• Tidak ada hasil yang ditemukan

Korelasi Pergerakan Gigi Dengan Perubahan Kadar TGF-β2 Pada Pemakaian Elastomer Separator Ortodonti Chapter III VI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Korelasi Pergerakan Gigi Dengan Perubahan Kadar TGF-β2 Pada Pemakaian Elastomer Separator Ortodonti Chapter III VI"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan jenis eksperimental kuasi yang

dilakukan pada pasien yang akan mendapatkan perawatan ortodonti menggunakan

piranti ortodonti cekat untuk melihat perubahan kadar TGF-β2 saat dilakukan

pemasangan separator pada sisi tekanan.

3.2 Tempat dan waktu penelitian

3.2.1 Tempat Penelitian

Pemasangan separator, pengambilan CSG, dan pengukuran besar ruangan

dilakukan di praktek dokter gigi swasta di Bogor. Pemeriksaan kadar TGF-β2 dengan menggunakan uji ELISA akan dilakukan di Laboratorium Biologi Oral Fakultas

Kedokteran Gigi UI.

3.2.2Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2015 hingga September 2015.

3.3 Populasi dan Sampel penelitian

(2)

Populasi penelitian adalah semua pasien yang akan dirawat menggunakan

piranti ortodonti cekat selama periode penelitian yang disesuaikan dengan kriteria

inklusi dan eksklusi.

3.3.2 Sampel Penelitian

Sampel pada penelitian ini adalah cairan sulkus gingiva molar pertama atas

yang akan dipasangkan separator. Jumlah sampel yang diperiksa ditentukan dengan

rumus beda mean pada satu populasi :

N1 = N2 = 2

Keterangan :

n1 = n2 = jumlah sampel pada masing-masing kelompok

Zα = deviat baku normal untuk α = 5%  Zα = 1,645

Zβ = deviat baku normal untuk β = 20%  Zβ= 0,842

S = simpangan baku

X1 = rata-rata kadar TGF-β2 pada kontrol

X2 = rata-rata kadar TGF-β2 setelah pemberian daya

Berdasarkan perhitungan rumus besar sampel maka sampel yang diperlukan sebanyak

minimal 12 sampel.

Sampel yang dipilih pada penelitian ini ditentukan oleh kriteria sebagai berikut :

Kriteria Inklusi:

(3)

2. Kebersihan mulut baik dan jaringan periodontal dalam keadaan sehat dengan

kedalaman probing tidak lebih dari 3mm

3. Molar pertama dalam keadaan baik, tidak rotasi, tidak terdapat karies

interproksimal pada molar pertama dan premolar kedua, terdapat kontak

proksimal yang baik, dan dapat dipasangkan separator pada sisi mesial

4. Keadaan umum baik

5. Bersedia ikut serta dalam penelitian sampai selesai

Kriteria eksklusi:

1. Menderita penyakit sistemik kelainan metabolisme tulang

2. Sedang dalam pengobatan menggunakan obat anti-inflamasi

3. Sedang mengkonsumsi suplemen kalsium dan vitamin D

3.4 Variabel Penelitian 3.4.1 Variabel bebas:

Variabel bebas pada penelitian ini adalah tekanan mekanis yang dihasilkan

olehelastomer separator.

3.4.2Variabel tergantung:

Variabel tergantung pada penelitian ini adalah kadar TGF-β2 CSG pada

sisi tertekan atau sisi distal molar pertama atas yang akan diukur dengan

menggunakan ELISA dan pergerakan gigi yang dilihat dari besar ruangan yang

terbentuk diantara mesial molar pertama dengan distal premolar kedua akibat

(4)

3.4.3 Variabel kendali:

Variabel yang dikendalikan pada penelitian ini adalah :

1.Usia pasien 20-30 tahun.

2.Daya yang dihasilkan oleh elastomerseparator

3.Kesehatan jaringan periodontal

4.Waktu pengambilan cairan sulkus gingiva adalah sebelum dilakukan

aktivasi, 48 jam, dan 72 jam setelah pemasangan elastomer separator.

5.Waktu pengukuran besar ruangan yang terbentuk antara mesial molar

pertama dan distal premolar kedua akibat pemasangan elastomer separator

adalah pada 48 jam dan 72 jam setelah pemasangan.

3.4.4Variabel tak terkendali:

Variabel tak terkendali pada penelitian ini adalah kepadatan tulang alveolar,

kekuatan daya kunyah subyek penelitian, dan kerapatan interproksimal awal.

3.5 Definisi Operasional

Definisi operasional, cara ukur, hasil ukur, dan alat ukur dari

(5)
(6)

3.6Bahan dan Alat Penelitian

3.6.1Bahan:

1. Cairan sulkus gingiva pada sisi tekanan dari subyek penelitian

2. Phosphate buffer saline (PBS) pH 7,4 (Gibco) (Gambar 3.1)

3. Kapas (cotton roll)

4. Kit ELISA (Gambar 3.2)

5. Paper point no. 15 (Gambar 3.3)

Gambar 3.1. Phosphate Buffer Saline(PBS) Gambar 3.2. Kit ELISA human TGF-β2

Gambar 3.3 Paper point no. 15

3.6.2Alat

1. Kaca mulut untuk menyingkap pipi dan bibir

(7)

3. Separator (American Ortho catalog no. 854-250)

4. Tabung Eppendorf 1,5mL sebagai media penyimpanan CSG yang telah

diambil dengan paper point

5.

Mikropipet dan mikropipet multichannel (Gambar 3.4)

6.

Leaf Gauge dengan akurasi 0,1 mm (Dentsply) (Gambar 3.5)

Gambar 3.4. Mikropipet dan mikropipet multichannel

Gambar 3.5 Leaf gauge (Dentsply)

3.7 Pelaksanaan Penelitian

Molar pertama atas dilakukan pemasangan elastomer separator pada sisi

mesial (Gambar 3.6). Separator dimasukkan pada titik kontak interproksimal antara

(8)

plier. Setiap separator dilakukan perenggangan yang sama yaitu sejauh 14 mm. Kadar

TGF-β2 diperiksa dengan mengukur peningkatan kadar TGF-β2 pada cairan sulkus

gingiva yang diambil menggunakan paper point pada sisi distal yang mengalami

tekanan. CSG diambil sebelum pemberian daya, setelah itu dilakukan pengambilan

sampel di tempat yang sama 48 jam setelahnya dan diulang 72 jam kemudian. Paper

point dimasukkan pada sulkus gingiva sebelah distal molar, dengan menggunakan

metode intracrevicular superficial. Cairan sulkus gingiva ini kemudian diuji dengan

menggunakan metode ELISA.

Gambar 3.6. Pemasangan separator pada sisi mesial molar pertama

3.7.1Cara Pengambilan CSG

Pengambilan CSG dilakukan dengan menggunakan modifikasi dari metode Barbieri

dkk15. Caranya adalah sebagai berikut :

(9)

2. Permukaan gigi yang akan diambil cairannya dibersihkan dari plak, kemudian

dikeringkan dengan udara dan dijaga agar tetap kering dengan pemasangan cotton

roll.

3. Paper point dimasukkan ke dalam sulkus gingiva sebelah distal molar pertama

sedalam 1 mm dan didiamkan selama 5 menit (Gambar 3.7) . Paper point dikeluarkan

dari celah gusi dan dimasukkan ke dalam tabung Eppendorf yang telah berisi

phosphate buffer saline (PBS) yang berisi 1M PSMF sebanyak 350 μl (Gambar 3.8)

dan kemudian langsung disimpan pada suhu -80°C.

4. Paper point yang terkontaminasi darah sewaktu pengambilan cairan sulkus gingiva

tidak digunakan sebagai sampel.

(10)

Gambar 3.8. Paper point yang dimasukkan kedalam tabung Eppendorf berisi PMSF dan PBS

3.7.2 Pengukuran Kadar TGF-β2

Cairan sulkus gingiva yang telah terkumpul pada paper point disimpan pada

suhu -80° sampai pada waktu pemeriksaan. Pemeriksaan menggunakan metode

Enzyme Linked Immunoabsorbent Assay (ELISA). Antibodi yang terikat pada

microplate yang digunakan pada penelitian ini adalah antibodi monoklonal.

Urutan pengerjaan ELISA adalah sebagai berikut :

a. Siapkan semua reagen yang diperlukan sesuai dengan standar kerja

b. Sampel disentrifugasi 12000x9 rpm selama 10 menit

c. Sampel dipisahkan antara bagian serum dengan plasma hingga yang tersisa

(11)

d. Sampel dalam bentuk serum kemudian divortex, dilakukan preparasi sesuai

dengan petunjuk yang terdapat pada kit ELISA, dan kemudian disimpan pada

suhu -80° C

e. Pada hari pengerjaannya, sampel dikeluarkan dari lemari pendingin dan

dicairkan pada suhu ruang tanpa alat bantu dan kemudian divortex selama

10 detik setiap sampel

f. Masukkan 10 µl dari setiap larutan sampel dan larutan standar ke dalam

sumur microplate dan dilakukan duplikasi

g. Tutup dengan lapisan adhesif dan diinkubasi pada suhu ruang selama 3 jam,

letakkan pada microplate shaker dengan kecepatan 100 rpm

h. Buka lapisan adhesif, kosongkan setiap sumur, bilas dengan wash buffer

volume 250 µl sebanyak 3 kali pembilasan. Setelah selesai pembilasan,

ketukkan microplate ke atas handuk untuk membuang sisa bahan

i. Tambahkan biotin conjugate sebanyak 100 µl ke dalam setiap sumur

j. Tutup kembali dengan lapisan adhesif, inkubasi pada suhu ruang selama 2 jam

k. Kosongkan sumur dan cuci dengan wash buffer sebanyak 3 kali

l. Tambahkan 100 µl streptavidin-HRP pada setiap sumur

m. Tutup dengan lapisan adhesif dan diinkubasi selama 20 menit pada suhu

ruang

n. Kosongkan dan bilas dengan wash buffer

(12)

p. Inkubasi pada suhu ruang selama 15 menit

q. Tambahkan 50 µl stop solution pada setiap sumur

r. Perubahan warna menandakan TGF-β2 sudah melekat pada dasar sumur

s. Lakukan pembacaan hasil TGF-β2 dengan ELISA reader pada panjang

gelombang utama 490 ηm dan 620 ηm sebagai panjang gelombang referensi.

3.7.3 Pengukuran Pergerakan Gigi

Pergerakan gigi diukur dengan cara mengukur besar ruangan yang terjadi

antara premolar kedua dan molar pertama pada 48 jam dan 72 jam. Pengukuran besar

ruangan dilakukan menurut metode Malagan dkk 11. Besar ruangan yang terjadi

antara premolar kedua dengan molar pertama dicatat pada 48 jam dan 72 jam setelah

pemasangan separator. Subyek dipanggil setelah 48 jam, kemudian separator

dilepaskan secara hati-hati dengan menggunakan sonde. Dilakukan pengeringan pada

area interproksimal premolar kedua dengan molar pertama, kemudian besarnya

ruangan diukur dengan menggunakan leaf gauge(Gambar 3.9). Setelah dilakukan

pengukuran besar ruangan, separator yang sama dimasukkan kembali pada tempat

sebelumnya. Keseluruhan prosedur ini kemudian diulang kembali pada 24 jam

berikutnya. Subyek diminta untuk tidak memakan makanan yang keras selama

(13)

Gambar 3.9. Pengukuran besar ruangan dengan menggunakan leaf gauge

3.8 Analisis Data

Data akan dianalisa secara deskriptif untuk mendapatkan nilai rata-rata dan

simpangan baku. Kemudian akan dilakukan dengan uji normalitas data menggunakan

Saphiro-Wilk test. Perbedaan perubahan kadar TGF-β2 diuji dengan menggunakan uji

Wilcoxon signed rank. Hubungan pergerakan gigi dengan perubahan kadar TGF-β

(14)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

Subyek pada penelitian ini adalah pasien ortodonti yang akan dilakukan

separasi pada gigi molar pertama dengan menggunakan elastomer separator.

Sedangkan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah cairan sulkus gingiva.

Cairan sulkus gingiva diambil dari sisi distal gigi molar pertama yang akan

dipasangkan separator.

Kadar TGF-β2 (pg/μL) pada cairan sulkus gingiva diukur dengan

menggunakan metode ELISA. Pembacaan Optical Density (OD)yang dihasilkan dari

perubahan warna dilakukan dengan menggunakan ELISA reader pada 450 ηm

sebagai panjang gelombang utama dan 490 ηm sebagai panjang gelombang referensi.

Gambar 4.1 menunjukkan grafik perubahan rerata kadar TGF-β2 selama waktu

pengamatan.

Gambar 4.1. Grafik perubahan rerata kadar TGF-β2 selama waktu pengamatan. Kadar

TGF-β2 (pg/μ

L)

(15)

Berdasarkan Gambar 4.1, terlihat bahwa kadar TGF-β2 pada 48 jam setelah

pemasangan separator mengalami sedikit peningkatan dan kemudian meningkat tajam

pada 72 jam setelah pemasangan separator. Peningkatan besar ruangan yang

dihasilkan oleh elastomer separator pada setiap waktu pengamatan terdapat pada

Gambar 4.2 Pada jam ke 48, rerata besar ruangan yang dihasilkan adalah 0,19 mm,

sedangkan pada jam ke 72, rerata besar ruangan yang dihasilkan oleh elastomer

separator adalah sebesar 0,283 mm.

Gambar 4.2. Besar ruangan yang dihasilkan oleh separator.

Seluruh data diuji normalitas dengan menggunakan uji Saphiro-Wilk, dan

didapat bahwa data tidak terdistribusi normal. Karena data tidak terdistribusi normal,

maka untuk mengetahui perbedaan perubahan kadar dan besar ruangan antar waktu

pengamatan dilakukan dengan uji Friedman, dengan derajat kemaknaan 0,05. Tabel

4.1 menunjukkan perubahan rerata kadar TGF-β2 selama waktu pengamatan.

(16)

Tabel 4.1. Perubahan rerata kadar TGF-β2 selama waktu pengamatan.

Mean ± SD p

TGF-β2 pada 0 jam 47,30 ±16,42

0,001* TGF-β2 pada 48 jam 49,47±18,67

TGF-β2 pada 72 jam 77,03 ± 13,31 *p<0,05. Uji Friedman

Tabel 4.2. Perubahan rerata besar ruangan selama waktu pengamatan.

Mean ± SD p

Ruangan pada 0 jam 0

Ruangan pada 48 jam 0,19±0,06 0,001*

Ruangan pada 72 jam 0,28±0,07 *p<0,05. Uji Friedman

Hasil uji Friedman pada keseluruhan data menunjukkan terdapat perbedaan

yang bermakna yaitu p=0,001 (p<0,05). Dengan demikian, maka untuk melihat

perbedaan perubahan kadar TGF-β2 antar waktu pengamatan dilakukan uji Wilcoxon

signed rank. Hasil uji terdapat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Perbedaan perubahan kadar TGF-β2 antar waktu pengamatan

Perbedaan antar waktu (Jam) p

0 - 48 0,71

0 - 72 0,003*

48 – 72 0,002*

*p<0,05

Berdasarkan uji Wilcoxon signed rank (Tabel 4.3) terdapat perbedaan yang

bermakna (p=0,03; p<0,05) pada saat 72 jam dibandingkan dengan 0 jam dan pada 48

(17)

dengan besar ruangan yang dihasilkan oleh separator dilakukan dengan menggunakan

uji korelasi Spearman dan hasilnya terdapat pada Tabel 4.4. Korelasi antara

pergerakan gigi dengan perubahan kadar TGF-β2 juga dilakukan dengan

menggunakan uji korelasi Spearman (Tabel 4.5).

Tabel 4.4. Korelasi antara besar ruangan dan perubahan kadar TGF-β2.

r p

Tabel 4.5. Korelasi antara pergerakan gigi dan perubahan kadar TGF-β2.

r p

TGF-β2 pada 48 jam dan pergerakan pada 48 jam

0,006 0,983

TGF-β2 pada 72 jam dan pergerakan pada 72 jam

-0,194 0,488

Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat korelasi antara

perubahan kadar dengan besar ruangan yang dihasilkan. Nilai negatif menunjukkan

perbandingan terbalik. Namun, karena nilai p>0,05, maka secara statistik

menunjukkan tidak terdapat korelasi antara perubahan kadar dengan besar ruangan.

Sementara pada korelasi pergerakan gigi dengan perubahan kadar TGF-β2

menunjukkan tidak terdapat hubungan antara pergerakan gigi dengan perubahan

(18)

BAB 5

PEMBAHASAN

Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan jenis eksperimental kuasi yang

dilakukan pada pasien yang akan mendapatkan perawatan ortodonti cekat untuk

melihat perubahan kadar TGF-β2 saat dilakukan pemasangan separator pada sisi

tekanan dan besar ruangan yang dihasilkan oleh separator. Perubahan kadar TGF-β2

dan besar ruangan yang dihasilkan oleh separator diamati pada 0 jam, 48 jam, dan 72

jam.

Perubahan kadar TGF-β2 diukur dengan menggunakan cairan sulkus gingiva

(CSG) sebagai media analisa. CSG dipilih sebagai media untuk mengukur kadar

TGF-β2 karena perubahan kandungannya merupakan cerminan keadaan klinis.

Metode untuk mengumpulkan CSG yang digunakan pada penelitian ini adalah

metode intrakrevikular superfisial karena metode ini tidak invasif dan mudah

terserap.

Kekurangan CSG sebagai media analisa protein adalah jumlahnya yang

sedikit saat dilakukan pengambilan, hal ini akan membatasi analit yang dapat

diperiksa. Karena itu, pada penelitian ini, paper point yang digunakan untuk

menyerap CSG didiamkan pada sulkus gingiva selama 5 menit. Dengan demikian,

diharapkan terdapat CSG yang cukup untuk dianalisa. CSG juga mudah

(19)

Karena itu, sebaiknya metode pengambilan yang dipilih adalah intrakrevikular

superfisial yang tidak invasif.

Subyek penelitian yang dipilih pada penelitian ini berjenis kelamin laki-laki.

Hal ini dilakukan untuk mengurangi pengaruh hormon estrogen terhadap sintesis

TGF-β2. Penelitian Avdagic dkk dan Nieves dkk mendapatkan hasil bahwa

kepadatan tulang pada laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan.48,49 Namun

Chisari mengatakan bahwa tidak terdapat perbedaan kecepatan pergerakan gigi yang

bermakna antara laki-laki dan perempuan.50 Penelitian Chisari mendapatkan hasil

korelasi negatif antara usia dan kecepatan pergerakan gigi pada laki-laki.50 Dudic dkk

juga mengatakan bahwa bukanlah jenis kelamin yang memperngaruhi pergerakan

gigi, melainkan usia.32

Perubahan kadar TGF-β2 diukur dengan membandingkan kadar pada 48 jam

dan 72 jam dengan sebelum dilakukan pemasangan separator. Pemilihan waktu ini

diharapkan dapat mewakili fase pertama dalam pergerakan gigi menurut Burstone

yang mengatakan bahwa pada fase pertama gigi akan bergerak dengan cepat didalam

soketnya. Selain itu, pada kelompok usia tumbuh kembang, ditemukan bahwa kadar

TGF-β2 mengalami sedikit penurunan pada 24 jam pertama. Inilah yang menjadi

alasan pemilihan waktu pengamatan pada 48 jam.

Grant dkk mendapati peningkatan yang signifikan pada kadar IL-1β dan IL-8

pada 4 jam pertama setelah aplikasi daya pada saat retraksi kaninus.17 Sementara

(20)

dibandingkan dengan sebelum pemasangan separator (p=0,71). Peningkatan yang

bermakna terjadi pada 72 jam setelah pemasangan separator bila dibandingkan

dengan 48 jam dan sebelum pemasangan (p=0,002 dan p=0,003). Namun, karena

keterbatasan waktu pengamatan, maka belum dapat disimpulkan apakah 72 jam

merupakan puncak peningkatan kadar TGF-β2 akibat pemberian daya ortodonti.

Peningkatan kadar pada jam ke 72 kemungkinan terjadi untuk mengimbangi

penurunan kadar sitokin dan growth factor lainnya karena Uematsu dkk mendapatkan

bahwa puncak kadar TGF-β1 adalah pada 24 jam pertama setelah aplikasi daya.16

Penelitian lain juga menemukan bahwa setelah 48 jam, kadar TGF-β1 mulai

mengalami penurunan.51 Peningkatan kadar yang terjadi bergantian ini diperlukan

agar remodeling tulang terus terjadi sehingga gigi dapat bergerak hingga mencapai

posisi yang seharusnya.

TGF-β2 adalah protein yang multifungsi yang berperan pada berbagai fungsi

sel. Terjadinya peningkatan kadar TGF-β2 pada penelitian ini membuktikan bahwa

TGF-β2 juga berperan dalam remodeling tulang akibat pemberian daya ortodonti.

Selain itu, pengamatan dilakukan pada bagian distal molar yang mencerminkan sisi

tekanan. Dengan terjadinya peningkatan kadar, maka hal ini membuktikan bahwa

TGF-β2 juga merupakan salah satu regulator lokal yang penting dalam meregulasi

osteoklas.

Pemasangan separator untuk mendapatkan ruangan agar dapat dilakukan

(21)

ortodonti. Separator dapat dipasangkan pada satu titik kontak ataupun kedua titik

kontak. Hoffman mengatakan bahwa separator yang ideal sebaiknya dapat

memberikan separasi yang maksimal tanpa menyebabkan ketidaknyamanan bagi

pasien.52 Beberapa penulis lain mengatakan bahwa separator dipasangkan 1 minggu

sebelum pemasangan cincin.13,23,34

Ligamen periodontal memiliki ketebalan rata-rata sebesar 0,21 mm, dengan

demikian, diperlukan pemasangan separator untuk menempatkan cincin dengan

ketebalan 0,16 mm. Davidovitch dkk mengatakan bahwa untuk mendapatkan ruangan

yang cukup untuk dilakukan pemasangan cincin hanya memerlukan waktu 12 jam

pada pasien dengan kontak proksimal awal yang rapat.13 Sementara, Malagan dkk

mengatakan elastomer separator akan menghasilkan ruangan yang cukup pada hari

kedua.11

Pada penelitian ini, rerata ruangan yang dihasilkan pada 48 jam dan 72 jam

setelah pemasangan separator berturut-turut adalah 0,19 mm dan 0,283 mm. Dengan

demikian, pemasangan cincin sebenarnya dapat dilakukan 2 hari setelah pemasangan

separator. Namun, dengan mempertimbangkan kenyamanan bagi pasien, maka

separasi sebaiknya dilakukan 3 hari sebelum pemasangan cincin. Dengan besar

ruangan yang dihasilkan sebesar 0,283 mm, maka pemasangan cincin diharapkan

lebih nyaman bagi pasien tanpa menyebabkan rasa sakit.

Perubahan sistem biologi yang terjadi pada ligament periodontal dan tulang

(22)

remodeling tulang. Remodeling tulang inilah yang mendasari terjadinya pergerakan

gigi. Grant dkk menemukan bahwa perubahan kadar penanda remodeling tulang tidak

berbanding lurus dengan kecepatan pergerakan gigi. Pada penelitiannya, Grant dkk

hanya mendapati korelasi yang positif antara kadar RANK dengan kecepatan

pergerakan gigi.17 Namun, ada beberapa sitokin lain yang dapat mempercepat

pergerakan gigi secara ortodonti. Patil dkk mengatakan bahwa pemberian PGE2

secara injeksi terbukti dapat mempercepat pergerakan gigi pada saat retraksi

kaninus.53 Nimeri dkk merangkum protein yang dapat mempercepat pergerakan gigi

yaitu adalah prostaglandin, OPG, RANKL, PTH dan Vitamin D. Sayangnya,

sebagian besar penelitian ini masih terbatas pada hewan coba.54

Pada penelitian ini, korelasi antara pergerakan gigi dengan perubahan kadar

menunjukkan korelasi negatif yang sangat lemah pada jam ke 72 (r=-0,194; p=0,488).

Korelasi ini terjadi karena pada saat jam ke 72, terjadi peningkatan kadar yang sangat

besar sedangkan pergerakan gigi mulai mengalami penurunan. Hal ini menandakan

bahwa remodeling tulang pada pergerakan gigi terjadi karena peranan berbagai

protein yang secara bergantian akan mengalami peningkatan kadar setelah dilakukan

aplikasi daya ortodonti.

Penelitian ini tidak mengukur kerapatan titik kontak awal pada pasien.

Kerapatan titik kontal awal akan mempengaruhi waktu yang diperlukan untuk

separasi dan ruangan yang dihasilkan oleh separator. Davidovitch dkk mengatakan

(23)

untuk melakukan pemasangan separator 8 jam sebelum pemasangan cincin.

Sedangkan pada pasien dengan kerapatan titik kontak awal yang sangat rapat,

sebaiknya dilakukan pemasangan separator 12 jam sebelum pemasangan cincin.13

Selain itu, desakan dari molar ketiga juga tidak dipertimbangkan, karena subyek

dipilih tanpa melihat ada atau tidaknya molar ketiga.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa protein penanda remodeling

tulang dan ligament periodontal akan terus mengalami perubahan selama aplikasi

daya. Memahami dan mengawasi sistem biologi pada situasi klinis akan meniadakan

jurang pemisah antara penelitian dasar dan aplikasi klinis. Hal ini akan

menguntungkan bagi klinisi dan pasien bila reaksi dari sistem biologi dapat diawasi

selama perawatan, karena akan memungkinkan adanya penyesuaian perawatan

terhadap kondisi biologi pasien.

Penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi perbedaan kadar TGF-β2 setelah

dilakukan pemberian daya ortodonti berupa elastomer separator. Terjadi peningkatan

kadar TGF-β2 setelah dilakukan pemasangan elastomer separator bila dibandingkan

dengan sebelum pemasangan elastomer separator. Peningkatan kadar tersebut tidak

berhubungan dengan pergerakan gigi secara ortodonti. Dengan demikian, hipotesis

(24)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian untuk mengetahui korelasi perubahan kadar

TGF-β2 dan pergerakan gigi, maka dapat disimpulkan bahwa :

Terdapat peningkatan kadar TGF-β2 pada 48 jam dan 72 jam setelah

dilakukan pemasangan separator bila dibandingkan dengan sebelum dilakukan

pemasangan separator.

Kadar TGF-β2 meningkat signifikan (p=0,003) pada jam ke 72 bila

dibandingkan dengan sebelum dilakukan pemasangan separator.

Perubahan kadar TGF-β2 pada penelitian ini tidak berkorelasi dengan besar

ruangan yang dihasilkan akibat pemasangan separator.

Perubahan kadar TGF-β2 pada penelitian ini tidak berkorelasi dengan

pergerakan gigi.

Peningkatan kadar TGF-β2 pada 48 jam setelah pemasangan separator

menunjukkan bahwa dalam remodeling tulang, TGF-β2 berperan setelah TGF-β1.

Pemasangan cincin sebaiknya dilakukan pada 3 hari setelah pemasangan

separator elastomer.

6.2 SARAN

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan waktu yang lebih lama untuk

(25)

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada sisi mesial premolar kedua yang

juga mengalami tekanan untuk lebih memahami peranan TGF-β2 pada

resorpsi tulang pada pergerakan gigi secara ortodonti.

3. Pada penelitian selanjutnya mengenai pergerakan gigi, sebaiknya juga

mengukur kerapatan kontak interproksimal pada saat sebelum dilakukan

aplikasi daya.

4. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan pergerakan gigi

Gambar

Tabel 3.1 Definisi Operasional, Alat Ukur, dan Skala Ukur dari Variabel Bebas dan   Tergantung dari Penelitian  Definisi  Alat Satuan Skala
Gambar 3.1. Phosphate Buffer Saline(PBS)   Gambar 3.2. Kit ELISA human TGF-β2
Gambar 3.5 Leaf gauge (Dentsply)
Gambar 3.8. Paper point yang dimasukkan kedalam tabung   Eppendorf berisi PMSF dan PBS
+6

Referensi

Dokumen terkait