• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. Perubahan fisik dan psikologis ibu pasca persalinan Selama periode persalinan ibu akan mengalami perubahan-perubahan, yaitu :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. Perubahan fisik dan psikologis ibu pasca persalinan Selama periode persalinan ibu akan mengalami perubahan-perubahan, yaitu :"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perubahan psikologis pasca persalinan normal 1. Pengertian pasca persalinan

Bobak, dkk (2005) menyatakan pasca persalinan adalah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi kembali pada keadaan normal sebelum hamil. Periode ini juga disebut periode puerperium atau trimester keempat kelahiran. Banyak faktor meliputi tingkat energi, tingkat kenyamanan, kesehatan bayi baru lahir, dan perawatan serta dorongan semangat yang diberikan tenaga kesehatan professional ikut membentuk respons ibu terhadap bayinya selama masa ini.

Pasca persalinan dibedakan menjadi 3 yaitu pasca persalinan immediate yaitu masa persalinan yang berselang hingga 24 jam setelah melahirkan, pasca persalinan early yaitu masa pasca persalinan yang berlagsung hingga satu minggu, dan pasca persalinan late adalah masa antara dua hingga enam minggu setelah persalinan (May dan Mahlmeister, 1994).

Berdasarkan ketiga masa tersebut di atas terjadi berbagai macam perubahan karakter psikilogis yang berbeda. Masa yang paling dramatis dan berpotensi terjadi bahaya adalah terjadi pada masa pasca persalinan immediate dan early. Satu jam dan beberapa hari setelah melahirkan, perempuan akan mengalami perubahan psikologis sebagai bentuk adaptasi berkaitan dengan perubahan system pada tubuh (May dan Mahlmeister, 1994).

2. Perubahan fisik dan psikologis ibu pasca persalinan

Selama periode persalinan ibu akan mengalami perubahan-perubahan, yaitu :

(2)

a. Perubahan fisik ibu pasca persalinan 1) Uterus

Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan disebut involusi. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus (Bobak, dkk, 2005).

Pada akhir tahap ketiga persalinan, uterus berada di garis tengah, kira-kira 2 cm di bawah umbilicus dengan bagian fundus bersandar pada promontorium sakralis. Pada saat ini besar uterus kira-kira sama dengan besar uterus sewaktu usia kehamilan 16 minggu dan beratnya kira-kira 1000 g.

Dalam waktu 12 jam, tinggi fundus uterus mencapai kurang lebih 1 cm di atas umbilicus. Dalam beberapa hari kemudian, perubahan involusi berlangsung dengan cepat. Fundus turun sekitar 1 sampai 2 cm setiap 24 jam. Pada hari pascapartum keenam fundus normal akan berada di pertengahan antara umbilicus dan simfisis pubis. Uterus tidak bisa dipalpasi pada abdomen pada hari ke-9 pascapartum.

Peningkatan kadar estrogen dan progesteron bertanggung jawab untuk pertumbuhan massif uterus selama masa hamil. Pada masa pasca persalinan penurunan hormone-hormon ini menyebabkan terjadinya autolisis, perusakan secara langsung jaringan hipertrofi yang berlebihan. Sel-sel tambahan yang terbentuk selama masa hamil menetap, hal inilah penyebab ukuran uterus sedikit lebih besar setelah hamil.

2) Kontraksi

Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir, diduga terjadi sebagai respons terhadap penurunan volume intrauterine yang sangat besar. Hemostasis pasca persalinan dicapai terutama akibat kompresi pembuluh darah intramiometrium, bukan oleh agegrasi trombosit dan pembentukan

(3)

bekuan. Selama 1 sampai 2 jam pertama pascapartum intensitas kontraksi bisa berkurang dan menjadi tidak teratur (Bobak, dkk, 2005).

3) Servik

Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan. 18 jam pascapartum, serviks memendek dan konsistensinya menjadi lebih padat dan kembali kebentuk semula. Serviks setinggi segmen bawah uterus tetap edematosa, tipis dan rapuh selama beberapa hari setelah ibu melahirkan (Bobak, dkk, 2005).

4) Vagina dan perineum

Estrogen pascapartum yang menurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang semula sangat teregang akan kembali secara bertahap ke ukuran sebelum hamil, enam sampai delapan minggu setelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat pada sekitar minggu keempat, walaupun tidak akan semenonjol pada wanita nulipara (Bobak, dkk, 2005).

b. Perubahan psikologis pada ibu pasca persalinan normal

Menurut Walz (dalam Bobaks, dkk, 2005) bahwa kelahiran seorang anak menyebabkan timbulnya suatu tantangan mendasar terhadap struktur interaksi keluarga yang sudah terbentuk. Menjadi orang tua menciptakan periode ketidakstabilan yang menuntut perilaku yang meningkatkan transisi untuk menjadi orang tua. Orang tua harus menggali hubungan mereka dengan bayi dan mengatur kembali hubungan di antara mereka. Apabila ada anak lain, orang tua harus menyesuaikan diri dengan anak yang baru dilahirkan dan anak-anak yang lebih tua harus menyesuaikan diri dengan tuntutan bayi akan kasih dan waktu orang tua.

Selama periode prenatal, ibu adalah satu-satunya pihak yang membentuk lingkungan tempat janin berkembang dan bertumbuh. Persatuan simbiosis tertutup antara ibu dan anak berakhir pada saat bayi lahir. Tugas, tanggung jawab dan sikap yang membentuk peran

(4)

menjadi orangtua menurut Steel dan Pollack (dalam Bobak, dkk, 2005) merupakan proses orang dewasa untuk membentuk pribadi yang matang, penyayang, mampu dan mandiri untuk mulai mengasuh seorang bayi.

Setiap orang tua bisa memperlihatkan sifat keibuannya. Sifat keibuan saat ini diketahui dengan menunjukkan kelembutan, kasih dan pengertian serta meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.

3. Fase penyesuaian

Dalam penyesuaian maternal terdapat tiga fase penyesuaian ibu terhadap perannya sabagai orang tua. Fase-fase penyesuaian maternal ini di tandai oleh perilaku dependen, perilaku dependen mandiri, dan perilaku independen (May dan Mahlmeister, 1994).

a. Fase dependen

Selama satu sampai dua hari pertama setelah melahirkan, ketergantungn ibu menonjol. Pada waktu ini ibu mengharapkan segala kebutuhannya dapat di penuhi orang lain, ibu memindahkan energi psikologinya kepada anaknya. Rubin (1961 dalam May dan Mahlmeister, 1994) menetapkan periode beberapa hari ini sebagai fase menerima (taking-in phase), suatu waktu dimana ibu baru memerlukan perlindungan dan perawatan. Dalam penjelasan klasik Rubin, fase menerima ini berlangsung selama dua sampai tiga hari.

Fase dependen ialah suatu waktu yang penuh kegembiraan dan kebanyakan orang tua sangat suka mengkomunikasikannya. Mereka perlu menyampaikan pengalaman mereka tentang kehamilan dan kelahiran dengan kata-kata. Pemusatan, analisis, dan sikap yang menerima pengalaman ini membantu orang tua untuk berpindah ke fase berikutnya. Beberapa orang tua dapat menganggap petugas atau

(5)

ibu yang lain sebagai pendengarnya. Orang tua lain lebih suka menceritakan perasaanya kepada keluarga atau kerabat.

Kecemasan dan keasyikan terhadap peran barunya sering mempersempit lapang persepsi ibu. Oleh karena itu, informasi yang diberikan pada waktu ini mungkin perlu diulang.

b. Fase dependen mandiri

Apabila ibu telah menerima asuhan yang cukup selama beberapa jam atau beberapa hari pertama maka pada hari kedua atau ketiga keinginan untuk mandiri timbul dengan sendirinya. Dalam fase dependen-mandiri ibu, secara bergantian muncul kebutuhan untuk mendapat perawatan dan penerimaan dari orang lain dan keinginan untuk bisa melakukan segala sesuatu secara mandiri. Ia berespon dengan penuh semangat untuk memperoleh kesempatan belajar dan berlatih tentang cara perawatan bayi atau jika ia adalah seorang ibu yang gesit, ia akan memiliki keinginan untuk merawat bayinya secara langsung. Rubin (1961) dalam May dan Mahlmeister (1994) menjelaskan keadaan ini sebagai fase taking-hold, yang berlangsung kira-kira 10 hari. Dalam enam sampai delapan minggu setelah melahirkan, kemampuan ibu untuk menguasai tugas-tugas sebagai orang tua merupakan hal yang penting. Beberapa wanita sulit menyesuaikan diri terhadap isolasi yang dialaminya karena ia harus merawat bayi dan tidak suka terhadap tanggung jawab di rumah dan merawat bayi. Ibu yang kelihatannya memerlukan dukungan tambahan adalah pada ibu primipara yang belum berpengalaman mengasuh anak, wanita karier, wanita yang tidak punya cukup banyak teman atau keluarga untuk dapat berbagi rasa, ibu yang berusia remaja dan wanita yang tidak bersuami.

(6)

Pada fase ini tidak jarang terjadi depresi. Perasaan mudah tersinggung bisa timbul akibat berbagai faktor. Secara psikologis, ibu mungkin jenuh dengan banyaknya tanggung jawab sebagai orang tua. Ia bisa merasa kehilangan dukungan yang pernah diterimanya dari anggota keluarga dan teman-teman ketika hamil. Beberapa ibu menyesal tentang hilangnya hubungan antara ibu dengan anak yang belum lahir. Beberapa yang lain mengalami perasaan kecewa ketika persalinan dan kelahiran telah selesai. Diharapkan bahwa pada akhir fase dependen-mandiri, tugas dan penyesuaian rutinitas sehari-hari akan mulai menjadi suatu pola yang tetap. Bayi mulai mengambil posisi tertentu dalam keluarga. Banyak persoalan makanan, ysng berkaitan dengan pemberian susu ibu atau susu botol, sebagaian besar telah diatasi sehingga kekuatan dan energi fisik ibu pulih. Pada minggu ke lima, bayi telah diperiksa atau telah mengadakan perjanjian untuk melakukan pemeriksaan. Sudah waktuntya untuk berpindah ke fase penyesuaian berikutnya.

c. Fase interdepanden

Fase ini perilaku interdependen mulai muncul pada ibu pasca persalinan. Ibu dan keluarganya bergerak maju sebagai suatu sistem dengan per anggota saling berinteraksi. Hubungan antar pasangan, walaupun sudah berubah dengan adanya seorang anak, kembali menunjukkan banyak karakteristik awal. Tuntunan utama ialah menciptakan suatu gaya hidup yang melibatkan anak, tetapi dalam beberapa hal, tidak melibatkan anak. Pasangan ini harus berbagi kesenangan yang bersifat dewasa. Kebanyakan suami istri mulai lagi berhubungan seksualnya pada minggu ketiga atau keempat setelah anak lahir. Beberapa mulai hubungan lebih awal, yakni segara setelah

(7)

hal itu dapat dilakukan tanpa wanita merasa nyeri. Hubungan seksual meningkatkan aspek pria-wanita pada suatu keluarga dan pasangan dewasa ini akan merasa dekat satu sama lain tanpa terganggu oleh anggota keluarga lain. Banyak ayah baru yang mengatakan bahwa ia mengalami perasaan disingkirkan ketika melihat keintiman hubungan ibu-anak dan beberapa mengungkapkan terbuka kecemburuan terhadap bayi mereka. Dimulainya laagi hubungan perkawinan tampaknya membawa hubungan orangtua kembali ke dalam fokus perhatian.

Fase interdependen (letting-go) merupakan fase yang penuh stres bagi orang tua. Kesenangan dan kebutuhan sering terbagi dalam masa ini. Pria dan wanita harus menyelesaikan efek dari perannya masing-masing dalam hal mengasuh anak, mengatur rumah, dan membina karier. Suatu upaya khusus harus dilakukan untuk memperkuat hubungan orang dewasa dengan orang dewasa sebagai dasar kesatuan keluarga.

Ibu akan membuat penyesuaian yang sangat besar terutama secara psikisnya, mengalami stimulasi dan kegembiraan yang luar biasa, menjalani proses eksplorasi dan asimilasi realitas bayinya, berada di bawah tekanan untuk tetap menyerap pembelajaran yang diperlukan tentang apa yang harus diketahuinya dan perawatan untuk bayinya, serta merasa tanggung jawab yang luar biasa yang dipikulnya dan tuntutan ditempatkan dirinya menjadi seorang ibu.

Apabila ibu tidak mendapat dukungan dari keluarga maka kejadian ini akan berlanjut menjadi gangguan psikologis seperti post partum blues dan berduka (Varney, 2008).

(8)

4. Respons psikologis pasca persalinan

Respon adalah tanggapan reaksi atau jawaban, sedangkan psikologis adalah ilmu pengetahuan tentang gejala dan kegiatan jiwa (Purwadarminta, 1990). Sehingga dapat diartikan bahwa respon psikologis adalah tanggapan atau reaksi terhadap gejala-gejala kejiwaaan.

Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa respons psikologis pasca persalinan merupakan gejala kejiwaan yang dialami oleh ibu pasca melahirkan. Respons psikologis yang terjadi pada perempuan pasca persalinan meliputi:

a. Gangguan suasana hati & pikiran (Mood) b. Munculnya rasa sedih

c. Murung, gelisah, tidak nyaman d. Kebingungan yang subjektif e. Menjadi mudah/sering menangis f. Kadang sulit tidur

g. Mudah marah

5. Faktor yang menyebabkan respon psikologis pasca persalinan

Menurut Herman (2009) faktor-faktor penyebab terjadinya perubahan psikologis pasca persalinan meliputi :

a. Perubahan keseimbangan hormon pada tubuh sang ibu yang baru melahirkan sehingga menimbulkan ketidak-seimbangan emosi.

b. Kelelahan sang ibu setelah melahirkan.

c. Kesulitan menyusui atau masalah pada payudara si ibu sehingga tidak bisa menyusui.

d. Trauma pada pengalaman proses melahirkan. e. Perasaan stress atau tertekan pada saat mengandung.

(9)

f. Perasaan canggung, serba tidak mengerti, serba salah dalam mengurus bayi.

g. Bayi yang “rewel”, terbangun tengah malam, menangis ‘tanpa sebab yang jelas’, bayi yang bangun dan segar terus di tengah malam, kondisi bayi (berat kurang, kuning, tidak normal).

h. Lingkungan yang tidak mendukung (suami, orang tua, mertua) yang sangat memojokkan sang ibu yang kelelahan dan/atau kebingungan.

Iskandar (2009) menyatakan banyak faktor diduga berperan pada respon psikologis ini, antara lain adalah:

a. faktor hormonal, berupa perubahan kadar estrogen, progesteron, prolaktin dan estriol yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Kadar estrogen turun secara bermakna setelah melahirkan, ternyata estrogen memiliki efek supresi aktifitas enzim monoamine oksidase, yaitu suatu enzim otak yang bekerja menginaktifasi baik noradrenalin maupun serotonin yang berperan dalam suasana hati dan kejadian depresi; b. faktor demografik yaitu umur dan paritas;

c. pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan;

d. latar belakang psikososial wanita yang bersangkutan, seperti; tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkan, stress, riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya, sosial ekonomi serta keadekuatan dukungan sosial dari lingkungannya (suami, keluarga dan teman). Apakah suami menginginkan juga kehamilan ini, apakah suami, keluarga, dan teman memberi dukungan moril (misalnya dengan membantu pekerjaan rumah tangga, atau berperan sebagai tempat ibu mengadu/berkeluh-kesah) selama ibu menjalani masa kehamilannya.

(10)

Reeder, Martin dan Griffin (1995) menyebutkan bahwa terjadi perubahan psikologis pada ibu pasca persalinan. Hal ini terjadi karena adanya perubaan dan stressor yang menyertai proses kelahiran yaitu transisi menjadi orang tua dan dapat menjadi hal yang sangat melelahkan, terutama bagi ibu. Ibu tidak hanya berhadapan dengan perubahan peraturan, tapi juga dengan proses kembalinya bentuk tubuh seperti saat belum hamil, semua ini menjadi masalah psikologis dan perubahan hormonal. Pada saat ini ibu sering kurang tidur nyenyak. Semua hal tersebut terjadi pada periode pasca persalinan early. Saat seperti ini tidak ada hal yang dapat dilakukan kecuali membiarkannya berlalu dengan sendirinya, namun mungkin dapat timbul beberapa gejala seperti cepat marah, menangis, pusing, kecemasan, hilang kesabaran dan perasaan yang tidak adequat

6. Umur

Umur adalah usia ibu yang secara garis besar menjadi indikator dalam kedewasaan dalam setiap pengambilan keputusan yang mengacu pada setiap pengalamannya. Usia yang cukup dalam mengawali atau memasuki masa perkawinan dan kehamilan akan membantu seseorang dalam kematangan dalam menghadapi persoalan atau masalah, dalam hal ini menghadapi kehamilan dan perubahan selama hamil. Demikian sebaliknya dengan usia kurang dari 16 tahun maka kemungkinan kematangan pikiran dan perilaku juga kurang terlebih menghadapi perubahan dan adaptasi selama kehamilan.

Karakteristik pada ibu yang menghadapi persalinan berdasarkan usia sangat berpengaruh terhadap perhatian dalam proses persalinan, dimana semakin muda umur ibu maka semakin kurang perhatian serta pengalaman yang dimiliki ibu hamil karena ketidaksiapan ibu dalam menerima sebuah

(11)

kehamilan, selain itu usia yang masih muda sistim reproduksi yang belum matang, sehingga akan berisiko terjadi gangguan selama kehamilan. Hal ini akan berdampak pada persiapan persalinan yang minim dan dapat berdampak buruk selama proses persalinan berlangsung (Dedeh, 2004). 7. Pendidikan

Tingkat pendidikan turut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan tentang persiapan menghadapi persalinan yang mereka peroleh (Kodyat, 1999). Dari kepentingan keluarga pendidikan itu sendiri amat diperlukan seseorang lebih tanggap adanya persalinan yang bermasalah atau terjadi insiden selama proses persalinan terjadi dan keluarga dapat segera mengambil tindakan secepatnya. Tingkat pendidikan turut menentukan rendah tidaknya seseorang menyerap dan memakai pengetahuan (Notoatmodjo, 2003), demikian halnya dengan persiapan menghadapi persalinan yang mereka peroleh.

8. Adaptasi psikologis dan perilaku a. Adaptasi psikologis

Bersamaan dengan perubahan fisiologis yang cepat dan luas yang dialami oleh perempuan selama periode pasca persalinan maka diperlukan juga adaptasi secara psikologis. Terjadinya perubahan emosional secara simultan dan kompleks pada adaptasi secara biologis atau fisiologis membuat wanita perlu mendapat dukungan dari suami atau pasangan dan anggota keluarga lainnya, mereka juga harus menyesuaikan psikologisnya dengan kehadiran bayi yang baru lahir. Perempuan yang baru melahirkan, kesejahteraan psikologis tergantung sebagian besar pada bagaimana pasangan dan anggota keluarga lainnya menanggapi kelahiran bayi yang baru dilahirkan.

(12)

b. Adaptasi perilaku (behavioral)

Timbulnya energi dari hasil perubahan fisiologis dan psikologis yang ditimbulkan dari stressor selama kehamilan dan masa intrapartum adalah kelelahan pasca persalinan yang luar biasa. Kelelahan didefinisikan sebagai penurunan umum dalam kekuatan dan energi. Gardner dan Campbell (1991) mencatat bahwa laporan dari kelelahan setelah melahirkan mungkin melebihi dari apa yang tampak dan tidak diuraikan. Oleh karena itu kemampuan tidur dan istirahat merupakan faktor utama yang mempengaruhi tingkat energi perempuan yang berkaitan dengan adaptasi perilaku. Perempuan biasanya memasuki periode pasca persalinan dalam keadaan defisit tidur. Hal ini terjadi karena selama bagian terakhir dari trimester ketiga, pola tidurnya terganggu karena perubahan fisiologis kehamilan, sesak nafas dalam posisi terlentang dan urin berkontribusi terhadap ketidakmampuan wanita untuk beristirahat dengan nyaman. Kurang tidur ini diperparah dengan energi fisik yang besar selama persalinan, dan komplikasi intrapartum. Sementara kemampuan istirahat perempuan pasca melahirkan sangat dipengaruhi oleh jumlah pengunjung, suara-suara bising, sejumlah prosedur keperawatan, perawatan bayi dan keadaan fisik yang tidak nyaman (May dan Mahlmeister, 1994).

(13)

B. Kerangka Teori

Bagan 2.1 Kerangka Teori Sumber : Herman (2009) Respon persalinan ibu pasca persalinan normal

- Gangguan suasana hati & pikiran (Mood)

- Munculnya rasa sedih - Murung, gelisah, tidak

nyaman

- Kebingungan yang subjektif

- Menjadi mudah/sering menangis

- Kadang sulit tidur - Mudah marah perubahan hormon si ibu

Lingkungan yang tidak mendukung dan/atau kebingungan

Kelelahan sang ibu setelah melahirkan.

kurangnya bantuan ketika melahirkan

tekanan menjadi ibu baru

Faktor demografik

Faktor Umur

Faktor Pendidikan

pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan

latar belakang psikososial wanita

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengujian apoptosis dengan metode pengecatan akridin-orange pada perlakuan dengan isolat 5 fraksi etil asetat ekstrak petroleum eter daun mahkota dewa (Phaleria..

Rahap awal yaitu kita mengindentifikasi plat nomor kendaraan, setelah itu kamera akan terhubung dengan Raspberry pi yang telah terdeteksi dan akan masuk ke database

[r]

pada metode Newton khusunya algoritma Rank One dan algoritma DFP ( Davidson, Fletcher and Powell ) tidak praktis dan dilakukan pada setiap langkah untuk menghindari

Setelah melahirkan, ovulasi dapat terjadi dalam 28 hari bila ibu tidak menyusui bayinya.ovulasi akan tertunda selama lebih dari 10 minggu dan mungkin selama masa laktasi,

Secara keseluruhan, keluaran analisis RAPFISH yaitu status keberlanjutan perikanan ditinjau dari berbagai dimensi ini nantinya merupakan dasar untuk analisis selanjutnya

Kegiatan perdagangan tidak terbatas di lembah sungai Indus saja. Masyarakat Mohenjo Daro kemungkinan besar telah berhubungan dagang dan pelayaran dengan bangsa- bangsa lain

Penelitian pada pekerja pengecatan di PT X ini menunjukkan bahwa variabel riwayat penyakit paru berhubungan terhadap kejadian gangguan fungsi paru, dan untuk variable