• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI ELEKTRONIK NOMOR SERI FAKTUR PAJAK SEBAGAI UPAYA PERBAIKAN SISTEM ADMINISTRASI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IMPLEMENTASI ELEKTRONIK NOMOR SERI FAKTUR PAJAK SEBAGAI UPAYA PERBAIKAN SISTEM ADMINISTRASI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Perpajakan (JEJAK)| Vol. 6 No. 2 2015| perpajakan.studentjournal.ub.ac.id

1 SISTEM ADMINISTRASI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

(Studi pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Malang Utara) Erick Ferdiawan

Kertahadi Bambang Ismono

(PS Perpajakan, Jurusan Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya) 115030406111004@mail.ub.ac.id

ABSTRACT

This research is conducted according to implementation of E-NOFA at KPP Pratama Malang Utara. The Analysis of Implementation is reviewed by tax invoice serial number publishing mechanism, the ammount of taxable entreprenuer using E-NOFA, the quantity of E-NOFA published, obstacles in implementation of E-NOFA and its problem solving. This research uses descriptive method with qualitative approach. The data sources were collected from interview and secondary data. The result of this research, the implementation of E-NOFA at KPP Pratama Malang utara has had improvement administration system of VAT which can be seen from significant change in numbering serial of tax invoice. Implementation E-NOFA at KPP Pratama Malang utara has some problems which are divided by 2, external problem and internal problem. The effort which can be done by KPP Pratama Malang Utara including preparing about implementation of e-Tax Invoice, can not giving total limit for E-NOFA order, fixing connection and internet network, urges non-taxable entrepreuner for not publishing serial number of tax invoice and actively socialize long time before implementation of new policy

Key Word: Tax Invoice, electronic serial number of tax invoice, Taxable Entrepreneur, Value Added Tax, and administration system of VAT

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan pada implementasi e-NOFA di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Malang Utara. Analisis atas implementasi e-NOFA ditinjau dari mekanisme penerbitan nomor seri faktur pajak, jumlah Pengusaha Kena Pajak yang menggunakan e-NOFA, jumlah penerbitan e-NOFA, hambatan dalam pelaksanaan e-NOFA dan upaya yang dilakukan untuk memperbaiki hambatan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data diperoleh dari wawancara dan data sekunder. Hasil dari penelitian ini yaitu implementasi e-NOFA di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Malang Utara mengalami perbaikan sistem administrasi Pajak Pertambahan Nilai yang dapat dilihat dari perubahan yang signifikan dalam penomoran seri faktur pajak. Implementasi e-NOFA di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Malang Utara mengalami beberapa hambatan yang dibedakan menjadi dua yaitu hambatan internal dan hambatan eksternal. Upaya yang dapat dilakukan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Malang Utara yaitu diantaranya dengan mempersiapkan pelaksanaan e-Tax Invoice, tidak membatasi jumlah permintaan e-NOFA, memperbaiki koneksi atau jaringan internet, menghimbau wajib pajak non pengusaha kena pajak untuk tidak menerbitkan nomor seri faktur pajak dan melaksanakan sosialisasi jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan peraturan baru.

Kata Kunci: Faktur Pajak, Elektronik Nomor Seri Faktur Pajak, Pengusaha Kena Pajak, Pajak Pertambahan Nilai, dan Sistem Administrasi Pajak Pertambahan Nilai

(2)

Jurnal Perpajakan (JEJAK)| Vol. 6 No. 2 2015| perpajakan.studentjournal.ub.ac.id

2 PENDAHULUAN

Perkembangan perekonomian di Indonesia ditandai dengan maraknya kegiatan usaha diseluruh sektor perekonomian, seperti munculnya beberapa merek pada sektor dagang maupun jasa. Peningkatan merek tersebut memberikan dampak pada peningkatan taraf hidup masyarakat yang diikuti dengan peningkatan daya konsumsi. Meningkatnya konsumsi masyarakat tersebut menjadi sumber potensial yang harus digali untuk menambah penerimaan negara dari sektor pajak.

Pajak yang berhubungan dengan konsumsi masyarakat yaitu pajak pertambahan nilai (PPN). PPN dikenakan secara tidak langsung atas konsumsi dalam negeri. Masyarakat yang mengonsumsi barang kena pajak dan/atau jasa kena pajak, maka secara tidak langsung telah membayar pajaknya kepada negara, karena PPN sudah termasuk dalam harga pembelian barang tersebut. PPN menggantikan peran pajak penjualan di Indonesia sejak dilakukan reformasi perpajakan tahun 1983.

Reformasi perpajakan di Indonesia mengalami perubahan besar khususnya pada perubahan sistem administrasi PPN. Perubahan tersebut dilatarbelakangi dengan tidak optimalnya penerimaan PPN yang disebabkan oleh penyalahgunaan faktur pajak. Faktur pajak merupakan bukti pemungutan PPN atas penyerahan barang dan/atau jasa. Faktur pajak tersebut disalahgunakan untuk memanipulasi data transaksi penjualan dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mencatat lebih dari 50% kasus pajak yang ada di Indonesia disebabkan oleh kasus faktur pajak fiktif. (Direktorat Jenderal Pajak, 2014)

Faktur pajak fiktif menurut Yamin dan Putranti (2009:1-7) adalah faktur pajak yang tidak sah, misalnya karena identitas pengusaha kena pajak (PKP) penerbit tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya atau faktur pajak yang diterbitkan pengusaha dengan menggunakan nama, NPWP, dan nomor pengukuhan PKP lain. Berdasarkan data dari DJP, selama tahun 2008 s/d 2013 tercatat ada 100 kasus faktur pajak yang menyebabkan kerugian mencapai Rp. 1.461 Milyar (Direktorat Jenderal Pajak, 2014). Penyalahgunaan faktur pajak tersebut disebabkan karena lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh DJP, khususnya dalam hal penomoran faktur pajak. PKP sejauh ini diberikan wewenang untuk menuiskan sendiri nomor seri faktur pajaknya dalam transaksi yang dilakukan, sehingga kebijakan tersebut disalahgunakan

untuk menyelewengkan faktur pajak. Berdasarkan beberapa permasalahan terkait dengan faktur pajak, DJP berkomitmen untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan mempurnakan peraturan tentang faktur pajak. Penyempurnaan peraturan mengenai faktur pajak tersebut tertuang dalam Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-24/Pj/2012. DJP menyempurnakan aturan mengenai faktur pajak dalam PER-24/pj/2012 tersebut dengan beberapa perubahan diantaranya yaitu PKP tidak diperkenankan untuk menuliskan sendiri nomor seri faktur pajaknya, nomor seri faktur pajak tersebut dilakukan secara elektronik oleh DJP. PKP yang ingin menggunakan faktur pajak harus mengajukan permohonan kode aktivasi dan password ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tempat PKP tersebut terdaftar. Permintaan nomor seri faktur pajak secara elektronik tersebut dikenal dengan dengan istilah e-NOFA yang merupakan kependekan dari elektronik nomor seri faktur pajak. e-NOFA diterapkan di seluruh KPP di Indonesia sejak diberlakukannya PER-24/pj/2012. Munculnya e-NOFA juga secara otomatis tidak memberlakukan penomoran seri faktur yang dilakukan secara manual. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari terjadinya penyelewengan faktur pajak.

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui dan mendeskripsikan implementasi e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara, serta mengetahui hambatan dan upaya perbaikannya. TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Implementasi

Implementasi menurut Wahab (2008:65) yaitu “tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu atau pejabat-pejabat, kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada terciptanya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan”. Studi implementasi adalah studi perubahan, bagaimana perubahan itu terjadi, bagaimana kemungkinan perubahan bisa dimunculkan, Ia juga merupakan studi tentang mikrostruktur dari kehidupan politik, bagaimana organisasi di luar dan di dalam sistem politik menjalankan urusan mereka dan berinteraksi satu sama lain, apa motivasi mereka untuk bertindak seperti itu, dan apa motivasi yang lain mungkin membuat mereka bertindak secara berbeda” (Parson, 2006:463). Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa implementasi merupakan sebuah tindakan yang dilakukan untuk melaksanakan suatu kebijakan sesuai dengan tujuan diberlakukannya kebijakan

(3)

Jurnal Perpajakan (JEJAK)| Vol. 6 No. 2 2015| perpajakan.studentjournal.ub.ac.id

3 digunakan untuk mengetahui ketepatan

kebijakan baru tersebut untuk diterapkan dalam suatu instansi, perusahaan atau masyarakat umum, sehingga dapat diketahui faktor apa saja

yang mendukung dan menghambat

implementasi suatu kebijakan. Pengertian Perpajakan

Menurut Soemitro dalam Waluyo (2011:2) Pajak merupakan iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal yang langsung dapat ditunjukkan dan yang dikeluarkan untuk membayar pengeluaran. Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki manfaat atau kontribusi yang sangat besar bagi negara meskipun proses pemungutan pajak tersebut bersifat memaksa.

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

PPN merupakan pajak yang berkaitan erat dengan transaksi perdagangan. PPN dikenakan secara tidak langsung atas konsumsi dalam negeri atau lebih tepatnya dikenakan pada setiap penyerahan barang dan/atau jasa yang dilakukan oleh PKP. PPN memiliki karakteristik yang membedakan dengan pajak yang lainnya. Karakteristik PPN menurut Sukardji (2014:1) adalah sebagai berikut:

1. Pajak Tidak Langsung 2. Pajak Objektif

3. Multi Stage Levy

4. Mekanisme Perhitungan PPN terutang menggunakan Indirect Substraction Methods 5. Non Kumulatif

6. Tarif Tunggal

7. Dikenakan atas Konsumsi dalam Negeri Pengusaha Kena Pajak (PKP)

PKP merupakan salah satu subjek PPN. Berdasarkan Pasal 1 angka 15 UU PPN, yang dimaksud dengan PKP adalah pengusaha yang melakukan penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP yang dikenai pajak berdasarkan undang-undang. Menurut Pandiangan (2014:98), syarat dikukuhkan sebagai PKP terdiri dari dua yaitu persyaratan subjektif dan persyaratan objektif. Persyaratan subjektif yang dimaksud yaitu setiap wajib pajak sebagai pengusaha yang dikenai PPN berdasarkan UU PPN. Persyaratan objektifnya yaitu setiap pengusaha yang melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) UU PPN. Besarnya jumlah penyerahan atau peredaran usaha yang dilakukan oleh pengusaha di atas batasan yang

Januari 2014, batasan untuk dikukuhkan sebagai PKP yaitu peredaran bruto diatas Rp. 4.800.000.000,00 dalam satu tahun pajak.

Faktur Pajak

Faktur pajak menurut Mardiasmo (2009:288) adalah bukti pemungutan pajak yang dibuat oleh PKP yang melakukan penyerahan barang kena pajak atau jasa kena pajak atau bukti pemungutan pajak karena impor barang kena pajak yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Faktur pajak memiliki peran yang sangat penting dalam proses transaksi yang dilakukan oleh PKP. Faktur pajak berfungsi sebagai bukti pemungutan bagi PKP dalam melakukan penyerahan barang dan/atau jasa, faktur pajak juga berfungsi sebagai bukti pemungutan PPN dan juga sebagai sarana pengkreditan pajak masukan dan pajak keluaran. Faktur pajak hanya bisa digunakan oleh PKP. WP non PKP dilarang untuk menerbitkan faktur pajak.

Roadmap PPN

Pembenahan administrasi PPN merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh DJP untuk memenuhi hak wajib pajak yang layak mendapatkan pelayanan terbaik. DJP tengah berupaya untuk melakukan pembenahan sistem administrasi PPN yang sudah dirancang sejak tahun 2011. Rancangan pembenahan administrasi PPN dilakukan secara bertahap sampai 4 tahun ke depan sejak rancangan itu dibuat. Roadmap tersebut dibagi secara bertahap selama 4 tahun dikarenakan untuk melakukan pembenahan administrasi PPN tidak bisa dilakukan secara keseluruhan, namun harus dilakukan secara bertahap.

Tahun 2011, DJP melakukan pembenahan administrasi tahap mendasar yaitu dengan melakukan evaluasi bentuk pelaporan SPT. Tahun 2012, pembenahan yang dilakukan yaitu dalam hal penerbitan peraturan PER-05/PJ/2012 sebagaimana telah diubah dengan PER-20/PJ/2012 tentang Registrasi Ulang Pengusaha Kena Pajak Tahun 2012. Hal tersebut dilakukan karena banyak PKP yang tidak tertib dalam menjalankan keajibannya. Tahun 2013, DJP mewajibkan seluruh PKP Badan untuk menggunakan pelaporan SPT secara elektronik (e-SPT) (PER-11/PJ/2013). Bagi PKP orang pribadi yang melakukan transaksi lebih dari 25 dokumen (dokumen faktur pajak atau dokumen yang dipersamakan dengan faktur pajak dan/atau nota retur atau nota pembetulan) dalam satu masa

(4)

Jurnal Perpajakan (JEJAK)| Vol. 6 No. 2 2015| perpajakan.studentjournal.ub.ac.id

4 XXX.XXX.XX.XXXXXX

pajak dan PKP orang pribadi yang melakukan penyerahan barang dan jasa dalam satu masa pajak lebih dari Rp.400.000.000,00 akan diwajibkan menggunakan e-SPT. DJP juga melakukan segmentasi PKP yang akan dibedakan berdasarkan dengan omset dari PKP tersebut. Berdasarkan Pasal 1 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 197/PMK.03/2013 Tentang Batasan Pengusaha Kecil Pajak Pertambahan Nilai, PKP Yang memiliki omset tidak lebih dari 4,8 Milyar dalam satu tahun maka akan dikategorikan sebagai pengusaha kecil. Tahun 2013, selain kewajiban menggunakan e-SPT, pembenahan administrasi PPN yang dilakukan yaitu penggunaan e-NOFA. Penggunaan e-NOFA berbeda dengan penggunaan faktur pajak sebelumnya. PKP tidak bisa menulis sendiri nomor fakturnya. PKP yang bersangkutan harus meminta nomor seri faktur pajak melalui KPP tempat PKP tersebut terdaftar, dikarenakan penomoran seri faktur pajak dilakukan secara sistem oleh DJP. Tahun 2014 DJP akan menerapkan e-Tax Invoice. Penerapan e-Tax Invoice tersebut tidak dilaksanakan sekaligus kepada PKP di seluruh Indonesia, namun DJP akan menjadwalkan penerapan e-Tax Invoice sesuai dengan wilayah. Wajib Pajak tertentu yang berdomisili atau yang terdaftar di wilayah DKI Jakarta menerapkan e-Tax Invoice mulai 1 Juli 2014. Wajib Pajak tertentu yang berdomisili atau yang terdaftar di wilayah Pulau Jawa dan Pulau Bali akan menerapkan e-Tax Invoice mulai 1 Juli 2015. Penerapan e-Tax Invoice secara serentak seluruh Indonesia akan dilaksanakan mulai 1 Juli 2016.

Elektronik Nomor Seri Faktur Pajak (e-NOFA) Penomoran seri faktur pajak bertujuan untuk mempermudah pengadministrasian setiap transaksi yang dilakukan oleh PKP. Pada awalnya penomoran seri faktur pajak dilakukan sendiri oleh wajib pajak. Wajib pajak memiliki wewenang untuk memberi nomor seri faktur pajak dan melaporkannya, namun, beberapa tahun terakhir terjadi penyelewengan pajak yang disebabkan oleh faktur pajak fiktif. Direktorat Jenderal Pajak terus melakukan upaya untuk mencegah penyelewengan tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menerbitkan e-NOFA. Perbedaan e-NOFA dengan penomoran seri faktur pajak sebelumnya yaitu terletak pada proses penomorannya. Penerbitan e-NOFA dilakukan secara terpusat oleh Direktorat Jenderal Pajak melalui KPP tempat wajib pajak terdaftar. Proses permintaannya harus sesuai dengan peraturan

yang berlaku, sehingga PKP tidak memiliki wewenang lagi untuk menerbitkan nomor seri faktur pajak. Dalam PER-24/PJ/2012 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan nomor seri faktur pajak adalah nomor seri yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada Pengusaha Kena Pajak dengan mekanisme tertentu untuk penomoran Faktur Pajak yang berupa kumpulan angka, huruf, atau kombinasi angka dan huruf yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Berikut adalah format pemberian kode dan nomor Seri Faktur Pajak:

1. 2 (dua) digit kode transaksi (ditandai dengan warna merah)

2. 1 (satu) digit kode status (ditandai dengan warna hitam) dan ;

3. 13 (tiga belas) digit nomor transaksi yang ditentukan oleh Direktur Jenderal Pajak (ditandai dengan warna biru).

Pengisian kode transaksi dan kode status pada nomor seri faktur pajak mengacu pada PER-24/PJ/2012.

METODE PENELITIAN

Penelitian ilmiah memiliki beberapa jenis metode penelitian yang digunakan untuk mendukung peneliti mulai dari penyusunan awal hingga peneliti memperoleh informasi yang digunakan untuk memecahkan masalah-masalah yang diuji dalam penelitian. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Peneliti menggunakan penelitian tersebut karena peneliti ingin menguraikan gambaran, pelaksanaan, penjelasan dan pemahaman yang lebih mendalam terkait dengan pelaksanaan e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara. Penelitian deskriptif menurut Moleong (2009:6) adalah penelitian yang berupaya mengungkapkan suatu masalah dan keadaan sebagaimana adanya, untuk itu peneliti dibatasi hanya mengungkapkan fakta-fakta dan tidak menggunakan pengujian hipotesa. Penelitian ini menggunakan data primer berupa wawancara dan observasi serta data sekunder berupa dokumentasi, arsip dan hal lain yang berhubungan dengan tema penelitian. Fokus penelitian ini disesuaikan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang diangkat dalam penelitian ini. Fokus penelitian tersebut yaitu:

1. Implementasi penerbitan e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara

(5)

Jurnal Perpajakan (JEJAK)| Vol. 6 No. 2 2015| perpajakan.studentjournal.ub.ac.id

5 NOFA di KPP Pratama Malang Utara dan

kesesuaiannya dengan peraturan perundang-undangan yang mengaturnya. b) Jumlah permintaan dan penerbitan

e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara c) Sistem pengadministrasian faktur pajak

sebelum dan sesudah diterapkan e-NOFA 2. Hambatan dalam pelaksanaan e-NOFA di

KPP Pratama Malang Utara b) Faktor Internal

c) Faktor Eksternal

3. Upaya yang harus dilakukan KPP Pratama Malang Utara dalam memperbaiki hambatan pelaksanaan e-NOFA

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis kualitatif model Miles, Huberman dan Saldana (2014:33) yang terdiri dari pengumpulan data (data collection), kondensasi data (data condensation), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan (conclusion drawing).

HASIL DAN PEMBAHASAN

KPP Pratama Malang Utara merupakan salah satu instansi vertikal Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang berada dibawah dan bertanggung jawab secara langsung kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Timur III. KPP Pratama Malang Utara terletak di Jalan Jaksa Agung Suprapto No. 29-31, Kelurahan Samaan, Kecamatan Klojen, Kota Malang. KPP Pratama Malang Utara dibentuk berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 55/PMK.01/2007 tanggal 31 Mei 2007 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak. Wilayah Kerja KPP Pratama Malang Utara meliputi dua kecamatan dari total lima kecamatan tersebut, yaitu kecamatan Lowokwaru dan Kecamatan Blimbing.

1.

Implementasi Penerbitan e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara

a. Mekanisme Penerbitan e-NOFA Sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang mengaturnya

Sejak diterbitkannya PER-24/PJ/2012 tersebut maka seluruh KPP di Indonesia wajib melaksanakannya dan merubah mekanisme penomoran seri faktur pajak. Berdasarkan PER-24/PJ/2012 tersebut PKP yang akan menggunakan nomor seri faktur pajak harus meminta kode aktivasi dan password sesuai dengan pasal 8 PER-24/PJ/2012 dan permintaan nomor seri faktur pajak sesuai pasal 9 dalam PER-24/PJ/2012 tersebut. Mekanisme permintaan permohonan kode

lengkap agar memudahkan PKP yang ingin mengajukan nomor seri faktur pajak. Perbedaan lain yang terdapat pada kebijakan e-NOFA yaitu mengenai jumlah permintaan nomor seri faktur pajaknya. PKP untuk pertama kali menggunakan e-NOFA diperkenankan untuk minta nomor seri faktur pajak sebanyak 75. Asumsinya bahwa setiap bulan PKP tersebut diperkirakan menggunakan nomor seri faktur pajak sebesar 25, sehingga 75 nomor seri faktur pajak tersebut asumsi penggunaan selama 3 bulan pertama. PKP diperkenankan untuk meminta lebih nomor seri faktur pajak sebesar 120% dari sebelumnya. PKP juga diwajibkan untuk melaporkan nomor seri faktur pajak yang tidak digunakannya pada akhir tahun.

b. Jumlah Permintaan dan Penerbitan e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara

Menerima permintaan e-NOFA dan menerbitkan e-NOFA merupakan tugas masing-masing KPP sebagai bagian dari pelayanan kepada WP. E-NOFA tersebut merupakan tugas dari seksi pelayanan dari KPP. Pelayanan terhadap e-NOFA dilakukan di bagian front office/TPT masing-masing kantor yang dilayani oleh petugas e-NOFA. Petugas yang bersangkutan wajib memeriksa terlebih dahulu dokumen yang dijadikan sebagai syarat permintaan e-NOFA sesuai dengan pasal 8 dan 9 PER-24/PJ/2012 sebelum menerbitkan jumlah nomor seri faktur pajak sesuai dengan permintaan. Atas penerbitan nomor seri faktur pajak tersebut petugas e-NOFA juga wajib untuk merekam jumlah permintaan dan penerbitan e-NOFA. Berikut adalah penyajian data terkait dengan jumlah pengguna e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara sejak diberlakukannya e-NOFA sampai dengan akhir 2014:

Tabel 1. Jumlah Pengguna e-NOFA di KPP Malang Utara No Keterangan Tahun 2013 2014 1 Jumlah PKP 980 862 PKP Badan 824 761 PKP OP 156 101 2 Jumlah PKP Pengguna e-NOFA 383 392 PKP Badan Pengguna e-NOFA 321 318 PKP OP Pengguna e-NOFA 62 74

(6)

Jurnal Perpajakan (JEJAK)| Vol. 6 No. 2 2015| perpajakan.studentjournal.ub.ac.id 6 Lanjutan tabel 1 No Keterangan Tahun 2013 2014 3 % Jumlah PKP Pengguna e-NOFA thd Jumlah PKP Total 39,08% 45,47% 4 % Jumlah PKP Badan Pengguna e-NOFA thd Jumlah PKP Badan 38,95% 41,78% 5 % Jumlah PKP OP Pengguna e-NOFA thd Jumlah PKP OP 39,74% 73,26%

Sumber: Data Diolah (2015)

Berdasarkan tabel di atas, PKP pengguna e-NOFA memiliki persentase kurang dari 50% pada tahun 2013 maupun 2014, namun tahun 2014 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2013. DJP terus mengupayakan untuk meningkatkan jumlah PKP yang menggunakan e-NOFA. Sejak diberlakukannya e-NOFA, KPP Pratama Malang Utara melakukan perekaman data jumlah permintaan dan penerbitan e-NOFA. Jumlah permintaan dan penerbitan e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara selama tahun 2013 dan 2014 sebagai berikut:

Tabel 2. Jumlah Permintaan dan Penerbitan e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara

No Keterangan Tahun 2013 2014 1 Jumlah PKP Pengguna e-NOFA 383 392 2 Jumlah Permintaan e-NOFA 396 407

3 Jumlah e-NOFA yang

diterbitkan

383 392

Sumber: Data Diolah (2015)

Jumlah permintaan e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara melebihi jumlah PKP yang menggunakan e-NOFA dikarenakan beberapa PKP melakukan permintaan e-NOFA lebih dari satu kali. E-NOFA yang diterbitkan atas permintaan tersebut sesuai dengan PKP yang menggunakannya.

c. Sistem pengadministrasian faktur pajak sebelum dan sesudah diterapkan e-NOFA

Sistem pengadministrasian faktur pajak di Indonesia mengalami perubahan berkali-kali. Perubahan tersebut disebabkan karena belum adanya aturan khusus yang mengatur secara detail terkait penggunaan faktur pajak. Seiring dengan berkembangnya teknologi, maka DJP bermaksud ingin menyempurnakan sistem pengadministrasian faktur pajak untuk

memudahkan pelayanan kepada WP dan juga menghindari terjadinya penyalahgunaan faktur pajak. Dalam pembahasan ini, peneliti membagi sistem pengadministrasian faktur pajak di Indonesia dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu sistem pengadministrasian faktur pajak sebelum dan sesudah diterapkannya e-NOFA.

1) Sistem pengadministrasian faktur pajak sebelum e-NOFA

a) Faktur Pajak Sebelum 1 April 2010

Penomoran seri faktur pajak sebelum 1 april 2010 dilakukan hanya untuk faktur pajak standar, sedangkan faktur pajak sederhana disesuaikan dengan kebijakan masing-masing PKP yang menerbitkan faktur. Poin-poin yang perlu diperhatikan dalam penomoran faktur pajak standar yaitu tata cara penggunaan kode dan nomor seri mengacu pada lampiran III Per-159/pj/2006. Nomor seri harus urut sesuai urutan tanggal kejadian transaksi tanpa perlu dibedakan sesuai jenis kode transaksinya. b) Faktur Pajak 1 April 2010 sampai dengan 31

Maret 2013

Penomoran seri faktur pajak sejak 1 april 2010 sampai dengan 31 maret 2013 mengalami perbedaan dengan peraturan sebelumnya. Faktur pajak setelah 1 april hanya mengenal adanya satu jenis faktur yaitu faktur pajak. Sejak 1 april 2010 tersebut tidak ada lagi istilah faktur pajak sederhana dan faktur pajak standar. Pembuatan faktur pajak sejak 1 april 2013 harus dibuat sesuai dengan pasal 13 ayat 1(a) UU PPN. Pengadministrasian faktur pajak sejak 1 april 2010 mulai menggunakan kode dan nomor seri faktur terdiri dari 16 digit yang diatur dalam PER-13/PJ/2010. PKP yang menggunakannya memiliki wewenang untuk menuliskan sendiri nomor seri fakturnya. 2) Sistem pengadministrasian faktur pajak

setelah e-NOFA

a) Faktur Pajak sejak 1 April 2013 (e-NOFA) Pengadministrasian faktur pajak sejak diterapkannya e-NOFA yaitu mengalami perubahan yang cukup signifikan. Salah satunya yaitu tentang sistem penomoran seri faktur pajak yang dilakukan oleh DJP. PKP tidak bisa lagi menuliskan nomor seri faktur pajaknya secara manual seperti sebelumnya. PKP yang akan menggunakan e-NOFA harus mengajukan permohonan kode aktivasi dan password terlebih dahulu sesuai dengan PER-24/PJ/2012. DJP membatasi jumlah permintaan e-NOFA dari PKP pengguna. PKP hanya diijinkan untuk minta nomor seri faktur pajak sebanyak 75 nomor seri selama satu bulan untuk pertama kali mengajukan. Pengaturan

(7)

Jurnal Perpajakan (JEJAK)| Vol. 6 No. 2 2015| perpajakan.studentjournal.ub.ac.id

7 adalah menyesuaikan dengan jumlah nomor

seri yang terpakai pada bulan selanjutnya, dengan perhitungan maksimal PKP boleh meminta nomor seri faktur pajak sebesar 120% dari nomor seri faktur pajak yang digunakan bulan sebelumnya.

b) Faktur Pajak 1 April 2014 (e-Tax Invoice) Sejak 1 juli 2014, prosedur tersebut telah mengalami perubahan dan penyempurnaan. E-Tax Invoice yang merupakan kelanjutan dari e-NOFA diterapkan kepada PKP yang terdaftar di bawah KPP se-Jakarta. Hal tersebut akan terus berlanjut sampai skala nasional. PKP se-Jawa dan Bali akan memperoleh kewajiban menggunakan e-Tax Invoice tersebut mulai 1 juli 2015 dan untuk PKP seluruh Indonesia akan menerapkna e-Tax Invoice pada 1 juli 2016. Ketentuan penggunaan e-Tax Invoice secara umum hampir sama dengan e-NOFA, namun e-Tax Invoice secara keseluruhan nantinya by sistem

2.

Hambatan-hambatan dalam pelaksanaan e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara

a. Faktor Internal

1) E-NOFA belum divalidasi Kantor Pusat DJP Hambatan pelaksanaan e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara yang pertama adalah e-NOFA yang selama ini dilaksanakan belum divalidasi oleh kantor pusat DJP. Validasi e-NOFA tersebut menyebabkan proses input data faktur pajak mengalami permasalahan. 2) Gangguan Koneksi atau Jaringan

Hambatan lain dalam pelaksanaan e-NOFA yaitu terkait dengan gangguan koneksi atau jaringan pada saat menerbitkan faktur pajak. Hal tersebut disebabkan karena database permohonan e-NOFA masing-masing KPP harus terhubung langsung dengan server kantor pusat DJP. Koneksi masing-masing KPP ke kantor pusat DJP secara bersama-sama tersebut menyebabkan terjadi gangguan dalam menerbitkan nomor seri faktur pajak, sehingga hal tersebut akan menghambat proses penerbitan nomor seri faktur pajak.

3) Perubahan Aturan yang Terlalu Cepat

Hambatan dalam pelaksanaan e-NOFA yang ketiga yaitu adanya perubahan aturan yang terlalu cepat. Peraturan perpajakan selalu mengalami perubahan karena untuk menyempurnakan kekurangan yang terjadi pada peraturan sebelumnya. WP akan mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi dalam perpajakan salah satunya yaitu

WP perubahan tersebut tentunya tidak bisa dilaksanakan secara cepat namun bertahap mengingat kondisi WP di Indonesia sangat berbeda-beda. WP yang berada di kota besar tentunya akan berbeda dengan WP yang berada di kota kecil, sehingga dalam menjalankan perubahan peraturan pajak seperti e-NOFA akan membutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan WP yang berada di kota besar yang sudah memahami teknologi.

4) Sosialisasi yang dilakukan belum maksimal Hambatan keempat dalam pelaksanaan e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara yaitu terkait dengan sosialisasi yang dilakukan masih belum maksimal. Sosialisasi yang dilakukan di KPP Pratama Malang Utara mengalami kendala terkait dengan surat undangan yang dikirimkan ke WP tidak sampai pada tempatnya atau undangan tersebut telat diterima oleh WP.

5) Adanya Pembatasan Jumlah Permintaan Nomor Seri Faktur Pajak

Hambatan kelima dalam pelaksanan e-NOFA yaitu adanya pembatasan jumlah nomor seri faktur pajak yang diminta oleh PKP. Selama ini PKP hanya diijinkan untuk meminta nomor seri faktur pajak sebanyak 75 nomor seri untuk pengajuan pertama, selanjutnya akan diakumulasikan selama 3 bulan. PKP yang bersangkutan dapat meminta lebih nomor seri faktur pajak yang diberikan oleh DJP sebanyak 120% dari permintaan terakhir nomor seri faktur pajak oleh PKP. Pembatasan jumlah tersebut menjadi hambatan bagi PKP dalam implementasi e-NOFA, khususnya bagi PKP yang memiliki jumlah transaksi banyak dalam satu bulan. b. Faktor Eksternal

1) Permintaan e-NOFA kurang efektif

Hambatan lain yang disebabkan oleh faktor eksternal yaitu kurang efektifnya permintaan e-NOFA. Permintaan e-NOFA sejauh ini memang dilakukan dengan cepat. PKP hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit untuk meminta nomor seri faktur pajak, namun jarak yang ditempuh PKP dari tempat kerja ke kantor pajak hanya untuk meminta nomor seri faktur pajak selama 5 menit dinilai kurang efektif.

2) Alamat WP terdaftar kurang valid

Kendala yang lain dalam pelaksanaan e-NOFA yaitu alamat WP terdaftar tidak valid. Alamat WP tersebut digunakan untuk

(8)

Jurnal Perpajakan (JEJAK)| Vol. 6 No. 2 2015| perpajakan.studentjournal.ub.ac.id

8 mengirim kode aktivasi permintaan e-NOFA.

Apabila alamat dari WP tidak valid maka akan menghambat proses permintaan e-NOFA.

3) WP Non PKP Menerbitkan Faktur Pajak Hambatan terakhir dalam penerbitan e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara dari segi eksternal yaitu WP non PKP menerbitkan faktur pajak. berdasarkan UU PPN, yang diperbolehkan menerbitkan nomor seri faktur pajak adalah PKP yang terdaftar, apabila ada WP non PKP menerbitkan faktur pajak maka hal tersebut jelas dilarang dan bisa dikenakan sanksi sesuai dengan UU.

3.

Upaya Dalam Memperbaiki Hambatan Pelaksanaan e-NOFA

a) Upaya Dalam Memperbaiki Hambatan Internal Pelaksanaan E-NOFA

1) Kantor Pusat DJP Melakukan Validasi Nomor Seri Faktur Pajak

Implementasi e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara mengalami hambatan dalam hal e-NOFA yang diterbitkan belum mendapatkan validasi dari kantor pusat DJP. Upaya yang harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu kantor pusat DJP melakukan validasi nomor seri faktur pajak. 2) Memperbaiki Koneksi atau Jaringan Internet

Salah satu hambatan yang sering terjadi di KPP adalah terkait dengan gangguan koneksi internet atau jaringan. Upaya yang harus dilakukan yaitu dengan menambah server yang ada di kantor pusat dan juga memasang server di setiap Kanwil DJP di Indonesia agar server yang ada di kantor pusat tidak menampung beban banyak pada saat dilakukan input data.

3) Memantapkan Peraturan Baru Sebelum Dilaksanakan

Hambatan lain dalam implementasi e-NOFA yaitu sering dilakukannya perubahan aturan tentang pajak, namun pada saat aturan tersebut dilaksanakan ternyata masih ada kekurangan atau ketidaksiapan DJP dalam membuat peraturan tersebut. Upaya yang bisa dilakukan oleh DJP untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan memantapkan terlebih dahulu peraturan baru sebelum dilaksanakan.

4) Sosialisisasi Peraturan Baru Dilaksanakan Jauh-Jauh Hari Sebelum Pelaksanaan

Hambatan lain dalam implementasi e-NOFA yaitu adanya sosialisasi yang dilakukan oleh KPP belum maksimal. Upaya yang dilakukan oleh KPP untuk memperbaiki

hambatan tersebut yaitu melakukan sosialisasi jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan dari peraturan tersebut. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari surat undangan sosialisasi yang terlambat sampai ke WP. KPP Pratama Malang Utara juga bisa memilih kurir yang terpercaya untuk mengirimkan surat undangan sosialisasi maupun berkas lain kepada WP.

5) Jumlah Permintaan Nomor Seri Faktur Pajak Tidak Dibatasi

Hambatan terakhir dalam implementasi e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara yaitu adanya pembatasan jumlah nomor seri faktur pajak yang diminta. Upaya yang dilakukan oleh KPP Pratama Malang utara untuk mengatasi hambatan tersebut yaitu dengan tidak membatasi jumlah nomor seri faktur yang diminta oleh PKP, dengan catatan nomor seri faktur pajak yang tidak digunakan tetap dilaporkan kepada KPP.

b) Upaya Dalam Memperbaiki Hambatan Eksternal

Hambatan eksternal dalam implementasi e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara terdiri dari 3 yaitu permintaan e-NOFA kurang efektif, alamat WP terdaftar kurang valid dan WP non PKP menerbitkan faktur pajak. Upaya-upaya yang harus dilakukan oleh KPP Pratama Malang Utara yaitu:

1) Mempersiapkan Pelaksanaan E-Tax Invoice Salah satu hambatan eksternal dalam implementasi e-NOFA yaitu kurang efektifnya permintaan nomor seri faktur pajak yang dilakukan. Upaya yang bisa dilakukan KPP Pratama Malang Utara yaitu dengan mempersiapkan pelaksanaan Tax Invoice. e-Tax Invoice dilaksanakan di KPP Pratama Malang Utara mulai 1 Juli 2015. Sejak diberlakukan e-Tax Invoice tersebut maka semua prosedur permintaan dan juga pelaporan faktur pajak dilakukan secara sistem menggunakan aplikasi.

2) Memastikan Kembali Kebenaran Data Diri WP untuk Memperlancar Proses Administratif WP Hambatan eksternal yang kedua yaitu alamat WP terdaftar tidak valid sehingga menghambat pengiriman kode aktivasi via pos. Upaya yang bisa dilakukan KPP Pratama Malang Utara untuk mengatasi hambatan tersebut yaitu dengan memastikan kembali data diri WP khususnya terkait dengan alamat domisilinya. Apabila terjadi perubahan alamat domisili maka KPP Pratama Malang Utara melakukan himbauan kepada WP untuk

(9)

Jurnal Perpajakan (JEJAK)| Vol. 6 No. 2 2015| perpajakan.studentjournal.ub.ac.id

9 form perubahan alamat.

3) Menghimbau kembali WP non PKP untuk tidak menerbitkan faktur pajak

Hambatan eksternal yang terakhir yaitu WP non PKP menerbitkan faktur pajak. Berdasarkan pasal 14 UU PPN, nomor seri faktur pajak hanya bisa diterbitkan oleh PKP. Upaya yang dilakukan KPP Pratama Malang Utara untuk mencegah terjadinya penerbitan nomor seri faktur pajak oleh WP non PKP yaitu dengan melakukan pendekatan persuasif kepada WP tersebut. WP non PKP dihimbau untuk tidak menerbitkan nomor seri faktur. WP non PKP tersebut juga diberikan penjelasan mengenai sanksi yang diberikan apabila terbukti WP tersebut menerbitkan nomor seri faktur pajak.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Implementasi e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara

a. Mekanisme penerbitan e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara

Mekanisme penerbitan e-NOFA mengalami perubahan dari sebelum diterapkan e-NOFA sampai dengan penerapan e-NOFA. Permintaan e-NOFA harus mengajukan kode aktivasi dan password serta mengajukan surat permintaan e-NOFA. PKP yang bersangkutan mendapatkan jumlah permintaan nomor seri sebanyak 75 untuk pengajuan pertama.

b. Jumlah Permintaan dan Penerbitan e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara

Jumlah permintaan dan penerbitan e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara dari tahun 2013 ke 2014 mengalami peningkatan yaitu dari 396 permintaan menjadi 407. Jumlah PKP pengguna e-NOFA mengalami peningkatan dari 383 ke 392. Jumlah PKP mengguna tersebut memiliki persentasi yang sedikit jika dibandingkan dengan total PKP yang terdaftar.

c. Sistem pengadministrasian faktur pajak sebelum dan sesudah diterapkan e-NOFA

Sistem pengadministrasian e-NOFA sebelum dan setelah e-NOFA mengalami perbedaan yang signifikan diantaranya yaitu proses permintaan nomor seri faktur dari manual menjadi elektronik, pembatasan jumlah permintaan e-NOFA sebanyak 75 untuk pengajuan pertama bagi PKP, adanya tanda tangan elektronik yang harus diisi oleh direktur atau pejabat lain yang diberikan

tersebut merupakan bentuk penyempurnaan sistem pengadministrasian faktur pajak yang sebelumnya memiliki banyak celah, sehingga menyebabkan terjadinya penyelewengan faktur pajak. adanya kebijakan e-NOFA tersebut membuat sistem administrasi PPN semakin baik.

2. Hambatan-hambatan dalam pelaksanaan e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara

Terdapat beberapa hambatan dalam implementasi e-NOFA di KPP Pratama Malang Utara. Hambatan-hambatan tersebut yaitu sebagai berikut:

a. Faktor Internal

Hambatan yang disebabkan oleh faktor internal yaitu:

1) E-NOFA belum divalidasi kantor pusat 2) Gangguan koneksi/jaringan

3) Perubahan aturan yang terlalu cepat 4) Sosialisasi belum maksimal

5) Pembatasan jumlah permintaan nomor seri faktur pajak

b. Faktor Eksternal

Hambatan yang disebabkan oleh faktor eksternal yaitu:

1) Permintaan e-NOFA kurang efektif 2) Alamat WP tidak valid

3) WP non PKP menerbitkan faktur pajak 3. Upaya-upaya yang dilakukan KPP Pratama

Malang Utara dalam memperbaiki hambatan implementasi e-NOFA

a. Upaya dalam memperbaiki hambatan yang disebabkan oleh faktor internal

1) Kantor Pusat DJP melakukan validasi nomor seri faktur pajak;

2) Memperbaiki koneksi atau jaringan internet 3) Memantapkan peraturan baru sebelum

dilaksanakan;

4) Sosialisasi peraturan baru dilaksanakan jauh hari sebelum peraturan diterbitkan;

5) Jumlah permintaan nomor seri faktur tidak dibatasi.

b. Upaya dalam memperbaiki hambatan yang disebabkan oleh faktor eksternal

1) Mempersipakan pelaksanaan e-Tax Invoice; 2) Memastikan kembali kebenaran data WP; 3) Menghimbau WP non PKP untuk tidak

menerbitkan faktur pajak. Saran

b. Saran untuk Kantor Pusat DJP

Mempersiapkan dengan matang pelaksanaan e-Tax Invoice:

(10)

Jurnal Perpajakan (JEJAK)| Vol. 6 No. 2 2015| perpajakan.studentjournal.ub.ac.id

10 1) Memantapkan terlebih dahulu peraturan

baru sebelum dilaunching;

2) Tidak membatasi jumlah permintaan nomor seri faktur pajak;

3) Kantor Pusat DJP melakukan validasi nomor seri faktur pajak;

4) Memperbaiki koneksi/jaringan internet. Beberapa saran tersebut ditujukan untuk memperbaiki hambatan-hambatan dalam pelaksanaan e-NOFA dari sisi internal maupun eksternal agar DJP selaku pembuat kebijakan bisa memperbaiki dan mempersiapkan kembali sebelum e-Tax Invoice diterapkan secara nasional.

c. Saran untuk KPP Pratama Malang Utara 1) Melakukan sosialisasi jauh-jauh hari

sebelum peraturan baru dilaksanakan agar PKP bisa mempersiapkan dengan matang dan dapat mengikuti dengan baik pelaksanaan peraturan tersebut;

2) Memastikan kembali kebenaran data diri WP agar tidak terjadi lagi hambatan yang disebabkan oleh kesalahan penulisan alamat oleh WP;

3) Menghimbau kembali WP non PKP untuk tidak menerbitkan faktur pajak. DAFTAR PUSTAKA

Mardiasmo. 2009. Perpajakan. Yogyakarta: Andi Miles, Matthew J, Michael Huberman dan Johnny

Saldana. 2014. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. United State of America: SAGE Publishing Inc.

Moleong, Lexy J. 2014. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Pandiangan, Liberti. 2014. Administrasi Perpajakan. Jakarta: Erlangga

Parson, Wayne. 2006. Public Policy: Pengantar Teori dan Praktek Analisis Kebijakan (Penerjemah Tri Wibowo Budi Santoso). Jakarta: Kencana

Republik Indonesia, Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-11/PJ/2013 tentang Bentuk, Isi dan Tata Cara Pengisian Serta Penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai.

Republik Indonesia, Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-20/PJ/2012 tentang Registrasi Ulang Pengusaha Kena Pajak. Republik Indonesia, Peraturan Direktur Jenderal

Pajak Nomor PER-24/pj/2012 Tentang Bentuk, Ukuran, Tata Cara Pengisian Keterangan, Prosedur Pemberitahuan dalam Rangka Pembulatan, Tata Cara

Pembetulan / Penggantian dan Tata Cara Pembatalan Faktur Pajak

Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2009 Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. Republik Indonesia, Peraturan Menteri Keuangan

Nomor 55/PMK.01/2007 tanggal 31 Mei 2007 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak. Republik Indonesia, Peraturan Menteri Keuangan

Nomor 197/PMK.03/2013 Tentang Batasan Pengusaha Kecil Pajak Pertambahan Nilai Sukardji, Untung. 2014. Pokok-pokok Pajak

Pertambahan Nilai di Indonesia Edisi Revisi 2014. Jakarta: PT Raja Grafindo Press Wahab, Solikhin Abdul. 2005. Analisis Kebijakan dari Formulasi ke Implementasi Kebijakan Negara. Jakarta: PT Bumi Aksara

Waluyo. 2011. Perpajakan Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.

Yamin, Liyanto, Titi Muswati Putranti. 2009.

Model Penyelewengan Pajak

Menggunakan Faktur Pajak. Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi, Vol 16 No 1 hal 1-7.

Gambar

Tabel 2. Jumlah Permintaan dan Penerbitan e-NOFA di  KPP Pratama Malang Utara

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang dilaksanakan di Kelurahan Tanjung Sengkuang Kecamatan Batu Ampar Kota Batam, yakni menganalisa sinergitas Pangkalan TNI AL Batam (Lanal Batam)

Persentase resep yang tidak memenuhi persyaratan administrasi yang terjadi pada peresepan pasien Instalasi Gawat Darurat dimana aspek administrasi yang tidak lengkap meliputi

Masalah keperawatan pada kasus nyata ditemukan ada dua yang penulis tegakkan berdasarkan data data dari pengkajian, hal ini disebabkan karna pada kasus nyata

Berdasarkan uraian di atas maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana pengaruh metode pengeringan menggunakan oven, lemari pengering dan pengering vakum

Diamond Bur adalah mata bur yang digunakan untuk mempreparasi kavitas gigi dengan menggunakan contra angel yang terhubung pada Dental Unit.. Tujuan Sebagai acuan kerja

Adanya fenomena kepopuleran Instagram dan penggunaan media sosial sebagai sarana branding inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengangkat tema tersebut menjadi sebuah

1 1 Masyarakat Moro-Moro adalah masyarakat dari berbagai daerah di Lampung yang masuk dalam kawasan Hutan Register 45 pada tahun 1996 menjelang reformasi.. Periode 1997-2000 di

Dari ketiga konsentrasi ekstrak Daun Turi memperlihatkan terjadinya peningkatan diameter hambatan dengan adanya kenaikan konsentrasi, hal ini disebabkan karena semakin