• Tidak ada hasil yang ditemukan

Etika Pancasila

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Etika Pancasila"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

3 3 Pancasila memiliki berbagai macam

Pancasila memiliki berbagai macam

 – 

 – 

 macam fungsi dan kedudukan, antara macam fungsi dan kedudukan, antara lain sebagai dasar Negara, pandangan hidup bangsa, ideologi Negara, jiwa dan lain sebagai dasar Negara, pandangan hidup bangsa, ideologi Negara, jiwa dan kepribadian bangsa. Pancasila juga sangat sarat akan nilai, yaitu nilai ketuhanan, kepribadian bangsa. Pancasila juga sangat sarat akan nilai, yaitu nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan. Oleh karena itu, pancasila kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan. Oleh karena itu, pancasila secara normatif dadapat dijadikan sebagai suatu acuan atas tindakan baik, dan secara normatif dadapat dijadikan sebagai suatu acuan atas tindakan baik, dan secara filosofis dapat dijadikan persfektif kajian atas nilai dan norma yang secara filosofis dapat dijadikan persfektif kajian atas nilai dan norma yang  berkembang dalam

 berkembang dalam masyarakat. masyarakat. Sebagai Sebagai suatu suatu nilai nilai yang terpisayang terpisah h satu satu sama sama lain,lain, nilai

nilai

 – 

 – 

 nilai tersebut bersifat universal, dapat ditemukan dimanapun dan kapanpun. nilai tersebut bersifat universal, dapat ditemukan dimanapun dan kapanpun.  Namun,

 Namun, sebagai sebagai suatu suatu satu satu kesatuan kesatuan nilai nilai yang yang utuh, utuh, nilainilai

 – 

 – 

  nilai tersebut  nilai tersebut memberikan ciri khusus pada ke-Indinesia-an karena merupakan komponen utuh memberikan ciri khusus pada ke-Indinesia-an karena merupakan komponen utuh yang terkristalisasi dalam pancasila. Meskipun para

yang terkristalisasi dalam pancasila. Meskipun para  founding  founding fathers fathers mendapatmendapat  pedidikan dari Barat,

 pedidikan dari Barat, namunnamun causa materialiscausa materialis pancasila digali  pancasila digali dan bersumber daridan bersumber dari agama, adat dan kebudayaan yang hidup di indonesia. Oleh karena itu, pancasila agama, adat dan kebudayaan yang hidup di indonesia. Oleh karena itu, pancasila yang pada awalnya merupakan konsensus politik yang memberi dasar bagi yang pada awalnya merupakan konsensus politik yang memberi dasar bagi  berdirinya

 berdirinya bangsa bangsa indonesia, indonesia, berkembang berkembang menjadi menjadi konsensus konsensus moral moral yangyang digunakan sebagai sistem etika dan digunakan untuk mengkaji moralitas bangsa digunakan sebagai sistem etika dan digunakan untuk mengkaji moralitas bangsa dalam konteks hubungan berbangsa dan bernegara.

dalam konteks hubungan berbangsa dan bernegara. B.

B. PengertiaPengertian n EtikaEtika

Secara etimologi “etika” berasal dari bahasa Yunani

Secara etimologi “etika” berasal dari bahasa Yunani yaitu “ethos” yang

yaitu “ethos” yang

 berarti

 berarti watak, watak, adat adat ataupun ataupun kesusilaan. kesusilaan. Jadi Jadi etika etika pada pada dasarnya dasarnya dapatdapat diartikan sebagai suatu kesediaan jiwa seseorang untuk senantiasa patuh diartikan sebagai suatu kesediaan jiwa seseorang untuk senantiasa patuh kepada seperangkat aturan-aturan kesusilaan (Kencana Syafiie, 1993). Dalam kepada seperangkat aturan-aturan kesusilaan (Kencana Syafiie, 1993). Dalam konteks filsafat, etika membahas tentang tingkah laku manusia dipandang konteks filsafat, etika membahas tentang tingkah laku manusia dipandang dari segi baik dan buruk. Etika lebih banyak bersangkut dengan dari segi baik dan buruk. Etika lebih banyak bersangkut dengan prinsip- prinsip

 prinsip dasar dasar pembenaran pembenaran dalam dalam hubungan hubungan dengan dengan tingkah tingkah laku laku manusiamanusia (Kattsoff, 1986).

(2)

Etika

Etika adalah adalah ilmu ilmu yang yang membahas membahas tentang tentang bagaimana bagaimana dan dan mengapamengapa kita mengikuti suatu ajaran tertentu atau bagaimana kita bersikap dan kita mengikuti suatu ajaran tertentu atau bagaimana kita bersikap dan  bertanggung jawab

 bertanggung jawab dengan berbagai ajdengan berbagai ajaran moralaran moral. Kedua kelompok . Kedua kelompok etika ituetika itu adalah sebagai berikut :

adalah sebagai berikut : 1.

1. Etika Umum, mempertanyakan prinsip-prinsip yang berlaku bagi setiapEtika Umum, mempertanyakan prinsip-prinsip yang berlaku bagi setiap tindakan manusia.

tindakan manusia. 2.

2. Etika Khusus, membahas prinsip-prinsip tersebut di atas dalamEtika Khusus, membahas prinsip-prinsip tersebut di atas dalam hubungannya dengan berbagai aspek kehidupan manusia, baik sebagai hubungannya dengan berbagai aspek kehidupan manusia, baik sebagai individu (etika in

individu (etika individual) maupun dividual) maupun mahluk sosial (etika mahluk sosial (etika sosial)sosial)

Beberapa motivasi manusia berprilaku baik dan berprilaku buruk dan jahat. Beberapa motivasi manusia berprilaku baik dan berprilaku buruk dan jahat.

 Motivasi manusia berprilaku baik, antara lain:Motivasi manusia berprilaku baik, antara lain: a.

a. Karena adanya kesadaran moral (hati nurani). Manusia berbuatKarena adanya kesadaran moral (hati nurani). Manusia berbuat  baik,

 baik, untuk untuk kebaikan kebaikan itu itu sendiri sendiri (Immanuel (Immanuel .Kant: .Kant: ImperatifImperatif Kategoris).

Kategoris).  b.

 b. Karena takut akan sanksi yang diterimanya, karena sanksiKarena takut akan sanksi yang diterimanya, karena sanksi /hukuman pada hakekatnya adalah memberikan rasa yang tidak /hukuman pada hakekatnya adalah memberikan rasa yang tidak enak, tidak nyaman.

enak, tidak nyaman. c.

c. Karena merasa bahagia (senang).Karena merasa bahagia (senang). d.

d. Karena merasa berguna berguna (bermanfaat), menurut fahamKarena merasa berguna berguna (bermanfaat), menurut faham Utilitarisme.

Utilitarisme. e.

e. Supaya dapat pujian, simpatisSupaya dapat pujian, simpatis f.

f. Untuk mencapai suatu tujuan tertentu.Untuk mencapai suatu tujuan tertentu. g.

g. Merasakan kedamaian dan ketentraman hidup.Merasakan kedamaian dan ketentraman hidup.

 Motivasi manusia berprilaku buruk/ jahat, antara lain:Motivasi manusia berprilaku buruk/ jahat, antara lain: a.

a. Karena keterpaksaan, merasa tidak ada jalan lain, walaupunKarena keterpaksaan, merasa tidak ada jalan lain, walaupun sejatinya hidup adalah pilihan.

sejatinya hidup adalah pilihan.  b.

 b. Karena mudah dan cepat mencapai tujuan (menghalalkan segalaKarena mudah dan cepat mencapai tujuan (menghalalkan segala cara).

cara). c.

(3)

d. Karena kebiasaan dan pengaruh lingkungan

e. Karena tidak tegak dan tegasnya aturan dan sanksi.

f. Meredup dan hilangnya hati nurani sehingga kedap terhadap  penderitaan orang lain.

Maka untuk menjaga:

1. Keberadaan dan tumbuhnya hati nurani di dalam hati, supaya kita, mau dan berani untuk intropeksi, jawa: mulat sariro hangrosowani (mau dan berani memeriksa bathin dan perbuatan kita, dan sekaligus berani menyalahkan dan memberi hukuman untuk diri sendiri). Jika melakukan kesalahan, cepat diketahui dan cepat minta maaf dan bertobat serta berjanji tidak akan mengulangi lagi.

2. Terhindar dari prilaku dosa dan buruk/jahat, kita harus selalu sadar bahwa kita sebagai makhluk Tuhan dan makhluk  beragama, maka sebagai konsekuensinya harus taat hukum

Tuhan (hubungan secara vertikal antara Tuhan dan manusia).

Selain itu kita juga harus sadar secara kodrati manusia adalah makhluk sosial (Zoon Politicon, Homo Socius), maka kita harus hidup bersama orang lain, bahkan berbuat sesuatu untuk kebaikan/kesejahteraan lain orang lain. Konsep mencintai sesama itu bisa kita temukan dalam filosofis jawa, yakni Asih mring sesamaning dumadi (mencintai sesama ciptaan Tuhan), dalam agama Kristiani (konsep cinta kasih): Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri, dalam agama Hindu: Tat Twam Asi (Itulah Kamu) Ahimsa (tanpa kekerasan dari Mahatma Gandhi) Sosro Kartono( Tokoh Kebatinan Jawa): Adanya aku karena engkau, dalam agama Islam: Rahmatan lil alamin( untuk kesejahteraan seluruh umat manusia), Homo homini sallus: Aku ada, kalau berguna bagi orang lain. Dari konsep ini semua akan menumbuhkan rasa simpati dan empati pada orang lain, sehingga jika berbuat jahat pada orang lain, kita akan merasakan sebaliknya, bagaimana kalau kita yang mengalami

(4)

sendiri, dalam jawa disebut tepo sliro (seandainya saya sendiri yang mengalami).

Pada dasarnya etika membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai seperti nilai-nilai baik dan buruk, nilai-nilai susila atau tidak susila, nilai-nilai kesopanan, kerendahan hati dan sebagainya.

1.0 Teori Etika

Eti ka D eontologi

Etika deontologi memandang bahwa tindakan dinilai baik atau buruk  berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Etikan

deontologi tidak mempersoalkan akibat dari tindakan tersebut, baik atau  buruk. Kebaikan adalah ketika seseorang telah melaksanakan apa yang sudah menjadi kewajibannya. Tokoh yang menggunakan teori ini adalah  Immanuel  Kant (1734

 – 

 1804).

Kewajiban moral sebagai manifestasi dari hukum moral adalah sesuatu yang sudah tertanam dalam setiap diri pribadi manusia yang bersifat universal.

Ukuran kebaikan etika daentologi adalah kewajiban, merupakan tindakan tanpa syaratyang harus dilakukan oleh setiap orang. Bukan karena hasil atau karena adanya tujuan

 – 

  tujuan tertentu yang akan diraih, namun karena didasari oleh kewajiban moral dan demi kewajiban moral itu.

Eti ka T eleologi

Pandangan etika teleologi berkebalikan dengan etika deontologi, yaitu  bahwa baik buruk suatu tindakan dilihat berdasarkan tujuan atau akibat dari  perbuatan itu.

Etika teletologi dapat digolongkan menjadi 2, yaitu :

- Egoisme Etis memandang bahwa tindakan yang baik adalah tindakan yang berakibat baik untuk pelakunya. Secara moral setiap orang dibenarkan mengejar kebahagiaan untuk dirinya dan dianggap

(5)

salah atau buruk apabila membiarkan dirinya sengsara dan dirugikan.

- Utilitarianisme menilai bahwa baikburuknya suatu perbuatan tergantung bagaimana akibatnya terhadap banyak orang. Tindakan dikatakan baik apabila mendatangkan kemanfaatan yang bedar dan memberikan kemanfaatan banyak orang.

Etika utilitarianisme ini tidak terpaku pada nilai atau norma yang ada karena pandangan nilai dan norma sangat mungkin memiliki keragaman. Namun setiap tindakan selalu dilihat apakah akibat yang ditimbulkan akan memberikan manfaat bagi banyak orang atau tidak.

Kekurangan etika ini adalah :

1) Membenarkan adanya ketidakadilan terutaman terhadap kaum minoritas.

2) Dalam kenyataan praktis, masyarakat lebih melihat kemanfaatan itu dari sisi yang kuantitan yang non material seperti kasih sayang, nama baik, hak dll.

3) Karena keamanfaatan banyak diharapkan dari segi material yang tentu terkait dengan masalah ekonomi tersebut hal hal yang ideal seperti nasionalisme, martabat bangsa akan terabaikan. 4) Kemanfaatan dilihat dalam jangka pendek tidak melihat akibat

 jangka panjang.

5) Tidak menganggap penting nilai dan norma, tapi lebih pada orientasi hasil.

6) Kesulitan dalam menentukan mana yang lebih diutamakan kemanfaatan yang besr namun dirasakan oleh sedikit masyarakat atau kemanfaatan yang lebih banyak dirasakan meskipun kemanfaatannya kecil.

(6)

Etika keuttamaan tidak mempersoalkan akibat suatu tindakan, tidak juga  berdasarkan pada penilaian moral pada kewajiban terhadap hukum moral universal, tetapi pada pengembangan karakter moral pada diri setiap orang.

Kelemahan etika ini adalah ketika terjadi dalam masyarakat yang majemuk maka tokoh

 – 

  tokoh yang dijadikan panutan juga beragam sehingga konsep keutamaan menjadi sangat beragam pula dan keadaan ini dikhawatirkan akan menimbulkan benturan sosial.

1.1 Sumber Kebaikan dan Keburukan

Sumber kebaikan dan keburukan kemauan bebas untuk memilih. Teori kemauan bebas, yaitu: determinisme dan indeterminisme

a. Determinisme

“Manusia sejak semula sudah ditetapkan atau direncanakan”

 Determinisme materialistis

“Manusia serba materi ÅHukum alam”

o Darwinisme: Manusia hasil perkembangan alamiah.

“Strunggle for life, survival of the fittest” = perjuangan

hidup, siapa yang kuat dialah yang hidup terus menerus

o La Mettic ( Mesin), fourbach (atheisme)

 Determinisme

 – 

 Religius

“Kekuasaa

n Tuhan menjadi prinsip penetapan tingkah laku

manusia”

 b. Indeterminisme

 Manusia mempunyai kebebasan untuk berbuat dan memilih

 Tanpa kemauan bebas manusia tidak mungkin mengetahui moral yang  baik

1.2 Kriteria tentang baik dan buruk a. Hedonisme = Kenikmatan  b. Utilisme = Kemanfaatan

(7)

d. Sosialisme = Pandangan Masyarakat

e. Religiusme = Sesuai dengan kehendak Tuhan f. Humanisme = Kodrat Manusia (human-nature)

 Religius dalam Islam memiliki lima kategori 1) Baik Sekali = Wajib

2) Baik = Sunnat 3)  Netral = Mubah 4) Buruk = Makruh

5) Buruk Sekali = Haram

 Humanisme

Tindakan yang baik adalah tindakan yang sesuai dengan derajat manusia, tidak mengurangi atau menentang kemanusiaan.

Kebaikan berdasarkan kodratnya kebaikan kodrati

Kebaikan yang mengatasi kodrat kebaikan adi kodrati/kebaikan wahyu Tuhan

Akal budi penerang baik buruknya tindakan

Hati nurani indeks (petunjuk), indeks (hakim, index (penghukum)

1.3 Pendekatan Etika

a.  Normatif Etik : melalui penelaahan dan penyaringan ukuran- ukuran normatif seseorang berperilaku sesuai dengan norma yang telah disepakati  baik lisan maupun tulisan

 b. Deskriptif Etik : sadar akan kebaikan etika tapi tidak merasa perlu mentaatinya secara keseluruhan

c. Practical Etik : sadar memperlakukan etika sesuai status dan kemampuannya

1.4 Norma Dasar Etika (metaethics)

(8)

“Manusia berperilaku etika

melaksanakan perintah/menjauhi

larangan Tuhan”

 b.  Norma kemanusiaan (Hablum Minannas)

“Perilaku Etika

 berakibat baik pad

a kehidupan bersama”

1.5 Prinsip-Prinsip Etika

The Great Ideas : A syntopicon of Great Books of western World. 120 macam

“ide agung” enam landasan prinsipil etika :

a. Prinsip keindahan (beauty)  Hidup ini indah/ bahagia

 Penampilan yang serasi dan indah, penataan ruangan kantor  b. Prinsip persamaan (Equality)

 Hakekat kemanusiaan persamaan / kesederajatan  Menghilangkan perilaku diskriminatif

 Perlakuan pemerintah terhadap daerah/ warga negara harus sama Æ tinggi rendahnya urgensi/prioritas

c. Prinsip Kebaikan (Good)

 Kebaikan sifat/karakterisasi dari sesuatu yang menimbulkan  pujian Good (baik)

 Good persetujuan, pujian, keunggulan atau ketepatan

 Kebaikan ilmu pengetahuan objektivitas. Kemanfaatan dan rasionalitas.

 Kebaikan tatanan sosial sadar hukum, saling hormat d. Prinsip Keadilan (justice)

 Keadilan kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya

 Romawi Kuno (justice)

“Justice est contants et perpetua

voluntas jus suum curque tribuendi”

(9)

 Kebebasan keleluasaan untuk bertindak/tidak  bertindak berdasarkan pilihan yang tersedia

 Kebebasan :

 Kemampuan menentukan diri sendiri

 Kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan

 Syarat-syarat yang memungkinkan manusia untuk melaksanakan  pilihan-pilihannya beserta konsekuensinya

 Kebebasan tidak ada tanpa tanggung jawab Tak ada tanggung jawab tanpa kebebasan f. Prinsip kebenaran (truth)

 Teori-teori kebenaran

 Kebenaran dalam pemikiran (truth in the mid) Kebenaran dalam kenyataan (truth in the reality)

2. Moral

Moral merupakan patokan-patokan, kumpulan peraturan lisan maupun tertulis tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar mnejadi manusia yang lebih baik.

Moral dengan etika hubungannya sangat erat, sebab etika suatu  pemikiran kritis dan mendasar tetang ajaran-ajaran dan pandangan moral dan

etika merupakan ilmu pengetahuan yang membahas prinsip-prinsip moralitas (Devos, 1987).

Etika merupakan tingkah laku yang bersifat umum universal berwujud teori dan bermuara ke moral, sedangkan moral bersifat tindakan lokal,  berwujud praktek dan berupa hasil buah dari etika. Dalam etika seseorang dapat memahami dan mengerti bahwa mengapa dan atas dasar apa manusia harus hidup menurut norma-norma tertentu, inilah kelebihan etika dibandingkan dengan moral. Kekurangan etika adalah tidak berwenang menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan seseorang, sebab wewenang ini ada pada ajaran moral.

(10)

3. Norma

 Norma adalah aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang mengikat warga masyarakat atau kelompok tertentu dan menjadi panduan, tatanan, padanan dan pengendali sikap dan tingkah laku manusia. Agar manusia mempunyai harga, moral mengandung integritas dan martabat pribadi manusia. Sedangkan derajat kepribadian sangat ditentukan oleh moralitas yang dimilikinya, maka makna moral yang terkandung dalam kepribadian seseorang tercermin dari sikap dan tingkah lakunya. Oleh karena itu, norma sebagai penuntun, panduan atau pengendali sikap dan tingkah laku manusia.

4. Nilai

 Nilai pada hakikatnya suatu sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek, namun bukan objek itu sendiri.Nilai merupakan kualitas dari sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, yang kemudian nilai dijadikan landasan, alasan dan motivasi dalam bersikap dan berperilaku baik disadari maupuin tidak disadari. Nilai merupakan harga untuk manusia sebagai pribadi yang utuh, misalnya kejujuran, kemanusiaan (Kamus Bhasa Indonesia, 2000).

 Nilai adalah sesuatu yang berharga, berguna, indah, memperkaya batin dan menyadarkan manusia akan harkat, martabatnya. Nilai bersumber pada  budi yang berfungsi mendorong dan mengarahkan sikap dan perilaku manusia. Nilai sebagai suatu sistem (sistem nilai) merupakan salah satu wujud kebudayaan, disamping sistem sosial dan karya.

Cita-cita, gagasan, konsep dan ide tentang sesuatu adalah wujud kebudayaan sebagai sistem nilai. Oleh karena itu, nilai dapat dihayati atau dipersepsikan dalam konteks kebudayaan, atau sebagai wujud kebudayaan yang abstrak. Manusia dalam memilih nilai-nilai menempuh berbagai cara

(11)

yang dapat dibedakan menurut tujuannya, pertimbangannya,  penalarannya, dan kenyataannya.

 Nilai sosial berorientasi kepada hubungan antarmanusia dan menekankan pada segi-segi kemanusiaan yang luhur, sedangkan nilai politik  berpusat pada kekuasaan serta pengaruh yang terdapat dalam kehidupan masyarakat maupun politik. Disamping teori nilai diatas, Prof. Notonogoro membagi nilai dalam tiga kategori, yaitu sebagai berikut:

1.  Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur manusia. 2.  Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk

melakukan aktivitas.

3.  Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia.  Nilai kerohanian dapat dirinci sebagai berikut

a.  Nilai kebenaran, yaitu bersumber pada unsur rasio manusia, budi dan cipta.

 b.  Nilai keindahan, yaitu bersumber pada unsur rasa atau intuisi.

c.  Nilai moral, yaitu bersumber pada unsur kehendak manusia atau kemauan (karsa, etika)

d.  Nilai religi, yaitu bersumber pada nilai ketuhanan, merupakan nilai kerohanian yang tertinggi dan mutlak. Nilai ini bersumber kepada keyakinan dan keimanan manusia kepada Tuhan

 Nilai akan lebih bermanfaat dalam menuntun sikap dan tingkah laku manusia, maka harus lebiih di kongkritkan lagi secara objektif, sehingga mamudahkannya dalam menjabarkannya dalam tingkah laku, misalnya kepatuhan dalam norma hukum, norma agama, norma adat istiadat dll.

C. Etika Pancasila

Etika merupakan cabang ilmu filsafat yang membahas masalah baik dan  buruk. Ranah pembahasannya meliputi kajian praktis dan refleksi filsafati atas moralitas secara normatif. Kajian praktis menyentuh moralitas sebagai perbuatan sadar yang dilakukan dan didasarkan pada norma-norma masyarakat yang mengatur perbuatan baik (susila) dan buruk (asusila).

(12)

Adapun refleksi filsafati mengajarkan bagaimana tentang moral filsafat mengajarkan bagaimana tentang moral tersebut dapat dijawab secara rasional dan  bertanggungjawab.

Rumusan Pancasila yang otentik dimuat dalam Pembukan UUD 1945 alinea keempat. Dalam penjelasan UUD 1945 yang disusun oleh PPKI ditegaskan

 bahwa “pokok 

-pokok pikiran yang termuat dalam Pembukaan (ada empat, yaitu  persatuan, keadilan, kerakyatan dan ketuhanan menurut kemanusiaan yang adil dan beradab) dijabarkan ke dalam pasal-pasal Batang Tubuh. Dan menurut TAP MPRS No.XX/MPRS/1966 dikatakan bahwa Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum. Sebagai sumber segala sumber, Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum.

Sebagai sumber segala sumber, Pancasila merupakan satu-satunya sumber nilai yang berlaku di tanah air. Dari satu sumber tersebut diharapkan mengalir dan memancar nilai-nilai ketuhanan, kemanusian, persatuan, kerakyatan  penguasa. Hakikat Pancasila pada dasarnya merupakan satu sila yaitu gotong

royong atau cinta kasih dimana sila tersebut melekat pada setiap insane, maka nilai-nilai Pancasila identik dengan kodrat manusia. oleh sebab itu  penyelenggaraan Negara yang dilakukan oleh pemerintah tidak boleh  bertentangan dengan harkat dan martabat manusia, terutama manusia yang tinggal

di wilayah nusantara.

Pancasila sebagai core philosophy bagi kehidupan bermasyarakat,  berbangsa, dan bernegara, juga meliputi etika yang sarat dengan nilai-nilai filsafati; jika memahami Pancasila tidak dilandasi dengan pemahaman segi-segi filsafatnya, maka yang ditangkap hanyalah segi-segi-segi-segi filsafatnya, maka yang ditangkap hanyalah segisegi fenomenalnya saja, tanpa menyentuh inti hakikinya.

Pancasila merupakan hasil kompromi nasional dan pernyataan resmi  bahwa bangsa Indonesia menempatkan kedudukan setiap warga negara secara sama, tanpa membedakan antara penganut agama mayoritas maupun minoritas. Selain itu juga tidak membedakan unsur lain seperti gender,  budaya, dan daerah.

(13)

 Nilai-nilai Pancasila bersifat universal yang memperlihatkan napas humanism, karenanya Pancasila dapat dengan mudah diterima oleh siapa saka. Sekalipun Pancasila memiliki sifat universal, tetapi tidak begitu saja dapat dengan mudah diterima oleh semua bangsa. Perbedaannya terletak pada fakta sejarah  bahwa nilai-nilai secara sadar dirangkai dan disahkan menjadi satu kesatuan yang  berfungsi sebagai basis perilaku politik dan sikap moral bangsa. Dalam arti bahwa Pancasila adalah milik khas bangsa Indonesia dan sekaligus menjadi identitas  bangsa berkat legitimasi moral dan budaya bangsa Indonesia sendiri. Nilai-nilai

khusus yang termuat dalam Pancasila dapat ditemukan dalam sila-sil anya.

Pancasila sebagai nilai dasar yang fundamental adalah seperangkat nilai yang terpadu berkenaan dengan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan  bernegara. Apabila kita memahami pokok-pokok pikiran yang terkandung

dalam Pembukaan UUD 1945, yang pada hakikatnya adalah nilai-nilai Pancasila. Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 dapat dinyatakan sebagai pokok- pokok kaidah Negara yang fundamental, karena di dalamnya terkandung pula

konsep-konsep sebagai sebagai berikut:

1. Dasar-dasar pembentukan Negara, yaitu tujuan Negara, asas politik  Negara (Negara Republik Indonesia dan berkedaulatan rakyat), dan  Negara asas kerohanian Negara (Pancasila).

2. Ketentuan diadakannya undang-

undang dasar, yaitu “….. maka

disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia dalam suatu

undang-undang dasar Negara Indonesia…”. Hal ini menunjukkan adanya sumber

hukum.

 Nilai dasar yang fundamental suatu Negara dalam hukum mempunyai hakikat dan kedudukan yang tetap kuat dan tidak berubah, dalam arti dengna  jalan hukum apapun tidak mungkin lagi untuk dirubah. Berhubung Pembukaan UUD 1945 itu memuat nilai-nilai dasar yang fundamental, maka Pembukaan UUD 1945 yang di dalamnya terdapat Pancasila tidak dapat diubah secara hukum. Apabila terjadi perubahan berarti pembubaran Negara Proklamasi 17 Agustus 1945.

(14)

Tataran nilai yang terkandung dalam Pancasila sesuai dengan system nilai dalam kehidupan manusia. Secara teoritis nilai-nilai Pancasila dapat dirinci menurut jenjang dan jenisnya.

1. Menurut jenjangnya sebagai berikut:   Nilai Religius ;

 Nilai ini menempati nilai yang tertinggi dan melekat / dimiliki Tuhan Yang Maha Esa yaitu nilai yang Maha Agung, Maha Suci, Absolud yang tercermin pada Sila pertama Pancasila

yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

  Nilai Spiritual ;

 Nilai ini melekat pada manusia, yaitu budi pekerti, perangai, kemanusiaan dan kerohanian yang tercermin pada sila kedua Pancasila

yaitu ”Kemanusiaan yang adil dan beradab”.

  Nilai Vitalitas;

 Nilai ini melekat pada semua makhluk hidup, yaitu mengenai daya hidup, kekuatan hidup dan pertahanan hidup semua makhluk. Nilai ini tercermin pada sila ketiga dan keempat dalam Pancasila

yaitu “Persatuan Indonesia” dan “Kerakyatan

yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam

 permusyawaratan / perwakilan”

  Nilai Moral;

 Nilai ini melekat pada prilaku hidup semua manusia, seperti asusila, perangai, akhlak, budi pekerti, tata adab, sopan santun, yang tercermin pada sila kedua Pancasila

yaitu “Kemanusiaan

yang adil dan B

eradab”.

  Nilai Materil;

 Nilai ini melekat pada semua benda-benda dunia. Yang wujudnya yaitu jasmani, badani, lahiriah, dan kongkrit. Yang tercermin dalam sila kelima Pancasila

yakni “Keadilan

sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

”.

(15)

2. Menurut jenisnya sebagai berikut:   Nilai Ilahiah

 Nilai yang dimiliki Tuhan Yang Maha Esa, yang melekat  pada manusia yaitu berwujud harapan, janji, keyakinan,

kepercayaan, persaudaraan, persahabatan.   Nilai Etis

 Nilai yang dimiliki dan melekat pada manusia, yaitu  berwujud keberanian, kesabaran, rendah hati, murah hati, suka

menolong, kesopanan, keramahan.   Nilai Estetis

 Nilai yang melekat pada semua makhluk duniawi, yaitu  berupa keindahan, seni, kesahduan, keelokan, keharmonisan.

  Nilai Intelek

 Nilai yang melekat pada makhluk manusia, berwujud ilmiah, rasional, logis, analisis, akaliah. Selanjutnya secara konsepsional nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila terdiri dari nilai dasar, nilai instrumental, nilai praksis.

  Nilai dasar

Merupakan prinsip yang bersifat sangat Abstrak, umum-universal dan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dengan kandungan kebenaran bagaikan Aksioma, berkenaan dengan eksistensi, sesuai cita-cita, tujuan, tatanan dasar dan ciri khasnya yang pada dasarnya tidak berubah sepanjang zaman.

 Nilai dasar Pancasila bersifat Abadi, Kekal, yang tidak dapat berubah, wujudnya ialah sila-sila Pancasila : Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan dan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.

Juga dapat ditemukan dalam 4 alinea pembukaan UUD 1945 dan pokokpokok pikiran yaitu;

(16)

Dalam pembukaan UUD 1945 :

Alinia 1= mencerminkan keyakinan kemerdekaan ialah hak segala bangsa, perikemanusian dan perikeadilan. Konsekuensi logisnya adalah penghapusan penjajahan diatas muka bumi.

  Nilai Instrumental :

Berupa penjabaran nilai dasar, yaitu arahan kinerja untuk kurun waktu tertentu dan kondisi tertentu. Sifat kontektual, harus disesuaikan dengan tuntutan jaman. Nilai Instrumental  berupa kebijakan, strategi, system, rencana, program dan proyek. Pelaksanaan umum dari nilai dasar, biasanya dari wujud norma sosial ataupun norma hukum yang selanjutnya akan terkristalisasi dalam lembaga- lembaga yang bersifat dinamik. Menjabarkan nilai dasar yang umum kedalam wujud kongkrit, sehingga dapat sesuai dengan perkembangan jaman, merupakan semacam tafsir politik terhadap nilai dasar umum tersebut.

 Nilai instrummental terpengaruh oleh waktu, keadaan, dan tempat, sehingga sifat dinamis, berubah, berkembang, dan enovatif. Kontektualisasi nilai dasar harus dijabarkan secara kreatif dan dinamik kedalam nilai instrumental penjabaran nilai dasar terwujud ke dalam:

TAP MPR, PROPENAS UNDANG-UNDANG, DAN

PERATURAN PELAKSANAAN.   Nilai Praksis

 Nilai yang dilaksanakan dalam kenyataan hidup sehari-hari, istil

ah “PRAKSIS” tidak seluruhnya sama maknanya dengan

istilah “PRAKTEK”.

Praksis harus selalu Pased on Values,

sedangkan Praktek bisa bersifat Value Free, maka secara hierarkhis praksisi berada dibawah nilai instrumental dan menjabarkan nilai instrumental tersebut secara taat asas (konsisten).

(17)

Merupakan interaksi antara nilai instrumental dengan situasi kongkrit padatempat dan waktu tertentu.juga merupakan gelanggang pertarungan antara idealisme dengan realitas, yang tidak dapat sepenuhnya kita kuasai, ada kalanya justru kondisi objektif itu yang jauh lebih kuat dari nilai praksis berupa nilai yang sebenarnya kita laksanakan dalam kehidupan kenyataan sehari-hari, contohnya = memelihara persahabatan.

Berbagai wujud penerapan Pancasila dalam kenyataan sehari-hari, baik oleh para penyelenggara Negara maupun oleh masyarakat Indonesia sendiri, misalnya dalam kerukunan hidup beragama, praksisnya: silahturahmi antar umat beragama, melakukan dialog antar umat beragama, toleransi dan saling menghormati.antar umat beragama.

Aktualisasi Pancasila sebagai dasar etika tercermin dalam sila-silanya, yaitu:

a. Sila pertama: menghormati setiap orang atau warga negara atas  berbagaikebebasannya dalam menganut agama dan kepercayaannya masing- masing, serta menjadikan ajaran-ajaran sebagai anutan untuk menuntun ataupun mengarahkan jalan hidupnya.

 b. Sila kedua: menghormati setiap orang dan warga negara sebagai

 pribadi (personal) “utuh sebagai manusia”, manusia sebagai subjek

 pendukung, penyangga, pengemban, serta pengelola hak-hak dasar kodrati yang merupakan suatu keutuhan dengan eksistensi dirinya secara  bermartabat.

c. Sila ketiga: bersikap dan bertindak adil dalam mengatasi segmentasi- segmentasi atau primordialisme sempit dengan jiwa dan

semangat “Bhinneka Tunggal Ika”

-

“bersatu dalam perbedaan” dan

“berbeda dalam persatuan”.

d. Sila keempat: kebebasan, kemerdekaan, dan kebersamaan dimiliki dan dikembangkan dengan dasar musyawarah untuk mencapai kemufakatan secara jujur dan terbuka dalam menata berbagai aspek kehidupan.

(18)

e. Sila kelima: membina dan mengembangkan masyarakat yang  berkeadilan sosial yang mencakup kesamaan derajat (equality) dan  pemerataan (equity) bagi setiap orang atau setiap warga negara.

Sila-sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan integral dan integrative menjadikan dirinya sebagai sebagai referensi kritik sosial kritis, komprehensif, serta sekaligus evaluatif bagi etika dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa ataupun bernegara. Konsekuensi dan implikasinya ialah bahwa norma etis yang mencerminkan satu sila akan mendasari dan mengarahkan sila-sila lain.

Etika Kehidupan Berbangsa (Tap MPR No 01/MPR/2001)

a. Tanda-tanda mundurnya pelaksanaan etika berbangsa 1) Konflik sosial berkepanjangan

2) Berkurangnya sopan santun dan budi luhur dalam kehidupan sosial 3) Melemahnya kejujuran dan sikap amanah

4) Pengabaian ketentuan hukum dan peraturan

 b. Faktor-faktor penyebab mundurnya pelaksanaan etika 1) Faktor internal :

 Lemahnya penghayatan dan pengamalan agama  Sentralisasi di masa lalu

 Tidak berkembangnya pemahaman/penghargaan kebinekaan  Ketidakadilan ekonomi

 Keteladanan tokoh/pemimpin yang kurang  Penegakan hukum yang tidak optimal

 Keterbatasan budaya lokal merespon pengaruh dari luar

 Meningkatnya prostitusi, media pornografi, perjudian dan narkoba 2) Faktor Eksternal :

 Pengaruh globalisasi

 Intervensi kekuatan global dalam panutan kebijakan nasional c. Pokok-Pokok Etika Berbangsa

(19)

2) Etika politik pemerintahan 3) Etika ekonomi dan bisnis 4) Etika penegakan hukum 5) Etika keilmuan

6) Etika lingkungan

d. Good Governance Sebagai Etika Pemerintahan 1) Partisipasi

2) Aturan Hukum (rule of law) 3) Transparansi

4) Daya tanggap (responsiveness)

5) Berorientasi konsensus (Consensus Orientation) 6) Berkeadilan (Equity)

7) Akuntabilitas (Accountability) 8) Bervisi strategis (Strategic vision) 9) Efektifitas dan efisiensi

10) Saling keterkaitan (interrelated) e. Strategi/pendekatan peningkatan etika

1)

Pendekatan larangan (Don’t Approach)

2) Pendekatan Untung-rugi (Cost

 – 

 Benefit Approach) 3) Pendekatan sistem (system approach)

4) Pendekatan kerjakan (Do Approach) D. Pancasila sebagai Solusi Problem Bangsa

Pakar etika politik Franz Magnis Suseno mengatakan bahwa Pancasila dicetuskan sebagai solusi dalam menghadapi berbagai masalah bangsa yang tersirat dalam lima sila di dalamnya.

Pancasila yang dirumuskan oleh tokoh-tokoh besar pendiri bangsa ini merupakan pedoman yang berfungsi sebagai solusi untuk mengatasi problem atau  permasalahan bangsa. Masing-masing sila memiliki makna khusus yang sejatinya

merupakan solusi pemecahan masalah bangsa ini.

Pancasila yang lebih kita kenal sebagai ideologi dan dasar negara. Dimana di dalam butir-butir Pancasila terdapat nilai-nilai yang sangat penting bagi

(20)

kesejahteraan rakyat Indonesia. Namun, nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila dinilai belum diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan  bernegara. sehingga di era reformasi ini masih banyak rakyat Indonesia yang  belum dapat merasakan makna Pancasila yang sebenarnya, yaitu menjunjung

tinggi rasa keadilan, persatuan, kesatuan dan mensejahterakan rakyat.

Kemiskinan, pendidikan yang mahal, keadilan yang diperjual-belikan, korupsi yang merajalela serta tidak adanya kebebasan memeluk agama merupakan sedikit polemik yang dihadapi rakyat pada saat sekarang ini. Banyak kesan yang didapat rakyat dari masalah-masalah tersebut, namun mereka tidak sanggup untuk mengungapkannya. Sehingga seolah-olah rakyat tidak dapat merasakan adanya Pancasila.

Pancasila lebih sering kita dengar di dalam upacara bendera, dan dijadikan syarat pokok yang tidak boleh terlupakan didalam pelaksanaan upacara bendera. Dimana dapat kita sadari bahwa Pancasila tersebut Mengandung nilai-nilai  penting, yang apabila diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan  bernegara dapat mewujudkan sebuah Negara yang berdaulat dan bermatabat, yaitu  Negara yang menjunjung tinggi rasa keadilan, persatuan dan kesatuan.

Banyak kasus-kasus pada saat ini yang bertitik tolak dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila seperti kasus mpok minah yang divonis 1,5 bulan kurungan dengan masa percobaan 3 bulan akibat mencuri tiga buah kakao. Melihat dari kasus Mpok Minah tersebut teringat oleh kita salah satu butir Pancasila yang berbunyi Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Dimana butir Pancasila tersebut Mengandung makna bahwa setiap warga Negara mendapatkan  perlakuan yang sama di depan hukum.

Tetapi bandingkan dengan kasus-kasus besar yang terjadi di Indonesia. Seperti korupsi yang menjadi budaya di masyarakat kita. Birokrasi yang korup yang menjadikan masyarakat kita terdidik secara tak langsung. Semua urusan bisa lancar apabila ada uang suap. Masalah jeratan hukum bisa dibantu dan direkayasa dengan bantuan uang.

Bukan hanya masalah hukum, terdapat berbagai macam permasalahan dan  persoalan lainnya. Merosotnya moral bangsa, kerusakan lingkungan, kasus

(21)

narkoba, dan sebagainya. Pancasila menjadi jalan keluar dalam menuntaskan  permasalahan bangsa dan Negara.

Di dalam Pancasila terdapat nilai-nilai dan makna-makna yang dapat di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

a. Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa. Secara garis besar mengandung makna bahwa Negara melindungi setiap pemeluk agama (yang tentu saja agama diakui di Indonesia) untuk menjalankan ibadahnya sesuai dengan ajaran agamanya. Tanpa ada paksaan dari siapa pun untuk memeluk agama, bukan mendirikan suatu agama. Tidak memaksakan suatu agama atau kepercayaannya kepada orang lain. Menjamin  berkembang dan tumbuh suburnya kehidupan beragama. Dan bertoleransi dalam beragama, yakni saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.

 b. Sila Kedua : Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Mengandung makna  bahwa setiap warga Negara mendapatkan perlakuan yang sama di mata hukum, karena Indonesia berdasarkan atas Negara hukum. mengakui  persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia. Menempatkan manusia sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk Tuhan. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Bertingkah laku sesuai dengan adab dan norma yang berlaku di masyarakat.

c. Sila Ketiga : Persatuan Indonesia. Mengandung makna bahwa seluruh  penduduk yang mendiami seluruh pulau yang ada di Indonesia ini merupakan saudara, tanpa pernah membedakan suku, agama ras bahkan adat istiadat atau kebudayaan. Penduduk Indonesia adalah satu yakni satu  bangsa Indonesia. cinta terhadap bangsa dan tanah air. Menjaga persatuan

dan kesatuan bangsa Indonesia. Rela berkorban demi bangsa dan negara. Menumbuhkan rasa senasib dan sepenanggungan.

d. Sila Keempat : Kerakyatan Yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Mengandung maksud bahwa setiap  pengambilan keputusan hendaknya dilakukan dengan jalan musyawarah untuk mufakat, bukan hanya mementingkan segelintir golongan saja yang

(22)

 pada akhirnya hanya akan menimbulkan anarkisme. tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Melakukan musyawarah, artinya mengusahakan putusan bersama secara bulat, baru sesudah itu diadakan tindakan bersama. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat. e. Sila Kelima : Keadilan Sosial Bagi Seluruh rakyat Indonesia.

Mengandung maksud bahwa setiap penduduk Indonesia berhak mendapatkan penghidupan yang layak sesuai dengan amanat UUD 1945 dalam setiap lini kehidupan. mengandung arti bersikap adil terhadap sesama, menghormati dan menghargai hak-hak orang lain. Kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat. Seluruh kekayaan alam dan isinya dipergunakan bagi kepentingan bersama menurut potensi masing-masing. Segala usaha diarahkan kepada potensi rakyat, memupuk perwatakan dan  peningkatan kualitas rakyat, sehingga kesejahteraan tercapai secara

merata. Penghidupan disini tidak hanya hak untuk hidup, akan tetapi juga kesetaraan dalam hal mengenyam pendidikan.

Apabila nilai-nilai yang terkandung dalam butir-butir Pancasila di implikasikan di dalam kehidupan sehari-hari maka tidak akan ada lagi kita temukan di Negara kita namanya ketidak adilan, terorisme, koruptor serta kemiskinan. Karena di dalam Pancasila sudah tercemin semuanya norma-norma yang menjadi dasar dan ideologi bangsa dan Negara. Sehingga tercapailah cita-cita sang perumus Pancasila yaitu menjadikan Pancasila menjadi jalan keluar dalam menuntaskan permasalahan bangsa dan Negara.

Referensi

Dokumen terkait

Pada saat Peraturan Wali Kota ini mulai berlaku, Peraturan Wali Kota Salatiga Nomor 73 Tahun 2018 tentang Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah dan Bagan Akun Standar (Berita

Prosedur tambahan dalam pembelajaran menulis dengan using graphic organizers and signal words strategy menurut Bouchard (2005:81), antara lain. 1) Siswa secara mandiri

Hasil penelitian menunjukan bahwa upaya Sentra Tenun Prailiu dalam meningkatkan penjualan kain tenun Sumba Timur adalah dengan melakukan strategi komunikasi pemasaran yang

Sesuai dengan Pedoman penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Bidang Cipta Karya Kabupaten/Kota yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan

(2) Apakah kedudukan pendamping dan penerjemah terhadap korban difabel dalam penyidikan perkara pemerkosaan sudah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006

Berdasarkan judul yang diteliti yaitu pengaruh pemahaman keagamaan, etos kerja Islam, kedisiplinan, tanggung jawab, dan pendidikan terhadap profesionalitas kinerja

Hasil pengujian ini menyatakan bahwa besarnya kemampuan ekuitas memperoleh laba bersih tahun berjalan pada BUMN sektor konstruksi ditentukan oleh besarnya nilai

Sistem pertanian mempengaruhi produktivitas padi yang mana produktivitas menghasilkan padi yang berkualitas dengan setiap tahun dapat menghasilkan 2 kali panen dengan hasil