Dampak Revitalisasi Jalur Ganda PT. Kereta Api Indonesia Terhadap Sosial Ekonomi Keluarga Pinggiran Rel di Kelurahan Glugur Darat II Kecamatan Medan Timur Chapter III VI

52 

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian eksplanatif yaitu penelitian yang dilakukan

dengan tujuan menguji atau membuktikan hipotesis. Berdasarkan hasil analisis

data statistik inferensial akan diketahui apabila hipotesis yang dirumuskan

diterima atau ditolak, atau apakah anggapan yang ada dalam hipotesis penelitian

terbukti atau tidak secara empiris (Siagian, 2011:46).

3.2Lokasi Penelitian

Penelitian ini di lakukan di daerah pinggiran rel Kelurahan Glugur Darat II

Kecamatan Medan Timur. Alasan dipilihnya lokasi tersebut karena daerah

tersebut adalah daerah pinggiran rel yang baru-baru ini mengalami revitalisasi

jalur kereta api dan dengan adanya revitalisasi tersebut menimbulkan berbagai

dampak yang dirasakan oleh keluarga yang tinggal dipinggiran rel tersebut.

3.3Populasi dan Sampel 3.3.1Populasi

Secara sederhana populasi dapat diartikan sebagai sekumpulan obyek, benda,

peristiwa ataupun individu yang akan dikaji dalam suatu penelitian (Siagian,

2011). Berdasarkan pendapat diatas maka yang menjadi populasi dalam penelitian

ini adalah keluarga pinggiran rel di Keluarahan Glugur Darat II, berjumlah 174

(2)

3.3.2Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang bersifat representative dari populasi

yang diambil datanya secara langsung (siagian, 2011:156). Sampel dipergunakan

untuk menentukan sifat serta ciri yang ditentukan dari jumlah populasi (Siregar,

2013:30).

Teknik penarikan sampel berdasarkan rumus Taro Yamane yaitu:

� = � �(�)2+ 1

Keterangan:

n= Jumlah sampel

N= Jumlah populasi

d2= Presisi (ditetapkan 10% dengan tingkat kepercayaan 95%) Diketahui populasi 174 KK, maka penghitungannya yaitu:

� = 174

174(0.1)2+ 1

� = 174 27.4

� = 63.5 ����������������� 64 ��

Maka, peneliti menetapkan sampel dalam penelitian ini sebanyak 64 KK.

3.4Teknik Pengumpulan Data

Dalam rangka memperoleh data yang diperlukan, peneliti menggunakan

teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Studi lapangan, yaitu pengumpulan data atau informasi melalui kegiatan

(3)

berkaitan dengan masalah yang diteliti. Adapun alat-alat yang digunakan dalam

rangka studi lapangan ini, yaitu:

a. Observasi, yaitu pengamatan langsung terhadao objek yang diteliti untuk

mendapatkan gambaran yang tepat mengenai objek penelitian.

b. Kuisioner, yaitu mengumpulkan data dengan cara menyebar daftar

pertanyaan untuk dijawab atau diisi responden sehingga peneliti

memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian.

c. Studi kepustakaan, yaitu pengumpulan data atau informasi yang

menyangkut masalah yang akan diteliti melalui penelaan buku, jurnal dan

karya tulis ilmiah lainnya.

3.5Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis

statistik inferensial yaitu melakukan kajian terhadap dua variabel dengan tujuan

mengetahui pengaruh atau hubungan yang ada diantara dua variabel-variabel

penelitian (Siagian, 2011:97).

Untuk melihat hubungan antara variabel-variabel penelitian, teknik pengujian

hipotesis korelasi yang digunakan adalah uji t. uji t dilakukan dengan mengambil

data 2 kali dan hanya pada keluarga pinggiran rel kelurahan glugur darat II. Data

yang dikumpulkan yaitu:

1. Perkembangan sosial ekonomi masyarakat sebelum adanya revitalisasi

jalur ganda oleh PT. Kereta Api Indonesia.

2. Perkembangan sosial ekonomi masyarakat setelah adanya revitalisasi jalur

ganda oleh PT. Kereta Api Indonesia.

(4)

Adapaun teknik pengujian hipotesis korelasi uji t dinyatakan dengan

rumus:

=

∑D

�� ∑ �2 –(∑ �)2

� −1

Keterangan:

t = Nilai mean kelompok sampel

d = Perbedaan skor antara subyek

D2 = Kuadrat perbedaan skor N = Sampel

Dimana:

ΣD : Jumlah keseluruhan nilai x1 (perlakuan pertama) dan x2 (perlakuan kedua).

ΣD2

: Jumlah keseluruhan selisih dari kuadrat perlakuan pertama dan perlakuan

kedua.

(5)

BAB IV

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN 4.1Gambaran Umum Kelurahan Glugur Darat II

Kelurahan glugur darat II merupakan salah satu dari sebelas kelurahan di

Pemerintahan Kecamatan Medan Timur Kota Medan Provinsi Sumatera Utara dan

merupakan hasil pemekaran dari Kelurahan Glugur yang diresmikan oleh Bapak

Gubernur Sumatera Utara Haji Raja Inal Siregar dan Bapak Walikota Medan Haji

Bahctiar Djafar pada hari selasa tanggal 21 Juli tahun 1992. Kelurahan Glugur

Darat II Kecamatan Medan Timur berjarak kurang lebih 3 km arah Timur dari

Kantor Pusat Pemerintahan Kecamatan dan kurang lebih 5 km arah Selatan dari

Ibukota Provinsi. Luas wilayah kerja Kelurahan Glugur Darat II Kecamatan

Medan Timur lebih kurang 76 Ha. Dengan batas-batas:

Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kelurahan Glugur Darat I

Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kelurahan Durian

Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kecamatan Medan Perjuangan

Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Medan Barat

Penduduk Kelurahan Glugur Darat II berjumlah 13.864 jiwa dengan 3.363

Kepala Keluarga (KK), dimana jumlah laki-laki sebanyak 5.974 orang dan jumlah

perempuan sebanyak 7.264 orang. Kelurahan Glugur Darat II terbagi atas 12

lingkungan dan masing-masing memiliki kepala lingkungan. Penduduk yang ada

di Kelurahan Glugur Darat II mayoritas adalah suku Jawa. Kelurahan Glugur

Darat II Kecamatan Medan Timur terdiri atas Kantor Kelurahan yang berdiri

(6)

Kecamatan Medan Timur yang kurang lebih terdiri atas 75% daerah pemukiman,

15% pertokoan, 3% industri atau pabrik, 7% instansi pendidikan dan sarana

ibadah.

Secara umum Kelurahan Glugur Darat II terkenal dengan lingkungan tempat

tinggal yang padat dan kurang teratur dikarenakan warga di Kelurahan Glugur

Darat II ada yang menempati pinggiran rel kereta api sebagai tempat tinggal

mereka. Warga yang membangun rumah di pinggiran-pinggiran rel kereta api

tersebut masuk kedalam Kelurahan Glugur Darat II lingkungan III. Kondisi

pemukiman yang padat dan berada disekitaran rel kereta api menjadi penyebab

terlihat tidak teraturnya pemukiman di Kelurahan Glugur Darat II.

4.2Keadaan Demografis

4.2.1 Gambaran penduduk berdasarkan jenis kelamin

Berdasarkan data-data yang diperoleh dari kantor Kelurahan Glugur Darat II

Kecamatan Medan Timur diketahui bahwa jumlah penduduk pada tahun 2017

adalah 13.238 jiwa dengan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak

5.974 orang sedangkan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 7.264 orang.

Secara umum jumlah penduduk perempuan di Kelurahan Glugur darat II lebih

banyak dari jumlah penduduk laki-laki dimana dapat dilihat dari sex ratio yang

nilainya di bawah 100. Artinya dalam 100 jumlah penduduk perempuan terdapat

(7)

Tabel 4.1

Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

No. Jenis Kelamin Frekuensi Presentase (%)

1. Laki-laki 5.974 45,1 2. Perempuan 7.264 54,8

Total 13.238 100,0

Sumber: Kantor Lurah Glugur Darat II, September 2017

4.2.2 Gambaran penduduk berdasarkan usia Tabel 4.2

Distribusi Penduduk Berdasarkan Usia

No. Kategori Usia Frekuensi Presentase(%) 1. 0-4 Tahun 1.043 7,8 2. 5-14 Tahun 2.963 22,3 3. 15-24 Tahun 2.807 21,4 4. 25-55 Tahun 5.611 42,3 5. 56 Tahun keatas 914 6,9 Total 13.238 100,0

Sumber: Kantor Lurah Glugur Darat II, September 2017

Dari tabel 4.2 maka komposisi penduduk Kelurahan Glugur Darat II

berdasarkan usia dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok (dua) yaitu:

1. Kelompok usia belum produktif (usia 0-14 tahun)

2. Kelompok usia produktif (15-56)

Berdasarkan pengelompokkan usia tersebut dapat dilihat bahwa kelompok

usia produktif atau kelompok angkatan kerja merupakan golongan terbanyak di

Kelurahan Glugur Darat II.

4.2.3 Gambaran penduduk menurut pekerjaan

Pekerjaan merupakan sumber atau dasar dalam hal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan data yang diperoleh, gambaran penduduk

menurut pekerjaannya adalah sebagai berikut:

(8)

Tabel 4.3

Dari tabel 4.3 dilihat bahwa mayoritas masyarakat Kelurahan Glugur Darat II

bekerja pada mata pencaharian lain-lain yaitu sekitar 45,4% yang berprofesi

sebagai tukang becak, montir, tukang botot, tukang bangunan, sopir, asisten

rumah tangga dan sebagai pedagang, selanjutnya diikuti yang bermata

pencaharian sebagai buruh. Kondisi wilayah Kelurahan Glugur Darat II yang

dekat dengan kampus UMSU dan kos-kosan mahasiswa mengakibatkan banyak

penduduk di daerah tersebut berprofesi sebagai pedagang, tukang becak dan

tukang cuci setrika pakaian (laundry).

Sumber: Kantor Lurah Glugur Darat II, September 2017

Berdasarkan tabel 4.4 diatas menunjukkan mayoritas penduduk di Kelurahan

Glugur Darat II adalah penganut agama islam dengan jumlah 9.040 orang

(65,8%). Agama islam menjadi mayoritas hal ini dapat dipahami karna

(9)

yaitu etnis Jawa. Etnis ini dalam sejarahnya memang merupakan etnis dengan

sejarah perkembangan agama islam yang kuat. Hal ini juga dapat terlihat dengan

banyaknya tersebar masjid dan mushola di Kelurahan Glugur Darat II.

Tabel 4.5

Distribusi Penduduk Berdasarkan Etnis

No. Etnis Frekuensi Presentase (%) 1. Jawa 3.768 28,4

2. Batak 2.455 18,5 3. Mandailing 1.998 15,0 4. Minang 910 6,9 5. Simalungun 905 6,8 6. Karo 736 5,5 7. Cina 678 5,1 8. Sunda 564 4,2 9. Melayu 404 3,0 10. India 182 1,3 11. Lain-lain 644 4,8 Total 13.238 100,0

Sumber: Kantor Lurah Glugur Darat II, September 2017

Berdasarkan tabel 4.5 diatas dapat dilihat bahwa keberagaman etnis di

Kelurahan Glugur Darat II sangat beragam dengan mayoritas adalah etnis Jawa

yang berjumlah 28,4%. Banyaknya etnis Jawa tidak terlepas dari sejarah pada

jaman penjajahan Belanda dimana penduduk Jawa dibawa ke Sumatera untuk

membuka jalan ataupun membuka perkebunan. Setelah zaman penjajahan

berakhir mereka kemudian memilih mencari pekerjaan di daerah Sumatera dan

mulai bermukim disekitaran pusat kota ataupun di daerah pinggiran-pinggiran

kota. Lambat laun para pendatang dari Jawa tersebut mulai menyatu dengan

(10)

4.3Sarana dan Prasarana di Kelurahan Glugur Darat II 4.3.1 Sarana ibadah

Tabel 4.6

Sarana Ibadah di Kelurahan Glugur Darat II No. Rumah Ibadah Jumlah

1. Masjid 6

2. Gereja 5

3. Musholla 3

4. Vihara 1

Total 15

Sumber: Kantor Lurah Glugur Darat II, September 2017 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa sarana ibadah yang ada di Kelurahan Glugur Darat II sudah tersedia dengan baik dimana dapat dilihat dari beberapa tempat ibadah yang tersedia yaitu masjid, gereja, musholla dan vihara. Sejauh ini kondisi seluruh bangunan rumah ibadah tersebut masih layak pakai sebagai tempat untuk beribadah warga sekitar Kelurahan Glugur darat II dan itu menjadi bukti kerukunan antar umat beragama di Kelurahan Glugur Darat II masih terjaga dengan baik. 4.3.2 Sarana pendidikan Tabel 4.7 Sarana Pendidikan di Kelurahan Glugur Darat II No. Sarana Pendidikan Jumlah 1. Taman Kanak-kanak 1

2. Sekolah Dasar 2

3. Sekolah Menengah Pertama 1

4. Institut 1

Total 5

Sumber: Kantor Lurah Glugur Darat II, September 2017

Sarana pendidikan yang ada di Kelurahan Glugur Darat II sudah memenuhi

untuk pendidikan dasar bagi anak-anak seperti taman kanak-kanak dan sekolah

(11)

tersedia namun untuk ke jenjang sekolah menengah atas anak-anak harus

bersekolah diluar wilayah Glugur Darat II berhubung sarana pendidikan tingkat

menengah keatas belum tersedia.

4.3.3 Sarana kesehatan

Prasaran kesehatan yang ada di Kelurahan Glugur Darat II sudah tersedia

walaupun di daerah tersebut belum berdiri rumah sakit, poliklinik ataupun praktek

dokter. Namun dengan adanya Pos Pelayanan Terpadu sebanyak 10 buah sudah

memenuhi sarana kesehatan untuk warga. Posyandu ini aktif dalam melayani

seluruh warga Kelurahan Glugur Darat II bahkan juga ada posyandu khusus

lansia.

4.3.4 Sarana transportasi

Sarana transportasi yang ada di Kelurahan Glugur Darat II terdiri dari angkutan umum yang melintas setiap 5 menit sekali dan ada juga becak yang

sering digunakan warga. Namun kebanyakan masyarakat lebih memilih

menggunakan kendaraan pribadi mereka masing-masing dalam beraktivitas

sehari-hari.

4.4 Sistem Pemerintahan

Untuk mengkoordinasikan jalannya pemerintahan agar dapat mencapai visi

dan misi, Kelurahan Glugur Darat II dipimpin oleh seorang Lurah yaitu Bapak

Nurianto dan Sekretaris Lurah yaitu Bapak Edi Saputra, SE dan didukung oleh

staff-staff keluarahan lainnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan

struktur pemerintahan Kelurahan Glugur Darat II berikut ini:

(12)
(13)

BAB V ANALISIS DATA

Pada bab ini penulis akan menganalisis data-data yang diperoleh dari hasil

penelitian melalui penyebaran kuisioner dan wawancara kepada keluarga

pinggiran rel yang terkena dampak revitalisasi jalur ganda dengan jumlah

responden sebanyak 64 kepala keluarga. Menganalisis data merupakan suatu

upaya untuk menata dan mengelompokkan data menjadi suatu bagian-bagian

tertentu menurut kelompok data jawaban responden. Analisis data yang dimaksud

ialah interpretasi langsung yang berdasarkan data dan informasi yang diperoleh

dilapangan. Adapun data-data yang dianalisis dalam bab ini adalah sebagai

berikut:

5.1 Deskripsi Data Hasil Penelitian 5.1.1 Jenis kelamin

Tabel 5.1

Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin No. Jenis Kelamin Frekuensi Presentase

1. Laki-laki 25 39,0 2. Perempuan 39 60,9 Total 64 100,0

Sumber: Kuisioner penelitian, September 2017

Sesuai dengan pembahasan bab sebelumnya bahwa yang menjadi responden

dalam penelitian ini adalah kepala keluarga dari setiap keluarga yang rumahnya

berada dipinggiran rel kereta api Kelurahan Glugur Darat II. Dalam hal ini tidak

dibatasi perempuan atau laki-laki yang mengisi kuisioner. Jadi, berdasarkan hasil

data dapat dilihat bahwa mayoritas yang menjadi responden peneliti adalah 60,9%

(14)

merupakan perempuan, karena di daerah pinggiran rel tersebut memang mayoritas

yang tinggal berstatus janda atau sudah tidak memiliki suami. Sementara dalam

pengumpulan informasi penulis mendatangi rumah-rumah responden untuk

mengisi kuisioner.

5.1.2 Usia

Tabel 5.2

Distribusi Responden Berdasarkan Usia

No. Usia Frekuensi Presentase (%) 1. 41-45 4 6,2

2. 46-50 19 29,6 3. 51-55 18 28,1 4. 56-60 8 12,5 5. 61 keatas 15 23,4 Total 64 100,0

Sumber: Kuisioner penelitian, September 2017

Berdasarkan tabel 5.2 dapat dilihat bahwa usia semua responden diatas 46

tahun. Hal ini disebabkan karena mereka yang menjadi responden adalah mereka

yang sudah berkeluarga. Oleh karena itu, objek dari penelitian adalah kepala

keluarga yang tinggal di pinggiran rel Kelurahan Glugur Darat II dimana mereka

rata-rata sudah tinggal bertahun-tahun lamanya dikawasan tersebut.

5.1.3 Agama

Tabel 5.3

Distribusi Responden Berdasarkan Agama

No. Agama Frekuensi Presentase (%) 1. Islam 62 96,8 2. Kristen Protestan 2 3,1

Total 64 100,0

Sumber: Kuisioner penelitian, September 2017

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat responden mayoritas beragama Islam

dengan persentase 96,8%. Hal ini disebabkan karena memang pada awal mulanya

(15)

seiring berjalannya waktu muncullah pendatang yang beragama selain Islam.

Namun walaupun begitu mereka tetap hidup rukun dan saling menghargai antara

agama yang satu dengan agama yang lain.

5.1.4 Suku

Berdasarkan tabel 5.4 dapat dilihat bahwa responden mayoritas berasal dari

suku jawa yaitu dengan persentase 56,2%. Sesuai dengan hasil wawancara peneliti

dengan salah seorang perangkat desa yaitu Ibu Sumiem bahwa mayoritas

penduduk di Kelurahan Glugur Darat II adalah Suku Jawa walaupun sebenarnya

Suku Jawa merupakan suku pendatang di Keluarahan Glugur Darat II. Sementara

itu yang merupakan suku asli daerah tersebut adalah Suku Melayu.

5.1.5 Pendidikan terakhir

Berdasarkan tabel 5.5 dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan responden masih

sangat minim karena rata-rata dari mereka hanya menyelesaikan pendidikan

sampai pada tingkat sekolah dasar. Dengan tingkat pendidikan yang minim ini

(16)

Pendidikan mereka yang tergolong rendah yaitu rata-rata tamat SD membuat

mereka harus hidup dengan kemiskinan. Pendidikan yang rendah dan

keterampilan yang tidak memadai menjadikan mereka hanya bekerja sebagai

penarik becak, tukang cuci setrika pakaian dan buruh serabutan.

5.1.6 Pekerjaan

Tabel 5.6

Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan

No. Pekerjaan Frekuensi Presentase (%) 1. Penarik becak 15 23,4 2. Buruh cuci setrika 30 46,8 3. Pedagang 7 10,9 4. Lain-lain 12 18,7 Total 64 100,0

Sumber: Kuisioner penelitian, September 2017

Berdasarkan tabel 5.6 dapat dilihat bahwa seluruh responden bekerja pada

sektor informal. Keterampilan yang kurang serta pendidikan yang sangat minim

mengakibatkan mereka hanya bisa bekerja sebagai pedagang, tukang cuci setrika

pakaian, penarik becak dan buruh serabutan. Dari keterangan yang didapat dari

responden mereka hanya mendapatkan sedikit penghasilan yang hanya cukup

untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari sehingga untuk memenuhi kebutuhan yang

lain mereka mengaku belum mampu untuk memenuhinya. Untuk yang lain-lain

ada sekitar 18,7% profesinya adalah tukang botot dan tukang parkir liar.

5.1.7 Pendapatan

Tabel 5.7

Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan

No. Pendapatan Frekuensi Presentase (%) 1. Rp. 200.000-Rp. 499.000/bln 3 4,6

2. Rp. 500.000-Rp. 799.000/bln 39 60,9 3. Rp. 800.000-Rp. 1.000.000/bln 22 34,3 Total 64 100,0

(17)

Berdasarkan tabel 5.7 dapat dilihat bahwa pendapatan responden masih sangat

rendah, pendidikan yang rata-rata hanya sampai pada tingkat sekolah dasar dan

kurangnya keterampilan yang dimiliki responden mengakibatkan mereka bekerja

hanya pada sektor pekerjaan yang memiliki tingkat penghasilan rendah. Dengan

penghasilan yang rendah tersebut mereka hanya mampu memenuhi kebutuhan

konsumsi keluarga walaupun hanya dengan makanan yang seadanya. Melihat

kondisi yang ada dilapangan bisa dipastikan warga yang tinggal dipinggiran rel

kereta api tersebut tidak merasakan pemenuhan gizi yang tepat dan seimbang.

5.1.8 Jumlah anggota keluarga

Tabel 5.8

Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga No. Jumlah Anggota Keluarga Frekuensi Presentase (%) 1. 2 Orang 17 26,5

2. 3 Orang 21 32,8 3. 4 Orang 15 23,4 4. 5 Orang 9 9,3 5. 6 Orang 2 3,1 Total 64 100,0

Sumber: Kuisioner penelitian, September 2017

Berdasarkan tabel 5.8 diatas dapat dilihat bahwa sebanyak 21 responden

memiliki jumlah anggota keluarga 3 orang yang tinggal bersama didalam rumah.

Biasanya mereka terdiri dari suami/istri, anak atau cucu dan menantu mereka.

5.2 Revitalisasi Jalur Ganda PT. Kereta Api Indonesia (Variabel X) 5.2.1 Tanggapan responden dengan adanya revitalisasi jalur ganda

Dari hasil kuisioner, menunjukkan bahwa responden kurang setuju dengan

adanya revitalisasi jalur ganda yang lakukan oleh pihak PT. Kereta Api Indonesia.

Hal ini dapat dilihat dari jawaban responden yang rata-rata menjawab kurang

(18)

bahwasannya mereka merasa dirugikan oleh pihak PT. Kereta Api Indonesia,

mereka merasa orang-orang yang berada diatas tidak memikirkan kehidupan

orang-orang yang hidupnya susah dan menderita. Mereka sadar tanah tempat

mereka tinggal adalah tanah milik PT. Kereta Api Indonesia dan sudah menjadi

resiko mereka bila sewaktu-waktu pihak PT. Kereta Api Indonesia kembali

melakukan revitalisasi jalur kereta api dan mereka harus tergusur sepenuhnya dari

kawasan tersebut.

Tabel 5.9

Distribusi Responden Berdasarkan Tanggapan Mengenai Revitalisasi Jalur Ganda Oleh PT. KAI

No. Jawaban Frekuensi Presentase (%) 1. Setuju - -

2. Kurang setuju 49 76,5 3. Tidak setuju 15 23,4 Total 64 100,0

Sumber: Kuisioner penelitian, September 2017

Berdasarkan tabel diatas, tentang tanggapan warga pinggiran rel mengenai

revitalisasi jalur ganda oleh PT. KAI, mereka tampak tidak setuju. Hal ini dapat

dilihat sebanyak 49 responden yang memilih kurang setuju dengan adanya

revitalisasi jalur ganda yang dilakukan oleh pihak PT. KAI. Saat peneliti bertanya

kepada responden, mereka mengatakan mereka nyaris kehilangan tempat tinggal

dengan adanya revitalisasi ini. Sekarang ini kondisi rumah-rumah mereka

terpotong separuh karena pihak PT. KAI mengambil 11 m sisi kanan dan sisi kiri

untuk revitalisasi tersebut, alhasil sekarang ini warga-warga pinggiran rel mau

tidak mau harus menempati kondisi rumah yang sudah tinggal separuh tersebut.

Pihak PT. KAI tidak menyediakan relokasi untuk mereka, pihak PT. KAI hanya

memberikan dana sebagai pengganti untuk rumah-rumah yang sudah dirobohkan

(19)

tanah yang mereka tempati itu adalah tanah milik PT. KAI tapi mereka berharap

pihak PT. KAI memiliki rasa empati dan kasihan kepada mereka yang hidupnya

dibawah garis kemiskinan.

5.2.2 Tanggapan responden mengenai revitalisasi jalur ganda yang dilakukan baik bagi pembangunan fisik transportasi kereta api

Berdasarkan hasil kuisioner, mengenai tanggapan responden mengenai revitalisasi jalur ganda yang dilakukan baik bagi pembangunan fisik transportasi

kereta api atau tidak. Semua responden yang menjawab baik yakni sebanyak 64

orang. Jadi revitalisasi yang dilakukan oleh pihak PT. KAI ini dianggap baik oleh

responden, hal ini terkait dengan pembangunan fisik transportasi kereta api.

Namun menurut responden yang peneliti wawancarai alangkah lebih baiknya

apabila sebelum melakukan revitalisasi ini pihak-pihak yang terkait memikirkan

juga nasib warga yang tinggal dipinggiran rel, misalnya memberikan relokasi agar

mereka tidak merasa kehilangan tempat tinggal.

Senada dengan yang dikatakan Lurah Glugur Darat II Bapak Nurianto bahwa

mayoritas masyarakat Glugur Darat II yang tinggal dipinggiran rel kereta api

tersebut sebanyak 174 KK, mereka masuk kedalam Kelurahan Glugur Darat II

Lingkungan III. Mereka yang tinggal dikawasan pinggiran rel tersebut memang

hidup dibawah garis kemiskinan dimana pendapatan mereka yang tergolong

minim yaitu rata-rata hanya Rp. 500.000 s/d Rp. 799.000 per bulan. Jika

berdasarkan penggolongan BPS pendapatan warga pinggiran rel Keluarahan

Glugur Darat II masuk ke dalam golongan pendapatan rendah dimana hal ini

menjadikan mereka tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan tidak

pula mampu mencapai taraf kehidupan yang dianggap layak.

(20)

5.2.3 Tanggapan responden mengenai cepat atau tidaknya proses revitalisasi jalur ganda yang dilakukan

Tabel 5.10

Distribusi Responden Berdasarkan Cepat atau Tidaknya Proses Revitalisasi yang Dilakukan

No. Jawaban Frekuensi Presentase (%) 1. Cepat 34 53,1 2. Kurang cepat 28 43,7 3. Tidak cepat 2 3,1 Total 64 100,0

Sumber: Kuisioner penelitian, September 2017

Berdasarkan tabel diatas, mengenai tanggapan responden mengenai cepat

atau tidaknya proses revitalisasi yang dilakukan. Dapat dilihat bahwa responden

mengatakan proses revitalisasinya berjalan dengan cepat. Sesuai dengan hasil

wawancara peneliti dengan salah satu responden yang mengatakan cepat yaitu Ibu

Isa, beliau mengatakan proses pembangunan ini sudah berjalan mulai sejak awal

tahun 2017 dan terlihat sudah lumayan baik proses pembangunannya.ditambah

lagi pekerjanya yang memang berjumlah banyak. Sementara itu ada responden

yang mengatakan kurang cepat dan tidak cepat. Ketika peneliti melakukan

wawancara kepada salah satu responden yang mengatakan kurang cepat yaitu Ibu

Asna, beliau mengatakan proses pembangunan yang sedang berjalan tergolong

lama karena menurut Ibu Asna seharusnya dengan waktu yang sudah cukup lama

yaitu mulai awal tahun 2017 kemarin seharusnya hasil dari pekerjaan mereka

sudah lebih dari yang terlihat saat ini, saat ini yang masih terlihat masih beberapa

persen saja dan juga dengan jumlah pekerja yang banyak proses revitalisasi yang

dilakukan seharusnya sudah lebih dari yang sekarang.

Ketika peneliti melakukan wawancara kepada Kepala Lingkungan III Ibu

(21)

KAI ini tergolong cepat. Proses revitalisasi baru dilakukan awal tahun 2017

namun bangunan untuk jalur baru sudah terlihat walaupun masih jauh dari kata

rampung. Beliau juga mengatakan pro dan kontra revitalisasi jalur ganda kereta

api ini terjadi sejak akhir tahun 2016 dan disitulah perobohan-perobohan rumah

warga dilakukan sehingga pada saat itu sering terjadi aksi-aksi demo yang

dilakukan warga pinggiran rel. Setelah masalah pro dan kontra itu dianggap sudah

selesai barulah pada awal tahun 2017 dilakukan proses

pembangunan-pembangunan tersebut dan diperkirakan akan selesai dalam jangka 2 tahun

kedepan.

5.2.4 Tentang kenyamanan responden dengan adanya revitalisasi jalur ganda

Tabel 5.11

Distribusi Responden Berdasarkan Nyaman atau Tidaknya dengan Adanya Revitalisasi Jalur Ganda

No. Jawaban Frekuensi Presentase (%) 1. Nyaman 4 6,2

2. Kurang nyaman 35 54,6 3. Tidak nyaman 25 39,0 Total 64 100,0

Sumber: Kuisioner penelitian, September 2017

Berdasarkan tabel diatas, mengenai nyaman atau tidaknya responden selama

adanya proses revitalisasi jalur ganda banyak responden yang mengatakan kurang

nyaman. Hal ini dikarenakan sejak adanya proses revitalisasi jalur ganda banyak

tanah-tanah menggunung disekitar rumah mereka yang kalau hujan sudah pasti

menyebabkan becek dan sebagainya. Sementara itu ada sebanyak 25 responden

mengatakan tidak nyaman karena mereka merasa khawatir kalau sewaktu-waktu

(22)

rumah warga pinggiran rel dan responden yang mengatakan nyaman berpendapat

proses revitalisasi yang dilakukan sama sekali tidak menganggu aktivitas mereka.

Sementara itu berdasarkan hasil observasi peneliti di lapangan terlihat jelas

bahwa warga-warga pinggiran rel merasa tidak nyaman dengan adanya revitalisasi

yang dilakukan oleh pihak PT. Kereta Api. Apalagi jarak rel kereta api yang

dibuat sangat dekat dengan rumah-rumah mereka, anak-anak kecil juga tidak

aman untuk keluar rumah.

5.2.5 Tanggapan responden mengenai kawasan sekitar sebelum dan sesudah berjalannya proses revitalisasi jalur ganda

Tabel 5.12

Distribusi Responden Mengenai Kawasan Sekitar Lingkungan Menarik dan Meningkatkan Kondisi Sosial Sebelum dan Sesudah Adanya

Revitalisasi Jalur Ganda

Sebelum Revitalisas Selama Revitalisasi

No. Kategori F (%) Kategori F (%) 1. Setuju 64 100 Setuju - - 2. Kurang setuju - - Kurang setuju 19 29,6 3. Tidak setuju - - Tidak setuju 45 70,3 Total 64 100,0 64 100,0

Sumber: Kuisioner penelitian, September 2017

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa sebelum adanya revitalisasi jalur

ganda responden merasa lingkungan disekitar mereka lebih terlihat menarik dan

kondisi sosial dikawasan tersebut terus meningkat. Hal ini disebabkan karena

mereka merasa lebih nyaman dengan kondisi lingkungan yang sebelumnya karena

sebelumnya mereka masih memiliki sedikit halaman di depan rumah untuk

sekedar menanam bunga-bunga dan itu menjadi salah satu yang membuat

lingkungan di kawasan pinggiran rel terlihat lebih menarik. Pada saat sebelum

adanya revitalisasi kondisi sosial di kawasan tersebut juga terus meningkat karena

(23)

Namun selama adanya revitalisasi jalur ganda kondisi lingkungan dan sosial di

kawasan pinggiran rel tersebut semakin menurun. Hal ini terlihat dari banyaknya

responden yang menjawab kurang setuju dan tidak setuju. Sebanyak 19 responden

mengatakan kurang setuju dan 45 responden mengatakan tidak setuju.

5.2.6 Tanggapan responden mengenai jalur kereta api menjadi lebih dinamis

Berdasarkan hasil kuisioner, mengenai apakah dengan adanya revitalisasi jalur

ganda ini dapat menjadikan jalur kereta api menjadi lebih dinamis dan lebih baik

bagi transportasi kereta api, 64 responden (100%) mengatakan revitalisasi jalur

ganda ini dinilai mampu menjadikan jalur kereta api menjadi lebih dinamis dan

lebih baik bagi transportasi kereta api. Hal ini tidak dipungkiri oleh responden

karena revitalisasi yang dilakukan memang bertujuan untuk meningkatkan

pembangunan fisik.

Namun kembali lagi pada keluh kesah warga pinggiran rel yang

rumah-rumahnya sudah dirobohkan separuh oleh pihak PT. KAI. Walaupun mereka

mengakui revitalisasi ini baik untuk transportasi kereta api kedepannya mereka

tetap berharap pihak PT. KAI lebih berempati terhadap kehidupan mereka.

5.2.7 Tanggapan responden mengenai pemberian dana oleh pihak PT. KAI Berdasarkan hasil kuisioner, mengenai dana yang diberikan pihak PT. KAI untuk memperbaiki rumah-rumah mereka, 64 responden (100%) mengatakan

bahwa dana yang diberikan oleh pihak PT. KAI tidak mencukupi. Berdasarkan

hasil wawancara peneliti dengan responden dana yang diberikan oleh pihak PT.

(24)

digunakan untuk memperbaiki rumah-rumah mereka yang sudah dirobohkan

separuh atau pun untuk menyewa rumah diluar kawasan pinggiran rel tersebut.

Berawal dari tidak mencukupinya dana yang diberikan inilah terjadi

demo-demo yang dilakukan oleh para warga. Sebagian warga yang merasa tidak terima

dengan ganti rugi yang diberikan oleh pihak PT. KAI melakukan demo sampai ke

kantor walikota. Mereka meminta untuk diberikan relokasi karena tempat tinggal

mereka telah dihancurkan separuh oleh pihak PT. KAI sementara dana pengganti

yang mereka berikan tidak mencukupi. Selama perubuhan rumah-rumah

dilakukan pun banyak terjadi kericuhan antar warga, polisi dan pihak PT. KAI.

5.3 Sosial Ekonomi Keluarga (Variabel Y) 5.3.1 Pendapatan

Tabel 5.13

Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan Sebelum dan Selama Revitalisasi Jalur Ganda

Sebelum Revitalisasi Selama Revitalisasi

No. Kategori F (%) Kategori F (%) 1. Baik 9 14,0 Baik - - 2. Kurang baik 53 82,8 Kurang baik 54 84,3 3. Tidak baik 2 3,1 Tidak baik 10 15,6 Total 64 100,0 64 100,0

Sumber: Kuisioner penelitian, September 2017

Berdasarkan tabel 5.13 dapat dilihat bahwa sebelum adanya revitalisasi jalur

ganda pendapatan responden kurang baik. Hal ini bisa dilihat dari 64 responden

sebanyak 53 responden menjawab kurang baik. Berdasarkan hasil wawancara

peneliti dengan responden pendapatan yang mereka terima selama ini sangatlah

minim. Hal ini disebabkan pekerjaan yang mereka lakukan hanya seorang penarik

(25)

yang mereka lakukan ini rata-rata hanya mendapat sekitar ratusan ribu

perbulannya.

Sementara itu 14,0% responden yang mengatakan sebelum adanya revitalisasi

pendapatan mereka baik ialah yang berprofesi sebagai pedagang kecil-kecilan.

Namun selama adanya revitalisasi kawasan pinggiran rel tersebut menjadi sepi

yang berpengaruh kepada dagangan para warga yang juga menjadi sepi pembeli.

Dengan sepinya pembeli pendapatan yang didapatkan pun semakin hari akan

semakin menurun.

Selama adanya revitalisasi jalur ganda yang dilakukan oleh pihak PT. Kereta

Api pendapatan responden masih tetap sama yaitu kurang baik bahkan 10

responden menjawab tidak baik. Hal ini disebabkan revitalisasi jalur ganda yang

dilakukan sedikit menghambat pekerjaan mereka sehingga mereka mendapatkan

penghasilan yang berkurang. Biaya hidup yang semakin hari semakin tinggi

membuat mereka harus bekerja lebih keras lagi demi memenuhi kebutuhan rumah

tangga.

Berdasarkan hasil observasi peneliti dilapangan bahwa sebenarnya tidak ada

pengaruhnya sama sekali antara pendapatan warga dengan adanya revitalisasi

yang dilakukan oleh pihak PT.Kereta Api. Pendapatan minim yang diterima oleh

para warga karena memang pendidikan mereka yang rata-rata hanya tamat SD dan

keterampilan yang kurang memadai.

(26)

5.3.2 Sandang dan pangan

Tabel 5.14

Distribusi Responden Berdasarkan Pemenuhan Sandang dan Pangan Sebelum dan Selama Revitalisasi Jalur Ganda

Sebelum Revitalisasi Selama Revitalisasi

No. Kategori F (%) Kategori F (%) 1. Memenuhi 4 6,2 Memenuhi - - 2. Kurang memenuhi 60 93,7 Kurang memenuhi 53 82,8 3. Tidak memenuhi - - Tidak memenuhi 11 17,1 Total 64 100,0 64 100,0

Sumber: Kuisioner penelitian, September 2017

Berdasarkan tabel 5.14 diatas dapat dilihat bahwa sebelum adanya revitalisasi

jalur ganda pemenuhan sandang dan pangan responden kurang terpenuhi. Hal ini

dapat dilihat sebanyak 60 responden menjawab kurang memenuhi. Berdasarkan

hasil wawancara peneliti dengan responden, mereka mengaku selama ini

penghasilan yang mereka terima dari pekerjaan belum cukup memenuhi

kebutuhan sehari-hari. Mereka makan dengan lauk pauk seadanya, lauk pauk yang

tidak memenuhi gizi seimbang untuk pertumbuhan anak-anak mereka.

Senada dengan yang dikatakan Kepala Lingkungan dikawasan tersebut bahwa

warganya yang tinggal dipinggiran rel tersebut hidup dibawah garis miskin

sehingga untuk pemenuhan sandang dan pangan sehari-hari mereka masih merasa

kesusahan. Bahkan anak-anak mereka juga banyak yang tidak bersekolah karena

terkendala biaya. Sementara itu ada empat responden yang memilih jawaban

memenuhi. Hal ini karena beberapa responden tersebut memiliki penghasilan

yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang hanya memiliki sedikit

jumlah anggota keluarganya.

Setelah adanya revitalisasi jalur ganda responden yang memilih jawaban

kurang memenuhi menurun menjadi 53 orang dan yang menjawab tidak

(27)

dilakukan oleh pihak PT. KAI pemenuhan kebutuhan sandang dan pangan

responden terhadap keluarga tetap kurang memenuhi bahkan menjadi tidak

memenuhi.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pemenuhan

kebutuhan warga pimggiran rel masih belum cukup memenuhi jika dilihat dari

tingkat pemenuhan gizi terkhusus untuk anak-anak bahkan selama adanya

revitalisasi pemenuhan kebutuhan tersebut semakin menurun. Warga yang

awalnya masih mampu untuk makan dengan lauk ikan namun selama adanya

revitalisasi mereka merasa kesusahan untuk membelinya, yang mereka konsumsi

hanyalah nasi dengan telur. ini terjadi karena mereka harus menyisihkan sedikit

pendapatan mereka untuk memperbaiki rumah. Pendapatan yang pas-pasan harus

bisa mereka bagi-bagi untuk kebutuhan pangan dan perbaikan rumah mereka.

5.3.3 Pekerjaan

Tabel 5.15

Distribusi Responden Berdasarkan Aktivitas Usaha/Pekerjaan Sebelum dan Selama Adanya Revitalisasi Jalur Ganda

Sebelum Revitalisasi Selama Revitalisasi

No. Kategori F (%) Kategori F (%) 1. Baik 64 100 Baik - - 2. Kurang baik - - Kurang baik 42 65,6 3. Tidak baik - - Tidak baik 22 34,3 Total 64 100,0 64 100,0

Sumber: Kuisioner penelitian, September 2017

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa sebelum adanya revitalisasi jalur

ganda usaha/ pekerjaan sehari-hari responden dapat berjalan dengan baik. Hal ini

dapat dilihat sebanyak 64 responden menjawab baik. Berdasarkan hasil

wawancara peneliti dengan responden, mereka mengatakan selama hidup

dikawasan pinggiran rel mereka melakukan aktivitas usaha/pekerjaan sehari-hari

tidak ada kendala, semua berjalan dengan baik seperti biasa.

(28)

Selama adanya revitalisasi jalur ganda responden merasa usaha/pekerjaan

sehari-hari mereka menjadi kurang baik bahkan berjalan tidak baik. Ini dapat

dilihat dari 64 responden ada 42 responden menjawab kurang baik dan 22

responden menjawab tidak baik. Para responden mengatakan selama adanya

revitalisasi ini usaha/pekerjaan mereka menjadi terganggu karena untuk yang

berdagang sudah tidak memiliki lahan lagi membuka dagangannya sebab

rumah-rumah mereka sudah dirobohkan separuh. Dan bagi para bapak-bapak penarik

becak, mereka jadi lebih sulit untuk memarkirnya becaknya, sulit untuk keluar dan

masuk becak apalagi kalau sudah hujan kawasan pinggiran rel tersebut akan jadi

sangat becek dikarenakan banyak tanah-tanah yang menumpuk untuk

pembangunan jalur kereta api tersebut.

Berdasarkan hasil tabel diatas menunjukkan bahwa revitalisasi jalur ganda

yang dilakukan oleh pihak PT. Kereta Api Indonesia memberikan dampak yang

tidak baik bagi aktivitas usaha/pekerjaan warga pinggiran rel. Revitalisasi yang

dilakukan oleh pihak PT. Kereta Api Indonesia membuat usaha/pekerjaan

sehari-hari mereka menjadi terhambat. Untuk para pedagang yang biasanya menjajakan

dagangannya di depan rumah masing-masing sekarang mereka sudah tidak

memiliki tempat lagi untuk berdagang dan itu juga berdampak pada penghasilan

(29)

5.3.4 Perumahan

Tabel 5.16

Distribusi Responden Berdasarkan Kondisi Bangunan Rumah Sebelum dan Selama Adanya Revitalisasi Jalur Ganda

Sebelum Revitalisasi Selama Revitalisasi

No. Kategori F (%) Kategori F (%) 1. Permanen - - Permanen - - 2. Semi permanen 64 100 Semi permanen - - 3. Permanen dan - - Permanen dan - - Dibongkar Separuh Dibongkar Separuh

4. Semi Permanen dan - - Semi Permanen dan 64 100 Dibongkar Separuh Dibongkar Separuh

Total 64 100,0 64 100,0

Sumber: Kuisioner penelitian, September 2017

Berdasarkan tabel 5.16 diatas, mengenai kondisi bangunan rumah dapat dilihat

bahwa bangunan rumah responden rata-rata semi permanen. Berdasarkan hasil

penelitian yang dilakukan peneliti dilapangan tidak ada satu pun rumah responden

yang benar-benar permanen, mereka memiliki ukuran rumah yang kecil dan semi

permanen ditambah lagi rumah mereka berdempet-dempetan dengan

rumah-rumah yang lain. Ini menunjukkan bahwa lingkungan tempat tinggal mereka

masih kurang baik apalagi untuk pertumbuhan anak-anak mereka karena

berdempetan dengan rel kereta api.

Selama adanya revitalisasi jalur ganda rumah mereka yang semi permanen

tersebut dirobohkan separuh oleh pihak PT. Kereta Api Indonesia, hal ini

disebebkan pihak PT. Kereta Api Indonesia memerlukan 11 m sisi kanan dan kiri

untuk proses revitalisasi yang dilakukan. Sekarang ini responden bertahan hidup

dengan kondisi rumah yang sudah terpotong separuh tanpa ada perbaikan sedikit

pun dan jarak antara pintu rumah mereka dengan rel kereta api menjadi sangat

dekat. Itu menyebabkan mereka tidak memiliki sedikit halaman pun. Mereka

(30)

Kereta Api Indonesia tidak memberikan relokasi untuk mereka sementara uang

pengganti untuk rumah yang sudah dirobohkan separuh tidak mencukupi untuk

menyewa rumah ditempat lain.

Tabel 5.17

Distribusi Responden Berdasarkan Status Kepemilikan Rumah Sebelum dan Selama Revitalisasi Jalur Ganda

Berdasarkan tabel 5.17 diatas mengenai status kepemilikan rumah responden

dapat dilihat bahwa sebelum dan selama revitalisasi berlangsung status

kepemilkan rumah mereka ialah milik sendiri. Berdasarkan hasil wawancara yang

dilakukan peneliti dulunya mereka hanya membeli tanah dikawasan tersebut

sebesar RP. 175.00 setelah itu tidak ada lagi pembayaran apa pun. Mereka yang

sudah tinggal berpuluh-puluh tahun lamanya di kawasan pinggiran rel tersebut

mengaku dulumya sudah mendapat izin dari pihak PT. Kereta Api Indonesia

untuk mendirikan rumah dikawasan pinggiran rel tersebut namun dengan syarat

rumah-rumah tersebut tidak boleh dibuat permanen.

5.3.5 Interaksi sosial

Tabel 5.18

Distribusi Responden Berdasarkan Frekuensi Berkumpul dengan Sesama Warga Pinggiran Rel Sebelum dan Selama Adanya Revitalisasi

(31)

Berdasarkan tabel 5.18 diatas dapat dilihat frekuensi responden dalam berkumpul/bercengkrama dengan sesama warga pinggiran rel sebelum adanya

revitalisasi jalur ganda sudah baik. Hal ini dapat dilihat dari jawaban responden

yang mayoritas masih sering untuk berkumpul/bercengkrama dengan sesame

warga pinggiran rel. masih tingginya hubungan interaksi di dalam masyarakat

menyebabkan responden masih sering berkumpul dengan warga. Sedangkan ada

juga responden yang menjawab jarang berkumpul dengan sesama warga pinggiran

rel karena disebabkan kesibukan mereka dalam bekerja membuat mereka jarang

untuk berkumpul dengan tetangga.

Selama adanya revitalisasi jalur ganda peningkatan responden yang sering

berkumpul dengan sesama warga pinggiran rel menjadi jarang. Ini disebabkan

karena adanya hubungan tidak baik antar warga semenjak proses perubuhan

rumah yang dilakukan oleh pihak PT. Kereta Api Indonesia. Pada saat

rumah-rumah warga dirubuhkan dan diganti dengan uang sebesar RP. 1.500.000 tidak

semua warga menyetujuinya, sebagian warga ada yang lebih memilih berdemo

untuk diberikan relokasi sehingga terjadilah konflik antar warga. Warga yang

tidak mau ikut berdemo rumah-rumahnya dilempari bebatuan. Hal inilah yang

menjadikan warga tidak lagi memiliki hubungan sosial seharmonis sebelum

adanya revitalisasi jalur ganda.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti frekuensi berkumpul

warga selama adanya revitalisasi memang terlihat jarang. Warga lebih suka duduk

sendiri atau bersama anak-anak mereka di depan rumah masing-masing daripada

mendatangi tetangganya yang juga sedang duduk-duduk di depan rumah. Bahkan

(32)

yang tinggal di sebuah perumahan. Kawasan pinggiran rel tersebut terlihat sepi

dari aktivitas berkumpul antar sesame warga.

Tabel 5.19

Distribusi Responden Berdasarkan Frekuensi Tingkat Kepedulian Antar Sesama Warga Pinggiran Rel

Sebelum Revitalisasi Selama Revitalisasi

No. Kategori F (%) Kategori F (%) 1. Peduli 46 71,8 Peduli, - -

2. Kurang peduli 18 28,1 Kurang peduli 60 93,7 3. Tidak peduli - - Tidak peduli 4 6,2 Total 64 100,0 64 100,0

Sumber: Kuisioner penelitian, September 2017

Berdasarkan tabel 5.19 diatas mengenai frekuensi tingkat kepedulian antar sesama warga pinggiran rel dapat dilihat bahwa sebelum adanya revitalisasi jalur

ganda warga pinggiran rel memilki tingkat kepedulian yang sangat baik. Dari

hasil wawancara yang dilakukan peneliti, mereka mengaku sering saling

membantu dan tolong menolong antar sesama warga pinggiran rel seperti

misalnya saling berbagi rezeki apabila ada salah satu warga yang pada hari itu

tidak memiliki lauk untuk makan dan sebagainya. Sedangkan beberapa warga

yang menjawab kurang peduli dengan alasan setiap warga hanya mau membantu

warga yang dianggapnya benar-benar dekat dengan mereka, rasa kepedulian itu

tidak dilimpahkan untuk seluruh warga.

Namun selama adanya revitalisasi jalur ganda yang dilakukan oleh pihak PT.

Kereta Api Indonesia tingkat kepedulian warga menjadi semakin menurun dari

yang awalnya mereka memiliki sikap peduli kini menjadi kurang peduli bahkan

tidak peduli sama sekali. Hal ini terjadi karena seperti yang sudah dikatakan diatas

(33)

yang dilakukan oleh pihak PT. Kereta Api membuat hubungan sosial mereka juga

memburuk.

Berdasarkan hasil tabel di atas menunjukkan bahwa revitalisasi jalur ganda

yang dilakukan oleh pihak PT. Kereta Api Indonesia berdampak pada kondisi

sosial warga pinggiran rel terlihat dari sikap warga yang tadinya memiliki rasa

kepedulian tinggi terhadap sesama warga pinggiran rel menjadi kurang peduli

bahkan tidak peduli sama sekali. Dari hasil observasi peneliti juga menunjukkan

tingkat kepedulian warga pinggiran rel sangat rendah, selama peneliti melakukan

penelitian dikawasan tersebut beberapa warga pinggiran rel sempat berkeluh

kesah dengan kondisi yang terjadi pada saat ini. Mereka merasa seperti hidup

tidak bertetangga karena konflik yang terjadi. Dulu mereka selalu saling berbagi

informasi antar sesama warga namun sekarang hal itu sangat langka terjadi.

5.3.6 Aktivitas sosial

Tabel 5.20

Distribusi Responden Berdasarkan Keaktifan Dalam Bergotong Royong Sebelum dan Selama Revitalisasi Jalur Ganda

Sebelum Revitalisasi Selama Revitalisasi No. Kategori F (%) Kategori F (%) 1. Aktif 55 85,9 Aktif - - 2. Kurang aktif 9 14,0 Kurang aktif - - 3. Tidak aktif - - Tidak Aktif 64 100 Total 64 100,0 64 100,0

Sumber: Kuisioner penelitian, September 2017

Berdasarkan tabel 5.20 dapat dilihat bahwa sebelum adanya revitalisasi jalur

ganda terlihat bahwa hubungan responden dengan lingkungan sudah baik terlihat

dari keaktifan dalam kegiatan gotong royong, dimana mayoritas responden

menjawab aktif dalam kegiatan gotong royong di lingkungan mereka. Aksi

bersih-bersih lingkungan disekitar rumah menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setiap

(34)

kegiatan gotong royong di karenakan kesibukan mereka dalam bekerja, kurang

akrab dengan tetangga dan persepsi mereka yang beranggapan bahwa bekerja

lebih penting dari pada kegiatan tersebut.

Namun selama revitalisasi jalur ganda dilakukan mereka yang menjawab aktif

mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat bahwa 64 responden menjawab tidak

aktif. Ini dikarenakan mereka tidak tahu lagi apa yang harus dibersihkan

sementara mereka sudah tidak memiliki halaman, yang mereka punya hanyalah

setapak rumah untuk berlindung dari hujan dan panas. Berdasarkan tabel diatas

menunjukkan revitalisasi jalur ganda yang di lakukan memberikan dampak yang

tidak baik terhadap keaktifan warga dalam bergotong royong.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti selama penelitian

dikawasan tersebut memang tidak pernah terlihat warga melakukan aktivitas

gotong royong. Warga hanya sibuk membersihkan rumah mereka masing-masing

tanpa adanya kesadaran atau kepedulian untuk bergotong royong. Dalam hal ini

memang terlihat jelas bagaimana menurunnya aktivitas sosial warga selama

adanya revitalisasi jalur ganda yang dilakukan oleh pihak PT. Kereta api

Indonesia.

Tabel 5.21

Distribusi Responden Berdasarkan Pelaksanaan Ibadah Warga Pinggiran Rel Sebelum dan Selama Adanya Revitalisasi

Sebelum Revitalisasi Selama Revitalisasi

No. Kategori F (%) Kategori F (%) 1. Rajin 9 14,6 Rajin 8 12,5 2. Kurang rajin 55 85,9 Kurang rajin 56 87,5 3. Tidak pernah - - Tidak pernah - - Total 64 100,0 64 100,0

Sumber: Kuisioner penelitian, September 2017

Berdasarkan tabel 5.21 diatas dapat dilihat bahwa pelaksanaan ibadah warga

(35)

pinggiran rel yang memang kurang mendukung untuk perkembangan pendidikan

agama anak-anak. Orang-orang tua di kawasan pinggiran rel tersebut tampak tidak

perduli dengan masalah agama ataupun ibadah. Belum lagi jarak rumah ibadah

yang memang cukup jauh dari kawasan tersebut. Sementara itu beberapa

responden menjawab rajin ini dikarenakan memang mereka menyadari akan

pentingnya beribadah kepada sang maha pencipta.

Selamanya ada revitalisasi pun pelaksanaan ibadah warga pinggiran rel tidak

berubah, sama halnya dengan sebelum revitalisasi dilakukan. Ini menunjukkan

bahwa ada atau tidaknya revitalisasi tidak berpengaruh pada pelaksanaan ibadah.

Sementara itu berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti terlihat bahwa

kesadaran warga pinggiran rel dalam hal beribadah memang masih sangat minim,

mereka kurang mendapatkan pendidikan agama. Orangtua ataupun anak-anak

sama-sama tidak peduli sama sekali ketika suara adzan berkumandang. Mereka

lebih memilih untuk santai sendiri ataupun main-main disekitar kawasan tersebut

tanpa adanya kepedulian dari orang tua menyuruh anak-anaknya untuk

melaksanakan ibadah sholat.

5.4 Analisis Dampak Revitalisasi Jalur Ganda PT. Kereta Api Indonesia Terhadap Sosial Ekonomi Keluarga Pinggiran Rel

Dampak revitalisasi jalur ganda PT. Kereta Api Indonesia terhadap sosial

ekonomi keluarga pinggiran rel dapat di lihat dalam 2 aspek yaitu dampak

langsung dan dampak tidak langsung.

(36)

5.4.1 Dampak langsung

Dampak langsung yaitu dampak yang dirasakan langsung oleh keluarga pinggiran rel selama adanya revitalisasi jalur ganda yang di lakukan oleh pihak

PT. Kereta Api Indonesia. Dampak langsung ini dapat dilihat pada tabel 5.15

dimana pada tabel tersebut terlihat bahwa terjadi perubahan pada aktivitas/

pekerjaan sehari-hari sebelum adanya revitalisasi dan selama adanya revitalisasi.

Seperti yang terlihat pada tabel sebelum adanya revitalisasi warga pinggiran rel

tampak baik-baik saja melakukan aktivitas usaha/pekerjaan sehari-hari mereka,

tidak ada kendala dan keluhan dalam melakukan aktivitas usaha/pekerjaan

sehari-hari tersebut. Namun selama adanya revitalisasi jalur ganda yang dilakukan oleh

pihak PT. Kereta Api Indonesia warga pinggiran rel mulai merasa kurang nyaman

melakukan aktivitas usaha/pekerjaan sehari-hari mereka. Mereka merasa

terganggu dengan adanya revitalisasi yang dilakukan oleh pihak PT. Kereta Api

Indonesia.

Pada kondisi bangunan rumah warga pinggiran rel juga merasakan dampak

langsung dari adanya revitalisasi jalur ganda yang dilakukan oleh pihak PT.

Kereta Api Indonesia. Dampak langsungnya yaitu rumah mereka sekarang dalam

kondisi bangunan yang tinggal separuh karena separuhnya lagi sudah dirobohkan

oleh pihak PT. Kereta Api Indonesia. Mereka merasa sudah hidup susah semakin

dibuat susah dengan adanya revitalisasi yang dilakukan oleh pihak PT. Kereta Api

tersebut. Dengan kondisi bangunan rumah yang sudah terpotong kira-kira 11

meter tersebut mereka harus tetap bertahan menempatinya karena mereka tidak

memiliki biaya untuk menyewa rumah dikawasan lain. Selama revitalisasi jalur

(37)

sewaktu-waktu pihak PT. Kereta Api Indonesia kembali merubuhkan rumah mereka yang

tinggal separuh tersebut.

Untuk frekuensi berkumpul antar warga juga mengalami dampak langsung

yaitu interaksi antar sesama warga pinggiran rel menjadi menurun. Hal ini

diakibatkan karena adanya konflik antar warga pada saat perubuhan rumah yang

dilakukan oleh pihak PT. KAI. Warga yang merasa tidak terima rumahnya

dirubuhkan dan hanya diganti dengan dana sebesar Rp. 1.500.000 melakukan aksi

demo sementara warga yang tidak mau diajak demo dan menerima dengan lapang

dada apa yang dilakukan pihak PT. KAI dijadikan musuh oleh mereka. Warga

yang melakukan demo sempat juga melakukan aksi pelemparan batu ke

rumah-rumah warga yang tidak mau diajak demo. Dari sinilah konflik antar warga

berlangsung hingga berimbas pada menurunnya interaksi sosial yang terjalin.

Sementara itu rasa kepedulian antar sesama warga pun menurun, mereka tidak

lagi peduli dengan yang terjadi pada tetangga mereka semenjak adanya konflik

ditengah-tengah mereka.

Dalam aktivitas sosial juga mengalami dampak langsung yaitu menurunnya

aktivitas gotong royong yang sebelumnya sering dilakukan warga pinggiran rel

setiap seminggu sekali yaitu pada hari minggu pahi. Semenjka adanya revitalisasi

jalur kereta api warga pinggiran rel tidak lagi melakukan kegiatan gotong royong.

Mereka beralasan bahwa tidak ada lagi yang perlu untuk dibersihkan karena

pekarangan sudah tidak ada. Pihak Kepala Lingkungan pun tidak pernah lagi

mengumpulkan warga untuk melakukan gotong royong.

(38)

5.4.2 Dampak tidak langsung

Dampak tidak langsung merupakan dampak yang dirasakan oleh

pihak-pihak yang tidak terlibat langsung dalam proses tersebut. Berdasarkan hasil

wawancara peneliti dengan Lurah Glugur Darat II yaitu Bapak Nurianto, dampak

tidak langsung ini dirasakan oleh petugas-petugas Kelurahan dan petugas di

kantor Walikota Medan. Demo pasca perubuhan rumah-rumah warga merupakan

bentuk dampak tidak langsung yang harus di alami para petugas Kelurahan dam

Petugas di kantor Walikota Medan.

Awalnya sebelum warga melakukan demo di depan Kantor Walikota Medan,

warga terlebih dahulu melakukan aksinya di depan Kantor Lurah Glugur Darat II.

Aksi demo yang dilakukan warga membuat kericuhan pun terjadi di kantor Lurah,

sebab warga berpendapat kenapa pihak Kelurahan mengizinkan pihak PT. KAI

merubuhkan rumah-rumah mereka tanpa memberikan dana ganti rugi yang

mencukupi. Warga merasa kecewa dengan kinerja pada petuga Kelurahan

tersebut, warga pun terus berkeluh kesah dan meminta pertanggung jawaban dari

pihak Kelurahan.

Beberapa hari setelah warga melakukan demo di depan Kantor Lurah dan

tidak menghasilkan apa-apa, warga pun kembali menjalani aksi demonya di depan

Kantor Walikota Medan untuk meminta diberikan relokasi. Karena seperti

diketahui pihak PT. KAI tidak memberikan relokasi kepada warga namun mereka

(39)

5.5 Analisis Data Kuantitatif Perbandingan Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga Pinggiran Rel Sebelum dan Selama Adanya Revitalisasi Jalur Ganda PT. Kereta Api Indonesia di Kelurahan Glugur Darat II

Seperti yang telah dikemukakan pada bab III, bahwa teknik analisis data yang

digunakan adalah uji t. Uji t sering digunakan untuk menguji sampel dengan

subjek yang sama namun mengalami dua perlakuan (sebelum dan sesudah).

Keterangan :

t = Nilai mean kelompok sampel

d = Perbedaan skor antar subjek

D2 = Kuadrat perbedaan skor N = Sampel

Dimana :

ΣD : Jumlah keseluruhan nilai x1 (perlakuan pertama) dan x2 (perlakuan

kedua).

ΣD2

: Jumlah keseluruhan selisih dari kuadrat perlakuan pertama dan perlakuan

kedua

N : Sampel.

(40)

5.5.1 Uji t untuk pendapatan ΣD : -16

ΣD2 : 20

n : 64

t = ∑D

�� ∑ �2 – (∑ �)2 � −1

t = −16

�(64)(20)641(−16)²

= −16

�(1.280)63−(256)

t = −16 √16,2=

−16 4,02

t = -3,98

dk=n-1 = 64-1= 63

Nilai kritis untuk t dalam dk = 63 pada level kofiden (ɑ total) 0,05 = 1.6694

maka hasil t sebesar -3,98 < 1.6694 dan nilai t = -3,98 berada didaerah Ho ditolak

karena menggunakan uji dua sisi yaitu -1.6694 dan + 1.6694 sehingga signifikan

pada ɑ total 0,05. Maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima.

Dalam hal ini dinyatakan bahwa pendapatan warga pinggiran rel mengalami

perubahan yakni menurunnya pendapatan selama adanya revitalisasi jalur ganda

yang dilakukan oleh PT. Kereta Api Indonesia. Pengertian berdasarkan hipotesis

peneliti bahwa terdapat dampak dari Revitalisasi Jalur Ganda PT. Kereta Api

Indonesia terhadap kondisi sosial ekonomi keluarga pinggiran rel di Kelurahan

(41)

5.5.2 Uji t untuk sandang dan pangan ΣD : -13

ΣD2 : 13

n : 64

t = ∑D

�� ∑ �2 – (∑ �)2 � −1

t = −13

�(64)(13)641(−13)²

= −13 �(832)63−(169)

t = −13 �10,5=

−13 3,24

t = -4,01

dk=n-1 = 64-1= 63

Nilai kritis untuk t dalam dk = 63 pada level kofiden (ɑ total) 0,05 = 1.6694 maka hasil t sebesar -4,01 < 1.6694 dan nilai t = -4,01 berada didaerah Ho ditolak

karena menggunakan uji dua sisi yaitu -1.6694 dan +1.6694 sehingga signifikan

pada ɑ total 0,05. Maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima.

Dalam hal ini dinyatakan bahwa kebutuhan pangan dan sandang keluarga

pinggiran rel mengalami perubahan yakni menurunnya pemenuhan kebutuhan

pangan dan sandang keluarga pinggiran rel selama adanya revitalisasi jalur ganda

yang dilakukan oleh PT. Kereta Api Indonesia. Pengertian berdasarkan hipotesis

peneliti bahwa terdapat dampak Revitalisasi Jalur Ganda PT. Kereta Api

Indonesia terhadap kondisi sosial ekonomi keluarga pinggiran rel di Kelurahan

Glugur Darat II Kecamatan Medan Timur.

(42)

5.5.3 Uji t untuk pekerjaan ΣD : -78

ΣD2 : 114

n : 64

t = ∑D

�� ∑ �2 – (∑ �)2 � −1

t = −78

�(64)(114)641(−78)²

= −78

�(7.296)63−(6.084)

t = −78 √0,01=

−78 0,1

t = -780

dk=n-1 = 64-1= 63

Nilai kritis untuk t dalam dk = 63 pada level kofiden (ɑ total) 0,05 = 1.6694

maka hasil t sebesar -780 < 1.6694 dan nilai t = -780 sehingga signifikan pada ɑ

total 0,05. Maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak.

Dalam hal ini dinyatakan bahwa tidak ada dampak yang terjadi dalam hal

pekerjaan responden selama adanya revitalisasi jalur ganda yang dilakukan oleh

(43)

5.5.4 Uji t untuk kondisi rumah ΣD : -128

ΣD2 : 256

n : 64

t = ∑D

�� ∑ �2 – (∑ �)2 � −1

t = −128

�(64)(256)641(256)²

= −128

�(16384)63−(65536)

t = −128 √49152=

−128 221,7

t = 0,577

dk=n-1 = 64-1= 63

Nilai kritis untuk t dalam dk = 63 pada level kofiden (ɑ total) 0,05 = 1.6694 maka hasil t sebesar 0,577 < 1.6694 dan nilai t = 0,577 sehingga signifikan pada ɑ

total 0,05. Maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima.

Dalam hal ini dinyatakan bahwa adanya dampak yang sangat signifikan untuk

kondisi rumah responden sebelum dan selama adanya revitalisasi jalur ganda yang

dilakukan oleh pihak Pt. Kereta Api Indonesia. Selama proses revitalisasi rumah

warga-warga pinggiran rel dirobohkan separuh oleh pihak PT. Kereta Api demi

lancarnya proses revitalisasi. Pihak PT. Kereta Api Indonesia mengambil 11 m

sisi kiri dan kanan bantaran rel yang artinya sebagian rumah warga terkena

dampak tersebut.

(44)

5.5.5 Uji t untuk status kepemilikan rumah ΣD : 0

ΣD2 : 0

n : 64

t = ∑D

�� ∑ �2 – (∑ �)2 � −1

t = 0

�(64)(0)−(0)² 64−1

= 0 �(0)63−(0)

t = 0 √0=

0 0

t = 0

dk=n-1 = 64-1= 63

Nilai kritis untuk t dalam dk = 63 pada level kofiden (ɑ total) 0,05 = 1.6694

maka hasil t sebesar 0 < 1.6694 dan nilai t = 0 sehingga signifikan pada ɑ total

0,05. Maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak.

Dalam hal ini dinyatakan bahwa tidak ada perubahan untuk status kepemilikan

rumah responden selama adanya revitalisasi jalur ganda yang dilakukan oleh PT.

Kereta Api Indonesia di Kelurahan Glugur Darat II Kecamatan Medan Timur.

Rumah yang ditempati warga merupakan rumah milik sendiri yang dulunya

berawal dari pembelian tanah garapan disekitar pinggiran rel tersebut sebesar Rp.

(45)

5.5.6 Uji t untuk frekuensi berkumpul dengan sesama warga maka hasil t sebesar -19,65 < 1.6694 dan nilai t = -19,65 berada didaerah Ho

ditolak karena menggunakan uji dua sisi yaitu -1.6694 dan +1.6694 sehingga

signifikan pada ɑ total 0,05. Maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima.

Dalam hal ini dinyatakan bahwa untuk frekuensi berkumpul dengan sesama warga

mengalami perubahan yakni frekuensi berkumpul menjadi menurun selama

adanya revitalisasi jalur ganda yang dilakukan oleh pihak PT. Kereta Api

Indonesia. Pengertian berdasarkan hipotesis peneliti bahwa terdapat dampak

revitalisasi jalur ganda PT. Kereta Api Indonesia yang signifikan terhadap kondisi

sosial ekonomi keluarga pinggiran rel di Kelurahan Glugur Darat II Kecamatan

Medan Timur.

(46)

5.5.7 Uji t untuk tingkat kepedulian antar sesama warga ΣD : -50

ΣD2 : 54

n : 64

t = ∑D

�� ∑ �2 – (∑ �)2 � −1

t = −50

�(64)(54)−(−50)² 64−1

= −50

�(4.160)−(2.500) 63

t = −50 √61,34=

−50 7,83

t = -6,38

dk=n-1 = 64-1= 63

Nilai kritis untuk t dalam dk = 63 pada level kofiden (ɑ total) 0,05 = 1.6694

maka hasil t sebesar -6,38 < 1.6694 dan nilai t = -6,38 berada didaerah Ho ditolak

karena menggunakan uji dua sisi yaitu -1.6694 dan +1.6694 sehingga signifikan

pada ɑ total 0,05. Maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima.

Dalam hal ini dinyatakan bahwa untuk tingkat kepedulian dengan sesama warga

mengalami perubahan yakni tingkat kepedulian menjadi menurun selama adanya

revitalisasi jalur ganda yang dilakukan oleh pihak PT. Kereta Api Indonesia.

Pengertian berdasarkan hipotesis peneliti bahwa terdapat dampak revitalisasi jalur

ganda PT. Kereta Api Indonesia yang signifikan terhadap kondisi sosial ekonomi

(47)

5.5.8 Uji t untuk keaktifan warga dalam bergotong royong ΣD : -112

ΣD2 : 210

n : 64

t = ∑D

�� ∑ �2 – (∑ �)2 � −1

t = −112

�(64)(210)−(−112)² 64−1

= −112

�(13,440)63−(12,544)

t = −112 √0,014 =

−112 0,12

t = -933,3

dk=n-1 = 64-1= 63

Nilai kritis untuk t dalam dk = 63 pada level kofiden (ɑ total) 0,05 = 1.6694 maka hasil t sebesar -933,3 < 1.6694 dan nilai t = -933,3 berada didaerah Ho

ditolak karena menggunakan uji dua sisi yaitu -1.6694 dan +1.6694 sehingga

signifikan pada ɑ total 0,05. Maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima.

Dalam hal ini dinyatakan bahwa untuk keaktifan warga dalam bergotong royong

mengalami perubahan yakni keaktifan warga dalam bergotong royong menjadi

menurun selama adanya revitalisasi jalur ganda yang dilakukan oleh pihak PT.

Kereta Api Indonesia. Pengertian berdasarkan hipotesis peneliti bahwa terdapat

dampak revitalisasi jalur ganda PT. Kereta Api Indonesia yang signifikan terhadap

kondisi sosial ekonomi dalam keaktifan warga pinggiran rel bergotong royong di

Kelurahan Glugur Darat II Kecamatan Medan Timur.

(48)

5.5.9 Uji t untuk keaktifan warga dalam beribadah ΣD : 0

ΣD2 : 2

n : 64

t = ∑D

�� ∑ �2 – (∑ �)2 � −1

t = 0

�(0)(2)−(0)² 64−1

= 0 �(0)63−(0)

t = 0 √0=

0 0

t = 0

dk=n-1 = 64-1= 63

Nilai kritis untuk t dalam dk = 63 pada level kofiden (ɑ total) 0,05 = 1.6694

maka hasil t sebesar 0 < 1.6694 dan nilai t = 0 sehingga signifikan pada ɑ total

0,05. Maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak.

Dalam hal ini dinyatakan bahwa tidak ada perubahan untuk status keaktifan warga

dalam melaksanakan ibadah selama adanya revitalisasi jalur ganda yang dilakukan

oleh PT. Kereta Api Indonesia di Kelurahan Glugur Darat II Kecamatan Medan

(49)

BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis setelah melakukan penelitian mengenai dampak

revitalisasi jalur ganda PT. Kereta Api Indonesia terhadap sosial ekonomi

keluarga pinggiran rel di Kelurahan Glugur Darat II Kecamatan Medan Timur,

maka peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut:

1. Revitalisasi jalur ganda yang dilakukan oleh pihak PT. Kereta Api Indonesia

sudah memberikan dampak terhadap sosial ekonomi warga pinggiran rel.

Dampak yang diberikan yaitu dampak langsung dan dampak tidak langsung.

Dampak langsung dari revitalisasi jalur ganda oleh PT. Kereta Api Indonesia,

yakni:

a. Dampak langsung dari revitalisasi jalur ganda yang dilakukan oleh PT.

Kereta Api Indonesia terdapat pada kondisi perumahan warga yang

mengalami perubuhan sebanyak 11 m, terganggunya aktivitas/pekerjaan

sehari-hari warga selama adanya revitalisasi, frekuensi berkumpul warga

yang menurun, tingkat kepedulian warga yang menurun dan aktivitas

gotong royong yang juga menurun.

b. Dampak revitalisasi jalur ganda PT. Kereta Api Indonesia di Kelurahan

Glugur Darat II terhadap perumahan warga mengalami dampak langsung

yang cukup membuat warga pinggiran rel merasa dirugikan. Hal ini dapat

dilihat bagwa selama adanya revitalisasi jalur ganda rumah mereka yang

semi permanen dirobohkan separuh oleh pihak PT. Kereta Api Indonesia,

Figur

Tabel 4.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Usia
Tabel 4 2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Usia . View in document p.7
Tabel 4.3 Distribusi Penduduk Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 4 3 Distribusi Penduduk Berdasarkan Pekerjaan . View in document p.8
Tabel 4.5 Distribusi Penduduk Berdasarkan Etnis
Tabel 4 5 Distribusi Penduduk Berdasarkan Etnis . View in document p.9
Tabel 4.6 Sarana Ibadah di Kelurahan Glugur Darat II
Tabel 4 6 Sarana Ibadah di Kelurahan Glugur Darat II . View in document p.10
Tabel 4.7 Sarana Pendidikan di Kelurahan Glugur Darat II
Tabel 4 7 Sarana Pendidikan di Kelurahan Glugur Darat II . View in document p.10
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Kelurahan Glugur Darat II
Gambar 4 1 Struktur Organisasi Kelurahan Glugur Darat II . View in document p.12
Tabel 5.3 Distribusi Responden Berdasarkan Agama
Tabel 5 3 Distribusi Responden Berdasarkan Agama . View in document p.14
Tabel 5.4 Distribusi Responden Berdasarkan Suku
Tabel 5 4 Distribusi Responden Berdasarkan Suku . View in document p.15
Tabel 5.5 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan
Tabel 5 5 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan . View in document p.15
Tabel 5.7 Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan
Tabel 5 7 Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan . View in document p.16
Tabel 5.6 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 5 6 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan . View in document p.16
Tabel 5.8 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga
Tabel 5 8 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga . View in document p.17
Tabel 5.13
Tabel 5 13 . View in document p.24
Tabel 5.15
Tabel 5 15 . View in document p.27
Tabel 5.16
Tabel 5 16 . View in document p.29
Tabel 5.17
Tabel 5 17 . View in document p.30
Tabel 5.18
Tabel 5 18 . View in document p.30
Tabel 5.20
Tabel 5 20 . View in document p.33
Tabel 5.21
Tabel 5 21 . View in document p.34

Referensi

Memperbarui...