BAB I PENDAHULUAN. lebih meningkatkan kualitas pengelolanya, dalam hal ini aktivitas-aktivitas yang

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berkembangnya suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi dalam dunia usaha secara umum, dimana dunia usaha dituntut untuk lebih meningkatkan kualitas pengelolanya, dalam hal ini aktivitas-aktivitas yang dijalankan oleh perusahaan haruslah sejalan dengan tujuan yang telah ditetapkan (Widya, 2012). Suatu pengendalian internal terdiri dari kebijakan dan prosedur yang dirancang untuk memberikan manajemen jaminan yang wajar bahwa perusahaan mencapai tujuan dan sasarannya, terdapat tiga tujuan umum dalam merancang sistem pengendalian internal yang efektif seperti reliabilitas pelaporan keuangan, efisiensi dan efektivitas operasi, dan ketaatan pada hukum dan peraturan (Arens, 2008:370).

Agar tercapainya tujuan dan sasaran dengan efektif maka diperlukan struktur pengendalian internal yang baik dalam meminimalkan segala bentuk penyimpangan yang dapat merugikan perusahaan, dalam penerapannya pengendalian internal sangat diperlukan guna menyedikan informasi yang akurat dan dapat dipercaya serta mendorong efisiensi usaha selain sebagai alat pengendalian manajemen terhadap ketaatan pada kebijakan yang ditetapkan (Susiana, 2003:1). Pengendalian internal perusahaan didesain sebaik mungkin supaya pencapaian atas tujuan dan sasaran berjalan dengan efektif dan efisien.

(2)

Salah satu komponen pengendalian internal menurut COSO (Committee of Sponsoring Organization) adalah penaksiran risiko yang berarti identifikasi entitas dan analisis terhadap risiko yang relevan untuk mencapai tujuaannya, membentuk suatu dasar untuk menentukan bagaimana risiko harus dikelola (SPAP, 2004:69).

Sistem pengendalian internal semakin menjadi tumpuan dalam mewujudkan organisasi yang sehat dan berhasil, audit internal dapat memberikan sumbangan yang besar dalam menaati kewajiban tersebut dan memberi nilai tambah bagi organisasi (YPAI, 2004:3). Audit internal adalah fungsi penilaian independen yang dibentuk untuk memeriksa dan mengevaluasi aktivitas-aktivitasnya sebagai jasa yang diberikan kepada perusahaan (Sawyer, 2005:8). Dengan demikian jelas bahwa tujuan keberadaan auditor internal adalah untuk membantu manajemen dalam rangka mengendalikan operasi perusahaan agar dapat mencapai tujuan organisasi secara ekonomis, efektif dan efisien (YPIA, 2008:10)

Seorang auditor internal dituntut untuk memiliki kompetensi yang memadai agar dapat menjalankan fungsinya secara efektif. Fungsi audit internal secara kolektif harus memiliki atau memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi lainnya yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya (SPAP, 2004:16). Auditor yang profesional harus memiliki independensi serta kompetensi untuk memenuhi kewajiban profesionalnya memberikan opini yang objektif, tidak bias, dan tidak dibatasi dan melaporkan masalah apa adanya, bukan melaporkan sesuai keinginan eksekutif atau lembaga.

(3)

Auditor internal harus bebas dari hambatan dalam melaksanakan auditnya. Hanya dengan begitu auditor internal bisa disebut melaksakan audit dengan profesional (Lawrence, 2005). Kompetensi diartikan sebagai kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi oleh keterampilan dan pengetahuan kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut. Dengan demikian kompetensi menunjukkan keterampilan atau pengetahuan yang dicirikan oleh profesionalisme dalam suatu bidang tertentu sebagai suatu yang terpenting. Kompetensi sebagai karakteristik seseorang berhubungan dengan kinerja yang efektif dalam suatu pekerjaan atau situasi (Wibowo, 2007:86).

Kompetensi dan independensi dimiliki auditor dalam penerapannya akan terkait dengan etika karena akuntan mempunyai kewajiban untuk menjaga standar perilaku etis tertinggi mereka kepada organisasi serta akuntan mempunyai tanggung jawab menjadi kompeten dan untuk menjaga integritas dan obyektivitas mereka (Nugrahaningsih, 2005). Independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang objektif tidak memihak dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya (Mulyadi, 2002:26-27). Auditor internal yang memiliki sikap yang independen memiliki peranan yang sangat penting dalam terciptanya pengendalian internal (Rina, 2009). Sedangkan pengendalian internal dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang dipengaruhi oleh dewan direksi, manajemen, dan karyawan yang dirancang untuk memberikan jaminan yang meyakinkan bahwa tujuan organisasi akan dapat

(4)

dicapai melalui efisiensi dan efektivitas operasi, penyajian laporan keuangan yang dapat dipercaya, dan ketaatan terhadap undang-undang dan aturan yang berlaku (Azhar, 2008:95).

Pengendalian internal yang efektif mengurangi kecendrungan kecurangan akuntansi, serta dapat memberikan perlindungan bagi entitas untuk mengurangi kemungkinan kesalahan dan tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (Wilopo, 2006). Namun masih terdapat masalah seperti yang terjadi pada PT. Telkom yaitu dana program kemitraan bina lingkungan (PKBL) di BUMN bidang telekomunikasi itu pada tahun 2014 senilai Rp 45 miliar diduga diselewengkan oleh Dirut PT Telkom AY dan Senior General Manager Community Development Centre (SGM CDC) NHR. Temuan diungkapkan internal perusahaan dari total dana PKBL sebesar Rp 45 miliar, penyimpangan terbesar atau senilai Rp 8 miliar dialokasikan untuk pembangunan Gedung Pusat Pengkajian Inkubasi Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad) di Jalan Banda No 40, Kota Bandung. Mekanisme penyaluran dana PKBL senilai Rp 8 miliar untuk proyek tersebut menyalahi aturan. Proyek diawali dengan adanya proposal pengajuan dana untuk pembangunan creative camp dari Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia (MIKTI) (Budi Prasetyo, 2014).

Terjadi juga kasus pada laporan keuangan PT Kereta Api Indonesia yaitu Ketua Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia AH, berdasarkan informasi dari Akuntan Publik SM, audit terhadap laporan keuangan PT Kereta Api untuk 2003 dan sebelumnya dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Sedangkan, audit terhadap laporan keuangan 2004 dilakukan oleh BPK

(5)

dan Akuntan Publik SM. Penolakan komisaris Kereta Api atas laporan keuangan perseroan tahun buku 2005 yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik SM. Komisaris HM menolak karena laporan keuangan menyebabkan perseroan yang seharusnya merugi Rp 63 miliar terlihat mendapatkan laba Rp 6,9 miliar. Terjadinya perbedaan pendapat terhadap laporan keuangan antara komisarir dengan akuntan publik karenaa PT KAI tidak memiliki tata kelola perusahaan yang baik. Disinyalir laporan keuangan PT KAI tahun 2005 telah di manipulasi oleh pihak-pihak tertentu (Kuniarsih, 2006).

Hal-hal yang tersebut di atas menunjukan bahwa kemungkinan dimana auditor akan menemukan penyimpangan, kecurangan, dan salah saji tergantung pada kualitas pemahaman (kompetensi) auditor (Kusharyanti, 2003:25). Selain itu auditor internal bertanggung jawab untuk menyediakan jasa analisis dan evaluasi, memberikan keyakinan, rekomendasi dan informasi kepada manajemen entitas dan dewan komisaris atau pihak lain yang setara wewenang dan tanggungjawabnya tersebut. Auditor internal mempertahankan objektivitasnya yang berkaitan dengan aktivitas yang diauditnya (Ikatan Akuntan Indonesia, 2001:322).

Beberapa penelitian sebelumnya yang terkait dengan risiko pengendalian internal diantaranya dilakukan oleh Dini Wahyu Hapsari (2012) yang menyatakan bahwa kompetensi dan independensi auditor internal dapat memaksimalkan penilaian risiko pengendalian internal. Pengendalian internal yang berjalan baik maka penilaian kebijakan dan prosedur yang keliru serta risiko dapat segera terdeteksi dan dikoreksi yang nantinya akan berpengaruh dalam pencapaian tujuan

(6)

perusahaan. Stephanie Christa Damayanti (2012) menyatakan risiko pengendalian internal yang terjadi dapat diminimalisir secara efektif dan efisien, hal ini dapat dilihat dari kompetensi dan independensi yang dimiliki auditor internal tersebut.

Berdasarkan fenomena yang telah dikemukakan maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Independensi dan Kompetensi Auditor Internal Terhadap Risiko Pengendalian Internal”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan hasil pengamatan dari fenomena diatas dari latar belakang, maka peneliti mengidentifikasi permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana independensi, kompetensi, risiko pengendalian internal pada Pt Telekomunikasi Indonesia Tbk

2. Seberapa besar pengaruh independensi auditor internal terhadap risiko pengendalian internal pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk

3. Seberapa besar pengaruh kompetensi auditor internal terhadap risiko pengendalian internal pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk

4. Seberapa besar pengaruh independensi, kompetensi auditor internal secara simultan terhadap risiko pengendalian internal pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penulis dalam penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah yang akan dikaji oleh penulis. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :

(7)

1. Untuk mengetahui independensi, kompetensi, risiko pengendalian internal pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk

2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh independensi auditor internal terhadap risiko pengendalian internal pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk

3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kompetensi auditor internal terhadap risiko pengendalian internal pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk

4. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh independensi dan kompetensi auditor internal secara simultan terhadap risiko pengendalian internal pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan antara lain bagi :

1. Kegunaan Pengembangan Ilmu

Kegunaan ilmu ini diharapkan dapat berguna untuk mengembangkan ilmu audit internal dengan penelitian secara empiris tentang pengaruh kompetensi dan independensi auditor internal terhadap risiko pengendalian internal

2. Kegunaan Operasional/ Kepentingan Praktis untuk Pemecahan Masalah Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan masukan dalam memecahkan masalah-masalah yang terkait pada fenomena-fenomena yang telah diungkapkan dalam latar belakang yang disebabkan

(8)

oleh kompetensi dan independensi auditor internal terhadap risiko pengendalian internal dan diharapkan dapat mengurangi kesenjangan antara yang seharusnya terjadi dengan keadaan yang sebenarnya terjadi. 1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian

Untuk memperoleh data-data sehubungan masalah yang akan diteliti dalam penyusunan skripsi ini, maka penulis melakukan penelitian di PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk Kota Bandung.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :