BAB I PENDAHULUAN - Pembatalan Hibah Wasiat Oleh Ahli Waris (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 558/K/Ag/2017) - Ubharajaya Repository
Teks penuh
Dokumen terkait
Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian pembahasan diatas Pertama: ialah Pertimbangan Hukum Oleh Hakim Mahkamah Agung dalam menolak Permohonan Kasasi dalam
Penyelesaian perselisihan wakaf termasuk yurisdiksi Pengadilan Agama, yaitu sepanjang masalah sah atau tidaknya perbuatan mewakafkan sebagaimana diatur
Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam maka pemberian hibah harus berdasarkan persetujuan anak-anaknya dan tidak boleh melebihi dari 1/3 hartanya, dan jika ada ahli waris yang merasa
Pembagian waris berkenaan dengan adanya legitime portie yang dilanggar dari anak-anak sah dari pewaris, maka KUH Perdata melindungi hak mereka terhadap hibah yang telah melanggar
Permasalahan dalam putusan Mahkamah Agung tersebut menarik untuk dibahas lebih dalam terkait dengan permasalahan kewarisan yang memberikan porsi wasiat wajibah
Adapun pembaharuan hukum yang dilakukan Mahkamah Agung, dalam kaitannya dengan memberikan hak wasiat wajibah kepada ahli waris non-Muslim adalah pembaharuan yang sifatnya
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan, bahwa dalam membuat hibah harus memperhatikan ketentuan yang telah diatur dalam Pasal 913 KUH Perdata dan Pasal 210 KHI
Dalam pembatalan akta hibah oleh ahli waris setelah putusan Pengadilan Agama pada dasarnya, dalam Agama Islam hibah dapat ditarik kembali sebagaimana yang telah tercantum dalam Pasal