PERBURUAN DAN PERDAGANGAN
BURUNG CENDERAWASIH DI PAPUA
Hari Suroto
(Balai Arkeologi Jayapura) Abstract
Cenderawasih is a bird which has the most beautiful fur in the world, which makes this bird is called as the bird of paradise. The habitat of this bird is only located in Papua. The beautiful fur attracted hunter and merchant from outside Papua to come into the island. Cenderawasih became a very important export commodity in Papua by the end of 19th century. This was the period when the market demand
increased rapidly because of the fashion development that made the price of cenderawasih also increased. The presence of cenderawasih hunter from outside Papua has made many changes for the Papuan. They started to know the utensils from iron, pottery, timor fabric, the used of Malayan term and mixed marriage. Keywords: hunting and trading, cenderawasih, changes
Pendahuluan
Cenderawasih atau paradiseidae adalah kelompok burung yang berukuran sedang. Kelompok ini memiliki ukuran tubuh dan kebiasaan yang mirip dengan gagak, jalak dan burung penghisap madu Australia. Akan tetapi, kelompok burung ini memiliki bulu yang lebih indah bila dibandingkan dengan kelompok burung lainnya. Pada beberapa spesies, bulu yang berwarna cerah, keluar dari bawah kedua sayap dan membentuk rangkaian, kipas atau perisai. Sementara itu, bulu tengah pada ekornya memanjang dan menjadi semacam dawai yang terpilin atau terdiri dari gradasi warna. Beberapa spesies cenderawasih memiliki bulu perhiasan di kepala, punggung atau bahu. Keindahan bulu cenderawasih, terutama yang berwarna kekuningan, tidak dapat disamai oleh burung-burung lain, kecuali barangkali oleh burung-burung-burung-burung pekicau. Tapi tetap tidak ada yang melampaui keindahan cenderawasih.
Sebelum adanya kajian ilmiah oleh naturalis, terdapat banyak mitos mengenai cenderawasih ini. Ketika para pengembara Eropa terdahulu sampai di Maluku untuk mencari cengkeh dan pala, mereka diberi hadiah burung-burung yang telah diawetkan.
Burung-burung tersebut sangat istimewa dan indah, bahkan membuat takjub para pelancong yang mencari kekayaan. Saudagar-saudagar Melayu memberi nama “manuk dewata” atau burung dewa kepada burung ini. Orang-orang Portugis, karena melihat burung ini tidak memiliki kaki atau sayap, serta tidak dapat mempelajarinya secara langsung, menamakannya passaros de sol atau burung matahari. Seorang ahli Belanda menyebut burung itu avis paradiseus atau burung surga. John van Linschoten memberi nama yang sama pada 1598 dan mengatakan tidak seorang pun yang pernah melihat burung ini dalam keadaan hidup karena burung tersebut hidup di udara dan tidak pernah menjejakkan kaki di bumi sampai mati. Burung tersebut tidak mempunyai kaki maupun sayap (Wallace, 2009:405).
Wanita Eropa mengenakan bulu burung cenderawasih sebagai bagian dari mode (Sumber: Muller, 2008).
Abad ke-18 William Funnel, penulis laporan pelayaran Dampier, menemukan spesimen cenderawasih di Ambon. Ia bercerita bahwa cenderawasih itu datang ke Banda untuk makan buah pala yang memabukkan hingga pingsan, kemudian mati digerogoti semut. Sampai 1760, ketika Linnaeus memberi nama cenderawasih terbesar paradisea apoda (burung surga yang tidak berkaki) (Wallace, 2009:404).
Burung cenderawasih dikenal di Nusantara sebagai “burong mati” atau burung mati. Hal tersebut menunjukkan bahwa pedagang-pedagang Melayu tidak pernah melihat cenderawasih dalam keadaan hidup. Pedagang Melayu menyebut cenderawasih raja (paradise regia) dengan nama “burong rajah” atau burung raja.
Pembahasan
Pada abad ke-VIII, terlihat adanya hubungan antara Papua dan Sriwijaya, langsung ataupun tidak langsung, hal ini terbukti pada burung-burung asal Papua, yang dibawa oleh utusan Raja Sri Indrawarman dari Sriwijaya untuk dipersembahkan kepada kaisar Cina (Bachtiar, 1963:55).
Pemburu cenderawasih menjelaskan kepada Alfred Rusel Wallace bahwa mereka menembak burung itu dengan panah. Segera setelah para pemburu mengetahui tempat cenderawasih biasa bertengger di atas sebuah pohon untuk berkumpul, para pemburu lalu membuat tempat persembunyian kecil dari daun palem di tempat yang cukup dekat di antara cabang-cabang pohon. Pohon yang sering dihinggapi cenderawasih adalah pohon yang sangat tinggi. Lalu mereka menunggu di dalamnya hingga sebelum fajar tiba, dengan bersenjatakan busur dan beberapa anak panah yang ujungnya tumpul. Burung mati karena pukulan keras anak panah tanpa terluka atau mengucurkan darah. Seorang pemburu yang lain menunggu di bawah pohon. Pada saat burung-burung datang ketika matahari terbit, burung-burung tersebut bergerombol dan mulai menari. Lalu pemburu memanah dengan anak panah yang tumpul sekuat-kuatnya untuk melumpuhkan seekor burung yang kemudian jatuh ke tanah. Kemudian burung tersebut ditangkap dan dibunuh tanpa merusak bulunya dengan tetesan darah (Wallace, 2009:407).
Di Bessir Pulau Waigeo, terdapat cenderawasih merah (paradise rubra). Habitat cenderawasih ini terbatas di Waigeo saja. Ia terbang sangat rendah dan berlari di batang-batang pohon untuk mencari serangga. Pada ekornya ada dua lembar bulu seperti pita berwarna hitam dengan dua lengkungan. Untuk mendapatkan cenderawasih ini tidak dipanah dengan anak panah yang tumpul seperti di beberapa daerah New Guinea, tetapi diperangkap. Buah pohon Arum-sejenis tanaman rambat- yang berwarna merah, sangat digemari cenderawasih. Para pemburu mengikat buah ini di ranting pohon yang kuat. Selanjutnya, mereka mencari pohon di hutan yang bisa dihinggapi oleh burung-burung
tersebut. Di pohon itu ranting diikat disebuah cabang dan tali-tali dijalin hingga menjadi jerat. Apabila cenderawasih datang dan memakan buah itu, kakinya akan terjerat. Dengan menarik ujung tali yang menggantung ke tanah, jerat terlepas dari pohon (Wallace, 2009:392).
Cara penduduk asli mengawetkan cenderawasih ialah dengan memotong sayap dan kaki, kemudian menguliti tubuh sampai ke paruh. Selanjutnya sepotong tongkat yang kuat dipasang di sepanjang tubuh hingga ke paruh. Tubuh burung itu diisi dengan daun-daunan. Setelah itu, kepala burung yang seharusnya besar, jadi mengerut dan tubuhnya menyusut. Hal tersebut terjadi karena penduduk lebih mengutamakan untuk mengawetkan bulu burung cenderawasih yang meliuk-liuk. Beberapa cenderawasih awetan ini sangat sempurna, lengkap dengan sayap dan kaki (Wallace, 2009:408). Pedagang dan pemburu cenderawasih asal Ternate menetap di Pulau Metu Debi, Teluk Humboldt. Bersama orang-orang dagang ini datang juga senapan-senapan yang oleh penduduk asli ditukarkan dengan barang seperti teripang, masooi, kulit mutiara, kulit burung cenderawasih dan macam-macam burung lainnya (Sofjan, 1963: 199).
Pedagang Jawa, Nusa Tenggara, Maluku dan China pada 1914 pergi ke daerah pedalaman Merauke untuk berdagang kopra dan burung cenderawasih. Burung cenderawasih ditukar dengan peralatan dari besi. Pedagang-pedagang kopra dan cenderawasih ini kawin dengan gadis-gadis Marind-Anim (Daeng, 1963:269-270).
Suku Kaipuri dan Sowari di pedalaman Waropen melakukan transaksi tukar menukar dengan penduduk Teluk Wandamen dan Teluk Cenderawasih. Suku Kaipuri dan Sowari berburu burung cenderawasih untuk ditukarkan dengan keramik, kotak daun pandan, buah pinang hutan, ikan kering dan peralatan dari besi (mata panah, ujung tombak, dan pisau) (Held, 1957).
Daerah Semenanjung Onin Fak-fak, sudah lama menjadi tujuan para pedagang dari berbagai wilayah lainnya di Indonesia. Kedatangan para pedagang ini adalah dalam rangka mencari pala, kayu masoi, dan memburu burung cenderawasih (Gelpke, 1994: 133-134).
Pedagang Onin memonopoli perdagangan di Teluk Bintuni, mereka melakukan barter dengan penduduk setempat. Komoditas yang dicari pedagang Onin adalah burung cenderawasih, burung kakatua, sagu, teripang, tempurung penyu, dan mutiara. Komoditas
ini untuk selanjutnya dijual ke pedagang dari Seram (Miedema dan Ger Reesink, 2004:182).
Sebelum datangnya VOC, Orang Mimika telah terjadi tukar menukar dengan Orang Seran, Goram dan kemudian dengan orang-orang China yang mencari kulit masooi, kulit buaya dan burung cenderawasih (Sutaarga, 1963:281). Orang Mej Brat berdagang dengan orang dari Maluku dan lain-lain daerah di Indonesia yang datang berdagang atau memburu burung-burung cenderawasih di pedalaman Papua (Koentjaraningrat, 1963:325).
Pada 1901 daerah Teluk Humboldt-Yotefa mulai didatangi pendatang dari Kepulauan Indonesia bagian barat dan Cina sebagai pedagang dan pemburu burung cenderawasih. Dengan kedatangan pedagang dan pemburu burung cenderawasih ini, penduduk Teluk Homboldt dan Teluk Yotefa mulai kenal uang sebagai alat tukar. Pedagang dan pemburu ini juga membawa senapan yang oleh penduduk asli ditukarkan dengan teripang, masooi, kulit mutiara, dan cenderawasih (Sofjan, 1963:198-213).
Kain timur didatangkan ke daerah Kepala Burung oleh para pemburu burung cenderawasih dari Bugis, Makassar, Buton, Seram, Ternate, Tidore, sebagai hadiah pemberian atau alat tukar (Koentjaraningrat et al, 1994:162).
Sebelum 1922 para pemburu burung cenderawasih dari Buton, Sangir, dan Ambon datang di tepi pantai utara Papua dekat muara Sungai Wiruwai, Sarmi untuk berburu cenderawasih. Sejak ada larangan untuk berburu cenderawasih pada tahun 1922, para pemburu ini mulai menetap di kampung-kampung penduduk asli setempat. Mereka kemudian menikah dengan wanita-wanita penduduk asli setempat (Koentjaraningrat, 1994: 232).
Kesimpulan
Perdagangan dan perburuan burung cenderawasih terjadi di hampir seluruh pesisir Papua. Burung cenderawasih diperdagangkan secara barter. Kehadiran pemburu burung cenderawasih dari luar Papua, membawa perubahan pada penduduk Papua. Mereka mulai mengenal peralatan dari besi, gerabah, kain timor, penggunaan istilah-istilah Melayu dan perkawinan campur. Pengaruh ini juga mengakibatkan terdesaknya barang-barang buatan penduduk asli Papua. Baki untuk sagu telah hilang diganti dengan piring porselen.
Penggunaan kapak batu mulai digantikan dengan kapak besi. Bekas makanan kaleng dan botol digunakan sebagai mangkuk dan wadah air. Bekas kaleng sarden sanagt disukai untuk mencetak sagu lempeng.
Mulai tahun 1922, memburu burung dilarang oleh pemerintah Belanda. Para pemburu cenderawasih kemudian beralih profesi menjadi pemburu buaya, pengumpul kulit kerang mutiara (lola), mutiara, kopra dan hasil hutan misalnya kayu masoi dan pala.
DAFTAR PUSTAKA
Bachtiar, Harsja W. 1963a. “Sejarah Irian Barat” dalam Penduduk Irian Barat (Koentjaraningrat dan Harsja W. Bachtiar eds.). Jakarta: P.T. Penerbitan
Universitas. Hlm. 55-94.
Bachtiar, Harsja W. 1963b. “Akulturasi di Irian Barat” dalam Penduduk Irian Barat (Koentjaraningrat dan Harsja W. Bachtiar eds.). Jakarta: P.T. Penerbitan
Universitas. Hlm. 339-359.
Daeng, H. 1963. “Orang Marind Anim” dalam Penduduk Irian Barat (Koentjaraningrat dan Harsja W. Bachtiar eds.). Jakarta: P.T. Penerbitan Universitas. Hlm. 251-272.
Gelpke, Sollewijn. 1994. “The Report of Miguel Roxo Debrito of his Voyages in 1581-1582 to the Raja Ampat, The Mac Cluer Gulf and Seram”, dalam Bijdragen tot de Taal Land en Volkenkunde, Vol 150. Leiden.
Held, G. J. 1957. The Papuas of Waropen. S, Gravenhage: The Hague-Martinus Nijhoff. Koentjaraningrat. 1963. “Orang Mej Brat” dalam Penduduk Irian Barat
(Koentjaraningrat dan Harsja W. Bachtiar eds.). Jakarta: P.T. Penerbitan Universitas. Hlm. 321-336.
Koentjaraningrat. 1994. “Mas Kawin dan Adopsi dalam Masyarakat Bgu di Kecamatan Pantai Utara” dalam Irian Jaya Membangun Masyarakat Majemuk (Koentaraningrat ed.). Jakarta: Djambatan. Hlm. 230-244.
Koentjaraningrat dan N. Sanggenafa. 1994. “Pertukaran Kain Timur di Daerah Kepala Burung” dalam Irian Jaya Membangun Masyarakat Majemuk (Koentaraningrat ed.). Jakarta: Djambatan. Hlm. 156-172.
Miedema, Jelle dan Ger Reesink. 2004. One Head, Many Faces. New Perspectives on the Bird’s Head Peninsula of New Guinea. Leiden: KITLV.
Sofjan, Anrini. 1963. “Penduduk Teluk Humboldt” dalam Penduduk Irian Barat (Koentjaraningrat dan Harsja W. Bachtiar eds.). Jakarta: P.T. Penerbitan
Universitas. Hlm. 193-215.
Sutaarga, M. Amir. 1963. “Orang Mimika” dalam Penduduk Irian Barat
(Koentjaraningrat dan Harsja W. Bachtiar eds.). Jakarta: P.T. Penerbitan Universitas. Hlm. 273-299.
Wallace, Alfred Russel. 2009. Kepulauan Nusantara Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Jakarta: Komunitas Bambu.