ANALISIS IMPLEMENTASI PROGRAM
FINANCIAL INCLUSION DI WILAYAH
JAKARTA BARAT DAN JAKARTA SELATAN
(STUDI PADA PEDAGANG GOLONGAN
MIKRO, INSTANSI PERBANKAN, OTORITAS
JASA KEUANGAN DAN BANK INDONESIA)
Meilisa Salim
1, Yen Sun
2Universitas Bina Nusantara Jl. Kebon Jeruk Raya No.27 Kemanggisan-Jakarta Barat 11530, 021-5345830 Email : [email protected] 1
ABSTRACT
The purpose of this research is to evaluate the issue that hinder the implementation of
financial inclusion especially in West Jakarta and Southern Jakarta region as well as to
acquire the solution for developing financial inclusion program. Research is in
qualitative method and the method to collect the data is by delivering questionnaires to
micro enterprise, interviewing banking institution, Otoritas Jasa Keuangan and Bank
Indonesia, along with observations on financial reports and on banking institutions’
website. Questionairres are assessed by validity and realibility questionnaires’ data test.
The conclusion of the research is that banking institution, Otoritas Jasa Keuangan and
Bank Indonesia have done various efforts to support micro entreprise. Most of the
services and available facilities have been aligned with the need of micro enterprise
group. Solution suggested is to develop and improve contionuously the quality of service
and facilities through numerous innovations in order to increase society’s interest in
saving. (MS)
Keyword: financial inclusion, micro level merchant, banking institution
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi masalah yang menghambat implementasi
financial inclusion khususnya di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan serta menemukan
solusi pengembangan financial inclusion. Penelitian bersifat kualitatif menggunakan metode
pengumpulan data berupa kuesioner kepada pedagang golongan mikro, wawancara pada
instansi perbankan, OJK dan Bank Indonesia dan pengamatan melalui laporan keuangan dan
website instansi perbankan. Pengujian data kuesioner dengan uji validitas dan reliabilitas data
kuesioner. Kesimpulan penelitian adalah baik dari instansi perbankan, Otoritas Jasa Keuangan
dan Bank Indonesia telah melakukan berbagai upaya dukungan kepada pihak pedagang
golongan mikro. Mayoritas jasa dan fasilitas yang telah tersedia telah sesuai dengan kebutuhan
pedagang. Solusi yang dapat disimpulkan yaitu pengembangan dan peningkatan kualitas jasa
dan fasilitas dilakukan secara terus menerus dengan berbagai inovasi yang dapat meningkatkan
minat menabung masyarakat.
Kata kunci : Financial Inclusion, Pedagang Golongan Mikro, Instansi Perbankan.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dunia internasional saat ini sedang menghadapi suatu era baru yang disebut sebagai era globalisasi dimana negara umumnya akan bersaing untuk dapat meningkatkan perekonomiannya. Namun, masalah yang sering dialami negara berkembang dan negara maju saat ini adalah masih banyaknya lapisan masyarakat yang belum dapat memanfaatkan jasa dan fasilitas keuangan (financial excluded). Oleh sebab itu, di Indonesia Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) menggalakkan program keuangan inklusif untuk mengeliminasi golongan masyarakat financial excluded. Seiring berjalannya waktu , diketahui bahwa berdasarkan survei yang dilakukan oleh WorldBank pada tahun 2011 diketahui bahwa tingkat golongan masyarakat financial included adalah 19.6%, sedangkan pada tahun 2013 berdasarkan survei yang dilakukan OJK bahwa terdapat masyarakat 21.84%. Oleh sebab itu, adapun rumusan masalah dalam penelitian ini untuk mengevaluasi program keuangan inklusif di Indonesia melalui beberapa langkah evaluasi yaitu : (1) Kepemilikan Tabungan, (2) Alternatif Lokasi Menabung , (3) Masalah Penghambat Program Financial Inclusion , (4) Kebutuhan Pedagang Golongan Mikro, (5) Evaluasi Langkah yang Dilakukan Instansi Perbankan, (6) Langkah yang Dilakukan OJK dan BI, (7) Gap Differences Kebutuhan Pedagang Golongan Mikro terhadap Instansi Perbankan dan OJK serta BI, dan (8) Pemberian Solusi dan Saran Pengembangan Program Financial Inclusion. Tujuan Penelitian ini adalah untuk menjawab rumusan masalah tersebut.
1.2
Tinjauan Pustaka/Penelitian Terdahulu
Penelitian ini, didasarkan atas penelitian sebelumnya oleh beberapa ahli yang dilakukan di India. Moh.Shafi dan Ali Hawi Medabesh mengevaluasi masalah yang paling menghambat program keuangan inklusif ada pada faktor akses. Adapun saran untuk dapat meningkatkan keuangan inklusif antara lain : (1) Pengadaan training edukasi perbankan, (2) Perencanaan program pinjaman mikro, (3) Kemudahan sistem kredit. Audil Rashid Khaki dan Prof. Mohi-ud-Din Sangmi mengevaluasi langkah yang telah dilakukan oleh instansi perbankan dalam menghadapi masalah kemiskinan.
Adapun hasil evaluasi yaitu : (1) Pembentukan rekening tanpa banyak embel-embel pembayaran,(2) pengembangan distribusi kredit mikro, (3) Membentuk sistem Self Help Group (SHG), dan (4) Pembukaan kantor cabang di berbagai lokasi. Ram A.Cnaan, M.S Moodithaya, dan Femida Handy. Penelitian dilakukan di 4 wilayah di India yang dibagi berdasarkan karakteristik tertentu. Diketahui, mayoritas telah memiliki akses ke lembaga keuangan. Masalah yang menghambat adalah tidak adanya rasa aman serta tidak ada informasi terkait pinjaman yang diperoleh responden. Dari hasil penelitian, fakta menyimpulkan bahwa belum adanya kesesuaian antara kebutuhan responden terhadap jasa dan fasilitas yang telah disediakan sisi perbankan sebagai supplier. Pada penelitian ini, diketahui masalah yang paling menghambat program keuangan inklusif adalah faktor kondisi. Adapun saran untuk meningkatkan keuangan inklusif adalah (1) Pengembangan edukasi dan training pengelolaan keuangan (2) Tabungan tanpa embel-embel pembayaran (3) Perluasan target keuangan inklusif. Evaluasi langkah yang telah dilakukan oleh instansi perbankan yaitu : (1) Edukasi Perbankan , (2) Program training (3) Kredit khusus UMKM (4) Pembukaan kantor cabang dan ATM di berbagai lokasi. Penelitian dilakukan pada golongan usaha mikro di 2 wilayah Jakarta yaitu Jakarta Barat dan Jakarta Selatan. Adapun masalah yang disimpulkan adalah kurangnya pendapatan dan pengetahuan dari responden menyebabkan mereka tidak dapat menyisihkan uang mereka untuk ditabung. Dari hasil penelitian , disimpulkan juga bahwa baik pihak bank maupun lembaga regulasi telah menyediakan fasilitas dan jasa sesuai dengan kebutuhan pedagang.
1.3
Landasan Teori
Teori-teori yang mendasari penelitian ini adalah teori tentang financial exclusion. Financial Exclusion adalah keadaan dimana dalam suatu negara masih terdapat bagian masyarakat yang tidak menggunakan pelayanan dan fasilitas yang disediakan lembaga-lembaga keuangan. Dalam teori financial exclusion dijelaskan faktor-faktor yang umumnya menghambat masyarakat sehingga tidak memanfaatkan jasa keuangan yang digunakan sebagai tolak ukur untuk mengetahui hal yang menghambat program financial inclusion. Teori lainnya yaitu sistem keuangan dan sektor keuangan, financial inclusion, dan financial literacy, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah serta teori Bank. Faktor-faktor yang digunakan sebagai tolak ukur untuk mengevaluasi faktor penghambat financial inclusion antara lain : (1) physical exclusion ( suatu keadaan yang disebabkan tidak adanya bentuk fisik dari jasa keuangan yang tersedia), (2) access exclusion (keadaan yang disebabkan oleh penilaian resiko terkait jasa keuangan), (3) condition exclusion (keadaan dimana produk / jasa yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga keuangan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat), (4) price exclusion (keadaan yang disebabkan oleh harga dari produk/jasa keuangan tidak dapat dijangkau masyarakat) , (5) self exclusion (keadaan dimana dimana mayoritas masyarakat tidak ingin menerima produk/jasa keuangan bukan dari faktor eksternal namun dari faktor internalnya) , dan (6) marketing exclusion (keadaan dimana pengenalan serta pemasaran dari suatu produk / jasa keuangan tidak tepat atau tidak diterima oleh masyarakat).
Global Financial Development Report (2014) mendefinisikan Financial Inclusion sebagai “The proportion of individuals and firms that use financial services has become a subject of considerable interest among policy makers, researchers and other stakeholders.” Financial Inclusion merupakan suatu keadaan dimana mayoritas individu dapat memanfaatkan jasa keuangan yang tersedia serta meminimalisir adanya kelompok individu yang belum sadar akan manfaat akses keuangan melalui akses yang telah tersedia tanpa biaya yang tinggi. Tujuan program financial inclusion adalah untuk mengurangi kemiskinan, stabilitas ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Strategi dalam meningkatkan keuangan inklusif adalah melalui kegiatan edukasi pengetahuan keuangan, penyediaan akses ke lembaga keuangan, jasa perlindungan konsumen, pengesahan peraturan dan kebijakan perbankan, dan meminimalisir informasi negatif tentang perbankan.
Mengacu pada The Presidents Advisory Council on Financial Literacy (PACFL, 2008) financial literacy merupakan kemampuan untuk memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola sumber daya keuangan secara efektif. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa financial literacy adalah pengetahuan konsep-konsep dasar keuangan untuk dapat digunakan dalam membuat keputusan secara lebih efektif dalam pengelolaan keuangan dari individu. Program financial literacy diciptakan sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan program keuangan inklusif. Strategi dalam program financial literacy disahkan dalam Strategi Nasional Literasi Keuangan yang disusun oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yaitu dengan meningkatkan edukasi literasi keuangan, meningkatkan infrastruktur serta pengembangan produk lembaga keuangan.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian kualitatif. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah 9 pasar tradisional di Jakarta Barat dan Jakarta Selatan yang terdaftar pada PD.Pasar Jaya sebagai pengelola semua pasar tradisional di Jakarta, instansi perbankan , OJK dan Bank Indonesia. Pemilihan wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan didasarkan atas pertimbangan tingkat pertumbuhan ekonomi di kedua wilayah tersebut saling bertolak belakang (Jakarta Barat pertumbuhan ekonomi paling lambat dan di Jakarta Selatan tingkat pertumbuhan ekonomi paling cepat). Adapun pasar tradisional terpilih yaitu : Pasar Slipi, Pasar Duta Mas, Pasar Jelambar Polri, Pasar Grogol, Pasar Timbul Barat, Pasar Cidodol, Pasar Mayestik, Pasar Blok M (Melawai), dan Pasar Shanta. Instansi Perbankan yang dipilih adalah Bank XYZ, Bank ABC, Bank DKI, Bank BRI, dan Bank BNI. Dalam menentukan sampel yang digunakan, penulis menggunakan metode judgement sampling pada populasi pedagang kecil di pasar tradisional.Judgment sampling (J.Supranto, 2009) adalah pertimbangan pemilihan elemen-elemen untuk menjadi sampel berdasarkan pada pertimbangan yang tak acak (elemen tidak mendapatkan kesempatan yang sama untuk dipilih. Ukuran sampel yang digunakan berjumlah 100 sampel pada populasi pedagang di pasar tradisional di Jakarta Barat dan Jakarta Selatan terpilih dengan kriteria bahwa pedagang telah membuka usahanya minimal satu tahun lamanya dengan omzet penjualan < Rp.25.000.000,-
Data-data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer penelitian diperoleh dengan teknik kuesioner kepada pedagang tradisional di pasar tradisional terpilih, dan wawancara kepada 2 instansi perbankan di Indonesia yaitu Bank XYZ dan Bank ABC. Data sekunder diperoleh melalui website resmi 3 instansi perbankan yang tidak dapat diwawancarai, Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik, serta surat kabar elektronik dan studi pustaka pada penelitian sebelumnya. Sebelum melakukan penyebaran kuesioner kepada responden, penulis melakukan uji validitas dan reliabilitas pada pernyataan-pernyataan kuesioner untuk memastikan hasil pernyataan yang valid dan reliabel. Hasil penelitian disajikan penulis dalam bentuk narasi dan tabel.
HASIL DAN BAHASAN
3.1
Kepemilikan Tabungan
Berdasarkan hasil pengolahan kuesioner kepada responden di pasar tradisional di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan yang terpilih, ditemukan bahwa 55% persen dari responden telah memiliki tabungan di bank sedangkan 45% dari responden belum memiliki tabungan di bank. Bagi 45% responden yang tidak memiliki tabungan digolongkan sebagai unbankable yang terdiri dari wilayah Jakarta Barat 28% dan wilayah Jakarta Selatan 17%. Bagi 55% responden yang telah memiliki tabungan digolongkan sebagai responden yang bankable yang terdiri dari wilayah Jakarta Barat sebesar 22% dan Jakarta Selatan 33%. Berdasarkan persentase tersebut, dapat disimpulkan bahwa di wilayah Jakarta Barat dengan tingkat perekonomian yang lebih rendah memiliki jumlah masyarakat unbankable lebih besar dibandingkan dengan wilayah Jakarta Selatan yang tingkat perekonomiannya lebih tinggi.
Gambar 1 Persentase Kepemilikan Tabungan
3.2
Alternatif Lokasi Menabung
Berdasarkan hasil pengolahan kuesioner kepada responden di pasar tradisional di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan yang terpilih, ditemukan 45 responden belum memiliki tabungan di bank. Berdasarkan jawaban dari kuesioner, ditemukan bahwa 36 responden (80%) dari 45 responden yang belum memiliki tabungan di bank lebih memilih untuk melakukan transaksi penyimpanan dan peminjaman uang di koperasi, sedangkan 9 responden (20%) lainnya tidak memanfaatkan tempat menabung. Dari jawaban tersebut, peneliti melakukan tanya-jawab terkait alasan responden lebih memilih koperasi sebagai tempat menyimpan dana. Berdasarkan tanya jawab terhadap responden, diketahui bahwa alasan lebih memilih koperasi dikarenakan telah terbiasa dengan sistem koperasi yang sangat mudah dan proses yang lebih cepat.
Gambar 2 Alternatif Lokasi Menabung
3.3
Evaluasi Masalah yang Menghambat pelaksanaan Financial Inclusion
Dalam upaya untuk mengetahui masalah yang paling menghambat penelitian implementasi financial inclusion, penulis menggunakan metode kuesioner menggunakan bantuan software SPSS versi 20.0.dan penyajian data menggunakan bantuan tabel yang diolah berdasarkan hasil statistik deskriptif kepada responden pedagang golongan mikro di pasar tradisional wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan yang terpilih. Terdapat tiga pernyataan untuk mewakili masing-masing faktor yang menghambat program keuangan inklusif.
Hambatan pertama merupakan faktor physical exclusion yang menjelaskan masalah yang muncul terkait lokasi bank ataupun ATM. Dari data yang terkumpul bahwa pada physical exclusion menjadi faktor yang paling tidak menghambat di antara faktor lainnya dengan pengaruh 15.09%. Persentase tersebut diperoleh dengan membandingkan terhadap jenis hambatan lainnya.Masalah yang terjadi dan paling berpengaruh pada physical exclusion adalah masih rendahnya pegawai bank keliling.Responden berpendapat bahwa untuk lokasi cabang bank dan juga ATM masih cukup mudah untuk dijangkau.
Hambatan kedua merupakan faktor access exclusion yang menjelaskan masalah keuangan inklusif sebagai akibat dari penilaian resiko-resiko yang mungkin muncul seperti ketentuan persyaratan-persyaratan bagi calon nasabah, pembebanan biaya bagi nasabah yang harus memperhitungkan resiko yang mungkin diderita bank sebagai lembaga keuangan yang sifatnya konvensional. Berdasarkan hasil pengolahan kuesioner, faktor access exclusion merupakan faktor keempat dari 6 faktor yang paling berpengaruh terhadap jalannya keuangan inklusif dengan persentase 16.19%.Berdasarkan hasil kuesioner, menunjukkan bahwa persyaratan untuk membuka rekening baru umumnya tidak menyusahkan, namun untuk mengajukan pinjaman umumnya responden masih tidak berminat karena faktor agunan yang dirasa terlalu beresiko.
Hambatan ketiga merupakan faktor condition exclusion yang menjelaskan masalah kondisi responden yang menyebabkan ketidaksesuaian terhadap jasa/fasilitas/produk yang tersedia.Berdasarkan hasil pengolahan kuesioner, faktor condition exclusion sebagai faktor yang paling menghambat diantara faktor lainnya dalam jalannya keuangan inklusif dengan persentasi 19.19%.Dari kuesioner menunjukkan bahwa kondisi pendapatan umumnya sangat berpengaruh pada keputusan responden untuk menabung ataupun tidak diikuti dengan kondisi pengetahuan responden terhada jasa dan fasilitas perbankan yang tersedia.
Hambatan keempat merupakan faktor price exclusion sebagai faktor kedua diantara faktor lainnya yang paling berpengaruh terhadap jalannya keuangan inklusif dengan persentase 17.24%. Faktor price exclusion menunjukkan suatu keadaan nominal harga pada jasa/fasilitas perbankan tidak terjangkau responden.Dari kuesioner menunjukkan bahwa hal yang paling menghambat dalam faktor ini adalah pembebanan biaya bulanannya, pembayaran bunga kredit dan jaminan yang dianggap cukup tinggi.Responden menganggap cukup banyak potongan bulanan pada tabungan,sedangkan untuk bagian pinjaman, pembayaran bunga dianggap tinggi.
Hambatan kelima merupakan faktor self exclusion sebagai faktor kelima paling menghambat diantara faktor lainnya yang berpengaruh terhadap jalannya keuangan inklusif dengan persentase 15.17%.Faktor self exclusion merupakan faktor yang muncul dari pemikiran responden yang sifatnya subjektif.Mayoritas responden menganggap bahwa menabung dilakukan apabila memiliki uang lebih dan mayoritas responden merasa tersisih dengan imej bank yang dianggap hanya untuk kalangan atas. Dari kuesioner menunjukkan bahwa responden menganggap bank tidak menguntungkan bagi mereka karena dana yang disimpan dapat dipotong tiap bulannya hingga tidak bersisa. Selain itu, responden juga berpendapat bahwa imej bank yang dianggap sangat tinggi membuat mereka tidak memiliki rasa percaya diri untuk menabung.
Hambatan keenam merupakan faktor marketing exclusion sebagai faktor ketiga yang paling berpengaruh diantara faktor lainnya terhadap jalannya keuangan inklusif dengan persentase 17.12%. Faktor marketing exclusion merupakan keadaan yang lebih berfokus pada langkah-langkah / strategi pemasaran produk perbankan , apakah tepat sasaran/sesuai pada target atau tidak. Dari kuesioner diperoleh informasi bahwa responden lebih sering menerima informasi produk perbankan hanya dari beberapa lembaga keuangan perbankan.Mayoritas responden merasa belum pernah menerima pesan singkat dari bank/ brosur/ selebaran.
3.4
Evaluasi Kebutuhan Pedagang Golongan Mikro
Berdasarkan hasil evaluasi , responden yaitu pedagang golongan mikro membutuhkan lokasi cabang bank dan ATM yang mudah dijangkau, apabila memungkinkan pedagang berharap adanya sistem pegawai keliling yang membantu mereka bertransaksi tanpa harus ke bank. Dari sisi akses responden mengharapkan kemudahan dalam persyaratan yang ditawarkan oleh pihak Bank terutama bagi warga luar Jakarta yang belum memiliki KTP Jakarta. Dari sisi kondisi, tabungan/pinjaman dikhususkan bagi usaha mikro disesuaikan dengan pendapatan yang masih terlalu minim bagi pedagang mikro. Tabungan tanpa ada pembebanan biaya bulanan atau minimal dengan biaya bulanan yang ringan.Untuk kredit diharapkan adanya kredit dengan pembebanan bunga lebih ringan dan agunan yang lebih dipermudah. Pedagang
membutuhkan penciptaan rasa aman dan nyaman ketika menabung. Selain itu, informasi produk perbankan sangat dibutuhkan karena agar dapat lebih memahami jasa yang ditawarkan.
3.5
Langkah Instansi Perbankan
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis kepada instansi perbankan yaitu Bank
XYZ, Bank ABC, Bank DKI, Bank BRI, dan Bank BNI diketahui bahwa baik dari faktor fisik ,
akses, kondisi, harga, self , dan marketing masing-masing bank terpilih telah melakukan
berbagai langkah untuk mendukung kegiatan keuangan inklusif.
BANK Faktor
Physical Access Condition Price Self Marketing
Bank XYZ Yes Yes Yes Yes Yes Yes
Bank ABC Yes Yes Yes Yes Yes Yes
Bank DKI Yes Yes Yes Yes Yes Yes
Bank BRI Yes Yes Yes Yes Yes Yes
Bank BNI Yes Yes Yes Yes Yes Yes
Tabel 1 Langkah Instansi Perbankan
Upaya yang dilakukan dari sisi fisik meliputi tersedianya kantor cabang dan lokasi ATM di
daerah Indonesia. Pada sisi akses, instansi perbankan telah berusaha menyediakan akses yang
lebih dipermudah baik dari jenis tabungan melalui program TabunganKu dan kredit untuk usaha
mikro, kecil dan menengah. Untuk faktor kondisi, instansi perbankan berusaha menyesuaikan
dengan kemampuan perekonomian pedagang melalui penyediaan jenis tabungan dan kredit
dengan pembebanan biaya lebih kecil sehingga lebih mudah dijangkau oleh responden. Pada sisi
self, diketahui instansi perbankan berusaha menyediakan fasilitas agar responden merasa lebih
nyaman untuk berkonsultasi seperti pelatihan , sarana bus untuk menginformasikan jasa dan
fasilitas perbankan. Pada faktor marketing , perbankan menggunakan sistem pemasaran dengan
pendekatan langsung kepada calon nasabah yang masih digolongkan unbankable.
3.6
Langkah Otoritas Jasa Keuangan
Dalam upaya untuk meminimalisir tingkat masyarakat unbankable, upaya yang
dilakukan Otoritas Jasa Keuangan meliputi kegiatan edukasi keuangan dengan memberi
pengetahuan keuangan dalam komunitas yang ditujukan kepada daerah-daerah yang masih sulit
untuk dijangkau lembaga keuangan dari tingkat siswa-siswi hingga TKI dan pedagang golongan
mikro. Pada tahun 2013, OJK menggalakkan program literasi keuangan melalui Strategi
Nasional Literasi Keuangan (SNKI). Untuk memulai program SNKI, OJK melakukan survei
untuk mengetahui kebutuhan golongan mikro. Dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat,
pihak OJK mengupayakan program layanan pengaduan konsumen melalui telepon dan “Bus
Simolek” untuk menyediakan informasi jasa dan fasilitas keuangan dengan sistem keliling.
3.7
Langkah Bank Indonesia
Dalam upaya untuk meminimalisir tingkat masyarakat unbankable, Bank Indonesia telah memulai usahanya sejak tahun 2008. Bank Indonesia mencoba untuk mengurangi perbedaan kesesuaian (gap difference) yaitu dengan menyesuaikan dengan kebutuhan tujuan dari masyarakat sehingga dapat menyediakan jasa yang sesuai. Langkah yang telah dijalankan Bank Indonesia merupakan inovasi dari program “Gerakan Indonesia Menabung” diinovasi menjadi “TabunganKu”, Layanan Keuangan Digital (LKD) diinovasi menjadi program branchless banking , program Financial Identity Number (FIN). Selain itu, Bank Indonesia melakukan sosialisasi keuangan tentang perbankan melalui berbagai macam penyediaan buku panduan, leaflet, buku saku, komik, dan iklan pengelolaan keuangan agar lebih baik. Untuk menjaga kepercayaan masyarakat , Bank Indonesia menyediakan program bantuan sosial kepada masyarakat yang ingin memperoleh informasi melalui telepon atau melakukan pengaduan tindakan yang semena-mena.
3.8
Gap Differences Kebutuhan Pedagang Golongan Mikro Terhadap Jasa Perbankan
Berdasarkan hasil evaluasi dapat disimpulkan bahwa instansi perbankan yang dipilih oleh penulis telah memiliki kesesuaian antara produk yang disediakan dengan kebutuhan unit usaha mikro yang masih unbankable. Masih adanya kelompok masyarakat unbankable tidak dipengaruhi oleh ketersediaan jasa bank melainkan oleh pemerataan sosialisasi yang masih belum merata dan pengelolaan pendapatan unit usaha mikro tersebut.NAMA BANK
Gap
%
Physical Access Condition Price Self Marketing
BANK
XYZ Yes Yes Yes Yes Yes Yes 100%
BANK
ABC Yes Yes Yes Yes Yes Yes 100%
BANK
DKI Yes Yes Yes Yes Yes Yes 100%
BANK
BRI Yes Yes Yes Yes Yes Yes 100%
BANK
BNI Yes Yes Yes Yes Yes Yes 100%
Tabel 2 Gap Differences Kebutuhan Pedagang Mikro dan Jasa Perbankan
3.9
Gap Differences Kebutuhan Pedagang Golongan Mikro Terhadap Jasa Regulator
Berdasarkan hasil evaluasi, disimpulkan bahwa lembaga regulator baik Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia telah menyediakan berbagai upaya , produk dan layanan yang telah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Hal ini dilihat dari ketersediaan berbagai kegiatan untuk mengatasi setiap hambatan dan usaha pemenuhan kebutuhan yang diperoleh dari berbagai hasil survei yang dilakukan lembaga regulator yang dipaparkan dalam bentuk tabel diatas.REGULATOR Gap %
Physical Access Condition Price Self Marketing
OJK Yes Yes Yes Yes Yes Yes
100 %
BI Yes Yes Yes Yes Yes Yes
100 % Tabel 3 Kesimpulan gap differences kebutuhan UMKM terhadap OJK dan BI
3.10
Solusi Pengembangan Program Keuangan Inklusif
Berdasarkan data yang diperoleh penulis, adapun solusi yang dapat dijalankan oleh lembaga keuangan , Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia dalam mengembangkan keuangan inklusif adalah sebagai berikut :
- Menghimbau setiap lembaga keuangan dapat memiliki program khusus untuk usaha mikro terutama pada program tabungan. Mengembangkan program tabungan dengan syarat dan biaya yang dipermudah. Hal ini untuk membuka kesempatan bagi masyarakat yang masih memiliki KTP luar kota dapat membuka tabungan juga di Jakarta.
- Meningkatkan lingkup program Layanan Keuangan Digital (LKD) sebagai inovasi atas sistem branchless banking untuk mempermudah masyarakat menjangkau jasa dan fasilitas keuangan serta sosialisasinya.
- Mengembangkan kegiatan edukasi ke seluruh pelosok Indonesia. Kegiatan edukasi diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang jasa dan fasilitas lembaga keuangan serta keuntungan yang dapat diperoleh sehingga meningkatkan minat menabung masyarakat.
- Mengembangkan sistem pelatihan dalam pengelolaan keuangan kepada masyarakat, agar masyarakat dapat mengelola keuangan dengan baik serta menyisihkan sebagian untuk ditabung.
- Mengembangkan sistem pegawai bank keliling yang membantu proses untuk melakukan aktivitas setoran,transfer dan lain sebagainya dengan lebih efektif dan efisien. Hal ini bertujuan agar pedagang tidak merasa menghabiskan waktu untuk ke bank.
SIMPULAN DAN SARAN 4.1 Simpulan
Berdasarkan data yang telah terkumpul melalui proses kuesioner, wawancara serta pengamatan ,kesimpulan yang dapat diperoleh sebagai berikut :
1. Tingkat kepemilikan tabungan di wilayah Jakarta Barat lebih rendah dibandingkan dengan wilayah Jakarta Selatan. Di wilayah Jakarta Barat hanya 22% unit usaha mikro yang memiliki tabungan sedangkan di Jakarta Selatan 33% unit usaha mikro telah memiliki tabungan.
2. Dari 45 responden yang tidak memiliki tabungan, 80% responden / 36 orang lebih memilih koperasi sebagai tempat menabung atau melakukan pinjaman, sedangkan 20% sisanya tidak memanfaatkan lembaga untuk menyimpan uang.
3. Faktor yang paling menghambat program keuangan inklusif di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan adalah condition exclusion yaitu 19.19% dari hasil rata-rata jawaban kuesioner 100 responden berupa masalah kurangnya pendapatan dan kurangnya pemahaman mereka akan jasa dan fasilitas yang disediakan lembaga keuangan bank.
4. Kebutuhan dari pihak responden yaitu pedagang golongan mikro mengharapkan adanya sistem pegawai keliling yang memudahkan transaksi tanpa harus ke lokasi cabang. Selain itu, bantuan akses untuk mempermudah memiliki tabungan sendiri pada warga yang tidak memiliki KTP Jakarta, bantuan penyesuaian terhadap kondisi dengan pendapatan dan pengetahuan yang masih dianggap belum mencukupi, pembebanan biaya bulanan dan bunga kredit serta jaminan kredit oleh bank pada tabungan dan kredit yang dianggap terlalu tinggi dan beresiko.
5. Umumnya hampir semua bank yang dipilih oleh peneliti telah melakukan berbagai upaya untuk turut serta meningkatkan keuangan inklusif seperti pemberian edukasi program jasa dan fasilitas perbankan untuk lebih mengenalkan masyarakat pentingnya menabung di lembaga keuangan formal. Selain itu, ada pula bank yang mengadakan pelatihan untuk pengelolaan keuangan. Program oleh lembaga keuangan umumnya sudah beragam dari program tabunganKu hingga kredit khusus bagi unit usaha mikro dengan persyaratan yang cukup memudahkan responden dan ketentuan yang dikhususkan bagi pedagang golongan mikro. Selain itu, Bank telah menyediakan lokasi cabang Bank dan ATM yang tersebar luas di Indonesia.
6. Upaya yang telah dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meliputi kegiatan edukasi perbankan dengan memberikan pembelajaran terkait informasi bank kepada peserta. Edukasi perbankan dilakukan dengan pelatihan, pengadaan expo, talkshow dengan topik pengelolaan keuangan. Upaya lain untuk mendukung kegiatan keuangan inklusif adalah program literasi keuangan melalui pembentukan SNKI. Untuk mempermudah menjangkau bank, OJK menyediakan Bus Simolek yaitu bus keliling yang menyediakan berbagai informasi tentang bank. Program Bus Simolek bekerjasama dengan instansi perbankan. Untuk menghindari penipuan serta mempermudah akses informasi, OJK menyediakan layanan konsumen sehingga bagi pelaporan masalah atau pencarian informasi dapat dilakukan melalui telepon. Layanan konsumen dibentuk atas dasar saat ini mayoritas masyarakat telah memiliki handphone sebagai alat komunikasi. Untuk mengetahui kebutuhan dan sosial pedagang, OJK melakukan survei dan treatment untuk menilai pola perilaku masyarakat agar dapat mempermudah proses pendekatan.
Upaya yang dilakukan Bank Indonesia adalah dengan terus berinovasi pada program-program yang telah dibentuk. Program-program-program tersebut meliputi program-program Gerakan Indonesia Menabung, Program TabunganKu, Branchless Banking, Layanan Keuangan Digital, dan Program Financial Identity Number. Selain itu, pihak Bank Indonesia bekerjasama dengan
lembaga keuangan juga menggalakkan program edukasi perbankan serta edukasi jasa dan fasilitas bank. Edukasi selain dilakukan melalui pendekatan langsung juga melalui buku saku, leaflet, komik, iklan, dan lain sebagainya. Bank Indonesia melengkapi jasa dan pelayanannya melalui layanan konsumen bagi siapa yang memiliki saran maupun kritik.
7. Berdasarkan data yang diperoleh, tidak ditemukan banyak ketidaksesuaian antara kebutuhan pedagang dan jasa serta fasilitas yang tersedia oleh pihak Bank, Otoritas Jasa Keuangan maupun Bank Indonesia. Instansi perbankan, Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia telah melakukan berbagai langkah dan upaya serta program untuk meningkatkan keuangan inklusif. Hanya ada beberapa bank yang masih belum memiliki kesesuaian kebutuhan.
8. Solusi dalam meningkatkan keuangan inklusif adalah berupaya untuk mengembangkan proses edukasi perbankan dengan perluasan cakupan wilayahnya serta program lainnya seperti Layanan Keuangan Digital. Selain itu, perlu dilakukan pelatihan untuk mengelola keuangan sehingga masyarakat dapat menyisihkan sebagian pendapatan untuk menabung. Pengembangan dan inovasi program-program yang telah dijalankan merupakan langkah paling baik dalam meningkatkan keuangan inklusif.
Berdasarkan data keseluruhan, fakta ditemukan bahwa berbagai upaya telah dilakukan oleh instansi perbankan, OJK dan Bank Indonesia. Hal ini didukung dengan kesesuaian antara kebutuhan pedagang golongan mikro dan upaya instansi perbankan, OJK dan Bank Indonesia.Yang menjadi masalah adalah pedagang golongan mikro yang masih belum mampu mengelola keuangannya sendiri. Selain itu, masih adanya masyarakat unbankable adalah belum terjadi pemerataan kepada seluruh bagian masyarakat di Indonesia sebagai akibat dari luasnya negara Indonesia dengan tingkat kepadatan yang tinggi. Hal yang perlu diupayakan adalah perluasan cakupan wilayah pengembangan keuangan inklusif agar dapat menjangkau semua masyarakat dan meningkatkan perekonomian Indonesia.
4.2 Saran
Bagi peneliti selanjutnya disarankan agar : 1. Memperluas cakupan wilayah yang diteliti,
2. Melakukan pengujian pada Bank lain yang telah memiliki layanan serta program khusus untuk pedagang golongan mikro untuk melihat kesesuaian yang lebih cocok.
3. Membuat kriteria dan batasan penelitian secara lebih terperinci terkait responden yang ingin diteliti seperti dengan membagi kriteria jumlah omset menjadi lebih kecil.
REFERENSI
Adutil Rashid Khaki, Mohi-ud-Din Sangmi. (2012). “Financial Inclusion in Jammu and Kashmir, A Study of Banker’s Initiatives”.International Referred Research Journal, Volume III,115
Auliansi, PalupiAnnisa. 2013. Ini 5 Strategi Penguatan Keuangan Inklusif dan UMKM dari BI. Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2013).
BPS Provinsi DKI Jakarta No. 44/10/31/Th. XIV.2012.
Carbo, Santiago. Gardener, Edward P.M. Molyneux, Philip. (2008). Financial Exclusion.New York : Palgrave MacMillan.
Doi, Yoko. (2011). Keterlibatan Sektor Keuangan, Pengentasan Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi. Jakarta : Jakarta Post.
Gita Rossiana. 2013. Menabung Kunci SuksesMenuju Financial Inclusion.
Hung, Angela A. Parker, Andrew M. Yoong, Joanne K. (2009). Defining and Measuring Financial Literacy. RAND Corporation.
Lubis, Irsyad. (2010). Bank dan Lembaga Keuangan Lain.Medan : USU Press
Mohammad Shafi, Ali HawiMedabesh. (2012). “Financial Inclusion in Developing Countries : Evidences from an Indian State”. International Business Research.Volume 5 No 8.
Nasori.Hari Gunarto. 2010. BI Luncurkan Program Financial Inclusion.
Nugraha, Ubaidillah. (2008). Catatan Keuangan dan Pasar Modal. Jakarta :PT.Elex Media Komputindo. Ram A.Cnaan, M.S. Moodhitaya, Femida Handy. (2012). “Financial Inclusion : Lessons fron Rural South
India”. Cambridge University Press.41 , 1, 183-205
Sugiyono.(2009). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).Bandung :Alfabeta.
Supranto, J. (2009). The Power of Statistics untuk Pemecahan Masalah. Jakarta : Salemba Empat.
Suyatno, Thomas. Marala, Djuhaepah T, dkk. (2007) .Kelembagaan Perbankan. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama.
World Bank Group. (2013) Financial Inclusion : Global Financial Development Report. Washington DC : The World Bank.
www.bankdki.co.id www.bi.go.id www.bni.co.id www.bri.co.id www.depkop.go.id www.ojk.go.id www.pasarjaya.co.id RIWAYAT PENULIS
Meilisa Salim lahir di kota Medan pada 3 Mei 1992. Penulis menamatkan pendidikan Strata 1 di Universitas Bina Nusantara dalam bidang Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Komunikasi pada tahun 2014.