40 3.1 Obyek Penelitian
3.1.1 Lokasi Penelitian
Penulis melakukan penelitian pada Dinas Pendidikan Kota Tangerang yang berlokasi di Gedung Cisadane Lt.1 Jalan KS Tubun No.1 Tangerang.
3.1.2 Sejarah Dinas Pendidikan Kota Tangerang
Seiring dengan dilaksanakannya undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, Dinas Pendidikan Kota Tangerang (semula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang) dibawah naungan Departemen Pendidikan yang sebelumnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) Kabupaten Tangerang yang selanjutnya berdasarkan Perda Nomor 24 tahun 2000, tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah dan Sekretariat DPRD Kota Tangerang dibentuklah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang.
Dalam perjalanan dan perkembangannya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang mengalami perpindahan kantor, kantor
pertama beralamat di Jalan MT Haryono No. 8 Tangerang (April 2001 sampai dengan Maret 2003), bulan April 2003, seiring dengan selesainya Gedung Pusat Pemerintahan Kota Tangerang. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menempati Gedung Cisadane Lt.1 Jalan KS. Tubun No.1 Tangerang sampai sekarang.
Dari struktur organisasi pun mengalamai perubahan yang semula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang berubah menjadi Dinas Pendidikan Kota Tangerang pada tahun 2008 berdasarkan Perda Kota Tangerang Nomor : 5 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas Daerah, selanjutnya dipertegas dengan Perwal Nomor : 23 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pendidikan.
3.1.3 Struktur Organisasi Dinas Pendidikan
Dinas merupakan unsur pelaksana Pemerintah Daerah yang dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Walikota. Dinas merupakan perangkat daerah yang diberikan wewenang, tugas, dan tanggung jawab melaksanakan otonomi daerah, desentralisasi, dan dekosentrasi.
Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 05 tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas Daerah Kota Tangerang
dan Perwal Nomor 23 Tahun 2008 Kota Tangerang tentang Oganisasi dan Tata Kerja Dinas Pendidikan, Tugas Dinas Pendidikan Kota Tangerang merupakan unsur pelaksana otonomi daerah dibidang pendidikan yang mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah dibidang pendidikan berdasarkan azas otonomi serta melaksanakan tugas pembantuan yang diserahkan kepada Pemerintah Daerah.
Untuk menjalankan Tugas Pokok tersebut, Fungsi Dinas Pendidikan Kota Tangerang adalah :
a. Perumusan Kebijakan Teknis dibidang Pendidikan; b. Penyelenggaraan Pembelajaran dan Kurikulum;
c. Perencanaan, Pengadaan serta Pemeliharaan Prasarana dan Sarana Pendidikan;
d. Pemberdayaan Sekolah dan Pembinaan Ketenagaan Pendidikan;
e. Pembinaan Pendidikan Luar Sekolah;
f. Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 12 Tahun; g. Penetapan Kurikulum Muatan Lokal;
h. Penyelenggaraan Ketatausahaan di lingkungan Dinas.
Dalam pelaksanaan Organisasinya Dinas Pendidikan Kota Tangerang dipimpin oleh seorang Kepala Dinas, 1 Sekretaris, 4
Kepala Bidang, 12 Kepala Seksi, 3 Kepala Sub Bagian dan 69 Staf, 13 UPTD Pendidikan Dasar, 24 UPTD SMP, 15 UPTD SMA dan 9 UPTD SMK.
3.1.4 Bagan Struktur Organisasi 1. Kepala Dinas
2. Sekretariat :
a. Subag Umum dan Kepegawaian b. Subag Keuangan
c. Subag Perencanaan
3. Bidang Pendidikan Dasar (DIKDAS) : a. Seksi TK
b. Seksi SD/MI c. Seksi SMP/MTs
4. Bidang Pendidikan Menengah (DIKMEN) : a. Seksi SMA/Aliyah
b. Seksi SMK
c. Seksi Kerjasama dan Uji Kompetensi Siswa 5. Bidang Pendidikan Luar Sekolah :
a. Seksi PAUD b. Seksi Bina Kursus
6. Bidang Peningkatan Mutu Pendidik : a. Seksi Peningkatan Mutu TK/SD b. Seksi Peningkatan Mutu SMP/MTs c. Seksi Peningkatan Mutu SMA/MA/SMK 7. UPTD Pendidikan Dasar
8. UPTD SMP
Gambar 3.1
STRUKTUR ORGANISASI DINAS PENDIDIKAN KOTA TANGERANG
BIDANG PENDIDIKAN DASAR BIDANG PENDIDIKAN MENEGAH BIDANG PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH SEKSI SD DAN MI SEKSI SMP DAN MTs SEKSI SMA DAN ALIYAH SEKSI S M K SEKSI KERJASAMA DAN UJI KOMPETENSI SEKSI MUTU PENDIDIK TK/SD SEKSI MUTU PENDIDIK SMP/MTs KELOMPOK JABATAN FUNGSIONA L KEPALA DINAS SEKSI TAMAN KANAK-KANAK - UPTD.PENDIDIKAN DASAR - UPTD.PENDIDIKAN MENENGAH SEKSI MUTU PENDIDIK SMA/SMK/MA BIDANG PENINGKATAN MUTU PENDIDIK SEKSI P A U D SEKSI BINA KURSUS SEKSI PENYETARAAN & SKB SUB BAGIAN UMUM DAN KEPEGAWAIAN SEKRETARIAT SUB BAGIAN K E U A N G A N SUB BAGIAN PERENCANAAN
3.2 Desain Penelitian
Penelitian yang akan dilakukan termasuk dalam jenis expalanatory. Menurut Masri Singarimbun (2000 : 5) penelitian explanatory adalah menjelaskan hubungan kausal dan pengujian hipotesis. Sebuah kerangka pemikiran teoritis dan model yang telah dikembangkan pada bab sebelumnya yang akan dipakai sebagai landasan untuk teori penelitian.
3.3 Skala Pengukuran Variabel
Di dalam melakukan penelitian, peneliti memberikan skala untuk mengukur variabel-variabel yang akan diteliti melalui anggapan responden dengan menggunakan Skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiono, 2004). Peneliti menggunakan Skala Likert jenis interval, yaitu skala yang menunjukan nilai-nilai skala yang sama dalam karakteristik yang diukur (Widayat, 2004). Skala ini memiliki unit pengukuran yang sama sehingga jarak antara satu titik dengan titik yang lain dapat diketahui. Dalam skala interval dengan pemberian bobot skor sebagai berikut :
1. Jawaban sangat setuju diberi bobot 7
2. Jawaban setuju diberi bobot 6
4. Jawaban netral diberi bobot 4
5. Jawaban kurang setuju diberi bobot 3
6. Jawaban tidak setuju diberi bobot 2
7. Jawaban sangat tidak setuju diberi bobot 1
3.4 Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional adalah suatu informasi ilmiah yang amat membantu penelitian lain yang ingin menggunakan variabel yang sama. Definisi operasional merupakan semacam petunjuk pelaksanaan bagaimana caranya mengukur suatu variabel sehingga dapat menentukan apakah prosedur pengukuran yang sama akan dilakukan atau diperlukan prosedur pengukuran yang baru. Adapun operasionalisasi dari masing-masing variabel terdapat pada tabel 3.1 dibawah ini :
Tabel 3.1 Operasional Variabel
Variabel Indikator Skala Ukur
Sistem HRM meliputi : Cultural Subsystem (X1)
1. Semua orang didalam perusahaan ini selalu berani untuk memulai sesuatu yang baru untuk kebaikan perusahaan.
2. Perusahaan dapat menerima kesalahan yang terjadi karena upaya perbaikan dan kemajuan perusahaan. 3. Setiap penyimpangan yang terjadi didalam
organisasi akan dapat diluruskan segera.
Skala Likert (Robbins,
Social Subsystem
(X2)
1. Setiap karyawan saling menerima dan menghargai masukan dari sesama rekan kerja.
2. Saya memilki komunikasi yang sangat baik dengan atasan.
3. Tidak ada hal yang membuat saya sulit untuk bekerja sama dengan siapapun yang ada diperusahaan ini.
4. Semua orang diperusahaan ini sangat mudah untuk saling membantu dalam penyelesaian pekerjaan.
Skala Likert
Technical Subsystem
(X3)
1. Semua fasilitas kerja tersedia dalam kondisi yang memadai.
2. Prosedur-prosedur dalam melaksanakan tugas sudah ditetapkan dengan jelas.
3. Ruangan kerja saya sangat sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.
Skala Likert
Kepuasan Karyawan
(Y1)
1. Saya sangat menyenangi pekerjaan yang saya emban saat ini dari perusahaan.
2. Saya merasa puas karena apa yang saya dapatkan sesuai dengan apa yang ingin saya capai
diperusahaan ini.
3. Dalam meberikan tugas kepada saya, atasan saya berlaku adil. Skala Likert (Veitzhal Rivai, 2009 : 856-858) Loyalitas Karyawan (Y2)
1. Saya akan selalu menjaga dan membela perusahaan didalam maupun diluar pekerjaan.
2. Saya akan bersedia mengorbankan kepentingan pribadi demi kemajuan perusahaan.
3. Saya akan tetap diperusahaan ini walaupun ada peluang untuk pindah ke perusahaan lain yang lebih menarik.
Skala Likert (Gary Desller,
2006)
3.5 Metode Pengumpulan Data
Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive (purposive
sampling) adalah penarikan sampel dengan pertimbangan tertentu, yaitu
didasarkan pada kepentingan atau tujuan penelitian. Dalam teknik purposive
(convenience sampling) dan berdasarkan pertimbangan (judgment sampling).
Convenience sampling adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan
saja, anggota populasi yang ditemui penelit dan bersedia menjadi responden. Sedangkan judgment sampling adalah penarikan sampel berdasarkan penilaian karakteristik anggota sampel yang disesuaikan dengan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik convenience sampling, hal ini dilakukan mengingat jumlah sampel yang sangat banyak artinya penentuan jumlah sampel dan sampel terpilih dalam penelitian dilakukan dengan cara menyebar kuesioner terhadap responden secara acak yang tidak disengaja ditemui oleh peneliti dan dengan didasarkan pada berbagai pertimbangan, diantaranya representatif atas populasi dan kesesuaian dengan persyaratan dalam alat analisis.
Teknik convenience sampling, pada penelitian ini hanya mengambil sampel pada responden dari karyawan Dinas Pendidikan Kota Tangerang pada bagian sekretariat. Lalu bertanya apakah calon responden bersedia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kuesioner. Bila bersedia, maka pengisian kuesioner dilanjutkan. Dengan kata lain disini sampel terdiri dari karyawan Dinas Pendidikan Kota Tangerang yang bersedia dan mudah bagi penelitinya untuk memberikan kuesioner penelitian.
Metode pengumpulan data untuk keperluan penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data primer. Data primer tersebut, di dapat dari
penyebaran kuesioner sebanyak 115 karyawan pada bagian sekretariat Dinas Pendidikan Kota Tangerang.
3.6 Jenis Data
Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data primer.
Data primer adalah data sumber yang di dapat langsung dari yang memberikan data kepada pengumpulan data. Seperti data yang diperoleh, diamati, dan dicatat langsung oleh peneliti langsung dari perusahaan yang menjadi objek penelitian.
3.7 Populasi dan Sampel 3.7.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Di karenakan populasi yang sangat besar maka metode menjadi sangat sensitif sehingga sulit untuk mendapatkan ukuran-ukuran goodnes of fit yang baik. Populasi pada penelitian ini adalah karyawan pada bagian sekretariat Dinas Pendidikan Kota Tangerang.
3.7.2 Sampel
Sampel di definisikan sebagai bagian dari populasi yang memiliki karakteristik tertentu untuk diteliti. Meskipun pengamatan-pengamatan secara individu tidak diperlukan, seperti halnya metode
multivariate yang lain, ukuran sampel memainkan suatu peran penting
dalam penilaian dan penafsiran hasil dari Structural Equation Model (SEM). SEM pada umumnya memerlukan sejumlah sampel yang relatif banyak untuk pendekatan-pendekatan multivariate lainnya. Beberapa algoritma statistik telah menggunakan program–prograam SEM adalah tidak konsisten dengan sampel yang sedikit. Ukuran sampel, seperti yang ada dalam statistik lainnya, menyediakan suatu dasar untuk melakukan estimasi pengambilan sampel yang salah. Berikut adalah pembahasan ukuran sampel untuk SEM. (Hair, 2006 hal 740-742)
Opini-opini berkaitan dengan ukuran sampel yang minim beragam menawarkan banyak petunjuk dengan prosedur-prosedur analisis dan karakteristik-karakteristik model. Lima pertimbangan yang mempengaruhi ukuran sampel yang diperlukan untuk SEM meliputi :
1. Distribusi data multivariate
Distribusi data multivariate. Sebagai data yang menyimpang dari asumsi tentang multivariate kemudian rasio responden terhadap
parameter perlu ditingkatkan. Secara umum rasio yang diterima untuk meminimalkan permasalahan deviasi secara normal adalah 5-25 responden untuk setiap parameter yang diestimasikan dalam model. Meskipun beberapa prosedur estimasi secara khusus didesain untuk menangani data yang tidak normal, para peneliti selalu terdorong untuk memberikan sampel yang mencukupi untuk memberi pengaruh kesalahan sampling diminimalkan, khususnya untuk data yang tidak normal.
2. Kompleksitas model
Kompleksitas model. Model-model yang lebih sederhana dapat diuji dengan sampel-sampel yang lebih kecil, dalam pengertian yang paling sederhana, lebih terukur, atau variabel-variabel indikator memerlukan sampel yang lebih besar. Tetapi model-model dapat menjadi lebih rumit dalam banyak cara yang memerlukan ukuran sampel lebih besar.
• Model-model dengan bentuk yang lebih memerlukan banyak parameter untuk diestimasikan.
• Model-model SEM dengan bentuk-bentuk yang memiliki kurang dari tiga ukuran atau variabel indikator.
Peranan dari ukuran sampel adalah untuk menghasilkan lebih banyak informasi dan stabilitas yang semakin besar, yang membantu para peneliti dalam menjalankan SEM. Suatu kali peneliti melebihi ukuran minimum absolut (suatu pengamatan yang lebih dari jumlah variansi yang diamati). Mean sampel yang lebih besar kurang bervariasi serta stabilitas dalam solusi ditingkatkan. Sehingga, kerumitan model dalam SEM menunjukkan perlunya sampel yang lebih banyak.
3. Jumlah data yang hilang
Ketergantungan atas kehilangan data, pendekatan dilakukan dan meluasnya kehilangan data diantisipasi dan bahkan beberapa jenis isu diperhatikan, yang mungkin meliputi tingkatan kehilangan data yang lebih tinggi. Para peneliti harus merencanakan suatu peningkatan ukuran sampel untuk menyeimbangkan berbagai masalah dalam hal kehilangan data.
4. Jumlah rata-rata varians error diantara indikator-indikator reflektif Rata-rata variansi indikator-indikator yang salah. Penelitian terakhir menunjukkan konsep tentang komunalitas, yang merupakan cara yang lebih relevan untuk pendekatan isu ukuran sampel. Komunalitas mewakili rata-rata jumlah variasi diantara variabel-variabel indikator atau telah terukur dijelaskan melalui
model ukuran. Komunalitas dapat dihitung secara langsung dari bentuk-bentuk muatan. Penelitian menunjukkan bahwa ukuran sampel yang lebih besar diperlukan sebagai komunalitas yang menjadi lebih kecil (seperti, bentuk-bentuk yang tidak diamati, tidak menjelaskan banyaknya variansi dalam item-item yang diukur). Model-model berisi berbagai bentuk dengan komunalitas kurang dari 0,5 (misal : estimasi muatan standar yang kurang dari 0,7) juga memerlukan ukuran yang lebih besar untuk stabilitas model dan konvergen. Permasalahannya akan semakin rumit saat model-model memiliki satu atau dua faktor-faktor item.
Rangkuman ukuran sampel. Perkembangan SEM dan penelitian tambahan dilakukkan terhadap isu-isu kunci desain penelitian, petunjuk-petunjuk sebelumnya seperti “selalu memaksimalkan ukuran sampel” dan “300 ukuran sampel diperlukan” tidak lagi sesuai. Hal ini nyata bahwa sampel yang lebih besar umumnya menghasilkan lebih banyak solusi-solusi stabil yang lebih mungkin ditiru. Tetap nampak bahwa keputusan-keputusan ukuran sampel harus dibuat berdasarkan sekumpulan faktor-faktor. Berdasarkan pada pembahasan ukuran sampel, saran-saran berikut ini ditawarkan berdasarkan kerumitan model dan karakteristik ukuran model.
• Model SEM lebih kurang berisi lima bentuk, masing-masing dengan item lebih dari tiga (variabel yang diamati) dan dengan komunalitas item yang lebih tinggi (0,6 atau lebih) dapat diestimasikan dengan sampel yang mencukupi antara 100-150. • Jika semua komunalitas sederhana (0,45 hingga 0,55) atau model
berisi bentuk-bentuk kurang dari tiga item, selanjutnya ukuran sampel yang diperlukan lebih dari 200.
• Jika komunalitas lebih rendah atau model meliputi berbagai bentuk yang teridentifikasi (kurang dari tiga item), kemudian 300 ukuran sampel minimum atau lebih diperlukan agar mampu untuk memperbaiki parameter populasi.
• Saat sejumlah faktor-faktor lebih besar dari enam, beberapa menggunakan lebih sedikit dari pada tiga ukuran item sebagai indikator-indikator, dan berbagai komunalitas rendah yang ada, ukuran sampel yang diperlukan mungkin mencapai 500.
Dari kriteria ukuran sampel diatas maka dapat dihitung ukuran minimum sampel yang digunakan adalah 5 responden untuk tiap indikator. Penentuan ukuran sampel dari populasi, berdasarkan yang diisyaratkan oleh alat analisa yang digunakan. Karena metode analisa yang digunakan adalah Structural Equation Model (SEM), maka jumlah sampel yang ideal dan refresentatif adalah antara 100-200
tergantung pada jumlah parameter yang diestimasikan. Pedomannya adalah 5-10 kali jumlah parameter yang diestmasikan. Jumlah sampel 5-10 dikali jumlah indikator (Ferdinand, 2005). Ukuran sampel minimum yaitu 5 x 15 (jumlah indikator) = 75. Maka dari itu pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah karyawan pada bagian sekretariat Dinas Pendidikan Kota Tangerang dengan jumlah 115 responden. Hal ini dilakukan untuk menghindari data yang menyimpang dan juga sesuai dengan prosedur estimasi MLE yang berkisar 100-200 responden.
Jumlah sampel dalam SEM membutuhkan jumlah yang besar agar hasil yang didapat mempunyai kredibilitas yang cukup. Sampai saat ini tidak ada kesepakatan tentang jumlah minimum sampel yang dibutuhkan. Penulis mengacu pada Santoso (2011 : 70), bahwa untuk model SEM dengan jumlah variabel laten (konstruk) sampai dengan lima buah, dan setiap konstruk di jelaskan oleh tiga atau lebih indikator, jumlah sampel 100-150 data dianggap memadai.
3.8 Analisis Uji Reliabilitas dan Uji Validitas
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Oleh karena itu kesungguhan responden dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan merupakan hal yang sangat penting dalam penelitian. Keabsahan atau
kesahihan suatu hasil penelitian sosial sangat ditentukan oleh alat ukur yang digunakan. Apabila alat ukur yang dipakai tidak valid dan atau tidak dapat dipercaya, maka hasil penelitian yang dilakukan tidak akan menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Dalam mengatasi hal tersebut diperlukan dua macam pengujian (Umar, 2003) yaitu uji reliabilitas dan uji validitas untuk menguji kesungguhan jawaban responden.
Kuesioner tersebut akan di uji dengan uji reliabilitas dan uji validitas yang dilakukan dengan aplikasi program komputer SPSS 17. Uji validitas digunakan untuk menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur yaitu kuesioner dapat mengukur apa yang ingin diukur. Uji validitas berguna untuk menentukan seberapa cermat suatu alat melakukan fungsi ukurannya. Alat ukur validitas yang tinggi berarti mempunyai varian kesalahan yang kecil, sehingga memberikan keyakinan bahwa data yang terkumpul merupakan data yang dapat dipercaya.
Uji reliabilitas merupakan uji kehandalan yang bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh sebuah alat ukur dapat diandalkan atau dipercaya. Kehandalan berkaitan dengan estimasi sejauh mana suatu alat ukur, apabila dilihat dari stabilitas atau konsistensi internal dari jawaban/pertanyaan jika pengamatan dilakukan secara berulang.
Apabila suatu alat ukur ketika digunakan secara berulang dan hasil pengukuran yang diperoleh relatif konsisten maka alat ukur tersebut dianggap handal dan reliabel. Pengujian reliabilitas terhadap seluruh item/pertanyaan
yang dipergunakan pada penelitian ini akan menggunakan formula cronbach
alpha, dimana secara umum yang dianggap reliabel apabila nilai alfa cronbach-nya > 0,6. Sedangkan uji validitas ini dilakukan dengan tujuan
untuk mengetahui kesahihan dari angket atau kuesioner. Kesahihan disini mempunyai arti kuesioner atau angket yang dipergunakan mampu untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Uji validitas item dilakukan dengan SPSS 17 dengan melihat hasil korelasi antara masing-masing item dengan skor total pada harga corrected item total correlation lebih besar atau sama dengan 0,41 (Singgih Santoso, 2000). Sedangkan uji validitas konstruk dapat dilakukan dengan mengkorelasikan skor masing-masing item dengan skor totalnya.
3.9 Teknik Analisis Data
Analisis data dan interpretasi untuk penelitian yang ditujukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian dalam rangka mengungkap fenomena sosial tertentu. Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan di implementasikan. Metode yang dipilih untuk menganalisis data harus sesuai dengan pola penelitian dan variabel yang akan diteliti. Untuk menganalisis data digunakan Structural
Equation Modeling (SEM) dari paket software statistik AMOS 20 dalam
model dan pengkajian hipotesis. Model persamaan struktural, Structural
memungkinkan pengujian sebuah rangkaian hubungan relatif “rumit” secara simultan (Ferdinand, 2000, hal : 181).
Tampilnya model yang rumit membawa dampak bahwa dalam kenyataannya proses pengambilan keputusan manajemen adalah sebuah proses yang rumit atau merupakan sebuah proses yang multidimensional dengan berbagai pola hubungan kausalitas yang berjenjang. Oleh karenanya dibutuhkan sebuah model sekaligus alat analisis yang mampu mengakomodasi penelitian multidimensional itu. Berbagai alat analisis untuk penelitian multidimensional telah banyak dikenal diantaranya 1) Analisis faktor eksplaratori, 2) Analisis regresi berganda, 3) Analisis diskriminan. Alat-alat analisis ini dapat digunakan untuk penelitian multidimensi, akan tetapi kelemahan utama dari teknik-teknik itu adalah pada keterbatasannya hanya dapat menganalisis satu hubungan pada waktu tertentu.
Dalam bahasa penelitian dapat dinyatakan bahwa teknik-teknik itu hanya dapat menguji satu variabel dependen melalui beberapa variabel independen. Padahal dalam kenyataannya manajemen dihadapkan pada situasi bahwa ada lebih dari satu variabel dependen yang harus dihubungkan untuk diketahui derajat interelasinya. Keunggulan aplikasi SEM dalam penelitian manajemen adalah karena kemampuannya untuk mengkonfirmasi dimensi-dimensi dari sebuah konsep atau faktor yang sangat lazim digunakan dalam manajemen serta kemampuannya untuk mengukur pengaruh hubungan-hubungan yang secara teoritis ada. (Ferdinand, 2000, hal : 5)
Untuk membuat permodelan yang lengkap, perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Pengembangan model berbasis teori
Langkah pertama dalam pengembangan model SEM adalah pencarian atau pengembangan model yang mempunyai justifikasi teoritis yang kuat. Seorang peneliti harus melakukan serangkaian telaah pustaka yang intens guna mendapatkan justifikasi atas model teoritis yang dikembangkan.
2. Pengembangan diagram alur (Path Diagram) untuk menunjukkan hubungan kausalitas.
Path Diagram akan mempermudah peneliti melihat
hubungan-hubungan kausalitas yang ingin diuji. Peneliti biasanya bekerja dengan konstruk atau faktor yaitu konsep-konsep yang memiliki pijakan teoritis yang cukup untuk menjelaskan berbagai bentuk hubungan. Konstruk-konstruk yang dibangun dalam diagram alur dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu konstruk eksogen dan konstruk endogen. Konstruk eksogen dikenal sebagai “source variables” atau “independent variables” yang tidak diprediksi oleh variabel yang lain dalam model. Konstruk endogen adalah faktor-faktor yang diprediksi oleh satu atau beberapa konstruk endogen lainnya, tetapi konstruk eksogen hanya dapat berhubungan kausal dengan konstruk endogen.