• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal. Rumput Laut Indonesia. Pusat Unggulan Ipteks Pengembangan dan Pemanfaatan Rumput Laut (PUI-P2RL) Universitas Hasanuddin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal. Rumput Laut Indonesia. Pusat Unggulan Ipteks Pengembangan dan Pemanfaatan Rumput Laut (PUI-P2RL) Universitas Hasanuddin"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PUSAT UNGGULAN IPTEK PERGURUAN TINGGI INDONESIA

Pusat Unggulan Ipteks

Pengembangan dan Pemanfaatan Rumput Laut (PUI-P2RL)

Universitas Hasanuddin

urnal

Rumput Laut Indonesia

J

PUI-P2RL-UNHAS

ISSN 2548-4494

Vol. 1 No. 2, Desember 2016

(2)

Pengembangan dan Pemanfaatan Rumput Laut (PUI-P2RL) yang terdapat di Universitas

Hasanuddin. Jurnal Rumput Laut Indonesia memuat tulisan hasil penelitian dan

pengembangan yang terkait dengan aspek ilmu pengetahuan, teknologi, dan sosial yang

berhubungan dengan rumput laut.

PENANGGUNG JAWAB

Ketua PUI-P2RL Universitas Hasanuddin

DEWAN REDAKSI

Dr. Inayah Yasir, M.Sc. (Ketua)

Andi Arjuna, S.Si., M.Na. Sc.T. Apt. (Sekretaris)

Prof. Dr. Ir. Joeharnani Tresnati, DEA. (Anggota)

Moh. Tauhid Umar, S.Pi., M.P (Anggota)

Raiz Karman, S.Pd. (Anggota)

DEWAN PENYUNTING

Prof. Dr. Ir. Agus Heri Purnomo, M.Sc. (Ekonomi Sumberdaya)

Prof. Dr. Ir. Ambo Tuwo, DEA. (Ekologi)

Prof. Dr. Ir. Ekowati Chasanah, M.Sc. (Bioteknologi dan Pasca Panen)

Prof. Dr. Jana Tjahna Anggadiredja, M.S. (Teknologi Pangan dan Farmasi)

Prof. Dr. Ir. La Ode Muh. Aslan, M.Sc. (Budidaya Rumput Laut)

Prof. Dr. Ir. Metusalach, M.Sc (Pasca Panen)

Agung Sudariono, Ph.D. (Pakan Akuakultur)

Dr. Ir. Andi Parenrengi, M.Si. (Bioteknologi)

Asmi Citra Malina, S.Pi., M.Agr., Ph.D (Biotek)

Dr. Ir. Gunarto Latama, M.Sc (Penyakit Rumput Laut)

Dr. Ir. St. Hidayah Triana, M.Si. (Rekayasa Genetika)

Dr. Lideman, S.Pi., M.Sc (Reproduksi Biologi)

ALAMAT REDAKSI:

Jurnal Rumput Laut Indonesia, Pusat Unggulan Ipteks Pengembangan dan Pemanfaatan

Rumput Laut (PUI-P2RL) Universitas Hasanuddin.

Gedung Pusat Kegiatan Penelitian (PKP) Lantai V Kampus Unhas Tamalanrea Km. 10.

Makassar 90245

Telepon

: 085212108106

Email

: [email protected]

Website

: http://journal.indoseaweedconsortium.or.id/

SAMPUL DEPAN:

Panen Bibit Rumput Laut

Kappaphycus alvarezii

di Unit Bisnis Pembibitan

Rumput Laut PUI-P2RL-UNHAS (Foto: Inayah Yasir)

(3)

Jurnal Rumput Laut Indonesia (2016) 1 (2): 123-131 ISSN 2548-4494

Analisis Kesesuaian Perairan untuk Lokasi Budidaya Rumput Laut

Eucheuma cottonii

di Perairan Kecamatan Sajoanging Kabupaten Wajo

Waters Suitability Analysis for

Eucheuma cottonii

Cultivation on District of Sajoanging, Wajo

Regency

Uswaton Khasanah1, Muhammad Farid Samawi1,2, Khairul Amri1

Diterima: 19 Oktober 2016 Disetujui: 08 November 2016

ABSTRACT

Seaweed is the biological resources that have been utilized by people of Indonesia as a livelihood. In some regions, make it as a primary means of livelihood.Eucheuma cottoniiorKappaphycus alvareziiis one type of seaweed that is widely used for farming activities in various Asia-Pacific countries, including Indonesia. Wajo, one area in South Sulawesi that is directly adjacent to the Gulf of Bone. It is strongly supports the maritime field management, one of the potential of seaweed cultivation, especially in Sajoanging District, a newly developed area for seaweed cultivation. The aim of the study is to determine the level of suitability of the waters by physico-chemical conditions for the location of seaweed farming in the waters of the district Sajoanging, Wajo Regency. This research is expected to provide information, which can be used as a reference for the community or regional governments in developing seaweed farming activities in these locations. Physico-chemical parameters were measured including tidal, wave, current speed, total suspended solid (TSS), salinity, temperature, nitrate, phosphate, acidity (ph), and depth. The results showed that the district waters of Sajoanging, Wajo Regency was in the category of ‘Not Suitable’ (389.76ha), ‘Quite Suitable’ (1578.43 ha) and ‘Suitable’ (24.32ha) forE. cottonicultivation. Keywords: Suitable waters, Eucheuma cottonii, Sajoanging,Kappaphycus alvarezii.

PENDAHULUAN

Rumput laut adalah sumberdaya hayati yang telah dimanfaatkan masyarakat Indonesia sebagai mata pencarian, bahkan beberapa wilayah menjadikan-nya sebagai mata pencarian utama. Rumput laut merupakan salah satu komoditas sumberdaya laut yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi, mudah dibudidayakan serta biaya produksinya rendah. Hal ini memicu banyak masyarakat Indonesia yang melakukan budidaya rumput laut ini. Negara-negara maju memanfaatkan rumput laut sebagai bahan baku produksinya, salah satunya sebagai bahan baku untuk kosmetik.

Eucheuma cottonii atau Kappaphycus alvarezii

adalah jenis rumput laut yang banyak dibudidaya-kan di negara Asia Pasifik termasuk Indonesia. Indonesia telah meningkatkan produksi jenis ini dari 25.000 ton pada tahun 2001 menjadi 55.000 ton pada tahun 2004 (McHugh, 2006).

Kappaphycus menghasilkan karaginan jenis kappa yang dapat dimanfaatkan untuk industri makanan, kosmetik, obat-obatan, tekstil, dan sebagai materi dasar aromatic diffuser (Chapman dalam Aslan, 1991). Faktor utama keberhasilan kegiatan budi-daya rumput laut adalah pemilihan lokasi yang tepat. Penentuan lokasi dan kondisi perairan harus disesuaikan dengan metode budidaya yang akan digunakan.

1Departemen Ilmu Kelautan, FIKP Univ. Hasanuddin 2PUI-P2RL Universitas Hasanuddin

Muhammad Farid Samawi ( ) Email: [email protected]

Tumbuhan laut termasuk makroalga atau rumput laut berinteraksi dengan lingkungan fisika kimia-nya. Di antara faktor lingkungan tersebut adalah ketersediaan cahaya, suhu, salinitas, arus dan keter-sediaan nutrien (Lobban & Harrison, 1997). Oleh karena itu faktor fisika kimia perairan menjadi salah satu penentu keberhasilan budidaya rumput laut.

Parameter lingkungan yang menjadi penentu lokasi yang tepat untuk budidaya rumput laut adalah kondisi lingkungan fisik yang meliputi kedalaman, kecerahan, kecepatan arus, Muatan Padatan Tersus-pensi (MPT) atau Total Suspended Solid (TSS), dan lingkungan kimia yang meliputi salinitas, pH, oksi-gen terlarut, nitrat dan fosfat.

Kabupaten Wajo salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang secara administratif memiliki daerah yang berbatasan langsung dengan Teluk Bone. Hal tersebut sangat mendukung pengelolaan potensi di bidang kelautan, salah satu potensinya yaitu budi-daya rumput laut, khususnya di Kecamatan Sajoa-nging yang baru beberapa tahun ini mengembang-kan budidaya rumput laut.

Untuk meningkatkan produksi budidaya rumput laut di Kabupaten Wajo secara maksimal, dan untuk menunjang kegiatan ini secara optimal, perlu diada-kan kajian kesesuaian perairan untuk lokasi budi-daya ditinjau dari parameter fisika dan kimia per-airan.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2013 yang meliputi studi literatur, survei awal

(4)

lokasi, pengambilan data lapangan, analisis data di laboratorium, pengolahan data dan penyusunan la-poran akhir. Untuk kegiatan pengambilan data lapa-ngan dilakukan pada bulan April yang bertepatan pada musim peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.

Pengukuran dan pengambilan data lapangan dilak-sanakan di Perairan Kecamatan Sajoanging yang berada di Desa Barangmamase, Alewadeng, Akko-tengeng, Minangae dan Akkajeng Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan. Analisis sampel air laut dilak-sanakan di Laboratorium Oseanografi Kimia

Jurus-an Ilmu KelautJurus-an Fakultas Ilmu KelautJurus-an dJurus-an Peri-kanan Universitas Hasanuddin.

Penentuan stasiun dilakukan secara acak yang me-wakili lokasi yang meliputi tujuh stasiun dengan melakukan pengulangan sebanyak tiga kali. Pada stasiun 1 tidak terdapat kegiatan budidaya rumput laut, Stasiun 2 dan 4 dekat muara Sungai Akko-tengeng, Stasiun 3 berada di muara sungai, stasiun 5 terdapat kegiatan budidaya rumput laut namun masih di pengaruhi muara sungai, Stasiun 6 dan 7 terdapat kegiatan budidaya rumput laut dan jauh dari muara sungai (Gambar 1).

Gambar 1. Peta lokasi penelitian budidaya rumput laut Eucheuma cottoniidi Kecamatan Sajoanging, Kabupaten Wajo.

Kriteria kesesuaian perairan untuk budidaya rumput laut berdasarkan kondisi lingkungan dibutuhkan sebagai acuan penentuan kelayakan perairan (Tabel

1). Kriteria ini kemudian dijadikan patokan dalam menilai secara kuantitatif tingkat kelayakan per-airan dengan metode skoring dan pembobotan. Tabel 1. Kriteria parameter fisika-kimia oseanografi untuk kesesuaian perairan bagi usaha budidaya rumput laut

No Kriteria Sesuai Tingkat kesesuaian LahanCukup Sesuai Tidak Sesuai Pustaka 1 Tinggi Gelombang (m) 0,2-0,3 0,1-0,19 atau 0,31-0,40 <0,1 atau >0,41 Aslan (1991) 2 Kecepatan arus (m/det) 0,2-0,3 0,1-0,19 atau 0,31-0,40 < 0,1 atau >0,41 Aslan (1991); Sulistijo (1996)

3 TSS (mg/l) < 25 25-50 > 50 Aslan (1991)

4 Salinitas (o/

oo) 28-32 25-27 atau 33-35 < 25 atau >35 Aslan (1991)

5 Suhu (°C) 28-30 26-27 atau 30-33 < 26 atau >33 Sadhori (1995) 6 Nitrat (ppm) 0,9-3,5 0,1-0,8 atau 3,6-4,4 < 0,1 atau >4,5 Sulistijo (1996) 7 Fosfat (ppm) 0,51 -1 0,21-0,5 < 0,21 atau >1 Indriani & Sumiarsih (1997) 8 pH 7-8,5 6,5–6,9 atau 8,5-9,5 < 6,5 atau >8,5 Aslan (1991); Utojo(2004) et al. 9 Kedalaman (m) 0,6-2,1 0,3-0,5 atau 2,2-10 < 0,3 atau <10 Aslan (1991); Utojo,(2004) et al.

(5)

Jurnal Rumput Laut Indonesia (2016) 1 (2): 123-131

Analisis kesesuaian perairan untuk lokasi budidaya ... 125

Data-data penunjang diperoleh dengan mengukur parameter oseanografi fisika dan kimia (Tabel 2). Pengukuran parameter fisika dilakukan pada setiap stasiun, sedangkan untuk pengukuran parameter kimia dilakukan di laboratorium dengan mengambil sampel air di lapangan.

Metode skoring dengan menggunakan pembobotan untuk setiap parameter dikarenakan setiap parame-ter memiliki andil yang berbeda dalam menunjang kehidupan komoditas. Bobot yang besar diberikan kepada parameter dengan pengaruh dominan terha-dap penentuan wilayah tersebut. Sebaliknya para-meter yang kurang dominan atau tidak berpengaruh besar terhadap budidaya diberi bobot yang kecil. Berdasarkan nilai skor setiap parameter maka dila-kukan penilaian untuk menentukan apakah lokasi tersebut sesuai untuk lahan budidaya rumput laut dengan menggunakan formulasi yang dikemukakan oleh Utojoet al. (2004).

Hasil analisis kesesuaian perairan kemudian diana-lisis lagi dengan melakukan pendekatan anadiana-lisis keruangan dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) menggunakan software Arc View Version 3.3. Dalam peta dengan skala 1:75.000 ditampilkan lokasi dan tingkat kesesuaian perairan untuk kegiatan budidaya rumput laut.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Parameter Fisika–Kimia Oseanografi

Dari sembilan parameter fisika kimia yang diukur dan digunakan untuk menganalisis kesesuaian lahan, hanya Stasiun 6 dan 7 yang padanya terdapat titik sampling yang sesuai dengan kebutuhan lahan budidaya rumput laut (Tabel 2).

Pasang Surut

Hasil pengamatan pasang surut didapatkan nilai Duduk Tengah Sementara yaitu 150,67 cm. Semen-tara itu dari grafik pasang surut, dapat diketahui tipe pasang surut di perairan Kecamatan Sajoanging Kabupaten Wajo yaitu pasang surut campuran condong ke harian ganda (mixed semi diurnal tide) yaitu pada tipe ini dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut (Gambar 2). Dalam menentukan lokasi budidaya rumput laut, lokasi yang dipilih sebaiknya pada waktu surut masih digenangi air sedalam 30-60 cm. Keuntungan dari genangan air tersebut adalah penyerapan makanan dapat berlangsung terus menerus dan tanaman terhindar dari kerusakan akibat kekeringan dan sengatan sinar Matahari langsung (Winarno, 1990).

Gambar 2. Grafik Pasang Surut Perairan Kecamatan Sajoanging

Pada penelitian ini parameter pasang surut merupakan parameter antara untuk digunakan sebagai nilai koreksi pada pengukuran kedalaman perairan dengan menggunakan nilai Duduk Tengah Sementara (DTS) untuk mendapatkan nilai kedalaman perairan sebenarnya.

Table 2. Nilai rata-rata hasil pengukuran parameter fisika-kimia perairan di masing-masing stasiun penelitian

Parameter 1 2 3 Stasiun4 5 6 7

Kecepatan Arus (m/det) 0,07 0,07 0,14 0,12 0,12 0,11 0,13

TSS (mg/l) 58,3 61,5 62,3 51,9 50,9 53,0 57,4 Salinitas (0/ 00) 24 23 15,33 20 20,67 26,67 30,33 Suhu (oC) 29,97 29,73 30,3 30,67 31 32,07 31,97 Nitrat (mg/l) 0,5 0,6 0,5 0,6 0,6 0,5 0,4 Fosfat (mg/l) 0,59 0,61 0,99 0,79 0,7 0,57 0,50 pH 6,91 6,96 6,89 6,96 7,00 7,08 7,12 Kedalaman (m) 1,7 1,6 0,8 1,3 1,9 2,0 1,4 Oksigen Terlarut (mg/l) 6,7 5,87 6,33 5,9 6,13 5,5 6,7 Gelombang

Dari tujuh stasiun pengamatan, rata-rata tinggi gelombang antara 0,1-0,6 m, dengan Stasiun 1 memiliki tinggi gelombang 0,6 m dan Stasiun 3 memiliki tinggi gelombang terendah yaitu 0,1 m.

Karakteristik gelombang atau ombak dipengaruhi oleh kecepatan angin, semakin tinggi kecepatan angin maka ombak yang ditimbulkan akan tinggi serta ombak dipengaruhi oleh adanya perbedaan kedalaman, semakin dangkal suatu perairan maka ombak yang timbul akan berkurang ini dikarenakan

(6)

ombak akan pecah ketika menuju daerah yang dangkal.

Diketahui bahwa pada Stasiun 1 perairan Keca-matan Sajoanging Kabupaten Wajo memiliki tinggi gelombang yang masuk dalam kriteria tidak sesuai untuk lokasi budidaya rumput laut, menurut Aslan (1991) untuk kegiatan budidaya rumput laut tinggi gelombang berkisar antara 0,2 m-0,3 m atau <0,4 m.

Tingginya gelombang pada Stasiun 1 disebabkan tidak adanya hambatan angin yang bertiup kencang di Stasiun 1. Stasiun 3 yang memiliki tinggi gelom-bang yang rendah dibandingkan stasiun lain ini diduga Stasiun 3 yang memiliki kedalaman yang cukup dangkal yang menyebabkan gelombang pecah ketika mendekati stasiun 3.

Kecepatan Arus

Dari hasil pengukuran diperoleh nilai kecepatan arus dengan variasi yang sempit (Tabel 2). Kecepat-an arus berperKecepat-an penting dalam pencampurKecepat-an massa air, pengangkutan unsur hara, dan transportasi oksi-gen. Arus merupakan faktor yang harus diutama-kan dalam pemilihan lokasi budidaya rumput laut karena arus akan mempengaruhi sedimentasi di perairan. Selain itu, arus berperan dalam keterse-diaan oksigen. Ketika oksigen cukup dalam perair-an, maka rumput laut dapat melakukan respirasi dengan baik secara optimal pada malam hari. Total Suspended Solid (TSS)

TSS organik dan anorganik yang berasal dari pengi-kisan tebing dan dasar sungai, buangan industri, bangunan rumah tangga dan tanah pertanian yang semuanya dapat terakumulasi dalam perairan. Kandungan TSS perairan di tujuh stasiun pengukur-an ypengukur-ang diperoleh, berkisar pengukur-antara 50,9–62,3 mg/l. Hasil pengamatan dan perhitungan TSS di tujuh stasiun menunjukkan semua lahan tidak sesuai untuk lokasi budidaya rumput laut (Tabel 2), karena nilai TSS di atas 50 mg/l (KLH, 1988). Tingginya TSS pada lokasi penelitian diperkirakan karena banyaknya limbah pertanian dan tambak anorganik dan organik yang berasal dari limbah pertanian dan pertambakan.

Masyarakat yang berada di Kecamatan Sajoanging khususnya desa-desa yang berada di daerah pesisir memanfaatkan air yang berasal dari Teluk Bone untuk mengairi sawah dan tambak mereka dan kemudian membuang hasil limbah pertanian dan pertambakan mereka langsung ke laut. Hal ini menyebabkan Perairan Kecamatan Sajoanging me-miliki konsentrasi TSS yang tinggi. Padatan tersus-pensi yang tinggi dapat mengganggu proses foto-sintesis rumput laut karena dapat menutupi tallus sehingga menghalangi cahaya Matahari yang ber-peran membantu fotosintesis untuk sampai pada permukaan tallus.

Salinitas

Spesies E. cottonii atau K. alvarezii merupakan jenis rumput laut yang bersifat stenohaline. Tum-buhan ini tidak tahan terhadap fluktuasi salinitas yang tinggi. Salinitas dapat berpengaruh terhadap proses osmoregulasi rumput laut. Menurut Aslan (1991) salinitas yang cocok untuk budidaya rumput laut jenis ini berkisar antara 30–37 ppt.

Salinitas perairan di tujuh lokasi pengukuran me-nunjukkan nilai antara 15,33‰–30‰ (Tabel 2). Konsentrasi salinitas yang tinggi pada umumnya berada pada Stasiun 7 dan konsentrasi terendah ter-dapat di Stasiun 3. Rendahnya salinitas di Stasiun 3 dikarenakan lokasi tersebut merupakan muara dari Sungai Akkotengeng. Adanya perbedaan salinitas di setiap stasiun diduga disebabkan oleh beberapa faktor, seperti adanya perbedaan waktu saat pe-ngambilan sampel yang berpengaruh pada proses penguapan, atau lokasi pengambilan sampel berada di daerah muara (Stasiun 3) yang menyebabkannya memiliki salinitas rendah.

Dari hasil pengamatan dan pengolahan data untuk salinitas (Tabel 3) menunjukkan Stasiun 1, 2, 3, 4, dan 5 masuk dalam kriteria tidak sesuai untuk lokasi budidaya rumput lautE. cottonii.

Suhu

Suhu sangat berpengaruh terhadap kemampuan rumput laut untuk melakukan fotosintesis dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap daya larut oksigen yang digunakan untuk respirasi organisme laut. Meskipun suhu tidak mematikan namun dapat menghambat pertumbuhan rumput laut. Kenaikan suhu dapat menyebabkan tallus rumput laut menjadi pucat kekuningan.

Dari hasil pengamatan (Tabel 2), diperoleh suhu permukaan air laut untuk masing–masing stasiun berada pada kriteria cukup sesuai hingga sesuai untuk budidaya rumput laut jenisE. cottoniikarena berkisar antara 27oC–30oC (Aslan, 1991).

Nitrat

Kandungan nitrat di perairan Kecamatan Sajo-anging Kabupaten Wajo yang diperoleh berkisar antara 0,4–0,6mg/l (Tabel 2). Kandungan nitrat tertinggi berada di Stasiun 4 dan 5, terendah berada di Stasiun 7.

Kadar nitrat menjadi salah satu kriteria kesesuaian perairan untuk lokasi budidaya rumput laut jenisE. cottonii, dikarenakan nitrat merupakan salah satu nutrien yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang. Kurangnya kandungan nitrat di per-airan tidak hanya akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan, tetapi juga akan menghambat meta-bolisme dan reproduksi.

(7)

Jurnal Rumput Laut Indonesia (2016) 1 (2): 123-131

Analisis kesesuaian perairan untuk lokasi budidaya ... 127

Kandungan nitrat di tujuh stasiun pengamatan secara umum dapat dikatakan sebagai perairan yang memiliki kandungan zat hara rendah (oligotrofik) yakni berada di bawah 1,0 ppm (Effendi, 2003). Dari hasil pengamatan dan pengukuran yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa ketujuh stasiun pengamatan di perairan Kecamatan Sajoanging Kabupaten Wajo masuk dalam kriteria cukup sesuai.

Fosfat

Kandungan fosfat perairan pada 7 stasiun penga-matan berkisar antara 0,50–0,99 mg/l (Tabel 2). Stasiun yang memiliki kandungan fosfat rendah berada di Stasiun 7, sedangkan kandungan fosfat yang tinggi berada di Stasiun 3 ini dikarenakan pada Stasiun 3 yang merupakan muara Sungai Akkotengeng. Aliran Sungai Akkotengeng membawa fosfat yang melimpah dari daratan yang berasal dari limbah limbah pertanian ataupun limbah pertambakan. Menurut Hutagalung dan Rozak (1997), sumber antropogenik fosfor berasal dari limbah industri, domestik, dan limbah pertanian.

Fosfat dapat menjadi faktor pembatas baik secara temporal maupun spasial karena sumber fosfat yang sedikit di perairan. Fosfat merupakan unsur hara kunci dalam produktivitas primer perairan. Senya-wa ini dapat menggambarkan subur tidaknya suatu perairan (Wardoyo, 1975).

Dari hasil pengamatan dan pengukuran diperoleh bahwa ketujuh stasiun pengamatan di perairan Kecamatan Sajoanging Kabupaten Wajo masuk dalam kriteria sesuai. Indriani dan Sumiarsih (1991) mengatakan kisaran fosfat yang optimal untuk pertumbuhan rumput laut adalah 0,051–1,00 ppm.

Derajat Keasaman (pH)

Konsentrasi pH (derajat keasaman) perairan di lokasi pengamatan berkisar antara 6,89–7,12 (Tabel 2). Derajat keasaman (pH) tertinggi berada di Stasiun 7, sedangkan terendah di Stasiun 3. Menu-rut Aslan (1991), kisaran pH yang sesuai untuk budidaya rumput laut adalah yang cenderung basa (pH di atas 7,0). Berdasarkan derajat keasaman (pH) ketujuh stasiun pengamatan di perairan Kecamatan Sajoanging Kabupaten Wajo masuk dalam kriteria cukup sesuai hingga sesuai.

Kedalaman

Kedalaman merupakan aspek yang cukup penting untuk diperhitungkan dalam penentuan lokasi budidaya rumput laut E. cottonii, hal ini berhubu-ngan erat deberhubu-ngan produktivitas, suhu vertikal, pene-trasi cahaya, densitas, kandungan oksigen, serta unsur hara. Kedalaman pada lokasi penelitian berkisar antara 0,8–2,0 m (Tabel 2). Kedalaman

terendah berada di stasiun 3 yang merupakan stasiun yang berada di muara Sungai Akkotengeng dan kedalaman yang tertinggi berada di Stasiun 6. Dari hasil pengamatan dan pengambilan data dari seluruh stasiun di perairan Kecamatan Sajoanging Kabupaten Wajo masuk dalam kriteria kesesuaian yaitu sesuai untuk lokasi budidaya rumput laut E. cottonii.

Kecerahan

Banyak sedikitnya sinar Matahari yang menembus ke dalam perairan sangat bergantung dari kecerahan air. Semakin cerah perairan tersebut akan semakin dalam cahaya yang menembus ke dalam perairan. Penetrasi cahaya menjadi rendah ketika tingginya kandungan partikel tersuspensi di perairan dekat pantai, akibat aktivitas pasang surut dan juga tingkat kedalaman (Hutabarat dan Evans, 2008). Kecerahan merupakan parameter yang berhubungan erat dengan besarnya penetrasi cahaya ke dalam perairan. Energi sinar Matahari dibutuhkan oleh tallus rumput laut dalam mekanisme fotosintesis. Pada lokasi pengambilan data kecerahan yang memiliki tingkat persentase yang mendekati 100% yaitu 96% berada pada Stasiun 7 dengan kedalaman 136,67 cm, sedangkan stasiun yang persentase kecerahanya kurang, berada pada Stasiun 1 yaitu 54% yang memiliki kedalaman 113,80 cm.

Oksigen Terlarut (DO)

Oksigen terlarut adalah kandungan oksigen yang terlarut dalam perairan dan merupakan komponen utama bagi metabolisme organisme perairan yang digunakan untuk pertumbuhan, reproduksi, dan kesuburan alga (Lobban & Harrison, 1997). Oksi-gen terlarut di perairan dianggap sebagai parameter tersier karena keberadaan parameter ini tidak berhu-bungan langsung dengan rumput laut, karena hanya dibutuhkan pada kondisi tanpa cahaya.

Dari tujuh stasiun pengamatan diperoleh konsen-trasi DO rata-rata setiap stasiun, berkisar antara 5,5–6,7 mg/l (Tabel 2). Stasiun 1 dan 7 memiliki konsentrasi DO tertinggi (6,7 mg/l) sedangkan Stasiun 6 memiliki konsentrasi terendah (5,5 mg/l).

Analisis Kesesuaian Perairan Budidaya

Rumput Laut

E. cottonii

Analisis kesesuaian perairan untuk pengembangan budidaya rumput laut jenis E. cottonii didasarkan pada beberapa persyaratan menyangkut parameter fisika kimia di perairan Kecamatan Sajoanging, karena dapat menjadi faktor pembatas terhadap pertumbuhannya. Berdasarkan hasil pengukuran parameter fisika kimia yang berhubungan dengan kriteria kelayakan untuk kesesuaian perairan budidaya rumput laut E. cottonii, hanya dua titik sampling yang dianggap sesuai untuk itu (Tabel 3).

(8)

Tabel 3. Nilai skor hasil evaluasi kesesuaian perairan budidaya rumput lautEucheuma cottonii.

Stasiun Sampling GelombangTitik Kec.Arus TSS Salinitas Suhu Nitrat Fosfat pH Kedalaman HasilSkor

Evaluasi Ket. 1 12 0,30,3 0,15 0,150,3 0,15 0,150,15 0,450,45 0,050,05 0,0750,075 0,050,05 0,0750,075 48,3353,33 Tidak SesuaiTidak Sesuai

3 0,3 0,15 0,3 0,3 0,45 0,05 0,075 0,05 0,075 58,33 Tidak Sesuai 2 12 0,60,6 0,15 0,150,15 0,15 0,150,15 0,450,45 0,050,05 0,0750,075 0,050,05 0,0750,075 58,3358,33 Tidak SesuaiTidak Sesuai 3 0,6 0,15 0,15 0,3 0,3 0,05 0,075 0,05 0,075 58,33 Tidak Sesuai 3 12 0,60,6 0,15 0,150,3 0,15 0,150,15 0,450,3 0,050,05 0,0250,025 0,050,05 0,0750,075 56,6756,67 Tidak SesuaiTidak Sesuai 3 0,6 0,3 0,15 0,15 0,3 0,05 0,075 0,05 0,075 58,33 Tidak Sesuai 4 12 0,60,6 0,15 0,150,3 0,3 0,150,15 0,30,3 0,050,05 0,075 0,0750,075 0,05 0,0750,075 54,1763,33 Cukup SesuaiTidak Sesuai 3 0,6 0,3 0,3 0,3 0,3 0,05 0,075 0,05 0,075 68,33 Cukup Sesuai 5 12 0,90,9 0,15 0,30,3 0,3 0,150,15 0,30,3 0,050,05 0,075 0,0750,075 0,05 0,0750,075 69,1773,33 Cukup SesuaiCukup Sesuai 3 0,9 0,45 0,15 0,15 0,3 0,05 0,075 0,075 0,05 73,33 Cukup Sesuai 6 12 0,90,9 0,15 0,150,15 0,15 0,30,3 0,30,3 0,050,05 0,075 0,0750,075 0,075 0,0750,075 69,1769,17 Cukup SesuaiCukup Sesuai

3 0,9 0,45 0,3 0,45 0,3 0,05 0,075 0,075 0,05 88,33 Sesuai 7 12 0,90,9 0,15 0,150,15 0,15 0,450,45 0,30,3 0,050,05 0,075 0,0750,075 0,075 0,0750,075 74,1774,17 Cukup SesuaiCukup Sesuai

3 0,9 0,45 0,3 0,45 0,3 0,05 0,075 0,075 0,075 89,17 Sesuai

Stasiun 1

Nilai skor hasil evaluasi parameter fisika kimia untuk Stasiun 1 di setiap pengulangan menunjukkan kriteria tidak sesuai untuk lokasi budidaya rumput laut E. cottonii (Tabel 3). Hal ini dikarenakan terdapat beberapa parameter yang menjadi faktor pembatas untuk lokasi budidaya jenis ini di stasiun 1.

Diketahui setiap pengulangan pada Stasiun 1 memiliki gelombang yang masuk dalam kriteria tidak sesuai, karena merupakan perairan terbuka, sehingga tidak ada penghambat pergerakan angin yang bertiup kencang yang menyebabkan gelom-bang cukup tinggi.

Stasiun 2

Nilai skor hasil evaluasi parameter fisika kimia untuk Stasiun 2 di setiap pengulangan menunjukkan kriteria tidak sesuai untuk lokasi budidaya jenis ini (Tabel 3). Terdapat beberapa parameter yang menjadi faktor pembatas di stasiun ini.

Kecepatan arus pada stasiun ini berada dalam keadaan lambat, hal ini dikarenakan kondisi per-airan yang mengalami peralihan dari kondisi pasang menuju ke surut pada saat pengambilan data. Kondisi TSS perairan pada stasiun ini sangat tinggi dan kondisi salinitas terlalu rendah, kedua hal ini dikarenakan lokasi ini mendapatkan pengaruh paso-kan air tawar yang membawa limbah pertanian dan tambak dari saluran pembuangan limbah tambak masyarakat yang langsung mengalir menuju ke sta-siun ini.

Stasiun 3

Nilai skor hasil evaluasi parameter fisika kimia untuk stasiun ini menunjukkan kriteria tidak sesuai untuk lokasi budidaya rumput laut E. cottonii

(Tabel 3). Terdapat beberapa parameter yang men-jadi faktor pembatas untuk lokasi budidaya. Parameter yang menjadi faktor pembatas adalah kecepatan arus, TSS, salinitas dan fosfat.

TSS dan salinitas menyebabkan stasiun ini masuk kategori “Tidak Sesuai”. Stasiun 3 berada pada daerah muara sungai Akkotengeng yang diketahui sangat dekat dengan pemasok TSS terbesar (sungai) yang membawa limbah pertanian dan tambak anorganik dan organik dari daratan. Rendahnya salinitas pada stasiun ini dikarenakan adanya pengaruh air tawar yang berasal dari sungai. Selain itu, letaknya yang berada di muara sungai menye-babkan tingginya pasokan fosfat yang diterima dari sungai yang membawa fosfat yang berasal dari limbah persawahan dan pertambakan.

Stasiun 4

Nilai skor hasil evaluasi parameter fisika kimia untuk stasiun 4 disetiap pengulangan berada pada kisaran kriteria tidak sesuai sampai cukup sesuai untuk lokasi budidaya (Tabel 3). Terdapat beberapa faktor pembatas yaitu kecepatan arus, TSS dan salinitas. Kecepatan arus pada stasiun ini dalam keadaan lambat, hal ini dikarenakan kondisi perair-an yperair-ang mengalami peralihperair-an dari kondisi pasperair-ang menuju ke surut pada saat pengambilan data. Untuk kondisi TSS perairan pada stasiun ini sangat tinggi dan kondisi salinitas terlalu rendah, kedua hal ini dikarenakan kondisi lokasi yang mendapatkan

(9)

Jurnal Rumput Laut Indonesia (2016) 1 (2): 123-131

Analisis kesesuaian perairan untuk lokasi budidaya ... 129

pengaruh pasokan air tawar yang membawa limbah pertanian dan tambak.

Stasiun 5

Nilai skor hasil evaluasi parameter fisika kimia untuk Stasiun 5 menunjukkan kriteria cukup sesuai untuk lokasi budidaya rumput laut E. cottonii

(Tabel 3). Stasiun 5 masuk dalam kriteria cukup sesuai karena masih ada beberapa parameter yang menjadi faktor pembatas sehingga Stasiun 5 tidak sampai pada kriteria sesuai. Parameter yang men-jadi faktor pembatas adalah salinitas dan kecepatan arus. Pada Stasiun 5 TSS termasuk dalam kriteria tidak sesuai dikarenakan nilai TSS yang tinggi. Stasiun 6

Nilai skor hasil evaluasi parameter fisika kimia untuk Stasiun 6 di setiap pengulangan berada pada kisaran kriteria “Cukup sesuai sampai Sesuai” untuk lokasi budidaya rumput laut E. cottonii

(Tabel 3).

Terdapat beberapa faktor pembatas yaitu kecepatan arus dan TSS yang berada dalam kategori tidak sesuai untuk kedua stasiun ini. Kecepatan arus pada stasiun ini berada dalam keadaan lambat, hal ini dikarenakan kondisi perairan yang mengalami peralihan dari kondisi pasang menuju ke surut pada saat pengambilan data seperti yang terlihat pada data pasang surut.

Kondisi TSS perairan pada stasiun ini sangat tinggi, hal ini dikarenakan lokasi ini mendapatkan pengaruh pasokan air tawar yang membawa limbah pertanian dan tambak dari saluran pembuangan limbah tambak masyarakat yang langsung mengalir menuju ke stasiun ini. Selain itu, lokasi ini juga sering dijadikan jalur transportasi masyarakat setempat untuk menuju ke daerah tambak mereka. Stasiun 7

Nilai skor hasil evaluasi parameter fisika kimia untuk Stasiun 7 di setiap pengulangan berada pada kisaran kriteria cukup sesuai sampai sesuai untuk lokasi budidaya (Tabel 3).

Terdapat beberapa faktor pembatas yaitu kecepatan arus dan TSS yang berada dalam kategori tidak sesuai untuk kedua stasiun ini. Kecepatan arus pada stasiun ini berada dalam keadaan lambat. Kondisi TSS perairan pada stasiun ini sangat tinggi, karena lokasi ini mendapatkan pengaruh pasokan air tawar yang membawa limbah pertanian dan tambak dari saluran pembuangan limbah tambak masyarakat yang langsung mengalir menuju ke stasiun ini. Lokasi ini juga sering dijadikan jalur transportasi masyarakat setempat untuk menuju ke daerah tambak mereka.

Berdasarkan penjelasan untuk nilai skor hasil evalu-asi skoring dari parameter fisika-kimia, maka

Perairan Kecamatan Sajoanging Kabupaten Wajo berada pada kriteria tidak sesuai. Dimana terdapat 11 lokasi yang tidak sesuai, 8 lokasi yang cukup sesuai, dan 2 lokasi yang sesuai untuk lokasi budi-daya rumput lautE. cottonii.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan 8 stasiun masuk dalam kriteria cukup sesuai yaitu faktor TSS yang tinggi, salinitas yang rendah dan kondisi kecepatan arus yang begitu lambat. Kondisi TSS dibeberapa stasiun ini tergolong tinggi dan salinitas tergolong rendah diakibatkan oleh kondisi perairan yang masih mendapatkan pengaruh dari saluran pembuangan limbah tambak dan pertanian masyarakat setempat. Selain itu kondisi ini juga dipengaruhi oleh muara sungai Akkotengeng yang membawa begitu banyak partikel-partikel sedimen dari daratan yang mengalami erosi. Kecepatan arus terbilang lambat pada saat pengambilan data ini karena kondisi perairan pada saat itu sedang mengalami peralihan dari kondisi air pasang tertinggi menuju ke kondisi surut.

Untuk membuat delapan lokasi yang cukup sesuai ini bisa menjadi lebih sesuai untuk lokasi budidaya rumput laut jenisE. cottonii, sebaiknya masyarakat mengalihkan saluran pembuangan air limbah tambak dan pertanian ke lokasi yang lebih jauh dari lokasi budidaya rumput laut agar tidak membawa partikel-partikel sedimen yang dapat meningkatkan kekeruhan di delapan stasiun ini. Dapat juga dengan membuat tambak modern dengan mengolah kembali air tambak yang akan dibuang dengan cara menyaring sedimen yang ada di dalamnya.

Selain itu masyarakat juga mengurangi penebangan pohon mangrove yang berlebih sehingga tidak terja-di erosi atau dengan kata lain masyarakat harus senantiasa menjaga kondisi ekosistem mangrove dengan melakukan rehabilitasi mangrove. Dengan adanya ekosistem mangrove yang subur maka dapat menghambat dan menyaring partikel-partikel sedi-men yang berasal dari daratan sehingga tidak mem-bawa dampak yang besar terhadap kondisi perairan (Nybakken, 1992).

Salah satu penyebab rendahnya salinitas adalah adanya pengaruh muara sungai Akkotengeng. Selain itu, pengambilan sampel dilakukan pada kondisi surut yang mengakibatkan air tawar dari daratan memasuki muara dan mempengaruhi salini-tasnya. Sungai Akkotengeng juga memiliki muara yang cukup lebar, sehingga pengaruh muara sungai mencakupi areal yang cukup luas. Berdasarkan kondisi ini, dianjurkan sebaiknya masyarakat tidak melakukan budidayakan rumput laut di sekitar muara sungai Akkotengeng atau membudidayakan rumput laut dengan metode rakit apung atau membudidayakan rumput laut pada kolom air yang tidak terlalu mendapatkan pengaruh air laut dengan cara mengisi pelampung-pelampung yang

(10)

diguna-kan untuk budidaya dengan pemberat agar rumput laut berada pada kolom air.

Tabel 4. Luas lahan kesesuaian budidaya rumput laut E. cottonii

Kriteria Kesesuaian Perairan Luas (hektar)

Tidak Sesuai 184,49

Cukup Sesuai 905,70

Sesuai 22,64

Masyarakat sebaiknya mempertimbangkan kondisi alam saat ingin melakukan budidaya jenis ini, dalam artian kondisi musim pada waktu ingin melakukan budidaya rumput laut.

Lanjutan dari hasil analisis kesesuaian perairan yaitu melakukan pendekatan analisis keruangan dengan Sistem Informasi Geografis menggunakan software Arc View Version 3.3. Dari hasil pengo-lahan data yang dilakukan di lapangan maupun di laboratorium disajikan dalam bentuk peta kesesu-aian perairan (Gambar 3).

Diperoleh luasan lahan yang tidak sesuai, cukup sesuai, dan sesuai untuk lokasi budidaya rumput laut Eucheuma cottonii yang dapat di lihat pada Tabel 4.

Gambar 3. Peta Keseuaian Perairan Untuk Lokasi Budidaya Rumput Laut Eucheuma cottoniidi Perairan Kecamatan Sajoanging Kabupaten Wajo

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesesuaian perairan Sajoanging Kabupaten Wajo sebagai perairan dengan peruntukan budidaya rumput laut Eucheuma cottonii untuk parameter fisika–kimia pada bulan April dan Mei berada pada kisaran “Tidak sesuai” sampai “Sesuai”. Luas area yang masuk dalam kriteria “Tidak sesuai” seluas 184,49 ha, pada kriteria “Cukup sesuai” seluas 905,70 ha dan kriteria “Sesuai” sebesar 22,64 ha.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis menyampaikan terima kasih kepada Prof. Dr. Ambo Tuwo dan Dr. Inayah Yasir atas saran dan tanggapannya terhadap naskah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Aslan, L.M. 1991.Budidaya Rumput Laut. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Effendi, H. 2003.Telaah Kualitas Air Bagi Pengo-lahan Sumberdaya Hayati Lingkungan Perair-an. Kanisius, Yogyakarta

Hutabarat, S & S.M. Evans. 2008. Pengantar Oseanografi. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Hutagalung, H.P. & A. Rozak. 1997. Penentuan Kadar Nitrat. Metode Analisis Air Laut, Sedi-men, dan Biota. Pusat Penelitian dan Pengem-bangan Oseanologi. LIPI, Jakarta.

Indriani, H. & E. Sumiarsih. 1991. Budidaya, Pengelolaan dan Pemasaran Rumput Laut. Penebar Swadaya, Jakarta.

Indriani, H. & E. Sumarsih, 1997. Budidaya,

Pengolahan dan Pemasaran Rumput Laut.

Penebar Swadaya, Jakarta.

KLH. 1988. Surat Keputusan Menteri Negara

(11)

Jurnal Rumput Laut Indonesia (2016) 1 (2): 123-131

Analisis kesesuaian perairan untuk lokasi budidaya ... 131

Mutu Lingkungan. Menteri Negara Kependu-dukan & Lingkungan Hidup, Jakarta.

Lobban, C.S. & P.J. Harrison. 1997. Seaweed Ecology and Physiology. Cambridge Univer-sity Press, Cambridge.

McHugh, D.J. 2006. The Seaweed Industry in the Pacific Islands. ACIAR Working Paper No. 61. Australian Center for International Agri-cultural Reseach, Canberra.

Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut, Sesuatu Pen-dekatan Ekologis. Penerbit PT. Gramedia Pus-taka Utama, Jakarta.

Sadhori, N.S. 1995. Budidaya Rumput Laut. Balai Pustaka, Jakarta.

Sulistijo. 1996. Perkembangan Budidaya Rumput Laut di Indonesia.In: Pengenalan Jenis-Jenis Rumput Laut Indonesia. Pusat Penelitian & Pengembangan Oseanologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta.

Wardoyo, S.T. 1975.Kriteria Air untuk Keperluan Pertanian dan Perikanan. Dapertemen Tata Produksi Perikanan. Fakultas Pertanian. IPB, Bogor

Winarno, F.G. 1990. Teknologi Pengolahan Rum-put Laut. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. Utojo, A. Mansyur, A.M. Pirzan, Tarunamulia & B.

Pantjara. 2004. Identifikasi Kelayakan Lokasi Lahan Budidaya Laut di Perairan Teluk Saleh, Kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat.

(12)

dengan jarak 2,5cm dari semua sisi, tanpaheadnotedanfootnote.

Bagian awal tulisan terdiri atas judul dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris; nama penulis denganfootnote

berisi nama institusi penulis dan alamat email penulis korespondensi; serta abstrak dan keywords yang ditulis dalam bahasa Inggris. Abstrak tidak lebih dari 250 kata yang berisi tentang inti permasalahan atau latar belakang penelitian, cara penelitian atau pemecahan masalah, dan hasil yang diperoleh. Keywords merupakan kata yang menjadi inti dari uraian abstrak.Keywordsmaksimal lima kata, istilah yang lebih dari satu kata dihitung sebagai satu kata. Bagian utama tulisan terdiri atas, pendahuluan, metode penelitian, hasil dan pembahasan, dan kesimpulan dan saran. Bagian akhir tulisan terdiri atas ucapan terima kasih (jika ada), dan daftar pustaka.

Dalam penulisan naskah, semua kata asing ditulis dengan huruf miring. Semua bilangan ditulis dengan angka, kecuali pada awal kalimat dan bilangan bulat yang kurang dari sepuluh harus dieja. Rumus matematika ditulis secara jelas denganMicrosoft Equationatau aplikasi lain yang sejenis dan diberi nomor.

Tabel harus diberi judul yang jelas dan diberi nomor sesuai urutan penyajian. Judul tabel diletakkan sebelum tabel. Batas tabel berupa garis hanya menjadi pembatas bagian kepala tabel dan penutup tabel, tanpa garis pembatas vertikal. Tabel tidak dalam bentuk file gambar (jpg). Keterangan diletakkan di bawah tabel.

Gambar diberi nomor sesuai urutan penyajian. Judul gambar diletakkan di bawah gambar dengan posisi tengah (center justified). Gambar diletakkan di tengah, kualitas gambar harus jelas dan tidak pecah bila dibesarkan (minimal 1000 px). Gambar dilengkapi dengan keterangan yang jelas. Bilamana gambar dalam bentuk grafik yang dibuat di excel, maka gambar dikirimkan dalam bentuk excel, kecuali bila menggunakan Word 2010 atau yang lebih mutakhir, sehingga gambar dapat diedit bilamana diperlukan.

Penulisan daftar pustaka menggunakan sistemHarvard Referencing Standard. Semua pustaka yang tertera dalam daftar pustaka harus dirujuk di dalam naskah. Kemutakhiran referensi sangat diutamakan. Bila penulis pertama memiliki lebih dari satu referensi dengan tahun yang sama, maka penandaan tahun ditambahkan dengan a, b, c, d, dst berdasarkan urutan kemunculan di dalam tulisan. Penulisan disesuaikan dengan tipe referensi, yaitu buku, artikel jurnal, prosiding seminar atau konferensi, skripsi, tesis atau disertasi, dan sumber rujukan dari website.

A. Buku dan Tulisan Dalam Buku:

Penulis 1, Penulis 2 dst. (Nama belakang, nama depan disingkat). Tahun publikasi. Judul Buku dicetak miring.

Edisi, Penerbit. Tempat Publikasi. Contoh:

O’Brien, J.A. & J.M. Marakas. 2011. Management Information Systems. Edisi 10. McGraw-Hill. New York-USA.

B. Tulisan dalam Buku:

Penulis 1, Penulis 2 dst. (Nama belakang, nama depan disingkat). Judul Tulisan. In (Nama belakang, nama depan disingkat dari editor) (Ed.) Judul Buku dicetak miring. Vol. Nomor. Penerbit. Tempat Publikasi, Rentang Halaman. Contoh:

Zhang, J. & B. Xia. 1992. Studies on two newGracilariafrom South China and a summary ofGracilariaspecies inChina. In Abbott, I. A. (Ed.) Taxonomy of Economic Seaweeds with Reference to Some Pacific and WesternAtlantic Species, Vol. III. Report no. T-CSGCP-023, California Sea Grant College Program, La Jolla, CA, pp. 195–206.

C. Artikel Jurnal:

Penulis 1, Penulis 2 dst. (Nama belakang, nama depan disingkat). Tahun publikasi. Judul artikel. Nama Jurnal dicetak miring, Vol, Nomor, rentang halaman. Contoh:

Cartlidge, J. 2012. Crossing boundaries: Using fact and fiction in adult learning. The Journal of Artistic and Creative Education, 6 (1): 94-111.

D. Prosiding Seminar atau Konferensi:

Penulis 1, Penulis 2 dst. (Nama belakang, nama depan disingkat). Tahun publikasi. Judul artikel. Nama Konferensi dicetak miring. Tanggal, Bulan dan Tahun, Kota, Negara, Halaman. Contoh:

Michael, R. 2011. Integrating innovation into enterprise architecture management. Proceeding on Tenth International Conference on Wirt-schafts Informatik. 16-18 February 2011, Zurich, Swis, pp. 776-786.

E. Skripsi, Tesis atau Disertasi:

Penulis (Nama belakang, nama depan disingkat). Tahun publikasi. Judul. Skripsi, Tesis, atau Disertasi dicetak miring.Universitas, Kota. Contoh:

Soegandhi. 2009. Aplikasi model kebangkrutan pada perusahaan daerah di Jawa Timur. Tesis. Fakultas Ekonomi Universitas Joyonegoro, Surabaya.

F. Sumber Rujukan dari Website:

Penulis. Tahun. Judul. Alamat Uniform Resources Locator dicetak miring (URL). Tanggal Diakses. Contoh:

Ahmed, S. dan A. Zlate. Capital flows to emerging market economies: A brave new world?.

(13)

JRLI Vol. 1 No. 2 Hal. 71 - 142 Makassar, Desember 2016 ISSN 2548-4494

Huyyirnah

Hartono, Khusnul Yaqin, Farida G. Sitepu

Irawati, Badraeni, Abustang, Ambo Tuwo

Ruth Angka Palayukan, Badraeni, Hasni Yulianti Azis, Ambo Tuwo

Muhammad Hendra, Rajuddin Syamsuddin, Muchlis Syamsuddin, Inayah Yasir

Rizal Pribadi, Edison Saade, Haryati Tandipayuk

Supriadi, Rajuddin Syamsuddin, Abustang, Inayah Yasir

Uswaton Khasanah, Muhammad Farid Samawi, Khairul Amri

Asmaul Husna, Metusalach, Fachrul

Amal Aqmal, Ambo Tuwo, Haryati

Keanekaragaman Jenis Rumput Laut di Perairan Littoral Dusun Tamalabba Desa Punaga Kecamatan

Magarabombang Kabupaten Takalar

Metode Maserasi Kinetik untuk Analisis Antibakteri dari Rumput Laut Hijau

Ulva reticulata

Terhadap

Bakteri Patogen Tanaman Kentang

Pengaruh Perbedaan Bobot Tallus Terhadap Pertumbuhan Rumput Laut

Kappaphycus alvarezii

Strain

Coklat yang Dikayakan

Efektifitas Rumput Laut

Gracilaria

sp. sebagai Bioremediator dalam Perubahan N dan P dalam Bak

Pemeliharaan Udang Vaname

Litopenaeus vannamei

Pengaruh Pupuk Organik Cair yang Mengandung Vitamin Terhadap Pertumbuhan Bibit

Kappaphycus

alvarezii

yang Dipelihara dalam Sistem Resirkulasi

Pengaruh Metode Pengerasan Terhadap Kualitas Fisik dan Kimiawi Pakan Gel Ikan Koi

Cyprinus carpio

haematopterus

Menggunakan Tepung Rumput Laut

Kappaphycus alvarezii

sebagai Pengental

Pertumbuhan dan Kandungan Karotenoid Lawi-Lawi

Caulerpa racemosa

yang Ditumbuhkan pada Tipe

Substrat Berbeda

Analisis Kesesuaian Perairan untuk Lokasi Budidaya Rumput Laut

Eucheuma cottonii

di Perairan

Kecamatan Sajoanging Kabupaten Wajo

Fisika Kimia Karaginan

Kappaphycus alvarezii

Hasil Ekstraksi Menggunakan Natrium Hidroksida

(NAOH) dan Penjendal Isopropil Alkohol (IPA) dan Etanol

Analisis Hubungan antara Keberadaan Alga Filamen Kompetitor Terhadap Pertumbuhan dan

Kandungan Karaginan Rumput Laut

Kappaphycus

sp. di Provinsi Sulawesi Selatan

71 - 76

77 - 81

82 - 87

88 - 93

103 - 107

108 - 116

117 - 122

123 - 131

132 - 142

94 - 102

urnal

Rumput Laut Indonesia

J

ISSN. 2548-4494

Gambar

Tabel 1. Kriteria parameter fisika-kimia oseanografi untuk kesesuaian perairan bagi usaha budidaya rumput laut
Table 2. Nilai rata-rata hasil pengukuran parameter fisika-kimia perairan di masing-masing stasiun penelitian
Tabel 3. Nilai skor hasil evaluasi kesesuaian perairan  budidaya rumput laut Eucheuma cottonii.
Gambar 3. Peta  Keseuaian  Perairan  Untuk  Lokasi  Budidaya  Rumput  Laut Eucheuma cottonii di Perairan Kecamatan Sajoanging Kabupaten Wajo

Referensi

Dokumen terkait

Dengan mengamati video dan gambar, siswa dapat menuliskan hasil pengamatan sederhana tentang lingkungan sehat menggunakan ejaan yang tepat dengan baik..

Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi ( JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION, EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE, USA, 1988

Perwakilan SPB yang terdiri atas kepala sekolah, guru, dan komite sekolah, serta perwakilan pengawas, dinas pendidikan, Kemenag, dan dosen LPTK mitra, juga mendapatkan kesempatan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka simpulan dari penelitian adalah (1) kemampuan berfikir keatif mahasiswa dalam mengembangkan media pembelajaran termasuk

Bagi Produsen, produsen dapat menggunakan hasil penelitian sebagai informasi pendukung, supaya dapat memahami gambaran persepsi dari konsumen sehingga dapat

Hal ini tentu semakin menunjukkan bahwa sudah timbul gejala over budget yang mungkin akan selalu terjadi pada perusahaan dikarenakan munculnya biaya-biaya yang tidak terduga

Hampir semua fistula ani, yang biasanya disebut fistel perianal atau fistel pra-anal, disebabkan Hampir semua fistula ani, yang biasanya disebut fistel perianal

Percobaan ini akan mengimplementasikan sebuah studi kasus dari rangkaian sekuensial, yaitu perempatan jalan yang mempunyai 4 buah lampu lalulintas Dua implementasi berbeda