BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang bersifat reflektif, dilakukan

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian penelitian tindakan kelas (PTK) yang pada hakikatnya dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang bersifat reflektif, dilakukan berdasarkan adanya permasalahan di kelas, selanjutnya berdasarkan permasalahan tersebut guru mencari cara-cara alternatif untuk mengatasinya dan menindaklanjuti dengan tindakan nyata yang terencana dan dapat diukur tingkat keberhasilannya (Subadi, 2010: 77).

Menurut Kemmis dan McTaggart dalam Subadi (2010: 144-146) terdapat tiga macam Penelitian Tindakan Kelas, yaitu:

1. Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan secara Individual

Penelitian yang dilakukan secara individual adalah penelitian dimana guru atau dosen yang melakukan penelitian tersebut berkedudukan sebagai peneliti sekaligus sebagai praktisi. Penelitian yang dilakukan secara individual harus didukung oleh critical friend. Critical friend dapat membantu peneliti pada saat melakukan refleksi. Selain itu, critical friend juga dapat bertindak sebagai observer saat peneliti melakukan praktik pembelajaran sebagai praktisi.

(2)

2. Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan secara Kolaboratif

Penelitian dalam bentuk kolaboratif/ kelompok melibatkan sekelompok guru/ dosen, sehingga ada guru/ dosen sebagai peneliti dan guru/ dosen sebagai praktisi. Dalam kolaborasi antara guru dan dosen, permasalahan digali bersama di lapangan, dan dosen dapat sebagai inisiator untuk menawarkan pemecahan atas dasar topik area yang dipilih.

3. Penelitian yang dilakukan secara Kelembagaaan

Penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kelembagaan memiliki lingkup penelitian yang lebih luas dibanding PTK individual/perorangan maupun PTK yang dilakukan secara kolaboratif/kelompok. Tujuan utama PTK yang dilakukan secara kelembagaan adalah untuk memajukan lembaga.

Jenis penelitian tindakan kelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas individual. Penelitian ini dilakukan pada lingkup yang terbatas atau berfokus pada topik area yang sempit yaitu keaktifan dalam proses pembelajaran IPA di kelas III. Peneliti bertindak sebagai subjek yang melakukan tindakan. Sedangkan guru kelas III hanya membantu mengobservasi kegiatan.

Penelitian Tindakan Kelas oleh Kurt Lewin (dalam Rubiyanto, 2011) digambarkan sebagai serangkaian langkah yang membentuk spiral. Setiap langkah mempunyai empat tahap, yaitu perencanaan (planning), tindakan

(3)

(acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Berikut adalah bagan langkah-langkah pelaksanaan siklus PTK:

Gambar 3.1. Siklus PTK (Sumber; Rubiyanto dkk., 2011: 120)

B. Setting Penelitian

1. Tempat dan Waktu Penelitian a. Tempat Penelitian

Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian

(4)

ini bertempat di SD Negeri 1 Lebengjumuk Kecamatan Grobogan Kabupaten Grobogan Provinsi Jawa Tengah. Ruang kelas yang diteliti adalah kelas III tahun ajaran 2015/ 2016.

b. Waktu Penelitian

Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Tahap-tahap pelaksanaan penelitian di SD Negeri 1 Lebengjumuk yang dimulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, analisis data, dan pelaporan akan dilaksanakan selama kurang lebih 4 bulan yaitu mulai dari bulan September sampai dengan bulan Desember 2015.

Tabel 3.1. Perincian Kegiatan Penelitian

No Jadwal

Penelitian

Bulan Pelaksanaan Penelitian Tahun 2015

September Oktober November Desember

2015 2015 2015 2015 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1. Tahap Persiapan √ √ √ Penyusunan Proposal √ √ √ √ √ Menyusun Instrumen √ √ √ √ Mengurus Perijinan √ √ 2. Tahap Pelaksanaan √ √ √ √ √ Pengumpulan Data √ √ √ √ √ Analisis Data √ √ √ √ √ √ √ √ Perumusan Hasil Penelitian √ √ √ √ √ √ 3. Tahap Penyelesaian √ √ √ √

(5)

C. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah guru atau peneliti yang berperan dalam perencanaan tindakan sekaligus sebagai pelaksana tindakan, sedangkan objek penelitiannya yaitu siswa kelas III SD Negeri 1 Lebengjumuk yang berjumlah 25 orang.

D. Data dan Sumber Data

Jenis data atau informasi yang penting untuk dikaji dalam penelitian ini adalah data kualitatif, yaitu data tentang keaktifan belajar siswa selama proses pembelajaran IPA, dan data hasil belajar IPA. Informasi tersebut akan digali dari berbagai sumber. Arikunto (2006: 129), menjelaskan bahwa sumber data dalam penelitian adalah ”subjek dari mana data diperoleh”.

Sumber data yang diperlukan disebut informan yang dalam hal ini berperan sebagai pemberi informasi atau keterangan dan data-data yang diperlukan dalam penelitian, di antaranya yaitu: guru dan siswa kelas III Sekolah Dasar Negeri 1 Lebengjumuk Kabupaten Grobogan tahun 2015/ 2016, hasil wawancara dan observasi ketika pelaksanaan proses kegiatan belajar mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan model pembelajaran SAVI, data dokumentasi, dan data administrasi kelas.

E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah suatu kegiatan untuk memperoleh data yang dibutuhkan oleh peneliti berdasarkan sumber data yang berkaitan

(6)

dengan masalah yang dihadapi dalam penelitian ini. Sumber data primer berasal dari guru yang melakukan tindakan dan siswa yang menerima tindakan, sedangkan data sekunder dapat berupa data dokumentasi. Untuk mendapatkan data yang tepat dan objektif, diperlukan suatu teknik yang sesuai. Teknik atau cara yang peneliti gunakan untuk mengumpulkan data adalah melalui teknik wawancara dengan guru kelas dan siswa, observasi atau pengamatan, dokumentasi, dan tes.

a. Wawancara

Menurut Rubino (2009: 73) wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan jalan tanya jawab secara langsung berhadapan muka, peneliti bertanya secara lisan dan responden menjawab secara lisan pula.

Ada beberapa bentuk wawancara yaitu:

1) Wawancara terstruktur adalah apabila peneliti sebagai pewawancara sudah mempersiapkan bahan wawancara terlebih dahulu.

2) Wawancara tidak terstruktur adalah bentuk wawancara dimana prakarsa untuk memilih topik bahasan diambil oleh siswa atau orang yang diwawancarai (Kunandar, 2010: 159-160).

Pada penelitian ini, peneliti melaksanakan wawancara terstruktur dengan guru kelas III dan siswa untuk mengetahui keluhan selama pembelajaran di kelas. Wawancara tersebut berisi tentang

(7)

bagaimana keaktifan belajar siswa kelas III ketika berada dalam proses pembelajaran, serta model pembelajaran apa saja yang cocok dengan situasi kelas.

b. Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan pengamatan kepada tingkah laku pada situasi tertentu (Sudjana, 2005: 114). Observasi bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara langsung kegiatan belajar siswa di kelas. Data observasi diperoleh dengan cara mengamati proses pembelajaran IPA kelas III yang dilakukan oleh guru kelas.

Bentuk observasi yang dilakukan peneliti adalah observasi aktif, yaitu peneliti bertindak sebagai pelaksana yang mengumpulkan data dan mencatat kegiatan yang sedang berjalan.

c. Dokumentasi

Menurut Guba dan Licoln (dalam Lexy J. Moleong, 2007: 216-217) dokumentasi ialah setiap bahan tertulis ataupun film. Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang digunakan untuk memperkuat data yang telah didapat dengan dokumen yang sudah ada. Teknik ini dapat berupa daftar presensi, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), ataupun dokumen yang ada di sekolah yang dapat digunakan sebagai sumber data yang tepat dalam penelitian.

(8)

d. Tes

Menurut Margono (2010: 170), tes ialah seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapat jawaban yang dapat dijadikan dasar bagi penetapan skor. Tes digunakan untuk memperoleh data hasil belajar siswa serta mengetahui sejauh mana kemampuan siswa menyerap bahan ajar. Ada 2 jenis tes yang sering digunakan, yaitu.

1) Tes lisan, yaitu berupa sejumlah pertanyaan yang diajukan secara lisan tentang aspek-aspek yang ingin diketahui keadaannya dari jawaban yang diberikan secara lisan pula. 2) Tes tertulis, yaitu berupa sejumlah pertanyaan yang diajukan

secara tertulis tentang aspek-aspek yang ingin diketahui keadaannya dari jawaban yang diberikan secara tertulis pula. Tes tertulis ada dua bentuk yaitu tes objektif dan tes essay.

Tes yang digunakan dalam penelitian ini berjenis tes tertulis yang berupa tes objektif (pilihan ganda) dan essay. Dengan teknik tes, peneliti memperoleh data nilai yang digunakan sebagai bahan analisis data pembelajaran masing-masing siklus, juga untuk mengetahui hasil ketuntasan nilai IPA yang didasarkan pada KKM IPA kelas III.

2. Instrumen Pengumpulan Data

Menurut Sampurna (2003: 194), ”Instrumen adalah alat yang dipakai untuk mengerjakan sesuatu”. Maka dari itu, penelitian memiliki

(9)

arti pemeriksaan, penyelidikan, kegiatan mengumpulkan, pengolahan, analisis dan penyajian data secara sistematis dan objektif. Dengan masing-masing pengertian tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan instrumen adalah semua alat yang dipakai untuk mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah atau mengumpulkan, mengolah, menganalisa, dan menyajikan data secara sistematis serta objektif dengan tujuan memecahkan suatu persoalan. Jadi, semua alat yang dapat mendukung suatu penelitian disebut instrumen penelitian.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:

a. Lembar pedoman wawancara, digunakan untuk melengkapi data hasil observasi serta memperoleh data dan informasi yang lebih rinci mengenai sikap, pendapat ataupun wawasan, yang meliputi keaktifan belajar IPA siswa, serta pengaruh penggunaan model pembelajaran di kelas. Pedoman wawancara berisi pertanyaan yang akan diajukan oleh peneliti kepada narasumber.

b. Lembar pedoman observasi, digunakan untuk mengamati jalannya proses pembelajaran dan mengetahui sejauh mana model pembelajaran SAVI dapat menjadi solusi untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa di kelas.

c. Instrumen tes, digunakan sebagai instrumen untuk memperoleh data hasil belajar siswa melalui tes pada tiap akhir siklus pembelajaran.

(10)

F. Validitas Data dan Instrumen

Menurut Arikunto (2009: 65), Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu data atau instrumen. Suatu data atau instrumen yang valid mempunyai validitas tinggi, sedangkan data atau instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah.

Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Untuk mengetahui valid tidaknya suatu data, maka data yang telah dikumpulkan oleh peneliti perlu dicek keabsahannya. Pengecekan data pada Penelitian Tindakan Kelas dapat dilakukan dengan triangulasi.

Menurut Lexy J. Moleong (2007: 330), Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.

Denzin (dalam Moleong, 2007: 330) menyatakan ada empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya. Triangulasi dengan sumber artinya membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian.

(11)

Dalam penelitian ini, konsep yang hendak diukur adalah keaktifan belajar siswa. Konsep tersebut masih abstrak sehingga memerlukan penjabaran berupa indikator-indikator keaktifan belajar siswa untuk memudahkan melakukan penelitian. Indikator keaktifan belajar siswa dalam penelitian ini yaitu perhatian siswa terhadap penjelasan guru, kerjasama dalam kelompok, memberi kesempatan berpendapat kepada teman dalam kelompok, mendengarkan dengan baik ketika teman berpendapat, dan saling membantu menyelesaikan masalah.

G. Teknik Analisis Data

Untuk mengetahui keefektifan suatu model atau metode dalam kegiatan pembelajaran, maka perlu diadakan analisis data. Analisis data adalah suatu upaya untuk meringkas data yang telah dikumpulkan secara dapat dipercaya, akurat, andal dan benar (Herawati Susilo. 2009: 100).

Data penelitian ini merupakan data non statistik atau disebut juga data kualitatif. Data kualitatif adalah data yang bersifat deskripsi, keterangan, informasi, kata-kata dan bukan bersifat angka (Rubiyanto, 2011: 71).

Miles dan Huberman mengemukakan cara untuk menganalisis data kualitatif yaitu menggunakan Analisis Model Interaktif (Interactive Model of Analysis) yang terdiri atas tiga komponen kegiatan yang saling terkait satu sama lain sebagai suatu siklus, yakni reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/ verifikasi data (Herawati Susilo, 2009: 103).

(12)

Gambar 3.2. Bagan Analisis Model Interaktif (dalam Subadi 2004: 109)

1. Reduksi Data

Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan (Subadi, 2004:107).

Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Setelah dikaji kemudian membuat rangkuman untuk setiap pertemuan atau tindakan di kelas. Berdasarkan rangkuman yang dibuat kemudian peneliti melaksanakan reduksi data yang kegiatannya mencakup unsur-unsur sebagai berikut :

a. Memilih data atas dasar relevansi.

b. Menyusun data dalam satuan-satuan sejenis.

c. Memfokuskan penyederhanaan dan menstransfer dari data kasar ke catatan observasi.

2. Penyajian Data

Penyajian data berisi sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan

(13)

tindakan. Penyajian data berbentuk teks naratif, teks dalam bentuk catatan-catatan hasil observasi dan catatan lapangan (Subadi, 2004: 108). Pada langkah penelitian ini, peneliti berusaha menyusun data yang relevan sehingga menjadi informasi yang dapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu. Dengan cara menampilkan data dan membuat hubungan antara variabel peneliti mengerti apa yang terjadi dari apa yang perlu ditindaklanjuti untuk mencapai tujuan penelitian.

3. Penarikan Kesimpulan/ Verifikasi Data

Penarikan kesimpulan atau verifikasi data dilakukan secara bertahap untuk memperoleh derajat kepercayaan tinggi. Dengan demikian analisis data dalam penelitian ini dilakukan sejak tindakan dilaksanakan. Verifikasi data dilakukan pada setiap tindakan yang pada akhirnya dipadukan menjadi kesimpulan.

H. Prosedur Penelitian

Penelitian tindakan oleh Kurt Lewin (dalam Suwandi, 2010) digambarkan sebagai serangkaian langkah yang membentuk spiral. Setiap langkah mempunyai empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.

Siklus penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Siklus I sampai siklus II

a. Tahap Perencanaan

(14)

2) Menentukan model atau teknik pembelajaran

3) Menyediakan alat, bahan, dan media yang diperlukan untuk pelaksanaan proses pembelajaran

4) Membuat alat evaluasi b. Tahap Tindakan

Dalam tahap pelaksanaan tindakan guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran SAVI. Indikator yang dicapai dalam penelitian ini adalah meningkatkan keaktifan belajar siswa pada pembelajaran IPA kelas III SD Negeri 1 Lebengjumuk. Setiap tindakan harus menunjukkan peningkatan indikator yang telah dirancang dalam tiap siklus.

c. Observasi

Observasi dilaksanakan selama pelaksanaan pembelajaran untuk mengetahui aktivitas siswa dalam proses pembelajaran IPA. Ketika observasi berlangsung, guru atau peneliti dapat merekam perilaku siswa dengan cara mendokumentasikannya melalui media perekam atau kamera.

d. Tahap Refleksi

Pada tahap refleksi peneliti melakukan analisis terhadap proses pelaksanaan pembelajaran pada semua siklus dan hasil belajar berupa nilai siswa pada siklus I dan II. Jika peneliti menemukan permasalahan atau kekurangan-kekurangan dalam

(15)

pembelajaran sebelumnya, maka peneliti merencanakan perbaikan pada tindakan yang akan dilakukan dalam siklus berikutnya.

Demikian tahapan-tahapan tiap siklus untuk prosedur penelitian, dalam PTK ini siklus yang akan dilakukan tergantung dari pencapaian KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Jika siklus I sudah mencapai KKM, maka penelitian yang dilakukan hanya satu siklus. Tapi jika satu siklus belum mencapai KKM maka akan dilakukan siklus-siklus berikutnya.

I. Indikator Capaian Penelitian

Indikator capaian penelitian berisi acuan yang digunakan peneliti untuk melakukan penilaian sehingga tingkat ketercapaian suatu tujuan dalam penelitian dapat diketahui hasilnya.

Indikator dalam penelitian ini berfungsi untuk mengetahui peningkatan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran IPA dari sebelum siklus dan sesudah siklus. Indikator keaktifan belajar siswa tersebut nantinya diukur ketika kegiatan observasi berlangsung. Adapun indikator keaktifan belajar siswa yang dinilai yaitu:

1) Perhatian siswa terhadap penjelasan guru, 2) Kerjasama dalam kelompok,

3) Memberi kesempatan berpendapat kepada teman dalam kelompok, 4) Mendengarkan dengan baik ketika teman berpendapat, dan

(16)

Nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) untuk pembelajaran IPA pada kelas III SD Negeri 1 Lebengjumuk adalah 62. Setelah menerapkan model pembelajaran SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual), maka diharapkan terjadi peningkatan keaktifan belajar siswa pada mata pelajaran IPA sehingga berpengaruh baik pula terhadap hasil belajar siswa yaitu jumlah siswa yang mendapat nilai ulangan harian ≥ 62 sekurang-kurangnya mencapai 75%. Indikator capaian penelitian dapat dibuat tabel sebagai berikut:

Tabel 3.2. Indikator Capaian Penelitian

No. Aspek yang diukur/ diamati Persentase siswa yang ditargetkan

Cara mengukur/ mengamati

1 Indikator keaktifan belajar siswa meliputi:

a. perhatian siswa terhadap penjelasan guru,

b. kerjasama dalam

kelompok,

c. memberi kesempatan berpendapat kepada teman dalam kelompok, d. mendengarkan dengan

baik ketika teman berpendapat,

e. saling membantu

menyelesaikan masalah.

75 % Keaktifan siswa diukur

ketika observasi dengan

menggunakan lembar

pedoman observasi saat pelaksanaan tindakan siklus berlangsung.

Adapun yang dihitung yaitu jumlah siswa yang menampakkan keaktifan sesuai indikator.

2 Hasil belajar IPA siswa kelas III

75 % Peningkatan hasil belajar dikatakan berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat nilai ≥ 62 mencapai 75%. Peningkatan hasil belajar siswa diukur melalui pemberian tes pada setiap siklus.

Figur

Gambar 3.1. Siklus PTK (Sumber; Rubiyanto dkk., 2011: 120)

Gambar 3.1.

Siklus PTK (Sumber; Rubiyanto dkk., 2011: 120) p.3
Tabel 3.1. Perincian Kegiatan Penelitian

Tabel 3.1.

Perincian Kegiatan Penelitian p.4
Gambar 3.2. Bagan Analisis Model Interaktif (dalam Subadi 2004: 109)  1.  Reduksi Data

Gambar 3.2.

Bagan Analisis Model Interaktif (dalam Subadi 2004: 109) 1. Reduksi Data p.12
Tabel 3.2. Indikator Capaian Penelitian

Tabel 3.2.

Indikator Capaian Penelitian p.16

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :