1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pangan merupakan kebutuhan pokok dan komoditi strategis dalam kehidupan manusia untuk menjaga kelangsungan hidupnya secara sehat dan produktif. Namun, dalam kenyataannya tidak semua orang dapat terpenuhi kebutuhan pangannya karena beberapa alasan sehingga mengalami kelaparan dan menghadapi kondisi rawan pangan. Masalah kekurangan konsumsi pangan dan kondisi rawan pangan yang meluas di masyarakat suatu negara menjadi semakin penting untuk dicari penyelesaiannya, sehingga peranan pangan menjadi sangat penting dalam proses kehidupan dan pembangunan bangsa (Marwanti, 2000).
Upaya memenuhi kebutuhan pangan melibatkan banyak pelaku yaitu pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Keterlibatan masyarakat dan swasta sebagai mitra pemerintah mencerminkan adanya proses pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan merupakan proses proaktif yang memungkinkan pemerintah dan mitranya untuk memanfaatkan sumberdaya yang ada berupa sumberdaya ekonomi, fisik, maupun sosial dalam mewujudkan pembangunan nasional yaitu ketahanan pangan sampai tingkat rumah tangga (Baliwati, dkk. 2004).
Ketahanan pangan menurut UU No.7 tahun 1996 didefinisikan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa ketahanan pangan mempersyaratkan terpenuhinya dua sisi secara simultan, yaitu ketersediaan dan konsumsi. Menurut Nainggolan (2005), sisi ketersediaan adalah tersedianya pangan yang cukup bagi seluruh penduduk dalam jumlah, mutu, keamanan, dan keterjangkauan. Dari sisi konsumsi yaitu adanya kemampuan setiap rumah tangga untuk mengakses pangan yang cukup bagi masing-masing anggotanya untuk tumbuh, sehat, dan produktif dari waktu ke waktu. Kedua sisi tersebut memerlukan distribusi
2 yang efisien yang dapat menjangkau keseluruh wilayah dan seluruh golongan masyarakat.
Istilah rawan pangan merupakan kondisi kebalikan dari ketahanan pangan. Kerawanan pangan terjadi manakala rumah tangga mengalami ketidakcukupan pangan untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan para individu anggotanya. Ada tiga hal penting yang mempengaruhi tingkat rawan pangan, yaitu kemampuan penyediaan pangan kepada individu, kemampuan individu atau rumah tangga untuk mendapatkan pangan, dan proses distribusi dan pertukaran pangan yang tersedia dengan sumber daya yang dimiliki oleh individu atau rumah tangga (Sumarmi, 2010).
Kompleksnya permasalahan kemiskinan masyarakat perdesaan disebabkan oleh kerasnya hidup dan ketidakpastian yang harus dijalani oleh mereka. Selain itu, menurut Nurmalida (2002) kemiskinan juga disebabkan oleh keterbatasan sumberdaya alam dan pemanfaatan alam yang kurang optimal. Keterbatasan sumber daya alam yang dimaksud disebabkan jumlah penduduk yang sudah terlalu besar sehingga tekanan penduduk terhadap lahan menjadi sangat tinggi. Oleh karena itu, jumlah penduduk menjadi variabel penting dalam menjelaskan kemiskinan di perdesaan, khususnya di Jawa.
Perpindahan penduduk dari desa ke kota tidak hanya berhenti di situ saja dalam membawa masalah kemiskinan. Penduduk yang melakukan perpindahan kebanyakan adalah penduduk berusia produktif yang akan mencari pekerjaan di perkotaan. Mencari pekerjaan di perkotaan yang sulit di lakukan karena penduduk desa rata-rata mempunyai softskill yang rendanh membuat sulit dalam mencari pekerjaan, sehingga membuat penduduk yang dari desa ke kota dengan tujuan mencari pekerjaan pada hasilnya menjadi pengangguran di perkotaan. Hal tersebut membuat bertambahnya penduduk miskin di perkotaan .
Kota magelang merupakan kota kecil yang berkembang pesat dimana perkembangn kota di lihat dari berberapa indikator serta tidak lepas dari aspek-aspek yang mendukung untuk perkembangan kota
3 tersebut. Kota magelang yang perkembanganya sangat pesat masih mempunyai permasalahan kota di bidang kependudukan antara lain kemiskinana di penduduk perkotaan. Hal ini dapat di lihat di tabel satu jumlah KK miskin kota magelang di tahun 2015 dalam tabel 1.1
Tabel 1.1 Jumlah Keluarga miskin Kota Magelang tahun 2015
No kecamatan Jumlah keluarga
miskin/kk Persen
1 Magelang Selatan 1501 33,35
2 Magelang Tengah 1994 44,30
3 Magelang Utara 1006 22,35
JUMLAH 4501 100,00
Sumber: Kantor Kecamatan Magelang Selatan,Tengah,dan Utara, 2015
Tabel 1.1 menujukkan distribusi penduduk miskin di kota magelang pada tahun 2015. Kota magelang memepunyai tiga kecamatan yaitu kecamatan magelang selatan,kecamatan magelang tengah, kecamatan magelang utara . yang dimana kecamatan selatan memepunyai jumlah penduduk miskin sebesar 1501 kepala keluarga atau 33,35% dari total penduduk miskin Kota Magelang di tahun 2015 ,Kecamatan Magelang tengah mempunyai penduduk miskin sebesar 1994 kepala keluarga atau 44,30% ,sedangkan penduduk miskin di Kecamatan Magelang utara sebesar 1006 kepala keluarga. Dari data tersebut bisa di ketahui distribusi penduduk miskin di Kota Magelang.
Penelitian di lakukan di lakukan di Kelurahan Rejowinangun Utara di karenakan kelurahan tersebut mempunyai jumlah kepala keluarga miskin paling banyak dari seluruh kelurahan yang ada di kecamatan Magelang Tengah . Penelitian ini dilakukan pada tahun 2016 di karenakan menggunakan data terbaru sehingga bisa menggambarkan kondisi ketahanan pangan rumah tangga msikin di Kelurahan Rejowinangun Utara saat ini.
Data kemiskinan merupakan sumber data dasar yang digunakan untuk menentukan jumlah keluarga miskin di Kelurahan Rejowinangun Utara, data penerima raskin merupakan salah satu data yang digunakan
4 untuk menentukan siapa saja yang masuk dalam keluarga miskin, banyak masalah yang di temukan dalam hal penerimaan raskin di indonesia khususnya di Kelurahan Rejowinangun Utara. Masalah tersebut salah satunya adalah penerima raskin yang salah sasaran dimana penerima raskin di kelurahan Rejowinangun Utara sebagian besar pada keluarga pasca sejahtera.
Kemiskinan akan sangat berpengaruh pada ketahanan pangan karena rumah tangga miskin tidak mampu menyediakan pangan dalam jumlah yang cukup, aman dan bergizi baik dengan memproduksi sendiri maupun membeli. Kota Magelang merupakan daerah non produksi atau wilayah bukan pertanian sehingga rumah tangga miskin di Kota Magelang dalam memenuhi kebutuhan pangannya berasal dari pembelian. Dari latar belakang tersebut akhirnya ditentukan judul penelitian Ketahanan
Pangan Rumah Tangga Miskin Di Kelurahan Rejowinangun Utara, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang.
1.2 Rumusan Masalah
Ketahanan pangan terbagi menjadi empat tingkatan yaitu ketahana pangan nasional, ketahahan pangan regional atau lokal, ketahanan pangan ruma tangga atau keluarga, dan ketahanan pangan individu. Tercapainya ketahana pangan nasional, tidak berarti tiada masalah dalam ketahanan pangan rumah tangga. Hal ini terjadi karena rumah tangga memiliki ketersediaan dan akses pangan yang berbeda-beda.
Ketahanan pangan rumah tangga berhubungan dengan kemampuan rumah tangga dalam mengakses pangan secara cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggotanya dan untuk mempertahankan kehidupan yang aktif dan sehat. Upaya dalam mewujudkan ketahanan pangan rumah tangga bukan merupakan persoalan yang sederhana. Distribusi pangan yang tidak merata dan kemiskinan menjadi kendala untuk mewujudkan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Kemiskinan menjadikan rumah tangga miskin kota Magelang tidak mampu menyediakan pangan dalam
5 jumlah yang cukup, aman, dan bergizi, sehingga ketahanan pangannya lemah.
Kondisi ketahanan pangan rumah tangga miskin akan semakin lemah apabila rumah tangga miskin tersebut bertempat tinggal di daerah kumuh dan padat pendududuk di kota Magelang merupakan yang termasuk daerah padat pendududuk dan kumuh. Kondisi bangunan yang saling berdempetan dan lingkungan yang kumuh, Hal inilah yang dapat mengakibatkan terjadinya kerawanan pangan. Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Berapa besarnya proporsi pengeluaran konsumsi pangan terhadap total pengeluaran rumah tangga miskin di Kelurahan Rejowinangun Utara ? 2. Berapa besarnya tingkat konsumsi energi rumah tangga miskin di
Kelurahan Rejowinangun Utara?
3. Bagaimana kondisi ketahanan pangan rumah tangga miskin di Kelurahan Rejowinangun Utara dilihat dari indikator proporsi pengeluaran konsumsi pangan dan tingkat konsumsi energi?
1.3 Tujuan penelitian
Tujuan yang ingin di capai dalam penelitian ini adalah :
1. Mengetahui besarnya proporsi konsumsi pangan terhadap total pengeluaran rumah tangga miskin di Kelurahan Rejowinangun Utara. 2. Mengetahui besarnya tingkat konsumsi energi rumah tangga miskin di
Kelurahan Rejowinangun Utara.
3. Mengetahui kondisi ketahanan pangan rumah tangga miskin di Kelurahan Rejowinangun Utara dilihat dari indikator proporsi pengeluaran konsumsi pangan dan tingkat konsumsi energi.
1.4 Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian ini adalah :
1. Bagi peneliti, menambah wawasan dan pengetahuan yang berkaitan dengan topik dan merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada
2. Bagi pemerintah kota magelang, penelitian ini berguna sebagai sumbangan pemikiran dan bahan pertimbangan dalam pengambilan
6 kebujakan, khususnya yang berkaiatan dengan pemantapan ketahanan pangan di Kota Magelang
3. Bagi pemabaca, penelitian ini berguna wacana dalam menambah pengetahuan mengenai ketahanan pangan rumah tangga miskin di Kota Magelang.
1.5 Keaslian Penelitian
Marwanti (2002) dalam penelitiannya yang berjudul Pola Pengeluaran Untuk Konsumsi Pangan Gizi Penduduk Indonesia (Analisis Data Susenas 1999) menyatakan bahwa pengeluaran untuk kelompok makanan masih lebih besar daripada pengeluaran untuk kelompok bukan makanan. Proporsi pengeluaran untuk kelompok makanan terhadap pengeluaran total pada tahun 1993 sebesar 56,86% dan pada tahun 1996 menurun menjadi 55,27%. Hasil ini menunjukkan adanya perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat yang akan berimplikasi pada perbaikan konsumsi gizi. Rata-rata konsumsi kalori pada tahun 1993 sebesar 1.879 kal/kapita/hari dan pada tahun 1996 meningkat menjadi 2.020 kal/kapita/hari. Dengan angka kecukupan konsumsi energi yang direkomendasikan oleh WHO sebesar 2.100 kal/kapita/hari, maka konsumsi kalori penduduk Indonesia belum memenuhi angka kecukupan.
Penelitian Rachman, (2003) yang berjudul Distribusi Provinsi di Indonesia Menurut Derajat Ketahanan Pangan Rumah Tangga menyatakan bahwa secara nasional pada tahun 1999 lebih dari 30% rumah tangga di Indonesia tergolong rawan pangan, di daerah kota sekitar 27% dan di pedesaan sekitar 33%. Dari 26 provinsi di Indonesia 5 provinsi yang memiliki proporsi rumah tangga rawan pangan tertinggi adalah Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari sisi ekonomi rumah tangga rawan pangan diindikasikan oleh pangsa pengeluaran pangan yang tinggi dan dari tingkat konsumsi energinya kurang. Hal ini membuktikan bahwa aspek pendapatan untuk meningkatkan akses terhadap pangan merupakan faktor penting dalam peningkatan ketahanan pangan rumah tangga.
7 Penelitian Hasan dan Saputra (2005) yang berjudul Ketahanan Pangan dan Kemiskinan : Implementasi dan Kebijakan Penyesuaian menunjukkan bahwa (1) masih lemahnya sistem ketahanan pangan pada masyarakat miskin di Sumatra Barat, (2) lemahnya sistem ini memberikan dampak yang besar terhadap kondisi gizi masyarakat, (3) muncul fenomena bahwa kemiskinan cenderung berimplikasi terhadap kerawanan pangan, (4) evaluasi terhadap program raskin menunjukkan bahwa program ini sering tidak tepat sasaran, (5) kelompok yang paling rentan terhadap kebutuhan pangan terutama beras muncul pada komunitas miskin perkotaan dan miskin nelayan. Diperlukan sebuah kebijakan penyesuaian terhadap sistem ketahanan pangan masyarakat miskin terutama pada aspek konsumsi.
Nuryani (2007) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Hubungan Proporsi Pengeluaran dan Konsumsi Pangan dengan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani di Kabupaten Sukoharjo, menunjukkan bahwa proporsi pengeluaran untuk pangan rumah tangga petani di Kabupaten Sukoharjo lebih besar dibanding bukan pangan yaitu sebesar 42,87% konsumsi energi dan protein rumah tangga petani di Kabupaten Sukoharjo mempunyai tingkat kecukupan gizi sebesar 137,95% untuk energi dan 182,71% untuk protein. Semakin rendah proporsi pengeluaran konsumsi pangan, maka akan semakin tinggi kecukupan konsumsi energi dan protein rumah tangga petani di Kabupaten Sukoharjo. Ketahanan pangan rumah tangga petani di Kabupaten Sukoharjo sebagian besar termasuk tahan pangan.
Keempat penelitian diatas digunakan sebagai bahan referensi dalam penelitian ini dengan alasan bahwa penelitian tersebut memiliki kesamaan dalam metode analisisnya yaitu menganalisis besarnya proporsi pengeluaran konsumsi pangan terhadap total pengeluaran dan besarnya tingkat konsumsi energi yang merupakan indikator ketahanan pangan rumah tangga. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pengeluaran konsumsi pangan masih mengambil bagian terbesar dari total pengeluaran rumah tangga. Tingginya proporsi pengeluaran konsumsi pangan dapat
8 menjadi indikator menurunnya kesejahteraan rumah tangga dan meluasnya kemiskinan yang akan berdampak pada ketahanan pangan rumah tangga.
1.6 Tinjauan Pustaka 1.6.1 Pangan
Pangan menurut Undang-Undang No.7 Tahun 1996 adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan dan minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan makanan, bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan pengolahan dan atau pembuatan makanan dan minuman (BPOM RI, 1996).
Pangan adalah segala bahan yang bila dimakan atau masuk ke dalam tubuh akan membentuk atau mengganti jaringan tubuh, memberikan tenaga atau mengatur semua proses dalam tubuh. Disamping itu makanan juga mengandung nilai tertentu bagi berbagai kelompok manusia, suku/bangsa atau perseorangan; yakni unsur kesehatan, memberikan rasa kenyang dan nilai yang dikaitkan dengan faktor-faktor lain seperti emosi atau perasaan, tingkat sosial, agama atau kepercayaan dan lain-lain (Handajani, 1994).
Pangan sebagai sumber zat gizi (karbohirat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air) menjadi landasan utama manusia untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan sepanjang siklus kehidupan. Penentu ketahanan pangan pada tingkat nasional, regional dan lokal dilihat dari tingkat produksi, permintaan, persediaan dan perdagangan pangan. Sementara itu penentu utama ditingkat rumah tangga adalah akses fisik dan ekonomi terhadap pangan, ketersediaan pangan dan resiko yang terkait dengan akses serta ketersediaan pangan tersebut (Sawit dan Ariani, 1997).
1.6.2 Pengeluaran pangan dan non pangan
Secara garis besar kebutuhan rumah tangga dapat dikelompokan ke dalam dua kategori besar, yaitu kebutuhan akan pangan dan bukan pangan. Dengan demikian, pada tingkat pendapatan
9 tertentu, rumah tangga akan mengalokasikan pendapatannya untuk memenuhi kedua kebutuhan tersebut. Secara alamiah kuantitas pangan yang dibutuhkan seseorang akan mencapai titik jenuh, sementara kebutuhan bukan pangan termasuk kualitas pangan tidak terbatasi dengan cara yang sama. Dengan demikian, besaran pendapatan (yang diproksi dengan pengeluaran total) yang dibelanjakan untuk pangan dari suatu rumah tangga dapat digunakan sebagai petunjuk tingkat kesejahteraan rumah tangga tersebut. Atau dengan kata lain semakin tinggi pangsa pengeluaran pangan, berarti semakin kurang sejahtera rumah tangga yang bersangkutan. Sebaliknya, semakin kecil pangsa pengeluaran pangan maka rumah tangga tersebut semakin sejahtera (Purwantini dan Ariani, 2008).
Secara umum kebutuhan konsumsi atau pengeluaran rumah tangga berupa kebutuhan pangan dan kebutuhan non pangan, dimana kebutuhan keduanya berbeda. Pada kondisi pendapatan yang terbatas, terlebih dahulu mementingkan kebutuhan konsumsi pangan. Sehingga dapat dilihat pada kelompok masyarakat dengan pendapatan rendah, sebagian besar pendapatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan. Namun demikian seiring dengan pergeseran dan peningkatan pendapatan, proporsi pola pengeluaran untuk makan akan menurun dan meningkatnya peneluaran untuk kebutuhan non pangan (Sugiarto, 2008).
1.6.3 Proporsi pengeluaran pangan
Pengeluaran total dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu pengeluaran untuk pangan dan barang-barang bukan pangan. Proporsi antara pengeluaran pangan dan bukan pangan juga digunakan sebagai indikator untuk menentukan tingkat kesejahteraan atau ketahanan pangan rumah tangga. Dari proporsi pengeluaran pangan dapat diungkapkan bahwa semakin tinggi proporsi pengeluaran pangan berarti tingkat kesejahteraan atau ketahanan rumah tangga semakin rendah atau rentan. Hukum Engel menyatakan dengan asumsi selera seseorang adalah tetap, proporsi pengeluaran rumah tangga untuk
10 pangan akan semakin kecil seiring dengan semakin meningkatnya pendapatan.
Berdasarkan data pengeluaran keluarga menurut Badan Pusat Statistik 1997 diungkapkan tentang pola konsumsi keluarga dengan menggunakan indikator proporsi pengeluaran untuk pangan dan non pangan. Semakin tinggi pendapatan maka porsi pengeluaran akan bergeser dari pengeluaran pangan ke pengeluaran non pangan. Pada umumnya keluarga akan mengalokasikan setiap pendapatannya utuk memenuhi kebutuhan dasarnya terlebih dahulu, yaitu berupa pangan. Apabila kebutuhan dasar tersebut sudah terpenuhi, maka keluarga akan mengalokasikan pendapatannya untuk kebutuhan non pangan (Yulia dkk, 1999).
1.6.3 Konsumsi pangan
Konsumsi pangan adalah informasi tentang jenis dan jumlah pangan yang dimakan seseorang atau kelompok orang (keluarga atau rumah tangga) pada waktu tertentu. Hal ini menunjukan bahwa telaahan dan jumlah pangan yang dikonsumsi. Susunan jenis pangan yang dikonsumsi berdasarkan kriteria tertentu disebut pola konsumsi pangan (Hardinsyah dan Martianto, 1992).
Konsumsi pangan seseorang atau sekelompok orang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Menurut Harper. ada empat factor utama yang mempengaruhi konsumsi pangan sehari-hari, yaitu:
a. Produksi pangan untuk keperluan rumah tangga b. Pengeluaran uang untuk pangan rumah tangga c. Pengetahuan gizi (mempengaruhi point a dan b) d. Tersedianya pangan (dipengaruhi oleh point a dan b) (Suhardjo dkk, 1988)
Menurut Handajani (1994), tingkat konsumsi pangan kaitanya dengan pendapatan dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Initial stage, pada tingkat ini makanan yang dibeli semata-mata hanya untuk mengatasi rasa lapar. Makanan yang dikonsumsi hanya kalori, dan biasanya hanya berupa bahan-bahan karbohidrat saja.
11 Dalam hal ini kualitas pangan hampir tidak terpikirkan. Karakteristik tingkat ini, ada korelasi erat antara pendapatan dan tingkat konsumsi pangan. Jika pendapatan naik, maka tingkat konsumsi pangan akan naik.
b. Marginal stage, pada tingkat ini korelasi antara tingkat pendapatan dan tingkat konsumsi pangan tidak linear, artinya kenaikan pendapatan tidak memberi reaksi yang proporsional terhadap tingkat konsumsi pangan.
c. Stable stage, pada tingkat ini kenaikan pendapatan tidak memberikan respon terhadap kenaikan konsumsi pangan. Pada tingkat ini ada kecenderungan mengkonsumsi pangan secara berlebihan, tanpa mempertimbangkan gizi.
1.6.4 Rumah Tangga miskin
Menurut kegiatan ekonominya, ada rumahtangga miskin yang pasif dan sebagian ada yang aktif. Anak-anak yang terlantar, kemudian gelandangan dan pengemis berbeda sekali karakternya dengan petani misalnya. Komunitas petani seringkali terjebak ke dalam situasi kemiskinan, meski curahan waktu kerjanya lebih intensif. Komunitas petani, meski sebagian besar tergolong miskin, memiliki peran strategis dalam perekonomian regional maupun nasional. Mereka memasok hasil produksi untuk kebutuhan konsumsi dan bahan baku produksi sektor manufaktur (Yukha, 2007).
Dimensi pengeluaran untuk kebutuhan pangan diukur berdasarkan standar minimum kebutuhan makanan yang dibutuhkan individu untuk hidup sehat yaitu setara dengan 2.100 kkal energy/kapita/hari dan 50 gram protein/kapita/hari (WNPG, 1978). Berdasarkan standar ini, rumah tangga miskin adalah rumah tangga yang pengeluaran untuk kebutuhan pangannya berada dibawah nilai minimum untuk memenuhi kebutuhan anggota rumah tangganya sesuai dengan standar kebutuhan minimum tersebut (Aswatini dkk, 2004).
12
1.6.5 Kemiskinan
BAPPENAS (2004) mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Hak-hak dasar masyarakat desa antara lain, terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Untuk mewujudkan hak-hak dasar masyarakat miskin ini, BAPPENAS menggunakan beberapa pendekatan utama antara lain ; pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach), pendekatan pendapatan (income approach), pendekatan kemampuan dasar (human capability approach) dan pendekatan objective and subjective (Sahdan, 2005).
Kemiskinan bisa diartikan sebagai situasi yang serba kekurangan yang terjadi bukan karena dikehendaki si miskin, melainkan karena tidak dapat dihindari dengan kekuatan yang ada padanya. Dengan demikian mengentaskan penduduk miskin itu perlu bantuan pihak luar dari si miskin itu sendiri. Orang miskin bukanlah orang yang tidak memiliki apapun, melainkan orang memiliki sesuatu namun sedikit (Shintawati, 2008).
World Bank (2000) menyebutkan bahwa kemiskinan mempunyai empat dimensi yaitu kurangnya kesempatan (luck of opportunity), rendahnya kemampuan (low capabilities), rendahnya tigkat ketahanan (low level of security), dan rendahnya pemberdayaan (empowerment). Ciri utama yang terlihat dari keempat dimensi kemiskinan tersebut adalah
rendahnya pendapatan dan rendahnya kualitas sumberdaya manusia akibat ketidakmampuan orang miskin untuk mengakses kesempatan ekonomi dan pendidikan yang tersedia. Terkait dengan upaya-upaya
13 penguatan ketahanan pangan rumah tangga miskin, hal mendasar yang menentukan tercukupinya pangan di tingkat rumah tangga baik jumlah maupun mutunya secara aman dan terjangkau adalah bagaimana mengubah sumberdaya-sumberdaya yang pada rumah tangga miskin dan lingkungannya menjadi modal-modal ekonomi yang dimanfaatkan untuk mengakses pangan sesuai dengan norma gizi yang berlaku. Modal ekonomi disini tentu tidak hanya dalam bentuk uang yang kasat mata namun juga mencakup modal-modal lain yang ada di dalam masyarakat yang dalam kondisi tertentu dapat dikonversi dalam bentuk uang. Keterbatasan modal berupa uang, modal alam, modal fisik, dan juga modal manusia yang dimiliki rumah tangga miskin khususnya dalam pemenuhan pangan rumah tangga kiranya membutuhkan pendorong berupa sumberdaya yang dimiliki dari hubunga-hubungan sosial yang dimiliki anggota masyarakat, yang dikenal sebagai modal sosial (Alfiasari dkk, 2009).
1.6.6 Ketahanan pangan
Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan, pengertian ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan yang cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Dari pengertian tersebut, tersirat bahwa upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional harus lebih dipahami sebagai pemenuhan kondisi-kondisi berikut :
a. Terpenuhinya pangan dengan kondisi ketersediaan yang cukup, dengan pengertian ketersediaan pangan dalam arti luas, mencakup pangan yang berasal dari tamanan, ternak dan ikan untuk memenuhi kebutuhan atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia.
b. Terpenuhinya pangan dengan kondisi yang aman, dengan pengertian bebas dari cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia, serta aman menurut kaidah agama.
14 c. Terpenuhinya pangan dengan kondisi yang merata, dengan pengertian bahwa distribusi pangan harus mendukung tersedianya pangan setiap saat dan merata di seluruh tanah air.
d. Terpenuhinya pangan dengan kondisi terjangkau, diartikan bahwa pangan mdah diperoleh rumah tangga dengan harga yang terjangkau.
(Soetrisno, 2012).
Definisi ketahanan pangan menurut undang-undang No.7 Tahun 1996 adalah “kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersediannya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau”. Ketahanan pangan dapat dicapai,apabila ada system pangan nasional yang kuat, yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan pengetahuan, pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan atau proses produksi pangan dan peredaran pangan sampai dengan siap dikonsumsi manusia.
Ketahanan pangan merupakan terjemahan dari food security, secara luas diartikan sebagai terjaminnya akses pangan bagi setiap individu untuk memenuhi kebutuhan pangannya agar dapat hidup sehat dan beraktivitas.
Menurut Suhardjo dkk(1998), ketahanan pangan rumah tangga dicerminkan oleh beberapa indikator, antara lain: (1) tingkat kerusakan tanaman, ternak dan perikanan, (2) penurunan produksi pangan, (3) tingkat ketersediaan pangan di rumah tangga, (4) proporsi pengeluaran pangan terhadap pengeluaran total, (5) fluktuasi harga pangan utama yang umum dikonsumsi rumah tangga, (6) perubahan kehidupan sosial, seperti migrasi, menjual/menggadaikan asset, (7) keadaan konsumsi pangan berupa kebiasaan makan, kuantitas dan kualitas pangan serta (8) status gizi. Makin besar angka ketersediaan pangan untuk dikonsumsi, makin tersedia pangan di tingkat nasional. Aksesibilitas pangan dapat diproksi dari tingkat konsumsi rumah penduduk yang ada dari data Susenas. Makin tinggi konsumsi penduduk makin tinggi pula akses penduduk tersebut terhadap pangan.
15 Indeks ketahanan pangan ditingkat rumah tangga dikategorikan seperti terlihat pada tabel berikut:
Tabel 1.2. Indeks Ketahanan Pangan Rumah Tangga
kontinyunitas penyediaan
pangan
kualitas/keamanan pangan:konsumsi protein hewani dan/atau nabati protein hewani dan nabati/protein hewani saja protein nabti saja
tidak ada konsumsi protein hewani dan
nabati kontinyu tahan kurang tahan tidak tahan
kurang
kontinyu kurang tahan tidak tahan tidak tahan tidak
kontinyu tidak tahan tidak tahan tidak tahan Sumber: Suhardjo,dkk (1998)
Berdasarkan matrik tersebut, maka rumah tangga dapat dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu:
a. Rumah tangga tahan pangan adalah rumah tangga yang memiliki persedian pangan/makanan pokok secara kontinyu (diukur dari persediaan makan selama jangka masa satu panen dengan panen berikutnya dengan frekuensi makan 3 kali atau lebih per hari serta akses langsung) dan memiliki pengeluaran untuk protein hewani dan nabati atau protein hewani saja.
b. Rumah tangga kurang tahan pangan adalah rumah tangga yang memiliki:
1)Kontinyuitas pangan/makanan pokok kontinyu, tetapi hanya mempunyai pengeluaran untuk protein nabati saja
2)Kontinyuitas ketersediaan pangan/makanan kurang kontinyu dan mempunyai pengeluaran untuk protein hewani dan nabati
c. Rumah tangga tidak tahan pangan adalah rumah tangga yang dicirikan oleh:
16 1) Kontinyuitas ketersediaan pangan kontinyu, tetapi tidak memiliki
pengeluaran untuk protein hewani maupun nabati
2) Kontinyuitas ketersediaan pangan kontinyu kurang kontinyu dan hanya memiliki pengeluaran untuk protein hewani atau nabati, atau tidak untuk kedua-duanya
3) Kontinyuitas ketersediaan pangan tidak kontinyu walaupun memiliki pengeluaran untuk protein hewani dan nabati
4) Kontinyuitas ketersediaan pangan tidak kontinyu dan hanya memiliki pengeluaran untuk protein nabati saja, atau tidak untuk kedua-duanya
Hasil Lokakarya Ketahanan Pangan Nasional Tahun 1996, ketahanan pangan rumah tangga didefinisikan dalam beberapa alternatif rumusan, yaitu (i) kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan anggota rumah tangga dalam jumlah, mutu, dan ragam sesuai dengan budaya setempat dari waktu ke waktu agar hidup sehat; (ii) kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kecukupan pangan anggotanya dari produk sendiri dan atau membeli dari waktu ke waktu agar dapat hidup; dan (iii) kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kecukupan pangan anggotanya dari waktu ke waktu agar dapat hidup sehat (Sudrajat, 2009).
1.7 Kerangka Pemikiran
Pangan merupakan komoditas yang penting dan strategis, karena merupakan kebutuhan dasar yang paling esensial yang setiap saat harus dapat dipenuhi bagi manusia untuk mempertahankan hidup. Pangan sebagai sumber zat gizi (karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air) menjadi landasan utama manusia untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan sepanjang siklus kerhidupan. Kebutuhan pangan perlu diupayakan ketersediaanya dalam jumlah yang cukup, mutu yang layak, aman dikonsumsi, dan mudah diperoleh dengan harga yang terjangkau karena pangan merupakan komponen dasar yang utama untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Kekurangan pangan tidak hanya dapat menimbulkan dampak sosial, ekonomi, bahkan dapat
17 mengancam keamanan sosial. Persediaan pangan yang cukup secara nasional tidak menjamin adanya ketahanan pangan tingkat regional maupun rumah tangga atau individu. Ketahanan pangan sebagai situasi di mana semua rumah tangga mempunyai akses baik fisik maupun ekonomi untuk memperoleh pangan bagi seluruh anggota keluarganya, dan dimana rumah tangga tidak beresiko mengalami kehilangan kedua akses tersebut. Hal ini berarti konsep ketahanan pangan mencakup ketersediaan yang memadai, stabilitas dan akses terhadap pangan-pangan utama. Determinan dari ketahanan pangan dengan demikian adalah daya beli atau pendapatan yang memadai untuk memenuhi biaya hidup.
Pendapatan merupakan faktor utama yang menentukan konsumsi suatu rumah tangga. Pendapatan digunakan untuk membayar semua pengeluaran rumah tangga dan jika ada sisa pendapatan tersebut akan ditabung. Pada tingkat pendapatan yang rendah, konsumsi akan melebihi pendapatan dan konsumsi yang melebihi pendapatan ini akan dibiayai oleh tabungannya pada masa lalu. Pada tingkat pendapatan yang tinggi, tidak semua pendapatan yang diterima digunakan untuk konsumsi, melainkan sebagian pendapatan tersebut akan masuk ke tabungan.
Pengeluaran rumah tangga dibedakan menjadi dua yaitu pengeluaran pangan dan pengeluaran non pangan. Pengeluaran non pangan terdiri dari pengeluaran untuk perumahan, aneka barang dan jasa, biaya pendidikan, biaya kesehatan, pakaian, pajak dan asuransi, serta keperluan sosial. Pengeluaran pangan yaitu biaya yang dikeluarkan oleh rumah tangga untuk membeli berbagai jenis kebutuhan berupa makanan dan minuman.
Pada kondisi pendapatan yang terbatas, akan lebih dulu mementingkan kebutuhan konsumsi pangan selain itu juga akan mempengaruhi jumlah pangan yang akan di konsumsi. Seiring dengan pergeseran dan peningkatan pendapatan, proporsi pengeluaran untuk makan akan menurun dan meningkatnya pengeluaran untuk kebutuhan non pangan. Sisa pendapatan untuk pengeluaran pangan dan non pangan akan ditabung untuk investasi. Akan tetapi, pada kelompok masyarakat dengan
18 pandapatan rendah, sebagian besar pendapatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehingga kemungkinan besar mereka tidak menabung.
Jumlah dan komposisi gizi seseorang dapat dihitung dari jumlah pangan yang dikonsumsinya dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM). Tercukupinya kebutuhan pangan dapat terlihat dari terpenuhinya kebutuhan energi dan protein sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.1593/Menkes/SK/IX/2005 yaitu berdasarkan umur dan jenis kelamin.
Ketahanan pangan di tingkat rumah tangga sangat tergantung dari cukup tidaknya pangan yang dikonsumsi oleh setiap anggota rumah tangga untuk mencapai gizi baik dan hidup sehat. Untuk mengukur derajat ketahanan pangan tingkat rumah tangga, digunakan dua indikator ketahanan pangan, yaitu proporsi pengeluaran pangan dan tingkat konsumsi energi (Rachman 2003).
Berdasarkan teori di atas, maka dapat di gambarkan kerangka berpikir pendekatan masalah dalam gambar1.1 berikut:
19 Gambar 1.1 Diagram Alir Kerangka Pemikiran
Pendapatan rumah tangga miskin Kelurahan Rejowinangun Utara
Total pengeluaran rumah tangga miskin Kelurahan
Rejowinangun Utara Pengeluaran pangan Pengeluaran bukan pangan Proporsi pengeluaran pangan terhadap total pengeluaran Konsumsi pangan Tingkat konsumsi energi
Ketahanan pangan rumah tangga miskin di Kelurahan Rejowinangun
Utara Rumah tangga miskin
Kelurahan Rejowinangun Utara
Acuan untuk pengambilan kebijakkan dalam masa yang