• Tidak ada hasil yang ditemukan

CATATAN RAPAT P ANITIA KHUSUS RUU TENT ANG PENDIDIKAN NASIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "CATATAN RAPAT P ANITIA KHUSUS RUU TENT ANG PENDIDIKAN NASIONAL"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

9. Rapat ke-8 Tahun Sidang Masa Persidangan Rapat ke-Jenis Rapat De.ngan Sifat Rapat Harl, Tanggal Wakt u Tempat Ketua Rapat Sekretaris Ac a r a Had i r ANGGOTA TETAP : 1. dr. Bawadiman CATATAN RAPAT

P ANITIA KHUSUS RUU

TENT ANG PENDIDIKAN NASIONAL

1988 - 1989. II

10

Raker Pansus Ke- 8 Mendikbud Terbuka

Rabu, 7 Desember 1988 09.00 WIB.

Etadharta Samiti I Gedung MPR-RI dr·. Bawadiman

Drs. Noer Fata

Pembahasan DIM RUU tentang Pendidikan Nasional Pansus DPR-RI.

40 dari 48 orang Anggota Tetap; 11 dari 23 orang Anggota Pengganti Pemerintah :

Mendikbud beserta Staf.

21. H.M. Ali Sri Inderadjaja 2. H. Sulaeman Tjakrawiguna, S.H. 22. Ir. Soewardjo Adikoesoemo

3. H. Suryo Mardjiyo 23. Har son o

4. H. Imam S wan 24. Dra. Ny. Syarnsiar

5. B.N. Marbun, S.H. 25. H. Djamaluddin Tambunan, S.H. 6. Ir. A. Moestahid Astari 26. Drs. Moz.es Adisoerjo Soenarjo 7. Ki. Soeratman , 27. K.H.A. Syarifuddin Sapari 8. H. Obos Syabandi Purwana 28. Sahuntung Sastrohamidjojo 9. Drs. Dewa Putu Tengah 29. Basas Suyono

10. Drs. Osman Simandjuntak 30. Drs. Made Sudiartha

11. Soegiyono 31. A.R Lubis

12. H. Ismael Hassan, S.H. 32. Soebagjo, S.H 13. H. Basyuni Suriamihardja 33. Pudjo Bintoro

14. Drs. DS. Is~c Saujay 34. H. Ismail Hasan Metareum, S.H 15. Anton Priyatno, S.H. 35. Drs. H. Zarkasih Nur

16. Drs. H. Iman Soedarwo PS 36. Sukardi Effendi, S.H 17. Drs. H. Hasanudin 37. Drs. Suandi Hambali 18. Mohammad Roem, S.H. 38. K.H. Sansuri Badawi

19. H. Acmad H.M.S., S.H. 39. H. Soetardjo Soerjogoeritno, BSc.

(2)

ANGGOI' A PENGGANTI :

1. Dra. Ny. Inne E.A. Soekaryo 7. J.H.

Salu

2. H. CH. Muhammad Muas 8. HJ. Sanggor

3. Ny. Rll Madahera Hertasning 9. Muhammad Yusuf Husein 4. Drs. H. Hoesni Thamrin Assaat, S.H. 10. Ny. Aisyah Aminy, S.H.

5. Drs. Bambang Wahyoedi 11. Drs. Subagyo

6. Warsito Poespojo, S.H.

PEMERINT AH :

1 Prof. Dr. Fuad Hassan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) 2. Bambang Triantoro 3. Harsya W. Bachtiar 4. W.P. Napitupulu 5. Pug e r 6. Was kit o 7. Moegiadi 8. Soetanto Wirjoprasonto 9. Budihardjo 10. E. Soeharya 11. Sugeng Karno 12. Soejoto 13. D. Budi Kencono,S.H. 14. Ny. Mardiyah Santoso 15. Bambang Haryadi, S.H. 16. Mardjuki, SH

KETUA RAPAT (cir. Bawadiman):

Bapak-Oapak dan Saudara-saudara sekalian yang saya hormati, Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Menurut catatan Sekretariat Pansus korum telah terpenuhi dan kami lihat semua Fraksi sudah hadir, pihak Pemerintah juga sudah hadir, maka dengan mengucap Bismilla· hirrahmanirrahim, Rapat Pansus karni nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

( KE TOK PALU )

Terima kasih dan atas kehadiran lbu-ibu, Bapak·bapak sekalian mudah-mudahan isti-rahat kita kemarin satu hari bisa menambah kesegaran kita dan bisa memupuk semangat kekitaan dan kebersamaan kita yang telah kita wujudkan selama ini.

Ingin Pimpinan mengungkap kembali bahwa pada· hari Senin kita telah membahas pasal·pasal di dalam ketentuan pidana yang semuanya diserahkan ke Panja dan dipaketkan dengan pasal-pasal yang terkait kepada pasal ketentuan pidana di dalam RUU yaitu Pasal 7, Pasal 22, Pasal 31 ayat (1 ), Pasal 32 ayat (1) dan Pasal 38.

Karena kita telah berbicara Pasal 22 maka Pimpinan mengharapkan untuk lengkapnya pagi hari ini kita lanjutkan saja Pasill 23 dan Pasal 24 yaitu halaman 29 dan halaman 30, dengan demikian nanti satu rangkaian masalah Pendidikan Tinggi dalam kaitannya Bab Jenjang Pendidikan itu telah dapat diselesaikan.

Kita bicara dulu Pasal 23 RUU halaman 29, kalau kit a lihat disini bahwa yang menang-gapi adalah FKP kelihatannya hanya penyempurnaan kalimat barangkali dan FPDI, sedang. kan F ABRI dan FPP tidak ada usulan perubahan secara nyata di dalam DIM nya ini.

(3)

Oleh karena itu kepada FPDI' apakah kedudukan Pasal 23 ini seperti halnya pasal 22 yang kita bicarakan pada hari Senin,jadi mudah-mudahan memang demikian sehingga nanti kita bisa enak membahasnya, kami persilakan FPDI.

FPDI (A. Tyas Satijono Soenarto) :

Saudara Pimpinan dan Sidang yang kami hormati,

Sebagaimana Pasal 22 yang telah kita bicarakan pada hari yang lalu, hari Senin yang lalu, sejalan dengan pasal itu Pasal 23 Fraksi kami tidak keberatan untuk diselaraskan penyelesaiannya dengan Pasal 22.

Terima kasih. KETUA:

Terima kasih, artinya bahwa Pasal 23 ini menjadi hidup kembali. Terima kasih atas kebesaran jiwa dari rekan-rekan FPDI, sehingga kami persilakan sekarang

FKP

untuk me-nyampaikan usulannya

FKP (Drs. Oesman Simandjuntak) :

Saudara Ketua dan Saudara Menteri dan rekan-rekan Anggota Pansus yang terhormat, di dalam usulan dari FKP sebenarnya hanya soal~oal yang tidak begitu prinsipial hanya kami ingin mempergunakan penggantian sebutan menjadi gelar sebagaimana sering juga telah kami kemukakan dan sebutan keilmuan kami gantikan dengan akademi, sehingga ma-salahnya hanya penyempurnaan dari pada istilah dan kalimat sebagaimana kami sempurna-kan dari RUU yang ada.

Dengan demikian bunyinya Pasal 23 itu ialah "penggunaan gelar akadernik atau pro-fesional yang diperoleh dari perguruan tinggi di luar negeri harus digunakan dalam bentuk asli sebagaimana diperoleh dari perguruan tinggi yang bersangkutan secara lengkap dan atau dalam bentuk singkatan.,.

Ini Saudara Ketua yang perubahan kecil yang kami usulkan. Terima kasih.

KETUA:

Terima kasih dari FKP atas usulannya meskipun F ABRI dan FPP tidak menyampaikan usulan dalam arti kata perubahan, tapi kami mohon juga urun rembugnya, kami persilakan dari FABRI.

FABRI (Sahuntung Sastrohamidjojo):

Saudara Pimpinan menanggapi Pasal 23 jadi ini FABRI kita kembali juga meninjau pasal-pasal sebelumnya karena di dalam perumusan yang disarankan oleh FKP sebenar-nya kita melihat hasebenar-nya masalah penekansebenar-nya pada kata penggunaan gelar Pak dan pada waktu itu masih belum perlu kesepakatan kalau tidak salah dulu, masih belum tercapai ke-sekapakatan mengenai gelar itu. Apakah ini mau dituntaskan sama sekali? Oleh karena itu karni juga menginginkan pendapat dari pihak Pemerintah.

Sebenarnya kami menilai ini hanya merupakan suatu redaksional tapi karena ada satu gelar yang belum disepakati bersama, maka ini kami mohon ada suatu penyelesaian sekali-gus kalau itu memang diterima ya kita pakai semuanya, kalau tidak ya menggunakan rumu-san yang masih terdapat dalam RUU, demikian pendapat dari kami.

(4)

KETUA:

Terima kasih. Sebelum kami serahkan Pemerintah sekaligus kami mohon urun rembug-nya dari FPP.

FPP (H. Ismail Hasan Metarewn, S.H.)

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Saudara Pimpinan, Saudara Menteri dan Staf, hadirin yang kami hormati, kebetulan kami diminta bicara sesudah F ABRI barangkali agak sedikit terpengaruh, ada 2 hal yang ingin kami kemukakan disini, disini dalam penjelasan dari Pasal 23 Pemerintah merumus-kan masalah "keilmuan dan profesional'' dihubungmerumus-kan dengan keahlian, kami ingin su-paya ini agak lebih jelas bagi kita dan nanti dalam merumuskan barangkali perlu diberikan gambaran yang lebih konkret mengenai permasalahan keilmuan dan profesional ini terma-suk contoh-contohnya b arangkali kalau kami agak sulit nangkap barangkali nan ti.

Kemudian yang kedua padanan dari gelar di luar negeri, gelar yang diterima di luar ne-geri apakah mau kita konkretkan padanannya di sini dan apa saya kemarin secara agak de-kat sedikit dari FPP kami menghubungkan dengan kamus, sebenarnya itu bukan begitu yang konkret sebenarnya, tapi berhubungan juga dengan kamus yaitu umpamanya strata I pada kita yaitu dari luar negeri bagaimana ?

Kemudian Bachelor dari luar negeri apa pada kita, ini perlu kita jelaskan maka saya bilang terpengaruh tadi dengan F ABRI. Dalam barangkali lebih konkret lebih baik kalau kita menertibkan, lebih sempurna kita tertibkan lebih baik, karena itu maka kami ingin penjelasan dari pihak Pemerintah serta perencanaan ini dan kami tidak memberi komentar apa-apa karena memang sungguh kurang mengerti, saya kira demikian.

Terima kasih. KETUA:

Terima kasih atas pandangan dari FPP kami persilakan dari pihak Pemerintah disarn-ping masalah sebutan dan gelar itu sendiri bagaimana tadi kesepadanan antara yang diwakili sebenarnya.

Terima kasih.

PEMERINTAH/MENDIKBUD (Prof. Dr. Fuad Hassan)

Terima kasih Saudara Ketua Sidang Pansus dan Pansus yang saya hormati, Assalarnu-'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pertama mengenai masalah "gelar at au sebutan" kalau ingin dilengkapi sekali itu ada 3 pengertian lalu gelar, sebutan dan pangkat, mohon maaf say a menggunakan istilah asingnya untuk membedakan dulu titel ini terjemahannya ge!ar, kemudian degree yang dianggap diterjemahkan dengan Sebutan lalu Rank. Jadi ada pendidikan yang menghasilkan lulusan-nya dengan rank. tertentu, pangkat tertentu. Misallulusan-nya barangkali nachoda kelas berapa gitu, ini pangkatnya nampak pada tanda-tanda pangkat begitu. Lalu sebutan dan degree ini sebetulnya soal istilah saja dari informasi yang terhimpun sejak sejarah merumuskan RUU ini rupa-rupanya dulu ada yang keberatan menggunakan sebutan gelar karena gelar dikaitkan dengan gelar-gelar bangsawan dan sebagainya. Jadi dianggap agak feodalistis begitu. Lalu ditaw:i°rkan sebutan penggantinya eh istilah penggantinya sebutan. Kalau me-nurut hemat kami masalah istilah dan tradisi saja, kalau memang disebut gelar juga tidak usah selalu gelar kebangsawanan bisa saja gelar itu gelar akademis, tapi kalau keberatan

(5)

seolah-olah sebutan gelar itu mengesankan feodalisme lalu mau diganti sebutan juga tidak apa-apa sebetulnya karena yang jelas di sini adalah sebutan khusus yang dianggap mewakili diselesaikannya satu studi oleh seseorang pada tingkat sarjana, itu saja.

Jadi pihak Pemerintah tidak ada keberatan apakah akan dipilih kata gelar atau kata sebutan, sementara itu kata gelar sudah memasyarakat. Jadi Guru Besar itu gelar jabatan, dokter itu gelar akademik itu, jadi sampai sekarang gelar-gelar ini di mana-mana dipa-kai, tapi kalau dianggap ini terlalu terkait pada sebutan feodal diganti sebutan juga boleh, tidak ada keberatan. Yang je!as dibedakan adalah rank ini kaitannya dengan pendidikan profesional. Pendidikan-pendidikan yang menyelesaikan dan banyak ini pendidikan kedi-nasan yang menyelesaikan peserta didiknya untuk satu pangkat ini tidak bergelar, tapi pangkat, kepangkatan. Kedua mengenai penyamaan gelar dengan luar negeri, oleh karena di luar negeri sendiri terns menerus juga terjadi perubahan dan pengalaman sampai hari ini juga di banyak negara maju perubahan-perubahan tentang ,gelar· dan penyelesaian satu bi-dang_studi ini berubah-ubah, maka kita lebih cenderung untuk mengatur sedemikian rupa sehingga tiap orang kalau menggunakan gelarnya itu gelar asli yang diberikan oleh institusi tempat dia belajar. Jadi misalnya seorang yang mendapatkan gelar MA, ya dia mengguna-kan istilah MA, tidak diubah menjadi Drs. Dulu yang Drs. disini kalau ke luar negeri ganti MA, sekarang dengan sistim SI ini yang Bachelor dari luar negeri minta disamakan dengari yang Drs. Contoh lain di negeri Belanda baru terjadi perubahan ada THS (Techniesche Hoge School) Delft dan HTS (Hoge Technische School) kebetulan banyak mahasiswa kita disana antara lain dari Menristek yang mengirimlcan dua-dua ini. Di negeri Belanda sendiri tamatan THS itu mendapat gelar Ir., HTS tidak mendapat Gelar Ir., tapi kalau pulang ke-sini nanti dua-dua mengakunya sama begitu. Di Jerman sama saja dus ada Diploom Ir: dan sebagainya, lalu nan ti ada yang Universieits Ir. Jadi karena di luar negeri sendiri banyak perubahan-perubahan ada baiknya kita menentukan yang dipergunakan adalah gelar sebagaimana aslinya diterima. Di bidang pendidikan misalnya ada PhD dalam pendidikan. Ada juga ED dus Ed D (Education Doctor) ini kalau 1diubaht dua-dua jadi Doktor ya betul juga, tapi alangkah baiknya kalau dari cara penulisannya kita tahu yang diselesaikan ini PhD at au Ed D misalnya, itu sebabnya kita lebih cenderung mempertahankan pasal 23 adapun mengenai sebutan gelar atau istilah sebutan atau gelar itu terserah kami hanya mengkonstatir bahwa istilah gelar ini sudah cukup memasyarakat.

Sekian, t erima kasih.

KETUA:

Tadi ada satu pertanyaan dari FPP dikaitkan dengan sebutan keahlian barangkali mo-hon penjelasan.

PEMERINT AH :

Terima kasih Saudara Ketua saya pikir ada baiknya saran FKP kita pertimbangkan da-lam hal ini yaitu menggantinya bukan sebutan keilmuan tapi sebutan akademik, itu saya kira 1ebih baik.

Kalau sebutan prefosional yang kaitannya dengan rank dan sebagainya ini banyak pada sekolah-tiekolah kedinasan rnisalnya pendidikan pilot, nakhoda dan lain-lain yang di-bulatkan dengan kelas at au kepangkatan begitu. Dus sebutan akademik saya kira lebih baik dari pada keilmuan.

(6)

KEnJA:

Terima kasih pada Pemerintah yang telah memberikan penjelasannya kami kembali-kan kepada Fraksi khususnya FPP yang tadi menanyakembali-kan barangkali ada corrunent yang lain, kami persilakan.

FPP (H. Ismail Hasan Metarewn, S.H.) :

Saudara Pimpinan ini ada masalah sampingan jadinya apa nama sebutan atau gelar yang.,kita pakai baraitgkali perlu kita pertimbangkan lebih mendalam nampaknya Pak

Men-teri agak Iebih condong pada kalimat terakhir jadi condong kepada gelar dari pada sebut-an karena sudah memasyarakat. lni kesatu masalah sampingsebut-an tadi ysebut-ang kami tsebut-angkap, ke-mudian yang kedua perubahan istilah keilmuan yang akademik itu juga perlu kita pertim-bangkan karena kalau profesional dihubungkan dengan keilmuan barangkali lain pengertiannya, jadi ini yang kami tanyakan tadi, dengan penje!asan tadi baik kami ikut mempertimbangkannya.

Terima kasih. KETUA:

Terima kasih, dari FPDI masih ada yang akan menyampaikan pandangannya. FPDJ (A. Tyas Satijono Soenarto) :

Saudara Pimpinan dan Sidang yang kami hormati,

Setelah kami mendengarkan penjelasan Pemerintah dan kami lebih mendalami pen-Jelasan Pasal 23, maka sikap kami untuk menghidupkan kembali yang kami usulkan di-hapus itu memang tidak terlalu aneh, kemudian juga tentu saja kami akan berusaha untuk sederap dan selangkah dengan Fraksi-fraksi yang lain untuk menyelesaikan permasalahan yang sekarang kita hadapi, demikian tanggapan Fraksi kami.

Terima kasih. KETUA:

Terima kasih dari FPDI, kami persilakan dari FKP. FKP (Drs. Oesman Simandjuntak):

Terima kasih Saudara Pimpinan.

Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Menteri bahwa pengertian kami didalam istilah ini bersamaan sekali. Titik tolak berpikir kami juga untuk mengganti-kan sebutan menjadi gelar adalah karena gelar itu sudah memasyarakatmengganti-kan begitu. Dan pengganti yang dari pada keilmuan dengan akademik sebagaimana pernah kami kemuka-kan waktu membicarakemuka-kan Pasal 20 yaitu pendidikemuka-kan tinggi yang kami usulkemuka-kan ada 2 jalur yaitu jalur pendidikan akademik dan jalur profesional sehingga ada hubungannya dengan itu nanti didalam gelar dan sebutan itu. Oleh sebab itu kami rasa karena Pasal 20 itu juga telah kami bicarakan dan di Panjakan maka kaitannya dengan apa yang kami jelaskan tadi relevan malah sejalan dengan itu at as dasar itulah kami juga rnenyesuaikan Pasal 20 itu de-ngan pasal 23 ini sehingga kami mengusulkan kata sebutan itu diganti menjadi gelar dan keilmuan itu menjadi jalur akademik.

Terima kasih Saudara Ketua.

(7)

KETUA:

Hanya mohon izm diperkenankan Pimpinan meluruskan bahwa justru pada waktu bicara jalur itu FKP itu tidak mcnghendaki adanya istilahjalur. Hanya permasalahannya di

Panjakan. Supaya kita kembali ke permasalahannya. Oleh karena itu usul FKP juga akhirnya juga mohon untuk didalami lagi barangkali di Panja dan sebagainya. Kami persilakan

FABRI.

F ABRI (Sahuntung Sastrohamidjojo) :

Saudara Pimpinan, setelah mendengar penjelasan dari Pemerintah khususnya mengenai istilah gelar dan dikatakan bahwa memang gelar sudah memasyarakat dus pengertian gelar bagi kami tidak ada masalah sebenarnya kalau memang itu toh berpangkal kepada kebiasa-an ykebiasa-ang sudah melembaga pada masyarakat ini bisa kita terima dkebiasa-an dengkebiasa-an demikikebiasa-an tentu ada konsekuensinya terhadap pasal-pasal yang lain yang sebelumnya sudah disebutkan dengan Sebutan. Sudah kami sampaikan bahwa di dalam Pasal 21 disanajuga ada menyebut sebutan .. jadi tentunya kalau in memang diterima karena sesuai dengan pengertian tadi bahwa gelar perlu kita tuntaskan supaya tidak ada 2 atau 3 istilah Pak ya dalam Undang-undang ini jadi semuanya tentunya mohon disesuaikan, sebab untuk ABRI sendiri gelar itu mempunyai arti yang lain. Jadi gelar pasukan itu adalah untuk menggelar pasukan dalam satu opstelling dalam rangka pertahanan. Jadi ini yang perlu juga kita ketahui dus gelar ini memang ada macam-macam tetapi karena iniafspraak kalau semua setuju gelar adalah se-perti gelar sebutan tadi kami tidak ada keberatan sama sekali.

Terima kasih.

KETUA:

Terima kasih, Pak, malah di kampung saya gelaran itu tikar baiklah karena banyak rekan-rekan pada prinsipnya ingin mendalami dan Pasal 21 pun ingin didalarni waktu itu diserahkan Panja barangkalijuga tidak keberatan untuk di Panja-kan.

PEMERINTAH :

Terima kasih Saudara Ketua setelah membaca kembali dan mendengar masukan-ma-sukan ini memang_ barangkali ada kemungkinan dua-dua disebutkan tadi saran dari FPP dan penjelasan dari F ABRI barangkali lebih tepat gelar akademik dan sebutan profesi-onal, sebab profesional itu misalnya apoteker, itu sebutan profesiprofesi-onal, masinis itu sebutan profesional bukan gelar. Jadi kalau misalnya disetujui dan ini menjadi kompromi yang baik dari semua saran penggunaan gelar akademik dan sebutan profesional jadi dua-dua bisa diper~unakan. Masinis misalnya itu sebutan bukan gelar, nahkoda.

Terima kasih. KETUA:

Terima kasih, jadi masukan dari Pemerintah ini bisa menambah arahan dari pada nanti kita menjadikan Panja untuk membahas ini sehingga satu paket nanti dengan Pasal 21 dan sebagainya dan juga kaitannya dengan Pasal 22 terlepas darf pada kaitan dengan pidananya sesuai dengan RUU.

Terima kasih Pak,jadi sekali lagi Pemerintah setuju untuk di Panjakan. (KETOK PALU)

(8)

Pasal 23 di Panja-kan, 21 juga Panja waktu itu juga masalah ingin mendalami dulu sampai di mana posisi karena tempo hari ada .dari FPP Gelar Raden Mas, Mas Raden dan

sebagainya itu.

-Sekarang kita memasuki halaman 30 Pasal 24 di mana Pasal 24 ini ada 3 ayat dan ten-tunya terkait pada pasal-pasal di depannya di sini FKP ada usulan perubahan, FPP ada usulan perubahan demikan pula sikap dari FPDI, sedangkan kesepakatannya F ABRI apa-bila tidak ada komentar itu hakekatnya tidak berkeberatan karena permasalahannya adalah pada FPDI tidak bermaksud untuk apa tapi mohon kiranyajuga bisa mempunyai pandang-an seperti pasal-pasal ypandang-ang di deppandang-annya. Kami mohon FPDI.

FPDI (Djupri, S.H. ):

Saudara Pimpinan dan Sidang yang terhormat, di dalam usulan FPDI di sini ada catat-an dihapus itu semua dalam pikircatat-an bahwa kita berbicara soal Undcatat-ang-undcatat-ang ten tcatat-ang Po-kok-pokok sementara ini kami tidak keberatan kalau itu dihidupkan kembali seperti hal-nya pasal-pasal yang tadi kita sebutkan.

Terima kasih. KE TUA:

Terima kasih, setelah tidak berkeberatan untuk menghidupkan kembali apakah ada pandangan atau dari FPDI menyangkut materi dari Pasal 24 itu sendiri, kalau ada kami persilakan langsung.

FPDI (Djupri, S.H.): Sementara ini belum. KETUA:

Terima kasih Pak. Kami persilakan kepada FPP untuk menyampaikan usulannya. FPP (H. Ismail Hasan Metareum, S.H.):

Terima kasih Saudara Pimpinan, kami hanya sangat sedikit usu! yang kami sampaikan di sini jadi yang pertama sama dengan Pasal 21 ayat (2) ketinggalan tiknya yaitu mengenai masalah Sekolah Tinggi pada Pasal 20 kita melihat ada Sekolah Tinggi yang haknya sama didalam memberikan, meluluskan sarjana itu di Pasal 20 Ayat (2) kemudian di Pasal 21 ada ~alah ketik '!t-~i~!1ya kita barangkali akan mengubah, Pasal 21 Ayat (2) kurang juga Sekolah Tinggi sekarang terjadi lagi kurang yaitu saya kira yang ngetik itu lupa dia bahwa ini masuk mungkin, tapi barangkali juga tidak demikian, ka!au dia memberikan gelar Sekolah Tinggi maka berhak pula kalau kita menyebut kepada yang lain diberikan huruf besar dia juga di-berikan huruf besar, karena sama kami anggap demikian, tapi kalau memang salah ya ba-rangkali Bapak Menteri akan dapat menyampaikan, tapi logika kami begitu 20, 21, 24 ini sejajar jadi Seko!ah Tingginya masuk ke dalam jadi ini satu, jadi kami anggap kekurangan tik saja entah salah atau bukan salah ndak tahu tapi kekurangan.

Kemudian yang kedua ayat (2) nya sekarang kami ketahui bahwa Pemerintah sudah menjalankan suatu garis bahwa terhadap para Guru Besar diharapkan di samping kemam-puan ilmunya juga kemamkemam-puan akademiknya juga diharapkan prestasi tertentu, jadi barang-kali dari Lektor Kepala ke atas sudah dipraktekkan, diberikan ketentuan sekarang ini tidak bisa jadi Lektor Kepala ka!au tidak mengadakan penelitian umpamanya, atau membuat karya ilmiah, jadi apa yang sudah dilaksanakan sekarang ini oleh Pemerintah kami kira le-bih tepat kalau itu kita rumuskan di sini kalau kita terima, tapi kalau tidak lain soalnya,

(9)

karena itu kami mengusulkan supaya disamping kemampuan ditambah dengan istilah pres-tasi dalam hal ini kita tafsirkan umpamanya membuat karya ilmiah atau mengadakan pene-litian itu kita sebut prestasi di sini. Jadi di samping kemampuan akademiknya, prestasi akademiknya kita masukkan ke dalam; ini usul kami maka saya bialng agak kecil sekali yang kami ingin usulkan hanya 2 kata dari ayat (1) satu kata, ayat (2) satu kata, kemudian ayat (3) kami tidak mempersoalkan apa-apa karena memang ini perlu kita

pikir-kan lebih mendalam, maka kami nyerahpikir-kan saja kepada Sidang yang terhormat.

Terima kasih. KETUA:

Terima kasih atas usulan FPP, yaitu usulan terhadap ayat (1) dikembalikan kepada Pasal 21 ayat (2) supaya ada kesamaan. Kemudian ayat (2) nya terkait kepada penilaian prestasi bagi yang bersangkutan. Kemudian yang ketiga bagaimana nanti jalannya pemba-hasan.

Kami persilakan FKP. FKP (Anton Priyatno, S.H.):

Terima kasih Saudara Pimpinan.

Dari FKP mengenai Pasal 24 ini ayat (1) nya tetap, karena hanya menyebut bahwa di lembaga ini ada guru besar a tau profesor. Kemudian pada ayat (2) kami ingin mengadakan penyempurnaan, ada tambahan substansi karena ayat (2) itu hanya menyatakan bahwa pengangkatan guru besar atau profesor didasarkan atas kemampuan akademik atau keilmu-an tertentu. Tetapi apa itu guru besar, atau apa itu profesor? Walaupun secara umum di da-lam masyarakat perguruan tinggi kita semua tahu, tetapi di dada-lam undang-undang ini tentu ada/harus ada satu penegasan apa sebetulnya guru besar atau profesor itu. Karena itulah maka pada ayat (2) kami hanya ingin menambahkan satu substansi bahwa guru besar atau profesor itu ada!ah jabatan fungsional tertinggi di dalam tenaga pendidik di universitas atau institut. Sehingga itu merupakan satu jenjangjabatan di da!am tenaga pendidik atau dosen. Karena di samping guru besar dan atau profesor ini tentu adajenjang di bawahnya. Sehing-ga denSehing-gan demikian nanti Peraturan Pemerintah yang akan diatur berdasarkan pada ayat (3) ada suatu panduan materi yang akan mengatur mengenai jenjang-jenjang ini, jenjang jabatan fungsional ini.

Saya kira ini Pimpinan dan terima kasih. KE TUA:

Terima kasih atas latar be!akang usulan daripada FKP. Sekaligus kepada F ABRI ba-rangkali untuk turut memberikan pandangan meskipun pada prinsipnya sependapat. FABRI (Drs. Made Sudiartha):

Saudara Pimpinan yang kami hormati, memang F ABRI di dalam kaitannya DIM masih menganggap bahwa Pasal 24 sesuai dengan RUU itu dapat diterima.

Adapun menenai dasar pemikirannya adalah tidak terlepas daripada pasal-pasal sebe-lumnya. Bahwa di dalam kaitannya dengan Pasal 24 ini, kalau kita hubungkan dengan Pasal 19 ayat (2) yang menjelaskan tentang bentuk daripada perguruan tinggi disitu dise-butkan ada akademik, seko!ah politeknik kemudian ada sekolah tinggi institut atau univer· sitas. Ini kata "atau" di sini saya rasa perlu mendapatkan perhatian, apakah ini semacam pengganti. Institut adalah sama dengan universitas. Itu ada kata "atau".

(10)

Kemudian dikaitkan dengan Pasa.l 20 ayat (2) bahwa yang berwenang menyelenggara-kan yaitu bahwa jadi

Pasal 19

ayat (2) itu berwenang menyelenggarakan pendidikan aka-demik dan profesional. Di dalam kaitannya dengan ini berarti di dalam kaitannya dengan

Pasal

24 kami beranggapan bahwa sekolah tinggi ini adalah juga semacam sama dengan iris-titut atau universitas, kalau memang itu yang dimaksudkan sama. Jadi oleh karena itu di sekolah tinggi pun berhak memberikan gelar dan sebagainya.

Sedangkan mengenai ayat (2) dari Pasa124, saya rasa ini sudah tepat.

Mungkin apa yang diusulkan oleh FKP dapat dipahami maksudnya, mungkin uraian itu bisa dimasukkan di dalam penjelasan, karena itu akan menyangkut tentang definisi daripada yang mengatur tentang hierarki daripada jabatan profesor itu sebagai bagian yang tertinggi daripada nanti gelar a tau jabatan yang dipangku oleh itu.

Terima kasih. KETUA:

Terima kasih atas pandangan urun rembugnya F

ABRI

yang dikaitkan tadi menanyakan atau menegaskan bagaimana posisi sekolah tingginya itu sendiri atas institut dan universitas. Kami persilahkan dari pihak Pemerintah untuk memberikan tanggapan dan penjelasan-nya.

PEMERINTAH:

Saudara Ketua dan Sidang yang terhormat, apa yang dikonstatir oleh FPP dan F ABRI mengenai disisipkannya di Sekolah Tinggi memang dapat diangkat seorang guru besar. Jadi ini barangkali memang kekurangannya.

Kedua, mengenai ayat (2) kami tidak keberatan untuk menyertakan di sini kemam-puan dan prestasi akademik dan ini memang yang dilakukan sampai sekarang yaitu dengan menghitung prestasi dari seorang akademikus yang akan menjadi guru besar itu.

Ulasan dari FKP saya lihat nadanya sama dengan yang lain-lain, hanya di sini perlu diluruskan istilah jabatan fungsional. Sebenarnya yang berlaku profesor adalah jabatan akademik. Fungsional atau struktural ini keterangan yang bisa dicantumkan di penjelasan, barangkali karena ini lebih berkaitan dengan sistem kepegawaian kita. Saya cenderung un-tuk menegaskan di sini sesuai saran FKP adalah jabatan akademik, ini perlu, dus bukan fungsional. Sebab gelarnya pun sebetulnya gelar jabatan akademik yang di mana perlu bisa copot. Jadi kalau tidak lagi dalam jabatan bisa copot. Lain halnya dengan gelar keilmuan atau gelar kesarjanaan misalnya seorang profesor doctor anu-anu, nah doctornya ini mele-kat terus, tetapi profesoratnya bisa lepas apabila dia tidak lagi dalam jabatan. Oleh karena itu ada baiknya disertakan oleh jabatan akademik.

Untuk menggabungkan saran-saran ini menjadi lebih mudah, oleh karena dapat diteri-ma barangkali rumusan seperti: Guru Besar atau Profesor adalah jabatan akademik tertinggi dalam lingkungan perguruan tinggi, lalu di bawahnya itu "atas kemampuan dan prestasi akademik" ini gabungan saran dari FKP dan FPP. Dari pihak kami hanya ingin meluruskan sebutan jabatan fungsional menjadi jabatan akademik.

Terima kasih. KETUA:

Terima kasih atas jawaban Pemerintah yang demikian terbuka bahwa memang benar Pasal 24 ayat (I) itu kurang "sekolah tinggi" sehingga nanti ditambahkan.

(11)

Kemudian Pemerintah menjawab tidak berkeberatan ditambahi masalah kemampuan. keilmuan dengan prestasinya, sehingga tinggal pada FKP yaitu saran dari Pemerintah bagai-mana kalau jabatan fungsional tertinggi itu dikembalikan secara apa mestinya jabatan aka-demik.

Kami mohon komentar dari FKP. FKP (Anton Priyatno, S.H.):

Terima kasih, juga terima kasih kami sampaikan kepada Pak Menteri, ~alau memang itu istilahnya kami hanya melihat satu substansi yang memang hams masuk bahwa itu ada-lah satu jabatan yang berbeda dengan gelar akademik. Hanya tadi Pak Menteri mengatakan jabatan akademik, tetapi apakah tertingginya bisa dipakai?

PEMERINTAH:

Sebetulnya itu sekedar menambah lagi sebablebih tinggi lagi toh tidak ada. FKP (Anton Priyatno, S'.H.):

Terima kasih. KE TUA:

Kami mohon pandangan dari FPDI. FPDI (Djupri, S.H.):

Saudara Pimpinan dan Sidang yang terhormat, setelah mempelajari bunyi Pasal 24 RUU ini kita bisa mengerti dan memahami bahwa memang rumusannya ini sudah cukup baik dengan tambahan di dalam ayat (1) itu bahwa pada universitas dan institut perlu di-tambah di dalam ayat (I) itu bahwa pada universitas dan institut perlu didi-tambah dengan sekolah tinggi yang dapat diangkat guru besar atau profesor. Pengertian dapat di sini me-mang harus memenuhi kemampuan dan prestasinya. Menurut pendapat FPDI apa yang di-rumuskan dalam ayat (2) itu saya kira sudah tepat, sebab istilah kemampuan di sini ter-masuk di dalamnya prestasi. Walaupun demikian saya setuju dengan apa yang disepakati oleh F ABRI juga bahwa pengertian prestasi ini untuk lebih jelasnya dituangkan di dalam penjelasannya,jadi penjelasan dari ayat (2).

Demikian Saudara Pimpinan, terima kasih. KE TUA:

Kalau demikian Pimpinan memberanikan diri untuk mengambil kesimpulan ini kita masukkan ke Timus. Adapun nanti apakah tepat di pasalnya atau penjelasan, kita serahkan kepada Timus. Dengan catatan bahwa usulan FKP jabatan fungsional diganti denganjabat-an akademik ddenganjabat-an masalah kemampudenganjabat-an keilmudenganjabat-an dengdenganjabat-an prestasi itu dijadikdenganjabat-an satu sehingga tempatnya itu urusan Timus apakah nanti di penjelasan apakah di ayatnya dan yang jelas ayat (I)ituditambah dengan sekolah tinggi.

Dengan demikian Pasal 24 keseluruhannya itu masuk di dalam Timus. (KE TOK PALU)

Terima kasih.

Ibu-ibu, Bapak-bapak dan Saudara-saudara sekalian yang saya hormati, karena kita sudah berada di pasal 24 maka Pimpinan beranggapan untuk mengurangi kembola-kembali

(12)

(bahasa Indonesia yang jelek ini tetapi menyenangkan), kita masuk saja ke halaman 35 kembali kepada yang masih kita lewati waktu itu yaitu pasal 28.

FPP (H. Ismail Hasan Metareum, S.H.): Interupsi

Saudara Pimpinan, interupsi sedikit, sebelum kita pindah acara, ini sudah pindah sebe-narnya tetapi masih diantara, kami ingatkan kita bersama bahwa kita baru membicarakan di sini secara konkret dua jabatan pengajar yaitu yang lama itu yang kita bicarakan tadi yang ·guru, kemudian yang sekarang kita bicarakan yang profesor. Antara guru profesor be-lum kita bicarakan. Ini kami ingatkan saja kita bersama supaya kita tidak lupa.

ltu saja Saudara Ketua, terima kasih. KETUA:

Terima kasih, jadi untuk jangkepnya/lengkapnya saran dari FPP, kami mohon supaya Pemerintah nanti bisa juga involve, kami mohon pendapatnya. Jadi diingatkan oleh FPP bahwa antara guru dengan jabatan profesor tadi masih ada itu bagaimana.

PEMERINTAH:

Saudara Ketua dan sidang yang terhormat, saya ingin mengadakan penjelasan lebih lanjut apakah guru sebagai kategori pengajar itu dibandingkan dengan profesor sebagai sa-lah satu peringkat dalam kalangan pengajar yang disebut dosen. Jadi kalau kategorinya dua: guru, dosen. Apa ini yang akan dibandingkan atau guru dan guru besar sebagai salah satu dari dosen.

Terima kasih. KETUA:

Mohon FPP untuk tidak keberatan menjelaskannya. FPP (H. Ismail Hasan Metareum, S.I-I.k. ·. ·

Terima kasih, tetapi saya mohon maaf pada Sidang karena saya ikut mengganggu, yaitu mengingatkan kita bersama permasalahannya, bukan mengusulkan. Jadi kita ingat supaya nanti sebelum kita selesai semuanya kalau kita rumuskan sesuatu kita sudah liltat secara menyeluruh/pendekatan menyeluruh supaya kita mengetahui di mana posisinya.

Karena itu bukan kami usulkan supaya dibicarakan masalahnya, tetapi supaya kita ingat ki-ta ngatur di sini menyeluruh, jadi dalam kiki-ta mengambil keputusan ini supaya tidak dilupa-kan.

lni saja dulu sementara, terima kasih. KE TUA:

Terima kasih, jadi maksudnya demikian dari FPP, saya rasa kita sudah mengetahui. Pimpinan menyarankan tidak ada jeleknya di dalam Timus yang nanti ataupun Panja yang membicarakan hal tersebut kaitannya dengan guru dan ini bisalah untuk dipikirkan ber-sama, siapa tahu merupakan masukan yang berharga milik kita bersama untuk kepentingan nan tin ya.

Demikian, terima kasih atas pandangan dan saran dari FPP, dan Pimpinan beranggapan tidak mengganggu, justru ini bersifat melengkapi.

Kami lanjutkan dengan yang tadi sudah kami sarankan kita memasuki pasal 28 supaya sekaligus saja selesai, meskipun kita sekarang pindah yaitu memasuki masalah peserta

(13)

di-dikan. Kami masih tertulis peserta didikan karena masalah ini sudah kita putuskan untuk di Timuskan apakah nanti "peserta didikan" atau "peserta didik" jangan kita permasalah-kan, hanya di RUU-nya tulisannya "peserta didikan" tetap kita baca demikian.

Dari FKP itu tidak ada usulan perubahan. Dari F ABRI ada yang sifatnya kelihatannya menyempurnakan. Kemudian dari FPP ada bahkan ada usulan di sana-sini yang mengang-gap tidak perlu ada. Dari FPDI berangmengang-gapan untuk menyederhanakan Pasal 28 tersebut.

Oleh karena itu kami persilakan dari

FPDI

untuk menjelaskan latar belakang usulan-nya.

FPDI (Djupri, S.H.):

Saudara Pimpinan dan Sidang yang terhormat, apabila kita melihat di dalam kolom dari FPDI ini kita usulkan dengan rumusan yang singkat mengingat bahwa apa yang ditu-angkan di dalam RUU ini yaitu mengenai butir 1 sampai ke 7 itu menyangkut pennasalah-an ypennasalah-ang spennasalah-angat teknis oleh karena semula dihubungkpennasalah-an dengpennasalah-an pemikirpennasalah-an bahwa undpennasalah-ang- undang-undang ini merupakan undang-undang-undang-undang pokok, maka kita usulkan untuk dirumuskan de-ngan satu ka!imat yang selanjutnya permasalahan isinya sendiri dari FPDI tidak keberatan kalau ini dibahas di dalam Panja dan ini saya kira bisa dilaksanakan di dalam penjelasan daripada RUU itu.

Demikian Saudara Pimpinan, terima kasih. KE TUA:

Terima kasih. J adi meskipun FPDI itu hanya mengusulkan demikian sederhananya te-tapi tidak keberatan isi daripada Pasal 28 untuk kita bahas.

Terima kasih.

Kami persilakan dari FPP untuk menyampaikan la tar belakang usulannya. FPP (H. Ismail Hasan Metareum, S.H.):

Terima kasih Saudara Pimpinan. Kami melihat ini ada dua pennasalahan yaitu perma-salahan pertama masalah yang dapat dimasukkan di dalam undang-undang ini, apakah itu namanya Undang-undang tentang Ketentuan Pokok atau Undang-undang biasa, ada ·ha1 yang kami anggap kurang tepat masuk ke dalam peraturan ini, ini lebih dahulu kamije!as-kan. Kami anggap bahwa memelihara kebersihan, memelihara keindahan, memelihara ke-tertiban, memelihara sarana dan prasarana itu cukup dengan peraturan kepala sekolah,jadi tidak usah masuk da!am undang-undang. Karena itu kami usulkan supaya nggak usah kita masukkan di dalam undang-undang ini. Apalagi kalau undang-undang ini ten tang Ketentuan Pokok, tidak Ketentuan Pokok pun kiranya masalah itu merupakan masalah yang dapat di-atur oleh kepala sekolah.

Selain dari itu kami menganggap bahwa ayat yang lain yang dapat kita masukkan di sini lebih sempurna apabila kita bagi kepada 3 ayat . Kembali saya katakan ini ada 2 per-masalahan, pertama permasalahan yang tidak usah dimasukkan dalam undang-undang baik Ketentuan Pokok atau pun bukan. Kemudian yang satu lagi, mengenai masalah ayat (1) nya ini dapat dibagi kepada 3 yaitu:

1. Setiap peserta didikan berkewajiban untuk membayar biaya penyelenggaraan pendidik-an kecuali bagi peserta didikpendidik-an tingkat dasar, menengah pertama, menengah atas pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah. Di sini pun ada permasalah-an sendiri ypermasalah-ang barpermasalah-angkali apakah sekarpermasalah-ang dibicarakpermasalah-an tuntas atau npermasalah-anti, terserah.

(14)

2. Peserta didikan pada pendidikan tinggi membayar biaya penyelenggaraan pendidikan menurut kekuatan orang tua atau walinya.

3. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Jacli ayat (I) yang ada di sana, kami ingin mengusulkan dipecah jadi 3 ayat termasuk pelaksanaannya yang ayat (3) yang ditunjuk kepada Peraturan Pemerintah. Jadi ayat yang pokok ayat (I) itu dibagi 2, pertama yang membayar pendidikan kecuali bagi yang tidak, ini akan terserah pada kita. Kalau memang dapat menyetujui usul kami agar dibebaskan biaya SD, SMP dan SMA reaka barangkali ayat (1) ini juga tidak perlu dimasukkan. Kemu-dian ayat (2) mengenai khusus di perguruan tinggi dan itu harus membayar, kami meng-anggap lebih tepat kalau kita cantumkan menurut kemampuan orang tua. Jadi barangkali permasalahannya terserah kepada Saudara Pimpinan bagaimana membaginya, tetapi pemi-kiran kami mengenai masalah Pasal 28 ini adalah seperti yang kami kemukakan ini.

Saya ulangi, ada beberapa hal yang ayat (2) sampai (7) itu tidak usah dimasukkan dalam Undang-undang. Kemudian di ayat (1) dipecah menjadi pendidikan dasar, menengah atas dan tinggi, dan kalau ini memang kita merasakan sangat berat barangkali yang pertama itu terpaksa diubah. Tetapi kalau kami mengusulkan seperti yang terbayang dalam ayat yang kami kemukakan tadi.

Terima kasih.

KETUA:

Terima kasih dari FPP. Dengan demikian usulannya itu yang ayat (1) terkait pada usul-an pasal baru di bawahnya. J adi ini ada tambahusul-an usulusul-an baru ini terkait pada ayat (1) nya tadi.

Kami persilakan dari Fraksi ABRI.

F ABRI (Sahuntung Sastrohamidjojo ):

Sa udara Pimpinan, menanggapi mengenai pembahasan pada Pasal 28 memang F ABRI di sini mengajukan saran: Pertama, adalah penyempurnaan butir 4 memberi sisipan kata "tertib dan teratur" diantara kata "belajar'' sehingga bunyinya menjadi:

Memelihara suasana belajar yang tertib dan teratur di satuan pendidikan yang ber-sangkutan.

Demikian pula pada penjelasan Pasal 28 halaman 86 memang F ABRI juga mengajukan sa-ran penjelasan Pasal .28 ditambah:

Di satuan pendidikan dasar dan sekolah-sekolah luar biasa yang diselenggarakan oleh Pemerintah tidak dipungut uang sekolah maupun uang alat-alat pelajaran. Sedangkan peserta didikan yang ternyata pandai tetapi tidak mampu membayar uang sekolah dan uang alat-alat pelajaran dapat dibebaskan dari pembayaran itu. Peraturan tentang pembebasan ditetapkan oleh Menteri.

Ini memang kami ambil dari Undang-undang Nomor 12 Tahun 1954 mengenai uang sekolah dan uang alat-alat.

Kemudian menanggapi mengenai Pasal 28 sendiri sebagai penekanan adanya kewajiban terhadap para peserta didikan sebenarnya ini cukup seimbang kalau dimuat butir-butirnya karena Pasal 27 kita juga menyebutkan adanya hak. Di Pasal 27 rumusannya adalah mengenai hak-hak dari peserta didikan ini sebagaimana tercantum dalam halaman 33 itu.

(15)

Jadi dengan demi.kian menurut kami cukup seimbang kita menyebutkan hak, kita juga me-nyebutkan kewajibannya dimasukkan dalam pasal dari RUU ini.

Demikian pendapat dari F ABRI. Terima kasih.

KETUA:

Terima kasih atas pandangan dari F ABRI yang sekaligus menjelaskan usulan pen-jelasannya atas usulan perubahannya yaitu yang tercantum di dalam halaman 86.

Kami persilakan dari FKP. FKP (K.H. Syarifuddin Sapari):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Bapak Pimpinan, Bapak Menteri, Rekan-rekan sekalian.

Di dalam DIM FKP itu memang tidak banyak dan tidak mengajukan perubahan sejalan dengan pikiran atau pun rumusan dalam RUU itu sendiri. Kalau di dalam Pasal 28 ini kita mencantumkan hal-hal yang sifatnya umum sebagai keseimbangan yang juga sifatnya umum daripada hak setiap peserta didikan sebagaimana tadi diungkapkan rekan dari FABRI. Adapun khusus kami menyoroti ayat (1 )-nya yang berkenaan dengan membayar biaya penyelenggaraan pendidikan, kalimat itu sendiri mengandung keseimbangan artinya tidak seluruhnya akan terkena biaya karena ada juga pembebasan-pembebasan bagi peserta didikan tertentu sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Mengapa kami sependapat dengan rumusan RUU? Kita melihat bahwa tanggung jawab pendidikan ini tidak: hanya Pemerintah tetapi juga masyarakat dan orang tua. Dengan demikian ide dan jiwanya adalah seimbang dengan tuntutan kita agar masalah pendidikan ini menjadi tanggung jawab kita bersama.

Demikianlah untuk sementara dan karena Pasal 27 mengenai hak peserta didikan sudah dipanjakan, kiranya Pasal 28 pun bisa kita masukkan dalam Panja sehingga ada keseimbang-an di dalam membicarakkeseimbang-an ini.

Terima kasih. KETUA:

Terima kasih atas urun rembugnya dari FKP. Kami persilakan1 dari Pemerintah. PEMERINTAH:

Terima kasih Saudara Ketua, Panitia Khusus yang terhormat, kami lebih cenderung untuk mempertahankan butir 1 Pasal 28 ini seperti tadi diuraikan oleh FKP. anak kalimat di belakang koma (,) itu sebetulnya sudah memberikan peluang bahwa ada mereka-mereka atau satuan-satuan sekolah yang dibebaskan dari kewajiban membayar itu.

Akan tetapi untuk secara tegas menyebutkan bahwa yang dibebaskan dari kewajiban tersebut adalah pada tingkat pendidikan dasar, menengah pertama dan menengah atas, ini saya pikir terlalu dini untuk dijadikan komitmen itu oleh karena kita juga tentunya tidak bisa membayangkan bagaimana perkembangan ekonomi keuangan kita kemudian. Tentu saja kalau nanti sejalan dengan apa yang dicanturnkan dalam GBHN bahwa pendidikan dasar akan melipu ti periode Sekolah Dasar 6 tahun dan SMP itu 3 tahun ten tu saja dalam angan-angan juga dipikirkan untuk sedapat mungkin membebaskan pendidikan dasar dari uang sekolah. Jadi sebetulnya clausule yang terakhir itu memberikan peluang yang

(16)

sama-sarna menjadi tanggung jawab kita untuk manakala mungkin pembebasan pembayaran biaya sekolah ini tentu diperpanjang periodenya. Oleh karena itu kami cenderung memper-tahankan perumusan butir I sebagai perumusan yang paling realistis untuk kita jadikan perumusan dalam undang-undang, sedangkan pembebasan-pembebasan . dari pembayaran di kemudian hari itu nanti akan diatur dalam yang juga disebut di sini peraturan yang ber-laku. Jadi andaikata bisa diperlakukan peraturan untuk membebaskan uang kuliah bahkan sampai SMA pun andaikata di kemudian hari mungkin tentu saja ini akan diperhatikan. Tetapi untuk membuat kornitmen itu sekarang, ini menurut hemat saya terlalu dini. Oleh karenanya kita saya sarankan bertahan saja pada Pasal 28 butir I itu sebagaimana ter-maktub pada RUU.

Terima kasih. KETUA:

Terima kasih. Menanggapi pandangan FPP bahwa yang teknis tidak perlu diatur, pen-dapatnya Pemerintah?

PEMERINTAH:

Karena dari FPDI juga ada saran, dari FPP ada saran, dari F ABRI ada saran, yang semuanya sebetulnya tidak menolak ini tetapi memasalahkan ini dalam kaitan dengan apa-kah tempatnya di sini atau tidak. perlu atau tidak, tetapi bukan substansinya yang di-masalahkan, maka s:iya sejalan pikiran :¥ang diajukan FKP untuk mem-Panjakan saja.

Terima kasih. KE TUA:

Terima kasih atas pandangan atau jawaban dari Pemerintah. Oleh karena itu saya kem-balikan kepada Fraksi-fraksi untuk sekali lagi menyampaikan pendapatnya. Kami persila-kan kembali kepada FPDI.

FPDI (Djupri, S.H.):

Pertama FPDI setuju kalau ini dipanjakan, sebab mengingat memang dari butir I sam-pai 7 Pasal 28 itu ada hal-hal yang tidak perlu diatur di dalam RUU, karena itu terlalu tek-nis. Dan memang tidak biasa begitu kalau soal kebersihan ini dicantumkan di sini. Sebab nantinya pemeliharaan suasana belajar, lalu ikut memelihara kebersihan dan sebagainya itu dimasukkan dalam Undang-undang itu tidak tepat. Karena itu mestinya dicanturnkan di dalam penjelasannya saja nanti.

Demikian, terima kasih. KE TUA:

Terima kasih atas saran dan pendapat FPDI. Selanjutnya kami 1persilakan FPP kem· bali.

FPP (H. Ismail Hasan Metareum, S.H.): Terima kasih Saudara Pimpinan.

Kami melihat bahwa dalam Pasal ini ada permasalahan yang perlu kita pertimbangkan untuk masa depan. Masa depan yang saya maksudkan ialah kita satu Pelita lagi sudah tinggal landas. Sebenarnya kita sudah harus betul-betul sudah maju pada saat tinggal landas itu, 25 tahun pertama persiapannya sudah cukup mendasar sehingga kita sudah bisa yakin

(17)

bahwa kita akan siap untuk tinggal landas.

Karena itulah kami melihat ke negeri lain. Maaf saudara Pimpinan kalau saya ingin ikut bicara soal yang seperti itu. Umpamanya Korea Selatan. Begitu memperhatikan pendidikan, akhirnya mereka betul-betul manja dalam arti mereka sekarang hampir bisa dikatakan sama dengan negara maju, atau bisa dikatakan sudah termasuk negara maju.

Kemudian negeri lain, yang ini barangkali Pak Menteri sebagai bekas Duta Besar maaf, barangkali lebih tahu. Mesir kami dengar juga memberikan atau membebaskan uang pungutan-pungutan sampai pada tingkat SMA, entah Iebih, saya tidak tahu persis. Tapi saya yakin beliau lebih tahu.

Karena itu maka kalau Mesir saja, umpamanya benar kalau Mesir saja sudah begitu, bagaimana dengan negara kita yang kaya. Kami yakin pembangunan yang sudah kita laku-kan sekarang sudah cukup memberilaku-kan Iandasan untuk kita dapat berbuat demikian. Karena itu apa salahnya kalau kita mengarahkan sekarang memutuskan untuk waktu yang cepat, kita akan memberikan perhatian sebesar mungkin kepada pendidikan. Karena itu maka kita hanya meminta orang tua mewajibkan anaknya untuk belajar sehingga betul-betul kita bisa menjadi negara maju dalam waktu cepat.

Inilah landasan pemikiran kami maka kami memasukkan ini bahkan terima kasih kepada Saudara Pimpinan yang jeli dapat melihat ke bawah.

Sebenarnya ayat (1) ini berhubungan sekali dengan pasal yang di bawah yang barang-kali nanti akan kita bicarakan.

Inilah alam pikiran kami yang ingin kami kemukakan pada Sidang yang mulia ini sehingga kami mohon supaya pemikiran kita betu!-betul kita tuangkan ke mari. Adapun di pihak yang baru menyebut sampai SMP itu tidak akan melarang kalau kita menetapkan sampai SMA. Ini perlu menjadi pemikiran kita. Kami menganggap demikian, artinya seperti yang saya kemukakan barusan ini.

Jadi kami menghimbau supaya kita memikirkan ini secara mendalam, hanya kami tidak mengetahui teknis membicarakannya apakah dibicarakan ayat (1) usu! kami atau yang pasal yang di bawah, terserah kepada Pimpinan untuk memilah-milah yang kemudian apakah nanti akan dipanjakan, asal pemikiran ini sudah ada pada kita bersama.

Terima kasih. KE TUA;

Terima kasih atas tambahan penjelasan yang menggambarkan latar belakang mengapa FPP mengusulkan demikian. Kami persilakan dari F ABRI.

F ABRI (Sahuntung Sastrohamidjojo ):

Saudara Pimpinan, dus kalau memang kita sepakati bahwa ini dimasukkan panja F ABRI juga dapat menerima karena kami juga sudah menyampaikan saran-saran mengapa kita masih tetap berpegang pada Pasal 28 sesuai dengan RUU tadi.

Terima kasih. KE TUA:

Terima kasih atas pendapat F ABRI. Kami persilakan dari FKP. FKP (K.H. Syarifuddin Sapari):

(18)

KETUA:

Terirna kasih, karena kesernuanya bersepakat bersatu padu untuk rnenjalaninya dan rnernbahasnya di Panja sehingga nanti di sana diternukan rnana yang rnernang patut ada, mana yang mungkin dipandang tidak ada sehingga keseluruhan Pasal 28 ini di-Panjakan. Dengan catatan, kami mengusulkan kalau tokh ini akan dipanjakan dengan posisi seperti apa yang kita bahas tadi, maka kepada FPP kiranya tidak berkeberatan kalau usulan pasal baru yang jiwanya sama dengan ayat (I) itu turut sekaligus nan ti di-Panjakan se-hingga bagaimana hasilnya terserah di dalam Panja tersebut. Bagaimana pendapat Perne-rintah?

PEMERINTAff;. Setuju.

KE TUA:

Dengan demikian maka Pasal 28 kita Panja-kan. (KE TOK PALU )

Dengan catatan, jadi usulan pasal baru dari FPP sudah terangkat untuk dibahas ber-sama dalain Panja karena jiwanya ber-sama dengan ayat (I).

Terima kasih, ibu-ibu, bapak-bapak, dan saudara-saudara sekalian yang saya hormati, kita . . . .

F ABRI (Sahuntung Sastrohamidjojo ): Interupsi Mohan maaf Pak, sebentar dari F ABRl. KETUA:

Oh silakan.

F ABRI (Sahuntung Sastrohamidjojo ):

Bukan Pasal 28 pak, kita tadi sudah Pasal 24, kok Pasal 26 dilewati. Kami menanyakan karena ada ayat (2) yang dilewati sedangkan Pasal 26 ayat (I) itu sudah ace- Timrnus Pasal 26 ayat (2) ini, dulu tanggal 30 dilewati.

KE TUA:

Begini, kalau tidak salah tempo hari justru untuk ayat (2) ini dari pihak Pemerintah sendiri yang mengusulkan dilewati dulu karena dari FPP waktu itu mengusulkan bagai-mana kalau diatur dengan Peraturan Pemerintah, sedang pihak pemerintah di dalam RUU-nya itu adalah Me1.1teri. Oleh karena itu dilewati untuk diendapkan sehingga nanti bagai-mana.

Kemudian kita lanjutkan, kita memasuki sekarang pada halaman 40 yaitu Pasal 33. Kalau kita sudah berbicara tentang hak dan kewajiban peserta didikan, sekarang kita memasuki pasal yang ingin mengatur tentang hak dari tenaga kependidikan. Sedangkan kita sudah sepakat di dalam tambahan butir di dalam Pasal 1-nya atas usulan FKP dan FPP itu, adanya definisi tenaga kependidikan.

Di sini kami lihat FKP menyampaikan usul perubahannya kelihatannya bersifat pe-nyempurnaan. Kemudian FPP juga ada beberapa usulan, F ABRI ada juga usulan pada ha-laman 41. Tetapi kembali kepada FPDI. Kiranya FPDI konsisten dengan pandangannya

(19)

pada waktu kita membicarakan Pasal 23, 24. Kami persilakan kepada FPDI.

FPDI (A. Tyas Satijono Soenarto ):

Saudara Pimpinan dan Sidang yang kami hormati, memang Fraksi kami sebagaimana dilihat oleh Pimpinan yang begitu jeli, bahwa usulan kami seperti pada pasal-pasal yang mengatur masalah-masalah yang bersifat teknis ini, kami berpendapat tidak perlu diatur dalam Undang-undang ini tetapi diatur di dalam perundang-undangan lain. Karena Fraksi kami dari semula berpendapat bahwa Undang-undang ini adalah menentu.kan ketentuan-ketentuan pokok daripada permasalahan pendidikan ini yang kemudian masih akan diikuti oleh perundang-undangan yang lain. Oleh karena itu kami mengusulkan dicabut. Namun demikian sebagaimana pasal-pasal yang telah lalu, di mana kami mengusulkan perubahan itu dihapus, kami kemudian menarik usul kami, bisa dihidupkan kembali dengan pengerti· an bahwa akan dibicarakan lebih lanjut di dalam Pansus ini.

Terima kasih. K.ETUA:

Untuk kesekian kalinya Pimpinan mengucapkan terima kasih atas kebersamaan dan jiwa besar FPDI untuk kepentingan pembahasan Pasal 33 ini, sehingga tidak keberatan kalau Pasal 33 ini dibahas di dalam Pansus.

Kami persilakan dari FKP. FKP (H. Basyuni Suriamihardja ):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Saudara Pimpinan dan Hadirin yang kami muliakan. Kita telah sampai berbicara mengenai Pasal 33 yang akan mengatur mengenai Hak Tenaga Kependidikan. Kita semua sudah maklum bahwa sudah menjadi konsensus nasional, bahwa tanggung jawab pendidik-an ada di tal]gpendidik-an pemerintah, keluarga, dpendidik-an masyarakat. Dpendidik-an kalau diproyeksikpendidik-an sampai dengan pelaksanaannya yaitu di dalam satuan-satuan kependidikan.

Dan kalau berbicara hasil didik dan mutu pendidikan yang sekaligus juga kita tidak bisa lepas dari berbicara masa depan negara dan bangsa dari negara Proklamai yang kita cintai ini, yang berdasarkan Pancasila dan UUD '45, tidak bisa lain bahwa anak-anak didik kita itulah yang menjadi penerus perjuangan bangsa. Anak-anak yang menjadi penerus per-juangan bangsa yang terjamin itu adalah juga harus merupakan adanya jaminan keberhasil-an usaha pendidikkeberhasil-an. "Jaminkeberhasil-an" artinya tkeberhasil-anggung jawab kita semua.

Dan kalau kita bicara mengenai sekolah atau pendidikan formal, maka kunci utama dari keberhasilan itu adalah guru. Betapa pun tinggi pesatnya revo1usi di bidang ilmu dan teknologi yang begitu luas dampaknya terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari, tapi selagi manusia mempunyai cipta, rasa, karsa, dan karya yang kita didik, maka mendidik pribadi, mendidik ketaqwaan dan keimanan, itu tidak bisa diwakilkan kepada hal-hal ilmu dan teknologi dalam artian alam, jadi tetap adalah manusia.

Itu salah satu sisi. Sisi yang kedua yang kita semua juga memahami bahwa guru-guru kita ini perlu ditingkatkan citra harkat martabatnya. Dan untuk peningkatan citra, harkat, dan martabatnya itu juga bergantung pada usaha peningkatan kita mengenai pribadi ke-mampuan personal dan segi-segi lainnya termasuk dedikasi, idealisme dan termasuk juga yang menyangkut haJ-hal yang menunjang bahwa guru itu bisa bekerja dengan baik dengan penuh gairah dan berhasil.

(20)

Dan di sinilah salah satu sisi bahwa kalau kita ingin mencapai hasil baik daripada pen-didikan generasi muda kita di lingkungan penpen-didikan formal khususnya, adalah guru yang memegang kunci utamanya.

Dengan atas dasar ini maka FKP menerima jiwa, semangat dari Pasal 3 3 ini. Kalau pun ada pengajuan perubahan adalah sifatnya hanya penyempurnaan. Tapi jiwa semangatnya kami terima. Dan penyempumaan itu adalah berbentuk, umpamanya:

I. Kata "berhak". Di dalam RUU a itu di sana sudah diatur dan sudah menjadi haknya kalau ia pegawai negeri. Dengan demikian, itu dihapus saja.

2. Kata "sekalian" dalam b sesudah kata "'bagi" dan sebelum kata "tenaga" dihapus. Karena perkataan "sekalian" itu berlebihan, karena tanpa kata tersebut, sudah me-nyangkut keseluruhan daripada yang dimaksud oleh kalimat itu.

3. Kalimat 'bilamana dianggap perlu" pada bagian b, pada akhir kalimat huruf b dihapus. Dengan catatan, karena permulaannya sendiri sudah ada kata "dapat", yang berarti kalau tidak mampu, itu bukan paksaan, jadi tidak perlu diringankan kembali dengan kata seperti itu.

Dan seterusnya, yaitu butir 6 angka 3 diubah menjadi angka 4, kemudian tenaga ke-pendidikan dan kata pendidik dihapus.

Kemudian butir 7 angka 4 diubah menjadi angka 5. Sehingga setelah perubahan itu, terjadilah rumusan yang sebagaimana tercantum dalam halaman 41 yang diusulkan juga sekaligus dalam urutan itu menjadi Pasal 40, tapi itu bergantung pada rumusan-nya nanti.

Ada satu lagi yang ingin kami tegaskan yaitu mengenai butir 2, 3, 4, dan 5. Kalau di dalam usu! FKP itu, itu jiwa dan semangatnya adalah sepenuhnya melaksanakan bunyi daripada GBHN tentang pendidikan nomor ~ butir o (huruf 0).

Demikianlah, terima kasih atas perhatiannya, Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KE TUA:

Terima kasih atas ulasan usulan FKP. Kami persilakan dari F ABRI. F ABRI (Sahuntung Sastrohamidjojo ):

Saudara Pimpinan dari F ABRI hanya mengajukan beberapa usulan, khususnya yang menyangkut butir-butir dari Pasal 33. Jadi mengenai butir I c, kita ingin konsekuen dengan saran-saran sebelumnya mengenai badan ini ditegaskan badan hukum.

Kemudian, kata-kata "'perlindungan untuk guru, kami ingin menambah dengan ''di samping perlindungan hukum juga perlindungan keamanan ' sesuai dengan perkembangan saat ini dan peristiwa-peristiwa yang menyangkut guru.

Inilah beberapa ha! yang ingin kami sampaikan dan kita menilai bahwa memang hak-hak dari tenaga kependidikan ini adalah wajar bila dimasukkan di dalam ini. Karena jelas, kita sepakat bahwa guru atau tenaga kependidikan ini merupakan tenaga yang sangat pen-ting dalam peningkatan kualitas bangsa dalam pembangunan ini. Oleh karena itu supaya jelas beberapa hal yang penting terutama mengenai hak-hak ini saya kira perlu dimasuk-kan dalam RUU ini. Kami hanya merumuskan beberapa saran-saran justru untuk memper-kuat di dalam kita memberikan perlindungan ataupun memberikan tempat yang baik bagi tenaga kependidikan ini.

Terima kasih. KETIJA:

(21)

FPP (H. Ismail

Hasan

Metareum, S.H.):

Te~ima kasih Saudara Pimpinan.

Kami mengusulkan dua kata yang untuk ayat (1) kami kira untuk memberi pengertian yang cukup Iuas, yaitu dengan menambah "kesejahteraan sosial" atau "kesejahteraan yang cukup". Kami ingin menambahkan, karena alangkah sedihnya apabila kita selalu bicara masalah nasib guru dan tenaga pendidik, selalu bicara soal kecukupan atau ketidakcukupan. Memang kalau ada selentingan mengada.ada cukup, itu cukup menyedihkan kita karena mereka kita wajibkan dan kita tugaskan dan kita harapkan untuk mendidik anak-anak kita yang akan menjadi harapan bangsa di masa depan.

Karena itulah ingin menambah istilah "yang cukup" di sini. Baik untuk guru maupun tenaga pendidik lainnya termasuk dosen, ini kami anggap mereka harus diberikan kesejah-teraan yang cukup, sehingga mereka betul-betul tidak berpikir ke tempat lain, karena mereka kita tugaskan untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak kita.

Adapun ayat-ayat huruf a, b, c, d kami anggap sudah tercakup di dalam istilah ke-sejahteraan. Senada dengan jiwa usul dari FKP tadi 'gaji' itu sudah termasuk dengan sen-dirinya. Tapi ini keseluruhan daripada a, b, c, d, kami anggap termasuk dalam bidang ke-sejahteraan dengan sendirinya. Malah yang kita bicarakan keke-sejahteraan biasanya di Iuar gaji. Gaji itu tersendiri; dia bertugas, dia mendapat hak-hak. Dan haknya itu memang ada yang sudah tetap, di manapun sudah baku. Dan kalau disebut kesejahteraan malah ke-lebihan dari itu. Karena itu maka kami anggap: a, b, c, d, itu sudah tercakup di dalam ayat-nya sendiri. Haayat-nya kami minta ditambah dengan istilah 'yang cukup" supaya benar-benar kita dapat memberi perhatian kepada mereka sehingga mereka berkecukupan dalam me-laksanakan tugas mereka.

Kemudian yang kedua yang ingin kami tambahkan yang barangkali ini tidak ada di dalam Pasal 33, yaitu tunjangan di luar tunjangan umum. Ya, tunjangan fungsional mung-kin ada untuk sebagian lainnya untuk guru pun itu tetap, kalau itu sudah ada sekarang ini termasuk fungsional dan struktural.

Kemudian yang barangkali spesifik dari usul kami ini adalah apabila mereka ditugas-ke tempat terpencil, itu betul-betul harus kita berikan perhatian. Karena menempatkan mereka di tempat terpencil itu akan membuat mereka merasa seperti dibuang. Kalau saya contohkan kepada dokter yang tingkatannya sudah tinggi yaitu sarjana yang ditempatkan di Puskesmas, itu banyak sekali yang mencari alasan supaya ditempatkan di kota. Ada yang ingin menjadi dosen tetap dan segala macam atau asisten tetap. Hal ini harus menjadi per-hatian kita, kepada para guru, para tenaga, pendidikan lainnya yang bertugas di tempat-tempat terpencil sehingga tidak ada lagi gap' antara anak-anak di kota dengan anak-anak di desa dalam menerima pendidikan. Mereka yang di desa pun harusnya mendapat pen-didikan yang cukup sehingga tidak ada lagi keluhan tidak ada guru tengah hari sudah pu-lang dari sekolah dan sebaginya.

. . In~~ yang kami minta perhatian iota bersama dalam merumuskan Undang-undang m1 sehin~ga pada masa yang akan datang kita betul-betul bisa memberikan tenaga yang merata d1 seluruh Indonesia yang qualified dan dapat diangkat oleh Pemerintah atau oleh Swasta yang bersangkutan.

Terirna kasih.

KETUA:

Terima kasih atas penjelasan dari FPP. Kami persilakan dari Pemerintah untuk me-nanggapinya.

(22)

PEMERINTAH: . .

Saudara Ketua dan Sid_ang Pansus yang terhormat. Dari catatan-catatan yang ada di sini memang ada beberapa kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang dapat ditiadakan oleh kare-na sifatnya, dengan sendirinya seperti antara lain tentang perolehan gaji.

Kami juga tidak keberatan untuk menghapus sebagaimana disarankan oleh FKP kata "sekalin" pada hurufv dan kata "bilamana" juga pada huruf b.

Adapun keterangan-keterangan yang lainnya yang merupkan masukan juga antara lain dari FPP dapat saya tanggapi sebagai berikut:

Mengenai saran yang terakhir yaitu untuk, menambahkan satu ayat lagi pada Pasal 33, terutama berkaitan dengan tunjangan fungsionil dan tunjangan-tunjangan khusus oleh karena tempat sekolah. Perlu diketahui di sini bahwa sesuatu sekolah yang pada suatu saat dinyatakan terletak di daerah sulit, bisa saja oleh karena perkembangan komuni-kasi dan prasarana perhubungan menjadi tidak sulit lagi. Sekolah yang terpencil bisa saja menjadi tidak terpencil lagi setelah hubungan komunikasi membaik. SD kecil bisa saja menjadi SD biasa setelah ada perubahan-perubahan terjadi di daerah sekitarnya. Nah, semuanya ini diatur tersendiri, oleh karena itu barangkali andaikata perlu bisa di-muat saja keterangan ini dalam Penjelasan, tetapi tidak pada tubuh Undang-undang ini. Adapun perumusan-perumusan yang disarankan oleh semua Fraksi mengenai perincian dari apa yang dimaksud dengan jaminan kesejahteraan sosial ini, menurut hemat kami tidak ada yang bertentangan melainkan soal-soal redaksional saja, sehingga rincian ini barangkali bisa dibahas dalam Panitia Kerja.

Khusus mengenai saran agar di belakang perkataanjaminan kesejahteraan sosial ditam-bahkan perkataan (dua kata) yang cukup, bisa juga hari ini nanti ditafsirkan yang cu-kup itu berapa Sebab cucu-kup juga relatif, layak juga relatif, tapi kalau kesejahteraan sosial (Social Welfare) ini sebagai konsep dicantumkan, menurut hemat kami sudah cu-kup. Jadi kalau mau ditambah yang cukup, malahan nanti yang cukup ini berapa juga tidak jelas. Jadi lebih baik, lebih melas, dan saya kira ini konsep yang umum. bukan hanya kata-kata tapi konsep Social Welfare, di mana saja sama. Sehingga kalau disebut memperoleh penghasilan dan jaminan kesejahteraan sosial, ini tentu saja sudah jelas. Oleh karena itu barangkali FPP tidak akan beberapa untuk tidak menyertakan kata "yang cukup". Karena ini juga mulur, bisa jadi pertanyaan tersendiri begitu. Jadi kesejah-traan sosial hendaknya ditangkap konseptual, social welfare bukan berarti satu demi satu.

Saya pikir mengenai istilah badan ini sudah menjadi pending sejak pembicaraan ter-dahulu jadi mungkin menunggu. Saran dari F ABRI ten tang perlindungan hukum dan ke· amanan dapat diterima karena sejajar dengan yang dicantumkan pada butir 3 memperoleh perlindungan hukum ditambah dan jaminan keamanan itu bisa saja. Jadi mengenai rincian-nya ini saya kira dalam Panitia Kerja bisa diselesaikan sehingga, ada kekompakan rumusan dari keseluruhan usul-usul.

Sekian dan terima kasih. KETUA:

Terima kasih atas penjelasan dari Pemerintah yang menganggap tidak adanya perbe-daan yang prinsipial, namun kami persiapkan nanti Faksi-fraksi untuk mengemukakan pendengarannya kembali, saya persilakan FKP.

(23)

FKP (Drs. B. Boesni 1hamrin Assaat, S.B.):

Barangkali kami ingin lebih menJClaskan lagi terhadap usul dari FKP yaitu yang per-tama, bahwa di samping perbaikan redaksi seperti yang sudah ditanggapi juga oleh Bapak Menteri dan terima kasih kepada Bapak Menteri yang telah menyetujui usul-usul perubah-an redaksi dari FKP tadi. Ada satu hal yperubah-ang perlu kami jelaskperubah-an di sini yaitu di samping adanya usul tambahan di huruf "C" yaitu memperoleh gaji dan tunjangan, jadi ada kata tunjangan, jadi kami menambahkan bahwa di samping gaji itu ada tunjangan.

Jadi di samping gaji ada tunjangan, nah bagaimana bentuk tunjangannya nanti terserah tapi ada tunjangan, ini tambahan baru.

Kemudian adalah yang paling penting menurut FKP itu ditambahan angka 3 dari usul FKP di dalam DIM, yang berbunyi "memperoleh penghargaan atas basil peningkatan kemampuan dan kewenangan profesional", ini menurut FKP sangat pen ting. Karena ke-nyataan selarna ini ada seorang tenaga kependidikan katakanlah "Guru" atas hasil usaha sendiri bisa rneningkatkan kualifikasi dirinya, tapi tidak mendapatkan penghargaan seba-gaimana mestinya.

Seharusnya adalah layak kalau pemerintah memberikan penghargaan atas mereka yang berusaha sendiri meningkatkan dirinya tanpa biaya dari pemerintah, katakanlah seorang tenaga "Guru" yang tadinya hanya memiliki kewenangan mengajar dalam kualifikasi D-3. Atas kemampuan dan atas usaha sendiri mereka berhasil meningkatkan menjadi seorang Sarjana,jadi mereka memperoleh kemampuan profesional yang lebih tinggi.

Tapi nyatanya tidak memperoleh penghargaan, nah oleh karena itu FKP ingin menampung hal-hal yang demikian ini, memberikan tempat yang sewajarnya kepada mereka-mereka atau tenaga pendidik yang atas usaha sendiri mendapatkan kewenangan yang lebih tinggi di bidang profesinya mendapatkan penghargaan. Oleh karena itu FKP menambahkan hak mereka dalam hal ini yaitu memperoleh penghargaan atas basil peningkatan kemampuan dan kewenangan profesional, nah di samping yang kami kemukakan tadi kami mengu-sulkan redaksi masalah ini menurut pandangan FKP sangat penting.

Kami kira demikian terima kasih. KETUA:

Terima kasih atas penje!asan dari FKP kami persilakan dari F ABRI. FABRI (Drs. Made Sudiartha):

Pada kesempatan ini F ABRI menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah dalam hal ini telah menyetujui usu! daripada F ABRI ten tang keamanan.

Selanjutnya kiranya mohon penjelasan dari Bapak Menteri khusus mengenai perumusan dari butir 1 ( c ), "Tenaga pendidikan yang bekerja pada satuan pendidikan yang diadakan oleh masyarakat berhak memperoleh gaji dari badan yang bertanggung jawab atas satuan pendidikan yang bersangkutan", kalau rumusan butir ( c) ini dikaitkan dengan butir (b ), kalau butir (b) jelas bahwa mereka itu apabila pegawai negeri sesuai dengan ketentuan tentang pegawai negeri.

Di dalam kattannya dengan perguruan yang diselenggarakan oleh masyarakat, nah di sini seolah-olah ada suatu kebebasan untuk menentukan tentang gaji.

Kemungkinan hal ini pada suatu saat bisa juga memberatkan anak didik, apabila gaji guru ini tidak disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku sesuai dengan Pemerintah, ini

mohon penjelasan? Apakah memang demikian maksudnya.

Karena kalau demikian bisa nan ti guru yang di negeri bisa Jari kemasyarakat, apabila masyarakat memperoleh gaji yang lebih dari pada ketentuan pemerintah. Kalau memang

Referensi

Dokumen terkait

Usul PDI iti\ sebenarnya tidc:l.k terlalu mengubah ma.teri atau esensi ha - nya penyemuurna.an satu kata,aaya juga tidak seoara. penuh mengklaim bahwa,g sul itu

Yang dimaksud dengan pekerjaan timbunan tanah dengan material dari borrow area adalah kegiatan penimbunan baik untuk tanggul maupun untuk di belakang bangunan dengan

Alat pencuci galon usulan yang akan dikembangkan memiliki proses pencucian yang terintegrasi dimana proses tersebut yaitu pembilasan bagian luar dan dalam,

Karena para pemain sepakbola untuk memiliki lebih, melibatkan waktu bermain dalam permainan (lebih banyak kesempatan untuk memecahkan masalah yang hanya

Pada tahap ini, dilakukan simulasi dengan memasukkan perhitungan level dan komponen yang sesuai pada simulator agar level frekuensi dan level minimum jaringan

Anak tunagrahita mampu latih (imbecil) adalah anak tunagrahita yang memiliki kecerdasan sedemikian rendahnya sehingga tidak mungkin untuk mengikuti program yang diperuntukan bagi

kebijakan Direksi dalam melaksanakan pengurusan bank serta memberikan nasehat kepada Direksi.  Dewan Komisaris telah melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya

Apabila pada peristiwa tersebut tidak terdapat unsur-unsur pidana maka artinya Rasulullah saw mengenakan hukuman penjara/penahanan hanya karena tuduhan semata-mata