masyarakat pedesaan adalah salah satu dari sasaran dari upaya difusi inovasi. Usaha-usaha mengaplikasikan difusi inovasi pertama kali dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 1920-an dan 1930-an, sekarang hal itu dicontoh oleh negara- negara berkembang lainnya.

Salah satu contoh penerapan teori difusi inovasi adalah penggunaan alat kontrasepsi. Pada awalnya masyarakat melakukan family planning dengan coitus interuptus atau bahkan mereka sama sekali tidak melakukan family planning. Lalu pemerintah mulai mengenalkan alat kontrasepsi dengan menggencarkan iklan layanan masyarakat pada berbagai macam media. Hal tersebut menimbulkan awareness masyarakat terhadap adanya berbagai macam alat kontrasepsi untuk melakukan family planning, mereka menjadi tahu bahwa alat-alat kontrasepsi dapat menekan angka kelahiran. Beberapa masyarakat yang modernist mencoba menggunakannya. Dokter dan bidan juga mulai memperkenalkan alat kontrasepsi terhadap pasiennya, peran mereka disini ada yang sebagai opinion leader ada pula yang dianggap sebaga change agent.

Dari situ masyarakat satu per satu mulai menggunakan alat kontrasepsi untuk menekan angka kelahiran. Jadi adanya alat kontrasepsi sebagai inovasi disebarkan melalui media massa(bentuk dari komunikasi masa) dalam bentuk iklan selanjutnya change agent dan opinion leader sebagai bentuk dari komunikasi antarpribadi yang persuasif dilakukan oleh dokter, bidan atau keluarga yang telah menggunakan alat kontrasepsi lalu pada akhirnya alat kontrasepsi itu dipakai oleh masyarakat kebanyakan. Dalam hal ini tidak semua menggunakan alat kontrasepsi masih ada banyak orang yang tidak mau menggunakan alat kontrasepsi karena umumnya mereka masih terikat adat dan norma yang tidak mengizinkan adanya penekanan angka kelahiran..

Kritik-kritik

Ada beberapa kritik yang dilontarkan oleh ahli-ahli komunikasi dan ahli- ahli sosiologi lainnya terhadap teori, antara lain:

1. Teori ini menyimpulkan terlalu sederhana sebagai representasi realitas yang kompleks. Adopter dapat dikategorikan ke dalam kategori yang berbeda untuk inovasi yang berbeda. Laggard dapat menjadi early adopter di lain kesempatan.

2. Teori ini tidak prediktif karena tidak menyediakan pengetahuan tentang seberapa baik sebuah ide baru atau produk baru bekerja sebelum melewati kurva adopsi

3. Individu cenderung mengadopsi teknologi sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing, sehingga inovasi dapat dengan mudah berubah dalam penggunaannya saat berpindah dari early adopter menuju early majority. Teori ini sama sekali tidak menyebutkan mutasi yang sering terjadi seperti hal tersebut.

4. Pengaruh dari beberapa teknologi dapat secara radikal mengubah pola difusi untuk menyusun teknologi dengan memulai persaingan atau kompetisi dalam kurva S. Teori ini tidak menyediakan petunjuk bagaimana mengatur sebuah perpindahan.

5. Adanya overadopsi

Overadopsi adalah pengadopsian suatu inovasi oleh seseorang padahal menurut ahli seharusnya ia menolak inovasi tersebut. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan seseorang tersebut tentang inovasi tersebut. Misalnya penggunaan antibiotik secara berlebihan, atau pada bidang pertanian penggunaan insektisida yang berlebihan. Padahal penggunaan insektisida atau antibiotic secara berlebihan dapat menimbulkan resistensi. Kadangkala, inovasi yang baik tidak seharusnya diadopsi oleh orang-orang yang tidak dapat menggunakannya secara bijak karena kurangnya pengetahuan mereka. 6. Eksploitasi terhadap golongan sosial yang lemah

Menurut beberapa ahli, dengan adanya inovasi tidak semua perubahan sosial yang terjadi adalah pertubahan kearah yang lebih baik. Bentuk pengaplikasian teori ini terhadap komunikasi pembangunan misalnya. Dari kasus pembangunan di negara-negara maju, golongan miskin tidak dapat memerbaiki kualitas hidupnya sedangkan golongan kaya semakin kaya, hal ini justru memerbesar gap yang ada.

Selain itu dalam pengaplikasiannya terhadap bidang pertanian ada beberapa kritik mengenai teori difusi inovasi sebagai berikut:

1. A Pro-Innovation Bias

Maksud dari pro-innovation bias disini adalah adanya prasangka berlebihan terhadap inovasi(pro-innovation). Dalam teori ini semua inovasi dianggap baik tetapi pada kenyataanya tidak selalu seperti itu. Ada kemungkinan konsekuensi negatif sebagai akibat dari inovasi tersebut.

2. Bias in Favor of Larger and Wealthier Farmers

Ada bias terhadap petani yang lebih kaya dan besar. Orang-orang tersebut adalah orang-orang yang sangat mau untuk menerima ide baru sehingga semua informasi diarahkan terhadap mereka. Sedangkan yang membutuhkan bantuan diabaikan. Sama dengan pengaplikasian inovasi di bidang lain selain pertanian. Iklan sebuah inovasi biasanya

lebih digembar-gemborkan di kalangan masyarakat yang termasuk innovator, early adopter, dan early majority sedangkan yang tergolong sebagai latemajority dan laggard tidak mendapatkan perhatian khusus. 3. Individual-Blame Bias

Dalam teori ini mereka yang tidak mengadopsi teknologi langsung dicap sebagai “Laggard” dan disalahkan karena kurangnya respon mereka terhadap inovasi. Beberapa kritik mengatakan bahwa perusahaan, agensi pengembangan, dan badan riset seharusnya merespon kebutuhan semua petani. Begitu pula saat penerapan di bidang lainnya, seharusnya golongan yang mendapat perhatian lebih dalam penyebaran inovasi adalah golongan yang termasuk kategori late majority dan laggard. Karena bisa saja mereka terlambat mengadopsi atau tidak mengadopsi inovasi karena kurangnya informasi mengenai inovasi tersebut.

4. Issue of equality.

Dari teori ini lahir beberapa issue. Akankah inovasi menyebabkan pengangguran atau migrasi warga desa? Akankah yang kaya menjadi lebih kaya dan yang miskin menjadi lebih miskin? Apakah dampak buruk dari inovasi sudah dipertimbangkan?

Sumber

Severin, Werner Joseph dan James W. Tankard, Jr. Communication Theories: Origins, Methods, Uses. Edisi 3. New York: Longman, 1991. Ardianto, Elvinaro & Erdinaya, Lukiati Komala. Komunikasi massa : Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004.

Dalam dokumen 84510100 Teori Interpersonal id. doc (Halaman 66-75)