• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak pengembangan sukuk terhadap perke

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Dampak pengembangan sukuk terhadap perke"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

Dampak Pengembangan Sukuk terhadap

Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia

DAFTAR ISI ... 1

I. PENDAHULUAN ... 2

II. PERKEMBANGAN SUKUK DI INDONESIA... 4

1. Apa itu Sukuk ... 4

2. Sukuk dan Obligasi... 5

3. Jenis Obligasi Syariah ... 7

4. Syarat Obligasi Syariah... 9

5. Penggunaan Dana Sukuk... 10

6. Perkembangan Sukuk... 11

III. PERKEMBANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA... 15

1. Latar Belakang Bank Syariah ... 15

2. PT Bank Muamalat Indonesia (BMI)... 16

3. Era Reformasi dan Perbankan Syariah………16

4. Sistem Penghimpunan Dana Bank Syariah………. 19

5. Perbedaan Antara Investasi Dan Membungakan Uang... 25

6. Perbedaan Antara Utang Uang dan Utang Barang... 26

7. Perbedaan Antara Bunga dan Bagi Hasil... 26

8. Ayat dan Hadits tentang Kerjasama dan Bagi Hasil... 27

9. Permasalahan Perkembangan Bank Syariah... 28

IV. SUKUK DAN PERKEMBANGAN BANK SYARIAH ... 31

V. KESIMPULAN ... 36

(2)

I. PENDAHULUAN

Wacana penerbitan sukuk atau obligasi negara syariah sudah banyak dibicarakan dalam 2 tahun terakhir, walaupun pembicaraan tentang hal ini telah dimulai dari tahun 2003. Sudah banyak investor lokal maupun asing terutama dari negara Timur Tengah yang siap membeli surat berharga tersebut. Namun keinginan para penanam modal tersebut belum dengan cepat dapat terwujud. Padahal, surat utang syariah bisa menjadi salah satu instrumen alternatif bagi pemerintah guna mendapatkan dana.

Obligasi syariah ini sangat diminati pasar. Sampai 1 Desember 2007, total Obligasi Syariah & Medium Term Notes (MTN) yang diterbitkan sudah mencapai 32 jenis. Sementara itu niat pemerintah untuk menerbitkan instrumen Sukuk Negara, masih terganjal dengan belum adanya regulasi yang mengatur ketentuan itu. Padahal, sebagai instrumen berbasis syariah, sukuk jelas memiliki tipikal dan aturan yang berbeda dengan surat utang negara biasa. Misalnya mengenai UU Surat Berharga Syariah Negara. Dan ini merupakan instrumen yang akan sangat mendorong tumbuhnya perbankan syariah.

Yang masih menjadi ganjalan dalam pembahasan regulasi ini di antaranya menyangkut pembentukan special purpose vehicle (SPV) yang kelak akan mengelola aset baik fisik maupun hak pemanfaatannya yang dijadikan jaminan penerbitan sukuk. Tanpa SPV, sukuk bisa dianggap barang haram.

Pembentukan SPV ini sulit dilakukan karena jika SPV tadi bentuknya merupakan BUMN, secara otomatis lembaga ini harus tunduk pada UU No. 19 Tahun 2003, yang menetapkan bahwa BUMN harus diawasi, diatur, disupervisi, dan dibina oleh Menneg BUMN. Padahal, jika berkaitan dengan sukuk ataupun SUN (sesuai UU No. 1 Tahun 2004), mestinya hal itu diatur dan dikendalikan oleh Menkeu sebagai bendahara negara. Selain itu apabila SPV tadi berbentuk PT, maka sesuai undang-undang, perusahaan ini harus melakukan registrasi dan memiliki laporan keuangan yang diaudit oleh akuntan publik. Padahal, sebuah perusahaan yang baru dibentuk tentu sulit memenuhi persyaratan tersebut.

(3)

investor untuk bernegosiasi dengan pemerintah. SPV bisa saja posisinya disamakan dengan kedudukan Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA) yang mengelola dan memelihara aset-aset milik pemerintah serta bertanggung jawab langsung kepada Menkeu.

(4)

II. PERKEMBANGAN SUKUK DI INDONESIA

1. Apa itu Sukuk

Sukuk secara umum dapat dipahami sebagai ‘obligasi’ yang sesuai dengan syariah. Dalam bentuk sederhana sukuk menggambarkan kepemilikan dari suatu aset. Klaim atas sukuk tidak atas dasar cash flow tetapi klaim atas kepemilikan. Ini juga yang membedakan sukuk dari obligasi konvensional yang kemudian diproses atas interest bearing, sementara sukuk pada dasarnya merupakan sertifikat investasi atas klaim kepemilikan terhadap kumpulan aset.

Sukuk atau Obligasi Syariah didefinisikan sebagai suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan Emiten (perusahaan penerbit obligasi) kepada pemegang Obligasi Syariah yang mewajibkan Emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang Obligasi Syariah berupa bagi hasil / margin / fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo

Accounting and Auditing Organisation for Islamic Financial Institutions (AAOIFI) mendefinisikan sukuk sebagai sertifikat dari suatu nilai yang direpresentasikan setelah penutupan pendaftaran, bukti terima nilai sertifikat dan menggunakannya sesuai rencana, sama halnya dengan bagian dan kepemilikan atas aset yang tangible, barang, atau jasa, atau modal dari suatu proyek tertentu atau modal dari suatu aktivitas investasi tertentu.

Sukuk (bentuk jamak dari sak) secara luas digunakan oleh kaum Muslim di Timur Tengah sebagai surat yang menggambarkan kewajiban keuangan yang berasal dari perdagangan dan kegiatan komersial lainnya. Tetapi, struktur sukuk saat ini adalah berbeda dari sukuk yang awal pertamanya digunakan dan sama dalam kualitas atau karakternya dengan konsep sekuritas konvensional. Suatu proses di mana kepemilikan dari underlying asset dipindahkan kepada sejumlah besar investor melalui sertifikat yang menggambarkan nilai proporsional dari aset yang dimaksud.

(5)

2. Sukuk dan Obligasi

Obligasi adalah kontrak kewajiban utang di mana yang mengeluarkannya secara kontrak berkewajiban membayar kepada pemilik obligasi, pada tanggal tertentu, bunga dan pokok. Sementara itu sukuk adalah klaim atas kepemilikan pada underlying aset. Konsekuensinya, pemilik sukuk berhak atas bagian dari penghasilan yang dihasilkan oleh aset sukuk sama halnya dengan hak atas kepemilikan pada saat proses realisasi aset sukuk. Perbedaan feature sukuk dalam hal ini adalah dimana sertifikat merupakan hutang kepada pemilik, sertifikat yang tidak diperdagangkan pada pasar sekunder dapat ditahan sampai maturity atau dijual pada harga par.

(6)

Menurut Fatwa DSN No. 32/DSN-MUI/IX/2002, Obligasi Syariah adalah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang Obligasi Syariah yang mewajibkan Emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang Obligasi Syariah berupa bagi hasil / margin / fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo. Dari sisi pasar modal, penerbitan obligasi syariah muncul sehubungan dengan berkembangnya institusi-institusi keuangan syariah, seperti asuransi syariah, dana pensiun syariah, dan reksadana syariah yang membutuhkan alternatif penempatan investasi.

Seperti halnya pada saham, obligasi harus memenuhi kriteria syariah. Aktivitas utama bisnis yang halal dan tidak bertentangan dengan syariah islam. Obligasi Syariah merupakan bentuk pendanaan dan sekaligus investasi. Agar struktur yang ditawarkan terhindar dari riba, maka obligasi syariah dapat memberikan :

1. Bagi hasil berdasarkan akad mudharabah/muqaradhah/qiradh atau musyarakah, yaitu menggunakan akad kerjasama dengan skema bagi hasil pendapatan atau keuntungan. Obligasi ini akan memberikans return dengan penggunaan term indicative/expected return karena sifatnya yang floating dan tergantung pada kinerja pendapatan yang dibagihasilkan.

2. Margin/fee berdasarkan akad murabahah atau salam atau istishna atau ijarah. Akad ini berbentuk jual beli dengan skema cost plus basis, dan akan memberikan penghasilan yang tetap

Bila melihat sifat-sifat umum dari sukuk, kualitasnya sama dengan semua pasar lain yang berorientasi aset keuangan konvensional, termasuk hal-hal berikut :

1. Dapat diperdagangkan

Sukuk mewakili pihak pemilik aktual dari aset yang jelas, manfaat aset atau kegiatan bisnis dan juga dapat diperdagangkan pada harga pasar.

2. Dapat diperingkat

Sukuk dapat diperingkat dengan mudah oleh Agen pemberi peringkat regional dan internasional

3. Dapat ditambah

(7)

4. Fleksibilitas hukum

Sukuk dapat distruktur dan ditawarkan secara nasional dan global dengan pajak yang berbeda

5. Dapat ditebus

Struktur sukuk diperbolehkan untuk kemungkinan penebusan

Pada prinsipnya, sukuk atau obligasi syariah adalah surat berharga sebagai instrumen investasi yang diterbitkan berdasar suatu transaksi atau akad syariah yang melandasinya (underlying transaction), yang dapat berupa ijarah (sewa), mudharabah (bagi-hasil), musyarakah, atau yang lain. Sukuk yang sekarang sudah banyak diterbitkan adalah berdasarkan akad sewa (sukuk al-ijarah), di mana hasil investasi berasal dan dikaitkan dengan arus pembayaran sewa aset tersebut. Meskipun demikian, sukuk dapat pula diterbitkan berdasar akad syariah yang lain.

3. Jenis Obligasi Syariah

Sukuk dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan bentuk syariah sebagai kontrak atau sub kontrak utama. Yang paling penting adalah shirakah, ijarah, salam dan istisna’. Menurut aturan dasar syariah, investasi sukuk harus distruktur, pada satu sisi berdasarkan prinsip mudharabah. Pada sisi lain, bisnis dapat dilaksanakan melalui bentuk/instrumen partisipatory (keikutsertaan) atau fixed return. Jadi, tingkat return pada sukuk akan berupa variable atau quasi-fixed (pada kasus dalam bentuk fixed return). Sukuk pada kategori kedua dapat dibuat sukuk dengan fixed return melalui provisi berupa jaminan pihak ketiga.

Sukuk yang akan dikeluarkan pemerintah disebut dengan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau dapat juga disebut Sukuk Negara. Sukuk ini merupakan surat berharga (obligasi) yang diterbitkan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan prinsip syariah. Perusahaan yang akan menerbitkan SBSN ini adalah merupakan perusahaan yang secara khusus dibentuk guna kepentingan penerbitan SBSN ini ( special purpose vehicle-SPV).

(8)

aset acuan yang sesuai dengan prinsip syariah. Dalam aplikasinya SBSN ini merupakan alternatif pembiayaan APBN melalui penerbitan SBN, seperti dalam bagan berikut ini 10:

SBSN dapat berupa:

1. SBSN ijarah, yaitu SBSN yang diterbitkan berdasarkan akad ijarah (akad sewa menyewa atas suatu aset)

2. SBSN mudharabah, yaitu SBSN yang diterbitkan berdasarkan akad mudharabah

(akad kerjasama dimana salah satu pihak menyediakan modal (rab al-maal) dan pihak lainnya menyediakan tenaga dan keahlian ( mudharib) dimana kelak keuntungannya akan dibagi berdasarkan persentase yang disepakati sebelumnya, apabila terjadi kerugian maka kerugian tersebut adalah menjadi beban dan tanggung jawab pemilik modal)

3. SBSN musyarakah, yaitu SBSN yang diterbitkan berdasarkan akad musyarakah

(akad kerjasama dalam bentuk penggabungan modal)

(9)

5. SBSN berdasarkan akad lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah,

6. SBSN yang diterbitkan berdasarkan kombinasi dari dua atau lebih jenis akad. Hingga 14 September 2007, masih terdapat kendala dalam penerbitan SBSN yaitu dengan tertundanya pengesahan Rancangan Undang-undang (RUU) SBSN. RUU ini belum mendapatkan pengesahan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sehingga penerbitan SBSN di Indonesia belum dapat dilakukan. Pembahasan RUU SBSN ini telah berlangsung sejak tahun 2005.

Beberapa jenis obligasi syariah telah ada di Indonesia adalah sebagai berikut : 1. Obligasi Syariah mudharabah yaitu obligasi syariah yang hasil investasinya

berdasarkan bagi hasil.

2. Obligasi Syariah ijarah yaitu obligasi yang dikeluarkan berdasarkan prinsip ijarah

4. Syarat Obligasi Syariah

Syarat sebuah obligasi disebut syariah adalah sebagai berikut :

1. Akad yang dapat digunakan dalam penerbitan obligasi syariah antara lain: a. Mudharabah (Muqaradhah)/ Qiradh

b. Musyarakah c. Murabahah d. Salam e. Istishna f. Ijarah;

2. Jenis usaha yang dilakukan Emiten (Mudharib) tidak boleh bertentangan dengan syariah, yaitu :

a. Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang;

b. Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi), termasuk perbankan dan asuransi konvensional;

(10)

d. Usaha yang memproduksi, mendistribusi, dan/atau menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat.

3. Pendapatan (hasil) investasi yang dibagikan Emiten (Mudharib) kepada pemegang Obligasi Syariah Mudha-rabah (Shahibul Mal) harus bersih dari unsur non halal; 4. Pendapatan (hasil) yang diperoleh pemegang Obligasi Syariah sesuai akad yang

digunakan;

5. Pemindahan kepemilikan obligasi syariah mengikuti akad-akad yang digunakan. 6. Pengawasan aspek syariah dilakukan oleh Dewan Pengawas Syariah atau Tim

Ahli Syariah yang ditunjuk oleh Dewan Syariah Nasional MUI, sejak proses emisi Obligasi Syariah Ijarah dimulai.

7. Kepemilikan Obligasi Syariah Ijarah dapat dialihkan kepada pihak lain, selama disepakati dalam akad.

5. Penggunaan Dana Sukuk

Penggunaan yang umum atas sukuk dapat disebut sebagai proyek spesifik, aset spesifik, dan neraca spesifik.

a. Sukuk Proyek Spesifik

Didalam kategori ini uang digunakan untuk proyek spesifik. Sebagai contoh, Qatar Global Sukuk dikeluarkan oleh Pemerintah Qatar tahun 2003 untuk memobilisasi sumberdaya untuk pembangunan Hamad Medical City (HMC) di Doha. Dalam hal ini terjadi joint venture special purpose vehicle (SPV), Qatar Global Sukuk QSC, dibentuk di di Qatar dengan hutang yang terbatas. SPV ini membeli kepemilikan perluasan lahan, dan didaftarkan atas nama HMC. Perluasan lahan ini ditempatkan pada ‘trust’ dan sertifikat atas dasar Trust yang dikeluarkan dengan nilai US$ 700 juta dan jatuh tempa tahun 2010. Hasil tahunannya disetujui menggunakan rate mengambang pada LIBOR plus 0.45 percent.

b. Sukuk Aset spesifik

Pada kategori ini, sumberdaya dimobolisasi dengan menjual hak manfaat atas aset kepada investor.

(11)

Sukuk Neraca spesifik, sebagai contoh sukuk yang dikeluarkan oleh IDB tahun 2003 yang akan jatuh tempo pada tahun 2008. IDB menggunakan dana tersebut untuk membiayai berbagai macam proyek dari negara-negara peserta.

6. Perkembangan Sukuk

Inovasi baru-baru ini dalam keuangan islam telah mengubah dinamika industri keuangan islam. Terutama dalam area bonds dan sekuritas, penggunaan sukuk atau sekurtias islam menjadi terkenal dalam beberapa tahun terakhir ini, baik government sukuk maupun corporate sukuk. Dimulai dari tiga sukuk ditahun 2000 dengan nilai US$336 juta, jumlah sukuk di akhir tahun 2006 mencapai 77 dengan nilai lebih dari US$ 27 miliar dana kelolaan. Pada akhir 2007 diperkirakan melebihi US$ 35 miliar

Sukuk sudah berkembang menjadi salah satu mekanisme yang sangat penting dalam meningkatkan keuangan dalam pasar modal internasional melalui struktur yang dapat diterima secara Islam. Perusahaan multinasional, Pemerintah, Badan Usaha Milik Negara, dan lembaga keuangan menggunakan sukuk internasional sebagai alternatif pembiayaan sindikasi.

Di Indonesia, total Obligasi Syariah & Medium Term Notes (MTN) yang diterbitkan sudah mencapai 32 jenis, yaitu :

1. PT Indosat Tbk (Mudharabah) 2. Bank Bukopin Syariah

3. PT Berlian Laju Tanker (BLTA) 4. Bank Muamalat Indonesia Tbk 5. PT Cyliandra

6. Bank Syariah Mandiri 7. PTPN VII

8. PT Matahari Putra Prima Tbk 9. PT Citra Sari Makmur

10. PT Sona Topas

11. PT Pembangunan Perumahan

(12)

13. PT Humpuss Intermoda Transportasi (HIT) Tbk 14. PT Indorent

15. PT Berlina Tbk

16. PT Eternal Buana Chemical Industries (EBCI) 17. PT Apexindo Pratama Duta Tbk

18. PT Indosat Tbk (Ijarah) 19. PT Polytama Propindo

20. PT Ricky Putra Globalindo (RPG) 21. PT Logindo Samudramakmur

22. PT Credit Suisse First Boston (CSFB) 23. PT Indonesia Comnet Plus (I Comnet +) 24. PT PLN (Persero)

25. PT Pembangunan Perumahan (Persero) 26. PT Indosat, Tbk (Ijarah I)

27. PT Adhi Karya (Persero), Tbk 28. PT. Berlian Laju Tanker, Tbk 29. PT PLN (Persero)

30. PT Indosat, Tbk (Ijarah II) 31. PT Perkebunan Nusantara III

32. PT Pembangunan Perumahan (Persero)

(13)

instrumen keuangan syariah, seperti obligasi syariah (sukuk) dalam aktivitas fund raising mereka.

Perkembangan keuangan syariah global yang sangat pesat ini terutama di picu oleh aktivitas investasi yang di lakukan oleh para investor dari negara-negara yang tergabung dalam the Gulf Cooperation Countries(GCC), yaitu Bahrain, Oman, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) di berbagai negara. Data Islamic International Finance Market (IIFM) menunjukkan selama 2000-2006, total sukuk yang diterbitkan di seluruh dunia telah mencapai lebih dari US$50 miliar dengan rincian corporate sukuk sekitar US$44 miliar dan sovereign sukuk US$6 miliar lebih (lihat grafik). Dari sekitar US$50 miliar sukuk tersebut, sekitar US$19 miliar merupakan global sukuk, atau sukuk yang diperdagangkan di bursa global. 13

Peminat sukuk kini juga semakin rasional. Ini terlihat bahwa sekitar 48% dari total sovereign sukuk yang telah diterbitkan di pesan oleh para investor konvensional yang meliputi 25% investor institusi, 11% fund manager, dan 13% dari bank sentral dan institusi pemerintah (Zamir Iqbal & Abbas Mirakhor, 2007)13. Saat ini negara yang

banyak di singgahi investor dari GGC justru dari Eropa. Di Eropa, negara yang menjadi financial hub dari GCC adalah Inggris. Dipilihnya Inggris, tidak terlepas dari kebijakan otoritas Inggris yang sangat terbuka dengan masuknya dana-dana dari GCC. Saat ini, sekitar 85% dari seluruh obligasi yang dikeluarkan GCC berbentuk sukuk, dan London adalah memegang posisi penting sebagai pasar sukuk. Inggris sendiri telah mengumumkan akan menyusun sebuah kerangka regulasi dan tax reform baru dalam rangka mendukung penerbitan sukuk domestik.

Di kawasan Asia, Malaysia telah menjadi yang terdepan dalam urusan keuangan syariah. Pada 2006 diketahui bahwa Rantau Abang Capital Sukuk menerbitkan sukuk senilai US$2.726 juta pada Maret 2006. Malaysia saat ini mengendalikan sekitar 70% dari total sukuk yang diterbitkan pasar global (global sukuk) (Bisnis Indonesia, 20 Agustus 2007).

(14)

pemanfaatan instrumen keuangan syariah, menjadi relevan untuk di dorong pertumbuhannya. Oleh karena itu, pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) perlu dipercepat agar kita tidak ketinggalan momentum investasi 2008. Kemudian perlunya infrastruktur investasi yang comfortable bagi masuknya investor asing yang hendak berinvestasi dalam instrumen keuangan syariah. Pemerintah, misalnya, berencana akan membentuk Indonesia Infrastructure Fund (IIF) dalam rangka memudahkan mencari sumber dana bagi pembiayaan infrastruktur.

(15)

III. PERKEMBANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA

Bank syariah atau Bank Islam adalah suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan syariah (hukum) islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam agama islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram (misal: usaha yang berkaitan dengan produksi makanan/minuman haram, usaha media yang tidak islami dll), dimana hal ini tidak dapat dijamin oleh sistem perbankan konvensional.

Adapun alasan rasional eksistensi Bank Syariah dapat dikemukakan sebagai berikut 11

1. Keinginan umat muslim untuk kaffah, aktivitas keuangan sesuai tuntutan syariah (larangan riba, norma ekonomi dalam Islam, larangan maysir, gharar, jahala, dan kehalalan cara dan objek investasi).

2. Kajian konsep dan pengamatan empiris terhadap praktek keuangan non konvensional ini (yaitu sistem perbankan dengan prinsip bagi hasil) menunjukkan kelayakan dan berbagai keunggulan sistem antara lain :

- profit sharing economic (Weisman, Presley, Chapra, Stiglitz) - Interest free banking system (Siddiqi, Wilson, Baldwin)

1. Latar Belakang Bank Syariah

Berkembangnya bank-bank syariah di negara-negara Islam berpengaruh ke Indonesia. Pada awal periode 1980-an, diskusi mengenai bank syariah sebagai pilar ekonomi Islam mulai dilakukan. Para tokoh yang terlibat dalam kajian tersebut adalah Karnaen A. Perwataatmadja, M.Dawam Rahardjo, A.M. Saefuddin, M. Amien Azis, dll. Beberapa uji coba pada skala yang relatif terbatas telah diwujudkan. Diantaranya adalah Baitut Tanwil-Salman, Bandung, yang sempat tumbuh mengesankan. Di Jakarta juga dibentuk lembaga serupa dalam bentuk koperasi, yakni Koperasi Ridho Gusti 1.

(16)

Barat. Hasil lokakarya tersebut dibahas lebih mendalam pada Musyawarah Nasional IV MUI yang berlangsung di Hotel Sahid Jaya Jakarta, 22-25 Agustus 1990. Berdasarkan amanat Munas IV MUI dibentuk kelompok kerja untuk mendirikan bank Islam di Indonesia.

Kelompok kerja yang disebut Tim Perbankan MUI, bertugas melakukan pendekatan dan konsultasi dengan semua pihak terkait.

2. PT Bank Muamalat Indonesia (BMI)

Bank Muamalat Indonesia lahir sebagai hasil kerja Tim Perbankan MUI tersebut di atas. Akte pendirian PT Bank Muamalat Indonesia ditandatangani pada tanggal 1 November 1991. Pada saat penandatanganan akte pendirian ini terkumpul komitmen pembelian saham sebanyak Rp 84 miliar.

Pada tanggal 3 November 1991, dalam acara silahturahmi Presiden di Istana Bogor, dapat dipenuhi dengan total komitmen modal disetor awal sebesar Rp 106.126.382.000 Dengan modal awal tersebut, pada tanggal 1 Mei 1992, Bank Muamalat Indonesia mulai beroperasi.

Pada awal pendirian Bank Muamalat Indonesia, keberadaan bank syariah ini belum mendapat perhatian yang optimal dalam tatanan industri perbankan nasional. Landasan hukum operasi bank yang menggunakan sistem syariah ini hanya dikategorikan sebagai “bank dengan sistem bagi hasil” tidak terdapat rincian landasan hukum syariah serta jenis- jenis usaha yang diperbolehkan. Hal ini sangat jelas tercermin dari UU No.7 Tahun 1992, dimana pembahasan perbankan dengan sistem bagi hasil diuraikan hanya sepintas lalu dan merupakan “sisipan” belaka.

3. Era Reformasi dan Perbankan Syariah

(17)

untuk membuka cabang syariah atau bahkan mengkonversi diri secara total menjadi bank syariah.

Peluang tersebut ternyata disambut antusias oleh masyarakat perbankan. Sejumlah bank mulai memberikan pelatihan dalam bidang perbankan syariah bagi para stafnya. Sebagian bank tersebut ingin menjajaki untuk membuka divisi atau cabang syariah dalam institusinya. Sebagian lainnya bahkan berencana mengkonversi diri sepenuhnya menjadi bank syariah.

Hal demikian diantisipasi oleh BI dengan mengadakan “Pelatihan Perbankan Syariah” bagi para pejabat BI dari segenap bagian, terutama aparat yang berkaitan langsung seperti DPNP (Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan), kredit, pengawasan, akuntansi, riset, dan moneter.

a. Bank Umum Syariah

Bank Syariah Mandiri (BSM) merupakan bank milik pemerintah pertama yang melandaskan operasionalnya pada prinsip syariah. Secara struktural, BSM berasal dari Bank Susila Bakti (BSB), sebagai salah satu anak perusahaan dilingkup Bank Mandiri (ex BDN), yang kemudian dikonversikan menjadi bank syariah secara penuh. Dalam rangka melancarkan proses konversi menjadi bank syariah, BSM menjalin kerjasama dengan Tazkia Institute, terutama dalam bidang pelatihan dan pendampingan konversi. Sebagai salah satu bank yang dimiliki oleh Bank Mandiri yang memiliki aset ratusan triliun dan networking yang sangat luas, BSM memiliki beberapa keunggulan komparatif dibanding pendahulunya. Demilian juga perkembangan politik di Aceh menjadi ‘blessing in disguise’ bagi BSM. Hal ini karena BSM menyerahkan seluruh cabang Bank Mandiri di Aceh kepada BSM untuk dikelola secara syariah.

(18)

b. Unit Syariah dari Bank Konvesional, Bank Pembangunan Daerah, dan Bank Custodian Satu perkembangan lain perbankan syariah di Indonesia pasca reformasi adalah diperkenankannya bank umum konvensional membuka cabang syariah atau unit bank syariah. Kecepatan pertumbuhan unit syariah menjadi lebih cepat dengan diperkenankannya bank konvensional membuka unit dalam bentuk ‘window’.

Beberapa bank yang sudah membuka cabang syariah, data sampai dengan 7 Desember 2007 adalah :

1. Bank IFI Syariah 2. Bank BNI Syariah 3. Bank Bukopin Syariah 4. Bank BRI Syariah 5. Bank Danamon Syariah 6. Bank BII Syariah

7. Bank HSBC Amanah Syariah 8. Bank Niaga Syariah

9. Bank Permata Syariah 10. Bank BTN Syariah

11. Bank Ekspor Indonesia Syariah 12. Bank BTPN Syariah

13. Bank Lippo Salam

14. ABN Amro Bank Syariah

Sedangkan Bank Pembangunan Daerah yang sudah membuka Unit Usaha Syariah sampai dengan tanggal 7 Desember 2007 adalah :

(19)

8. Bank Sumsel Syariah 9. Bank Kalbar Syariah 10. BPD DIY Syariah 11. BPD Kaltim Syariah

12. Bank Nagari Syariah (BPD Sumbar) 13. Bank Jatim Syariah

14. Bank Sulsel Syariah 15. Bank Jateng Syariah

Dan sudah terdapat empat bank custodian syariah yaitu : 1. Deutsche Bank

2. Kustodian Bank HSBC 3. Kustodian Bank Niaga 4. Citibank, N.A. Indonesia

4. Sistem Penghimpunan Dana Bank Syariah

Bagi bank konvensional, selain modal, sumber dana lainnya cenderung bertujuan untuk ”menahan” uang. Hal ini sesuai dengan pendekatan yang dilakukan Keynes yang megemukakan bahwa orang yang membutuhkan uang untuk tiga kegunaan: transaksi, cadangan (jaga-jaga), dan investasi. Oleh karena itu, produk penghimpunan dana pun disesuaikan dengan tiga fungsi tersebut, yaitu berupa giro, tabungan, dan deposito.

Berbeda dengan hal tersebut, bank syariah tidak melakukan pendekatan tunggal dalam menyediakan produk penghimpunan dana bagi nasabahnya. Misalnya, pada tabungan, beberapa bank memperlakukannya seperti giro, sementara itu ada pula yang memperlakukannya seperti deposito, bahkan ada yang tidak menyediakan produk tabungan sama sekali.

Pada dasarnya, dilihat dari sumbernya, dana bank syariah terdiri atas: 1. modal,

(20)

A. MODAL

Modal adalah dana yang diserahkan oleh para pemilik (owner). Pada akhir periode tahun buku, setelah dihitung keuntungan yang didapat pada tahun tersebut, pemilik modal akan memperoleh bagian dari hasil usaha yang biasa disebut dengan deviden. Dana modal dapat digunakan untuk pembelian gedung, tanah, perlengkapan, dan sebagainya yang secara langsung tidak menghasilkan (fixed asset/non earning asset). Selain itu, modal juga dapat digunakan untuk hal-hal yang produktif, yaitu disalurkan menjadi pembiayaan. Pembiayaan yang berasal dari modal, hasilnya tentu saja bagi pemilik modal, tidak dibagikan kepada pemilik dana lainnya.

Dalam perbankan syariah, mekanisme penyertaan modal pemegang saham dapat dilakukan melalui musyarakh fi sahm asy-syarikah atau equity participation pada saham perseroan bank.

Mekanisme penyertaan saham tersebut dapat digambarkan dalam skema berikut ini:

Keterangan

Salah satu sumber dana bank berasal dari pemegang saham dengan setoran modal, kemudian disalurkan menjadi pembiayaan. Dalam satu periode pembukuan, sesuai hasil Rapat Umum Pemegang Saham, investor akan mendapatkan hasil dalam bentuk deviden.

B. TITIPAN

(21)

pemiliknya menghendakinya. Secara umum terdapat dua jenis wadi’ah: wadi’ah yad al-amanah dan wadi’ah yad adh-dhamanah.

1. Wadi’ah Yad al-Amanah (Trustee Depository)

Wadi’ah jenis ini memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Harta atau barang yang dititipkan tidak boleh dimanfaatkan dan digunakan oleh penerima titipan.

b. Penerima titipan hanya berfungsi sebagai penerima amanah yang bertugas dan berkewajiban untuk menjaga barang yang dititipkan tanpa boleh memanfaatkannya.

c. Sebagai konpensasi, penerima titipan diperkenankan untuk membebankan biaya kepada yang menitipkan.

d. Mengingat barang atau harta yang dititipkan tidak boleh dimanfaatkan oleh penerima titipan, aplikasi perbankan yang memungkinkan untuk jenis ini adalah jasa penitipan atau safe deposit box.

Mekanisme seperti diatas dapat digambarkan dalam diagram berikut ini.

Keterangan

Dengan konsep al-wadi’ah yad al-amanah, pihak yang menerima titipan tidak boleh menggunakan dan memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan. Pihak penerima titipan dapat membebankan biaya kepada penitip sebagai biaya penitipan.

2. Wadi’ah Yad adh-Dhamanah (Guarantee Depository) Wadi’ah jenis ini memiliki karakteristik berikut ini.

(22)

b. Karena dimanfaatkan, barang dan harta yang dititipkan tersebut tentu dapat menghasilkan manfaat. Sekalipun demikian, tidak ada keharusan bagi penerima titipan untuk memberikan hasil pemanfaatan kepada si penitip.

c. Produk perbankan yang sesuai dengan akad ini yaitu giro dan tabungan.

d. Bank konvensional memberikan jasa giro sebagai imbalan yang dihitung berdasarkan persentasi yang telah ditetapkan. Adapun pada bank syariah, pemberiah bonus (semacam jasa giro) tidak boleh disebutkan dalam kontrak ataupun dijanjikan dalam akad, tetapi benar- benar pemberian sepihak sebagai tanda terima kasih dari pihak bank.

e. Jumlah pemberian bonus sepenuhnya merupakan kewenangan manajemen bank syariah karena pada prinsipnya dalam akad ini penekanannya adalah titipan. f. Produk tabungan juga dapat menggunakan akad wadi’ah karena pada prinsipnya

tabungan mirip dengan giro, yaitu simpanan yang bisa diambil setiap saat. Perbedaannya, tabungan tidak dapat ditarik dengan cek atau alat lain yang dipersamakan.

Mekanisme wadi’ah yad adh-dhamanah dapat digambarkan dalam skema sebagai berikut.

Keterangan

(23)

Perbedaan Antara Jasa Giro dan Bonus

No Jasa Giro Bonus (Athaya)

1 Diperjanjikan Tidak diperjanjikan

2 Disebutkan dalam akad Benar-benar merupakan budi baik bank

3 Ditentukan dalam persentase yang tetap Ditentukan sesuai dengan keuntungan riil bank

C. INVESTASI

Prinsip lain yang digunakan adalah prinsip investasi. Akad yang sesuai dengan prinsip ini adalah mudharabah.Tujuan dari mudharabah adalah kerjasama antara pemilik dana( shahibul maal) dan pengelola dana ( mudharib), dalam hal ini bank.

Secara garis besar, mudharabah terbagi menjadi dua jenis yaitu sebagai berikut.

1. Mudharabah Muthlaqah (General Invesment)

a. Shahibul maal tidak memberikan batasan-batasan (restricion) atas dana yang diinvestasikannya. Mudharib diberi wewenang penuh mengelola dana tersebut tanpa terikat waktu, tempat, jenis usaha, dan jenis pelayanannya.

b. Aplikasi perbankan yang sesuai dengan akad ini ialah time deposit biasa.

Skema mudharabah mutlaqah dapat digambarkan sebagai berikut.

Dalam skema mudharabah mutlaqah terdapat beberapa hal yang sangat berbeda secara fundamental dalam hal nature of relationship beetwen bank and customer pada bank konvensional.

(24)

halnya di bank umum. Dengan demikian, secara prinsip, penabung dan deposan entitled untuk risk dan return dari hasil usaha bank.

b. Bank memiliki dua fungsi: kepada deposan atau penabung, ia bertindak sebagai pengelola (mudharib), sedangkan kepada dunia usaha, ia berfungsi sebagai pemilik dana (shahibul maal). Dengan demikian, baik ke kiri maupun kekanan, bank harus sharing risk dan return (lihat skema sebelumnya)

c. Dunia usaha berfungsi sebagai pengguna dan pengelola dana yang harus berbagi hasil dengan pemilik dana, yaitu bank. Dalam pengembangannya, nasabah pengguna dana dapat juga menjalin hubungan dengan bank dalam bentuk jual beli, sewa, dan fee based services.

2. Mudharabah Muqayyadah

a. Shahibul maal memberikan batasan atas dana yang diinvestasikannya. Mudharib hanya bisa mengelola dana tersebut sesuai dengan batasan yang diberikan oleh shahibul maal.Misalnya, hanya untuk jenis usaha tertentu saja, tempat tertentu, dan lain-lain.

b. Aplikasi perbankan yg sesuai dengan akad ini ialah special invesment.

Special invesment melalui mudharabah muqayyadah dapat digambarkan dalam skema berikut ini.

Keterangan

Dalam investasi dengan menggunakan konsep mudharabah muqayyadah, pihak bank terikat dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh shahibul maal, misalnya:

(25)

- waktu dan tempat.

Produk special invesment based on restricted mudharabah ini sangat sesuai dengan special hight networth individuals atau company yang memiliki kencenderungan investasi khusus.

Disamping itu, special invesment merupakan suatu modus funding dan financing, sekaligus yang sangat cocok pada saat-saat krisis dan sektor perbankan mengalami kerugian yang menyeluruh. Dengan special invesment, Investor tertentu tidak perlu menanggung overhead bank yang terlalu besar karena seluruh dananya masuk ke proyek khusus dengan return dan cost yang dihitung khusus pula.

5. Perbedaan Antara Investasi Dan Membungakan Uang

Ada dua perbedaan mendasar antara investasi dengan membungakan uang. Perbedaan tersebut dapat ditelaah dari definisi hingga makna masing-masing.

1. Investasi adalah kegiatan usaha yang mengandung resiko karena berhadapan dengan unsur ketidapastian. Dengan demikian, perolehan kembaliannya (return) tidak pasti dan tidak tetap.

2. Membungakan uang adalah kegiatan usaha yang tidak mengandung resiko karena perolehan kembaliannya berupa uang yang relatif pasti dan tetap. Islam mendorong masyarakat ke arah usaha nyata dan produktif. Islam mendorong seluruh masyarakat untuk melakukan investasi dan melarang membungakan uang. Sesuai dengan definisi diatas, menyimpan uang di bank Islam termasuk kategori kegiatan investasi karena perolehan kembaliannya (return) dari waktu ke waktu tidak pasti dan tidak tetap. Besar kecilnya perolehan kembali itu tergantung pada pada hasil usaha yang benar-benar terjadi dan dilakukan bank sebagai mudharib atau pengelola dana.

(26)

6. Perbedaan Antara Utang Uang dan Utang Barang

Ada dua jenis utang yang berbeda satu sama lainnya, yakni utang yang terjadi karena pinjam-meminjam uang dan utang yang terjadi karena pengadaan barang. Utang yang terjadi karena pinjam-meminjam uang tidak boleh ada tambahan, kecuali dengan alasan yang pasti dan jelas, seperti biaya meterai, biaya notaris, dan studi kelayakan. Tambahan lainnya yang sifatnya tidak pasti dan tidak jelas, seperti inflasi dan deflasi, tidak diperbolehkan.

Utang yang terjadi karena pembiayaan pengadaan barang harus jelas dalam satu kemasan yang utuh atau disebut harga jual. Harga jual itu sendiri terdiri atas harga pokok barang plus keuntungan yang disepakati, selamanya tidak boleh berubah naik karena akan masuk dalam kategori riba fadl. Dalam transaksi perbankan syariah, yang muncul adalah kewajiban dalam bentuk utang pengadaan barang, bukan utang uang.

7. Perbedaan Antara Bunga dan Bagi Hasil

Sekali lagi, Islam mendorong praktik bagi hasil serta mengharamkan riba. Keduanya sama-sama memberi keuntungan bagi pemilik dana, namun keduanya mempunyai perbedaan yang sangat nyata. Perbedaan itu dapat dijelaskan dalam tabel berikut.

Tabel Perbedaan Antara Bunga dan Bagi Hasil

BUNGA BAGI HASIL

a. Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi harus selalu untung.

b. Penentuan besarnya rasio/ nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi.

b. Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan.

c. Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang

diperoleh. c. Pembayaran bunga tetap seperti yang

dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi.

d. Bagi hasil bergatung pada keuntungan proyek yang dijalankan. Bila usaha merugi, kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak. d. Jumlah pembayaran bunga tidak

meningkat sekalipun jumlah

(27)

ekonomi sedang ”booming”. e. Eksistensi bunga diragukan (kalau

tidak dikecam) oleh semua agama, termasuk Islam.

f. Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil.

8. Ayat dan Hadits tentang Kerjasama dan Bagi Hasil

Landasan Ayat dan Hadis yang mendasari kerjasama dan bagi hasil dalam perbankan syariah dapat dilihat pada hadis dan ayat berikut :

Al-Hadits, “Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW berkata :

انأ

اث

ثل

نيكراشلا

ام

مل

نخي

امهدحأ

اص

هبح

اذاف

هناخ

تجرخ

نم

امهنيب

)

هاور

وبأ

(

دواد

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman : “Aku pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama salah satunya tidak menghianati lainnya” (HR. Abu Dawud dan Hakim).

Firman Alah dalam Surat Luqman, ayat 34

























































34. Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1187]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

(28)

a. Para ahli ekonomi Islam menjadikan ayat ini sebagai landasan (dasar/dalil) bagi konsep bagi hasil. Hasil investasi PLS (bagi hasil) tidak bisa dipastikan, karena hanya Allah yang mengetahui hasilnya di masa depan.

b. Ayat ini bertentangan dengan konsep bunga yang memastikan jumlah hasil investasi di masa depan. Kepastian tersebut bertantangan dengan fitrah bisnis yang mengandung 3 kemungkinan ; untung, no return (BEP) dan rugi.

c. Besarnya keuntungan juga berfluktuasi, sehingga tidak bisa dipatok pada angka tertentu

d. Oleh karena hanya Allah yang bisa memastikan berapa hasil keuntungan di masa depan dan bagaimana hasil bisnisnya, semetara manusia tidak bisa mengetahuinya, maka maka konsep bunga yang diterapkan manusia sesungguhnya bertentangan dengan konsep tauhid, karena bunga memastikan berapa keuntungan di masa depan.

e. Ayat ini juga bertentangan dengan konsep time value of money.

f. Hadits Nabi Saw : جارخلا نامضلاب

g. Keuntungan/profit yang diperoleh sejalan dengan resiko yang ditanggung (H.R. Abu Daud)

مرغلا

منغلاب

h. (Resiko/biaya yang ditanggung sejalan dengan keuntungan yang diperoleh(

9. Permasalahan Perkembangan Bank Syariah

(29)

Banyak tatangan dan permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan perbankan syariah, terutama berkaitan dengan penerapan suatu sistem perbankan yang baru, suatu sistem yang mempunyai sejumlah perbedaan prinsip dengan sistem yang dominan dan telah berkembang pesat di Indonesia. Berikut ini dikemukakan beberapa kendala yang muncul sehubungan dengan pengembangan perbankan syariah.

1. Pemahaman Masyarakat yang Belum Tepat terhadap Kegiatan Operasional Bank Syariah

Karena masih dalam tahap awal pengembangan, dapat dimaklumi bahwa pada saat ini pemahaman sebagian besar masyarakat mengenai sistem dan prinsip perbankan syariah masih belum tepat. Pada dasarnya, sistem ekonomi Islam telah jelas, yaitu melarang mempraktikkan riba serta akumulasi kekayaan hanya pada pihak tertentu secara tidak adil. Akan tetapi, secara praktis, bentuk produk dan jasa pelayanan, prinsip-prinsip dasar hubungan antara bank dan nasabah, serta cara-cara berusaha yang halal dalam bank syariah, masih sangat perlu disosialisasikan secara luas.

Adanya perbedaan karasteristik produk bank konvensional dengan bank syariah telah menimbulkan adanya keengganan bagi pengusaha jasa perbankan. Keengganan tersebut antara lain disebabkan oleh hilangnya kesempatan mendapatkan pendapatan tetap berupa bunga dari simpanan. Oleh karena itu, secara umum perlu diinformasikan bahwa penempatan dana pada bank syariah juga dapat memberikan keuntungan finansial yang kompetitif. Disamping itu, salah satu karasteristik khusus dari hubungan bank dengan nasabah dalam sistem perbankan syariah adalah adanya moral force dan tuntutan terhadap etika usaha yang tinggi dari semua pihak. Hal ini selanjutnya akan mendukung prinsip kehati-hatian dalam usaha bank maupun nasabah.

2. Pengaturan Perbankan yang Berlaku Belum Sepenuhnya Mengakomodasi Operasional Bank Syariah

(30)

agar memenuhi ketentuan syariah sehingga bank syariah dapat beroperasi secara efektif dan efisien.Ketentuan- ketentuan tersebut antara lain adalah hal- hal yang mengatur:

a. instrumen yang diperlukan untuk mengatasi masalah likuiditas,

b. instrumen moneter yang sesuai dengan prinsip syariah untuk keperluan pelaksanaan tugas bank sentral,

c. standar akuntansi, audit, dan pelaporan.

d. ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai prinsip kehati- hatian, dan sebagainya. Ketentuan- ketentuan tersebut sangat diperlukan agar perbankan syariah menjadi elemen dari sistem moneter yang dapat menjalankan fungsinya secara baik dan mampu berkembang pesat bersaing dengan bank konvensional.

3. Sumber Daya Manusia yang Memiliki Keahlian dalam Bank Syariah Masih Sedikit

(31)

pikir dari sistem usaha bank yang beroperasi secara konvensional ke bank yang beroperasi dengan prinsip syariah.

4. Jaringan Kantor Bank Syariah yang Belum Luas

(32)

IV. SUKUK DAN PERKEMBANGAN BANK SYARIAH

Sampai dengan tanggal 7 Desember 2007, terdapat 3 Bank Umum Syariah, 14 unit Usaha Syariah Bank Umum, 15 Unit syariah BPD, 4 Bank Custodian Syariah, dan sekitar 100 lebih BPRS. Sementara itu BI memperkirakan aset bank syariah tumbuh hampir tiga kali lipat menjadi Rp 91,6 triliun 2008, dari posisi September tahun ini Rp 31,8 triliun. Prediksi yang sangat optimistis ini didasarkan pada terselesaikannya sejumlah ganjalan yang dianggap menghambat laju pertumbuhan. Salah satunya, instrumen obligasi negara syariah yang tersedia pada awal 2008 serta penyempurnaan UU Perpajakan. Pada tahun 2008, pembiayaan syariah akan mencapai Rp 73,3 triliun, hampir tiga kali lipat dari posisi September tahun ini Rp 25,58 triliun. Demikian juga disisi pendanaan yang dipatok tumbuh menjadi Rp 68,9 triliun dari Rp 24,68 triliun pada September 2007.

Angka ini akan tercapai bila terpenuhinya dua syarat, yaitu jika instrumen obligasi negara syariah (sukuk syariah) dijadikan salah satu alternatif investasi, dan bila bank sentral menyediakan lelang SBI syariah sebagai instrumen untuk menyerap likuiditas pasar keuangan syariah. Akan sulit mengambil dana masyarakat jika tidak tersedia SBI Syariah. Jika dipaksakan lembaga keuangan syariah bisa rugi karena uang tidak kemana-mana. Sedangkan keberadaan Sertifikat Wadiah BI yang hanya memberikan bonus setara 4%, sangat tidak memadai mengingat bank syariah memberi bagi hasil bagi deposito setara 7% hingga 7,25%. Dengan dipatoknya pencapaian pasar perbankan syariah mencapai 5% dari industri perbankan pada 2008, sedangkan aset yang ada baru mencapai Rp 31,8 triliun saat ini, sekitar 1,72% pasar industri perbankan, maka kedua hal di atas menjadi sangat menentukan.

(33)

perbankan selalu berkaitan dalam bidang keuangan. Terkait dengan maksud bank tersebut, sangat diperlukan dana sehingga dapat diberdayakan untuk keperluan investasi dan aktivitas-aktivitas lainnya sehingga dapat meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Dengan demikian relevansi pentingnya penerbitan sukuk oleh pemerintah adalah :10

1. Mendorong basis sumber pembiayaan

2. Mendorong pengembangan pasar keuangan syariah dalam negeri 3. Menciptakan benchmark

4. Memperluas dan mendiversifikasi basis investor 5. Mengembangkan alternatif instrumen investasi

6. Mengoptimalkan pemanfaatan barang milik negara dan

7. Mengoptimalkan pemanfaatan dana masyarakat yang belum terjaring sistem keuangan konvensional.

Dengan diperolehnya dana melaui penerbitan sukuk, korporasi maupun pemerintahan, berarti akan tersedia dana yang besar sehingga akan dapat meningkatkan pembiayaan lemabaga keuangan syariah. Dan ini akan mendorong tumbuhnya perbankan Syariah. Adapun perkembangan Obligasi Syariah/Sukuk Korporasi sampai dengan Juli 2007 dapat dilihat dari grafik berikut 9

(34)

Sementara itu bila dilihat dari potensi permintaan sukuk, baik dari pasar domestik maupun pasar internasional, sangat menjanjikan. Hal ini didasarkan pada beberapa hal berikut ini 9:

1. Pasar dalam negeri

- jumlah penduduk muslim terbesar di dunia

- jumlah emiten/isuers yang melakukan penawaran efek syariah masih sedikit, dan - proporsi produk syariah relatif masih sangat kecil

2. Pasar International

- Pesatnya pertumbuhan aset pasar keuangan syariah (sekitar 15 % p.a) - Repatriasi dana-dana Timur Tengah pasca 9/11

- Terbatasnya jenis dan jumlah instrument keuangan syariah, dan - terus meningkatnya peringkat keridit Indonesia.

Sedangkan di pasar Internasional, tren perkembangannya semakin pesat. Hal ini dapat dilihat dari data perkembangan terkini Pasar Sukuk Internasional 10

1. Malaysia, Brunei, Bahrain, Qatar, UAE, Pakistan, dan Saxony Anhalt, telah menjadi regular issuer sovereign sukuk.

2. Kerajaan Inggris akan menerbitkan sukuk (wholesale dan ritel) paling lambat tahun 2008

(35)

4. Singapura dan Inggris telah melakukan perubahan ketentuan hukum untuk mengakomodir transaksi keuangan syariah

5. Beberapa negara telah mulai menjajagi kemungkinan penerbitan sovereign sukuk, antara lain Singapura, China, Federasi Jerman, Jepang, dan Filipina.

Keterkaitan antara perkembangan sukuk dengan perkembangan perbankan syariah juga terlihat dari upaya pemerintah dalam melakukan percepatan pengembangan Perbankan Syariah. Adapun upaya tersebut dicanagkan dalam Enam pilar Program Akselerasi Pengembangan Perbankan Syariah 12

1. Penguatan Kelembagaan Bank Syariah 2. Pengembangan produk Bank Syariah

3. Intensifikasi edukasi publik dan aliansi mitra strategis

4. Pengingkatan Peranan Pemerintah dan Penguatan Kerangka Hukum 5. Penguatan SDM Bank Syariah

6. Penguatan Pengawasan Bank Syariah

(36)

V. KESIMPULAN

Perkembangan penggunaan instrumen keuangan syariah akan memicu para pelaku ekonomi meningkatkan investasi. Perluasan instrumen investasi akan mendorong kegiatan investasi, melalui pemanfaatan instrumen keuangan syariah. Sukuk sebagai instrumen investasi akan menjadi motor dalam penggerak ekonomi keuangan syariah. Dan ini akan mendorong pertumbuhan lembaga keuangan syariah. Sumber dana akan tersedia dan penyalurannnya dalam bentuk proyek-proyek pemerintah akan menjadi penggerak pertumbuhan perbankan syariah.

Perkembangan sukuk akan sangat ditentukan oleh keberadaan Undang-Undang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Karena instrumen ini sangat diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan perbankan sayriah di Indonesia. Sesuai dengan salah satu program kerja akselerasi perkembangan bank syariah, maka keberadaan sukuk ini akan sangat significant impactnya terhadap pertumbuhan investasi dan pada akhirnya akan berdampak pada pertumbuhan Bank Syariah.

Ditulis, dan disunting dari berbagai sumber Wassalam,

(37)

PUSTAKA

1. Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, Gema Insani, Jakarta, 2001

2. Zudin, ISLAMIC BONDS (SUKUK): ITS INTRODUCTION AND APPLICATION, http://konsultasimuamalat.wordpress.com/ 2007/06/27 /islamic-bonds-sukuk-its-introduction-and-application/ 27th Jun, 2007

3. Agustianto, Bahan Kuliah PSTTUI, Harta Milik, 2007

4. Nurul Huda, Mustafa Edwin Nasution, Investasi pada Pasar Modal Syariah, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2007.

5. Yusuf Al-Qardhawi, Dr., Bunga Bank Haram, Akbar Media Eka Sarana, Jakarta 2005 6. Kun Wahyu Winasis dan Diah Amelia,

http://www.majalahtrust.com/ekonomi/keuangan/982.php 7. http://www.mui.or.id/mui_in/product_2/lks_lbs.php?id=68 8. http://www.slideshare.net/zudin/ruu-sbsn/

9. Baridwan, Anis, Kebijakan Pengembangan Pasar Modal Syariah, Makalah dalam Ijtima’ Sanawi Dewan Pengawas Syariah (DPS) Tahun 2007, Hotel Safari Garden, Cisarua, Bogor, 14 Agustus 2007.

10. Slamat, Dahlan, Road Map dan Perkembangan Sukuk Negara (Surat Berharga Syariah Negara), Makalah dalam Ijtima’ Sanawi Dewan Pengawas Syariah (DPS) Tahun 2007, Cisarua, Bogor, 15 Agustus 2007

11. Siregar, Dr. Mulya E., Pengaturan dan Pengawasan Perbankan Syariah, Makalah dalam Ijtima’ Sanawi Dewan Pengawas Syariah (DPS) Tahun 2007, Cisarua, Bogor, 14 Agustus 2007

12. Siregar, Dr. Mulya E., Kebijakan Akselerasi Pengembangan Perbankan Syariah 2007-2008 dan Peran Strategis Ulama, Makalah dalam Ijtima’ Sanawi Dewan Pengawas Syariah (DPS) Tahun 2007, Cisarua, Bogor, 14 Agustus 2007

Gambar

Tabel Perbedaan Antara Bunga dan Bagi Hasil

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu penelitian dengan judul Hak Asuh Anak Sebagai Akibat Hukum Dari Perceraian (Studi di Pengadilan Agama Kudus dan Pengadilan Negeri Kudus) dengan

Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses pembelajaran lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka

Mereka diberi tayangan dan bahan bacaan (melalui Whattsapp group, Zoom, Google Classroom, Telegram atau media daring lainnya) terkait materi Semangat Para Pendiri Negara dalam

“Ia tahu bahwa, ‘Saya memiliki daya kekuatan dari seseorang yang sempurna dalam cara pandang.’ Inilah pengetahuan keenam yang direalisasi oleh seorang Ariya, melampaui yang

Pengukuran merupakan salah satu metode identifikasi suatu spesies.Perbedaan diagnostik pada mitokondria DNA dan karakteristik skeletal pada lumba-lumba hidung botol

Retribusi Izin Gangguan adalah Retribusi yang dikenakan oleh Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian izin tempat usaha/kegiatan kepada orang pribadi atau Badan

KETIGA : Membebankan biaya hadiah sebagaimana dimaksud dalam Diktum KEDUA pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2014, Badan Perpustakaan dan

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan adanya program aplikasi ini akan sangat membantu dalam sistem informasi Berkah Catering Padang Panjang yang lebih