UnizarLawReview
Volume 3 Issue 2, Desember 2020 E-ISSN: 2620-3839Open Access at: hhttp://e-journal.unizar.ac.id/index.php/ulr/index
ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERJANJIAN PERKAWINAN
YANG TIDAK DICATATKAN PADA DINAS KEPENDUDUKAN DAN
PENCATATAN SIPIL TERKAIT PIHAK KETIGA (STUDI PUTUSAN
MAHKAMAH KONSTITUSI NO 69/PUU-XIII/2015)
JURIDICAL ANALYSIS OF UN-RECORDED MARRIAGE AGREEMENTS
INTHE DEPARTMENT OF POPULATION AND CIVIL REGISTRATION
RELATED TO THIRD PARTY (DECISION STUDY OF THE
CONSTITUTIONAL COURT NUMBER 69 / PUU-XIII / 2015)
Wilson Gunawan Salim
Universitas Esa Unggul, Jakarta Barat Email: [email protected]
Abstrak
Perkawinan merupakan perbuatan hukum. Suatu perbuatan hukum yang “sah”, menimbulkan akibat berupa hak-hak dan kewajiban bagi kedua belah pihak (suami dan istri), dalam menciptakan keluarga yang bahagia. perkawinan bukan hanya mengatur pengikatan perkawinan saja antara suami dan istri melainkan mengatur hingga harta kekayaan dan hubungan dengan anak. Mengenai harta dapat dibuat suatu perjanjian perkawinan. Putusan MK No. 69/PUU-XIII/2015” telah membuat suatu terobosan baru mengenai peraturan perkawinan terutama dalam perjanjian perkawinan. Bagimanakah kedudukan hukum atas perjanjian perkawinan yang dibuat dihadapan notaris yang tidak dicatatkan pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil berdasarkan Putusan MK No. 69/ PUU-XIII/2015 dan bagaimanakah akibat hukum atas perjanjian perkawinan yang dibuat dihadapan notaris setelah perkawinan terkait dengan Putusan MK No. 69/PUU-XIII/2015 jika tidak dicatatkan pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil terhadap Pihak Ketiga. Penulis menggunakan metode penelitian normatif. Perjanjian kawin merupakan bagian dari suatu perjanjian jadi dapat dibuat berdasarkan asas kebebasan berkontrak, para pihak diberikan kebebasan untuk menentukan isi dari perjanjian yang akan dibuat asalkan tidak bertentangan dengan hukum, agama, kepatutan dan kesusilaan. Jadi perjanjian perkawinan yang dibuat di hadapan notaris sah dan mengikat suami dan istri yang membuatnya, dikarenakan perjanjian perkawinan tersebut memenuhi unsur-unsur perjanjian yang diatur didalam Pasal 1320 mengenai syarat sahnya perjanjian dan Pasal 1338 KUHPerdata, akan tetapi jika pihak ketiga ikut tersangkut didalamnya maka perjanjian perkawinan yang dibuat di hadapan notaris tersebut tidak dapat mengikat dan juga tidak berlaku bagi pihak ketiga tersebut. Apabila terdapat pihak ketiga ikut tersangkut didalam perjanjian dengan pasangan suami istri tersebut maka perjanjian perkawinan tersebut tidak memenuhi syarat formil dan asas publisitas, oleh karena itu pihak yang dirugikan dapat mengajukan pembatalan terhadap perjanjian perkawinan karena adanya cacat hukum didalam perjanjian perkawinan yang dibuat dihadapan notaris jika tidak didaftarakan atau dicatatkan pada Dinas Pencatatan Sipil. Sebainya pemerintah membuat aturan baru mengenai perjanjian perkawian setelah adanya putusan MK No. 69/PUU-XII/2015 untuk meminimalisir kerugian pihak ketiga atas perjanjian kawin dan untuk jabatan notaris sebaiknya lebih menekankan dan menjelaskan mengenai kegunaan, manfaat risiko dari perjanjian perkawinan kepada masyarakat.
Abstract
Marriage is a legal act. A legal action that is “legitimate”, results in the form of rights and obligations for both parties (husband and wife), in creating a happy family. marriage not only regulates the binding of marriage between husband and wife but rather regulates wealth and relationship with children. Regarding property, a marriage agreement can be made. MK Decision No. 69 / PUU-XIII / 2015 “has made a new breakthrough regarding marriage regulations, especially in marriage agreements. How is the legal position of the marriage agreement made before a notary public that is not recorded in the Population and Civil Registry Office based on MK Decision No. 69 / PUU-XIII / 2015 and how are the legal consequences of the marriage agreement made before a notary public after marriage related to the Constitutional Court Decision No. 69 / PUU-XIII / 2015 if not recorded at the Population and Civil Registry Office of Third Parties. The author uses normative research methods. The marriage agreement is part of an agreement so it can be made based on the principle of freedom of contract, the parties are given the freedom to determine the contents of the agreement to be made provided it is not contrary to law, religion, propriety and decency. So a marriage agreement made before a notary is legal and binds the husband and wife who made it, because the marriage agreement fulfills the elements of the agreement stipulated in Article 1320 regarding the legality of the agreement and Article 1338 of the Civil Code, but if a third party is involved in it then the agreement marriages made before a notary cannot be binding and also do not apply to these third parties. If there is a third party involved in the agreement with the husband and wife, the marriage agreement does not meet the formal requirements and the principle of publicity, therefore the injured party can file a cancellation of the marriage agreement due to a legal flaw in the marriage agreement made before the notary. registered or registered with the Civil Registration Service. The government should make new rules regarding the marriage agreement after the Constitutional Court’s decision No. 69 / PUU-XII / 2015 to minimize third party losses on marriage agreements and for notary positions should emphasize more and explain the usefulness, risk benefits of marriage agreements to the public.
Keywords: prenuptial agreement, Civil Registration, Notary Position A. PENDAHULUAN
Setiap manusia mempunyai keinginan untuk membentuk suatu keluarga sederhana yang terdiri dari ayah, ibu dan anak, dalam hal ini agar bisa membentuk suatu keluarga maka seorang pria dan seorang wanita harus menjalin suatu hubungan, dimana hubungan ini adalah hubungan perkawinan. Dapat dikatanan bahwa perkawinan merupakan “perbuatan hukum”. Suatu perbuatan hukum yang “sah”, menimbulkan akibat berupa hak-hak dan kewajiban bagi
kedua belah pihak (suami dan istri), dalam menciptakan keluarga yang bahagia. Tujuan dari
perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Didalam suatu perkawinan
itu suami dan istri perlu saling membantu dan melengkapi agar masing-masing dapat
mengembangkan kepribadiannya serta membantu dan mencapai kesejahteraan spiritual dan material.1
Perkawinan di Indonesia semula diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), karena dalam KUHPerdata, terutama dalam hal perkawinannya tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, lahirlah Undang-Undang Nomor
1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, karena dalam hal ini, KUHPerdata tidak memberikan
pengertian mengenai perkawinan itu sendiri. Perkawinan dalam hukum perdata adalah 1Ahmad Rofiq.(1995).Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persad, hlm. 56.
perkawinan perdata, maksudnya adalah perkawinan hanya merupakan ikatan lahiriah antara “pria” dan “wanita”, dalam hal ini unsur agama tidak diperlihatkan. Esensi dari tujuan perkawinan menurut KUHPerdata sendiri tidak bertujuan untuk memperoleh “keturunan” oleh karena itu, dimungkinkan perkawinan in extrimis, dalam hal ini “perkawinan in extremis” adalah perkawinan yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah lanjut usianya ataupun dimana salah satu pihak sudah hampir meninggal dunia..
Sebaliknya, Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menjelaskan bahwa perkawinan
merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita dengan maksud dan
tujuan untuk membentuk suatu keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 bukan hanya
sebatas ikatan lahiriah saja, tapi juga merupakan ikatan batiniah, dimana ikatan ini didasarkan
pada kepercayaan calon suami dan isteri. Menurut Pasal 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, perkawinan dapat dikatakan sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing
agama dan kepercayaannya itu.
Bahwa di dalam kehidupan suatu keluarga atau rumah tangga, selain masalah hak dan
kewajiban sebagai suami dan istri, masalah hara benda juga merupakan salah satu faktor yang
dapat menyebabkan timbulnya berbagai perselisihan atau ketegangan dalam suatu perkawinan,
bahkan dapat menghilangkan kerukunan antara suami dan istri dalam kehidupan suatu keluarga.
Untuk menghindari hal tersebut maka dibuatlah perjanjian perkawinan antara calon suami dan
istri, sebelum mereka melangsungkan perkawinan.
Aturan mengenai perkawinan bukan hanya mengatur pengikatan perkawinan saja antara
suami dan istri melainkan mengatur hingga harta kekayaan dan hubungan dengan anak, di
Indonesia masalah harta kekayaan dalam perkawinan diatur juga didalam KUH Perdata dan
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Pasal 119 KUHPerdata menyatakan
bahwa suatu perkawinan mengakibatkan terjadinya percampuran atau persatuan harta antara
suami dan isteri, sedangkan dalam Undang-Undang Perkawinan masalah harta kekayaan dalam
perkawinan termuat dalam sejumlah pasal-pasal seperti Pasal 35 ayat (1), Pasal 36 ayat (1),
dan Pasal 37. Ketentuan-ketentuan tentang harta kekayaan dalam perkawinan sebagaimana
diatur dalam KUHPerdata dan Undang-Undang Perkawinan tersebut diatas terkait dengan percampuran harta perkawinan dapat disimpangi dengan perjanjian perkawinan atau yang biasa disebut dengan “prenuptual agreement” atau sinonimnya “reconditional agreement”.
Berdasarkan hukum perkawinan di Indonesia diatur di dalam Undang-Undang Nomor
1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Khusus terkait perjanjian perkawinan, diatur pada bab tersendiri, yaitu Bab V tentang perjanjian perkawinan. Pasal 29 ayat 1 sampai 4 sebagai berikut
:2
1. “Pada waktu” atau “sebelum perkawinan” dilangsungkan, kedua pihak atas persetujuan bersama dapat mengadakan perjanjian tertulis yang “disahkan” oleh “Pegawai pencatat perkawinan”, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut. 2 Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, Pasal 29.
2. Perjanjian tersebut tidak dapat disahkan bilamana melanggar batas-batas hukum, agama dan kesusilaan
3. Perjanjian tersebut mulai berlaku sejak perkawinan dilangsungkan.
4. Selama perkawinan berlangsung perjanjian tersebut tidak dapat dirubah, kecuali bila dari
kedua belah pihak ada persetujuan untuk merubah dan perubahan tidak merugikan pihak ketiga.
Menurut Wirjono Prodjodikoro, perjanjian dapat diartikan sebagai “suatu perhubungan hukum mengenai harta benda kekayaan antara dua pihak, dalam mana satu pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk melakukan suatu hal, sedang pihak lain berhak menuntut pelaksanaan janji itu”.3 Pengertian perjanjian perkawinan menurut Soetojo Prawirohamidjojo, adalah “Perjanjian perkawinan (huwelijks atau huwelijkse voorwaarden) adalah perjanjian yang
dibuat oleh dua orang calon suami isteri sebelum dilangsungkannya perkawinan mereka, untuk
mengatur akibat-akibat perkawinan yang menyangkut harta kekayaan”4
Sedangkan dalam arti formal perjanjian perkawinan adalah “tiap perjanjian yang
dilangsungkan sesuai dengan ketentuan undang-undang antara calon suami isteri mengenai
perkawinan mereka, tidak dipersoalkan apa isinya”.5 Ketentuan mengenai harta bersama dapat disimpangi dengan perjanjian perkawinan sebagaimana diatur dalam undang-undang dengan batasan bahwa ketentuan tersebut tidak bertentangan dengan hukum, undang-undang, agama, kepatutan atau tata susila, dan ketertiban umum. “Perjanjian perkawinan yang lazim disepakati antara lain, berisi tentang:6
1. Harta bawaaan dalam perkawinan. Harta bawaan ini seperti, harta yang didapatkan dari usaha
suami isteri maupun dari warisan, hibah atau hadiah yang diperoleh masing-masing suami istri selama perkawinan.
2. Semua hutang dan piutang yang dibawa dalam perkawinan. Hutang piutang ini akan menjadi tanggung jawab masing-masing atau menjadi tanggung jawab bersama dengan batasan-batasan tertentu.
3. Hak isteri dalam mengurus harta pribadinya baik barang yang bergerak maupun barang yang
tidak bergerak dan dengan hak menikmati hasil serta pendapatan baik dari pekerjaannya sendiri maupun sumber lain.
4. Kewenangan isteri dalam mengurus hartanya supaya tidak memerlukan bantuan atau pengalihan
kuasa dari suami.
5. Pencabutan wasiat, serta ketentuan-ketentuan lain yang dapat melindungi kekayaan dan
kelanjutan bisnis suami isteri.”
3Wirjono Projodikoro.(1981). Hukum Perdata tentang Persetujuan-Persetujuan Tertentu. Bandung: Sumur, hlm. 11.
4R. Soetojo Prawirohamidjojo dan Marthalena Pohan.(2000).Hukum Orang dan Keluarga (Personen en
Fam-ilie – Recht). Surabaya: Airlangga University Press, hlm. 74.
5Damanhuri H.R.(2007).Segi-Segi Hukum Perjanjian Kawin Harta Bersama. Jakarta: Mandar Maju, hlm. 1. 6http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl3184/perjanjian-perkawinandan- hal-yang-diatur-di-dalamnya, diakses pada tanggal 21 April 2018, pukul 21.35 WIB.
Meski masyarakat Indonesia masih menganggap perjanjian perkawinan merupakan sesuatu yang tabu/canggung untuk dibicarakan, akan tetapi jika dilihat dari segi kemanfaatannya, perjanjian perkawinan dapat dijadikan langkah preventif dalam meminimalisir persoalan dalam rumah tangga yang menyangkut harta kekayaan. Seperti yang dikemukakan oleh R. Soetojo Prawirohamidjojo, “tujuan dibuatnya perjanjian perkawinan adalah sebagai berikut:7
1. Apabila harta kekayaan salah satu pihak (suami atau isteri) lebih besar dibanding harta
kekayaan pihak lainnya.
2. Kedua pihak (suami atau isteri) membawa masuk harta yang cukup besar kedalam perkawinan.
3. Masing-masing pihak memiliki usaha sendiri, sehingga apabila salah satu jatuh bangkrut (pailit), maka yang lain tidak ikut pailit.
4. Terhadap utang-utang yang dibuat sebelum perkawinan, masing-masing akan menanggung
utangnya sendiri.”
Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat diartikan bahwa tujuan dibuatnya perjanjian perkawinan adalah:
1. Menjamin berlangsungnya harta peninggalan keluarga
2. Menjaga harta bawaan masing-masing dari suami isteri.
3. Melindungi masing-masing usaha yang dimiiki oleh suami atau isteri bilamana salah satu diantara suami atau isteri tersebut jatuh pailit, maka pasangan kawinnya tidak ikut jatuh
pailit.
4. Melindungi suami atau isteri dari hutang-hutang yang telah ada sebelum perkawinan
berlangsung.
pada tanggal pada “27 Oktober 2016”, melalui putusannya atas permohonan uji materi
terhadap Undang-Undang Perkawinan dan Undang Undang Dasar Pokok Agraria Nomor
Register “69/PUU-XIII/2015” telah membuat suatu terobosan baru mengenai peraturan
perkawinan. MK sendiri memang diberi kewenangan khusus untuk melakukan pengujian isi materi dari suatu Undang-undang, yang dianggap bertentangan dengan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sesuai dengan Pasal 24 C ayat (1)8
tanpa disadari, Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 69/PUU/XII/2015 berdampak
besar terhadap perkembangan hukum di Indonesia, terutama terkait dengan hukum perkawinan dan kepemilikan hak kebendaan di Indonesia. Bahwa putusan MK merubah Makna Pasal 29 Ayat 1 UU Perkawinan menjadi “perjanjian perkawinan” dapat dibuat “Pada waktu, sebelum dilangsungkan atau selama dalam ikatan perkawinan kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang “disahkan” oleh pegawai pencatatan sipil “atau” Notaris, selama mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangut”. Oleh karena itu, Penulis menjadi tertarik untuk melakukan penelitian mengenai
kedudukan hukum dan akibat hukum bagi pasangan suami istri atas perjanjian perkawinan
7Soetojo Prawirohamidjojo.(1988). Pluralisme dalam Perundang-Undangan Perkawinan di Indonesia.
Band-ung: Airlangga University Press, hlm. 57.
8D.Y. Witanto. (2012). Hukum Keluarga Hak dan Kedudukan Anak Luar Kawin (Pasca Keluarnya Putusan MK Tentang
pasca perkawinan terkait putusan Mahkamah Konstitusi No. 69/PUU-VIII/2015 terhadap
perjanjian perkawinan yang tidak dicatatkan pada dinas kependudukan dan pencatatan sipil dan hanya dibuat dan disahkan dihadapan Notaris.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah kedudukan hukum atas perjanjian perkawinan yang dibuat dihadapan notaris yang tidak dicatatkan pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil berdasarkan Putusan MK No. 69/PUU-XIII/2015?
2. Bagaimanakah akibat hukum atas perjanjian perkawinan yang dibuat dihadapan notaris setelah perkawinan terkait dengan Putusan MK No. 69/PUU-XIII/2015 jika tidak dicatatkan pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil terhadap pihak ketiga?
C. METODE PENELITIAN a. Jenis Penelitian
Ilmu hukum normatif adalah ilmu hukum yang bersifat tidak dapat dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain. Fokus kajiannya adalah hukum positif, oleh karena itu, ilmu hukum normatif mempunyai banyak nama. Dalam litelatur ilmu hukum yang baik dalam Bahasa Belanda, Inggris, Jerman maupun litelatur ilmu hukum Indonesia, ilmu hukum normatif disebut juga dengan ilmu hukum positif, ilmu hukum dokmatik atau dogmatic hukum dan juga dikenal
istilah jurisprudence. Istilah manapun yang digunakan untuk ilmu hukum normatif tidak menjadi masalah, karena semua istilah tersebut sama, yang menunjuk dan bertumpu pada hal
yang sama yaitu ilmu yang mengkaji hukum positif.
Hukum positif yang dimaksud disini adalah hukum yang berlaku pada suatu waktu dan tempat tertentu, suatu aturan dan norma tertulis yang secara resmi dibentuk dan diundangkan oleh penguasa, di samping hukum yang tertulis yang secara efektif mengatur perilaku anggota masyarakat.9
Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian hukum normatif
atau penelitian hukum kepustakaan dikarenakan penelitian ini ditujukan hanya pada
peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan-bahan hukum yang lain. Selain itu, penelitian ini juga lebih
banyak dilakukan terhadap bahan hukum yang bersifat sekunder yang ada pada perpustakaan. Dalam penelitian ini, cara mengakses dan penelitiannya banyak diambil dari bahan pustaka,
yakni bahan yang berisikan pengetahuan ilmiah yang baru atau muktahir, atau pengertian baru tentang fakta yang diketahui maupun gagasan (ide), dalam hal ini mencakup buku, jurnal, disertasi atau tesis dan bahan hukum lainnya. Penelitian hukum normatif ini sepenuhnya menggunakan bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.10
9Johan Nasution, Op, Cit, hlm. 81.
b. Pendekatan Penelitian
Penelitian ilmu hukum normatif banyak pendekatan yang dapat digunakan baik secara terpisah-pisah dan berdiri sendiri maupun secara kolektif sesuai dengn isu atau permasalahan yang dibahas. Pendekatan tersebut antara lain :11
a) Pendekatan Undang-undang, yaitu, penelitian terhadap produk-produk hukum.
b) Pendekatan Historis, yaitu, penelitian atau pengkajian terhadap perkembangan produk-produk
hukum berdasarkan urutan-urutan, pereodisasi atau kenyataan sejarah yang melatar belakangi juga.
c) Pendekatan Konseptual, penelitian terhadap konsep-konsep hukum seperti sumber hukum, fungsi hukum, lembaga hukum dan sebagainya. Pendekatan ini beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum. Pendekatan ini menjadi penting sebab pemahaman terhadap pandangan/doktrin yang berkembang dalam ilmu hukum, dapat menjadi pijakan untuk membangun argumentasi hukum, ketika menyelesaikan isu hukum yang dihadapi. Pandangan atau doktrin akan memperjelas ide-ide dengan memberikan pengertian-pengertian hukum, konsep hukum, maupun asas hukum yang relevan dengan permasalahan.
d) Pendekatan Komparatif, penelitian tentang perbandingan hukum baik mengenai perbandingan
sistem hukum antar negara, maupun perbandingan produk hukum dan karakter hukum antar
waktu dalam satu negara.
e) Pendekatan Politis, yaitu penelitian terhadap pertimbangan-pertimbangan kebijakan elit politik dan partisipasi masyarakat dalam pembentukan dan penegakan berbagai produk hukum.
f) Pendekatan kefilsafatan, yaitu pendekatan mengenai bidang-bidang yang menyangkut objek kajian filsafat hukum.
Penelitian ini merupakan penelitian mengenai putusan Mahkamah Konstitusi dengan
Nomor 69/PUU/XII/2015 tentang Perjanjian Perkawinan di maknai “Pada waktu, sebelum dilangsungkan atau selama dalam ikatan perkawinan kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan atau notaris, setelah isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut, maka dari berbagai pendekatan yang telah penulis uraikan di atas, pendekatan yang paling sesuai dengan penelitian ini adalah pendekatan undang-undang dan pendekatan konseptual
c. Bahan Hukum
Penelitian ilmu hukum normatif adalah pengkajian terhadap bahan-bahan hukum, baik bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder. Apabila seorang peneliti menemukan permasalahan yang akan ditelitinya, kegiatan berikutnya adalah mengumpulkan semua informasi yang ada kaitannya dengan permasalahan, kemudian dipilih informasi yang relevan dan esensial, baru ditentukan isu hukumnya ada kalanya untuk menentukan isu hukumnya diperlukan informasi yang bersifat umum, informasi ini dimaksudkan agar dapat membantu
memberi orientasi terhadap situasi yang demikian ini, jalan terbaik yang dilakukannya adalah diperlakukanya penelaahan terhadap bahan hukum sekunder, melalui bantuan bahan hukum sekunder, isu hukum dapat dirumuskan dengan tajam. Di samping itu penelahan itu perlahan
terhadap bahan-bahan hukum sekunder dapat di identifikasi bahan hukum yang diperlukan.12 a) Bahan hukum primer
Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang mempunyai otoritas.13 Bahan hukum tersebut terdiri dari Kitab Undang Hukum Perdata, Kompilasi Hukum Islam,
Undang-Undang No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Putusan Mahkamah Konstitusi No. 69/
PUU-XIII/2015.
b) Bahan hukum sekunder
Bahan hukum sekunder adalah, semua publikasi tentang hukum yang merupakan hukum tidak resmi. Publikasi tersebut terdiri atas :
(a) buku-buku teks yang membicaraan suatu dan/atau beberapa permasalahan hukum, termasuk skripsi, tesisi, dan disertasi hukum;
(b) kamus–kamus hukum; (c) jurnal-jurnal hukum;
(d) komentar-komentar atas putusan hakim. Publikasi tersebut merupakan petunjuk atau penjelasan mengenai bahan hukum primer atau bahan hukum sekunder yang berasal dari kamus, ensiklopedia, jurnal, surat kabar, dan sebagainya.14
Kegunaan bahan hukum sekunder adalah memberikan petunjuk kepada peneliti untuk melangkah baik membuat latar belakang, perumusan masalah, tujuan dan keguanaan penelitian, kerangka teoritis dan konseptual, bahkan menentukan metode pengumpulan dan analisis bahan hukum yang akan dibuat sebagai hasil penelitian. Bagi kalangan praktisi hukum, bahan hukum
sekunder tersebut, dapat menjadi panduan berfikir dan menyusun argumentasi yang akan
diajukan dalam persidangan dan/atau memberikan pendapat hukum.15 c) Bahan Hukum Tersier
Selain bahan hukum primer dan sekunder, seorang peneliti hukum dapat juga menggunakan bahan non hukum bila dipandang perlu. Bahan-bahan non hukum dapat berupa buku-buku, jurnal, laporan hasil penelitian mengenai ilmu ekonomi, ilmu politik dan disiplin ilmu lainya sepanjang mempunyai relevansi dengan objek permasalahan yang diteliti. Bahan-bahan non hukum tersebut untuk memperluas wawasan peneliti dan/atau memperkaya sudut pandang
12Ibid., hlm. 98.
13H. Zainuddin Ali.(2009).Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Sinar Grafika, hlm. 47.
14Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji.(2003).Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat. Jakarta: Rajawali Pers,
hlm. 33-37.
peneliti. Relevan atau tidaknya bahan-bahan non hukum tersebut amat ditentukan oleh objek yang menjadi permasalahan dalam penelitian.16
d. Metode Pengumpulan Bahan Hukum
Metode pengumpulan bahan hukum dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan (Library
Research), yakni penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan hukum sekunder yang digunakan dalam penulisan tesis ini, antara lain, berasal dari buku-buku baik koleksi pribadi
maupun dari perpustakaan, artikel-artikel yang berkaitan dengan obyek penelitian. Tahap-tahap pengumpulan bahan hukum melalui studi pustaka adalah sebagai berikut :
a) Melakukan inventarisasi hukum positif dan bahan-bahan hukum lainnya yang relevan dengan obyek penelitian;
b) Melakukan penelusuran kepustakaan, artikel-artikel media cetak maupun elektronik.
Mengelompokan bahan-bahan hukum yang relevan dengan permasalahan; c) Mengelompokan bahan-bahan hukum yang relevan dengan permasalahan;
d) Menganalisis bahan hukum-bahan hukum yang relevan tersebut untuk menyelesaikan masalah yang menjadi objek penelitian.
e. Metode Pengolahan Bahan Hukum
Pengolahan bahan hukum adalah mengelola data sedemikan rupa sehingga data dan
bahan hukum dapat tersusun secara runtut, sistematis, sehingga akan memudahkan peneliti melakukan analisis. Pengolahan bahan hukum ini disebut juga sebagai klasifikasi, yaitu, melakukan klasifikasi terhadap data dan bahan hukum yang telah terkumpul ke dalam
kelas-kelas dari gejala-gejala yang sama atau dianggap sama. Dalam penelitian hukum normatif,
pengolahan bahan berwujud kegiatan untuk mensistematisasi terhadap bahan-bahan hukum
tertulis. Dalam hal ini, pengolahan bahan dilakukan dengan cara, melakukan seleksi data hasil
penelitian tersebut secara sistematis, yang dilakukan secara logis, dengan mencari keterkaitan
antara bahan hukum yang satu dengan bahan hukum lainnya, untuk mendapatkan gambaran umum dari hasil penelitian.17
f. Teknik Pengumpulan Data
Sehubungan dengan penelitian hukum normatif, bahan hukum yang dikaji dan dianalisis
dalam penelitian ini meliputi bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Teknik untuk mengkaji dan mengumpulkan ketiga bahan hukum itu menggunakan studi documenter. Studi documenter merupakan studi yang mengkaji tentang berbagai dokumen-dokumen, baik yang
berkaitan dengan peraturan perundangan-undangan maupun dokumen-dokumen yang sudah ada.
16Ibid., hlm. 58.
D. PEMBAHASAN
1. Kedudukan Hukum Perjanjian Perkawinan Yang Dibuat Di Hadapan Notaris Yang Tidak Dicatatkan Pada Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil Berdasar-kan Putusan MK No. 69/PUU-XIII/2015
Sebagaimana yang telah diuraikan dalam latar belakang masalah, Perjanjian kawin secara
umum dapat diberikan pengertian sebagai sebuah perjanjian yang dibuat oleh calon suami istri,
yang isinya mengenai hal-hal kesepakatan mengenai harta ataupun kesepakatan lainnya, yang
dirasa perlu untuk diperjanjikan oleh kedua pihak calon suami istri.
Perjanjian kawin, pada pokoknya merupakan suatu perbuatan hukum dalam ruang hukum perjanjian Jika dilihat lebih jauh perjanjian perkawinan didasari oleh Perjanjian dan perjanjian tersebut yang merupakan perikatan antara kedua belah pihak atau lebih yang mengikatkan diri. Perjanjian timbul karena ada kehendak dari para pihak yang memiliki tujuan dan kepentingan masing-masing sehingga menimbulkan timbal balik antara para pihak.18 Perjanjian menjadi sah
apabila telah memenuhi 4 (empat) unsur syarat sah perjanjian. Unsur-unsur sahnya perjanjian
diatur di dalam Pasal 1320 KUHPerdata mengenai :
1. Adanya kesepakatan antara pihak yang membuat perjanjian. Kesepakatan antara pihak yang membuat perjanjian berdasarkan kesepakatan untuk menyatukan tujuan dan kepentingan para pihak (asas konsensualisme). Selanjutnya ada kehendak para pihak untuk menyetujui perjanjian yang dibuat.
2. Para pihak yang membuat perjanjian harus cakap hukum. Seseorang dinyatakan cakap hukum bila telah mencapai usia 21 (dua puluh satu) tahun atau bila seseorang telah menikah sebelum usia 21 (dua puluh satu) tahun, tidak dalam pengampuan, contohnya orang gila dan orang yang boros, dan menurut Undang-Undang, seseorang dinyatakan sebagai cakap hukum. 3. Perihal yang diatur dalam perjanjian, yang akan menjadi obyek hukum dalam perjanjian.
4. Perihal yang diatur tidak bertentangan dengan hukum. Apapun dapat dijadikan subyek hukum,
asal tidak melanggar hukum. Perihal yang tidak diperdapatkan dalam perjanjian, seperti narkotika, perdagangan manusia dan tindakan-tindakan yang menurut hukum merupakan pelanggaran atau kejahatan.
Perjanjian tidak hanya memenuhi unsur-unsur Pasal 1320 KUHPerdata, namun, perjanjian juga harus memenuhi Pasal 1338 KUHPerdata, yaitu asas itikad baik (good faith). Dalam pembuatan perjanjian harus jujur, terbuka dan tidak ada niat jahat yang dapat merugikan pihak lawan, selama perjanjian mengikat. Berdasarkan asas kebebasan berkontrak, bentuk perjanjian bisa dilakukan secara lisan atau dibuat secara tertulis. Menurut Pasal 1338 KUHPerdata, baik perjanjian lisan mapun perjanjian tertulis sama-sama secara hukum dan berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya (pacta sunt servanda). Isi perjanjian juga tidak ada
ketentuan yang pasti, dikarenakan isi perjanjian bersifat bebas dan dapat ditentukan apapun,
tetapi ada batasan-batasan yang mengatur. Batasan isi perjanjian tidak dapat bertentangan 18Patrik Purwahid, Op.cit., hlm. 1-3.
dengan asas dan peraturan perundang-undangan. Dalam hal pembatalkan perjanjian harus ada kesepakatan para pihak yang membuat perjanjian itu.
Perkawinan merupakan contoh peristiwa hukum, yang terdiri dari perbuatan hukum yang dilakukan oleh suami istri sebagai subyek hukumnya dan memiliki akibat hukum. Akibat hukum
terhadap pasangan, anak dan harta kekayaan. Dalam perkawinan juga dikenal perjanjian kawin atau perjanjian perkawinan. Jadi perjanjian kawin secara umum dapat diberikan pengertian
sebagai Perjanjian yang dibuat oleh calon suami istri, yang berisi hal-hal kesepakatan mengenai
harta benda ataupun kesepakatan lainnya, yang dirasa perlu diperjanjikan oleh kedua pihak
calon suami istri.
Sudikno Mertokusumo menjelaskan perjanjian kawin sebagai suatu perjanjian, yang dibuat sebelum pernikahan dilangsungkan dan mengikat kedua belah pihak calon pengantin yang akan menikah dan berlaku setelah pernikahan dilangsungkan.19
Perjanjian kawin pada pokoknya merupakan suatu perbuatan hukum dalam ruang lingkup hukum perjanjian, oleh sebab itu, syarat keabsahannya wajib mengacu Pasal 1320 BW.20 Perjanjian kawin merupakan bagian dari suatu perjanjian, jadi perjanjian kawin juga dibuat berdasarkan asas kebebasan berkontrak, sebagaimana yang diatur dalam pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata, sehingga para pihak diberikan kebebasan untuk menentukan isi dari perjanjian, yang akan mereka buat, asalkan tidak bertentangan dengan hukum, agama, kepatutan dan kesusilaan.
Penting untuk mengetahui bagaimana kedudukan harta kekayaan suami-istri. Hal ini berkaitan dengan kepastian pelunasan utang. Jika suami-istri kawin dengan persatuan bulat harta kekayaan perkawinan, maka utang yang dibuat oleh suami-istri dapat dituntut pelunasannya
dari harta persatuan. Sebaliknya, jika ada Perjanjian Kawin, maka pelunasan utang menjadi tanggung jawab pihak yang membuat perjanjian.
Pergeseran makna perjanjian kawin sebagai akibat adanya Putusan Mahkamah Konstitusi
Nomor 69/PUU-XIII/2015, yang mengijinkan dibuatnya perjanjian kawin selama masa perkawinan dan dapat disahkan oleh Pegawai Pencatatan Sipil atau Notaris, membawa dampak besar bagi hubungan dengan pihak ketiga terlebih jika sebelum dibuatnya perjanjian kawin
tersebut sudah ada hubungan antara suami istri dengan pihak ketiga.
Sehubungan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi yang disebutkan di atas, para pasangan
kawin yang berkeinginan untuk membuat perjanjian kawin atau mencabut perjanjian kawin yang pernah dibuat, sudah terakomodasi oleh pihak Kantor Urusan Agama ataupun Kantor Catatan Sipil, yang kewenangannya untuk melakukan pencatatan perkawinannya. Bagi pasangan kawin campuran, hukum perjanjian kawin memberikan solusi khususnya, yang
terkait dengan persoalan status kepemilikan tanah oleh warga negara asing sebagai akibat
hubungan perkawinan dengan warga negara indonesia. Hanya saja, putusan ini menimbulkan masalah baru.
19Sudikno Mertokusumo.(1988). Hukum Acara Perdata di Indonesia. Yogyakarta: Liberty, hlm. 97. 5 20Moch. Isnaeni.(2016). Hukum Perkawinan Indonesia. Surabaya: Revka Petra Media, hlm.169.
Masalah baru yang terjadi adalah adanya ‘pemberian kewenangan’ kepada notaris untuk mengesahkan perjanjian kawin (dalam putusan disebutkan sebagai perjanjian tertulis), yang
inheren karena jabatannya. Dalam putusan Mahkamah Konstitusi tersebut di atas tersirat frasa kata “disahkan oleh“, di dalam Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut seolah-olah frasa
“disahkan oleh pegawai pencatatan sipil atau notaris” telah memberikan 2 (dua) alternatif dalam pengesahan suatu perjanjian kawin. Pertama, dapat dilakukan pengesahan oleh pegawai
pencatat sipil atau perkawinan, kedua dapat juga disahkan oleh notaris. Terkait cara yang kedua,
dapat dimaknai bahwa para pihak yang membuat perjanjian kawin di hadapan notaris tidak memerlukan lagi untuk mencatatkan perjanjian kawinnya tersebut pada Kantor Pencatatan
sipil atau Kantor Urusan Agama karena berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi tersebut
dianggap telah sah berlaku serta mengikat pihak ketiga.
Bahwa akta notaris tidak dapat memenuhi asas publisitas, karena ada kewajiban bagi Notaris untuk merahasiakan segala suatu yang berkenaan dengan akta tersebut sedangkan yang dimaksud dengan asas publisitas adalah, kewajiban membuka informasi kepada publik, misalnya, dengan diumumkan pada papan pengumuman yang dapat diakses oleh publik (agar memenuhi prinsip publisitas itu sendiri). Syarat untuk memenuhi asas publisitas adalah akses informasi bagi publik. Alasan bahwa notaris tidak memiliki kewenangan terkait asas publisitas, dalam hal ini, memang dapat dibenarkan.
Walaupun notaris merupakan pejabat umum (pejabat publik) yang melayani kepentingan publik, perjanjian kawin yang dibuat oleh notaris belumlah dapat mengikat pihak ketiga, mengingat notaris tidak diberikan kewenangan untuk mengumumkan perjanjian kawin tersebut (kewenangan publisitas). Apalagi telah melanggar prinsip kerahasiaan akta. Berbeda halnya
bila undang-undang atau Mahkamah Konstitusi, dengan tegas memberikan kewenangan
kepada notaris untuk melakukan pengumuman sendiri. Dalam hal ini, alasan kerahasiaan akta tak perlu lagi dipersoalkan. Oleh karena itu, untuk memenuhi asas publisitas, supaya perjanjian kawin berlaku juga bagi pihak ketiga, maka perjanjian kawin harus didaftarkan oleh pegawai pencatat perkawinan, sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 29 ayat (1) Undang-undang Perkawinan Jo. Pasal 152 KUHPerdata. Proses pendaftaran ini masuk ke dalam lingkup hukum
administrasi dan hukum administrasi merupakan bagian dari hukum publik21
Apabila para pihak hanya membuat perjanjian perkawinan tersebut disahkan oleh notaris dan tanpa didaftarkan pada pegawai pencatatan sipil, maka perjanjian kawin tidak mengikat pihak ketiga. Dari apa yang disebutkan di atas, tentunya akan melahirkan permasalahan yang
berakibat adanya perubahan status hukum terhadap harta benda dalam perkawinan, yang
sebelumnya dalam persatuan bulat menjadi terpisah, jika sebelumnya telah ada perbuatan hukum yang berkaitan dengan pihak ketiga, misalnya, perjanjian kredit.
Sebagai ilustrasi, jika sepasang suami istri melakukan perjanjian kredit dengan bank
dengan memberikan rumah yang dibelinya dari harta bersama dalam perkawinan sebagai
obyek jaminannya. Kemudian dalam perjalanannya pasangan suami istri membuat perjanjian
kawin, yang isinya membagi atau memisahkan harta benda, yang ada ke dalam penguasaan
masing-masing pihak. Apabila terjadi perubahan status kepemilikan terhadap rumah tersebut,
maka posisi pihak bank sebagai kreditur akan menjadi rawan dirugikan, karena apabila terjadi
wanprestasi, maka pihak bank tidak serta merta dapat melakukan eksekusi terhadap obyek
jaminan tersebut.
Jika dicermati lebih dalam, apabila perjanjian kawin berlaku terhitung sejak tanggal perjanjian kawin dibuat maka menurut penulis, tidak akan membawa banyak permasalahan hukum terkait dengan pembuatan perjanjian kawin, sebab perjanjian kawin hanya membawa akibat hukum terhadap harta benda yang diperoleh, setelah dibuatnya perjanjian kawin. Namun, apabila perjanjian perkawinan yang dibuat sepanjang perkawinan mulai berlaku sejak dilangsungkan perkawinan, maka akan menimbulkan berbagai permasalahan, terkait dengan
status harta benda yang telah ada sebelumnya, yang menurut hukum merupakan harta benda
bersama karena diperoleh setelah berlangsungnya perkawinan.
2. Akibat Hukum Atas Perjanjian Perkawinan Yang Dibuat Di Hadapan Notaris Setelah Perkawinan Terkait Dengan Putusan MK No. 69/PUU-XIII/2015 Jika Tidak Dicatatkan Pada Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil
Terkait dengan Putusan Mahkamah Konstitusi No. 69/PUU-XIII/2015 dengan putusan
tersebut telah mengubah frasa Pasal 29 Undang-Undang Perkawinan yang dimaknai menjadi
“Pada waktu, sebelum dilangsungkan atau selama dalam ikatan perkawinan kedua be-lah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan atau notaris, setelah isinya berlaku terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut”.
Dari frasa tersebut di atas dapat dibagi menjadi lima unsur penting dalam makna Pasal 29 ayat (1), yaitu: (1) perjanjian dibuat selama masa perkawinan; (2) persetujuan bersama;
(3) dibuat secara tertulis; (4) disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan atau notaris; dan
(5) berlaku terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut.
Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi, jika kelima unsur tersebut telah terpenuhi,
maka perjanjian perkawinan yang dibuat di hadapan notaris adalah sah dan berlaku bagi
suami istri, hal ini dikarenakan akta perjanjian perkawinan yang dibuat oleh Notaris tidak
dapat memenuhi asas publisitas maka perjanjian perkawinan tersebut tidak dapat diberlakukan kepada pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut
Walaupun telah diterbitkan aturan mengenai penegasan mengenai prosedur pencatatan perjanjian perkawinan pada Surat Edaran Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil
Departemen Dalam Negeri Nomor 472.2/5876/DUKCAPIL tanggal 19 Mei 2017 dan Surat Edaran Kementerian Agama Republik Indonesia Nomor B.2674/DJ.III/KW.00/9/2017 tentang
pencatatan perjanjian perkawinan, yang menindaklanjuti putusan Mahkamah Konstitusi No
69/PUU-XIII/2015, yang menyatakan bahwa setiap perjanjian perkawinan yang dibuat di
hadapan notaris wajib dilaporkan dan dicatatkan pada instansi pelaksana atau unit pelaksanaan
teknis pada pencatatan sipil atau kantor urusan agama sesuai lokasi di mana pasangan
suami istri mencatatkan perkawinanya. akan tetapi menurut penulis, seharusnya dalam menerjemahkan isi dari Putusan Mahkamah Konstitusi No. 69/PUU-XIII/2015 sebaiknya
tidak diterjemahkan kedalam surat edaran saja dikarenakan surat edaran hanya mengatur secara internal mengenai pejabat pencatatan sipil atau pejabat kantor urusan agama saja,
seharusnya dalam menerjemahkan isi Putusan Mahkamah Konstitusi No. 69/PUU-XIII/2015,
seharusnya diterjemahkan kedalam Peraturan Perundang-udangan atau Peraturan Pemerintah agar memiliki kekuatan mengikat secara publik, untuk meminimalisir dan juga mempertegas kewenangan jabatan notaris, petugas pencatatan perkawinan dan petugas kantor urusan agama. Secara prosedurnya akta perjanjian perkawinan yang telah dibuat di hadapan notaris harus dilaporkan atau dicatatkan kepada pencatatan sipil atau kantor urusan agama, maka akan
dibuatkan catatan pinggir pada registrasi akta dan kutipan akta perkawinan, setelah pemohon
memperoleh catatan pinggir, maka perjanjian perkawinan tersebut baru berlaku bagi pihak ketiga, sepanjang pihak ketiga tersangkut didalamnya.
Akibat hukum atas perjanjian perkawinan yang dibuat di hadapan notaris setelah perkawinan
dan terkait dengan putusan Mahkamah Konstitusi No. 69/PUU-XIII/2015, jika perjanjian perkawinan antara suami dan istri yang dibuat dihadapan notaris tidak dicatatkan pada kantor
pencatatan sipil atau kantor urusan agama menurut penelitian Penulis, sepanjang pihak ketiga
tidak tersangkut dengan pasangan suami istri tersebut, maka perjanjian perkawinan tersebut tetap berlaku dan mengikat kepada para pihak yang membuat perjanjian (suami dan istri) dan
tetap sah dan berlaku dimata hukum. Apabila pihak ketiga yang ikut tersangkut dan melakukan
perbuatan hukum (perjanjian kredit) dengan salah satu pasangan suami atau istri tersebut, maka
menurut hukum pihak ketiga tidak tunduk terhadap isi perjanjian perkawinan dikarenakan perjanjian perkawinan tersebut belum memenuhi persyaratan formil, dikarenakan notaris tidak memenuhi asas publisitas terhadap isi perjanjian perkawinan karena ada kewajiban bagi Notaris untuk merahasiakan segala suatu yang berkenaan dengan akta tersebut, oleh karena itu pihak yang dirugikan dapat mengajukan pembatalan terhadap perjanjian perkawinan itu karena adanya kecacatan hukum dalam perjanjian perkawinan yang dibuat di hadapan notaris, jika tidak didaftarakan atau dicatatkan pada Dinas Pencatatan Sipil atau kantor urusan agama.
E. KESIMPULAN
Berdasarkan keseluruhan analisis di atas, pokok permasalahan yang telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa berdasarkan Putusan Mahkamah
Konstitusi No. 69/PUU-XIII/2015 mengatur tentang perjanjian perkawinan yang salah satunya
mengenai pengesahan perjanjian perkawinan, dapat disahkan oleh pegawai pencatatan sipil atau notaris, menjadikan kedudukan perjanjian perkawinan tersebut yang dibuat di hadapan notaris yang tidak dicatatkan pada dinas kependudukan dan pencatatan sipil, dipertanyakan mengenai
keabsahannya. Penulis menyimpulkan bahwa Perjanjian kawin merupakan bagian dari suatu perjanjian sehingga perjanjian perkawinan juga dibuat berdasarkan asas kebebasan berkontrak, sebagaimana diatur dalam pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata sehingga para pihak diberikan kebebasan untuk menentukan isi dari perjanjian yang akan dibuat asalkan tidak bertentangan dengan hukum, agama, kepatutan dan kesusilaan. Jadi perjanjian perkawinan yang dibuat di
hadapan notaris adalah sah dan mengikat para pihak atau suami istri yang membuatnya, sebab
perjanjian perkawinan itu telah memenuhi unsur-unsur perjanjian yang diatur di dalam Pasal 1320 mengenai syarat sahnya perjanjian dan Pasal 1338 KUHPerdata, akan tetapi, jika pihak ketiga ikut tersangkut di dalamnya maka perjanjian perkawinan yang dibuat di hadapan notaris tidak dapat mengikat dan juga tidak berlaku bagi pihak ketiga, hal ini disebabkan karena perjanjian perkawinan yang dibuat di hadapan notaris tidak dapat memenuhi asas publisitas karena ada kewajiban bagi notaris untuk merahasiakan segala suatu yang berkenaan dengan akta tersebut, untuk dapat memenuhan asas publisitas supaya perjanjian kawin tersebut juga dapat berlaku bagi pihak ketiga maka perjanjian kawin itu harus didaftarkan kepada pegawai pencatat perkawinan oleh para pihak yang membuat perjanjian atau dapat kuasakan kepada notaris yang bersangkutan.
Akibat hukum atas perjanjian perkawinan yang dibuat di hadapan notaris setelah perkawinan
dan terkait dengan putusan Mahkamah Konstitusi No. 69/PUU-XIII/2015, jika perjanjian perkawinan antara suami dan istri yang dibuat dihadapan notaris tidak dicatatkan pada kantor
pencatatan sipil atau kantor urusan agama menurut penelitian Penulis, sepanjang pihak ketiga
tidak tersangkut dengan pasangan suami istri tersebut, maka perjanjian perkawinan tersebut tetap berlaku dan mengikat kepada para pihak yang membuat perjanjian (suami dan istri) dan
tetap sah dan berlaku dimata hukum. Apabila pihak ketiga yang ikut tersangkut dan melakukan
perbuatan hukum (perjanjian kredit) dengan salah satu pasangan suami atau istri tersebut, maka
menurut hukum pihak ketiga tidak tunduk terhadap isi perjanjian perkawinan dikarenakan perjanjian perkawinan tersebut belum memenuhi persyaratan formil, dikarenakan notaris tidak memenuhi asas publisitas terhadap isi perjanjian perkawinan karena ada kewajiban bagi Notaris untuk merahasiakan segala suatu yang berkenaan dengan akta tersebut, oleh karena itu pihak yang dirugikan dapat mengajukan pembatalan terhadap perjanjian perkawinan itu karena adanya kecacatan hukum dalam perjanjian perkawinan yang dibuat di hadapan notaris, jika tidak didaftarakan atau dicatatkan pada Dinas Pencatatan Sipil atau kantor urusan agama.
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka Penulis menyampaikan beberapa saran pertama,
Sebaiknya pemerintah membuat aturan baru mengenai perjanjian perkawinan setelah adanya
putusan Mahkamah Konstitusi No. 69/PUU-XII/2015, yang menyatakan bahwa perjanjian
perkawinan dapat diberlakukan pada waktu, sebelum dilangsungkan atau selama dalam ikatan perkawinan kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang dibuat di hadapan notaris dan disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan, untuk meminimalisir tindakan-tindakan yang dapat merugikan pihak ketiga jika tersangkut. Kedua,
indonesia dengan warga negara asing, perjanjian kawin tersebut sebenarnya untuk melindungi harta kekayaan warga negara indonesia agar tidak hilang akibat perkawinan campur tersebut, saran penulis untuk jabatan notaris harus lebih menekankan dan menjelaskan mengenai kegunaan, manfaat, resiko dan tujuan dari perjanjian perkawinan kepada masyarakat, serta
prosedur apa saja yang harus calon suami istri atau pasangan suami istri lakukan, agar perjanjian
perkawinan yang dibuat dapat sah berlaku sesuai ketentuan yang ada di Indonesia dan dapat juga mengikat pihak-pihak ketiga yang terlibat di dalamnya, untuk mengurangi risiko adanya
perselisihan hukum antara pasangan suami istri tersebut dengan pihak ketiga. F. DAFTAR PUSTAKA
Buku
Afandi: Ali, Hukum Waris, Hukum Keluarga, Hukum Pembuktian, Jakarta: Renika Cipta,
2004.
Ali; H. Zainuddin. Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafika, 2009.
Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Merode Penelitian Hukum, Jakarta: Rajawali Pers, 2006.
Andasasmita; Komar. Notaris Selayang Pandang, Bandung : Alumni, 1983.
Budijaya; I Nyoman. Catatan Sipil Di Indonesia Suatu Tinjaun Yuridis, Surabaya: Bina Indra Karya, 1987.
Budiono; Herlin. “Pertanggungjawaban Notaris Berdasarkan Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 (Dilema Notaris Diantara Negara, Masyarakat, dan Pasar), Renvoi, September
2005.
Budiono; Herlin. Asas Keseimbangan Bagi Hukum Perjanjian Indonesia, Hukum Perjanjian Berlandaskan Asas-Asas Wigati Indonesia, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2006. Budiono; Herlien. Ajaran Umum Hukum Perjanjian dan Penerapannya di Bidang Kenotariatan,
Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2010.
Darmabrata; Wahjono dan Surini Ahlan Sjarif, Hukum Perk awinan dan Keluarga Indonesia, Jakarta, Riskita,2002.
Djubaidah; Neng. Pencatatan Perkawinan & Perkawinan Tidak Dicatat: Menurut Hukum Tertulis di Indonesia dan Hukum Islam, Jakarta : Sinar Grafika, 2010.
Hadikusuma; H. Hilman, Hukum Perkawinan Indoneisa Menurut Perundangan, Hukum Adat,
Hukum Agama, Bandung, Mandar Maju, Bandung, 2007.
Kie; an Thong. Studi Notariat (Beberapa Mata Pelajaran) dan Serba-Serbi Praktek Notaris, Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2000.
Marzuki; Peter Muhmud, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2012.
Mertokusumo; Sudikno. Hukum Acara Perdata di Indonesia, Yogyakarta : Liberty, 1988.
Nasution; Bahder Johan, Metode Penelitian Ilmu Hukum. Bandung : Mandar Maju, 2008. Nazir; Moh, Metode Penelitian, Jakarta : Ghalia Indonesia, 1988.
Prawirohamidjojo; R. Soetojo dan Marthalena Pohan, Hukum Orang dan Keluarga (Personen en Familie – Recht), Cetakan.I, Surabaya : Airlangga University Press, 2000.
Prawirohamidjojo; Soetojo, Pluralisme dalam Perundang-Undangan Perkawinan di Indonesia, Bandung : Airlangga University Press, 1988.
Projodikoro; Wirjono, Hukum Perdata tentang Persetujuan-Persetujuan Tertentu, Bandung :
Sumur, 1981.
R.; Damanhuri H., Segi-Segi Hukum Perjanjian Kawin Harta Bersama, Jakarta : Mandar Maju,
2007.
Ramulyo; Moh. Idris, Hukum Perkawinan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1996.
Rofiq; Ahmad. Hukum Islam di Indonesia, Jakarta : Raja Grafindo Persad, 1995.
Sembiring; Rosnidar. Hukum Keluarga Harta-harta Benda dalam Perkawinan, Jakarta : Raja
Grafindo Persada, 2016.
Setiawan; R. Pokok-Pokok Hukum Perikatan, Bandung : Bina Cipta,1987.
Soekanto; Soerjono dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat,
Jakarta : Rajawali Pers, 2003.
Subekti; R. Hukum Perjanjian, Jakarta : PT Intermassa, Jakarta, 2005.
Surayin; Analisis Kamus Umum Bahasa Indonesia, Bandung : Yrama Widya, 2005.
Widjaya; I Gede Ray. Merancang Suatu Kontrak, Bekasi : Kesaint Balnc, 2007.
Witanto; D.Y. Hukum Keluarga Hak dan Kedudukan Anak Luar Kawin (Pasca Keluarnya Putusan MK Tentang Uji Materiil UU Perkawinan), Jakarta: Prestasi Pustakaraya,2012. Peraturan Undang-Undang
Indonesia. Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan.
Indonesia, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris.
Indonesia, Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-XIII/2015, tanggal 27 Oktober
2016.
Internet
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl3184/perjanjian-perkawinandan- hal-yang-diatur-di-dalamnya, diakses pada tanggal 21 April 2018, pukul 21.35 WIB.
http://www.pengertianartidefinisi.com/2015/10/pengertian-hukum-yuridis/, diakses pada tgl 09 Februari 2016, pukul 14:00 WIB.
YLBH APIK, “Penyelesaian Pemisahan Harta dalam Perkawinan”, www.lbh-apik.or.id/