PROFIL HORMON GLUKOKORTIKOID PADA ORANGUTAN
(
Pongo pygmaeus wurmbii
) BETINA YANG BERINTERAKSI
DENGAN INDIVIDU LAIN MENGGUNAKAN METODE
NON-INVANSIF
Abstrak
Perubahan kondisi lingkungan yang melebihi batas toleransi menyebabkan
stres pada orangutan. Hormon glukokortikoid merupakan salah satu indikator
stres. Penelitian ini dilakukan pada 6 individu betina dengan status reproduksi
(reproduktif, nullipara dan reproduktif) selama 10 bulan dengan metode
non-invansif. Tujuan dari penelitian ini melihat korelasi antara interaksi dengan
individu lain dengan kadar hormon glukokortikoid. Adanya fluktuasi hormon
glukokortikoid pada orangutan betina setelah terjadi perjumpaan dengan individu
lain. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa perbedaan status reproduksi
individu betina mempengaruhi kadar hormon 11
β
-hydroxyetiocholanolone, yang
terdeteksi setelah 48 jam di dalam feses orangutan. Pada saat pengamatan individu
reproduktif (Jinak) melakukan perjumpaan dengan individu jantan dewasa tidak
berpipi, diketahui kadar hormon glukokortikoid Jinak pada saat tidak ada interaksi
dengan jantan dewasa tidak berpipi 436,465 ng/g (n=2) dan setelah terjadi
inetraksi dengan tidak berpipi kadar hormon glukokortikoid mengalami
peningkatan menjadi 839,39 ng/g (n=2). Betina nullipara (Milo dan Kondor)
menunjukkan perbedaan profil metabolit glukokortikoid setelah interaksi dengan
jantan tidak berpipi. Milo tidak mengalami kenaikan kadar metabolit hormon
stres setelah interaksi dengan individu jantan tidak berpipi. Kadar metabolit
hormon glukokortikoid sebelum interaksi 451.58 ng/g (n=6) dan sesudah interaksi
menjadi 408.83 ng/g (n=3). Hal yang berbeda pada individu Kondor terjadi
peningkatan kadar metabolit hormon glukokortikoid setelah interaksi, kadar
hormon sebelum interaksi 440.57 ng/g (n=9) dan setelah interaksi meningkat
menjadi 454.54 ng/g (n=33). Betina non-reproduktif yang melakukan interaksi
dengan individu lain adalah Mindy, Kerry dan Juni. Kerry individu betina punya
anak dengan umur anak 3 tahun memiliki kadar metabolit hormon glukokortikoid
sebelum interaksi 291.87 ng/g (n=3) dan setelah interaksi meningkat menjadi
634.75 ng/g (n=5). Perjumpaan antara Juni dengan jantan dewasa tidak berpipi
menyebabkan perubahan hormon glukokortikoid sebelum interaksi 267.70 ng/g
(n=12) dan setelah interaksi mengalami peningkatan menjadi 347.50 ng/g (n=2).
Mindy memiliki pola yang berbeda yaitu setelah terjadi party jantan dewasa
mengalami penurunan kadar metabolit hormon glukokortikoid, sebelum interaksi
470.53 ng/g (n=5) dan setelah interaksi mengalami penurunan 380.89 ng/g (n=3).
Kata kunci: Orangutan, hormon glukokortikoid, 11
β
-hydroxyetiocholanolone
Pendahuluan
Orangutan termasuk jenis primata yang menghabiskan seluruh waktunya
di atas pohon dan sangat terngantung dengan hutan. Perusakan habitat secara
besar-besaran ataupun berkepanjangan dapat menyebabkan stres pada orangutan.
Salah satu cara agar orangutan tetap bertahan adalah beradaptasi terhadap
perubahan tersebut. Perusakan habitat juga mengubah perilaku orangutan yang
bersifat semi soliter, karena berkurangnya areal jelajah membuat peluang
perjumpaan dengan individu lain tidak dapat dihindari serta terjadi perebutan
daerah kekuasaan. Keterbatasan pakan juga membuka peluang perjumpa antar
individu semakin besar, selain itu perbedaan status soaial dan reproduksi antara
individu membuat ancaman bagi individu lain (van Schaik 2006; Singleton
et al
.
2009).
Perubahan kondisi lingkungan yang akut ataupun kronis dapat menggangu
kehidupan. Pada saat tesebut mahluk hidup akan berusaha menyesuaikan diri
terhadap perubahan lingkungan. Stres dapat timbul apabila penyesuaian diri
melebihi batas. Hormon glukokortikoid merupakan salah satu indikator stres yang
dapat diukur dengan metode invansif atau non-invansif. Hormon glukokortikoid
yang dihasilkan oleh korteks adrenal berpola diurnal yang berfluktuasi secara
signifikan, merupakan salah satu indikasi optimal aktivitas korteks adrenal.
Fluktuasi hormon stres ditimbulkan karena adanya mekanisme fisiologi yang
sangat penting, seperti kerja hormon di dalam tubuh pada saat stres: diawali dari
pengiriman pesan menuju hipotalamus akibat rangsanggan dari kondisi
lingkungan atau perjumpaan dengan individu lain. Selanjutnya, hipotalamus akan
mengekresikan
Corticotropin Releasing Hormone
(CRH) yang akan menstimulus
hipofisis anterior untuk mengeluarkan
Adeno Corticotropic Hormone
(ACTH).
Peningkatan sekresi ACTH menyebabkan peningkatan kadar hormon
glukokortikoid yang disekresikan oleh kortek adrenal, terdapatnya sekresi hormon
glukokortikoid yang berlebih dan berlangsung terus menerus dapat
menghilangkan pola diurnal (Brook & Marshall 1996).
Hormon glukokortikoid khusunya kortisol diketahui mempunya pulse
selama 24 jam sebanyak 7 sampai 9 kali akibat adanya stimulus dari ACTH yang
berkerja secara episodik. Hormon kortisol sebagai salah satu penanda stres, kajian
tentang hormon kortisol pada manusia di dalam plasma telah diketahui meningkat
pada jam 8-10 pagi (50-230 ng/ml) dan terendah pada jam 16.00 (50-150 ng/ml)
(Astuti 2006). Pada sebagian hewan (ikan, reptil, burung dan mamalia) kondisi
hormon sangat berhubungan dengan tingkah laku, pola kawin dan sistem sosial.
Khusus pada primata kadar hormon stres dipengaruhi oleh status sosial, agresi
antar individu, perjumpaan dengan individu lain dan perbedaan umur. Penelitian
sebelumnya menyatakan bahwa reaksi lingkungan dan individu lain
mempengaruhi sistem hormonal di dalam tubuh. Hal ini diketahui dengan
dilakukannya pendeteksian secara non-invansif melalui feses, diketahui bahwa
11
β
- hydroxyetiocholanolone hormon glukokortikoid yang merupakan indikator
hormon stres pada orangutan (Weingrill 2011; Marty 2009)
Menurut Weingrill (2011) individu orangutan jantan sub-ordinat memiliki
kadar hormon stres yang lebih tinggi dibandingkan jantan dominan. Beberapa
penelitian telah berhasil mendeteksi kondisi fisiologi melalui pengukuran
metabolit hormon dalam urine dan feses. Diketahui bahwa pada kondisi tertekan
ataupun terancam menyebabkan terjadinya peningkatan kadar hormon stres, hal
ini dikarenakan adanya kejadian hormonal di dalam tubuh. Pada keadaan normal
hormon stres disekresikan secara episodik sehingga membentuk pola harian,
sekresi hormon stres yang berlebih dan berlangsung secara terus menerus dapat
menghilangkan pola harian hormon (Brook & Marshall 1996; Möstl & Palme
2002).
Informasi mengenai profil hormon glukokortikoid pada orangutan liar
akibat interaksi dengan individu lain dan pengaruh lingkungan masih sangat
kurang, hal ini harus dicari tahu untuk keberhasilan rehabilitasi dan reintroduksi
orangutan di habitat eksitu. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui profil
hormon glukokortikoid pada orangutan betina yang melakukan interaksi sosial
dengan individu lain melalui pengujian secara non-invansif (feses).
METODOLOGI PENELITIAN
Pada penelitian ini dilakukannya uji kadar hormon 11
β
-
hydroxyetiocholanolone sebagai indikator stres pada orangutan yang berinteraksi
dengan orangutan jantan. Pengukuran kadar hormon 11
β
- hydroxyetiocholanolone
secara kuantitatif, menggunakan metode non-invansif melalui feses.
Waktu dan Lokasi Penelitian
Pemeriksaan sampel feses, sampel feses dilakukan ekstraksi pada bulan
Juni dan Agustus 2011 di laboratorium unit rehabilitasi dan reproduksi Fakultas
Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Pengujian hormon secara kuantitatif
dilakukan pada bulan Desember 2012-Januari 2013 di German Primate Center
Göttingen, Jerman
.
Hewan Penelitian dan Status Reproduksi
Jumlah orangutan fokus yang diamati adalah 6 individu rangutan betina,
yaitu Jinak, Milo, Kondor, Mindy, Kerry dan Juni. Status reproduksi dari
orangutan tersebut dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu Nullipara,
Reproduktif, dan Non-reproduktif. Berdasarkan status reproduksi tersebut maka
keenam orangutan tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut: (1) Nullipara
adalah Milo dan Kondor, (2) Reproduktif adalah Jinak (3) Non-reproduktif adalah
Mindy, Kerry dan Juni.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan terdiri atas : tabung plastik,
freezer
(-20ºC), vortexer,
sentrifus, mortar porselin, timbangan elektronik,
plate
mikrotiter, mikropipet,
mesin pencuci
plate
,
microplate reader
model 3550 (Bio-Rad®), dan komputer.
Sampel penelitian yang digunakan adalah 115 sampel feses dari 6 individu
orangutan (
Pongo pygmaeus wrumbii
) betina dengan status reproduksi yang
berbeda yaitu betina reproduktif dan betina non-reproduktif. Larutan pencuci PBS,
methanol, larutan substrat.
Koleksi Feses
Analisis hormon dilakukan untuk mengetahui kadar hormon stres pada
orangutan betina yang merupakan objek penelitian. Pengambilam sampel feses
dilakukan pada pagi hari setelah individu objek bangun tidur untuk mengetahui
terjadinya perubahan profil hormon (Gambar 15a). Pada saat pengkoleksian untuk
mendapatkan homogenitas feses yang diambil meliputi tiga bagian feses yaitu
luar, tengah dan dalam (Heistermann
et al
. 2001; Möstl & Palme 2002).
Pengkoleksian feses dilakukan dengan dua cara yaitu dengan
menggunakan alkohol 96% dan feses segar (Gambar 15b,c). Kedua prosedur
tersebut tidak mempengaruhi pengujian kadar hormon glukokortikoid dari sampel
feses tersebut, perbedaan yang ada hanya cara penyimpanan sampel padasaat di
lapangan. Sampel feses dengan alkohol 96% dapat disimpan tanpa di dalam
pendingin, sedangkan feses segar penyimpanan harus di dalam pendingin.
Pengkoleksian dengan menggunakan alkohol 96%, sebelum feses dimasukan
dalam tabung maka diberikan alkohol terlebih dahulu 2 ml. Sedangkan
pengoleksian feses segar tanpa alkohol yaitu sampel feses yang didapat langsung
dimasukan ke dalam tabung kosong. Tabung yang digunakan dalam pengambilan
sampel diberikan label atau indentitas nama orangutan yang diambil, tanggal
pengambilan sampel, pengamat yang mengambil, waktu pengambilan dan nomer
sampel. Sampel tersebut disimpan di dalam pendingin (
freezer
) dengan suhu -20
ºC (Möstl & Palme 2002).
(a)
(b)
(c)
Gambar 15 (a); Koleksi feses dari lapangan (b); pengoleksian feses dengan
menggunakan alkohol (c) feses segar (Mardianah 2010).
Analisa Hormon
Pengeringan dan Penghalusan Feses
Proses pengeringan (
lyofilisasi
) dan penghalusan (
pulverasi
) sampel feses
dilakukan berdasarkan prosedur Heistermann
et al
. (2001). Sampel yang telah
dikoleksi dikeringkan dengan menggunakan mesin pengering beku (
lyophilizer
)
(
freeze dryer
, Christ
®, Gamma 1-20) selama 3-4 hari pada suhu -20ºC dan tekanan
vakum 1,030-0,630 mbar. Sampel yang telah dikeringkan selanjutnya dihaluskan
menggunakan mortar poselin dan disaring dengan saringan steinless steel untuk
memisahkan serbuk feses dari bahan berserat, kemudian serbuk feses dimasukan
ke dalam tabung dan disimpan pada suhu -20ºC sampai pada tahap ekstraksi.
Ekstraksi Feses
a.
Ekstraksi feses segar
Feses yang telah disimpan di dalam
freezer
dalam bentuk segar diambil
kemudian masing-masing selanjutnya dilakukan pulverisasi. Serbuk yang telah
terbentuk diambil 50 mg berat kering kemudian diekstraksi dengan menggunakan
pelarut methanol 80% sebanyak 2-7 ml. Selanjutnya, larutan dimasukan ke dalam
tabung polipropilene berukuran 15 ml, divorteks selama 10 menit. Sentrifius
dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit dilakukan segera setelah larutan
divorteks. Supernatan dipisahkan ke dalam tabung lain, kemudian disimpan di
freezer
-21ºC sampai dilakukan analisa menggunakan
enzyme link immunosorbent
assay
(ELISA) atau
enzyme immunoassay
(EIA) (Heistermann
et al
. 2006).
b.
Ekstraksi feses alkohol 96%
Feses yang di simpan dalam
freezer
dikeluarkan dan dihomogenkan
dengan menggunakan stik metal, kemudian cuci stik metal tersebut dicuci dengan
menggunakan 1 ml methanol 80%. Masukan sampel feses tesebut ke dalam
tabung lain yang telah ditimbang berat dari tabungnya, kemudian vortex tabung
tersebut selama 10 menit. Sentrifus dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit.
Supernatan dipisahkan ke tabung lain, kemudian pellet ditambahkan dengan
methanol 80% sebanyak 3-7 ml tergantung dari banyaknya feses sampai feses
terendam dengan methanol. Vortex tabung tersebut selama 10 menit dan dengan
segera sentrifus selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm. Supernatant
dipisahkan kembali dan digabungkan kedalam tabung sebelumnya dan disimpan
di dalam
freezer
-21ºC. Pelet feses yang didapat di keringkan dengan suhu
ruangan selama 3 hari. Selanjutnya pelet feses dikeringkan dengan oven suhu
50ºC selama 2-3 hari, timbang pelet tersebut kemudian keringkan kembali selama
satu hari untuk mendapatkan berat feses yang stabil.
Pengujian Validitas
Assay
Hormon Glukokortikoid
Pengujian validitas
assay
hormon glukokortikoid pada orangutan (
Pongo
pygmaeus wurmbii
) telah divalidasi dan dinyatakan bahwa hormon 5
β
-Adiol
adalah hormon assay yang tepat untuk pengujian ELISA metabolit glukokortikoid
dalam feses orangutan (Weingrill
et al
. 2008). Proses pertama yang dilakukan
yaitu pengukuran akurasi hormon assay dengan pengujian paralelism untuk
menentukan tingkat pengenceran sampel feses yang efektif. Ekstraksi sampel akan
diencerkan secara bertingkat dalam larutan
assay buffer
yaitu 1:5, 1:10, 1:20,
1:40, 1:80, dan 1:60. Menurut Heistermann
et al.
(1996) pengujian paralelisme
sebagai upaya agar mengetahui apakah hormone assay yang digunakan dapat
menganalisa hormon yang diinginkan dari sampel yang diperiksa. Berdasarkan
hasil yang didapatkan apabila pola kurva sampel paralel dengan kurva standar,
maka hasil uji paralelisme menunjukan bahwa antibodi yang digunakan pada
penggujian
assay
bersifat immunoreaktif terhadap hormon yang diuji atau hormon
assay tersebut dapat mengukur dengan tepat konsentrasi metabolit hormon
glukokortikoid dalam feses orangutan.
Presisi
assay
ditentukan dengan menghitung koefisiensi variasi dari
masing-masing nilai kontrol kualitas pada konsentrasi tinggi (QC
High
) dan
coeffiecient of variant
) dan perhitungan koefisiensi variasi dari masing-masing
nilai control kualitas konsentrasi tinggi dan rendah pada satu assay (
intra-assay
coefiecient of variant
). Apabila dari hasil yang didapatkan nilai koefisien variasi
inter-assai menunjukan < 15% dan intra-assai <10% maka
assay
tersebut
dikatakan memiliki nilai presisi yang baik (Heistermann
et al
. 1996 &
Heistermann
et al
. 2004). Penggujian lain yang dilakukan adalah sensitivitas
assay
untuk penetapan nilai konsentrasi hormon yang diperoleh pada saat 90%
antibodi berikatan dengan hormon atau menentukan nilai konsentrasi hormon
terendah yang dapat dianalisa.
Pengukuran Konsentrasi Metabolit Hormon Glukokortikoid
Sampel feses yang telah diekstraksi, kemudian dianalisa dengan
menggunakan prosedur kerja sebagai berikut; masukan larutan assay buffer
100µL ke dalam sumur (
wells)
blank dan Assay buffer sebanyak 50µL ke
sumur
zero dalam mikroplate. Selanjutnya dimasukannya larutan standar ke dalam
sumur
sesuai pengenceran dilakukan. Larutan QCH dan QCL dimasukan ke dalam
sumur berkode sama masing-masing 50 µL . Kemudian dimasukannya larutan
biotin label ke masing-masing sumur 50µL dan larutan antibodi ke semua sumur
masing-masing 50µL. Tutup dengan biofilm/kover plastik tutupi plate dengan
rapat tanpa ada cela agar tidak tumpah. Plate dimasukan ke dalam pendingin
dengan rata-rata selama 18 jam atau satu malam.
Larutan Streptavidin Peroxidase 20 mg dibuat dalam larutan buffer 16 mL
homogenkan. Plate dikeluarkan dari dalam pendingin dan diamkan pada suhu
kamar kemudian cuci plate dan keringkan dengan tissue. Larutan Sterptavidin
Peroxidase dimasukan ke dalam semua wells masing-masing 0,15 mL atau 150
µL, selanjutnya, plate diinkubasi di ruang gelap dan dikocok selama 45 menit atau
sampai berubah warna menjadi warna biru sesuai standarnya pada setiap sumur.
Reaksi dengan Streptavidin Peroxidase harus dihentikan dengan larutan penghenti
reaksi menggunakan larutan H2SO4. Setelah reaksi dihentikan maka warna
larutan dalam sumur akan berubah warna menjadi kuning.Sumur blank berwarna
terang (transparan) akan tetap transparan, sumur QCL berwarna kuning lebih
pekat dari pada well QCH. Selanjutnya, sumur dimasukkan ke dalam ELISA
reader
dengan panjang gelombang 450 nm dan dengan 630 nm referensi filter
(Heistermann
et al
. 2001; Heistermann
et al
. 2006).
Analisis Data
Data-data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan perangkat
lunak “
statistic programe for scientific and social science
” (SPSS) sofware
11.50. Uji dengan menggunakn BoxPlot dan dijelaskan dengan deskriptif. Kadar
hormon diperoleh hari tertentu dihubungkan dengan perilaku sosial 48 jam setelah
kontak dengan individu lain untuk menjawab hipotesis tersebut dengan
menggunakan uji: Melihat hubungan antara perjumpaan individu betina dengan
individu jantan dewasa berpipi, jantan dewasa tidak berpipi ataupun dengan
individu betina lain dengan terjadinya peningkatan kadar hormon 11
β
-
hydroxyetiocholanolone.
Hasil dan Pembahasan
Kadar Hormon 11
β
- hydroxyetiocholanolone antar Individu Betina
Berdasarkan Status Reproduksi padasaat Perjumpaan dan Tidak Ada
Perjumpaan
Hormon glukokortikoid 11
β
- hydroxyetiocholanolone merupakan profil
hormon stres yang ditemukan pada orangutan dengan menggunakan metode
non-invansif melalui feses (Weingrill
et al
. 2011). Metode non-invasif merupakan
metode yang tepat untuk pengujian hormon glukokortikoid pada satwa liar,
sehingga hormon yang didapat tidak dipengaruhi karena perilaku manusia. Stres
terjadi karena adanya faktor dari dalam dan luar tubuh, pada non-primata stres
banyak disebabkan dari faktor luar (lingkungan) seperti variasi iklim, status sosial,
agresi, umur dan perjumpaan. Pada penelitian ini dilakukan pada individu betina
yang dibedakan dari status reproduksi non-reproduktif, reproduktif dan nullipara.
a.
Betina reproduktif (Jinak)
Pada saat pengamatan individu reproduktif (Jinak) melakukan perjumpaan
dengan individu jantan dewasa tidak berpipi. Menurut Rodman dan Mitani
(1987); Atmoko
et al
. (2009a) orangutan betina dewasa memilih berpasangan
dengan jantan dewasa berpipi untuk mendapatkan keuntungan seperti
perlindungan dari individu jantan. Diketahui kadar hormon glukokortikoid Jinak
pada saat tidak ada perjumpaan dengan individu lain 436,465 ng/g (n=2) dan
setelah terjadi perjumpaan dengan jantan dewasa tidak berpipi kadar hormon
glukokortikoid mengalami peningkatan menjadi 839,39 ng/g (n=2) (Gambar 16).
Hal tersebut membuktikan bahwa setelah perjumpaan dengan individu lain terjadi
peningkatan ancaman dibandingkan sebelum perjumpaan, disebabkan Jinak masih
dibayangi anak sehingga faktor keselamatan anak menjadi pertimbangan. Menurut
Atmoko
et al.
(2009b) orangutan betina dewasa lebih memilih berpasangan
dengan jantan dewasa berpipi. Individu betina merupakan Individu betina
merupakan pengambil keputusan di dalam melakukan interaksi seksual.
Menurut Delgado dan van Schaik (2000); Knott
et al
. (2009); Wich
et al
.
(2009) orangutan kalimantan memiliki interval jarak kelahiran antara satu anak
dengan anak selanjutnya 6-8 tahun. Berdasarkan interval jarak kelahiran anak
tersebut kemungkinan Jinak sudah reproduktif kembali karena Jerry sudah
berumur7 tahun 2 bulan. Menurut Wich
et al
. (2009) anak berjenis kelamin betina
lebih cepat mandiri dibandingkan dengan anak berjenis kelamin jantan.
Berdasarkan hasil yang didapatkan Jerry anak dari Jinak (jantan) memiliki umur
yang hampir sama dengan Milo (betina) anak dari Mindy. Pada Tahun 2008 Milo
yang berumur 7 tahun sudah memiliki adik (Mawas), sedangkan pada umur yang
sama Jerry masih bersama dengan induk dan masih menyusui (
nippel contact)
pada induk (Atmoko
et al
. 2009b), kemungkinan hal ini membuat peningkatan
kadar hormon glukokortikoid tinggi saat Jinak bertemu dengan jantan dewasa
tidak berpipi karena ketanggapan seksual Jinak belum kembali normal.
Nippel contact
antara induk betina dengan anak mempengaruhi sistem
endocrinology induk. Menurut Mindy
et al
. 2000 pada saat individu betina sedang
menyusui atau masih adanya
nipple contact
antara anak dengan induk betina
maka akan menghambat produksi Gonadotrophin Releasing Hormon (GnRH)
pada induk, menekan terjadinya estrus karena produksi LH dan FSH menurun
yang mempengaruhi proses pematangan sel telur. Berdasarkan hasil yang
didapatkan bahwa status reproduksi individu betina tidak hanya dapat dilihat dari
umur anak atau interval kelahiran anak namun harus dilakukan uji sistem
endokrinologi. Sampel dari penelitian ini sangat terbatas karena berasal dari satu
individu betina dewasa dan sampel yang digunakan dari 2 hari party dan dua hari
tidak party.
b.
Betina nullipara (Milo dan Kondor)
Menurut Galdikas (1985); van Schaik (2006) betina nullipara menunjukan
ketertarikannya dengan individu jantan dengan cara mendekati individu jantan
yang diharapkan. Pada saat pengamatan betina nullipara lebih banyak melakukan
perjumpaan dengan jantan dewasa tidak berpipi maupun jantan dewasa berpipi
dibandingkan betina non-reproduktif. Salah satu strategi individu betina pada saat
perilaku seksual adalah berpasangan dengan banyak jantan. Pada saat pubertas
sistem endokrin mulai bekerja yang berhubungan dengan mekanisme–mekanisme
fisiologi tertentu yang melibatkan gonad dan kelenjar
adenohypophisa
. Pada umur
pubertas, neuron hipotalamus sudah mampu memproduksi hormon estrogen
dengan frekuensi dan amplitudo tertentu (Hafez & Hafez 2000).
Milo
dan
Kondor merupakan betina nullipara yang belum pernah punya
anak. Perbedaan umur menyebabkan berbedanya pola hormon glukokortikoid
setelah interaksi. Kondor yang memiliki umur yang lebih tua dibandingkan
dengan Milo, lebih banyak melakukan interaksi dengan individu jantan. Selama
pengamatan individu Kondor banyak berpasangan dengan individu jantan dewasa
tidak berpipi. Menurut Rodman dan Mitani 1987; Atmoko
et al
. (2009b)
berpasangan dengan banyak jantan tidak dalam waktu yang bersamaan merupakan
salah satu strategi individu betina untuk mendapatkan keuntungan dari individu
jantan seperti perlindungan. Berdasarkan hasil pengamatan perilaku seksual
kopulasi terjadi sebanyak 25 kejadian kopulasi intromisi dengan jantan dewasa
tidak berpipi, dengan beberapa kategori kopulasi yang teramati pasif, pemaksaan
maupun aktif.
Milo dan Kondor memiliki kadar hormon stres yang hampir sama sebelum
dan setelah terjadi party dengan jantan dewasa tidak berpipi. Milo mengalami
penurunan kadar hormon stres setelah party dengan individu jantan tidak berpipi,
namun secara umum konsentrasi metabolit glukokortikoid setelah interaksi
tampak ada juga yang lebih rendah dibandingkan dengan tidak ada interaksi kadar
hormon glukokortikoid sebelum interaksi 451,58 ng/g (n=6) dan sesudah interaksi
menjadi 408,83 ng/g (n=3). Selama pengamatan interaksi yang terjadi antara Milo
dengan jantan dewasa tidak berpipi terlihat ada perilaku seksual kopulasi yaitu
sex
investigate.
Berdasarkan hasil bahwa
sex investigate
yang terjadi pada Milo
mempengaruhi kadar hormon glukokortikoid lebih rendah karena timbulnya rasa
nyaman dan adanya ketertarikan dari individu betina dengan kehadiran jantan. Hal
yang sedikit berbeda terjadi pada individu Kondor dimana tampak adanya
peningkatan rata-rata kadar metabolit hormon glukokortikoid setelah interaksi,
kadar hormon sebelum interaksi 440.57 ng/g (n=9) dan setelah interaksi
meningkat menjadi 454.54 ng/g (n=33). Namun secara keseluruhan, tampak juga
beberapa kejadian dimana konsentrasinya lebih rendah pada saat terjadi intraksi
dibandingkan tidak terjadi interaksi. Hal yang berbeda terjadi pada individu
Kondor peningkatan kadar hormon glukokortikoid setelah interaksi, kadar hormon
sebelum terjadi interaksi 440,57 ng/g (n=9) dan setelah interaksi meningkat
menjadi 454,54 ng/g (n=33).
3 3 9 3 3 2 3 3 9 3 3 2 N = INDIVIDU Mindy Milo Kondor Kerry Juni Jinak 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 PARTY NOPARTYGambar 16. Kadar hormon 11
β
- hydroxyetiocholanolone orangutan betina
Kondor banyak melakukan party maupun
consort
dengan individu jantan
dewasa tidak berpipi dan terjadi beberapakali interaksi seksual kopulasi seperti
copulation intromistion, sex investigate, dan copulation attempt
. Kategori
kopulasi yang teramati bersifat pemaksaan, pasif dan aktif, setelah 48 jam
kejadian interaksi seksual kopulasi dapat meningkatkan kadar hormon
glukokortikoid. Peningkatan kadar hormon glukokortikoid yang terjadi pada
Kondor mencapai 1200 ng/g (tanggal 11-06-2010) pada saat tersebut terjadi
beberapa kali kopulasi pemaksaan dalam perilaku seksual kopulasi dengan jantan
dewasa tidak berpipi (Gambar 17). Menurut data yang ada sebelumnya
beberapakali Kondor terlihat melakukan perilaku seksual dengan jantan tidak
berpipi namun kenaikan kadar hormon glukokortikoid tidak terlalu tinggi
dibandingkan dengan tanggal 11-06-2010, kemungkinan pada saat tersebut
Kondor tidak dalam keadaan estrus sehingga mempengaruhi kadar hormon
glukokortikoid.
Pada saat estrus orangutan betina tidak terlihat perbedaan morfologi
seperti primata yang lain, perubahan morfologi pada orangutan betina hanya pada
saat menjelang kelahiran yaitu terjadi pembengkakan pada bagian perineal
(Galdikas 1984). Namun karena tidak ada perbedaan morfologi pada orangutan
betina padasaat estrus maka peluang terjadinya kopulasi pemaksaan oleh jantan
dewasa tidak berpipi semakin tinggi (Atmoko
et al
. 2009b; Knott
et al
. 2009).
Hal ini merupakan salah satu strategi yang dilakukan oleh individu jantan dewasa
ng/g berattidak berpipi untuk keberhasilan reproduksi. Perlu dilakukan uji lanjut yang dapat
mendukung dengan DNA untuk menentukan anak yang dilahirkan apakah hasil
dari kopulasi pemaksaan atau kategori kopulasi lain.
Tanggal kejadian 17/ 06 /10 15/ 06 /10 13/ 06/ 10 11/ 06 /10 09/ 06 /10 24/ 04 /10 23/ 01 /10 21/ 01/ 10 19/ 01 /10 17/ 01 /10 14/ 01/ 10 4/12/ 09 13/ 11/ 09 10/ 11 /09 8/11/ 09 5/1 1/09 1260 855 451 46 -358 KADAR UCL = 845.8394 Average = 450.7534 LCL = 55.6675