STUDI KORELASI ANTARA PROSES GEOMORFIK DAN PEDOGENESIS DI DESA LAMAJANG, KECAMATAN PANGALENGAN, KABUPATEN BANDUNG. Oleh DWI SEPTIANA A

68  Download (0)

Full text

(1)

PANGALENGAN, KABUPATEN BANDUNG

Oleh DWI SEPTIANA A14050180

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA LAHAN DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

SUMMARY

DWI SEPTIANA. Study of Correlation between Geomorphic Processes and Pedogenesis in Lamajang Village, Pangalengan Subdistrict, Bandung District. Guided by ANANG S. YOGASWARA and DARMAWAN.

Landform and soil formed by geomorphic and pedogenic processes. Geomorphic processes play a role in change and shape the earth's surface through out a process of physical and chemical weathering, volcanism, and extraterrestrial, while the pedogenic process produce soil body. According to van Wambeke and Forbes (1986), land unit is a container of a soil unit due to the similarity genetic factors (abiotic and biotic) and the genetic processes. Geomorphic processes based on abiotic factors (parent material, climate, relief, and time), while biotic factors (organisms, especially vegetation) only serves as an indicator, for example: gelam is an indicator of landform with acid sulphate soils. The processes of pedogenic based on factors biotic and abiotic itself. Research areas belong to volcanic landscape which dominated by the surface processes, such as: erosion, deposition, sedimentation, and mass movements, thus forming various forms of landform.

This research intends to do analysis, interpretation, and correlation between land formation (geomorphic processes) and soil formation (pedogenesis) in volcanic landscapes. The aim is to determine land units (landforms) systematically (Desaunettes, 1977) as containers of soil units (Soil Survey Staff, 2010). This research includes preparation, field work, laboratory analysis, processing data, and preparation of final report.

The results of research showed that the diversity of landforms are coinciding with the diversity of soil units (Great Group). There were found that the landform of ridge plains of volcano midlle, with parent material from andesitic rocks, undissected and flat slope (0-3%) (Vat 3.5.0) is occupied by Melanudand (Pedons P1); Landform of volcano midlle, with parent material from andesitic rocks, dissected and steep slope (30-60%) (Vat 3.6.3) is occupied by Hapludand (Pedons P2); and Landform of foot slope volcanic midlle, with parent material from andesitic rocks, slightly dissected and gently slope (2-5%) (Vat 3.5.2) is occupied by Fulvudand (Pedons P3). Correlation between geomorphic and pedogenesis processes which observed through the toposequent direction, supported by laboratory analysis data and secondary data (Puslittanak, 1993) and then extrapolated to the entire Village Lamajang, resulting seven landform mapping units as the component of semidetailed Landform Map of Lamajang Village Scaled at 1 : 50.000.

(3)

RINGKASAN

DWI SEPTIANA. Studi Korelasi antara Proses Geomorfik dan Pedogenesis, di Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Dibimbing oleh ANANG S. YOGASWARA dan DARMAWAN.

Bentuk lahan dan tanah terbentuk melalui proses geomorfik dan pedogenesis. Proses geomorfik berperanan dalam mengubah dan membentuk permukaan bumi melalui proses hancuran iklim secara fisik dan kimia, volkanisme serta ekstraterestrial, sedangkan proses pedogenesis menghasilkan tubuh tanah. Menurut van Wambeke dan Forbes (1986), satuan lahan merupakan wadah satuan tanah karena adanya kesamaan faktor genentik (abiotik dan biotik) dan proses genesisnya. Proses geomorfik didasarkan pada faktor abiotik (bahan induk, iklim, relief, dan waktu), sedangkan faktor biotik (organisme, terutama vegetasi) hanya berperan sebagai indikator, contoh : vegetasi gelam mengindikasikan landform dengan tanah sulfat masam sedangkan proses pedogenesis didasarkan pada faktor-faktor biotik dan abiotik. Daerah penelitian tergolong bentang lahan (landscape) volkanik yang didominasi proses-proses dipermukaan, yaitu : erosi, deposisi, sedimentasi, dan gerakan massa, sehingga terbentuk berbagai bentuk lahan (landform).

Penelitian ini bermaksud melakukan analisis, interpretasi, dan korelasi antara proses-proses pembentukan lahan (proses geomorfik) dan proses-proses pembentukan tanah (proses pedogenesis) pada bentang lahan volkanik. Tujuannya untuk menghasilkan satuan-satuan lahan (bentuk-bentuk lahan) secara sistematik (Desaunettes, 1977) sebagai wadah satuan-satuan tanah (Macam/ Famili Tanah) secara taksonomik (Soil Survey Staff, 2010). Penelitian ini meliputi : persiapan, pelaksanaan lapang, análisis laboratorium, pengolahan data, dan penyusunan skripsi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman satuan lahan (bentuk lahan) sejalan dengan keragaman satuan tanah (Jenis Tanah/ Great Group). Bentuk lahan dataran punggung volkan tengah, berbahan induk batuan andesitik, datar (0-3%), tidak tertoreh (Vat 3.5.0) ditempati Melanudand, (Pedon P1); bentuk lahan lereng volkan tengah, berbahan induk batuan andesitik, terjal (30-60%), tertoreh (Vat 3.6.3) ditempati Hapludand (Pedon P2); bentuk lahan kaki lereng volkan tengah, berbahan induk batuan andesitik, landai (2-5%), tertoreh sedang (Vat 3.5.2) ditempati Fulvudand (Pedon P3). Hubungan antara proses geomorfik dan pedogenesis yang diamati secara toposekuen dan didukung oleh data analisis laboratorium serta data sekunder (Puslittanak, 1993) kemudian diekstrapolasi ke seluruh Desa Lamajang, maka dihasilkan 7 Satuan Peta Bentuk Lahan sebagai komponen Peta Bentuk Lahan Semidetil Desa Lamajang Skala 1 : 50.000.

Kata Kunci : Proses Geomorfik, Pedogenesis, satuan tanah, landform, dan pemetaan

(4)

STUDI KORELASI ANTARA PROSES GEOMORFIK DAN

PEDOGENESIS DI DESA LAMAJANG, KECAMATAN

PANGALENGAN, KABUPATEN BANDUNG

Oleh DWI SEPTIANA

A14050180

SKRIPSI Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar

SARJANA PERTANIAN

Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA LAHAN DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(5)

Judul Skripsi : Studi Korelasi antara Proses Geomorfik dan Pedogenesis di Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung

Nama : Dwi Septiana

NIM : A14050180 Menyetujui :                   Mengetahui : Ketua Departemen

Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Dr. Ir. Syaiful Anwar, M.Sc. NIP : 19621113 198703 1 003 Tanggal Lulus : Pembimbing I      

Ir.Anang S. Yogaswara, Dipl. GLA. NIP. 19460731 197403 1 001   Pembimbing II         Dr. Ir. Darmawan, M.Sc. NIP. 19631103 199002 1 001

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Desa Lambangsari IV, Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu, Propinsi Riau, pada 24 September 1987. Penulis merupakan anak ke 2 dari dua bersaudara, pasangan Bapak Masri dan Ibu Sri Irtawati.

Pendidikan dasar ditempuh penulis di SDN 013 Sei Sagu dari Tahun 1993 sampai 1999. Kemudian, dilanjutkan di SLTPN 2 Lirik dari Tahun 1999 hingga 2002. Tahun yang sama penulis meneruskan jenjang pendidikan di SMUN 1 Air Molek dari Tahun 2002 hingga 2005.

Tahun 2005 penulis tercatat sebagai angkatan pertama Sistem Pendidikan Berbasis Mayor Minor di Institut Pertanian Bogor. Penulis diterima melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) dari Pemerintah Propinsi Riau, sebagai mahasiswa di Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan dengan Mayor Manajemen Sumberdaya Lahan serta Minor Teknik Pertanian. Selama menempuh pendidikan di IPB, penulis turut aktif dalam organisasi kemahasiswaan, yaitu : Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah (2007-2008) dan BEM Fakultas Pertanian (2007-2008). Disamping itu, penulis aktif dalam kegiatan seminar dan menjadi panitia pada berbagai kegiatan, antara lain : menjadi Panitia GENUS (Gebyar Nusantara) Tahun 2006, PEMIRA FAPERTA (Pemilihan Umum Raya Fakultas Pertanian) Tahun 2007, peserta Seminar Nasional Agriculture and Energy Tahun 2006, peserta Seminar Nasional Pekan Budaya Padi Tahun 2008, peserta Kuliah Umum Kewirausahaan Tahun 2006, dan peserta Pelatihan Jurnalistik Tahun 2006.

                 

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa tercurah kepada Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul Studi Korelasi antara Proses Geomorfik dan Pedogenesis di Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Skripsi ini merupakan hasil penelitian sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dengan tulus kepada :

1. Kedua orang tua tercinta, Ayahanda Masri dan Ibunda Sri Irtawati untuk semua kasih sayang, doa, semangat, dan pengorbanan yang luar biasa kepada penulis selama ini yang tidak mungkin akan tergantikan oleh apapun dan kakak tercinta Agus Prayoga untuk doa dan nasehatnya.

2. Bapak Ir. Anang S. Yogaswara, Dipl. GLA. selaku pembimbing skripsi I yang senantiasa dengan sabar, tulus, dan bertanggung jawab dalam memberikan arahan, nasehat, serta bimbingan dalam melakukan penelitian dan penulisan skripsi ini.

3. Bapak Dr. Ir. Darmawan, M.Sc. selaku dosen pembimbing skripsi II atas segala masukan yang sangat bermanfaat, sehingga terwujudnya skripsi yang lebih baik.

4. Mbak Laila Mardlotillah selaku kakak pembimbing yang senantiasa memberikan masukan, nasehat, dan motivasi serta merupakan senior yang baik hati yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat dalam pembuatan peta untuk skripsi ini dan bantuan tulus ikhlasnya dalam kegiatan lapang.

5. Abdullah Sidicky atas semangat dan motivasinya, tempat menampung keluh kesah, dan sebagai teman seperjuangan yang bersama-sama merasakan susah dan senang dalam pelaksanaan lapang dan penyelesaian skripsi ini.

6. Sahabatku Mariah Ulfah yang telah banyak membantu dalam pelaksanaan survei lapang di Desa Lamajang, untuk ilmu yang bermanfaat, doa, dan semangatnya.

(8)

7. Kepala Desa dan Sekretaris Desa Lamajang serta Bapak Iwan atas bantuan yang tulus selama kami melakukan kegiatan lapang.

8. Sahabat-sahabatku Gusmaini, Windi Agusmiati, dan Rizky Amnah yang memberikan keceriaan dan semangat dalam penyelesaian skripsi ini, serta seluruh pihak yang telah membantu.

Akhirul kalam tiada gading yang tidak retak. Oleh karena itu penulis sangat berterima kasih atas kritik dan saran yang membangun, sehingga terwujudnya tulisan yang lebih baik dan bermanfaat. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya.

Bogor, Mei 2011 Dwi Septiana              

(9)

DAFTAR ISI  

DAFTAR ISI……….. ix

DAFTAR TABEL……….. xi

DAFTAR GAMBAR………. xii

DAFTAR LAMPIRAN………. xiii

PENDAHULUAN………. 1

1.1 Latar Belakang………. 1

1.2 Maksud, Tujuan, dan Sasaran……….. 1

TINJAUAN PUSTAKA………. 2

2.1 Proses Geomorfik……… 2

2.2 Konsep Bentang Lahan (Landscape) dan Bentuk Lahan (Landform)… 3 2.3 Proses Pedogenesis……….. 6

2.4 Konsep Tanah dan Klasifikasinya………... 9

2.5 Hubungan antara Proses Geomorfik dan Pedogenesis……….... 10

KEADAAN UMUM………... 11

3.1 Lokasi, Administrasi, dan Transportasi………... 11

3.2 Geologi dan Bahan Induk……… 11

3.3 Iklim dan Hidrologi………. 14

3.4 Keadaan Topografi dan Bentuk Wilayah……… 15

3.5 Tanah dan Kesesuaian Lahan……….. 15

3.6 Penggunaan Lahan……….. 15

BAHAN DAN METODE……….. 20

4.1 Waktu dan Tempat……….. 20

4.2 Bahan dan Alat……… 20

4.3 Metode……… 21

HASIL DAN PEMBAHASAN……….. 22

5.1 Proses Geomorfik……… 22

5.1.1 Topografi……… 22

5.1.2 Bahan Induk……….... 22

5.1.3 Iklim………... 23

(10)

5.1.5 Organisme………... 23 5.2 Proses Pedogenesis……….. 23 5.2.1 Topografi……… 23 5.2.2 Bahan Induk……… 24 5.2.3 Iklim……… 24 5.2.4 Waktu……….. 24 5.2.5 Organisme………... 25

5.3 Sifat-sifat Tanah dan Lahan………. 25

5.3.1 Sifat Lahan……….. 25

5.3.2 Sifat Morfologi Tanah……….25

5.3.3 Sifat Fisik Tanah………. 28

5.3.4 Sifat Kimia Tanah………... 28

5.4 Klasifikasi Tanah dan Lahan………... 30

5.4.1 Klasifikasi Tanah……… 30

5.4.2 Klasifikasi Lahan……… 35

5.5 Hubungan antara Proses Geomorfik dan Pedogenesis……… 35

KESIMPULAN DAN SARAN……….. 41

6.1 Kesimpulan……….. 41

6.2 Saran……… 41

DAFTAR PUSTAKA………. 42

(11)

DAFTAR TABEL  

Nomor Judul Halaman

1. Garis Besar Proses Geomorfik (Wiradisastra, Tjahjono,

Gandasasmita, Barus, dan Munibah, 2002)…... 2 2. Perbedaan Bentang Lahan (Landscape) dan Bentuk Lahan

(Landform)... 3

3. Hubungan antara Skala Peta dan Satuan Peta Lahan (SPL)

(Puslittanak, 2004)………... 4 4. Klasifikasi Bentuk Lahan (Marsoedi et al., 1997)... 6 5. Komponen-Komponen Proses Pedogenesis dan Uraiannya... . 6 6. Data Curah Hujan Rata-rata Bulanan dan Tahunan di Wilayah

Lamajang dan Sekitarnya (Puslittanak, 1993) dan Amirza, 1991

dalam Abdullah, Darmawan, dan Suryaningtyas, 1994)……….. 14

7. Kemiringan Lereng dan Bentuk Wilayah (Desaunettes, 1977)……… 15 8. Tanah dan Kesesuain Lahan di Daerah Penelitian (Puslittanak,

1993)………... 18 9. Klasifikasi Kelas Lereng, Kemiringan Lereng, Amplitudo,

Bentuk Wilayah, dan Luas Masing-masing di Daerah Penelitian… 22 10. Data Morfologi Tanah dari TigaPedon Pewakil di

Daerah Penelitian………... 27 11. Data Analisis Sifat Kimia Tanah dari Tiga Pedon Pewakil di

Daerah Penelitian………... 31 12. Horison Penciri dari Tiga Pedon Pewakil di Daerah Penelitian…... 32 13. Klasifikasi Taksonomi Tanah dari Pedon-Pedon Pewakil di

Daerah

Penelitian……….……….……... 33 14. Korelasi antara Proses Geomorfik dan Pedogenesis dari Tiga Pedon

Pewakil……….. 38 15. Legenda Peta Bentuk Lahan Tingkat Semidetil Desa Lamajang,

(12)

DAFTAR GAMBAR  

Nomor Judul Halaman

1. Diagram Model 9 Satuan Bentuk Permukaan Lahan dari

Dalrymple, Blong, and Conacher (1968, dalam Selby, 1985)……….. 5

2. Hubungan antara Posisi Lereng dan Proses yang Terjadi Secara Umum (Wiradisastra, Tjahjono, Gandasasmita, Barus, dan Munibah, 2002)……….…….…. 10

3. Peta Lokasi Daerah Penelitian (Anonim, 2010)………. 12

4. Peta Geologi Daerah Penelitian (Alzwar, Akbar, dan Bachri, 1992)………... 13

5. Peta Kelas Lereng Daerah Penelitian……….. 16

6. Peta Tanah Semidetil Daerah penelitian... 17

7. Peta Penggunaan Lahan Daerah Penelitian………...……... 19

8. Diagram Alir Pemetaan Tanah dan Lahan Desa Lamajang, Kec. Pangalengan, Kab. Bandung……… 21

9. Korelasi antara Satuan Lahan (Bentuk Lahan) dan Satuan Tanah (Jenis Tanah) Secara Topsekuen pada Bentang Lahan Volkanik di Daerah penelitian………... 37

(13)

DAFTAR LAMPIRAN   

Nomor Judul Halaman

1. Sketsa Pengamatan Pedon Secara Toposekuen (Puncak,

Lereng, dan Kaki Lereng)………... 44 2. Jenis Analisis Kimia Tanah serta Metode yang Digunakan……… 44 3. Data Analisis Sifat Kimia Tanah dari Tiga Pedon Pewakil di Daerah

Penelitian ………... 45 4. Rekapitulasi Data Morfologi dari Tiga Pedon Pewakil………... 46 5. Data Morfologi Tanah dari Tiga Pedon Pewakil di Daerah

Penelitian……… 48 6. Kriteria Penilaian Sifat Kimia Tanah (PPT, 1983 dalam

Hardjowigeno, 2007)………... 51 7. Pembagian Bentuk Lahan Volkan dan Simbolnya (Desaunettes, 1977) 52 8. Penampang Tegak dari Tiga Pedon Pewakil... 54

(14)

 

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Lahan dan tanah terbentuk dan berkembang melalui kerjasama secara simultan dari berbagai faktor pembentuknya, yaitu : iklim, organisme, bahan induk, topografi, dan waktu, sehingga dihasilkan lahan dan tubuh tanah dengan sifat-sifat tertentu. Mengkaji faktor-faktor tersebut sangat membantu kita untuk menelaah seluk beluk lahan dan tanah secara keilmuan.

Keterkaitan antara tanah dan lahan terletak pada kesamaan faktor genetik (abiotik dan biotik) dan proses genesisnya, yaitu : proses pedogenesis yang membentuk tubuh tanah dan proses geomorfik yang membentuk dan mengubah permukaan bumi melalui proses penghancuran, deposisi, dan pergerakan massa (Gerrad, 1981).

Menurut van Wambeke dan Forbes (1986), proses pembentukan tanah (proses pedogenesis) didasarkan pada faktor-faktor biotik (vegetasi) dan abiotik (bahan induk, iklim, relief, dan waktu), sedangkan proses pembentukan lahan (proses geomorfik) didasarkan pada faktor abiotik dan faktor biotik hanya berperan sebagai indikator. Sejalan dengan adanya kesamaan faktor genetik dan proses genesis antara tanah dan lahan, maka satuan lahan (bentuk lahan/

landform) menjadi wadah satuan tanah (Macam/ Famili Tanah).

1.2 Maksud, Tujuan, dan Sasaran

Penelitian ini bermaksud melakukan analisis, interpretasi, dan korelasi antara proses-proses pembentukan lahan (proses geomorfik) dan proses-proses pembentukan tanah (proses pedogenesis) pada bentang lahan volkanik di Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Tujuannya adalah menghasilkan satuan-satuan lahan (bentuk-bentuk lahan) secara sistematik (Desaunettes, 1977) yang berfungsi sebagai wadah satuan-satuan tanah (Macam/ Famili Tanah) secara taksonomik (Soil Survey Staff, 2010).

Sasarannya adalah peningkatan kualitas dan produktivitas kegiatan inventarisasi dan evaluasi serta pengembangan sumberdaya fisik lahan untuk menunjang rencana penataan ruang yang baik.

(15)

TINJAUAN PUSTAKA  

2.1 Proses Geomorfik

Pengertian geomorfologi menurut beberapa ahli, yaitu : geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang evolusi bentuk lahan (landform) dan bentang lahan (landscape) terutama menyangkut proses erosi (Desaunettes, 1977) dan menurut Verstappen (1985 dalam Suparto, Marsoedi, dan Gunawan, 1993), geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk permukaan bumi, terutama mengenai proses, genesis, litologi, bentuk lahan, dan hubungan timbal balik dengan lingkungannya seperti tanah dan vegetasi.

Menurut Wiradisastra, Tjahjono, Gandasasmita, Barus, dan Munibah (2002), morfologi permukaan bumi, secara garis besar terbentuk oleh 3 (tiga) proses geomorfik yang bersifat alamiah, yaitu : eksogenetik, endogenetik, dan ekstraterestrial (Tabel 1). Proses geomorfik adalah semua perubahan baik fisik maupun kimia yang mempengaruhi perubahan bentuk muka bumi. Proses eksogenetik adalah proses yang mengubah dan membentuk muka bumi dari luar, yaitu gradasi dan organisme. Proses endogenetik adalah proses yang mengubah dan membentuk muka bumi dari dalam, seperti diastrofisme dan volkanisme, sedangkan proses ekstraterestrial adalah proses yang mengubah dan membentuk muka bumi yang tidak berasal dari proses eksogenetik dan endogenetik, seperti meteorit jatuh.

Tabel 1. Garis Besar Proses Geomorfik (Wiradisastra, Tjahjono, Gandasasmita, Barus, dan Munibah, 2002).

Proses Eksogenetik Endogenetik Proses Ekstraterretrial Proses a. Gradasi

1. Degradasi :

™ Weathering (hancuran iklim) ™ Mass wasting (gerakan massa) ™ Erosi oleh :

1. Air mengalir 2. Air tanah

3. Gelombang, arus pasang surut, dan tsunami 4. Angin

5. Gletser

a. Diastrofisme b. Volkanisme

(16)

2. Agradasi oleh : 1. Air mengalir

2. Air tanah

3. Gelombang,arus pasang surut, dan tsunami 4. Angin

5. Gletser

b. Pengaruh makhluk hidup termasuk manusia

Proses geomorfik menghasilkan satuan-satuan bentuk permukaan bumi yang identik dengan satuan-satuan lahan (landform units) pada suatu bentang lahan (landscape) tertentu.

2.2 Konsep Bentang Lahan (Landscape) dan Bentuk Lahan (Landform) Secara konseptual keadaan bentang lahan (landscape) sangat erat terkait dengan keadaan topografi dan jenis batuan, sedangkan bentuk lahan (landform) merupakan diferensiasi dari bentang lahan.

Tabel 2. Perbedaan antara Bentang Lahan (Landscape) dan Bentuk Lahan

(Landform)

Landscape Landform

Pengertian Puslittanak (2004) :

Realita keberadaan muka bumi yang dicirikan oleh bentuk, perbedaan tinggi, tinggi tempat, kemiringan, dan kondisi permukaannya (datar dan rata, datar dengan relief mikro) dan jenis serta sifat batuan.

Puslittanak (2004) :

Bentukan alam mengenai permukaan bumi yang terjadi melalui serangkaian proses geomorfik.

Wiradisastra et al., (2002) :

Terbentuk melalui proses tektonik dan volkanisme, sedangkan denudasi (hasil total dari semua proses pemindahan sampai terjadi bentuk lahan) terjadi melalui proses erosi dan gerakan massa (mass wasting).

Desaunettes (1977) :

Hasil dari berbagai proses geomorfik yang terjadi pada berbagai macam batuan dan bahan induk yang berbeda untuk waktu tertentu.

Contoh Bentang lahan volkanik

(volcanic landscape).

Landform seperti Dataran

punggung volkan tengah berbahan induk batuan andesit, bentuk wilayah datar, dan tidak tertoreh (Va.3.1.0).

(17)

Bentuk lahan (landform) menghasilkan suatu Satuan Lahan yang dikenal dengan Satuan Peta Lahan (SPL). SPL digunakan sebagai wadah Satuan Peta Tanah (SPT). Menurut Desaunettes (1977), maka SPL dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu : sistem, subsistem, bentuk lahan. Pengkelasan tersebut berdasarkan kriteria relief, litologi dan genesis.

Keterangan :

V : Grup fisiografi = volkan a : Litologi = andesit

2 : Subgrup : morfologi = lereng atas gunung api 1 : Bentuk wilayah = landai

1: Tingkat torehan = tertoreh ringan

Penggunaan SPL sebagai pembeda SPT ataupun sebagai fase suatu takson, akan sangat tergantung pada tingkat pemetaan atau skala petanya. Makin detil tingkat pemetaan (makin besar skala petanya), maka SPL yang digunakan akan semakin detil pula, seperti yang tertera pada Tabel 3.

Tabel 3. Hubungan antara Skala Peta dan Satuan Peta Lahan/SPL (Puslittanak, 2004)

Skala 1:250.000 (Pemetaan Tingkat Tinjau)

Skala 1: 50.000 (Pemetaan Semidetil)

Skala 1 : 10.000 (Pemetaan Detil) SPL yang digunakan

masih berupa satuan yang lebih besar/kasar.

Contoh: kerucut volkan (volcanic cone).

SPL yang muncul akan lebih rinci.

Contoh : lereng bawah kerucut volkan.

SPL yang digunakan bersifat lebih sempit lagi yaitu land facet atau

land element.

Contoh : lereng bawah volkan 3-5%.

Selain itu terdapat klasifikasi Satuan Bentuk Lahan lain, seperti yang dikemukakan oleh Dalrymple, Blong, and Conacher (1968 dalam Selby, 1985). Model klasifikasinya dikenal dengan nama Model 9 (Sembilan) SBPL (Satuan Bentuk Permukaan Lahan) seperti tertera pada Gambar 1.

Contoh : Va 2.1.1  Deskripsi bentuk lahan : lereng atas gunung api berbahan induk andesit, landai (2-5 %), tertoreh ringan

(18)

PUNCAK LERENG KAKI LERENG             1  2      3                  4  •             5    6                            7                         8                          9  •                                  1 2 3 4 5 6 7 8 9

Gambar 1. Diagram Model Sembilan Satuan Bentuk Permukaan Lahan dari Dalrymple et al., (1968 dalam Selby, 1985) Puncak lereng pemisah Lereng perembesan Lereng perayapan cembung Tebing Lereng tengah pengangkutan Kaki lereng aluvial Kaki lereng koluvial Dinding sungai Dasar sungai Pro ses-p ro ses ped o g ene si s be rasosi asi de nga n per g era k an a ir ba wa h perm ukaa n t anah se cara vert ik al   Penc uci an seca ra fi si k dan ki mi a ol eh p er g er aka n ai r seca ra l at eral   R ayapa n t anah , pem b ent u k an t eras   Lo ngs o r, j at u h an, ha ncu ra n fi si k dan ki mi a   Tran sp ort asi b ahan -baha n a k ib at pe rg era k an massa (al ir an, l o ng so ra n, ra yapa n) , p embe n tu kan t eras, akt iv it as ai r pe rm ukaa n da n b awah pe rm u k aa n Pen g en da pan b ahan -baha n ya ng be rasal dari per g era k an m assa da n s eba gi an hasi al pe nc uci an, pem b ent uka n k ipas al u v iu m, t rans p ort asi bah an, raya pa n, a k ti v it as ai r ba wa h p erm ukaa n t ana h   Pen g en da pan b ahan -baha n al u v ia l, p roses-p ro ses yan g di se bab k an per g era k an ai r ba wa h ta na h Korosi teb ing , jatu h an Tran sp ort asi b ahan -baha n me nuj u le m b ah o leh p er g er ak an a ir per m u k aa n, a g radasi be rkal a

(19)

Menurut Marsoedi, Widagdo, Dai, Suharta, Darul, Hardjowigeno, Hof, dan Jordens (1997), landform/bentuk lahan diklasifikasikan kedalam 9 (sembilan) grup atau kelompok utama yang selanjutnya dibagi lebih lanjut sesuai dengan sifat masing-masing. Pembagian kelompok utama tersebut tertera pada Tabel 4.

Tabel 4. Klasifikasi Bentuk Lahan (Marsoedi et al., 1997)

No. Grup Fisografi Utama Simbol

1. Alluvial (Alluvial Landform) A

2. Marin (Marine Landform) M

3. Fluvio-Marin (Fluvio Marin Landform) B

4. Gambut (Peat Landform) G

5. Eolin (Aeolian Landform) E

6. Karst (Karst Landform) K

7. Volkanik (Volcanic Landform) V

8. Tektonik dan Struktural(Tectonic and Structural Landform) T

9. Aneka (Miscellaneous Landform) X

2.3 Proses Pedogenesis

Pedogenesis adalah ilmu yang mempelajari tentang proses-proses pembentukan tanah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Menurut konsep pedologi, tanah adalah benda alam bebas yang kompleks dan dihasilkan oleh sejumlah proses (Rachim dan Suwardi, 2002). Soil Survey Staff (2010), mendefenisikan tanah sebagai suatu sistem yang kompleks, bersifat terbuka dan dinamik serta didalamnya terjadi aktifitas kimia, fisik, dan biologi. Tanah dengan karakteristiknya dihasilkan oleh interaksi kerjasama secara simultan antara relief/topografi (r), iklim (c), bahan induk (p), waktu (t), dan organisme (o), (Jenny, 1941) atau dapat dituliskan :

Tabel 5. Komponen-Komponen Proses Pedogenesis dan Uraiannya

No. Komponen Uraian

1. Relief Relief mempengaruhi proses pembentukan tanah melalui : a. Tebal atau tipisnya lapisan tanah. Daerah yang

memiliki topografi miring dan berbukit akan memiliki lapisan tanah yang lebih tipis karena tererosi, sedangkan daerah yang datar akan memiliki lapisan tanah yang tebal karena terjadi sedimentasi.

(20)

b. Sistem drainase/pengaliran. Daerah yang memiliki drainase jelek, seperti sering tergenang menyebabkan tanahnya menjadi asam.

2. Iklim Iklim mempengaruhi proses pembentukan tanah melalui unsur-unsur iklim utama yaitu suhu dan curah hujan :

a. Suhu akan berpengaruh terhadap proses hancuran bahan induk. Apabila suhu tinggi, maka proses hancuran iklim (weathering process) akan berlangsung cepat sehingga pembentukan tanah akan berjalan cepat pula.

b. Curah hujan akan berpengaruh terhadap kekuatan erosi dan pencucian tanah, sedangkan pencucian tanah yang cepat menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah menjadi rendah).

3. Bahan Induk Bahan Induk terdiri dari batuan volkan, batuan beku, batuan sedimen (endapan), dan batuan metamorf. Batuan induk itu akan hancur menjadi bahan induk, yang akan mengalami hancuran iklim menjadi tanah. Susunan kimia dan mineral bahan induk akan mempengaruhi intensitas tingkat hancuran iklim dan vegetasi diatasnya. Bahan induk yang banyak mengandung unsur Ca akan membentuk tanah dengan kadar ion Ca yang banyak pula sehingga dapat menghindari pencucian asam silikat dan sebagian lagi dapat membentuk tanah yang berwarna kelabu. Sebaliknya bahan induk yang kurang kadar ion Ca membentuk tanah yang warnanya lebih merah.

4. Waktu Proses pembentukan tanah yang terus berjalan mengubah bahan induk tanah menjadi tanah muda (immature / young

soil), tanah dewasa (mature soil), dan akhirnya menjadi

tanah tua (old soil).

Tanah muda merupakan tanah yang berasal dari proses pelapukan bahan organik dan bahan mineral yang membentuk horison A dari horison C. Tanah dewasa merupakan proses yang lebih lanjut dari tanah-tanah muda. Tanah ini ditandai dengan proses pembentukan horison B akibat pelapukan mineral dan pencucian unsur hara belum lanjut, sedangkan pada tanah tua terjadi perubahan yang lebih nyata, yaitu pada horison A dan B, dimana terjadi hancuran mineral dan pencucian basa-basa semakin meningkat, sehingga tertinggal mineral-mineral yang resisten (sukar hancur) di dalam tanah, dan akhirnya tanah menjadi kurus dan masam (Hardjowigeno, 1985). Tabel 5. (Lanjutan)

(21)

Menurut Rachim dan Suwardi (2002), tanah muda jika perkembangan horison-horison tanah belum jelas. Tanah dewasa jika perkembangan horison-horison tanah sudah sempurna, sedangkan tanah tua jika tanah tersebut telah mengalami perkembangan lanjut sehingga basa-basa telah tercuci dan sebagian besar top soil (lapisan atas) telah tererosi. Hal ini menyebabkan tanah muda dan tanah dewasa tergolong subur, sedangkan tanah tua memiliki tingkat kesuburan yang rendah karena lapisan atasnya telah banyak tercuci.

5. Organisme Organisme sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan tanah dalam hal :

a. Membuat proses pelapukan, baik pelapukan organik maupun pelapukan kimiawi. Pelapukan organik adalah pelapukan yang dilakukan oleh makhluk hidup (hewan dan tumbuhan), sedangkan pelapukan kimiawi adalah pelapukan yang terjadi oleh proses kimia seperti batu kapur larut oleh air.

b. Membantu proses pembentukan humus. Tumbuhan akan menyisakan daun-daunan dan ranting-ranting yang jatuh dan menumpuk di permukaan tanah. Daun dan ranting itu akan membusuk dengan bantuan jasad renik/mikroorganisme yang ada di dalam tanah.

c. Pengaruh jenis vegetasi terhadap sifat-sifat tanah sangat nyata terjadi di daerah beriklim humid. Vegetasi hutan dapat membentuk tanah hutan dengan warna merah, sedangkan vegetasi rumput akan membentuk tanah yang berwarna hitam karena banyak kandungan bahan organik yang berasal dari akar-akar dan sisa-sisa rumput.

d. Kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah. Contoh, pohon cemara akan memberi unsur-unsur kimia, seperti Ca, Mg, dan K yang relatif rendah, sehingga tanah di bawah pohon cemara tersebut memiliki tingkat derajat keasamannya lebih tinggi.

(22)

2.4 Konsep Tanah dan Klasifikasinya

Menurut Arsyad (2006), tanah sebagai produk alami yang bersifat heterogen dan dinamik, maka ciri dan perilaku tanah dapat berbeda dari satu tempat ke tempat lain dan dari waktu ke waktu. Ilmu Tanah memandang tanah dari dua konsep utama, yaitu : pendekatan pedologi yang merupakan hasil proses hancuran iklim terhadap bahan induk melalui proses bio-fisik-kimia dan pendekatan edafologi yang merupakan habitat tumbuhan.

Klasifikasi tanah adalah suatu sistem pengelompokkan tubuh-tubuh tanah yang sama berdasarkan sifat-sifat penciri tertentu. Kepentingan klasifikasi tanah didasarkan atas terbentuknya tanah yang berbeda-beda pada posisi landscape berbeda dan atau faktor-faktor pembentuk tanah berbeda (Rachim dan Suwardi, 2002). Sistem klasifikasi tanah dikelompokkan kedalam dua macam, yaitu : klasifikasi teknikal dan klasifikasi alami. Klasifikasi teknikal disusun atas dasar keperluan-keperluan khusus dengan memilih ciri-ciri tertentu, sedangkan klasifikasi alami disusun berdasarkan semua sifat atau ciri alami yang dijumpai di alam (Soepardi, 1983).

Menurut Rachim dan Suwardi (2002), sistem klasifikasi tanah yang digunakan adalah Sistem Klasifikasi Taksonomi Tanah (Soil Taxonomy) yang dikembangkan oleh USDA/Soil Survey Staff mulai Tahun 1975 yang dikenal sebagai Agricultural Handbook No. 436 (Edisi Pertama Soil Taxonomy) dan sampai saat ini masih mengalami pembaharuan-pembaharuan. Indonesia termasuk negara yang merekomendasikan penggunaan Sistem Klasifikasi Taksonomi Tanah dalam kegiatan Survei Tanah, karena Taksonomi Tanah dinilai lebih komperhensif dibandingkan dengan sistem yang dikembangkan sebelumnya, yaitu : Dudal Soepraptohardjo (1957), Pusat Penelitian Tanah (PPT, 1980) dan FAO/ UNESCO (1974).

Sistem Klasifikasi Taksonomi Tanah memiliki enam kategori dengan sifat-sifat faktor pembeda mulai dari kategori tertinggi sampai terendah, yaitu : Order,

Suborder, Great Group, Subgroup, Family, dan Series (Soil Survey Staff, 1975)

yang setara dengan Kategori Golongan, Kumpulan, Jenis, Macam, Rupa, dan Seri Tanah (PPT, 1983).

(23)

2.5 Hubungan antara Proses Geomorfik dan Pedogenesis

Sistem lahan dan tanah terbentuk melalui proses geomorfik dan pedogenesis. Proses geomorfik berperan dalam membentuk dan mengubah permukaan bumi melalui proses penghancuran, deposisi, pergerakan massa, dan pengendapan baik secara lateral maupun vertikal yang disebabkan oleh perbedaan posisi dan kemiringan lereng pada setiap satuan bentuk lahannya (Gambar 2), sehingga terbentuk berbagai landform, sedangkan proses pedogenesis menghasilkan tubuh tanah. Sejalan dengan adanya kesamaan faktor genetik dan proses genesis antara tanah dan lahan, maka van Wambeke dan Forbes (1986) menjelaskan, proses pembentukan lahan (proses geomorfik) hanya didasarkan pada faktor abiotik sedangkan faktor biotik hanya berperan sebagai indikator dan proses pembentukan tanah (proses pedogenesis) didasarkan pada faktor-faktor abiotik (iklim, bahan induk, topografi, waktu) dan biotik (vegetasi). Hal ini menunjukkan bahwa proses geomorfik mempunyai hubungan yang erat dengan proses pedogenesis, yaitu : pembentukan, sifat, dan ciri tanah.

Puncak/ Cembung (Erosional)

Lereng / Lurus (Transportasional)

Kaki Lereng / Cekung (Deposisional)

Gambar 2. Hubungan antara Posisi Lereng dengan Proses yang Terjadi Secara Umum (Wiradisastra et al., 2002)

(24)

 

KEADAAN UMUM

3.1 Lokasi, Administrasi, dan Transportasi

Desa Lamajang terletak di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Propinsi Jawa Barat. Desa ini memiliki luas wilayah 1474 ha dengan batas desa sebelah utara Desa Sukamaju, sebelah selatan Desa Pulosari, sebelah barat Desa Sukamaju, dan sebelah timur Desa Cikalong. Batas Desa Lamajang sebagian besar merupakan batas alami yaitu batas berupa sungai, seperti sebelah barat dibatasi oleh Sungai Cilaki, dan sebelah utara serta timur dibatasi oleh Sungai Cisangkuy. Secara geografis Desa Lamajang terletak pada 1070 31’ 3” – 1070 33’ 6” BT dan 70 5’ 5” – 70 9’ 7” LS dengan ketinggian tempat antara 700-1300 m dpl.

Jarak dari pusat Kecamatan, yaitu Pangalengan sekitar 13 km. Jarak dari Ibukota Kabupaten DATI II Bandung sekitar 19,5 km. Jarak dari Ibukota Propinsi DATI I Kota Bandung sekitar 40 km, dan jarak dari Ibukota Negara, yaitu Jakarta sekitar 200 km. Peta Lokasi Daerah Penelitian tertera pada Gambar 3.

Desa Lamajang dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum jurusan Bandung-Pangalengan. Keadaan jalan berupa jalan aspal yang tidak begitu lebar disekitar kantor desa dan sebagian besar rumah penduduk serta jalan tanah yang berbatu untuk perumahan penduduk yang terletak di ujung desa (mendekati batas desa). Di musim hujan kondisi jalan menuju ke lokasi cukup sulit dan sangat licin.

3.2 Geologi dan Bahan Induk

Menurut van Bemmelen (1949), wilayah Pangalengan merupakan Zone Fisiografi Pegunungan Selatan. Wilayah ini dikelilingi oleh beberapa gunung api yang telah punah dan hancur akibat retakan, lipatan, dan patahan serta merupakan daerah subur karena formasi volkanik muda.

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Garut (Alzwar, Akbar, dan Bachri, 1992) yang tertera pada Gambar 4, daerah penelitian tergolong Formasi Qtl (Lava Tilu) dan Qmt (Batuan Gunungapi Malabar-Tilu) yang terdiri dari tuf dan lava andesit serta breksi lahar.

(25)
(26)

 

(27)

3.3 Iklim dan Hidrologi

Menurut data yang diambil dari Stasiun Pangalengan yang mewakili Desa Lamajang, curah hujan rata-rata tahunan di lokasi penelitian dari Tahun 1985-1992 tergolong tinggi yaitu 2602.7 mm/tahun. Daerah penelitian tergolong Zone Agroklimat B2, dengan bulan basah (bulan dengan curah hujan >200mm) secara berurutan selama 7 bulan, yaitu : November, Desember, Januari, Februari, Maret, April, dan Mei sebesar 325.1 mm, 338.2 mm, 337.6 mm, 314.7 mm, 304.5 mm, 219.9 mm, dan 206,3 mm serta memiliki bulan kering (bulan dengan curah hujan <100mm) secara berurutan selama 2 bulan, yaitu : Juli dan Agustus sebesar 86.3 mm dan 59.2 mm.

Periode curah hujan tinggi berlangsung dari November sampai Mei dengan curah hujan rata rata bulanan lebih dari 250 mm dan puncaknya pada Desember sebesar 338,2 mm. Periode hujan terendah dengan curah hujan rata-rata bulanan kurang dari 200 mm, berlangsung dari Juni sampai Oktober dengan curah hujan terendah 59.2 mm pada Agustus seperti tertera pada Tabel 6.

Tabel 6. Data Suhu Udara Rata-rata Bulanan serta Curah Hujan Rata-rata Bulanan dan Tahunan di Wilayah Lamajang dan Sekitarnya (Puslittanak, 1993) dan (Amirza, 1991 dalam Abdullah, Darmawan, dan Suryaningtyas, 1994) Bulan Curah Hujan (mm) Suhu (0C) Udara Tanah Januari 337.6 22.0 24.5 Februari 314.7 22.3 24.8 Maret 304.5 22.3 24.8 April 219.9 22.5 25.0 Mei 206.3 22.6 25.1 Juni 116.9 22.3 24.8 Juli 86.3 22.0 24.5 Agustus 59.2 21.7 24.2 September 106.5 22.3 24.8 Oktober 187.5 22.4 24.9 November 325.1 22.4 24.9 Desember 338.2 22.1 24.6

Rata-rata suhu udara bulanan 22.2 24.7

(28)

 

Daerah penelitian dilalui oleh beberapa aliran sungai, antara lain : Sungai Cilaki, Ciurug, Cisangkuy, dan Cilamajang. Secara garis besar pola drainasenya tergolong menyebar secara radial.

3.4 Keadaan Topografi dan Bentuk Wilayah

Berdasarkan Peta Rupa Bumi Digital Indonesia Lembar Pangalengan dan Soreang Skala 1 : 25.000 (Anonim 1999a ; 1999b) serta menurut klasifikasi bentuk wilayah (Desaunettes, 1977) seperti tertera pada Tabel 7, daerah penelitian memiliki 5 (lima) kemiringan lereng dan bentuk wilayah (Gambar 5).

Tabel 7. Kemiringan Lereng dan Bentuk Wilayah (Desaunettes, 1977)

Simbol Kemiringan

Lereng (%) Beda Tinggi (m) Bentuk Wilayah

A 0-2 < 1 m Datar B 2-8 10 m Berombak C 8-10 10 m Bergelombang D > 16 10 m Bergumuk (Hummocky) E >16 10 – 50 m Berbukit kecil F >16 50 – 300 m Berbukit G >16 > 300 m Bergunung

3.5 Tanah dan Kesesuaian Lahan

Berdasarkan Peta Tanah Tinjau Mendalam Skala 1 : 100.000 Das Citarum Hulu (Anonim, 1993a) dan data sekunder (Puslittanak, 1993), lokasi daerah penelitian terdiri dari Typic Hapludand dan Eutrik Hapludand (SPT 33), Typic Eutropept (SPT 8), Typic Eutropept, Typic Humitropept, dan Aquic Eutropept (SPT 19), Typic Kandiudalf dan Eutric Hapludand (SPT 27) tertera pada Gambar 6. Kesesuaian lahan di daerah penelitian tertera pada Tabel 8.

3.6 Penggunaan Lahan

Jenis penggunaan lahan di Desa Lamajang terbagi dalam 4 (empat) sektor usaha yaitu : sektor pengairan dengan komoditas padi sawah, sektor pertanian dengan komoditas jagung, tomat, bawang merah, cabai, sektor perkebunan dengan komoditas sayuran, dan sektor kehutanan dengan komoditas pinus dan suren.

Jenis penggunaan lahan terbanyak adalah sawah pengairan sederhana, hutan primer, tegalan, dan kebun campuran (Gambar 7).

(29)
(30)

 

17

(31)

Keterangan :

1. Macam Tanah (Soil Survey Staff, 1992) Proporsi : D = Dominan

Asosiasi Eutric Hapludand dan Typic Kandiudalf, F = Cukup

2. Jenis komoditas yang dievaluasi :

Ps = Padi sawah Kd = Kedelai Sk = Singkong Jk = Jeruk Kk = Kakao

Pg = Padi gogo Kh = Kacang hijau Kn = Kentang Kl = Kelapa Th = Teh

Sg = Sorgum Kt = Kacang tanah Ki = Kina Kr = Karet Pn = Pinus

Jg = Jagung Uj = Ubi jalar Pi = Pisang Kp = Kopi

3. Hasil evaluasi lahan

a. Kelas Kesesuaian Lahan b. Faktor Penghambat/Pembatas

S2 = Cukup sesuai S3 = Sesuai marginal

f = Retensi hara s = Kemiringan lereng

N2 = Tidak sesuai permanen t = Temperatur

No. SPT Macam Tanah (Soil Survey Staff, 1992) Propor si

Hasil Evaluasi Lahan Jenis Komoditas Tanaman Pangan dan Perkebunan

Ps Pg Sg Jg Kd Kh Kt Uj Sk Kn Ki Pi Jk Kl Kr Kp Kk Th Pn 27 Asosiasi Eutric Hapludand D N2s S3s S3s S3s S3s S3s S3s S3s S3s S3s S2f S2f S2f N2t N2t N2t N2t S2s S2s Typic Kandiudalf F N2s S3s S3s S3s S3s S3s S3s S3s S3s S3s S2f S2f S2f N2t N2t N2t N2t S2s S2s 18

(32)
(33)

BAHAN DAN METODE  

4.1 Waktu dan Tempat

Penelitian dilakukan di Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Penelitian meliputi 5 (lima) tahapan utama, yaitu :

1) Persiapan: Oktober – November 2010 (Bogor).

2) Pelaksanaan Lapang (Pra Survei dan Survei) : Desember 2010 (Desa Lamajang, Kec. Pangalengan, Kab. Bandung).

3) Analisis Laboratorium : Januari – Februari 2011 (Laboratorium DITSL, Faperta, IPB).

4) Analisis, Interpretasi, Korelasi Data, dan Penggambaran Peta-Peta Tematik : Februari – Maret 2011 (Bogor).

5) Penyusunan Skripsi, Seminar dan Ujian Sidang : Maret – Mei 2011.

4.2 Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan untuk penelitian ini terdiri dari : 1) Peta Kabupaten Bandung, Skala 1 : 80.000 (Anonim, 2010). 2) Peta Geologi Bersistem Indonesia Lembar Garut 1208-6 dan Pameungpeuk 12308-3 Skala 1:100.000, (Alzwar dkk, 1992). 3) Peta Tanah Tinjau Mendalam, DAS Citarum Hulu, Bandung, Jawa Barat, Skala 1 : 100.000 (Anonim, 1993a). 4) Peta Rupa Bumi Digital Indonesia Lembar Pangalengan 1208-631, Skala 1 : 25.000 (Anonim, 1999a) dan Lembar Soreang 1208-633, Skala 1 : 25.000 (Anonim, 1999b). 5) Peta Penggunaan Lahan DAS Citarum Hulu, Bandung, Jawa Barat, Skala 1 : 100.000 (Anonim, 1993b). 6) Data iklim (Amirza, 1991 dalam Abdullah, dkk, 1994), dan 7) Data sekunder (Puslittanak, 1993).

Alat yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari : komputer, software

Arc View 3.3, dan printer untuk pembuatan Peta Lokasi, Peta Kelas Lereng, Peta

Penggunaan Lahan, Peta Geologi, Peta Tanah pada tahap persiapan dan Peta Bentuk Lahan pada tahap analisis interpretasi dan korelasi data. Selanjutanya untuk kegiatan lapang alat yang dibutuhkan adalah Bor Belgi, Munsell Soil

Colour Chart, Meteran, Pisau, Kartu Deskripsi, Kantong Plastik, Karet Gelang,

(34)

 

4.3 Metode

Rangakaian kegiatan penelitian yang merupakan studi korelasi antara proses geomorfik dan pedogenesis serta ekstrapolasinya di Desa Lamajang disajikan pada Gambar 8.

 

Pengamatan Sifat-sifat Tanah dan Lahan pada

Pedon Pewakil Ekstrapolasi

Data Sekunder  Peta Bentuk Lahan

sebagai wadah Jenis Tanah (Great Group)

Semidetil Desa Lamajang Skala 1 :

50.000 Peta Topografi

Skala 1 : 25.000 dan Bentuk Wilayah Peta Kelas Lereng Skala 1 : 25.000 Peta Geologi Skala 1 : 100.000 Peta Bentuk Lahan Semidetil Skala 1 : 25.000 (Desaunettes, 1977)

Peta Tanah Tinjau Mendalam Skala 1 : 100.000 Peta Tanah Semidetil Sementara Skala 1 : 25.000 (Peta Kerja) Pra Survei Meliputi :

1. Laporan ke Kades dan Sekdes Desa

Lamajang, serta Tokoh Masyarakat Setempat 2. Pengecekan Lapang (Peta Kerja)

Survei Utama Meliputi :

1. Analisis dan Pengkelasan Bentuk-bentuk Lahan

2. Pembuatan Pedon Pewakil (P1, P2, dan P3) (Lampiran 1).

3. Pengamatan Sifat-sifat Tanah dan Lahan Secara Morfologik pada Pedon Pewakil Transek Lereng P1, P2, dan P3 (Puncak, Lereng, dan Kaki Lereng).

4. Pengambilan Contoh Tanah dari Setiap Pedon Pewakil (P1, P2, dan P3)

5. Pengamatan Penggunaan Lahan dan Vegetasi Klasifikasi Tanah Sementara Pengambilan Contoh-contoh Tanah Analisis Laboratorium (Lampiran 2) Klasifikasi Famili Tanah Secara Taksonomik (Soil Survey Staff, 2010) Korelasi antara Proses

Geomorfik dan Pedogenesis menunjukkan perbedaan Bentuk Lahan sejalan dengan perbedaan Jenis Tanah

(35)

HASIL DAN PEMBAHASAN  

5.1 Proses Geomorfik

  Proses geomorfik secara bersamaan peranannya berupa iklim mengubah bahan induk dibawah pengaruh topografi dalam kurun waktu tertentu menghasilkan suatu lahan dan organisme berperan sebagai indikator untuk lahan tertentu.

5.1.1 Topografi

Topografi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi proses geomorfik. Lereng merupakan salah satu faktor topografi, yaitu fungsi dari jenis batuan dan bahan permukaan (surficial material) serta proses-proses yang berlangsung di atasnya. Proses tersebut mencakup erosi, transportasi, dan deposisi (Puslittanak, 2004). Bentuk wilayah, amplitudo, dan kemiringan lereng tergantung pada proses erosi, gerakan massa tanah dan laju hancuran iklim, sehingga mengukir bentuk permukaan bumi khususnya untuk daerah penelitian kedalam 5 kelas lereng seperti yang tertera pada Tabel 9.

Tabel 9. Klasifikasi Kelas Lereng, Kemiringan Lereng, Amplitudo, Bentuk Wilayah, dan Luas Masing-masing di Daerah Penelitian

Kelas Lereng Kemiringan Lereng (%) Amplitudo (m) Bentuk Wilayah Luas

Hektar (ha) Persen (%)

A 0-3 <1 m Datar 31 2 B 3-8 10 m Berombak 354 24 C 8-16 10 m Bergelombang 36 2 D >16 10-50 m Berbukit kecil 553 38 F >16 >300 m Bergunung 500 30 Total Luas 1474 100 5.1.2 Bahan Induk

Bahan induk di daerah penelitian berupa batuan andesit (tuf volkan intermedier) dan batuan andesitik (abu dan pasir volkan intermedier) yang terbentuk karena aktivitas gunung api, sehingga termasuk dalam bentang lahan volkanik. Bercirikan adanya bentukan kerucut volkan, aliran lahar, lava ataupun wilayah yang merupakan akumulasi bahan organik.

(36)

5.1.3 Iklim

Iklim mempengaruhi proses geomorfik melalui curah hujan dan suhu udara. Curah hujan di daerah penelitian tergolong tinggi yaitu 2602.7 mm/tahun dengan suhu udara rata-rata bulanan 22.2 0C dan suhu tanah 24.7 0C yang tergolong isohipertermik. Oleh karena itu, dihasilkan tingkat hancuran iklim yang relatif intensif.

5.1.4 Waktu

Waktu mempengaruhi bentuk permukaan bumi dengan didukung oleh faktor lainnya yang saling bekerja secara simultan. Sejalan bertambahnya waktu mengakibatkan semakin bertambah intensif hancuran iklim dan terkikisnya lapisan tanah, sehingga mengubah bentuk permukaan bumi.

5.1.5 Organisme

Organisme tidak mempengaruhi proses geomorfik secara langsung. Organisme merupakan faktor biotik yang hanya berperan sebagai indikator untuk suatu Satuan Lahan. Contoh : ditemukannya vegetasi harendong (Melastoma sp) pada kaki lereng (Pedon P3) yang mengindikasikan reaksi tanahnya bersifat masam. Sejalan dengan hasil analisis laboratorium diperoleh bahwa pada bagian kaki lereng tergolong kriteria tanah masam dengan pH berkisar 4.9-5.2 (PPT, 1983 dalam Hardjowigeno, 2007). Uraian data kimia lengkap tertera pada Lampiran 3.

5.2 Proses Pedogenesis

Proses pedogenesis secara bersamaan peranannya berupa iklim mengubah bahan induk dibawah pengaruh topografi dan organisme dalam kurun waktu tertentu menghasilkan tubuh tanah.

5.2.1 Topografi

Daerah penelitian memiliki bentuk wilayah secara umum adalah berbukit kecil (kemiringan lereng >16 %, amplitudo 10-50 m), berbukit (kemiringan lereng >16 %, amplitudo 50-300 m), dan bergunung (kemiringan lereng >16 %, amplitudo >300 m). Topografi mempengaruhi proses pembentukan tanah melalui solum tanahnya. Berdasarkan tiga pedon pewakil, pedon P1 yang berada pada Puncak memiliki solum yang agak dalam, yaitu : 175 cm apabila dibanding pada

(37)

Pedon P2 yang berada pada Segmen Lereng, yaitu : 120 cm. Hal ini dikarenakan, Pedon P1 berada pada bentuk wilayah datar dengan kemiringan lereng 0-3 %, sehingga mengakibatkan lebih banyak terjadi pergerakan air secara vertikal dibanding aliran permukaan. Pada Pedon P2 (Segmen Lereng) memiliki solum tanah paling tipis karena bentuk wilayahnya tergolong terjal dengan kemiringan lereng 30-60 %, sehingga semakin memudahkan tanah untuk jatuh dan terkikis oleh air aliran permukaan (proses transportasi), sedangkan pada Pedon P3 yang berada pada lembah memiliki solum tanah paling dalam yaitu 180 cm, dibanding kedua pedon P1 dan P2. Hal ini dikarenakan, selain bentuk wilayah yang tergolong landai, kemiringan 2-5 %, lembah merupakan wilayah deposisi, dimana partikel tanah yang jatuh dan terkikis dari bagian puncak dan lereng terkumpul disini.

5.2.2 Bahan Induk

Bahan induk di daerah penelitian terdiri dari batuan induk andesit dan andesitik yang berasal dari letusan Gunung Malabar dan Tilu. Tuf, abu, dan pasir volkan tersebut jatuh di daerah pegunungan dan mengandung bahan amorf yang mudah hancur, sehingga menghasilkan banyak fraksi debu dibanding dengan fraksi pasir dan liat. Bahan induk mempengaruhi pembentukan kualitas dan sifat tanah. Batuan andesit dan andesitik mengindikasikan tanah bersifat masam. Hal ini sejalan dengan hasil analisis laboratorium, bahwa nilai pH tanah di daerah penelitian tergolong masam berkisar 4.9-5.2 (untuk ketiga pedon pewakil).

5.2.3 Iklim

Suhu dan curah hujan merupakan unsur iklim yang mempengaruhi proses pembentukan tanah dan lahan. Curah hujan di daerah penelitian tergolong tinggi, yaitu : 2602.7 mm/tahun dengan suhu udara rata-rata bulanan sebesar 22.2, tergolong regim suhu tanah isohipertermik (suhu tanah rata-rata bulanan > 22 0C, sehingga hancuran iklim di daerah penelitian tergolong intensif dan mengakibatkan proses pembentukan tanah berjalan relatif cepat.

5.2.4 Waktu

Bahan induk tuf volkan intermedier mengandung gelas volkan yang bersifat amorf, sehingga proses pembentukan tanahnya relatif lebih cepat. Tanah-tanah

(38)

daerah penelitian dapat diklasifikasikan sebagi tanah dewasa dengan indikator telah terbentuknya horison kambik, horison iluviasi lemah (BW).

5.2.5 Organisme

Organisme sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan tanah terutama dalam hal proses pelapukan dan penyediaan bahan organik tanah untuk pembentukan bahan organik dalam tanah. Penggunaan lahan yang dominan di daerah penelitian berupa hutan dan kebun sayuran, tajuk lebat ditumbuhi rumput-rumputan sebagai gulma dominan. Pengaruh iklim yang sejuk terhadap sisa tanaman/ daun-daun yang jatuh akan terdekomposisi menjadi humus dengan bantuan biota tanah, sehingga membentuk tanah dengan warna hitam (gelap) yang kaya dengan bahan organik untuk ketiga pedon pewakil.

5.3 Sifat-sifat Tanah dan Lahan 5.3.1 Sifat Lahan

Daerah penelitian merupakan bentang lahan volkanik yang berasal dari batuan induk andesit (tuf volkan intermedier) dan batuan induk andesitik (abu dan pasir volkan intermedier) yang telah mengalami hancuran iklim relatif intensif akibat tingginya curah hujan dan perbedaan suhu udara. Dibawah pengaruh topografi yang berbeda sehingga menyebabkan perbedaan bentuk lahan.

5.3.2 Sifat Morfologi Tanah

Sifat morfologi tanah yang diamati, yaitu : jumlah horison, tebal horison, warna tanah, tekstur, struktur, konsistensi, dan perakaran. Data sifat morfologi tanah tertera pada Tabel 10 dan untuk data selengkapnya tertera pada Lampiran 4 dan Lampiran 5.

Sifat morfologi pada Pedon P1 yang mewakili puncak, memiliki warna matriks dari lapisan atas ke bawah, yaitu : Merah kekuningan (5 YR 4/6)-Coklat kemerahan (5 YR 5/4)-Coklat kemerahan (5 YR 5/4)-Coklat kemerahan (5 YR 5/4)-Merah kekuningan (5 YR 5/8). Warna matriks lapisan atas, yaitu : horison eluviasi (A1.1 dan A1.2) lebih cerah dari lapisan di bawahnya, yaitu : horison iluviasi (BW1.1, BW1.2, dan BW1.3). Hal ini mengindikasikan pada lapisan atas terjadi pencucian bahan organik karena faktor pukulan butir-butir hujan, dan aliran permukaan. Kemudian diakumulasikan pada lapisan di bawahnya, yaitu

(39)

horison iluviasi (BW1.1, BW1.2, dan BW1.3). Bahan organik tersebut semakin tercuci seiring bertambahnya lapisan tanah. Pedon P1 memiliki kelas tekstur lempung berdebu dan lempung liat berdebu, yang mempertegas bahwa bahan induk daerah penelitian berupa tuf, abu, dan pasir volkan intermedier. Struktur tanah gumpal membulat dan gumpal bersudut, ukuran struktur halus, perkembangan struktur lemah, konsistensi gembur dan sangat gembur dalam keadaan lembab, batas topografi horison jelas dan rata, serta memiliki perakaran yang banyak halus sampai tidak ada.

Pedon P2 mewakili lereng, memiliki warna matriks Merah kekuningan (5 YR 4/6)-Coklat kemerahan (5 YR 5/4)-Coklat kemerahan (5 YR 5/4)-Merah kekuningan (5 YR 5/8). Warna matriks dari horison atas sampai bawah secara berurutan yaitu cerah-gelap-cerah. Hal ini dikarenakan pada horison iluviasi, yaitu : BW1.1 dan BW1.2 terjadi akumulasi bahan organik dari horison eluviasi A1, selanjutnya bahan organik tersebut tercuci, sehingga pada horison iluviasi BW1.3 matriks tanah berwarna lebih cerah. Pedon P2 memiliki tekstur lempung berdebu pada semua horisonnya, memiliki struktur berbentuk gumpal membulat dengan perkembangan struktur lemah, ukuran struktur halus, konsisitensi gembur sampai sangat gembur, dengan batas topografi horison jelas dan rata, serta memiliki perakaran banyak-halus hingga sedikit-halus.

Pedon P3 mewakili lembah/kaki lereng memiliki warna matriks tanah dari lapisan atas sampai bawah, yaitu : Coklat kemerahan gelap (5 YR 3/4)-Kuning kemerahan (5 YR 6/8)-Kuning kemerahan (5 YR 6/6), Kuning kemerahan (5 YR 6/8)-Kuning kemerahan (5 YR 7/8) dimana proses akumulasi dan pencucian bahan organik yang terjadi relatif sama seperti Pedon P1 dan P2. Hal ini dikarenakan pada horison iluviasi, yaitu : BW1.1, BW1.2, dan BW1.3 terjadi akumulasi bahan organik dari horison eluviasi A1. Pedon P3 memiliki tekstur lapisan lempung berdebu dan lempung liat berdebu, memiliki bentuk struktur gumpal membulat dengan perkembangan struktur lemah, ukuran struktur halus, konsistensi gembur sampai sangat gembur. Pedon P3 juga memiliki batas lapisan horison jelas dan rata, serta memiliki perakaran banyak-halus sampai tidak memiliki perakaran sama sekali seiring dengan bertambahnya kedalaman tanah.

(40)

Keterangan :

1) Batas Topografi Horison: c, s = jelas, rata 2) Warna Matriks :

5 YR 3/4 = Coklat kemerahan gelap 5 YR 4/6 = Merah kekuningan Jumlah Horison P1 P2 P3 A1.1 A1.2 BW1.1 BW1.2 BW1.3 A1 BW1.1 BW1.2 BW1.3 A1 BW1.1 BW1.2 BW1.3 BW1.4 Tebal Horison (cm) 0-30 30-68 68-114 114-155 155-175 0-25 25-51 51-79 79-120 0-33 33-72 72-107 107-150 150-180 Batas Topografi Horison c, s c, s c, s c, s c, s c, s c, s c, s c, s c, s c, s c, s c, s c, s Warna Tanah 5 YR 4/6 5 YR 5/4 5YR 5/4 5 YR 5/4 5 YR 5/8 5 YR 4/6 5 YR 5/4 5 YR 5/4 5YR 5/8 5YR 3/4 5 YR 6/8 5 YR 6/6 5 YR 6/8 5 YR 7/8 Tekstur Tanah Si L Si L Si L Si L Si Cl L Si L Si L Si L Si L Si L Si L Si L Si Cl L Si Cl L Struktur Tanah 1 F sb 1 F sb 1 F ab 1 F ab 1 F ab 1 F sb 1 F sb 1 F sb 1 F sb 1 F sb 1 F sb 1 F sb 1 F sb 1 F sb Konsistensi Tanah Vf Vf Vf Vf F Vf Vf Vf f Vf f f f f Perakaran Byk-halus Sdg-halus Byk-Halus Sdg-halus Sdkt-halus Byk-halus Sdg-halus Sdkt-halus Sgt sdkt-halus Byk-halu s Sdg-halus Sdg-halus Sdkt-halus - Tabel 10. Data Morfologi Tanah dari Tiga Pedon Pewakil di Daerah Penelitian

 

3) Kelas Tekstur : Si L = Lempung berdebu

Si Cl L = Lempung liat berdebu 4) Struktur :

a. Bentuk : ab = Gumpal bersudut sb = Gumpal membulat

b. Ukuran : F = Halus

c. Perkembangan : 1 = Lemah 5) Konsistensi

Lembab : vf = Sangat gembur

f = Gembur 27 5 YR 5/8 = Merah kekuningan 5 YR 6/6 = Kuning kemerahan 5 YR 6/8 = Kuning kemerahan 5 YR 7/8 = Kuning kemerahan 5 YR 5/4 = Coklat kemerahan

(41)

5.3.3 Sifat Fisik Tanah

Sifat fisik tanah yang diamati, antara lain : tekstur tanah, drainase, dan kerapatan lindak. Sifat fisik tanah masing-masing pedon relatif seragam, yaitu pada Pedon P1, P2, dan P3 memiliki sifat rasa licin seperti semir apabila dipirid antara telunjuk dan ibu jari, tidak lekat, tidak plastis (lembab), apabila kaki dihentakan secara vertikal dan berulang-ulang di atas permukaan tanah akan menimbulkan bunyi seperti gendang yang mengindikasikan kerapatan lindak rendah (< 0,89 g/cm3) karena tingginya kandungan bahan organik, dan rendahnya kadar liat, serta tingkat perkembangan tanah yang belum lanjut.

5.3.4 Sifat Kimia Tanah

Sifat kimia tanah yang ditetapkan, antara lain : pH (reaksi tanah), Al-dd, C-organik, N-total, KTK, KB, dan P tersedia. Data sifat kimia tanah yang dianalisis tertera pada Tabel 11. Kriteria sifat kimia tanah mengacu pada Kriteria PPT, (1983 dalam Hardjowigeno, 2007). Uraian data kimia tertera pada Lampiran 3 dan Kriteria PPT tertera pada Lampiran 6. Berikut penjelasan sifat-sifat kimia tanah dari daerah penelitian.

Kemasaman tanah disebabkan Aluminium yang dapat ditukarkan bereaksi dengan air dan melepaskan H+ ke larutan tanah. Pedon P1 memiliki reaksi tanah tergolong masam dengan nilai pH 4.9-5.1. Nilai Al dd berkisar 1.42 me/100g pada horison A1.1 sampai 3.28 me/100g pada horison A1.2. Hubungan antara reaksi tanah dan aktivitas alumunium berbanding terbalik. Artinya bila pH tanah turun, maka Al menjadi bertambah larut. Kandungan C-organik yang dimiliki oleh Pedon P1 tergolong sedang sampai sangat rendah yaitu 2.47% dan 0.88%. Kandungan C-organik semakin menurun dengan semakin bertambahnya kedalaman tanah. Artinya kandungan C-organik di horison teratas lebih tinggi dibanding horison di bawahnya, karena akumulasi bahan organik hasil dekomposisi biota tanah dan bahan organik tersebut dapat membentuk kompleks mineral liat alofan yang memantapkan bahan organik terhadap dekomposisi biotik, sehingga membuat kadar C-organik dipertahankan. Senyawa kompleks ini sulit untuk dipindahkan melalui pencucian sehingga akan tertimbun di permukaan pedon. P1 memiliki nilai N total sedang sampai sangat rendah yaitu 0.25%-0.09%.

(42)

Nilai N total sebanding dengan nilai C-organik, yaitu horison teratas lebih tinggi dari horison dibawahnya.

Kapasitas Tukar Kation (KTK) merupakan kemampuan tanah untuk mengikat kation-kation oleh muatan negatif, terutama yang berasal dari mineral liat dan koloid humus tanah. Nilai KTK erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah-tanah dengan KTK tinggi mampu menyerap dan menyediakan unsur hara lebih baik dari pada tanah dengan KTK rendah. Hal ini disebabkan karena unsur-unsur hara yang terdapat dalam kompleks jerapan koloid tersebut tidak hilang tercuci oleh air. Nilai KTK tanah pada Pedon P1 tergolong sedang sampai rendah, yaitu : 17.35 me/100g (Horison A1.1) sampai 11,21 me/100g (Horison BW1.2) yang mengindikasikan bahwa tanah tersebut mengalami hancuran iklim yang belum intensif. Semakin rendah KTK tanah, maka semakin intensif hancuran iklim yang terjadi pada tanah tersebut. Nilai KTK lapisan atas lebih tinggi dari lapisan di bawahnya. Nilai KTK yang tinggi tampaknya berasal dari kontribusi bahan organik tanah.

Nilai Kejenuhan Basa (KB) merupakan perbandingan antara basa-basa yang dapat dipertukarkan dan KTK tanah. Pedon P1 memiliki nilai basa-basa yang apabila diurutkan diperoleh nilai basa-basa dari tertinggi sampai terendah, yaitu : Ca2+ >Mg2+ > Na+> K+. Nilai KB tanah pada Pedon P1 tergolong sedang sampai rendah yang berkisar antara 44.16 % dan 28.12 %. Hal ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, sehingga proses pencucian berjalan intensif. Pedon P1 memiliki kadar P tersedia di tanah tergolong sangat rendah berkisar antara 6.2 ppm pada horison A11 dan 2.4 ppm pada horison Bw13. Hal ini terjadi karena tingginya kapasitas jerapan P pada tanah. Kadar P tersedia semakin menurun seiring bertambahnya kedalaman tanah.

Pedon P2 memiliki reaksi tanah tergolong masam dengan nilai pH 4.9-5.2. Nilai Al dd berkisar 0.38 me/100g pada horison A1 sampai 2.11 me/100g pada horison BW1.1. Kandungan C-organik tergolong rendah sampai sangat rendah, yaitu : 1.60% dan 0.88%. Kadar C-organik semakin menurun dengan semakin bertambahnya kedalaman tanah. Kandungan C-organik tinggi terdapat pada lapisan atas. Pedon P2 memiliki nilai N total rendah sampai sangat rendah, yaitu : 0.17%-0.09%. Nilai N total sebanding dengan nilai C-organik, yaitu : horison

(43)

teratas lebih tinggi dari horison di bawahnya. Nilai KTK tanah di daerah penelitian tergolong sedang, yaitu : 21.61 me/100g (Horison BW1.1) sampai 18.14 me/100g (Horison BW1.2) yang mengindikasikan bahwa tanah tersebut mengalami hancuran iklim yang belum intensif. Nilai KB pada P2 tergolong rendah berkisar antara 21.43 % dan 32.58 %. Hal ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, sehingga proses pencucian berjalan intensif. Pedon P2 memiliki kadar P tersedia di tanah tergolong sangat rendah berkisar antara 3.1 ppm pada horison A1 dan 1.7 ppm pada horison BW1.3. Kadar P tersedia semakin menurun seiring bertambahnya kedalaman tanah.

Pedon P3 memiliki reaksi tanah tergolong masam dengan nilai pH 4.9-5.2. Nilai Al dd berkisar dari 0.56 me/100g pada horison A1 sampai 2.38 me/100g pada horison BW1.1. Kandungan C-organik yang dimiliki oleh Pedon P3 tergolong sedang sampai sangat rendah, yaitu : 2.47% dan 0.24%. Kadar C-organik semakin menurun dengan semakin bertambahnya kedalaman tanah. Pedon P3 memiliki nilai N total sedang sampai sangat rendah, yaitu : 0.25%-0.02%. Nilai N total sebanding dengan nilai C-organik, yaitu horison teratas lebih tinggi dari horison di bawahnya. Nilai KTK tanah di daerah penelitian tergolong rendah, yaitu : 14.78 me/100g (Horison BW1.3) sampai 16.10 me/100g (Horison A1). Nilai KB pada Pedon P3 tergolong sedang sampai rendah, berkisar antara 39.32 % dan 25.43 % dan memiliki kadar P tersedia di tanah tergolong sangat rendah berkisar antara 6.5 ppm pada horison A1 dan 1.1 ppm pada horison BW1.3 dan BW1.4. Hal ini terjadi karena tingginya kapasitas jerapan P pada tanah. Kadar P tersedia semakin menurun seiring dengan bertambahnya kedalaman tanah. 5.4 Klasifikasi Tanah dan Lahan

5.4.1 Klasifikasi Tanah

Sistem klasifikasi tanah yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sistem Klasifikasi Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff, 2010). Sistem ini menggunakan data morfologi, kimia, fisik, dan mineralogi tanah serta keadaan iklim (terutama suhu udara dan curah hujan) untuk mengklasifikasikan tanahnya. Horison-horison penciri yang terdapat pada ketiga pedon yang teliti tertera pada Tabel 12.

(44)

Pedon

Horison pH 1:1

Walkley dan Black

Kjeldhal Bray I NNH4OAc pH 7.0

KB N KCl 0.05 N HCl Simbol Kedalaman (cm) H2O KCl C-org N-Total P Ca Mg K Na KTK Al H Fe ..(%).. ..(%).. (ppm) ……….(me/100g)………. (%) ...(me/100g)… (ppm) P1 A1.1 0-33 5.10 4.40 2.47 0.25 6.2 3.93 1.46 0.12 0.21 17.35 32.97 1.42 0.28 4.20 A1.2 30-68 4.90 4.10 1.84 0.17 5.1 2.93 1.20 0.09 0.17 15.61 28.12 3.28 0.34 3.12 BW1.1 68-114 5.00 4.30 1.44 0.15 3.6 3.61 1.59 0.11 0.27 14.92 37.40 1.76 0.22 2.40 BW1.2 114-155 5.00 4.20 1.44 0.14 2.7 3.11 1.42 0.07 0.35 11.21 44.16 1.94 0.25 6.36 BW1.3 155-175 5.00 4.20 0.88 0.09 2.4 2.18 1.09 0.08 0.69 13.39 30.17 2.38 0.29 6.04 P2 A1 0-25 5.20 4.50 1.60 0.17 3.1 4.38 1.33 0.10 0.13 18.75 31.68 0.38 0.16 3.10 BW1.1 25-51 4.90 4.10 1.36 0.13 2.6 3.11 1.30 0.07 0.15 21.61 21.43 2.11 0.28 4.88 BW1.2 51-79 5.00 4.20 1.44 0.14 2.1 4.17 1.46 0.08 0.20 18.14 32.58 1.18 0.24 4.48 BW1.3 79-120 4.90 4.20 0.88 0.09 1.7 3.88 1.37 0.07 0.46 18.35 31.50 2.04 0.26 10.60 P3 A1 0-33 5.00 4.30 2.47 0.25 6.5 4.02 1.74 0.18 0.39 16.10 39.32 0.56 0.24 3.08 BW1.1 33-72 5.20 4.40 0.48 0.05 2.1 3.96 1.37 0.07 0.48 15.84 37.12 2.38 0.18 16.68 BW1.2 72-107 5.00 4.30 0.64 0.05 1.7 3.24 1.74 0.09 0.48 15.99 34.71 0.64 0.23 17.00 BW1.3 107-150 4.90 4.10 0.32 0.03 1.1 3.31 1.37 0.08 0.48 14.78 35.45 1.62 0.27 12.12 BW1.4 150-180 5.00 4.30 0.24 0.02 1.1 2.02 1.41 0.07 0.52 15.81 25.43 0.86 0.21 12.96

Tabel 11. Data Analisis Sifat Kimia Tanah dari Tiga Pedon Pewakil di Daerah Penelitian

(45)

Horison Penciri Deskripsi Horison

permukaan (Epipedon)

Pedon P1 memiliki epipedon melanik (Soil Survey Staff, 2010) karena :

1. Memiliki horison permukaan dengan tebal 30 cm atau lebih, yang berada pada ketebalan total 40 cm. Hal ini sesuai dengan data morfologi yaitu tebal 0-33 cm.

2. Memiliki sifat tanah andik pada seluruh ketebalan.

3. Berwarna gelap ditandai dengan dan value dan chroma ≤ 3, tetapi dari hasil pengamatan morfologi di lapang, warna matriks tanah yang diperoleh, yaitu : value 4 dan chroma 6. Hal ini mungkin terjadi karena faktor kesalahan dalam pembacaan pengamat, cahaya yang sangat kuat pada saat pembacaan warna matriks tanah, dan faktor warna munsell soil chart yang dipakai sudah agak pudar.

Pedon P2 memiliki epipedon umbrik (Soil Survey Staff, 2010) karena :

1. Memiliki tekstur sangat halus yaitu lempung bedebu dengan dominasi debu.

2. Warna tanah gelap ditandai dengan value dan chroma ≤ 3, tetapi dari hasil pengamatan morfologi di lapang, warna matriks tanah yang diperoleh, yaitu : value 4 dan chroma 6. Hal ini mungkin terjadi karena faktor kesalahan dalam pembacaan pengamat, cahaya yang sangat kuat pada saat penganalisaan warna matriks tanah, dan faktor warna munshell soil chart yang dipakai sudah agak pudar.

3. Memiliki nilai Kejenuhan Basa (KB) <50 % pada semua lapisan. Hal ini sesuai dengan hasil analisis kimia di laboratorium, yaitu nilai KB tiap horison adalah 31.68 %, 21.43 %, 32.58%, dan 31.50 %.

4. Memiliki kandungan C-organik 0.6 % atau lebih. Hal ini sesuai dengan hasil analisis kimia di laboratorium, yaitu pada tiap horison kandungan C-organik secara berurutan adalah 1.6 %, 1.36 %, 1.44 %, dan 0.88%. 5. Tidak memiliki artifak (sisa-sisa benda tertentu), bekas cangkul, sekop, dan permukaan tanah meninggi yang

menunjukkan penambahan permukaan secara perlahan

Pedon P3 memiliki epipedon melanik (Soil Survey Staff, 2010) karena :

1. Memiliki horison permukaan dengan tebal 30 cm atau lebih, yang berada pada ketebalan total 40 cm. Hal ini sesuai dengan data morfologi yaitu tebal 0-33 cm.

2. Memiliki sifat tanah andik pada seluruh ketebalan.

(46)

Tabel 12. (Lanjutan)

3. Berwarna gelap ditandai dengan dan value dan chroma ≤ 3, tetapi dari hasil pengamatan morfologi di lapang, warna matriks tanah yang diperoleh, yaitu : value 3 dan chroma 4. Hal ini mungkin terjadi karena faktor kesalahan dalam pembacaan pengamat, cahaya yang sangat kuat pada saat pembacaan warna matriks tanah, dan faktor warna munsell soil chart yang dipakai sudah agak pudar.

Horison bawah permukaan (horison)

Pedon P1, P2, dan P3 seluruhnya memiliki horison penciri kambik. Hal ini ditunjukkan oleh ciri-ciri, sebagai berikut:

1. Memiliki tekstur pasir sangat halus atau lebih halus. 2. Memiliki struktur tanah

3. Warna tanah lebih merah dari horison di bawahnya (pada Pedon P1 dengan value 4 dan chroma 6, Pedon P2

value 4 dan chroma 6, serta Pedon P3 value 6 dan chroma 8)

Berdasarkan analisis sifat-sifat tanah dan horison pencirinya, maka ketiga pedon tersebut diklasifikasikan sampai kategori Famili (Tabel 13).

Taksonomi Tanah

(Soil Survey Staff, 2010) Deskripsi

Order (Kategori Golongan

Tanah)  

 

Pedon P1, P2, dan P3 pada Kategori Order diklasifikasikan sebagai Andisol yang dicirikan oleh adanya sifat andik antara lain :

Rasa licin seperti semir apabila dipirid antara telunjuk dan ibu jari, tidak lekat, tidak plastis (lembab), apabila kaki dihentakan secara vertikal dan berulang-ulang di atas permukaan tanah akan menimbulkan bunyi seperti gendang yang mengindikasikan kerapatan lindak rendah (< 0,89 g/cm3) karena banyaknya kandungan bahan organik sehingga tanah menjadi ringan.

Suborder (Kategori

Kumpulan Tanah)

Pedon P1, P2, dan P3 pada Kategori Suborder diklasifikasikan sebagai Udand karena mempunyai regim kelembaban tanah udik dan tanah tidak pernah kering selama 90 hari (kumulatif) setiap tahun.

33

Figure

Tabel 1. Garis Besar Proses Geomorfik (Wiradisastra, Tjahjono, Gandasasmita,  Barus, dan Munibah, 2002)

Tabel 1.

Garis Besar Proses Geomorfik (Wiradisastra, Tjahjono, Gandasasmita, Barus, dan Munibah, 2002) p.15
Tabel 2. Perbedaan antara Bentang Lahan (Landscape) dan Bentuk Lahan  (Landform)

Tabel 2.

Perbedaan antara Bentang Lahan (Landscape) dan Bentuk Lahan (Landform) p.16
Tabel 3. Hubungan antara Skala Peta dan Satuan Peta Lahan/SPL (Puslittanak,  2004)

Tabel 3.

Hubungan antara Skala Peta dan Satuan Peta Lahan/SPL (Puslittanak, 2004) p.17
Gambar 1. Diagram Model Sembilan Satuan Bentuk Permukaan Lahan dari Dalrymple et al.,           (1968 dalam Selby, 1985) Puncak lereng  pemisah Lereng perembesan  Lereng  perayapan cembung Tebing  Lereng tengah pengangkutan  Kaki  lereng  aluvial Kaki lere

Gambar 1.

Diagram Model Sembilan Satuan Bentuk Permukaan Lahan dari Dalrymple et al., (1968 dalam Selby, 1985) Puncak lereng pemisah Lereng perembesan Lereng perayapan cembung Tebing Lereng tengah pengangkutan Kaki lereng aluvial Kaki lere p.18
Tabel 5.  Komponen-Komponen Proses Pedogenesis dan Uraiannya

Tabel 5.

Komponen-Komponen Proses Pedogenesis dan Uraiannya p.19
Tabel 4.  Klasifikasi Bentuk Lahan (Marsoedi et al., 1997)

Tabel 4.

Klasifikasi Bentuk Lahan (Marsoedi et al., 1997) p.19
Tabel 6. Data Suhu Udara Rata-rata Bulanan serta Curah Hujan Rata-rata Bulanan  dan Tahunan di Wilayah Lamajang dan Sekitarnya (Puslittanak, 1993)  dan (Amirza, 1991 dalam Abdullah, Darmawan, dan Suryaningtyas,  1994)  Bulan  Curah  Hujan (mm)  Suhu ( 0 C)

Tabel 6.

Data Suhu Udara Rata-rata Bulanan serta Curah Hujan Rata-rata Bulanan dan Tahunan di Wilayah Lamajang dan Sekitarnya (Puslittanak, 1993) dan (Amirza, 1991 dalam Abdullah, Darmawan, dan Suryaningtyas, 1994) Bulan Curah Hujan (mm) Suhu ( 0 C) p.27
Tabel 7. Kemiringan Lereng dan Bentuk Wilayah (Desaunettes, 1977)  Simbol  Kemiringan

Tabel 7.

Kemiringan Lereng dan Bentuk Wilayah (Desaunettes, 1977) Simbol Kemiringan p.28
Gambar 8. Diagram Alir Pemetaan Tanah dan Lahan Desa Lamajang, Kec. Pangalengan, Kab. Bandung

Gambar 8.

Diagram Alir Pemetaan Tanah dan Lahan Desa Lamajang, Kec. Pangalengan, Kab. Bandung p.34
Gambar  9. Korelasi antara Bentuk Lahan dan Jenis Tanah secara Toposekuen pada Bentang Lahan Volkanik di Daerah Penelitian

Gambar 9.

Korelasi antara Bentuk Lahan dan Jenis Tanah secara Toposekuen pada Bentang Lahan Volkanik di Daerah Penelitian p.50
Tabel 14.  Korelasi antara Proses Geomorfik dan Pedogenesis dari Tiga Pedon Pewakil

Tabel 14.

Korelasi antara Proses Geomorfik dan Pedogenesis dari Tiga Pedon Pewakil p.51

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in