PENINGKATAN HASIL BELAJAR
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MATERI TAJWID
DENGAN METODE
CARD SORT
PADA SISWA KELAS XII MEKATRONIKA 2
SMK NEGERI 3 SALATIGA TAHUN 2018/2019
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Syarat Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh:
Putri Nandani
NIM:11114038
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA
i
PENINGKATAN HASIL BELAJAR
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MATERI TAJWID
DENGAN METODE
CARD SORT
PADA SISWA KELAS XII MEKATRONIKA 2
SMK NEGERI 3 SALATIGA TAHUN 2018/2019
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Syarat Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh:
Putri Nandani
NIM:11114038
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA
vi
MOTTO
ُهَمَّلَعَو َنآْرُقْلا َمَّلَعَت ْهَم ْمُكُرْيَخ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”
(Hadits Riwayat Imam Bukhori)
ِساىلِل ْمُهُعَفْوَأ ِساىلا ُرْيَخ
“Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”
vii
PERSEMBAHAN
Alhamdulillahirobbil‟alamin dengan rahmat dan hidayah Allah SWT
skripsi ini telah selesai. Skripsi ini penulis persembahkan kepada:
1. Kedua orang tuaku Bapak Kimin Santoso dan Ibu Ngatinah yang senantiasa
melimpahkan rasa kasih sayang, nasehat, dan jerih payahnya yang telah
mendidik dari kecil sampai di bangku kuliah di IAIN Salatiga ini.
2. Mamas Ade, Mbak Nia, si kembar Alula dan Alicha yang selalu memberi
semangat dan hiburan ketika rasa jenuh melanda.
3. Sahabatku Sarah, Fatun, Rofi yang tak pernah lelah mendukung saya, selalu
memberikan motivasi ketika rasa menyerah mulai menyerang.
4. Teman-teman seperjuangan, Uri Hafidza, Fatma, Nia, Dita, Intan, Yuni, Alfi,
Haniah, Prasetyo Utomo yang selalu memberikan saya semangat dan selalu
membantu saya dengan ikhlas.
5. Rekan-rekan KKN Posko 75 Nurul Imamah, Elfa Rahma, Rohmiyatun, Riska
Amalia, Risda Mela Santi, Sony Setyawan, Zaim, dan Muhandis yang selalu
memberi semangat.
6. Teman-teman seperjuangan IAIN Salatiga angkatan 2014 khususnya PAI 2014
viii
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Swt. atas limpahan rahmat, hidayah,
serta inayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, meskipun dalam wujud
yang sederhana. Sholawat serta salam senantiasa terlimpahkan kepada Nabi
Muhammad Saw., yang merupakan suri tauladan umat Islam.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan dapat
diselesaikan tanpa dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis
menyampaikan terima kasih dengan ketulusan hati, khususnya kepada:
1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga.
2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.
3. Ibu Hj. Siti Rukhayati, M.Ag. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam.
4. Bapak Muh. Hafidz, M.Ag. selaku pembimbing skripsi, yang rela membimbing
saya dari awal skripsi sampai selesai.
5. Bapak Dr. Imam Sutomo, M.Ag. selaku dosen Pembimbing Akademik.
6. Bapak dan Ibu dosen IAIN Salatiga yang telah membekali berbagai ilmu
pengetahuan, sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini.
7. Kepala Bagian Akademik dan para stafnya yang senantiasa memberikan
pelayanan akademik yang membantu melancarkan proses pembuatan skripsi
dengan lancar.
8. Kepala Bagian Perpustakaan dan stafnya yang memberikan ruang untuk
ix
9. Bapak Suripan, S.Pd., selaku Kepala Sekolah SMK N 3 Salatiga yang telah
memberikan izin dan melancarkan proses penelitian ini.
10. Bapak Dulhadi, S.Pd., selaku Guru pamong mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam (PAI) SMK N 3 Salatiga yang telah bersedia membantu dan
bekerjasama untuk menyelesaikan penelitian ini.
11. Bapak dan ibu guru di SMK N 3 Salatiga
12. Tak lupa siswa-siswi kelas XII Mekatronika 2 tahun ajaran 2018/2019 yang
telah memberikan sumber data yang sebenarnya untuk keberhasilan penelitian
ini dilakukan.
13. Tak lupa kepada seluruh yang terlibat dalam proses pembuatan penilitian ini
yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Demikian ucapan terimakasih penulis sampaikan. Penulis hanya bisa
berdoa kepada Allah Swt., semoga jasa dan amal kebaikan yang tercurahkan
diridhoi oleh Allah Swt. dengan mendapatkan balasan yang berlipat ganda.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat
khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca. Dengan keterbatasan
dan kemampuan, skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik
dan saran yang membangun terbuka luas dan selalu penulis harapkan untuk
kesempurnaan skripsi ini.
Salatiga, 03 September 2018
Penulis
Putri Nandani
x
ABSTRAK
Nandani, Putri. 2018. Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Materi Tajwid dengan Metode Card Sort pada Siswa Kelas XII Mekatronika 2 SMK Negeri 3 Salatiga Tahun Pelajaran 2018/2019. Pembimbing: Muh. Hafidz. M.Ag.
Kata Kunci: Hasil Belajar, Pendidikan Agama Islam, Card Sort
Penelitian ini dilatar belakangi rendahnya minat belajar siswa kelas XII Mekatronika 2 di SMK Negeri 3 Salatiga pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Sehingga nilai-nilai yang didapatkan siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam kurang memuaskan, hal ini terbukti dari hasil belajar siswa yang
masih rendah dengan nilai rata-rata siswa 68,4 (66,66% dari seluruh siswa) belum
mencapai KKM sekolah. Salah satu solusi untuk permasalahan tersebut perlu diterapkannya pembelajaran alternatif yang dapat merangsang aktivitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, sehingga siswa akan berperan aktif dan
memberikan feedback positif. Salah satu metode pembelajaran yang dapat dipakai
adalah metode card sort yang dianggap sebagai suatu cara untuk meningkatkan
minat, motivasi dan hasil belajar siswa terhadap materi tajwid khususnya hukum bacaan nun sukun dan tanwin serta hukum bacaan mim sukun, karena pembelajaran dengan menggunakan media permainan kartu dapat mengubah suasana kelas menjadi sebuah area permainan yang menyenangkan.
Penelitian ini merupakan Classroom Action Research atau Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tes, observasi, dan dokumentasi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XII Mekatronika 2 SMK N 3 Salatiga sebanyak 30 siswa.
xi
BAB I PENDAHULUAN I A. Latar Belakang Masalah... 1
B. RumusanMasalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
E. Hipotesis Tindakandan Indikator Keberhasilan…...7
F. Metode Penelitian ... 8
1. Rancangan Penelitian ... 8
2. Subjek Penelitian ... 8
3. Langkah-langkah Penelitian ... 8
xii
5. InstrumenPenelitian ... 12
6. Analisis Data ... 13
G. Definisi Operasional ... 14
H. Sistematika Penulisan ... 16
BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Teori ... 18
1. Hasil Belajar ... 18
2. Pendidikan Agama Islam (PAI) ... 32
3. Kajian Materi Penelitian a. Materi Tajwid... ...35
b. Metode Card Sort... ...45
B. Kajian Pustaka ... 50
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN A. GambaranUmum SMK Negeri 3 Salatiga .....53
1. Profil Sekolah ...53
2. Data Siswa, Guru dan Karyawan ... 54
3. Fasilitas, Sarana, dan Prasarana...60
B. Obyek Penelitian ...62
C. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian ...63
1. Kondisi Pra Siklus...63
2. Deskripsi Pelaksanaan Siklus I ...65
xiii
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ...76
1. Data Siklus I ...76
2. Data Siklus II ...82
B. Pembahasan...87
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ...90
B. Saran ...91
DAFTAR PUSTAKA ...92
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Jumlah Siswa di SMK Negeri 3 Salatiga... ... 54
Tabel 3.2 Guru PNS di SMK Negeri 3 Salatiga... ... 55
Tabel 3.3 Guru Tidak Tetap di SMK Negeri 3 Salatiga ... 57
Tabel 3.4 Karyawan PNS di SMK Negeri 3 Salatiga ... 59
Tabel 3.5 Pegawai Tidak Tetap di SMK Negeri 3 Salatiga ... 59
Tabel 3.6 Ruang Belajar di SMK Negeri 3 Salatiga ... 60
Tabel 3.7 Ruang Kantor di SMK Negeri 3 Salatiga... 61
Tabel 3.8 Ruang Penunjang di SMK Negeri 3 Salatiga ... 61
Tabel 3.9 Lapangan di SMK Negeri 3 Salatiga...62
Tabel 3.10 Nilai Ulangan Harian PAI Siswa Kelas XII Mekatronika 2...64
Tabel 4.1 Data Hasil Belajar Siswa Siklus I...77
Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Guru pada Siklus I... 78
Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Siswa pada Siklus I ... 79
Tabel 4.4 Data Hasil Belajar Siswa Siklus II ... 83
Tabel 4.5 Hasil Pengamatan Guru pada Siklus II ... 84
Tabel 4.6 Hasil Pengamatan Siswa pada Siklus II ... 85
xv
DAFTAR GAMBAR
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Tugas Pembimbing
Lampiran 2 Surat Permohonan Izin Melakukan Penelitian
Lampiran 3 Surat Keterangan Melakukan Penelitian
Lampiran 4 Lembar Konsultasi
Lampiran 5 RPP Siklus I dan II
Lampiran 6 Hasil Pengamatan Siswa dan Guru Siklus I dan II
Lampiran 7 Sampel Hasil Tes
Lampiran 8 Sampel Kertas Metode Card Sort
Lampiran 9 Dokumentasi
Lampiran 10 SKK
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan proses sepanjang hayat sebagai perwujudan
pembentukan pribadi secara utuh. Pendidikan juga bertujuan untuk
mengembangkan seluruh potensi yang ada pada diri manusia tersebut.
Sebagai prosess pembentukan pribadi, pendidikan menurut Umar
Tirtarahardja (2008:34) diartikan sebagai suatu kegiatan yang sistematis dan
sistemik yang terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik.
Pendidikan mengandung pembinaan kepribadian, pengembangan kemampuan,
atau potensial yang perlu dikembangkan; peningkatan pengetahuan dari yang
tidak tahu menjadi tahu, serta tujuan kearah mana peserta didik dapat
mengaktualisasikan dirinya semaksimal mungkin (Suwarno, 2006:22).
Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu mata pelajaran pokok
yang diajarkan pada siswa. Pendidikan Agama Islam diajarkan tidak hanya
untuk menghantarkan siswa untuk dapat menguasai dan memahami berbagai
macam kajian Islam, tetapi lebih menekankan pada pengalaman dalam
kehidupan sehari-hari ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Oleh karena
itu seorang guru Pendidikan Agama Islam hendaknya mampu
mengembangkan pembelajaran yang mengarah pada pencapaian kompetensi
siswa secara menyeluruh yang mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan
2
mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami kandungan ajaran
Islam secara menyeluruh, menghayati makna tujuan, yang pada akhirnya
dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup (Majid,
2012:12).
Dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam banyak menampilkan
dalil-dalil Al-qur’an maupun hadis sebagai pendukung setiap materi.
Sehingga diharapkan siswa dapat mengamalkan ajaran agama dengan
mengetahui dalil yang mendasarinya. Selain itu, adanya dalil dari Al-qur’an
juga untuk melatih kemampuan siswa dalam membaca Al-qur’an sesuai
dengan makharijul huruf dan kaidah tajwid. Dalam Al Qur’an sendiri
disunahkan membaca Al-qur’an dengan tartil yaitu dengan bacaan yang tenang
dan pelan-pelan. Sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Muzzammil ayat 4:
perlahan-lahan.”(Departemen Agama RI, 2009:574)
Berdasarkan pengamatan peneliti sebagai guru praktik di SMK Negeri
3 Salatiga, siswanya lebih suka kegiatan praktik di bengkel daripada kegiatan
pembelajaran dikelas, selain itu sebagian besar siswanya juga berasal dari
SMP yang sedikit materi keagamaannya sehingga dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam, khususnya materi Al-qur’an tentang tajwid masih
banyak siswa yang mengalami kesulitan ketika mengidentifikasikan hukum
3
Menurut Sanjaya (2007:17) “seorang guru bukan hanya harus tahu
tentang what to teach, akan tetapi juga paham tentang how to teach.” Jadi
agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik seorang guru memerlukan
tingkat keahlian yang memadai, termasuk dalam menggunakan metode dan
strategi yang sesuai dengan karakter materi yang diajarkan. Menjadi guru
bukan hanya cukup memahami materi yang harus disampaikan, akan tetapi
juga diperlukan kemampuan dan pemahaman tentang pengetahuan dan
keterampilan yang lain, misalnya
pemahaman tentang psikologi perkembangan anak, pemahaman tentang
teori-teori perubahan tingkah laku, kemampuan merancang dan memanfaatkan
berbagai media dan sumber belajar, dan lain sebagainya, agar dapat mencapai
tujuan sebagaimana yang diharapakan.
Selain itu, sebagai pendidik seharusnya guru mampu memberikan
pembelajaran yang kreatif dan inovatif sehingga dapat mengembangkan
kemampuan siswa secara maksimal. Hal ini dapat dilakukan dengan
digunakannya metode-metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi yang
dialami siswa. Hal terpenting dalam kegiatan pembelajaran adalah terjadinya
perubahan pada siswa.
Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti mencoba untuk mencari
metode pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi yang peneliti pilih
untuk penelitian yaitu materi tajwid. Adapun penyebab rendahnya hasil
4
adalah: rendahnya minat belajar siswa sehingga masih sedikit diantara mereka
yang memperoleh hasil belajar yang tinggi.
Maka dari itu, peneliti akan menerapkan metode pembelajarn card
sort karena dianggap sebagai suatu cara baru untuk meningkatkan motivasi
dan hasil belajar siswa terhadap materi yang diajarkan guru, karena
pembelajaran dengan menggunakan media permainan kartu, dapat mengubah
suasana kelas menjadi sebuah arena permainan yang menyenangkan. Gerakan
fisik yang dominan dalam strategi ini dapat membantu mendinamiskan kelas
yang jenuh atau bosan, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih
menyenangkan (Zaini, 2008:50). Dengan menggunakan metode ini
diharapkan juga dapat meningkatkan pemahaman dalam belajar tajwid,
sehingga hasil belajar siswa kelas XII Mekatronika 2 akan meningkat.
Berdasarkan permasalahan yang telah dijabarkan, maka judul
penelitian yang ditetapkan adalah: “Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan
Agama Islam Materi Tajwid dengan Metode Card Sort pada Siswa Kelas
XII Mekatronika 2 SMK Negeri 3 Salatiga tahun 2018/2019”.
B. Rumusan Masalah
Mengacu kepada latar belakang masalah dan identifikasi masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah Metode Card
sort dapat meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam materi Tajwid siswa Kelas XII Mekatronika 2 SMK Negeri 3
5
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang ditetapkan, maka tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui Apakah Metode Card sort dapat
meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
materi Tajwid siswa Kelas XII Mekatronika 2 SMK Negeri 3 Salatiga tahun
2018/2019?.
D. Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan nantinya akan memberikan manfaat
bagi semua kalangan pendidik di lembaga sekolah pada umumnya. Adapun
manfaat yang diharapkan adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Dengan adanya penelitian ini, dapat menjelaskan teori dan
menambah wawasan dalam kegiatan pembelajaan dengan menggunakan
metode card sort. Siswa dapat bersikap kreatif dan inovatif di dalam
belajarnya sendiri dengan cara yang menyenangkan, serta dapat
meningkatkan motivasi belajar agar hasil belajar siswa memuaskan dan
maksimal.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak berikut:
a. Bagi siswa
Meningkatkan kemampuan siswa dalam menerima materi,
mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran, mendorong siswa
6
pembelajaran yang menyenangkan sehingga dapat meningkatkan
prestasi belajar.
b. Bagi guru
Sebagai sarana untuk mengevaluasi terhadap pembelajaran
yang sudah berlangsung serta sebagai bahan pertimbangan dan
masukan untuk memperkenalkan belajar Pendidikan Agama Islam
melalui metode card sort untuk meningkatkan prestasi belajar siswa
dan kemampuan siswa sehingga dapat tercipta pembelajaran yang
efektif dan efesien.
c. Bagi sekolah
Meningkatkan proses pembelajaran yang berdampak pada
peningkatan prestasi sekolah dan mutu pendidikan di SMK Negeri 3
Salatiga.
d. Bagi peneliti
Menambah pengalaman dan pengetahuan untuk
mengembangkan ide kreatif dan inovatifnya dalam melakukan
penelitian.
E. Hipotesis Tindakan dan Indikator Keberhasilan
Hipotesis adalah suatu kebenaran sementara yang dapat diubah atau
diganti dengan yang lebih tepat dan lebih representatif (Ghony dan Fauzan,
2009:86). Adapun hipotesis dalam penelitian tindakan ini adalah metode card
7
Islam materi tajwid pada siswa kelas XII Mekatronika 2 SMK Negeri 3
Salatiga tahun 2018/2019.
Penggunaan metode card sort dikatakan berhasil apabila indikator
yang diharapkan dapat tercapai. Adapun indikator yang dirumuskan peneliti
adalah:
a. Siswa diharapkan dapat mencapai nilai 75 pada materi tajwid.
b. Presentase sebanyak 85% dari total siswa dalam satu kelas mendapat nilai
75.
F. Metode Penelitian
1. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas atau
Classroom Action Reserach. Menurut Suyanto (1997) yang dikutip oleh
(Muslich, 2012:9) menjelaskan bahwa penelitian tindakan kelas adalah
suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan
tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan/atau
meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara profesional.
2. Subjek Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XII Mekatronika 2
SMK Negeri 3 Salatiga yang berjumlah 30 siswa, dengan siswa putra 28
dan putri 2. Subjek ini perlu ditingkatkan hasil belajarnya karena nilai
yang diperoleh pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam materi
tajwid belum memuaskan. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa
8
3. Langkah-langkah Penelitian
Penelitian ini terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan,
pengamatan, dan refleksi (Arikunto, 2014:16). Adapun
langkah-langkahnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Gambar 1.1
Langkah-langkah Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini memiliki tahapan yang secara umum
9
a. Perencanaan (Planning)
Perencanaan merupakan langkah pertama yang harus
dilakukan dalam melakukan penelitian. Kegiatan yang dilakukan
adalah:
1) Menyiapkan desain pembelajaran dengan metode card sort .
2) Menyiapkan lembar observasi (pengamatan) sebagai pedoman atas
proses pembelajaran dalam melakukan metode card sort.
3) Menyusun soal tes untuk menilai peningkatan hasil belajar siswa
terhadap materi yang diajarkan.
b. Pelaksanaan (Acting)
Pelaksanaan adalah menerapkan apa yang telah direncanakan
yaitu bertindak di kelas dan melaksanakan proses pembelajaran sesuai
dengan desain pembelajaran yang telah direncanakan. Pada saat
pelaksanaan tindakan, dilakukan observasi terhadap proses belajar
mengajar untuk mengetahui perubahan yang terjadi akibat dari
penggunaan metode card sort.
c. Pengamatan (Observation)
Pengamatan adalah alat untuk memotret seberapa jauh efek
tindakan telah mencapai sasaran. Pada tahap ini peneliti melakukan
pengamatan terhadap segala perilaku dan aktivitas siswa dalam proses
10 d. Refleksi (Reflecting)
Pada tahap ini, dilakukan penilaian atas pembelajaran di kelas.
Dari hasil lembar observasi dan hasil post test dinilai apakah metode
pembelajaran yang dilakukan pendidik mampu menghasilkan
perubahan yang signifikan. Apabila siklus I belum mencapai indikator
yang diharapkan atau belum bisa mengatasi masalah maka perlu
dilanjutkan pada siklus II dan seterusnya sampai diperoleh kemajuan
dalam pemecahan masalah.
4. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan kegiatan atau cara untuk mencari
data di lapangan yang akan digunakan untuk menjawab permasalahan
penelitian. Pengumpulan data data dapat dilakukan dengan beberapa cara
seperti wawancara, observasi, kuesioner atau angket, tes serta
dokumentasi (Arikunto, 2010: 203). Dalam hal ini peneliti menggunakan
metode pengumpulan data berupa:
a. Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain
yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan
intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau
kelompok (Arikunto, 2010: 193). Tes digunakan untuk mengetahui
tingkat hasil belajar siswa mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
yang dilaksanakan pada siswa kelas XII Mekatronika 2 SMK Negeri 3
11
uraian untuk mengukur kemampuan siswa dalam pemahaman materi
tajwid. Tes akan dilaksanakan pada akhir tiap siklus.
b. Observasi
Melakukan pengamatan terhadap siswa selama pembelajaran
berlangsung untuk mengetahui keaktifan siswa dan hasil belajar dalam
pembelajaran dengan metode card sort.
c. Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang berarti
barang-barang tertulis (Arikunto, 2010: 201). Dokumentasi pada penelitian ini
bisa berupa catatan hasil belajar, transkrip nilai, foto, laporan
pengamatan, dan dokumen lain yang mendukung penelitan.
5. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan dalam
penelitian, yang terdiri atas:
a. Lembar Observasi
Lembar observasi digunakan untuk mengamati secara langsung
kegiatan yang dilakukan siswa dan guru selama proses pembelajaran
dalam materi tajwid kelas XII Mekatronika 2 di SMK Negeri 3
Salatiga melalui metode card sort.
b. Butir Soal
Butir soal merupakan hal yang menjadi bagian dari tes. Sebab
12
6. Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik
sederhana yaitu teknik analisis data kuantitatif. Teknik analisis data ini
digunakan untuk menganalisis data hasil observasi yang diperoleh dari
siswa selama pembelajaran berlangsung dan untuk mnegetahui perubahan
perilaku siswa. Data tersebut diolah dengan mencari persentase tiap-tiap
kegiatan dengan menggunakan rumus persentase. Adapun rumus
penelitian sebagai berikut:
P = X 100%
Keterangan:
P= Prosentase
F= Jumlah siswa yang tuntas belajar
N= Jumlah semua siswa
G. Definisi Operasional
Untuk memberikan gambaran sekaligus memperjelas pengertian dan
pemahaman serta agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap judul diatas,
maka dijelaskan dibawah ini:
1. Peningkatan Hasil Belajar
Peningkatan berasal dari kata “tingkat” yang berimbuhan pe-an.
Kata “tingkat” sendiri memiliki arti tinggi rendahnya martabat
(kedudukan, jabatan, kemajuan, peradapan, dsb) pangkat, derajat, taraf
kelas (Depdiknas, 2007:1197). Sehingga ketika dimasuki imbuhan pe-an
13
meningkatkan (usaha, kegiatan, dsb) (Depdiknas, 2007:1198). Jadi, yang
dimaksud dengan peningkatan yaitu usaha untuk memperoleh nilai yang
lebih tinggi dari nilai sebelumnya.
Sedangkan hasil belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku
pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan
pengetahuan, sikap, dan ketrampilan (Hamalik, 2008:155).
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh
peserta didik setelah mengalami kegiatan belajar. Hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima
pengalaman belajarnya (Sudjana, Nana, 2014:22).
Jadi, hasil belajar adalah perubahan tingkah laku pada siswa
berupa perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang terjadi
setelah kegiatan pembelajaran.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa peningkatan
hasil belajar adalah usaha untuk memperoleh nilai yang lebih tinggi dari
nilai sebelumnya dengan cara melihat perubahan yang terjadi pada siswa
diukur dari aspek pengetahuan, sikap maupun ketrampilan.
2. Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam adalah usaha-usaha secara sistematis
dan pragmatis dalam membantu anak didik agar mereka hidup sesuai
dengan ajaran Islam (Zuhairini, 1983:27).
Pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan
14
Islam secara menyeluruh, menghayati makna tujuan, yang pada akhirnya
dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup
(Majid, 2012:12).
Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah
suatu usaha yang sistematis untuk memberikan pemahaman, dan
penghayatan yang lebih dalam kepada siswa untuk mengamalkan ajaran
Islam supaya hidup mereka sesuai ajaran dalam Islam.
3. Tajwid
Secara bahasa, kata tajwid adalah masdar dari kata
jawwada-yujawwidu yang berarti ”membuat bagus”. Secara istilah, tajwid adalah
suatu cabang ilmu yang mengatur tata cara ilmu membaca Al-Quran
dengan baik dan benar (Amrullah, t.th.: 71)
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa tajwid adalah
salah satu cabang ilmu yang mempelajari tentang kaidah dan tata cara
membaca Al-Quran yang baik dan benar.
4. Metode Card Sort
Metode card sort yaitu kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan
untuk mengajarkan konsep, karakteristik, klasifikasi, fakta, tentang objek
atau mereview informasi (Zaini, 2008:50).
H. Sistematika Penulisan
Dalam penelitaian tindakan kelas ini penulis menyusun sistematika
15
BAB I (Pendahuluan): Berisi tentang latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, hipotesis tindakan dan
indikator keberhasilan, metode penelitian, definisi operasional, dan
sistematika penulisan.
BAB II (Landasan Teori): Berisi tentang pengertian belajar, prinsip
belajar, tujuan belajar, ciri-ciri belajar, pengertian hasil belajar, faktor-faktor
yang mempengaruhi hasil belajar, pengertian Pendidikan Agama Islam,
fungsi PAI, pengertian dan tujuan tajwid, materi hukum nun sukun dan
tanwin serta mim sukun, metode card sort, karakter card sort,
langkah-langkah card sort beserta kelebihan dan kelemahannya, serta kajian terdahulu.
BAB III (Pelaksanaan Penelitian): Berisi tentang deskripsi
pelaksanaan siklus I dan deskripsi pelaksanaan siklus II
BAB IV (Hasil Penelitian): Berisi tentang deskripsi persiklus dan
pembahassan siklus I dan siklus II.
16
Pengertian belajar menurut Gagne yang dikutip oleh
Suprijono (201:2) adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang
dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut
bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara
alamiah. Belajar menurut Skinner dalam Dimyati dan Mudjiono
(2006:9) ialah suatu perilaku dimana ketika seseorang belajar maka
responnya menjadi lebih baik. Sedangkan pengertian belajar
dipandang dari sisi psikologis, belajar merupakan suatu proses
perubahan, yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari
interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya
(Slameto, 1991:2).
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa
belajar adalah suatu proses yang terjadi melalui latihan atau
pengalaman dengan lingkungan sekitarnya sehingga menunjukkan
perubahan tingkah laku, ketrampilan, kecakapan dan kemampuan
17
Dalam agama Islam masalah belajar mendapat perhatian yang
istemewa. Hal ini terbukti dengan turunnya surat Al-Alaq ayat satu
sampai lima yang berbunyi:
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Departemen Agama RI, 2009:597)
Dalam ayat tersebut perintah membaca disebut dua kali,
pertama perintah kepada Rasul Saw. Dan selanjutnya perintah kepada
seluruh umatnya. Membaca adalah sarana untuk belajar dan kunci
ilmu pengetahuan, baik secara etimologis berupa membaca
huruf-huruf yang tertulis dalam buku, maupun terminologis, yakni membaca
dalam arti yang luas yaitu membaca alam semesta. (Munjahid,
2007:5-6).
b. Prinsip Belajar
Prinsip belajar adalah konsep-konsep yang harus diterapkan
dalam proses belajar mengajar. Seorang guru akan dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik apabila ia dapat menerapkan cara
mengajar sesuai dengan prinsip-prinsip belajar (Fathurrohman dan
Sulistyorini, 2012:17).
Adapun prinsip-prinsip dari belajar yaitu: Pertama, prinsip
18
Belajar terjadi karena didorong kebutuhan dan tujuan yang ingin
dicapai. Belajar adalah kesatuan fungsional dari berbagai komponen
belajar. Ketiga, belajar merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman
pada dasarnya adalah hasil dari interaksi antara peserta didik dengan
lingkungannya (Suprijono, 2011:4-5).
c. Tujuan Belajar
Dalam tujuan pembelajaran peserta didik diharapkan dapat
merubah dirinya dengan acuan pelajaran yang didapatkan. Tujuan
belajar dimaksudkan untuk memberikan landasan dalam belajar.
Tujuan belajar yang eksplisit diusahakan untuk dicapai dengan
tindakan instruksional, lazim dinamakan instructional effects, yang
biasa berbentuk pengetahuan dan ketrampilan. Sementara tujuan
belajar sebagai hasil yang menyertai tujuan belajar instruksional
disebut nurturant effect. Bentuknya berupa kemampuan berpikir kritis
dan kreatif, sikap terbuka dan demokratis (Suprijono, 2011:5).
d. Jenis-jenis Belajar
Dilihat dari segi tujuan dan hasil yang diperoleh, Menurut
Munjahid (2007: 6-8) belajar dapat dikelompokkan menjadi delapan
jenis, yaitu:
1) Belajar abstrak, yaitu belajar dengan menggunakan cara-cara
berfikir abstrak yang tujuannya adalah untuk memperoleh
pemahaman dan pemecahan yang tidak nyata. Dalam hal ini akal
19
2) Belajar ketrampilan, merupakan jenis belajar yang bertujuan
memperoleh ketrampilan tertentu dengan menggunakan
ketrampilan motorik. Dalam belajar jenis ini, proses pelatihan
yang intensif dan terus menerus sangat diperlukan.
3) Belajar sosial, adalah belajar yang bertujuan memperoleh
ketrampilan dan pemahamn terhadap masalah-masalah sosial,
penyesuaian terhadap nilai-nilai sosial dan sebagainya.
4) Belajar pemecahan masalah, maksudnya yaitu belajar untuk
memperoleh ketrampilan atau kemampuan memecahkan berbagai
masalah logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh
kemampuan atau kecakapan kognitif guna memecahkan masalah
secara tuntas.
5) Belajar rasional, yaitu belajar dengan menggunakan kemampuan
berfikir secara logis atau sesuai dengan akal sehat.
6) Belajar kebiasaan, merupakan proses pembentukan kebiasaan
baru atau perbaikan kebiasaan yang telah ada. Dalam belajar
kebiasaan ini, biasanya menggunakan perintah, keteladanan,
pengalaman khusus juga menggunakan hukum dan ganjaran.
Tujuannya adalah agar seseorang memperoleh sikap yang lebih
baik.
7) Belajar apresiasi, adalah belajar mempertimbangkan nilai suatu
20
mengembangkan kecakapan ranah rasa, dalam hal ini kemampuan
menghargai secara cepat, arti penting objek tertentu.
8) Belajar pengetahuan, merupakan jenis belajar untuk memperoleh
sejumlah pemahaman, pengertian, informasi, dan sebagainya.
Belajar pengetahuan juga dapat diartikan sebagai sebuah program
belajar terencana untuk menguasai materi pelajaran dengan
melibatkan kegiatan investigasi atau penelitian dan eksperimen.
e. Ciri-ciri Belajar
Bahruddin dan Esa Nur Wahyuni dalam buku Belajar dan
Pembelajaran Meningatkan Mutu Pembelajaran Sesuai Standar
Nasional oleh Fathurrohman dan Sulistyorini (2012:14) menyebutkan
ada beberapa ciri-ciri belajar, yaitu:
1) Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku. Ini
berarti, bahwa hasil dari belajar hanya dapat diamati dari tingkah
laku, yaitu adanya perubahan tingkah laku, dari tidak tahu
menjadi tahu, dari tidak terampil menjadi terampil. Tanpa
mengamati tingkah laku hasil belajar, maka tidak akan dapat
mengetahui ada tidaknya hasil belajar.
2) Perubahan perilaku relatif permanen. Ini berarti, bahwa
perubahan tingkah laku yang terjadi karena belajar untuk waktu
tertentu akan tetap atau tidak berubah-ubah. Tetapi perubahan
21
3) Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat
proses belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut
bersifat potensial.
4) Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman.
5) Pengalaman atau latihan itu dapat memberi pengetahuan. Sesuatu
yang memperkuat itu akan memberikan semangat atau dorongan
untuk mengubah tingkah laku.
f. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai,
pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan ketrampilan
(Suprijono, 2011:5). Sedangkan menurut Anik (2004) dalam Supardi
(2013:22), hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh
pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar.
Hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak
setelah melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan
suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu
bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan
pembelajaran atau kegiatan intruksional, biasanya guru menetapkan
tujuan belajar. Anak yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil
mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan intruksional
(Susanto, 2013:5).
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertian
22
adanya kegiatan pembelajaran. Perubahan tersebut dapat dilihat dari
yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak terampil menjadi
terampil.
g. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Secara ringkas, faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
menurut Munjahid (2007:11-18) ada dua, yaitu:
1) Faktor Indogin, yaitu faktor yang datang dari diri pelajar atau
mahasiswa itu sendiri. faktor ini meliputi:
a) Faktor biologis, yaitu faktor yang berhubungan dengan jasmani
siswa. Yang termasuk faktor ini adalah:
(1) Kesehatan
Kesehatan merupakan faktor yang amat penting bagi siswa.
Jika mereka tidak sehat badannya tentu belajarnya akan
terganggu dan pelajaran sukar masuk.
(2) Cacat badan
Cacat badan juga sangat menghambat belajar. yang
termasuk cacat badan misalnya: setengah buta, setengah tuli,
gangguan bicara, dan sebagainya. Anak-anak yang seperti
ini hendaknya mendapat perhatian khusus atau dimasukkan
dalam pendidikan khusus atau pendidikan luar biasa.
b) Faktor psikologis, yaiu faktor yang berhubungan dengan
23 (1) Intelligensi
Faktor ini sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan
belajar anak. Bila pembawaan intelligensi anak memang
rendah, maka anak tersebut akan sukar mencapai hasil
belajar yang baik. Anak akan merasa sukar mengerti apa
yang di pelajarinya, sehingga perlu bantuan dari pendidik
atau orang tua agar dapat berhasil belajarnya. Walaupun
anak sudah belajar dengan sebaik-baiknya, kalau memang
intelligensinya rendah, maka ia akan sulit dalam belajar.
(2) Perhatian
Perhatian merupakan faktor yang sangat penting dalam
belajar. Untuk dapat mencapai hasil yang terbaik dalam
belajar, anak harus memperhatikan bahan yang
dipelajarinya. Apabila bahan pelajaran itu tidak menarik
baginya, maka timbullah rasa bosan, malas dan belajarnya
harus di kejar-kejar, sehingga prestasi mereka kemudian
menurun. Untuk itu maka pendidikan harus mengusahakan
agar pelajaran yang diberikan daat menarik perhatiannya.
(3) Minat
Bahan pelajaran yang menarik minat siswa pasti akan dapat
di pelajari oleh anak dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya
bahan yang tidak sesuai dengan minat siswa pasti tidak
24
karena tidak ada daya tarik baginya. Minat seringkali timbul
bila ada perhatian. Karena itu untuk menimbulkan minat,
sebaiknya juga harus menimbulkan perhatian.
(4) Bakat
Bakat sangat menentukan suksesnya belajar. Siswa yang
belajar materi pelajaran yang sesuai dengan bakatnya ia
akan selalu baik hasil belajarnya dan ia akan merasa senang
dan selalu berusaha lebih giat lagi dan lebih baik hasilnya.
(5) Emosi
Anak yang tidak stabil emosinya akan dapat mengganggu
belajarnya, karena ketika ada masalah yang kecil saja dapat
menimbulkan emosi yang mendalam, bahkan sampai
menimbulkan gejala negatif seperti tak sadarkan diri, kejang
dan sebagainya. Dalam keadaan emosi yng tidak stabil ini
tentu belajarnya mengalami hambatan-hambatan.
Anak-anak semacam ini membutuhkan situasi yang cukup tenang
dan penuh perhatian agar belajarnya berjalan lancar.
2) Faktor Exogin
Selain faktor indogin (faktor dari dalam), ada juga faktor
exogin (faktor dari luar) atau dapat juga disebut sebagai lingkungan
yang mempengaruhi keberhasilan anak belajar. faktor ini dibagi
25
a) Lingkungan keluarga, secara garis besar dikelompokkan
menjadi 3 bagian yang meliputi:
(1) Faktor orang tua
Orang tua sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
belajar anak. Oleh karena itu sikap orang tua terhadap anak
harus benar. Orang tua tidak boleh terlalu memanjakan
anak, karena hal ini akan menyulitkan orang tua untuk
menyuruh anak belajar, apalagi sampai memaksa dan
berakibat anak tidak akan mau diperintah oleh siapaun
untuk belajar. Begitu juga sikap orang tua yang acuh
terhadap pendidikan anaknya juga tidak benar, karena hal
ini akan mengakibatkan anak kurang mendapatkan
bimbingan. Sikap keras terhadap anak juga tidak benar,
karena hal ini akan berakibat hubungan antara anak dan
orang tua menjadi tegang. Adapun hubungan orang tua
pada anak yang baik adalah hubungan yang dilandasi kasih
sayang dan tanggung jawab yang tinggi di sertai dengan
bimbingan, bahkan kalau perlu disertai dengan pemberian
hadiah dan hukuman dengan tujuan memajukan belajar
anak.
(2) Faktor suasana rumah
Suasana rumah yang tenanglah yang dapat mendukung
26
misalnya jumlah anggota keluarga yang terlalu besar, atau
rumah sekaligus sebagai tempat usaha tidak akan
memberikan kenyamanan dan ketenangan anak dalam
belajar. Begitu pula suasana rumah yang banyak cekcok
antar anggota keluarga, akan menjadikan suasana rumah
menjadi tegang dan anak akan mengalami tekanan batin
yang menyebabkan belajar tidak bisa konsentrasi, sehingga
hasilnya tidak dapat maksimal.
(3) Faktor ekonomi keluarga
Ekonomi keluarga juga mempengaruhi keberhasilan anak.
Misalnya keluarga yang mampu ekonominya akan dapat
membelikan alat-alat perlengkapan belajar anak, sehingga
anak menjadi bersemangat dan terbantu belajarnya. Begitu
juga sebaliknya, apabila ekonomi keluarganya tak mampu,
maka anak pun menjadi tidak bersemangat dalam belajar
karena alat-alat perlengkapannya terbatas.
b) Lingkungan Sekolah, terdiri dari beberapa faktor, yaitu:
(1) Cara penyajian belajar yang kurang baik
Hal ini kadang-kadang disebabkan oleh penguasaan guru
pada materi pelajaran yang kurang atau ketidakmampuan
guru menerapkan metode mengajar yang baik, sehingga
27
(2) Hubungan guru dan murid yang kurang baik
Perlu diciptakan hubungan yang baik antara guru dan
murid. Hal ini karena biasanya kalau murid senang dengan
gurunya biasanya senang juga pada pelajarannya, dan
murid akan bersemangat dalam mempelajari materi yang
diajarkan gurunya, begitu juga sebaliknya.
(3) Hubungan antara anak dengan anak yang kurang
menyenangkan
Hal ini juga akan menghambat anak belajar, terutama kalau
ada anak yang diisolir oleh teman-temannya, tentu akan
mengalami tekanan batin sehingga menyebabkan anak
tidak betah di kelas bahkan menjadikan anak malas masuk
sekolah sehingga anak tertinggal pelajarannya.
(4) Bahan pelajaran yang terlalu tinggi di atas kemampuan
normal anak
Anak yang diberikan materi pelajaran yang tidak sesuai
dengan tingkat kemampuan anak akan menyulitkan anak
dalam menerima materi pelajaran.
(5) Alat belajar di sekolah yang tidak lengkap
Alat belajar yang lengkap akan membantu anak dalam
belajar. Begitu pula sebaliknya, alat belajar yang tidak
28
(6) Jam pelajaran yang kurang tepat
Jam pelajaran yang kurang tepat juga dapat menghambat
siswa belajar.
c) Lingkungan masyarakat, dapat digolongkan sebagai:
(1) Teman bergaul
Teman yang baik dan rajin belajar maka akan mendorong
anak untuk ikut rajin belajar juga. Begitu pula teman yang
nakal dan tidak pernah belajar, maka akan menurunkan
semangat anak dalam belajar, sehingga menghambat anak
dalam belajar.
(2) Banyaknya kegiatan lain
Misalnya anak selalu diperintah oleh orang tuanya untuk
membantu pekerjaan dan tugas orang tua, begitu pula anak
yang sangat aktif dalam kegiatan di masyarakat, waktu
belajar dan tenaga serta konsentrasi akan tersita, sehingga
kan menghambat anak dalam belajar.
2. Pendidikan Agama Islam
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana
dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami,
menghayati, hingga mengimani, bertakwa, dan berakhlak mulia dalam
29
serta penggunaan pengalaman. Menurut Zakiyah Daradjat, Pendidikan
Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh
peserta didik agar senantiasa dapat memahami kandungan ajaran
agama Islam secara menyeluruh, menghayati makna tujuan, yang pada
akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai
pandangan hidup.
Sedangkan menurut A. Tafsir, Pendidikan Agama Islam ialah
bimbingan yang diberikan seseorang kepada seseorang agar ia
berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam
(Fathurrohman dan Sulistyorini, 2012:11-12).
Jadi, penulis dapat menyimpulkan bahwa Pendidikan Agama
Islam adalah suatu bimbingan yang diusahahkan secara sadar dan
terencana untuk membina dan mengasuh peserta didik agar
memahami kandungan ajaran agama Islam sehingga pengetahuannya
dapat berkembang secara maksimal dengan berpedomankan pada
Al-Quran dan hadis.
b. Fungsi Pendidikan Agama Islam
Fungsi dari Pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut:
1) Pengembangan
Pengembangan yaitu meningkatkan keimanan dan
ketakwaan peserta didik kepada Allah Swt yang telah ditanamkan
dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya kewajiban menanamkan
30
keluarga. Sekolah berfungsi untuk menumbuhkembangkan lebih
lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran, dan
pelatihan.
2) Penanaman Nilai
Penanaman nilai adalah sebagai pedoman hidup untuk
mencari kebahagian hidup di dunia dan di akhirat.
3) Penyesuaian Mental
Penyesuaian mental yaitu untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan
dapat mengubah lingkungannya sesuai ajaran Agama Islam.
4) Perbaikan
Perbaikan yaitu untuk memperbaiki kesalahan, kekurangan,
dan kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman, dan
pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari.
5) Pencegahan
Pencegahan adalah untuk menangkal hal-hal negatif dari
lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan
dirinya dan menghambat perkembangan menuju manusia Indonesia
seutuhnya (Fathurrohman dan Sulistyorini, 2012:15).
3. Materi Tajwid
a. Pengertian Tajwid
Secara bahasa, kata tajwid adalah masdar dari kata
31
adalah suatu cabang ilmu yang mengatur tata cara ilmu membaca
Al-Quran dengan baik dan benar (Amrullah, t.th.: 71)
Ilmu tajwid adalah pelajaran untuk memperbaiki bacaan
Al-Quran yang didalamnya mempelajari bagaimana cara melafadzkan
huruf yang berdiri sendiri, dan huruf yang dirangkaikan dengan huruf
lain, melatih lidah mengeluarkan huruf dari makhrajnya, belajar
mengucapkan bunyi yang panjang dan pendek, cara menghilangkan
bunyi huruf dengan menggabungkan kepada huruf yang sesudahnya,
berat atau ringan, berdesis atau tidak, mempelajari tanda-tanda waqaf
dalam bacaan dan sebagainya (Faisol, 2010:1).
Menurut ahli qiro‟ah tajwid adalah menghiasi bacaan
Al-Quran yaitu memperlakukan setiap huruf sesuai dengan haknya dan
runtutannya, mengembalikan huruf pada makhrajnya masing-masing,
melantunkannya dengan cara yang baik, dan sempurna tanpa
berlebih-lebihan (Al-Husni, 1999:54). Sedangkan menurut Munir dan
Sudarsono (1994:8-9) ilmu tajwid adalah ilmu yang mengajarkan cara
bagaimana seharusnya membunyikan atau membaca huruf-huruf
hijaiyah dengan baik dan sempurna, baik ketika berdiri sendirian
maupun sewaktu bertemu dengan huruf lain.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
tajwid adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari bagaimana cara
melafadzkan huruf secara baik dan benar dengan memperlakukan
32
Mempelajari ilmu tajwid hukumnya adalah fardhu kifayah,
sedangkan mengamalkannya adalah fardhu „ain bagi tiap-tiap orang
Islam yang membaca Al-Quran, baik laki-laki maupun perempuan.
Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Muzzammil ayat 4
lahan.”(Departemen Agama RI, 2009:574)
Serta QS. Al-Furqan ayat 32:
. . .
Artinya: “Dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar)”
(Departemen Agama RI, 2009:362)
Dalam suatu riwayat, Sayyidina Ali pernah ditanya tentang
firman Allah pada surat Al-Muzzammil ayat 4, beliaupun menjawab :
“Tartil yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah memperbaiki atau
memperindah bacaan huruf hijaiyah yang terdapat dalam Al-Quran,
dan mengerti hukum-hukum ibtidak‟dan waqof” (Munir dan
33
b. Materi Tajwid
Dalam materi tajwid terdapat berbagai macam hukum bacaan.
Maka dari itu, dalam hal ini peneliti membatasi pada masalah hukum
bacaan nun sukun dan tanwin serta hukum mim sukun. Sebagai dasar
ilmu tajwid bagi siswa kelas XII Mekatronika agar peningkatan
pemahaman tersebut dapat tercapai.
1) Hukum Nun Sukun dan Tanwin
Hukum nun sukun dan tanwin jika bertemu dengan salah
satu huruf hijaiyah ada empat bacaan, yaitu: (Faisol, 2010:31-42)
a) Idzhar
Idzhar artinya terang atau jelas. Idzhar adalah apabila ada nun
sukun atau tanwin jika bertemu dengan salah satu huruf
أ
,
ح
,
خ
,
Nun sukun dan tanwin
bertemu huruf
٘
3
ٌٍٍَُِْػ ٌغٍَِّْظ
-
ٍٍُِْػ
ِِْٓ
Nun sukun dan tanwin
bertemu huruf
ع
34
bertemu huruf
ؽ
5
ٌدٍَِّْح ٌٍُِْىَح
-
ْسَحَْٔٚ
Nun sukun dan tanwin
bertemu huruf
ح
6
ٍخَؼِشبَخٍدِئٌََِْٛ
-
ٌفَْٛخ
ِِْٓ
Nun sukun dan tanwin
bertemu huruf
خ
b) Idghom
Idghom artinya memasukkan. Idghom dibagi menjadi dua,
yaitu idghom bighunnah dan idghom bilaghunnah.
(1) Idghom Bighunnah
Adalah setiap nun sukun atau tanwin bertemu dengan salah
satu huruf
ي
,
ْ
,
َ
,
ٚ
. Cara membacanya yaitu nun sukunatau tanwin itu dimasukkan menjadi satu dengan huruf
sesudahnya atau ditasydidkan dan dengan mendengung,
atau dibaca lebur dengan mendengung.
35
Adalah setiap nun sukun atau tanwin yang bertemu dengan
salah satu huruf
ي
,
ز
. Cara membacanya denganNun sukun dan tanwin
bertemu huruf ي
2
ٌٍُِْحَز ٌفُْٚؤَز
-
ُِِّْٙثَز
ِِْٓ
Nun sukun dan tanwin
bertemu huruf ز
(3) Iqlab
Iqlab artinya menukar atau mengubah. Iqlab adalah apabila
setiap nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf
ة
.36
bersambung dengan makhraj huruf berikutnya.
Contoh:
No CONTOH BACAAN
IKHFA‟ SEBAB
1
اُْٛلَدَص
ٌيبَجِز
-
اًزُْٛصَِْٕ
Nun sukun dan tanwin
bertemu huruf
ص
2
َهٌَِذبًثاََٛص
-
ٌزِرُِْٕ
Nun sukun dan tanwin
bertemu huruf
ذ
37
bertemu huruf
س
4
اًزُْٛفَواًدبَػ
-
ُُْزُْٕو
ِْْا
Nun sukun dan tanwin
bertemu huruf
ن
5
ٍدبََّٕج
بًئٍَْش
–
َءبَج
َِْٓ
Nun sukun dan tanwin
bertemu huruf
ج
6
بًئ
ًَْش
ٍطْفٌَِٕ
-
َّاللَّءبَش
ِْْا
Nun sukun dan tanwin
bertemu huruf
غ
7
ًلَْٛل
ٌَ َلََظ
-
ًُْجَل
ِِْٓ
Nun sukun dan tanwin
bertemu huruf
ق
8
ٌٍُْ
ًَِظ
ِتٍَْمِث
-
بٌَِْٙٚ
ُُٗظ
ِِْٓ
Nun sukun dan tanwin
bertemu huruf
ض
9
خٍَِٔاَد
ٌْإَِْٛل
-
َداَدَْٔا
Nun sukun dan tanwin
bertemu huruf
د
10
ٌخَجٍَط
ٌحَدٍَْث
-
َُْٛمِطٌَْٕ
Nun sukun dan tanwin
bertemu huruf
ط
11
بَلْزُشٍدِئٌََِْٛ
-
بٌََْٕصَْٔا
Nun sukun dan tanwin
bertemu huruf
ش
12
بَ٘
ىِفاًدٍَِخ
-
كِفٌٍُِْٕ
Nun sukun dan tanwin
bertemu huruf
ف
13
ْيِسْجَر
ٍذَّّٰٕج
-
بَِٙزْحَر
ِِْٓ
Nun sukun dan tanwin
38 14
َْٓثَسَض
ًّلَُو
–
ًََّض
َِْٓ
Nun sukun dan tanwin
bertemu huruf
ض
15
ٍٍُُْظ
ًًََّػ
–
َُْْٚسُظٌَْٕ
Nun sukun dan tanwin
bertemu huruf
ظ
2) Hukum Mim Sukun
Hukum bacaan mim sukun apabila bertemu dengan salah
satu huruf hijaiyah ada tiga, yaitu: (Faisol, 2010:53-56)
a) Idghom Mimi/Mitslain
Hukum bacaannya disebut Idghom Mimi/Mitslain yaitu apabila
ada mim sukun bertemu huruf
َ
. s
edang cara membacanyaAda mim sukun bertemu
dengan huruf
َ
b) Ikhfa‟ Syafawi
Kata “syafawi”berasal dari kata “syafatun” yang artinya bibir.
39
bertemu dengan huruf
ة
. Sedangkan cara membacanya harusdisuarakan samar-samar dibibir dan didengungkan.
Contoh:
Ada mim sukun bertemu
dengan huruf
ة
c) Idzhar Syafawi
Hukum bacaannya disebut idzhar syafawi adalah apabila mim
sukun bertemu dengan huruf hijaiyah 26 selain huruf
َ
danة
.
Cara membacanya yaitu dengan dibaca terang dengan kedua
bibir dikatupkan.
Contoh:
No CONTOH BACAAN
IKHFA‟ SYAFAWI SEBAB
1
ٌسْجَا
ٍََُُْٙف
Ada mim sukun bertemu
dengan huruf
ة
2
َسَر
ٌََُْا
Ada mim sukun bertemu
dengan huruf
د
3
ٍَِْٓلِدبَص
ُُْزُْٕو
ِْْا
Ada mim sukun bertemu
40 4
َُُْٙف
ُُْ٘ؤبَثٓا
Ada mim sukun bertemu
dengan huruf
ف
5
ٌٍَِّْٓبَّٓضٌا َلَٚ
ٍٍََُِْْٙػ
Ada mim sukun bertemu
dengan huruf
ٚ
c. Tujuan Ilmu Tajwid
Adapun tujuan dari ilmu tajwid menurut Faisol (2012:2) adalah
sebagai berikut:
1) Agar dapat membaca ayat-ayat Al-Quran secara betul atau fasih.
2) Memelihara bacaan Al-Quran dari kesalahan dan perubahan.
3) Memelihara lisan dari kesalahan membaca.
4. Metode Card Sort
a. Pengertian Card Sort
Kata card sort berasal dari Bahasa Inggris yaitu, card yang berarti “kartu”, dan sort yang berarti “menyortir atau
memisahkan”(Echols, 2010:98&541).
Menurut Hisyam Zaini dkk (2008:50) menyatakan bahwa “Strategi ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan
untuk mengajarkan konsep, karakteristik klasifikasi, fakta tentang obyek atau mereview informasi”. Hal ini sejalan dengan apa yang
dikemukakan oleh Silberman (1996:103) tentang card sort yaitu
“This is a collaborative activity that can be used to teach concept,
41
information”. Sedangkan dalam buku Sobry Sutikno (2014:130-131)
metode card sort digunakan oleh siswa untuk menemukan konsep dan
fakta melalui klasifikasi materi yang dibahas dalam pembelajaran.
Sedangkan tujuan dari metode cart sort ini adalah untuk
mengungkapkan daya ingat terhadap materi pelajaran yang telah
dipelajari siswa.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa card sort
adalah suatu kegiatan kolaboratif yang dapat digunakan untuk
menemukan konsep dan fakta, karakteristik klasifikasi atau meninjau
informasi.
b. Karakter Card Sort
Card sort dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk
membuat siswa aktif meninjau ulang materi yang telah disampaikan
sebelumnya karena sifatnya yang menyenangkan. Card sort juga
termasuk dalam kategori pembelajaran aktif, karena metode ini sangat
didominasi oleh keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Dalam
menggunakan metode ini pendidik lebih banyak bertindak sebagai
fasilitator dan menjelaskan materi yang perlu dibahas atau materi yang
belum di mengerti siswa setelah presentasi selesai. Sehingga materi
yang telah dipelajari benar-benar di pahami dan di mengerti oleh
siswa.
Pembelajaran aktif atau yang sekarang lebih dikenal dengan
42
Menyenangkan) adalah pembelajaran yang dikembangkan dengan
cara membantu siswa membangun keterkaitan, antara pengetahuan
baru dengan pengetahuan lain yang telah dimiliki dan dikuasai oleh
siswa sebelumnya (Suprijono, 2011:xi)
Pembelajaran aktif merupakan suatu pembelajaran yang
mengajak siswa untuk belajar secara aktif. Ketika siswa belajar
dengan aktif, berarti siswalah yang lebih dominan terlibat dalam
sebuah proses pembelajaran. Siswa diajak untuk turut serta dalam
semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga
melibatkan gerak tubuh lainnya. Dengan cara ini siswa akan merasa
senang sehingga hasil belajar akan dapat dicapai secara maksimal
(Zaini, 2008:xiv).
c. Langkah-langkah Metode Card Sort
1) Setiap siswa diberi potongan kertas yang berisi informasi atau
contoh yang tercakup dalam satu atau lebih kategori.
2) Mintalah siswa untuk bergerak dan berkeliling di dalam kelas
untuk menemukan kartu dengan kategori yang sama.
3) Siswa dengan kategori yang sama diminta mempresentasikan
kategori masing-masing didepan kelas.
4) Seiring dengan presentasi dari tiap-tiap kategori tersebut, berikan
poin-poin penting terkait materi pelajaran.
43
1) Bagi kelas dalam beberapa kelompok
2) Bagikan kertas plano yang telah diberikan tulisan kata kunci atau
informasi tertentu atau kategori tertentu atau pertanyaan secara
acak kepada setiap kelompok. Pada tempat yang terpisah, letakkan
kartu yang berisi jawaban/informasi yang tepat untuk
masing-masing kata kunci. Buatlah kartu-kartu itu tercampur aduk.
3) Mintalah setiap kelompok mencari kartu yang cocok dengan kata
kunci tersebut. Jelaskan kepada setiap kelompok bahwa kegiatan
ini merupakan latihan pencocokan.
4) Setelah mereka menemukan kartu yang cocok, maintalah mereka
menempelkan lembar jawaban atau informasi berdampingan
dengan kartu yang berisikan pertanyaan, sehingga menjadi sebuah
informasi yang lengkap.
5) Setiap kelompok dalam satu kategori diminta untuk
mempresentasikan hasilnya.
6) Guru bersama siswa yang lainnya mengoreksi serta membenarkan
hasil dari presentasi siswa.
7) Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan pokok-pokok materi.
d. Kelebihan dan Kelemahan Metode Card Sort
1) Kelebihan Card Sort
a) Memperkuat daya ingat siswa.
b) Suasana kelas lebih dinamis.
44
d) Waktu pembelajaran lebih efektif dan efisien.
e) Meningkatkan antusias siswa dalam belajar.
f) Mempermudah siswa dalam memahami materi.
g) Siswa belajar juga sambil bermain.
2) Kelemahan Metode Card Sort
a) Jika siswa tidak dibimbing dalam diskusi akan menimbulkan
suasana gaduh di dalam kelas
b) Dibutuhkan waktu diluar jam pelajaran dalam persiapan
penggunaan metode ini.
c) Dibutuhkan biaya yang lebih.
d) Tidak semua materi dapat diajarkan dengan metode ini.
B. Kajian Pustaka
Ahmad Ali Masrukan pada tahun 2014 dengan skripsi yang berjudul “Peningkatan Prestasi Belajar IPS Pokok Bahasan Tokoh Sejarah dan
Peninggalan pada Masa Kerajaan Hindu-Budha dan Islam di Indonesia
Melalui Metode Card Sort pada Siswa Kelas V MI Ma’arif Dukuh Kec.
Sidomukti Kota Salatiga” dari jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah,
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIN Salatiga. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa metode card sort dapat meningkatkan prestasi belajar
IPS pokok bahasan tokoh sejarah dan peninggalan pada masa kerajaan Hindu-Budha dan Islam di Indonesia pada siswa kelas V MI Ma’arif Dukuh Kec.
45
Bilqis Ummu Lathifah pada tahun 2016 dengan skripsi yang berjudul “Peningkatan Hasil Belajar Siswa Tentang Bilangan Loncat melalui Model
Pembelajaran Card Sort pada Siswa Kelas 1 MI Ma’arif Kutowinangun
Canden Kutowinangun Lor Salatiga Tahun Pelajaran 2015/2016” dari jurusan
Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan,
IAIN Salatiga. Hasil penelitaian memberi bukti bahwa penggunaan model
pembelajaran card sort pada mata pelajaran matematika materi bilangan
locat 2, 3, dan 4 di kelas 1 MI Ma’arif Kutowinangun memiliki dampak
positif yaitu peningkatan terhadap hasil belajar siswa.
Nur Choerun Nisak pada tahun 2011 dengan judul skripsi “Peningkatan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Melalui
Metode Card Sort pada Siswa Kelas V MI Nurul Ulum Gunung Tumpeng
Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2010/2011” dari
jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu
Keguruan, IAIN Salatiga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan
metode card sort dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas V MI Nurul
Ulum Gunung Tumpeng pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
Peneliti pertama menitikberatkan bahwa penggunaan metode card sort
dapat meningkatkan hasil belajar IPS materi tokoh sejarah dan peninggalan
pada masa kerajaan Hindu-Budha dan Islam di Indonesia. Peneliti kedua
menitikberatkan bahwa penggunaan model pembelajaran card sort dapat
46
Kutowinangun Lor Salatiga. Sedangkan peneliti ketiga menitikberatkan
bahwa penggunaan metode card sort dapat meningkatkan hasil belajar ada
materi IPS di kelas V MI Nurul Ulum Gunung Tumpeng pada mata pelajaran
IPS.
Arah yang akan dituju peneliti adalah untuk mengetahui peningkatan
hasil belajar siswa mata pelajaran Pendidikan Agama Islam materi tajwid
dengan metode card sort pada siswa kelas XII Mekatronika 2 SMK Negeri 3
47
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN
A. Gambaran Umum SMK N 3 Salatiga
Berikut ini adalah gambaran umum dari SMK N 3 Salatiga:
1. Profil Sekolah
a. Identitas Sekolah
Nama Sekolah : SMK N 3 SALATIGA
NPSN : 20338571
Jenjang Pendidikan : Sekolah Menengah Kejuruan
Alamat Sekolah : Jalan Ja’far Shodiq RT/RW: 01/03
Kelurahan Kalibening, Kecamatan
Tingkir, Kota Salatiga, Jawa Tengah
Telepon/HP/Fax : (0298) 7103119
Status Sekolah : Negeri
Nilai Akreditasi : A
b. Program Keahlian
Di SMK N 3 Salatiga mempunyai 6 program keahlian, yaitu:
teknik mekatronika, teknik pengelasan, teknik ototronik, agribisnis
tanaman pangan dan holtikultura (ATPH), teknik sepeda motor, serta