• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTKA"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

9 BAB II KAJIAN PUSTKA

Pada bab ini akan disajikan hal-hal yang melandasi kegiatan penelitian mengenai partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan wajib belajar sembilan tahun di Desa Bendungan, Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung. Landasan teori ini memberikan penjelasan dari konsep secara jelas agar tidak terjadi penyimpangan.

2.1 Partisipasi

Menurut Keit Davis menyatakan bahwa “ partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosi seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta

tanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan”.1

George Terry dalam Winardi menyatakan bahwa “ partisipasi adalah turut sertanya seseorang baik secara mental maupun emosional untuk memberikan sumbangan-sumbangan pada proses pembuatan keputusan, terutama mengenai persoalan di mana keterlibatan pribadi orang yang bersangkutan

melaksanakan tanggung jawabnya untuk melakukan hal tersebut”.2

Mengacu pada beberapa pendapat tersebut, maka partisipasi masyarakat dalam penelitian ini adalah wujud tingkah laku masyarakat secara nyata dalam kegiatan pendidikan yang merupakan keseluruhan dari suatu keterlibatan mental dan emosional masyarakat, sehingga mendorong mereka untuk memberikan

1 Sastropoetro, Santoso. 1989. Partisipasi, Komunikasi, Persuasi dan Disiplin dalam

Pembangunan Nasional. Alumni. Bandung. hal : 35

2 Winardi, 2002. Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajeman. PT.Grafindo Persada. Jakarta. Hal: 149

(2)

kontribusi dan bertanggung jawab terhadap pencapaian suatu tujuan yaitu tercapainya manusia yang berpendidikan.

2.1.1 Jenis-jenis Partisipasi

Partisipasi itu sendiri terbagi menjadi beberapa jenis. Guna memperoleh gambaran yang jelas tentang partisipasi, akan dipaparkan mengenai jenis-jenis partisipasi menurut Keit Davis. Adapun jenis-jenis partisipasi tersebut antara lain :

1. “ Partisipasi berupa pikiran ( psychological participation).

Merupakan jenis keikutsertaan secara aktif dengan mengerahkan pikiran dalam suatu rangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu.

2. Partisipasi yang berupa tenaga (physical Participation).

Merupakan partisipasi dari individu atau kelompok dengan tenaga yang dimilikinya, melibatkan diri dalam suatu aktivitas dengan maksud tertentu. 3. Partisipasi yang berupa tenaga dan pikiran (physical and psychological

participation).

Partisipasi ini sifatnya lebih luas lagi di samping mengikutsertakan aktivitas secara fisik dan non fisik secara bersamaan.

4. Partisipasi yang berupa keahlian ( participation with skill).

Merupakan bentuk partisipasi dari orang atau kelompok yang mempunyai keahlian khusus, yang biasanya juga berlatar belakang pendidikan baik formal maupun non formal yang menunjang keahliannya.

5. Partisipasi yang berupa barang (material participation).

Partisipasi dari orang atau kelompok dengan memberikan barang yang dimilikinya untuk membantu pelaksanaan kegiatan tersebut.

6. Partisipasi yang berupa uang (money participation).

Partisipasi ini hanya memberikan sumbangan uang kepada kegiatan. Kemungkinan partisipasi ini terjadi karena orang atau kelompok tidak bisa terjun langsung dari kegiatan tersebut. Partisipasi yang berupa uang dan barang sifatnya tersamar, karena dalam hal ini individu atau kelompok tidak kelihatan secara jelas beraktivitas melainkan mengikutsertakan barang atau uangnya”.3

2.1.2 Faktor-faktor yang Menyebabkan Partisipasi

Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pendidikan merupakan bentuk keterlibatan mental dan emosional. Menurut Sudjana partisipasi merupakan salah satu bentuk tingkah laku yang ditentukan oleh lima faktor, antara lain:

(3)

1. “ Pengetahuan/kognitif, berupa pengetahuan tentang tema, fakta, aturan, dan keterampilan membuat translation.

2. Kondisi situasional, seperti lingkungan fisik, lingkungan sosial, psikososial dan faktor-faktor sosial.

3. Kebiasaan sosial, seperti kebiasaan menetap dan lingkungan.

4. Kebutuhan, meliputi kebutuhan Approach (mendekatkan diri), Avoid (menghindari), kebutuhan individual.

5. Sikap, meliputi pandangan/perasaan, kesediaan bereaksi, interaksi

sosial,minat dan perhatian”.4

Pada hakikatnya keberhasilan pendidikan selalu melibatkan hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Oleh sebab itu, untuk menciptakan keberhasilan dalam hal pendidikan, maka diperlukan adanya partisipasi yang tinggi dari masyarakat dalam pelaksanaannya. Partisipasi orang tua merupakan hal yang sangat penting dan menentukan keberhasilan pendidikan.

Dalam kegiatan pendidikan, khususnya pendidikan dasar (SD sampai SMP), masyarakat dituntut secara aktif untuk ikut berpartisipasi aktif dalam pendidikan, karena masyarakat merupakan kunci utama atau kunci sukses dalam keberhasilan pelaksanaan pendidikan. Masyarakat yang berperan aktif dalam pendidikan akan terlihat pada kehidupan keseharian dari masyarakat tersebut.

Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pendidikan antara lain memberikan beberapa penyuluhan atau sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan untuk masa depan. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan cara memberikan kemudahan-kemudahan berupa fasilitas-fasilitas belajar serta sarana dan prasarana pendidikan guna memudahkan masyarakat dalam mendapatkan pendidikan.

4 Hayati, Nor. 2001. Analisis Faktor-faktor yang Menyebabkan Kurangnya Partisipasi Mahasiswa Malaysia dalam Kegiatan Kurikuler dan Ekstrakurikuler di Universitas Negeri Semarang. UNNES: Skripsi. hal: 16

(4)

Masyarakat sebagai subjek dan juga sekaligus sebagai objek dalam proses pendidikan. Sebagai subjek, masyarakat merupakan individu yang melakukan proses pendidikan. Sebagai objek karena kegiatan pendidikan di harapkan dapat memberikan perubahan perilaku pada diri masyarakat. Sehingga, dalam pelaksanaannya, diperlukan partisipasi aktif dari masyarakat dalam kegiatan pendidikan.

2.2 Masyarakat

2.2.1 Pengertian Masyarakat

“ Masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), di mana sebagian besar interaksi adalah

antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut”.5 Sekelompok

manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem atau aturan yang sama, dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.

Dilihat dari struktur sosial dan kebudayaan masyarakat Indonesia, maka masyarakat dibagi dalam tiga kategori yaitu ke dalam kelompok masyarakat desa, masyarakat madya, dan masyarakat modern. Ada pun ciri-ciri masyarakat tersebut sebagai berikut :

1. “ Masyarakat Desa

a. Hubungan keluarga dan masyarakat masih sangat kuat karena didasarkan pada adat istiadat yang kuat sebagai organisasi sosial. b. Masih percaya kepada kekuatan-kekuatan gaib.

c. Tingkat buta huruf relatif tinggi.

(5)

d. Berlaku hukum tidak tertulis yang intinya diketahui dan dipahami oleh setiap orang.

e. Tidak ada lembaga pendidikan khusus di bidang teknologi dan keterampilan diwariskan oleh orang tua langsung kepada keturunannya.

f. Sistem ekonomi sebagian besar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan sebagian kecil dijual di pasaran untuk memenuhi kebutuhan lainnya, dan uang berperan sangat terbatas.

g. Semangat gotong-royong dalam bidang sosial dan ekonomi sangat kuat.

2. Masyarakat Madya

a. Hubungan keluarga masih tetap kuat dan hubungan kemasyarakatan mulai mengendur.

b. Adat istiadat masih dihormati, dan sikap masyarakat mulai terbuka dari pengaruh luar.

c. Timbul rasionalitas pada cara berpikir, sehingga kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan gaib mulai berkurang dan akan timbul kembali apabila telah kehabisan akal.

d. Timbul lembaga pendidikan formal dalam masyarakat terutama pendidikan dasar dan menengah.

e. Tingkat buta huruf sudah mulai menurun.

f. Ekonomi masyarakat lebih banyak mengarah kepada produksi pasaran sehingga menimbulkan diferensiasi dalam struktur masyarakat karenanya uang semakin meningkat penggunaannya. 3. Masyarakat Modern

a. Hubungan antar manusia didasarkan atas kepentingan-kepentingan pribadi.

b. Hubungan antar masyarakat dilakukan secara terbuka dalam suasana saling pengaruh mempengaruhi.

c. Kepercayaan masyarakat yang kuat terhadap manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

d. Strata masyarakat digolongkan menurut profesi dan keahlian yang dapat dipelajari dan ditingkatkan dalam lembaga-lembaga keterampilan dan kejuruan.

e. Tingkat pendidikan formal tinggi dan merata.

f. Hukum yang berlaku adalah hukum tertulis yang kompleks.

g. Ekonomi hampir seluruhnya ekonomi pasar yang didasarkan atas

penggunaan uang dan alat pembayaran lainnya”.6

(6)

Manusia dapat dikatakan sebagai masyarakat apabila terdapat unsur-unsur yang melandasinya. Adapun unsur-unsur dari suatu masyarakat menurut Soerjono Soekamto adalah sebagai berikut :

1. “ Paling sedikit ada 2 orang individu 2. Mereka menyadari kesatuan mereka

3. Jangka waktu dalam berhubungan termasuk lama yang mengakibatkan hubungan itu melahirkan manusia yang baru yang tetap selalu berkomunikasi dan membuat berbagai aturan yang berhubungan dengan keterkaitan/hubungan antar masyarakat tersebut

4. Mereka menjadi sebuah sistem, yang hidup secara bersama-sama yang pada akhirnya melahirkan apa yang disebut kultur/kebudayaan serta

saling berhubungan antar sesama masyarakat”.7

Sehingga dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup bersama guna mencapai tujuan bersama. Manusia adalah makhluk sosial, sehingga manusia memerlukan sosialisasi dengan orang lain. Sosialisasi adalah proses di mana seseorang mempelajari cara hidup masyarakat untuk mengembangkan potensinya, baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok, sesuai dengan nilai, norma, dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Proses tersebut dimulai dari lingkungan yang paling kecil, yaitu lingkungan keluarga.

2.2.2 Anggota Masyarakat 2.2.2.1 Kepala Desa

Kepala desa adalah bagian dari desa di Indonesia yang merupakan pimpinan dari pemerintahan desa. Masa jabatan kepala desa adalah enam tahun (6 tahun) dan dapat diperpanjang untuk jangka satu kali masa jabatan berikutnya.

7 http://dimazmarham.blogspot.com/2009/12/faktor-faktor-unsur-unsur-masyarakat-m.html?m=I

(7)

Kepala desa tidak bertanggung jawab kepada camat, namun hanya di koordinasi oleh camat.

Dalam pemerintahannya, kepala desa memiliki beberapa wewenang, di antaranya :

1. “Memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa berdasarkan kebijakan yang di tetapkan bersama badan permusyawaratan desa (BPD).

2. Mengajukan rancangan peraturan desa.

3. Menetapkan peraturan desa yang telah mendapat persetujuan bersama BPD.

4. Menyusun dan mengajukan rancangan peraturan desa mengenai anggaran pendapatan dan belanja desa (APB Desa) untuk dibahas

dan ditetapkan bersama BPD”.8

Selain itu, kepala desa juga memiliki tugas serta fungsi, di mana tugas dan fungsi dari kepala desa itu antara lain :

1. ” Tugas kepala desa

a. Menyelenggarakan urusan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.

b. Menjalankan tugas di samping berdasarkan kewenangan jabatan, juga berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama antara pemerintah desa dan badan permusyawaratan desa. 2. Fungsi kepala desa :

a. Merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan kegiatan pemerintah;

b. Merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan kegiatan pembangunan;

c. Merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan kegiatan

pembinaan kemasyarakatan”.9

2.2.2.2 Keluarga

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Menurut Salvicon dan Celis, di

8 http://id.wikipedia.org/wiki/Kepala_desa

(8)

dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya

masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan”.10

Dalam pelaksanaannya, keluarga memiliki beberapa fungsi. Fungsi yang dijalankan keluarga adalah sebagai berikut :

1. “ Fungsi pendididikan dilihat dari bagaimana keluarga mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak.

2. Fungsi sosialisasi anak dilihat dari bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.

3. Fungsi perlindungan dilihat dari bagaimana keluarga melindungi anak sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.

4. Fungsi perasaan dilihat dari bagaimana keluarga secara instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.

5. Fungsi agama dilihat dari bagaimana keluarga memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lain melalui kepala keluarga menanamkan keyakinan yang mengatur kehidupan kini dan kehidupan lain setelah dunia.

6. Fungsi ekonomi dilihat dari bagaimana kepala keluarga mencari penghasilan, mengatur penghasilan sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga.

7. Fungsi Rekreatif dilihat dari bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga, seperti acara menonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dan lainnya.

8. Fungsi biologis dilihat dari bagaimana keluarga meneruskan keturunan sebagai generasi selanjutnya.

9. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan rasa aman di antara keluarga,

serta membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga”.11

Keluarga sendiri memiliki anggota. Di mana anggota dalam sebuah keluarga terdiri dari :

10 Salvicon dan Celis dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Keluarga 11 http://id.wikipedia.org/

(9)

1. Orang tua

“ Orang tua adalah ayah dan/atau ibu dari seorang anak, baik

melalui hubungan biologis maupun sosial”.12 Orang tua memiliki peranan

yang sangat penting dalam membesarkan anak maupun dalam pendidikan anak-anak mereka. Orang tua tidak boleh menganggap bahwa pendidikan anak hanya menjadi tanggung jawab dari sekolah saja, melainkan orang tua harus turut ambil bagian dalam pendidikan anak.

Berikut adalah fungsi orang tua dalam kaitannya dengan pendidikan anak :

a. “ Membentuk kepribadian dan mendidik anak di rumah.  Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak.  Menjamin kehidupan emosional anak.

 Menanamkan dasar pendidikan moral anak.  Memberikan dasar pendidikan sosial.  Meletakkan dasar-dasar pendidikan agama.

 Bertanggung jawab dalam memotivasi dan mendorong keberhasilan anak.

 Memberikan kesempatan belajar dengan mengenalkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupan kelak sehingga anak mampu menjadi manusia dewasa yang mandiri.

 Menjaga kesehatan anak sehingga anak dapat dengan nyaman menjalankan proses belajar yang utuh.

 Memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat dengan memberikan pendidikan agama sesuai ketentuan Tuhan sebagai tujuan akhir manusia.

b. Mendukung pendidikan anak di sekolah

 Orang tua bekerja sama dengan sekolah.

 Sikap anak terhadap sekolah sangat dipengaruhi oleh sikap orang tua terhadap sekolah, sehingga sangat dibutuhkan kepercayaan orang tua terhadap sekolah yang menggantikan tugasnya selama di ruang sekolah.  Orang tua harus memperhatikan sekolah anaknya,

yaitu dengan memperhatikan pengalaman-pengalaman dan menghargai segala usahanya.

(10)

 Orang tua menunjukkan kerja sama dalam menyerahkan cara belajar di rumah, membuat pekerjaan rumah dan memotivasi dan membimbing anak dalam belajar.

 Orang bekerja sama dengan guru untuk mengatasi kesulitan belajar anak.

 Orang tua bersama anak mempersiapkan jenjang pendidikan yang akan dimasuki dan mendampingi selama menjalani proses belajar di lembaga

pendidikan”.13

Guna dapat menjalankan fungsi tersebut secara maksimal, orang tua harus memiliki kualitas diri yang memadai sehingga anak-anak akan berkembang sesuai dengan harapan. Artinya orang tua harus memahami hakikat dan peran mereka sebagai orang tua dalam membesarkan anak, membekali diri dengan ilmu tentang pola pengasuhan yang tepat, pengetahuan tentang pendidikan yang dijalani anak, dan ilmu tentang perkembangan anak, sehingga tidak salah dalam menerapkan suatu bentuk pola pendidikan terutama dalam membentuk kepribadian anak yang sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang bertakwa kepada Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

(11)

2. Anak-anak

Anak dalam sebuah keluarga seseorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa yang merupakan keturunan dari orang tua. Sudah selayaknya anak yang menjadi bagian dari keluarga mendapatkan hak-haknya dalam keluarga yang di antaranya adalah hak mendapatkan perlindungan serta hak dalam memperoleh pendidikan yang layak.

Setiap anak dalam kehidupannya memiliki hak dan kewajiban yang diberikannya sehubungan dengan pendidikan, di mana hak dan kewajiban itu seperti yang tertuang dalam UU No. 20 tahun 2003 Pasal 12 sebagai berikut:

(1) Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak: a. Mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang

dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama; b. Mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat,

minat, dan kemampuannya;

c. Mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya;

d. Mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya;

e. Pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara;

f. Menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan.

(2) Setiap peserta didik berkewajiban:

a. Menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan; b. Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali

bagi peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang

berlaku”.14

(12)

2.3 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Partisipasi Masyarakat dalam Pelaksanaan Wajib Belajar Sembilan Tahun

2.3.1 Persepsi orang tua

Sudito berpendapat bahwa “persepsi merupakan suatu proses

memperhatikan dan menyeleksi, mengorganisasi dan menafsirkan stimulus”.15

Persepsi dipengaruhi oleh kerja sama dengan faktor luar (stimulus) dan faktor dalam (personal). Faktor luar tersebut terdiri dari hal-hal yang berasal dari luar individu yang berupa pendidikan, pengalaman, lingkungan sosial, dll. Faktor dalam adalah semua yang berasal dari dalam individu, seperti cipta, rasa, karsa dan keyakinan. Persepsi dapat berubah karena pengaruh pengalaman, teman, serta lingkungan. Maka dalam memberikan persepsi individu mula-mula akan mengadakan pengamatan, kemudian mengadakan seleksi dari apa yang di amati, setelah itu baru mengadakan penafsiran dan kemudian mereaksi dalam bentuk tingkah laku. Dalam menyadari reaksi ini, seseorang akan dipengaruhi oleh beberapa faktor berupa “ faktor dalam dirinya dan dari luar diri, di mana faktor

tersebut di antaranya lingkungan masyarakat di sekitarnya”.16

Persepsi orang tua terhadap pendidikan akan mempengaruhi aspirasi, artinya kemampuan orang tua dalam melihat pentingnya pendidikan akan berpengaruh pada harapan dan tujuan untuk keberhasilan di masa depan. Aspirasi dalam hal ini adalah keinginan, harapan, atau cita-cita orang tua terhadap tingkat pencapaian pendidikan anak-anaknya.

15 Sudito dalam http://eprints.undip.ac.id/17075/1/DIDI_PRAYITNO.pdf 16 http://eprints.undip.ac.id/

(13)

Persepsi orang tua dengan melihat keberhasilan atau kegagalan yang dialami sebelumnya, baik yang dialami oleh dirinya atau orang lain akhirnya dijadikan cermin pengalaman bagi dirinya. Pengalaman seseorang yang dianggap sebagai kesuksesan akan meningkatkan aspirasinya dan dalam hal ini orang tua akan memiliki persepsi bahwa pendidikan memiliki manfaat yang penting. Namun jika pengalaman seseorang yang dinilai sebagai kegagalan aspirasinya akan turun bahkan orang tua akan memiliki persepsi bahwa pendidikan tidak begitu penting.

Persepsi orang tua terhadap pendidikan anak dapat dilihat dari cara orang tua menilai arti penting belajar bagi anak-anaknya, dapat pula dilihat dari cara memahami nilai fungsional pendidikan bagi kehidupan anak-anaknya di masa depan. Persepsi orang tua terhadap fungsi sekolah adalah anggapan atau pendapat orang tua sebagai pengamat sehari-hari tentang sekolah.

Persepsi orang tua terhadap pendidikan anak merupakan suatu pola pikir orang tua tentang makna dan arti penting proses pendidikan anak setelah pendidikan SD, kaitannya dengan relevansi pendidikan serta biaya pendidikan yang masih menjadi tanggung jawab orang tua. Apabila persepsi orang tua terhadap pendidikan baik, maka akan menopang munculnya aspirasi yang tinggi sehingga kesadaran untuk melanjutkan pendidikan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi akan besar juga.

Hal lain yang menjadi penyebab anak putus sekolah adalah persepsi orang tua di pedesaan yang menganggap bahwa pendidikan untuk anak wanita kurang begitu penting. Hal ini didasari adanya anggapan bahwa yang bertanggung jawab setelah berumah tangga adalah seorang laki-laki, sehingga perempuan hanya akan

(14)

menjadi ibu rumah tangga, sehingga tidak mengherankan kalau ada anak wanita di pedesaan yang sudah dinikahkan sebelum mereka lulus SMP.

Bertolak dari uraian tersebut, persepsi orang tua tentang pendidikan dalam penelitian ini adalah suatu pandangan orang tua dalam melihat konsep pendidikan. Artinya kemampuan orang tua dalam melihat tujuan dan manfaat pendidikan bagi anak.

2.3.2 Keadaan Ekonomi

Keadaan ekonomi merupakan kemampuan ekonomi orang tua dalam membiayai pendidikan anak-anaknya. Permasalahan status sosial ekonomi yang dihadapi orang tua di daerah pedesaan masih merupakan suatu masalah yang kompleks di mana pemecahannya banyak bergantung pada tingkat pertumbuhan ekonomi di daerah setempat.

Status ekonomi keluarga (orang tua) yang rendah menyebabkan ketidakmampuan orang tua dalam memberikan fasilitas belajar yang memadai kepada anak-anak mereka. Pendidikan rendah yang disandang orang tua menyebabkan tidak mampunya orang tua membantu anak apabila anak tersebut menghadapi kesulitan dalam pelajaran di sekolah. Keadaan seperti ini sering menyebabkan anak mengalami ketegangan atau stres yang akhirnya dapat mengganggu belajar mereka. Gangguan belajar yang berkepanjangan akhirnya menyebabkan anak menjadi malas sekolah, bahkan putus sekolah.

Permasalahan keadaan ekonomi ini di samping permasalahan aspirasi dan persepsi pendidikan orang tua, juga dapat mempengaruhi kelanjutan pendidikan anak. “ Kemiskinan adalah keadaan di mana terjadi ketidakmampuan untuk

(15)

memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung,

pendidikan, dan kesehatan”.17 Keadaan ekonomi yang lemah menyebabkan lemah

pula kemampuan untuk menyekolahkan anak, apalagi untuk sekolah lanjutan yang berada di daerah yang jauh dari tempat tinggal yang memerlukan biaya yang tinggi.

Masalah kesulitan ekonomi keluarga menyebabkan turunnya jumlah peserta didik yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di daerah pedesaan selain sarana pendidikan masih kurang, keadaan ekonomi masyarakat juga masih rendah. Hal ini dibuktikan bahwa penduduk pedesaan kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani yang tergolong dalam kategori berpenghasilan rendah. Penghasilan rendah orang tua akhirnya mendorong anak-anak yang masih berusia muda untuk ikut meringankan beban hidup orang tuanya dengan jalan turut ambil bagian dalam pekerjaan orang tuanya. Adanya peluang kerja di kota terkadang mendorong anak memutuskan lebih baik bekerja daripada melanjutkan sekolah. Berdasarkan uraian tersebut, maka yang dimaksud dengan keadaan sosial ekonomi orang tua dalam penelitian ini adalah kedudukan orang tua dalam kehidupan masyarakat yang dapat dilihat dari pendapatan dan keadaan ekonomi secara keseluruhan.

2.4 Pendidikan

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dan mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

(16)

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan

yang diperlukan dirinya”.18 Pendidikan berawal dari seorang bayi dan

berlangsung seumur hidup.

Menurut Horton dan Hunt, lembaga pendidikan berkaitan dengan fungsi yang nyata (manifes) berikut :

1. Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah.

2. Mengembangkan bakat perseorangan demi kepuasan pribadi dab bagi kepentingan masyarakat.

3. Melestarikan kebudayaan.

4. Menanamkan keterampilan yang perlu bagi partisipasi dalam demokrasi.

Selain mempunyai fungsi nyata, lembaga pendidikan juga mempunyai fungsi laten, di mana fungsi laten dari pendidikan adalah sebagai berikut :

1. Mengurangi pengendalian orang tua. Melalui pendidikan, sekolah orang tua melimpahkan tugas dan wewenang dalam mendidik anak kepada sekolah.

2. Menyediakan sarana untuk pembangkangan. Sekolah memiliki potensi untuk menanamkan nilai pembangkangan di masyarakat. Hal ini tercermin dengan adanya perbedaan pandangan antara sekolah dan masyarakat tentang suatu hal.

3. Mempertahankan sistem kelas sosial. Pendidikan sekolah diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para anak didiknya untuk menerima

(17)

perbedaan dan status yang ada dalam masyarakat. Sekolah juga diharapkan menjadi saluran mobilitas siswa ke status sosial yang lebih tinggi atau tidak sesuai dengan status orang tuanya.

4. Memperpanjang masa remaja. Pendidikan juga dapat memperlambat masa dewasa seseorang karena siswa masih tergantung secara ekonomi pada orang tuanya.

Menurut David Popeno, ada empat macam fungsi pendidikan yaitu : 1. Transmisi (pemindahan) kebudayaan.

2. Memilih dan mengajarkan peranan sosial. 3. Menjamin integrasi sosial.

4. Sekolah mengajarkan corak kepribadian.

2.4.1 Pendidikan di Indonesia

Pendidikan di Indonesia adalah seluruh pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia, baik itu secara terstruktur maupun tidak terstruktur. Secara terstruktur, pendidikan di Indonesia menjadi tanggung jawab kementrian pendidikan nasional republik Indonesia (kemendiknas). Di Indonesia, semua penduduk wajib mengikuti program wajib pendidikan dasar selama sembilan tahun, enam tahun di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah dan tiga tahun di Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah.

Pendidikan di Indonesia terbagi ke dalam tiga jalur utama, yaitu formal, nonformal, dan informal. Pendidikan juga di bagi ke dalam empat jenjang, yaitu anak usia dini, dasar, menengah, dan tinggi.

(18)

2.4.2 Jalur Pendidikan

Pengembangan potensi peserta didik dapat ditempuh melalui tiga jalur pendidikan, yaitu pendidikan formal, pendidikan informal, dan pendidikan nonformal.

2.4.2.1 Pendidikan Formal

Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan formal terdiri dari pendidikan formal berstatus negeri dan pendidikan formal berstatus swasta.

Pendidikan formal merupakan pendidikan yang berlangsung di sekolah-sekolah. Adapun penyelenggara pendidikan formal dimulai dari tingkat pendidikan anak usia dini (TK, RA), pendidikan dasar (SD, MI, SMP, MTs), pendidikan menengah (SMA, MA, SMK, MAK), dan pendidikan tinggi (Akademi, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institut dan Universitas).

2.4.2.2 Pendidikan Nonformal

Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi

(19)

peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.

Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. Pendidikan kesetaraan meliputi Paket A, Paket B, Paket C serta pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik, seperti: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

2.4.2.3 Pendidikan Informal

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian dengan standar nasional pendidikan.

Adapun jenis-jenis pendidikan informal meliputi: agama, budi pekerti, etika, sopan santun, moral, sosialisasi. Pendidikan informal berlangsung dalam lingkup keluarga dan lingkungan sekitar.

2.5 Wajib Belajar Sembilan Tahun

2.5.1 Pengertian Wajib Belajar Sembilan Tahun

“ Wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga Negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah

(20)

daerah”.19 Pendidikan dasar adalah jenjang terbawah dari sistem persekolahan nasional. Pendidikan dasar diselenggarakan guna mengembangkan sikap dan kemampuan serta untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang dibutuhkan untuk hidup di tengah masyarakat, serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi syarat untuk mengikuti pendidikan menengah.

Pendidikan dasar yang di maksudkan adalah pendidikan umum yang lamanya sembilan tahun yang diselenggarakan selama enam tahun di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan selama tiga tahun di Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau satuan pendidikan yang sederajat. Program Wajib Belajar Sembilan Tahun merupakan perwujudan pendidikan dasar untuk semua anak yang berusia 7 – 15 tahun.

Dalam rangka memperluas kesempatan pendidikan bagi seluruh warga Negara dan juga dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, pemerintah melalui PP Nomor 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar menetapkan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. Orientasi dan prioritas kebijakan tersebut seperti tercantum dalam Pedoman Persiapan dan Pelaksanaan Perintisan Wajib Belajar Pendidikan Dasar, antara lain:

1. ” Penuntasan anak usia 7 – 12 tahun untuk Sekolah Dasar (SD);

2. Penuntasan anak usia 13 – 15 tahun untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP);

3. Pendidikan untuk semua (education for all)”.20

19 Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 2008 tentang Wajib Belajar, Pasal 1 ayat (1) 20 Wahjoetomo, 1994, Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun (Problematik dan Alternatif

(21)

Pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dicanangkan oleh Presiden Indonesia pada tanggal 2 Mei 1994 dan pelaksanaannya dimulai pada tahun ajaran 1994/1995. Wajib Belajar Sembilan Tahun di Indonesia memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. “ Tidak bersifat paksaan melainkan persuasif; 2. Tidak ada sanksi hukum;

3. Tidak di atur dengan undang-undang tersendiri;

4. Keberhasilan diukur dengan angka partisipasi pendidikan dasar yang

semakin meningkat”.21

Program Wajib Belajar Sembilan tahun diharapkan mampu mengantarkan manusia Indonesia pada pemilikan kompetensi pendidikan dasar, sebagai kompetensi minimal. Kompetensi pendidikan dasar yang dimaksudkan seperti ditegaskan pada pasal 13 Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 adalah kemampuan atau pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi (pendidikan menengah). Hal ini juga sesuai dengan unsur-unsur kompetensi pendidikan dasar yang diidentifikasikan oleh International Development Research Center, yang meliputi :

1. “ Kemampuan berkomunikasi dan kemampuan dasar berhitung; 2. Pengetahuan dasar tentang Negara, budaya, dan sejarah;

3. Pengetahuan dan keterampilan dasar dalam bidang kesehatan, gizi, mengurus rumah tangga, dan memperbaiki kondisi kerja;

4. Kemampuan berpartisipasi secara aktif dalam masyarakat sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat, memahami hak dan kewajibannya sebagai warga Negara, bersikap dan berpikir kritis, serta dapat memanfaatkan perpustakaan, buku-buku bacaan, dan

siaran radio”.22

21 http://www.gudangmateri.com/2010/06/pendidikan-wajib-belajar-9-tahun.html 22 Wahjoetomo, op.cit. hal. 7

(22)

Bentuk satuan pendidikan untuk membantu menuntaskan Program Wajar Pendidikan Dasar sembilan tahun terdiri atas 10 wahana dan empat rumpun, baik pada tingkat SD maupun SMP, yaitu :

1. “ Rumpun SD dan SMP yang terdiri atas SD dan SMP biasa, SD dan SMP kecil, dan SD dan SMP pamong;

2. Rumpun SD dan SMP Luar Biasa yang terdiri atas SD dan SMP Luar Biasa, SDLB dan SMPLB, serta SD dan SMP Terpadu;

3. Rumpun pendidikan luar sekolah yang terdiri atas program kelompok belajar paket A dan B (Kejar paket A untuk setingkat SD dan kejar paket B untuk setingkat SMP), serta kursus persamaan SD dan SMP; 4. Rumpun sekolah keagamaan yang terdiri atas Madrasah Ibtidaiyah

(MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Pondok Pesantren”.23

Bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan program Wajib Belajar Sembilan Tahun tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. “ SD/SMP Biasa, merupakan SD/SMP yang diselenggarakan oleh pemerintah atau masyarakat dalam menghadapi situasi yang normal; 2. SD/SMP Kecil, merupakan SD/SMP negeri yang diselenggarakan di

daerah yang berpenduduk sedikit dan memenuhi persyaratan yang berlaku;

3. SD/SMP Pamong, merupakan SD/SMP negeri yang didirikan untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi anak putus sekolah pada jenjang pendidikan SD/SMP dan atau anak lain yang tidak dapat datang secara teratur untuk belajar di sekolah;

4. SD/SMP Terpadu, merupakan SD/SMP negeri yang menyelenggarakan pendidikan untuk anak yang menyandang kelainan fisik dan/atau mental bersama anak normal dengan menggunakan kurikulum yang berlaku di sekolah.

5. Madrasah Ibtidaiyah/Madrasah Tsanawiyah, merupakan SD/SMP yang berciri khas agama islam yang diselenggarakan oleh pemerintah atau

masyarakat di bawah bimbingan Departemen Agama (DEPAG)”.24

Sasaran dalam program wajib belajar itu sendiri di antaranya anak usia SD atau sederajat (7–12 tahun), serta anak usia SMP/MTs atau sederajat (13–15 tahun).

23 Substansi Pendidikan Dasar dalam Program Pendidikan Dasar 9 Tahun (http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._ADMINISTRASI_PENDIDIKAN/195306121981031_UDI N_SYAEFUDIN_SA'UD/Seminar_Wajar_Dikdas_9_Thn-Sept_2008.pdf)

(23)

Program wajib belajar Sembilan tahun memiliki keuntungan dan kerugian dalam pelaksanaannya. Ada pun keuntungan dari program wajib belajar Sembilan tahun adalah : (1) Mengembangkan potensi anak bangsa; (2) Melahirkan generasi penerus yang berkualitas; (3) Meringankan beban masyarakat. Sedangkan kelemahan dari program wajib belajar Sembilan tahun itu sendiri antara lain (1) Kurangnya sarana dan prasarana yang memadai sehingga suasana belajar mengajar menjadi kurang nyaman; (2) Banyak di manfaatkan oleh para orang kaya yang tidak mau membayar mahal biaya sekolah anaknya; (3) Kurang kesadaran masyarakat menyekolahkan anaknya; (4) Guru tidak dapat mendidik siswanya secara maksimal.

2.5.2 Tujuan Wajib Belajar Sembilan Tahun

Secara umum, tujuan dari program wajib belajar sembilan tahun merupakan pencerminan dari tujuan yang terkandung dalam pembukaan UUD 1954 yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Program wajib belajar sembilan tahun juga mempunyai tujuan secara khusus. Ada pun tujuan khusus dari wajib belajar sembilan tahun adalah sebagai berikut :

1. “ Meminimalkan jumlah anak putus sekolah; 2. Meningkatkan kualitas bangsa Indonesia; 3. Memperbaiki citra nusantara di mata dunia”.25

(24)

2.5.3 Faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Wajib Belajar Sembilan Tahun

Pelaksanaan wajib belajar sembilan tahun, sejak dilaksanakan pada tahun 1994/1995, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan program tersebut di antaranya adalah :

1. “ Faktor sosial budaya

Sebuah program yang berkaitan dengan kebijakan publik akan berjalan dengan baik dan efektif diperlukan sosialisasi berupa pengertian yang baik dan tepat kepada masyarakat tentang pentingnya program ini di jalankan, agar mendapat dukungan sepenuhnya dari seluruh elemen masyarakat. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan program wajar 9 tahun jika ditinjau dari sudut sosial budaya adalah sebagai berikut :

a. Faktor orang tua.

Pendidikan orang tua akan sangat mempengaruhi pola untuk mendidik anak. Sebab hal ini akan berubungan dengan persepsi orang tua terhadap sekolah itu sendiri yang dihubungkan dengan pengalaman individu dalam mengamati sekolah dan kaitannya dengan kejadian sehari-hari di lingkungannya. Pada sebagian masyarakat kecakapan baca tulis sebagaimana kecakapan lulusan SD pada umumnya digunakan untuk mengubah standar hidup. Gambaran kehidupan semacam ini dapat membentuk opini sebagian masyarakat untuk kurang

(25)

menghargai sekolah dan lulusannya. Dalam kondisi seperti ini beberapa kemungkinan bisa terjadi, seperti tidak menyekolahkan anaknya, memperhentikan anaknya sebelum tamat, atau tidak mau tahu tentang bangunan atau keberadaan sekolah di lingkungannya.

b. Faktor Tradisi Masyarakat.

Tradisi dan kebiasaan masyarakat sering menghalangi partisipasi anak untuk ke sekolah. Dari beberapa daerah masih ada tradisi anak untuk ikut bepergian jauh bersama orang tuanya, misalnya mengunjungi familinya, orang tua tidak merasakan rugi meski harus mengajak anaknya untuk meninggalkan sekolah dalam jangka waktu yang lama. Tradisi yang lain adalah masih banyaknya orang di dalam kehidupan bermasyarakat yang beranggapan mendidik anak perempuan kurang menguntungkan, sehingga orang tua enggan untuk menyekolahkan anak perempuan. Karena pada akhirnya perempuan akan menjadi Ibu rumah tangga yang hanya mengurusi pekerjaan-pekerjaan yang dianggap tidak memerlukan sekolah tinggi.

Tradisi lain di masyarakat adalah tentang menikahkan anak perempuan di usia belia. Sebab jika mempunyai anak gadis yang dianggap cukup umur tetapi belum menikah dianggap

(26)

perempuan yang tidak laku, hal itu menjadi beban dan aib dalam keluarga.

2. Faktor Agama

Pemahaman terhadap ajaran agama yang keliru juga dapat mempengaruhi keberhasilan terhadap program wajar 9 tahun padahal partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan untuk menyukseskan program ini. Khususnya pemeluk agama Islam yang sebagian besar pemeluk di Indonesia.

Ada pemahaman yang salah yang berkembang di masyarakat, yaitu pendidikan Agama lebih penting dari pada pendidikan umum. Ada beberapa orang tua yang merasa kalau pendidikan di pesantren akan lebih dibutuhkan dan berguna bagi kehidupan anak daripada harus menyekolahkan anak ke sekolah umum. Sehingga begitu tamat dari pesantren, anak tidak dapat melanjutkan ke sekolah umum dikarenakan perbedaan kurikulum yang ada, sehingga mau tidak mau anak terpaksa berhenti sekolah. .

3. Faktor Ekonomi

Kemiskinan biasanya akan mempengaruhi aspek-aspek lain termasuk pendidikan. Kita tidak bisa menutup mata bahwa angka kemiskinan masih menduduki presentasi tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), “ jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada Maret 2012 mencapai 29,12 juta (11,96%), turun 0,89 juta

(27)

dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2011 yang sebesar 30,02 juta (12,49%). Selama periode Maret 2011-Maret 2012, penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang 399,5 ribu orang (dari 11,05 juta pada Maret 2011 menjadi 10,65 juta pada Maret 2012), sementara di daerah perdesaan berkurang 487 ribu orang (dari 18,97 juta pada Maret

2011 menjadi 18,48 juta pada Maret 2012)”.26 Angka kemiskinan tersebut

berbanding lurus dengan angka usia putus sekolah”.27

2.6 Kerangka Pikir

Gambar 1. Kerangka pikir penelitian “ Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program wajib belajar sembilan tahun”.

Wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia. Keberhasilan program wajib belajar sembilan tahun tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab masyarakat dalam menyukseskan program tersebut yang dapat terlihat dari partisipasinya. Partisipasi masyarakat tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor di

26 http://www.bps.go.id/

27 http://khamdanguru.wordpress.com/2012/03/13/analisis-kebijakan-wajib-belajar-9-tahun-khamdan-m-pd-i/

Persepsi orang tua terhadap pendidikan

Partisipasi masyarakat dalam Pelaksanaan Program Wajib

Belajar Sembilan Tahun

Keadaan ekonomi orang tua

(28)

antaranya persepsi orang tua terhadap pendidikan serta keadaan ekonomi orang tua.

Persepsi orang tua serta keadaan ekonomi orang tua akan sangat berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program wajib belajar sembilan tahun. Apabila persepsi orang tua terhadap pendidikan baik, serta keadaan ekonomi orang tua mencukupi, maka partisipasi masyarakat dalam program wajib belajar sembilan tahun akan baik, sehingga pelaksanaan program wajib belajar akan mengalami kesuksesan. Sebaliknya apabila persepsi orang tua terhadap pendidikan itu kurang baik di tambah lagi dengan keadaan ekonomi orang tua yang kurang baik, hal ini akan mengakibatkan partisipasi masyarakat dalam program wajib belajar sembilan tahun menjadi kurang baik, sehingga pelaksanaan program wajib belajar itu sendiri akan mengalami ketidakberhasilan.

2.7 Penelitian Terdahulu

Penelitian yang juga membahas tentang partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program wajib belajar adalah :

Penelitian yang dilakukan oleh Dwi Setiabudi (2012) Universitas Pembangunan Nasional “VETERAN” Jawa Timur. Penelitian dengan judul Partisipasi Masyarakat dalam Program Wajib Belajar 12 Tahun di Kecamatan Magersari Kota Mojokerto. Masalah dalam penelitian ini adalah adanya siswa putus sekolah di kecamatan Magersari, data yang diberikan oleh dinas Pendidikan yaitu siswa putus sekolah untuk MI 1 siswa, SMP 10 siswa, SMA 45 siswa, SMK 143 siswa. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan angka putus sekolah tidak ada di

(29)

kecamatan Magersari. Hal ini dapat dilihat dari APM (Angka Partisipasi Murni) untuk SD 119.79%, SMP 105.98% dan SMA 148.63%. APK (Angka Partisipasi Kasar) untuk SD 132.84%, SMP 149.30% dan SMA 191.12%. Hal ini dikarenakan masyarakat diikutsertakan dalam perencanaan, pengawasan, pelaksanaan maupun evaluasi terhadap program sekolah baik secara langsung maupun tidak langsung melalui komite sekolah.28

28 Setiabudi, Dwi, 2012, Partisipasi Masyarakat Dalam Program Wajib Belajar 12 Tahun di

Kecamatan Magersari Kota Mojokerto, Universitas Pembangunan Nasional “VETERAN” Jawa

Gambar

Gambar 1.  Kerangka  pikir  penelitian  “  Partisipasi  masyarakat  dalam  pelaksanaan  program wajib belajar sembilan tahun”

Referensi

Dokumen terkait

Penyebab dari faktor lingkungan keluarga antara lain: komunikasi orang tua-anak kurang baik/efektif, hubungan dalam keluarga kurang harmonis/disfungsi dalam

yang ada baik gairah, keintiman, maupun komitmen yang biasa dijuumpai pada hubungan cinta orang dewasa atau hubungan anatara orang tua dan anak. Mereka puas

Keadaan ekonomi yang kurang baik dikarenakan banyak orang tua siswa yang hanya menjadi buruh tani dengan penghasilan yang minim.Selain penghasilan yang rendah,

Dengan masuknya inti sprematozoa ke dalam sitoplasma, “vitelus” membangkitkan kembali pembelahan dalam inti ovum yang dalam keadaan “metafase”. Proses pemecahan dan

Peran orang tua dalam pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting dan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Banyak peran orang salah satu hal yang

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan EVA perusahaan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi dan memiliki kinerja keuangan yang baik dari tahun

2) Status sosial ekonomi yang rendah: disebabkan oleh keadaan gizi yang kurang baik dan pengaawasan antenatal yang kurang. 3) Usia ibu: angka kejadian prematuritas

Dimana keadaan ekonomi yang kurang mencukupi sehingga orang tua menikahkan anaknya pada usia dini agar mengurangi beban orang tua, sedangkan faktor orang tua karena adanya perjodohan