NEWS HEADLINES
JAKARTA COMPOSITE INDEX CHART
Sejumlah indikator teknikal mengkonfirmasikan sinyal negatif bagi pergerakan IHSG. Koreksi yang cukup tajam dalam tiga hari beruntun dalam pekan lalu mengindikasikan indeks dalam fase konsolidasi, seperti tercermin pada indikator MACD dan Stochastic. Selain itu, lagging indikator ikut mensinyalkan negatif bagi IHSG.
JAKARTA INDICES STATISTICS
CLOSE CHANGE VOLUME (Mn) VALUE (Rp Bn)
IHSG 4223.908 +45.500 7,642.26 5,906.05
LQ-45 704.976 +8.270 1,290.92 3,996.31
MARKET REVIEW
MARKET VIEW
IHSG pada perdagangan Rabu (30/09) ditutup menguat 1,09%. Penguatan IHSG dipengaruhi oleh pengumuman kebijakan ekonomi jilid II oleh pemeintah. Kebijakan tersebut termasuk penyederhanaan izin penggunaan lahan hutan, skema insentif bagi penyimpanan devisa hasil ekspor di dalam negeri, dan pemangkasan izin investasi. Selain itu, Indonesia juga mengeluarkan sejumlah paket kebijakan dalam upaya stabilisasi nilai tukar rupiah. Paket kebijakan yang dikeluarkan Otoritas Moneter ini sebagai kelanjutan paket kebijakan pada tanggal 9 September 2015. Paket kebijakan lanjutan tersebut difokuskan pada 3 pilar kebijakan yakni menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, memperkuat pengelolaan likuiditas rupiah, dan memperkuat pengelolaan penawaran dan permintaan valuta asing (valas). Di sisi lain, Pemerintah menurunkan target penerimaan pajak nonmigas pada tahun depan sebesar Rp12,8 triliun atau menjadi Rp1.504,5 triliun. Dalam usulan target awal di Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2016, target perpajakan nonmigas dipatok sebesar Rp1.517,3 triliun. Dari global, saham-saham AS ditutup menguat pada Selasa (29/09) setelah data menunjukkan kenaikkan indeks kepercayaan konsumer dan kenaikan harga rumah yang lebih baik dari estimasi. Dari regional, indeks bursa Jepang rebound pada Rabu (30/09), didorong oleh percikan optimisme dari penguatan di Wall Street. Indeks Nikkei 225 ditutup menguat 2,7% atau 457,31 poin ke level 17.388,15. Nikkei rebound setelah kemarin turun 4,05% ke level terendah dalam 8 bulan terakhir. Sementara Shanghai Composite Index ditutup menguat tipis sebesar 0,48% ke level 3.052,78. Meskipun menguatan, indeks Shanghai mencatatkan kuarter terburuk sejak tahun 2008 dipengaruhi oleh kekhawatiran investor akan hasil kinerja perusahaan di tengah-tengah perlambatan ekonomi negeri Tiongkok. Mengikuti pergerakan bursa seluruh dunia, Hang Seng juga ditutup menguat 1,41% ke level 20.846,30. Dari Eropa, indeks bursa Eropa tentative menguat pada Rabu (30/09) mengikuti rebound dibursa Wall Street. Bursa-bursa di penjuru Eropa bergerak di zona hijau mengikuti pergerakan saham di Wall Street. Investor di Eropa hari ini menanti data pengangguran dan inflasi zona Euro. Tingkat pengangguran diprediksi stagnan di 10,9% pada Agustus, sedangkan indeks harga konsumen Eropa diprediksi stagnan pada September setelah mencatatkan inflasi 0,1% pada Agustus.
Membaiknya pasar saham global pada penutupan hari Rabu, diperkirakan dapat menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG pada perdagangan saham hari ini. Bursa saham AS menguat di perdagangan terakhir kuartal ketiga tahun ini, Kenaikan indeks Wall Street tersebut di tengah penantian pidato Federal Reserve, Janet Yellen untuk melihat proyeksi kenaikan suku bunga AS. Kenaikan indeks AS tersebut, dipicu oleh sentimen dari Automatic Data Processing Inc. (ADP) yang melaporkan penambahan tenaga kerja sebanyak 200.000 di bulan September. Data tersebut menunjukkan ketangguhan pasar tenaga kerja AS. Sementara itu aktvitas manufaktur Chicago secara mengejutkan berkontraksi di bulan September. Data menunjukkan indeks aktivitas manufakur turun menjadi 48,7, dari bulan Agustus 54,4, dan jauh di bawah estimasi ekonom sebesar 53,2. Pada hari yang sama, sebelumnya bursa saham Eropa juga ditutup diarea positif. Investor berspekulasi bahwa kuartal terburuk dalam empat tahun sudah menunjukan kekhawatiran mengenai outlook ekonomi yang lemah. Penguatan saham Eropa ini setelah data inflasi zona Euro yang mengecewakan memacu harapan stimulus dalam waktu dekat. Estimasi awal dari Eurostat menunjukkan inflasi blok Euro turun menjadi minus 0,1% di bulan September dari 0,1% di bulan Agustus. European Central Bank secara intensif terus memantau tekanan harga yang lemah di kawasan itu, dengan Presiden ECB Mario Draghi telah mengkonfirmasi kesiapan bank sentral untuk meningkatkan program pelonggaran kuantitatif, jika diperlukan, guna melawan resiko deflasi. Sedangkan dari Asia membaiknya data Cina telah meredakan kepanikan yang salama ini membayangi tekan pasar Asia. Sentimen konsumen di Cina naik ke level tertinggi dalam lebih dari setahun di bulan September, seiring konsumen nampak mengabaikan gejolak pada bursa saham. China Consumer Sentiment Indicator dari Westpac MNI naik menjadi 118.2 di bulan September dari 116.5 di bulan Agustus, meraih level tertinggi sejak Mei 2014. Konsumen nampak merespon positif perkembangan kebijakan belakangan ini, termasuk pemangkasan suku bunga bulan lalu dan usulan reformasi pada perusahaan BUMN, Selain itu, indeks kondisi bisnis yang naik di bulan September dengan ekspektasi kondisi bisnis setahun kedepan mencapai level tertinggi dalam hampir selama 2 tahun dan indeks kondisi bisnis dalam 5 tahun kedepan juga naik. Sedangkan dari dalam negeri, pasar berharap paket kebijakan ekonomi tahap dua dapat memberikan dorongan pada sektor riil.
DAILY REPORT
01 Oktober 2015
•TLKM kucurkan dana Rp 3 mliar untuk UMKM hingga 9M 2015
•ISAT masih minat beli saham LINK
•ISAT anggarkan capex tahun 2016 sekitar Rp 6-7 triliun
•ISAT tunda konversi utang valas ke rupiah
•Produksi CPO AALI hingga Agustus 2015 turun 0,3%
•HRUM alihkan pasar penjualan batu bara
•PTPP akan mendirikan anak usaha
•WSKT tambah modal disetor & ditempatkan Rp10 miliar ke WTR
•ADHI optimistis proyek LRT sesuai target
•CTRS targetkan 40% marketing sales dari proyek baru
•Pendapatan DILD naik 16%
•BBNI menargetkan funding tumbuh 108,46%
•BMRI siapkan Rp30 triliun
•BJBR menggandeng mitra strategis
•WOMF butuh dana Rp 1,8 triliun untuk kuartal IV 2015
•SIPD bukukan rugi sekitar Rp 200 miliar selama 8 bulan terakhir
•BLTZ rugi Rp 11,54 miliar di 1H 2015
•BAJA rugi Rp 20,45 miliar di 1H 2015 dari laba Rp 32,36 miliar.
•Rights issue RIMO ditunda
•DAJK private placement Rp118,43 miliar
•Kereta cepat Jakarta-Bandung digarap Cina-WIKA-JSMR
•Konsorsium JSMR-WIKA-PTPP-WSKT garap tol Manado-Bitung
Support Level 4187/4150/4131 Resistance Level 4242/4261/4298 Major Trend Down
1 October 2015
1 October 2015
Hingga triwulan III 2015 Telekomunikasi Indonesia (TLKM) telah mengucurkan dana sebesar Rp 3 miliar kepada 109 mitra binaan. Dana tersebut merupakan bagian dari program Coorporate Social Responsibility (CSR) yang diberikan kepada usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di berbagai sektor, seperti industri perdagangan, pertanian, perikanan, peternakan, jasa, dan koperasi. UMKM binaan tersebut tersebar di seluruh eks Karesidenan Surakarta seperti Boyolali, Karanganyar, Klaten, Sragen, Sukoharjo, Solo, Wonogiri, hingga Yogyakarta. Besaran dana per UMKM berkisar Rp 10 juta – Rp 70 juta dan bunga maksimal 6% per tahun. Program penyaluran kredit tersebut sudah berjalan sejak tahun 2000. Hingga saat ini Telkom Solo telah mengucurkan dana hingga sekitar Rp 71,8 miliar dengan total mitra binaan sebanyak 2.630 orang.
Indosat (ISAT) masih berminat mengambil saham Link Net (LINK), anak usaha Lippo Grup. Perseroan membantah kabar sudah mundur dari negosiasi tersebut. ISAT masih menunggu
penawaran final dari Link Net. Saat ini belum ada tenggat
waktu yang ditetapkan dari pihak Lippo Grup terhadap rencana pelepasan anak usahanya itu.
Indosat (ISAT) menargetkan tahun 2015 bisa menyerap belanja modal sekitar Rp 8 triliun - Rp 9 triliun. Namun di tahun 2016 ISAT akan lebih berhemat dengan menganggarkan belanja modal sekitar Rp 6 triliun - Rp 7 triliun atau lebih rendah dari tahun 2015, karena ekspansi modernisasi jaringan sudah banyak diselesaikan. Dana belanja modal itu akan digunakan untuk ekspansi modernisasi jaringan, khususnya jaringan 4G-LTE. Seluruh belanja modal akan berasal dari dana kas perseroan. Di tengah situasi yang belum menentu, ISAT ingin belanja modalnya lebih efisien untuk meminimalkan beban, karena sebagian besar pengeluaran ISAT berbentuk valuta asing sementara pendapatan dalam rupiah. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar membuat beban ISAT makin berat. ISAT menahan diri untuk tidak menarik pinjaman baru. Pinjaman baru hanya akan dilakukan dalam hal refinancing atau membayar utang. ISAT menargetkan pertumbuhan pendapatan tahun 2016 sebesar 6%-7% dari tahun 2015, sama dengan pertumbuhan industri. ISAT juga masih akan berupaya mengonversi utang dolarnya menjadi rupiah untuk meminimalisir rugi kurs. Hingga Agustus 2015, jumlah utang dolar ISAT mencapai USD 515 juta dari total Rp 22,6 triliun. Namun saat ini proses konversi utang itu masih harus menunggu penguatan rupiah dan perbaikan kondisi ekonomi.
Indosat (ISAT) menyatakan bahwa pelemahan rupiah terhadap US dolar yang berkelanjutan memaksa perseroan untuk menunda rencana mengkonversi utang valuta asing ke rupiah. Utang valas Indosat sudah mencapai 50% dari total kewajiban. Adanya potensi risiko selisih nilai tukar, maka Indosat sempat merencanakan perubahan komposisi menjadi 20% utang dalam bentuk valas. Rencana tersebut disikapi perseroan dengan meningkatkan penghimpunan dana dalam bentuk rupiah. Namun saat ini depresiasi rupiah justru terjadi secara gradual dan masih dalam tren melemah, sehingga ketidakpastian potensi pembalikan arah menguat pada rupiah telah memaksa Indosat untuk menunda
rencana konversi tersebut. Sebelumnya ISAT berencana
mengkonversi utang valas berkisar USD 150 juta-USD 200 juta pada tahun 2015.
Hingga Agustus Astra Agro Lestari (AALI) memproduksi 1,13 juta ton Crude Palm Oil (CPO), turun 0,3% dari 1,14 juta ton di periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi TBS nukleus perusahaan berkurang 0,7% dari 3,69 juta ton menjadi 3,66 juta
ton. Sedang produksi TBS eksternal meningkat 6% dari 1,52 juta ton ke posisi 1,61 juta ton. Secara keseluruhan produksi TBS AALI turun 0,9% dari 3,7 juta ton menjadi 3,67 juta ton. Yield tanaman turun 1% dari 14,48 ton per hektar menjadi 14,34 ton per hektar. Produksi TBS di Sumatera dan Sulawesi masing-masing naik 4,5% dan 3%. Namun produksi di Kalimantan turun 7,6%. Produksi kernel AALI turun 1,3% menjadi 241.077 ton dari 244.163 ton di periode yang sama tahun sebelumnya. Harum Energy (HRUM) menyatakan pasar batubara sedang lesu saat ini. Perseroan mengalihkan penjualan batubaranya ke pasar-pasar yang lebih stabil, seperti Korea Selatan, Taiwan, dan Malaysia. Negara-negara tujuan ekspor batubara perseroan itu dinilai tidak terlalu terpengaruh oleh perlambatan ekonomi dunia. dikarenakan kebutuhan batubaranya cukup stabil, yang terutama diperuntukkan bagi industri pembangkit tenaga listrik yang sudah ada.
Perusahaan konstruksi milik negara, Pembangunan Perumahan (PTPP) berencana mendirikan anak usaha bernama PP Energi yang akan secara khusus melakukan investasi di sektor
Engineering, Procurement, dan Cosntruction (EPC). PTPP saat ini
sedang menyusun rencana bisnis anak perusahaan yang diharapkan dapat berdiri pada tahun 2016. PTPP akan menjadi pemegang saham mayoritas PP Energi dengan kepemilikan 100%. Waskita Karya (WSKT) telah menambah modal disetor dan ditempatkan secara tunai sebesar Rp 10 miliar pada anak perusahaan dengan kepemilikan 99,99% yaitu PT Waskita Toll Road. Penambahan modal tersebut dimaksudkan untuk digunakan sebagai setoran awal pendirian PT Waskita MNC Transjawa Toll Road (WMTTR).
Adhi Karya (ADHI) optimistis bisa menyelesaikan pembangunan
prasarana kereta api ringan (light rail transit/LRT) terintegrasi di
Jakarta, Bgoro, Depok dan Bekasi. Perusahaan telah menjamin kesiapan teknis dan pendanaan untuk proyek lintasan sepanjang 83,6 km tersebut. Saat ini, ADHI sedang menyiapkan dokumen teknis dan dokumen anggaran biaya yang meliputi spesifikasi teknis, gambar, detailed engineering dan lain-lain, untuk seluruh lintas pelayanan.
Ciputra Surya (CTRS) menargetkan 40% dari marketing sales atau pra penjualan berasal dari proyek baru. Sementara sebagian besar atau sekitar 60% masih ditargetkan dari proyek-proyek eksisting. Marketing sales tahun 2015 ditargetkan sebesar Rp 2,28 triliun. Ada tiga proyek baru yang akan menyumbang kontribusi terhadap target marketing sales, diantaranya Office tower Ciputra World Surabaya, SOHO Surabaya tahap II dan Proyek Sunset Cove Residence di Losari Makassar. Beberapa proyek eksisting yang masih bisa menyumbang para penjualan tahun ini diantaranya Citraland Surabaya, Citraland Medan, Citraland Sidoarjo dan lain-lain. Pendapatan Intiland Development (DILD) selama enam bulan pertama 2015 meningkat 16% menjadi Rp993 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp854,77 miliar. Naiknya revenue didorong oleh pertumbuhan nilai penjualan
proyek kondominium 1Park Avenue dan South Quarter.
Bank Negara Indonesia (BBNI) melihat potensi peningkatan dana murah dari kerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang penyaluran dana tunjangan guru. Dana yang berkisar Rp 80 triliun itu akan ditempatkan di produk tabungan. Dalam penyalurannya, dana tunjangan guru akan
1 October 2015
1 October 2015
melalui 3 bank BUMN, yaitu BNI, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI). Namun porsi masing-masing bank belum ditentukan. Penempatan dana tunjangan guru akan memicu peningkatan dana murah di BNI. Tahun ini perseroan memperkirakan porsi dana murah BNI akan mencapai 65% dari total dana pihak ketiga (DPK). Namun ke depan porsi dana murah diharapkan bisa meningkat hingga 70%. BNI juga menilai kerja sama penyaluran dana tunjangan guru akan meningkatkan jumlah nasabah. Saat ini ada sekitar 3 juta guru di Indonesia. Nantinya guru-guru tersebut harus mempunyai rekening tiga bank BUMN.
Bank Negara Indonesia (BBNI) merencanakan adanya
penambahan funding nonkonvensional menjadi Rp27,1 triliun
pada 2017, tumbuh 108,46% dari kondisi saat ini. Dalam rencana bisnis bank (RBB) 2015-2017 yang telah diserahkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah dicatatkan proyeksi sumber
kebutuhan funding. Funding nonkonvensional ini meliputi pinjaman
antar bank dan global bond. Saat ini, total pinjaman nonkonvensional kurang lebih sekitar US$1,4 miliar.
Bank Mandiri (BMRI) menyiapkan pipeline pembiayaan
infrastruktur senilai Rp30 triliun dalam jangka waktu dua tahun
mendatang. Pipeline infrastruktur tersebut merupakan
proyek-proyek pemerintah yang dijalankan oleh badan usaha milik negara (BUMN). Dalam menyalurkan kredit dalam proyek-proyek yang ada dalam pipeline tersebut, perusahaan akan bekerjasama dengan bank-bank pembangunan daerah. Selanjutnya, komitmen pembiayaan BMRI di sektor infrastruktur hingga saat ini mencapai kurang lebih Rp7 triliun. Hingga akhir tahun, perusahaan memproyeksikan akan menyalurkan kredit infrastruktur sejumlah Rp10 triliun.
Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BJBR) memacu penghimpunan dana pihak ketiga melalui berbagai strategi, salah satunya dengan menggandeng mitra bisnis potensial. Pada hari Rabu (30/09), BJBR menandatangani Perpanjangan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Taspen dalam pembayaran tabungan hari tua, tabungan hari tua multiguna, dan pensiun melalui rekening. Kerja sama ini sesui dengan misi bank tahun ini untuk focus meningkatkan market share DPK melalui promosi, pemasaran produk dana dan inovasi produk.
Wahana Ottomitra Multiartha (WOM Finance/WOMF) mulai mencari sumber pendanaan memasuki kuartal IV 2015. Perseroan membutuhkan dana segar sekitar Rp 1,8 triliun untuk penunjang modal kerja. Kebutuhan dana WOM Finance akan disalurkan kembali dalam bentuk pembiayaan kendaraan roda dua. Sejauh ini, kebutuhan pendanaan WOM Finance ditopang oleh Bank Internasional Indonesia (BNII). Kebutuhan pendanaan untuk penyaluran pembiayaan periode September hingga Desember 2015 sekitar Rp 1,8 triliun.
Sierad Produce (SIPD) membukukan kerugian sekitar Rp 200
miliar selama delapan bulan ke belakang. Hal tersebut terjadi dikarenakan sebanyak 50% dari biaya produksi perseroan seperti obat-obatan dan kacang kedelai masih diimpor dan masih berbentuk US dolar. Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap US dolar yang saat ini masih terus terjadi membuat perseroan membukukan kerugian.
Graha Layar Prima (BLTZ), pengelola bioskop BlitzMegaplex, membukukan rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp 11,54 miliar di semester I
2015 dari sebelumnya rugi Rp 28,85 miliar. Rugi per saham dasar
yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp 34, dari rugi per saham Rp 119. Pendapatan neto BLTZ meningkat pada semester I 2015 menjadi Rp 191,99 miliar dari sebelumnya Rp 153,30 miliar.
Saranacentral Bajatama (BAJA) mencatat rugi tahun berjalan pada semester I 2015 mencapai Rp 20,45 miliar dari sebelumnya membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 32,36 miliar. Salah satu kerugian BAJA disebabkan oleh kerugian kurs mata uang asing mencapai Rp 34,80 miliar pada semester I 2015, dari
sebelumnya meraih keuntungan sebesar Rp 9,76 miliar. Meski
penjualan bersih Perseroan meningkat per Juni 2015 menjadi Rp 615,85 miliar dari Rp 572,33 miliar pada periode serupa tahun sebelumnya, namun beban pokok penjualan juga meningkat dari Rp 528,98 miliar menjadi Rp 591,54 miliar.
Rimo International Lestari (RIMO) harus menunda rencana pelaksanaan penawaran umum terbatas 1 melalui hak memesan
efek terlebih dahulu atau rights issue Rp8,1 triliun karena tidak
memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Rencana pelaksanaan rights issue ke depan belum bisa ditentukan saat ini, karena perusahaan masih harus melakukan koordinasi terlebih dahulu. Pada RUSPLB yang diadakan Rabu (30/09), perusahaan membahas tujuh agenda, termasuk di dalamnya rencana peningkatan modal ditempatkan dan disetor serta pengeluaran asham dalam simpanan (porpotel) dengan cara right issue. Berhubung izin penerbitan rights issue dari OJK tidak diperoleh, RIMO hanya membahas tiga agenda yakni peningkatan modal dasar, perubahan susunan direksi dan komisaris, dan perubahan anggaran dasar perusahaan sesuai dengan peraturan OJK.
Dwi Aneka Jaya Kemasindo (DAJK) akan melakukan penerbitan saham sebanyak-banyakanya 250.000.000 saham biasa tanpa hak memesan efek terlebih dahulu. Harga pelaksanaan dari aksi korporasi ini minimal Rp474 per saham sehingga perseroan diperkirakan memperoleh minimal dana sebesar Rp118,43 miliar. Dana hasil private placement ini akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan yang digunakan untuk pengembangan usaha dan peningkatan modal kerja. Sehubungan dengan rencana transaksi ini, perseroan akan meminta persetujuan dari para pemegang saham dalam RUPSLB pada 20 Oktober 2015.
Nusantara Inti Corpora (UNIT) mencatat rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada semester I 2015 mencapai Rp 3,61 miliar dari sebelumnya Rp 52,51 miliar.
Pemerintah memastikan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung akan digarap investor China. Pelaksanaan proyek yang diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp 60 triliun tersebut
akan dilaksanakan dengan model kerja samabusiness to
business(B to B) antara investor China dengan konsorsium
badan usaha milik negara (BUMN). Pemerintah telah memutuskan mengubah model kerja sama proyek
darigoverment to goverment(G to G) menjadi B to B. BUMN
yang akan terlibat dalam konsorsium proyek kereta cepat meliputi Wijaya Karya (WIKA), Jasa Marga (JSMR), PT Kereta Api Indonesia, serta PT Perkebunan Nusantara VIII. Usulan penambahan modal dari Wijaya Karya senilai Rp 3 triliun dalam rancangan APBN 2016 nantinya harus dialihkan ke proyek lain dan tidak boleh dialokasikan untuk proyek kereta cepat. Sehingga nanti kontribusi BUMN ke pemerintah hanya berupa hasil pendapatan.
1 October 2015
1 October 2015
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah menandatangani proyek tol Manado-Bitung, Sulawesi Utara.
Pembangunantol Manado-Bitungterbagi menjadi dua seksi
dengan total panjang 39,9 km. Dalam paket pembangunanjalan
tolManado-Bitung yang ditandatangani merupakan Seksi I
sepanjang 14,9 Km. Namun untuk sisanya sepanjang 25 Km akan diberikan dan dilelang kepada investor lokal maupun luar. Saat ini telah ada empat investor yang berminat mengerjakan 25 km tol Manado-Bitung, d antaranya konsorsium Jasa Marga (JSMR), Wijaya Karya (WIKA), Pembangunan Perumahan (PTPP), Waskita Tol Road yaiut anak usaha Waskita Karya (WSKT), Bangun Tjipta Sarana dan Konsorsium HCM. Tol Manado-Bitung ditargetkan bisa selesai secara keseluruhan pada tahun 2018.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mendapat jatah mengerjakan Seksi I-Segmen I dalam proyek pembangunan tol Manado-Bitung sepanjang 7,9 km. Hingga saat ini pembebasan lahan mencapai 22%. Untuk Seksi I-Segmen II sepanjang 7 km menggunakan pinjaman yang telah dikerjasamakan dengan pihak China. Proses pembebasan lahan tersebut, telah mencapai 94%. Tol Manado-Bitung dibagi ke dalam dua seksi pengerjaan dengan total panjang tol 39,9 km. Seksi I terdiri dari 14,9 km yang dibagi ke dalam dua segmen. Segmen I dikerjakan pemerintah sepanjang 7,9 km dan Segmen II dikerjakan Tiongkok Hebel Road and Bridge Group Co. Ltd sepanjang 7 km.
Proses pengerjaan konstruksi tol Manado-Bitung diharapkan selesai pada tahun 2018. Kontraktor pelaksana telah ditetapkan yaitu Tiongkok Hebel Road dan Bridge Group.Co.Ltd yang akan bekerja sama dengan PT Hutama Karya (Persero). Kedua kontraktor ini diharapkan menyelesaikan pembangunan konstruksi selesai pada Juni 2018. Kedua kontraktor ini akan mengerjakan Paket pembangunan jalan tol Manado-Bitung yang ditandatangani merupakan Seksi I sepanjang 14,9 Km. Pembangunan tol Manado-Bitung terbagi menjadi dua seksi dengan total panjang 39,9 km.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) mencatat serapan anggaran Kementerian PUPR per 30 September 2015 baru mencapai 41%. Hingga akhir September 2015 Kementerian PUPR menargetkan serapan anggaran dapat tercapai sekitar 44%. Kementerian PUPR akan berusaha menyerap 3% yang bernilai Rp 3 Triliun. Ada beberapa kendala yang harus dihadapi, antara lain kendala yang harus dijaga ketersediaan material.
Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah melakukan pelelangan tahap I 61 paket dengan nilai Rp 3,71 triliun. Pagu anggaran Ditjen Bina Marga Tahun Anggaran (TA) 2016 sekitar Rp 46 triliun. Total nilai 305 paket tersebut senilai Rp 9,32 triliun. Pelelangan dini sendiri akan terus dilakukan setiap bulannya hingga akhir tahun 2015. Dengan strategi lelang dini mulai dari Agustus hingga Desember, direncanakan pada Januari 2016 sudah menandatangani kontrak paket TA 2016 senilai Rp 16,73 triliun. Dari 366 paket yang telah dilelang, sebanyak 111 paket dengan nilai Rp 7,18 triliun merupakan pekerjaan penanganan jalan dan jembatan yang
nilainya lebih dari Rp 50 miliar. Sedangkan 100paketdengan nilai
Rp 3,85 triliun merupakan pekerjaan yang nilainya antara Rp 30-50 miliar. Sebanyak 86 paket dengan nilai Rp 1,6 triliun adalah kontrak bernilai Rp 10-30 miliar dan 69 paket lainnya senilai Rp 0,4 triliun merupakan pekerjaan dengan nilai kontrak kurang Rp 10 miliar.
Bank Indonesia (BI) menerbitkan paket kebijakan II mengenai
stabilisasi nilai tukar Rupiah. Paket kebijakanSeptember II ini
sebagai bentuk lanjutan dari paket kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah I pada 9 September 2015. Paket kebijakan lanjutan ini difokuskan pada tiga pilar, yaitu menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, memperkuat pengelolaan likuiditas Rupiah, dan memperkuat pengelolaan penawaran dan permintaan valuta asing (valas). Paket kebijakan September II ini diharapkan dapat memperkuat stabilitas makroekonomi dan struktur perekonomian Indonesia, termasuk sektor keuangan sehingga semakin berdaya tahan. Dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah kehadiran Bank Indonesia di pasar valas domestik dalam melakukan stabilisasi nilai tukar Rupiah diperkuat dengan intervensi di pasar forward. Di samping melakukan intervensi di pasar spot, BI juga akan mengintervensi di pasar forward guna menyeimbangkan penawaran dan permintaan di pasar forward. Memperkuat pengelolaan likuiditas Rupiah, dengan pengendalian likuiditas Rupiah diperkuat dengan menerbitkan sertifikat deposito bank Indonesia (SDBI) tiga bulan dan reserve repo SBN dengan tenor dua minggu. Penerbitan instrumen operasi pasar terbuka (OPT) tersebut dimaksudkan untuk mendorong penyerapan likuiditas sehingga bergeser ke instrumen yang bertenor lebih panjang. Pergeseran likuiditas ke tenor yang lebih panjang diharapkan dapat mengurangi risiko penggunaan likuiditas rupiah yang berlebihan pada kegiatan yang dapat meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Memperkuat pengelolaan penawaran dan permintaan valuta asing (valas), pengelolaan penawaran dan permintaan terhadap valas diperkuat dengan berbagai kebijakan. Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2015 di level 4,9%, lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal II 2015 sebesar 4,67%.
1 October 2015
COMMODITIES DUAL LISTING
Description Price (USD) Change Description Price (USD) Price (IDR) Change
(IDR) Crude Oil (US$)/Barrel 45.35 0.26 TLKM (US) 35.65 2,611.81 65.94
Natural Gas (US$)/mmBtu 2.53 0.01 ANTM (GR) 0.02 327.36 0.00
Gold (US$)/Ounce 1,115.17 0.10 Nickel (US$)/MT 10,400.00 525.00 Tin (US$)/MT 15,525.00 -25.00 Coal (NEWC) (US$)/MT* 53.85 -8.55 Coal (RB) (US$)/MT* 49.65 -13.71 CPO (ROTH) (US$)/MT 527.50 -112.50
CPO (MYR)/MT 2,238.00 47.00
Rubber (MYR/Kg) 685.00 -3.50
Pulp (BHKP) (US$)/per ton 809.65 0.28 *weekly
GLOBAL INDICES VALUATION
Change PER (X) PBV (X)
Country Indices Price
%Day %YTD 2014E 2015F 2014E 2015F
Market Cap (USD Bn) USA DOW JONES INDUS. 16,284.70 1.47 -8.63 14.92 13.72 2.79 2.65 4,873.78 USA NASDAQ COMPOSITE 4,620.16 2.28 -2.45 20.12 17.71 3.17 2.96 7,125.54 ENGLAND FTSE 100 INDEX 6,061.61 2.58 -7.68 15.07 13.86 1.69 1.64 1,497.95 CHINA SHANGHAI SE A SH 3,197.37 0.48 -5.67 12.89 11.50 1.54 1.40 3,954.26 CHINA SHENZHEN SE A SH 1,795.36 0.29 21.43 25.71 20.17 3.02 2.69 2,716.14 HONG KONG HANG SENG INDEX 20,846.30 1.41 -11.69 10.41 9.69 1.10 1.03 1,675.56 INDONESIA JAKARTA COMPOSITE 4,223.91 1.09 -19.19 13.95 12.09 2.10 1.88 276.22 JAPAN NIKKEI 225 17,388.15 2.70 -0.36 16.42 15.00 1.48 1.38 2,655.65 MALAYSIA KLCI 1,621.04 1.11 -7.96 15.80 14.45 1.75 1.65 217.26 SINGAPORE STRAITS TIMES INDEX 2,790.89 0.11 -17.06 12.00 11.17 1.08 1.03 267.72
FOREIGN EXCHANGE FOREIGN EXCHANGE
Description Rate (IDR) Change Description Rate (USD) Change
USD/IDR 14,652.50 -38.50 1000 IDR/ USD 0.06825 0.00018
EUR/IDR 16,367.87 -71.18 EUR / USD 1.11707 -0.00063
JPY/IDR 122.21 0.36 JPY / USD 0.00834 0.00000
SGD/IDR 10,292.21 -5.10 SGD / USD 0.70242 -0.00067
AUD/IDR 10,270.74 -37.29 AUD / USD 0.70096 -0.00084
GBP/IDR 22,156.34 -50.58 GBP / USD 1.51212 -0.00068
CNY/IDR 2,305.30 -7.87 CNY / USD 0.15733 0.00019
MYR/IDR 3,334.28 38.22 MYR / USD 0.22756 0.00319
KRW/IDR 12.38 0.15 100 KRW / USD 0.08446 0.00127
CENTRAL BANK RATE INTERBANK LENDING RATE
Description Country Rate (%) Description Country Rate (%)
FED Rate (%) US 0.25 JIBOR (IDR) Indonesia 8.17
BI Rate (%) Indonesia 7.50 LIBOR (GBP) England 0.51
ECB Rate (%) Euro 0.05 SIBOR (USD) Singapore 0.17
BOJ Rate (%) Japan 0.10 D TIBOR (YEN) Japan 0.13
BOE Rate (%) England 0.50 Z TIBOR (YEN) Japan 0.13
1 October 2015
INDONESIAN ECONOMIC INDICATORS SBI
Description August-15 July-15 Description Rate (%)
Inflation YTD % 2.29 1.90 SBI (9M) 6,66058
Inflation YOY % 7.18 7.26 SBIS (9M) 6,66058
Inflation MOM % 0.39 0.93
Foreign Reserve (USD) 105.35 Bn 107.55 Bn GDP (IDR Bn) 2,866,909.10 2,728,847.00
BUSINESS & ECONOMIC CALENDAR
Date Agenda Expectation
01 Okt Indonesia CPI MoM Turun menjadi 0.10% dari 0.39%
01 Okt Indonesia CPI YoY Turun menjadi 7.00% dari 7.18%
01 Okt US Initial Jobless Claims Naik menjadi 272 ribu dari 267 ribu
01 Okt US Continuing Claims Turun menjadi 2230 ribu dari 2242 ribu
01 Okt US ISM Manufacturing Turun menjadi 50.6 dari 51.1
01 Okt US ISM Prices Paid Naik menjadi 40.0 dari 39.0
01 Okt US Construction Spending MoM Turun menjadi 0.6% dari 0.7%
01 Okt US Domestic Vehicle Sales Tetap 13.80 juta
01 Okt US Total Vehicle Sales Turun menjadi 17.50 juta dari 17.72 juta
02 Okt US Factory Orders Turun menjadi -1.2% dari 0.4%
02 Okt US Unemployment Rate Tetap 5.1%
02 Okt US Underemployment Rate --
Ket: (*) US Time (^) Tentative
LEADING MOVERS LAGGING MOVERS
Stock Price Change (%) Index pt Stock Price Change (%) Index pt
BBCA IJ 12275 3.15 9.60 PGAS IJ 2530 -5.95 -4.07 BBRI IJ 8650 3.59 7.68 ASII IJ 5225 -1.42 -3.18 TLKM IJ 2645 1.54 4.23 GGRM IJ 42000 -1.75 -1.51 BMRI IJ 7925 1.93 3.63 KLBF IJ 1375 -1.43 -0.98 AMRT IJ 570 10.68 2.39 BDMN IJ 2895 -2.53 -0.75 UNTR IJ 17475 3.40 2.25 WSKT IJ 1550 -3.13 -0.71 LPPF IJ 16100 4.72 2.22 MIKA IJ 29575 -1.42 -0.65 SCMA IJ 2740 5.38 2.15 AKRA IJ 5850 -1.68 -0.41 MNCN IJ 1640 9.33 2.10 SRIL IJ 384 -4.71 -0.37 INCO IJ 2185 7.90 1.67 SMGR IJ 9050 -0.55 -0.31 UPCOMING IPO'S
Company Business IPO Price
(IDR)
Issued
Shares (Mn) Offering Date Listing Underwriter Mitra Komunikasi
Nusantara
Trade & Service 200-300 200.00 20 Oct – 21 Oct’15 26 Oct’15 Minna Padi Investama Gelombang Seismic
Indonesia
1 October 2015
1 October 2015 DIVIDEND
Stock DPS (IDR) Status CUM Date EX Date Recording Payment
SMSM 50.00 Cash Dividend 30 Sep-15 01 Oct-15 05 Oct-15 23 Oct-15 AUTO 10.00 Cash Dividend 30 Sep-15 01 Oct-15 05 Oct-15 16 Oct-15
CORPORATE ACTIONS
Stock Action Ratio EXC. Price (IDR) CUM Date EX Date Trading Period
RIMO Rights Issue 1:90 265.00 TBA TBA TBA
ADHI Rights Issue 1250:1221 1560.00 30 Sep-15 01 Oct-15 07 Oct – 13 Oct’15 MAYA Rights Issue 10:1 1665.00 17 Sep-15 18 Sep-15
25 Sep – 01 Oct’15
HMSP Rights Issue 65:4 65000-77000 TBA TBA TBA
BABP Rights Issue 5:2 100.00 02 Oct-15 05 Oct-15
09 Oct – 22 Oct’15
BCAP Rights Issue 15:2 1500.00 02 Oct-15 05 Oct-15
09 Oct – 20 Oct’15
MAIN Rights Issue 4:1 1200-1600 08 Oct-15 09 Oct-15
16 Oct – 22 Oct’15
ANTM Rights Issue 25:26-37 371.00 15 Oct-15 16 Oct-15
22 Oct – 28 Oct’15
MCOR Rights Issue 100:154 100.00 20 Nov-15 23 Nov-15
27 Nov – 03 Dec’15
UNTX Tender Offer -- 5305.00 -- -- 01 Sep – 31 Oct’15
TRAM Reverse Stock 5:1 -- -- TBA TBA
GENERAL MEETING
Emiten AGM/EGM Date Agenda
MAIN RUPSLB 01-Okt-15
PNBS RUPSLB 02-Okt-15
CMNP RUPSLB 02-Okt-15
BBNI RUPSLB 02-Okt-15
BMRI RUPSLB 05-Okt-15
BSSR RUPSLB 06-Okt-15
ISAT RUPSLB 07-Okt-15
ANTM RUPSLB 07-Okt-15
ESTI RUPSLB 08-Okt-15
HMSP RUPSLB 09-Okt-15
BKSW RUPSLB 09-Okt-15
BBNP RUPSLB 12-Okt-15
1 October 2015
1 October 2015
TLKM
TRADING BUYS1 2575 R1 2700 Trend Grafik Major Down Minor Down
S2 2500 R2 2775
Closing
Price 2645
Ulasan
• MACD line dan signal line indikasi positif
• Stochastics fast line & slow indikasi positif
• Candle chart indikasi potensi rebound
• RSI berada dalam area oversold
•Harga berada dalam area lower band Prediksi •Trading range Rp 2575-Rp 2700
•Entry Rp 2645, take Profit Rp 2700
Indikator Posisi Sinyal
Stochastics 13.68 Positif
MACD 10.07 Positif
True Strength Index (TSI) -40.93 Positif Bollinger Band (Mid) 2712 Negatif
MA5 2632 Positif 2,500 2,600 2,700 2,800 2,900 3,000 3,100
March April May Jun Jul August September TLKM Downward Sloping Channel
2,655 2,645 2,645 2,645 2,632 2,471.07 2,471.07 2,660 2,712.25 2,747.69 2,747.69 2,775 2,811.83 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 TLKM - Stochastic %D(6,3,3) = 17.79, Stochastic %K = 32.18, Overbought Level = 80.00, Oversold Level = 20.00
20 17.7948 17.7948 32.1839 32.1839 80 -20.0 -10.0 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 0.0 TLKM - MACD (5,3) = 7.50, Signal() = 11.81 7.50078 11.8074 -80.0 -60.0 -40.0 -20.0 0.0 20.0 40.0 60.0 TLKM - TSI(3,5,3) = -40.93, Volume() = 89,608,600.00 -40.9274 -43.8771 0.00000 89,608,600 TLKM - William's % R(14) = -49.21, Volume() = 89,608,600.00 -49.2063 89,608,600
Created with AmiBroker advanced charting and technical analysis software http://www amibroker com
BBRI
TRADING BUYS1 8375 R1 8800 Trend Grafik Major Down Minor Down
S2 7975 R2 9200
Closing
Price 8650
Ulasan
• MACD line dan signal line indikasi positif
• Stochastics fast line & slow indikasi positif
• Candle chart indikasi sinyal positif
• RSI berada dalam area oversold
•Harga berada dalam area lower band Prediksi •Trading range Rp 8375-Rp 8800
•Entry Rp 8650, take Profit Rp 8800
Indikator Posisi Sinyal
Stochastics 8.02 Positif
MACD -175.11 Positif
True Strength Index (TSI) -59.49 Positif Bollinger Band (Mid) 9474 Negatif
MA5 8530 Positif 8,000 9,000 10,000 11,000 12,000 13,000
March April May Jun Jul August September
BBRI Downward Sloping Channel
8,912.5 8,650 8,650 8,650 8,530 7,931.25 7,931.25 9,473.75 9,525 9,736.67 9,736.67 10,075 10,591.3 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 100.0 BBRI - Stochastic %D(6,3,3) = 12.66, Stochastic %K = 21.31, Overbought Level = 80.00, Oversold Level = 20.00
20 12.6613 12.6613 21.3088 21.3088 80 -180.0 -120.0 -60.0 0.0 60.0 120.0 180.0 240.0 0.0 BBRI - MACD (5,3) = 97.51, Signal() = 145.96
97.5055 145.96 -80.0 -60.0 -40.0 -20.0 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 BBRI - TSI(3,5,3) = -59.49, Volume() = 75,084,896.00
-59.4887 -64.3186 0.00000
75,084,896
BBRI - William's % R(14) = -67.86, Volume() = 75,084,896.00 -67.8571
75,084,896
1 October 2015
1 October 2015
INCO
TRADING BUYS1 2075 R1 2260 Trend Grafik Major Down Minor Up
S2 1890 R2 2445
Closing
Price 2185
Ulasan
• MACD line dan signal line indikasi positif
• Stochastics fast line & slow indikasi positif
• Candle chart indikasi sinyal positif
• RSI berada dalam area overbought
•Harga berada dalam area upper band Prediksi •Trading range Rp 2075-Rp 2260
•Entry Rp 2185, take Profit Rp 2260
Indikator Posisi Sinyal
Stochastics 88.96 Positif
MACD 81.64 Positif
True Strength Index (TSI) 73.11 Positif Bollinger Band (Mid) 1638 Positif
MA5 2036 Positif 600 1,200 1,800 2,400 3,000 3,600
March April May Jun Jul August September INCO Upward Sloping Channel
1,950.56 1,950.56 1,912.5 1,637.75 1,590 1,445 1,220 2,036 2,185 2,185 2,185 2,264.67 2,264.67 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 INCO - Stochastic %D(6,3,3) = 81.77, Stochastic %K = 79.73, Overbought Level = 80.00, Oversold Level = 20.00
79.735 79.735 20 80 81.7743 81.7743 -80.0 -60.0 -40.0 -20.0 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 0.0 INCO - MACD (5,3) = -67.65, Signal() = -64.79
-67.6478 -64.7936 -100.0 -80.0 -60.0 -40.0 -20.0 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 INCO - TSI(3,5,3) = 73.11, Volume() = 16,689,800.00 72.854
0.00000 73.1072
16,689,800
INCO - William's % R(14) = -4.38, Volume() = 16,689,800.00 -4.375 16,689,800
Created with AmiBroker advanced charting and technical analysis software http://www amibroker com
EXCL
TRADING BUYS1 2460 R1 2725 Trend Grafik Major Down Minor Down
S2 2225 R2 2960
Closing
Price 2615
Ulasan
• MACD line dan signal line indikasi positif
• Stochastics fast line & slow indikasi positif
• Candle chart indikasi potensi rebound
• RSI berada dalam area netral
•Harga berada dalam area upper band
Prediksi •Trading range Rp 2460-Rp 2725
•Entry Rp 2615, take Profit Rp 2725
Indikator Posisi Sinyal
Stochastics 21.28 Positif
MACD 2.77 Positif
True Strength Index (TSI) 29.10 Positif Bollinger Band (Mid) 2522 Positif
MA5 2414 Positif 2,400 3,000 3,600 4,200 4,800
March April May Jun Jul August September EXCL Downward Sloping Channel
2,414 2,411.88 2,240 2,230.71 2,230.71 2,200 2,200 2,522.25 2,525 2,615 2,615 2,615 3,110.18 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 EXCL - Stochastic %D(6,3,3) = 45.82, Stochastic %K = 72.29, Overbought Level = 80.00, Oversold Level = 20.00
45.8169 45.8169 20 72.2908 72.2908 80 -60.0 -40.0 -20.0 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 0.0 EXCL - MACD (5,3) = -38.97, Signal() = -15.39
-38.9712 -15.3931 -80.0 -60.0 -40.0 -20.0 0.0 20.0 40.0 60.0 EXCL - TSI(3,5,3) = 29.10, Volume() = 1,973,600.00
0.00000 -2.84545 29.102
1,973,600
EXCL - William's % R(14) = -8.54, Volume() = 1,973,600.00 -8.53659 1,973,600
1 October 2015
1 October 2015
DILD
TRADING BUYS1 570 R1 605 Trend Grafik Major Down Minor Up
S2 540 R2 635
Closing
Price 585
Ulasan
• MACD line dan signal line indikasi negatif
• Stochastics fast line & slow indikasi positif
• Candle chart indikasi sinyal positif
• RSI berada dalam area oversold
• Harga berada dalam area lower band
Prediksi •Trading range Rp 570-Rp 605
•Entry Rp 585, take Profit Rp 605
Indikator Posisi Sinyal
Stochastics 61.03 Positif
MACD 0.08 Negatif
True Strength Index (TSI) -30.53 Positif Bollinger Band (Mid) 570 Positif
MA5 587 Negatif 450.0 500.0 550.0 600.0 650.0 700.0
March April May Jun Jul August September DILD Upward Sloping Channel
587 585 585 585 575 570.3 512.702 598.125 635 637.667 637.667 647.5 647.5 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 DILD - Stochastic %D(6,3,3) = 23.99, Stochastic %K = 26.31, Overbought Level = 80.00, Oversold Level = 20.00
23.9899 23.9899 20 26.3072 26.3072 80 -15.0 -10.0 -5.0 0.0 5.0 10.0 0.0 DILD - MACD (5,3) = 3.15, Signal() = 3.23
3.14714 3.22532 -100.0 -80.0 -60.0 -40.0 -20.0 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 DILD - TSI(3,5,3) = -30.53, Volume() = 37,580,200.00
-20.7254 -30.5304
0.00000
37,580,200
DILD - William's % R(14) = -50.00, Volume() = 37,580,200.00 -50 37,580,200
Created with AmiBroker advanced charting and technical analysis software http://www amibroker com
BBCA
TRADING BUYS1 11975 R1 12525 Trend Grafik Major Down Minor Up
S2 11600 R2 12900
Closing
Price 12275
Ulasan
• MACD line dan signal line indikasi positif
• Stochastics fast line & slow indikasi positif
• Candle chart indikasi sinyal positif
• RSI berada dalam area netral
• Harga berada dalam area upper band
Prediksi •Trading range Rp 11975-Rp 12525
•Entry Rp 12275, take Profit Rp 12525
Indikator Posisi Sinyal
Stochastics 30.94 Positif
MACD -4.46 Positif
True Strength Index (TSI) -0.52 Positif Bollinger Band (Mid) 12019 Positif
MA5 11865 Positif 11,000 12,000 13,000 14,000 15,000
March April May Jun Jul August September BBCA Wedge 11,990.6 11,865 11,800 11,312.5 11,150 11,150 11,150 12,018.8 12,275 12,275 12,275 12,275 12,737.9 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 BBCA - Stochastic %D(6,3,3) = 29.63, Stochastic %K = 50.89, Overbought Level = 80.00, Oversold Level = 20.00
29.6295 29.6295 20 50.8926 50.8926 80 -120.0 -60.0 0.0 60.0 120.0 180.0 240.0 300.0 0.0 BBCA - MACD (5,3) = -53.29, Signal() = 1.15
-53.2877 1.15143 -80.0 -60.0 -40.0 -20.0 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 BBCA - TSI(3,5,3) = -0.52, Volume() = 18,258,400.00
-0.516601 -14.7403 0.00000
18,258,400
BBCA - William's % R(14) = -15.22, Volume() = 18,258,400.00 -15.2174 18,258,400
1 October 2015
1 October 2015
THESE RECOMMENDATIONS ARE BASED ON TECHNICAL AND ONLY INTENDED FOR ONE DAY TRADING
Price Support Resistance Indicators 1 Month
Ticker Rec
30-09-15 Entry Exit S2 S1 R1 R2 MACD Stoc* MA5* High Low
Agriculture
AALI Trading Buy 18125 18125 18425 17525 17975 18425 18875 Negatif Positif Positif 19200 14425 LSIP Trading Buy 1385 1385 1430 1300 1365 1430 1495 Negatif Negatif Positif 1445 910 SGRO Trading Sell 1070 1070 1040 955 1040 1125 1210 Negatif Negatif Negatif 1720 1110 Mining
PTBA Trading Buy 5625 5625 5700 5300 5500 5700 5900 Positif Positif Positif 6275 5025 ADRO Trading Sell 535 535 520 495 520 545 570 Negatif Positif Negatif 650 467 MEDC Trading Sell 1145 1145 1110 1025 1110 1195 1280 Negatif Positif Negatif 2215 1130 INCO Trading Buy 2185 2185 2260 1890 2075 2260 2445 Positif Positif Positif 2170 1190 ANTM Trading Sell 486 486 471 436 471 505 540 Negatif Positif Negatif 545 450 TINS Trading Buy 640 640 655 575 615 655 695 Positif Positif Positif 660 510 Basic Industry and Chemicals
WTON Trading Sell 780 780 765 725 765 805 845 Negatif Negatif Negatif 1055 765 SMGR Trading Sell 9050 9050 8925 8650 8925 9200 9475 Negatif Positif Negatif 10500 7100 INTP Trading Buy 16450 16450 16675 15825 16250 16675 17100 Negatif Positif Negatif 20050 16000 SMCB Trading Buy 1005 1005 1030 920 975 1030 1085 Positif Positif Positif 1140 895 Miscellaneous Industry
ASII Trading Buy 5225 5225 5325 5025 5175 5325 5475 Negatif Positif Negatif 6400 4975 GJTL Trading Buy 525 525 550 447 499 550 605 Negatif Positif Negatif 715 418 Consumer Goods Industry
INDF Trading Buy 5500 5500 5575 5175 5375 5575 5775 Positif Positif Positif 6000 4560 GGRM Trading Buy 42000 42000 42600 40600 41600 42600 43600 Positif Positif Positif 47650 39500 UNVR Trading Buy 38000 38000 38475 36575 37525 38475 39425 Positif Positif Positif 40400 33000 KLBF Trading Buy 1375 1375 1405 1295 1350 1405 1460 Positif Positif Negatif 1700 1250 Property, Real Estate and Building Construction
BSDE Trading Buy 1405 1405 1425 1325 1375 1425 1475 Positif Positif Positif 1700 1235 PTPP Trading Buy 3465 3465 3490 3400 3445 3490 3535 Positif Positif Positif 3845 2960 WIKA Trading Sell 2590 2590 2555 2485 2555 2625 2695 Negatif Positif Negatif 2920 2370 ADHI Trading Buy 2250 2250 2270 2180 2225 2270 2315 Positif Positif Positif 2340 1665 WSKT Trading Sell 1550 1550 1530 1465 1530 1595 1660 Negatif Negatif Negatif 1800 1505 Infrastructure, Utilities and Transportation
PGAS Trading Sell 2530 2530 2470 2295 2470 2645 2820 Negatif Negatif Negatif 3440 2150 JSMR Trading Sell 4825 4825 4775 4670 4775 4880 4985 Negatif Positif Negatif 5500 4680 ISAT Trading Buy 3750 3750 3800 3500 3650 3800 3950 Positif Positif Positif 4225 3310 TLKM Trading Buy 2645 2645 2700 2500 2575 2700 2775 Positif Positif Positif 2900 2485 Finance
BMRI Trading Buy 7925 7925 8175 7650 7825 8000 8175 Positif Positif Positif 9275 7150 BBRI Trading Buy 8650 8650 8800 7975 8375 8800 9200 Positif Positif Positif 10800 7975 BBNI Trading Buy 4135 4135 4170 4000 4085 4170 4255 Positif Positif Positif 5250 3800 BBCA Trading Buy 12275 12275 12525 11600 11975 12525 12900 Positif Positif Positif 13325 11000 BBTN Trading Sell 995 995 985 965 985 1005 1025 Negatif Positif Negatif 1155 935 Trade, Services and Investment
UNTR Trading Buy 17475 17475 17775 16025 16900 17775 18650 Negatif Positif Positif 20700 15225 MPPA Trading Buy 1920 1920 1940 1810 1875 1940 2005 Negatif Positif Negatif 2635 1825