BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan jenis eksperimental kuasi yang
dilakukan pada pasien yang akan mendapatkan perawatan ortodonti menggunakan
piranti ortodonti cekat untuk melihat perubahan kadar TGF-β2 saat dilakukan
pemasangan separator pada sisi tekanan.
3.2 Tempat dan waktu penelitian
3.2.1 Tempat Penelitian
Pemasangan separator, pengambilan CSG, dan pengukuran besar ruangan
dilakukan di praktek dokter gigi swasta di Bogor. Pemeriksaan kadar TGF-β2 dengan menggunakan uji ELISA akan dilakukan di Laboratorium Biologi Oral Fakultas
Kedokteran Gigi UI.
3.2.2Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2015 hingga September 2015.
3.3 Populasi dan Sampel penelitian
Populasi penelitian adalah semua pasien yang akan dirawat menggunakan
piranti ortodonti cekat selama periode penelitian yang disesuaikan dengan kriteria
inklusi dan eksklusi.
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel pada penelitian ini adalah cairan sulkus gingiva molar pertama atas
yang akan dipasangkan separator. Jumlah sampel yang diperiksa ditentukan dengan
rumus beda mean pada satu populasi :
N1 = N2 = 2
Keterangan :
n1 = n2 = jumlah sampel pada masing-masing kelompok
Zα = deviat baku normal untuk α = 5% Zα = 1,645
Zβ = deviat baku normal untuk β = 20% Zβ= 0,842
S = simpangan baku
X1 = rata-rata kadar TGF-β2 pada kontrol
X2 = rata-rata kadar TGF-β2 setelah pemberian daya
Berdasarkan perhitungan rumus besar sampel maka sampel yang diperlukan sebanyak
minimal 12 sampel.
Sampel yang dipilih pada penelitian ini ditentukan oleh kriteria sebagai berikut :
Kriteria Inklusi:
2. Kebersihan mulut baik dan jaringan periodontal dalam keadaan sehat dengan
kedalaman probing tidak lebih dari 3mm
3. Molar pertama dalam keadaan baik, tidak rotasi, tidak terdapat karies
interproksimal pada molar pertama dan premolar kedua, terdapat kontak
proksimal yang baik, dan dapat dipasangkan separator pada sisi mesial
4. Keadaan umum baik
5. Bersedia ikut serta dalam penelitian sampai selesai
Kriteria eksklusi:
1. Menderita penyakit sistemik kelainan metabolisme tulang
2. Sedang dalam pengobatan menggunakan obat anti-inflamasi
3. Sedang mengkonsumsi suplemen kalsium dan vitamin D
3.4 Variabel Penelitian 3.4.1 Variabel bebas:
Variabel bebas pada penelitian ini adalah tekanan mekanis yang dihasilkan
olehelastomer separator.
3.4.2Variabel tergantung:
Variabel tergantung pada penelitian ini adalah kadar TGF-β2 CSG pada
sisi tertekan atau sisi distal molar pertama atas yang akan diukur dengan
menggunakan ELISA dan pergerakan gigi yang dilihat dari besar ruangan yang
terbentuk diantara mesial molar pertama dengan distal premolar kedua akibat
3.4.3 Variabel kendali:
Variabel yang dikendalikan pada penelitian ini adalah :
1.Usia pasien 20-30 tahun.
2.Daya yang dihasilkan oleh elastomerseparator
3.Kesehatan jaringan periodontal
4.Waktu pengambilan cairan sulkus gingiva adalah sebelum dilakukan
aktivasi, 48 jam, dan 72 jam setelah pemasangan elastomer separator.
5.Waktu pengukuran besar ruangan yang terbentuk antara mesial molar
pertama dan distal premolar kedua akibat pemasangan elastomer separator
adalah pada 48 jam dan 72 jam setelah pemasangan.
3.4.4Variabel tak terkendali:
Variabel tak terkendali pada penelitian ini adalah kepadatan tulang alveolar,
kekuatan daya kunyah subyek penelitian, dan kerapatan interproksimal awal.
3.5 Definisi Operasional
Definisi operasional, cara ukur, hasil ukur, dan alat ukur dari
3.6Bahan dan Alat Penelitian
3.6.1Bahan:
1. Cairan sulkus gingiva pada sisi tekanan dari subyek penelitian
2. Phosphate buffer saline (PBS) pH 7,4 (Gibco) (Gambar 3.1)
3. Kapas (cotton roll)
4. Kit ELISA (Gambar 3.2)
5. Paper point no. 15 (Gambar 3.3)
Gambar 3.1. Phosphate Buffer Saline(PBS) Gambar 3.2. Kit ELISA human TGF-β2
Gambar 3.3 Paper point no. 15
3.6.2Alat
1. Kaca mulut untuk menyingkap pipi dan bibir
3. Separator (American Ortho catalog no. 854-250)
4. Tabung Eppendorf 1,5mL sebagai media penyimpanan CSG yang telah
diambil dengan paper point
5.
Mikropipet dan mikropipet multichannel (Gambar 3.4)6.
Leaf Gauge dengan akurasi 0,1 mm (Dentsply) (Gambar 3.5)Gambar 3.4. Mikropipet dan mikropipet multichannel
Gambar 3.5 Leaf gauge (Dentsply)
3.7 Pelaksanaan Penelitian
Molar pertama atas dilakukan pemasangan elastomer separator pada sisi
mesial (Gambar 3.6). Separator dimasukkan pada titik kontak interproksimal antara
plier. Setiap separator dilakukan perenggangan yang sama yaitu sejauh 14 mm. Kadar
TGF-β2 diperiksa dengan mengukur peningkatan kadar TGF-β2 pada cairan sulkus
gingiva yang diambil menggunakan paper point pada sisi distal yang mengalami
tekanan. CSG diambil sebelum pemberian daya, setelah itu dilakukan pengambilan
sampel di tempat yang sama 48 jam setelahnya dan diulang 72 jam kemudian. Paper
point dimasukkan pada sulkus gingiva sebelah distal molar, dengan menggunakan
metode intracrevicular superficial. Cairan sulkus gingiva ini kemudian diuji dengan
menggunakan metode ELISA.
Gambar 3.6. Pemasangan separator pada sisi mesial molar pertama
3.7.1Cara Pengambilan CSG
Pengambilan CSG dilakukan dengan menggunakan modifikasi dari metode Barbieri
dkk15. Caranya adalah sebagai berikut :
2. Permukaan gigi yang akan diambil cairannya dibersihkan dari plak, kemudian
dikeringkan dengan udara dan dijaga agar tetap kering dengan pemasangan cotton
roll.
3. Paper point dimasukkan ke dalam sulkus gingiva sebelah distal molar pertama
sedalam 1 mm dan didiamkan selama 5 menit (Gambar 3.7) . Paper point dikeluarkan
dari celah gusi dan dimasukkan ke dalam tabung Eppendorf yang telah berisi
phosphate buffer saline (PBS) yang berisi 1M PSMF sebanyak 350 μl (Gambar 3.8)
dan kemudian langsung disimpan pada suhu -80°C.
4. Paper point yang terkontaminasi darah sewaktu pengambilan cairan sulkus gingiva
tidak digunakan sebagai sampel.
Gambar 3.8. Paper point yang dimasukkan kedalam tabung Eppendorf berisi PMSF dan PBS
3.7.2 Pengukuran Kadar TGF-β2
Cairan sulkus gingiva yang telah terkumpul pada paper point disimpan pada
suhu -80° sampai pada waktu pemeriksaan. Pemeriksaan menggunakan metode
Enzyme Linked Immunoabsorbent Assay (ELISA). Antibodi yang terikat pada
microplate yang digunakan pada penelitian ini adalah antibodi monoklonal.
Urutan pengerjaan ELISA adalah sebagai berikut :
a. Siapkan semua reagen yang diperlukan sesuai dengan standar kerja
b. Sampel disentrifugasi 12000x9 rpm selama 10 menit
c. Sampel dipisahkan antara bagian serum dengan plasma hingga yang tersisa
d. Sampel dalam bentuk serum kemudian divortex, dilakukan preparasi sesuai
dengan petunjuk yang terdapat pada kit ELISA, dan kemudian disimpan pada
suhu -80° C
e. Pada hari pengerjaannya, sampel dikeluarkan dari lemari pendingin dan
dicairkan pada suhu ruang tanpa alat bantu dan kemudian divortex selama
10 detik setiap sampel
f. Masukkan 10 µl dari setiap larutan sampel dan larutan standar ke dalam
sumur microplate dan dilakukan duplikasi
g. Tutup dengan lapisan adhesif dan diinkubasi pada suhu ruang selama 3 jam,
letakkan pada microplate shaker dengan kecepatan 100 rpm
h. Buka lapisan adhesif, kosongkan setiap sumur, bilas dengan wash buffer
volume 250 µl sebanyak 3 kali pembilasan. Setelah selesai pembilasan,
ketukkan microplate ke atas handuk untuk membuang sisa bahan
i. Tambahkan biotin conjugate sebanyak 100 µl ke dalam setiap sumur
j. Tutup kembali dengan lapisan adhesif, inkubasi pada suhu ruang selama 2 jam
k. Kosongkan sumur dan cuci dengan wash buffer sebanyak 3 kali
l. Tambahkan 100 µl streptavidin-HRP pada setiap sumur
m. Tutup dengan lapisan adhesif dan diinkubasi selama 20 menit pada suhu
ruang
n. Kosongkan dan bilas dengan wash buffer
p. Inkubasi pada suhu ruang selama 15 menit
q. Tambahkan 50 µl stop solution pada setiap sumur
r. Perubahan warna menandakan TGF-β2 sudah melekat pada dasar sumur
s. Lakukan pembacaan hasil TGF-β2 dengan ELISA reader pada panjang
gelombang utama 490 ηm dan 620 ηm sebagai panjang gelombang referensi.
3.7.3 Pengukuran Pergerakan Gigi
Pergerakan gigi diukur dengan cara mengukur besar ruangan yang terjadi
antara premolar kedua dan molar pertama pada 48 jam dan 72 jam. Pengukuran besar
ruangan dilakukan menurut metode Malagan dkk 11. Besar ruangan yang terjadi
antara premolar kedua dengan molar pertama dicatat pada 48 jam dan 72 jam setelah
pemasangan separator. Subyek dipanggil setelah 48 jam, kemudian separator
dilepaskan secara hati-hati dengan menggunakan sonde. Dilakukan pengeringan pada
area interproksimal premolar kedua dengan molar pertama, kemudian besarnya
ruangan diukur dengan menggunakan leaf gauge(Gambar 3.9). Setelah dilakukan
pengukuran besar ruangan, separator yang sama dimasukkan kembali pada tempat
sebelumnya. Keseluruhan prosedur ini kemudian diulang kembali pada 24 jam
berikutnya. Subyek diminta untuk tidak memakan makanan yang keras selama
Gambar 3.9. Pengukuran besar ruangan dengan menggunakan leaf gauge
3.8 Analisis Data
Data akan dianalisa secara deskriptif untuk mendapatkan nilai rata-rata dan
simpangan baku. Kemudian akan dilakukan dengan uji normalitas data menggunakan
Saphiro-Wilk test. Perbedaan perubahan kadar TGF-β2 diuji dengan menggunakan uji
Wilcoxon signed rank. Hubungan pergerakan gigi dengan perubahan kadar TGF-β
BAB 4
HASIL PENELITIAN
Subyek pada penelitian ini adalah pasien ortodonti yang akan dilakukan
separasi pada gigi molar pertama dengan menggunakan elastomer separator.
Sedangkan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah cairan sulkus gingiva.
Cairan sulkus gingiva diambil dari sisi distal gigi molar pertama yang akan
dipasangkan separator.
Kadar TGF-β2 (pg/μL) pada cairan sulkus gingiva diukur dengan
menggunakan metode ELISA. Pembacaan Optical Density (OD)yang dihasilkan dari
perubahan warna dilakukan dengan menggunakan ELISA reader pada 450 ηm
sebagai panjang gelombang utama dan 490 ηm sebagai panjang gelombang referensi.
Gambar 4.1 menunjukkan grafik perubahan rerata kadar TGF-β2 selama waktu
pengamatan.
Gambar 4.1. Grafik perubahan rerata kadar TGF-β2 selama waktu pengamatan. Kadar
TGF-β2 (pg/μ
L)
Berdasarkan Gambar 4.1, terlihat bahwa kadar TGF-β2 pada 48 jam setelah
pemasangan separator mengalami sedikit peningkatan dan kemudian meningkat tajam
pada 72 jam setelah pemasangan separator. Peningkatan besar ruangan yang
dihasilkan oleh elastomer separator pada setiap waktu pengamatan terdapat pada
Gambar 4.2 Pada jam ke 48, rerata besar ruangan yang dihasilkan adalah 0,19 mm,
sedangkan pada jam ke 72, rerata besar ruangan yang dihasilkan oleh elastomer
separator adalah sebesar 0,283 mm.
Gambar 4.2. Besar ruangan yang dihasilkan oleh separator.
Seluruh data diuji normalitas dengan menggunakan uji Saphiro-Wilk, dan
didapat bahwa data tidak terdistribusi normal. Karena data tidak terdistribusi normal,
maka untuk mengetahui perbedaan perubahan kadar dan besar ruangan antar waktu
pengamatan dilakukan dengan uji Friedman, dengan derajat kemaknaan 0,05. Tabel
4.1 menunjukkan perubahan rerata kadar TGF-β2 selama waktu pengamatan.
Tabel 4.1. Perubahan rerata kadar TGF-β2 selama waktu pengamatan.
Mean ± SD p
TGF-β2 pada 0 jam 47,30 ±16,42
0,001* TGF-β2 pada 48 jam 49,47±18,67
TGF-β2 pada 72 jam 77,03 ± 13,31 *p<0,05. Uji Friedman
Tabel 4.2. Perubahan rerata besar ruangan selama waktu pengamatan.
Mean ± SD p
Ruangan pada 0 jam 0
Ruangan pada 48 jam 0,19±0,06 0,001*
Ruangan pada 72 jam 0,28±0,07 *p<0,05. Uji Friedman
Hasil uji Friedman pada keseluruhan data menunjukkan terdapat perbedaan
yang bermakna yaitu p=0,001 (p<0,05). Dengan demikian, maka untuk melihat
perbedaan perubahan kadar TGF-β2 antar waktu pengamatan dilakukan uji Wilcoxon
signed rank. Hasil uji terdapat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3. Perbedaan perubahan kadar TGF-β2 antar waktu pengamatan
Perbedaan antar waktu (Jam) p
0 - 48 0,71
0 - 72 0,003*
48 – 72 0,002*
*p<0,05
Berdasarkan uji Wilcoxon signed rank (Tabel 4.3) terdapat perbedaan yang
bermakna (p=0,03; p<0,05) pada saat 72 jam dibandingkan dengan 0 jam dan pada 48
dengan besar ruangan yang dihasilkan oleh separator dilakukan dengan menggunakan
uji korelasi Spearman dan hasilnya terdapat pada Tabel 4.4. Korelasi antara
pergerakan gigi dengan perubahan kadar TGF-β2 juga dilakukan dengan
menggunakan uji korelasi Spearman (Tabel 4.5).
Tabel 4.4. Korelasi antara besar ruangan dan perubahan kadar TGF-β2.
r p
Tabel 4.5. Korelasi antara pergerakan gigi dan perubahan kadar TGF-β2.
r p
TGF-β2 pada 48 jam dan pergerakan pada 48 jam
0,006 0,983
TGF-β2 pada 72 jam dan pergerakan pada 72 jam
-0,194 0,488
Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat korelasi antara
perubahan kadar dengan besar ruangan yang dihasilkan. Nilai negatif menunjukkan
perbandingan terbalik. Namun, karena nilai p>0,05, maka secara statistik
menunjukkan tidak terdapat korelasi antara perubahan kadar dengan besar ruangan.
Sementara pada korelasi pergerakan gigi dengan perubahan kadar TGF-β2
menunjukkan tidak terdapat hubungan antara pergerakan gigi dengan perubahan
BAB 5
PEMBAHASAN
Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan jenis eksperimental kuasi yang
dilakukan pada pasien yang akan mendapatkan perawatan ortodonti cekat untuk
melihat perubahan kadar TGF-β2 saat dilakukan pemasangan separator pada sisi
tekanan dan besar ruangan yang dihasilkan oleh separator. Perubahan kadar TGF-β2
dan besar ruangan yang dihasilkan oleh separator diamati pada 0 jam, 48 jam, dan 72
jam.
Perubahan kadar TGF-β2 diukur dengan menggunakan cairan sulkus gingiva
(CSG) sebagai media analisa. CSG dipilih sebagai media untuk mengukur kadar
TGF-β2 karena perubahan kandungannya merupakan cerminan keadaan klinis.
Metode untuk mengumpulkan CSG yang digunakan pada penelitian ini adalah
metode intrakrevikular superfisial karena metode ini tidak invasif dan mudah
terserap.
Kekurangan CSG sebagai media analisa protein adalah jumlahnya yang
sedikit saat dilakukan pengambilan, hal ini akan membatasi analit yang dapat
diperiksa. Karena itu, pada penelitian ini, paper point yang digunakan untuk
menyerap CSG didiamkan pada sulkus gingiva selama 5 menit. Dengan demikian,
diharapkan terdapat CSG yang cukup untuk dianalisa. CSG juga mudah
Karena itu, sebaiknya metode pengambilan yang dipilih adalah intrakrevikular
superfisial yang tidak invasif.
Subyek penelitian yang dipilih pada penelitian ini berjenis kelamin laki-laki.
Hal ini dilakukan untuk mengurangi pengaruh hormon estrogen terhadap sintesis
TGF-β2. Penelitian Avdagic dkk dan Nieves dkk mendapatkan hasil bahwa
kepadatan tulang pada laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan.48,49 Namun
Chisari mengatakan bahwa tidak terdapat perbedaan kecepatan pergerakan gigi yang
bermakna antara laki-laki dan perempuan.50 Penelitian Chisari mendapatkan hasil
korelasi negatif antara usia dan kecepatan pergerakan gigi pada laki-laki.50 Dudic dkk
juga mengatakan bahwa bukanlah jenis kelamin yang memperngaruhi pergerakan
gigi, melainkan usia.32
Perubahan kadar TGF-β2 diukur dengan membandingkan kadar pada 48 jam
dan 72 jam dengan sebelum dilakukan pemasangan separator. Pemilihan waktu ini
diharapkan dapat mewakili fase pertama dalam pergerakan gigi menurut Burstone
yang mengatakan bahwa pada fase pertama gigi akan bergerak dengan cepat didalam
soketnya. Selain itu, pada kelompok usia tumbuh kembang, ditemukan bahwa kadar
TGF-β2 mengalami sedikit penurunan pada 24 jam pertama. Inilah yang menjadi
alasan pemilihan waktu pengamatan pada 48 jam.
Grant dkk mendapati peningkatan yang signifikan pada kadar IL-1β dan IL-8
pada 4 jam pertama setelah aplikasi daya pada saat retraksi kaninus.17 Sementara
dibandingkan dengan sebelum pemasangan separator (p=0,71). Peningkatan yang
bermakna terjadi pada 72 jam setelah pemasangan separator bila dibandingkan
dengan 48 jam dan sebelum pemasangan (p=0,002 dan p=0,003). Namun, karena
keterbatasan waktu pengamatan, maka belum dapat disimpulkan apakah 72 jam
merupakan puncak peningkatan kadar TGF-β2 akibat pemberian daya ortodonti.
Peningkatan kadar pada jam ke 72 kemungkinan terjadi untuk mengimbangi
penurunan kadar sitokin dan growth factor lainnya karena Uematsu dkk mendapatkan
bahwa puncak kadar TGF-β1 adalah pada 24 jam pertama setelah aplikasi daya.16
Penelitian lain juga menemukan bahwa setelah 48 jam, kadar TGF-β1 mulai
mengalami penurunan.51 Peningkatan kadar yang terjadi bergantian ini diperlukan
agar remodeling tulang terus terjadi sehingga gigi dapat bergerak hingga mencapai
posisi yang seharusnya.
TGF-β2 adalah protein yang multifungsi yang berperan pada berbagai fungsi
sel. Terjadinya peningkatan kadar TGF-β2 pada penelitian ini membuktikan bahwa
TGF-β2 juga berperan dalam remodeling tulang akibat pemberian daya ortodonti.
Selain itu, pengamatan dilakukan pada bagian distal molar yang mencerminkan sisi
tekanan. Dengan terjadinya peningkatan kadar, maka hal ini membuktikan bahwa
TGF-β2 juga merupakan salah satu regulator lokal yang penting dalam meregulasi
osteoklas.
Pemasangan separator untuk mendapatkan ruangan agar dapat dilakukan
ortodonti. Separator dapat dipasangkan pada satu titik kontak ataupun kedua titik
kontak. Hoffman mengatakan bahwa separator yang ideal sebaiknya dapat
memberikan separasi yang maksimal tanpa menyebabkan ketidaknyamanan bagi
pasien.52 Beberapa penulis lain mengatakan bahwa separator dipasangkan 1 minggu
sebelum pemasangan cincin.13,23,34
Ligamen periodontal memiliki ketebalan rata-rata sebesar 0,21 mm, dengan
demikian, diperlukan pemasangan separator untuk menempatkan cincin dengan
ketebalan 0,16 mm. Davidovitch dkk mengatakan bahwa untuk mendapatkan ruangan
yang cukup untuk dilakukan pemasangan cincin hanya memerlukan waktu 12 jam
pada pasien dengan kontak proksimal awal yang rapat.13 Sementara, Malagan dkk
mengatakan elastomer separator akan menghasilkan ruangan yang cukup pada hari
kedua.11
Pada penelitian ini, rerata ruangan yang dihasilkan pada 48 jam dan 72 jam
setelah pemasangan separator berturut-turut adalah 0,19 mm dan 0,283 mm. Dengan
demikian, pemasangan cincin sebenarnya dapat dilakukan 2 hari setelah pemasangan
separator. Namun, dengan mempertimbangkan kenyamanan bagi pasien, maka
separasi sebaiknya dilakukan 3 hari sebelum pemasangan cincin. Dengan besar
ruangan yang dihasilkan sebesar 0,283 mm, maka pemasangan cincin diharapkan
lebih nyaman bagi pasien tanpa menyebabkan rasa sakit.
Perubahan sistem biologi yang terjadi pada ligament periodontal dan tulang
remodeling tulang. Remodeling tulang inilah yang mendasari terjadinya pergerakan
gigi. Grant dkk menemukan bahwa perubahan kadar penanda remodeling tulang tidak
berbanding lurus dengan kecepatan pergerakan gigi. Pada penelitiannya, Grant dkk
hanya mendapati korelasi yang positif antara kadar RANK dengan kecepatan
pergerakan gigi.17 Namun, ada beberapa sitokin lain yang dapat mempercepat
pergerakan gigi secara ortodonti. Patil dkk mengatakan bahwa pemberian PGE2
secara injeksi terbukti dapat mempercepat pergerakan gigi pada saat retraksi
kaninus.53 Nimeri dkk merangkum protein yang dapat mempercepat pergerakan gigi
yaitu adalah prostaglandin, OPG, RANKL, PTH dan Vitamin D. Sayangnya,
sebagian besar penelitian ini masih terbatas pada hewan coba.54
Pada penelitian ini, korelasi antara pergerakan gigi dengan perubahan kadar
menunjukkan korelasi negatif yang sangat lemah pada jam ke 72 (r=-0,194; p=0,488).
Korelasi ini terjadi karena pada saat jam ke 72, terjadi peningkatan kadar yang sangat
besar sedangkan pergerakan gigi mulai mengalami penurunan. Hal ini menandakan
bahwa remodeling tulang pada pergerakan gigi terjadi karena peranan berbagai
protein yang secara bergantian akan mengalami peningkatan kadar setelah dilakukan
aplikasi daya ortodonti.
Penelitian ini tidak mengukur kerapatan titik kontak awal pada pasien.
Kerapatan titik kontal awal akan mempengaruhi waktu yang diperlukan untuk
separasi dan ruangan yang dihasilkan oleh separator. Davidovitch dkk mengatakan
untuk melakukan pemasangan separator 8 jam sebelum pemasangan cincin.
Sedangkan pada pasien dengan kerapatan titik kontak awal yang sangat rapat,
sebaiknya dilakukan pemasangan separator 12 jam sebelum pemasangan cincin.13
Selain itu, desakan dari molar ketiga juga tidak dipertimbangkan, karena subyek
dipilih tanpa melihat ada atau tidaknya molar ketiga.
Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa protein penanda remodeling
tulang dan ligament periodontal akan terus mengalami perubahan selama aplikasi
daya. Memahami dan mengawasi sistem biologi pada situasi klinis akan meniadakan
jurang pemisah antara penelitian dasar dan aplikasi klinis. Hal ini akan
menguntungkan bagi klinisi dan pasien bila reaksi dari sistem biologi dapat diawasi
selama perawatan, karena akan memungkinkan adanya penyesuaian perawatan
terhadap kondisi biologi pasien.
Penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi perbedaan kadar TGF-β2 setelah
dilakukan pemberian daya ortodonti berupa elastomer separator. Terjadi peningkatan
kadar TGF-β2 setelah dilakukan pemasangan elastomer separator bila dibandingkan
dengan sebelum pemasangan elastomer separator. Peningkatan kadar tersebut tidak
berhubungan dengan pergerakan gigi secara ortodonti. Dengan demikian, hipotesis
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian untuk mengetahui korelasi perubahan kadar
TGF-β2 dan pergerakan gigi, maka dapat disimpulkan bahwa :
Terdapat peningkatan kadar TGF-β2 pada 48 jam dan 72 jam setelah
dilakukan pemasangan separator bila dibandingkan dengan sebelum dilakukan
pemasangan separator.
Kadar TGF-β2 meningkat signifikan (p=0,003) pada jam ke 72 bila
dibandingkan dengan sebelum dilakukan pemasangan separator.
Perubahan kadar TGF-β2 pada penelitian ini tidak berkorelasi dengan besar
ruangan yang dihasilkan akibat pemasangan separator.
Perubahan kadar TGF-β2 pada penelitian ini tidak berkorelasi dengan
pergerakan gigi.
Peningkatan kadar TGF-β2 pada 48 jam setelah pemasangan separator
menunjukkan bahwa dalam remodeling tulang, TGF-β2 berperan setelah TGF-β1.
Pemasangan cincin sebaiknya dilakukan pada 3 hari setelah pemasangan
separator elastomer.
6.2 SARAN
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan waktu yang lebih lama untuk
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada sisi mesial premolar kedua yang
juga mengalami tekanan untuk lebih memahami peranan TGF-β2 pada
resorpsi tulang pada pergerakan gigi secara ortodonti.
3. Pada penelitian selanjutnya mengenai pergerakan gigi, sebaiknya juga
mengukur kerapatan kontak interproksimal pada saat sebelum dilakukan
aplikasi daya.
4. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan pergerakan gigi