• Tidak ada hasil yang ditemukan

BALAI TAMAN NASIONAL BALURAN 2004

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BALAI TAMAN NASIONAL BALURAN 2004"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Kegiatan

Pengendali Ekosistem Hutan

(2)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Taman Nasional Baluran sebagai salah satu kawasan konservasi sudah selayaknya melakukan usaha perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan secara lestari kekayaan hayati tersebut. Usaha pengawetan terhadap jenis-jenis tumbuhan dapat dilakukan dengan membuat herbarium. Herbarium selain berfungsi untuk koleksi pengenalan jenis tumbuhan, juga untuk pengawetan jenis tumbuhan sehingga apabila terjadi kepunahan pada jenis tersebut, generasi mendatang masih dapat mengetahui bahwa jenis ini pernah ada.

Berbagai jenis tumbuhan yang ada di kawasan Taman Nasional Baluran, belum secara keseluruhan diketahui dan dikenal (dihafal) nama jenis serta ciri-ciri morfologinya. Oleh karena itu dengan adanya koleksi tumbuhan dalam herbarium ini dapat digunakan oleh petugas khususnya sebagai sarana pengenalan jenis lebih mendalam.

Taman Nasional Baluran sebagai salah satu tujuan pendidikan, penelitian dan studi wisata bagi para mahasiswa dan pelajar, maka dengan dilaksanakannya pembuatan herbarium ini dapat lebih memudahkan para petugas Taman Nasional Baluran dalam mengenalkan jenis-jenis tumbuhan yang ada di wilayah kerjanya kepada mahasiswa, pelajar dan peneliti yang melakukan penelitian bidang botani.

B. Tujuan

Pembuatan herbarium dari jenis-jenis tumbuhan yang ada di kawasan Taman Nasional Baluran ini bertujuan untuk :

1. Memberikan contoh specimen tumbuhan dalam bentuk awetan kering untuk memudahkan identifikasi bagi mahasiswa, pelajar dan peneliti.

2. Memudahkan pengenalan jenis-jenis tumbuhan bagi para petugas Taman Nasional Baluran.

3. Untuk koleksi Laboratorium Taman Nasional Baluran, sebagai usaha pengawetan jenis dan menunjang wisata terutama wisata pendidikan.

(3)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Herbarium

Herbarium adalah tumbuhan yang telah dikeringkan dengan suatu proses tertentu. Selain itu herbarium dapat diartikan sebagai koleksi kering specimen tumbuhan yang digunakan dalam penelitian maupun sebagai museum tumbuhan. Specimen tumbuhan yang telah dikeringkan ini menjadi sarana yang sangat penting untuk studi tumbuhan di masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang bagi para ahli taksonomi tumbuhan. Pada awalnya untuk menyebut tumbuhan yang telah diawetkan ini dipakai istilah “horto siccus”, “hortus mortuus”, “hortus hiemalis” atau “phytophylacium”. Istilah “herbarium”dikenalkan oleh Linnaeus yang kemudian digunakan sampai sekarang.

Pada masa sekarang herbarium tidak hanya merupakan suatu spesimen tumbuhan yang diawetkan tetapi juga mempunyai suatu lingkup kegiatan botani tertentu, sebagai sumber informasi dasar untuk para ahli taksonomi dan sekaligus berperan sebagai pusat penelitian dan pengajaran, juga pusat informasi bagi masyarakat umum. Herbarium diartikan juga sebagai bank data dengan sejumlah data mentah yang belum diolah. Masing-masing specimen dapat memberikan bermacam-macam informasi, tergantung kelengkapan spesimen, data dan asal-usul materialnya.

B. Flora di Taman Nasional Baluran

Beragam jenis vegetasi yang terdapat di Taman Nasional Baluran tersebar dari pantai sampai puncak Gunung Baluran dengan ketinggian 1.247 m dpl. Jenis-jenis tersebut tumbuh pada berbagai ekosistem yaitu hutan pantai, hutan payau, hutan mangrove, savana, hutan musim dataran rendah yang selalu hijau (evergreen forest) dan hutan pegunungan bawah.

Di kawasan ini terdapat ± 444 jenis tumbuhan yang berdasarkan tingkat vegetasinya diketahui untuk pohon terdapat 138 jenis dengan jumlah tumbuhan eksotik sebanyak 6 jenis, herba terdapat 120 jenis dengan jumlah tumbuhan eksotik sebanyak 9 jenis, perdu terdapat 76 jenis dengan jumlah tumbuhan eksotik 8 jenis, rumput terdapat 52 jenis, tumbuhan memanjat terdapat 37 jenis dengan jumlah tumbuhan eksotik 1 jenis. Jenis anggrek terdapat 6 jenis, paku-pakuan terdapat 13

(4)

BAB III

PELAKSANAAN KEGIATAN

A. Waktu dan Tempat

Kegiatan pembuatan herbarium dilaksanakan pada bulan tgl 10 sampai dengan 15 Desember 2004, dengan menitikberatkan untuk jenis pohon di lokasi sekitar kantor Seksi Konservasi Wilayah I Pandean

B. Alat dan Bahan

Peralatan dan bahan yang dibutuhkan dan dipergunakan pada kegiatan pembuatan herbarium ini adalah :

• kertas manila warna putih ukuran 40 cm x 30 cm dan 50 cm x 40 cm • kertas karton ukuran 60 cm x 40 cm

• pensil 2 B • jarum besar • benang layar • karet penghapus

• kertas minyak warna putih • tali pengikat

• kertas samson

• selotip

• gunting, scapel dan pisau lipat • kertas koran • lem kertas • plastik mika • alkohol 70 % • multiplek C. Cara Kerja

1. Pengambilan specimen di lapangan

Specimen yang diambil sebaiknya dalam kondisi fertil yaitu semua organ-organ tumbuhan terwakili mulai dari umbi, akar, batang, daun, bunga dan buah. Apabila tidak memungkinkan cukup diwakili dengan batang, daun dan bunga. Adapun langkah kerjanya sebagai berikut :

a. Dipilih specimen yang masih segar dan sedang berbunga

b. Untuk jenis rumput dan tumbuhan herba, tanah sekitar specimen digali untuk mempermudah pengambilan specimen serta supaya akar-karnya tidak patah.

c. Untuk menjaga kesegaran specimen dan agar specimen tidak mudah layu disemprot dan atau dimasukkan ke dalam alkohol 70 %.

(5)

2. Pengepresan

Pengepresan adalah proses pengaturan specimen pada alat pengepresan yang terdiri dari kertas koran, karton, sasak. Alat sasak ini bisa terbuat dari berbagai macam bahan, sedangkan pada kegiatan ini digunakan sasak yang terbuat dari multiplek dan tali nylon.

Langkah-langkah kerjanya sebagai berikut :

a. Specimen yang telah terkumpul dikeluarkan dari kantong plastik dan lipatan koran.

b. Specimen kemudian diatur kembali diantara kertas koran.

c. Untuk specimen yang terlalu panjang, batang dipatahkan membentuk huruf N atau A.

d. Pada saat pengepresan, kondisi tumbuhan harus utuh, tidak diperbolehkan ada bagian-bagian yang dikurangi.

e. Atur posisi sebagian daun sehingga daun tampak bagian permukaan atas dan bawah.

f. Atur kertas-kertas koran yang telah berisi specimen tadi menjadi tumpukan sebanyak 10 – 15 specimen.

g. Lapisi antar specimen tersebut menggunakan triplek dan ikat kuat-kuat.

3. Pengeringan

Tumpukan specimen yang telah disusun dalam alat sasak dijemur dibawah sinar matahari selama ± 3 hari, kemudian diangin-anginkan selama ± 3 hari.

4. Penyortiran

Spesimen yang telah kering dikeluarkan dari sasak satu persatu secara perlahan-lahan agar tidak merusak organ-oragan yang rapuh. Bagian bunga dan buah yang mudah rontok disimpan dalam amplop kertas yang telah diberi label, nomor koleksi dan nama spesies. Jumlah daun yang terlalu banyak dapat dikurangi dengan jalan memotong bagian daun menggunakan gunting stek dengan tetap meninggalkan tangkai daun pada batangnya. Untuk tumbuhan yang tinggi dipotong menjadi dua atau tiga bagian menggunakan gunting stek agar hasil potongan rapi.

(6)

5. Pegeplakkan

Specimen yang telah dipilih diplak pada kertas manila putih yang telah dilengkapi dengan penutup dari kertas minyak. Specimen dengan bagian batang dan daun yang berukuran kecil dilekatkan menggunakan selotip, sedangkan specimen dengan batang yang besar dan daun yang lebar dijahit menggunakan benang layar pada bagian ibu tulang daunnya.

Specimen yang dipotong menjadi dua atau tiga bagian dilekatkan pada kertas manila yang diberi tanda sheet 1 of 2 dan seterusnya. Specimen yang telah diplak dilengkapi denga etiket tempel yang memuat informasi tentang nama ilmiah, nama daerah/lokal, lokasi pengambilan, tanggal pengambilan, nama kolektor, familia, ketinggian lokasi pengambilan, nomor koleksi dan dsekripsi serta etiket gantung yang memuat nama ilmiah, nama lokal, familia, kolektor dan tanggal koleksi.

6. Pemeliharaan Spesimen

Specimen yang telah diplak pada kertas manila dan dilengkapi dengan etiket gantung, disebut sebagai “Herbarium”. Hasil herbarium kemudian disimpan dalam amplop besar. Untuk setiap amplop diisi maksimal 10 herbarium. Amplop-amplop tersebut kemudian diatur dalam rak lemari dan diberi kamfer/kapur barus. Apabila rak lemarinya cukup banyak, setiap satu rak digunakan untuk menyimpan satu familia. Pada bagian luar laci rak tersebut ditempelkan nama familia dari jenis-jenis tumbuhan yang disimpan didalamnya. Hal ini untuk memudahkan dalam mencari jenis-jenis yang dikehendaki.

Herbarium yang telah disimpan tadi perlu diangin-anginkan kembali setiap periode waktu tertentu atau ± 3 bulan sekali untuk mencegah terjadinya kelembaban dan serangan jamur. Apabila terdapat freezer akan lebih baik lagi jika disimpan didalamnya selama 2 hari untuk memeatiakn spora-spora jamur yang mulai berkembang.

(7)

BAB IV

HASIL KEGIATAN PEMBUATAN HERBARIUM

A. Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan pembuatan herbarium ini diawali dengan berkumpulnya seluruh anggota tim dalam rangka persamaan persepsi terhadap kegiatan yang akan dilaksanakan. Proses pelaksanaan pembuatan herbarium ini dibagi menjadi beberapa tahapan sebagai berikut :

1. Pengambilan specimen di lapangan. 2. Identifikasi jenis. 3. Pengepresan. 4. Pengeringan. 5. Penyortiran. 6. Pengeplakan 7. Pemeliharaan specimen.

Kegiatan pembuatan herbarium ini membutuhkan keuletan dan ketelitian yang tinggi, karena kondisi dari masing-masing spesimen yang berbeda-beda dan bersifat mudah rusak. Apabila tidak hati-hati seringkali terjadi daun yang telah kering sobek atau mudah rontok dan patah.

B. Jenis Tumbuhan Hasil Koleksi

Hasil dari pelaksanaan pengambilan jenis tumbuhan dan pembuatan herbariumnya diperoleh data jenis tumbuhan yang terkumpul sebagai berikut :

No. Nama Daerah Nama Latin Famili

1. Apak Ficus,sp. Moraceae

2. Trembesi Samania saman Bignoniaceae

3. Sogo Adenanthera

microsperma Leguminaceae

4. Talok Grewia eriocarpa Juss Tiliaceae 5. Kesambi Schleichera oleosa Sapindaceae

6. Kayu jaran Delichandrone

(8)

10. Pilang Acacia leuchoploea Leguminaceae 11. Kendal Cordia obliqua Willd. Boraginaceae 12. Wuni Antidesma bunius Euphorbiaceae 13. Mundu alas Garcinia balica Guttiferae 14. Klampis Acacia tomentosa Leguminoseae 15. Kendayakan Bauhinia hirusta Leguminoseae

(9)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Pada pembuatan koleksi herbarium ini, dikumpulkan 15 (lima belas) jenis pohon. Secara bertahap pada kesempatan selanjutnya akan dilanjutkan dengan mencari jenis lain.

Usaha pengawetan terhadap jenis-jenis tumbuhan dalam bentuk koleksi herbarium ini, dapat menunjang kegiatan pengembangan informasi potensi kawasan Taman Nasional Baluran. Koleksi tersebut dapat dipergunakan secara intern oleh para petugas kawasan maupun secara ekstern, yaitu bagi pelajar, mahasiswa serta peneliti dalam bidang pengenalan jenis tumbuhan.

B. Saran

Pengembangan informasi potensi di Taman Nasional Baluran sebaiknya ditindaklanjuti dengan kegiatan serupa pada kesempatan dan waktu mendatang. Karena koleksi herbariun yang dapat disusun pada kegiatan ini hanya sebagian kecil dari koleksi jenis yang dapat dikumpulkan, dimana masih banyak jenis tumbuhan yang ada di dalam kawasan yang belum disusun koleksi keringnya dalam bentuk herbarium. Dukungan dari berbagai pihak dalam pembuatan herbarium ini sangat diharapkan, sehingga kegiatan selanjutnya dapat berlangsung dan berhasil dengan baik.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil wawancara yang dilakukan dengan dua orang dukun/ tabib kampung diketahui, terdapat 67 jenis dari 39 famili tumbuhan herba yang dimanfaatkan oleh masyarakat Karo di Desa

Jumlah jenis ini lebih rendah dari penelitian Yulinda (2004) di hutan Tangkahan yang melaporkan bahwa di kawasan hutan Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser Kabupaten

Terdapat 81(delapan puluh satu) jenis pohon dalam kawasan TN Kelimutu yang tersebar pada 4 (empat) zona yaitu : zona rimba 55 (lima puluh lima) jenis, zona pemanfaatan intensif

Pulai peucang berkorelasi negatif dengan faktor-faktor suhu, keasaman tanah dan kerapatan pohon sedangkan pulai kuning berkorelasi negatif dengan keragaman tumbuhan herba

Dilakukan pengambilan sampel jenis yang diperkirakan termasuk tumbuhan invasif yang terdapat di kawasan bukit sulap dilakukan dengan menjelajah lokasi penelitian

1.Tumbuhan berperawakan pohon Dari hasil pengamatan pada 6 transek yang dibuat tercatat ada sekitar 41 jenis tumbuhan berperawakan pohon (termasuk jenis mangrove) yang terdapat di

HHBK di TNB hasil survey BTNB (2014) terdapat sebanyak 10 jenis yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat desa penyangga yang tersebar hampir di semua zona kawasan. Hal ini

Jumlah jenis ini lebih rendah dari penelitian Yulinda (2004) di hutan Tangkahan yang melaporkan bahwa di kawasan hutan Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser Kabupaten