• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TINJAUAN KASUS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III TINJAUAN KASUS"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian

Pengkajian dilakukan pada tanggal 16 Januari 2008 jam 10.00 WIB diruang III Citro Anggodo RSJD Dr. Amino Gondohutomo, Semarang.

1. Biodata

a. Idenditas Klien

Nama : Ny. L

Umur : 47 Tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pendidikan : SD

Alamat : Jl. Perintis kemerdekaan, Panggul, Tegal Tanggal masuk : 1 Januari 2008

Diagnosa : Skizofrenia Undifferentiated. b. Idenditas Penanggung jawab

Nama : Ny. L

Alamat : Jl. Perintis kemerdekaan, Panggul, Tegal

Hubungan dengan klien : kakak kandung 2. Alasan Masuk

Klein dibawa oleh keluarga ke RSJD Dr. Amino Gondohutomo, Semarang pada tanggal 1 Januari 2008 dengan alasan tidak bisa tidur, berbicara kacau.

(2)

3. Riwayat Penyakit Dahulu

Klien sudah 4x dirawat di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang, terakhir Bulan Februari 2007. Klien sudah bercerai dengan suaminya semenjak itu Ny. L menyatakan ia menjadi stress, ia bercerai dengan suaminya dikarenakan suaminya suka main judi sampai rumahnya terjual, sehingga Ny. L jengkel, stress, dan menceraikan suaminya. Ditambah lagi pekerjaan Ny. L tidak tetap, dirumah anaknya sering bertengkar atau ejek – ejekan. Ny. L sering memarahi anaknya dan ketika belum bercerai dengan suaminya, Ny. L stress dan ketika duduk sendirian di ruang tamu tiba – tiba ada bayangan kepala dan mata yang menyuruh Ny. L untuk membelalakkan matanya.

4. Riwayat Penyakit Sekarang

Saat dikaji pada tanggal 16 Januari 2008, Ny. L tidak menunjukan tanda – tanda marah lagi, klien sudah kooperatif. Klien mengatakan jika sore hari jika di tempat tidur tiba – tiba Ny. L melihat bayangan kepala dan mata, dan bayangan mata menyuruh Ny. L untuk membelalakkan mata Ny. L keatas. Klien sudah berusaha melawan, bayangan itu selalu dating untuk menyuruh Ny. L membelalakkan matanya keatas.

Masalah Keperawatan : Halusinasi Penglihatan 5. Pemeriksaan Fisik

a. Tanda – tanda vital TD : 120 / 90 mmHg RR : 24x / menit Nadi : 66x / menit

(3)

Suhu : 37 0 C

TB : 156 cm BB : 52 kg b. Keadaan fisik

Tidak ada kelainan fisik pada Ny. L, klien takut apabila bayangan itu muncul.

Masalah Keperawatan : halusinasi penglihatan 6. Psikososial a. Genogram Umur 75 tahun Umur 45 tahun Umur 47 tahun Umur 54 tahun Umur 73 tahun Umur 60 tahun Umur 38 tahun Umur 33 tahun Umur 57 tahun

Umur 19 tahun Umur 12 tahun Umur

16 tahun Keterangan :

: Meninggal Laki – laki : Pasien

: Laki – laki : Bercerai

: Tinggal serumah

(4)

Klien anak kelima dari delapan bersaudara, dalam keluarga klien tidak ada yang menderita penyekit seperti klien.

Keterangan :

ƒ Ekonomi keluarga Ny. L dibantu oleh kakaknya Ny. Li, Ny. L tinggal satu rumah dengan Ny. Li

ƒ Dalam keluarga Ny. L tidak ada yang mengalami gangguan jiwa ƒ Ketiga anak Ny. L dekat dengan Ny. L

b. Konsep diri 1. Gambaran diri

Klien menyukai seluruh tubuhnya. 2. Idenditas

Klien seorang perempuan berumur 47 tahun 3. Peran

Klien sebagai ibu rumah tangga 4. Ideal diri

Klien ingin cepat sembuh dan pulang, bertemu dengan ketiga anaknya, mengurus dan memasak untuk anaknya.

5. Harga diri

Klien percaya diri dengan keadaanya sekarang. c. Hubungan sosial

Orang yang berarti untuk Ny. L adalah ketiga anaknya, peran serta dalam kegiatan kelompok atau masyarakat = Ny. L, selama dirawat tidak dapat

(5)

mengikuti kegiatan masyarakat. Klien tidak punya hambatan dalam berhubungan dengan orang lain, klien kooperatif.

d. Spiritual

Klien beragama Kristen, sebelum sakit Ny. L rajin ke gereja, selama sakit klien hanya berdoa, tidak pernah ke gereja karena tidak punya pakaian ganti untuk ke gereja.

7. Status Mental a. Penampilan

Klien berpenampilan rapi sesuai dengan pekaiannya b. Pembicaraan

Klien berbicara cepat, tetapi jelas. c. Aktivitas Kelompok

Klien tipe orang kooperatif, klien melakukan kegiatan di ruangan tanpa disuruh.

d. Alam Perasaan

Klien mengatakan takut apabila melihat bayangan tersebut. Masalah keperawatan : halusinasi penglihatan

e. Afek

Afek klien labil, apabila sedang malas bicara klien akan pergi tidur. f. Interaksi selama wawancara

Klien kooperatif / ada kontak mata. g. Persepsi

(6)

Masalah keperawatan : halusinasi penglihatan. h. Proses pikir

Klien mampu menjelaskan atau menguraikan ide – ide tertentu. i. Isi Pikir

Klien tidak mengalami waham apapun j. Tingkat Kesadaran

Klien tidak mengalami gangguan tingkat kesadaran, kesadaran klien sadar penuh.

k. Memori

Klien masih dapat mengingat hal – hal yang terjadi di masa lalu dan sekarang

l. Tingkat konsentrasi dan berhitung.

Klien dapat konsentrasi dan berhitung dengan baik. 8. Kebutuhan Persiapan Pulang

a. Nutrisi

Klien makan 3x sehari dan habis 1 porsi dengan variasi nasi, lauk, sayur, buah, susu. Klien minum 6 -7 gelas perhari. Klien makan dan minum tanpa bantuan.

b. BAK / BAB ( Eliminasi )

Klien BAB 1 hari sekali dengan konsistensi lunak, bau khas, BAK 5 – 7 kali sehari sehari semua tanpa bantuan.

c. Mandi

(7)

d. Berpakaian

Klien berpakaian rapi sesuai pakaian yang ada, klien berpakaian tanpa bantuan

e. Kebersihan diri

Klien menjaga kebersihan dirinya secara mandiri f. Istirahat dan Tidur

Klien tidur siang, lama 2 jam, tidur malam 7 jam. Sebelum tidur klien BAK dahulu, baca doa, bangun tidur klien bersih – bersih, mandi, dan mengikuti kegiatan sesuai ruangan

g. Penggunaan obat

Klien minum obat sesuai petunjuk dokter, secara rutin, tanpa bantuan. 9. Aspek Medik

Terapi medik

Laboratorium ( 2-1-2008 ) hasil normal

Glukosa 109 mg/100 ml 80 – 110 mg/100ml Ureum 22 mg/100 ml 10 – 50 mg/100 ml Creatinin 0,7 mg/100 ml Lk.0,6–1,1 mg/100 ml Cholesferol total 162 mg/100 ml 150 – 220 mg/100ml Trigliserid 52 mg/100 ml sd / 150 mg/100 ml Protein total 6,5 mg/100 ml 6,3 – 8,0 mg/100 ml Albumin 4,0 mg/100 ml 3,8 – 5,1 mg/100 ml

(8)

SGOT 22 unit / L Lk s/d 37 unit SGPT 20 unit / L kk s/d 0,42 unit

Uric Acial 6,2 mg/100 ml P. 2,5–5,7 mg/100 ml

ƒ TAK : 8 / 01 / 08 ƒ EKG : 9 / 01 / 08

ƒ ECT konvensional : 2 x ( 4/1/08 dan 5/1/08 ) ƒ Obat secara oral

Halluperidol 2 x 5 mg Trihexy phenidyl 2 x 2 mg PPZ 2 x 8 mg Promagtil 1 x 100 mg

B. Analisa Data

NO Data Fokus Masalah

1.

Tanggal 16 Januari 2008, ham 10.00 WIB DS :

ƒ Klien mengatakan saya takut kalau melihat bayangan mata itu

ƒ Klien mengatakan, bayangan mata itu menyuruh saya untuk melototinya

DO :

ƒ Ny. L takut ketika menceritakan bayangan itu ƒ Ny. L sambil menutup mata rapat – rapat

Perubahan persepsi sensori : halusinasi penglihatan

(9)

2.

3.

17 Januari 2008, jam 09.00 WIB DS :

ƒ Klien mengatakan, saya jengkel kalau melihat bayangan mata itu datang

ƒ Saya takut suster, kadang bayangan itu datang menemui saya dan menyuruh untuk melototinya DO :

ƒ Ny. L marah – marah sambil memukul meja

20 Januari 2008, jam 16.20 WIB DS :

-Ny,L mengatakan,saya marah – marah jika bayangan kepala dan mata-mata datang mengganggu saya.

DS :

- Ny. L mengatakan merasa bersalah tidak bisa membimbing anak – anak dirumah, anak – anaknya sering bertengkar

DO:

-Ny. L marah-marah,muka merah, nada suara tinggi, pandangan tajam.

-Ny. L sering menyadari

Resiko mencederai diri, orang lain, lingkungan

Perilaku kekerasan

C. Masalah Keperawatan

1. Perubahan persepsi sensori : halusinasi penglihatan 2. Resiko mencederai diri, orang lain, lingkungan 3. Isolasi sosial : menarik diri

(10)

D. Pohon Masalah

Perubahan presepsi sensori : halusinasi :penglihatan Core problem

Resiko mencederai diri,oranglain,lingkungan

Isolasi sosial : menarik diri

( Keliat, 1998 )

E. Diagnosa Keperawatan

1. Resiko mencederai diri, orang lain, lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan

2. Perubahan persepsi sensori : halusinasi penglihatan berhubungan dengan menarik diri

3. Perilaku kekerasan berhubungan dengan perubahan sensori persepsi halusinasi

(11)

F. INTERVENSI

Perencanaan No Dx Diagnosa

Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Evaluasi Tgl 16 Januari 2008 10.00 WIB Resiko mencederai diri, orang lain, lingkungan berhubungan dengan halusinasi penglihatan TUM : klien tidak mencederai diri, orang lain, lingkungan. TUK 1 : klien dapat membina hubungan saling percaya 1.1. Ekspresi wajah berusaha baik, menunjukan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, klien mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi

1.1.1. Bina Hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terapeutik.

a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal

b. Perkenalkan diri dengan sopan

c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan klien

d. Jelaskan tujuan pertemuan e. Tunjukan sikap empati dan

menerima klien apa adanya f. Beri perhatian pada klien

dan perhatikan kebutuhan dasar klien

(12)

TUK 2 : Klien dapat mengenal halusinasinya 2.1. klien dapat menyebutkan waktu, isi, frekuensi timbulnya halusinasi. 2.2 Klien dapat mengungkap kan perasaan

2.1.1 Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap

2.1.2 Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya 2.1.3 Bantu klien mengenal

halusinasinya

a. Jika menemukan klien yang sedang halusinasi tanyakan apa ada bayangan.

b. Jika klien menjawab ada, lanjutkan apa yang ia katakan

c. Katakana bahwa perawat percaya klien melihat bayangan itu, namun perawat sendiri tidak melihatnya

d. Katakana bahwa perawat akan membantu klien. 2.1.4 Diskusikan dengan klien

a. Situasi yang menimbulkan /

tidak menimbulkan ahlusinasi.

b. Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi ( pagi, sore, malam, sendiri / jengkel / sedih )

2.2.1 Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi ( marah, takut,

(13)

terhadap halusinasi.

sedih, senang ) beri kesempatan mengungkapkan perasaan. TUK 3 : klien dapat mengontrol halusinasinya 3.1 Klien dapat menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya 3.3 Klien dapat memilih cara mengatasi halusinasi 3.4 Klien dapat melaksanaka

3.1.1 Identifikasi bersama klien cara / tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi : tidur, marah, menyibukkan diri. 3.1.2 Diskusikan manfaat dan cara

yang digunakan klien jika bermanfaat beri pujian.

3.2.1 Diskusikan cara baru untuk mengontrol halusinasi :

a. Katakan “Saya tidak mau melihat kamu”

b. Menemui orang lain ( teman, perawat ) untuk bercakap – cakap tentang halusinasi yang dilihat klien.

c. Membuat jadwal kegiatan d. Meminta perawat menyapa

klien.

3.3.1 bantu klien memilih dan melatih cara mengontrol halusinasi secara bertahap.

3.4.1 Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih,

(14)

n cara yang telah dipilih untuk mengendalik an halusinasi. 3.5 Klien dapat mengikuti TAK

evaluasi hasilnya dan beri pujian jika berhasil

3.5.1 Anjurkan klien mengikuti TAK

TUK 4 : Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasi 4.1 Keluarga dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat. 4.2 Keluarga dapat menyebutkan pengertian, tanda dan tindakan untuk mengontrol halusinasi.

4.1.1 Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga jika terjadi halusinasi.

4.2.1 Diskusikan dengan keluarga Gejala halusinasi klien

a. Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk meutus halusinasi

b. Cara merawat anggota

keluarga yang halusinasinyadirumah

kegiatan, jangan biarkan sendiri.

c. Beri informasi waktu follow up / kapan perlu bantuan

(15)

18 Januari 2008 16.20 WIB TUK 5 : Klien dapat memanfaat obat dengan baik. 5.1 Klien dan keluarga dapat menyebutkan manfaat, dosis, efek samping obat. 5.2 Klien dapat mendemonstras ikan penggunaan obat dengan benar. 5.3 Klien dapat informasi tentang manfaat / efek samping obat. 5.4 Klien memahami akibat bila berhenti minum obat tanpa konsultasi. 5.5 Klien dapat menyebutkan 5 benar

5.5.1 Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi, manfaat obat

5.5.2 Anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya.

5.5.3 Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping obat yang dirasakan.

5.5.4 Diskusikan akibat berhenti obat tanpa konsultasi

5.5.5 bantu klien menggunakan prinsip 5 benar

(16)

G. IMPLEMENTASI

Tgl /jam Dx TUK Implementasi Evaluasi TT 16/1/2008 09.00 WIB 16/1/2008 09.05 WIB TUK 1 DX I TUK 2

ƒ Bina hubungan saling percaya.

ƒ Menanyakan nama, umur, alamat, pekerjaan.

ƒ Memberi kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaan

ƒ Mendengarkan pasien saat bercerita.

ƒ Mengenal halusinasi klien

ƒ Meminta pasien untuk menceritakan isi halusinasinya ƒ Beri pujian ketika klien

mampu menceritakan halusinasinya

S : Nama saya Ny. L, biasa dipanggil Ny. A. umur saya 47 tahun, rumah saya di Tegal, saya takut ketika bayangan itu dating.

O : Klien mau berjabat tangan, tersenyum, duduk berhadapan, nada bicara jelas, kontak mata ada A : Pasien dapat membina hubungan

saling percaya

P : Perawat melanjutkan TUK 2 ( mengenal halusinasi pada Ny. L ) K : Menganjurkan klien untuk

mengingat nama perawat

S : Saya melihat bayangan kepala, banyak matanya, menyuruh saya membuka mata saya keatas, saya takut, jengkel ketika bayangan itu muncul kira – kira 5 menit, biasanya ketika sore hari, pada saat saya sensiri. O : Nada bicara jelas, klien

menceritakan bayangan itu dengan tegas, menatap perawat.

A : Pasien dapat mengenal halusinasinya

(17)

17/1/2008 10.00 WIB

TUK 3 DX II

ƒ Klien dapat mengontrol halusinasinya.

ƒ Menanyakan pada klien apa yang dilakukan jika halusinasinya timbul

ƒ Memberi pujian atas jawaban yang diberikan klien

ƒ Mendiskusikan dengan klien cara mengontrol halusinasi ƒ Membantu klien memilih dan

melatih cara memutus halusinasi secara bertahap.

ƒ Memberikan kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih

ƒ Menganjurkan klien mengikuti terapi aktivitas

kelompok orientasi realita. ƒ Mengadakan kontrak untuk

pertemuan berikutnya.

Mengontrol halusinasinya ) K : Menganjurkan untuk mengingat

halusinasinya, frekuensi, munculnya kapan

S : - Klien mengatakan saya mau diajari cara menghilangkan bayangan itu

- Klien mengatakan jika bayangan itu muncul saya segera melakukan aktivitas, seperti menyapu, dll

- Klien mengataklan akan saya coba suster.

O : - Klien mengganggukan kepala saat diajak diskusi tentang cara baru untuk mengontrol halusinasi.

- Klien menjawab pertanyaan dengan baik, sesuai pertanyaan.

- Klien tersenyum saat diberi pujian

- Klien kooperatif saat wawancara berlangsung.

A : Masalah teratasi dalam mengontrol halusinasinya P : Lanjutkan intervensi berikutnya

menggunakan obat dengan baik K : menganjurkan klien dalam

(18)

18/1/2008 10.00 WIB

TUK 5 DX II

Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik.

ƒ Mendiskusikan dengan klien tentang dosis, frekuensi, dan manfaat obat yang diterimanya.

ƒ Menganjurkan klien untuk minum obat secara teratur

ƒ Mendiskusikan akibat berhentinya minum obat.

ƒ Mendiskusikan 5 benar dalam pemberian obat.

ƒ Mengevaluasi kembali tentang materi yang dibicarakan bersama klien

ƒ Mengadakan kontrak untuk membahas tentang prinsip 5 benar.

yang baru saja diajarkan. S : - klien mengatakan “ Saya sudaj

mengerti cara menghilangkan / mengurangi bayangan yang sering mengganggu saya

- Klien mengatakan saya sudah mengerti obat yang saya minum dan manfaatnya.

- Klien mengatakan “ Saya tau dalam 5 benar minum obat 5 benar minum obat adalah :

ƒ Benar orang ƒ Benar obat ƒ Benar jenis ƒ Benar waktu ƒ Benar dosis.

O : - Klien bisa menyebutkan semua cara benar minum obat

- Klien bersedia saat perawat mengadakan kontrak untuk membahas obat yang diminum klien

A : Masalah teratasi dalam memanfaatkan obat dengan baik

P : Lanjutkan intervensi TUK 5 K : Menganjurkan klien untuk tetap

minum obat sesuai dengan aturan dan tepat waktu.

(19)

BAB IV

PEMBAHASAN

A. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Perubahan persepsi sensori halusinasi berhubungan dengan menarik diri adalah dimana keadaan individu atau kelompok mengalami atau beresiko mengalami suatu perubahan dalam jumlah, pola atau interprestasi stimulus yang datang (carpenito,1997).

Data subyektif klien mengatakan,bayangan mata-mata menyuruh saya untuk melototinya, Data obyektif klien tampak takut saat menceritakan bayangan mata, menutuprapat-rapat.

Diagnosa perilaku kekerasan berhubungan dengan perubahan persepsisensori halusinasi,suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik kepada diri sendiri maupun orang lain.(Towsend,1998)

Data subyektif klien mengatakan saya ingin marah jika bayangan kepala dan mata mengganggu saya, tidak mau melihatnya.Data obyektif klien tampak marah-marah, muka merah dan tangan mengepal, tidak mau kumpul dengan teman-temannya.

(20)

B. INTERVENSI – IMPLEMENTASI

Penulis berharap klien dapat mengenal halusinasi, mengontrolhalusinasi, dapat memanfaatkan obat dengan baik, Data yang muncul pada implementasi adalah klien melihat bayangan mata dan kepala. Data subyektif pada TUK 2 mengenal halusinasi,di dapatkan data klien melihat bayangan kepala,ketika bayangan mata muncul pada sore hari. Data obyektif yangt penulis lihat,nada bicara jelas, klien dapat menceritatakan bayangan mata dengan jelas dan menatap perawat. Analisa atau hasil yang sudah di dapatkan klien dapat mengenal halusinasi.

Intervensi yang dilakukan penulis adalah melanjutkan TUK 3 berupa mengontrol halusinasi, rencana yang dimiliki oleh klien menganjurkan untuk mengingat halusinasinya,frekunsi kapan muncul halusinasi.Mendapatkan data klien mau diajari cara menghilangkan bayangan mata,dengan cara klien segera melakukan aktivitas seperti menyapu, dan lain-lain. Data obyektif yang ada klien menjawab pertanyaan dengan baik, tersenyum, dan kooperatif. Hasil yang didapat masalah teratasi dalam mengontrol halusinasinya.Renncana yang akan dilakukan lanjutkan intervensi berikutnya, rencana untuk klien menganjurkan klien

mengontrol halusinasinya dengan cara yang baru saja diajarkan oleh penulis. TUK 4 klien mengerti cara menghilangkan atau mengurangi bayangan

yang sering mengganggunya. Klien mengatakan sudah mengerti manfaat obat yang diminumnya. Data obyektif yang didapat klien dapat menyebutkan semua cara minum obat yang benar, hasil atau analisa yang didapat masalah teratasi sebagian,lanjutkan intervensi TUK 5, Rencana untuk klien dapat minum obat

(21)

sesuai aturan dan tepat waktu. TUK 4 tidak bisa penulis lakukan karena keluarga belum menemui klien,hambatan yang penulis dapatkan tidak ada dalam membuat karya tulis ini. Faktor yang mendukung klien kooperatif, kontak mata ada,klien mau melakukan aktivitas.

1. Evaluasi yang didapat dari diagnosa perubahan persepsi sensori halusinasi penglihatan berhubungan dengan menarik diri, adalah melihat implementasi yang sudah dilakukan serta memperhatikan respon subyektif dan obyektif yang muncul,penulis berkesimpulan bahwa diagnosa pertama ini teratasi sebagian. Evaluasi ini berhasil sepenuhnya karena pada TUK 4 halusinasi belum terlaksana karena keluarga belum menjenguk, keluarga tidak memberi dukungan dalam mengontrol halusinasi.

2. Perilaku kekerasan berhubungan dengan perubahan persepsi sensori halusinasi penglihatan. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik kepada diri sendiri maupun oranglain dengan batasan karakteristik subyektif klien mengatakan ingin marah jika bayanagn mata mengganggunya.Data obyektif klienn marah-marah, muka merah, tangan mengepal. Untuk mengatasi masalah klien penulis melakukan timdakan keperawatan dengan cara menghardik,melakukan aktivitas, berbicara dengan oranglain. Namun penulis melakukan tindakan keperawatan TUK 1,TUK 2,TUK 3,TUK 5, Penulis bekerjasama dengan perawat ruangan untuk melanjutkan TUK yang belum tercapai karena keterbatasan waktu. Dari data pengkajian penulis menemukan data bahwa sebelumnya klien sudah pernah mengalami gangguan jima dan

(22)

dirawat di RSJ dan penulis melakukan pengkajian klien sudah empat kalinya dirawat di RSJ karena di rumah sering melihat kepala dan mata, oleh keluarga klien dibawa ke RSJ.

(23)

BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Klien dengan perubahan persepsi sensori : Halusinasi mampu mengenal halusinasinya yang terjadi pada dirinya, sehingga klien dapat menjelaskan bayangan mata — mata yang dilihatnya, frekuensi dan waktu yang terjadi klien dapat mengungkapkan perasaannya terhadap halusinasinya, klien dapat mengontrol halusinasinya. Klien juga dapat menggunakan obat dengan baik diantaranya klien mengerti bagimana c a r a ma n fa a t d a r i oba t y a n g d i mi n u m n y a , k l i e n j u g a ma m p u menyebutkan prinsip lima benar penggunaan obat.

2. Kemampuan klien dengan perubahan orientasi realita halusinasi meningkatkan dalam mempertahankan mekanisrne koping yang adekuat y a i t u d e n g a n c a r a me m b a n t u k l i e n m e n g e n a l h a l u s i n a s i n y a , tnendiskusikan dengan klien tentang situasi yang dapat menimbulkan halusinasi dan situasi untuk mencegah halusinasi dun memberikan dorongan pada klien untuk minum obat yang benar dan teratur.

3. Klien yang mengalami gangguan hubungan sosial menarik diri, akan berusaha menghindari kontak dengan orang lain. Perilaku ini sangat merugikan klien, karena dapat menimblkan resiko terjadinya

(24)

perubahan presepsi sensori halusinasi penglihatan dan resiko melakukan kekerasan sebaiknya dilibatkan dalam hubungan sosial secara bertahap agar halusinasi dapat ditekan.

4. Keluarga klien kurang berperan dalam proses keperawatan klien dengan pervbahan persepsi : halusinasi karena keluarga klien belum membesuk klien di Rumah Sakit.

B. SARAN

1. Dalam memberiakan asuhan keperawatan klien dengan gangguan halusinasi hendaknya diciptakan hubungan yang teraupetik, sikap sabar, jujur dan terbuka. Hal ini sangat tepat untuk diterapkan dalain rangka membina hubungan saling percaya dengan klien yang merupakan basik utama dalam pemberian asuhan keperawatan.

2. Perawat diharapkan dapat mernotivasi klien agar me n cer itak an perrnasalahannya kepada perawat dan melibatkan keluarga dalam membantu- tercapainya keberhasilan asuhan keperawatan dengan pendidikan kesehatan tentang cara perawatan klien yang mengalami halusinasi, dan klien dengan menarik diri sehingga ada perawatan tindak lanjut selama klien dirumah oleh keluarga.

3. pntuk mendapatkan asuhan keperawatan yang bcrkualitas pada klien gangguan jiwa, diharapkan agar perawat dapat mendalami

(25)

konsep hubungan teraupetik perawat. Klien dan perawat mampu memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan berkesinambungan.

4. Keterlibatan keluarga merupakan hal penting untuk keherhasilan asuhan keperawatan klien gangguan orientasi realitas ( halusinasi ) karena keluarga merupakan suatu kelompok yang dapat meningkatkan, mencegah, atau memperbaiki ( masalah yang ada dalam kelompok sendiri )

(26)

DAFTAR PUSTAKA

ƒ Kelliat, B.A. (1996). Hubungan terapeutik Perawatan Klien. Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

ƒ Kelliat, B.A. (1998). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Buku Kedorteran EGC, Jakarta

ƒ Maramis. (1990). Ilmu Kedoteran Jiwa. Universitas Pres Erlangga.

ƒ Maramis, WF. (2004). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Erlangga University Press, Surabaya.

ƒ Start, Guil Wiscars and Sudeen, Sandra. (1998). Buku Saku Keperawatan

Jiwa, alih Bahasa Achir Yani Hamid, Editor dalam Bahsa Indonesia,

Yasminb Asih, Edisi 3, Jakarta : EGC.

ƒ Stuart, G.W. and Laria. M.T. (2001). Principle and Practice of Psychiatric

Nursing Seventh ed. Mobsy, st Louis.

ƒ Stuart, GW, & Sundeen, SJ, (1995), Pocket Guide To Psychiatric Nursing,

Edisi 3, Alih Bahasa Achir Yani S. Hamid, Penerbit buku kedokteran

EGC, Jakarta.

ƒ Townsend, M.C. (1998), Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada

Keperawatan Psikiatrik, Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.

ƒ Carpenito,L,J.(1995),Buku saku diagnosa keperawatan jiwa (alih bahasa Monica ester) Jakarta : EGC

Referensi

Dokumen terkait

Dari data yang diperoleh dilapangan dengan teori yang ada terdapat kesinambungan, bahwa Peserta didik di smk sore tulungagung lebih tertarik dan bersemangat mengikuti mata

Ini dilakukan tidak lain adalah demi meningkatkan kinerja pegawai agar lebih baik, khususnya pada Pada Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan & Keluarga

The result of the data analysis of this research revealed that the students taught using explicit teaching instruction of English phrases gained better improvement

In interview with the teacher, the writer will ask about suggestion of strategies that can be used by students who often make errors in reading comprehension

PENGEMBANGAN KOLEKSI ANAK DI BALAI LAYANAN PERPUSTAKAAN BADAN PERPUSTAKAAN DAN ARSIP DAERAH.. PROVINSI DAERAH

yang hanya dijumpai pada stasiun pengamatan bagian hilir dari outlet limbah industri pupuk urea menunjukkan bahwa kedua jenis tersebut dapat berfungsi sebagai

Materi yang akan di bahas pada penelitian ini adalah melihat kesesuaian dari taman kota di Bandar Lampung untuk di sesuaikan dengan RPTRA sehingga peneliti dapat

Refleks fonem nasal PMP /*p/, baik pada posisi awal yang maupun pada posisi akhir, tidak mengalami perubahan atau tetap menjadi /p/ dalam bahasa Rejang... Begitu pula, fonem