STUDI KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S DENGAN
PERILAKU KEKERASAN DI RUANG PRINGGONDANI
RUMAH SAKIT JIWA DAERAH
SURAKARTA
DISUSUN OLEH :
SRI SUPREHATIN
NIM. P.09104
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
i
STUDI KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S DENGAN
PERILAKU KEKERASAN DI RUANG PRINGGONDANI
RUMAH SAKIT JIWA DAERAH
SURAKARTA
Karya Tulis Ilmiah
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Dalam Menyelesaikan Program Diploma III Keperawatan
DISUSUN OLEH :
SRI SUPREHATIN
NIM. P.09104
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
iii
LEMBAR PERSETUJUAN
Karya Tulis ini diajukan oleh:
Nama : Sri Suprehatin
NIM : P.09104
Program Studi : DIII Keperawatan
Judul Karya Tulis Ilmiah : “ASUHAN KEPERAWATAN
PADA Tn.S DENGANPERILAKU KEKERASAN DI RUANG PRINGGONDANI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA”.
Telah disetujui untuk diujikan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah Prodi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta
Di tetapkan di : ... Hari/Tanloggal : ...
Pembimbing I : Joko Kismanto, S.Kep., Ns ( ) NIK. 200670020
iiii
HALAMAN PENGESAHAN
Karya Tulis Ilmiah ini di ajukan oleh :
Nama : Sri Suprehatin
NIM : P.09104
Program Studi : DIII Keperawatan
Judul Karya Tulis Ilmiah : “ASUHAN KEPERAWATAN
PADA Tn.S DENGAN PERILAKU
KEKERASAN DI RUANG PRINGGONDANI
RUMAH SAKIT JIWA DAERAH
SURAKARTA”.
Telah disetujui untuk diujikan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah Prodi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta
Di tetapkan di : ... Hari/Tanggal : ...
DEWAN PENGUJI
Penguji I : Joko Kismanto, S.Kep., Ns ( ) NIK.200670020
Penguiji II :Diyah Ekarini , S.Kep., Ns ( ) NIK. 2001187085
Penguji III :Setiyawan , S.Kep., Ns ( ) NIK. 201084050
Mengetahui,
Ketua Program Studi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta
Setiyawan, S.Kep, Ns NIK.201084050
ii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Sri Suprehatin
NIM : P.09104
Program Studi : DIII Keperawatan
Judul Karya Tulis Ilmiah : “ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.S
DENGAN PERILAKU KEKERASAN DI
RUANG PRINGGONDANI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA”.
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri.
Apabila dikemudian hari dapat dibuktikan bahwa Tugas Akhir ini adalah hasil jiplakan , maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai dengan ketentuan akademik yang berlaku.
Surakarta, Juni 2013
Sri Suprehatin NIM. P 09114
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat, rahmat dan karunian-Nya, sehingga penulis dapat menyeleseikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Tn. S Dengan Perilaku Kekerasan Di Ruang Pringgondani Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta”.
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat:
1. Setiyawan, S.Kep, Ns , selaku Ketua Program studi DIII Keperawatan yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu di STIKes Kusuma Husada Surakarta.
2. Erlina Windyastuti, S.Kep, Ns , selaku Sekretaris Ketua Program studi DIII Keperawatan yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu di STIKes Kusuma Husada Surakarta.
3. Joko Kismanto, S.Kep, Ns , selaku dosen pembimbing sekaligus sebagai penguji yang telah membimbing dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini.
4. Diyah Ekarini, S.Kep., Ns, selaku dosen penguji yang telah membimbing dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini. 5. Setiyawan, S.Kep., Ns, selaku dosen penguji yang telah membimbing
dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini. 6. Semua dosen Program studi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada
Surakarta yang telah memberikan bimbingan dengan sabar dan wawasannya serta ilmu yang bermanfaat.
7. Mamaku, yang selalu menjadi inspirasi dan memberikan semangat untuk menyelesaikan pendidikan.
vi
8. Erwin Ariestiyanto AMK, selaku suami memberi dukungan dan semangat untuk segera menyeleseikan tugas Karya Tulis Ilmiah.
9. Keisha Azzahra Salsabila, putriku yang selalu menemaniku dalam penyelesaian tugas Karya Tulis Ilmiah
10. Nenek dan Kakek saya memberi dukungan dan semangat untuk segera menyelesaikan tugas Karya Tulis Ilmiah
11. Teman-teman Mahasiswa Program Studi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta dan bebagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, yang telah memberikan dukungan moril dan spiritual.
Semoga laporan studi kasus ini bermanfaat untuk perkembangan ilmu keperawatan dan kesehatan. Amin.
Surakarta, Juni 2013
Sri Suprehatin NIM. P 09114
vii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
LEMBAR PERSETUJUAN... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN... ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1
B. Tujuan Penulisan ... 4
C. ManfaatPenulisan ... 5
BAB II LAPORAN KASUS A. Pengkajian ... 6
B. Daftar Perumusan Masalah ... 12
C. Perumusan Masalah Keperawatan ... 12
D. Rencana Keperawatan ... 13
E. Implementasi Keperawatan ... 17
F. Evaluasi Keperawatan ... 18
BAB III PEMBAHASAN DAN SIMPULAN A. Pembahasan ... 21
B. Simpulan ... 27
C. Saran ... 30
DAFTAR PUSTAKA
viii
Lampiran
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Genogram Tn. S ... 8 Gambar 2.2 Pohon Masalah ... 13
ix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Log Book Kegiatan Harian
Lampiran 2 Surat Keterangan Selesai Pengambilan Data
Lampiran 3 Lembar Pendelegasian Klien
Lampiran 4 Asuhan Keperawatan
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sehat jiwa menurut WHO adalah berbagai karakteristik positif yang menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang mencerminkan kedewasaan kepribadiannya (Ade, 2011). Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (DEPKES RI, 2008) Sehat jiwa adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi serta sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur fisik, mental dan sosial.
Gangguan jiwa adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal,baik yang berhubungan dengan fisik maupun dengan mental (Yosep, 2007). Gangguan jiwa menjadi masalah serius diseluruh dunia. Organisasi kesehatan Dunia (World Head Organitation) tahun 2007 menyatakan, paling tidak 1 dari 4 orang atau sekitar 450 juta orang terganggu jiwanya di Indonesia berdasarkan survey kesehatan mental rumah tangga setiap 1000 anggota rumah tangga terdapat 185 orang mengalami gangguan terkait masalah kejiwaan (Siti, 2010). Menurut Kepala Dinas Kesehatan di Jakarta Dien Emawati menyatakan bahwa jumlah penderita gangguan jiwa ringan hingga triwulan kedua tahun 2011 mencapai 306.621 orang, naik dari 159.029 orang pada tahun 2010. Secara keseluruhan, jumlah penderita gangguan jiwa di Jakarta mencapai angka 14,1% dari jumlah penduduk.
2
Jumlah itu di atas angka nasional sebesar 11,6% (Kompas.com, 10 Oktober 2011).
Dampak perkembangan jaman dan pembangunan juga menjadi faktor peningkatan permasalahan kesehatan yang ada, menjadikan banyaknya masalah kesehatan fisik juga masalah kesehatan mental spiritual, dan pada akhir-akhir ini penderita gangguan jiwa makin meningkat, kebanyakan penderita gangguan jiwa terjadi karena perilaku kekerasan baik dalam rumah tangga ataupun yang lainnya (Casmita, 2008). Salah satu bentuk gangguan jiwa yang umum adalah skizofrenia. Skizofrenia adalah suatu gangguan jiwa yang berat yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan berkomunikasi, gangguan realitas (halusinasi atau waham), afek tidak wajar atau tumpul, gangguan kognitif (tidak mampu berpikir abstrak) serta mengalami kesukaran melakukan aktivitas sehari hari ( Keliat,2011 ). Tanda dan gejala skizofrenia menurut Keliat (2011) diantaranya gejala positif (Waham, Halusinasi, Perubahan arus pikir dan Perubahan perilaku) sedangkan gejala negatifnya (Apatis, Blocking atau pembicaraan terhenti tiba-tiba, Isolasi Sosial).Perubahan perilaku sendiri itu meliputi amuk, marah dan menyebabkan perilaku kekerasan.
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan di mana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif (Iyus,2007). Marah merupakan suatu emosi yang mempunyai ciri-ciri
3
aktifitas sistem saraf simpatik yang tinggi dan adanya perasaan jengkel atau tidak suka yang amat kuat yang disebabkan adanya kesalahan dan ditimbulkan sebagai respon terhadap kecemasan atau kebutuhan yang tidak dipenuhi yang dirasakan sebagai ancaman (Arie, 2011).
Rumah Sakit Jiwa Surakarta adalah rumah sakit milik pemerintah yang diklasifikasikan sebagai kelas A dan sebagai pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat yang berhubungan dengan perencanaan dari suatu rumah sakit bagi rumah sakit jiwa, dengan berbagai tingkat keparahannya. Hasil survei di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta, gangguan halusinasi yang ada di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta kurang lebih 42% jika dibandingkan gangguan jiwa lainnya, diantaranya perilaku kekerasan 34%, harga diri rendah 14,5%, defisit perawatan diri 5,6% dan menarik diri 3,9% (Catatan Medical Record RSJD Surakarta, 2007). Berdasarkan laporan periode bulan April 2013 klien yang dirawat di ruang Pringgondani RSJD Surakarta di dapatkan dari 31 klien yang mengalami gangguan jiwa terdapat 15 klien yang mengalami gangguan resiko perilaku kekerasan, rata – rata berumur antara 20 tahun sampai 50 tahun, yang mengalami halusinasi terdapat 10 klien, harga diri rendah terdapat 2 klien, defisit perawatan diri terdapat 1 klien, menarik diri terdapat 2 klien dan waham terdapat 1 klien.
Tn. S adalah klien yang mengalami gangguan jiwa dengan perilaku kekerasan, didapatkan data subyektif klien mengatakan kesal pada keluargannya yang tidak bersedia membelikan sepeda motor kesukaannya
4
dan klien mengamuk lalu membakar sepeda motor miliknya. Data obyektif klien tampak kesal, wajah tegang, suara keras dengan nada tinggi. Akibat dari perilaku kekerasan dapat menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk melakukan pengelolaan kasus asuhan keperawatan yang ditunjukan dalam penulisan karya tulis ilmiah dengan judul “Studi Kasus Asuhan Keperawatan Pada Tn.S Dengan Perilaku Kekerasan Di Ruang Pringgondani Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta”.
B. Tujuan Penulisan
Terdiri atas 2 (dua) hal yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. 1. Tujuan umum
Melaporkan kasus asuhan keperawatan pada Tn.S dengan perilaku kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta.
2. Tujuan Khusus
a. Penulis mampu melakukan pengkajian pada Tn. S dengan perilaku kekerasan.
b. Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada Tn. S dengan perilaku kekerasan.
c. Penulis mampu menyusun rencana asuhan keperawatan pada Tn.S dengan perilaku kekerasan.
d. Penulis mampu melakukan implementasi pada Tn. S dengan perilaku kekerasan.
5
e. Penulis mampu melakukan evaluasi pada Tn. S dengan perilaku kekerasan.
f. Penulis mampu menganalisa kondisi yang terjadi pada Tn.S dengan perilaku kekerasan.
C. Manfaat Penulisan 1. Penulis
Dapat meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman nyata penulis dalam memberikan asuhan keperawatan dengan perilaku kekerasan.
2. Bagi profesi
Sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan lainnya dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan perilaku kekerasan, sehingga klien mendapatkan penanganan yang cepat, tepat dan optimal.
3. Bagi institusi a. RSJD Surakarta
Sebagai bahan pertimbangan oleh pihak rumah sakit untuk membuat kebijakan dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan asuhan keperawatan pada klien dengan perilaku kekerasan.
6
b. Pendidikan
Sebagai sumber bacaan atau referensi untuk meningkatkan kualitas pendidikan keperawatan khususnya pada klien dengan perilaku kekerasan dan dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca.
7 BAB II LAPORAN KASUS
Bab II ini merupakan ringkasan Asuhan Keperawatan Jiwa dengan pengelolaan studi kasus pada klien Tn.S dengan Perilaku Kekerasan di ruang Pringgondani RSJD Surakarta pada tanggal 25 April – 27 April 2013. Asuhan keperawatan ini dimulai dari pengkajian, analisa data, perumusan diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi.
A. Identitas
Hasil pengkajian tanggal 25 April 2013 pukul: 10.00 WIB pada kasus ini diperoleh dengan cara auto anamnesa, mengadakan pengkajian langsung, pemeriksaan fisik dan menelaah catatan perawat, dari data pengkajian tersebut didapatkan hasil identitas klien bernama Tn.S, umur 26 tahun, masuk tanggal 27 Maret 2013 agama Islam, pekerjaaan swasta, alamat Tasikmadu, Karanganyar yang dirawat di ruang Pringgondani RSJD Surakarta sudah 1 bulan sejak Tn. S diagnosa Perilaku Kekerasan. Penanggung jawab klien adalah Tn.A, pekerjaan wiraswasta, hubungan dengan klien adalah kakak kandung.
B. Pengkajian
1. Riwayat Kesehatan
Ketika dilakukan pengkajian keluhan yang dirasakan klien saat dikaji adalah klien mengatakan jengkel kepada keluarganya. Riwayat alasan masuk ± 1 bulan sebelum masuk Rumah Sakit Jiwa, klien
8
mengamuk dan membakar sepeda motornya, kemudian klien dibawa kerumah Sakit Jiwa Surakarta Riwayat kesehatan keluarga, klien mengatakan didalam keluarganya tidak ada yang mengalami gangguan jiwa.
2. Faktor Predisposisi
Klien pernah mengalami gangguan jiwa sebelumya dan riwayat keluarga klien tidak ada yang mempunyai gangguan jiwa. Klien mengatakan sudah pernah dirawat di rumah Sakit Jiwa selama 10x dan pengobatan sebelumnya kurang berhasil karena tidak bersedia minum obat dan jarang kontrol. Klien mengatakan terakhir masuk kerumah Sakit Jiwa pada tanggal 16 Maret 2013.
3. Faktor Presipitasi
Klien mengatakan mengamuk di rumah lalu membakar sepeda motornya karena merasa kesal dengan keluarganya yang tidak bersedia membelikan motor kesukaanya.
4. Pemeriksaan Fisik
Hasil pemeriksaan fisik didapatkan tanda- tanda vital, tekanan darah: 120/80 mmHg, nadi: 86 x/menit, suhu: 36 C, respirasi: 20 x/menit, tinggi badan: 163 cm, berat badan: 55 kg. Keadaan umum : baik, kepala: rambut bersih,bentuk mesoshepal, bersih. Mata : pupil isokor, konjungtiva tidak anemis, simetris kanan dan kiri, penglihatan baik. Hidung : bersih, simetris kanan dan kiri, tidak ada polib, penciuman baik. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid. Dada : simetris kanan dan
9
kiri, tidak ada otot bantu nafas. Ekstremitas : lengkap, bisa digerakkan dengan normal, kuku bersih dan pendek.
5. Psikososial a) Genogram
Keterangan :
Gambar 2.1 Genogram
Pengkajian psikososial didapatkan bahwa klien adalah anak kesebelas dari sebelas bersaudara, klien tinggal serumah dengan bapak dan ibunya, dalam anggota keluarga tidak ada yang mengalami gangguan jiwa.
: Laki - Laki meninggal
: Perempuan meninggal : Tinggal serumah : Garis Keturunan : Laki - Laki : Perempuan : Klien
10
b) Konsep diri
Pengkajian konsep diri, pada gambaran dirinya klien mengatakan suka pada bagian tubuhnya dan menerimanya. Identitas klien mengatakan seorang laki-laki berumur 26 tahun dan belum menikah. Peran klien di rumah adalah sebagai anak. Ideal diri klien mengatakan klien mengatakan ingin cepat pulang bertemu keluarganya dan segera bekerja kembali. Harga diri klien mengatakan malu bila bertemu dengan tetangganya karena dirinya suka mengamuk di rumah.
c) Hubungan Sosial
Klien mengatakan orang yang paling berharga adalah kakak kandungnya dan meskipun dia sering diamuk tapi klien mengatakan dia sangat menyayangi keluarganya. Hubungan dalam bermasyarakat klien mengatakan jarang bergaul dengan tetanggganya, klien tampak diam saja ketika tidak ada yang mengajaknya berbicara. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain klien mengatakan tidak menemukan kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain.
d) Spiritual
Kepercayaan klien mengatakan beragama islam dan rajin beribadah. Kegiatan ibadah klien mengatakan sholat 5 waktu dan tidak lupa berdo’a setelah sholat. Klien mengatakan ingin segera sembuh dan cepat pulang.
11
6. Status Mental
Penampilan klien terlihat rapi dengan rambut tertata rapi, cara berpakaian juga baik tidak acak-acakan. Pembicaraan saat dikaji klien berbicara dengan jelas, keras dan nada suara tinggi. Aktifitas motorik klien terlihat tegang. Alam perasaan klien mengatakan senang saat dikaji dan klien merasa sedih selama di Rumah Sakit Jiwa karena ingin pulang. Afek klien saat dikaji afeknya datar. Interaksi klien saat di wawancarai kooperatif dan mau menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Isi pikir klien saat dikaji klien tidak mengalami gangguan, tidak ada waham, klien mengatakan ingin segera pulang dan bertemu keluarga di rumah. Proses pikir klien dapat menjawab pertanyaan dengan baik. Memori klien dapat mengingat kejadian jangka panjang dan jangka pendek, klien mampu mengingat kapan saat dia dibawa di rumah sakit dengan diantar kakaknya. Klien dapat berkonsentrasi saat diajak berbicara, Tingkat kesadaran klien sadar penuh, tidak ada disorientasi waktu dan tempat. Persepsi klien tidak mengalami gangguan halusinasi. Daya tilik diri klien mengatakan ingin cepat sembuh dan segera pulang.
7. Kebutuhan Persiapan Pulang
Pada pengkajian kebutuhan klien pulang didapatkan data bahwa klien mengatakan makan 3x sehari dengan menu yang disediakan dari rumah sakit yaitu nasi, sayur, lauk-pauk serta buah. Klien juga mengatakan selalu habis makannya lalu tidak lupa mencuci piringmya sendiri. BAB klien mengatakan, BAB sehari 1x yaitu saat pagi hari dan
12
untuk BAK klien mengatakan bisa 6-7x sehari. Kebutuhan mandi klien juga tercukupi, klien mengatakan mandi 2x sehari yaitu pagi dan sore. Klien juga mengatakan selalu keramas dan menggosok giginya saat mandi, kemudian klien mengatakan setelah mandi tidak lupa ganti baju yang bersih dan menyisir rambutnya agar kelihatan rapi.Istirahat dan tidur, klien mengatakan tidur malam pukul 22.00 sampai pukul 05.00 pagi dan klien mengatakan jarang tidur siang. Penggunaan obat,klien mengatakan ketika dirumah sakit mau minum obat secara teratur agar cepat sembuh dan segera pulang. Rencana aktivitas dirumah dan diluar rumah,klien mengatakan setelah pulang dari rumah sakit ,dirumah akan membantu orang tuanya membuat batu bata dan aktivitas diluar rumah klien mengatakan ingin kembali bekerja.
8. Mekanisme koping
Klien mengalami mekanisme koping maladaptif yaitu klien mengatakan jengkel kepada keluarganya dan membakar sepeda motornya. Klien mengatakan mengerti alasan kenapa dia dibawa ke rumah sakit jiwa karena dia sering mengamuk di rumah dan klien mengatakan ingin sembuh dari penyakitnya.
Penggunaan obat, klien mengatakan ketika di rumah sakit mau untuk minum obat secara teratur agar cepat sembuh dan pulang. Setelah pulang dari rumah sakit klien mengatakan ingin membantu orangtuanya membuat batu bata dan kegiatan di luar rumah klien mengatakan akan kembali bekerja.
13
9. Aspek Medis.
Diagnosa Medis: F.20.8. Terapi obat Risperidol 2x2 mg, Clorpromazin 2x100mg, Triheksaperidol 2x2 mg. Klien dilakukan pemeriksaan laboratorium tgl 29 Maret 2013 dengan hasil yaitu GDS 85 mg/dL (normal < 130 mg/dL), SGOT 28 u/L (normal < 37 u/L), SGPT 19 u/L (normal < 42 u/L).
C. Daftar Perumusan Masalah
Berdasarkan data di atas dapat ditegakkan diagnosa keperawatan yaitu perilaku kekerasan, diagnosa keperawatan tersebut didukung dengan data subyektif klien mengatakan kesal dengan keluarganya karena tidak mau membelikan sepeda motor kesukaanya, klien mengatakan mengamuk dan membakar sepeda motornya. Data obyektif: klien tampak kesal, wajah tegang, suara keras dengan nada tinggi.
Diagnosa keperawatan ditegakkan maka dapat disimpulkan bahwa pohon masalahnya adalah sebagai berikut:
Pohon Masalah
Resiko Menciderai Diri Sendiri, Orang Lain dan Lingkungan (Akibat)
Perilaku Kekerasan ( Core Problem)
Mekanisme koping tidak efektif (Etiologi)
14
D. Rencana Keperawatan
Didapatkan dari hasil pengkajian rencana keperawatan pada Tujuan umum: Klien dapat mengontrol perilaku kekerasan.
Tujuan khusus yaitu merupakan respon yang diharapkan dari hasil tindakan keperawatan. Tujuan khusus 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya. Kriteria evaluasi setelah 1x pertemuan selama 30 menit klien tampak : Menunjukan tanda-tanda percaya pada perawat, wajah cerah (tersenyum), mau berkenalan, bersedia menceritakan perasaannya. Intervensi yang akan dilakukan bina hubungan saling percaya dengan, memberi salam setiap berinteraksi, perkenalkan nama perawat dan tujuan perawat berinteraksi, tanyakan dan panggil nama kesukaan klien, tunjukan sikap empati jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi, tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien, buat kontrak interaksi yang jelas, dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan perasaan klien.
Tujuan khusus 2 : Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan yang dilakukannya. Kriteria evaluasi setelah 1x pertemuan selama 30 menit klien menceritakan penyebab perilaku kekerasan yang dilakukannya, menceritakan penyebab perasaan kesal (jengkel), baik dari diri sendiri maupun lingkungannya. Intervensi yang akan dilakukan, bantu klien mengungkapkan perasaan marahnya, motivasi klien untuk menceritakan penyebab rasa kesal (jengkel), dengarkan tanpa mencela atau memberi penilaian setiap ungkapan perasaan klien.
15
Tujuan Khusus 3 : Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perlikau kekerasaan. Kriteria evaluasi setelah 1x pertemuan selama 30 menit klien menceritakan tanda-tanda saat terjadi perilaku kekerasan, tanda fisik mata merah, tangan mengepal, ekspresi wajah tegang, tanda emosional, perasaan marah jengkel marah bicara kasar, tanda sosial bermusuhan yang dialami saat terjadi perilaku kekerasan. Intervensi yang akan dilakukan, bantu klien mengungkapkan tanda-tanda perilaku kekerasan yang dialaminya, motivasi klien menceritakan kondisi fisik saat perilaku kekerasan terjadi, motivasi klien menceritkan kondisi emosinya saat terjadi perilaku kekerasan, motivasi klien menceritakan kondisi hubungan dengan orang lain saat terjadi perilaku kekerasan.
Tujuan khusus 4 : Klien dapat mengidentifikasi jenis perilaku kekerasan yang pernah dilakukanya. Kriteria evaluasi setelah 1x pertemuan selama 30 menit klien menjelaskan, jenis-jenis ekspresi kemarahan yang selama ini telah dilakukanya, perasaannya saat melakukan kekerasan, efektifitas cara yang dipakai dalam menyelesaikan masalah. Intervensi yang akan dilakukan, diskusikan dengan klien perilaku kekerasan yang dilakukan selama ini, motivasi klien menceritakan jenis-jenis tindakan kekerasan yang selama ini pernah dilakukannya, motivasi klien menceritakan perasaan klien setelah tindakan kekerasan tersebut terjadi, diskusikan apakah dengan tindakan kekerasan yang dilakukanya masalah yang dialami teratasi.
Tujuan khusus 5 : Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan. Kriteria evaluasi setelah 1x pertemuan selama 30 menit klien
16
menjelaskan akibat tindakan kekerasan yang dilakukannya, diri sendiri (luka, dijauhi teman), orang lain (keluarga luka, tersinggung, ketakutan), lingkungan (barang atau benda rusak). Intervensi yang akan dilakukan, diskusikan dengan klien akibat negatif (kerugian) cara yang dilakukan pada, diri sendiri, orang lain, keluarga, lingkungan
Tujuan khusus 6 : Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam mengungkapkan kemarahan. Kriteria evaluasi 2x pertemuan selama 30 menit klien, menjelaskan cara sehat mengungkapkan marah, Intervensi diskusikan dengan klien apakah klien mau mempelajari cara mengungkapkan marah yang sehat, jelaskan berbagai alternatif pilihan untuk mengungkapkan marah, jelaskan cara sehat untuk mengungkapkan marah, cara fisik : nafas dalam pukul bantal dan olahraga, verbal mengungkapkan bahwa dirinya sedang kesal pada orang lain, sosial : latihan asertif dengan orang lain.
Tujuan khusus 7 : Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan. Kriteria evaluasi setelah 2x pertemuan selama 30 menit klien memperagakan cara mengontrol perilaku kekerasan, fisik : tarik nafas dalam, memukul bantal, verbal : mengungkapkan perasaan kesal pada orang lain tanpa menyakiti, spiritual zikir doa. Intervensi diskusikan cara mungkin di pilih untuk mengungkapkan kemarahannya, latih klien memperagakan cara yang dipilih, jelaskan manfaat cara tersebut, anjurkan klien menirukan peragaan yang sudah dilakukan, anjurkan klien menggunakan cara yang sudah dilatih saat jengkel muncul.
17
Tujuan khusus 8 : Klien mendapatkan dukungan keluarga untuk mengontrol perilaku kekerasan. Kriteria evaluasi setelah 3x pertemuan selama 30 menit keluarga : menjelaskan cara merawat klien dengan perilaku kekerasan, mengungkapkan rasa puas dalam merawat klien. Intervensi diskusikan pentingnya paran serta keluarga sebagai pendukung klien untuk mengatasi perilaku kekerasaan, jelaskan pengertian penyebeb, akibat, dan cara merawat klien perilaku kekerasan, peragakan klien menangani parilaku kekerasan, beri kesempatan keluarga untuk memperagakan ulang, beri pujian kepada keluarga setelah peragakan, tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba cara yang dilatih.
Tujuan khusus 9 : Klien menggunakan obat sesuai program yang telah di tetapkan . Kriteria evaluasi setelah 1x pertemuan selama 30 menit klien menjelaskan : manfaat minum obat, keinginan tidak minum obat, nama obat, bentuk dan warna obat, dosis yang diberikan kepadanya, waktu penakaran, cara penakaran, efek yang dirasakan, setelah 1x pertemuan selama 30 menit klien mengungkapkan obat sesuai program. Intervensi jelaskan manfaat menggunaan obat secara teratur dan kerugian jika tidak menggunakan obat, jelaskan kepada klien : jenis obat (nama, warna dan bentuk obat), dosis yang tepat untuk klien, waktu pemakaian, efek yang dirasakan klien, anjurkan klien :minta dan menggunakan obat tepat waktu, lapor ke perawat atau dokter jika mengalami efek yang tidak biasa, beri pujian terhadap kedisiplinan klien menggunakan obat.
18
E. Implementasi
Tindakan keperawatan yang dilakukan hari Kamis tanggal 25 April 2013 adalah Strategi Pelaksanaan I : bina hubungan saling percaya, mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan yang muncul pada klien, mengidentifikasi tanda dan gejala yang muncul pada saat marah, mengidentifikasi akibat yang ditimbulkan pada saat marah. Menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan, membantu klien mempraktekkan latihan cara mengontrol perilaku kekerasan nafas dalam. Respon klien yaitu klien meu membina hubungan saling percaya dengan perawat, klien mengatakan jengkel kepada keluarganya, klien mengatakan bila merah maka klien mengamuk, klien tampak bersedia diajarkan tehnik mengontrol marah dengan tarik nafas dalam.
Tindakan keperawatan yang dilakukan hari Jum’at tanggal 26 April 2013 adalah Strategi Pelaksanaan II dan Strategi Pelaksanaan III yaitu membantu klien dalam memilih dan mempraktikkan cara mengontrol perilaku kekerasan yaitu dengan pukul bantal berbicara yang baik. Respon klien yaitu klien mengatakan bersedia diajarkan tehnik mengontrol marah dengan tehnik pukul bantal dan berbicra yang baik.
Tindakan keperawatan yang dilakukan hari Sabtu tanggal 27 april 2013 adalah Strategi Pelaksanaan IV yaitu membantu klien dalam memilih dan mempraktikkan cara mengontrol perilaku kekerasan yaitu beribadah dan menganjurkan klien untuk memasukkan cara yang dipilih ke jadwal harian klien untuk dilatih setiap hari. Respon klien yaitu klien mengatakan bersedia
19
diajarkan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan cara beribadah, klien bersedia memasukkan tehnik mengontrol marah dengan tarik nafas dalam , pukul bantal, berbicara yang baik dan beribadah ke dalam jadwal harian untuk dilatih setiap hari.
F. Evaluasi
Setelah dilakukan tindakan implementasi selama 3 x 15 menit didapatkan evaluasi hari Kamis 25 April 2013 pada pukul 10.00 WIB untuk diagnosa yang pertama Strategi Pelaksanaan I diperoleh data subyektif: klien mau berjabat tangan dan mau untuk memperkenalkan dirinya, klien mengatakan kesal kepada keluarganya, klien mengatakan mengamuk saat kesal karena tidak dibelikan sepeda motor kesukaanya dan membakar sepeda motor miliknya. Data obyektif: klien tampak mau berjabat tangan dan membina hubungan saling percaya pada perawat, klien tampak mau menyebutkan penyebab perilaku kekerasannya muncul, klien menjawab semua pertanyaan, ada kontak mata, klien mau menyebutkan perilaku kekerasan yang dilakukan, klien mau memperhatikan mengontrol marah dengan tarik nafas dalam dan memasukkan ke dalam jadwal harian untuk dilatih setiap hari. Assessement: Klien mampu mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan yang muncul pada klien, mengidentifikasi tanda dan gejala yang muncul pada saat marah, mengidentifikasi akibat yang ditimbulkan pada saat marah dan mendemonstrasikan cara mengontrol marah dengan cara pertama yaitu tarik nafas dalam. Planning, bagi klien anjurkan
20
klien untuk melakukan cara mengontrol marah dengan cara pertama yaitu tarik nafas dalam, dan memasukkan kedalam jadwal harian, bagi perawat evaluasi cara mengontrol marah yang pertama yaitu tarik nafas dalm, Lanjut cara mengontrol marah yang kedua dan ketiga yaitu pukul bantal dan berbicara baik dengan orang lain.
Hari Jum’at, 26 April 2013 pukul 10.00 WIB untuk Strategi Pelaksanaan II dan Strategi Pelaksanaan III diperoleh data subyektif: klien mengatakan sudah mencoba cara mengontrol marah dengan cara pertama yaitu tarik nafas dalam. Data subyektif: klien mengatakan mau berlatih cara mengontrol marah dengan cara yang kedua dan ketiga yaitu dengan pukul bantal dan berbicara yang baik dengan orang lain. Klien mengatakan mau memasukan latihan mengontrol marah dengan pukul bantal dan berbicara yang baik ke jadwal harian. Data obyektif: klien tampak kooperatif , wajahnya tegang, suara keras dan nadanya tinggi, klien tampak mempratekkan cara mengontrol marah dengan cara kedua yaitu pukul bantal dan berbicara yang baik. Assessment: klien mampu mempraktekkan cara mengontrol marah yang kedua dan ketiga yaitu pukul bantal dan berbicara baik dengan orang lain. Planning, bagi klien anjurkan klien untuk memasukan cara mengontrol marah dengan tarik nafas dalam dan pukul bantal dan berbicara yang baik dengan memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian, bagi perawat evaluasi dan optimalkan cara mengontrol marah satu yaitu tarik nafas dalam dan cara kedua dan ketiga yaitu pukul bantal dan berbicara yang baik dengan orang lain, lanjutkan cara keempat.
21
Hari ketiga Sabtu, 27 April 2013 pada pukul 10.00 WIB untuk Strategi Pelaksanaan IV diperoleh data subyektif: klien mengatakan sudah bisa cara mengontrol marah dengan beribadah, klien mengatakan sudah memasukan dalam jadwal kegiatan harian. Data obyektif: klien kooperatif dan wajah tegang, klien sudah mempraktikan cara mengontrol marah dengan cara keempat yaitu dengan cara beribadah, klien tampak memasukan cara tersebut kedalam jadwal kegiatan harian. Assessment: klien bisa mengontrol marah dengan cara keempat yaitu dengan beribadah. Planning, bagi klien anjurkan klien memasukan jadwal kegiatan harian, bagi perawat evaluasi dan optimalkan cara mengontrol marah yang pertama yaitu tarik nafas dalam,cara mengontrol marah kedua yaitu pukul bantal lanjutkan,cara mengontrol marah yang ketiga yaitu berbicara yang baik dan cara mengontrol marah yang keempat yaitu beribadah, Lanjut cara yang kelima yaitu cara minum obat.
22 BAB III
PEMBAHASAN DAN SIMPULAN
A. Pembahasan
Bab III ini penulis akan menguraikan kesenjangan antara konsep teoti dengan resume keperawatan yang merupakan kasus nyata dengan masalah gangguan “perilaku kekerasan pada Tn.S di Ruang Pringgondani Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta Tahun 2013 “ pada tanggal 25-27 April 2013 dari tahap pengkajian sampai dengan tahap evaluasi
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan di mana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif (Iyus,2007).
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan, tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien (Kusumawati dan Hartono, 2010). Pengkajian pada klien, penulis menggunakan teori proses perawatan jiwa yaitu pengkajian identitas klien, identitas penanggung jawab, alasan masuk, faktor predisposisi, pemeriksaaan fisik, psikososial,
23
status mental, kebutuhan persiapan pulang, mekanisme koping, masalah psikososial dan lingkungan, data penunjang dan terapi (Arif, 2004). Dalam tehnik pengkajian penulis menggunakan teori manifestasi klinis perilaki kekerasan yaitu wajah tegang, terjadi peningkatan volume suara, pandangan tajam (Ade, 2011).
Teknik pengkajian yang dilakukan penulis adalah dengan cara wawancara dengan klien (autoanamnesis). Dalam tehnik pengkajian penulis tidak menggunakan teori pengkajian secara (alloanamnesis) dikarenakan penulis tidak mengetahui orang terdekat klien dan penulis tidak mencantumkan nama dokter yang menangani klien.
Setelah dilakukan pengkajian pada Tn.S secara garis besar ditentukan dari data subyektif dan obyektif yaitu Tn. S mengatakan kesal dengan keluarganya karena tidak bersedia membelikan sepeda motor kesukaannya. Tn. S mengatakan jika dirinya marah maka dia mengamuk di rumah, klien tampak kesal. Terdapat manifestasi klinis yang muncul pada klien yaitu wajah tegang, suara keras dengan nada tinggi. Tanda gejala yang muncul pada Tn.S sesuai dengan teori yang di cantumkan oleh penulis yaitu terjadi peningkatan volume suara, wajah tegang . Berdasarkan pengkajian diatas maka dapat disimpulkan apabila mengalami gangguan jiwa maka akan timbul perilaku kekerasan yang akan membuat seseorang tersebut dapat bertindak sesuka hatinya tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi.
24
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah merupakan suatu pernyataan masalah keperawatan klien yang mencakup baik respon sehat adaptif atau maladaptif serta stresor yang menunjang (Kusumawati dan Hartono, 2010).
Menurut Arif (2004), pohon masalah pada resiko perilaku kekerasan (core problem) dapat mengakibatkan seseorang beresiko melakukan tindakan mencederai diri sendiri, orang lain atau lingkungan. Hal ini dapat terjadi karena beberapa penyebab yaitu gangguan konsep diri: harga diri rendah, gangguan pemeliharaan kesehatan, ketidakmampuan keluarga merawat klien di rumah.
Data yang diperoleh dari Tn.S yaitu perilaku kekerasan yang disebabkan oleh mekanisme koping maladaptif yang didukung oleh data subyektif klien mengatakan kesal dengan keluarganya karena tidak bersedia membelikan sepeda motor kesukaannya dan membakar sepa motor miliknya, data obyektif: klien tampak kesal, wajah tegangdan suara keras. Kemudian dapat beresiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan yang didukung data subyektif klien mengatakan kesal kepada keluarganya yang tidak bersedia membelikan sepeda motor kesukaanya, kemudian klien mengamuk dan membakar sepeda motornya, data obyektif klien tampak kesal saat bercerita, wajah merah, nada tinggi. Berdasarkan data yang diperoleh bahwa pohon masalah yang terjadi pada Tn.S sama dengan teori yang dituliskan yaitu penyebab dari perilaku
25
kekerasan (core problem) adalah mekanisme koping tidak efektif sehingga dapat beresiko perilaku mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan, dan menyebabkan resiko perilaku kekerasan pada Tn.S dapat muncul ketika dirinya sedang marah.
3. Perencanaan Keperawatan
perencanaan keperawatan adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tujuan yang berpusat pada klien dan hasil yang diperkirakan ditetapkan dan intervensi keperawatan dipilih untuk mencapai tujuan tersebut (Potter dan Perry, 2006).
Rencana tindakan yang dilakukan penulis adalah bina hubungan saling percaya, mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan, mengidentifikasi tanda - tanda perilaku kekerasan, mengidentifikasi jenis perilaku kekerasan, mengidentifikasi akibat dari perilaku kekerasan, mengidentifikasi cara yang dilakukan klien ketika perilaku kekerasan muncul, ajarkan cara mengontrol perilaku kekerasan, ajarkan kepada keluarga cara merawat klien dengan perilaku kekerasan, anjurkan pada klien menggunakan obat yang benar. Kriteria hasil yang diharapkan adalah klien dapat membina hubungan saling percaya, klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan yang dilakukannya, klien dapat mengidentifikasi tanda - tanda perilaku kekerasan, klien dapat mengidentifikasi jenis perilaku kekerasan yang pernah dilakukanya, klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan, klien dapat
26
mengidentifikasi cara konstruktif dalam mengungkapkan kemarahan, klien dapat mendemontrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan, klien mendapatkan dukungan keluarga untuk mengontrol perilaku kekerasan, klien menggunakan obat sesuai program yang telah di tetapkan.
4. Implementasi
Implementasi adalah tahap dimana perawat memulai kegiatan dan melakukan tindakan – tindakan perawatan dalam mengatasi masalah klien, tugas perawat pada saat ini adalah melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan pada tahap pra interaksi dan melanjutkan tahap orientasi (Potter dan Perry, 2006). implementasi pada Tn. S dilakukan selama tiga hari pada tanggal 25 – 27 April 2013 di bangsal pringgondani, Rumah Sakit Jiwa Surakarta. Implementasi yang dilakukan penulis untuk mengatasi resiko perilaku kekerasan pada Tn.S yaitu membina hubungan saling percaya dan melakukan pengkajian mulai dari identitas klien, alasan masuk, faktor predisposisi, pemeriksaan fisik, status mental, masalah psikososial dan lingkungan, mekanisme koping dan tingkat pengetahuan klien. Melakukan proses keperawatan dari TUK 1 sampai 7 yaitu mengidentifikasi terhadap klien tentang penyebab terjadinya marah, mengidentifikasi tanda-tanda saat marah, mengidentifikasi akibat dari marah yang dilakukan, mengajarkan cara mengontrol marah yang benar yaitu teknik pukul bantal sebagai cara yang dipilih klien. Dalam teori implementasi penulis tidak bisa
27
melakukan proses keperawatan TUK 8 dikarenakan penulis tidak bertemu keluarga klien.
5. Evaluasi
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi dua, yaitu evaluasi proses atau formatif dilakukan setiap selesai melakukan tindakan, evaluasi hasil atau sumatif dilakukan dengan membandingkan respon klien pada tujuan khusus dan umum yang telah ditentukan (Kusumawati dan Hartono, 2010).
Hasil evaluasi pada tanggal 25 April 2013 sampai 27 April 2013 yang didapat dari Tn.S adalah data subyektif: klien mengatakan mengamuk karena tidak dibelikan sepeda motor kesukaanya dan membakar sepeda motor miliknya. Data obyektif klien tampak mau berjabat tangan dan membina hubungan saling percaya pada perawat, klien tampak mau menyebutkan penyebab perilaku kekerasannya muncul, klien menjawab semua pertanyaan, ada kontak mata, klien mau menyebutkan perilaku kekerasan yang dilakukan, klien mengatakan mau untuk diajari cara mengontrol marah dengan cara tarik nafas dalam, pukul bantal, berbicara baik dengan orang lain dan beribadah dan klien tampak mau mempraktekannya. Assesement : klien mampu mempraktekkan cara mengontrol marah dengan tarik nafas dalam, pukul
28
bantal, berbicara baik dengan orang lain dan beribadah. Planning, bagi klien anjurkan klien untuk melakukan cara mengontrol marah dengan cara tarik nafas dalam, pukul bantal, berbicara baik dengan orang lain dan beribadah dan memasukkan kedalam jadwal harian, bagi perawat evaluasi cara mengontrol marah dengan tarik nafas dalam, pukul bantal, berbicara baik dengan orang lain dan beribadah. Rencana selanjutnya penulis menyerahkan tindak lanjut kepada perawat jaga yang berada di rumah sakit agar melanjutkan SP V yaitu minum obat dan membuat jadwal kegiatan.
B. Simpulan
Kesimpulan penulis didapatkan setelah melakukan asuhan keperawata pada Tn.S dengan perilaku kekerasan adalah sebagai berikut :
1. Dalam pengkajian pada Tn.S pengumpulan data penulis menggunakan metode wawancara (autoanamnesis) dan mengobservasi klien yaitu dari segi penampilan, pembicaran, perilaku klien, kemudian ditambah dengan menelaah catatan medik dan catatan keperawatan. Dalam pengkajian ini penulis mengkaji data dari tanggal klien masuk RSJD, identitas klien, penanggung jawab alasan masuk, faktor predisposisi, faktor prestisipitasi, pemeriksaan fisik keluhan fisik, psikososial, (genogram dan analisa genogram) konsep diri, hubungan sosial, spiritual status mental, kebutuhan persiapan pulang, mekanisme koping, masalah psikososial dan lingkungan, pengetahuan klien, aspek penunjang.
29
2. Dalam diagnosa keperawatan pada pohon masalah yang menjadi care problem dari perilaku kekerasan adalah perilaku kekerasan, yang menjadi akibat adalah resiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan, dan penyebab dari perilaku kekerasan adalah gangguan konsep diri: harga diri rendah. Data yang diperoleh dari Tn. S sesuai dengan teori yang ada diatas yaitu yang menjadi care problem adalah perilaku kekerasan yang didukung dengan data subyektif: klien mengatakan kesal dengan keluarganya karena tidak dibelikan sepeda motor kesukaanya, klien mengatakan jika dirinya marah maka mengamuk di rumah dan data obyektif: klien tampak kesal, wajah merah, suara dengan nada tinggi. 3. Intervensi yang dilakukan pada Tn.S yaitu, tujuan umum: klien dapat
mengontrol marah agar tidak ada perilaku kekerasan yang muncul. Tujuan khususnya yaitu klien dapat membina hubungan saling percaya, klien dapat menyebutkan penyebab perilaku kekerasan, klien dapat mengidentifikasi tanda – tanda perilaku kekerasan, klien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah dilakukan, klien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan, klien dapat mempraktikkan cara mengontrol perilaku kekerasan, klien bersedia minum obat sesuai program yang dianjurkan, klien memasukkan cara mengontrol perilaku kekerasan ke dalam jadwal harian.
4. Implementasi yang dilakukan penulis untuk mengatasi perilaku kekerasan pada Tn.S yaitu membina hubungan saling percaya dan melakukan pengkajian mulai dari identitas klien, alasan masuk, faktor
30
predisposisi, pemeriksaan fisik, status mental, masalah psikososial dan lingkungan, mekanisme koping dan tingkat pengetahuan klien. Melakukan proses keperawatan dari TUK 1 sampai 7 yaitu mengidentifikasi terhadap klien tentang penyebab terjadinya marah, mengidentifikasi tanda-tanda saat marah, mengidentifikasi akibat dari marah yang dilakukan, mengajarkan cara mengontrol marah yang benar yaitu tarik nafas dalam, teknik pukul bantal, berbicara yang baik dengan orang lain dan beribadah sebagai cara yang dipilih klien.
5. Evaluasi yang didapat dari Tn.S adalah klien bisa membina hubungan saling percaya kepada perawat, bersedia menyebutkan penyebab perilaku kekerasan, dapat mengidentifikasi tentang penyebab terjadinya marah, megidentifikasi tanda-tanda saat marah, mengidentifikasi akibat marah dan dapat mempraktekkan cara mengontrol marah yang diajarkan yaitu tarik nafas dalam, pukul bantal, berbicara baik dengan orang lain dan beribadah.
C. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis memberikan saran yang diharapkan bermanfaat, sebagai berikut:
1. Rumah sakit hendaknya menyediakan dan memfasilitasi apa yang dibutuhkan oleh klien untuk penyembuhan klien.
31
2. Institusi pandidikan diharapkan memberikan bimbingan klinik kepada mahasiswa secar opimal sehingga mahasiswa mendapakan gambaran dengan baik dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa.
3. Keluarga hendaknya menjenguk klien dan memberikan dukungan kepada klien untuk penyembuhan klien.
4. Perawat diharapkan menyebutkan komunikasi terapeutik secara kualitas maupun kuantitas, sehingga membantu mempercepat penyembuhan pada klien.
DAFTAR PUSTAKA
Arif Setiadi. 2006. Skizofrenia Memahami Dinamika Keluarga Klien. Penerbit : refika Aditama ; Bandung
Arumwardhani A . 2011 . Psikologi Kedokteran . Penerbit : Perpustakaan Nasional : Yogyakarta
Catatan Medical Record, 2002. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta.
Casmita.T. 2008. Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Perilaku Kekerasan. www. jurnal. perilaku – kekerasan. com diakses tanggal 10 April 2012. Damaiyanti M. 2010. Komunikasi Terapeutik dalam Prakik Keperawatan.
Penerbit: Trans Info Media. Jakarta.
Herman Ade . 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawaan Jiwa. Penerbit : Nuha Medika ; Yogyakarta
Kelliat Budi A. 2011. Manajemen Kasus Gangguan Jiwa. Penerbit Buku Kedokteran: EGC. Jakarta.
Kusumawati F. 2010. Buku Ajar keperawatan Jiwa. Penerbit Salemba Medika:. Jakarta.
Kompas. com. 2010. Departemen Kesehatan RI, Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat. www. kompas. com. diakses tanggal 15 April 2012.
Nanda. 2005. Definisi Dan Klasifikasi. Penerbit Buku: Prima Medika. Jakarta. Potter & Perry. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan, volume 1, edisi 4.
EGC: Jakarta.
Siti A. 2010. Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Perilaku Kekerasan. www. jurnal. perilaku – kekerasan. com. diakses tanggal 10 April 2012.
Stuart W. 2007. Buku Saku Keperawaan Jiwa, Edisi 5. Penerbit Buku Kedokeran : EGC. Jakarta
Widodo Arif. 2004. Buku Ajar Keperawatan II (Aplikasi Asuhan Keperawatan Mental Psikiatri).
Yosep Iyus. 2009. Keperawatan Jiwa. Penerbit Buku: Pt Refika Aditama. Bandung.