• Tidak ada hasil yang ditemukan

SPEECH ACT THEORY / TEORI BERBICARA

Dalam dokumen 84510100 Teori Interpersonal id. doc (Halaman 104-113)

John R Searle J.L Austin

Speech Act Theory pertama kali dikemukakan oleh J.L Austin pada tahun 1962, dan apa yang kita pikirkan sekarang mengenai teori ini seluruhnya dikembangkan oleh John R Searle. John Langshaw Austin lahir di Lancaster pada 26 Maret 1911. Pada tahun 1924 ia memasuki Sekolah Shrewsbury dengan beasiswa. Dia bekerja keras untuk mendapatkan beasiswa klasik ke Balliol College, Oxford. Untuk itu dalam studi klasik dan linguistik tersebut Austin sekarang menambahkan filosofi.

Setelah mengambil kehormatan pertama, dia berhasil untuk berkompetisi di persekutuan Semua lulusan sarjana lainnya. 1935 Austin di atas penelitian ini telah memberikan beasiswa kepada sesama dan mengajar menjadi pengajar di Magdalen College. Pada tahun 1945, Austin melanjutkan mengajar di Oxford, dan pada 1952 ia terpilih untuk menduduki jabatan White’s chair filosofi. Dedikasi utama Austin adalah untuk mengajar, dan hasilnya, ia hanya menerbitkan sangat sedikit karyanya. Dalam masa singkatnya tersebut hanya tujuh karya muncul. Dia pernah sekali berkata pada temannya: "Saya harus memutuskan apakah pada awal saya akan menulis buku atau untuk mengajar orang cara filosofi berguna."

Awal karirnya Austin menemukan sebuah filosofis teknik yang berkembang secara langsung dari-Nya dan klasik studi linguistik. Cara kerja filosofi ini, menurutnya, dimulai dengan pemeriksaan menyeluruh dari sumber linguistik yang tersedia. Ini akan menjadi hal yang biasa digunakan dalam bahasa daripada dalam kosakata teknis. Austin tidak mengikutu pertimbangan yang mengharuskan menggunakan bahasa biasa diakhir kata dalam argumen filisofis, tetapi dia bersikeras bahwa “itu adalah kata yang pertama.” Apapun perbedaan yang telah menjadi tetap

dalam kompetisi dengan alternatif distinctions, mungkin juga akan berpikir untuk menunjuk ke arah beberapa perbedaan nyata dalam pengalaman. Penyelidikan rinci dari distinctions hampir gagal untuk mendapatkan diskusi filosofis untuk memulai sebuah produktif. Austin menguraikan, "kita mempertajam kesadaran akan kata untuk mempertajam persepsi kita, walaupun bukan sebagai akhir dari fenomena." Dengan kecerdasan, kebijakan, dan kesadaran, Austin mengembangkan strategi untuk mengumpulkan dan mengklasifikasikan banyaknya kata-kata, idiom, dan metafor yang biasanya melibatkan dalam diskusi filosofis yang menarik.

Latar Belakang Teori

Komunikasi terkadang menggunakan satu isyarat atau kombinasi isyarat. Biasanya komunikasi melibatkan lebih banyak ucapan dan tindakan. Sebagian besar komunikasi, dari yang biasa sampai yang terperinci terdiri dari tindakan komplex pesan atau percakapan. Untuk mempelajari tentang struktur pesan digunakan sebuah analisis yang bernama Discourse analysis atau analisis percakapan.

Menulis dan bahasa nonverbal bisa dianggap sebagai salah satu bagian dari percakapan, kebanyakan analisis percakapan hanya dikonsentrasikan pada percakapan yang terjadi. Beberapa ahli membagi analisis percakapan ini dalam beberapa bagian secara umum. Pertama tekait pada organisasi percakapan, prinsip ini digunakan oleh komunikator untuk menghasilkan pengertian kata dan tipe pesan lainnya. Analisis percakapan melihat bentuk-bentuk sebenarnya cara bicara dan bahasa nonverbal dari melihat dan mendengar, dan mereka mempelajari arti dari bentuk-bentuk yang nampak dalam kontex. Beberapa teori melihat bagaimana struktur suatu pesan bisa membuat pernyataan yang koheren atau masuk akal. Sedangkan teori lainnya melihat pola bicara antara dua orang dalam suatu percakapan.

Kedua, analisis ini melihat dari tindakan; tindakan adalah cara untuk melakukan sesuatu, pada umumnya menggunakan kata. Analisis percakapan mengasumsikan bahwa kita harus tahu bagaimana bahasa itu digunakan, bukan hanya aturan dalam tatabahasa dalam satu kalimat saja, tetapi juga aturan untuk satuan yang lebih besar untuk dapat emandang sesuatu menurut kegunaannya (pragmatik) dalam situasi sosial. Analisis percakapan lebih menarik dalam bagimana seorang pembicara benar-

Ketiga, analisis percakapan mencari sebuah prinsip yang digunakan komunikator dari perspektif komunikator itu sendiri. Ini tidak terkait dengan sifat psikologi yang tersembunyi atau fungsi otak, tetapi dengan masalah percakapan sehari- hari. Banyak dari tujuan komunikasi kita terbagi dalam sebelum dan sesudah tingkah laku kita. Tepat bila kemampuan linguistik terkait dengan peraturan berbahasa, analisis percakapan terait dengan peraturan transaksi atau pertukaran pesan. Ada empat riset umum yang berhubungan percakapan ini. Yang pertama adalah Speech act theory, yang kedua propotional coherence theory, yang ketiga conversation analysis, dan yang terakhir adalah poststructuralist movement.

Untuk mempelajari Speech Act Theory teori terlebih dahulu harus mengerti tentang filosofinya dan mempelajari bahasa, teori ini sudah berkembang sejak abad ke- 20. Pedoman dalam mempelajari ilmu bahasa ini pertama kali dikembangkan oleh Charles Morris pada tahun 1930. Charles Morris mengelompokan ilmu bahasa kedalam tiga pembelajaran yaitu; semantik, sintaksis, dan pragmatis. Semantik mempelajari tentang hubugan antara lambang dengan artinya. Sementara sintaksis mempelajari tentang tata bahasa dan menjelaskan grammar yang digunakan dalam berbahasa. Selanjutnya, pragmatik menjelaskan tentang tata cara berbahasanya.

Pada awal abad ke-20, ilmu bahasa dan filosofi umumnya berpusat pada sistem formal. Didalam ilmu bahasa, semantik dan sintaksis menjadi hal yang diprioritaskan. Ilmu bahasa dalam era sekarang jarang berhubungan dengan tingkah laku, bahkan tidak pernah. Perubahan ini terjadi pada pertengahan abad, bagaimanapun dengan perpindahan bahasa yang luar biasa dalam filosofi. Pendekatan filosofi ini mempertimbangkan penggunaan bahasa, bukan bahasa yang formal dan sistem steril.

Speech act theory ini muncul dari pengembangan bahasa dan filosofi. Ini jelas merupakan bagian dari teori pragmatik yang mana mencoba untuk mengatur berbagai macam permainan bahasa yang digunakan oleh orang-orang untuk berinteraksi. Namun, Speech act theory tidak sepenuhnya terlepas dari sematik, sisntaksis, dan sema sistem tata bahasa formal dan filosofi dalam teori ini masih mencoba untuk mengetahui sistem tentang bagaimana cara mempengaruhi dengan menggunakan bahasa sehingga komunikasi bisa berhasil.

Dalam teori ini speech act adalah dasar standar bahasa yang digunakan untuk memunculkan makna. Secara normal Speech Act hanyalah sebuah kalimat, tapi bisa berubah menjadi sebuah kata atau ungkapan selama mengikuti aturan yang diperlukan teori tersebut, atau memainkan gaya bahasa. Bila kita mengucapkan sebuah kata, kata tersebut bukan berarti hanya sebuah kata saja. Bilamana satu kata ditunjukan dengan satu gerakan. Gerakan tersebut mungkin saja untuk menyatakan pertanyaan, perintah, janji, atau berbagai kemungkinan lain. Dalam Speech act theory ini sekecil apapun gerakan atau kata yang kita ucapkan dapat mengandung sebuah makna.

Jika kita berkata, “Saya berjanji untuk mengembalikan hutang-hutangmu.” kita menganggap bahwa orang lain mengetahui makna kata-kata itu. Tetapi mengetahui kata- kata itu tidaklah cukup, kita menginginkan orang lain mengetahui maksud dan tujuan kita dengan kata-kata yang kita ucapkan tersebut. Mengetahui apa yang kita maksud untuk menyempurnakan dengan menggunakan kata-kata adalah penting. Speech act theory didesain untuk membantu kita memahami bagaimana orang-orang melengkapi atau menyempurnakan sesuatu dengan kata-kata.

Dalam Speech Act Theory Kapanpun kita membuat suatu pernyataan, “Aku akan membayar hutangmu.” Kita sedang melengkapi beberapa hal. Pertama, kita menghasilkan percakapan. Ini disebut utterance (ungkapan) act, yaitu suatu pengucapan kata-kata dalam kalimat dengan sederhana. yang kedua, kita menyatakan sesuatu mengenai dunia, atau menampilkan suatu propositional act. Dengan kata lain, kita mengatakan sesuatu jika kita tidak percaya bahwa itu benar, atau kita mencoba untuk meyakinkan orang lain untuk percaya. Yang ke tiga, yang paling penting dalam speech- act pespective yaitu, kita memenuhi suatu tujuan, yang mana disebut illocutional act. Dimana setiap kata yang kita ucapkan pasti memiliki tujuan. The illucutional act merupakan inti dari teori ini kemudian possible accomplishment of message. Yang ke empat adalah perlocutionary act, yaitu yang didesain untuk mempunyai suatu dampak aktual pada perilaku orang lain. Dampak ini bisa berupa menggerakan orang lain untuk melakukan apa yang kita inginkan dalam kata-kata kita tersebut.

Perbedaan-perbedaan ini lebih penting dari pada yang mereka duga. Ada perbedaan antara illocution dan perlocution. Illocution adalah suatu tindakan yang mana dalam keprihatinan yang mendasar milik si pembicara adalah bahwa pendengar

apa saja. Disini pendengar tidak melakukan tindakan apapun. Perlocution adalah suatu tindakan yang mana si pembicara mengharapkan si pendengar tidak hanya memahami maksud tersebut tetapi juga untuk bertindak atas maksud tersebut. Dengan kata lain dalam perlocutionary ini pendengar merespon dengan tindakan. Jika kita berkata “aku haus” dengan maksud agar orang lain mengerti bahwa kita membutuhkan sesuatu untuk minum. Kita hanya menampilkan illocutionary act saja. Jika kita ingin supaya dia membawakan air mineral, kita mengirimkan perlocutionary act. Dalam speech act literature, contoh ini disebut permintaan tidak langsung, dan kedua hal tersebut disebut illocutionary dan perlocutionary.

Sekarang adanya perbedaan antara propositional dan illocutionary acts. Suatu proposisi, sebagai satu aspek dari isi pernyataan, menunjukan beberapa kualitas atau asosiasi dari suatu objek, situasi, atau peristiwa. Contoh dari proposisi, kue itu enak, garam itu berbahaya bagi tubuh, dan nama perempuan itu adalah Martha. Contoh tersebut tak lantas membuat seseorang langsung percaya dengan apa yang diucapkan. Proposisi dapat dievaluasi dalam terms dari truth-value (nilai kebenaran) tersebut. tetapi, kita hampir selalu ingin mengkomunikasikan sesuatu lebih dari sekedar kebenaran dari suatu proposisi: kita ingin melalukan sesuatu yang lain dengan kata-kata kita. Dengan kata lain kita ingin meyakinkan seseorang dengan kata-kata kita itu, karena nilai kebenaran yang terkandung dalam proposisi.

Dalam speech-act theory, kebenaran tidak disadari begitu penting. Malahan, pertanyaan yang nyata adalah apa yang si pembicara bermaksud untuk melakukan dengan uttering a proposition. Bagi Searle, propositions harus selalu dilihat sebagai bagian dari konteks yang luas, yaitu the illocution. Searle akan tertarik pada tindakan seperti berikut: “Saya bertanya apakah kue itu enak”; “Saya memperingatkanmu bahwa garam itu berbahaya bagi tubuh”; “Saya menyatakan bahwa nama perempuan itu adalah Martha”. Apa yang dilakukan si pembicara dengan proposisi, adalah speech-act – dalam contoh-contoh ini adalah bertanya, memperingatkan, dan menyatakan (asking, warning, stating).

Makna dari speech act adalah illocutionary face-nya. Contohnya, pernyataan “Saya lapar”. Dapat terhitung sebagai permintaan jika maksud pembicara adalah supaya si pendengar menawarkan makanan. Dengan kata lain, hal itu dapat terhitung sebagai

membuat makan malam atau itu mungkin secara sederhana mempunyai illocutionary force dari suatu pernyatan yang didesain atau dirancang hanya untuk menyampaikan informasi dan tidak ada yang lebih. Illocutionary force hampir mirip dengan perlocutionary act, illocutionary force disini sebenarnya sebagai paksaan agar pendengar mau melakukan apa maksud dari perkataan kita atau melakukan illocutionary act. Kita tahu suatu maksud di samping pesan yang saat ini, berdasarkan Searle karena kita membagi bahasa umum, adanya peraturan-peraturan, yang membantu kita mendefinisikan illocutionary force dari suatu pesan. Dalam kasus ini, kita membagi suatu pemahaman dari apa yang dihasilkan dari itu.

Searle berkata secara mendasar bahwa “mengucapkan sebuah bahasa mengikat dalam sebuah bentuk rule-governed dari sebuah perilaku”. Dua tipe penting dari aturan tersebut adalah constitutive dan regulative. Constitutive rule secara nyata menghasilkan permainan-permainan; yang permainan tersebut dihasilkan atau dikonstitusikan oleh aturan tersebut. Dalam speech act, constitutive rule mengatakan pada kita apa yang ditafsirkan sebagai janji, sebagai perlawanan pada sebuah permintaan atau pada sebuah perintah. Constitutive rule menetapkan keterangan perhitungan perilaku dalam interaksi. Salah satu intensi secara luas dipahami oleh orang lain karena constitutive rule tersebut; mereka berkata pada orang lain apa yang diharapkan sebagai sebuah jenis khusus dari speech act.

Beberapa tindakan illocutionary harus memiliki seperangkat dasar dari constitutive rule. Propositional content rule menspesifikkan beberapa kondisi dari obyek yang ditunjukkan. Sebagai contoh, dalam sebuah janji, si pembicara harus mengatakan bahwa tindakan masa depan akan terselesaikan, barangkali untuk membayar kembali hutang yang ada. Preparatory rules melibatkan dugaan prekondisi dalam pembicara dan pendengar secara perlu bagi tindakan untuk mengambil tempat. Sincerity rule menunjuk pada pembicara untuk memaknai apa yang ia katakan. Essential rule berkata bahwa tindakan sesungguhnya diambil dari pendengar dan pembicara untuk menunjukkan kembali apa yang terlihat menjadi di awal. Dengan kata lain kata-kata janji membangun kewajiban kontraktual diantara pembicara dan pendengar. Tipe constitutive rule ini diyakini untuk menunjukkan secara luas dari tindakan illocutionary seperti sebagai permintaan, pernyataan, bertanya, berterima kasih, beriklan, memberi peringatan, dan

Tipe yang kedua dari aturan adalah regulative. Regulative rule memberi petunjuk untuk bertindak dalam sebuah permainan. Regulative rule ini menetapkan keterangan urutan perilaku yang seharusnya berada pada keadaan tertentu. Perilaku diketahui dan tersedia sebelum digunakan dalam tindakan dan mengatakan pada kita bagaimana menggunakan speech act untuk melakukan maksud khusus.

Speech act tidak sukses ketika kekuatan illocutionary mereka tidak dipahami dan mereka dapat mengevaluasi tingkatan pada yang mereka gunakan sebagai aturan dari speech act. Padahal proposisi dievaluasi dalam term kebenaran atau validity, speech act kemudian dievaluasi dalam term felicity atau tingkatan pada kondisi dari tindakan yang bertemu. Felicity dari janji adalah apakah essential rule bagi pengeksekusian sebuah janji telah bertemu.

Tipe-tipe Speech Act Theory

Speech act theory tidak terlalu mementingkan sintaksis ungkapannya, atau bahkan arti semantik dari ungkapan pernyataan tersebut. Justru Speech act theory lebih mementingkan performa pada saat orang tersebut sedang berpidato dan efek yang didapat penonton saat memperhatikan pidato mereka itu. Salah satu keberhasilan dari speech act theory ini dapat memisahkan macam-macam illocutionary yang melekat pada speech act.

Lima tipe speech act theory :

 Assertives : merupakan ungkapan yang mempercayakan speaker untuk mendukung kebenaran dari proposisi. Hal ini meliputi mengungkapkan, menegaskan, menyimpulkan, dan mempercayai.

 Directives : illocution yang berusaha membujuk pendengar untuk melakukan sesuatu, misalnya dengan memberi saran, memberi permintaan, memberi izin, dll.

 Commisive : yang mempercayakan speaker untuk sebuah tindakan yang akan datang. Mereka terdiri dari beberapa hal seperti berjanji, bersumpah, menjamin, berkontrak, dan memberi garansi.

 Expressive : Mengkomunikasikan pernyataan-pernyataan psikologis si pembicara, seperti berterima kasih, mengucapkan selamat, meminta maaf, dan

 Declaratives : Memberikan pernyataan yang tegas, Sebagai contoh adalah pengangkatan, pernikahan, dan pemberhentian.

Setelah mengelompokan berbagai tipe speech act, langkah selanjutnya yaitu bagaimana cara mengerti sebuah ungkapan yang istimewa dalam sebuah percakapan. Speech act theory berisikan bahwa kita peduli dengan interaksi yang berlangsung terus menerus selama penggunaan peraturannya. Aturan-aturan dalam Speech act theory terlihat lebih spesifik yang dapat membantu untuk mengartikan apa yang dikomunikasikan pada setiap kalimat dan bagaimana sebuah ungkapan atau kalimat harus digunakan dalam berinteraksi.

Aplikasi

Pengaplikasian Speech Act Theory dikembangkan oleh para ahli bahasa, tetapi aplikasi ini memiliki dampak pengaruh yang besar kepada ilmu sosial dan umat manusia. Misalnya pada bidang antropologi,pendidikan kebudayaan, edukasi, kesastraan, etnografi, dan lain-lain. Pengaplikasian ini meliputi aspek pengembangan kemampuan berbicara, dan penggunaan tata bahasa. Dalam disiplin ilmu komunikasi, speech act theory digunakan untuk menjelaskan rangkaian kalimat percakaan, seringkali dalam bidang konjungsi dengan metode prinsip analisis komunikasi.

Contoh pengunaan Speech Act Theory ini pada Penamaan, kata sapaan, sebutan, kata ganti (untuk benda dan orang), keterangan tempat atau waktu serta hubungan antara kata-kata tersebut dengan konteks penggunaannya direfleksikan secara linguistis dalam istilah ”deixis”. Deixis berasal dari bahasa Yunani yang bermakna “menunjukkan”, di dalam bahasa Latin disebut ”demonstratio”. Dalam ”deixis” dibahas bagaimana bahasa meng-enkodifikasi dan menggramatikalisasi konteks ujaran atau suatu peristiwa ujaran. Dengan demikian, interpretasi terhadap suatu ujaran sangat bergantung pada analisa setiap konteks di luar ujaran. Penerapan deixis akan lebih ”mudah” terlihat dalam face-to-face-interaction.

Kritik-Kritik

Van Rees memberikan ringkasan kritikan mengenai teori ini kedalam tiga katagori. Yang membuatnya sulit menganalisis teory ini, yaitu:

 Sangat memungkinkan untuk menghubungkan sebuah kalimat atau ungkapan dalam system act fashion ke speech act. Namun apakah sebuah kalimat dapat dikategorikan secara signifikan?

2. Emprical Valadity

 Meskipun speech act theory digunakan untuk ”menyamakan persepsi yang dijelaskan oleh sumber informasi”, sebenarnya menjelaskan ungkapan itu sendiri.

3. Explanatory potential/ Keungkinan penolakan

 Kritikan :

Apakah speech act theory benar-benar setuju denga penggunaan percakapan yang bermacam-macam dan tidak menentu? Apakah speech act theory sebagai alat yang digunakan untuk mengerti sebuah ucapan? Sumber

Infante Dominic. A, Andrew S. Rancer. Building Communication Theory, Second edition. 1993. USA: Daanna F. Womck.

Littlejhon, Stephen W. Theories of Human Communication, Fifth Edition.

Spiral of Silence

Dalam dokumen 84510100 Teori Interpersonal id. doc (Halaman 104-113)