BAB II KAJIAN PUSTAKA. manusia yang terdiri dari individu dan kelompok yang mempunyai nilai-nilai,

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Kajian Tentang Masyarakat Pesisir

Mitchell (2003:20) menjelaskan masyarakat merupakan kumpulan manusia yang terdiri dari individu dan kelompok yang mempunyai nilai-nilai, kepentingan, keinginan, harapan dan krakteristik yang berbeda, sehingga selalu ada ketegangan antar berbagai karakter yang berbeda, atau bahkan terdapat ketidak cocokan diantara karakter-karakter tersebut.

Searah dengan pendapat diatas, Agoes (2005:17) memberikan 3 komponen utama dalam mengupas permasalahan di masyarakat yang terkait dengan kondisi lingkungan yaitu: demografi, ekonomi dan budaya. Berbagai persoalan sosial dalam pengelolaan lingkungan sosial antara lain: berkembangnya konflik sosial, ketidakmerataan akses sosial ekonomi, meningkatnya jumlah pengangguran, meningkatnya angka kemiskinan, meningkatnya kesenjangan sosial ekonomi, kesenjangan akses pengelolaan sumberdaya, meningkatnya gaya hidup (konsumtif), kurangnya perlindungan pada hak-hak masyarakat lokal/tradisional dan modal sosial, perubahan nilai, lemahnya kontrol sosial, perubahan dinamika penduduk, masalah kesehatan dan kerusakan lingkungan.

Masyarakat pesisir secara geografis merupakan masyarakat yang berdomisili di pesisir pantai & umumnya mempunyai plurarisme budaya. Masyarakat kawasan pesisir cenderung agresif karena kondisi lingkungan pesisir yang panas dan terbuka, keluarga nelayan mudah diprovokasi (di pengaruhi), dan

(2)

salah satu kebiasaan yang jamak di kalangan nelayan (masyarakat pesisir) adalah karena kemudahan mendapatkan uang menjadikan hidup mereka lebih konsumtif. Secara umum dapat dikatakan bahwa masyarakat pesisir memiliki karakter yang keras dan tidak mudah diatur. Di lihat dari aspek demogarafi, umumnya merupakan penduduk yang mempunyai pekerjaan sebagai pelaut (Kusnadi,2002:36).

Lebih lanjut Kusnadi mengemukakan masyarakat pesisir cenderung lebih memikirkan kebutuhan ekonomi, memenuhi kebutuhan sandang & pangan keluarga. Anak-anak usia sekolah banyak yang putus sekolah dasar dan umumnya jarang menamatkan sekolah menengah pertama.

2.2 Kajian Tentang Jamban

Jamban merupakan tempat yang aman dan nyaman sebagai tempat buang air besar. Jamban sehat adalah fasilitas buang air besar yang dapat mencegah pencemaran badan air, mencegah kontak antara manusia dan tinja, mencegah hinggapnya lalat atau serangga lain di tinja, mencegah bau tidak sedap, serta dudukan (slab) yang baik, aman dan mudah dibersihkan.

Jamban di bedakan atas beberapa macam menurut (Notoatmodjo,2003:25-26), yaitu :

a) Jamban cubluk (pit privy)

adalah jamban yang tempat penampungan tinjanya dibangun dibawah tempat pijakan atau dibawah bangunan jamban. Lubang dengan diameter 80-120 cm sedalam 2,5-8 m. Dinding diperkuat dengan batu-batu, hanya dapat dibuat di tanah atau dengan air tanah dalam.

(3)

b) Jamban angsatrine

Closetnya berbentuk leher angsa sehingga selalu terisi air. Fungsinya sebagai sumbat sehingga bau busuk tidak keluar.

c) Jamban bored hole latrine

Seperti cubluk, hanya ukurannya kecil, karena untuk sementara. Jika penuh dapat meluap sehingga mengotori air permukaan.

d) Jamban empang (overhung latrine)

Jamban yang dibangun diatas empang, sungai, rawa, selokan, dan lain-lain.

e) Jamban cemplung (pit latrine)

Jamban cemplung sering dijumpai didaerah pedesaan, tetapi kurang sempurna karena tanpa rumah jamban dan tanpa tutup. Sehingga serangga mudah masuk dan berbau, dan jika musim hujan tiba maka jamban akan penuh oleh air. Dalamnya jamban 1,5-3 meter, jarak dari sumber air minum sekurang-kurangnya 15 meter. Sesuai dengan daerah pedesaan maka rumah kakus tersebut dapat dibuat dari bambu, dinding bambu dan atap daun kelapa atau daun padi. Jamban tipe ini tidak memerlukan untuk menggelontor kotoran, namun untuk mengurangi bau serta agar lalat dan serangga lain tidak masuk lubang jamban perlu di tutup.

f) Jamban kimia (chemical toilet) model jamban yang di bangun di tempat-tempat rekreasi, pada transportasi seperti kereta api, pesawat, dan lain-lain.

Kementerian Kesehatan telah menetapkan syarat dalam membuat jamban sehat. Ada tujuh kriteria yang harus diperhatikan. Berikut syarat-syarat tersebut:

(4)

1. Tidak mencemari air

a) Saat menggali tanah untuk lubang kotoran, usahakan agar dasar lubang kotoran tidak mencapai permukaan air tanah maksimum. Jika keadaan terpaksa, dinding dan dasar lubang kotoran harus dipadatkan dengan tanah liat atau diplester.

b) Jarak lubang kotoran ke sumur sekurang-kurangnya 10 meter

c) Letak lubang kotoran lebih rendah dari pada letak sumur agar air kotor dari lubang kotoran tidak merembes dan mencemari sumur.

d) Tidak membuang air kotor dan buangan air besar ke dalam selokan, empang, danau, sungai, dan laut

2. Tidak mencemari tanah permukaan

a) Tidak buang besar di sembarang tempat, seperti kebun, pekarangan, dekat sungai, dekat mata air, pinggir jalan, dan pesisir pantai.

b) Jamban yang sudah penuh agar segera disedot untuk dikuras kotorannya, atau dikuras, kemudian kotoran ditimbun di lubang galian.

3. Bebas dari serangga

a) Jika menggunakan bak air atau penampungan air, sebaiknya dikuras setiap minggu. Hal ini penting untuk mencegah bersarangnya nyamuk demam berdarah.

b) Ruangan dalam jamban harus terang. Bangunan yang gelap dapat menjadi sarang nyamuk.

c) Lantai jamban diplester rapat agar tidak terdapat celah-celah yang bisa menjadi sarang kecoa atau serangga lainnya.

(5)

d) Lantai jamban harus selalu bersih dan kering.

e) Lubang jamban, khususnya jamban cemplung, harus tertutup. 4. Tidak menimbulkan bau dan nyaman digunakan

a) Jika menggunakan jamban cemplung, lubang jamban harus ditutup setiap selesai digunakan.

b) Jika menggunakan jamban leher angsa, permukaan leher angsa harus tertutup rapat oleh air.

c) Lubang buangan kotoran sebaiknya dilengkapi dengan pipa ventilasi untuk membuang bau dari dalam lubang kotoran.

d) Lantai jamban harus kedap air dan permukaan bowl licin. Pembersihan harus dilakukan secara periodik.

5. Aman digunakan oleh pemakainya

a) Pada tanah yang mudah longsor, perlu ada penguat pada dinding lubang kotoran dengan pasangan batu atau anyaman bambu atau bahan penguat lain yang terdapat di daerah setempat.

6. Mudah dibersihkan dan tak menimbulkan gangguan bagi pemakainya a) Lantai jamban rata dan miring ke arah saluran lubang kotoran.

b) Jangan membuang plastic, puntung rokok, atau benda lain ke saluran kotoran karena dapat menyumbat saluran.

c) Jangan mengalirkan air cucian ke saluran atau lubang kotoran karena jamban akan cepat penuh.

d) Hindarkan cara penyambungan aliran dengan sudut mati. Gunakan pipa berdiameter minimal 4 inci dan di miringkan.

(6)

7. Tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan. a) Jamban harus berdinding dan berpintu.

b) Dianjurkan agar bangunan jamban beratap sehingga pemakainya terhindar dari kehujanan dan kepanasan.

Uvie (2011) menjelaskan pada prinsipnya bangunan jamban dibagi menjadi 3 bagian utama, bangunan bagian atas (Rumah Jamban), bangunan bagian tengah (slab/dudukan jamban), serta bangunan bagian bawah (penampung tinja).

a. Rumah Jamban (Bangunan bagian atas)

Bangunan bagian atas bangunan jamban terdiri dari atap, rangka dan dinding. alam prakteknya disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat. Beberapa pertimbangan pada bagian ini antara lain :

1) Sirkulasi udara yang cukup

2) Bangunan mampu menghindarkan pengguna terlihat dari luar.

3) Bangunan dapat meminimalkan gangguan cuaca (baik musim panas maupun musim hujan).

4) Kemudahan akses di malam hari.

5) Disarankan untuk menggunakan bahan local.

6) Ketersediaan fasilitas penampungan air dan tempat sabun untuk cuci tangan.

b. Slab / Dudukan Jamban (Bangunan Bagian Tengah)

Slab berfungsi sebagai penutup sumur tinja (pit) dan dilengkapi dengan tempat berpijak. Pada jamban cemplung slab dilengkapi dengan penutup,

(7)

sedangkan pada kondisi jamban berbentuk bowl (leher angsa) fungsi penutup ini digantikan oleh keberadaan air yang secara otomatis tertinggal di didalamnya. Slab dibuat dari bahan yang cukup kuat untuk menopang penggunanya. Bahan-bahan yang digunakan harus tahan lama dan mudah dibersihkan seperti kayu, beton, bambu dengan tanah liat, pasangan bata, dan sebagainya. Selain slab, pada bagian ini juga dilengkapi dengan abu atau air. Penaburan sedikit abu ke dalam sumur tinja (pit) setelah digunakan akan mengurangi bau dan kelembaban, dan membuatnya tidak menarik bagi lalat untuk berkembang biak. Sedangkan air dan sabun digunakan untuk cuci tangan. Pertimbangan untuk bangunan bagian tengah.

1) Terdapat penutup pada lubang sebagai pelindung terhadap gangguan serangga atau binatang lain.

2) Dudukan jamban dibuat harus mempertimbangkan faktor keamanan (menghindari licin, runtuh, atau terperosok).

3) Bangunan dapat menghindarkan/melindungi dari kemungkinan timbulnya bau.

4) Mudah dibersihkan dan tersedia ventilasi udara yang cukup. c. Penampung Tinja (Bangunan bagian bawah).

Penampung tinja adalah lubang di bawah tanah, dapat berbentuk persegi, lingkaran, bundar atau yang lainnya. Kedalaman tergantung pada kondisi tanah dan permukaan air tanah di musim hujan. Pada tanah yang kurang stabil, penampung tinja harus dilapisi seluruhnya atau sebagian dengan bahan penguat

(8)

seperti anyaman bambu, batu bata, ring beton, dan lain – lain. Pertimbangan untuk bangunan bagian bawah antara lain :

1) Daya resap tanah (jenis tanah).

2) Kepadatan penduduk (ketersediaan lahan). 3) Ketinggian muka air tanah.

4) Jenis bangunan, jarak bangunan dan kemiringan letak bangunan terhadap sumber air minum (lebih baik diatas 10 m).

5) Umur pakai (kemungkinan pengurasan, kedalaman lubang). 2.3 Kajian Tinja dan Pengaruhnya Bagi Kesehatan

Menurut Josep Soemardji 2002 (dalam Elizabeth Tarigan) pembuangan tinja adalah pengumpulan kotoran manusia disuatu tempat sehingga tidak menyebabkan bibit penyakit yang ada pada kotoran manusia mengganggu estetika. Berarti jamban sangat berguna bagi kehidupan manusia, karena jamban dapat mencegah berkembangnya bermacam-macam penyakit yang disebabkan oleh kotoran yang tidak dikelolah baik.

Pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sangat berpengaruh pada penyebaran penyakit berbasis lingkungan, sehingga untuk memutuskan rantai penularan ini harus dilakukan rekayasa pada akses ini. Agar usaha tersebut berhasil, akses masyarakat pada jamban (sehat) harus mencapai 100% pada seluruh komunitas. Keadaan ini kemudian lebih dikenal dengan istilah Open Defecation Free (ODF). Suatu Masyarakat Disebut ODF jika :

(9)

a) Semua masyarakat telah BAB (Buang Air Besar) hanya di jamban yang sehat dan membuang tinja/ kotoran bayi hanya ke jamban yang sehat (termasuk di sekolah).

b) Tidak terlihat tinja manusia di lingkungan sekitar.

c) Ada penerapan sanksi, peraturan atau upaya lain oleh masyarakat untuk mencegah kejadian BAB (Buang Air Besar) di sembarang tempat.

d) Ada mekanisme monitoring umum yang dibuat masyarakat untuk mencapai 100% KK mempunyai jamban sehat.

e) Ada upaya atau strategi yang jelas untuk dapat mencapai Total Sanitasi. Kotoran manusia mengandung organisme pathogen yang dibawa air, makanan, lalat menjadi penyakit seperti: Salmonella, Vibriokolera, Amuba, Virus, Cacing, Disentri, Poliomyelitis, Ascariasis, dll.

Penyakit yang ditimbulkan oleh kotoran manusia bisa digolongkan : 1. Penyakit Enteric atau saluran pencernaan dan kontaminasi zat racun. 2. Penyakit Infeksi oleh virus seperti Hepatitis Infektiosa

3. Infeksi Cacing seperti Schitosomiasis, Ascariasis, Ankilostosomiasis. 1.4 Mata Rantai Penularan Penyakit oleh Tinja

Manusia merupakan sumber penting dari penyakit, penyakit infeksi yang ditularkan oleh tinja merupakan salah satu penyebab kematian.

Tinja Tangan Air Lalat Tanah Makanan & Minuman Pejamu (Host) Mati Sakit

(10)

Skema rantai penularan penyakit diatas menunjukkan banyak jalan penyakit mencari sumber baru. Penyakit yang ditularkan tinja manusia bisa menyebabkan kelemahan karena manusia sebagai reservoir dari penyakit yang bisa menurunkan produktivitas kerja.

Akibat mata rantai penyakit oleh tinja perlu dilakukan tindakan pencegahan agar penyakit tidak menular. Pencegahan ini memutuskan mata rantai penyakit menggunakan rintangan sanitasi dan mengisolasi tinja dengan jamban yang saniter.

2.5 Kajian Penggunaan Jamban

Upaya penggunaan jamban berdampak besar bagi penurunan resiko penularan penyakit. Setiap anggota keluarga harus buang air besar di jamban. Beberapa hal yang harus diperhatikan :

a) Jamban keluarga berfungsi dengan baik dan dipakai semua anggota keluarga.

b) Siramlah jamban dengan air sampai bersih setiap menggunakan jamban. c) Bersihkan jamban dengan alat pembersih jamban bagi semua anggota

keluarga secara bergiliran minimal 2-3 kali seminggu (Simanjuntak, 2002)

2.6 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penggunaan Jamban

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan jamban, lebih jelasnya di uraikan sebagai berikut :

(11)

2.6.1 Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo, 2010 Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang di milikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya) dengan sendirinya pada waktu penginderaan, sehingga menghasilkan pengetahuan tersebut di pengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga) dan indera penglihatan (mata).

Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Secara garis besarnya di bagi dalam 6 tingkat pengetahuan :

a. Tahu (know)

Tahu artinya hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Misalnya jamban adalah tempat buang air besar.

b. Memahami (comprehension)

Memahami suatu objek bukan hanya sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak hanya sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat mengitrepertasikan secara benar tentang objek yang diketahui. Misalnya orang memahami manfaat jamban, bukan hanya sekedar sebagai tempat buang air besar tetapi harus dapat menjelaskan jamban ditinjau dari sudut kesehatan.

c. Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang di ketahui

(12)

tersebut pada situasi yang lain. Misalnya orang yang sudah paham akan manfaat jamban, ia akan membangunnya.

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen dalam suatu masalah atau objek yang diketahui.

e. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjuk suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang di miliki, dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada misal dapat membuat atau meringkas kata-kata atau kalimat sendiri tentang hal-hal yang telah di baca atau di dengar, dan dapat membuat kesimpulan tentang artikel yang telah di baca.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya di dasarkan pada suatu criteria yang di tentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Pendapat lain di kemukakan oleh Imanuel Kant, pengetahuan merupakan persatuan antara budi dan pengalaman; Teori Phyrro mengatakan, bahwa tidak ada kepastian dalam pengetahuan. Dari berbagai macam pandangan tentang pengetahuan diperoleh sumber-sumber pengetahuan berupa ide, kenyataan,

(13)

kegiatan akal budi, pengalaman, sintesis budi, atau meragukan karena tak adanya sarana untuk mencapai pengetahuan yang pasti. Untuk membuktikan apakah isi pengetahuan itu benar, perlu berpangkal pada teori-teori kebenaran pengetahuan. Teori pertama bertitik tolak adanya hubungan dalil, dimana pengetahuan dianggap benar apabila proposisi (pernyataan) itu mempunyai hubungan dengan proposisi (pernyataan) yang terdahulu. Kedua, pengetahuan itu benar apa bila ada kesesuaian dengan kenyataan. Teori ketiga menyatakan, bahwa pengetahuan itu benar apa bila mempunyai konsekuensi praktis dalam diri yang mempunyai pengetahuan itu.

Teori pengetahuan, idealisme mengemukakan pendangannya bahwa pengetahuan yang diperoleh mulai indera hanyalah tidak pasti dan tidak lengkap, karena dunia hanyalah merupakan tiruan belaka, sifatnya maya (bayangan), yang menyimpang dari kenyataan yang sebenarnya, pengetahuan yang benar hanya merupakan hasil akal belaka, karena akal dapat membedakan bentuk spiritual murni dari benda-benda diluar penjernaan material.(Uyoh,2004:98)

Lebih jauh Uyoh mengatakan bahwa pengetahuan dikatakan valid, sepanjang sistematis, maka pengetahuan manusia tentang realitas adalah benar dalam arti sistematis, dalam teori pengetahuan dan kebenaran, idealisme merujuk pada rasionalisme.

Kaitannya dengan masyarakat pesisir, pengetahuan masyarakat sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan masyarakat itu sendiri. Dimana pada masyarakat pesisir pendidikan rendah merupakan ciri umum kehidupan mereka. Bahkan jika dibandingkan secara seksama dengan kelompok masyarakat lain,

(14)

masyarakat pesisir digolongkan sebagai golongan sosial yang miskin. Dikatakan demikian karena pendidikan mengalami proses kemunduran dengan terikikisnya nilai-nilai kemanusiaan yang dikandungnya. Apalagi dengan pengaruh status atau adanya mobilitas sosial mengakibatkan tingkat pendidikan pada keterampilan yang rendah. Sehingga anak-anak menjadi putus sekolah dan lebih memilih bekerja sebagai nelayan di karenakan pendidikan tidak menunjang (Kusnadi, 2002:3-4)

Searah dengan teori diatas, dapat ditarik benang merahnya bahwa masyarakat pesisir masih terbuai dengan kekayaan laut yang melimpah. Bahkan bisa disebut dimanjakan dengan hasil laut yang sebenarnya dapat habis sewaktu-waktu apabila tidak dikelolah dengan baik. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor rendahnya keingintahuan masyarakat pesisir terhadap pentingnya manfaat jamban bagi kesehatan mereka.

2.6.2 Kebiasaan Masyarakat

Kebiasaan adalah tingkah laku masyarakat yang dilakukan berulang-ulang mengenai suatu hal yang sama, yang dianggap sebagai aturan hidup. Masyarakat memiliki kebebasan, tanggung jawab, dan kesanggupan untuk merancang ulang kehidupannya melalui tindakan yang di pilihnya. Berlangsungnya suatu kebiasaan itu sendiri, di batasi oleh waktu, situasi, dan tempat atau daerah (Burhanudin, 2004:84)

Titik tolak kebiasaan masyarakat pesisir, terbentuk dari keluarga dan ikatan kekerabatannya, tetangga serta teman yang bersifat lokal merupakan kelompok primer yang menjadi unit dasar pembentuk masyarakat, dan penentu

(15)

keberlangsungan kerjasama informal diantara mereka. Kedudukan dan fungsi kelompok primer ini sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat pesisir.

Hal menarik bagi masyarakat pesisir, hidup di dekat pantai adalah merupakan hal yang paling diinginkan untuk dilakukan mengingat segenap aspek kemudahan dapat mereka peroleh dalam berbagai aktifitas kesehariannya. Dua contoh sederhana dari kemudahan-kemudahan tersebut diantaranya: Pertama, bahwa kemudahan mendapatkan sumber mata pencaharian lebih terjamin, mengingat sebagian masyarakat pesisir menggantungkan kehidupannya pada pemanfataan potensi perikanan dan laut yang terdapat disekitarnya, seperti penangkapan ikan, pengumpulan dan budidaya rumput laut, dan sebagainya. Kedua, bahwa mereka lebih mudah untuk mendapatkan kebutuhan akan MCK (Mandi, Cuci, Kakus), dimana mereka dapat dengan serta merta menceburkan dirinya untuk membersihkan tubuhnya; mencuci segenap peralatan dan perlengkapan rumah tangga; bahkan mereka lebih mudah membuang air besar. Selain itu, mereka dapat dengan mudah membuang limbah domestiknya langsung ke pantai/laut (Suhadi, 2009).

2.6.3 Pendapatan

Secara umum pendapatan masyarakat pesisir yang pekerjaannya sebagai nelayan sangat berfluktuasi atau ketidakpastian dari hari ke hari pendapatan nelayan juga di tentukan oleh produktiitas alat tangkap, keterampilan yang di miliki, jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam penangkapan dan system bagi hasil yang di capai. Besar pendapatan kelompok masyarakat nelayan

(16)

berbeda-beda tergantung pada kepemilikan kekayaan khususnya penguasaan alat tangkap berupa perahu atau kapal. (IPB, 2010)

Diantara indikator dari sistem pendapatan adalah kemiskinan dan kesejahteraan. Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Dikatakan dibawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh dan lain-lain (Munandar, 2006:228).

Kemiskinan menurut orang lapangan (umum) dapat dikategorikan ke dalam tiga unsur: (1) kemiskinan yang disebabkan handicap badaniyah ataupun mental seseorang, (2) kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam dan (3) kemiskinan buatan. Yang relevan dalam hal ini adalah kemiskinan buatan, buatan manusia terhadap manusia pula yang disebut dengan kemiskinan structural. Itulah kemiskinan yang timbul oleh dan dari struktur-struktur (buatan manusia) baik struktur ekonomi, sosial, maupun kultur.

Kemiskinan yang terjadi dalam masyarakat pesisir secara dominan disebabkan oleh dampak negative kebijakan modernisasi perikanan. Selain disebabkan oleh dampak negative modernisasi perikanan, kemiskinan dan berbagai tekanan kehidupan yang dihadapi oleh masyarakat pesisir pun dipengaruhi oleh fluktuasi musim ikan, keterbatasan kemampuan teknologi penangkapan hasil ikan, daya serap pasar local yang terbatas, jaringan pemasaran yang dianggap merugikan masyarakat pesisir, serta system bagi hasil yang timpang (Kusnadi,2002:46).

(17)

Untuk membangun jamban misalnya, jelas sangat tergantung kepada kondisi pendapatan dari orang yang bersangkutan. Meskipun faktor yang lain tidak ada masalah, tetapi apabila kondisi dan situasinya tidak mendukung, maka perilaku tersebut tidak akan terjadi.

2.7 Kerangka Teori

2.8 Kerangka Konsep

Berdasarkan tinjauan pustaka, maka peneliti dapat merumuskan kerangka konsep penelitian serta variabel yang di teliti yakni faktor yang mempengaruhi rendahnya penggunaan jamban, indikatornya meliputi : pengetahuan, kebiasaan masyarakat, pendapatan.

Berdasarkan kerangka konsep diatas, maka dapat dijelaskan indikator penelitian, pengetahuan pengguna jamban di sini meliputi pengetahuan tentang penggunaan jamban dengan baik dan benar sehingga tidak mempengaruhi estetika lingkungan. Bagi masyarakat pesisir pengetahuan tercermin dari tingkat

Pengguna jamban Pengetahuan Kebiasaan Masyarakat Pendapatan Lingkungan Menggunakan Jamban Tidak menggunakan Jamban

(18)

pendidikan rendah. Hal inilah yang mendorong mereka kurang ingin mengetahui manfaat jamban bagi kesehatan. Mengingat masyarakat pesisir yang selalu berfikir praktis, kebiasaan menggunakan pesisir sebagai tempat Buang Air Besar (BAB) sudah membudaya. Faktor lain yang mempengaruhi yakni pendapatan yang mempengaruhi dalam pengadaan fasilitas jamban.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :