“Kebijakan Pembatasan Impor Indonesia Pada Komoditas Hortikultura Terhadap Perdagangan Bebas World Trade Organization
(WTO)”
Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Ekonomi Politik Internasional
Dosen:
Leonard F. Hutabarat, Ph.D Imelda Sianipar, MA
Oleh:
Danita Pravinska 1170750006
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang mempunyai sumber daya alam yang melimpah dan juga memiliki tanah yang subur. Ini terbukti dengan luasnya lahan pertanian dan perkebunan di Indonesia yang juga merupakan negara agraris menjadikan Indonesia sebagai negara yang dinilai mampu bersaing dengan negara – negara lain terutama dari bidang pertanian maupun hortikultura. Indonesia yang dahulu pernah mengalami masa kejayaannya melalui potensinya di dalam sektor pertanian, membuat negara – negara lain merasa tersaingi dan takut jika hasil komoditas atau produksi pertanian maupun hortikultura Indonesia lebih diminati masyarakatnya dibandingkan dengan hasil produksi dalam negeri negara tersebut.
negara lainnya, namun tetap saja pemerintah Indonesia harus mengimpor kebutuhan pangan rakyatnya dari negara lain.
Miris memang jika Indonesia yang dijuluki sebagai negara agraris tetapi tidak mampu memenuhi permintaan hasil pertanian ataupun hasil hortikultura di dalam negerinya. Ini terbukti dengan melihat fakta pada tahun 2010 impor komoditas hortikultura mencapai 1,5 juta ton dengan nilai US$ 1,2 miliar, dan meningkat menjadi 2,05 juta ton yang nilainya mencapai US$ 1,6 miliar pada tahun 2011. Sementara pada tahun 2012 volume impor menembus angka 2,2 juta ton dengan nilai perdagangan mencapai US$ 1,8 miliar. Dan hal tersebut menyebabkan neraca perdagangan hortikultura Indonesia negatif yang pada tahun 2010 neraca volume dan nilai perdagangan defisit sebesar 1,1 juta ton dengan nilai US$ 902 juta. Sedangkan pada 2011, defisit neraca volume dan nilai perdagangan hortikultura mencapai 1,6 juta ton dengan nilai mencapai US$ 1,1 miliar.1
Kebenaran dari data tersebut membuktikan bahwa komoditas hortikultura domestik mengalami kemunduran, dengan melihat jumlah impor hortikultura yang dilakukan Indonesia untuk memenuhi permintaan pasar nasional terjawab sudah dengan semakin bertambahnya volume impor Indonesia di setiap tahunnya.
Pada tahun 2012 pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan membuat satu kebijakan untuk menyelamatkan produksi hortikultura dalam negeri dengan menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 60 Tahun 2012, tentang rekomendasi impor hortikultura dan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 60 Tahun 2012, tentang ketentuan impor produk hortikultura. Dengan dikeluarkannya kebijakan dari kedua Kementerian tersebut mungkin akan membawa hasil hortikultura Indonesia kembali berkembang dan dapat bersaing dengan hasil produksi hortikultura negara lain, sehingga permintaan pasar dalam negeri
pun tidak lagi harus bergantung dengan barang – barang impor serta tingkat impor Indonesia kepada negara lain bisa lebih diminimalisir lagi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas terdapat beberapa rumusan masalah yaitu sebagai berikut:
1) Apa keuntungan yang diperoleh Indonesia dari kebijakan pemerintah mengenai proteksionis tersebut?
2) Bagaimana reaksi negara – negara anggota WTO terhadap kebijakan pembatasan impor hortikultura Indonesia?
1.3 Kerangka Teori
Untuk menjawab dan menganalisis rumusan masalah di atas, maka kerangka teori yang akan digunakan adalah sebagai berikut:
1.3.1 Proteksionisme
Proteksionisme adalah kebijakan ekonomi yang membatasi perdagangan antar negara melalui cara tata niaga, pemberlakuan tarif bea masuk impor (tariff protection), jalan pembatasan kuota ( non-tariff protection), sistem kenaikan tarif dan aturan berbagai upaya menekan impor bahkan larangan impor.2 Apapun ancaman terhadap
produk lokal harus diminimalkan. Hal penting itu menurut Murray N. Rothbard dalam proteksionis yaitu, proteksionisme itu adalah hanya kekuatan untuk mengekang perdagangan saja. Terlepas dari apa yang pemerintahan inginkan demi tercapainya kepentingan ekonomi mereka, proteksionisme bisa digunakan atau ditinggalkan demi kepentingan ekonominya.3
2 Jeffry Frieden and David Lake, (2000), International Political Economy: Perspective On Global Power and Wealth, New York: St. Martin’s Press, p. 306.
Proteksionisme merupakan kebijakan ekonomi yang diwarisi dari sistem merkantilisme yang berkembang sejak abad pertengahan. Alexander Hamilton (1755-1804) dalam laporannya yang berjudul Report On Manufactures (1791), Hamilton mengemukakan bahwa negara harus berperan aktif dalam mengembangkan sistem produksi sedemikian rupa tidak saja dalam hal akumulasi kapital, tetapi juga dalam mengatasi pelbagai hal di dalam sistem perdagangan ekonomi harus dimulai dengan pengakuan terhadap hakikat hubungan internasional yang sarat dengan konflik kepentingan, terutama antara negara – negara industri maju dengan negara – negara miskin yang berkonsentrasi pada produk pertanian dan bahan mentah. Pemikiran List ini pada dasarnya menyatakan bahwa kepentingan negara – negara industri maju sangat sesuai dengan prinsip perdagangan bebas yang mengharuskan negara lain untuk berdagang dengan mereka.5
Kebijakan proteksionis biasanya diinginkan kelompok – kelompok yang diuntungkan seperti produsen barang – barang konsumsi yang mendapat saingan dari produsen serupa dari negara lain seperti bahan pangan, tekstil, pakaian, elektronik, dan otomotif. Dukungan terhadap proteksi juga datang dari para pekerja yang bekerja di sektor – sektor tersebut. Maka, arah kebijakan suatu negara ditentukan oleh kuat atau tidaknya lobi kelompok – kelompok tersebut sehingga suatu negara tidak bisa secara konsisten memberlakukan proteksionisme atau sistem perdagangan bebas.6
4 Bob Sugeng Hadiwinata, (2002), Politik Bisnis Internasional, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, hal. 58.
5Ibid, hal. 59.
Menurut DR. Boediono, “Proteksi” berarti perlindungan yang diberikan kepada suatu sektor ekonomi atau industri di dalam negeri terhadap persaingan dari luar negeri. Proteksi diberikan karena tanpa itu sektor ekonomi tersebut tidak bisa bersaing dengan barang – barang luar negeri, karena misalnya barang – barang impor harganya lebih murah atau kualitasnya lebih baik atau penampilannya lebih menarik dan banyak sebab lainnya.7 Proteksi bisa berbentuk: (a)
pengenaan tarif; (b) pelanggaran impor; (c) kuota impor; dan (d) subsidi.8
1.3.2 Perdagangan Bebas (Free Trade)
Teori perdagangan dunia mempunyai dasar bahwa setiap negara mempunyai keunggulan komparatif absolut dan relatif dalam menghasilkan suatu komoditas dibandingkan negara lain9. Suatu
negara akan mengekspor komoditas yang memiliki keungguan komparatif tersebut dan mengimpor komoditas yang mempunyai keunggulan komparatif yang lebih rendah. Perdagangan antarnegara ini akan membawa dunia pada penggunaan sumber daya langka secara lebih efisien dan setiap negara dapat melakukan perdagangan bebas yang menguntungkan dengan melakukan spesialisasi sesuai dengan keunggulan yang dimilikinya.
Pokok perdagangan bebas berpangkal pada paham kebebasan individu yang bermula dikembangkan oleh ekonom – ekonom Klasik (Laissez Faire). Menuruti paham Laissez Faire kemakmuran optimal yang terdapat pada jalur pendapat, yaitu jalur perdagangan bebas akan tercapai bila terdapat hal – hal berikut ini:
7 Boediono, (1990), Ekonomi Internasional, Yogyakarta: BPFE – Yogyakarta, hal. 161.
8Ibid, hal. 184.
a. Pemerintah ataupun instansi – instansinya tidak campur tangan bahwa full employment sebagi suatu tingkat kegiatan ekonomi yang wajar (normal).
d. Tingkat mobility faktor produksi yang disebabkan oleh perbedaan – perbedaan riil (real returns). Semakin besar tingkat mobilitas pekerjaan (occupational mobility), semakin besar pula keuntungan yang diperoleh dari perdagangan bebas.
Sistem perdagangan yang bebas (free trade) baik untuk perdagangan dalam negeri (domestik) ataupun perdagangan luar negeri, akan menjadi semakin besarlah kemungkinan – kemungkinan untuk perkembangan ekonomi, perbaikan mutu barang dan pekerjaan, serta penggunaan – penggunaan faktor ekonomi ke arah yang lebih efisien. Demikian pula arah perdagangan bebas, menjadi semakin luas, tidak terikat ataupun tertuju kepada satu negara. Dengan adanya syarat (pasarnya kompetitif), maka barang – barang yang diperdagangkan dalam sistem perdagangan bebas akan bersaing satu sama lain. Persaingan tesebut akan mendorong para pengusaha untuk memperbaiki mutu barangnya, agar dapat bersaing dan menang dalam persaingan di pasar dengan persaingan yang bersifat selektif.10
persaingan dan perdagangan bebas akan baik hasilnya bagi negara – negara yang sudah maju industri dan perekonomiannya, tetapi sebaliknya untuk negara – negara yang sedang berkembang perekonomiannya sangat memerlukan pembatasan – pembatasan dan peraturan – peraturan untuk melindungi diri sendiri dari akibat – akibat persaingan bebas, misalnya dengan perdagangan internasional yang bercorak protektif.11
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Keuntungan Yang Diperoleh Indonesia Dari Kebijakan Proteksionis Tersebut
Indonesia sebagai negara berkembang yang ingin keberadaannya selalu diakui oleh dunia internasional dengan kekhasannya yang tidak dimiliki negara lain untuk membuktikan bahwa Indonesia adalah negara yang tidak bisa dipandang hanya dengan sebelah mata saja. Produk hortikultura merupakan komoditi yang mempunyai potensi ekonomi bagi masyarakat Indonesia, sehingga kegiatan produksi, penyediaan, pengadaan dan distribusi produk hortikultura menjadi sangat penting. Untuk itu pemerintah dengan membuat suatu kebijakan bahwa Indonesia bukan sebagai negara yang hanya mengandalkan produk luar negeri untuk menjadi konsumsi bagi rakyatnya.12 Dengan dikeluarkannya kebijakan oleh
pemerintah yakni Peraturan Menteri Pertanian Nomor 60 Tahun 2012, tentang rekomendasi impor hortikultura dan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 60 Tahun 2012, tentang ketentuan impor produk hortikultura bertujuan untuk memberikan batasan pada hasil produksi impor komoditas hortikultura dari banyak negara asing.
Kementerian Pertanian melalui Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian membatasi hanya memberikan izin tujuh komoditas hortikultura, buah, dan sayur impor masuk ke Indonesia. Pelaksana tugas (plt) Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian Haryono menyatakan, bahwa tujuh komoditas tersebut yakni sayuran yang terdiri dari bawang bombay, bawang merah dan bawang putih, serta komoditas buah-buah yaitu jeruk siam, jeruk mandarin, lemon, grapefruit/pamelo, anggur, apel dan kelengkeng. Sebanyak 13 produk hortikultura lainnya dilarang masuk sementara yakni kentang, kubis, wortel, cabe, nanas, melon, pisang, mangga, pepaya, durian, krisan, anggrek, dan heliconia.13 Sebenarnya dengan adanya kebijakan tentang
akan menguntungkan bagi Indonesia terutama bagi para petani maupun para pembudidaya tanaman – tanaman hortikultura.
Kebijakan seperti ini sebenarnya juga banyak dilakukan oleh negara – negara lain, karena pembatasan impor seperti impor hortikultura ini tidak hanya untuk mengurangi ketergantungan kepada negara lain, tapi melainkan pengaturan impor tersebut dibolehkan untuk melindungi produk lokal agar tetap dapat menunjukkan kualitasnya. Pemerintah dalam hal ini tepat sasaran dalam mengeluarkan kebijakan proteksionis tersebut, karena sebenarnya petani – petani Indonesia masih sanggup menyediakan serta menghasilkan komoditas hortikultura, dan juga masih mampu mencukupi produksi pangan bagi masyarakat Indonesia, sehingga kebijakan tersebut ditujukan untuk mengurangi impor komoditas hortikultura dan melindungi komoditas di dalam negeri.
Berikut ini adalah tabel hasil produksi komoditas hortikultura yang dibatasi impornya periode 2011-2013:14
Produksi
No. Komoditas 2011 2012* 2013**
1 Bawang Merah (ton) 893.124 889.002 959.953
2 Bawang Putih (ton) 14.749 16.604 13.286
3 Kentang (ton) 955.488 969.663 823.856
4 Kubis/Kol (ton) 1.363.741 1.432.318 1.355.892
5 Wortel (ton) 526.917 544.623 455.695
6 Cabe Besar (ton) 888.852 1.003.085 964.121
7 Cabe Rawit (ton) 594.227 696.964 639.765
8 Jeruk Siam (ton) 1.721.880 1.498.183 1.288.585
9 Jeruk Mandarin (ton) 97.069 117.008 125.956
10 Anggur (ton) 11.938 15.525 17.013 impor (Diakses pada tanggal 31 Desember 2013 pukul 18.59 wib)
14http://hortikultura.deptan.go.id/index.php?
15 Mangga (ton) 2.131.139 2.038.146 2.092.901 tahunnya dan ada pula yang mengalami penurunan dimana ketidakstabilan dari data tersebut bukan berarti Indonesia tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhan panggannya. Namun jika dilihat dari jumlahnya, Indonesia masih mampu untuk mengatasi kebutuhan pangan bagi masyarakatnya. Hal ini sebagai bukti kalau negara Indonesia masih bisa memproduksi komoditas hortikultura yang impornya dibatasi dalam kebijakan pemerintah tersebut, dengan jumlah produksinya yang cukup banyak maka tidak ada salahnya jika kebijakan terhadap impor komoditas hortikultura itu dibuat dan dikeluarkan oleh pemerintah untuk mempertahankan kepentingan nasional negara.
pertaniannya untuk terus dapat bersaing dengan hasil produksi hortikultura negara lain. Walaupun terkadang hasil komoditas hortikultura dalam negeri sering dibanding – bandingkan dengan produk impor, mulai dari harga, kualitas dan juga bentuknya tapi para petani maupun pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan pasti akan selalu berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan untuk menyaingi produk dari negara lain dengan berbagai cara, agar kedepannya Indonesia dapat mandiri dan dapat mengatasi kebutuhan pangan dengan caranya sendiri tanpa harus mengandalkan impor komoditas hortikultura.
2.2 Reaksi Negara Anggota WTO Terhadap Kebijakan Proteksionis Indonesia
Indonesia sebagai salah satu negara anggota World Trade Organization (WTO) yang sudah bergabung selama 19 tahun masih dapat dikatakan sebagai anggota yang masih muda yang berada di dalam organisasi perdagangan dunia tersebut. WTO sebagai sebuah rezim internasional yang mengatur perdagangan negara – negara di dunia internasional, dengan tujuan untuk membantu negara – negara anggotanya untuk melakukan perdagangan dengan lancar dan sebebas mungkin. Perdagangan bebas tersebut terjalin dengan menghapus bea masuk (tariff) dan tindakan seperti larangan impor atau kuota yang selektif untuk membatasi jumlah (volume) impor.15 Dalam hal mengenai pedagangan bebas, World Trade Organization
(WTO) mempunyai aturan ataupun kebijakan tentang perdagangan bebas (free trade). Perjanjian perdagangan dalam WTO melingkupi perdagangan yang berhubungan dengan pertanian, tekstil dan pakaian, perbankan, telekomunikasi, belanja pemerintah, standart industri dan kemanan produk, peraturan sanitasi makanan, kekayaan intelektual, dan sebagainya. Prinsip –
prinsip perdagangan internasional dalam WTO yang harus dipatuhi oleh negara anggotanya menyangkut perdagangan bebas, antara lain:16
A. Trade Without Discrimination
1) Most-Favoured-Nation (MFN): Treating Other People Equally (Perlakuan yang Sama Terhadap Semua Mitra Dagang)
MFN adalah prinsip perdagangan dalam WTO yang mengatur tentang pemberian perlakuan yang sama antar mitra perdagangan, tanpa pengecualian antara semua negara anggota WTO (tidak memandang negara yang kaya atau miskin, kuat atau lemah). Hal ini berarti MFN mengatur bahwa setiap negara anggota WTO harus menurunkan atau menghilangkan hambatan perdagangan dinegaranya dan membuka pasar dalam negeri. Prinsip ini berlaku bagi semua perdagangan barang atau jasa dan diatur dalam artikel pertama GATT (Pasal 2 – General Agreement on Trade in Services/GATS) dan (Pasal 4 – Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights/TRIPs).
2) National Treatment (Perlakuan Nasional): Treating Foreigners and Local Equally
Yaitu negara anggota diwajibkan untuk memberikan perlakuan yang sama atas produk impor dengan produk lokal (paling tidak setelah barang impor tersebut memasuki pasar domestik atau nasional).
B. Freer Rider: G radually, T hrough N egotiation
paling efektif untuk mendorong perdagangan. Tetapi, tidak semua negara dapat dengan mudah untuk menyesuaikan peraturan WTO dengan peraturan dalam negerinya. Untuk itu WTO memperbolehkan negara anggota untuk melakukan penyesuaian secara bertahap melalui “liberalisasi progresif”.
C. Predictability : T hrough B inding and T ransparency
Ketika suatu negara sudah membuat kesepakatan untuk membuka pasar domestik atas barang atau jasa, mereka terikat oleh komitmen mereka ini. Sistem ini juga meningkatkan prediktabilitas dan stabilitas dengan berbagai cara. Salah satu cara yang dilakukan adalah menghambat penggunaan kuota dan langkah – langkah lain yang digunakan untuk menetapkan batas jumlah impor.
Peraturan atau kebijakan diatas yang dibuat oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk mengatur jalannya perdagangan internasional antar negara – negara, dimaksudkan bahwa WTO menginginkan dengan adanya kebijakan atau ketentuan itu negara – negara dapat melakukan perdagangan internasional atau perdagangan bebas dengan sebebas – bebasnya. Adanya kebijakan mengenai pembatas impor komoditas hortikultura yang dibuat oleh pemerintah Indonesia menuai beberapa protes dari negara anggota WTO. Sebagai salah satu contoh reaksi tersebut, yaitu seperti yang dilakukan oleh negara Amerika Serikat. Amerika Serikat mengadukan Indonesia ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) atas kebijakan pembatasan impor produk hortikultura. Dimana Amerika Serikat menuntut pemerintah merevisi peraturan hortikultura itu, lantaran menganggap merugikan negara pengekspor produk buah dan sayuran tersebut.17 Amerika Serikat menggugat Indonesia akibat kebijakan
pembatasan impor komoditas hortikultura itu. Namun menurut pemerintah Indonesia, Indonesia tidak melanggar ketentuan dari WTO karena pemerintah yakin bahwa tidak hanya Indonesia yang memiliki peraturan
mengenai pembatasan impor, pasti banyak dari beberapa negara di dunia yang mempunyai peraturan proteksi tersebut.
Reaksi berikutnya Amerika Serikat meminta konsultasi dalam kerangka Dispute Settlement Body atau badan penyelesaian sengketa. Konsultasi yang diminta oleh Amerika Serikat tersebut merupakan tahap awal dalam menyelesaikan suatu sengketa, dengan jangka waktu 60 hari. Namun upaya konsultasi antara kedua negara tidak kunjung membuahkan hasil, sehingga akibat kegagalan dari fase konsultasi itu Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) akhirnya membentuk panel yang terdiri dari negara-negara anggotanya untuk memberikan persetujuan atau penolakan tentang kebijakan perdagangan Indonesia tersebut. Menurut Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurti, dibentuknya panel tersebut bukan untuk menentukan dan mencari siapa yang akan menjadi pemenang dalam sengketa kedua negara itu, tetapi yang dinilai adalah apakah kebijakan Indonesia tersebut bertentangan dengan komitmen Indonesia di WTO. Wamendag memastikan 150 negara anggota yang memberi penilaian dalam panel itu nanti akan objektif dan netral dengan menyampaikan pendapat mereka terhadap kasus tersebut. Wamendag juga memprediksi Indonesia akan mendapat dukungan dari negara-negara yang melakukan praktik perdagangan yang serupa dengan yang dilakukan Indonesia demi melindungi kepentingan nasional mereka.18
Pada tahap kedua yaitu pembentukan panel biasanya diberikan waktu maksimum 45 hari untuk pembentukan panel ditambah waktu 6 bulan bagi panel untuk menghasilkan putusan. Dan menurut aturan dari WTO untuk penyelesaian sengketa, dengan total jangka waktu penyelesaian satu tahun (tanpa banding) dan satu tahun tiga bulan (dengan banding).19 Sebenarnya
18 http://bisnis.liputan6.com/read/550858/sengketa-hortikultura-as-versus-ri-diputuskan-oleh-150-negara-wto (Diakses pada tanggal 31 Desember 2013 pukul 21.48 wib)
kebijakan pembatasan impor Indonesia hanya membatasi beberapa komoditas produk hortikultura tertentu saja, karena untuk melindungi produk lokal dan karena adanya peraturan terkait kepelabuhanan juga. Di sisi lain, pemerintah akan membawa bukti bahwa kebijakan membatasi pelabuhan impor hortikultura tidak hanya ditujukan bagi produk Amerika saja, tapi juga kepada negara – negara lain. Sebab lain Amerika Serikat memperkarakan Indonesia rupanya negeri adidaya itu merasa disepelekan pemerintah Indonesia karena produk sayur dan buah mereka kini harus diperiksa berulang kali di pelabuhan. Menteri Perdagangan Gita Wiryawan menyatakan, bahwa pembatasan pelabuhan itu bukan hanya kepada Amerika Serikat saja, Indonesia mengakui standar karantina produk Amerika yang bagus, tapi Gita Wiryawan berharap Amerika Serikat paham terhadap pemeriksaan ulang itu karena Indonesia sangat menghormati kedaulatan suatu negara satu sama lain.20
Jika WTO memutuskan Amerika Serikat menang, konsekuensinya pemerintah Indonesia harus mencabut kebijakan pengetatan impor hortikultura. Sebaliknya jika Amerika Serikat kalah, maka kebijakan pemerintah Indonesia tersebut harus diterima pelaku usaha di negara itu. Proteksionis dapat dilakukan dan dijadikan sebagai kebijakan nasional suatu negara dalam meningkatkan perekonomian negaranya. Proteksionis tidak dapat dihindari, seperti yang dilakukan Indonesia di dalam kebijakan pemerintahnya dimana kebijakan itu dikeluarkan untuk melindungi para petani agar terus memproduksi serta melindungi produk domestik Indonesia.
dilakukan. Namun antar negara yang bersengketa, biasanya dari masing – masing pihak akan menggunakan caranya sendiri untuk memberikan sanksi, seperti dari pihak Indonesia akan membatasi impor hortikultura dari Amerika Serikat, kemudian kebijakan Amerika akan membalas sanksi tersebut dengan memberikan batasan kuota ekspor produk Indonesia ke Amerika Serikat dan akan berlanjut seperti itu. Kebijakan seperti itulah yang dapat dilakukan oleh kedua negara, dimana sanksi – sanksi yang diberikan itu dapat dikatakan sebagai cara untuk mewujudkan kepentingan nasional masing – masing negara serta untuk mempertahankan daya saing negara di dalam perdagangan internasional.
BAB 3
PENUTUP
dengan bertahap dapat mengurangi ketergantungan ekonominya terhadap negara – negara lain yang dimulai dengan melakukan pembatasan impor produk hortikultura tersebut. Selama ini dengan tingkat impor komoditas hortikultura yang tinggi, dinilai bahwa pemerintah tidak mampu mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri. Namun sebenarnya para petani masih sanggup memproduksi komoditas hortikultura untuk negara. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah tersebut adalah untuk melindungi produksi dalam negeri agar tidak kalah bersaing dengan produk luar negeri. Dan terkait pembatasan impor beberapa produk hortikultura pada dasarnya mengacu pada kepentingan dalam negeri sebagaimana layaknya negara berkembang yang berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan para petani lokal di dalam negerinya.
impor tersebut. Intinya kebijakan perdagangan Indonesia sangat bervariasi untuk memenuhi kebutuhan dinamika pembangunan Indonesia dalam menghadapi perubahan perekonomian global.
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Boediono. (1990). Ekonomi Internasional. Yogyakarta: BPFE – Yogyakarta.
Frieden, Jeffry and David Lake. (2000). International Political Economy: Perspective On Global Power and Wealth. New York: St. Martin’s Press.
Hadiwinata, Bob Sugeng. (2002). Politik Bisnis Internasional. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Sobri. (2001). Ekonomi Internasional: Teori, Masalah dan Kebijaksanaannya. Yogyakarta: BPFE UII – Yogyakarta.
Jurnal:
Direktorat Perdagangan, Perindustrian, Investasi dan Hak Kekayaan
Intelektual. (2006). “Sekilas WTO (World Trade Organization)”. Edisi Keempat. Jakarta: Departemen Luar Negeri.
Trefler, Daniel. (1993). “Trade Liberalization and the Theory of
Endogenous Protection: An Econometric Study of aU.S Import Policy”. Journal of Political Economy No. 101. Chicago: University of Chicago Press.
Internet:
www.antaranews.com
www.deptan.go.id
www.kontan.co.id
www.liputan6.com
www.medeka.com
www.republika.co.id
www.scisi.co.id