• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Jenis Bioaktivator pada Proses Dekomposisi Campuran Seresah Daun Angsana Pterocarpus indicus????Willd, Ki Hujan Samanea saman (Jacq.) Merr., dan Bungur Lagerstroemia speciosa Pers.???,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengaruh Jenis Bioaktivator pada Proses Dekomposisi Campuran Seresah Daun Angsana Pterocarpus indicus????Willd, Ki Hujan Samanea saman (Jacq.) Merr., dan Bungur Lagerstroemia speciosa Pers.???,"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH JENIS BIOAKTIVATOR PADA PROSES DEKOMPOSISI CAMPURAN SERESAH DAUN ANGSANA Pterocarpus indicus Willd,

KI HUJAN Samanea saman (Jacq.) Merr. DAN BUNGUR Lagerstroemia speciosa Pers Rahmiah Ali*, Fahruddina, Elis Tambarub

*Alamat korespondensi e-mail : [email protected] ab

Jurusan Biologi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian tentang Pengaruh Jenis Bioaktivator pada Proses

Dekomposisi Campuran Seresah Daun Angsana Pterocarpus indicus Willd, KI Hujan Samanea saman (Jacq.) Merr. dan Bungur Lagerstroemia speciosa Pers.”. Penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis bioaktivator pada proses dekomposisi campuran seresah daun Angsana Pterocarpus indicus Willd, KI Hujan Samanea saman (Jacq.) Merr. dan Bungur Lagerstromeia speciosa Pers. dan untuk mengetahui perubahan beberapa pengaruh fisika dan kimia selama proses dekomposisi seresah daun. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan dengan tiga pengulangan. Perlakuan pertama yaitu PA (Campuran seresah daun + kotoran ayam 20%), PB (Campuran seresah daun + kotoran sapi 20%), PC (Campuran seresah daun + kotoran sapi 10% + kotoran ayam 10%) dan P0 (kontrol tanpa perlakuan). Pengamatan ini dilakukan selama 30 hari, dimana paramater yang diamati yaitu warna, pH, suhu, kadar air kompos, laju dekomposisi, dan rasio C/N. Hasil penelitian menunjukkan pemberian bioaktivator berpengaruh nyata terhadap laju dekomposisi pada perlakuan PB (0,43 kg/10 hari), PA (0,39 kg/hari) dan PC (0,37 kg/10 hari). Perubahan warna terjadi pada semua perlakuan dimana warna awal kuning kecoklatan berubah menjadi coklat kehitaman.

Kata kunci: Bioaktivator, dekomposisi, kompos, daun seresah ABSTRACT

A research on "The Effect of bio-activator type on Decomposition Process Mixed Leaf Litter Angsana Pterocarpus indicus Willd, KI Hujan Samanea saman (Jacq.) Merr. And Bungur Lagerstroemia speciosa Pers.". This study aimed to study the effect of bio-activator to the process of decomposition of leaf litter mixture Angsana Pterocarpus indicus Willd, KI Hujan Samanea saman (Jacq.) Merr. and Bungur Lagerstromeia speciosa Pers. and to determine the changes in the chemical and physical influences during leaf litter decomposition process. This study uses a completely randomized design (CRD), which consists of three treatments with three repetitions. The first treatment is PA (mixture of litter leaf + chicken manure 20%), PB (Mixed litter of leaves + cow manure 20%), PC (Mixed litter of leaves + cow manure 10% + chicken manure 10%) and P0 (control without treatment) , These observations were made during 30 days, in which the parameters observed were color, pH, temperature, moisture content of compost, decomposition rates, and C / N ratio. The results showed bioactivator administration significantly affected the rate of decomposition in the treatment of PB (0,43 kg / 10 days), PA (0,39 kg/ 10 days) and PC (0.37 kg / 10 days). The color change occurs in all treatments where early tawny color change to brown-black. Key words: bioactivator, decomposition, compost, leaf litter

PENDAHULUAN

Sampah merupakan salah satu pokok permasalahan yang sering terjadi di sekitar kita. Dimana permasalahan sampah di setiap kota ini, tidak hanya terjadi di negara

Indonesia namun juga menjadi permasalahan di negara lain. Menurut Arlinda (2011), banyaknya sampah yang dihasilkan tanpa pengolahan lanjutan untuk pemanfaatan dari sampah itu sendiri, dewasa ini menjadi

(2)

sorotan terutama untuk daerah industri dan daerah yang memiliki jumlah penduduk banyak. Sampah/limbah yang dihasilkan mulai dari sampah rumah tangga yang meliputi sampah organik dan anorganik, dimana sampah organik seperti daun-daunan yang kering dari pohon-pohon hijau penyejuk kota sampai limbah dari industri adalah menjadi masalah yang harus dicari solusinya.

Sampah dan pengelolaannya kini menjadi masalah yang kian mendesak di kota-kota di Indonesia, sebab apabila tidak dilakukan penanganan yang baik akan mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan lingkungan yang merugikan atau tidak diharapkan, sehingga dapat mencemari lingkungan baik terhadap tanah, air dan udara, oleh karena itu untuk mengatasi masalah pencemaran tersebut diperlukan penanganan dan pengendalian terhadap sampah. Penanganan dan pengendalian akan menjadi semakin kompleks dan rumit dengan semakin kompleksnya jenis maupun komposisi dari sampah sejalan dengan semakin majunya kebudayaan, oleh karena itu penanganan sampah di perkotaan relatif lebih sulit dibanding sampah di desa-desa (Sudrajat, 2006).

Seiring berjalannya waktu, seresah daun sebagai sampah yang dianggap tidak memiliki nilai ekonomis kini dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar dalam pembuatan kompos. Menurut Setyorini et al. (2008), kompos merupakan bahan organik seperti daun-daunan, jerami, alang-alang, rumput-rumputan, dedak padi, batang jagung sulur, carang-carang serta kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme pengurai, sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki sifat-sifat tanah.

Salah satu sumber seresah daun yang umum dijumpai adalah di sekitar kawasan kampus, karena kampus termasuk banyak menyumbangkan sampah di daerah sekitarnya. Adapun sampahnya adalah

sisa-sisa kertas, dos makanan, kaleng, dan berbagai sampah organik seperti sisa makanan dari kantin, ranting-ranting dan seresah daun. Di Unhas sendiri, tampaknya seresah daun dapat menjadi sumber sampah yang besar, mengingat banyak pula pohon-pohon dan tanaman hias lainnya yang tumbuh di dalam lingkungan Unhas. Adanya seresah daun yang melimpah, sangat potensial untuk dijadikan kompos yang dapat memberikan manfaat ekonomi berbasis lingkungan, sehingga perlu dibuat Tempat Pengolahan Sampah Organik di Kampus (TPK) menjadi kompos (Fahruddin dan As’adi, 2010). Universitas Hasanuddin (Unhas) yang merupakan salah satu kampus yang banyak ditumbuhi pohon-pohon seperti Angsana Pterocarpus indicus Willd, KI Hujan Samanea saman (Jacq.) Merr. dan masih banyak lagi pohon lainnya, sehingga setiap harinya jumlah sampah organik sangat melimpah yang memberikan kesan yang tidak sedap dipandang mata di wilayah kampus Unhas. Adanya sampah daun yang melimpah di sekitar lingkungan kampus Unhas dapat dijadikan kompos.

Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini dilakukan untuk mendayagunakan seresah daun sebagai bahan dalam pembuatan kompos dari campuran seresah daun Angsana Pterocarpus indicus Willd, KI Hujan Samanea saman (Jacq.) Merr. dan Bungur Lagerstromeia speciosa Pers. yang

dapat dilakukan dengan memanfaatkan kotoran sapi dan kotoran ayam sebagai

bioaktivator.

METODE PENELITIAN

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sekop, ember plastik, timbangan, karung goni, polybag, kantong pelastik, cawan petri, oven, thermometer, pH meter, neraca ohaus, pisau, gunting, sarung tangan, masker dan alat tulis menulis.

(3)

Bahan yang digunakan dalam penelitian

ini adalah seresah daun yaitu daun Angsana Pterocarpus indicus Willd, KI

Hujan Samanea saman (Jacq.) Merr. dan Bungur Lagerstromeia speciosa Pers. yang

diperoleh dari beberapa tempat di kawasan Universitas Hasanuddin. Bioaktivator berupa kotoran sapi dan kotoran ayam yang diperoleh dari peternakan Universitas Hasanuddin yang sudah kering.

Tahap Pengomposan

Pembuatan kompos dengan melalui beberapa tahap seperti berikut:

Pengumpulan seresah daun-daun kering yang dominan tumbuh di dalam lingkungan kampus Universitas Hasanuddin yaitu daun Angsana, KI Hujan dan Bungur yang diperoleh dari hasil sapuan dari petugas kebersihan beberapa tempat di dalam kawasan Universitas Hasanuddin, dimasukkan kedalam karung atau wadah sejenisnya untuk diangkut ke lokasi pengomposan.

Dilakukan sorteran atau pemilahan pada bahan-bahan dedaunan kemudian dikeringkan sampai benar-benar kering.

Dilakukan pencacahan pada daun-daun yang terlalu besar atau kepanjangan untuk memperluas permukaan sampah, sehingga dengan mudah dan cepat terdekomposisi.

Bahan organik dari seresah daun yang telah dicacah kemudian ditimbang sebanyak 1 Kg dan dicampur dengan bioaktivator sesuai kebutuhan perlakuan. Selanjutnya dicampur lalu dimasukkan ke dalam wadah pengomposan. Adapun perlakuan dibuat sebagai berikut:

PA = Campuran seresah daun + kotoran ayam 20%

PB = Campuran seresah daun + kotoran sapi 20%

PC = Campuran seresah daun + kotoran sapi 10% + kotoran ayam 10% P0 = Campuran sampah daun tanpa

pemberian perlakuan sebagai kontrol

Pengomposan dibiarkan terdekomposisi selama 30 hari, dan setiap 5 hari dilakukan pembalikan untuk aerasi dan membuang panas berlebihan. Selama proses pengomposan berlangsung dilakukan pengukuran pada tumpukan sampah organik dimana setiap 5 hari dilakukan pengukuran perubahan warna, suhu, dan pH, setiap 10 hari dilakukan pengukuran kadar air dan laju dekomposisi, dan pada hari ke 30 dilakukan pengukuran rasio C/N.

Waktu pengamatan kurang lebih selama 30 hari lamanya dengan mengamati beberapa perubahan parameter.

Uji Parameter Pengomposan Parameter yang akan diukur yaitu: Warna

Kompos yang sudah matang dilakukan pengamatan warna, misalnya berwarna coklat kehitam-hitaman apabila kompos telah matang. Namun apabila warna kompos masih mirip dengan warna mentahnya berarti kompos tersebut belum matang (Suryati, 2009).

Derajat Keasaman (pH)

Pengukuran Derajat Keasaman (pH) dilakukan dengan menggunakan pH meter. Dimana pH meter tersebut direndam selama 5 menit dalam sampel pengomposan yang telah diencerkan. Derajat Keasaman (pH) bahan baku kompos diharapkan berkisar 6–8 agar penguraian berlangsung cepat, pH dalam tumpukan kompos tidak boleh terlalu rendah (Djuarnani, 2004).

Temperatur

Pengukuran temperatur ini dilakukan dengan menggunakan termometer. Dimana termometer tersebut dibenamkan dalam sampel pengomposan. Temperatur yang berkisar antara 30 - 60oC menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat. Suhu yang lebih tinggi dari 60oC akan membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang akan tetap bertahan hidup. Suhu yang tinggi juga akan membunuh

(4)

mikroba-mikroba patogen tanaman dan benih-benih gulma (Isroi, 2009).

Kadar Air Kompos

Cara mengukur kadar air kompos William dan Gray dalam Khairijon (1991) dan Patrianingsih (2000) adalah sebagai berikut:

1) Ambil sampel kompos dan ditimbang sebanyak 10 gram 2) Kompos dikeringkan di dalam

oven hingga beratnya konstan, lalu kompos ditimbang kembali 3) Kadar air kompos dihitung

dengan rumus sebagai berikut: Kandungan air =

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑠𝑎 ℎ−𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑠𝑎 ℎ x 100%

Laju dekomposisi

Laju dekomposisi didefinisikan sebagai proses penguraian suatu bahan (cepat/lambat) menjadi bahan lain yang berbeda berat maupun volume dan bahan dasarnya. Laju dekomposisi sampah organik dihitung dengan rumus William dan Gray (Patrianingsih, 2000 dalam Maradhy, 2009) sebagai berikut:

𝑅 = 𝑊𝑜 − 𝑊1 𝑇

Keterangan:

R = Laju dekomposisi (kg/waktu); Wo = Berat awal limbah (kg) W1 = Berat akhir limbah (kg) dan T = Waktu dekomposisi

Rasio C/N

Rasio C/N adalah hasil perbandingan antara karbohidrat dan nitrogen yang terkandung di dalam suatu bahan. Proses

pengomposan yang baik akan menghasilkan rasio C/N yang ideal sebesar 20-40, tetapi rasio paling baik adalah 30 (Djuarnani, 2004). Analisis Data

Analisis data yang diperoleh dari keseluruhan pengukuran, dianalisis dengan menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh perlakuan terhadap parameter yang diukur. Apabila terdapat perbedaan maka dilakukan uji lanjut dengan “Tukey Multiple Comparisons Test” dengan selang kepercayaan 95% (Gomez dan Gomez, 1995). HASIL

Banyaknya sampah seresah daun yang ada di sekitar kampus tanpa pengolahan lanjutan mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan lingkungan yang merugikan atau tidak diharapkan, sehingga dapat mencemari lingkungan baik terhadap tanah, air dan udara. Seiring berjalannya waktu, seresah daun sebagai sampah yang dianggap tidak memiliki nilai ekonomis kini dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar dalam pembuatan kompos. Oleh karena itu, dilalukan penelitian ini untuk mengkaji seresah daun dengan melalui proses pengomposan, untuk mengamati aspek fisika dan aspek kimia yaitu dengan melalukan beberapa parameter seperti warna kompos, derajat keasaman (pH), suhu kompos, kandungan air kompos, laju dekomposisi dan rasio C/N.

Warna

Tabel 2. Perubahan warna kompos tiap perlakuan

Perlakuan Awal Pengomposan Akhir Pengomposan

PA Kuning Kecoklatan Coklat Kehitaman

PB Kuning Kecoklatan Coklat Kehitaman

PC Kuning Kecoklatan Coklat Kehitaman

P0 Kuning Kecoklatan Kecoklatan

Keterangan:

PA = Campuran seresah daun + kotoran ayam 20% PB = Campuran seresah daun + kotoran sapi 20%

PC = Campuran seresah daun + kotoran sapi 10% + kotoran ayam 10% P0 = Campuran sampah daun tanpa pemberian perlakuan sebagai kontrol

(5)

0 1 2 3 4 5 6 7 8 0 5 10 15 20 25 30

pH

Waktu (hari ke-) PA PB PC P0 25 26 27 28 29 30 31 32 0 5 10 15 20 25 30 S u h u (ºC ) Waktu (hari ke-) PA PB PC P0

Gambar 2. Hasil Akhir Dekomposisi PA (Campuran Seresah Daun + Kotoran Ayam 20%), PB (Campuran Seresah Daun + Kotoran Sapi 20%), PC (Campuran Seresah Daun + Kotoran Sapi 10% + Kotoran Ayam 10%) P0 (Kontrol Tanpa Perlakuan).

Derajat Keasaman (pH)

Gambar 3. Grafik Perubahan pH pada Proses Dekomposisi Campuran Seresah dengan Perlakuan PA (Campuran Seresah Daun + Kotoran Ayam 20%), PB (Campuran Seresah Daun + Kotoran Sapi 20%), PC (Campuran Seresah Daun + Kotoran Sapi 10% + Kotoran Ayam 10%) P0 (Kontrol Tanpa Perlakuan) Selama 30 Hari.

Suhu Kompos

Gambar 4.Grafik Hasil Pengukuran Temperatur (Suhu) pada Proses Dekomposisi Campuran Seresah Daun

dengan Perlakuan PA (Campuran Seresah Daun + Kotoran Ayam 20%), PB (Campuran Seresah Daun + Kotoran Sapi 20%), PC (Campuran Seresah Daun + Kotoran Sapi 10% + Kotoran Ayam 10%) P0 (Kontrol Tanpa Perlakuan) Selama 30 Hari.

(6)

0 10 20 30 40 50 60 0 10 20 30 K adar A ir (% ) Waktu (Hari ke-) PA PB PC P0 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 10 20 30 L a ju Dek o m po si si (g r/ha ri) Waktu (hari ke-) PA PB PC P0 Kandungan Air Kompos

Gambar 5. Grafik Hasil Pengukuran kadar air kompos pada Proses Dekomposisi Campuran Seresah Daun dengan Perlakuan PA (Campuran Seresah Daun + Kotoran Ayam 20%), PB (Campuran Seresah Daun + Kotoran Sapi 20%), PC (Campuran Seresah Daun + Kotoran Sapi 10% + Kotoran Ayam 10%) P0 (Kontrol Tanpa Perlakuan) Selama 30 Hari.

Laju Dekomposisi Kompos

Gambar 6. Grafik Hasil Pengukuran Laju Dekomposisi pada Proses Dekomposisi Campuran Seresah Daun

dengan Perlakuan PA (Campuran Seresah Daun + Kotoran Ayam 20%), PB (Campuran Seresah Daun + Kotoran Sapi 20%), PC (Campuran Seresah Daun + Kotoran Sapi 10% + Kotoran Ayam 10%) P0 (Kontrol Tanpa Perlakuan) Selama 30 Hari.

Rasio C/N

Tabel 3. Kadar bahan organik sebelum dekomposisi

Perlakuan Bahan Organik C/N (%)

C (%) N (%)

PA 12,51 1,60 7,82

PB 12,87 1,45 8,88

PC 11,65 1,58 7,37

P0 11,57 1,44 8,03

Tabel 4. Kadar bahan organik setelah dekomposisi

Perlakuan Bahan Organik C/N (%)

C (%) N (%)

PA 8,40 0,72 11,67

PB 9,53 0,60 15,73

PC 9,95 0,51 19,51

(7)

KESIMPULAN Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa:

Pemberian bioaktivator dari kotoran sapi dan kotoran ayam memberikan pengaruh nyata terhadap masing-masing perlakuan. Namun hasil penelitian rata-rata menunjukkan pemberian kotoran sapi yang memberikan hasil yang paling baik.

Perlakuan campuran seresah daun yang ditambahkan dengan 20% kotoran sapi (PB) memperlihatkan hasil yang paling baik pada perubahan warna kompos dimana yang awalnya berwarna kuning kecoklatan menjadi coklat kehitaman. Perlakuan PB juga menunjukkan nilai tertinggi untuk pH yaitu 7, suhu 28ºC, kadar air kompos 54 dan laju dekomposisi yaitu 0,43. Perlakuan PC (campuran seresah daun + 10% kotoran sapi + 10% kotoran ayam) menunjukkan nilai tertinggi untuk rasio C/N yaitu 19,51% dan yang terendah ditunjukkan oleh perlakuan P0 (kontrol) yaitu sebesar 11,60%.

DAFTAR PUSTAKA

Arlinda, 2011. Study of Comparative Chemical Quality of Compost Made from Oil Palm Bunches with Activator of Activated Sludge Coca Cola, Cocomas, and Bokashi Compost. Pascasarjana Universitas Andalas. Skripsi.

Djuarnani, Nan; Kristian dan Setiawan, B.D., 2005. Cara Cepat Membuat Kompos.

Kiat Mengatasi Permsalahan Praktis. Agromedia Pustaka.

Fahruddin dan A. As’adi, 2010.

Pendayagunaan Sampah Daun di Kampus Unhas sebagai Bahan Pembuatan Kompos. Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin, Makassar. ISSN 2086-4604. Jurnal Alam dan Lingkungan Vol. 1 No. 1 Hal. 1-2. Isroi dan Yuliarti N., 2009. Kompos Cara

Mudah, Murah dan Cepat Menghasilkan Kompos. Lily Publisher. Yogyakarta.

Maradhy, E., 2005. Aplikasi Campuran Kotoran Ternak dan Sedimen Mangrove sebagai Aktivator pada Proses Dekomposisi Limbah Domestik. Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin. Makassar.

Prihandini, P.W. dan Teguh, P., 2007. Pembuatan kompos Berbahan Kotoran

Sapi. Pusat Penelitian dan

Pengembangan Peternakan. ISBN : 978-979-8308-75-8.

Setiawan, E., 2009. Pengaruh Empat Macam Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan Sawi (Brassica juncea L.) (The Effects of Four Organic Fertilizers on the Growth of Brassica juncea L.). Agroteknologi Universitas Trunojoyo. ISSN 0216-0188. Journal Embryo Vol.

Gambar

Gambar  3.  Grafik  Perubahan  pH  pada  Proses  Dekomposisi  Campuran  Seresah   dengan  Perlakuan  PA  (Campuran Seresah Daun + Kotoran Ayam 20%), PB (Campuran Seresah Daun + Kotoran Sapi  20%),  PC  (Campuran  Seresah  Daun  + Kotoran  Sapi 10% + Kotora
Gambar  5.  Grafik  Hasil  Pengukuran  kadar  air  kompos  pada  Proses  Dekomposisi  Campuran  Seresah   Daun  dengan Perlakuan PA (Campuran Seresah Daun + Kotoran Ayam 20%), PB (Campuran Seresah  Daun  +  Kotoran  Sapi  20%),  PC  (Campuran  Seresah  Dau

Referensi

Dokumen terkait

Dari proses triangulasi tersebut didapat informasi yang dibutuhkan adalah xl (koordinat titik horisontal kiri dalam sensor kamera dalam pixel) dan xr(koordinat titik

Selanjutnya pada hasil pengkodingan indikator Time diperoleh data bahwa seluruh foto demonstrasi anti kenaikan BBM 2012 Harian Kompas yang lebih dominan menampilkan

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang cara kerja, kegiatan dan konsep yang digunakan LAZISMU Kabupaten Boyolali dalam meningkatkan

Sarung tangan yang kuat, tahan bahan kimia yang sesuai dengan standar yang disahkan, harus dipakai setiap saat bila menangani produk kimia, jika penilaian risiko menunjukkan,

“R” telah dilakukan selama kurang lebih 4 bulan, dari masa hamil usia 36 minggu, persalinan, nifas, BBL, neonatus sampai KB dengan menggunakan dokumentasi

Mobile game yang dibuat memiliki tingkat level dan waktu menyelesaikan juga tidak terlalu lama, karena melihat dari dari hasil bahwa dalam seminggu orang hanya bermain 1-3 hari

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan peningkatan protein pada level 20, 30 dan 40% dibandingkan dengan tanpa fermentasi dan level 10%

Berdasarkan perolehan nilai rata-rata post- test pada kelas eksperimen (XI IPA 2) lebih tinggi dari rata-rata nilai post-test kelas kontrol (XI IPA 3), maka dapat