• Tidak ada hasil yang ditemukan

perancangan tokoh dalam animasi “journey to alau malau”

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "perancangan tokoh dalam animasi “journey to alau malau”"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)Hak cipta dan penggunaan kembali: Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk kepentingan komersial, selama anda mencantumkan nama penulis dan melisensikan ciptaan turunan dengan syarat yang serupa dengan ciptaan asli. Copyright and reuse: This license lets you remix, tweak, and build upon work non-commercially, as long as you credit the origin creator and license it on your new creations under the identical terms.. Team project ©2017 Dony Pratidana S. Hum | Bima Agus Setyawan S. IIP.

(2) PERANCANGAN TOKOH DALAM ANIMASI “JOURNEY TO ALAU MALAU” Skripsi Penciptaan Ditulis sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Seni (S.Sn). Nama. : Stephanie M. Gozali. NIM. : 00000018772. Program Studi. : Film dan Televisi. Fakultas. : Seni & Desain. UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA TANGERANG 2018. Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(3) LEMBAR PERNYATAAN TIDAK MELAKUKAN PLAGIAT. Saya yang bertanda tangan di bawah ini:. Nama. : Stephanie M. Gozali. NIM. : 00000018772. Program Studi : Film dan Televisi Fakultas. : Seni & Desain Universitas Multimedia Nusantara. Judul Skripsi: PERANCANGAN TOKOH DALAM ANIMASI “JOURNEY TO ALAU MALAU” dengan ini menyatakan bahwa, Skripsi ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar sarjana, baik di Universitas Multimedia Nusantara maupun di perguruan tinggi lainnya. Karya tulis ini bukan saduran/terjemahan, murni gagasan, rumusan dan pelaksanan penelitian/implementasi saya sendiri, tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan pembimbing akademik dan nara sumber. Demikian surat Pernyataan Orisinalitas ini saya buat dengan sebenarnya, apabila di kemudian hari terdapat penyimpangan serta ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar Sarjana Seni (S.Sn.) yang telah diperoleh, serta sanksi lainnya sesuai dengan norma yang berlaku di Universitas Multimedia Nusantara.. ii Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(4) Tangerang, 14 Desember 2017. Stephanie. M. Gozali. iii Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(5) HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI Perancangan tokoh dalam Animasi “Journey to Alau Malau” Oleh Nama. : Stephanie. M. Gozali. NIM. : 00000018772. Program Studi. : Film dan Televisi. Fakultas. : Seni & Desain. Tangerang, 23 Januari 2018 Pembimbing. R.R. Mega Iranti K., S.Sn., M.Ds.. Ketua Sidang. Penguji. Dominika Anggraeni P., S.Sn., M.Anim.. Bharoto Yekti, S.Ds., M.A.. Ketua Program Studi. Kus Sudarsono, S.E., M.Sn.. iv Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(6) KATA PENGANTAR Selama mengikuti masa perkuliahan dari semester awal, penulis telah memiliki ketertarikan terhadap pembuatan konsep untuk film, terutama film animasi. Berawal dari ketertarikan tersebut penulis memilih untuk membuat karya animasi dengan topik perancangan tokoh. Ketidakpuasan terhadap karya-karya sebelumnya juga melandasi penulis untuk membuat karya ini, dimana penulis memutuskan membuat sebuah karya independen hasil kerja penulis secara pribadi. Penulis ingin membuat karya ini menjadi karya terbaik penulis dan juga dapat membanggakan orang tua berserta universitas. Karya ini seterusnya akan menjadi portofolio bagi penulis di masa mendatang. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa yang pada tahun mendatang akan mengambil tugas akhir. Dan semoga laporan ini dapat menjadi inspirasi, referensi, dan bahan pembelajaran bagi mahasiswa yang ingin mengambil topik yang sesuai. Penulis mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang membantu penulis dalam pembuatan skripsi. Rasa terima kasih ini penulis ucapkan kepada: 1. Kus Sudarsono, S.E., M.Sn. Selaku Ketua Program Studi Fakultas Film dan Televisi Universitas Multimedia Nusantara 2. R.R. Mega Iranti K., S.Sn., M.Ds. selaku dosen pembimbing yang telah mengarahkan dan memberikan saran terhadap pembuatan karya tugas akhir ini.. v Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(7) 3. Bharoto Yekti, S.Ds., M.A. selaku ketua sidang, yang telah menuntun dan memimpin jalan sidang hingga berakhir. 4. Dominika Anggraeni Purwaningsih, S.Sn., M.Anim. selaku penguji sidang yang memberikan masukan dan saran revisi dalam karya tugas akhir. 5. Kepada dosen-dosen lainnya yang telah membimbing penulis dan memberikan referensi dalam proses tugas akhir. 6. Teman-teman penulis yang membantu berkonsultasi dan menjadi rekan perjuangan dalam menyelesaikan tugas akhir. 7. Keluarga penulis yang selalu memberikan dukungan moral dan dana untuk menyelesaikan tugas akhir ini.. Tangerang, 14 Desember 2017. Stephanie M Gozali. vi Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(8) ABSTRAKSI Perancangan tokoh merupakan sebuah komponen inti dalam proses pembuatan animasi karena proses perancangan harus memerhatikan kaedah-kaedah tertentu sehingga dapat menarik perhatian penonton, terutama penonton anak-anak. Perancangan tokoh dalam film “Journey to Alau Malau” mengambil referensi kebudayaan Indonesia, yaitu suku Dayak Kenyah dan dirancang kembali agar menarik bagi penonton anak-anak. Riset dilakukan untuk mencapai hasil perancangan tokoh yang hidup dan dapat diklasifikasikan oleh penonton terutama anak-anak. Dengan demikian, perancangan tokoh dilakukan dengan melalui proses studi kebudayaan dan studi perancangan tokoh animasi secara umum, arketipe, dan 3 dimensional tokoh. Hasil dari perancangan berupa 3 tokoh animasi yang memiliki karateristik berbeda, dan juga memiliki ciri khas kebudayaan Suku Dayak Kenyah. Kata kunci: Tokoh, Adat, Dayak Kenyah, Animasi. vii Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(9) ABSTRACT   Character Design is the core function in the making of animation because in the process, designer must follow necessary rules for it would be interesting in the audiences eyes, especially children. Character design for the film “Journey to Alau Malau” references from infamous Indonesian ethnic tribe, Dayak Kenyah. The characters are designed to be suitable and visually interesting for younger audience, thus the process of this thesis are including the cultural study of the tribe, character design study for animation in general, archetype, and 3 dimensional character study. The purpose of this research is to create an appropriate character design for children. The results of this thesis came in the form of 3 animated characters with different characteristic, and has an indentity of Dayak Kenyah tribe. Keywords: Character,Culture, Dayak Kenyah, Animation. viii Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(10) DAFTAR ISI LEMBAR PERNYATAAN TIDAK MELAKUKAN PLAGIAT ..................... ii HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ............................................................. iv KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv ABSTRAKSI ........................................................................................................ vii. ABSTRACT ............................................................................. viii DAFTAR ISI ......................................................................................................... ix DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xii DAFTAR TABEL................................................................................................ xv DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xvi BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1 1.1.. Latar Belakang ........................................................................................ 1. 1.2.. Rumusan Masalah ................................................................................... 3. 1.3.. Batasan Masalah...................................................................................... 3. 1.4.. Tujuan Skripsi ......................................................................................... 3. 1.5.. Manfaat Skripsi ....................................................................................... 4. BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 5 2.1.. Animasi ................................................................................................... 5 2.1.1.. 2.2.. Limited Animation ...................................................................... 5. Tokoh ...................................................................................................... 6. ix Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(11) 2.3.. Perancangan Tokoh ................................................................................. 7 2.3.1.. Pembagian Kategori Visual Tokoh ............................................. 7. 2.3.2.. Penerapan Bentuk Dasar dalam Perancangan Tokoh................ 11. 2.3.3.. Proporsi Manusia dan Variasi Bentuk dan Lineup Tokoh. Animasi 13 2.4.. Teori 3 Dimensional dalam Tokoh ....................................................... 15. 2.5.. Teori Arketipe ....................................................................................... 16. 2.6.. 2.5.1.. Hero ........................................................................................... 17. 2.5.2.. Mentor : Wise Old Man or Woman .......................................... 18. 2.5.3.. Threshold Guardian ................................................................... 18. 2.5.4.. Ally............................................................................................ 19. 2.5.5.. Shapeshifter ............................................................................... 19. Teori Warna .......................................................................................... 19 2.6.1.. Teori Psikologi Warna .............................................................. 21. 2.7.. Suku Dayak Kenyah, Agama dan Kepercayaan Mereka ...................... 24. 2.8.. Ornamen Suku Dayak Kenyah .............................................................. 25. 2.9.. Baju Tradisional dan Perhiasan Suku Dayak Kenyah........................... 29. BAB III METODOLOGI .................................................................................. 33 3.1.. Gambaran Umum .................................................................................. 33 3.1.1.. Sinopsis ..................................................................................... 33. 3.1.2.. Posisi Penulis ............................................................................ 34. 3.2.. Tahapan Kerja ....................................................................................... 34. 3.3.. Acuan .................................................................................................... 35. x Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(12) 3.4.. 3.3.1.. Acuan Tokoh Sadin ................................................................... 36. 3.3.2.. Acuan Tokoh Burung Enggang ................................................. 40. 3.3.3.. Acuan Tokoh Bungan Malan .................................................... 44. Proses Perancangan ............................................................................... 49 3.4.1.. Sadin.......................................................................................... 50. 3.4.2.. Burung Enggang........................................................................ 54. 3.4.3.. Bungan Malan ........................................................................... 58. BAB IV ANALISIS ............................................................................................. 63 4.1.. Analisa Tokoh Sadin ............................................................................. 63. 4.2.. Analisa Tokoh Burung Enggang ........................................................... 66. 4.3.. Analisa Tokoh Bungan Malan .............................................................. 68. 4.4.. Analisis Pemetaan Teori dalam Perancangan Tokoh ............................ 72 4.4.1.. Sadin.......................................................................................... 72. 4.4.2.. Burung Enggang........................................................................ 74. 4.4.3.. Bungan Malan ........................................................................... 75. BAB V PENUTUP ............................................................................................... 78 5.1.. Kesimpulan ........................................................................................... 78. 5.2.. Saran...................................................................................................... 78. DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... xiv. xi Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(13) DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1. Hello Kitty .......................................................................................... 8 Gambar 2.2. Johnny test .......................................................................................... 8 Gambar 2.3. Steven Universe.................................................................................. 9 Gambar 2.4. Beauty and the Beast .......................................................................... 9 Gambar 2.5. The Polar Express............................................................................. 10 Gambar 2.6. Contoh tokoh dengan bentuk lingkaran ........................................... 11 Gambar 2.7. Contoh tokoh dengan bentuk persegi ............................................... 12 Gambar 2.8. Contoh tokoh dengan bentuk segitiga .............................................. 12 Gambar 2.9. Proporsi ideal laki-laki ..................................................................... 13 Gambar 2.10. Perbedaan varietas bentuk dalam anatomi tokoh ........................... 14 Gambar 2.11. Warna Primer ................................................................................. 20 Gambar 2.12. Warna Sekunder ............................................................................. 20 Gambar 2.13. Warna Tersier ................................................................................. 20 Gambar 2.14. Saturasi Warna ............................................................................... 21 Gambar 2.15. Ornamen manusia pada tameng ..................................................... 26 Gambar 2.16. Ornamen naga pada caping ............................................................ 27 Gambar 2.17. Ornamen tumbuhan ........................................................................ 28 Gambar 2.18. Ornamen anjing pada tato .............................................................. 28 Gambar 2.19. Ornamen kepiting pada tato ........................................................... 29 Gambar 2.20. taa dan besunung ............................................................................ 30 Gambar 2.21. Perhiasan leher ............................................................................... 31 Gambar 2.22. Perhiasan kaki ................................................................................ 31. xii Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(14) Gambar 2.23. Perhiasan telinga ............................................................................ 32 Gambar 3.1. Bagan Tahapan Kerja ....................................................................... 35 Gambar 3.2. Sketsa referensi Mulan ..................................................................... 36 Gambar 3.3. Arthur ............................................................................................... 37 Gambar 3.4. Foto Masyarakat Dayak Kenyah ...................................................... 38 Gambar 3.5. Foto anak-anak menggunakan baju tradisional Dayak Kenyah ....... 39 Gambar 3.6. Gambar oleh Gop Gap...................................................................... 39 Gambar 3.7. Mushu dari Mulan ............................................................................ 40 Gambar 3.8. Merlin ............................................................................................... 41 Gambar 3.9. Foto Burung Enggang ...................................................................... 42 Gambar 3.10. Foto dua prajurit Suku Dayak Kenyah ........................................... 42 Gambar 3.11. Foto sampeq dengan motif burung enggang .................................. 43 Gambar 3.12. Referensi gambar tokoh burung enggang....................................... 43 Gambar 3.13. Te Ka dari Moana ........................................................................... 44 Gambar 3.14. Gambar Te Fiti dari Moana ............................................................ 45 Gambar 3.15. Foto perempuan Dayak Kenyah Modern ....................................... 45 Gambar 3.16. Foto perempuan Dayak Kenyah pada zaman dahulu ..................... 46 Gambar 3.17. Foto perhiasan telinga .................................................................... 46 Gambar 3.18. Foto manik-manik .......................................................................... 47 Gambar 3.19. Foto perhiasan manik-manik Dayak Kenyah ................................. 47 Gambar 3.20. Foto perempuan Dayak Kenyah dengan kalung leher ................... 48 Gambar 3.21. Foto perempuan Dayak Kenyah dengan perhiasan kepala............. 48 Gambar 3.22. Foto Burung Ukeng ........................................................................ 49. xiii Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(15) Gambar 3.23. Perancangan awal Sadin ................................................................. 51 Gambar 3.24. Sketsa dan studi bentuk wajah Sadin ............................................. 51 Gambar 3.25. Sketsa awal badan Sadin ................................................................ 52 Gambar 3.26. Sketsa awal kulit Sadin .................................................................. 52 Gambar 3.27. Perancangan pakaian Sadin ............................................................ 53 Gambar 3.28. Properti awal Sadin ........................................................................ 54 Gambar 3.29. Sketsa wajah dan perbandingan ..................................................... 54 Gambar 3.30. Bentuk dasar burung enggang ........................................................ 56 Gambar 3.31. detailing dan shading ..................................................................... 57 Gambar 3.32. Eksperimen burung enggang .......................................................... 57 Gambar 3.33. Thumbnail Bungan Malan .............................................................. 60 Gambar 3.34. Clean sketch alternatif .................................................................... 61 Gambar 3.35. Warna dan detailing ....................................................................... 61 Gambar 3.36. Eksperimen dari tokoh Bungan Malan ........................................... 62 Gambar 3.37. Eksperimen dari bentuk lain Bungan Malan .................................. 62 Gambar 4.1. Eksekusi dari Tokoh Sadin ............................................................... 63 Gambar 4.2. Corak dari baju Sadin ....................................................................... 66 Gambar 4.3. Eksekusi dari Tokoh Burung Enggang............................................. 67 Gambar 4.4. Eksekusi dari Tokoh Bungan Malan ................................................ 68 Gambar 4.5. Eksekusi dari Tokoh Bungan Malan versi lain ................................ 70. xiv Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(16) DAFTAR TABEL Tabel 2.1. Tabel 3 dimensonal tokoh menurut Lajos egri (hlm. 36) ..................... 16 Tabel 2.2. Tabel Indeks Warna Primer (hlm. 26-27) ............................................ 22 Tabel 2.3. Tabel Indeks Warna Sekunder (hlm. 28-29) ........................................ 22 Tabel 2.4. Tabel Indeks Warna Netral (hlm. 30-31) ............................................. 23 Tabel 4.1. Hasil Pemetaan Teori dalam Sadin ...................................................... 72 Tabel 4.2. Hasil Pemetaan Teori pada Burung Enggang ...................................... 74 Tabel 4.3. Hasil Pemetaan Teori pada Bungan Malan .......................................... 75. xv Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(17) DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN A: KARTU BIMBINGAN SKRIPSI ......................................... xvi LAMPIRAN B: KARTU BIMBINGAN SKRIPSI ........................................ xvii. xvi Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(18) BAB I PENDAHULUAN 1.1.. Latar Belakang Dengan era modern ini, pengaruh globalisasi dan modernisme menjadi hal. yang lumrah di dalam kehidupan kita. Suku Dayak merupakan salah satu dari banyak suku dan ras di Indonesia yang mengenai dampak tersebut, terutama Dayak Kenyah yang tersebar di seluruh pulau Kalimantan. Dampak tersebut sangat membantu perkembangan pemikiran dan perekonomian masyarakat suku Dayak Kenyah tersebut. Bahkan, beberapa dari masyarakat tersebut berhasil mengenyam pendidikan yang tinggi dan menjadi tokoh penting dalam pemerintahan. Hal ini tidak menghalangi keberadaan suku Dayak semakin dikenal oleh masyarakat. Dengan semakin dikenalnya suku Dayak dalam masyarakat Indonesia, semakin banyak pula media-media yang mengangkat tema tentang suku Dayak. Media-media tersebut terdiri dalam bentuk media tulisan artikel, buku-buku mengenai suku Dayak, media dokumenter, dan juga animasi karya mahasiswa yang berjudul “Batang Garing”. Namun kebanyakan dari media-media tersebut mengambil tentang isu-isu sosial ataupun politik yang terjadi di dalam suku Dayak. Selain mengambil tentang isu politik, media lebih banyak menyorot ritualritual mistis, seperti pada film dokumenter yang dilakukan pada tahun 1997 oleh TVRI (Manuati, 2004). Penulis melihat belum banyak media yang mengangkat kebudayaan suku Dayak dengan tujuan pembaca anak-anak.. 1 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(19) Dengan demikian, Penulis kemudian mengangkat cerita folklore yang berasal dari suku Dayak untuk dijadikan konten cerita anak-anak. Suku Dayak yang terdiri dari banyak suku (Billa, 2006) memiliki banyak kepercayaan dan tradisi. Penulis kemudian mengangkat Folklore yang berasal dari kepercayaan suku Dayak Kenyah yang telah lama ditinggalkan. Penulis memilih suku Dayak Kenyah karena suku tersebut memiliki keterbukaan terhadap pendatang yang tertarik untuk mempelajari tentang kebudayaan mereka (Billa, 2006), sehingga banyak data tentang kebudayaan yang telah dikumpulkan oleh media lain. Pada film Moana, Lasseter mengatakan bahwa ketika mereka memutuskan untuk mengambil tema dari kepulauan pasifik, mereka mendapatkan ide untuk membuat kisah dari legenda dan kepercayaan yang berasal dari kepulauan pasifik. Suku Dayak Kenyah memiliki kepercayaan yang kaya, dan untuk merangkapnya menjadi kisah yang terbuka bagi anak-anak, penulis mengambil konsep dari kepercayaan yang sudah lama ditinggalkan sehingga menjadi sebuah legenda dari mulut ke mulut. Data tersebut kemudian dikumpulkan dan diaplikasikan sebagai dasar acuan dalam pembuatan tokoh. Mengapa tokoh? Menurut Egri (1960) tokoh merupakan unsur fundamental yang harus kita kerjakan. Dari perkataan Egri tersebut, dapat disimpulkan bahwa tokoh merupakan unsur yang penting dalam storytelling. Tokoh merupakan poin utama dalam pembuatan cerita baik animasi, film, game, maupun novel atau buku sehingga pembuatan tokoh sendiri harus diperhitungkan secara matang, demikian pula dengan cerita anak-anak. Menurut Srinivasan, penggunaan tokoh terutama tokoh anak-anak sendiri membantu 2 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(20) pembaca anak-anak untuk mengindentifikasi dirinya sendiri dengan tokoh tersebut, sehingga mereka lebih memahami sepenuhnya ke dunia dalam cerita (Anthappan, 2013). Karena sub suku Dayak yang banyak dan tersebar luas di pulau Kalimantan, penulis akan mengambil riset dari suku Dayak Kenyah yang tersebar di Kalimantan Timur. Selain itu, akan dijelaskan bagaimana mengaplikasikan data-data riset yang telah dikumpulkan ke dalam perancangan tokoh animasi. 1.2.. Rumusan Masalah. Bagaimana merancang tokoh dalam animasi “Journey to Alau Malau”? 1.3.. Batasan Masalah. Agar pembahasan rancangan tokoh dan pengambilan data tidak menjadi terlalu luas, maka batasan masalah skripsi ini antara lain: 1.. Tokoh yang dirancang berdasarkan referensi dari suku Dayak Kenyah.. 2.. Perancangan meliputi 3 tokoh utama yaitu Sadin, Burung Enggang, dan. Bungan Malan. 1.4.. Tujuan Skripsi. Tujuan dari penciptaan skripsi ini adalah untuk merancang tokoh dengan menggunakan referensi suku Dayak Kenyah.. 3 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(21) 1.5.. Manfaat Skripsi. Manfaat bagi penulis: 1. Sebagai prasyarat kelulusan tugas akhir. 2. Untuk mempelajari tentang budaya Dayak Kenyah 3. Untuk merancang tokoh untuk film “Journey to Alau Malau” Manfaat bagi orang yang membaca skripsi ini: 1. Sebagai data yang dapat digunakan dan dipelajari 2. Mempelajari tentang proses pembuatan tokoh Manfaat bagi universitas: 1. Sebagai data arsip universitas 2. Sebagai bukti tugas akhir mahasiswa. 4 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(22) BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.. Animasi. Kata animate berasal dari bahasa latin animare, yang berarti “untuk membuat hidup atau dihembuskan nafas.” Animasi sendiri merupakan karya dalam membuat benda-benda mati seperti sebuah gambar di atas kertas, clay, boneka, ataupun sebuah bentuk dalam program komputer menjadi sebuah benda bergerak yang terlihat memiliki kehidupan. Semua fantasi dapat menjadi kenyataan dengan adanya animasi. Ada beberapa jenis animasi, diantaranya yaitu animasi tradisional, dimana animator menggambar gerakan runtun di atas kertas yang kemudian difoto dan digerakan dalam lembaran film. Untuk pembuatan animasi tradisional, dibutuhkan waktu yang lama dan memakan kurang lebih 1,400 kertas dalam beberapa menit. (Wright, 2005, hlm. 1-9). 2.1.1. Limited Animation Menurut Sanders (2017), Limited animation merupakan sebuah teknik animasi untuk mengurangi gerakan dalam animasi terutama animasi tradisional. Dalam animasi tradisional, dibutuhkan 12 hingga 24 gerakan dalam 1 detik. Untuk mengurangi biaya dan waktu produksi dalam pembuatan animasi, para animator menggunakan teknik limited animation. Teknik tersebut seperti menggunakan ulang beberapa bagian animasi pada adegan lainnya, menggunakan adegan yang dapat diulang berkali-kali seperti walk cycle, dan hanya menggerakan mulut pada saat sebuah tokoh berbicara. Beberapa film animasi, terutama serial animasi pada. 5 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(23) televisi, menggunakan stock footage. Stock footage adalah beberapa urutan animasi yang digunakan berulang-ulang pada tiap seri episode, biasanya untuk adegan-adegan pertarungan yang penting dalam film. Beberapa kali, footage akan digunakan namun dalam keadaan dibalik atau mirror image. Beberapa perubahan juga dilakukan seperti menambahkan efek zoom atau pan, namun divariasikan sehingga menjadi terlihat unik. Dengan perkembangan teknologi, limited animation semakin lebih mudah diaplikasikan. Contohnya adalah program animasi bernama Flash yang membuat limited animation menjadi mudah dan umum. Penggunaan Flash memungkinkan animator untuk menggunakan ulang urutan animasi dan bentuk tokoh tanpa menggambar ulang pada kertas berkali-kali. Program lainnya seperti Toon Boom Studio dan DigiCel Flipbook mengembangkan proses ini dan memudahkan untuk mendaur ulang footage dan gambar tokoh. (Sanders, 2017). 2.2.. Tokoh. Menurut Lajos Egri (1960) tokoh merupakan suatu hal fundamental dalam kisah penceritaan, pengarang harus dapat menyampaikan tokoh tersebut dengan baik. Dengan demikian, pengarang harus mengetahui tentang tokoh tersebut lalu kemudian dapat melanjutkan ke bagian yang lain. Pengarang harus mengetahui apa yang membuat tokoh tersebut memiliki karakteristik “manusia”. Sehingga pengarang dapat merasakan persepsi tokoh yang dibuat dan keunikan mereka. (hlm. 32). 6 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(24) 2.3.. Perancangan Tokoh. Menurut Haitao (2012) perancangan tokoh merupakan proses untuk merancang tokoh manusia atau menyerupai manusia dengan keunikan masing-masing dan dapat diaplikasikan ke dalam berbagai media. Perancangan tokoh secara mendasar terdiri dari perancangan tokoh berserta dengan atribut-atribut yang dimiliki, namun perancangan yang baik harus dapat menjelaskan lebih detail tentang tokoh tersebut. Draft perancangan tokoh mencakup dengan tampak depan, samping, dan ¾ dari tokoh. Selain itu mencakup juga dengan perancangan pose dengan gerakan-gerakan dasar seperti berlari, dan lain-lain. Tokoh yang dibuat akan di aplikasikan ke dalam media seperti game, maskot, ilustrasi buku, dan animasi (hlm. 12). 2.3.1. Pembagian Kategori Visual Tokoh Menurut Haitao (2012) tokoh terbagi-bagi dalam beberapa kategori sesuai dengan arketipe dan karakteristik yang dipegang dalam tokoh tersebut. Ia menyebutkan, walaupun tidak semua perancangan tokoh memegang kategori yang ia buat namun klasifikasi ini merupakan hal umum yang sering ia temui dalam pembuatan tokoh (hlm. 18). Kategori tersebut antara lain:. 7 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(25) 1. Logo Style. Gambar 2.1. Hello Kitty (https://vignette.wikia.nocookie.net/hellokitty/images/5/52/Sanrio_Characters_Hello_Kitty_Image 026.png/revision/latest?cb=20170518182133). Tokoh dengan perancangan yang simpel, kebanyakan tokoh dalam style ini memiliki perancangan yang ‘lucu’ dengan mata besar dan hidung yang kecil. Bahkan terkadang tidak memiliki hidung. 2. Simple Style. Gambar 2.2. Johnny test (http://content.johnnytestanddukey.com/uploads/2016/03/johnnytest-og.jpg). Sedikit lebih kompleks dari Logo Style, namun masih memiliki pendekatan yang simpel. Banyak digunakan dalam flash animation.. 8 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(26) 3. Ordinary Style. Gambar 2.3. Steven Universe (https://vignette.wikia.nocookie.net/stevenuniverse/images/1/15/Season_1B.jpg/revision/latest/scale-to-widthdown/2000?cb=20160803044620). Kategori yang paling umum digunakan dalam animasi. Memiliki bermacammacam ekspresi muka dengan gerakan yang di-exaggerate. 4. Complicated Style. Gambar 2.4. Beauty and the Beast (https://media.glamour.com/photos/569580b58fa134644ec261e4/master/pass/entertainment-201501-beauty-and-the-beast-disney-main.jpg). Memiliki proporsi yang sedikit realistis, namun masih memiliki unsur exaggeration dan unsur komik di dalamnya. Biasanya digunakan oleh Disney. 9 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(27) Movies atau studio animasi besar lainnya karena lebih menarik banyak audiens dibandingkan dengan tokoh animasi biasa. 5. Realistic Style. Gambar 2.5. The Polar Express (https://i.pinimg.com/originals/b3/2f/05/b32f054f802a4438c18005629e67757b.jpg). Tokoh mendekati realita dan biasanya ditemukan dalam pembuatan film blockbusters dan game dengan kualitas yang tinggi. Tipe ini digunakan untuk menggugah audiens dengan grafik yang mendekati realita. Sedangkan menurut Blair (1947), tokoh dibagi berdasarkan peran yang mereka miliki. Blair membagi tokoh menjadi empat, yaitu “Screwball” type”, goofy characters, heavy pugnacious character, dan “the cute character”. Untuk tokoh yang lucu, biasanya menggunakan basis dasar seperti bayi, baik dari proporsi maupun sifat. Tokoh ini memiliki kepala yang besar jika dibandingkan dengan badannya, dengan mata yang besar dan dahi yang tinggi. Tangan dan kaki juga kecil, tetapi tidak kurus dan terkesan sedikit ‘gemuk’.. 10 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(28) 2.3.2. Penerapan Bentuk Dasar dalam Perancangan Tokoh Sebelum menggambar anatomi tokoh yang lebih kompleks, pertama-tama konstruksikan tokoh dengan bentuk-bentuk dasar terlebih dahulu. Bentuk-bentuk dasar tersebut terdiri dari lingkaran, persegi, dan segitiga. Selain memiliki arti-arti tertentu, bentuk dasar ini juga berguna dalam dasar pembuatan animasi. Bentuk dasar digunakan sebagai sketsa yang membantu melihat squash and strecth. kemudian setelah membuat animasi, animator dapat menambahkan detail. Hal ini juga berlaku pada animasi 3D. (Bancroft, 2006) Walaupun tokoh dalam animasi biasanya terdiri dari kombinasi beberapa bentuk, ada bentuk dasar yang paling terlihat dan dominan dalam sebuah tokoh. Bentuk dan artinya tersebut antara lain (Bancroft, 2006): 1. Lingkaran paling banyak digunakan dalam tokoh yang lucu, baik, dan lembut. Tokoh yang lebih banyak menggunakan lingkaran adalah tokoh wanita, tokoh bayi, hewan yang lembut. (hlm. 33). Gambar 2.6. Contoh tokoh dengan bentuk lingkaran (Creating Character with Personality/Tom Bancroft/2006). 11 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(29) 2. Persegi biasanya digunakan dalam tokoh yang kuat, berat, atau tokoh yang dapat diandalkan. Tokoh superhero biasanya memilki banyak bentuk persegi. (hlm. 34). Gambar 2.7. Contoh tokoh dengan bentuk persegi (Creating Character with Personality/Tom Bancroft/2006). 3. Segitiga mewakili bentuk yang terlihat kejam, sinis, mencurigakan, dan biasanya banyak dipakai dalam tokoh musuh atau orang jahat. (hlm. 35). Gambar 2.8. Contoh tokoh dengan bentuk segitiga (Creating Character with Personality/Tom Bancroft/2006). 12 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(30) 2.3.3. Proporsi Manusia dan Variasi Bentuk dan Lineup   Tokoh Animasi Setiap proses selalu membutuhkan basis dasar yang kuat, termasuk animasi. Sebelum membuat sebuah tokoh yang dapat digerakan, mengenal anatomi dasar terlebih dahulu akan memudahkan proses pengembangan tokoh terutama tokoh manusia. Menurut Loomis (2011) proporsi tinggi badan ideal manusia (pria dewasa) adalah 8 kepala dengan kira-kira tinggi 6 kaki, dengan tinggi wanita 5,8 kaki dengan hak tinggi (hlm. 26). Loomis menggunakan perhitungan berdasarkan besar kepala, dengan demikian tidak semua manusia memiliki proporsi yang sama. Proporsi dan tinggi tokoh manusia dapat berubah-ubah sesuai dengan ukuran kepala yang digunakan (hlm. 28). Untuk proporsi anak-anak, mulai dihitung dari tinggi laki-laki dewasa yang ideal. Umumnya anak umur 5 tahun mulai mencapai tinggi seimbang dengan pinggang laki-laki dewasa. (hlm. 29).. Gambar 2.9. Proporsi ideal laki-laki (Figure Drawing for All it’s Worth/Andrew Loomis/2011). Tokoh dalam animasi membutuhkan proporsi badan yang sedikit berbeda dengan manusia realistis walaupun masih berdasarkan anatomi manusia nyata (termasuk. 13 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(31) tokoh anthromorphic). Hal ini dikarenakan animasi tokoh sangat membutuhkan gerak yang leluasa untuk menimbulkan exaggeration. Pembentukan proporsi dalam tokoh animasi tergantung dari kebutuhan baik visual dan pada bagian tertentu yang membutuhkan gerakan lebih. Menurut Bancroft (2006) penambahan varietas ukuran dan bentuk dalam tokoh dapat membuat perancangan tokoh yang kuat. Selain itu, juga menciptakan visual yang dinamis dalam tokoh.. Gambar 2.10. Perbedaan varietas bentuk dalam anatomi tokoh (Creating Character with Personality/Tom Bancroft/2006). Bancroft (2006) menjelaskan varietas dalam pembagian tubuh dalam tokoh dibagi menjadi 3 bagian yaitu kepala, torso, dan kaki. Menurutnya, dalam anatomi manusia normal rasio dan perbandingan antara kepala, torso dan kaki dapat diandaikan seperti boneka salju dengan kepala berukuran kecil, torso berukuran medium, dan kaki berukuran besar/panjang (hlm. 36). Namun rasio sedemikian rupa akan membuat tokoh animasi terlihat membosankan dan tidak menarik. Dengan membuat rasio yang beragam, seperti membesarkan rasio kepala, akan membuat tokoh terlihat dinamis. Tetapi keragaman rasio harus memperhatikan keseimbangan agar tidak terlihat berlebihan (hlm. 37). 14 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(32) Bancroft (2006) menjelaskan selain menentukan proporsi tokoh, perancang tokoh harus membuat line up tokoh. Line up adalah garis-garis horizontal yang menentukan poin kunci utama dari appeal tokoh (bawah kaki, atas kepala, dagu, mata, hidung, pinggang, bahu, lutut). Line up berfungsi untuk mendapatkan bentuk tokoh jika dilihat dari sudut yang berbeda. Tahap ini merupakan cara yang efektif dalam mempertahankan konsistensi bentuk tokoh jika dilihat dari berbeda sudut. Sudut yang biasa digunakan adalah tampak depan, tampak ¾, dan tampak samping (hlm. 55-56) 2.4. Teori 3 Dimensional dalam Tokoh Dalam buku “The Art of Dramatic Writing”, Egri (1960) menjelaskan bahwa setiap objek memiliki 3 dimensi: tinggi, lebar, dan ketebalan. Sementara manusia memiliki tambahan 3 dimensi dalam karateristik mereka, yaitu: fisiologi, sosiologi, dan psikologi. 3 dimensi ini sangat penting dalam pembuatan tokoh apapun, karena pengarang telah memahami fase kemanusiaan tokoh hingga sumber motivasi tokoh. Kurangnya 3 unsur dimensional ini akan mengakibatkan pembuatan tokoh yang membosankan dan tidak dapat meyakinkan pembaca. Sedangkan karya-karya yang akan tetap hidup mempunyai tokoh yang memiliki 3 dimensional yang kuat. (hlm. 33) Pembuatan 3 dimensional tokoh dimulai secara berurutan dari dimensi pertama yaitu bentuk fisiologi, atau bentuk fisik tokoh. Bentuk fisik tokoh dipengaruhi oleh gaya hidup dan dapat mempengaruhi perkembangan mental tokoh tersebut, di mana terbentuk dimensi kedua yaitu sosiologi. Sosiologi membahas bahwa. 15 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(33) apakah tokoh tersebut superior atau inferior dalam lingkungannya tersebut. Penyebab dari sosiologi tersebut akan dibahas lebih mendalam di dimensi ketiga yaitu psikologi. Psikologi merupakan hasil gabungan dari fisiologi dan sosiologi, dan menghasilkan ambisi beserta motivasi dari kehidupan. (hlm 34-35) Outline dari tahapan 3 dimensional tokoh terbagi menjadi berikut (hlm. 36): Tabel 2.1. Tabel 3 dimensonal tokoh menurut Lajos egri (hlm. 36). Fisiologi Jenis Kelamin. Sosiologi Kelas ekonomi. Psikologi Kehidupan seksual, standar moral. Usia. Pekerjaan. Ambisi. Tinggi dan berat badan. Pendidikan. Frustasi. Warna rambut, kulit, mata. Agama. Temperamen : pesimis, optimis. Postur tubuh. Ras dan nasionalitas. Attitude towards life. Penampilan (apakah menarik, atau tidak rapi, dsb.) Cacat Tubuh. Tempat dalam komunitas. Complexes. Politicall Affiliations. Keturunan. Hobi. Extrovert, Introvert, Ambivert Kekuatan Kualitas. 2.5. Teori Arketipe Vogler (2007) menggunakan konsep teori psikologi Carl G Jung dalam menjelaskan arketipe tokoh dalam cerita. Arketipe atau archetypes sendiri merupakan istilah yang digunakan oleh Carl G Jung untuk mendeskripsikan jenis16 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(34) jenis karateristik personaliti yang telah diwariskan oleh manusia dari jaman dahulu. Karateristik ini memiliki hubungan dengan alam bawah sadar manusia, dan kisah-kisah seperti dongeng berasal dari kumpulan pengalaman yang personal dari manusia. Dengan demikian, tipe-tipe tokoh yang sama terus berulang di kisah-kisah tersebut. Arketipe tokoh ini tetap konstan sepanjang waktu dan budaya yang berbeda-beda, sehingga memahami arketipe merupakan elemen yang terkuat dalam penceritaan. (hlm. 23) Konsep arketipe sendiri adalah sebagai alat untuk memahami tujuan dan fungsi tokoh dalam sebuah cerita. Dengan memahami fungsi arketipe dalam sebuah tokoh, maka akan diketahui apabila tokoh tersebut memiliki tujuan dan berusaha semaksimal mungkin dalam cerita tersebut. Fungsi tokoh sendiri juga tidak selalu konstan dalam perkembangan cerita. Tokoh dapat mengalami perpindahan peran arketipe dengan fleksibel jika memang dibutuhkan. (hlm. 24) 2.5.1. Hero Hero merupakan tokoh yang siap untuk mengorbankan diri sendiri demi menyelamatkan orang lain. Arketipe Hero juga merepresentasikan pencarian jati diri dan proses dalam menjadi manusia yang utuh. Kunci utama dalam penggambaran sosok Hero adalah tokoh di mana penonton dapat merasakan relasi yang kuat terhadap tokoh tersebut, sehingga penting tokoh Hero juga memiliki kelemahan karena manusia tidak pernah sempurna. Dengan demikian, tokoh Hero juga harus memiliki kualitas, emosi, dan motivasi yang setiap manusia pernah rasakan : rasa marah, kompetisi, ingin balas dendam, atau keterpurukan. (hlm. 2930) 17 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(35) Ada dua jenis Hero : 1) tipe Hero yang willing, aktif, dan sangat berkontribusi dalam petualangan, tidak pernah ragu dan memiliki kepercayaan diri yang kuat, atau 2) tipe Hero yang unwilling, penuh keraguan, pasif, dan membutuhkan motivasi ataupun tekanan dari luar untuk melakukan petualangan. (hlm. 34) 2.5.2. Mentor : Wise Old Man or Woman Tokoh Mentor merupakan tokoh yang positif dan mendukung serta membantu Hero dalam perjalanannya. Dalam psikologi manusia, Mentor merupakan tokoh yang merepresentasikan “Tuhan” di dalam diri manusia. Tokoh yang memiliki kebijakan, kekuatan, status, dan lebih baik dari diri manusia yang mengalaminya. Arketipe Mentor biasanya mendekati dengan orang tua, seperti ibu peri dari cerita cinderella. Dalam kisah tersebut, ibu peri dapat diinterpretasikan sebagai roh ibu tokoh utama yang telah meninggal. (hlm. 40) 2.5.3. Threshold Guardian Thershold Guardian merupakan sebuah tokoh yang akan menghalangi perjalanan dari Hero. Thershold Guardian dapat terlihat menantang pada awalnya, namun thershold guardian dapat berfungsi sebagai Ally jika dimengerti (hlm. 49). Secara psikologis, Threshold Guardian dapat berperan sebagai tantangan bagi Hero. Threshold Guardian biasanya akan mencoba melihat seberapa besar kekuatan Hero. Mereka akan mencoba apakah Hero tersebut akan siap untuk berubah atau tidak (hlm. 51).. 18 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(36) 2.5.4. Ally Seorang Hero biasanya akan bertualang dengan Ally yang dapat berfungsi ganda, seperti teman menemani, teman dalam adu kekuatan, atau juga sebagai komedi. Ally sangat berguna karena mereka dapat menemani sebagai teman berbicara, dan mereka juga dapat keluar untuk mengantar surat atau mengerjakan hal sampingan. Dalam kisah penceritaan Hero, mereka selalu ditemani dengan sosok bersahabat yang akan bertarung di sisi mereka, memberikan saran, dan terkadang menantang mereka (hlm. 71). Ally bisa diwujudkan hanya satu atau banyak (hlm 72). Ally juga dapat berwujud manusia ataupun hewan sebagai Ally (hlm 74). 2.5.5. Shapeshifter Shapeshifter merupakan tokoh yang memiliki karateristik yang tidak stabil dan dapat berubah sesuai dengan kemauannya. Walaupun biasanya arketipe ini menjadi partisipan dalam romantisme dengan Hero, namun arketipe ini dapat dikaitkan juga dengan perubahan penampilan atau sifat sebuah tokoh. Shapeshifter merupakan salah satu arketipe yang fleksibel dan dapat berubah sesuai dengan kebutuhan dalam storytelling (hlm. 59-63). 2.6. Teori Warna Menurut Adams dan lain-lain (2006), teori warna merupakan sebuah kumpulan prinsip panduan yang dapat digunakan untuk menciptakan kombinasi warna yang harmonis. Salah satu panduan dalam menciptakan kombinasi warna adalah penggunaan roda warna. Roda warna dapat dibentuk hanya dari beberapa warna. 19 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(37) saja, maupun terbuat dari banyak kombinasi warna. Warna terdiri dari 4 jenis yaitu warna primer, sekunder, dan tersier. (hlm. 16-20). Gambar 2.11. Warna Primer (Color Design Workbook/Adams et al./2006). 1. Warna Primer merupakan tiga warna utama yang bukan berasal dari kombinasi warna lainnya. Warna primer terdiri dari warna merah, kuning, dan biru.. Gambar 2.12. Warna Sekunder (Color Design Workbook/Adams et al./2006). 2. Warna Sekunder merupakan warna yang dihasilkan dari kombinasi 2 warna primer. Warna sekunder antara lain ungu, hijau, dan oranye.. Gambar 2.13. Warna Tersier (Color Design Workbook/Adams et al./2006). 3. Warna tersier merupakan warna gabungan dari warna sekunder dan primer.. 20 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(38) Hue merupakan istilah umum yang menunjukan warna yang terdapat dalam roda warna. Saturasi menunjukan kecerahan, atau kekuatan warna. Warna putih, abuabu, dan hitam merupakan warna netral yang akan mempengaruhi saturasi warna. Jika sebuah warna memiliki saturasi yang murni, maka warna tersebut akan terlihat cerah. Semakin rendah saturasi warna maka akan terlihat lebih keruh.. Gambar 2.14. Saturasi Warna (Color Design Workbook/Adams et al./2006). 2.6.1. Teori Psikologi Warna Mata dan otak manusia membagi warna secara fisik, mental, dan emosional. Dengan demikian, manusia dapat mendeskripsikan arti-arti warna sesuai dengan pengalaman tersebut. Namun, warna tersendiri merupakan pengalaman yang bersifat individual, sehingga pendapat setiap orang mengenai arti warna tertentu bisa saja berbeda-beda. Tabel warna berikut merupakan pembagian arti warna secara positif dan negatif, serta asosiasi warna dengan material tertentu. Tabel ini. 21 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(39) dibagi menjadi 3, yaitu table warna primer, sekunder, dan warna netral. Warna tersier akan dimasukan dalam kategori warna primer.(Adams, et al, 2006, hlm. 24) Tabel 2.2. Tabel Indeks Warna Primer (hlm. 26-27) Warna Merah. Asosiasi dengan Api Darah. Arti Positif. Arti Negatif. Gairah Cinta Energi Semangat Antusiasme Kekuatan Panas. Kemarahan Pertarungan Revolusi Kekejaman Imoralitas Agresi. Kuning. Cahaya Matahari. Intelektual Kebijaksanaan Optimis Cahaya Suka cita Idealisme. Kecemburuan Pengecut Penipuan Peringatan. Biru. Laut. Pengetahuan Kedamaian Maskulin Kesetiaan Keadilan Kecerdasan Kesejukan Perenungan. Depresi Kedinginan Apati Tindak sendiri. Langit. Warna yang termasuk. Tabel 2.3. Tabel Indeks Warna Sekunder (hlm. 28-29) Warna Hijau. Asosiasi dengan Tanaman Pemandangan alam. Arti Positif Kesuburan Uang Pertumbuhan Penyembuhan Kesuksesan Alam Harmoni Kejujuran Masa muda. Arti Negatif. Warna yang termasuk. Iri hati Keserakahan Racun Korosi Tidak berpengalaman Mual. 22 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(40) Ungu. Royalti Spirital. Oranye. Musim gugur Sitrus. Kebijaksanaan Imaginasi Ranking Inspirasi Harta Kemewahan Kecanggihan Kaum Bangsawan Kreativitas Keunikan Semangat Sosial Stimulasi Kesehatan Aktivitas Trendi. Mubazir Berlebihan Kegilaan Kekejaman. Keributan Kekasaran Kecendrungan. Tabel 2.4. Tabel Indeks Warna Netral (hlm. 30-31) Warna Hitam. Asosiasi dengan Malam Kematian. Putih. Cahaya Kemurnian. Abu-abu. Netral. Arti Positif. Arti Negatif. Kekuatan Kekuasaan Berat Elegan Formalitas Keseriusan Misteri Kesendirian. Iri hati Keserakahan Racun Korosi Tidak berpengalaman Mual. Kesempurnaan Pernikahan Kebersihan Kebajikan Tak berdosa Kelembutan Kesederhanaan Kebenaran Keseimbangan Keamanan Keandalan Kedewasaan Intelektual Kebijaksanaan Klasik. Isolasi Kerapuhan. Warna yang termasuk. Kurang komitmen Tidak pasti Usia tua Kebosanan Cuaca buruk Kesedihan. 23 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(41) 2.7. Suku Dayak Kenyah, Agama dan Kepercayaan Mereka Menurut Billa (2006), suku Dayak Kenyah pada awalnya berasal dari sebuah suku yang tinggal di dataran tinggi di hulu sungai Kayan. Tempat ini juga dikenal dengan sebutan Apo Daa’ yang berarti dataran tinggi tempat bagi orang Dayak untuk berkumpul. Dengan bertambahnya anggota keluarga dan perselisihan, sebagian dari mereka mulai berpencar. Mereka berpencar ke daerah-daerah yang lebih baik seperti daerah dekat dengan pusat pemerintahan. Daerah tersebut antara lain hilir sungai Kayan, ke hilir sungai Bahau, Pujungan, dan sungai Mahakam. Sebagian dari mereka juga berpindah ke Sarawak, Malaysia. Mereka sebagian besar menetap di sungai Malinau pada tahun 1960. (hlm. 17) Dalam statistik yang telah dikumpulkan oleh Sedyawati (1995), dari Kampung Long Merah, mayoritas dari penduduk Suku Dayak Kenyah menganut agama Kristen/Protestan dengan presentase hingga 61,4% ; sisanya menganut agama lain seperi Katholik atau Islam (hlm. 58). Menurut Billa (2006) Sebelum menganut agama Kristen, masyarakat Dayak Kenyah mempercayai dewa pencipta dunia atau alam yang disebut Bungan Malan Peselung Luan karena mereka mempunyai kedekatan dengan alam. Mereka mempercayai bahwa dewa Bungan Malan Peselung Luan menyampaikan pesannya melalui binatang- binatang seperti isit (Arachnothera Longirostra), pelaki (Haliastur Indus), ukeng (Sasia Abnormis), uca’ ano (Muntiacus Muntjao), dan suwi payau (Meiglyptes tukki). Masyarakat Suku Dayak dapat membaca isyarat-isyarat yang disampaikan oleh hewan berikut ini. Mereka dapat membaca apakah ada sebuah pesan buruk atau pesan yang baik (hlm. 49). Sedyawati (1995) menambahkan bahwa Burung 24 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(42) Enggang dianggap suci oleh masyarakat Dayak Kenyah, dan kemudian menjadi simbol ikonik bagi masyarakat Dayak Kenyah (hlm. 55). Sedyawati (1995) menambahkan bahwa masyarakat Dayak Kenyah menyebut roh-roh hutan tersebut dengan nama Bali atau biasa disebut masyarakat Indonesia sebagai hantu. Mereka memuja Bungan Malan lewat Bali-Bali tersebut karena Bungan Malan bersifat memelihara dan memberikan kemakmuran (hlm. 50-54). Di antara Bali-Bali tersebut, ada Bali Sungei yang mendiami perairan (hlm. 55). Sedyawati (1995) menyebutkan bahwa Bungan Malan Peselung Luan bertempat tinggal di alam gaib yang ditandai dengan sungai yang biasanya dilewati roh-roh yang telah meninggal (hlm. 51). 2.8. Ornamen Suku Dayak Kenyah Billa (2006) menyatakan bahwa dibandingkan suku-suku Dayak lainnya, Dayak Kenyah mempunyai ornamen yang khas dan kaya warna. Ornamen binatang merupakan karya ukir yang paling menonjol dan mempunyai nilai tinggi. Motif lainnya antara lain motif naga, harimau, anjing, dan terutama Burung Enggang yang dilengkapi dengan motif bunga dan daun (hlm. 36). Sunaryo (2011) mengatakan bahwa Dayak Kenyah juga memiliki motif sosok manusia (hlm. 47). Billa (2006) menyebutkan motif-motif ini kemudian diaplikasikan pada ukiranukiran baik pada arsitektur rumah maupun dalam pakaian dan kerajinan-kerajinan lainnya (hlm. 36). Masyarakat Dayak Kenyah memiliki aturan untuk simbolsimbol yang digunakan bagi kaum bangsawan (paren) dan kaum biasa (pinyin), di mana kaum biasa menggunakan motif tumbuhan. (hlm. 55). 25 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(43) 1. Ornamen Burung Enggang Sunaryo (2011) mengatakan bahwa motif Burung Enggang merupakan simbol kesetiaan dan keberanian karena dari cara burung tersebut melindungi sarangnya (hlm. 72). Mayasari (2014) menyebutkan dalam artikelnya bahwa konotasi dari motif Burung Enggang adalah sebagai pemersatu bagi seluruh suku-suku Dayak di Kalimantan. Motif ini juga didasari dari mitos bahwa Burung Enggang merupakan hewan yang dianggap suci (hlm. 804-805). 2. Ornamen Manusia Menurut Sunaryo (2011), Motif ini biasanya digunakan sebagai penggambaran nenek moyang atau simbol kekuatan gaib untuk menolak bala (hlm. 39). Ada ukiran sosok manusia utuh dan juga ada motif kala atau kepala manusia yang biasanya digunakan dalam topeng hudoq (hlm. 47).. Gambar 2.15. Ornamen manusia pada tameng (Ornamen Nusantara Kajian Khusus tentang Ornamen Nusantara (3rd ed.)/ Aryo Sunaryo/2011). 3. Ornamen Naga Sunaryo (2011) menyebutkan bahwa motif naga merupakan binatang yang menjadi lambang dunia bawah (hlm. 103). Kemudian menurut Sunaryo, 26 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(44) masyarakat Kalimantan mendapatkan pengaruh motif naga ini dari masyarakat Jawa (hlm. 104). Dalam buku Pagan Tribes of Borneo, menuliskan studi bahwa motif naga ini didasari oleh kepercayaan akan Bali Sungei, yang berasal dari pengaruh luar. (Hose et al.,1912, hlm. 242). Gambar 2.16. Ornamen naga pada caping (Ornamen Nusantara Kajian Khusus tentang Ornamen Nusantara (3rd ed.)/Aryo Sunaryo/2011). 4. Ornamen Tumbuhan Berdasarkan artikel oleh Mayasari (2014), garis lengkung dan lingkaran merupakan bentuk dasar yang sering dijumpai dalam ukiran Suku Dayak. Garis lengkung dan lingkaran tersebut mengambil motif dasar tumbuhan yang distilasi sedemikian rupa hingga tidak menyerupai bentuk aslinya. Bentuk motif yang menyambung ini melambangkan simbol keturunan dan persaudaran Dayak Kenyah yang tidak pernah terpisahkan (hlm. 806).. 27 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(45) Gambar 2.17. Ornamen tumbuhan (Kajian Semiotik Ornamen Interior Pada Lamin Dayak Kenyah/Maria Mayasari/2014). 5. Ornamen dalam Tato Dewi (2000) mengatakan bahwa tato pada jaman dahulu digunakan sebagai penanda usia akil balig bagi wanita dan sebagai penanda status. Bagian yang biasanya akan diberi tato adalah seluruh permukaan punggung tangan, dengan seluruh jari, punggung kaki, hingga ke betis. Motif-motif tato yang sering digunakan antara lain motif tato anjing tanpa ekor, dan motif garis horizontal/vertikal (hlm. 35). Penggunaan tato hewan hanya boleh digunakan bagi kaum bangsawan, sedangkan untuk kaum budak hanya boleh menggunakan motif garis (hlm. 36). Hose dan penulis lainnya (1912) menambahkan ada motif hewan lain yang digunakan dalam motif tato yaitu motif kepiting atau disebut juga dengan toyu (hlm. 261).. Gambar 2.18. Ornamen anjing pada tato (Pagan Tribes of Borneo/Charles Hose/1912). 28 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(46) Gambar 2.19. Ornamen kepiting pada tato (Pagan Tribes of Borneo/Charles Hose/1912). 2.9. Baju Tradisional dan Perhiasan Suku Dayak Kenyah Billa (2006) menjabarkan baju tradisional yang dipakai oleh wanita suku Dayak Kenyah dinamakan taa. Untuk baju tradisional laki-laki dinamakan besunung (hlm. 37). Warna – warna yang umum digunakan baik dalam pakaian maupun perhiasan biasa didominasi oleh warna-warna seperti hitam, merah, kuning, biru, hijau dan putih. Dengan warna oranye sebagai sekunder. Menurut Hose dan lainnya (1912) sejarah mengapa warma – warna tersebut menjadi ciri khas karena merupakan pigmen warna yang dapat diambil dari bahan-bahan alamiah. Seperti warna merah, putih, dan hitam didapatkan dari iron oxide, soot, dan lime. Kemudian warna-warna seperti kuning dan indigo didapatkan melalui perdagangan (hlm 231-232).. 29 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(47) Gambar 2.20. taa dan besunung (http://4.bp.blogspot.com/pakaian-adat-kalimantan-timur.jpg.). Dewi (2000) mengatakan, pada umumnya masyarakat Dayak Kenyah terutama perempuan memakai perhiasaan sebagai pelengkap dalam menggunakan taa. Bagi masyarakat Dayak Kenyah, perhiasan terutama manik-manik merupakan sebagai penanda perbedaan dalam strata di kehidupan sosial mereka (hlm. 40). Perhiasan yang masyarakat Dayak Kenyah gunakan antara lain perhiasan leher, perhiasan tangan dan kaki(gelang), serta perhiasan anting. 1. Perhiasan Leher Dewi (2000) mengatakan perhiasan leher yang digunakan oleh masyarakat Dayak Kenyah umumnya disebut Uleng Sabu. Untaian manik terdiri dari beberapa warna yang kemudian disusun untuk membentuk kombinasi yang menarik. Pada ujung kalung biasanya diberi bahan lain seperti liontin. Setiap bentuk dan warna manikmanik memiliki nama yang berbeda, antara lain Inuuq ra (bulat merah), Lavang Pagang (bulat kuning), Itam medah (biru tua), dan kelam (hitam) (hlm. 23). Ada beberapa jenis perhiasan leher yang menutupi hingga dada, menurut Dewi (2000) ini merupakan pengaruh dari agama Hindu yang disebut upawita.. 30 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(48) Gambar 2.21. Perhiasan leher (Perhiasan dan Kecantikan Wanita Dayak Kenyah dan Bahau/Prima Dewi/2000). 2. Perhiasan Tangan dan Kaki Menurut Dewi (2000) perhiasan tangan biasanya berupa gelang dan cincin. Gelang manik biasanya digunakan pada kedua belah tangan yang dulu dipercayai sebagai penolak bala. Gelang tersebut disebut Lekuq Ataq dan biasanya digunakan semenjak bayi. Kaum pria menggunakan gelang pada betis yang terbuat dari anyaman rumput dan disebut tebekat (hlm. 31).. Gambar 2.22. Perhiasan kaki (Perhiasan dan Kecantikan Wanita Dayak Kenyah dan Bahau/Prima Dewi/2000). 3. Perhiasan Telinga Walaupun praktek ini sudah tidak dilakukan lagi, Masyarakat Dayak Kenyah dahulu selalu memanjangkan daun telinga dengan menggunakan anting-anting yang berat. Dewi (2000) mengatakan masyarakat Dayak Kenyah menyebut 31 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(49) anting-anting ini sebagai Belaong. Anting-anting ini berbentuk lingkaran (gelang) dan terbuat dari logam. Mereka memanjangkan telinga agar terlihat berbeda dari hewan-hewan lainnya dan dipercaya juga untuk membuat wajah menjadi awet muda karena beban pada daun telinga menyebabkan wajah menjadi kencang (hlm. 32). Gambar 2.23. Perhiasan telinga (Perhiasan dan Kecantikan Wanita Dayak Kenyah dan Bahau/Prima Dewi/2000). 4. Perhiasan Kepala Menurut Dewi (2000) perhiasan kepala merupakan perhiasan yang biasa digunakan sehari-hari oleh masyarakat suku Dayak. Perhiasan kepala Suku Dayak Kenyah biasanya dibuat dari bahan kain. Beberapa Suku Dayak Kenyah juga memiliki perhiasan kepala yang dibuat dari rotan yang disebut tanggup. Untuk perhiasan upacara, biasanya dihiasi dengan manik-manik.. 32 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(50) BAB III METODOLOGI 3.1.. Gambaran Umum. film Journey to Alau Malau yang menceritakan perjalanan Sadin dengan mengambil referensi dari suku Dayak Kenyah. Fokus dari film ini adalah kepercayaan dari suku Dayak Kenyah dan aturan serta mitos yang mengelilingi kepercayaan tersebut, dan dibentuk dalam sebuah cerita fabel fantasi bergenre adventure. Target penonton bagi film ini adalah general viewing, di mana anakanak dan orang dewasa dapat menikmati film tersebut. Dengan demikian, teknik limited animation digunakan untuk menampilkan kesan buku fairytale dan penceritaan langsung agar mudah dimengerti. 3.1.1. Sinopsis Sadin dilanda kesedihan ketika ayah dan burung kecil yang ia cintai jatuh sakit secara tiba-tiba oleh penyakit misterius. Anehnya, burung kecil milik Sadin juga mengalami sakit misterius yang sama dengan ayahnya. Sadin membawa ayahnya ke puskesmas, namun para dokter juga tidak memahami apa sakit sang ayah. Sadin kemudian mendapat bantuan dari seekor burung Enggang yang dapat berbicara. Mereka memulai perjalanan hingga ke Alau Malau, di mana berdiam seorang Dewi yang menyebabkan penyakit misterius ayah Sadin. Selama perjalanan, Sadin mempelajari tentang kesalahan ayahnya dan dirinya.. 33 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(51) Ketika memberikan burung kecil bernama Bali kepada sang dewi, Bungan Malan. Bali tidak dapat diselamatkan. Bungan Malan yang murka menyerang Sadin, yang dilindungi oleh Burung Enggang. Sadin menyadari bahwa dirinyalah yang dapat menghentikan kemarahan sang Dewi, Sadin kemudian pergi meminta maaf kepada Dewi. Dewi Bungan Malan pun memaafkannya dan Sadin pun kembali ke rumahnya dan bertemu dengan ayahnya yang telah sembuh dari penyakit misteriusnya. 3.1.2. Posisi Penulis Posisi penulis dalam laporan ini adalah sebagai perancang tokoh bagi karya Journey to Alau Malau. Penulis berperan juga sebagai direktur film. 3.2. Tahapan Kerja Pada awal tahapan kerja, penulis menentukan topik terlebih dahulu. Kemudian penulis mulai menentukan tokoh yang akan dirancang, dan kemudian penulis memutuskan untuk merancang 3 tokoh yaitu Sadin, Burung Enggang, dan Bungan Malan. Penulis kemudian melakukan riset literatur dari berbagai sumber buku. Penulis kemudian menentukan acuan, yaitu berasal dari film-film yang telah dirilis dan dari berbagai sumber gambar, dimulai dari literatur maupun web search. Kemudian penulis melakukan sketsa dan diakhiri dengan eksperimen tokoh. Jika dalam eksperimen tokoh masih membutuhkan pengembangan, maka penulis akan melakukan sketsa lagi. Pada akhirnya, hasil perancangan tokoh akan digunakan dalam film yaitu sebagai limited animation dan juga animasi vektor.. 34 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(52) Gambar 3.1. Bagan Tahapan Kerja (dokumentasi pribadi). 3.3. Acuan Untuk merancang tokoh dalam animasi “Journey to Alau Malau”, penulis perlu mengambil beberapa acuan dan referensi baik dari kebudayaan suku Dayak sendiri dan hasil perancangan tokoh dalam karya animasi yang telah ada. Terdapat 3 tokoh utama yang akan dibahas, yaitu tokoh Sadin seorang manusia, Burung Enggang seekor hewan, dan Bungan Malan yang merupakan Dewi dari kepercayaan masyarakat jaman dahulu. Ketiga tokoh tersebut memiliki peran yang berbeda dari segi arketipe dan spesies, sehingga acuan yang digunakan harus memiliki unsur kenyataan dan imajinatif. 35 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(53) 3.3.1. Acuan Tokoh Sadin 3.3.1.1. Referensi dari Film 1. Mulan (1998) Sadin yang berasal dari suku asal Asia memiliki bentuk wajah yang otentik. Dengan demikian dalam perancangan tokoh, penulis menganalisa pembuatan tokoh di film yang telah ditayangkan secara umum. Penulis memilih film Mulan karena tokoh tersebut memiliki latar belakang ras Tionghoa dari Asia. Mulan digambarkan dengan mata yang sipit, hidung kecil dan panjang, serta bibir yang kecil sesuai dengan latar belakang kisah Mulan di Cina. Karena mata Mulan yang sipit, ekspresi alis dan mulut menjadi penting dalam menunjukan ekspresi tokoh. Dengan demikian, peletakan alis jauh lebih tinggi dari mata dan memiliki bentuk yang lebih melengkung. Ketika wajah dilihat dari samping, akan terlihat bahwa hidung Mulan digambarkan tidak terlalu maju, sesuai dengan kontur wajah asia kebanyakan dengan hidung yang lebih rata.. Gambar 3.2. Sketsa referensi Mulan (https://www.masayume.it/img/masayume/mulancdp.jpg). 36 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(54) 2. Sword in the Stone (1963) Untuk menganalisa penggunaan arketipe tokoh, penulis memilih film Sword in the Stone karya Disney karena kemiripan dengan sifat tokoh utama. Film ini merupakan adaptasi Disney dari fabel asal mula diangkatnya Raja Arthur. Perjalanan Arthur, atau Wart panggilannya, dimulai ketika ia didatangi oleh seorang penyihir tua bernama Merlin yang mengatakan bahwa Arthur merupakan “yang terpilih”. Dalam film ini, Arthur memiliki arketipe sebagai hero. Tujuan dari perjalanan Arthur merupakan perjalanan pengembangan diri Arthur dalam menjadi seorang calon raja. Sesuai dengan teori Vogler (2007) tentang arketipe, inti dari tokoh hero adalah pencarian jati diri (hlm 29-30). Selama perjalanan berlangsung, Merlin selalu menjadi pendamping dan mengajari Arthur dengan kekuatan sihirnya. Dari ajaran Merlin, Arthur mempelajari kekuatan dari keberanian, kebijaksanaan, dan keteguhan. Film ini tidak mengarah pada tema bad vs good yang menjadi ciri khas utama dari film dengan arketipe, namun lebih mengajarkan anak-anak dalam pengembangan diri dan pencarian jati diri mereka.. Gambar 3.3. Arthur (http://cdn2-www.comingsoon.net/assets/uploads/2015/07/sword-in-the-stone-header.jpg). 37 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(55) 3.3.1.2. Referensi dari Gambar/Foto Referensi foto di atas merupakan fitur wajah dari penduduk Suku Dayak Kenyah pada masa silam. Penulis menggunakan referensi ini sebagai acuan dalam proses perancangan wajah agar wajah dari tokoh utama memiliki kesamaan otentik dengan penduduk aslinya. Sesuai dengan foto tersebut, masyarakat Dayak Kenyah memiliki mata yang besar dan galak, dengan bibir yang tebal dan hidung yang pesek dan rata.. Gambar 3.4. Foto Masyarakat Dayak Kenyah (Pagan Tribes of Borneo/Charles Hose/1912). Pakaian tradisional Suku Dayak Kenyah telah berubah setelah perkembangan teknologi dan waktu. Pakaian Suku Dayak Kenyah modern lebih tertutup dan ratarata memiliki ornamen manik-manik di atasnya dengan warna yang cerah. Untuk anak-anak Suku Dayak Kenyah modern, laki-laki dan perempuan memakai atasan tanpa lengan. Perbedaannya anak laki-laki biasa memakai celana dengan cawat di atasnya, perempuan memakai rok panjang hingga di atas lutut.. 38 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(56) Gambar 3.5. Foto anak-anak menggunakan baju tradisional Dayak Kenyah (https://i0.wp.com/afibusana.files.wordpress.com/2014/06/kalimantan-timur3.jpg). Beberapa pakaian tradisional bagi anak-anak tidak selalu menggunakan manikmanik. Sesuai dengan referensi di atas, motif dibuat menggunakan teknik lukis atau cetak dan tidak menggunakan manik-manik sebagai penghias di atasnya.. Gambar 3.6. Gambar oleh Gop Gap (https://cdna.artstation.com/p/assets/images/images/001/883/756/large/gop-gap-sketch1531.jpg?1454214202). Selain foto, penulis juga mengambil referensi dari gambar atau lukisan. Gambar di atas merupakan referensi acuan visual tokoh. Walaupun tokoh di atas memiliki perancangan simpel, namun sifat tokoh dapat terlihat secara langsung dari ekspresi yang ditunjukkan oleh tokoh. Terlihat penggunaan bentuk-bentuk dasar walaupun tokoh telah diberikan pencahayaan dan shading yang sesuai. Jika dapat. 39 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(57) dikategorikan, maka gambar di atas termasuk dalam ordinary style, di mana masih memiliki ruang untuk exaggeration, namun dikembangkan dengan shading. 3.3.2. Acuan Tokoh Burung Enggang 3.3.2.1. Referensi dari Film 1. Mulan (1998) Mulan menceritakan tentang petualangan seorang perempuan yang menyamar menjadi lelaki untuk menyelamatkan desa dan mengharumkan nama ayahnya. Dalam perjalanannya Mulan ditemani oleh naga bernama Mushu dan seekor jangkrik, Cri-kee. Naga adalah makhluk mitologi Cina yang seharusnya tidak “nyata”, namun Mushu menjadi sosok “nyata” dalam animasi tersebut dan dapat dilihat oleh manusia biasa. Mushu memiliki fitur badan seperti seekor naga, namun dengan mata yang lebih besar sehingga ekspresi wajahnya dapat tersampaikan.. Gambar 3.7. Mushu dari Mulan (http://charmeusical.ucoz.com/_dr/3/32492016.jpg). 40 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(58) 2. Sword in the Stone (1963) Dalam film Sword in the Stone, Arthur ditemani oleh Merlin dalam perjalanannya. Merlin menjadi peran yang sangat penting dalam membimbing Arthur menjadi seorang raja. Merlin juga menjadi motivator dan teman pendamping bagi Arthur dalam mencapai tujuannya. Sesuai dengan kriteria di atas, Merlin termasuk dalam arketipe Mentor atau wise old man. Walaupun demikian, Merlin bukanlah tokoh yang kaku. Merlin tetaplah playful dan menjadi sedikit comedy relief dari dalam film dengan sifatnya yang pelupa dan terkadang melakukan kesalahan. Sehingga memperlihatkan bahwa pendidikan dan perjalanan yang panjang tetaplah menarik jika dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Karena unsur comedy relief itulah maka Merlin juga dapat dikategorikan sebagai Ally, teman seperjalanan Hero yang berfungsi sebagai kekuatan dan komedi.. Gambar 3.8. Merlin (https://cdn-images-1.medium.com/max/1428/1*8ZkNyzdLG4QrajfNcifrlw.jpeg). 41 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(59) 3.3.2.2. Referensi Gambar/Foto Referensi utama dari tokoh ini adalah Burung Enggang yang merupakan endemik asli dari Kalimantan Timur. Burung Enggang memiliki paruh yang panjang dan melengkung, serta tanduk di atas paruhnya yang berwarna merah oranye yang cerah.. Gambar 3.9. Foto Burung Enggang (https://i.imgur.com/ad4E4Im.jpg). Gambar 3.10. Foto dua prajurit Suku Dayak Kenyah (https://pampangsuniaso.files.wordpress.com/2010/07/panglima-sumpit-ketuasuku.jpg?w=191&h=223). Referensi di atas merupakan referensi baju yang digunakan oleh pria prajurit Suku Dayak Kenyah. Baju tersebut berfungsi sebagai tameng dan memiliki bentuk seperti segitiga terbalik dan dihiasi dengan ornamen-ornamen di atasnya.. 42 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(60) Gambar 3.11. Foto sampeq dengan motif burung enggang (Ornamen Nusantara Kajian Khusus tentang Ornamen Nusantara (3rd ed.)/ Aryo Sunaryo/2011). Menurut Billa (2006), Ornamen Burung Enggang merupakan salah satu ornamen yang hanya dapat digunakan oleh kaum bangsawan. (hlm. 55) Contoh referensi gambar di atas merupakan salah satu motif burung enggang pada sebuah sampeq (alat musik khas Suku Dayak).. Gambar 3.12. Referensi gambar tokoh burung enggang (http://3.bp.blogspot.com/EqLoZZvATtA/TdF7BgRpQcI/AAAAAAAADcY/rbjJLoHQfsk/s1600/Elsachang.birds.jpg). Referensi gambar di atas merupakan referensi untuk pengaplikasian bentukbentuk dasar dalam perancangan visual tokoh burung. Referensi di atas juga membuat tokoh burung menjadi lebih simpel dan menarik.. 43 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(61) 3.3.3. Acuan Tokoh Bungan Malan 3.3.3.1. Referensi dari Film 1. Moana (2016) Moana mengisahkan perjalanan Moana dalam menyelamatkan desanya dari kemarahan Te Ka. Setelah Moana mengembalikan hatinya, sosok Te Ka yang awalnya destruktif kembali menjadi Te Fiti, ibu dari kepulauan Hawaii. Sosok Te Ka dibuat dari lava dengan tujuan mengambil aspek mematikan dari api lava. Lava memiliki warna yang cerah sehingga menarik untuk dilihat dari dekat, tetapi sangatlah berbahaya. Dari beberapa konsep awal Te Ka, rambutnya terbuat dari lava dan badannya dari abu vulkan. Namun akhirnya konsep akhir Te Ka, badannya terbuat dari lava yang menyala dengan rambutnya dari asap. Selain memudahkan pergerakan, juga membantu dalam menstruktur ukuran.. Gambar 3.13. Te Ka dari Moana (https://vignette.wikia.nocookie.net/moana/images/b/b6/Te_Ka_3.jpg/revision/latest?cb=20170418 005652). Te Fiti adalah sosok asli dari Te Ka. Te Fiti memiliki palet warna yang berbeda dari Te Ka, dari palet warna merah menjadi hijau. Te Fiti mengambil sosok perempuan, namun berbentuk seperti sebuah pulau. Seluruh tubuhnya dipenuhi. 44 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(62) oleh beragam tetumbuhan dan bunga. Fitur wajah Te Fiti lebih kompleks dan lebih menyerupai manusia dibandingkan oleh Te Ka.. Gambar 3.14. Gambar Te Fiti dari Moana (https://vignette1.wikia.nocookie.net/moana/images/7/7b/Te_Fiti_%28Moana__2016%29.png/revision/latest?cb=20170226145130). 3.3.3.2. Referensi Gambar/Foto. Gambar 3.15. Foto perempuan Dayak Kenyah Modern (http://www.wiranurmansyah.com/wp-content/uploads/2015/10/pampang-dayak-kenyah.jpg). Perancangan dari pakaian Bungan Malan merupakan gabungan antara pakaian Suku Dayak Kenyah pada zaman dahulu dan pada masa modern. Pakaian tradisional perempuan Suku Dayak Kenyah modern terdiri dari rompi dan rok sepanjang betis atau di atas lutut. Baju tersebut biasanya dihiasi dengan ornamen khas Suku Dayak Kenyah dan manik-manik. Warna pakaian biasanya hitam, dengan ornamen memiliki warna gabungan antara merah, oranye, putih, kuning, hijau dan biru. Baju laki-laki biasanya dilengkapi dengan cawat.. 45 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(63) Gambar 3.16. Foto perempuan Dayak Kenyah pada zaman dahulu (Pagan Tribes of Borneo/Charles Hose/1912). Pada zaman dahulu, Suku Dayak Kenyah biasanya bertelanjang dada dan hanya memakai sebuah rok panjang dengan perhiasan manik-manik yang dililitkan di pinggang.. Gambar 3.17. Foto perhiasan telinga (Perhiasan dan Kecantikan Wanita Dayak Kenyah dan Bahau/Prima Dewi/2000). Suku Dayak Kenyah dikenal dengan telinganya yang panjang, namun pada zaman sekarang sudah minim penggunaan perhiasan berat untuk memanjangkan telinga. Referensi gambar di atas merupakan perhiasan telinga yang umum digunakan pada zaman dahulu. Perhiasan tersebut berbentuk lingkaran dengan lubang yang cukup besar di tengahnya.. 46 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(64) Gambar 3.18. Foto manik-manik (Pagan Tribes of Borneo/Charles Hose/1912). Foto manik-manik tersebut merupakan jenis manik yang dulunya digunakan oleh penduduk Suku Dayak Kenyah. Manik yang digunakan oleh penulis merupakan manik yang pada zaman dahulu, ketika manik-manik memiliki harga yang sangat tinggi bahkan dapat ditukarkan dengan manusia.. Gambar 3.19. Foto perhiasan manik-manik Dayak Kenyah (Perhiasan dan Kecantikan Wanita Dayak Kenyah dan Bahau/Prima Dewi/2000). 47 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(65) Gambar diatas merupakan salah satu contoh perhiasan manik-manik yang digunakan oleh masyarakat Suku Dayak Kenyah pada zaman dahulu. Warnawarna yang digunakan antara lain warna kuning, hitam, oranye, dan biru, namun beberapa perhiasan ada yang memiliki manik-manik berwarna merah.. Gambar 3.20. Foto perempuan Dayak Kenyah dengan kalung leher (http://cdn2.tstatic.net/kaltim/foto/berita/2014/11/14/01.jpg). Masyarakat Dayak Kenyah modern sekarang memakai perhiasan leher yang telah dimodifikasi, seperti pada contoh di atas. Manik-manik yang dipakai juga lebih beragam dan memiliki susunan yang lebih rumit.. Gambar 3.21. Foto perempuan Dayak Kenyah dengan perhiasan kepala (http://4.bp.blogspot.com/pYFraDzPZg0/UShpBA8iCtI/AAAAAAAADL8/MfnL6rKPVV4/s1600/IMG_4833.JPG). Perhiasan kepala yang digunakan oleh masyarakat Suku Dayak Kenyah modern juga memiliki beragam bentuk dan warna. Pada masa perayaan, perhiasan kepala. 48 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(66) biasa menggunakan manik-manik dan diberi bulu-bulu burung, terutama bulu Burung Enggang. Menurut Billa (2006), kepercayaan Suku Dayak Kenyah pada zaman dahulu mempercayai makhluk-makhluk yang berhubungan erat dengan Dewi Bungan Malan Peselung Luan, salah satu burung tersebut adalah Burung Ukeng (sasia abnormis) (hlm. 55). yang merupakan anak Bungan Malan, pada animasi “Journey to Alau Malau”.. Gambar 3.22. Foto Burung Ukeng (https://i.pinimg.com/736x/58/db/2b/58db2bd05b96c11a3e941a577efb32ec--blue-bird-wildbirds.jpg). 3.4. Proses Perancangan Terdapat 3 tokoh yang akan dibahas dalam skripsi ini, yaitu Sadin, Burung Enggang, dan Bungan Malan. Setiap tokoh memiliki 3 dimensional yang berbedabeda.. 49 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

(67) 3.4.1. Sadin 3.4.1.1. 3 Dimensional Tokoh 1. Fisiologi Sadin merupakan anak laki-laki berusia 8-9 tahun dan merupakan keturunan Suku Dayak Kenyah. Bentuk fisiologi Sadin mengambil referensi wajah dari penduduk asli suku Dayak Kenyah, di mana memiliki fitur wajah yang lebar, dengan mata besar dan hidung yang pesek dan lebar, serta mulut yang tebal. Warna kulit Sadin berwarna kekuningan dengan rambut berwarna coklat gelap. Sadin tidak memiliki badan yang tinggi (125-130 cm) dan sering membungkukan badannya. 2. Sosiologi Sadin tinggal di sebuah desa yang memiliki mayoritas penduduk Suku Dayak Kenyah. Karena ayahnya berkerja sebagai buruh tani, Sadin memiliki keadaan ekonomi menengah ke bawah. Walaupun demikian, Sadin tetap bersekolah (tingkat SD). Sadin memiliki hubungan yang baik dengan ayahnya karena ayahnya merupakan satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh Sadin. 3. Psikologi Karena Sadin tidak memiliki kehidupan sosial yang aktif, Sadin memiliki sifat yang pemalu dan pasif, serta introvert. Walaupun Sadin memiliki temperamen yang sabar dan dapat bekerja dalam keadaan tertekan, namun ia memilih untuk menghindari masalah dan tidak pernah berdiri atas keputusannya sendiri. Sadin memiliki empati yang tinggi terhadap orang yang ia peduli dan akan menentang moral kehidupannya demi orang yang ia sayangi.. 50 Perancangan Tokoh Dalam..., Stephanie M. Gozali, FSD UMN, 2018.

Gambar

Gambar 2.2. Johnny test
Gambar 2.4. Beauty and the Beast
Gambar 2.10. Perbedaan varietas bentuk dalam anatomi tokoh  (Creating Character with Personality/Tom Bancroft/2006)
Tabel 2.1. Tabel 3 dimensonal tokoh menurut Lajos egri (hlm. 36)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tämän tutkimuksen tulosten merkitystä pohdittaessa on hyvä kiinnittää huomiota siihen, että kaikki kyselyyn vastaajat olivat Töölön seurakunnan nuortentila Kerhiksellä

Berdasarkan latar belakang di atas, maka perlu dilakukan penelitian mengenai Pengaruh Penambahan Pektin Kulit Markisa Terhadap Sifat Mekanik Plastik Biodegradable

4. Individu yang menyalahgunakan kerahasiaan, keamanan dan peraturan dan penyalah gunaan informasi dapat dikenakan hukuman/legal aspek. Perubahan yang cepat dalam lingkungan

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan penulisan Tugas Akhir ini dengan judul

Jl.Janti N0.48 Lt 2, RT 10 RW 06 Janti, Caturtunggal, Depok, Sleman RM 1.000/bulan Jl.Ringroad Selatan Perempatan

Hasil penelitian adalah: (1) penggunaan diagnosis chart pada diagnosis sistem kelistrikan kendaraan meningkatkan hasil belajar mahasiswa sebesar 24,31%, dan (2)

Analisis dilakukan dengan cara mengklasifikasikan data sesuai dengan faktor penyebab terjadinya campur kode dari data tersebut sehingga dapat diketahui faktor apa

c. Pihak mana saja yang potensial atau bisa diajak bermitra dengan masyarakat? 3) Berikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk menyampaikan hasil diskusinya. 4)