Kolegium Obstetri Ginekologi Indonesia adalah pembina dan penentu kebijakan pendidikan Dokter, Spesialis Obstetri Ginekologi dan Konsultan serta memberi asupan materi pendidikan obstetri dan ginekologi di ;ngkat S1 (re. Pasal 18, ayat 1, AD‐POGI);
Kolegium terdiri atas Guru Besar, Ketua Bagian Obstetri Ginekologi Fakultas
Kedokteran yang menyelenggarakan Program Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi, Ketua Program Studi Obstetri Ginekologi, dan Ketua Himpunan Konsultan (re. Pasal 18, ayat 2, AD‐POGI);
Ketua Kolegium membentuk Pengurus Harian Kolegium, membuat
Organisasi Tata Laksana (Ortala), dan disahkan oleh Pengurus Besar (re. Pasal 18, ayat 5, AD‐POGI).
Berbagai ketentuan tersebut diatas menunjukkan bahwa Kolegium
Obstetri Ginekologi Indonesia adalah unit organisasi di dalam POGI
yang mempunyai kewenangan untuk pengelolaan pendidikan profesi
obstetri ginekologi.
Re. ART‐POGI Pasal 35 ayat (5) :
Menetapkan kebijakan pelaksanaan dan evaluasi kegiatan pendidikan spesialis obstetri ginekologi;
Mewakili POGI dalam masalah pendidikan dokter spesialis;
Menetapkan kurikulum dan program studi baru;
Mengukuhkan kurikulum spesialis konsultan;
Menetapkan kebijakan dan pelaksanaan ujian nasional;
Memberikan ser;fikasi;
MendaUarkan program studi ke Depdiknas;
Kerjasama dengan badan terkait didalam dan di luar negeri;
Menetapkan Akreditasi RS Lahan Pendidikan;
Menyediakan publikasi untuk didiseminasikan kepada Spesialis Obstetri Ginekologi serta mengembangkan informasi tentang
Terus menerus, ru;n
Kerjasama dengan badan terkait didalam dan di luar negeri Menyediakan publikasi untuk didiseminasikan kepada Spesialis Obstetri Ginekologi serta mengembangkan informasi tentang pendidikan Spesialis Obstetri Ginekologi termasuk data peserta dan lulusan
Terjadwal, periodik
Menetapkan kebijakan pelaksanaan dan evaluasi kegiatan pendidikan spesialis obstetri ginekologi Menetapkan kebijakan dan pelaksanaan ujian nasional
Memberikan ser;fikasi
Terjadwal, sesuai
kebutuhan
Mewakili POGI dalam masalah pendidikan dokter spesialis
Menetapkan kurikulum dan program studi baru
Mengukuhkan kurikulum spesialis konsultan
MendaUarkan program studi ke Kemdiknas
Menetapkan Akreditasi RS Lahan Pendidikan
Perbedaan kapasitas (ketersediaan berbagai sumber daya
manajemen) dari 13 senter pendidikan yang ada telah
menyebabkan perbedaan kemampuan untuk menerapkan
kurikulum standar pendidikan, serta kesulitan dalam penerapan
sistem modul. Hal ini berdampak pada perbedaan kemampuan
profesional dan kompetensi lulusan (Laporan Kolegium Obstetri
Ginekologi, Juli 2006‐Agustus 2009);
Perbedaan ketaatan dari 13 senter pendidikan yang ada terhadap
penerapan sistem modul telah menyebabkan ke;dakseragaman
dalam cara menilai pencapaian kemampuan dan kompetensi
lulusan serta cara melakukan kontrol yang benar terhadap proses
belajar‐mengajar (Laporan Kolegium Obstetri Ginekologi, Juli
2006‐Agustus 2009).
Penurunan Angka Kema;an Ibu di Indonesia yang rela;f lambat
(cenderung stagnan), serta disparitas antar wilayah yang semakin
melebar selama 15 tahun terakhir mencerminkan belum merata
dan rendahnya kualitas pelayanan kesehatan reproduksi;
Perbedaan ketersediaan rumah sakit jejaring untuk pendidikan
Dokter, Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi dan Dokter Spesialis
Obstetri Ginekologi Konsultan di se;ap senter pendidikan;
Perbedaan akses terhadap
electronic library
, akses internet dari
berbagai senter pendidikan yang ada;
Kolegium terbaik ditandai dengan komitmen POGI untuk terus menerus melakukan peningkatan mutu pengelolaan pendidikan profesi obstetri ginekologi agar mampu menghasilkan lulusan yang profesional dan kompeten untuk memecahkan masalah kesehatan reproduksi nasional serta berkontribusi bagi pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi obstetri ginekologi baik dalam tataran nasional maupun tataran regional.
c. Data mengenai besaran biaya pendidikan sudah mulai dikumpulkan namun belum selesai dianalisis (;dak ada uraian mengenai besaran biaya pendidikan didalam Laporan Kolegium Obstetri Ginekologi Indonesia, Juli 2006‐Agustus 2009). Kecukupan biaya operasional untuk penyelenggaraan pendidikan di berbagai senter pendidikan menjadi isu strategis yang memerlukan penanganan segera. Sehingga biaya yang dibebankan kepada peserta didik dapat mencerminkan biaya yang digunakan untuk penyelenggaraan pendidikan dimaksud;
e. Proyeksi kebutuhan Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi dan kapasitas senter pendidikan:
Es;masi jumlah penduduk Indonesia pada 2014 adalah sebanyak 240.000.000 jiwa
Kebutuhan Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi adalah 1:70.000 penduduk pada 2014 dibutuhkan sekitar 3.430 Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi
Jumlah Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi pada 2010 adalah sebanyak 2.350 Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi dalam kurun waktu 4 tahun dibutuhkan tambahan 1.080 Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi
Kapasitas produksi 13 senter pendidikan adalah sebanyak 172 Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi per tahun dalam tempo 4 tahun akan dihasilkan 688 Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi baru.
Es;masi kekurangan pada 2014 adalah sebanyak 392 Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi
* Upaya peningkatan jumlah lulusan dokter umum berada diluar k ewenangan Kolegium Obstetri Ginekologi Indonesia,
c. Maldistribusi Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi dan Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi Konsultan, terutama di ;ngkat kabupaten, telah menyebabkan:
Terhambatnya pelayanan rujukan di rumah sakit umum daerah yang menyelenggarakan PONEK;
Terhambatnya akselerasi penurunan Angka Kema;an Ibu, yaitu pencapaian target Millennium Development Goals 5 (dari 226 per 100.000 kelahiran hidup pada 2010, menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada 2015);
Kegiatan 2010
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Konsolidasi internal untuk penyusunan uraian tugas
pengurus Kolegium Obstetri Ginekologi Indonesia
2. Membuat Renstra Kolegium Obstetri Ginekologi
Indonesia 2010‐2012
3. Membuat Rencana Kerja Kolegium Obstetri
Ginekologi Indonesia 2011
4. Pengembangan forum komunikasi pengurus
Kolegium Obstetri Ginekologi Indonesia;
5. Penguatan jejaring ins;tusi pendidikan dokter
spesialis obstetri ginekologi dengan rumah sakit lahan pendidikan
6. Penguatan kerjasama antara Kolegium Obstetri
Ginekologi Indonesia, POGI, IDI, MKKI, Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Kesehatan
7. Penguatan kerjasama antara Kolegium Obstetri
Ginekologi Indonesia dengan regional/interna3onal
obstetry gynaecology peer group
8. Penyelenggaraan tupoksi Kolegium Obstetri
Ginekologi Indonesia (Re. Pasal 35, ayat (5), ART‐ POGI)
Kegiatan 2011
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Penyusunan kebijakan mutu penyelenggaraan
pendidikan Dokter, Dokter Spesialis Obstetri
Ginekologi dan Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi Konsultan
2. Penyusunan indikator mutu, standar prosedur
operasi, serta instruksi kerja terkait penyelenggaraan program pendidikan Dokter, Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi dan Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi Konsultan
3. Membuat Rencana Kerja Kolegium Obstetri
Ginekologi Indonesia 2012
4. Penyelenggaraan tupoksi Kolegium Obstetri
Ginekologi Indonesia (Re. Pasal 35, ayat (5), ART‐ POGI)
Kegiatan 2012
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Sosialisasi kebijakan mutu, indikator, standar
prosedur operasional dan instruksi kerja ke seluruh ins;tusi pendidikan
2. Penerapan modul pendidikan dan log book di
seluruh senter pendidikan
3. Membuat Rencana Kerja Kolegium Obstetri
Ginekologi Indonesia 2013
4. Penyelenggaraan tupoksi Kolegium Obstetri
Ginekologi Indonesia (Re. Pasal 35, ayat (5), ART‐ POGI)
12.
Trajectory 2010-2012
2010 2011 2012 B E Y O N D
1. Konsolidasi internal penyusunan uraian tugas pengurus KOGI; 2. Pengembangan forum komunikasi pengurus KOGI;
3. Penguatan jejaring institusi pendidikan dokter spesialis obstetri ginekologi;
4. Penguatan kerjasama antara Kolegium Obstetri Ginekologi Indonesia, POGI, IDI, Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Kesehatan. 1. Penyusunan kebijakan mutu penyelenggaraan pendidikan Dokter, Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi dan
Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi Konsultan;
2. Penyusunan indikator mutu, standar prosedur operasi, serta instruksi kerja terkait penyelenggaraan program pendidikan Dokter, Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi dan Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi Konsultan;
1. Sosialisasi kebijakan mutu, indikator, standar prosedur operasional dan instruksi kerja ke seluruh institusi pendidikan ;
2. Penerapan modul pendidikan dan log book di seluruh institusi pendidikan.
1. Penyelenggaraan program pendidikan yang bermutu; 2. Biaya pendidikan yang